Sebuah Pelukan

Hari minggu kemaren saya pergi ke provinsi sebelah dalam rangka memenuhi undangan seorang teman yang mengadakan syukuran 7 bulan kehamilannya. Saya pergi tanpa suami. Total perjalanan 2 jam, diantaranya dengan naik kereta cepat selama 1 jam. Syukurlah suami dari teman saya tersebut menawarkan untuk menjemput dan mengantarkan kembali ke stasiun besar. Acara syukurannya berjalan lancar, menyenangkan, dan saya kenal dengan beberapa orang baru. Saya harus mengejar kereta kembali karena harus sampai rumah sebelum jam 7 malam.

Lima menit sebelum kereta tiba, saya sudah sampai stasiun. Saat kereta tiba, saya memilih duduk di ruangan antar gerbong, jadi bukan di dalam gerbongnya. Ruangannya cukup luas, ada 7 tempat duduk dan ruang kosongnya. Segera setelah kereta jalan, saya mengeluarkan Hp, mengirimkan pesan ke suami kalau saya sudah dalam perjalanan pulang dan sambil mengecek pesan-pesan yang masuk (selama acara berlangsung saya tidak mengeluarkan Hp). Saya satu-satunya orang dewasa dalam ruangan tersebut.

Tidak berapa lama, pintu antar gerbong terbuka. Dengan ekor mata, saya melihat seorang wanita muda berjalan dan memilih duduk di seberang, dekat dengan pintu. Mata saya masih membaca pesan-pesan dalam Hp sembari saling berkirim pesan dengan suami. Tak berapa lama, seorang kondektur datang memeriksa tiket. Saya mengangkat kepala dan baru menyadari bahwa wanita muda itu sedang menangis terisak. Kondektur tersebut bertanya pada wanita itu apakah ada yang bisa dibantu, wanita tersebut menggelengkan kepala sambil tersenyum, “terima kasih, saya tidak apa-apa.” Sebelum kondektur pergi, dia memastikan pada wanita tersebut jika membutuhkan bantuan jangan sungkan untuk mengatakan.

Tinggal kami, dua orang dewasa dalam ruangan kecil. Saya memandang dia, tidak tahu harus bagaimana. Sedangkan wanita itu semakin keras menangisnya sambil memandang keluar pintu. Suasana canggung, masih tersisa 50 menit perjalanan dan 4 stasiun yang harus saya tuju. “Anda baik-baik saja?” sangat terdengar konyol memang pertanyaan itu karena jelas dia sedang tidak baik-baik saja. Hanya, saya tidak tahu kalimat apa untuk membuka obrolan. “Terima kasih, saya baik-baik saja,” ucapnya sambil melihat sekilas ke arah saya. Dia kembali menangis dan saya mencoba membuka obrolan lagi, “boleh saya duduk sebelah Anda, mungkin ada yang bisa saya bantu.” Dia menganggukkan kepala.

Saya berjalan ke arahnya, duduk di sebelahnya, lalu saya melihat dia sedangkan dia juga memandang mata saya, “Sterkte, yang kuat ya,” kata saya sambil menyentuh lembut pundaknya. Apapun yang terjadi, pasti permasalahan yang sedang menimpanya sangat berat. Saya mencoba menguatkannya dengan mengucapkan kata itu. Dia melihat saya dan semakin deras air mata yang keluar. “Kalau kamu ingin ada yang diceritakan, saya bisa mendengarkan. Saya masih punya waktu banyak sampai stasiun yang saya tuju.” Saya mengganti kata Anda dengan Kamu, karena yakin dia lebih muda dibanding saya dan supaya suasana lebih cair.

Sambil menangis, dia bercerita dari awal sampai akhir dan detail apa yang sudah menimpanya. Cerita yang dia sampaikan terpotong-potong, beberapa kali sempat terhenti karena tangisannya yang semakin menjadi. Saya sabar mendengarkan sembari sesekali menyentuh pundaknya untuk menguatkan. Setelah ceritanya selesai, saya menarik nafas, “saya tidak punya apa-apa untuk membantu kamu. Bahkan air saja yang biasanya tidak lupa saya bawa, entah kenapa kali ini saya tidak membawa. Jadi saya tidak bisa menawarkan air minum. Tapi jika kamu mau, saya bisa memelukmu, mungkin akan membuat kamu sedikit tenang.”

Dia lalu memeluk saya dan semakin menangis. Saya mengelus punggungnya. Saat memeluk dia, mata saya berkaca-kaca. Mungkin karena kami dalam posisi yang sama, tapi dia sedang tertimpa musibah, jadi saya seperti bisa merasakan kepedihannya. Setelah beberapa menit, dia melepaskan pelukan lalu tersenyum pada saya, “terima kasih, saya sekarang lebih tenang. Terima kasih kamu sudah mendengarkan cerita saya dan menawarkan untuk memeluk. Itu sangat menenangkan dan saya butuhkan saat ini. Terima kasih.”

Saya tersenyum, tetap duduk disebelahnya, lalu saya menyandarkan punggung. Kami sama-sama terdiam dan dia lebih tenang dari sebelumnya. Tak berapa lama, dia membuka percapakan dengan bercerita beberapa hal. Karena suasana sudah lebih cair, saya bisa bertanya lebih banyak dan dia juga menceritakan banyak hal pada saya. Wanita muda yang sedang kesusahan. Wanita muda yang sedang diberikan cobaan hidup.

Saya mendengarkan pengumuman, stasiun yang saya tuju semakin dekat. Saya berpamitan, “Sebentar lagi saya harus turun. Yang kuat ya dan harapan saya kamu bisa mendapatkan jalan keluar yang terbaik dari masalah ini.”

Setelah turun dari kereta, perlahan saya menuju halte bus. Tiba-tiba saya terkesiap, teringat dengan kejadian beberapa tahun lalu. Sore itu, saya ingin keluar rumah sebentar menuju taman dekat rumah. Saya ingin menghirup udara segar setelah beberapa hari mengurung diri di rumah dan menangis karena ada masalah besar yang menimpa. Sesampainya di taman dan duduk, mata saya menikmati pemandangan angsa yang hilir mudik di sungai kecil. Tak berapa lama, saya terisak karena teringat kembali masalah itu.

Awalnya hanya isakan, lama-lama menjadi tangisan besar. Saya tidak tahu kalau ada orang lain di taman itu dan sejak datang sudah memperhatikan. Dengan ekor mata, saya melihat Ibu paruh baya melangkah mendekat dan duduk disebelah. Saya melihat dia dengan tetap menangis. Ibu itu tersenyum tipis, “boleh saya memeluk kamu? mungkin kamu akan lebih tenang.” Saya lalu memeluk Beliau dan menumpahkan apa yang menyesakkan di dada. Hanya menangis tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Saya menangis selama beberapa menit. Kemudian setelah agak tenang, saya melepaskan pelukan. Saya tersenyum, “terima kasih sudah bersedia memeluk saya. Sekarang saya lebih tenang. Terima kasih.” Dia lalu berkata, “saya tidak tahu masalah apa yang sedang menimpa kamu, tapi saya tahu kamu akan mendapatkan jalan keluar yang terbaik. Sterkte, yang kuat ya. Saya pergi dulu.” Saya tersenyum. Saya tahu, bahwa jalan keluar yang terbaik dari masalah yang terjadi saat itu adalah mengikhlaskan. Saya kembali ke rumah dengan perasaan lebih ringan.

Sunset di Karimunjawa
Sunset di Karimunjawa

Semoga wanita muda tersebut kuat dan mendapatkan jalan keluar terbaik, bisa melanjutan hidupnya ke depan dengan lebih baik. Saya tidak bisa membantu banyak, hanya mampu menawarkan pelukan. Semoga Ibu yang memeluk saya pada sore itu diberkahi hidupnya karena sudah memeluk saya meskipun kami berdua tidak mengenal satu sama lain. Karena pelukan Beliaulah, sore itu saya jadi tahu bahwa ikhlas adalah jalan keluar yang terbaik. Semua karena sebuah pelukan.

Bis yang membawa saya bergerak perlahan. Saya tidak sabar sampai di rumah dan bertemu keluarga kecil saya dan memeluk mereka satu persatu. Betapa saya sangat beruntung setiap saat menerima dan memberikan pelukan untuk mereka yang saya cinta.

Peluklah dengan hangat dan sesering mungkin yang kita cintai, ucapkan sayang, pandang mata mereka, dengarkan cerita mereka, segeralah minta maaf jika melakukan kesalahan, dan manfaatkan waktu bersama mereka. Hp, media sosial, dan segala macam gawai bisa menunggu, tapi waktu kebersamaan dengan yang kita cintai tidak akan terulang. Manfaatkan sebijaksana mungkin.

Tulisan ini ada karena kisah sebuah pelukan. Kita tidak pernah tahu, hal yang nampak sepele, mungkin bisa memberikan kekuatan pada orang lain.

-9 September 2019-

One thought on “Sebuah Pelukan

  1. Waw, mataku nahan air mata karena lagi di kantor pas baca ini. So sweet of you, Den..karena berinisiatif mau meluk orang yang ga dikenal ❤❤ kalau aku mungkin ga bisa kayak gitu..

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.