Kembali Aktif Menggunakan Media Sosial

Setelah hibernasi sama sekali tidak menggunakan media sosial yang saya punya (twitter dan FB) selama nyaris 7 bulan, akhirnya pada bulan Juli saya memutuskan kembali ke pelukan twitter dan FB. Cerita kenapa saya memutuskan tidak bermedia sosial sejenak, pernah saya tuliskan panjang lebar di sini. Awalnya masih ragu dan menimbang banyak hal, apa memang sebutuh itu dengan media sosial, mau ngapain lagi sih wong ga bermedia sosial toh saya baik – baik saja. Banyak manfaatnya, bahkan saya buat tulisan khusus manfaat saya tidak menggunakan media sosial. Asal masih bisa nulis di blog, sudah cukup. Bahkan saat saya memutuskan untuk punya usaha dari rumah, sempat malas – malasan untuk punya akun IG walaupun hanya untuk kepentingan bisnis. Malas harus ngurus akun, tapi kan ya saya butuh promosi juga. Akhirnya selama masa hibernasi media sosial, saya malah nambah akun IG buat jualan. IG atas nama Sophie Bread and Sweets *promosi sekalian di sini. Jadi ini satu – satunya akun IG yang saya punya, isinya ya selain buat jualan, promosi, juga berisi aktiftas per-baking-an. Saya tidak follow akun pribadi kecuali beberapa gelintir orang saja. Kalaupun saya follow, karena tahu yang bersangkutan adalah pembeli potensial atau punya hobi baking juga. Selebihnya, saya hanya follow akun jualan dan akun pribadi yang berhubungan dengan roti, sourdough, atau baking yang manis lainnya. Mungkin dari yang baca blog saya lalu follow akunnya Sophie, terima kasih. Kalau saya tidak follow balik, sudah tahu ya alasannya. Akun IG khusus untuk jualan dan berbagi cerita di IGS tentang kegiatan per-baking-an saya. Jadi, saya tidak follow akun pribadi yang isinya cerita keseharian.

Nah, saat kembali ke twitter, saya sempat kagok. Mau menulis apa nih, lihat tampilan twitter kok nampak beda. Trus pas buka FB, kagok juga. Mau ngapain di FB. Lalu saya buat Page untuk jualan. Setelahnya saya buat status pamer cerita berat badan yang turun 25kg *teteup ya, pertama muncul langsung pamer. Ya gimana, saya kan mau promosi Sophie, nah kalau ujug – ujug muncul langsung ngomong Sophie kan kurang smooth. Jadi ya, basa basi dulu. Begitu juga di twitter, saya bikin cuitan receh dulu awalnya. Lalu saat sudah mood, baru saya promosi Sophie.

Sudah 2.5 bulan kembali berkutat dengan media sosial, bahkan nambah IG, ada beberapa hal yang saya amati perbedaan sebelum dan setelah hibernasi :

  • LEBIH TERKONTROL. Jadi, sekarang sayalah yang mengontrol media sosial, bukan sebaliknya. Tahun lalu kan parah sekali diri ini dalam bermedia sosial. Merasa saya yang dikontrol dan tidak bisa mengendalikan diri mainan twitter. Setelah kembali lagi, saya bisa merasakan bedanya dan sekarang lebih santai dengan twitter. Kalau lagi malas, ya bisa sampai beberapa hari tidak menengok twitter. Bahkan FB pun bisa sampai 1-2 minggu terlupakan tidak dibuka sama sekali. Kalau IG, sampai saat ini saya masih belum klik. Jadi masih on off gitu mood dengan IG. Makanya kalau saya sedang tidak ingin posting apapun di IG, bisa berhari – hari tidak menengok IG sama sekali. Kalau ada DM pesanan, baru saya buka. Kalaupun sudah posting foto atau story, setelahnya ya saya lupa mau nengok lagi. Ingatnya keesokan harinya : lho kemaren kayaknya bikin IGS, halusinasi apa gimana ya. Setelah saya tengok lagi, IGS nya sudah masuk arsip. Sampai lupa. Senang sih, sekarang sudah tidak punya keterikatan kuat dengan media sosial.
  • TIDAK TAHU BANYAK HAL, TAK MENGAPA. Karena sekarang sudah tidak terlalu ngotot lagi dengan media sosial, jadi kalau sedang berjauhan lalu kembali lagi, membaca TL rasanya kok ada yang ketinggalan ya tentang suatu berita. Saya santai saja. Tidak berusaha keras mencari tahu. Jadi tidak terlalu mikir kalau ternyata saya tidak tahu banyak hal di media sosial. Itu normal dan wajar.
  • TETAP FOKUS DAN PRODUKTIF DENGAN DUNIA NYATA. Sekarang media sosial aktif yang saya punya, ada 3. Tapi, dengan tiga akun tersebut, proporsi fokus malah tetap pada dunia nyata. Saya membuka media sosial sesempatnya saja. Kalau sedang sibuk seharian, ya tidak sempat buka sampai keesokan harinya. Pikiran pun tetap menapak di dunia nyata. Kalau sedang di luar rumah atau jalan – jalan, tidak ngotot menjepret sana sini dengan niat ingin diunggah di twitter atau FB. Dulu kan begitu. Sekarang, kalau sempat ya difoto, kalau tidak ya tidak apa. Itupun seringnya berakhir di file HP saja. Tidak diunggah. Makan, ya fokus pada makanan, bukan sambil memelototi HP. Liburan, ya fokus pada liburan Jadi intinya, otak saya sudah terbiasa untuk tidak berpikir tentang media sosial. Melihat apa yang ada di depan mata. Bukan mata memandangi layar HP. Merasa juga lebih produktif. Bisa menyelesaikan banyak hal dan melakukan yang saya suka tanpa terdistraksi media sosial. Lumayanlah, sudah bisa baca 27 buku dari target 50 buku tahun ini. Lumayan bisa mengurusi jualan, menerima pesanan.
  • MENGGUNAKAN WEBSITE, BUKAN APLIKASI. Saat bersih – bersih aplikasi di Hp waktu hibernasi, saya buanglah beberapa aplikasi tidak penting, salah duanya twitter dan FB. Nah, sampai sekarang, saya belum install lagi dua aplikasi tersebut. Sudah cukup puas membuka dari website saja. Hanya IG saya buka lewat aplikasi.
Suatu senja di danau
Suatu senja di danau

HAL – HAL YANG TETAP SAMA SEBELUM DAN SESUDAH HIBERNASI MEDIA SOSIAL

Ada beberapa hal yang tidak berubah sebelum dan sesudah saya vakum dari media sosial :

  • KELUARGA. Saya tetap meminimkan bercerita tentang keluarga di media sosial. Minim sekali. Mengunggah foto keluarga, sampai sekarang, tidak pernah. Seringnya ya cerita makanan, unggah foto makanan, jalan – jalan, unggah foto sendiri *narsis. Lebih nyamannya memang seperti itu. Seperlunya saja.
  • LIBURAN. Selama liburan, sejak mulai pindah Belanda sampai sekarang, saya usahakan dengan amat sangat untuk tidak unggah apapun yang menyiratkan saya sedang berlibur, walaupun saya masih mengunggah foto atau membuat status, tapi yang umum saja. Saya simpan dulu ceritanya sampai saya kembali lagi ke rumah baru unggah atau membuat status bahwa kami baru saja pulang liburan. Alasan kenapa saya melakukan itu ada dua : satu, takut rumah dimasuki maling. Jaman sekarang kan maling canggih – canggih. Mengintainya lewat status di media sosial. Alasan kedua : takut ada apa – apa di tempat liburan. Ya takut diikuti atau apa gitu. Saya memang kebanyakan menonton acara Investigation Discovery. Jadi saya lebih waspada saja. Lebih baik mencegah kan. Untuk alasan pertama, saya tahu sendiri kejadian nyatanya. Salah satu kenalan di sini, kalau sedang tidak ada di rumah (liburan atau sedang belanja misalnya) selalu update status dia sedang di sini sedang di sana. Nah, saat liburan ke negara lain, setiap waktu dia update status. Suatu hari (dia masih belum kembali) aplikasi alarm di Hp suaminya bunyi. Polisi langsung datang ke rumah dia. Ternyata, ada beberapa orang tak dikenal yang mendobrak pintu rumahnya. Diketahui dari CCTV. Setelah ditelaah, kemungkinan mereka tahu rumah tersebut tidak ada penghuninya. Salah satu faktornya, ya mungkin tahu dari status – status yang dia update di media sosial. Ngeri kan maling jaman sekarang. Kejadian seperti inipun banyak diangkat di Investigation Discovery. Kami kalau liburan, update langsung ke Mama mertua. Jadi Beliau tahu kami sedang ada di mana. Kalau saya, biasanya pamitan ke Ibu. Itu saja sudah cukup.
  • DOKUMENTASI. Saya memang suka mendokumentasikan kejadian sehari – hari, entah itu foto atau video. Untuk kepentingan pribadi bukan Vlog. Hal tersebut masih saya lakukan tapi saat ini lebih ke dokumentasi pribadi. Banyak foto dan cerita sehari – hari yang tidak saya unggah di media sosial. Kalau ingin mengunggah, mikir dulu penting apa tidak. Dokumentasi tetap jalan, hanya sekarang lebih irit dan makin selektif dalam berbagi di media sosial
  • NO HP. Tidak mengeluarkan atau memegang Hp saat bersama keluarga atau saat bertemu teman. Hp diletakkan di tas atau tempat yang jauh dari jangkauan. Jadi benar-benar menikmati waktu bersama, waktu ngobrol, berbicara melihat mata ke mata, tidak sibuk sendiri dengan Hp. Kalaupun harus mengeluarkan Hp untuk berkirim pesan atau menerima panggilan, atau untuk memfoto makanan, setelahnya diletakkan lagi jauh dari mata. Fokus yang ada di depan.
  • TETAP LAMA MEMBALAS PESAN. Ya ini sudah bawaan orok. Saya kalau membalas pesan memang lama. Dikarenakan Saya tidak selalu memegang Hp dan seringnya dalam kondisi silent. Juga perkara prioritas. Kalaupun ada yang langsung saya balas, berarti pas saya sedang pegang Hp. Memang saya terkenal kalau membalas pesan, luamaaa haha. Kecuali pesan dari suami, pasti langsung dibalas.

FUNGSI FB, IG, DAN TWITTER YANG BERBEDA

Sejauh ini, saya cukup nyaman punya tiga akun tersebut karena memang fungsinya berbeda. Ketiganya tidak bergembok alias bisa diikuti oleh umum

  • Instagram. Seperti yang sudah saya tuliskan di awal, satu – satunya akun IG yang saya punya hanya untuk kepentingan jualan dan berbagi cerita kegiatan per-baking-an. Bahkan kegiatan memasak tidak saya cantumkan di sini. Jadi, saya tidak follow akun pribadi yang mengunggah kegiatan sehari – hari. 95% yang saya follow isinya kalau tidak roti, ya jualan seputaran roti dan kue, dan mereka yang punya hobi baking. Lumayan dapat banyak ilmu dan inspirasi.
  • FACEBOOK. Dari dulu ya masih sama fungsi FB buat saya. Melihat kabar terkini dari teman – teman lama, kenalan, maupun saudara yang ada di Indonesia maupun di Belanda. Jadi yang mutualan di FB, paling tidak sudah pernah ketemu dalam dunia nyata. Setelah vakum, sekarang jadi malas mau unggah apapun. Status dan foto pun ya jarang. Belum tentu seminggu sekali. Secukupnya saja. Kalau lagi mood pamer, baru mengunggah sesuatu. Sesekali di FB juga promosi jualan.
  • Twitter. Nah kalau twitter cakupannya lebih luas lagi. Pengikut dan yang saya ikuti kebanyakan ya orang yang tidak saya kenal dalam dunia nyata. Ya, stranger. Namun begitu, interaksinya biasa – biasa saja. Karena sayapun males cari ribut dan males terkenal, pun tidak mencari pengikut yang banyak, jadi sekarang saya santai saja di twitter. Apalagi sekarang ada topik yang seru yaitu orang – orang yang antusias dengan baking, bisa setor hasil karya dan resepnya, setiap waktu tanpa tema. Bebas. TL lebih indah dipandang karena isinya ya sliwar sliwer kalau tidak roti, taart dan segala hasil karya kece – kece lainnya dalam per-baking-an. Sampai saya sering tidak tahu keributan apa hari itu di twitter. Tertutup hawa positif mereka yang unggah karya baking-nya. Banyak belajar hal baru juga. Saya tetap tidak memakai fitur mute dan block. Pun, saya sekarang lebih berhati – hati dalam menulis apapun. Follower lebih banyak , jadi waspada harus lebih ditingkatkan. Jangan sampai mengunggah hal – hal yang terlalu privasi. Saya tidak tahu demografi diantara para follower seperti apa. Jadi, lebih baik waspada, bukan curiga. Cuitan sesekali diselipi prmosi Sophie.

Cara pandang saya terhadap media sosial setelah kembali dari vakum 7 bulan, sekarang berbeda. Lebih bijak, santai, dan berhati – hati. Lebih bisa mengontrol diri dan tidak ada keterikatan batin dengan dunia maya. Tidak tahu banyak hal, tidak jadi masalah untuk saya. Lebih baik tahu sedikit tapi sangat bermanfaat, daripada tahu banyak tapi lebih banyak mudarat (KBBI : rugi, sesuatu yang tidak menguntungkan). Saya sekarang lebih sadar dalam bermedia sosial. Menggunakan seperlunya, sesuai fungsinya.

Kalian pernah detox media sosial? Berapa lama?

-19 September 2021-

3 thoughts on “Kembali Aktif Menggunakan Media Sosial

  1. Selamat datang kembali di Twitter Den 🙂 ; aku sukaa loh baca2 tweet kamu, sering senyum2 sendiri, jangan berhenti nge-tweet ya. Klo twitter kubuka saat mau tidur, sampai mat 5 watt 😆 . Aku punya IG jarang upload, sukanya liat2 anggrek. Tiktok sekali buka bisa lupa waktu 2 jam bisa ketawa sendiri aja, aku ga mau buka klo lg ga ada waktu krn bisa bikin racun haha. FB bukan nama sebenarnya buat join grup2 berkebun/anggrek aja, dan ga nerima teman.

    1. Aku belum pernah detox dari media sosial karena selama ini memang media sorial buatku cuma buat tahu kabar terbaru dari keluarga dan teman seperlunya aja, dan alhamdulillah gak pernah sampai mikir berlebihan tentang apa yang ada di medsos

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.