Akhir Musim Dingin (yang Hangat)

Hari ini adalah terakhir musim dingin. Besok sudah mulai masuk Maret yang artinya musim semi. Beberapa hari terakhir (tepatnya sejak sabtu minggu lalu), cuaca mulai menghangat sampai 18ºC. Agak aneh sih untuk ukuran musim dingin. Aneh dan membingungkan. Meskipun tak dapat dipungkiri saya senang ya dengan suhu hangat seperti ini yang artinya hasrat petakilan bisa tersalurkan, tapi saya juga khawatir bagaimana dengan musim panas nanti. Karena tahun kemaren, saya ingat betul suhu mulai menghangat ketika memasuki awal April dan musim panas benar-benar parah panasnya dan berlangsung panjang. Jadi kalau akhir Februari saja sudah mulai menghangat, siap-siap musim panas tahun ini akan lebih panjang, lama dan makin panas.

Karena sepupu saya sudah datang sejak minggu kemaren (dan akan tinggal di sini sampai tiga bulan ke depan) dan cuaca sedang hangat, maka saya ajak dia untuk jalan-jalan ke kota-kota sekitar Den Haag. Dimulai dengan ke pasar Haagse Markt haha. Ya karena dekat dengan rumah dan saya ingin menunjukkan ke dia bagaimana pasar tradisional di Belanda ditambah lagi memang ada banyak yang akan saya beli. Pengalaman pertama dia jalan-jalan di Belanda, ke pasar. Dia sampai terbengong melihat betapa pasar ini luas sekali dan betapa ragam barang yang dijual banyak. Dari pasar becek sampai pasar kering. Dan tentu saja membandingkan harga dengan di Indonesia.

Hari Sabtu saya ada acara di Gouda. Undangan kumpul-kumpul dari anggota Mbakyurop cabang Belanda. Tapi sejatinya yang datang malah bukan hanya dari Belanda tapi juga dari Belgia, Jerman, dan Perancis. Waahh seruuu kumpul-kumpul kali ini karena bukan hanya pasokan makanan yang melimpah ruah, tapi juga berkesempatan bertemu beberapa orang yang selama ini hanya ngobrol lewat whatsapp saja. Rurie sebagai tuan rumah (pemilik katering @kioskana -akun IG nya-), benar-benar menjamu kami dengan suguhan masakan yang enak sekali. Belum lagi tambahan yang lainnya juga membawa makanan. Makin melimpah ruahlah makanan sampai acara bungkus membungkus saat waktu pulang tiba, bingung mau bawa pulang apa saking banyaknya haha.

Saya pun bertemu lagi dengan Anis setelah terakhir ketemu lebih dari satu tahun lalu saat Anis ke rumah. Diberi hadiah lagi oleh Anis, jadi senang saya haha. Terima kasih ya Anis. Bertemu lagi juga dengan Maureen dan Patricia. Wah pokoknya ramai dan seruuu sabtu lalu. Tidak hanya makan-makan di rumah, kami juga menyempatkan ke pusat kota Gouda yang hanya selemparan kolor dari rumah Rurie. Rombongan rame-rame ke sana jadi seperti rombongan turis. Dan kok ya pas ada pasar di pusat kotanya. Saking berkesannya acara kemaren, kami sudah membuat rencana lagi ketemuan selanjutnya di mana. Tidak Sabar!

Keriaan di Gouda
Keriaan di Gouda

Beberapa hari kemudian berturut-turut saya (bersama sepupu saya tentu saja) menjelajah beberapa kota. (Delft, Den Haag, Rotterdam) sejak pagi sampai sore baru kembali ke rumah. Jadi kalau dihitung, total jalan kaki kami perhari minimal 10km dan sampai 15km. Lumayanlah melemaskan kaki. Senang sekali saya bisa mengajak dia keliling dengan cuaca cerah seperti ini. Sekaligus menjelaskan sistem transportasi di Belanda, jadi nanti kedepannya dia bisa jalan-jalan sendiri keliling Belanda bahkan ke negara tetangga.

Tujuan kami sewaktu ke Rotterdam adalah Markthal dan Rumah Kubus. Sewaktu kami ke sana, ada pasar rame sekali. Saya pikir pasar kaget. Ternyata kata Yayang itu namanya pasar Blaak dan memang selalu ada setiap hari selasa dan sabtu. Owalaahh saya baru tahu itu namanya pasar Blaak padahal sering dengar haha. Sayang sekali saya tidak janjian dengan Yayang padahal waktu itu ternyata berada di lokasi yang sama dengan dia dan si Kembar. Volgende keer ya Yang!

Lalu kami ke Den Haag, muter-muter pusat kota, menunjukkan Binnenhof dan danaunya lalu berakhir cari makan di restoran Indonesia. Saya makan bakso beranak (pake nasi), sepupu saya makan soto betawi. Bakso beranaknya rasanya ya biasa saja. Malah enak bakso buatan Rurie.

Keesokan harinya, karena saya ada jadwal ke RS di Delft, jadi sekalian saya ajak sepupu ke Delft. Kota favorit saya ini. Tempat nongkrong favorit, depan gereja sambil berjemur menikmati sinar matahari. Intinya saya benar-benar memanfaatkan sinar matahari yang cerah ceria beberapa hari ini.

Jalan - jalanke Rotterdam, Den Haag, dan Delft
Jalan – jalanke Rotterdam, Den Haag, dan Delft

Ada satu cerita kocak saat kami ke Markthal yang ada di Rotterdam. Ada satu stan yang menjual buah-buah tropis. Lebih lengkaplah dibandingkan Haagse Markt buah tropisnya sampai Manggis dan salak pun ada. Nah, saya tunjukkan ke sepupu sambil bilang harganya sekian per buahnya. Dia berkali-kali istighfar melihat harganya. Shock sambil bilang “Buset dah, ketelen itu ya makan Manggis seperempat kilo harganya €5, buah naga satu biji harganya €4. Di sana mah rambutan tinggal petik di halaman, buah naga sekilo ma belas rebu. Set dah! Ntar balik ke sana aku ga akan sia siakan lagi buah buahan ini. Ingat-ingat harga di sini” Hahaha langsung tobat dia. Saya terus terang meskipun ngiler-ngiler ingin makan buah naga sejak pertama kali tinggal di sini, tapi ga pernah kesampaian karena melihat harganya mendadak langsung kenyang. Nanti pas liburan ke Indonesia, saya puas-puasin makan apa yang tidak kesampaian makan di sini karena mahal. Maka bagi kalian yang tinggal di Indonesia, berlimpah ruah buah-buah tropis lokal, manfaatkanlah dan bersyukurlah dengan makan buah sebanyak-banyaknya. Ingatlah kami di sini terkadang cuma bisa ngiler menahan hasrat untuk beli karena harganya mahal.

Buah-buah tropis yang aduhai mahal harganya
Buah-buah tropis yang aduhai mahal harganya

Itulah sekilas cerita seminggu terakhir musim dingin tahun ini. Maret akan datang, saya antusias menyambutnya. Mudah-mudahan meskipun cuaca jadi tidak karuan begini, musim panas nanti tidak menyengat sekali. Pada foto di bawah ini, perbedaan musim dingin tahun lalu dibandingkan tahun ini pada tanggal yang sama. Tahun lalu bersalju dan tahun ini suhu hangat 11ºC. Ngeri ya, pemanasan global itu nyata.

Perbandingan cuaca pad tanggal yang sama ditahun yang berbeda
Perbandingan cuaca pad tanggal yang sama ditahun yang berbeda

Selamat hari Jumat, selamat berakhir pekan, semoga keberkahan dan kebahagiaan menyertai kita semua. Selamat datang Maret!

-Nootdorp, 28 Februari 2019-

13 thoughts on “Akhir Musim Dingin (yang Hangat)

  1. inget dl beli nangka kaleng waktu di fukuoka, dalam rangka menyalurkan ngidam…. dan yess… tinggal jauh dr Indonesia bikin kita lbh bersyukur. sekarang di rumah, kami gantian panen buahnya, dr jambu biji merah, cempedak, mangga, pepaya, pisang, semua ada di kebun

    1. Memang tiada duanya bisa metik sendiri apa yang ada di kebun. Sudahlah masih segar, enak2 pula rasanya.

    1. Hai Mar, wah kalau ngidam pengen makan yang aslinya, diganti makan dalam bentuk Chips memang pasti ga sama rasanya. Kalau di sini nangka banyak yang jual di pasar tapi aku ga pernah beli jadi ga tahu harganya seberapa mahal. Tapi kata yang sudah pernah makan, rasanya sama kayak di Indonesia. Semoga nanti pulkam bisa kesampaian yaa makan nangkanya

  2. Betul mbak Deny, kami2 ini yg tinggal di kampung sendiri emang kadang lalai bersyukur (astaghfirullah ) padahal apa2 dikasih gampang, dikasih mudah, dikasih murah.
    Duh, liat foto terakhir jadi serem sendiri padahal yg menyebabkan pemanasan global, ya aku juga

    1. Aku juga sebenarnya kadang lupa bersyukur bahwa di Belanda buah tropis lebih gampang carinya dibanding negara-negara Eropa lainnya. Tapi karena mahal itu,jadinya menggerutu. Jadi pengingat juga buatku.

  3. Bisa jadi di Jerman buah2 tropisnya lebih mahal lagi deh Den, karena banyak yg dikemasnya di Belanda. Tahun lalu aku beli rambutan, manggis dan belimbing. Harganya berkali lipat, gpp sekali aja jd pengobat mulut haha. Kuceritain ke mamaku ya terkaget-kaget klo dirupiahkan 😆 ; tapi saat kupamerin foto aku makan buah cherry, kiwi gold, bluberry yang di tanah air ga rela ngeluairn duit buat beli di supermarket, karena harga menggila haha.

    1. Iya bener Nel. Setelah baca komenmu ini, jadinya aku mikir ternyata di Belanda tuh gampang cari buah tropis dibanding negara-negara Eropa lainnya. Meskipun harganya menjulang, tapi minimal adalah di depan mata.
      Oh iyaaa bener haha. Kita menangnya makan buah-buah seperti yang kamu sebutkan. Aoalagi blueberry, kami malah punya pohonnya di halaman depan. Jadinya gratis metik kalau pas berbuah. Di Indonesia beli mahalnya ga nahan.

    1. Iya Inong, pas banget cuaca sedang cerah dan aku masih belum terlalu repot, jadinya langsung hajar jalan-jalan terus setiap hari 🙂

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.