Menikah Muda

Hari ini saya mendapatkan kabar kalau salah satu dari teman SD dikaruniai cucu pertama. Ini bukan kali pertama saya mengetahui teman SD saya yang sudah punya cucu. Bukan hanya cucu pertama tetapi cucu ke sekian. Kali pertama saya tahu ada satu teman SD yang punya cucu itu saat saya sekitar umur 30. Waktu itu secara tidak sengaja saya bertemu dengan dia saat saya liburan ke rumah orangtua dan kami sama-sama membeli rujak. Dia menggendong bayi, yang awalnya saya pikir anaknya. Ini pertemuan pertama setelah lulus SD, tapi kami masih sama-sama mengingat wajah satu sama lain karena memang tidak terlalu banyak berubah. Setelah kami saling bertegur sapa, saya bertanya usia berapa bulan anaknya. Dia lalu memberikan jawaban yang mengejutkan saya kalau bayi dalam gendongannya itu adalah cucunya. 

Dia lalu bertanya balik ke saya, berapa umur anak saya. Dia bahkan tidak bertanya apakah saya sudah menikah pada saat itu. Saya jawab kalau saya belum menikah. Ternyata jawaban saya membuat dia terkejut. Jadi kami akhirnya sama-sama terkejut dengan jawaban yang diterima haha. Dia kaget kok usia 30 tahun belum menikah. Kalau orang lain yang bertanya, mungkin saya akan gusar dengan pertanyaan itu. Namun karena dia yang bertanya dan saya tahu persis bagaimana lingkungan dia tinggal dan lingkungan saya dibesarkan, saya menjawab dengan santai. Saya bilang kalau saya masih menikmati pekerjaan saya dan masih belum ada calon pada saat itu. Saya kemudian mengajak dia untuk mampir ke rumah lalu melanjutkan perbincangan sambil makan rujak yang kami beli.

Saat menulis ini, saya jadi mengingat kembali hidup berbelas tahun lalu. Rasanya saya memang dari dulu tidak punya keinginan untuk menikah muda. Ukuran menikah muda buat ukuran saya adalah dibawah 25 tahun (jadi subjektif sekali). Saya dulu punya keinginan dan tujuan yang saya tuliskan di diary yang ada kuncinya. Diary itu masih ada sampai sekarang dan kalau saya pulang ke rumah orang tua pasti saya baca-baca lagi. Saya lumayan rajin menulis diary, bahkan sampai saat ini. Ada satu Diary saat saya SMA yang bertuliskan keinginan saya 10 tahun kedepan. Saya ingat diantaranya saya menuliskan ingin kuliah di ITS, bekerja di perusahaan asing di Jakarta, kuliah S2, tinggal di LN, jalan-jalan keliling Indonesia dan LN. Tidak ada satu poin yang menyebutkan bahwa dalam 10 tahun kedepan akan menikah. Kalau ditanya orang, saya selalu mantab menjawab saya akan menikah minimal usia 30 tahun. Ucapan adalah doa ya, akhirnya terkabul nikah di usia 33, dimana untuk ukuran orang Indonesia, terutama lingkungan saya dibesarkan, adalah usia telat kawin. Diluar jodoh adalah urusan Tuhan, menikah pada usia tersebut karena memang pilihan saya. 

Sebelum bertemu dan dipertemukan dengan jodoh apakah saya pernah merasa cemas, “kok rasa-rasanya susah sekali ya yang namanya ketemu jodoh.” Tidak dipungkiri, iya. Perasaan tersebut menyelinap saat saya membangun hubungan dan ternyata kandas. Saya berpikir, gila ini yang namanya jodoh misteri sekali ya. Yang nampaknya semua baik-baik saja dan tinggal satu langkah, eh malah buyar tengah jalan. Yang sudah sangat serius dan berpikir matang tentang masa depan, eh ga bisa lanjut karena beda agama. Ada di satu masa saya pernah berpikir, enak ya yang menikah karena dijodohkan. Tidak usah merasakan kegagalan seperti saya. Eitss tunggu dulu. Ada dasarnya saya berpikir seperti ini. Nanti akan saya tuliskan. Namun gagal dalam hubungan percintaan tidak membuat saya ngelangut dan menyalahkan  keadaan. Saya malah mempergunakan waktu kesendirian dengan semaksimal mungkin. Bekerja sesuai target yang saya tetapkan, jalan-jalan sepuas mungkin, sekolah lagi, menggapai apa yang ingin saya gapai. Intinya mempergunakan waktu sebaik mungkin dengan melakukan kegiatan yang bermanfaat.

Kembali lagi ke cerita teman SD saya. Di lingkungan saya dibesarkan, menikah usia dini saat itu (pada era saya SMP sampai SMA) sangatlah lumrah dilakukan. Kenapa saya tuliskan saat itu, karena saat saya kuliah sudah tidak terlalu mengikuti perkembangan lagi. Beberapa teman SD saya begitu lulus SD langsung dinikahkan oleh orangtuanya. Pernikahan ini terjadi karena adanya perjodohan. Bahkan seringnya mereka dijodohkan saat masih dalam kandungan. Tradisi perjodohan ini terjadi bukan hanya antara orangtua yang berteman dekat, atau antara tetangga, tetapi juga antara saudara jauh. Saya tidak tahu sebenarnya ini tradisi atau budaya atau apa yang tepat penyebutannya. Tetapi perjodohan ini dilakukan dalam satu suku. Mereka tidak ada pilihan untuk menolak karena apa yang sudah ditetapkan oleh orangtua ya harus dijalankan. Tidak ada dalam kamus mereka saat itu menikah dini karena menghindari zina atau apalah itu. Tidak ada dalam pikiran mereka menikah dini karena ingin menggapai surga. Yang ada ya karena jalan hidup mereka sudah diatur oleh orangtuanya.  Saat saya pusing memikirkan harus juara kelas saat SMP, mereka sudah melahirkan anak pertama. 

Saya pernah bertanya ke tetangga saya yang menikah saat lulus SD juga, apakah dia paham saat menikah apa sebenarnya arti menikah itu sendiri. Oh ya, kebanyakan yang menikah saat usia SD ini adalah pihak perempuannya dan lelakinya terpaut usia tidak terlalu jauh. Usia lulus SMP atau usia SMA. Mungkin ada yang bertanya, mau makan apa mereka di usia itu sudah menikah atau bekerja apa suaminya. Di masyarakat tersebut, menikah cepat lebih membanggakan dibandingkan punya pekerjaan yang bagus. Pendidikan tinggi tidak perlu buat mereka asal keluarga bisa kumpul. Jadi tidak ada ceritanya bagi mereka sampai mengirimkan anaknya sekolah ke luar kota. Mereka lebih memilih untuk selalu berkumpul utuh bersama seluruh keluarga daripada harus mengirimkan anaknya sekolah sampai tinggi. Para orangtua lebih memilih menanggung biaya hidup anak-anak mereka yang menikah karena hasil perjodohan dan tidak melanjutkan sekolah daripada anak-anak mereka menikah telat tapi punya pekerjaan yang bagus. Mereka dalam tulisan ini merujuk pada sebagian besar masyarakat di kota saya dibesarkan. Tentunya tidak semua seperti itu, tapi yang saya tahu sebagian besar pada saat itu berlaku hal yang seperti sudah saya sebutkan di atas.

Buat teman-teman saya itu, mereka sudah tidak berpikir lagi tentang bahagia atau tidak bahagia dalam pernikahan usia dini. Mereka tidak ada pilihan untuk menolak. Mereka tidak ada pilihan untuk menentukan masa depan mereka. Mereka tidak ada pilihan untuk menikmati kehidupan seperti teman-teman lainnya yang masih sibuk belajar dan bermain. Tetapi diantara mereka bilang pada saya bahwa mereka menikmati hidup seperti itu. Maksudnya hidup dengan suami pilihan orangtua dan hidup bahagia berkecukupan versi mereka, yaitu selalu bahagia bisa berkumpul dengan keluarga.

Kalau ditilik lagi, dulu kadang-kadang saya berpikir pilihan hidup yang saya inginkan dan tuliskan di Diary nampak sangat tinggi dan rumit. Ingin ini dan itu yang butuh usaha agak ruwet dalam mewujudkannya. Dan kalau ingat teman-teman SD, sepertinya tujuan hidup mereka sederhana. Tapi saya lupa, bahwa hidup itu selalu sawang sinawang. Apa yang saya pikirkan sederhana tentang hidup mereka, belum tentu juga pada kenyataannya sederhana. Seperti saat saya berpikir lebih enak dijodohkan, saat saya mengalami kegagalan dalam urusan percintaan, pada kenyataannya memang perjodohan yang dilalui mereka tidak sederhana. Saya tidak tahu isi hati mereka. Belum tentu juga saat saya dijodohkan trus saya menerima dengan lapang dada. Bisa jadi malah saya memberontak. Dan mungkin juga mereka pernah berpikir sesuatu tentang hidup saya yang nampaknya baik-baik saja, tetapi sesungguhnya banyak hal berliku yang terjadi.

Buat saya, menikah itu adalah pilihan bukan kewajiban bukan pula untuk memenuhi tuntutan lingkungan. Menikah buat saya adalah saat saya sudah merasa siap dan mengisi waktu sebelum bertemu jodoh dengan semaksimal mungkin untuk meraih segala cita dan impian. Tetapi untuk masyarakat tertentu, menikah itu adalah kewajiban jadi harus ditunaikan dengan cara tidak memandang usia. Dari hasil perbincangan dengan teman saya pada saat itu, saya bersyukur dilahirkan tidak satu suku dengan dia meskipun tinggal dan besar dilingkungan mereka jadi saya tidak perlu merasakan yang namanya perjodohan dan harus menikah usia muda bahkan usia dini. Sedangkan teman saya beranggapan bahwa dia bersyukur dijodohkan karena dia hidup berbahagia dengan pilihan orangtuanya dan bisa berkumpul terus dengan keluarganya tanpa harus hidup saling berjauhan satu sama lain dengan anggota keluarga yang lain. 

Versi bahagia setiap orang memang berbeda dan mudah-mudahan apapun yang telah diputuskan saat akan melangkah lebih jauh tidak mengurangi rasa syukur tanpa harus selalu melihat ke atas dan membuat silau sesaat.

-Nootdorp, 17 Mei 2017-

44 thoughts on “Menikah Muda

    1. Intinya mari kita nikmati setiap fase kehidupan, karena memang jalannya masing-masing orang sudah ditentukanNya 🙂

  1. Pas baca “diary ada kuncinya” hehehehe ini happening banget jaman saya dulu mbDen 🙂
    Dimana kuncinya kalo hilang,terus gemboknya bisa diotak atik pake peniti 😀

  2. Sama kayak yang Denny tulis di atas, saya yang sampai sekarang belum bertemu dengan jodoh saya, berusaha sebisa mungkin tetap mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat. Kerja sesuai target, jalan-jalan sepuas mungkin, ngebahagiain ortu, menghabiskan waktu dengan ponakan-ponakan, dll. Kadang ada sih berasa kok belum ketemu-ketemu juga sama si jodoh, tetapi gak pernah yang sampai galau banget dan bikin gak bersemangat alhamdulillah 🙂

    1. Iya Inong, semua ada masanya. Aku selalu percaya itu. Menikmati setiap detik yang kita punya karena memang itu tidak akan terulang lagi. Insya Allah kalau memang sudah saatnya, akan dipertemukan dengan yang terbaik 🙂

  3. mbak, kalau saya dari kuliah S1 sudah pengen nikah, cuma ternyata doa orangtua lah yang terkabul. Ayah saya inginnya saya kuliah, kerja, dan kemudian menikah. Beneran lho, saya kuliah, kerja kurleb 2 tahun, pas rencana mau resign karena harus urus eyang, eh malah jodoh saya datang…. jadi terlepas dari doa dan keinginan kita, doa orang tua juga sangat berpengaruh di sini

    1. Orangtuaku dulu selalu mendoakan aku untuk menikah muda. Tapi ya balik lagi, kalau belum saatnya manuasia tidak bisa memaksakan 🙂

  4. Mbak denald….aku juga belom nikah di usia 30 . Karena ucapan adalah doa, pernah berujar mau sekolah S2 baru nikah, dan dikabulkan Allah, belum nikah sampe sekarang dan akhir 2017 nanti kelar S2. aamiin. Semoga aku nikah di tahun 2018. aamiin

  5. Sama banget Mbak Deny, aku juga selalu nulis dalam beberapa tahun ke depan pengen ngapain aja, tapi ga pernah sekalipun masukin ‘nikah’ ke dalam list itu. Krn emang aku ga ada target nikah, krn ga tau juga kan ketemu jodoh kapan dan gimana. Temenku juga banyak banget yang udah nikah dan punya anak, seneng ngeliat semua bahagia dgn jalan masing2 ya 🙂

    1. Sama Dixie, karena menurutku nikah itu bukan target ya kita ga bisa tentukan kapan waktunya. Beda dengan kuliah yang memang musti ditargetkan kalo nggak kebabblasan ga lulus2 haha.

  6. mba den, itu yg punya cucu 30 thn, nikah umur berapa yak? 😀
    13 tahun gituh, trus lgsg hamil..

    etapi waktu titin liputan di pasuruan juga gitu sik, ada yg nikah pas lulus SD.
    tp msh gak kebayang aja, 30 tahun punya cucu..

    smoga barakah selalu ya, mba den sama mas ewald. ^^

  7. keren mbak. Jadi bisa disimpulakn banyak mimpi yang sudah tercapai ya. Dari kuliah ITS sampai tinggal di luar negeri. Semoga mimpi-mimpinya terus berlanjut

  8. Dulu aku pingin nikah, ya standar ajalah, kelar kuliah S1, kerja sambil nabung dikit trus nikah. Tapi pada proses terakhirnya aku malah jiper lalu pingin punya mantan pacar (alasan aneh) terus kabur deh. Hahaha… Sekarang sih makin kesini aku makin ga peduli. Kayaknya banyak hal lain yang bisa aku pikirin selain nikah 😉

    1. Iya bener Dit, memang pas kuliah gitu keinginannya standar ya : lulus, kera, nikah. tapi pada perjalanannya ga se standar itu, banyak keinginan lainnya yang berkembang. Yang penting menikmati setiap masanya

  9. Cita-citaku (haish cita-cita :p) dulu menikah di usia 21 tahun tapi apa daya, telat 8 tahun hihi…

  10. Menikah muda dalam Islam adalah 21 tahun. Saat otak sudah berkembang sempurna, bisa membedakan mana yang baik dan buruk, dan mengerti tanggung jawab *hasil parenting islami di calon sekolah TK Teona. Aku ingin menikah di usia 25 tahun dan Alhamdulillah dikabulkan Allah.

  11. belum punya temen yg sdh punya cucu sih, cuman bbrp tahun lalu pas reunian sma, temen2 pd sibuk mbahas kampus2 buat anaknya… pas ditanya anakku mo masuk mana? aku jawabnya kalem, mau masuk sd deket kampus… hahaha… trus ada yg bilang “kamu siiih (*mungkin lanjutannya – kawinnya telat)… lihat dong kita kaya kakak adik..” yaaaa aku balesin “ntar juga kalu anakku kuliah kami tetep kayak kakak adik kok” kaleeeeem… hihihi

    trus dulu juga sempat minta dijodohin aja tiap ada yg nanya, ke ortuku juga, tapi toh.. ngga ada yg nyodorin *kalah galak sm aku kayaknya…

    1. Hahaha aku melok ngakak iki :))) Lah podo, aku dulu ada masanya agak males trus pasrah bongkok an karo ibukku : wes buk, dijodohne ae, males nggolek :)))

  12. Emang soal ginian tergantung masing2 ya Den. Tergantung kesiapan hati yang paling utama. Banyak temenku yang nikah muda dan bahagia, toh itu keinginannya juga. Kalo aku nggak pernah kepingin nikah umur berapa, nggak pernah dipikirkan, sampe merasa diri sendiri siap oh ternyata baru pas umur segini yaaa 🙂 Banyak temenku yang anaknya udah masuk SD Den, trs suruh2 aku punya anak karena ditunda ngapain. Lha ya kalo di Indonesia banyak bantuan (baca: keluarga, suster) kalo mau punya anak, kalo aku di sini… mikir2 dulu… blm siap dan belum dikasih juga sama Yang Di Atas hihihi, emangnya pesan barang bisa PO trs langsung datang ya gak Den. Duh aku commentnya jadi ngelantur 🙂

    1. Iya bener Mar, semua tergantung kesiapan dan kembali lagi, jalan takdir. Kalau sudah ngomongin jalan hidup, ga ada yang tahu kapan waktunya. Dan menurutku memang menikah itu bukan target ya, masuk ke pilihan hidup. Sama lah kayak punya anak.

  13. Itu gimana ya perkembangan psikologis mereka yg masih kecil2 itu tp dh harus ngurus/membesarkan anak? Saya udah mau 30 baru punya anak aja terkadang emotional sekali dalam menanggapi beberapa hal sejak hamil dan melahirkan,hehe

    1. Kalau menurutku pribadi Adhya, punya anak itu memang butuh kesiapan mental. Bukan hanya sekedar : ingin punya anak. Karenanya bekal ilmu dan mental juga harus cukup dan terus-terusan mau belajar. Karena punya anak bukan hanya sekedar ingin supaya ga terus terusan ditanya orang atau ingin karena memang sudah waktunya. Kalau buat aku, butuh ada percakapan dengan diri sendiri seberapa ingin kita untuk punya anak dan setelah punya anak mau ngapain setelahnya denagn anak ini. Dan lebih jauh diatas segalanya, buat aku punya anak bukan hanya berhenti pada satu kata : kebanggaan karena anak bukan sebagai alat kebanggan orangtua. Sebagai wanita, aku juga berhak untuk menentukan apakah benar aku ingin punya anak, apakah badan dan batinku siap, apakah bekal ilmuku sudah memadai dsb. Butuh persiapan panjang. Itu sekedar sharing dari pengalaman pribadiku dalam perjalanan memiliki anak 🙂

  14. Perbedaan generasi dan pengaruh lingkungan seringkali menciptakan perbedaan pandangan (hidup) ya mba. Saya juga bukan tipikal orang yang mau menikah muda. Sudah tidak tahu berapa kali saya diomelin orang-orang ketika dulu saya tidak pernah serius mikirin soal pernikahan. Omelannya berentetan deh, mulai dari “kamu ini wanita dan wanita engga baik hidup sendiri”, “kamu sudah punya karir dan pacar, mau cari apa lagi kalau bukan nikah?”, “engga usah ngejar karir ketinggian, ingat umur sudah mau 30”, dan lain lain. Jadinya pas mereka dapat info saya mau nikah, mereka jadi kaget tapi tidak sedikit yang berujar “akhirnya kamu sadar”. Lah, saya sadar kog cuma memang saya berpikir nikah itu bukan kewajiban tapi karena saya memilih untuk itu. Toss lah mba haha..

    1. Setuju sekali Wien, menikah sama halnya dengan punya anak itu bukan kewajiban. Menurutku itu adalah pilihan. Dan juga menikah atau punya anak itu bukan target hidup jadi kita ga tau kapan datangnya. Target hidup itu kayak lulus kuliah dan dapat pekerjaan.

  15. Apa kabar Den? Btw, sudah nonton Dangal (filmnya Amir Khan). More or less mirip sama tulisan Deni. Bedanya, yang tidak mau anaknya nikah muda ya bapaknya.
    Jadi waktu Geeta (pemain utama) curhat di D-1 pernikahan sahabatnya, geeta bilang “enak ya kamu. Ayah kamu ngga maksa maksa ikutan Gulat” (dinikahjan seusia teman temannya yang lain nikah)
    Sahabatnya nangis nangis “tapi ayah kamu mikirin masa depan kamu.”

    1. hai Mbak Kiky, Alhamdulillah baik 🙂
      Iya, kalo kata orang jawa Sawang Sinawang padahal kalau mau kembali berpikir bahwa semua ada masanya dan pilihan ada ditangan kita.

  16. Klo saya ditanya kapan nikah ya saya jawab aja dgn senyum dan bilang doain aja karena klo dijawab juga nanti malahan tambah panjang deh,hehehe….buat saya ngpp telat nikah tapi bahagia selamanya daripada harus cepet2 nikah karena takut gak laku lagi akhirnya kandas ditengah jalan..curhatan tmn saya klo dia menikah karena tuntutan dari org tua dan karena takut gak ada yg mau akhirnya menikah hanya beberapa bulan saja..jadi percaya saya jodoh sudah ada yg mengatur meski dulu kepingin nikah muda tapi akhirnya malah sampe skg blm,hehehe..semoga setelah urusannya selesai bisa terlaksana deh semua rencana kami..amiin

    1. Iya, dijawab yang penting saja karena ga semua orang perlu tahu kehidupan kita kan hehe. Benar, jodoh rejeki dan Maut sudah ada yang mengatur. Kita manusia hanya bisa berusaha dan ga punya hak sama sekali untuk mengintervensi yang sudah ditakdirkan. Yang penting menikmati saja setiap masanya

  17. Di kampung saya, -setahu saya- gak ada yang dinikahkan begitu tamat SD. Saya gak bisa membayangkan anak tamat SD jadi pengantin.

    Saya juga menikah agak terlambat, di umur 33 tahun. Kalo saya mungkin karena terbawa situasi kerja yang suka berpindah tempat sehingga agak susah menjalin hubungan yang serius bagi saya. Akhirnya “tersadar” setelah beberapa teman punya anak yang sudah masuk SD. Kadang memang lingkungan membuat terlena untuk terlambat menikah.

    Kalo boleh memutar waktu saya akan menikah setahun setelah kerja, hehehe…

    1. Wah sama dong kita pak nikahnya pas umur 33 tahun haha. Kalau saya merasa, saat saya menikah memang sudah pas waktunya segitu. Kalau kecepetan nantinya saya merasa ada yang masih ingin saya lakukan.

  18. Kadang aku mikir orang tanya ‘kapan nikah?’ itu kayak sambil lalu kali ya hehe iseng gitu, duh. AKu nikah juga usia tua menurut standard Indonesia, umur 31. Kuatir juga sebelumnya soalnya jujur aja aku emang pengen punya anak, dan punya anak umur diatas 30-40 kan lumayan riskan. Temen2ku kuliah juga pada nikah muda, begitu lulus umur 24-25 dah pada nlkah, sekarang anak2nya dah pada besar2 hehe. Tapi bener Den, yang penting kita yang rasaian dan bahagia ya.

    1. Iya, yang penting bahagia karena pilihan untuk bahagia ada ditangan kita bukan karena sudah menikah atau punya anak. Banyak cara menuju bahagia.

  19. Hihihi, memang umur kita beda banget ya mbak. Akhir akhir ini aku sering baca berita temen sekolah dulu baru nikah, punya anak, tunangan… terkadang mikir “Duh mereka umur 26 udah nikah, lah gue baru bangun karir” tapi lama lama sadar sendiri kalo bahagianya orang beda-beda. Toh aku disini juga bahagia, aku kerja hal yang aku suka, dan punya pasangan yang beneran bisa diajak diskusi dan dukung aku 100%.

    1. Dan perlu diingat juga, cara bahagia itu juga bermacam – macam. Buat mereka bahagia melalui pernikahan cepat karena memang sudah jalannya, buat yang lain mendapatkan kebahagiaan juga bisa ditempuh dengan banyak cara. Karena konon kebahagiaan itu ga perlu susah payah dicari, cukup dari hati yang selalu merasa cukup dan bersyukur.

Thank you for your comment(s)