Lebaran 2020 dan Hantaran Antar Teman

Sebelum memulai cerita lebaran tahun 2020, saya ingin mengucapkan terlebih dahulu Selamat Lebaran untuk yang merayakan dan Mohon maaf lahir batin untuk semuanya. Maaf atas segala hal-hal yang tidak berkenan selama berinteraksi di blog atau media sosial, atas segala komentar, jawaban, atau status. Semoga kita semua diberikan kesehatan yang baik, umur panjang yang barakah bersama seluruh keluarga dan orang-orang yang kita cintai, bisa bertemu kembali dengan Ramadan dan Lebaran tahun-tahun akan datang dengan kualitas ibadah yang lebih baik dan dalam keadaan sehat.

Saya ucapkan terima kasih untuk mereka yang lebaran kali ini tidak mudik, tidak berdesakan membeli baju baru, sholat Ied di rumah, tidak melakukan anjangsana, dan tidak menerima tamu di rumah. Lebaran kali ini berbeda, jangan dipaksakan sama. Mari kita berjuang bersama supaya keadaan menjadi aman kembali.

Selamat Lebaran 2020
Selamat Lebaran 2020 dengan foto kue-kue kering buatan sendiri

MEMBUAT KUE KERING UNTUK LEBARAN

Tidak pernah terpikirkan kalau suatu saat saya akan membuat kue-kue kering sendiri untuk lebaran. Selama ini, sejak tinggal di Belanda, saya tidak pernah membuat kue kering untuk lebaran. Malah ketika masuk bulan Desember, menjelang Natal, saya biasanya membuat Kaasstengels.

Lebaran ini, karena tidak jadi mudik sehubungan pandemi, maka saya sudah niat ingin menciptakan suasana lebaran di rumah secara maksimal. Salah satunya adalah mengisi toples-toples yang seringnya menganggur di rumah, dengan kue-kue kering.

Dimulai dua minggu menjelang lebaran, saya sudah mulai mencicil membuat kue-kue yang sekiranya saya dan orang-orang di rumah akan suka. Mulailah saya membuat putri salju (meskipun saya tidak terlalu suka, tapi saya rasa suami akan suka. Kan bertabur gula), dilanjut kue kacang, lalu Kaasstengels, dan terakhir kue tepung beras yang orisinil dan rasa coklat. Untuk kue kacang saya membuat dua versi dari dua resep yang berbeda. Satu resep untuk ditaruh di rumah, satu resep saya persiapkan khusus untuk teman-teman yang akan saling bertukar hantaran.

Pertama kali membuat beberapa kue kering untuk lebaran kesannya adalah capek luar biasa. Salut buat yang berjualan kue kering. Boyokku rasa cuklek setelah beberapa hari membuatnya. Tapi ada rasa puas juga karena ternyata kok ya saya bisa disela jadwal rumah yang super padat. Sewaktu diberikan ke Mama mertua, Beliau suka sekali. Memuji Kaasstengels dan Putri saljunya. Senangnya hati ini.

Inilah isi toples-toples yang biasanya menganggur : Kue kacang, Kaasstengels, Rengginang, Putri Salju, dan Kue tepung beras. Saya sengaja tidak membuat nastar karena selama lebaran di desa kue yang tersajikan tidak pernah ada nastar. Jadinya lidah saya tidak terbiasa dengan nastar. Yang penting ada rengginang karena di desa kalau tidak ada rengginang rasanya tidak sah berlebaran haha.

Kue kering untuk lebaran ala saya
Kue kering untuk lebaran ala saya

MASAKAN LEBARAN

Masih terkait mudik yang ditunda, maka sedari awal saya sudah niat sekali untuk masak spesial lebaran ini. Saya ingin menyuguhkan masakan khas dari desa mbah, namanya Pecel Pitik. Sebenarnya agak tidak percaya diri awalnya ingin masak pecel pitik. Saya merasa nanti pasti dari segi rasa sangat jauh kalau Bude saya yang memasak. Tapi, karena niat yang membara, saya akhirnya menanyakan resep Pecel Pitik ke Bude lewat perantara Ibuk.

Sebenarnya setiap lebaran di desa saya juga ikut dalam proses memasaknya, bahkan selalu kebagian mengulek bumbu dan cabe. Tapi karena terakhir makan pecel pitik itu saat lebaran tahun 2014, terus terang ingatan saya akan rasanya agak buram. Walhasil berkali-kali saya tanya ke Ibu tentang rasa yang dominan apa, bagaimana urutan memasaknya, dan beberapa hal lagi. Bahkan saat H-1 lebaran, saat saya memasak, groginya luar biasa. Mana masih puasa kan, jadi tidak bisa mencicipi langsung. Saat buka puasa baru bisa dicicipi dan lega karena rasanya mirip dengan yang biasa saya makan di desa. Terharu luar biasa. Leluhur saya pasti bangga karena salah satu keturunannya bisa memasak pecel pitik di tanah rantau haha.

Yang menjadikan pecel pitik ini istimewa, karena ayamnya harus dipanggang terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke bumbu santan. Tujuan dipanggang untuk mengeringkan kandungan air dan menimbulkan aroma panggangan. Ayam yang digunakan juga wajib ayam kampung. Di Belanda ada yang menyerupai ayam kampung dengan daging yang agak liat, meskipun harganya tidak murah. Tutup mata saja, kan untuk hari raya. Memanggang pun lebih enak kalau menggunakan sabut kelapa atau kayu di pawonan. Tapi kan ya di londo ini susah, jadi pakai yang ada saja, memanggang di teflon.

Tempe yang dimasukkan juga dipanggang terlebih dahulu. Rasa yang dominan adalah pedas. Aslinya masakan ini pedasnya luar biasa. Tetapi karena saya tidak ingin “meracuni” suami dan teman-teman yang akan menerima pecel pitik, jadi saya kurangi level pedasnya menjadi 1/4 dari aslinya. Inilah pecel pitik yang membuat saya terharu karena setelah 6 tahun lalu, sekarang bisa makan lagi dan dari hasil masakan sendiri.

Pecel Pitik Jember
Pecel Pitik My Love!

Hidangan lebaran lainnya yang sanggup saya masak sesuai ketersediaan stok tenaga dan mood adalah : telor petis madura, sate ayam, oseng Kohlrabi wortel, balado udang pete, dimakan pakai lontong atau nasi, dan minumnya es garbis (blewah).

Hidangan lebaran di rumah kami
Hidangan lebaran di rumah kami

Mengapa tidak ada rendang dan opor? Karena sejak kecil jika lebaran tiba, makanan yang disediakan di rumah Mbah tidak pernah ada menu rendang dan opor. Jadi ya saya selama ini tidak memasukkan opor dan rendang sebagai menu lebaran di rumah kami. Tapi tahun ini kami bisa makan rendang dan opor dari pemberian teman-teman.

HANTARAN UNTUK DAN DARI TEMAN-TEMAN

Lebaran kali ini sangat spesial karena dalam suasana pandemi yang artinya tidak bisa saling kunjung antar teman. Bisa sebenarnya karena aturan berkunjung sekarang sudah lebih longgar. Tapi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, saat ini lebih baik tidak berinteraksi secara dekat dulu. Saling menjaga satu sama lain.

Selama 6 kali lebaran di Belanda, selain untuk keluarga sendiri, saya biasanya juga memasak dalam jumlah banyak untuk dikirim ke para tetangga dan saudara-saudara. Nah, karena lebaran ini teman-teman saya tidak ke mana-mana apalagi mudik, akhirnya ada ide untuk saling memberikan hantaran yang salah satu isinya adalah masakan spesial masing-masing orang. Selain itu, terserah apa yang ingin diberikan. Tentu saja kami sangat menyambut dengan senang hati ide ini. Apalagi Anis dan Asri dengan sukarela menawarkan diri sebagai pihak yang mengambil paket dan mengantarkannya (eh, beneran sukarela ya Nis, Asri haha. Takutnya aku ngarang).

Saya menyiapkan 6 tas (yang foto di bawah cuma 5 tas karena tas untuk Dita menyusul saya hantarkan ke rumahnya di Delft keesokan harinya) yang isinya masakan pecel pitik dan telor petis madura, kue kacang dalam wadah kecil, kerupuk, coklat, dan beberapa barang tambahan (masing-masing orang berbeda) serta saya lampirkan kartupos dari beberapa negara yang pernah kami kunjungi yang saya tulisi ucapan selamat lebaran.

Urutannya adalah begini : Asri mengambil tas dari saya untuk Eby, Rurie, dan Asri sendiri. Lalu Asri memberikan pada saya tas hantaran dari dia. Kemudian Asri membawa tas-tas saya untuk diserahkan ke Eby dan Rurie. Sementara Anis, pergi ke rumah Rurie dulu untuk menyerahkan hantaran dari dia dan Patricia serta mengambil hantaran dari Rurie (dan Asri) untuk dia sendiri, saya, dan untuk Patricia. Lalu Anis ke rumah saya untuk menyerahkan hantaran dari dia, Patricia, dan Rurie. Terakhir, Anis ke rumah Patricia menyerahkan 3 tas (karena yang dari Anis sudah diserahkan sehari sebelumnya). Jadi 5 orang diantara kami akan saling mendapat hantaran dari masing-masing orang tersebut. Eby adalah teman saya dan Asri, jadi dia mendapatkan hantaran hanya dari kami berdua. Diantara kami berlima, Asri dan Patricia tidak merayakan lebaran (plus Eby), tapi mereka semangat mempersiapkan hantaran. Oh ya ada satu lagi, saya menerima kiriman juga dari Astrid, dia mengirimkan lewat pos. Astrid juga tidak merayakan lebaran, tapi selama ini dia selalu berkirim kartu ucapan selamat lebaran. Teman saya Andrea yang tinggal di Leuwaarden juga mengirimkan kartu ucapan.

Kami ini jarang bertemu (paling tidak untuk saya karena memang saya tidak (mau) sering ikutan kumpul-kumpul haha), jadi dengan momen saling memberi hantaran begini, rasanya hangat di hati, menjalin silaturrahmi dan tetap bisa saling kunjung lewat hantaran. Walaupun hanya sesaat bertemu Anis dan Asri, tapi senang bisa melihat dan berbincang sebentar dengan mereka. Saking sebentarnya, paling hanya 2 menit kami ngobrol. Mereka menaruh barang-barang di depan pintu dan kursi taman, saya pun demikian. Tetap saling jaga jarak.

Tas-tas hantaran dari saya

Saya sengaja memotret satu persatu apa yang sudah mereka berikan pada saya untuk nanti saya pamerkan di blog dan media sosial. Ya memang seniat itu. Bukan karena permintaan mereka, bukan karena untuk berterima kasih karena hal ini jelas sudah saya lakukan secara langsung. Saya memotret apa yang sudah saya dapatkan dari mereka memang karena suka. Tidak ada alasan lain. Perkara nanti ada orang lain yang tidak suka karena saya pamer, ya itu bukan urusan saya. Saya tidak bisa mengendalikan apa reaksi orang karena yanh bisa saya kendalikan adalah apa yang ingin saya tampilkan. Sama halnya terkadang saya nyinyir kalau melihat orang menjembreng uang di media sosial. Itu bukan salah yang menjembreng uang, ya saya saja yang cari-cari bahan gosip. Kalau ada yang melihat unggahan saya lalu ikut merasakan kegembiraan saya menerima dan memberi hantaran dari dan untuk teman-teman, yuk toss virtual.

Saya dan teman-teman ini sudah sering saling kirim mengirim barang dan makanan. Jadi tidak dalam momen lebaran saja. Dan setiap kali saya mendapatkan kiriman, biasanya selalu saya pamer, kalau saya niat. Kalau tidak niat ya saya tidak akan koar-koar. Apakah demi konten? Ya jelas tidak. Saya bermedia sosial tidak berpikir konten, tapi lebih ke arah berbagi dan pamer. Sesimpel itu. Salah satu tujuan saya bermedia sosial kan memang ingin pamer, ya untuk apa lagi haha. Kadangkala saya pamer opini, lain waktu saya pamer foto-foto, sesekali juga pamer pencapain. Berbagi makanan ke teman – teman juga tidak pada saat hari raya saja saya lakukan. Hari – hari biasa kalau saya niat masak banyak, akan saya bagikan ke beberapa teman juga.

Hantaran dari teman-teman

Saya membaca beberapa opini yang beredar mengatakan kenapa hantaran harus dipamer di media sosial, kenapa kok tidak secara wajar saja tidak usah dipamerkan. Ya kembali lagi ke prinsip utama dalam bermedia sosial, kalau sudah sangat meresahkan, lebih baik tidak usah dilihat, dilewati saja. Toh pamer hasil pemberian tidak akan merugikan siapapun, tidak menyakiti hati siapapun, tidak akan membuat pingsan siapapun. Kalau ada yang merasa resah, tidak suka, atau clekit-clekit hatinya, coba diperiksa lagi hati dan pikirannya. Mungkin ada yang tidak benar di dalamnya. Tapi saya kan juga tidak bisa mengatur orang-orang yang berbeda pandangan tentang hal ini. Semua orang bebas berpendapat. Pamer hantaran kalau di Indonesia malah bisa untuk membantu jasa pembuat hantaran lho. Bisa jadi orang akan mencatat akun media sosial pembuat hantaran lalu saat mereka butuh bisa menghubunginya. Kalau hantaran yang kami buat kan bikin sendiri. Tapi saya tetap dengan senang hati mempromosikan akun media sosial teman-teman saya itu. Siapa tahu ada yang mau pesan makanan.

Saya sejak dulu selalu suka melihat orang mendapatkan hantaran dan memperlihatkan isinya. Entah, suka saja. Merasa ikut merasakan gembiranya sang penerima. Padahal waktu itu saya tidak ada yang mengirimi, melas yo. Saya suka tulisan Dila tentang opini dia mengenai hal ini. Silahkan baca di sini.

Beberapa makanan dari teman-teman yang sudah kami makan. Ada banyak yang belum makanya belum bisa difoto. Dua foto di atas (foto taart) saya pinjam dari Rurie. Saking semangatnya mau makan, sampai lupa moto duluan.

HARI LEBARAN

Hari Minggu, 24 Mei 2020, lebaran tiba. Setelah berkutat di dapur sejenak, saya bilang suami untuk mandi dan siap-siap sholat Ied. Saya memakai baju rapi, supaya berasa lebarannya. Selama 6 kali lebaran di sini, baru dua kali saya ikut sholat Ied bersama di Masjid (Al Hikmah, Den Haag). Selebihnya sholat di rumah. Jadi untuk lebaran kali ini, biasa saja sholat di rumah karena acara keagamaan yang melibatkan orang banyak masih dilarang di Belanda, termasuk sholat Idul Fitri.

Setelah sarapan, saya mulai panggilan video dengan Ibu, Adik, dan satu keluarga di Bekasi. Selama lebaran ya memang seperti itu. Jadi kali ini tetap tidak ada bedanya. Oh ada sih, kali ini saat saya telepon mereka satu persatu, mereka semua leyeh-leyeh di kasur di rumah masing-masing. Karena mereka sholat Ied di rumah, lalu menutup rumah serapat mungkin.Tidak mau menerima tamu. Jadinya ya mereka leyeh-leyeh.

Jam 11.30 kami makan bersama. Bersyukur lebaran bisa berkumpul sekeluarga lengkap dan sehat. Semoga kami diberikan jodoh panjang untuk selalu bersama dalam formasi lengkap dan sehat setiap Ramadan dan Lebaran tahun – tahun akan datang.

Begitulah cerita sekelumit keseruan lebaran kali ini. Jika ingin membaca cerita lebaran – lebaran saya sebelumnya, saya akan sertakan tautannya di bawah :

Lebaran Pertama di Belanda

Lebaran Kedua di Italia

Lebaran Ketiga di Belanda

Lebaran Keempat di Belanda

Lebaran Kelima di Belanda

Sehat-sehat selalu ya untuk kita semua.

-26 Mei 2020-

10 thoughts on “Lebaran 2020 dan Hantaran Antar Teman

  1. Wow, ku kagum melihat foto-foto masakanmu. Enak-enak semua!

    Btw aku juga sempat baca story seseorang yang sepertinya kurang berkenan dengan posting-postingan hampers ini. Dan waktu dia bikin polling, aku malah bingung sendiri “lho, emang ada ya yang ngga suka dengan share hampers ini? kok bisa ya ada yang ga suka?”
    Disclaimer: aku juga ga dapat kiriman hampers sama sekali, tapi aku sukaaaa lihat orang berbagi kesenangan di sana-sini.

    1. Haha terima kasih Putri!

      Iya, aku juga suka lihat orang2 dapat kiriman ini dan itu. Kayak merasakan aura kebahagiaan, trus ikutan senyum2 juga. Kayak nular gitu bahagianya.

  2. Selamat Idulfitri, mba.

    Luar biasa banget hidangan lebarannya, Mba Deni!

    Salam kenal dari Malaysia.

  3. Selamat Lebaran dan mohon maaf lahir batin ya, Den berbicara soal masakan dan kue Lebaran, karena aku ga jago masak dan kondisi ibuku yang ga memungkinkan untuk masak, jadinya udah beberapa tahun ini aku selalu pesan makanan dan kue Lebaran dari orang lain. Dan selalu jadi mikir kapan ya aku bisa bikin makanan dan kue Lebaran kayak yang lain. Mudah mudahan bisa segera terwujud

    1. Terima kasih Inong. Selamat lebaran ya, maaf lahir batin juga.
      Ini aku masak dan bikin2 kue sendiri karena kalau beli mahal sekali di sini. Mungkin kalau aku di Indonesia dengan kondisi banyak yang jualan kue kering dan masakan untuk lebaran, aku memilih beli saja daripada buat sendiri. Memilih untuk tidak ruwet sendiri haha. Mudah2an suatu saat bisa nyoba bikin sendiri ya Inong.

  4. Selamat Lebaran Den, semoga Lebaran tahun depan sudah normal spt dulu lagi yaa… Aku sih suka aja kalau kamu cerita ttg makanan dan pajang fotonya, demen liatnya apalagi masakan tanah air 🙂 seketika timbul niat (seringnya cuma niat hehe) utk bikin juga, entah kapan akhirnya dibikin juga.. Niat hati mau bikin nastar isi keju jelang Lebaran, sdh 3 hari keju di kulkas, eh dimakan suami dong, awalnya aku mau komplain “ko dimakan kejunya?” ya udahlah emang niat aja ga cukup buatku haha.

    Klo ada yg bilang pamer mungkin yg ngomong kurang piknik Den :lol : Spt di twitter org terkenal pernah ku baca ada yg sinis “emang ga bisa di DM foto hampers nya?” 😆 .

    1. Hai Nel, terima kasih banyak ya. Amiinn semoga keadaan makin membaik hari demi hari.
      Aku ga masalah orang mau mikir apa ttg postinganku Nel. Seperti yg aku tulis, aku ga bisa mengendalikan reaksi orang. Sak karepmu klo kata orang Jawa haha. Yang aku sebal itu tentang reaksi2 orang2 yg salty banget berhubungan dgn bingkisan hari raya. Kenapa tahun ini jadi kenceng banget. Padahal bingkisan kan sudah ada sejak bertahun2 lalu. Kok ya banyak yg nyinyir kalau ada yg ngepost bingkisan. Padahal ya kalo ga suka ga usah dilihat wong ga merugikan siapa2. Kenapa makin hari orang jadi gampang banget ya terusik kalo lihat orang lain bahagia.

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.