Cerita Lebaran Keluarga di Indonesia

Pertengahan Maret 2020, setelah berunding dan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya kami memutuskan untuk tidak mudik. Keputusan sangat berat, terutama buat saya. Setelah 5 tahun belum ada kesempatan mudik, tahun ini kami sungguhlah niat untuk mudik bertepatan dengan Ramadan dan Lebaran. Mudik yang sangat dinanti. Bukan hanya kami, keluarga di Indonesia yang kami kabari, sudah tak sabar menunggu bulan Mei tiba untuk bisa segera bertemu. Kami sudah 90% siap. Ibupun sudah mempersiapkan segalanya di sana. Hampir setiap hari Ibu bertanya, apa yang kami butuhkan, apa yang perlu Ibu persiapkan. Ibu sudah sangat siap menyambut kedatangan kami sekeluarga.

Sampai pada hari di mana keputusan untuk batal mudik dibuat. Saya bilang ke suami akan mengabarkan hal ini kepada Ibu, “tapi kasih aku waktu. Saat aku siap, aku akan bilang ke Ibu.”

Memberitahukan pengunduran mudik kami selalu saya tunda, sampai awal April, baru saya menguatkan hati untuk memberi tahu Ibu. Berat rasanya. Membayangkan betapa kecewanya Ibu. Saya memberitahukan tentang alasan-alasan kenapa kami memilih untuk tidak mudik saat ini dan mengundurkan entah sampai kapan. Lalu menutup percakapan di WhatsApp, saya mengatakan ke Ibu, “Demi keselamatan kita bersama Bu. Saya tidak mau membawa virus ini ke tempat Ibu. Belanda sekarang sedang dalam situasi yang genting. Saya juga tidak mau liburan di sana dengan perasaan was-was dan cemas. Maaf Bu, semoga Ibu legowo.”

Lalu panjang lebar Ibu menanggapi, “Sejak awal virus ini masuk Indonesia, sebenarnya Ibu ingin menyarankan kalian untuk menunda mudik. Ibu tidak ingin ada hal buruk yang terjadi. Ibu ingin kita semua sehat. Tapi, Ibu tidak mau mengatakan itu karena kamu pasti sudah mempersiapkan semua. Saat kamu akhirnya bilang akan menunda mudik, Ibu sangat lega. Lebih baik menunda bertemu Ibu dan keluarga di sini tapi semua sehat, daripada memaksakan mudik tapi malah bisa menimbulkan marabahaya. Mari kita saling jaga sebagai keluarga, di tempat masing-masing, dengan cara-cara yang bisa kita lakukan. Turuti apa yang saat ini pemerintah anjurkan. Mari kita saling berdoa semoga dipanjangkan umur dan sehat sehingga bisa bertemu kalau keadaan sudah aman.”

Saya lega luar biasa dengan jawaban Ibu. Terharu karena Ibu justru lebih berpikir panjang dibanding saya. Setelahnya, saya menghubungi pihak maskapai untuk mengurus penundaan keberangkatan.

Awal Mei, menjelang Ramadan, saya bertanya ke Ibu, apakah ada rencana untuk Taraweh di Masjid? dan apakah selama ini tetap shalat berjamaah di Masjid? Kata Ibu,”Sejak daerah ini ditetapkan sebagai zona merah, Ibu sudah tidak pernah lagi jamaah di Masjid. Nanti rencananya Taraweh juga di rumah saja. Kalaupun pada akhirnya Ibu meninggal, Ibu berikhtiar supaya meninggal bukan karena virus ini. Ibu juga ingin menjaga supaya tidak menularkan pada orang lain. Sholat di rumah tidak berjamaah di situasi sekarang ini, toh tidak lantas berkurang pahala.” Sebagai infornasi, Ibu selama ini tidak pernah meninggalkan satu waktu sholatpun untuk berjamaah di Masjid. Jadi ketika saya membaca apa yang Ibu tuliskan, jadi terharu sendiri. Ibu lebih baik tidak sholat di masjid untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.

Lain waktu, saya bertanya kepada adik laki-laki apakah masih sholat Jumat di Masjid? Dia bilang sudah sejak awal April tidak pernah lagi sholat Jumat di Masjid. Dia sholat Jumat sendirian.

Menjelang Idul Fitri, Saya kembali bertanya ke Ibu apa rencana Idul Fitri nanti tentang sholat dan unjung-unjung antar saudara dan tetangga. Ibu bilang, “Ibu sholat Ied di rumah saja. Apa fungsinya sholat berjamaah di Masjdi dan lapangan tapi shaf diberikan jarak. Dan lagi, disituasi saat ini, apakah bijak jika sholat Ied berjamaah di Masjid atau lapangan sedangkan meskipun katanya mengikuti protokol, tapi malah kemungkinan menimbulkan bahayanya tinggi. Adik-adikmu tidak Ibu perbolehkan datang ke sini. Lebih baik Ibu lebaran sendirian tapi aman daripada rame-rame tapi beresiko tinggi. Lebaran kali ini beda, tidak usah dipaksakan sama. Toh masih bisa saling telpon. Toh bisa sholat sendiri di rumah. Yang penting semua sehat, semua selamat.”

Adik-adik saya juga sholat Ied di rumah masing-masing. Hari Raya, saya melakukan panggilan video ke Ibu dan adik saya yang laki-laki. Sebenarnya ada rasa sedih karena ini lebaran pertama bagi Ibu benar-benar sendirian dan lebaran pertama juga buat adik-adik tidak berkumpul dengan Ibu dan saudara-saudara di desa. Tapi, ada perkataan Ibu yang membuat saya bangga pada Beliau, “Yang lebaran sendirian kan bukan cuma Ibu. Banyak. Yang sedih juga bukan cuma Ibu, tapi banyak. Akhirnya Ibu tidak terlalu sedih, karena banyak temannya di dunia ini.” haha ya benar juga sih. Di suasana haru, Ibu saya masih juga bisa membesarkan hati anak-anaknya (dan juga hati beliau sendiri).

Saat saya melakukan panggilan video ke Ibu, Beliau sedang bersantai di tempat tidur. Saya bertanya, apa ada yang datang ke rumah? Ibu bilang ada beberapa yang Ibu dengar kasak kusuk di depan rumah. Ibu menutup gordijn seluruh rumah, menutup semua pintu. Tamu-tamu yang sudah datang bilang mungkin Ibu sedang ke luar rumah. Nyatanya Ibu di dalam rumah tapi tidak mau menerima tamu. Sore harinya Ibu hanya ke tempat Bude untuk silaturrahmi, datang sebentar tanpa salaman lalu pulang lagi.

Beberapa hal yang Ibu lakukan selama ini benar-benar membuat terharu saya. Ibu sudah tidak pernah lagi kumpul2 bahkan pengajian pun yang dulunya rutin dilakukan, sudah tidak didatangi lagi sementara ini, tidak pernah sholat jamaah di masjid lagi, ke luar rumah hanya untuk hal-hal yang sangat penting, tidak mau salaman, ke luar rumah pasti menggunakan masker, dan tidak mau dekat-dekat dengan orang. Ibu yang dulunya sangat bersosialisasi sampai rasanya seluruh pasar dan seluruh kecamatan kenal, sekarang duduk anteng duduk di rumah.

Saya pernah bertanya apakah tidak bosan? Ibu bilang, “Ibu ini tidak melakukan apa-apa, kenapa harus merasa bosan? Wong tinggal duduk santai-santai di rumah, kan enak tho. Banyak orang yang saat ini tidak bisa merasakan kemewahan duduk santai di rumah. Banyak yang harus tetap kerja di RS, di tempat-tempat yang rawan penyakit. Mereka tidak punya pilihan untuk bosan. Kita yang masih punya pilihan, mbok ya nurut saja melakukan hal-hal untuk melindungi diri dan orang lain. Wes tho, wong-wong iku ga usah ibadah di Masjid dulu, ga usah pengajian, ga usah kumpul-kumpul dhisik. Ditahan. Sing penting kabeh sehat selamet.”

Di luar kenyataan bahwa kami sering mempunyai perbedaan pendapat dan bersitegang, sebenarnya saya sering mengagumi cara berfikir Beliau yang memang nyantai tapi jauh ke depan.

Mari saling jaga dengan hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan saat ini, demi keselamatan kita, demi keselamatan orang lain. Jangan lengah dulu. Semoga pandemi ini segeran berlalu.

-1 Juni 2020-

6 thoughts on “Cerita Lebaran Keluarga di Indonesia

  1. Aamiin, bijak bgt ibunya mba..

    semoga pandemi ini segera berlalu, semua sehat dan dapat kesempatan puang mudik ya Mba …

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.