Kangen Ngobrol dan Ketemu Langsung

Dua bulan lalu, Anis ke rumah untuk mengembalikan panci dan toples yang saya bawa saat acara ulang tahun di rumahnya, bulan Agustus tahun lalu. Panci itu saya isi Pecel Pitik dan toplesnya saya isi cookies coklat buatan sendiri. Sewaktu Anis menghubungi saya ingin mengembalikan panci dan toples, awalnya saya tolak halus dan bertanya apa dia ada keperluan di dekat rumah dan akan mampir untuk mengembalikan barang – barang tersebut. Ternyata, dia ingin datang khusus untuk mengembalikan panci dan toples. Saya mikir, wah itu panci kan bukan dari merek terkenal, beli juga di Action, sampai lintas provinsi nyetir apa ga sayang waktu dan bensinnya. Tapi Anis bilang nggak apa, sekalian silaturrahmi katanya.

Saya lalu mengiyakan dan bertemulah kami di depan pintu pada tanggal yang disepakati. Itu pertemuan pertama kami setelah terakhir Agustus lalu. Ngobrol di depan pintu rumah, hanya sekitar 15 menit saja. Senang rasanya bisa bertanya kabar dan ditanya kabar secara langsung. Apalagi pada saat itu bulan pertama saya melipir dari Twitter dan FB. Rasanya senang diberi perhatian *haus perhatian. Saya juga menanyakan kabar dia, kabar anak – anaknya, pekerjaannya, lalu kami ngobrol yang lainnya.

Kami tidak bisa ngobrol lama karena saya dan keluarga mau jalan – jalan ke bukit dekat rumah. Setelah Anis pulang, hati saya rasanya menghangat. Ternyata, senang juga ya ketemu teman secara langsung, berasa kangen tidak bertemu lama. Sayang hanya sebentar kami berbincang dan tidak bisa masuk ke dalam rumah. Saya lalu mengirimkan pesan ke dia, terima kasih sudah berkunjung, sudah menanyakan kabar saya, sudah ngobrol secara langsung. Saya yang tidak terlalu banyak bergaul, ternyata punya rasa rindu juga untuk mengobrol lama dengan teman, berbincang ketemu muka dan mata, kangen saling bertanya kabar langsung, dan kangen bersenda gurau.

KANGEN MENGUNDANG TEMAN KE RUMAH

Meskipun intensitasnya tidak terlalu sering, saya terbilang lumayan lah dalam kurun waktu setahun beberapa kali pasti akan mengundang teman – teman dekat atau kenalan untuk kumpul – kumpul di rumah. Tidak harus ada acara khusus, ya hanya sekedar berkumpul saja. Entah itu potluck atau saya yang memasak untuk semua. Senang saja rasanya bisa ngobrol panjang lebar sambil makan dengan suasana santai. Bisa selonjoran, duduk bersila, atau segala pose, serta tidak dibatasi dengan waktu (beda kalau ketemuan di resturant ya).

Tahun lalu, meskipun pandemi, saya sempat mengundang 3 teman ke rumah, dalam waktu yang berbeda. Dua teman datang untuk bezoek dan Ananti beserta keluarganya memang saya undang untuk makan siang saat akhir pekan. Selain itu, saya pun diundang temen dekat untuk makan siang di rumahnya, dan satu kali saya berkunjung ke rumah teman yang lain untuk melayat Bapaknya meninggal. Lain waktu, saya juga menghadiri acara nikahan Crystal dan undangan ulang tahun Anis. Jadi untuk ukuran pandemi, ya saya tidak terlalu suci banget sih masih berkumpul – kumpul. Cuma kalau dibandingkan dengan situasi normal, intensitas kumpul – kumpul jauh berkurang. Berasa sih rindunya meskipun ya saya tidak terlalu keberatan juga kalau banyak berdiam diri di rumah seperti saat ini. Hanya, memang rasa kangen itu ada. Kangen mengundang secara spontan teman – teman untuk datang di rumah, kangen diundang makan – makan *ngarep banget buuukk ada yang ngundang. Kangen ngobrol, kangen bersenda gurau, kangen bercerita banyak hal, kangen bertemu langsung.

KANGEN KUMPUL KELUARGA

Setahun lalu, saat ada acara di rumah kami, itulah terakhir kalinya kami sekeluarga besar kumpul lengkap. Setelahnya, suasana dan kondisi mulai berubah. Lockdown, pandemi, segala peraturan yang cepat berubah, rasa was – was, dan segala macam mulai datang silih berganti. Sampai saat ini, setahun lamanya, kami belum pernah bertemu lagi dengan keluarga besar. Saya tidak tahu secara langsung bagaimana muka para ponakan, tidak tahu muka para ipar. Tidak tahu cerita terbaru dari mereka apa, cuma dengar kabar dari Mama mertua.

Di keluarga besar suami, acara kumpul – kumpul rutin dilakukan jika ada yang berulang tahun, makan malam Natal dan Tahun Baru. Jadi intensitas berkumpul kami dalam setahun, lumayan sering. Suasana berkumpul dengan seluruh keluarga itu, selalu menyenangkan buat saya. Jangan dibayangkan keluarga besar ini jumlahnya sangat banyak. Kalau ditotal, tidak sampai 15 orang. Ya memang cuma segini, tapi guyup.

Berkunjung ke rumah Mama mertua pun, selama setahun ini jadi berbeda. Kami tidak pernah masuk sama sekali ke dalam rumah. Hanya berdiri depan pintu, dalam jarak yang lumayan jauh. Saya kangen duduk dalam rumah itu, kangen ditanya mau minum apa dan diberi kue manis. Kangen berbincang lama dengan Mama. Kangen duduk santai di dalam rumah.
Saya kangen berkumpul dan bisa bertemu lagi dengan seluruh anggota keluarga besar.

KANGEN BERTEMU TEMAN DI RESTAURANT

Biasanya, ada beberapa teman yang mengajak bertemu di restaurant. Seringnya restaurant Indonesia. Ada juga beberapa yang memang tanpa agenda, ingin saja makan bareng. Saya, Crystal, dan Ajeng yang seringnya seperti ini. Janjian makan di restauran Indonesia mana gitu di Den Haag, gantian, dicoba satu – satu. saling bertukar kabar, ngobrol ngalur ngidul. Sampai ga kerasa, waktunya musti pulang. Sudah ada yang nunggu di rumah. Kembali lagi pada peran masing – masing. Lumayan, ngobrol begitu saja jadi bikin hati senang. Kangen bisa kembali ke situasi seperti itu. Horeca masih belum buka sampai saat ini. Sudah buka pun, ya masih bimbang kalau musti janjian di restaurant. Pada belum berani ke sana ramai – ramai.

KANGEN NGOBROL DI RUMAH TETANGGA

Tetangga nempel tembok, sangat baik pada kami. Sering kami diundang ke rumahnya tanpa ada acara khusus. Anak – anak mereka pun sudah akrab dengan anak – anak kami karena sudah terbiasa menjaga di rumah. Hubungan sudah seperti saudara lah. Sejak Pandemi, kami belum pernah lagi masuk rumah mereka, sebaliknya pun begitu. Kami ngobrol hanya depan pintu saja. Jika ada yang berulang tahun, tetap saling berkirim kado, tetap saling berkunjung, tapi sebatas depan pintu saja.

Beberapa minggu lalu, salah satu anak mereka ingin belajar membuat kue lumpur. Ceritanya, saya memberikan kue lumpur, lalu pacarnya si anak ini suka sekali dengan rasa kue lumpur buatan saya. Jadilah si gadis ini ingin belajar cara membuatnya. Saya bilang akan mengundang dia ke rumah kalau saya akan membuat lagi. Jadilah saya undang dia saat saya membuat untuk sajian tukang – tukang yang sedang kerja di rumah. Itulah pertama kalinya dia masuk lagi ke dalam rumah kami setelah satu tahun absen. Berkah kue lumpur. Kangen rasanya bisa berkunjung kembali antar rumah.

Kue Lumpur Penyambung Silaturrahmi antar Tetangga

BUKAN PENGGUNA VIDEO CALL KALAU TIDAK KEPEPET

Entahlah, sejak dulu sampai sekarang, saya tidak terlalu suka yang namanya panggilan melalui video. Saat LDM dan LDR an dengan suami selama 1 tahun, selama itu juga kami tidak pernah satu kalipun menggunakan panggilan video. Manual lewat WhatsApp atau email. Telpon pun hanya sekali setiap 2 minggu. Itu saja sudah lebih dari cukup. Pandemi seperti ini, rasanya panggilan video bisa dijadikan alternatif untuk melepas rindu ya, tapi saya toh tetap tidak terlalu suka. Entahlah, rasanya tidak suka melihat muka di layar haha, berasa aneh. Saya menggunakan panggilan video hanya untuk yang hubungannya sangat dekat, misalkan keluarga bulek di Bekasi, beberapa sahabat, dan Mama mertua. Sudah itu saja. Selebihnya, mending telponan biasa. Dengan Ibu pun saya jarang saling menggunakan panggilan video.

Saling berkirim pesan lewat aplikasi pesan pun, secukupnya saja. Saya tidak terlalu punya banyak grup di WhatsApp, cuma 2 aja yang aktif dari 4 yang saya ikuti. Yang lainnya, saya pasif. Saya lebih senang bertukar kabar secara langsung, bukan di grup. Lebih senang berkirim email, daripada menulis panjang di aplikasi pesan.

SEMOGA DUNIA KEMBALI MEMBAIK

Semoga perlahan dan pasti, keadaan kembali membaik. Meskipun definisi normal kedepannya akan jadi sangat berbeda, tapi setidaknya beberapa hal bisa kembali seperti semula. Misalkan, bisa kumpul lagi dengan teman, seluruh keluarga, roda perekonomian kembali membaik, rasa was – was semakin berkurang. Saya rindu bertemu teman secara langsung, ngobrol dan saling bertanya kabar. Rindu berkumpul dengan keluarga besar, rindu menghadiri acara tanpa rasa cemas. Rindu sesekali ke restaurant.

Saya memang selalu bersyukur karena masih diberi sehat dan berkumpul lengkap dengan keluarga di rumah, namun rasa rindu yang saya sebutkan di atas, tak terelakkan. Rindu bertatap muka selain dengan orang di rumah. Rindu yang semoga suatu hari nanti bisa terobati. Bisa bertemu dan ngobrol secara langsung.

-18 Maret 2021-

6 thoughts on “Kangen Ngobrol dan Ketemu Langsung

  1. Hai Den, amin yaa semoga keadaan membaik, sayangnya orang2 ditempatku ga nurut, hari minggu lalu ada demontrasi nolak lockdown, orang2 mau nya hidup normal spt dulu. Klo di Jerman malah angka positif ke anak dan remaja lagi naik 2x lipatnya krn yg mutasi.

    1. Sama Nel, di sini setiap minggu adaaaa aja Demo. Bulan Februari lalu Demonya malah parah sampai ke kampung2 bakar2 mobil, mecahin toko2 sampai penjarahan juga. Kesel banget lihatnya sekaligus kasihan dengan pemilik toko yang dihacurkan sama massa. Sudahlah keadaan lagi susah gini, eh pake acara ngerusak dan menjarah.
      Di sini juga kayaknya angka tetep naik. Aku nih saking ga terlalu nyimak berita akhir2 ini, sampai ga tahu sekarang nih di Belanda sudah masuk gelombang berapa. Dan peraturan yang terbaru pun aku ga terlalu ngeh apa.
      Sehat2 kalian di sana Nel.

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.