Cerita Adaptasi – Kenalan Baru – Belajar Hal Baru

Sudah dua minggu saya berada di Belanda. Tidak terasa, seperti baru beberapa hari lalu tiba. Malah kata suami saya, seperti sudah bertahun-tahun tinggal bersama. Selama dua minggu itu juga banyak hal-dari lebih banyak hal-yang saya pelajari. Beberapa kebiasaan baru, beberapa tempat baru yang saya kunjungi, maupun bertemu beberapa kenalan baru yang bukan hanya dari Indonesia. Sejauh ini menyenangkan, meskipun ada beberapa kejadian yang memang diluar dugaan, tetapi saya selalu mengambil sisi positifnya dan menjadikan pelajaran supaya kedepannya bisa menjadi lebih baik.

Suami adalah tipe yang mendorong saya untuk selalu mandiri. Selalu memberi kesempatan saya seluasnya untuk dapat keluar rumah, tidak hanya duduk diam didalam rumah. Maksudnya baik tentu saja, agar saya lebih mengenal sejauh mungkin lingkungan baru, mengenal beberapa orang baru, dan melihat sendiri tentang kebiasan-kebiasan yang ada disini sebagai bagian dari proses adaptasi.

Seperti halnya saat beberapa waktu lalu saya akan melakukan pendaftaraan pernikahan dan lapor diri tentang keberadaan saya di Den Haag supaya dicatat di Gemeente Den Haag, berangkat sendiri tanpa didampingi suami karena dia pada waktu yang bersamaan sedang ada jadwal kuliah. Awalnya saya cemas tentu saja, apakah saya bisa melakukan sendiri atau tidak. Banyak pertanyaan “bagaimana jika” ketakutan yang tentu saja manusiawi datang bertubi ketika pertama kali harus mengurus sendiri sesuatu yang penting dan berhubungan dengan pemerintah Belanda. Tapi Suami saya berkata kalau saya selalu didampingi kemanapun pergi, lalu saya tidak akan pernah bisa belajar sesuatu, akan selalu merasa bergantung pada orang. Saya pikir, benar juga. Tidak ada yang perlu saya takutkan karena meskipun saya jauh dari kata lancar dalam berbahasa Belanda, tapi saya masih bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang saya temui menggunakan bahasa Inggris. Akhirnya saya berangkat dengan gagah berani, membawa semua dokumen yang sudah dipersiapkan sehari sebelumnya. Setelah turun dari kereta di Stasiun Den Haag Central, saya mulai ragu dan lupa arah. Apakah harus mengambil pintu keluar sebelah kiri atau kanan. Saya gambling, mencoba yang sebelah kanan, ternyata salah. Saya kembali dengan mengambil arah sebaliknya. Kali ini ternyata benar arahnya. Dalam perjalanan ke gedung Gemeente, tiba-tiba ada yang berseru “dari Indonesia?” saya menoleh mencari sumber suara. Ternyata yang menyapa seorang bapak yang awalnya saya pikir berusia masih sekitar akhir 50 tahun. Pada akhirnya beliau sendiri yang menyebutkan kalau usianya sudah 70 tahun. Awet muda rupanya. Kami saling berkenalan, berjabat tangan dan menyebut nama masing-masing. Bapak Arthur sangat ramah, menuntun sepedanya, menjajari langkah saya sampai ke gedung. Selama perjalanan yang sangat pelan beliau bercerita banyak hal, termasuk menerangkan bahwa sudah tinggal selama 60 tahun di Belanda karena beliau berdarah campuran Nias-Belanda. Karenanya, beliau tidak terlalu lancar bahasa Indonesia. Jadi saya berbicara menggunakan bahasa Indonesia, beliau menggunakan bahasa Belanda. Entah bagaimana ceritanya, tapi kami mengerti satu sama lain apa yang dimaksudkan. Beliau menyemangati saya untuk bisa beradaptasi dengan cepat dan tidak gampang menyerah. Diakhir perbincangan, kami saling bertukar alamat email. Beliau ingin mengundang saya dan suami ke rumahnya untuk sekedar ngobrol santai saat makan malam. Katanya akan dimasakkan rendang. Saya sempat bercanda “Opa, saya tidak makan daging, kalau ada gulai kepala ikan, boleh juga” yang langsung disambut tertawa keras renyahnya. Menurut beliau, saya menyenangkan dan termasuk mandiri karena baru beberapa hari di Belanda sudah kesana sini sendiri *langsung pengen terbang karena dipuji*. Setelahnya kami saling mengucapkan salam perpisahan. Hari itu menjadi sangat menyenangkan, mengenal seseorang baru, yang tiba-tiba menyapa saya dengan ramahnya, dan membuat saya berpikir bahwa semua (mudah-mudahan akan selalu) baik-baik saja.

Dilain waktu, saya mendapati sepeda yang baru beberapa hari dibeli mengeluarkan suara aneh. Saya laporkan pada suami, berharap akan diantarkan ke tempat reparasi sepeda. Suami bilang, saya bisa pergi sendiri kesana, karena gampang dan tidak perlu didampingi. Saya kembali was-was. Jaraknya memang tidak terlalu jauh dari rumah, dan saya masih hapal rute menuju kesananya. Kembali muncul pertanyaan “bagaimana jika”. Tapi kembali saya berpikir, kalau harus menunggu suami, saya tidak bisa pergi berbelanja ke Delft karena sepeda tidak nyaman dikendarai. Kalau harus menunggu suami menemani untuk sesuatu yang bisa saya lakukan sendiri, lalu semua ikut tertunda karena dia bisanya hanya akhir pekan saja ketika libur bekerja. Lebih baik saya berangkat dan melupakan semua ketakutan. Pada akhirnya saya berangkat ke toko reparasi sepeda dan begitu sampai disana, lelaki yang melayani kami membeli sepeda mengenali saya dengan menyapa ramah “Hai Madam, an Indonesian with nice red bicycle”. Saya tersenyum lebar, kemudian mengatakan keluhan tentang sepeda. Dia melakukan pengecekan dan langsung mengerjakan. Tidak berapa lama kemudian sepeda saya sudah kembali benar, tanpa ada suara-suara yang membuat tidak nyaman untuk dikendarai. Kembali saya belajar satu hal, bahwa seringkali saya merasa terlalu ketakutan yang berlebihan. Seringkali meragukan kemampuan bahwa saya bisa melakukan sesuatu yang pada awalnya saya ragukan. Mengalahkan ketakutan diri sendiri itu tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin untuk dilalui. Dan setelahnya, ketika melintasi toko sepeda tersebut beberapa kali, saya bertemu kembali dengan lelaki ramah tersebut, dia selalu berseru memanggil nama saya dengan ramah “Hai Deny, an Indonesian woman”, Dennis nama lelaki itu karena disuatu kesempatan kami berkenalan satu sama lain dan berbincang sebentar dengannya.

Dalam hal urusan belanja makanan, sayuran, buah, Suami sudah mempercayakan pada saya. Karenanya saya sudah diberitahu beberapa tempat biasanya dia berbelanja. Awalnya saya juga tidak percaya diri ketika pergi berbelanja sendiri. Tapi saya sudah tidak punya alasan lagi untuk menghindar. Saya sudah punya sepeda, artinya berbelanja bukan lagi sebuah halangan. Ketika di Den Haag, sepulang dari Gemeente, saya memutuskan untuk sekalian berbelanja di Ming Kee Supermarket karena disana lengkap bumbu-bumbu Indonesia juga beberapa sayuran. Ketika saatnya membayar, wanita muda yang menjadi kasirnya mengatakan sesuatu dalam bahasa Belanda. Karena terlalu cepat, saya tidak menangkap dia berbicara apa. Hanya ada satu kata yang saya tangkap “^$^$^%#@@ Gratis(**%&$$^” Ya, kata Gratis terdengar jelas buat saya. Saya pikir apanya ya yang gratis. Saya jawab saja “Ja, ok”. Ternyata saya disuruh mengambil satu lagi jamur enoki karena kalau beli satu gratis satu. Ah, begitu rupanya. Setelah itu dia mengucapkan kalimat dengan cepat lagi, dan kembali saya mencoba menebak, mungkin disuruh memasukkan kartu. Akhirnya saya memasukkan kartu dan menekan PIN. Dia tidak berbicara lagi. Berarti tebakan saya benar. Kemudian saya berlalu, setelah mengucapkan terima kasih. Masih ada beberapa sayuran lagi yang belum saya dapatkan karena di Ming Kee tidak ada persediaan. Saya berkeliling mencari Ekoplaza. Setelah berjalan beberapa blok, akhirnya saya menemukan gedungnya. Pada saat membayar, wanita yang menjadi kasirnya berbicara sesuatu “^%%#% Bon **(%$?”. Saya hanya menangkap kata Bon. Saya menaksir yang ditanyakan adalah “Apa bonnya mau dicetak?” lalu dari hasil kira-kira tersebut saya menjawab “Nee hoor”. Rupanya jawaban kira-kira saya tadi benar, karena wanita tersebut tidak berkata apa-apa lagi. Setelah mengucapkan terima kasih, lalu saya pergi dengan senyuman. Wah, lumayan juga saya sudah mengerti beberapa hal disini, meskipun bahasa Belanda masih merangkak tidak jelas dan susah menerka apa yang dibicarakan. Intinya modal nekad saja. Bisa karena terpaksa. Bisa saja saya bilang kalau belum bisa bahasa Belanda dan berbicara menggunakan bahasa Inggris, tapi hal tersebut tidak saya lakukan karena memang niat awalnya hari itu ingin belajar berinteraksi. Ketika saya ceritakan hal ini pada suami, kami berdua sama-sama tertawa. Tentang saya yang tebak-tebak kata. Semakin memotivasi untuk segera belajar serius bahasa Belanda.

Minggu lalu, tiba-tiba saya ngiler ingin makan sambal terasi. Saya ingat kalau dulu Ibu pernah menitipkan trasi pada suami ketika dia kembali ke Belanda setelah kami menikah. Saya mulai mencari dan terus mencari ke seluruh dapur, tapi tidak kunjung ketemu. Wah, ditaruh dimana ya terasinya pikir saya. Dan saya tidak mungkin berkirim pesan ke dia yang sedang kerja hanya sekedar ingin menanyakan terasi. Padahal terasi itu enak sekali, diberi oleh teman ibu asli dari Lombok. Saya memutuskan untuk menggoreng saja karena ada terasi 1kg yang saya bawa ketika 2 minggu lalu berangkat ke Belanda. Tapi masih dalam keadaan mentah, belum digoreng atau dikukus. Tapi saya juga khawatir bagaimana cara menggoreng terasi yang aman disini tanpa harus mengganggu tetangga sekitar dengan baunya yang menggelegar. Saya ingat cerita teman yang tinggal di Jepang. Awal dia pindah, saat menggoreng terasi, tiba-tiba pintu rumahnya ada yang mengetuk. Nampak 2 polisi berdiri disana karena mendapat laporan dari tetangganya kalau ada bau bangkai keluar dari rumah teman saya itu. Tetangga tersebut khawatir ada sesuatu yang terjadi, sehingga lapor pada polisi. Pada saat teman saya bercerita, dia tertawa terbahak-bahak. Tidak mengira bahwa terasi akan berbuntut pada polisi. Lain lagi cerita seorang teman yang tinggal di Adelaide. Pada saat menggoreng terasi, pintu rumahnya digedor kencang, setelah dibuka ternyata tetangganya sangat tidak suka dengan bau yang datang dari rumah teman saya. Pada akhirnya teman saya meminta maaf dan mencoba mengirim hasil masakannya yang menggunakan terasi. Tetangga tersebut menyukai masakan teman saya, dan terasi yang menjadi biang keladinya, dan pada akhirnya mereka menjadi akrab. Teman saya bilang bahwa tidak seharusnya dia mengusik kenyamanana orang lain diatas kesenangannya akan terasi.

Berkaca dari pengalaman teman-teman tersebut, saya akhirnya menggoreng terasi dengan api kecil sekali, wajan ditutup, semua blower dinyalakan, semua jendela saya tutup. Setengah jam setelah menggoreng, tidak terjadi apa-apa, artinya aman. Baru saya tenang. Tapi ketika suami datang, dia mencium bau terasi di seantero rumah “Terasi, honey?” saya tertawa. Mungkin saya aman dari protes tetangga, tapi suami tak bisa diperdaya. Toleransi itu mudah sebenarnya, mencoba menempatkan posisi kita pada posisi orang lain. Kalau di Indonesia ketika menggoreng terasi seluruh kampung bisa mencium baunya, tapi disini saya tidak bisa berlaku yang sama. Tidak semua orang akan suka apa yang saya lakukan, jadi sebisa mungkin menjaga tingkah laku sebagai orang baru.

Begitulah cerita panjang saya tentang proses adaptasi disini. Tidak mudah dan akan berlangsung panjang. Tapi saya sangat senang malakukan itu semua. Mempelajari hal baru pasti akan menimbulkan rasa penasaran dan antuasias yang tinggi. Semoga semuanya tetap berjalan lancar sesuai harapan. Pelan tapi pasti.

Selamat hari Jumat, selamat berakhir pekan dengan Keluarga, Teman, dan Orang-orang tersayang. Semoga selalu ada cerita seru diakhir pekan teman-teman.

-Den Haag, 13 Februari 2015-

Trasi sebotol kecil yng menggorengnya dengan penuh perjuangan. Yang ada sekarang dieman-eman :D
Trasi sebotol kecil yang menggorengnya dengan penuh perjuangan. Yang ada sekarang disayang-sayang 😀

22 thoughts on “Cerita Adaptasi – Kenalan Baru – Belajar Hal Baru

    1. Emaaangg, aku ga mudeng mereka ngomong apa. Begitu gratis aja, langsung diiyain. Untungnya sih tepat sasaran, kalo nggak kan was-was juga apa yang digratiskan 😀

  1. Hallo Mbak Deny,,, wah suaminya baik yaa ngajarin mandiri, saya juga mau mandiri ah siapa tau dapet suami *laaahh :O

    Oh terasi diluar negeri ternyata jadi perkara ya, macem penjahat aja 😀

    1. Hai Hai Rani. Bersyukur juga dia teges. Kalo nggak nanti aku yang susah majunya heheh. Amiiinnnn buat keinginan Rani 🙂
      Terasi bukan cuma di LN aja yang berperkara, di Indonesia juga banyak yang ga suka 🙂

  2. Eeeeh kalau sobat teteh digedor tetangganya, katanya “kamu lagi goreng kaos kaki ..??!!” hahaha aya-aya waeee ..
    Padahal keju juga bau khaaan..?
    Jd terasi itu kejunya orang Indonesia gitu 😀

  3. Teteh dong sudah 12 thn di Jerman, kemana-mana wajib ditemenin suami hahaha *paraaaah..!!!

    Terasi mah bungkus saja sama Alumunium foil gitu, trs panggang di Oven, insyaAllah ngga bakalan bau kemana-mana dan dag dig dug 😀

    Orang Belanda masih mau dan umumnya pinter bhs Inggris, kalau di Jerman, umumnya males dan ngga pinter2, jd kalau ada yg telpon nawarin macem2, langsung bilang pake bhs Inggris bitte.. Padahaaaal sendirinya ngga pinter juga ngomong bhs Inggris hahaha

    1. Iya nih Teh, suamiku tipe yang agak “kejam” maunya istri kemana2 sendiri untuk ngurus2 dan Belanja. Iya, teman juga ngasih taunya di oven aja, tapi aku belum belajar gimana caranya pake oven. Baru baca manual bukunya hahaha.
      Iya, bersyukurnya disini semua bisa bahasa Inggris. Tapi jeleknya aku yang jadi angot2an males belajar Bahasa Belanda. Mudah2an suatu saat bisa ketemu Teteh secara nyata, biar bisa belajar ramah kayak teteh ^^

      1. Tapi bagus Den kalau suami begitu.. Lha teteh jadinya khan tergantung sama kangmas terus.., lagian salah dia juga..kenapa manjain istrinya bangeut hihihi *udah salah, nyalahin pulaaaa

        1. Hahaha, di Syukuri aja jadinya kalo begini ya Teh. Banyak bersyukur kan jadi makmur dan subur menurut pepatah hihihi

      2. Oh ya bikin istrinya mandiri Den… teteh terus terang kurang mandiri, selalu berdiri eh ngumpet dibelakang kangmas terus…

        Salut deh sama Deni yg sudah berani kemana-mana sendirian …gut gemacht

  4. mb den,,tetap semangat, aku tau gimana rasanya harus pergi sendiri keluar rumah di negara yang baru tanpa lancar bahasa lokal, awalnya juga deg2an dari awal keluar rumah sampai pulang ke rmh lagi baru bisa bernafas lega, takut pas di kasir mereka nanya atau pas mau beli roti mereka tanya roti yg mana, haduh, saya malah sempat tulis di hp jenis rotinya trus tunjukin ke penjualnya biar mereka tau maksud saya, abisnya kalau ngomong nanti dialegnya aneh2 lagi,hehe
    masalahnya dsini jarang yang bisa berbahasa inggris, jadi mau gak mau harus bisa berbahasa italia 🙂

    1. Kalau aku memang harus dan wajib belajar bahasa Belanda Adhya. Ada ujian bahasa Belanda (lagi) disini. Jadi dikasih waktu selama 3 tahun untuk lulus ujian, kalau nggak, dideportasi hehehe. Iyaaa bener, deg2an tapi bikin nagih juga yaa buat coba-coba haha. Aku itu gampang banget nyasar, entah kenapa. Padahal petunjuknya jelas. Kemarin hampir saja salah belok jalan. Untung tidak sampai kebablasan. Kalo nggak, entah akan berakhir dikota mana aku hehehe

      1. di sini juga sama kok mbak Den, kalau mau perpanjang ijin tinggal nanti di tes lagi kemampuan bahasanya, mumpiung ijin tinggal saya masih sampe 5 tahun kedepan jadi masih nyantai 😀

  5. Sebenernya banyak juga orang Indonesia yang ga suka bau terasi ya Mba Den :D, btw itu opanya lucu ya masih naik sepeda dan masih sehat. Enaknya tinggal di udara bersih kaya gitu ya, bisa sepedaan kemana – kemana

    1. Iya bener juga Ji. Terasi ini sebenarnya boomerang juga. Enak dinikmati buat kalangan tertentu, tapi baunya bikin pengen nimpuk yang lagi makan buat orang-orang yang ga suka baunya hahaha. Iya, ramaahh banget dia. sampai sekarang kami masih saling ber sms-an. Mencari waktu yang tepat untuk mengunjunginya. Bersepedaan disini enak banget. Seger hawanya. Trus punya jalan sendiri. Jadi ga serobotan sama mobil, apalagi sepeda motor hehehe

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.