Merayakan Sebuah Proses

Ini akan menjadi tulisan yang panjang. Bisa disimak buat para orangtua atau mereka yang merasa selama ini memandang sebuah proses haruslah berakhir menjadi berhasil. Mereka yang selama ini takut akan kegagalan. Tentang sebuah apresiasi terhadap proses.

KILAS BALIK

Saya tumbuh besar dididik oleh seorang Ibu yang sangat mendewakan sebuah keberhasilan. Bapak, justru kebalikan. Beliau selalu bilang, apapun hasil akhirnya tidak jadi masalah selama saya menjalani proses dengan sungguh-sungguh dan menikmatinya. Buat Bapak, tidak ada yang namanya gagal. Menurut Beliau, belum berhasil artinya diberikan kesempatan lagi untuk belajar lebih baik. Pesan Beliau : jadilah yang terbaik versimu.

Sayangnya, doktrin Ibu bahwa gagal adalah gagal itu selalu tertancap di otak saya sampai dewasa. Yang namanya gagal, ya gagal. Artinya tidak lalu menjadi keberhasilan yang tertunda. Sejak kecil, saya selalu berkompetisi dengan diri sendiri untuk membuktikan kepada Ibu bahwa saya bisa menjadi yang terbaik, versi Beliau. Berhasil? iya. Saya memang bisa membuktikan bahwa saya selalu menjadi yang terbaik, menjadi yang juara, menjadi Ter- Ter- versi Beliau. Apakah saya menikmatinya? Dulu saya pikir setiap keberhasilan yang saya raih membuat saya bahagia, membuat saya bangga. Dikemudian hari, saya menyadari bahwa selama ini saya tidak menikmati kebahagiaan sesungguhnya karena sudah menjadi seseorang yang berhasil meraih pencapaian tinggi. Bahagia, iya. Tapi rasa kebahagiaan yang saya rasakan seperti semu. Hanya sesaat saja.

Dikemudian hari saya juga menyadari bahwa untuk mencapai berhasil, saya tidak menikmati prosesnya. Tidak langkah per langkah saya pikirkan, tapi fokus saya selalu hasil akhir harus berhasil. Tidak boleh gagal. Kalau sampai gagal, kiamat dunia. Dulu, gagal buat saya adalah sebuah aib. Sebisa mungkin tidak saya suarakan, tidak saya beritahukan kepada orang lain. Saya akan simpan sendiri dan membuat jadi tertekan. Karenanya, saya akan berusaha lebih dari maksimal agar berhasil, menghindari tertekan karena gagal. Tanpa saya sadari, bahwa jalan menuju berhasil, prosesnya, itu yang membuat saya tertekan.

Ibu, juga mendidik saya dengan jarang sekali memberikan apresiasi. Walaupun berhasil, jarang terlontar pujian atau ucapan bahwa Beliau bangga pada saya. Keberhasilan semacam sebuah keharusan. Jika tercapai, ya memang selayaknya seperti itu. Tidak ada yang istimewa. Beliau tidak melihat jatuh bangun saya sampai dititik berhasil. Yang Beliau tanamkan, bahwa berhasil itu tidak perlu dirayakan, karena memang seyogyanya sebuah terget harus berhasil dititik akhirnya. Terbayang kan jika saya mengalamai kegagalan? Karenanya saya selalu berjuang lebih dari kata keras untuk berhasil.

Misal : sewaktu SMP saya pernah menjadi juara 1 di kelas. Waktu itu saya masuk kelas unggulan di mana isinya anak-anak pintar semua. Saya belajar mati-matian waktu itu. Tapi saya tidak mendengar ucapan selamat dari Ibu. Justru saya dengar bahwa Ibu bangga pada saya dari seorang teman Ibu. Saya ingat sekali sedihnya seperti apa. Lain waktu, saat SMA, saya pernah masuk dalam 10 besar pararel di sekolah. Pararel artinya juara antar kelas. Itu juga belajar mati-matian. Sekolah saya termasuk favorit di Surabaya, dan masuk 10 besar pararel artinya lumayan berprestasi. Saya bangga mengabarkan hal tersebut pada Ibu. Sambutan Ibu : kalau belajar lebih giat, mustinya bisa masuk 3 besar.

Walhasil, dibalik perjuangan keras saya untuk berhasil, ada satu harapan untuk mendapatkan sebuah apresiasi dari Ibu. Setiap langkah saya, setiap kerja keras, selalu yang terpikirkan adalah bagaimana caranya supaya Ibu memberikan pujian kepada saya secara langsung. Yang saya tahu, Beliau memberikan pujian, justru dilontarkan pada orang lain. Beliau bangga pada saya, tapi tidak saya dengar langsung. Saya justru tahu dari orang-orang yang mendengar lontaran bahwa Beliau bangga karena anak tertuanya sudah berhasil A, B, C dll. Hal tersebut malah membuat saya berpikir, kenapa ya kok Ibu tidak pernah memuji saya secara langsung? Tidak mengapresiasi apa yang saya lakukan secara langsung? Kenapa harus dilontarkan pada orang lain tanpa saya tahu.

Dengan keadaan seperti itu, menjadikan saya melakukan segala hal supaya selalu berhasil agar mendapatkan apresiasi dari Ibu secara langsung. Saya haus apresiasi. Sampai pada satu titik, akhirnya saya kelelahan dan mulai berhenti untuk menjadi yang terbaik versi Beliau. Saya lelah mengejar hal yang mungkin tidak akan pernah Beliau lakukan sampai kapanpun. Saya berhasil dalam banyak hal, tentu membahagiakan. Dilain sisi, ternyata saya tidak sebahagia yang saya pikirkan. Bahagia tapi kosong. Bahagia tapi lelah. Bangga karena bisa menyelesaikan sampai berhasil semua target yang saya pasang, tapi saya tertekan. Orang melihat saya selalu berhasil, nyaris tidak pernah gagal. Benar, tapi ternyata saya tidak pernah menikmati prosesnya. Saya kelelahan. Saking lelahnya, saya beberapa kali membutuhkan bantuan professional untuk mengatasi kondisi psikologis yang seperti ini.

Beberapa tahun belakang, saya memberanikan diri bertanya ke Ibu kenapa saya tidak pernah dipuji secara langsung ketika melakukan sesuatu hal yang sekiranya membanggakan Beliau. Ibu bilang karena tidak terbiasa jadi tidak tahu cara mengekspresikan langsung pada saya. Saya mencoba menerima apa yang Ibu utarakan tersebut. Mencoba berdamai dengan luka yang terlanjur ada.

SEMUA BERUBAH

Saat mulai tinggal di Belanda, saya makin menyadari bahwa yang saya lakukan saat tinggal di Indonesia benar-benar tidak sehat. Hidup penuh ambisi, penuh pembuktian kepada orang lain, ingin selalu jadi juara. Asal muasalnya satu : menjadi yang terbaik versi Ibu supaya Beliau selalu bangga pada setiap pencapaian yang saya lakukan. Saya tidak pernah menyisakan ruang untuk gagal. Saya tidak pernah merasakan langkah per langkah proses untuk menuju berhasil. Gagal adalah sebuah momok, aib. Gagal membuat saya jauh tertekan. Walhasil, saya hidup dengan gemuruh yang selalu ada di kepala. Positifnya, saya memang selalu dapat apa yang ditargetkan. Buruknya, kondisi psikologis saya yang tidak sehat.

Hidup di sini, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana orang-orang yang saya temui, suami, mereka yang tinggal di lingkungan sekitar, dan lingkungan keluarga, mereka sangat menghargai yang namanya proses. Saat mendengar ada seseorang atau anggota keluarga yang merasa gagal melakukan sesuatu, tanggapan mereka selalu membesarkan hati, semacam : Nanti dicoba lagi, berarti waktu kamu buat belajar lebih panjang. Kamu sudah berhasil sejauh ini, sudah belajar keras. Kalau hasilnya belum maksimal, semoga setelah ini lebih baik ya sesuai yang kamu inginkan.

Maureen pernah membahas di tulisannya yang ini, tentang bagaimana menanggapi sebuah hal. Lebih spesifik tentang feedback. Seringnya, yang dilakukan oleh orangtua di Indonesia (pada masa saya, tapi tidak semua orangtua) adalah melihat kesalahan terlebih dahulu dibandingkan memberikan apresiasi. Mengkritik tapi lupa memberikan pujian. Padahal yang namanya usaha adalah proses panjang menuju titik yang ingin dicapai. Apapun hasilnya nanti, sebuah usaha layak mendapatkan apresiasi. Tidak usah muluk-muluk, ucapan selamat atau terima kasih sudah berjuang sejauh ini, itu sudah cukup.

Selama 5 tahun di sini, saya belajar akan hal itu. Memberikan apresiasi dan menerimanya. Sekecil apapun, setiap usaha layak mendapatkan apresiasi. Saya yang dulunya berjiwa ambisius namun cepat sekali merasa tersengal -lelah- sekarang lebih bisa merasakan setiap proses yang lakukan. Jika gagal, tentu saja kecewa, namun tidak berlebihan. Mulai bisa menerima konsep bahwa gagal juga bisa menjadi hal baik kedepannya. Ada waktu lebih untuk belajar. Menerima konsep bahwa gagal bukanlah sebuah aib. Menerima konsep bahwa gagal juga bagian dari proses pembelajaran dan bukanlah sebuah akhir.

Sejak di sini, saya berani untuk menjadi yang terbaik versi saya, bukan versi Ibu atau versi orang lain. Dan saya jauh lebih bahagia dengan hal tersebut.

BELAJAR MENYETIR MOBIL

Menyetir mobil bukanlah sesuatu yang saya rencanakan untuk dilakukan. Rumah kami dekat dengan transportasi umum : bis, tram, dan kereta. Mau ke mana-mana juga dekat karena lokasi rumah diantara 3 kota besar di Belanda. Kami juga ke mana-mana bisa naik sepeda. Lalu buat apa repot-repot belajar menyetir mobil, apalagi saya takut sekali yang namanya mengendarai kendaraan bermotor. Selain itu, kami juga tidak punya mobil.

Sampai sekitar September tahun lalu, saya mulai terpikir bahwa menyetir mobil itu termasuk salah satu skill yang harusnya saya punya. Saya tidak mau selalu bergantung ke suami jika suatu saat butuh untuk berkendara dengan mobil. Ditambah lagi, saya ingin menantang diri sendiri untuk melawan ketakutan mengendarai kendaraan bermotor. Singkat cerita, saya mendaftar les menyetir akhir tahun lalu.

Selama les, banyak kendala yang saya hadapi. Yang terbesar adalah : rasa takut. Itu benar-benar sebuah momok. Mengalahkan rasa takut dan tidak percaya diri itu susah. Tapi kembali lagi, saya sudah berniat untuk bisa menyetir walaupun prosesnya harus diselingi dengan tangisan. Terkadang saya lupa, bahwa saya memulai dari nol dan semua butuh waktu. Instruktur menyetir saya yang mengingatkan bahwa tidak bisa saya langsung menguasai semua hal yang berhubungan dengan menyetir mobil dalam sekali jalan. Layaknya anak kecil yang belajar melangkah, prosesnya harus dijalani. Tidak bisa langsung loncat tahapannya. Saya pernah ditegur oleh dia saat ditanya hal apa yang saya pelajari hari itu. Saya menjawab : banyak sekali salah yang saya lakukan hari ini. Dia lalu bilang : kenapa kamu selalu fokus dengan kesalahan yang kamu lakukan. Kenapa kamu tidak fokus dengan keberhasilan yang kamu lakukan hari ini dan berterimakasih ke diri sendiri kamu sudah melangkah sejauh ini. Setiap orang yang belajar pasti ada salahnya, tapi bukan berarti tidak melakukan yang benar kan. Salah buat bahan koreksi supaya kedepannya lebih baik. Tapi jangan lupa untuk berterima kasih ke diri kamu sendiri untuk setiap keberhasilan meskipun kecil bentuknya.

Saya terdiam. Sejak saat itu, saya selalu berusaha melihat hal positif setiap les menyetir. Kesalahan menyetir masih banyak yang saya lakukan. Tapi, bukan berarti tidak ada hal baik yang sudah saya lakukan sejauh ini. Saya berterima kasih dengan keras kepala saya untuk selalu belajar lebih baik lagi.

Kemarin, merupakan hal bersejarah buat hidup saya. Akhirnya ujian menyetir pun tiba setelah tertunda 3.5 bulan karena Corona. Saya sudah berjalan sejauh ini, saatnya menunjukkan apa yang saya pelajari ke pihak penguji. Ditahap ini, saya bilang pada diri sendiri, saya akan berusaha semaksimal mungkin selama ujian. Berhasil atau mengulang lagi, saya tetap melihat sebagai sebuah keberhasilan karena sudah berani menaklukkan ketakutan menyetir mobil.

Setelah ujian selesai, seperti yang sudah saya duga karena ada beberapa kesalahan yang saya lakukan saat di jalan, saya harus mengulang ujian. Kecewa tentu saja. Tapi saya langsung bilang ke diri sendiri : Hebat, kamu sudah melalui tahap ini. Terima kasih kamu sudah berani untuk menyetir mobil. Mari belajar lebih semangat dan menyetir dengan lebih aman setelah ini. Jangan menyerah ya, yuk sama-sama berusaha. Saya bangga dengan kamu.

Instruktur saya pun bilang : Kamu hebat sudah mengalahkan rasa takutmu. Sudah melangkah sejauh ini. Setelah ini, kita perbaiki lagi apa yang jadi bahan masukan dari penguji. Tetap semangat ya, jangan menyerah. Saya yakin kamu bisa.

Sesampainya di rumah, saat membuka pintu, saya mengabarkan kalau musti mengulang lagi. Suami memberikan bunga dan mereka memberikan ucapan selamat pada saya. Suami bilang bahwa saya layak mendapatkan bunga dan ucapan selamat atas proses panjang dari nol yang telah saya lakukan. Dia bilang : Lulus atau mengulang lagi, sama-sama dirayakan karena kamu sudah melangkah sejauh ini.

Bunga dari keluarga

Terharu rasanya mendapatkan dukungan seperti ini. Keluarga adalah pendukung utama saya. Siangnya saya bercerita pada beberapa teman, termasuk Yayang. Dia mengatakan satu hal : Kamu sudah menjadi seorang pemenang karena sudah mengalahkan rasa takutmu. Meskipun kamu harus mengulang ujian, kamu sudah menjadi seorang pemenang karena sudah berusaha paling maksimal.

Ah ya, saya sudah menjadi seorang pemenang. Terima kasih, Yang.

Sorenya kami merayakan apa yang terjadi hari itu. Merayakan sebuah proses. Kami memesan antar makanan dari restoran yang dekat dari rumah. Saat makan, suami bilang : Lulus atau mengulang, kamu tetap juara buat kami. Dari yang tidak bisa mengemudi mobil, sekarang sudah bisa mengemudi ke mana-mana selama les. Selanjutnya, tinggal meningkatkan jadi lebih baik supaya lulus ujian.

Terima kasih, kalian selalu mendukungku. Terima kasih juga buat Ibu yang mendoakan saya saat ujian kemarin.

BERIKAN APRESIASI PADA ANAKMU

Seorang anak, berapapun usianya, mempunyai perasaan. Bahkan seorang balita sekalipun. Hargailah perasaan anakmu. Belajar dari apa yang sudah Ibu lakukan pada saya. Sejauh ini, saya tidak menyalahkan sepenuhnya apa yang Ibu perbuat pada saya. Saya percaya, setiap keberhasilan yang saya lakukan, ada doa Ibu yang menyertai di dalamnya. Ada sujud panjang Ibu di Tahajjud, sholat-sholat wajib dan sunnah lainnya. Yang Ibu lupa adalah mengapresiasi setiap hasil yang saya lakukan. Berhasil ataupun gagal, ada proses panjang di dalamnya. Ibu lupa bahwa seorang anak juga ingin mendengar langsung bahwa Beliau bangga atas apa yang saya lakukan selama ini. Ibu lupa menanyakan apakah saya bahagia dengan segala pencapaian selama ini. Ibu lupa bertanya apakah semua ini benar-benar yang ingin saya jalankan dan inginkan.

Ada luka dalam batin menyertai proses tumbuh saya. Saat ini, saya perlahan menyembuhkan luka tersebut. Belum terlambat untuk berbenah. Semua harus berhenti di saya. Perlahan tapi pasti. Tidak ingin meneruskan pada keturunan saya, setiap proses harus diapresiasi. Setiap proses ada bahan pembelajaran. Gagal juga bagian dari hidup yang harus dihadapi. Tidak semua hal sesuai kehendak kita. Gagal bukanlah aib.

Semoga apa yang saya tuliskan kali ini bisa membuka wacana tentang hal yang mungkin dianggap sepele tapi berdampak sangat besar di kemudian hari. Mengapresiasi setiap proses yang sudah dilakukan.

Buat para orangtua, jangan segan-segan untuk memberikan apresiasi untuk anak-anakmu sekecil apapun itu.

Buat kamu sebagai pribadi, jangan lupa ucapkan terima kasih pada diri sendiri atas segala perjalanan yang sudah ditempuh sejauh ini. Terima kasih karena sama-sama belajar untuk berproses menjadi lebih baik. Jangan segan untuk merayakan meskipun gagal. Mari merayakan sebuah proses.

Selamat berakhir pekan!

-10 Juli 2020-

16 thoughts on “Merayakan Sebuah Proses

  1. Hai Mbak. aku maya yang di twitter
    sama sama orang surabaya nih mbak hehe tos virtual

    Aku punya pengalaman mirip juga
    Selalu rangking tapi jarang diapresiasi karna ibu working mom & pendiam orangnya
    Jadinya apa-apa selalu ingin cepat selesai

    Kuliah selesai cepet 3.5 tahun eh ga lama lupa sama sekali sama apa yg dipelajari di kampus
    Gini ya rasanya mengejar hasil

    10 tahun lalu sudah mengenal apa itu self love. Jadi sering2 berterima kasih ke diri sendiri

    Problem saya sekarang nerapin ke anak, karena ibu saya dingin, terkadang saya juga dingin ke anak
    sampe diingetin suami “itu anakmu loh” ๐Ÿ™ saya ga biasa peluk cium jadi pelan pelan membiasakan

    kaget juga pas kerumah mertua, dikit2 diapreasi dikit2 dipeluk. moga kedepannya jadi pribadi yg sering mengapreasiasi & menghargai proses terutama ke anak hehe

    terima kasih mbak lapaknya jadi numpang curhat

    semoga ujian les nyetir selanjutnya lulus. amin

    1. Hai Maya, wah terima kasih sudah mampir dan menuliskan komentar ya. Aku bukan orang Sby Maya, cuma numpang sekolah dan kerja haha. cuma 13 tahun tinggal di Sby.

      Wah kuliahmu cepat juga ya selesai. Aku dua kali kuliah di jenjang yang berbeda, selalu molor satu semester. Entah salah jurusan apa gimana *alesaaa :))))

      Semoga kedepannya makin bisa peluk2 dan cium2 anak ya Maya. Enak uwel2an sama anak, mumpung belum protes haha.

      Amiinnn, semoga lulus selanjutnya. Duitnya yang ga tahan haha.

  2. typical orang tua era 80-90an Kali Den. Gara gara tulisan ini, aku mengingat2x almh mama (belio juga keras banget). Ya ada dia membri apresiasi waktu NEM (ketauan umur hahaha) saya 10 besar di SMP dan kemungkinan besar diterima di SMA unggulan saat itu. Saat ini juga masih unggulan tuh SMA, baru liat masuk 100 besar Indonesia hahahah.
    anyway, Tapi waktu Saya gagal ke A1 sepertinya beliau kecewa banget sampai berapa kali diungkit hahhahah. padahal ke adik saya yang bungsu terlihat Biasa saja.
    pun termasuk ketika blio menginginkan saya Untuk menikah (and failed), Lebih ke keinginan dia daripada saya sendiri kayaknya (I tweeted about this months ago, and you did comment)

    at the end, tulisan ini meningatkan saya Untuk menyampaikan appresiasi ke anak anak saya, kadang lupa lho, saya lupa mereka bersungguh2x buat meraih itu. Karena buat saya kadang Biasa aja. Sehat sella sekeluarga dan selamat atas SIM Belanda nya….biar nyetirnya ngga jago tapi nyetirnya di luar negeri (apaaa coba ? ). ini jargon konyol saya dan teman teman Kalau ikut race lari di Luar Negeri, biar lelet yang Penzing finishnya di luar negeri. hahahah

    1. A1 itu fisika ya Mbak. Sampe googling barusan haha. Jamanku dah ganti jadi IPS, IPA, dan Bahasa.
      Sebenarnya ada bagusnya juga didikan keras, supaya kita ga lembek dan ga gampang menyerah. Cuma memamg hal tersebut ga bisa diaplikasikan ke semua anak. Ada yang memang kuat dan ada yang pura2 kuat. Aku yang terakhir. Pura2 kuat tapi rapuh di dalam. Nampak selalu berhasil di luar, tapi berasa gagal mulu di dalam.

      Terima kasih Mbak. Musti les lagi ini demi ujian ngulang. Gpp, anggap saja latihan nanti pas nyetir beneran setelah dapat SIM.
      Hahaha jargonnya ok juga Mbak itu. Jadi penyemangat :))) Salam buat anak2.

  3. Aku suka banget paragraf terakhirnya, “Jangan lupa ucapkan terima kasih pada diri sendiri atas segala perjallanan yang ditempuh sejauh ini….Jangan segan untuk merayakan meskipun gagal”. Karena jujur itu yang kadang aku lupa untuk aku lakukan buat diri sendiri. Karena kegagalan juga adalah sebuah proses dan walaupun gagal, tetap ada usaha yang telah kita lakukan sehingga tercapai “kegagalan” itu dan merupakan pembelajaran untuk meraih kesuksesan yang tertunda…Makasih untuk pengingatnya, Den ๐Ÿ™‚

    1. Betul Inong, seringnya kita fokus dengan kegagalan dan lupa bahwa gagal juga hasil dari sebuah proses. Kita lupa berterimakasih pada diri sendiri karena sudah melangkah sejauh ini.
      Sama2 Inong, ini juga pengingat untuk diriku sendiri.

  4. Sama mba, mungkin ini salah satu ciri khas pola asuh (sebagian besar) generasi orang tua dulu, ya. Bedanya saya dari baik ayah juga ibu tidak pernah memberi pujian, apresiasi, bahkan sekedar โ€œgood jobโ€ pun tidak.

    Bahkan dari SD sudah terpilih untuk pentas ini-itu di tingkat nasional, SMA dan universitas semua unggulan, pekerjaan juga top, tdk pernah ada kata congratulations atau well done Tapi giliran dapet hasil yg kurang memuaskan (menurut mereka), ngomelnya kenceng, haha.

    Dan sebaliknya mba, bukannya jadi terpicu pengen pengakuan ortu, saya malah jadinya tidak peduli dgn opini mereka dari kecil. Alhasil suka mbangkang dan milih jalan sendiri tanpa ngegubris saran atau pendapat mereka. Milih jurusan sampe berantem sama ayah karena saya gak mau pilih program studi yg ada dlm โ€œdaftarโ€ mereka.

    1. Hahaha iya sama. Kalau berhasil apapun, nyaris tak ada pujian. Begitu salah dikit, itu yang diungkit2 mulu.

      Kita jadinya terlalu keras sama diri sendiri ya Mae. Aku merasakan banget itu sampai sekarang. Sampai instruktur nyetirku geleng2 kepala kenapa aku terlalu keras dengan diri sendiri. Sampai dia nanya : Apa tipe orang Indonesia begini semua? Kujawab : ya ga tahu, aku ga kenal sama semua orang Indonesia :)))

  5. Dalem banget ini… tipikal ortu2 jaman kita dulu (era 80-90an) emang sulit utk lbh berekspresi tapi kebanggaan tetap ada dan disharenya justru utk orang lain… ibu bapakku dulu juga gitu, though they never force me to do the best as they want to.. alhamdulillah akunya jd gak terbeban..
    Makin kesini dan perkembangan jaman global sudah mulai terbuka ttg apresiasi. Walaupun ada yg bilang dikasih batasannya juga, jangan terlalu “lebay” tll sering memberi apresiasi akan membuat anak terlena dan manja. Emang susah jadi orangtua……

    1. Benar Shin, memang susah jadi orangtua. Ibuku pernah bilang : Ibu ini merasa serba salah, sudah melakukan yang terbaik buat anak tapi tetap aja banyak salahnya di mata anak2. Jadi Ibu musti gimana?
      Nyess juga sih pas denger Ibu ngomong gitu. Trus aku jadi mikir, ya memang orangtua ga ada yang sempurna.

  6. terima kasih sudah di-tag ^^ terima kasih sudah bersemangat memutus mata rantai demi pola asuh yg lbh baik.. masa-masa gini lagi diminta ngamen soal parenting ke wali murid baru, akan kugarisbawahi memberikan apresiasi pada anak itu… dan pastinya: selamat merayakan proses!

    1. Terima kasih ya Buk sudah baca dan (berusaha keras) buat nulis komen. Aku terharu.
      Ternyata setelah dijalani, memberikan apresiasi justru hal yang menyenangkan. Bisa memberikan suntikan semangat pada mereka yg dikasih apresiasi. Selamat ngamen Buk!

  7. Tetiba aku coba menginggat apakah ortuku pernah memuji aku waktu kecil hingga remaja, ga ada yang keingat hehe, entahlah apakah rata2 tipe ortu jaman dulu di Indonesia begitu. Klopun ortu bangga sama anaknya bukan ke anaknya langsung dibilang malah ke orang lain klo anaknya hebat begini begitu, padahal si anak butuh pengakuan juga ๐Ÿ˜† Sejak punya anak, sekecil apapun yg bisa dilakukan si bocah ya ku kasih pujian (tak berlebihan), klo dia memang sudah terbiasa melakukan hal tsb ga ku puji lagi. Selamat ya Den buat ujian sim nya, lulus atau tidak paling tidak kamu sudah bisa nyetir ga seperti aku belum bisa pegang setir hahaha ..

    1. Bener Nel, anak juga ga perlu dipuji terus2an. Secukupnya saja sudah bikin mereka senang. Kayak merasa dihargai atas segala usahanya, sekecil apapun itu.

      Terima kasih Nel! Awal les nyetir, aku ga bisa mengendalikan setir dengan baik. Suka menceng kanan kiri ga jelas. Zig zag gitu haha. Trus sekarang kata Instrukturku, jadi sok2an kayak tukang ngebut. Dibilang kalau aku pengen kebut2an, mending pindah sekolah ke tempat mobil khusus buat racing

  8. Keren, Den! Bunganya cantik, dan so sweet banget sih. Iya ya, kamu niat aja sudah mengalahkan ketakutanmu dan itu sudah langkah besar :* Selamat ya! Ikutan curhat ah, aku juga dididik ibuku begitu. Keknya tipikal tiger mom Indonesia ya begitulah. Jadinya high-achiever tapi gampang stress. Begitu ambil kelas di US, wih orang-orang disini sangat encouraging, selalu memberi masukan positif dan konstruktif. Aku jadi unlearning banyak hal dari learning ๐Ÿ˜‰

    1. Terima kasih Dita! Iya, mungkin tipikal Ibu Indonesia begini ya, pada masa itu. Entah kalau sekarang gimana. Mungkin ada perbedaan pola asuh.
      Nah itu, high achiever tapi gampang stress. Ga enak banget rasanya. Hidup kayak kejar2an sama sesuatu.

      Semangat buat kita, Dita!

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.