Natal Pertama di Belanda

Saya terlahir ditengah keluarga besar yang multi agama, terutama dari keluarga Ibu. Pemeluk 5 agama di Indonesia, penganut kepercayaan bahkan pemeluk agama Shinto juga ada dalam keluarga besar. Jadi, saya tumbuh dalam keberagaman agama dikeluarga. Tidak mengherankan kalau sedang berkunjung ke rumah Mbah di Nganjuk pada saat Lebaran atau liburan Natal, keluarga besar ramai berkumpul dan ikut bersuka cita dengan perayaan yang sedang berlangsung. Suasana kumpul keluarga tersebut yang membekas dalam ingat saya sampai sekarang. Betapa saya sangat senang kalau bertemu sepupu-sepupu dan keponakan-keponakan perpaduan dari berbagai macam suku dan agama. Kehangatan keluarga, makan-makan, bercengkrama, ataupun sekedar tertawa tanpa henti tanpa tahu apa yang menjadi pemicunya. Tetapi kesenangan tersebut surut teratur dikala usia sudah menginjak difase pertanyaan “kapan kawin?”yang melucur seperti petasan : riuh memekakkan telinga.

Ibu sejak SD sampai SMA menempuh pendidikan disekolah Katolik. Karenanya, bukanlah hal yang baru buat saya mendengar cerita beliau tentang Misa, Doa Novena, Rosario, Komuni, bahkan beberapa lagu misa ataupun lagu lainnya seperti Ave Maria, Malam Kudus (yang ternyata lagu aslinya ditulis dalam bahasa Jerman berjudul Stille Nacht) sudah biasa saya dengarkan karena beliau sering memutarkan sewaktu saya dan adik-adik masih kecil. Tidak dapat dipungkiri ketika dirumah memutarkan lagu-lagu tersebut, keluarga kami menuai protes tetangga kanan kiri kenapa keluarga Islam memutar lagu agama Katolik. Tapi Ibu tidak peduli dan tutup telinga dengan gunjingan tetangga. Toh yang mengerti tujuan kenapa Ibu melakukan itu adalah kami anggota keluarga, itu yang paling utama. Mungkin sikap seperti itu yang akhirnya saya tiru, tidak peduli tudingan sana sini saat mulai menjalin kasih dengan mereka yang berbeda keyakinan. Ketika akhirnya saya serius dengan seorang lelaki beragama Katolik, saat itu juga saya tahu bahwa hubungan kami tidak akan pergi kemana-mana, jalan ditempat, bahkan akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa kami tidak bisa dipersatukan. Pada saat itu kami tidak cukup ilmu untuk memahami ajaran agama masing-masing, sehingga tidak mampu menjawab banyak pertanyaan yang mencuat diantara kami. Namun saya harus berterima kasih kepada dia karena membukakan mata bahwa ternyata saya tidak terlalu paham dengan agama yang saya yakini, karenanya saya menjadi terpacu untuk belajar lebih dalam.

Saya masih belajar dan terus mencari jawaban sampai sekarang atas segala pertanyaan yang muncul tidak ada habisnya tentang banyak hal. Dalam proses belajar itu saya lebih banyak diam dan menjadi pengamat. Mengunci mulut dan menjaga jemari tangan agar tidak menjadi “hakim dadakan” dengan menuding ini dan itu. Jika ada yang tidak sesuai atau saya belum yakin akan suatu perkara, saya memilih untuk diam dan memperbanyak ilmu daripada sibuk menyalahkan atau mengumbar opini pribadi yang tidak jelas kebenarannya. Saya meyakini apa yang saya yakini dengan tidak menutup pintu hati dan pikiran untuk belajar sebanyak-banyaknya ilmu supaya tidak menjadi sempit pengetahuan dan tidak mudah mengkerdilkan orang yang mempunyai pendapat berbeda. Salah satu Quote Mother Teresa yang saya suka adalah “If you judge people, you have no time to love them.” Saya bersyukur dibesarkan dari keluarga dengan background beragam, sehingga kami tidak ada waktu untuk mencari pembenaran akan masing-masing keyakinan karena kami lebih banyak waktu untuk menghormati perbedaan yang ada dengan cara yang lebih bijaksana dan pikiran terbuka. Ketika di Indonesia masih saja timbul pro dan kontra tentang memberikan ucapan selamat Natal, saya di Belanda sedang menikmati suasana Natal pertama bersama suami dan keluarga.

Dua minggu menjelang tanggal 25 Desember, suami tiba-tiba mengusulkan untuk membeli pohon beserta hiasannya. Dia sangat bersemangat sekali karena sudah lama tidak melakukan tradisi Natal ini. Saya menemani dia memilih pohon yang sesuai untuk ditaruh dirumah dan beberapa hiasan yang cocok supaya pohonnya meriah. Saya juga sangat antusias memilih beberapa lilin beraroma yang akhirnya saya tempatkan dibeberapa sudut ruang. Aroma yang saya pilih adalah vanila, jeruk, strawberry dan anggur. Rumah kami penuh dengan wewangian buah, terasa manis dan menyegarkan juga menenangkan pikiran. Akhirnya proses menghias pohonpun selesai dimana ternyata suami yang banyak berperan sementara saya tetap sibuk dengan tugas mengolah pangan. Saya senang melihat pohon dengan kerlip lampu dan hiasan warna warni yang menghiasi pojok salah satu ruang keluarga. Berasa meriah dan membuat hati riang. Pohon pertama kami.

Saya bertanya pada suami tentang tradisi tukar kado. Ternyata dikeluarganya tidak lagi ada tradisi tukar kado ketika suami dan adik-adiknya beranjak remaja. Jadi kalau Natal tiba, mereka hanya merayakan dengan cara berkumpul bersama, tanpa tukar kado, tanpa ucapan. Jadi Natal dimaknai sebagai kumpul keluarga dan waktunya libur panjang. Itu saja, tanpa ada embel-embel agama. Natal kali ini berbeda karena Papa sudah tidak ada lagi diantara kami. Tahun lalu menjadi Natal terakhir bagi seluruh keluarga berkumpul bersama Papa, dimana tahun lalu saya masih terbenam diantara persiapan menjelang detik-detik sidang tesis di Surabaya. Jauh dari suami dan seluruh keluarga di Belanda yang merayakan Natal dengan makan malam bersama disalah satu Restoran. Karenanya tahun ini saya sangat antusias : pengalaman pertama melalui Natal bersama seluruh keluarga suami. Suami mengatakan tidak ada acara tukar kado, yang kemudian saya yakinkan berulangkali apakah memang benar-benar tidak ada, akhirnya saya tidak menyiapkan kado apapun, bahkan untuk dirinya.

Sehari menjelang Natal, saya sibuk pergi ke pasar dan berkunjung ke centrum untuk berbelanja ditoko oriental dan beberapa supermarket karena pada tanggal 25 Desember semua toko tutup kecuali beberapa restoran tetap buka. Pasar dan centrum tidak seramai biasanya. Mungkin karena banyak yang sedang pergi liburan musim dingin. Saya senang karena mendapatkan kemangi ditoko oriental, mengirimkan foto ke suami dan mengatakan kalau saya sudah mendapatkan hadiah natal buat dia yaitu pohon kemangi. Dia sangat senang makan kemangi apalagi kalau dicampur dengan sambel tempe penyet. Waktu itu saya hanya bercanda karena memang tidak ada acara membelikan kado. Saya bahkan tertawa geli melihat diri sendiri menenteng pohon kemangi sementara orang-orang banyak yang menenteng buket bunga. Bahkan kondektur kereta sempat bertanya pohon apa yang saya bawa, sampai dia mencium aromanya. Surga dunia ini bisa makan tempe penyet kemangi di Belanda.

Salah satu stan ikan dipasar yang memasang Santa
Salah satu stan ikan dipasar yang memasang Santa
Kemangi mejeng difoto :D
Kemangi mejeng difoto πŸ˜€

Pulangnya saya melewati langganan tempat membeli Oliebollen sepulang sekolah. Ini adalah cemilan khas untuk menyambut tahun baru di Belanda. Saya menyebutnya seperti roti goreng kemudian ditaburi gula halus. Ada berbagai macam variasinya, tetapi favorit saya adalah yang original. Oliebollen ini rasanya lembut tapi sangat mengenyangkan. Harganya juga terjangkau, € 0.90 perbiji yang original. Saya biasanya beli dua untuk cemilan sambil jalan menuju rumah. Oh iya, Oliebollen ini kalau menyebut jamak. Kalau satu disebutnya Oliebol.

IMG_7367

Oliebollen
Oliebollen

Saat suami pulang kantor, dia membawa tas besar. Saya bertanya dia ada acara apa kok membawa barang banyak. Lalu dia menjawab itu adalah kado untuk tanggal 25 Desember. Wah, saya kaget kok tiba-tiba dia membeli kado padahal kan perjanjiannya tidak ada acara tukar kado. Dia bilang itu adalah surprise sambil tersenyum jahil kepada saya. Aduh, saya jadi merasa bersalah tidak membeli apa-apa buat dia, sambil nengok pohon kemangi yang bersender manis dekat jendela.

Pohon dan hadiah-hadiah dibawahnya. Rasanya saya ingin menjejerkan pot kemangi disana, kado untuk suami :D
Pohon dan hadiah-hadiah dibawahnya. Rasanya saya ingin menjejerkan pot kemangi disana, kado untuk suami πŸ˜€

Pagi hari kami makan pagi bersama. Ini adalah hal yang luar biasa karena baru kali ini kami menghabiskan waktu untuk makan pagi bersama. Saya pernah bercerita dalam tulisan Fakta dalam Rumah Tangga kami, bahwa kami berbeda keyakinan tentang menu sarapan. Karenanya kami tidak pernah makan bersama. Tetapi pagi itu berbeda. Kami duduk dimeja makan sambil menyantap roti Jerman pemberian Beth dan minum teh sembari mendengarkan musik yang mengalun dari piringan hitam artis Nana Mouskouri. Lagu-lagu seperti Ave Maria, Silent Night, God Rest Ye Merry Gentlemen, Littel Drummer Boy dan masih beberapa lagu lainnya mengiringi pagi yang dingin dan abu-abu (maklum langitnya abu-abu dan tidak ada salju). Setelahnya acara buka kado dan saya terkejut mendapati isinya yang tidak terduga. Kejutan manis dari suami karena barang-barangnya sangat berguna. Jingkrak-jingkrak, peluk dia sambil mengucapkan terima kasih. Kalau melihat rekaman video detik-detik saya membuka kado jadi tertawa sendiri, maklum tidak pernah ada acara buka kado sebelumnya, jadinya semacam norak *ngaku.

Roti dari Jerman. Kalau tidak salah namanya Weihnachtsstollen.
Roti dari Jerman. Kalau tidak salah namanya Weihnachtsstollen.

Setelah makan siang, kami kerumah Mama. Ternyata disana sudah berkumpul keluarga yang lain. Keluarga suami ini anggotanya tidak banyak. Suami beserta adik-adiknya, anak-anak mereka, serta Papa (saat masih hidup) dan Mama. Jadi benar-benar keluarga inti. Mama menyediakan aneka makanan yang lezat-lezat. Kami menikmatinya sambil bercengkrama dan melihat foto-foto Papa Mama saat masih muda. Kami bernostalgia dengan kenangan saat Papa masih ada. Saat jam 5 sore, kami pamit pulang karena Mama ada acara makan malam bersama adik suami dirumahnya sedang kami akan makan malam di restoran Sushi di Centrum. Wah, senang sekali saat kami berjalan di Centrum yang jelasnya lengang, hanya segelintir orang yang melintas.

Centrum yang lengang
Centrum yang lengang
Pohonnya besar sekali didalam mall.
Pohonnya besar sekali didalam mall.

Setelah makan malam, kami berjalan-jalan sebentar. Ternyata saya mendapati beberapa supermarket masih buka. Langsung saya membeli telor ayam karena sehari sebelumnya saya lupa membeli yang berakibat paginya saat akan membuat dadar jagung tidak mencampurkan dengan telur, nekat saja saya masukkan oven, ternyata rasanya enak juga *dipuji sendiri haha. Untuk kendaraan umum seperti tram, bis dan kereta masih beroperasi seperti biasa. Bahkan saya melihat banyak taksi yang juga masih melintas.

Stasiun yang lengang. Meskipun dingin menggigit, makan es krim tetap jalan terus.
Stasiun yang lengang. Meskipun dingin menggigit, makan es krim tetap jalan terus.

Sangat menyenangkan melewati suasana Natal di Belanda. Pengalaman pertama saya. Mengingatkan akan kenangan masa kecil bersama seluruh keluarga besar saat Natal datang. Kehangatan yang tercipta diantara perbincangan dan gelak tawa. Memang masih banyak tanya dalam kepala saya, dan butuh waktu untuk mencari jawabnya. Tetapi hal tersebut tidak mengurangi keriangan marasakan suasana Natal pertama bersama suami. Akhirnya tahun ini kami bisa melewati bersama, saling introspeksi, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya. Setiap perbedaan jika disikapi dengan bijaksana, paham dan mengerti batasannya serta tidak merasa benar sendiri, maka semua akan indah berdampingan penuh harmoni.

My religion is very simple. My religion is kindness

-Dalai Lama-

-Den Haag, 27 Desember 2015-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi

44 thoughts on “Natal Pertama di Belanda

  1. Tulisannya bagusss dan nice quote πŸ˜€
    Ada pepatah juga bilang, makin tinggi toleransi terhadap agama lain, sebenarnya makin memahami agama sendiri (begitu katanya) πŸ˜€
    Salam kenal yaaa πŸ˜‰

    1. Hai Riri, terima kasih ya sudah berkunjung ke blog kami. Salam kenal juga πŸ™‚
      Mungkin benar quote itu, mencoba mengenal yang lain, supaya makin mengenal diri sendiri

  2. Aku paling suka baca tulisan semacam ini. Tulisan mengenai toleransi πŸ™‚ mbak fotonya bagus-baguuuus banget. Sangat menunjang isi tulisannnya. Dan btw, aku baru lihat stasiun Den Haag di film Negeri Van Orange πŸ™‚

    1. Ahhh terima kasih sekali Om sudah disanjung foto-fotoku. Masih amatiran karena masih menggunakan kamera Hp :). Stasiun Den Haag bagus ya Om *muji sendiri haha. Insya Allah beberapa waktu kedepan aku akan share wisata seputar Den Haag πŸ™‚
      Terima kasih sekali lagi Om, aku hanya ingin mengutarakan bahwa toleransi itu indah kok asal tahu batasannya. Sekalian curhat colongan haha.

  3. Meriah ya Den! Dirumah kita gak pernah pake pohon natal, hanya pas ke mertua aja disana ada. Ini baru balik liburan, makanya baru cek postnya. Tapi bener sejak di Eropa jadi toleransinya kita , pemahaman akan hal ini lebih mengarah ke budaya daripada agama ya Den. Dan rasanya juga nyaman kalu kita paham akan perbedaan ya.

    1. Waahh pantas kok ga nampak nongol, liburan ternyata. Lama juga ya Lu.
      Ini juga suami baru inisiatif punya tahun ini pas sudah kawin sama aku. Sebelum2nya males katanya, menuh2in rumah haha. Justru dirumah mertuaku ga ada pohon. Iya, aku juga baru merasakan kalau di Eropa lebih mengarah ke budaya, sedangkan di Indonesia ke agama dan ujung2nya ribet sendiri kalau mendekati hari raya agama tertentu.

    1. Saljunya kayaknya ga datang tahun ini. Soalnya suhu masih diatas 10 derajat terus. Iya sekar, euforianya beda, ga ada yang (tiba2) ngasih tausiah soalnya haha.

  4. Senang bangat baca tulisan mu Den. Masalah kepercayaan itu menurut aku hanya urusan kita pribadi dan Sang Pencipta. Kewajiban kita hanya menghormati perbedaan dan saling mengasihi itu saja sich.

    Aku cukup surprise loh kalau suamimu doyan kemangi. Dan penasaran ama kado dari suami mu #maafyachradakepo

    1. Terima kasih Lin. Iya benar, urusan kepercayaan itu urusan yang pribadi, ga bisa dipaksakan dan jangan memaksakan karena semuanya datang dari hati.
      Suamiku doyan semuaaa makanan Indonesia. Apa saja dilahap sama dia, apalagi kalau pedas. Kemangi salah satu favoritnya πŸ˜€
      Kadonya sesuatu yang berhubungan dengan kelangsungan blog haha

  5. Kalo aku lahir dan besar dari keluarga ayah dan ibu yang muslim. Tapi sejak sd sampai sma bersekolah di sekolah katolik. Sehingga akrab banget dengan acara Natal. Dan sampai saat ini suka banget sama suasana Natal. Kalo yang lain protes kenapa mall mall penuh dengan dekorasi Natal dan lagu lagu Natal. Aku justru sengaja datang untuk menikmati ini. Dan tentu aku suka banget ama postingan Denald ini. ❀️❀️❀️

    1. Wah, senangnya ada yang berbagi cerita disini sekolah disekolah Katolik. Terima kasih Mbak. Sama banget Mbak, aku dulu juga sukaaa banget jalan ke mall kalau pas mendekati Natal. Suka dengan ornamennya dan suasananya πŸ™‚
      Terima kasih sekali lagi (baru tahu lho Mbak kalo namanya Endah hehe)

  6. Aha jadi yg dapet kado cuma Deny sendiri dong.
    Kita ga merayakan natal, kita berdua ga ada keluarga di Belanda ga ada yg mesti dikunjungi jadinya di rumah aja berempat gourmetten biar seru, tapi hari sebelumnya tiga teman beserta keluarganya dateng ke rumah buat makan malem, jadi rame dan hangat, seneng nya.

    Selamat tahun baru Den, tinggal beberapa hari lagi

    1. Hahaha Iya Yang. Tapi ada satu barang yang bisa kami pakai bersama. Jadinya ya kado bersama itu haha.
      Oh iya Yang, keluarga suami kan ga di Belanda ya. Jadinya kalian ya kumpul berempat. Untung ada teman yang datang ya Yang, jadi masih ramai dan terasa syahdunya. Kami malah ga ada gourmetten Yang haha.
      Selamat menyambut tahun baru juga Yang buatmu sekeluarga πŸ™‚

    1. Kalo di Belanda sini berasa ramenya justru tanggal 5 Desember, hari Sinterklaas. jadi kayak pestanya anak kecil yang dapat kado dari Sinterklaas. Kalau tanggal 25 lebih ke Syahdu kumpul bersama keluarga. Tapi memang bener. Rasanya gimanaaa gitu, seneng kumpul2. Iyaa, acara dapat kado ternyata menyenangkan ya haha

  7. Mbak, postinganmu bkin…..damaiii..bkin adem hati. Hehe..seneng melihat bs saling menghormati dan menghargai.
    Kemarin kami juga mengunjungi mertua, kakak ipar dan adik ipar, mkn bersama di hari pertama dan kedua Natal. Hihi. Oya daun kemanginya itu rasanya kemangi indonesia yak?

    1. Suwuun Mbak πŸ™‚ Ingin berbagi apa yang aku alami dan rasakan. Bahwa hidup berdampingan meskipun berbeda itu juga sangat indah, tanpa justifikasi ini dan itu *mendadak curhat haha.
      Waahh asyik Mbak dua hari Natal makan2 terus haha. Aku Natal hari kedua ke Amsterdam, nonton Amsterdam Light Festival. Mlaku sampai 5 jam keluyuran menyusuri titik2 lampu sesuai peta, sampai ga kerasa πŸ˜€
      Iya, iku kemangi persis kemangi Indonesia rasanya. Nang Amazing Oriental onok Mbak dijual. Lumayan gawe tombo kangen.

    1. Iya Kak Cumi, kalau pernah merasakan hidup diantara perbedaan, Insya Allah lebih menghargai dan menghormati perbedaan yang ada, tidak saling tuding2an *mengandung curcol jawabannya haha.

  8. Aaaa sukaa <3 keluargaku juga terdiri dari bermacam macam agama, terutama islam dan kristen sih.
    2 kakakku masuk islam saat nikah, mama ya biasa aja hahaha
    opa dari papa yang mendirikan mesjid bahkan menyekolahkan anak anaknya di sekolah katolik karena tingkat disiplinnya lebih tinggi dibanding sekolah umum menurut opa.
    2 hari raya yang paling aku suka karena berasa banget syahdunya ya natal dan lebaran, ehehe πŸ˜€ selamat menikmati kado <3

    1. Ah Tashaaa, terima kasih sudah berbagi cerita keluargamu. Senang sekali aku membacanya. Langsung merasa teduh πŸ™‚ Subhanallah, aku merinding baca Opa mendirikan Masjid. Betul, salah satu alasan kenapa Mbah Kakung menyekolahkan anak2nya disekolah Katolik karena tingkat disiplin yang tinggi dan kualitas pendidikan yang lebih baik dari sekolah negri pada jaman itu.
      Iyaa, lagi menikmati kadonya ini. Terima kasih, selamat menyambut tahun baru untukmu dan keluarga kecilmu ya Tasha ^^.

  9. Kalau buka FB pasti pusing ya karena banyak polemik seputar perayaan..seperti sebuah perayaan lain menjelang perayaan…:))
    btw. the salmon looks so juicy..

    1. Aku sudah deactive FB hampir 2 bulan ini Fee. Jadi hidupku lumayan damai sekarang tidak lagi melihat huru hara di FB. Oh IG juga lagi cuti lebih sebulan lalu. Jadi cuman aktif di twitter dan Blog. Jadi polemiknya baca di twitter hehe.
      Iya, salmonnya minta diangkut semua itu πŸ˜€

  10. Wah kita sama yah mbakkk.. Dibesarkan dlm keluarga yg berbeda keyakinan. Mama ku mualaf, dr SD smpe SMA jg sekolah katolik πŸ™‚

    Dan suka sekali dgn postingan ini πŸ™‚

    1. Toss kita Ye! Terima kasih πŸ™‚
      Iya, pas aku baca postinganmu tentang Pohon Natal, aku langsung terkagum dengan latar belakang keluargamu, soalnya mirip sama keluargaku. Semoga Mama selalu sehat dan umur yang berkah selalu menyertai ya πŸ™‚

  11. Acung jempol untuk tradisi di keluargamu Mba Den. Tidak banyak keluarga yang bisa menerapkan dan menjalankan toleransi seperti itu. Salut!
    Btw, daun kemanginya bagus banget mbaaa! Kalau di rumah, mama sering buat sup keribang dengan daun kemangi dan ikan teri. Kemangi kalau dilalap dengan tempe dan sambel penyet pun enak sekali ya mba..

    1. Terima kasih Wien. Niatnya ini ingin berbagi cerita, semoga membuka hati buat siapapun yang membaca yang selalu mempermasalahkan perbedaan dan memberi pelabelan yang bermacam2 πŸ™‚
      Iya, daun kemanginya gede2. Ah beneer, aku juga suka perpaduan kemangi dan ikan teri. Tapi kalau aku biasanya ya disambel teri. Aduh, malam2 gini baca sup jadi keruyukan perutku hehe.

  12. Aku sukaaa baca postingan ini, damai rasanya Den.
    Kemarin di FB banyak banget liat ribut ribut tentang Natal, jengah rasanya. Dari mulai memberi ucapan yang haram, yg ngotot gak mau memberikan ucapan tapi sambil marah2, belum lagi yang ribut gara2 berhijab tapi foto di depan pohon Natal. Lelah banget bacanya Den.
    Jadi mau curhat, kayaknya sekarang kok toleransi makin tipis aja di Indonesia. Karena ucapan dan foto aja bisa bikin ribut panjang (terutama didunia virtual). Malu bacanya juga. Anyway, selamat liburan ya Den, enjoy πŸ˜‰

    1. Terima kasih May. Niatnya ingin berbagi cerita supaya ga ada lagi pelabelan dan penghakiman atas nama perbedaan. Jangankan yang beda, yang satu agama aja gampang banget dilabelin ini itu oleh pihak2 tertentu. Jengah jadinya.
      Waahh, untung aku sudah deactive FB sejak 2 bulan lalu. Hidupku lebih damai sekarang ga baca hal2 yang bikin geregetan haha. Duuh,aku miris banget May baca yang kamu tuliskan. Dikit2 dipermasalhkan ya didunia Maya (lah namamu dong ini hahaha), macam mereka yang paling bener saja. Sampai ada lho temanku bilang gini “coba kamu upload foto Pohon yang ada dirumahmu itu. Pengen tahu aku komentar mereka2 yang sudah pesen kaplingan di Surga” hahaha aku cuman ngakak. Semoga makin damai aja dunia ini.
      Thanks May, selamat menyambut tahun baru juga buatmu πŸ™‚

      1. Hahaha banyak ya yang udah booking kapling di surga. Kayaknya aku juga lagi mikir deactivated FB aku Den, tapi disana banyak berita tentang anjing jadi sayang juga.
        Hhhh paling ujung2nya aku hide atau kalo udah ganggu banget aku block. Sayangnya kalo ada temen kita komen di sharingan orang juga bisa muncul sih di timeline kita :/

        1. Aku dulu juga merasa sayang waktu mau deactive. Soalnya banyak info tentang ujian bahasa Belanda sama info2 kegiatan di Embassy. Tapi ya sudahlah, lihat langsung diwebsite mereka aja hehe.
          Iya bener, kalau yang sharingan orang dipasang publik, suka muncul diTL kita juga. Kan kadang2 ikutan emosi bacanya haha.

  13. salut sama toleransinya, mbak πŸ™‚ ibuku dulu waktu masih bujang, non muslim , lalu jadi muallaf. anak-anaknya kakek nenekku pada jadi muallaf juga. tapi tante sama nenek masih merayakan natal. jadi, waktu aku kecil dulu, kalo pas lebaran dan natal rumah kakek nenek rame, ada keluarga yang kumpul. yaaaa intinya kumpul sama makan makan sih πŸ™‚

    1. Sukaaa Na baca cerita kluargamu. Aku selalu senang dengan cerita-cerita keluarga yang latar belakangnya kental dengan perbedaan begini. Iyaa, kalau pas perayaan gitu memang yang paling ditunggu adalah kumpul-kumpul dan makan-makan haha

  14. Saat natal orang di negeri sini (Belanda) ternyata saatnya liburan. Sama seperti kita idul fitri, saatnya libur dan pulkam.
    Di barat sana ternyata yang namanya keluarga hanya keluarga inti saja ya, πŸ™‚

    1. Sepertinya diseluruh Eropa kalau akhir tahun saatnya liburan panjang Pak Alris, jadinya banyak yang liburan winter.
      Kebetulan keluarga suami ini memang keluarga minimalis. Yang tersisa ya keluarga inti saja. Jadi ya ngupleknya cuman sama itu-itu saja, tidak seperti di Indonesia, satu kampung bisa jadi keluarga semua haha.

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.