Perjalanan Satu Dekade (2010 – 2019)

Kalau yang lainnya mengunggah foto awal dan akhir dekade, saya menuliskan kisah perjalanan saja. Sekalian kilas balik. Lumayan ternyata, membongkar ingatan dan menata perasaan karena perjalanan selama 2010 sampai 2019 turun naik.

KARIR

Setelah hampir 8 tahun (sejak lulus kuliah) bekerja di dua perusahaan berbeda (yang terakhir yang paling lama), pada era permulaan dekade, akhirnya saya memutuskan untuk istirahat sebentar dari dunia kerja dan mencari tantangan lainnya. Alasannya, karena saya mulai bosan dengan ritme kerja yang gampang ditebak (jadi kurang tantangan) dan satu alasan lainnya. Kesempatan yang terbuka adalah melanjutkan kuliah S2. Sebenarnya waktu itu saya ragu apakah bisa otak yang biasanya dipakai untuk bekerja lalu beralih menjadi anak kuliahan lagi. Setelah membaca dan mencari jurusan apa yang sekiranya cocok dengan kondisi saya, terpilihlah satu jurusan yang berbeda dengan latar belakang S1 tetapi berhubungan dekat dengan pekerjaan sebelumnya.

Saya berhenti bekerja dengan perasaan puas karena mencapai satu posisi yang saya perjuangkan, inginkan, dan tidak mengecewakan, pada saat merintis karir dari nol. Setidaknya, saya berhenti kerja dengan penuh kebanggaan. Saat kuliah S2, sebenarnya banyak sekali hal terjadi yang berhubungan dengan dunia akademis. Namun, untuk menghindari polemik karena berhubungan dengan pihak-pihak tertentu, lebih baik tidak saya ceritakan secara detail. Intinya, setelah berpikir selama kurang lebih 3 bulan, saya mantab melepaskan kesempatan untuk berkarir di dunia akademis. Alasannya, berhubungan dengan pembahasan selanjutnya, yaitu kehidupan pribadi.

Cerita kelulusan S2, pernah saya tulis di siniLulus S2 merupakan salah satu pencapaian  besar dalam hidup saya, karena prosesnya yang cukup berliku, belum lagi LDM-an dengan suami. Syukurlah akhirnya selesai juga. Meskipun berliku, namun masa S2 adalah salah satu waktu terbaik dalam hidup saya. Bertemu dengan teman-teman baru yang rasa saudara. Menyadari bahwa sesungguhnya saya ini memang suka sekali belajar dan mempelajari ilmu baru. Yang tidak saya suka adalah bagian ujiannya.

Pindah ke Belanda, sengaja saya tidak langsung mencari kerja. Leyeh-leyeh dulu sambil serius belajar Bahasa Belanda. Selain harus menyelesaikan kewajiban lulus semua ujian integrasi, juga sebagai modal saya berkomunikasi sehari-hari di sini. Setelah lebih dari 6 bulan, saya mulai percaya diri untuk ikut beberapa kegiatan sukarelawan, sebagai sarana melatih bahasa Belanda secara langsung dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Cerita tentang kegiatan sukarewalan yang pernah saya ikuti, bisa di baca di sini dan di sini. Sebelum satu tahun, saya sudah menyelesaikan 5 ujian dari total 6 ujian. Untuk bahasa Belanda, saya lulus tingkat B1. Hal-hal yang berkaitan dengan ujian Staatsexamen I (B1) bisa dibaca di sini. Ujian yang terakhir, baru saya selesaikan akhir tahun 2018. Awal tahun ini saya sudah menerima diploma kelulusan dan akhir tahun saya sudah proses Permanen Residen.

Selain itu, berbarengan saat aktif di beberapa kegiatan sukarelawan, saya juga mulai mengirimkan lamaran pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pekerjaan sebelumnya dan pendidikan. Puluhan mendapatkan penolakan. Ada yang sedari awal sudah ditolak, ada yang setelah melalui beberapa tes lalu tidak lulus. Alasannya bermacam-macam, dari yang overqualified sampai alasan bahasa Belanda yang kurang menurut mereka. Pernah dua kali diterima sebenarnya, tapi dari saya yang tidak mau melanjutkan. Alasan saya waktu itu, satu tempat gajinya jauh lebih kecil dibandingkan tanggungjawabnya yang besar. Sedang tempat lainnya, masalah jadwal yang tidak cocok bertabrakan dengan jadwal sekolah bahasa Belanda. Benar-benar perjuangan mencari pekerjaan di negara ini.

Di tengah perjuangan nyusruk-nyusruk mencari kerja, salah satu tempat saya berkegiatan sukarelawan, membutuhkan pekerja. Saya mendapatkan tawaran untuk mengisi posisi tersebut. Wah, tentu saja saya menyambut dengan senang hati. Dari sukarelawan, lalu mendapatkan gaji. Saya tidak punya pengalaman maupun latar belakang pendidikan, karenanya saya sering dikirim training ini dan itu. Lumayan, jadi bisa belajar banyak hal baru dan mendapatkan sertifikat. Saya bekerja di Panti Jompo (Verpleeghuis) dan belajar banyak hal di sana. Bukan hanya teori, tapi juga mengenal karakter manusia selain juga menempa kesabaran. Ya bagaimana, yang diurusin Oma dan Opa.

Dua tahun di sana, saya akhirnya mengundurkan diri karena satu hal. Dua tahun yang penuh pembelajaran, sedih senang bersama para Oma Opa dan kolega-kolega. Setelah memutuskan tidak bekerja di luar, saya berkarir di rumah sejak dua tahun terakhir (sampai kondisi sudah memungkinkan untuk bekerja lagi di luar rumah). Meskipun rasanya rak uwis uwis ada saja kerjaan yang belum beres, bekerja di rumah sangat saya nikmati prosesnya, detil perubahannya, dan bahagia menjalaninya. Bekerja di rumah membuat saya belajar banyak hal baru setiap saat. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada menjalani sesuatu yang sesuai panggilan hati.

Setiap fase kehidupan, selalu saya lakukan secara maksimal. Jadi setiap keputusan yang saya ambil, apapun itu, sejauh ini tidak pernah saya keluhkan. Setiap orang punya timeline yang berbeda, karenanya saya selalu menjalani setiap fase kehidupan dengan sebaik-baiknya, secara sadar, dan tidak ada penyesalan. Saya tidak perlu membuktikan apapun pada khalayak. Untuk apa, selama saya bahagia menjalani, lalu apa yang perlu dibuktikan. Selain itu, setiap keputusan yang saya ambil, selalu mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat, termasuk suami.

KEHIDUPAN PRIBADI

Tahun 2010, awal mula saya memakai jilbab. Bukan, bukan karena saya mendadak berubah menjadi relijius. Dari awal saya tidak mentasbihkan diri sendiri sebagai seorang yang relijius ataupun menyebut ini sebagai bentuk hijrah. Jauh dari hal-hal tersebut. Saya menyebutnya sebagai bagian dari perjalanan spriritual dan beragama. Apapun yang saya lakukan berhubungan dengan dua hal tersebut, satu sebagai pegangan saya : Ibadah yang saya lakukan kepada Tuhan, seharusnya tercermin dalam keseharian saya berhubungan dengan manusia, tumbuhan, hewan, semuanya yang ada di alam ini. Menjaga hubungan vertikal dan horisontal. Jika dalam keseharian masih ada hal-hal tidak baik yang saya lakukan (secara sengaja), berarti hubungan vertikal saya pun harus saya perbaiki menjadi lebih baik. Walaupun memang pada prakteknya, banyak hal-hal tidak baik yang sengaja saya lakukan, meskipun mulai menyusut…. sedikit haha. Ya inilah proses. Hari ini harus lebih baik dari hari kemaren, bukan?

Dunia percintaan, ya seperti itulah. Sejak rentang 20an memang tidak ada cahaya terang, byar pet penuh ketidakjelasan, dengan beribu macam alasan. Dari perbedaan agama, keluarga kedua pihak yang tidak menyetujui, saya yang tiba-tiba males, sampai alasan yang kadang kalau ingat tetap membuat saya heran : katanya tidak PD karena pendidikan saya terlalu tinggi dan pengalaman kerja saya membuat pihak lelaki minder. Ya sudahlah, berarti memang mereka bukan jodoh saya.

Saat serius kuliah, ndilalah jodoh saya muncul. Meskipun berbeda benua, kalau sudah berjodoh memang dimudahkan ya jalannya. Delapan bulan sejak awal berkenalan, akhirnya kami menikah. Saya menikah umur 33 tahun. Bersyukur menikah saat umur tidak lagi muda, sudah mengerjakan hal-hal yang ingin dikerjakan saat masih single. Sudah berambisi ini dan itu. Jadi ketika sudah menikah, tidak lagi penasaran dan bisa mengerjakan hal-hal lainnya. Saat ini, kami sedang menjalani menuju tahun keenam pernikahan. Semoga kami berjodoh sampai tua dalam keadaan sehat, bahagia, dan langgeng.

Inilah yang membuat saya melepaskan kesempatan berkarir di bidang akademis, karena menikah dan pindah negara. Hidup selalu saja dihadapkan dengan pilihan. Saya memilih untuk meninggalkan Indonesia dan menetap di Belanda, bukan hanya sekedar karena rasa cinta pada suami, juga karena banyak pertimbangan lainnya salah satunya adalah ada hal yang ingin saya raih di masa depan di negara ini. Pada akhirnya, saya mantab dengan pilihan tersebut dan sampai saat ini menjalani dengan bahagia dan tanpa penyesalan.

Saat ini, hampir 5 tahun saya tinggal di Belanda. Meskipun proses adaptasi yang tidaklah mudah, saya bahagia tinggal di sini. Bagaimana tidak, keluarga saya di sini. Home is where the heart is. My heart is in The Netherlands, together with my family.

Sunset di Karimunjawa
Sunset di Karimunjawa

KEMATIAN

Salah satu sepupu terdekat saya meninggal pada awal periode dekade. Hal ini membuat saya sangat sangat terpukul. Dia meninggal diusia yang masih muda. Saya sempat sedih berkepanjangan setelahnya. Sampai kabar duka yang lain datang, Bapak meninggal tepat setahun setelahnya.

Salah satu yang menguatkan niat saya untuk berhenti bekerja dan kembali kuliah adalah meninggalnya Bapak. Saya pernah berjanji pada Bapak untuk melanjutkan kuliah minimal sampai S2. Pada akhirnya saya bisa melaksanakan janji, meskipun setelah Bapak meninggal dunia. Tahun tersebut adalah tahun terberat selama hidup saya. Bapak meninggal, Ibu kecelakaan sampai koma. Saya kembali kuliah supaya waktu lebih fleksibel untuk menemani Ibu yang dalam masa pemulihan dan saya juga harus memulihkan diri sendiri dari rasa kehilangan yang sangat besar atas meninggalnya Bapak yang mendadak tanpa ada sakit sebelumnya. Sampai saat ini (hampir 8 tahun berlalu), saya tetap dalam proses memulihkan mental (jiwa) dan mencoba berdamai dengan rasa kehilangan tersebut. Tidak mudah, tapi saat ini sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Bukan hanya kehilangan yang besar atas meninggalnya Bapak, dalam periode perkawinan, saya (dan suami tentu saja) harus kehilangan beberapa kali calon bayi kami. Saya mengalami keguguran beberapa kali dengan usia kandungan yang sudah besar. Perihal keguguran, sampai saat ini pun saya tetap dan masih belajar berdamai dengan keadaan.

Semakin banyak keluarga, teman2, kenalan yang meninggal, makin membuat saya selalu berintrospeksi. Makin membuat saya semakin menundukkan kepala tidak berpongah dalam hidup, tidak sombong pada semua yang dititipkan, dan mencoba setiap harinya berbuat baik dan lebih baik lagi bukan hanya buat diri sendiri tapi juga buat orang lain. Mau dikenang seperti apa setelah meninggal nanti. Apakah banyak yang bersenang-senang saat saya meninggal atau banyak yang menangis.

KELAHIRAN

Ada kesedihan, ada kebahagiaan. Ada kematian, ada kelahiran. Begitulah siklus kehidupan ya. Beberapa kali merasakan kesedihan yang mendalam karena kehilangan yang terdekat dalam hidup, disela-selanya, kamipun diberikan kesempatan untuk merasakan banyak kebahagiaan.

Salah satu kebahagiaan saya adalah Ibu, Adik, dan sepupu dekat bisa datang ke Belanda dalam waktu 3 tahun berturut (bergantian tentu saja) dan tinggal selama 3 bulan. Kalau adik, cuma 1 bulan. Senang di rumah ada teman ngobrol berbahasa Indonesia, nggosip-nggosip seputar kabar terkini di keluarga. Maklum, sejak pindah ke Belanda awal tahun 2015, sampai tulisan ini diunggah, saya belum pernah pulang sama sekali. Jadi, hasrat menggosip info terkini di keluarga lumayan bisa tersalurkan sewaktu mereka ke sini.

PERTEMANAN

Semakin bertambah umur, semakin tidak ngoyo perihal pertemanan. Yang ada dan seadanya saja. Apalagi sebagai perantau, sudah tidak ada waktu berdrama kumbara menyangkut hubungan sosial. Lebih baik saya menggunakan energi untuk menyetrika setumpuk baju daripada berantem hal-hal yang tak penting. Jika tidak cocok, ya sudah jangan dilanjutkan daripada mencari perkara. Yang ada dan sudah cocok saja dilanjutkan dan dipertahankan. Dihadapi saja kenyataan kalau teman datang dan pergi. Jodohnya ya segitu saja. Sejauh ini, hubungan saya dengan 3 sahabat di Indonesia yang sudah berlangsung 20 tahun, langgeng sampai sekarang dan mudah-mudahan selamanya.

Ada hal menarik selama satu dekade mengenai pertemanan ini. Meskipun tidak ngoyo perihal pertemanan, tapi saya tidak pernah menutup diri mengenal orang-orang baru. Banyak yang saya kenal lalu dari dunia blog dan akrab sampai sekarang. Banyak juga mereka yang saya kenal dari media sosial dan setelah jumpa di dunia nyata, ternyata asyik dan hubungan tetap baik sampai sekarang. Jadi, meskipun memang semakin pemilih. tapi saya tidak pernah menutup diri berkenalan dengan orang-orang baru.

TRAVELLING DAN OLAHRAGA

Pekerjaan yang terakhir di Indonesia, mengharuskan saya untuk sering melakukan perjalanan bisnis. Tentu saja, saya riang gembira menjalaninya. Karena pekerjaan itu juga, saya berkesempatan bisa berkunjung ke hampir seluruh provinsi di Indonesia. Hampir ya, masih belum semua.

Perjalanan mancanegara, sampai saat ini saya pernah mengunjungi 15 negara di dua benua. Dulu saya jalan-jalan bersama sahabat-sahabat, sekarang bersama suami. Jumlah negara tersebut masih seiprit dibandingkan total negara yang ada di dunia. Alon-alon asal kelakon, filsafat travelling saya dan suami. Semuanya disesuaikan dengan ketersediaan waktu dan dana. Kami tidak terlalu ambisi karena memang travelling bukan kebutuhan utama. Ada uang dan waktu, hayuk pergi. Kalau tidak ada, ya jalan-jalan ke danau dekat rumah saja haha. Meskipun begitu, kami tetap mempunyai impian bisa jalan-jalan keliling dunia sampai tua nanti.

Untuk olahraga, satu dekade ini saya pernah beberapa kali ikutan race lari, jarak 10km saja, belum sampai lebih dari itu. Olahraga yang saya sukai sejak dulu ya lari. Race lari yang paling berkesan adalah saat kami bulan madu lalu ikut Bromo Marathon. Saya ikut yang 10km, suami ikut yang 21km (Half Marathon). Ceritanya saya pernah tulis di sini. Selain itu, NN CPC Loop di Den Haag juga sangat berkesan buat saya. Ceritanya bisa dibaca di sini. Saat ini, saya sedang proses kembali latihan lari lagi setelah sekian lama absen. Meskipun masih turun naik niatnya, setidaknya seminggu sekali saya masih rutinkan lari. Mudah-mudahan, entah kapan, saya bisa ikut Half Marathon.

Perjalanan satu dekade yang bisa saya ceritakan hanya itu saja (yang ternyata banyak). Sengaja saya tidak cantumkan detail tahun supaya lebih terkelompok. Cerita lainnya yang lebih banyak lagi, tidak bisa saya ceritakan di sini, saya simpan untuk diri sendiri, keluarga, dan teman dekat. Meminjam istilah sekarang : saya sisakan ruang untuk privasi. Oh satu lagi yang saya rasakan perubahan selama satu dekade ini : dulu saya orangnya gaspol, dalam hal apapun : karir, emosi. Menikmati hidup dengan ambisi tinggi. Sekarang semakin lebih santai dalam menjalani hidup, terutama untuk hal-hal yang di luar kendali. Saya semakin bisa menikmati hidup dengan cara yang santai.

Menyenangkan ternyata menuliskan kilas balik seperti ini meskipun membuat campur aduk perasaan. Semoga 1 dekade kedepan, saya dan keluarga diberikan kesehatan, umur panjang, dan tetap bersama dalam suka duka.

-18 Desember 2019-

Ada yang ingin menuliskan perjalanan satu dekade juga? Saya dengan senang hati ingin membaca kisah-kisah rekan blogger lainnya.

11 thoughts on “Perjalanan Satu Dekade (2010 – 2019)

  1. Perjalanan hidup tiap orang selalu menarik ya mbak Deny seperti kata Christa di blognya yg juga bercerita satu dekadenya (christabercerita.com) “waktu bagi tiap orang beda. tiap orang beda2.” Tapi percayalah, semuanya akan indah pada waktunya Tuhan.

    Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Aku suka kalimat mbak itu. Well, semoga Tuhan selalu menyertai mbak sekeluarga dlm setiap langkah yaa. Salam 🙂

    1. Hahaha Toss Mbak!
      Ayookk Mbak ditulis, aku pengen bacaaa. Aku senang baca kilas balik kisah orang lain. Keseruan2 apa yang ada di kehidupan Mbak Kiky 10 tahun ini.

  2. Once again, suka baca postinganmu mbak. 🙂 Yakin mau membaca kisah sedekadeku? hahaha… gayane kayak banyak cerita.

    Intinya, kalau dipikir2, satu dekade ini aku banyak bekerja di bidang pendidikan dan mengajar. Sesuatu yang dulu pas masih awal2 kuliah tidak terbayangkan. Apalagi bekerja dengan anak-anak ya. Setelah menyelesaikan sekolah di sini, aku masih tertarik dengan hal2 yang berbau pendidikan dan pengajaran. Nanti kalau aku siap bekerja,akan gak jauh2 di bidang itu.

    Soal olahraga, dari tahun 2010 sampe sekarang pencapaian paling kerenku haha adalah tahun 2018, seminggu berenang 3x dan memang untuk sport. Cuman aku tidak bertarget untuk ikut triatlon atau apa hihi…

    Soal travelling, hiyaaa… aku yang lebih pengen travelling, tapi sik nabung disik. haha!

    Semoga tahun depan dan seterusnya, kita dan keluarga kita diberkahi kesehatan, kelancaran rejeki dan kebahagiaan ya mbak. 🙂

    Salam.

    1. Hai Mbak Dede,

      Terima kasih yaa sudah baca dan komen 🙂

      Seruuu Mbak kisah satu dekademu. Apalagi yang tentang bidang pendidikan. Menyenangkan memang ya kalau mengerjakan sesuatu sudah sesuai minat kita. Jadinya tidak beban. Aku sik mbulet iki, karepku opo ae sik durung jelas haha. Siji-siji sik dilakoni.

      Amiinn, semoga tahun2 mendatang selalu berkah, sehat, dan bahagia bersama keluarga.

      terima kasih Mbak sudah berbagi kisah

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.