Cerita Seorang Oma dan Cucunya Saat Wabah Virus Corona

Sudah tiga minggu Mama mertua tidak bertemu dengan anggota keluarga lainnya. Terakhir berjumpa dengan seluruh keluarga, saat pesta ulang tahun cucu termudanya. Setelah itu, berita tentang Virus Corona semakin santer di Belanda. Setiap hari selalu ada berita terbaru berapa banyak orang yang dites dan positif Corona, berapa banyak yang meninggal dan berapa jarak usia pasien yang meninggal. Nyaris setiap hari selalu ada seruan pemerintah untuk melakukan tindakan preventif supaya virus tidak semakin menyebar. Salah satunya adalah dengan seruan keras untuk tinggal di rumah (kecuali bagi mereka yang harus bekerja di luar rumah atau ke luar rumah untuk keadaan darurat misalkan belanja makanan ke supermarket, ke dokter, atau rumah sakit), menjaga jarak, dan membatasi pertemuan dengan orang dalam jumlah banyak.

Namanya manusia, tidak bisa diseragamkan. Ada saja yang tidak mematuhi himbauan pemerintah. Tidak memikirkan orang lain, hanya memikirkan diri sendiri. Akhir- akhir ini cuaca di Belanda sedang cerah. Sangat cerah malah, meskipun anginnya tetap dingin. Banyak yang memanfaatkan kesempatan untuk pergi ke pantai, pasar tetap penuh, leyeh-leyeh di taman, bergerombol di pusat kota. Lupa akan bahaya Virus Corona. Lupa untuk menjaga jarak minimal 1.5 meter. Lupa seruan tinggal di rumah. Lupa untuk sementara tidak bergerombol. Lupa bahwa virus ini sudah membunuh ribuan orang di dunia. Lupa bahwa dunia saat ini sedang berjuang bersama untuk memutuskan mata rantai penyebaran. Lupa bahwa yang kita lakukan untuk tinggal di rumah bisa menyelamatkan banyak nyawa. Mereka lupa atau memang sejenak melupakan atau bahkan sengaja lupa bahwa keadaan saat ini sedang tidak biasa saja.

Mama, yang setiap minggu selalu dikunjungi anak-anak dan cucunya, sejak tiga minggu lalu memutuskan untuk mengisolasi diri di rumah. Beliau tidak mau dikunjungi siapapun dan tidak keluar rumah dengan alasan apapun. Bahkan saat hari ulang tahun, sehari sebelumnya Beliau memutuskan membatalkan acara yang seharusnya dirayakan di sebuah restoran. Kami sekeluarga sedih karena ini pertama kali Mama melewati ulang tahun sendiri, sejak Papa meninggal 5 tahun lalu. Mama, yang memendam rindu bertemu anak-anak dan cucu-cucunya harus merelakan melewati akhir pekan tanpa kunjungan dari siapapun. Usia Beliau yang memang rawan terinfeksi virus ini, menyebabkan kami sekeluarga juga patuh untuk tidak mengunjungi Mama. Belanja pun, beliau meminta tolong salah satu anaknya, lalu meletakkan di depan pintu. Beliau akan mengambil belanjaan tersebut jika anaknya sudah tidak terlihat di depan mata.

Mereka yang tidak patuh pada anjuran pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus, mungkin tidak tahu ada banyak Oma dan Opa yang memendam rindu  tidak bisa melihat wajah anak cucunya sejak wabah ini berlangsung. Mereka yang merasa masih muda, mungkin merasa tidak akan jadi bagian yang terjangkiti virus ini sehingga abai dengan tindakan preventif. Tapi mereka lupa, bahwa mereka jadi bagian yang memperpanjang mata rantai virus.

Suatu hari, salah seorang cucu termuda (Balita) Mama rindu ingin bertemu Omanya. Terjadilah perbincangan di bawah ini antara dia dan Ibunya (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia semuanya) :

Anak    : Oma Mana?

Ibunya : Oma ada di rumah.

Anak    : Kita pergi ke rumah Oma?

Ibunya   : Nanti ya, kalau Virus Coronanya sudah tidak ada, kita pergi lagi ketemu Oma.

Anak    : Hari minggu ya?

Ibunya : Hari minggu kalau virusnya sudah pergi ya. Kalau belum, kita di rumah saja. Kalau virusnya masih ada, nanti Oma jadi sakit. Kangen sama Oma ya?

Anak   : Iya. Kangen pengen peluk dan cium Oma. Kangen main sama Oma.

Si anak lalu menundukkan wajah. Terlihat raut sedih.

Sedih rasanya melihat cucu yang kangen dengan Omanya. Sedih seorang Oma juga memendam rindu tidak bisa bertemu keluarganya. Semoga keadaan ini segera berlalu. Semoga semakin ada titik terang. Mari berjuang bersama. Bisa saja kita memang (nampak) sehat, tapi bisa jadi kita sebagai pembawa. Ada banyak yang harus dipikirkan sebelum kita melakukan tindakan, saat ini.

Tolong patuhi anjuran pemerintah. Tinggal di rumah jika memang tidak ada hal mendesak untuk dilakukan di luar. Tolong jaga jarak jika memang harus ke luar rumah untuk sekedar jalan kaki, bersepeda atau menghirup udara segar. Jangan hadir dalam kerumunan dan acara yang melibatkan orang banyak. Saat ini, mari kita patuh. Ada banyak nyawa yang bisa kita selamatkan selain nyawa sendiri. Para dokter, perawat, dan pekerja yang berada di garis depan yang saat ini sudah kelelahan tapi tetap berjuang menyelamatkan nyawa para pasien yang sudah positif. Para pasien yang sedang berjuang melawan virus ini. Para Oma dan Opa yang sangat memendam rindu tapi tidak bisa bertemu langsung dengan keluarganya karena usia mereka yang rawan terinfeksi. Para anak yang tidak bisa bertemu orangtuanya yang bertugas di RS. Para orangtua yang melepas kepergian anaknya dan entah kapan lagi bisa bertemu karena mereka sedang berjuang menyelamatkan nyawa para pasien. Orang-orang yang lelah secara mental karena selalu dilanda cemas berlebihan dengan situasi dan kondisi seperti ini. Dan masih banyak lagi orang-orang yang terdampak dengan adanya wabah ini.

Pantai bisa menunggu, dia tak akan pindah tempat. Cuaca cerah bisa kita dapatkan lagi, dia akan selalu datang jika saatnya. Nyawa manusia yang tidak bisa menunggu. Banyak yang butuh diselamatkan.

Mari kita saling menguatkan. Semua ini pasti akan berlalu. Keadaan ini akan bisa terlewati jika kita berjuang bersama. Berikhitiar, berdoa, dan tawakkal. Kali ini, mari saling dukung. Lupakan perbedaan, apapun itu. Melakukan yang terbaik dari tempat masing-masing. Mari sama-sama kita putuskan mata rantai penyebaran virus Corona. Bahkan kita bisa melakukan hal yang paling sederhana untuk menyelamatkan nyawa orang banyak dan diri sendiri : di rumah saja.

-23 Maret 2020-

 

6 thoughts on “Cerita Seorang Oma dan Cucunya Saat Wabah Virus Corona

  1. Stay safe buat Deny sekeluarga dan kita semua di Jakarta, kantor kantor udah mulai WFH dari 2 minggu lalu, tapi kalau di kantorku, karena harus diatur sistemnya, baru mulai bisa diterapkan minggu ini. Aku pun cuma keluar untuk kerja dan belanja aja, ga ada jalan jalan or ketemuan dgn orang dulu..

    1. Kamu juga ya Inong, sehat2 dan semoga selalu selamat menghadapi pandemi ini. Semoga semua ini segera terlewati.

  2. Hai Den, klo di kota tempatku sini tempat bermain anak di tutup dengan pita garis polisi dan dipasang selembaran ga boleh masuk, sedangkan di kota besar spt Berlin, Frankfurt, Munchen semalam nonton tv orang2 ga peduli dg wabah Corona, tetap berkumpul dg teman2 di taman leyeh2 menikmati matahari, klo ditanya cuma bilang “saya sehat” 😆 Polisi sudah patroli nyuruh masyarakat pulang diam dirumah, spt nya sanksi nya harus keras nih sdh masyarakat ga ngeyel mulu.

    1. Sekarang di sini sudah mulai ketat Nel. Sudah ditetapkan denda segala. Tapi taman bermain masih tetap dibuka. Walhasih ya tetep saja penih dengan anak-anak, malah remaja. Polisi juga banyak yang patroli nih di kampung sini. Tapi penerapan denda itu yang masih belum jelas gimana.
      Semoga kita semua sehat2 ya Nel bersama keluarga, selamat melewati pandemi ini.

  3. Sama di indonesia juga mbak. Sedih rasanya. Mana pas di hari ultah aku, yg terdampak virusnya makin banyak. Sekolah di pindahkan ke rumah masing2. Beneran sedih banget. Tapi yg bikin gemes krn di jalan org msh ketawa2. Masih bisa bikin bercandaan. kalau aja mereka tahu. Stay safe mbak, jaga kesehatan. Smg Tuhan selalu melindungi kita semua. Aamiin

    1. Amiinnn. Terima kasih banyak ya. Kalian juga di sana sehat2 selalu. Semoga semua ini bisa segera berlalu dan kita bisa melewatinya dengan selamat, sehat.

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.