Kenapa Belum Hamil?

Beberapa hari ini saya pulang ke rumah. Kegiatan pagi hari yang saya lakukan ketika pulang ke Situbondo adalah belanja ke tukang sayur dekat rumah. Dalam perjalanan menuju kesana, saya berpapasan dengan teman SD yang rumahnya tidak jauh dari rumah orangtua. Kemudian terjadilah percakapan seperti ini :

“Gimana, sudah hamil belum?”

“Belum”

“Lho, kenapa belum hamil?”

“Kamu sedang bertanya kepada saya, atau sedang bertanya kepada Allah yang berhak menjadikan saya hamil?”

         —–Kemudian hening. Jawaban saya terdengar sinis? Mungkin iya.

Saya jarang pulang ke Situbondo, rumah orangtua, kota saya dibesarkan. Paling cepat, satu bulan sekali. Dan ketika saya pulang, otomatis saya juga jarang kemana-mana. Paling jauh ya beli rujak, atau belanja di tukang sayur, atau ke supermarket dekat rumah untuk beli es krim. Saya memang dari kecil tidak terlalu suka bersosialisasi dengan tetangga. Menyapa seadanya, selebihnya tinggal dirumah. Tidak kemana-mana. Ditambah lagi sejak umur 15 tahun saya sudah hidup merantau, tinggal di Surabaya yang menyebabkan tidak mempunyai banyak kawan lagi di Situbondo.

Dengan keadaan seperti itu, otomatis saya pun hampir tidak pernah bertemu dengan teman SD itu dalam jangka waktu yang lama. Terakhir bertemu 4 bulan lalu sewaktu dia menikah, seminggu sebelum pernikahan saya. Seyogyanya, pertanyaan yang lazim adalah “Hai Den, kapan datang? Gimana kabarnya? Suami ikut?” ya, basa basi dulu lah, bukan langsung main tembak dengan melontarkan pertanyaan yang pertama.

Mungkin bagi dia, atau bagi beberapa orang, pertanyaan seperti itu adalah cara mereka untuk berbasa-basi, cara untuk memulai sebuah percakapan. Sama halnya dengan “Gimana kabarnya? Sudah menikah belum?” Buat sebagian orang Indonesia, pertanyaan itu (mungkin dikategorikan) sangatlah lumrah karena masyarakat kita sangat terkenal dengan keramahannya, peduli dengan kabar terkini lingkungannya, yang dikemudian hari saya artikan bahwa antara ramah, peduli dan menuntaskan keingintahuan pribadi perbedaannya sangatlah besar. Karena terlalu peduli dengan kabar orang lainpun menjadikan infotainment di Negeri ini seolah tidak pernah berhenti hilir mudik membombardir tayangan televisi, bahkan dini hari sekalipun –iya, saya pernah menonton yang tayangan dini hari.

Saya sangat tidak bermasalah, tidak sensitif maupun tersinggung jika menjawab tipe pertanyaan yang seperti itu, jika ditanyakan dengan tulus. Bukan ingin menuntaskan keingintahuan yang berujung dengan pertanyaan-pertanyaan penghakiman ataupun pelabelan. Bagaimana saya bisa membedakan yang tulus dan tidak tulus? Ya kalau itu berdasarkan jam terbang. Saya tumbuh diantara pertanyaan “Kenapa belum menikah?” jadi saya sudah tahu dengan pasti mana pertanyaan datang dari hati ataukah yang hanya basa basi.

Sebenarnya pertanyaan “Kenapa belum hamil?” ini bukan hanya sekali dua kali saja ditanyakan. Sejak seminggu menikah, ada teman SMA yang secara khusus mengirim pesan ke whatsapp dan bertanya “Sudah ada hasil?” yang membuat saya tercekat. Mungkin dia pikir satu-satunya tujuan menikah adalah wadah untuk mencetak anak secara legal. Dan mungkin dia pikir ketika pernikahan sudah terjadi artinya mesin pencetak anak sudah mulai berfungsi sehingga anak harus segera terealisasi. Dan rentetan pertanyaan juga bertubi datang dari keluarga. Pada saat hampir bersamaan dengan saya menikah, ada beberapa sepupu juga menikah. Dan sekarang mereka sudah hamil semua. Saya tentu saja senang. Artinya saya akan mempunyai beberapa calon keponakan. Tetapi rasa senang saya terkadang ternodai dengan komentar saudara yang lain. Membandingkan saya dengan sepupu-sepupu yang menurut mereka tingkat kesuburannya jauh lebih baik dari saya. Pernah tidak mereka berpikir sedikit saja tentang apa yang saya rasakan ketika mereka berpendapat seperti itu. Pernah tidak terlintas bagaimana perasaan ibu saya apabila perkataan itu didengar oleh beliau. Saya bisa bersikap tidak peduli karena saya sudah terbiasa dengan omongan dan gunjingan orang. Tapi belum tentu dengan Ibu saya.

Dan sebenarnya pertanyaan seperti itu (mungkin) lumrah terlontar ketika dalam sebuah rumah tangga masih belum dikaruniai anak, tidak peduli jangka waktunya. Apakah baru seminggu menikah, ataupun sudah berpuluh tahun bersama. Yang menjadi tidak santun adalah –seperti yang sudah saya sebut sebelumnya- rentetan penghakiman dan pelabelan yang tanpa ampun datang bertubi. Tidak semua pasangan menjadikan anak sebagai prioritas dalam sebuah pernikahan. Pertanyaan seperti ini yang sekarang menghiasi hidup (baru) 4 bulan pernikahan saya:

“Kamu kenapa belum hamil? Menunda ya? Kenapa harus ditunda? Anak kan rejeki. Rejeki kan dari Tuhan, jadi kalau menunda punya anak, berarti menunda dapat rejeki” <–oh well, yang ngomong seperti ini seperti agen asuransi yang sedang menawarkan investasi jangka panjang yang bernama anak.

“Kamu kenapa belum hamil? Wanita itu punya batas waktu bereproduksi lho. Kalau tidak disegerakan, bisa-bisa susah dan malah ga bisa punya anak nantinya” <– yang inipun tidak kalah menyeramkan, seakan dia Maha Penentu segalanya sehingga tahu pasti apa yang akan terjadi nantinya.

“Kamu kenapa belum hamil? Sudah periksa ke dokter penyebabnya? Takutnya karena telat menikah jadi ada masalah dengan hormonnya” <– belum hamil dan telat menikah dalam satu rentetan kalimat. Well, perfect.

“Kamu kenapa belum hamil? Suami kamu tidak ada masalah kan? Coba diperiksakan saja, takutnya yang bermasalah malah suami kamu. Ya kita kan tidak tahu disana sebelum menikah dia ngapain saja. Takutnya ada penyakit apa gitu” <– Pengen nempelin semacam lakban ga ke mulut orang yang nanya. Kalau saya tidak pernah mempermasalahkan hidup suami sebelum menikah, kenapa dia harus repot berpikir sampai sejauh itu.

“Kamu kenapa belum hamil? Kasihan ibu kamu lho ditanya tetangga dan saudara kenapa anaknya belum hamil juga” <– Kamu kasihan ga sama saya ketika bertanya seperti ini?

Terima kasih untuk segala macam perhatian dan masukannya. Saya sangat berterimakasih sekali. Terima kasih untuk segala doa yang selalu terucap pada saya dan suami utuk segera mempunyai anak.

Namun saya akan lebih berterimakasih jika membiarkan kami menjalani hidup secara normal. Tanpa pertanyaan yang menyudutkan. Tanpa perhatian yang membuat jengah. Tanpa perasaan mencoba peduli yang ujungnya membuat sakit hati. Dan disetiap pertanyaan yang terlontar, sayapun tidak harus menjawab secara rinci tentang rencana hidup kami. Saya akan berbagi cerita hanya dan hanya kepada orang yang saya percaya. Dan hey, kami saja tidak ribet dengan urusan anak.

Mari membiasakan diri untuk memilah dan memilih, mana yang perlu dan pantas untuk diucapkan, mana yang santun untuk dikatakan. Tempatkan diri kita pada lawan bicara. Jika memang tujuannya hanya sekedar basa-basi, pikirkan berulang kali. Tidak masalah berbasa-basi, jika memang betul-betul peduli, bukan menghakimi. Meminimalkan basa-basi, membuat hidup jauh lebih berarti. Hal ini juga menjadi catatan penting buat saya.

Jadi, ketika ada yang bertanya “kenapa kamu belum hamil?” sudah tahu kan saya akan menjawab apa.

-Situbondo, 13 Desember 2014-

52 thoughts on “Kenapa Belum Hamil?

  1. Nemu postingan ini.
    Bener banget.
    Karena lagi ngerasain banget..
    Kadang udah tau mau jawab apa.
    Tapi ujungnya saya jadi baper sendiri.
    Ada tips biar lebih sabar menghadapi orang orang seperti itu?

    1. Saya tidak puny tips tenting hal ini karena memang sifatnya sangat personal. Masing2 orang berbeda secara penyikapan. Kalau memang tidak mau terbawa perasaan, lebih baik ditegaskan saja kalau apa yang ditanyakan itu adalah hal pribadi dan tidak nyaman dengan pertanyaan itu.

  2. Emang itu pertanyaan yang nyebelin mbak. Dulu aku pernah berhenti ikut pengajian mingguan mbak. karena tiap kali ikut, teman2 pengajian suka nanyain udah hamil pa belum. Pengajiannya satu minggu sekali, sedangkan aku ketemu suami cuma tiga bulan sekali (karena saat itu suami tugas di Papua). Malesin banget dan bikin emosi, orang ketemu suami juga masih 3 bulan lagi, tapi tiap minggu ditanyain hamil pa belum. Zzzz…

    1. Sesekali perlu ditegur yang sering bertanya seperti itu. Kasih tahu saja kalau bertanya seperti itu tidak sopan dan membuat kamu ga nyaman. Mudah2an setelah diberitahu seperti itu yang bertanya jadi mengerti. Kalau belum mengerti juga namanya itu bebal dan mengesalkan, jauhi saja.

  3. Warga Indonesia bgt yang suka komen2 langsung dan nyelekit kaya gtu mbak. Liat deh nti klo udh punya anak, pasti lgsg dikomen kapan nambah lagi. Hahaha.. dibikin hepi aja mbak jgn dijadikan beban, saya pun begitu.. Klo inget kata2 org bisa stress, tapi kan kita yg jalanin sendiri juga kan. Tips ampuh banget nih buat diriku sendiri. Semangat Mbak…. Salam kenal sebelumnya ^_^

    1. Selama masih hidup memang dunia perkomenan ga akan berhenti ya Mbak. Saya sih santai, apalagi sekarang jauh dari Indonesia, ga dinyinyirin lagi 🙂
      Terima kasih mbak sudah mampir kesini 🙂 salam kenal juga

      1. Asiknya udh ngga dinyinyirin lagih. Diriku masih di fase ditanya kapan hamil nih, agak gerah tapi untungnya suami nyantei ajah.. Baca blog mu pengen deh kapan2 ke belanda… Selama ini belum sampe europe jln2nya.. Semoga next bisa backpackeran ksana brg suami 🙂

        1. Intinya, selama kita hepi menjalani, ga usah didengarkan omongan kanan kir. Santai aja.
          Mudah2an yaa suatu saat terwujud backpackeran ke eropa 🙂

          1. Yapss setuju banget mba memang harus hepi gimana gimana juga, omongan org cuma dianggep angin aja.. Amiin Amiinn, semoga bisa terwujud liat salju asli.

  4. mbak, klo memang tidak menunda, kudoakan bener supaya ndak usah nunggu selama aku, hehehe 🙂 meski aku juga desperate2 sih pgn pny anak (mbuh nek bojoku ya hahaha), dan meski tinggal di Surabaya dikelilingi byk sodara, alhamdulillah nggak terlalu banyak pertanyaan yg menyebalkan. kalopun ada, seringnya nggak bikin emosi (mgkn krn emg tulus yo tanya’e, jadi akupun menjawab sambil senyam-senyum: DOAIN AA). 7 tahun nikah rek, syukurnya gak banyak momen yg bikin pengen senggol bacok penanya yg menyebalkan. ntah mereka kasian ke aku, atau takut aku ketusin, hahaha.

    1. Amiiinnn… suwun nemen doane. Dungo dinungo yoo kene. Mudah2an barakah. Lek aku ancene dasare judes yo, dadi nahan2 lambe ae ben ga nyeplos njawab. Soale lambeku lebih tajem teko parang hahahaha. Kadang2 takone ancen tulus. Cuman aku ae sing sensitif. Yo mungkin ketepakan sensitif.

  5. Mau ikut2an komen aahhh +thinking aja deni, tdk semua orang berpikiran terbuka, mungkin prioritas setiap orang dlm hidup juga berbeda. Intinya dlm hidup yg dituju adalah kebahagiaan. Kalau diberi rejeki anak insya Allah hanya Allah yg tahu kapan. tetap semangat dan tetap menjadi orang yg lebih baik dan bs menghargai orang lain saja. Biarin aja orang lain bilang seperti apa karena mereka tdk tahu apa dan bagaimana kita. Tapi pertanyaan2 mereka terutama orang2 bangsa kita selalu merasa pertanyaan spt biasa saja gak pernah bs berempati bagaimana kalo mereka diposisi yg sebaliknya. Happy eid mubarak mhn maaf lahir batin…

    1. Ini Renny Damayanti Statistikkah? Iya, akhirnya pengalaman yang mengajarkan untuk mengabaikan berbagai pertanyaan dan pernyataan yang bernada negatif. Beruntung juga tinggal jauh dari Indonesia meskipun tetep saja selalu ada pertanyaan seperti itu yang mampir. Mudah2an mereka diberikan kreatifitas lebih untuk menanyakan pertanyaan berbeda yang lebih bermutu 😀 Thank yaaa

  6. Wkwkwkwkwwk…samaaaa banget dibombardir pertanyaan spt ini tapi anehnya keluarga sendiri gak pernah nanya. Ini gara-gara merit telat (suka dihakimi gara2 kebanyakan main jadi lupa kawin). Santai aja Den, take it easy. Orang Indo semua dijadiin basa-basi. Yang paling penting sih kedamaian berdua. Aku kalo ditanya gitu selalu jawab “iya pengen banget, gimanaaaa dong?! Tolongin makanya!” Salam hamil! Hahahaha….

    1. Merit telat juga seperti sebuah kutukan aja ya, bisa dibuat salah2an di masa depan akhirnya. Emang kebanyakan main sih, trus gimana dong hihihi. Iya, aku dari dulu santai, suami aja ga rewel. Mau nikmatin masa2 berdua dulu, secara dari dulu LDR an mulu hahaha, meskipun ga nunda juga sih. Salam Hamil *tosss berjamaah hahaha

      1. Jangan bilang kutukan dong hahahaa…nikmatin masa pacaran berdua deh! Dalam kasusku seruu tapi banyak juga adjustments pas hidup bareng tiap hari so it’s a good thing that it’s just the two of us for now 🙂

        1. yang bilang kutukan ya orang2 yang nuduh2 itu. Seperti “nikahnya telat sih, makanya susah punya anak” atau “terlalu milih2 sih, makanya nikah telat, kalo sudah berumur kan susah punya anak”. Ah sudahlah, sudah lewat masa2 itu *kemudian berjalan anggun
          It’s always great to find new things in our togetherness for now. It must be Wonderful journey 🙂 😀 *bener apa ga ini bahasa inggrisnya hahaha langsung buka kamus

  7. Wah ini pertanyaan yang lagi sering aku dapetin juga mbak. Tiap ada yang nanya “udah isi?” aku jawab aja “udah, isi lemak” hahaha. Kesel sih tapi ya ujung2nya aku nitip doa aja sama mereka supaya segera dikasih kepercayaan untuk dapat momongan 😀

    Tetap semangat mbaaa ^_^

  8. Berhasil follow harusnya sih ya hahaha, jadi aku akan comment banyak2 😀 akupun yang 3 taun udah bolak balik ditanyain kapan isi. Haha. Lama-lama jawab ini isi barusan isi siomay (atau makanan apapun yang baru aku selesai makan) hehe… Semangattt mba 🙂

    1. Iyaa.. lama2 kebal juga. Baru juga 5 bulan dah diberondong sana sini kapan hamil. Orang kok ga boleh seneng2 dulu sama suami yaa hehehe

      Mungkin link yang diemail perlu diklik untuk konfirmasinya Puji sehingga baru berhasil

        1. Iya Puji, maaf ya kalau ribet. Aku ga ngerti cara kerja yang WP.Org. Aku sudah klak klik semua fitur tapi hasilnya belum memuaskan. Ini blog dibuatkan suami, jadi aku terima jadi hehehe. Ga taunya ribet 😀

  9. ini kok samaaaa 😀
    dulu aku KZL mba, abisnya semakin banyak yg tanya smakin kasian mamaku yang harus nanggepin. Kalo aku sih daridulu bodo amat.
    Tapi yaudahlahh ya, biarin aja

    1. Ah iya biarin sajalah. Toh kita hepi2 aja kan ngejalaninnya. Anggap saja mereka perhatian dalam taraf yang berlebihan hehehe

  10. Melihat dari sudut pandang penanya. Iya bnyk yg unsensitive. Tapi terus terang, saya juga agak bingung lho kalau ketemu temen lama perempuan datang sendirian, selain hai apa kabar, kerja apa, 1/2 mati berusaha ga nyinggung topik, sdh punya pacar belum, sdh nikah belum, sdh punya anak belum, dan berderet2 yg lain..akhirnya kita dengan awkward bicara soal hal2 yg ga berhubungan, hobi, pekerjaan, dsb (kalo dia lagi nganggur salah juga ga saya >_<), dan ketika berpisah akhirnya saya ngga dpt info apapun ttg status dia sekarang…

    Kdg makin usia kita bertambah makin kompleks juga ya pilihan2 pertanyaan…tp kalo teman Denald itu mmg agak keterlaluan juga..sih

    1. Iya, kalau aku memang ga pernah mananyakan masalah status, kecuali mereka sendiri yang bercerita. Ga tau kenapa, malas saja bertanya tentang hal-hal yang mungkin sensitif.

      Memang benar, semakin bertambah usia, bukannya pertanyaan makin berkurang, justru makin bertambah.
      Panggil aku Deny saja 🙂

  11. Orang indo emang usilnya tingkat tinggi ya… Aku juga sibuk ditanyain kapan nikah terus… Ntar kalo udah nikah pasti ditanyain juga kapan hamil. Cape deh…. Nggak usah didengerin ya mbak deny. Banyak2 doa aja… Kalau udah waktunya pasti dikasih ya 🙂

    1. Iya, jadi semakin menyadari kalo manusia emang ada tahapannya. Kamu sekarang tahapan ditanya kapan nikah, aku ditanya kapan hamil. Jadi ga selesai2 hehehe. Santai aja, ga usah pusing. Kan kita yang menikmati 🙂

  12. Mbak.. Aku jd mikir.. Infotainment laku karena masy indonesia yg kepoan, atau infotainment yang didik kita utk kepo dan analisis ini-itu.. Hihi..
    Atau krn masy indonesia kebanyakan gak sanggup wawancara artis makanya wawancara temen sendiri.. Trus jd infotemen.. Hehe..
    *komentar apakah ini*

    Kita ada miripnya Mbak.. Skrg banyak yg nanyain nikah, akunya biasa aja, tp mamaku galau.. Kadang nikah, punya anak, banyak harta itu dianggap prestasi.. Pdhal kan rejeki ya Mbak.. Ada atau nggak, banyak atau sedikit, ya harus disyukuri.. *tsaaah*

    1. Hahaha, jadi kamu yang menganalisa yaaa 🙂 Emang bener, aku setuju dengan pendapatmu. Rasanya kalau sudah memiliki yang kamu sebutin itu, punya prestasi tersendiri bagi kebanyakan masyarakat Indonesia. Padahal kebahagiaan lebih penting dibanding dulu2an nikah, punya anak dan lainnya. Banyak bersyukur aja sih menurutku. Yang bahagia kan kita, jadi ga usah ngurusin omongan orang yang ga ngerti kehidupan kita

  13. Huhuhu, bacanya ikutan kesel Den. Apalagi biasanya pertanyaan model begini ala orang Indonesia pake bumbu saran yang gak diminta ya haha. Aku juga sering tuh ditanya kenapa belom nikah and kenapa nunda?? Padahal jawab nunda aja belum. Sekarang kalo yang model gini aku jawabin besok ya dikasih undangannya, haha.

    1. Hahaha, iyaaa. Kadang suka mikir, sini aja hepi2 kenapa sana yang nyiksa diri hihihi. Kayaknya nanya “kapan nikah” itu hobi orang Indonesia yaa hehe. Thanks Mar untuk kunjungan baliknya 🙂

    1. Akhirnya balik lagi ke kita ya. Kalo kitanya santai, ya omongan orang2 jadikan angin lalu saja 🙂 kan yang menjalani kita sama suami ^^

  14. hm,,aku juga mengalami hal yang sama denganmu mbak den, walaupun tinggal jauh dari indonesia tetep aja setiap ada temen yang bbm isinya cuman nanya itu aja, belom lagi keluarga, sanak saudara dan handaitauladan dari indonesia 🙂

    1. huwaat?! sudah jauh-jauh nyampe sana masih dikintilin juga sama pertanyaan itu? memang luar binasa yaa kreatifitas orang-orang kita. Coba kamu bilang, saya lagi sibuk bikin pizza 😀

      1. Salam… Mbak mbak.. Aq jga gtu loh mbak… Selalu ditanyak udah jdi blom,apa dikiranya qta buat kue kali ya kok ditanyak udh jdi.. Hufftttt.. Sabar2 hanya itu yg ada di hati. Blum lg ada yg bilang itu pasangan hrs ganti biar hamil. Astargfirullah.. Aq terdiam gak tau mau jawab apa… Rasanya amarah udh dipuncak… Jdi sekarang klu ada pertanyaan yg nyelekit, aq jawabnya gini mbak ‘ ntar klu dah positif hamil dikasi tau ya, jdi stop nanyak2 lagi ya.. Hahahah… Halus sih tpi pukul samping kan…

  15. Ayo cepetan pindah ke Belanda, Den..biar jarang ketemu momen nyebelin kayak gitu.. Hehehe.. Sabar ya.. Tapi bolehlah sesekali “dijitak” aja tuh yg nanyanya pake nada nuduh dan menghakimi.. Peace ah..hehehe

    1. Iyaaa.. kelamaan disini jadi bikin pahala ke diri sendiri *konon kalau didzolimi bisa nambah pahala hahaha. Aku sadar kalau mulutku iki semacam silet berjalan. Jadi sering nahan2 diri biar siletnya ga melukai orang. Makanya mereka mengira aku diam karena “nrimo” padahal aku takut kalau terjadi pertumpahan darah hahaha

  16. Begitulah Den. Pertanyaan ini ngga akan brenti. Aku udah lewat ditanya kapan mau tambah anak. Sekarang aku sering ditanya apakah anakku udah punya pacar. Sabar aja deh, nanti tinggal di Belanda hampir ngga ada yang tanya ini.

    1. Emang selama hidup pertanyaan akan selalu mengikuti ya Mbak. Cuman kadang2 salut dan terkagum dengan daya kreatifitas yang bertanya untuk bikin pertanyaan “kreatif” hehehe. Ah iya, G kan sudah menginjak remaja. Pasti pertanyaan itu mampir juga ya Mbak. Iya, syukurlah agak bebas dikit nanti di Belanda dari pertanyaan2 itu 😀

  17. tenang aja pertanyaan beginian akan jadi langganan selama kalian masih berduaan terus… ya ntar pertanyaan naik kelas kalau udah ada1 kapan ada 2,..ahhahah what a life ya………………

    1. Aku sih ga masalah Siti ditanya2 macam gini. Asal ga usah pakai embel2 setelah pertanyaan. Yang suka bikin kesel kan analisa2 sepihak setelah mereka bertanya. Sedang aku kan orangnya bukan tipe yang suka kasih penjelasan kalo ga perlu :)… What a life! 🙂

  18. Setuju sekali dengan kalimat adanya perbedaan yang jauuuuhhh banget antara ramah, perduli dan ingin tahu. Itu sebabnya di indonesia ( dan mungkin hanya afa ada di sini ) kalau ada accident, lalu lintas macet 2 arah. Arah yang berlawanan khusus memperlambat hanya untuk MENONTON!!! Pernah suatu hari, karena kesal, buka jendela dan keluarlah teriakan 3D ( suara ada kan ya ? ) menggelegar….woooooiiii jalaaaannn!!!

    1. Hai Margaretha… Iyaaa sepakaat banget. Kadang2 ingin tahu dan pedulinya orang2 kita itu malah bikin rugi yang lain. bikin sakit ati juga hahaha

  19. Padahal kita aja sabar kenapa orang lain yg ribet?, hahahaha, ajaib memang masyarakat kita. Saya tidak pernah bertanya ke seorang/ pasangan soal udah hamil atau belum? Biasanya mereka tanyanya “dah punya momongan?” Dan Biasanya pula saya jawab “kalau mudik saya momong anak kakak saya” 🙂

    1. Hahaha, kalau kata temenku, memang ada orang yang diciptakan buat ribet ngurusin orang hihihi. Aku dari dulu memang ga pernah tertarik nanya2 hal yang bersifat pribadi. Buat apa juga. Kalau ada yang cerita, ya aku dengerin.
      Bener tuh dijawab gitu aja. Kadang2 kita juga musti bikin mingkem mulut orang hehehe

Thank you for your comment(s)