Tentang Menikmati Hidup

Hampir setiap hari saya menerima email dari mereka yang membaca blog kami. Dari bertanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan persyaratan tinggal di Belanda, ujian bahasa Belanda, pernikahan dengan WN Belanda, pasar di Belanda, bahkan sampai bertanya harga cabe di Belanda. Tentu saja pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak saya jawab langsung karena memang tidak terlalu tergesa dilihat dari tingkat kepentingannya. Saya menunggu sampai bisa duduk manis di depan komputer karena saya tidak membiasakan diri untuk terlalu banyak menghabiskan waktu dengan telefon genggam. Selain pertanyan, tentu juga saya menerima email yang isinya tentang komentar bahkan nasihat. Komentar yang disampaikan berkaitan dengan saya pribadi, saya dan suami, maupun komentar tentang blog ini. Sedangkan nasihat, beberapa kali saya menerima masukan yang berhubungan dengan agama. Kadang ya bikin gemas, kadang ya biasa saja. Dan yang terakhir, tentu saja blog kami ini tidak luput dari kritikan. Semuanya kami terima, khususnya untuk saya, sebagai bahan evaluasi dalam menulis dan berbagi cerita, merenung, maupun sekedar bahan bacaan. Terima kasih untuk yang sudah meluangkan menulis email.

Dari sekian email, ada beberapa yang bernada serupa menanyakan atau memberi komentar betapa saya terlihat sangat menikmati hidup dan kehidupan selama di Belanda, terlihat dari cerita-cerita yang saya bagikan di blog ini. Mereka menanyakan bagaimana caranya beradaptasi dengan semua hal yang baru di Belanda atau caranya supaya hubungan dengan suami selalu baik-baik saja (karena ada beberapa yang menuliskan sepertinya hubungan kami lancar dari awal kenalan sampai menikah. Padahal saya tidak pernah bercerita sekalipun di blog ini tentang kehidupan sebelum pernikahan, tentang bagaimana kami bertemu sampai menikah). Saya tentu saja senyum-senyum membaca hal tersebut.

Apa yang kami tuliskan di blog ini murni adalah apa yang kami alami, apa yang kami pikirkan, apa yang kami jalani tanpa harus dipoles sana sini. Tetapi, tidak semua hal dalam kehidupan kami perlu dituangkan di sini. Ada banyak hal yang sekiranya berguna, tentu saja kami bagikan, siapa tahu ada yang memerlukan informasinya, atau ada beberapa pemikiran yang tertuliskan setidaknya kami belajar menyampaikan pendapat melalui tulisan. Tetapi ada banyak hal juga yang harus kami simpan sendiri, biarlah kami saja yang tahu, tidak perlu sampai dunia luas ini mengetahui setiap peristiwa yang terjadi. Buat saya, lebih baik menuliskan hal-hal yang membuat hati gembira, meskipun tidak dipungkiri beberapa tulisan di blog ini terinspirasi dari kisah sedih saya (atau kami), keresahan yang saya rasakan, atau kerinduan akan tanah air dan keluarga. Tetapi untuk hal-hal yang bersifat pribadi dan sangat pribadi, biarlah itu menjadi bagian kehidupan nyata kami. Mungkin karena beberapa hal tersebut yang kami terapkan dalam menulis blog, jadi terbaca bahwa saya nampak sangat menikmati hidup, selalu gembira, dan tidak pernah ada masalah.

Selama masih hidup, masalah akan selalu ada. Namanya juga manusia ya, siapa juga yang tidak pernah tertimpa masalah dari hal-hal yang kecil sampai yang nampaknya mustahil untuk diselesaikan. Hal tersebut berlaku juga untuk saya. Bedanya, mungkin karena saya jarang sekali berkeluh kesah di dunia maya (blog atau twitter), jadi nampak semua baik-baik saja. Padahal kalau mau ditelisik lebih dalam, ada saja masalah yang menghampiri. Bukan ingin menampilkan pencitraan yang baik-baik saja, tetapi saya lebih memilih untuk tidak terlalu berkeluh kesah di media sosial, karena untuk saya, tidak ada gunanya. Saya rasa orang juga males membaca kalau misalkan saya ngomel-ngomel terus di media sosial. Saya memilih untuk menyelesaikan masalah yang datang, menghadapinya, mencari solusinya, dan berdiskusi dengan suami. Sejak menikah, tentu saja tempat saya untuk berdiskusi adalah suami. Dari suami juga saya belajar banyak hal tentang penyikapan terhadap suatu masalah. Saya yang dulunya berjiwa senggol bacok, sekarang jadi lebih tenang kalau menghadapi sesuatu meskipun tetap sih sesekali “api” nya muncul, tapi setidaknya lebih terkendali. Kalau kami yang sedang bermasalah, maka masalah itu harus berhenti di kami, tidak sampai keluar. Bahkan dengan sahabat-sahabat dekat, saya tidak pernah bercerita sedikitpun tentang rumah tangga kami. Intinya, apa yang terjadi di rumah, jangan sampai seisi dunia tahu. Dan bersyukur sampai sekarang (dan mudah-mudahan  seterusnya) hal tersebut tetap terjaga dengan baik.

Menikmati Rujak Cingur dengan es kelapa
Menikmati Rujak Cingur dengan es kelapa, salah satu cara menikmati hidup haha.

Pernah suatu ketika, mantan atasan di perusahaan tempat bekerja di Jakarta bertanya apakah saya tidak rindu dunia kerja seperti dulu. Maksudnya kerja kantoran yang penuh waktu dan mengejar karier. Pertanyaan inipun pernah ditanyakan oleh suami. Dia merasa agak bersalah karena saya ke Belanda artinya saya harus beradaptasi lagi dari awal termasuk tentang pekerjaan. Saya menjawab pertanyaan itu : ada kalanya saya rindu tetapi saya menikmati apa yang ada sekarang. Bukannya saya tidak ingin mengejar karier dan bekerja sesuai dengan pengalaman serta latar belakang pendidikan, tetapi saat ini saya memilih bekerja karena ada hal baru yang bisa saya pelajari meskipun tidak ada jenjang karier dan masalah gaji juga biasa saja. Tetapi saya menikmati pekerjaan paruh waktu ini. Nanti, kalau sudah keadaan dan waktu memungkinkan, saya akan kembali bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman saya atau bahkan mungkin bekerja di bidang yang baru yang penting masih sesuai dengan minat dan dengan pendapatan yang lebih baik. Awal pindah memang saya masih sangat berambisi tinggi untuk mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan dengan alasan : kalau yang di Indonesia bertanya, biar tidak malu menjawabnya. Masa sudah sekolah tinggi dan punya pengalaman kerja di sana, begitu nyampe sini dapat kerjanya yang biasa-biasa saja. Tetapi seiring berjalannya waktu dan kondisi, saya bertanya pada diri sendiri apakah saya ingin bekerja karena ingin memenuhi standar orang lain biar tidak dipandang sebelah mata atau saya ingin bekerja karena sesuatu yang memang saya sukai. Akhirnya saya memilih yang kedua, bukan karena saya tidak punya ambisi tetapi saya pernah ada pada kondisi yang pertama dan pada akhirnya saya malah tidak menikmati apa yang saya kerjakan hanya karena ingin dipandang hebat oleh orang lain. Saya sekarang memilih untuk hidup berdasarkan standar saya, bukan ditentukan oleh pujian atau sanjungan orang lain. Penghargaan dari orang-orang terdekat yang mengenal saya, itu lebih baik lebih dari cukup dibandingkan pujian dan sanjungan dari mereka yang tidak mengenal saya secara dekat.

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan seorang teman baik yang juga teman jalan di Belanda. Dia bercerita kalau ada kenalannya yang sedang bosan menjalani rutinitas hidupnya yang monoton dari rumah-tempat kerja-rumah setiap hari. Dia ingin kembali ke fase kehidupan sebelum saat ini yang bisa pergi ke kafe, belanja sesuka hati dll. Teman baik saya ini lalu mencontohkan saya (saya juga tidak tahu kenapa mencontohkan saya haha), “Sebenarnya yang perlu diubah adalah cara berpikir kamu. Mau dimanapun kamu hidup, harusnya sama saja kamu masih bisa menikmatinya kalau kamu tidak memikirkan lagi masa lalu. Lihat saja Deny, dia sangat menikmati hidupnya di sini. Melakukan apapun yang dia suka, mengerjakan yang dia senangi.” Lalu saya hanya terkekeh. Ada benarnya yang dia ucapkan. Saya menikmati apapun fase hidup yang saya jalani, termasuk saat ini. Sewaktu bekerja di Indonesia, saya menikmati sebagai pekerja kantoran yang hampir setiap hari stress dan lembur pulang dini hari. Iya, Jakarta keras Bung! pulang dini hari bahkan subuh sudah jadi makanan sehari-hari. Saya menikmati ke-stress-an itu karena ada hal-hal lain yang bisa saya nikmati yaitu bisa berkeliling Indonesia dengan gratis lewat perjalanan kantor. Sewaktu fase kuliah, saya juga menikmati setiap hari baru bisa tidur dini hari karena mengerjakan tugas dan laporan. Wanita dini hari lah pokoknya saya dulu haha. Walaupun capek, tapi teman-teman kuliah sangatlah menyenangkan sehingga lelah mengerjakan tugas agak tidak terlalu terasa karena kebersamaan dan gelak tawa dengan mereka bisa membasuh penat yang ada *tsaahh bahasanya :))). Pindah ke negara baru dengan kondisi yang jauh berbeda dengan negara asal pun sangat saya nikmati sekali. Saya berpikirnya karena akan ada banyak hal baru yang bisa saya pelajari, meskipun tidak dipungkiri sampai saat ini permasalahan utama saya masih seputar makanan (isi cuitan saya di twitter ya selalu seputar makanan). Tetapi karena saya pindah ke Belanda dengan penuh rasa kesadaran dan keputusan sendiri tanpa paksaan, pada akhirnya saya sangat menikmati kehidupan  di sini. Dari awal saya sudah mencari kegiatan yang saya suka, karenanya saya ikut menjadi sukarelawan, belajar bahasa Belanda di sekolah sehingga mengenal orang-orang yang baru, mulai mencari pekerjaan paruh waktu, jalan-jalan karena saya memang sukanya pecicilan jalan-jalan baik sendiri, bareng teman atau suami. Karena sudah terbiasa kemana-mana sendiri sejak di Indonesia, dari awal pindah ke Belanda saya tidak terpikir untuk segera mencari kenalan. Justru yang saya lakukan adalah mencari tempat wisata mana yang bisa saya kunjungi dan mengenal lingkungan sekitar sampai nyasar kemana-mana. Waktu itu saya berpikir, nanti sambil waktu juga bakal ketemu sendiri kenalan atau bahkan teman yang sreg dihati, jadi tidak usah terburu-buru. Karena sibuknya saya dengan berbagai hal baru, maka tidak ada kesempatan untuk kangen dengan Indonesia, tidak ada waktu untuk mengeluh ini dan itu, walaupun tetap kangen dengan keluarga di sana. Kalau ada yang bertanya,”kerasan tinggal di Belanda?” Saya mantab menjawab, “kerasan.” Entahlah, sampai saat ini saya belum pernah merasa bosan dengan keadaan di sini, kecuali sesekali bosan sarapan buah atau roti, inginnya sarapan nasi pecel *lah balik lagi ke makanan haha.

Jadi, kenapa saya nampak menikmati hidup? karena saya selalu melakukan apapun yang saya suka, tidak terlalu muluk-muluk dalam hidup, menikmati apapun yang menjadi pilihan hidup saya saat ini, berjalan berdasarkan standar hidup yang saya inginkan bukan berharap sanjungan dari orang lain ataupun melakukan sesuatu dengan harapan ingin dipuji orang. Jika ada yang memuji, saya anggap bonus. Jika tidak, ya tidak masalah. Saya tidak berhenti belajar akan banyak hal baru, berkeluh kesah hanya pada tempat dan sarana yang tepat, hidup pada saat ini dan berencana untuk masa depan bukan  berhenti pada ingatan masa lalu, menjadi diri saya sendiri dimanapun berada, punya sahabat-sahabat yang hampir 20 tahun bersama sampai saat ini, punya teman yang menyenangkan, dan yang terpenting adalah selalu bersyukur. Masalah pasti akan selalu ada, tinggal disikapi seperti apa. Mau diselesaikan atau hanya dilihat lalu ditinggal atau hanya dikoar-koarkan saja. Kita sendiri yang tahu jawabannya bagaimana menyikapi dan menikmati hidup. Ya intinya, nikmati dan jalani saja hidup dengan segala pernak perniknya. Kalau kata Ibuk, “ga usah kakehan nersulo, urip mung sepisan. Ojok keseringen ndangak, kesandung malah catu kabeh awak e”

-Nootdorp, 27 Juli 2017-

27 thoughts on “Tentang Menikmati Hidup

  1. Kita sendiri yang tau bagaimana menyikapi hidup dan menikmatinya, sepakat Den.

    Perihal menikmati hidup, akan selalu berbanding lurus dengan kemampuan seseorang mengucap syukur. Saat kita berada di tempat yang kita suka, pekerjaan yang kita suka, teman yang kita suka, pasti hidup akan mudah dijalani, tapi gimana kalo sebaliknya? Kalau tetap bisa “memodifikasi” yang kurang jadi sesuatu yang menarik, mengambil hal baik dibanding mengingat yang kurang baik, membuka diri untuk belajar, di situ letak kehebatan seseorang merespon kemudian menjalani hidup.

    1. Sebenarnya menikmati hidup itu perspektif masing2 orang bisa saja berbeda. Seperti yang kamu sebutkan, ada yang bisa menikmati hidup saat keadaan sedang tidak beruntung tetapi dia tetap bisa bersyukur dan dia tetap bisa menikmati hidupnya. Memang tergantung masing-masing orang ya Kei bagaimana dia mendefinisikan tentang menikmati hidup 🙂

  2. “ga usah kakean nersulo, urip mung sepisan. Ojo keseringan ndangak, kesandung malah catu kabeh awak e.”

    dan quote ini mengingatkanku akan quote lainnya : “nek ngomong ojo keduwuren, mengko lambemu kesampluk pesawat.”

    bener mbaaak….menikmati hidup. tidak memaksakan diri memenuhi standar yang diciptakan oleh orang lain.

    1. hahaha iyo Na. Pertama aku tahu kalimat iku dari sahabatku langsung ngakak aku. Mbayangno lambe kesampluk pesawat :)))

  3. Seorang teman yang sudah menjadi biarawan saat ini pernah mengatakan kalau manusia pada dasarnya hanya perlu menikmati hidup tanpa mempersulit arus karena arus yang dilawan itu biasanya sakit. Saya rasa hal itu benar, terkadang kita suka merumitkan sesuatu yang sebenarnya sederhana, dan biasanya kita akan kelimpungan sendiri jika kerumitan itu sudah jadi benang kusut. Sekitar 3 minggu yang lalu ada anak teman mama yang lihat ke IG dan bilang kalau saya kurang perhatian dengan keluarga karena saya terlihat selalu senang di foto2 IG. Saya cuek saja, dia tidak tahu hidup seperti apa yang saya jalani.

    1. Waahh terima kasih Wien sudah berbagi cerita tentang temanmu. Benar itu, karena sampai saat ini aku masih belajar bagaimana caranya untuk tidak merumitkan sesuatu yang sederhana. Kadang mikirnya “kurang tantangan”. Tapi kalau dikasih tantangan beneran kok rasa2 pengen dadah2 ke kamera haha. Makanya masih terus banyak belajar akan banyak hal. Iya, orang hanya melihat penampakan luarnya saja Wien. Mereka tidak tahu (atau bahkan tidak mau tahu) tentang perjuangan yang sudah kita lakukan. Tetap semangat Wien!

      1. Sama sama kak, aku juga masih belajar dan sepertinya akan tetap belajar seperti itu. Udah direm pun masih bisa lepas kadang-kadang haha. Semangat juga kak!

  4. Lebih suka baca yang ceritanya happy – happy aja Mba, atau kadang kerinduan makanan atau satu tempat. Dibanding yang isinya misah – misuh terus. Terus, cara menikmati hidup menurut aku memang butuh kedewasaan sih, karena ga semua orang bisa look at the bright side, ga bisa mencari sisi positif dari satu waktu atau kegiatan yang dia jalanin hehe.

    1. Iya bener Ji, cara melihat hidup itu memang terasah sesuai pengalaman. Aku merasakan sendiri bagaimana dulu waktu masih rentang 20an, ambisinya udah kayak apa tau dan bagus sih jadi mencapai sesuatu yang diinginkan. Tapi jeleknya karena itu bukan yang aku mau dari dalam hati tapi karena ingin menunjukkan ke oranglain kalau aku hebat. Walhasil ya capek sendiri. Bertambah umur, makin lebih banyak belajar terutama kalau gagal pun sebenarnya ga masalah. Makin belajar untuk positif.

  5. kalau banyak yang nanya kehidupan nikah campur arahkan saja mbak beli bukunya yang berdasarkan realitas kehidupan pelaku yang di jual di Komunitas Kawin Campur, aku juga baru malah order kemarin. Disana indah dan sedihnya menyatu dan balance.. kalau saya suka advice di email yang grasak grusuk mau cepet nikah sama wna biar matang persiapannnya maklum kadang kalau wanita indonesia suka buru buru memutuskan dan pondasi kurang kuat jadinya kapal mereka bisa oleng dikemudian hari………. yang dilihat mata kadang tak seindah realitasnya dan saya setju sm mbak deny sedih tak harus di obral di sosmed ngapain juga emang buat kita sembuh dari kesedihan atau masalah.. mending curhatnya ke Yang Maha Kuasa yang merubah masalah menjadi solusi… ..

    1. Wah terima kasih banyak Siti informasinya. Aku baru tahu ada buku Komunitas Kawin Campur. Iya, kadang2 mereka hanya melihat enaknya saja, padahal perjuangannya juga ga bisa dibilang gampang

      1. oh mbak ada KKC di facebook sy gabung sblum nikah dan banyak info juga disana..oh pernikahan campuran sesuai yang ada dibuku likalikunya… awesome..

  6. Bijaksana deh, mbak Deny Beberapa tahun lalu saya pun sempet kirim email ke salah satu selebblog yg bersuami WNA yg pertama saya tahu. Karena apa yang ada di blog nya beda 180 derajat dgn kenyataan orang sekitar saya. Dari WP ini juga ketemu mbak Deny dan lainnya yg walopun bersuami WNA biasa aja tuh. Gak lebay jadi mendadak sosialita seperti temen2ku. Yg membuat saya & teman lainnya terkaget, “iih kok jadi gitu ya dia”. Haha. Ketok’e baru melek jadi sampe segitunya

    1. Hahaha Frany, Aku memang dasarnya ga ada jiwa sosialita yang kayak orang2 itu. Lebih nyaman kalau ga berada dalam kerumunan dan ga terlalu tersorot. Nyaman yang seperti ini saja. Bergaul dan bertindak seperlunya saja dan secukupnya saja. Terkadang perlu jaga jarak dan menarik diri untuk introspeksi diri. Tapi ya masing2 orang memang beda. Ada yang nyaman kalau menunjukkan yang dipunya.

  7. Seni menikmati hidup ya mba Den. Mmg hrs bnyk bersyukur.Baru kmrn aku mendengar cerita ttg seorg yg sdh tua yg utk beli rumah saja susah tapi bisa menyekolahkan 7 anak tdk mampu keluarganya. Dan mengurus masalah2 mereka. Mendengarnya saja sdh tampak capek dan pasti berat. Tnyt krn dia jalankan dg rasa syukur bhw ada yg lbh berat lg masalahnya. Suka kagum dg org2 spt itu, bisa menikmati hidup tp juga tdk hanya menikmati hidup utk diri sendiri. Tdk mikir standar hidup bahagia itu bnyk materi utk mlkkan macam2 spt yg tjd skrg di jaman internet.

    1. Betul, seni menikmati hidup dan bersyukur apapun kondisinya. Ga perlu mengeluh dan berkeluh kesah terus. Musti banyak belajar juga untuk bagian ini dan banyak hal. Terima kasih sudah berbagi cerita yang indah 🙂 Benar, berpikir tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga berbagi.

Thank you for your comment(s)