The Documentary of Jakarta 2014

Video dibawah adalah lanjutan tulisan Mas E tentang Jakarta, One Week In Java (Day 1, Jakarta), yang kami kunjungi akhir Agustus 2014. Mas E saat ini sedang sibuk mengerjakan paper kuliah dan tugas pekerjaannya juga banyak. Jadi saya yang disuruh menulis ini. Mungkin nanti ada tambahan dari Mas E.

Tujuan utama kami ke Jakarta sebenarnya mempunyai misi khusus, yaitu menelusuri jejak keluarga Mas E di daerah Menteng. Jadi, Kakek Mas E, orang Belanda, dulu sewaktu masa pendudukan Belanda (Sebelum tahun 1945, Ibu Mertua lupa tepatnya rentang waktunya) bekerja sebagai Engineering di Pelabuhan Sunda Kelapa. Mereka tinggal di Jalan Surabaya No.40 dan No.12. Menteng, Jakarta. Pada masa itu, Jalan Surabaya masih belum ada Pasar Antik, karena Pasar ini mulai ada sekitar awal tahun 70-an. Karenanya, begitu Mas E bilang kalau sekarang di Jalan Surabaya terkenal dengan Pasar Barang Antik, Ma (panggilan saya ke Ibu Mertua) kaget. Karena pada waktu Ma masih disana pasar antiknya belum ada.

Ma lahir tahun 1937 dan tinggal di Indonesia sampai umur 15 tahun sebelum kembali ke Belanda pada tahun 1953. Karena sejak kecil sampai remaja tinggal di Jakarta, Ma sampai sekarang masih bisa sedikit Bahasa Indonesia. Beberapa kali sepatah-sepatah masih bisa bercakap dengan saya dalam Bahasa Indonesia. Dan sejak mengetahui kalau anak lelakinya akan menikahi wanita Indonesia, Ma seperti bernostalgia dengan masa kecilnya di Jakarta

Kami terkejut ketika menemukan rumah Ma sekarang menjadi Penginapan milik Mabes TNI yang bernama Wisma Wira Anggini I (No. 40). Sedangkan No. 12 masih berbentuk rumah biasa. Memang benar, dulu ketika Kakek Mas E meninggalkan Indonesia, semua aset harus dijual karena menurut Ma, ketentuan dari pemerintah Indonesia ada dua untuk warganegara Belanda setelah Indonesia merdeka. Kalau ingin tetap tinggal di Indonesia, maka harus berganti warganegara menjadi Indonesia, atau jika ingin kembali ke Belanda, harus menjual segala aset yang dimiliki kepada negara. Kakek Mas E memilih yang kedua. Dibawah ini adalah foto-foto yang masih disimpan Ma

Rumah Ma, Jalan Surabaya No.40 Menteng pada waktu itu
Rumah Keluarga Ma, Jalan Surabaya No.40 (atas) dan No.12Β  (bawah) Menteng pada waktu itu
Jembatan didepan rumah, yang saat ini letaknya dibelakang Pasar Antik. Dan sampai saat ini masih ada, bentuknya masih seperti aslinya. Yang difoto itu Ma
Jembatan didepan rumah, yang saat ini letaknya dibelakang Pasar Antik. Dan sampai saat ini masih ada, bentuknya masih seperti aslinya. Gadis kecil difoto itu Ma
Jalan Surabaya No. 40
Jalan Surabaya No. 40 sekarang menjadi Wisma Milik Mabes TNI

Ternyata Mas E memang sudah mempunyai keterikatan sejarah dan emosi dengan Indonesia sejak dulu. Pantas saja memilih wanita Indonesia untuk jadi istrinya *halaahh, informasi ga penting πŸ˜€

Nah, setelah misi selesai terlaksanakan, maka saatnya Mas E menikmati suasana Jakarta. Seperti yang sudah diceritakan Mas E sebelumnya, kami keliling Jakarta mengunakan Trans Jkt, Bis Tour City of Jakarta, KRL, bahkan naik angkot. Mas E mendokumentasikan perjalanannya selama di Jakarta dalam video singkat dibawah ini.

Ada cerita lucu dibalik pembuatan video ini. Jadi, di kantor Mas E punya kebiasaan kalau dalam satu team ada yang baru pulang liburan, wajib share pengalaman dan ceritanya pada saat jam makan siang. Pada 9 Desember 2014 kemarin, giliran Mas E yang harus berbagi cerita. Lalu Mas E membuat kompilasi beberapa foto dan Video singkat tentang beberapa tempat yang kami kunjungi selama Mas E sebulan di Indonesia, salah satunya Video tentang Jakarta ini. Nah Mas E bertanya, kira-kira makan siang menunya apa ya yang khas Indonesia. Trus saya ingat ada Restoran Padang Salero Minang yang tempatnya tidak terlalu jauh dari kantor dan bisa delivery order. Karena Mas E pernah makan Nasi Padang sewaktu di Indonesia dan senang sekali dengan yang namanya Rendang, akhirnya pesanlah ke Salero Minang untuk makan siang. Menunya Nasi Rames. Kebetulan satu teamnya (7 orang yang semuanya asli Belanda) belum pernah ada yang makan nasi padang. Ternyata ludes, mereka suka sekali dengan Rendang, si bintang utama. Bahkan minta Mas E alamat Salero Minang. Mau makan disana kata mereka. Ah senang sekali saya bisa memperkenalkan masakan Indonesia ke mereka πŸ™‚

Nasi Rames Salero Minang. Harganya 12.5 Euro lengkap dengan Sate Ayam, Rendang, Nasi, Dan sayur Mayur
Nasi Rames Salero Minang. Harganya 12.5 Euro lengkap dengan Sate Ayam, Rendang, Nasi, Dan sayur Mayur

Kemudian Mas E bertanya pada saya, kira-kira lagu apa ya yang cocok dijadikan backsound video singkat ini. Dia menanyakan lagu yang sering diputer adik saya dirumah. Saya bilang itu lagu dangdut, saya tidak tahu karena saya bukan penikmat lagu dangdut. Lalu dia minta saya mencarikan lagu yang temponya cepat. Karena saya suka Sujiwotejo, saya rekomendasikan laguΒ Nadian. Saya suka lagu ini (meskipun tidak terlalu mengerti artinya) karena dinyanyikan tanpa alat musik. Keren!. Mas E bilang ok, akan memakai lagu ini. Tiba-tiba pagi ini saya membuka video dari youtube yang dia share di Twitter. Tawa saya langsung meledak sepanjang durasi, karena ternyata Nadian berubah jadi Bara Bere yang dinyanyikan Siti Badriyah. Kok yaaa jauh sekali menyimpangnya hahaha. Pantas malam sebelumnya Mas E bertanya ke saya apakah mengetahui lagu Indonesia berjudul Bara Bere? Saya menjawab pernah mendengar, tapi tidak tahu siapa penyanyinya, yang pasti saya tahu kalau itu lagu dangdut. Mas E bilang suka dengan musiknya. Ternyata lagu ini yang dipasang jadi backsound. Duh Mas! Ngerti opo ga isi lagu iki artine opo hahaha. Dan saya baru sadar, Mas E ini ternyata suka sekali dengan lagu Dangdut πŸ˜€

Silahkan menikmati Video singkat yang telah dibuat oleh Mas E tentang Jakarta dengan iringan lagu dangdut Bara Bere πŸ™‚

-Surabaya, 10 Desember 2014-

13 thoughts on “The Documentary of Jakarta 2014

  1. Ahhhh, lucu bgt tnyta mertua smpt tinggal di Indonesia lmyn lama ya, smpe gadis! Pastinya kyk nostalgia pnya menantu org Indonesia, hihihi.
    Ngeliat videonya jadi pengen mudik

    1. Iyaa.. Ga nyangka punya keluarga baru yang dulunya pernah tinggal lama di Indonesia. Kadang2 Mas Ewald suka komentar “kamu berarti menikah sama cucunya penjajah lho. Ga dimarahin sama negaramu? hahaha… Ayookk mudik. Dah berapa lama ga mudik Vem?

  2. Kawan saya perempuan, menikah dengan laki-laki Belanda yg sangat mencintai Indonesia, suka koleksi wayang. Konon kakek-neneknya yg warga Belanda asli juga pernah tinggal di Indonesia entah bagian mana. Saya sendiri tertarik dg Bhs. Belanda karena (bisa dibilang) banyak bhs. indonesia yg diadopsi dari bhs. Belanda. Hebat juga mertua deny masih ingat bhs. belanda, setelah dewasa pernah ke jakarta lagi?

    1. Hai Rangi, salam kenal *betul kan ya aku manggilnya πŸ˜€ Iya, suamiku ini jiwa mengIndonesianya lumayan tinggi. Sekarang jadi hobi makan sambel pedes, trus senang gamelan Jawa dan gamelan Bali. Aku mulai belajar bahasa Belanda, karena diharuskan. Menemukan keasyikan tersendiri. Ma belum pernah ke Indonesia lagi sejak umur 15 tahun itu. Pas kami menikah, Ma dan Pa tidak bisa datang karena usia mereka yang tidak memungkinkan perjalanan jauh. Rangi sekarang sedang belajar bahasa Belanda?

      1. Saya dah pernah komen sini sebelumnya :), rangi atau ruru boleh. Saya sempat belajar di Erasmus huis-Jakarta sudah banyak lupanya sudah cukup lama juga karena nggak pernah dipake dan nggak pernah belajar lagi sendiri

        1. Ahh Rangi Maafkeuunn heheh. Bukannya kurang perhatian, mungkin aku yang lupa hihihi.. Yuks dipake lagi. Sama-sama belajar dutchnya hehehe… Aku ya teman belajar sama suami, dan Mertua. Kalau kirim email ke Mertua sekarang seringnya pake bahasa belanda. Awal2 dulu masih pakai bahasa Inggris. Mertua Senangnya support. Kalau ada yang salah dikasih tau salahnya dimana πŸ™‚

            1. Iya, beberapa waktu lalu masih utak utek blognya. Trus karena kesibukan, kelupaan dibiarin hehehe. Sekarang lumayanlah dikit-dikit dipoles sana sini πŸ˜€

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.