Tentang Aksen Bicara

Yang mau saya ceritakan pada tulisan kali ini saya sendiri tidak yakin apakah menyebutnya aksen atau logat. Kalau saya biasa menyebut logat. Tapi kalau dari KBBI Aksen dan Logat artinya sama. 

Jadi begini, saya ini logat bicara gampang sekali terpengaruh tempat di mana saya tinggal agak lama. Contohnya sewaktu bekerja di Jakarta, kantor sering mengirim saya untuk perjalanan bisnis ke beberapa daerah di beberapa pulau di luar Jawa. Kalau saya tinggal seminggu saja misalkan di Manado, sewaktu kembali ke Jakarta, pasti logat bicara saya sudah seperti orang Manado. Begitu juga kalau saya ke Makassar dan beberapa kota lainnya. Hampir selalu logat bicara saya berubah setelah selesai perjalanan bisnis. Orang-orang di kantor sampai menyebut logat saya sudah menyerupai bunglon bisa berubah dengan cepat. Saya juga menyadari itu dan saya sendiri juga heran kok ya gampang sekali logat bicara bisa berubah, semacam terlalu menjiwai haha.

Anehnya, sejak kecil kan saya tinggal di lingkungan yang mayoritas masyarakatnya dari suku Madura (kota Situbondo). Saya dibesarkan dalam keluarga Jawa. Otomatis bahasa Ibu untuk saya adalah Jawa dan Madura. Walaupun saya lancar sekali berbahasa Madura (ya sebatas bahasa pergaulan, bukan yang bahasa Madura halus), tapi entah kenapa saya susah ngomong bahasa Madura dengan logat Madura. Jadi kalau saya ngobrol memakai bahasa Madura, logatnya ya Jawa. Kalau adik saya yang perempuan justru kebalikannya. Dia ngomong bahasa Jawa dengan logat Madura. Padahal Bapak dan Ibu ada aturan di rumah, tidak boleh berbicara bahasa Madura kalau sudah di dalam rumah. Wajib menggunakan bahasa Jawa. Adik saya ternyata tidak bisa lepas dengan logat Madura.

Nah, selama 13 tahun tinggal di Surabaya, logat Jawa saya berubahlah menjadi Suroboyoan. Selain suara saya semakin kencang (koyok nelan toa kata teman-teman saya haha) juga medok Suroboyoan semakin menjadi. Ketika tinggal di Jakarta hampir 7 tahun, logat Suroboyoan tidak hilang dan tidak terpengaruh dengan logat ala Jakarta. Sampai bos saya selalu tertawa kalau mendengar saya sedang ngobrol dengan teman di telpon memakai bahasa Jawa, “gw nih kalo denger Deny ngomong pakai bahasa Jawa sama temennya, gw pikir dia lagi bertengkar lho. Gila, intonasinya kayak orang ngajak berantem. Belum lagi Jawanya bledak bleduk kayak polisi tidur” hahaha selalu Beliau komentar ke orang-orang seruangan. Bahkan ketika saya kirim video ke Beliau sewaktu rekaman pertama Net CJ tayang, komentarnya “gila Den, lo sudah dua tahun tinggal di Belanda tetap aja ngomongnya bledak bleduk ya, suami lo ga pusing tuh” hahaha. Dan Beliau tetap tidak paham kenapa sampai detik terakhir saya meninggalkan Jakarta untuk kembali ke Surabaya, logat saya tetap Jawa Suroboyoan. Tidak terpengaruh dengan logat Jakarta. Apalagi saya tidak pernah menyebut “lo gue” selama tinggal di Jakarta. Kalau tidak “aku kamu” atau “saya kamu”. Aneh saja buat saya sebagai pendatang di Jakarta kalau harus menyebut “lo gue”. Masalah tidak terbiasa.

Itu cerita seputar bahasa daerah ya. Kalau logat bahasa daerah, saya bisa mendeteksi sendiri kalau logat saya berubah. Sekarang saya mau bercerita tentang logat bicara yang terpengaruh aksen bahasa negara lain seperti Inggris dan Belanda. Sewaktu di Surabaya, saya sempat bekerja tidak sampai satu tahun di perusahaan rokok besar. Pemilik sahamnya ada yang dari Amerika. Jadi banyak atasan yang berasal dari Amerika. Karena saya termasuk dalam departemen marketing, jadinya saya sering ada rapat dengan mereka karena harus presentasi dan berdiskusi banyak hal. Nah, suatu saat setelah selesai rapat, seorang kolega bilang kalau aksen bahasa Inggris saya sama persis dengan aksen atasan-atasan yang dari Amerika tersebut. Wah, saya kok tidak sadar ya. Saya berbicara mana sempat mikir aksen segala. Wong mikir tata bahasa saja susah. Lalu sewaktu di Jakarta, saya bekerja di perusahaan yang kantor pusatnya ada di Filipina. Jadi, banyak orang Filipina di kantor termasuk atasan saya langsung. Karena sehari-hari selalu ngobrol (cieee ngobrol *sok ikrib *padahal ngobrol angka penjualan) dengan mereka dan saya selalu mendengarkan mereka berbicara menggunakan bahasa Tagalog satu sama lain, tanpa disadari kalau saya berbicara dalam bahasa Inggris tetapi logatnya Tagalog haha. Nah, bos saya yang komentar bledak bleduk, bilang ke saya “lo kok bisa sih ngomong bahasa Inggris logatnya Tagalog?” hahaha lha ya mana saya tau. Saya tidak merasa, tapi hampir semua orang bilang seperti itu. Ya sudahlah, pasrah.

Kalau tadi cerita dalam kehidupan nyata, maksudnya saya berubah logat karena berinteraksi langsung. Jangan salah, gara-gara keseringan melihat Masterchef yang edisi Australia, bahasa Inggris saya sok-sok ikutan aksen Australia. Saya merasa kok agak mirip dengan British ya aksennya Australia ini? Atau hanya perasaan saya saja. Nah, saya merasa aksen British ini kok sexy ya. Apa gara-gara saya terpesona sama Jude Law. Sampai saat ini, motivasi saya ingin ke Inggris karena ingin mendengar langsung orang-orang Inggris kalau ngobrol. Pasti terdengar menarik.

Selama dua tahun di Belanda, saya tidak pernah terpikir sama sekali tentang aksen. Saya merasa semua orang Belanda aksennya sama, kecuali Belanda bagian utara dan selatan yang memang saya sadari aksennya berbeda bahkan Friesland punya bahasa sendiri. Karena sehari-hari saya berbicara bahasa Belanda dengan orang-orang di seputaran Den Haag, jadi saya tidak sadar kalau ternyata orang Den Haag juga punya aksen sendiri. Saya tahunya saat berkunjung ke rumah teman yang di daerah Limburg. Suaminya bilang bahasa Belanda saya aksennya seperti orang Belanda atas. Walah, saya mikir tata bahasa Belanda saja sudah puyeng, syukur-syukur bisa bicara bahasa Belanda. Tidak terpikir sama sekali tentang aksen. Tapi lumayan bikin senyam senyum sih dipuji bahasa Belanda saya beraksen. Penjiwaan ada hasilnya haha. Tapi karena sehari-hari ngobrolnya dengan suami, apalagi di tempat kerja ngobrol dengan para oma opa, jadinya ikut terbawa juga aksennya.

Ada yang punya pengalaman seperti saya? Gampang terpengaruh aksen?

-Nootdorp, 8 Maret 2017-

39 thoughts on “Tentang Aksen Bicara

  1. kalo buat aku logat jawa kamu msh kentel banget walau ngomong bahasa indonesia atau belanda, terus terang aku ngga jarang bgt denger org jawa yg hilang medoknya walau udah tinggal berpuluh2 thn di luar jawa,,hehehe. aku termasuk jg org yg gampang terpengaruhi bahasa lokal, sampe waktu ke Hamburg, kenalan aku yg kenal dari jaman kuliah dulu, orang Jerman yg tau banget Bahaa jerman aku spt apa haha, begitu ketemu dia, dia langsung bilang wah keliatan banget ya kalo kamu tinggal di Austria, krn bahasa jermanmu beda dgn yg dulu, aksen Austria mu kentel banget..hahhaha
    btw, aku seneng dgr org London ngomong inggrisnya, kepengen tinggal di sana deh beberapa tahun supaya bisa punya aksen begitu hahaha

    1. wahahaha iya ya Mbak. Aku juga heran lho ini lidah Jawa ga berintegrasi tetep aja medok :))))
      Sama mbak Dian, tosss! aku juga pengen banget tinggal di London beberapa saat. Pengen banget punya aksen kayak mereka haha. Kayaknya bener2 enak banget didengar.

  2. Saya malah kebalikannya, susah terpengaruh bahasa setempat. Sudah dua tahun saya tinggal di Ambon tapi logat masih datar-datar saja.

    Bagus juga tuh mudah terpengaruh logat, memudahkan untuk mempelajari bahasa.

  3. Penasaran dengan logat Surabaya mu Den…
    dan gimana saat ngomong bahasa Belandanya

    Saya nggak tau apa terpengaruh banyak atau enggak, cuma kemarin itu saat tinggal di Dresden nggak sadar orang di berlin ketawa saat saya ngomong, rupanya, ya aksen itu. Baru ngeh kalo logat sana ini sering jadi bahan candaan orang jerman, kena deh sayaaa… hahaha

    1. Ohh kalau di sana jadi bahan candaan ya haha lucu juga ya. Aku pernah nulis beberapa pos sebelum ini tentang jadi kontributor di Net TV. Nah, di sana ada satu video, ada aku ngomong di situ. masih medok Jawaku haha

  4. Den aku juga begini lho, hahaha. Nurun dari Mamiku sepertinya, beliau juga pintar banget, bisa bahasa Jawa, Madura, Hokkian dsb sedikit2 tapi kalau ngomong logatnya menjiwai. Aku kalo ngomong Inggris, bisa pakai aksen ala ala NZ dan ala ala Malaysia/Singapore tergantung ngobrolnya sama siapa πŸ™‚

    1. Hahaha sebenarnya asyik ya Mar tanpa disengaja kita bisa ikut beberapa logat. Bakat berarti. Aku sering dengar aksen NZ di acara masak kayaknya tapi sudah lama nonton di TV sini. Lupa nama acaranya apa ya soalnya fokus sama alamnya NZ, cakeeeppp parah!

      1. ayoook kapan Deny dan suami dateng kunjungin kami πŸ™‚ aku kan langganan resto Malaysia di sini, sudah 6 tahun makan di sana, baru tahun ini Om pemiliknya ngeh aku orang Indonesia hahaha dikiranya aku dari Kuala Lumpur… katanya aksenku menipuu

        1. NZ sudah masuk list untuk kami kunjungi Mar. Tapi entah kapan itu hahaha yang penting nge list dulu. Kalau pas pulang ke Indonesia mungkin.

  5. Aku juga suka ganti2 mbak Den. Klo bhs Indo kurang tau ya, tapi yang pasti logat Danishku itu suka ganti2 tergantung lokasi. Bahasa inggrisku juga kaya Eva jadi jelek aksennya sekarang. Padahal dulu mati2an belajar dapetin American aksennya T-T

    1. Wah, kalau bahasa Inggris ngikutin logat negara setempat apalagi tergantung lokasinya, itu sudah skill tinggi Steph menurutku haha. Soalnya sampai saat ini aku belum niteni (apa ya bahasa Indonesianya niteni ini. Kayak mengamati) orang Belanda ngomong pakai bahasa Inggris tapi aksen Belanda. Kalau kamu bisa berubah aksen tergantung lokasi, itu sudah advance berarti.

  6. Wah kebalikan dari aku, logat bicaraku mau pake bahasa apapun tetap beraksen Sunda. Ketemu orang dari daerah manapun (orang Indonesia) begitu dengar aku bicara langsung bilang, pasti kamu orang Sunda. Krn bahasa Belandaku ga bagus bahkan cenderung kagok klo bicara aku ga tau apakah aku punya aksen Rotterdamer atau tidak, yg jelas beraksen Sunda. Oh ya sama dgn kamu aku bisa membedakan orang orang dari Limburg klo bicara, aksennya beda.

    1. Hahaha Sunda Alert berarti ya Yang haha. Jadi ingat bulekku, sudah puluhan tahun tinggal di Jkt, tetep aja logatnya medok Jawa. Penduduk disekitar Limburg menurutku cepet bangeett bicaranya dan aku ga terlalu jelas mereka ngomong apa. Mungkin saking cepetnya dan ber aksen kental itu, jadinya agak susah buatku untuk ngerti. Akhirnya sering “Wat zeg u?” berulang2 hahaha.

  7. Sejak 2005-2010 waktu kuliah di Jogja, logatku nggak terpengaruh Jawa sih. Sempet semangat belajar bahasa Jawa, tapi terus kata temen2ku, “Icha kalau ngomong bahasa Jawa lucu.. udah lah bahasa Indonesia aja.” Kayaknya sejak saat itu jadi discouraged deh haha..

    Aku sendiri orang Sunda. Tapi kalau pas aku bicara bahasa Indonesia sih banyakan nggak bisa nebak asal daerahku. Aku pakai logat Sunda ya pas bicara bahasa Sunda atau pas ngobrol sama sesama orang Sunda. πŸ˜€

    1. Ohh berarti kamu orang Sunda yang lama tinggal di Jogja ya dan ga terpengaruh logat Jawa. Mungkin karena di Jogja Jawanya halus ya Icha, jadi Sunda kamu masih terjaga dengan baik hehe. Hahaha iya suka ngedrop ya kalau pengen belajar bahasa daerah tertentu, begitu dicoba eh malah ada yang bilang lebih baik ga usah aja. Pernah aku nyoba ngomong Sunda waktu dapat tugas ke Bandung beberapa minggu. Eh tetep aja, logatnya maksa banget sampai orang lapangan selalu ketawa kalau aku ngomong Sunda tapi logatnya Jawa haha.

  8. hampir sama Den, cuma nggak sekeren Deny yang bisa bahasa Inggris aksen Tagalog
    Den, bisa nyamain Meryl Streep terjun ke Hollywood

    kalau aku ketemu lawan bicara dari daerah yang aku bisa dialeknya langsung aja ngomong dgn aksen sama
    ketemu orang Palembang ya langsung bahasa sana juga

    1. Hahaha Mbak Monda, bahasa Inggris aksen Tagalog itu bener2 aku ga sadar kalau ga bosku yg ngomong :)))) ga kebayang gimana itu pas waktu aku ngomong haha.
      Enak ya Mbak kalau bisa ngobrol dengan bahasa setempat yang kita bisa. Kalau ke pasar biasanya suka dikasih bonus haha.

  9. Hahaha, aku juga gini mbak! Pernah liburan 2 minggu ke Australia, balik-balik lah aksenku udah Aussie banget. Tapi selama tinggal di Belanda ini aku nggak pernah bisa kepengaruh aksennya, soalnya aksen Dutch English tuh susah banget diikutin…

    1. Kalau Dutch English aku masih belum bisa mengamati gimana aksennya. Soalnya selama ini jarang pakai bahasa Inggris dengan orang-orang Belanda (kecuali sama suami). Jadi aku ga seberapa ngeh aksennya orang Belanda kalau ngomong Inggris gimana.

  10. Dulu pas kerja ada profesor dari Jerman nyangka aku pernah kuliah di amerika karna bahasa inggrisku katanya lebih americans daripada british (padahal yg lebih tepat adalah bhs inggris preman hahaha).
    Sementara sekarang karna aku tinggal di daerah Brabant (dulupun demikian), logat belandaku ya kaya orang Brabant gitu jdnya hihi.

    1. Wahahaha bahasa Inggris preman. Eh iyaa, aku juga ngeh kalau ada orang Brabant sekitarnya ngomong. Maksudnya ngeh aksennya tapi ga yang pasti tahu kalau itu Brabant. Cuma nebak2 aja haha.

  11. Sama persis sama aku, gampang banget terpengaruh sama aksen setempat. Pernah seminggu di Bandung, lalu ngomong pake aksen Sunda, aneh. Tapi so far masih ngomong Suroboyoan lancar – bisa sih tanpa aksen gaya Jakarta, tapi klo dah ketemu temen2…wes lali wes….

    Soal bahasa juga, aku pas tinggal di Norway, gampang banget ngomong Norwegia, pasalnya bahasa Norwegia itu mirip2 bahasa Danish, cuman aksennya aja yang beda. Begitu balik Denmark ya balik lagi, pas pp jadinya ribet, ngomong sama kolega dari Norwegia atau Denmark jadinya campur sari. Begitu lebih ribet lagi pas ngantor di Swedia, dan terbaru punya pacar orang Swedia, kalau pas lagi kumpul2 temen/sodaranya dia, wes campur sari bahasa Swedia dan Danish… haha,

    Yang lebih parah (menurutku) sekarang katanya bahasa Inggris ku logat Danish. Amit2… jelek banget soalnya itu kedengarannya haha

    1. Oh iyaa iniii juga kendalaku, kalau tentang Bahasa ini juga ya Va jadi susah switch nya. Apalagi kalo kayak aku gini yang terengah2 switch antara Belanda dan Inggris. Meskipun memang beda jauh tentang grammar nya tapi beberapa kata ada yang sama. Jadinya kalau aku ngobrol Inggris sama suami seringnya lupa akhirnya aku campur2 sama bahasa Belanda hahaha. Apalagi kayak kamu gitu yaaa, wes kebayang piye ngelune aku lek tinggal di sana. Lha terus terang aja, aku kalau ngomong bahasa Indonesia trus ada kata2 yg lupa, trus tak ganti kata2 dalam bahasa Belanda hahaha. Untung ngobrole pas dengan sahabat. Sing aku bener2 lancar ngomonge yo Jawa dan Madura. Ga lali blass.

  12. Kalau masalah aksen nggak mungkin berubah saya. Lha wong ngomong bahasa asing aja udah minder duluan nggak mungkin bisa. Tapi berarti mbak deny punya talenta bagus dalam segi kebahasaan. Kecerdasaannya di atas rata2 klo bisa bermaxam-macam aksen macam agen rahasia he he he……

    1. Hahaha terima kasih banyak Shiq4. Kalau aku bilang mungkin lebih ke keterampilan ya. Soalnya ga tahu juga kalau dihubungkan dengan kecerdasan.

  13. Hebat dong mba bisa bahasa level atas. Ketularan aksen buatku sih lucu-lucu saja. Nggak masalah selama jangan yang aneh2 atau salah tempat. Kalau bahasa Jawa kan ada juga ngapak-ngapak…hahaha…
    Ah pasti karena Jude Law itu ma lol. Kalau punya film suka aku pisahin loh, film Inggris, Amerika, Australia, dan memang aksennya beda2. Karena suka seksinya aksen Inggris berusaha banyakin nonton yang Inggris….

    1. Bukan level atas. Belanda atas itu maksudnya wilayah Belanda yang posisinya di atas hehe. Waahh ide yang bagus ya misah2in film berdasarkan negara. Jadi bisa ketahuan ya tentang aksennya. Bisa kuadaptasi idenya. Terima kasih!

  14. saya orang minang dari pariaman mbak den, tapi gak bisa ngomong pake logat pariaman walaupun pernah 3 tahun tinggal di kampung πŸ˜€ . tetep aja ngomongnya pake bahasa minang logat padang πŸ˜€

    kalo australian sama new zealand saya juga perhatikan aksennya memang mirip british walaupun gak sekental british pastinya. karena ya jajahan inggris kan, masih dikepalai ratu elizabeth juga πŸ˜€

    saya kalo lihat acara berbahasa inggris suka nebak2 negara asal si pembicara berdasarkan aksennya. ini orang amerika, uk, atau australia ya πŸ˜€ . ketika berhasil nebak, girang bukan main πŸ˜€

    1. Wah seru juga ya Mayang kalau bisa tebak2 aksen gitu. Idenya bagus juga ya, Kapan2 bisa kupraktekkan. Thanks idenya Mayang πŸ™‚

Thank you for your comment(s)