Santai Saja Jawabnya

Giethoorn

Pernah tidak ada di situasi orang lain mengomentari keadaan kita tanpa tahu fakta sesungguhnya. Jadi asal nyablak gitu. Dan kita langsung panas hati pengen memaki-maki orang tersebut. Saya sih sering. Apalagi dulu waktu jiwa saya masih senggol bacok. Kalau sekarang saya lebih ke santai dan melihat situasi dulu. Tapi jangan salah, satu dua kali kalau keadaan saya lagi capek dan ada yang bikin gara-gara, ya pasti masih gampang terpancing sih. Tapi yang masih elegan, tidak langsung ngegas.

Nah, kalau saya dikomentari oleh orang lain, kadang-kadang ada saatnya saya malah pengen ngerjain balik dan santai jawabnya. Kadang nih ya, orang yang melemparkan komentar tidak menyenangkan itu, sebenarnya menggambarkan ke tidak PD an dia sendiri atau menyuarakan suasana dan keadaan dia sendiri. Makanya, saya sangat berhati-hati dalam memberikan komentar. Jangan sampai curhat colongan haha.

Ini ada beberapa cerita saya dikomentari dan saya jawabnya santai saja meskipun tetap direct ya. Saya emang dari dulu orangnya direct, jarang berbasa basi. Yang melemparkan komentar malah yang jadi bungkam.

GENDUTAN

Sejak tahun kemaren sampai saat saya menulis ini, badan saya memang membengkak. Bukan tanpa sebab, tapi saya tidak bisa sebutkan di sini alasannya. Intinya badan saya memang bertambah beratnya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Saya juga sedang tidak berusaha diet dan sampai minimal 3 tahun ke depan, tidak ada niatan untuk menurunkan BB. Ya kalau misalkan bisa turun, saya bersyukur. Tapi saya tidak ngoyo. Suatu hari saat saya sedang ke kota, papasan dengan seorang kenalan. Setelah saling melemparkan salam, terjadilah pembicaraan ini :

Kenalan : Den, badan kamu kok menggendut ya, tapi aku lihat kamu sumringah senyum terus.

Sebenarnya dua pernyataan dia ini tidak ada korelasinya. Tapi ya saya jawab saja

Saya : Ya mbok sini ikutan menggendut juga biar kamu juga selalu sumringah. Jadi mulutnya ga sempat ngatain orang gendut karena sibuk dipake buat tersenyum.

Kenalan : ………………….. *hening

 

IBU RUMAH TANGGA

Suatu waktu di sebuah acara, saya baru saja berkenalan dengan teman dari kawan yang mengundang kami di acaranya. dari awal berkenalan, saya sudah agak malas dekat-dekat dengan dia karena dari awal cerita, dia selalu ngobrol tentang harta benda yang dia punya. Kok ya ndilalah, sebelum saya beranjak pergi ambil makanan, dia bertanya latar belakang pendidikan saya apa. Duh, macam petugas sensus saja.

Dia    : Deny, aku dengar kamu kuliah sampai S2 ya? jurusannya apa?

Saya : Teknik Industri

Dia    : Sekarang bekerja?

Saya  : Kerja di rumah, jadi Ibu Rumah Tangga

Dia     : Sayang sekali kamu sudah tinggi kuliahnya jadi Ibu Rumah Tangga aja. Buat apa kalau gitu kuliah tinggi-tinggi?

Saya   : Kalau Ibu Rumah Tangga kan salah satu tugasnya masak dan cari resep. Baca resep kan butuh bisa membaca. Nah, aku kuliah sampai tinggi ya buat baca resep masakan.

Dia : ……… *tak ada komen selanjutnya

 

SUNAT

Punya suami berbeda kebangsaan pasti ada saja pertanyaan unik yang selalu saya terima. Unik ini maksudnya dari yang memang pertanyaan ingin tahu sampai pertanyaan kurang ajar. Pertanyaan yang menjurus kurang ajar dan tidak sopan salah satunya tentang sunat. Dan ini tidak hanya sekali dua kali saya terima.

Saat saya dan suami sedang mencari baju di salah satu toko, saya disapa oleh seorang wanita Indonesia tentu saja. Dia mengajak berkenalan dan menyebutkan tempat tinggalnya. Setelah berbasa basi sejenak, dia lalu menanyakan tentang sunat :

Ibu itu  : Waktu menikah di KUA atau di catatan sipil?

Saya    : Di rumah Bu

Ibu itu : Maksud saya secara Islam atau beda agama?

Saya.   : Ada apa ya Bu kok bertanya sampai detail?

Ibu itu  : Kalau secara Islam kan pasti disunat dulu ya? Suaminya sudah sunat?

Saya    : Mau nyunatin suami saya Bu?

Lalu saya beranjak pergi. Saya dengar dia menyelutuk :

Ibu itu : Wah ditanya baik-baik kok jawabnya kurang ajar

Saya lalu balik badan mendatangi Ibu itu kembali

Saya : Yang kurang ajar saya atau Ibu ya. Menanyakan tentang area privasi suami saya itu sudah sangat tidak sopan dan tidak tahu malu. Ada kepentingan apa Ibu bertanya seperti itu? *Dengan intonasi jelas dan tegas tapi tetap senyum

Ibu itu : …….. *tak berkata-kata lalu balik badan pergi.

Giethoorn
Giethoorn

 

GENDUTAN BAGIAN DUA

Percayalah, sejak badan saya bertambah beratnya. Tidak hanya satu atau dua orang yang berkomentar, tentu dari orang yang saya tidak kenal dengan baik. Kalau sudah kenal baik, pasti tahu alasannya. Lagipula, saya tidak berhutang penjelasan kepada siapapun kan. Tapi karena saya bahagia-bahagia saja dengan berat yang sekarang, maka seringnya saya jawab santai. Ada orang yang kenal saya waktu awal pindah ke Belanda Setelahnya kami lama tidak saling ketemu. Beberapa bulan lalu kami bertemu kembali. Tidak menanyakan kabar atau apapun, dia langsung komentar (sebut saja dengan rumput) :

Rumput : Wuihhh kamu makin subur aja sekarang. Bahagia banget nih di Belanda?

Saya      : Ya bahagia lah, mau mikir apa. Negara pun sudah ada yang mikir. 

Rumput : Tapi ini beneran lho kamu gede banget dari yang awal-awal datang ke sini

Saya      : Ya itu tadi, aku bahagia banget selama ini sampai mau ngomentarin tentang perubahan badan orang lain pun tak sempat. Soalnya hatiku sudah senang, jadinya ya aku masa bodoh mau orang lain badannya gendut kek, kurus kek. Kan ga ngefek dalam kehidupanku.

Rumput  : ………. *tidak berkata-kata lebih lanjut

 

TIDAK PUNYA MOBIL

Saya pernah menyebutkan beberapa kali ya di postingan dalam blog ini kalau kami sejak tahun 2015 memutuskan untuk tidak mempunyai mobil pribadi. Mobil yang kami punya dijual. Kalau kami sekeluarga membutuhkan mobil, tinggal sewa sesuai kebutuhan. Ada yang harian ada yang jam-jam an. Alasannya karena sehari-hari mobilitas kami cukup terakomodir dengan naik sepeda, jalan kaki, dan naik kendaraan umum. Rumah kami meskipun di kampung, tapi letaknya diantara Den Haag, Delft, dan Rotterdam. Semua bisa ditempuh dengan bersepeda dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Dan juga dekat sekali dengan halte tram, halte bus, bahkan stasiun besar. Beroperasinya pun sampai dini hari dan sebelum subuh sudah beroperasi kembali. Nah kalau punya mobil, sayang membayar pajaknya dan kalau tidak sering dipakai mobil gampang rusak. Ada kenalan yang tahu kalau kami tidak mempunyai mobil dan naik mobil sewaan untuk datang ke sebuah acara

Orang itu : Kamu ga minta suami untuk beli mobil? Hari gini ga punya mobil susah lho

Saya         : Kami tinggal dekat kota besar, jadi ga susah sama sekali

Orang itu : Atau suami kamu ga sanggup ya beli mobil? Ga punya uang?

Lho kok mbaknya nge gas gini nanyanya.

Saya         : Punya atau tidak punya uang pun laporannya bukan ke kamu, tapi ke kantor pajak. Kecuali kalau kamu petugas kantor pajak

Orang itu : Sayang banget kamu jauh-jauh ke Belanda kawin sama Bule yang ga punya mobil. Kasihan.

Saya        : Saya sih lebih kasihan ke orang yang sudah jauh-jauh dan sudah lama tinggal di Belanda tapi cara berpikirnya masih seperti katak dalam tempurung dan melihat segala sesuatu dari kebendaan saja. Ya, Mudah-mudahan kedepannya lebih pintar dikit kalau komentar. Atau pas sekolah, mulutnya ga ikutan sekolah, jadinya ga ikut pintar *Saya jawab santai sambil senyum.

Orang itu : ……. *buang muka

 

KOK GA DITEMENIN?

Kalau keluar rumah, saya tidak selalu dengan suami. Ada saatnya saya ingin me time. Nah sewaktu acara Tong Tong Fair (TTF) beberapa bulan lalu, saya janjian dengan beberapa teman ketemu di sana. Tentunya saya keluar tidak dengan suami. Setelah ketemu dengan beberapa teman di sana, kami lalu duduk-duduk dulu di ruangan dekat pintu masuk. Temannya seorang teman menyapa saya, sebut saja namanya ilalang.

Ilalang : Suaminya ga ikut?

Saya    : Nggak, di rumah

Ilalang : Wah tega sekali membiarkan kalian pergi berdua. Kalau suami saya musti ikut ke manapun saya pergi. Kalau dia ga mau ikut, saya seret. Pokoknya musti ikut.

Saya    : Suami saya bukan koper, jadi ga perlu diseret-seret. Dan untungnya juga jodoh suami saya bukan Mbak.

Ilalang  : …… *pura-pura ga dengar lalu mendadak ngobrol dengan sebelahnya

Sebagai gambaran, Den Haag itu kota pemerintahan di Belanda. Hampir semua kedutaan besar ada di sini termasuk KBRI. Penduduknya pun beraneka rupa kebangsaannya. Gampang bertemu dengan orang Indonesia di Den Haag? Di setiap pengkolan pasti ada.

Sebenarnya masih banyak lagi komentar-komentar ajaib yang saya dapatkan selama di Belanda. Tapi yang saya tulis 6 cerita itu dulu. Nanti kalau tidak malas akan saya tulis versi lainnya. Karena sering dapat komentar yang ajaib, otak saya pun jadi terlatih kasih jawaban “kreatif” dalam waktu yang singkat. Pelontar komentar herannya sesama orang Indonesia juga. Mbok yaaa, kalau ketemu ngomongin apa gitu yang lebih berfaedah, jangan cuma bisanya mengomentari fisik atau harta. Selama di sini, saya belum pernah lho dikomentari fisik oleh orang Belanda. Tidak semua orang Indonesia yang di Belanda begini ya, teman-teman dan kenalan saya ya banyak yang baik. Cuma yang ajaib-ajaib saja rasanya yang seperti itu dan saya diberikan kesempatan langka bertemu yang ajaib-ajaib begitu. Jangan-jangan mereka juga menganggap saya manusia ajaib.

Tetapi bertemu dengan tipe manusia yang berbeda-beda membuat saya banyak belajar. Minimal belajar mengendalikan mulut dan berpikir dulu sebelum berkomentar. Dan juga diera digital sekarang ini, membuat saya berpikir berkali-kali sebelum menuliskan sesuatu atau mengomentari suatu hal. Jadi ada remnya dan semacam berkaca juga, jangan sampai saya seperti mereka. Saya tidak pernah keberatan kalau disapa orang. Bertemu dengan orang baru pun tidak masalah buat saya. Hitung-hitung hiburan lah. Asal tidak terlalu menjengkelkan.

Kalian ada yang punya pengalaman seperti saya?

-Nootdorp, 29 Agustus 2018-

Sekilas Cerita Idul Adha 2018

Sate Padang Mak Deny :)))

Rasanya baru kali ini dalam seumur hidup yang namanya jadwal lebaran agak membingungkan buat saya sehingga nyaris terlewat. Minggu lalu, saat kami ke KBRI untuk membuat paspor, saya bertanya ke petugas minggu depan liburnya tanggal berapa. Bapak petugas bilang kalau liburnya tanggal 22 Agustus karena Idul Adha. Ok, jadi saya ingat-ingat tuh tanggal 22 Agustus Idul Adha. Karena harus ambil darah untuk diperiksa, saya buatlah janji dengan Lab deket rumah tanggal 21 Agustus jam 9 pagi. Dan saya bilang suami kalau tanggal 22 saya akan sholat Ied di Al Hikmah, setelahnya mau membuat sate ayam dan sate padang. Sudah ok jadwalnya. Satu lagi alasan kenapa saya tidak terlalu ingat jadwal Idul Adha di Indonesia, karena sudah sejak lama (lebih dari 10 tahun) saya memutuskan untuk tidak pernah lagi ikut berkurban, saya lebih memilih dengan cara yang lain yang sesuai dan lebih nyaman menurut saya. Karena buat saya pribadi (setelah melalui proses pembelajaran yang panjang), makna berkurban tidak hanya pada hari H Idul Adha dan bisa dilakukan dengan cara yang lain.

Nah, tanggal 20 Agustus malam sekitar jam 8 saat saya sudah leyeh-leyeh, seperti biasa saya menuju republik twitter untuk membaca informasi apa saja hari itu. Lalu saya melihat akun KBRI yang menginformasikan kalau sholat Iednya tanggal 21 Agustus 2018 jam 9 pagi. Lho saya jadi bingung. Bertanyalah saya ke grup sahabat-sahabat sebenarnya kapan lebaran. Tanggal 21 atau 22? Saya bertanya ke grup Belanda juga. Ternyata, lebaran di Eropa (beberapa negara saja yang saya tahu seperti Norwegia, Belanda) jatuh pada tanggal 21, sedangkan di Indonesia pada tanggal 22. Jadi KBRI di Belanda liburnya menyamakan dengan libur Indonesia. Tapi saya tetap heran sih, kok beda ya. Biasanya antara KBRI di Belanda dan Indonesia lebarannya selalu sama. Mungkin ada yang tahu kenapanya.

Karena baru tahu dadakan tentang jadwal lebaran di Belanda, ya pada akhirnya saya tidak bisa ikut sholat Ied di Masjid karena sudah ada janji untuk ambil darah di Lab dan tidak bisa dibatalkan. Pada akhirnya sholat sendiri di rumah.

Idul Adha kali ini saya ingin sekali makan sate padang, tapi tidak beli melainkan mencoba membuat sendiri. Niat banget ya, namanya juga kepengen dan sedang niat untuk belajar bagaimana sih proses memasak sate padang. Saya memakai resep dari Just Try and Taste. Agak keder juga sebenarnya karena bumbunya yang supeeeerrr banyak. Meskipun tidak semua saya punya, tapi minimal yang rempah-rempah penting menurut saya, ada di dapur semua. Jadi tidak perlu bersusah payah mencari. Seadanya saja. Baru kali ini saya mencoba masakan baru tapi harus berkali-kali melihat resepnya karena takut ada yang terlewat saking banyaknya bumbu. Biasanya setelah membaca, saya ingat-ingat saja. Perkecualian untuk sate padang.

Sebenarnya proses memasak tidaklah ruwet dan tidak terlalu lama juga. Cuma karena bumbunya banyak, jadi saya mabok duluan. Singkat cerita, setelah keruwetan di dapur (sampai suami saya komen : ini dapur kok seperti habis perang, segala macam ada di atas meja ), jadi juga sate padang karya pertama saya. Karena sudah lama sekali saya tidak makan sate padang dengan rasa yang benar-benar enak, jadi sambil masak, saya mengingat seperti apa rasanya sate padang itu. Ya menurut saya ini rasanya oke, pedas dan rempahnya dapat dan kekentalan bumbunya juga pas. Untuk pemula, tidak terlalu kecewalah saya. Suami juga bilang rasanya enak sekali. Itu saja lebih dari cukup, jadi satenya ada yang makan, tidak sia-sia bertarung di dapur. Malah saya yang akhirnya tidak bisa makan sate padang tersebut karena sudah mabok dengan aroma rempah dan karinya. Jika boleh memilih, lebih baik saya beli saja yang sudah jadi sate padang ini. Ternyata saya tidak cukup kuat dengan aroma yang tajam kari dan rempahnya. Kata sahabat saya “Ya tidak rugilah bayar mahal sate Mak Syukur”

Sate Padang Mak Deny :)))
Sate Padang Mak Deny :)))

Beruntung saya membuat sate ayam juga. Kalau sate ayam sih gancil ya bikinnya. Tinggal masuk ke oven dan bumbunya pun tinggal merem lah. Sate ayam jadi penyelamat, jadinya saya bisa makan. Sate ayam ini menu sekeluarga jadi semuanya bisa makan.

Sate Ayam panggang oven andalan
Sate Ayam panggang oven andalan

Begitulah sekelumit cerita Idul Adha kami. Selamat Idul Adha buat yang merayakan.

Sate Ayam dan Sate Padang
Sate Ayam dan Sate Padang

-Nootdorp, 22 Agustus 2018-

Cerita Seputar Lebaran 2018

Selamat Lebaran 2018

CERITA LEBARAN

Tahun ini adalah lebaran keempat saya di tanah rantau, bersama keluarga kecil kami. Setiap mendekati lebaran, selalu ada rasa sedih karena jauh dari keluarga di Indonesia. Rindu suara takbir berkumandang di seluruh penjuru desa, rindu sholat Ied di tanah lapang dekat Masjid, rindu berkunjung ke sanak saudara dan tetangga, rindu pada almarhum Bapak, rindu pada keluarga, dan yang tidak kalah penting adalah rindu memakan masakan khas keluarga di desa. Apapun itu, yang berhubungan dengan lebaran di kampung halaman, membuat saya rindu. Hanya satu yang tidak saya rindukan adalah : pertanyaan “kapan.” Apapun jenis pertanyaannya, kalau sudah didahului dengan “kapan”, sudah sejak lama akan saya jawab dengan sangat tegas. 

Lebaran tahun ini bertepatan dengan hari yang istimewa di keluarga kami. Sejak jauh hari sudah saya niatkan untuk masak yang istimewa, beda dengan hari-hari biasanya. Selain untuk menghadirkan suasana lebaran di rumah kami, juga untuk merayakan hari istimewa tersebut. Meskipun ini bukan masakan khas lebaran keluarga saya di Indonesia, tapi tetap minimal berbau lebaran. Terciptalah sate ayam, lontong, acar, rendang, lodeh manisah tahu tempe kacang panjang, telor bumbu petis, dan sambel goreng kentang pete. Semua saya masak sendiri dan dibantu suami yang mencuci peralatan masak, menyapu dan mengepel rumah. Semua kami kerjakan berdua. Supaya rumah bersih seperti akan menerima tamu selayaknya lebaran. Walaupun pada kenyataannya tahun ini tidak ada acara apapun di rumah. Tidak seperti lebaran tahun kemarin, rumah kami dikunjungi banyak kenalan dan teman

Sate manggang di oven. Prakyis, bisa disambi memasak lainnya
Sate manggang di oven. Praktis, bisa disambi memasak lainnya
Telor bumbu petis. Baru pertama kali ini bikin, tapi rasanya sama dengan yang biasa Ibu buat. Lumayan buat pemula *narsis masakan sendiri :))
Telor bumbu petis. Baru pertama kali ini bikin, tapi rasanya sama dengan yang biasa Ibu buat. Lumayan buat pemula *narsis masakan sendiri :))
Formasi lengkap menu lebaran
Formasi lengkap menu lebaran
Formasi lengkap menu lebaran
Formasi lengkap menu lebaran
Setelah saling bersilaturrahmi di piring
Setelah saling bersilaturrahmi di piring

Untuk berbagi kebahagiaan lebaran, kami hantarkan paket sate ayam (plus lontong, saus kacang, dan acar) ke para tetangga, Mama mertua (plus rendang) dan keluarga adik-adik suami (ipar-ipar saya). Mereka senang karena katanya rasanya enak dan kami gembira karena berbagi kesenangan dihari yang fitri dengan orang-orang di sini. Suamipun bisa makan sampai nambah berkali-kali. Lengkap sudah. Terbayar ruwetnya di dapur.

Tahun ini saya tidak bisa sholat Ied di Masjid Al Hikmah seperti tahun kemarin. Jika sesuai rencana, suami akan mengantarkan saya ke Masjid hari Jumat pagi karena sholat akan dimulai pukul 9 pagi. Tapi Jumat pagi rencana tidak bisa terlaksana karena kondisi yang tidak memungkinkan. Akhirnya saya sholat di rumah saja.

Meskipun tidak ada kerabat dan teman yang berkunjung ke rumah, dan tidak ada kue khas lebaran, tapi tidak mengurangi kebahagiaan dan syukur kami karena masih diberikan kesempatan merasakan lebaran tahun ini, sekeluarga, dalam keadaan yang sehat dan bahagia. Terima kasih juga untuk teman-teman yang mengucapkan selamat lebaran maupun mengirimkan kartu lebaran pada kami. Perhatian yang sangat berarti.

HALAL BIHALAL

Seminggu setelah lebaran, kami berkunjung ke rumah teman dekat saya yang berada di Provinsi Limburg, hampir dua jam berkendara dari rumah. Kunjungan kali ini dalam rangka kumpul teman, anggap saja halal bihalal. Kami sampai jam setengah tiga sore. Sebenarnya acara dimulai pukul 2 siang sampai 8 malam. Tetapi undangan yang sudah konfirmasi dua bulan sebelumnya bisa datang jam berapapun asal diantara waktu yang ditentukan. Ketika kami sampai, makanan sudah siap dan pemilik rumah sedang membakar sate lilit dan sate ayam. Ini juga bisa disebut pesta kebun karena tempatnya di kebun belakang rumah. Wah, acara tersebut benar-benar berlimpah makanan. Saking banyaknya makanan, sampai tidak bisa saya makan semua. Melebihi acara hajatan variasi makanannya. Lumbung yang ada dalam perut sudah terisi semua. Naga-naga yang ada dalam perut saya pesta pora. Meskipun acara ini bukan potluck karena makanan disediakan semua oleh pemilik rumah, tetapi saya terbiasa membawa makanan. Apapun yang kira-kira saya mood memasaknya. Kali ini saya membawa lumpia isi rebung, wortel, dan tahu. Ini lumpia andalan saya. Gampang membuatnya. Undangan yang datang lainnya juga rata-rata membawa makanan. Makin berlimpah ruahlah makanan yang ada di sana.

Lumpia yang saya bawa
Lumpia yang saya bawa
Glekk banget kan ini. Sate lilit, ayam betutu, lontong, telur balado, sambel matah. Foto pinjam dari tuan rumah
Glekk banget kan ini. Sate lilit, ayam betutu, lontong, telur balado, sambel matah. Foto pinjam dari tuan rumah
Foto pinjam dari tuan rumah
Foto pinjam dari tuan rumah

Sate lilit

Tidak semua makanan saya foto saking banyaknya. Saya fokus makan. Diantara semua makanan yang ada, favorit saya dua di bawah ini. Soto Madura dan Bakso. Soto Maduranya super lekker! Teman saya si pemilik hajat yang masak Soto Madura ini. Isinya segala macam jerohan komplit. Gajih pun bertebaran memenuhi panci. Baksonya wenaakk, pentolnya krenyes-krenyes. Mengingatkan akan bakso kristus raja di Surabaya (siapa pernah makan di sini?)

Soto Madura isi daging dan jeroan
Soto Madura isi daging dan jeroan
Bakso Super lekker!
Bakso Super lekker!

Ada pecel dan urapan juga. Perut saya sudah tak mampu menampung semuanya. Seperti biasa, sebelum pulang, bungkus membungkus pun jadi semacam tradisi kalau ada acara semacam ini. Dan tuan rumahpun sudah menyiapkan makanan ekstra untuk bisa dibungkus. Karena bungkusan inilah, saya tidak usah masak selama dua hari. Saking banyaknya makanan yang bisa dibawa pulang. Saya juga bisa sarapan seperti di Indonesia. Sarapan gorengan haha! Itupun ketika kami pulang sekitar jam setengah tujuh malam, ada undangan datang bawa bebek oven segede gaban. Makanan datang seperti air bah, tidak berhenti.

Sarapan saya, yang bagian gorengannya saja haha. Kapan lagi bisa sarapan seperti di Indonesia. Sarapan gorengan
Sarapan saya, yang bagian gorengannya saja haha. Kapan lagi bisa sarapan seperti di Indonesia. Sarapan gorengan

Kami pulang dengan perasaan yang riang gembira. Bukan hanya karena makanan yang berlimpah ruah, tetapi juga bisa bertemu beberapa teman dekat dan berkenalan dengan orang-orang yang baru. Saking terlalu fokus dengan makanan, sampai tidak sempat menggosip. Biasanya kalau ada acara kumpul-kumpul di Belanda ini, kental dengan dunia pergosipan. Mulut sibuk ngunyah, makanya ga sempat dipakai buat nggosip.

Oh ada satu cerita. Jadi diantara tamu undangan, ada satu orang yang saya kenal karena sudah beberapa kali bertemu sebelumnya. Sebut saja Mbak. Mbak orangnya baik. Terakhir ketemu Januari tahun lalu. Nah Mbak datangnya satu jam setelah saya. Waktu Mbak datang, posisi saya berdiri membelakangi dia dan sedang mengunyah sate lilit. Waktu dia mendekat, saya dengar suaranya. Lalu saya balik badan. Mbak lihat saya lalu, “Deny, kamu hamil yaa. Wah Selamat!!,” dengan raut muka sumringah. Karena mulut saya masih penuh, saya telan dulu makanan yang dalam mulut sambil mbatin, “untung mulut lagi ngunyah, kalau ga, tak kunyah pisan lho Mbak.” Kemudian saya jawab, “Nggak Mbak, aku lagi ga hamil sekarang. Memang badan lagi melebar ke mana-mana. Perut juga show off kayak gini. Jadi kayak orang hamil ya.” Mbak lalu jawab, “Oh maaf ya Deny sudah membuat kamu ga nyaman dengan omonganku.” Selalu ada cerita disetiap acara.

Sebelum tulisan ini diakhiri, saya mau pamer rawon. Lama tidak masak rawon, sekalinya masak yang prosesnya agak perjuangan juga (musti ngerendem kacang hijau dulu supaya numbuh jadi kecambah pendek, bikin telor asin), begitu makan duh rasanya terharu sendiri. Suami sampai nambah tiga kali *mas, doyan opo kelaparan :)))

Rawon komplit
Rawon komplit
Blendrang Soto Madura yang tinggal kenangan
Blendrang Soto Madura yang tinggal kenangan

Inilah cerita lebaran dari tanah rantau. Semoga suatu hari entah kapan, kami bisa merasakan lebaran bersama keluarga di Indonesia. Menabung keyakinan semoga suatu saat jadi nyata.
Mohon maaf lahir batin, semoga kita dipertemukan dengan Ramadan dan Lebaran tahun-tahun selanjutnya dengan amalan dan ibadah yang lebih baik.

-Nootdorp, 25 Juni 2018-

Malas Mandi

Marken

Oke, mungkin ini adalah postingan paling tidak bermutu diantara postingan lainnya di blog ini. Tapi tak apalah. Daripada sebelum tidur digunakan buat melamun, lebih baik buat menulis saja. Kan lebih berfaedah, meskipun membuka aib sendiri haha.

Sesungguhnya saya tidak pernah menganggap kebiasaan malas mandi ini sebuah aib. Ya menurut saya biasa saja karena memang sejak kecil saya adalah anak yang paling susah disuruh mandi diantara anggota keluarga yang lain. Tinggal dan besar di kota pesisir, pastinya badan jadi cepat berkeringat ya. Ongkep nya itu lho ga nahan. Bergerak sedikit saja, badan basah keringat. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat saya untuk tetap malas mandi hahaha. Saya ingat sekali, kalau sudah waktunya mandi, handuk pasti saya kalungkan di leher. Lalu saya tidak langsung masuk ke kamar mandi. Ada saja yang saya lakukan, entah itu makan, ke rumah tetangga, nyapu atau sekedar leyeh-leyeh depan TV dengan tetap berkalungkan handuk. Lalu malampun tiba, ya akhirnya saya tidak mandi seharian hahaha. Eh, buat saya ini lucu sih kalau diingat. Handuk dikalungkan di leher seharian akhirnya dikembalikan lagi ke jemuran handuk.

Bapak dan Ibu adalah dua orang dalam keluarga yang hobinya mandi. Satu hari bisa lebih dari dua kali mandi. Bahkan Ibu saya selama di Belanda, tiap hari mandi. Padahal waktu Beliau di sini sedang musim dingin. Lalu suatu hari Ibu saya menyelutuk, ” Kok Ibuk tidak pernah melihat kamu mandi ya,” lalu saya jawab, “ya mosok musti aku jelaskan Buk.” Maksudnya ga usah dijelaskan kalau kebiasaan malas mandi sejak kecil masih bersemayam sampai saat ini haha.

Saya pernah tinggal di Surabaya selama 13 tahun dan nyaris 7 tahun di Jakarta. Dua kota ini kan panasnya tidak ketulungan. Ampun DJ, apalagi Surabaya. Oh ya, selama ngekos saya tidak pernah tinggal di tempat kos yang ber AC. Di rumah orangtua pun kami tidak punya AC. Jadi kalau sedang panas-panasnya, saya hanya mengandalkan kipas angin. Bahkan saya sering tidur kampus, demi bisa ngadem di ruangan ber AC. Dengan situasi yang seperti itu saja, ya saya tetap malas mandi. Entahlah, jiwa malas mandi ini terlalu kuat terpatri dalam tubuh. Dulu seringnya kalau pulang kerja, entah karena memang terlalu capek atau memang malas mandi, saya langsung tidur. Atau kalau malamnya mandi, berangkat kerja saya tidak mandi hahaha *ya Tuhan, bongkar rahasia :))). Intinya kalau sehari saya mandi dua kali berasa seperti rugi sekali.

Apakah suami tidak protes karena saya jarang mandi? oh tenang saja, dia tidak pernah ngeh kalau saya tidak mandi haha. Malah saya sering bertanya ke dia kapan saya terakhir mandi, saking saya lupa. Kenapa bisa lupa? karena meskipun saya tidak mandi dengan mengguyur seluruh badan dengan air, saya tetap membersihkan bagian-bagian badan yang wajib dibersihkan. Hal tersebut karena berhubungan dengan Ibadah. Ya ga usah disebutlah ya bagiannya. Nah karena tetap dibersihkan itulah, jadi saya selalu merasa badan saya bersih. Jadi berasanya sudah mandi. Makanya saya sering lupa kapan terakhir mandi dengan mengucurkan air ke seluruh tubuh. Kecuali musim panas ya, saya lebih rajin mandi. Panas di Belanda berbeda dengan panas di Surabaya atau Jakarta atau rumah orangtua yang di pesisir. Beda sekali. Meskipun “cuma” 30 derajat celcius, Ongkepnya lebih parah dan panasnya lebih menyengat. Itu kenapa saya jadi lebih rajin mandi. Bukan tiap hari mandi ya, tapi lebih rajin mandi dibandingkan yang biasanya.

Siapa bilang bule malas mandi. Suami saya mandinya lebih rajin dibandingkan saya. Musim dinginpun dia rajin mandi, apalagi musim panas. Ya tapi itulah yang namanya jodoh ya, saling melengkapi *pembenaran hahaha. Suami bilang saya tidak masalah jarang mandi, berarti membantu bumi berlangsung lebih lama. Membantu lingkungan supaya tidak banyak air yang terbuang *terhibur haha.

Kalau kamu, rajin mandi atau malas mandi? Pernah berapa lama dan paling lama tidak mandi?

—-Kalau nanti ketemu saya, tidak usah mbatin ya saya mandi atau tidak. Tanya saja langsung daripada menebak-nebak.

-Nootdorp, 4 Juni 2018-

2017 dan 2018

Cover

Setelah hiatus beberapa bulan, mudah-mudahan blog ini kedepannya akan kembali menyemarakkan dunia perbloggan dan menelurkan tulisan-tulisan yang berfaedah *gimana berfaedah, judulnya aja ga kreatip plus pembukaan tulisan diawali dengan kata “menelurkan” *Hah, ya sudahlah. Mau nulis begini saja harus nyicil beberapa hari, mencari inspirasi. Saya rasa kali ini lebih sulit menulis blog dibandingkan menulis tesis. Ya bagaimana tidak, satu kata lalu hapus, ganti lagi hapus lagi. Macam mau kirim sms ke gebetan pada jaman dulu *lalu tsurhat.

Jadi siapa yang kangen dengan saya blog kami? Jangan malu-malu silahkan komen kalo kangen *lalu banyak yang melipir pergi :))) Saya menerima beberapa email dan pesan langsung, menanyakan keberadaan saya kok lama tidak muncul menulis di blog. Ada yang saya jawab apa adanya dan ada juga yang saya jawab seadanya. Tergantung seberapa dekat saya mengenal yang bertanya. Terima kasih ya yang sudah menanyakan kabar saya dan keberadaan blog kami. Pada tulisan perdana di 2018 ini, saya mau menulis secara singkat dan mudah-mudahan padat apa saja yang sudah kami lewati di 2017 dan apa harapan kami di 2018

2017

KEHIDUPAN

  • Senang sekali tahun 2017 Ibu dan Adik saya bisa berkunjung ke Belanda meskipun tidak dalam waktu yang bersamaan. Mungkin karena saya lama tidak pulang (sudah tiga tahun), jadi mereka ingin memastikan bahwa saya baik-baik saja di negara ini (ini asumsi saya saja sih :D). Selama Adik saya di sini, bisa mengajaknya jalan-jalan ke beberapa tempat wisata di Belanda, ke Belgia dan juga Paris. Tetapi ketika Ibu di sini, karena musim dingin yang memang dinginnya ekstrim untuk ukuran Ibu saya, akhirnya kami tidak kemana-mana. Hanya di rumah saja dan jalan-jalan seputaran Den Haag.
  • Tidak berapa lama setelah Ibu sampai Belanda, salju datang. Senanglah Ibu melihat salju pertama kali. Rejeki buat Ibu karena tidak disangka salju kali ini turun dengan lebat selama dua hari. Saking senangnya Ibu, di hari pertama salju Beliau malah jalan-jalan disekitar rumah untuk memantau keadaan katanya haha. Selama di Belanda, tempat yang paling sering Ibu kunjungi sendirian (naik tram sendiri tanpa saya temani) adalah Pasar. Kata Ibu, kalau ke Pasar selalu membuat Ibu senang.
  • Setelah sekitar 10 tahunan saya tidak mengkonsumsi Unggas dan Daging, akhirnya tahun 2017 saya memutuskan kembali untuk mengkonsumsinya karena tubuh saya membutuhkan asupan zat besi lebih dari biasanya. Setelah kembali mengkonsumsi, perlahan kembali naik dan mencukupi sesuai yang dibutuhkan tubuh saya.
  • Awal tahun 2017, ada satu tulisan saya dimuat di buletin Maiyah. Ini karena salah satu editornya menghubungi saya untuk menuliskan pengalaman menghadiri acara Cak Nun di Amsterdam dan testimoni selama mengikuti Maiyahan di Surabaya dan Jakarta.
Buletin Maiyah
Buletin Maiyah
  • Lumayan produktif mengirimkan video-video ke Net CJ yang artinya juga semakin menambah tabungan saya. Rasanya senang karena video ditayangkan di TV, sesekali saya juga bisa numpang nampang, dibayar pula. Tabungannya kan bisa menambah biaya selama liburan ke Indonesia.
  • Banyak berkah dan rejeki yang kami dapatkan di tahun 2017. Semoga kami tidak terlena dan tidak lupa untuk selalu bersyukur atas segala amanah ini.

JALAN-JALAN

Banyak syukur karena tahun 2017 membawa kami ke beberapa negara baru, terutama saya ya karena memang untuk pertama kalinya mengunjungi negara-negara tersebut seperti Belgia, Austria, Ceko. Tidak hanya negara saja, beberapa kota baru juga sempat kami datangi. Beberapa cerita sudah saya tuliskan, tetapi banyak juga yang belum sempat terdokumentasikan secara tulisan di blog ini. Mudah-mudahan punya mood baik untuk berbagi cerita.

BUKU YANG DIBACA

Saya gembira sekali 2017 menjadi tahun yang produktif dalam hal membaca, setidaknya dibandingkan tahun 2016. Sejak bertekad untuk mengurangi intensitas memandangi layar Hp, saya jadi banyak waktu untuk membaca. Mengikuti Reading Challenge yang diadakan Goodreads setiap tahunnya, dimana setiap tahun saya selalu membuat target 50 buku -dan selalu tidak tembus-. Tahun 2017 saya berhasil menyelesaikan membaca 25 buku. Walaupun secara kuantitas hanya 25 buku, tetapi secara halaman, buku-buku yang saya baca lumayan tebal dan membutuhkan waktu untuk mencernanya. Jadi buat saya, bukan bacaan yang terlalu ringan karena tidak bisa terburu-buru dan harus mengerti dulu sebelum masuk ke halaman selanjutnya. Mudah-mudahan nanti saya bisa menuliskan secara terpisah buku apa saja yang sudah saya baca selama tahun 2017 karena ada beberapa buku yang memang bagus sekali.

LAIN-LAIN

Itu sih yang saya ingat karena selebihnya sudah pernah saya tuliskan di blog ini selama 2017. Nanti kalau tiba-tiba ada yang teringat akan saya update lagi.

 

2018

Ada beberapa rencana yang ingin saya (dan kami) lakukan di tahun 2018. Semoga terealisasikan. Ini yang saya tulis yang bisa saya bagi saja ya karena selebihnya kami simpan sendiri.

  • Saya kembali memasang target 50 buku yang akan saya baca tahun ini, setidaknya itu yang saya ikuti untuk Reading Challenge di Goodread (ayo siapa yang punya akun Goodreads, bisa ikutan challenge ini, lumayan bikin termotivasi). Setidaknya itu yang saya inginkan. Setelah tahun kemaren kepala dibuat berasap dengan topik-topik buku yang saya pilih, tahun ini saya mau santai-santai saja memilih bahan bacaan yang ringan. Ketika Ibu akan ke Belanda, titipan terbanyak saya adalah buku. Ada 17kg sendiri untuk berat buku-buku yang dibawa. Saya sangat senang sekali karena akan banyak membaca buku berbahasa Indonesia dan kebanyakan adalah novel serta cerita-cerita ringan. Tidak lagi didominasi oleh topik yang membuat kepala berasap.
  • Tahun ini kami sekeluarga berencana mengunjungi beberapa negara baru. Dan tahun 2018 menjadi tahun yang menantang buat kami dalam hal jalan-jalan. Bukan menantang karena negara yang akan dikunjungi, tetapi lebih menantang dalam hal pelaksanaannya. Semoga lancar dan bisa berbagi cerita di blog.
  • Akhir tahun kami berencana untuk liburan ke Indonesia. Akhirnya ya, setelah dua tahun berturut ada rencana ke Indonesia selalu tertunda karena beberapa hal. Mudah-mudahan 2018 liburan ke Indonesia benar-benar terlaksana karena setelah nanti hampir 4 tahun saya tidak pulang, kami akan tinggal minimal 2 bulan di sana (rencananya sih 3 bulan). Jadi banyak kesempatan jalan-jalan juga mengunjungi beberapa kota di luar pulau Jawa. Tapi Suami tidak bisa berlama-lama liburan, jadi kembali terlebih dulu ke Belanda.
  • Tahun ini saya ingin kembali bisa mengikuti lomba lari. Setidaknya bisa kembali ke 10km. Setelah setahun lebih cuti dari dunia lari dan beralih ke Yoga (selain jalan kaki dan bersepeda), saya kangen juga ikutan lomba-lomba gitu. Bukan buat gaya-gayaan, tapi untuk memotivasi diri sendiri supaya lebih rajin berlatih. Semoga!
  • Lebih rajin menulis di blog.
  • Lebih banyak bersyukur atas segala apa yang sudah kami punya saat ini
  • Meluangkan waktu untuk menyapa kenalan atau teman atau keluarga yang sudah lama tidak saling berkirim kabar.
  • Ujian ONA tahun ini harus lulus (iya, saya belum ujian ONA), sebelum kena denda DUO dan didepak dari Belanda (semoga malasnya bisa diusir jauh-jauh dari badan saya). Januari saya tepat tiga tahun di Belanda, seharusnya sudah lulus semua ujian. Tapi saya masih nyangkut di ONA, belum ujian malahan.
  • Bisa nambah kopi darat dengan blogger-blogger yang saya kenal setelah bulan Januari bisa bertemu Maureen di rumah kami. Akhirnya ya Bu Dosen, setelah beberapa kali janjian yang tak bisa terealisasikan, kita dipertemukan oleh undangan dadakan :))) Selain itu, awal tahun ini saya juga diberikan berkah bisa kenal lebih dekat dengan Astrid meskipun kami belum pernah bertemu langsung, masih sebatas percakapan lewat WhatsApp beberapa minggu lalu tetapi sudah sangat intens. Saya selalu mengatakan ke Astrid bahwa dia adalah perpanjangan tangan Tuhan untuk menolong saya pada saat yang sudah genting. Saya selalu percaya bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Semua ini sudah diatur oleh Yang Kuasa. Terima kasih Astrid.
  • Semoga ada waktu untuk bertemu dengan sahabat-sahabat saya yang sudah selama hampir 20 tahun kami bersahabat. Karena mereka inilah yang membuat saya selalu waras -melewati beberapa kali masa-masa sangat sulit dalam hidup,termasuk baru-baru ini- dengan guyonan receh ala kami dan nasihat tapi tidak menggurui.
  • Karena ditahun 2017 entah kenapa saya mendadak jadi tidak suka sayur padahal sebelumnya saya adalah orang yang tidak bisa makan tanpa sayur, maka target di tahun 2018 ini saya ingin kembali bisa mengkonsumsi sayuran (terlebih yang mentah).
  • Rencananya ingin daftar kuliah. Tapi kok ya semakin kesini rasanya makin males. Mudah-mudahan apapun itu apakah kuliah ataupun kursus, yang penting tahun ini saya ingin belajar hal baru.

 

Setidaknya itu yang bisa saya tuliskan kali ini. Semoga kami sekeluarga selalu diberikan kesehatan yang baik dan umur yang berkah sehingga bisa melalui setiap waktu di 2018 ini dengan bahagia dan berbagi kebahagiaan, kegiatan yang bermanfaat dan tidak lupa banyak bersyukur. Dan untuk mereka yang sedang berjuang (berikhtiar) dalam hal kesehatan, karir, keluarga atau apapun itu, saya haturkan doa semoga perjuangannya diberikan kemudahan untuk mencapainya dan kelancaran pada saat prosesnya.

-Nootdorp, 1 Februari 2018-

Ketika Memutuskan Untuk Mengundurkan Diri

Akhir minggu lalu resmi sudah sebagai hari terakhir saya bekerja. Jadi sudah seminggu ini saya leyeh-leyeh di rumah (yang sepenuhnya tidak leyeh-leyeh karena tetep umyek mengerjakan ini dan itu). Walaupun status pekerjaan tidak penuh waktu, tetapi tetap saja saat mengambil keputusan berhenti saya butuh waktu dua bulan untuk memikirkannya. Saya membuat daftar baik dan buruk saat berhenti bekerja atau tetap melanjutkan bekerja. Keputusan yang sudah saya ambil dengan bulat dan utarakan kepada atasan sebulan sebelumnya sempat goyah karena mereka menawarkan opsi lain. Tetapi pada akhirnya tekad saya sudah bulat untuk berhenti dan melanjutkan fase hidup saya dengan petualangan yang tidak kalah seru lainnya.

Hampir dua tahun saya bekerja di tempat tersebut, belajar hal yang benar-benar baru dari nol. Saya ingat sewaktu tes wawancara yang full dalam bahasa Belanda dan tentu saja bahasa Belanda saya pada saat itu masih sangat acakadut, tetapi saya cuek dan berusaha menjawab pertanyaan mereka semampu saya dan semaksimal mungkin. Rupanya hal tersebut menjadi nilai lebih di mata mereka karena menurut pengakuan, mereka kagum dengan kegigihan saya mencari kerja padahal belum ada setahun tinggal di Belanda dan masih dalam taraf belajar bahasa Belanda. Juga karena pekerjaan yang saya cari adalah pekerjaan yang bahasa pengantarnya Belanda. Padahal waktu itu saya sedang mempersiapkan ujian bahasa Belanda dan saya memang mencari wadah untuk mempraktekkan bahasa Belanda karena saya merasa kalau mengandalkan hanya praktek dengan suami maka tidak cukup. Selain itu karena sekolah bahasa Belanda sudah selesai, maka saya ingin ada kegiatan lain. Karenanya saya mulai mencari kerja kesana kemari. Dari yang sesuai dengan latar belakang pendidikan sampai yang tidak ada hubungannya sama sekali. Sempat putus asa karena dari sekian banyak surat lamaran yang dikirim, hampir 95% berisi penolakan. Sempat dua kali diterima bekerja dan sebenarnya sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja, tetapi karena ada suatu hal, saya yang menolak (sok ya, tapi memang tidak bisa saya terima).

Ternyata, akhirnya saya berjodoh bekerja paruh waktu di tempat yang selama hampir dua tahun terakhir membuat saya belajar banyak sekali hal baru. Pekerjaan yang justru tidak ada sangkut pautnya dengan latar belakang pendidikan bahkan pengalaman kerja. Pekerjaan yang memberikan saya kesempatan untuk belajar banyak hal. Tidak hanya tentang pekerjaan itu sendiri tetapi juga tentang kehidupan dan cara pandang tentang hidup. Bekerja di tempat ini benar-benar merubah saya, jiwa saya dan tentang cara saya memaknai hidup. Karena sudah sangat dekat dengan kolega dan orang-orang yang ada di dalamnya, tidak mengherankan pada hari terakhir saya bekerja dan saat mereka mengadakan perpisahan kecil-kecilan, saya tidak bisa untuk tidak menangis. Padahal saat berangkat, saya sudah yakin tidak akan menangis. Namun saya salah. Saat mereka memberikan bingkisan, bunga, kartu ucapan, dan satu persatu merangkul saya, air mata tidak bisa terbendung tumpah berderai. Mereka semua yang ada di sana adalah guru saya untuk memperlancar bahasa Belanda. Mereka begitu telaten selalu memberikan koreksi jika ada susunan kata yang salah atau kosakata yang saya tidak mengerti. Tidak hanya itu, mereka juga membantu saya menerangkan tentang ini dan itu. Selain itu, selama di sana saya juga banyak diikutkan beberapa pelatihan, tentu saja gratis. Banyak sekali ilmu yang saya dapatkan selama hampir dua tahun ini. Yang membuat hati saya tersentuh adalah saat beberapa hari lalu ada buket bunga yang mereka kirimkan ke rumah untuk saya. Orang Belanda ini memang suka sekali dengan bunga.

Buket bunga yang dikirim ke rumah
Buket bunga yang dikirim ke rumah

Tentang keputusan mengundurkan diri dari tempat bekerja, mengingatkan saya akan beberapa tahun lalu ketika saya dengan sangat berat hati harus mengajukan surat pengunduran diri dari tempat saya bekerja selama hampir 7 tahun di Jakarta. Kalau saya hitung-hitung, sejak lulus kuliah (karena sewaktu kuliah saya juga sempat bekerja jadi kuliah dan kerja), selama total 10 tahun bekerja hanya pindah 3 kali tempat kerja (ini termasuk yang di Belanda). Dan diantara 3 tempat tersebut, yang paling lama ya yang di Jakarta. Saya tidak akan pernah lupa hari sewaktu saya diwawancara oleh Direktur departemen yang saya kirimkan surat lamaran pekerjaan. Beliau ini orang Filipina, tidak terlalu bisa bahasa Indonesia karena memang sehari-harinya komunikasi dengan bahasa Inggris. Nah, saya pada saat itu sangatlah tidak lancar berbahasa Inggris. Intinya modal nekad ketika melamar ke perusahaan ini padahal salah satu persyaratannya adalah lancar berbahasa Inggris. Walhasil ketika diwawancara, bahasa Inggris saya yang acakadut membuat Beliau lumayan pusing memahami jawaban-jawaban saya haha. Akhirnya Beliau menelepon bagian HRD dan meminta satu orang untuk mendampingi dan menterjemahkan apa maksud dari jawaban-jawaban saya. Menurut saya ini epic sekali. Jadi sesi wawancara tersebut ada penerjemahnya. Saya selalu tertawa sendiri kalau mengingat hal tersebut. Ketika waktu wawancara selesai, saya sudah 100% yakin tidak akan diterima karena tidak lancar sama sekali berbahasa Inggris. Lha bagaimana, nantinya saya akan bekerja langsung di bawah Beliau. Lha kalau tidak bisa bahasa Inggris trus berkomunikasinya bagaimana. Lagipula, sebelum saya kandidatnya ada 2 yang lancar sekali berbahasa Inggris dan dari Universitas negeri terkenal lainnya ditambah lulus cumlaude pula. Jadi saat meninggalkan kantor tersebut, saya benar-benar tidak berharap sekali.

Dua hari kemudian, saya menerima telepon dari HRD kantor tersebut yang meminta saya datang ke kantor itu lagi untuk melakukan wawancara lanjutan. Lho, saya kaget donk. Lho kok bisa. Singkat cerita, setelah beberapa kali tes ini dan itu sampai tes kesehatan, saya dinyatakan lulus dan bisa mulai bekerja di sana. Ajaib! Usut punya usut, saat sudah sebulan bekerja di sana, iseng saya bertanya ke Manager apa alasannya kok saya yang diterima bekerja bukan kandidat yang lain. Salah satu dari tiga Manajer yang mewawancarai saya mengatakan bahwa mereka cukup terkesan dengan kenekatan dan kegigihan saya. Nekat karena berbekal bahasa Inggris yang tidak mumpuni tapi tetap mengirimkan lamaran pekerjaan dan mereka melihat ada kemauan keras dari saya untuk belajar hal yang baru serta jawaban-jawaban dari hasil wawancara bukanlah hal-hal yang dibesar-besarkan, apa adanya. Lha ya bagaimana saya mau membesar-besarkan, wong pengalaman kerja sebelumnya baru satu tahun kemudian berhenti dan perusahaan ini adalah tempat kedua setelah lulus kuliah. Tidak dinyana tidak disangka, saya berjodoh dengan perusahaan ini sampai hampir 7 tahun lamanya. Hampir dari semuanya saya belajar dari nol karena berbeda dengan apa yang saya kerjakan di tempat sebelumnya. Untunglah dari segi keilmuan tidak terlalu melenceng jauh.

Selama hampir tujuh tahun tersebut tidak hanya pekerjaan yang saya pelajari dari nol, dari jalannya karir juga. Dari dasar sampai pada posisi yang memang saya inginkan. Menjalin hubungan baik dengan sesama kolega, melibatkan diri dengan cinta lokasi (hahaha, selalu ngakak kalau ingat ini), ditelikung, dimarahi, dihantam lembur sampai pagi, tiga kali terkena sakit thypus, tiga bulan tidak saling bertegur sapa dengan atasan (saya nggondok berat makanya males ngobrol sama atasan waktu itu, jadi komunikasi hanya via email) dan masih banyak sekali suka dukanya. Intinya, mereka akhirnya menjadi seperti keluarga kedua saya. Apalagi atasan saya yang super baik tersebut (yang tidak saya tegur selama tiga bulan itu haha), selalu ingat kalau pergi kemana-mana pulangnya pasti diberi oleh-oleh (yang lainnya juga sih, bukan saya saja). Dan jam tangan pemberian Beliau masih saya pakai sampai sekarang. Sampai saat ini saya juga masih berhubungan baik dengan Beliau. Oh ya, Beliau juga yang mengajari saya cara makan steak dan sushi haha. Maklum, sebelum ke Jakarta kan saya ini anak kos kuliahan yang sehari-harinya makan penyetan tempe terong ikan asin. Jadi pertama kali merasakan makan steak dan sushi ya saat kerja bersama Beliau. Awalnya merasa gimanaaa gitu melhat sushi. Eh akhirnya doyan sampai sekarang.

Karena hubungan yang sangat dekat dalam satu departemen selama hampir 7 tahun tersebut, maka saat berpikir untuk berhenti dari kantor tersebut saya butuh waktu 6 bulan sebelumnya untuk menimbang baik dan buruknya. Apalagi keputusan untuk mengundurkan diri bukan karena saya ingin pindah ke kantor lainnya tetapi karena ingin melanjutkan kuliah. Dua hal yang berbeda. Tetapi karena pertimbangan bahwa saya harus melanjutkan kuliah demi masa depan yang lebih baik, maka bulat keputusan yang diambil bahwa saya harus mengudurkan diri dari pekerjaan. Saat saya sudah positif diterima kuliah, segera mungkin saya menghadap atasan yang tentu saja membuat kaget. Mereka tidak menyangka saya akan berhenti bekerja saat beberapa hari sebelumnya saya diberi tahu bahwa beberapa bulan kedepan saya akan dipromosikan. Mereka meminta saya untuk berpikir berulangkali. Tetapi saya sudah bulat dengan keputusan tersebut (lha gimana, wong sudah keterima kuliah). Seminggu menjelang hari terakhir saya di sana menjadi saat-saat yang paling emosional. Tiap hari sediihh rasanya. Mereka mengadakan pesta perpisahan sampai tiga kali. Apalagi sewaktu satu persatu dari mereka memberikan kesan dan pesan, duh air mata saya tidak berhenti mengalir. Terlebih dua orang atasan saya, saat mereka terdiam untuk menahan tangis (tetapi tetep nangis juga) dan memeluk saya, tangis saya langsung pecah. Kalau tidak karena dua orang ini, tidak mungkin saya bisa bertahan sampai hampir 7 tahun di sana. Mereka yang selalu percaya akan kemampuan saya dan selalu memberikan tantangan untuk membuktikan bahwa kemampuan saya lebih dari yang saya tunjukkan. Ah, saat menuliskan ini saya jadi rindu dengan mereka.

Bekerja buat saya bukan hanya tentang mendapatkan materi dan belajar tentang ilmu yang berhubungan dengan pekerjaan itu sendiri tetapi ada banyak hal lain yang bisa didapatkan misalkan bagaimana cara berhubungan dengan sesama kolega pada satu departemen maupun departemen lainnya, klien, memecahkan masalah, mengelola emosi dan banyak hal lainnya. Mungkin memang saya orangnya yang terlalu sensitif dan perasa, tetapi hari terakhir saat bekerja selalu merupakan hari yang paling emosional karena merasa itu adalah terakhir kalinya berada di tempat yang telah mengajarkan dan memberikan banyak hal selama periode bekerja.

 

Punya cerita tentang mengundurkan diri dari pekerjaan atau hari perpisahaan di tempat kerja?

-Nootdorp, 19 Oktober 2017-

Pasar Raya Indonesia 2017 dan Cerita Lainnya

Pada tulisan kali ini, saya mau bercerita yang santai-santai saja (padahal tulisan-tulisan yang sebelumnya juga santai 😁). Ada beberapa hal yang akan saya dokumentasikan dalam bentuk cerita dan foto.

  • PASAR RAYA INDONESIA 2017

Setelah mengetahui kapan akan dilaksanakan Pasar Raya Indonesia 2017 (selanjutnya akan saya singkat jadi PRI) dan tempat pelaksanaannya, saya semangat luar biasa akan datang. Pada tanggal pelaksanaan, saya juga tidak ada acara lainnya. Jadi pas. Lalu saya woro-woro ke 3 teman saya lainnya yang tinggalnya jauh dari Den Haag. Mereka juga antusias. Tahun 2015 saya datang yang di Wassenaar, sedangkan tahun 2016 absen.

PRI dulu dikenal dengan nama Pesta Rakyat. Biasanya diadakan di luar ruangan di Wassenaar. Tapi kali ini, acara tahunan yang diselenggarakan dalam rangkaian peringatan kemerdekaan Indonesia dilaksanakan dalam ruangan di Rijswijk. Acara yang berlangsung selama tiga hari dari tanggal 15-17 September 2017 jam 10.00 – 20.00. Ada 35 stand makanan dan sekitar 5 stand produk Indonesia seperti batik dan penjualan pernak pernik lainnya. Tidak hanya itu, ada juga stand-stand lainnya dari pihak sponsor. Yang tidak kalah hebohnya juga suguhan hiburan dari panggung. Ada undian yang hadiah utamanya tiket Garuda Amsterdam-Jakarta. Ada poco-poco juga.

Saya, tentu saja, sangat bersemangat datang ke PRI terutama untuk urusan makan. Ketika daftar stand makanan apa saja yang akan ada di PRI sudah keluar, langsung lah saya menyusun ingin makan ini itu. Sengaja sebelum berangkat saya makan dulu, supaya tidak terlalu kalap. Pada kenyataannya ya tetap kalap semua ingin dibeli rasanya, terutama jajanan pasar. Selain ingin berburu makanan, yang tidak kalah menyenangkan juga, saya bisa bertemu 3 teman lainnya yang sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Jadi sekalian temu kangen dengan mereka. Bersyukur juga, para suami tidak ikut serta, jadi kami bisa sepuasnya di PRI. Hampir 5 jam kami di sana.

Di PRI ini saya juga bertemu dengan Crystal. Bertemu Crystal di acara-acara seperti ini sebenarnya biasa, karena memang beberapa kali kami bertemu di acara lainnya, selain memang karena tempat tinggal kami tidak terlalu berjauhan area. Tapi yang paling epic, menurut saya, adalah saat bertemu Anis. Dari sekian banyak orang, dari sekian banyak stand, bisa gitu ketemu Anis. Kalau jodoh memang ga kemana ya *loh 😅. Jadi pas saya lagi makan sambil jalan bawa piring, kepala saya kan menunduk jelasnya khusyuk ke piring. Lalu saya berbelok di sebelah stroller. Sekilas saya lihat bayi yang duduk di sana. Saya tetap berjalan sambil berpikir kayaknya pernah lihat bayi itu di mana ya. Karena penasaran, saya balik lagi ingin lihat lagi wajahnya. Lalu saya ingat ini kayaknya bayinya Anis (pernah lihat foto sekeluarga di blognya). Lalu dengan muka tembok, saya menyapa lelaki yang saya pikir pasti suaminya Anis. Saya bertanya apakah dia suaminya Anis (sok PD gitu nyapa-nyapa haha). Trus dia bilang iya. Saya lalu memperkenalkan diri dan bilang tahu Anis dari blog dan belum pernah bertemu sebelumnya. Lalu saya nanya Anisnya di mana. Ternyata sedang antri Martabak haha. Saya cari Anis lalu dadah dari kejauhan. Untung dia mengenali saya. Kalau nggak, kan tengsin *penggunaan kata tengsin menunjukkan era haha. Lalu kami ngobrol tidak terlalu lama, dia antri martabak lagi, saya cari makanan lagi. Semoga kapan-kapan bisa ketemuan lagi ya, Anis 🙂 senang bisa ketemu!

Yummm Yummm!!
Yummm Yummm!!
Rujak Cingur. Juara!!
Rujak Cingur. Juara!!
Tak Lupa Berfoto Ria
Tak Lupa Berfoto Ria

Pulang dari PRI, hati senang dan perut kenyang. Tapi saya masih kepikiran lupis. Waktu mau beli lupis, mikir dulu. Ternyata kembali ke stand yang jual, eh lupisnya sudah habis. Duh menyesalnya bukan main. Saking kepikirannya, saya sampai mimpi makan lupis. Trus bangun tidur, saya bilang suami kalau hari minggu mau ke PRI lagi khusus beli lupis. Sorenya saya ke sana lagi, niat haha. Suami ikut, ingin lihat dia seperti apa PRI konsep baru ini. Akhirnya keturutan saya beli lupis dan juga rujak cingur. Duh rujak cingurnya enaakkk. Tombo kangen. Waktu antri beli rujak, saya lihat ada bungkusan daun seperti lontong. Saya PD gitu bilang kalau mau beli lontongnya. Trus dijawab sama Ibu yang ngulek rujaknya, “itu bukan lontong Mbak, nogosari.” Haha sudah keras ngomongnya, salah pula.

Itulah cerita tentang PRI 2017. Senang karena bisa makan yang sudah diinginkan sejak awal tahun tapi baru keturutan, yaitu masakan Manado, bisa bergembira bersama teman-teman, bisa makan Combro Misro, Lupis, Rujak Cingur, Es Garbis dll (saking banyaknya 😅). Semoga tahun depan bisa ke sini lagi.

Sampai Jumpa Tahun Depan
Sampai Jumpa Tahun Depan
  • SYUKURAN

Dua minggu lalu, kami mengadakan syukuran. Seperti biasa, kalau ada acara syukuran saya masak nasi kuning dan pendampingnya. Karena saya sudah ada mood untuk kembali berkarya di dapur, jadi saya bisa masak nasi kuning lumayan banyak porsinya untuk dibagi ke tetangga-tentangga, saudara-saudara, dan beberapa kolega suami di kantor. Nasi kuning yang kami makan, saya bentuk tumpeng kecil. Pendampingnya : mie goreng bakso sawi kol, empal gepuk, perkedel, oseng sayuran, sambel goreng tahu tempe, dan sambel bajak.

Siangnya kami antar ke para tetangga dan para saudara. Keesokan paginya, suami bawa 10 kotak ke kantornya. Karena acara bagi-bagi nasi kotak ini, dia bertemu dengan beberapa orang yang sebelumnya cuma say hello saja, dan ternyata beberapa orang itu istrinya orang Indonesia. Owalaahh orang Indonesia di mana-mana. Semoga berkah syukuran kami.

Tumpeng Syukuran
Tumpeng Syukuran
Nasi Kuning Kotak Dibawa ke Kantor Suami
Nasi Kuning Kotak Dibawa ke Kantor Suami
  • PANEN ANGGUR

Di kebun belakang rumah kami, ada tanaman pohon anggur. Awalnya kami pikir anggur hijau. Ternyata anggur merah. Lumayan banyak juga buahnya meskipun tidak bisa besar-besar seperti di Supermarket. Kami panen besar sebanyak 3 kali. Panen ke tiga saya tidak sempat foto, sekitar 5kg. Sampai sekarang buahnya masih ada yang di pohon, tapi kami biarkan saja, buat para burung. Kami bagikan anggur-anggur itu ke tetangga, Mama, dan saudara-saudara. Tahun depan kata suami ingin buat wine dari anggur-anggur ini. Sak karep Mas! Tetangga ada yang mengolah anggur-anggur ini jadi selai. Trus mereka kasih ke kami. Jadi ceritanya oleh mereka, dari kami, untuk kami 😃

Kencur, jahe, kunyit, laos yang beberapa bulan lalu iseng saya tancapkan di tanah, mulai menampakkan hasilnya. Tumbuh subur, tapi saya biarkan saja. Belum saya otak atik. Lumayan sekarang punya tumbuhan empon-empon di rumah. Jadi kalau butuh tinggal ambil. Daun kunyit juga lumayan kalau mau bikin rendang. Strawberry yang saya beli satu pot lalu saya tanam sekarang sudah menjalar ke mana-mana. Mudah-mudahan tahun depan berbuah banyak. Untuk cabe rawit dan tomat masih belum ada hasil. Tahun depan mau coba tanam Kangkung, bayam, kenikir (dapat bibitnya dari Ibu). Oh iya, kemangi kemaren juga lumayan banyak daunnya, Pok Choy juga lebat. Tahun depan niat ingin memperbanyak variasi tanaman. Tahun ini sebenarnya juga dimulai dengan bagus, saya menyemai banyak bibit, lalu tanaman-tanaman yang disemai mulai menunjukkan hasilnya lalu tidak saya rawat, akhirnya perlahan berguguran haha.

Panen Anggur Pertama sekitar 5kg an
Panen Anggur Pertama sekitar 5kg an
Panen Anggur kedua. Sekitar 10kg
Panen Anggur kedua. Sekitar 10kg
Selai Anggur buatan Tetangga
Selai Anggur buatan Tetangga
  • HUJAN DAN DINGIN MULAI DATANG

Sejak awal September, cuaca mulai berubah. Hujan hampir tiap hari dan mulai dingin. Pagi juga beberapa kali berkabut. Yang paling sebel memang hujannya (walaupun di sini sering hujan sih meskipun musim panas), membuat malas kalau harus berangkat kerja pagi buta naik sepeda. Tapi akhir-akhir ini saya sudah jarang naik sepeda jarak jauh kalau hujan. Apalagi beberapa waktu lalu ada angin kencang sekali di Belanda, baru beberapa ratus meter keluar rumah naik sepeda, berasa oleng mau jatuh. Akhirnya saya kembali lagi ke rumah taruh sepeda lalu pergi naik tram.

Nah karena sudah hawa sudah dingin, menu andalan yang berkuah kembali muncul di dapur. Lumayan buat menghangatkan badan. Ini sudah mulai merancang setiap akhir pekan mau masak berkuah apa ya. Sudah ingin makan lodeh, rawon, soto, sayur bening, dll. Mood masak pun sudah kembali, jadinya ya masak kesenangan kami tapi yang gampang-gampang saja. Yang sret sret jadi biar waktu tidak habis di dapur.


Sup Labu dan Perkedel Tahu
Sup Labu dan Perkedel Tahu
Dapat belimbing wuluh segar di pasar, akhirnya kalap beli 1kg. 1/2kg untuk teman, sisanya untuk stok. Lumayan bisa makan sayur asem pakai sambel belimbing wuluh. Yumm!!
Dapat belimbing wuluh segar di pasar, akhirnya kalap beli 1kg. 1/2kg untuk teman, sisanya untuk stok. Lumayan bisa makan sayur asem pakai sambel belimbing wuluh. Yumm!!


Ala warteg
Ala warteg

Itulah beragam cerita gado-gado pada tulisan kali ini.

Selamat beraktivitas!

-Nootdorp, 19 September 2017-

Sakit di Perantauan

Dini hari sekitar jam 2 saya terbangun karena rasa nyeri yang saya rasakan di perut. Saya mengubah posisi tidur yang miring ke kiri menjadi terlentang kemudian mencoba untuk duduk. Semakin lama nyeri yang saya rasakan semakin menusuk. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya merasakan nyeri yang seperti ini. Dalam rentang dua bulan, ini sudah ke empat kalinya. Tiga nyeri terdahulu sudah dikonsultasikan kepada pihak medis dan hasilnya masih dalam tahap normal, tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Karenanya ketika rasa nyeri ini datang, saya tidak terlalu khawatir karena sudah “berpengalaman” sebelumnya. Selang satu jam kemudian, nyerinya semakin hebat. Saya terpaksa membangunkan suami yang terlelap. Tujuannya cuma satu, kalau misalkan saya pingsan, minimal ada yang tahu lah. Suami bangun lalu bingung juga apa yang musti dilakukan. Dia mengelus punggung saya. Sedangkan saya duduk sambil berusaha mengatur nafas. Satu jam berlalu, nyerinya tetap datang tapi saya sudah mulai kelelahan dan mengantuk. Akhirnya saya coba untuk tidur dengan harapan ketika bangun rasa nyerinya hilang.

Pagi datang, saya terbangun. Saya rasakan nyerinya masih ada. Suami lalu menyarankan untuk menelepon pihak medis. Saya menahan, “jangan sekarang, biasanya ga lama lagi hilang.” Setelah membawakan sarapan roti dan segelas susu coklat, suami berangkat ke kantor karena saya bilang sudah agak baikan. Tinggallah saya di rumah dengan adik. Saya bilang ke adik kalau rencana hari ini ke Amsterdam terpaksa dibatalkan karena untuk bergerak dari tempat tidur saja sangat susah. Sayang sebenarnya karena cuaca sangat cerah. Tapi adik memaklumi melihat kondisi saya yang kesakitan. Berbicara saja terbata-bata karena menahan sakit. Saya bilang ke adik untuk sering-sering mengecek kondisi saya di kamar. Takutnya saya pingsan tanpa ketahuan. Bersyukur ada adik di rumah. Jadi saya agak tenang kalau misalkan keadaan makin memburuk, setidaknya dia bisa telpon suami atau memberitahu tetangga.

Sekitar jam 10, suami telpon. Saya bilang nyerinya semakin hebat dan datangnya sering. Saya sebutkan di bagian mana saja yang nyeri dan tanda-tanda lainnya. Dia lalu bilang akan menelepon pihak medis. Selang berapa lama, dia menelepon saya kembali. Kata pihak medisnya, setelah mendengar keluhan dan tanda-tandanya yang masih sama dengan yang sebelum-sebelumnya, saya hanya disuruh menunggu, banyak minum air putih dan sering bergerak. Saya bingung juga ya mau bergerak yang bagaimana. Ke kamar mandi saja rasanya pengen ngesot saking tidak kuatnya jalan. Tapi akhirnya saya paksakan juga turun ke lantai bawah dengan menahan nyeri yang amat sangat. Nyeri yang saya rasakan itu seperti sakit maag yang sakitnya sampai ke ulu hati dan seperti ketusuk-tusuk. Nyerinya datang dan pergi.

Karena sudah jam makan siang, saya mempersiapkan makan dibantu adik. Dalam keadaan seperti ini, kangen deh dengan warung. Tinggal beli langsung makan. Ingin makan nasi pecel pakai lauk dadar jagung. Sempet kesel juga kenapa pas sakit gini, makan saja musti tetep masak sendiri. Tapi pikiran itu langsung saya enyahkan, karena bersyukur saya masih bisa makan dan mempersiapkan makanan meskipun dengan keadaan yang tidak ideal dan ditemani adik. Akhirnya saya makan dengan oseng sayuran dan tahu tempe sembari menahan nyeri. Sebenarnya bisa makan yang simpel seperti roti, tapi saya ingin makan yang ada sayurnya.

Siang menjelang sore, keadaan tidak semakin membaik. Saya coba untuk tidur dengan harapan yang sama, pas bangun nyerinya hilang. Sementara adik bilang akan jalan-jalan sebentar ke kota. Ternyata setelah satu jam tidur dan ketika terbangun, sakitnya makin tidak karuan. Saya mencoba menyeret pantat menjauh dari tempat tidur dan mengatur nafas ketika bergerak. Tapi nyerinya makin sering datang. Tidak berapa lama, suami datang. Dia menyarankan untuk telepon lagi pihak medis. Saya menyetujui. Yang saya khawatirkan bukanlah rasa nyeri yang semakin menjadi-jadi, karena untuk menahan sakit, saya masih bisa. Tapi karena sudah lebih dari 12 jam nyerinya tidak hilang, jadi khawatir juga pasti ada sesuatu di dalam sana. Setelah menelepon, pihak medis bilang akan segera datang ke rumah dan jika ada sesuatu yang genting ditemukan, saya akan langsung dikirim ke RS. 10 menit kemudian Beliau sampai rumah dan langsung menuju ke kamar. Setelah ditanya ini dan itu untuk diagnosa awal, lalu dilanjutkan pemeriksaan luar dan dalam. Setelah pemeriksaan menyeluruh, dikatakan ulu hati saya tertekan (semacam itulah kesimpulannya). Saya disarankan minum paracetamol untuk meredakan nyeri, lebih banyak minum air, dan makan buah. Kalau sudah menjalankan itu semua tetapi nyerinya belum hilang, disuruh telpon lagi. Saya sempat bilang ke Beliau, baru kali ini saya kesakitan trus diperiksanya di rumah. Semacam seperti di film-film yang saya tonton. Biasanya kalau saya sakit walaupun sampai susah berjalan (sewaktu sakit usus buntu), ya saya yang pergi ke dokter. Beliau langsung tertawa mendengar guyonan saya dan memuji daya tahan saya terhadap sakit. Maksudnya bisa menahan sakit dengan tidak panik sampai lebih dari 12 jam.

Mendengar bahwa semuanya baik-baik saja, saya agak tenang. Saya tidak langsung mengkonsumsi paracetamol, tapi langsung hajar dengan buah lalu guyur dengan minum yang banyak. Saya bilang suami, kalau sampai malam nyerinya tidak hilang, baru akan minum paracetamol. Saya lalu banyak bergerak jalan ke sana ke mari. Sekitar jam 9 malam, saya merasakan nyerinya jauh berkurang. Dan ketika menulis ini, nyerinya tinggal sekitar 10% dari awal. Semoga nyerinya tidak kembali lagi sehingga besok saya bisa mengantarkan adik jalan-jalan ke Amsterdam *loalaaahh lak pecicilan maneh. Suami bilang rasanya tidak tega melihat saya kesakitan yang sedemikian hingga sampai beberapa kali dia berkata, “andaikan nyerinya bisa ditransfer sedikit ke saya,” sambil memeluk dan mengelus punggung saya.

Kejadian hari ini mengingatkan saya tentang tidak enaknya sakit terutama jika sedang merantau. Sakit saja sudah tidak enak, apalagi kalau jauh dari keluarga. Mulai hidup ngekos sejak umur 15 tahun, saya sangat berhati-hati sekali dalam menjaga kesehatan. Saya berpikirnya, kalau sakit jauh dari keluarga pasti rasanya sangat nelongso dan bingung ya mau minta tolong siapa kalau ada apa-apa. Tapi yang namanya musibah, bisa datang kapan saja tanpa terduga. Sewaktu di Surabaya, masih enak lah kalau sakit tidak terlalu jauh kalau mau pulang ke rumah (6 jam perjalanan). Waktu itu saya sakit usus buntu yang akhirnya harus operasi. Tapi sewaktu di Jakarta, kalau sakit ya harus dihadapi sendiri, kalau semakin memburuk baru saya telepon teman untuk mengantarkan ke dokter atau RS. Sewaktu di Jakarta sempat 2 kali harus dirawat di RS. Saya ini bukan tipe kalau sakit langsung memberi tahu ke orangtua. Sebisa mungkin saya tangani sendiri dulu. Kalau sudah semakin parah, baru memberi tahu mereka. Tapi satu yang pasti, kalau sedang sakit saya pasti memberi tahu orang di sekitar dengan tujuan untuk sering-sering menengok saya di kamar. Jadi kalau saya pingsan atau katakan kalau keadaan buruk saya meninggal, ketahuan. Jadi ga pingsan atau meninggal tanpa ketahuan.

Yang paling nelongso kalau sakit jauh dari keluarga itu adalah urusan makan. Kalau di Indonesia masih bisa minta tolong teman kos untuk nitip beli makan. Atau setidaknya saya bisa jalan sendiri ke warung terdekat untuk beli makan. Tapi kalau seperti hari ini, sedih sekali pas ingin makan sesuatu yang diingini, malah makannya yang lain dan harus masak dulu pula. Tapi pikiran itu langsung saya usir jauh-jauh karena bersyukur masih bisa makan dan masih ada tenaga untuk menyiapkan makanan. Itu tandanya sakit masih bisa saya tahan. Dan bersyukur ada ada adik di rumah. Dan sangat bersyukur meskipun suami ngantor hari ini tapi tetap memantau keadaan saya bahkan mengurus ke pihak medis dan mengurus saya di rumah. Dia pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Setidaknya tenang ada keluarga di sekitar saya. Memang musti dicari celah supaya ditengah kesusahan masih ada yang bisa disyukuri. Hidup jauh dari keluarga sejak usia muda, lumayan menempa jiwa kalau saat-saat sulit datang. Minimal tidak panik.

Ada yang punya pengalaman sakit di perantauan, jauh dari keluarga?

-Nootdorp, 31 Juli 2017-

Tentang Menikmati Hidup

Hampir setiap hari saya menerima email dari mereka yang membaca blog kami. Dari bertanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan persyaratan tinggal di Belanda, ujian bahasa Belanda, pernikahan dengan WN Belanda, pasar di Belanda, bahkan sampai bertanya harga cabe di Belanda. Tentu saja pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak saya jawab langsung karena memang tidak terlalu tergesa dilihat dari tingkat kepentingannya. Saya menunggu sampai bisa duduk manis di depan komputer karena saya tidak membiasakan diri untuk terlalu banyak menghabiskan waktu dengan telefon genggam. Selain pertanyan, tentu juga saya menerima email yang isinya tentang komentar bahkan nasihat. Komentar yang disampaikan berkaitan dengan saya pribadi, saya dan suami, maupun komentar tentang blog ini. Sedangkan nasihat, beberapa kali saya menerima masukan yang berhubungan dengan agama. Kadang ya bikin gemas, kadang ya biasa saja. Dan yang terakhir, tentu saja blog kami ini tidak luput dari kritikan. Semuanya kami terima, khususnya untuk saya, sebagai bahan evaluasi dalam menulis dan berbagi cerita, merenung, maupun sekedar bahan bacaan. Terima kasih untuk yang sudah meluangkan menulis email.

Dari sekian email, ada beberapa yang bernada serupa menanyakan atau memberi komentar betapa saya terlihat sangat menikmati hidup dan kehidupan selama di Belanda, terlihat dari cerita-cerita yang saya bagikan di blog ini. Mereka menanyakan bagaimana caranya beradaptasi dengan semua hal yang baru di Belanda atau caranya supaya hubungan dengan suami selalu baik-baik saja (karena ada beberapa yang menuliskan sepertinya hubungan kami lancar dari awal kenalan sampai menikah. Padahal saya tidak pernah bercerita sekalipun di blog ini tentang kehidupan sebelum pernikahan, tentang bagaimana kami bertemu sampai menikah). Saya tentu saja senyum-senyum membaca hal tersebut.

Apa yang kami tuliskan di blog ini murni adalah apa yang kami alami, apa yang kami pikirkan, apa yang kami jalani tanpa harus dipoles sana sini. Tetapi, tidak semua hal dalam kehidupan kami perlu dituangkan di sini. Ada banyak hal yang sekiranya berguna, tentu saja kami bagikan, siapa tahu ada yang memerlukan informasinya, atau ada beberapa pemikiran yang tertuliskan setidaknya kami belajar menyampaikan pendapat melalui tulisan. Tetapi ada banyak hal juga yang harus kami simpan sendiri, biarlah kami saja yang tahu, tidak perlu sampai dunia luas ini mengetahui setiap peristiwa yang terjadi. Buat saya, lebih baik menuliskan hal-hal yang membuat hati gembira, meskipun tidak dipungkiri beberapa tulisan di blog ini terinspirasi dari kisah sedih saya (atau kami), keresahan yang saya rasakan, atau kerinduan akan tanah air dan keluarga. Tetapi untuk hal-hal yang bersifat pribadi dan sangat pribadi, biarlah itu menjadi bagian kehidupan nyata kami. Mungkin karena beberapa hal tersebut yang kami terapkan dalam menulis blog, jadi terbaca bahwa saya nampak sangat menikmati hidup, selalu gembira, dan tidak pernah ada masalah.

Selama masih hidup, masalah akan selalu ada. Namanya juga manusia ya, siapa juga yang tidak pernah tertimpa masalah dari hal-hal yang kecil sampai yang nampaknya mustahil untuk diselesaikan. Hal tersebut berlaku juga untuk saya. Bedanya, mungkin karena saya jarang sekali berkeluh kesah di dunia maya (blog atau twitter), jadi nampak semua baik-baik saja. Padahal kalau mau ditelisik lebih dalam, ada saja masalah yang menghampiri. Bukan ingin menampilkan pencitraan yang baik-baik saja, tetapi saya lebih memilih untuk tidak terlalu berkeluh kesah di media sosial, karena untuk saya, tidak ada gunanya. Saya rasa orang juga males membaca kalau misalkan saya ngomel-ngomel terus di media sosial. Saya memilih untuk menyelesaikan masalah yang datang, menghadapinya, mencari solusinya, dan berdiskusi dengan suami. Sejak menikah, tentu saja tempat saya untuk berdiskusi adalah suami. Dari suami juga saya belajar banyak hal tentang penyikapan terhadap suatu masalah. Saya yang dulunya berjiwa senggol bacok, sekarang jadi lebih tenang kalau menghadapi sesuatu meskipun tetap sih sesekali “api” nya muncul, tapi setidaknya lebih terkendali. Kalau kami yang sedang bermasalah, maka masalah itu harus berhenti di kami, tidak sampai keluar. Bahkan dengan sahabat-sahabat dekat, saya tidak pernah bercerita sedikitpun tentang rumah tangga kami. Intinya, apa yang terjadi di rumah, jangan sampai seisi dunia tahu. Dan bersyukur sampai sekarang (dan mudah-mudahan  seterusnya) hal tersebut tetap terjaga dengan baik.

Menikmati Rujak Cingur dengan es kelapa
Menikmati Rujak Cingur dengan es kelapa, salah satu cara menikmati hidup haha.

Pernah suatu ketika, mantan atasan di perusahaan tempat bekerja di Jakarta bertanya apakah saya tidak rindu dunia kerja seperti dulu. Maksudnya kerja kantoran yang penuh waktu dan mengejar karier. Pertanyaan inipun pernah ditanyakan oleh suami. Dia merasa agak bersalah karena saya ke Belanda artinya saya harus beradaptasi lagi dari awal termasuk tentang pekerjaan. Saya menjawab pertanyaan itu : ada kalanya saya rindu tetapi saya menikmati apa yang ada sekarang. Bukannya saya tidak ingin mengejar karier dan bekerja sesuai dengan pengalaman serta latar belakang pendidikan, tetapi saat ini saya memilih bekerja karena ada hal baru yang bisa saya pelajari meskipun tidak ada jenjang karier dan masalah gaji juga biasa saja. Tetapi saya menikmati pekerjaan paruh waktu ini. Nanti, kalau sudah keadaan dan waktu memungkinkan, saya akan kembali bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman saya atau bahkan mungkin bekerja di bidang yang baru yang penting masih sesuai dengan minat dan dengan pendapatan yang lebih baik. Awal pindah memang saya masih sangat berambisi tinggi untuk mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan dengan alasan : kalau yang di Indonesia bertanya, biar tidak malu menjawabnya. Masa sudah sekolah tinggi dan punya pengalaman kerja di sana, begitu nyampe sini dapat kerjanya yang biasa-biasa saja. Tetapi seiring berjalannya waktu dan kondisi, saya bertanya pada diri sendiri apakah saya ingin bekerja karena ingin memenuhi standar orang lain biar tidak dipandang sebelah mata atau saya ingin bekerja karena sesuatu yang memang saya sukai. Akhirnya saya memilih yang kedua, bukan karena saya tidak punya ambisi tetapi saya pernah ada pada kondisi yang pertama dan pada akhirnya saya malah tidak menikmati apa yang saya kerjakan hanya karena ingin dipandang hebat oleh orang lain. Saya sekarang memilih untuk hidup berdasarkan standar saya, bukan ditentukan oleh pujian atau sanjungan orang lain. Penghargaan dari orang-orang terdekat yang mengenal saya, itu lebih baik lebih dari cukup dibandingkan pujian dan sanjungan dari mereka yang tidak mengenal saya secara dekat.

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan seorang teman baik yang juga teman jalan di Belanda. Dia bercerita kalau ada kenalannya yang sedang bosan menjalani rutinitas hidupnya yang monoton dari rumah-tempat kerja-rumah setiap hari. Dia ingin kembali ke fase kehidupan sebelum saat ini yang bisa pergi ke kafe, belanja sesuka hati dll. Teman baik saya ini lalu mencontohkan saya (saya juga tidak tahu kenapa mencontohkan saya haha), “Sebenarnya yang perlu diubah adalah cara berpikir kamu. Mau dimanapun kamu hidup, harusnya sama saja kamu masih bisa menikmatinya kalau kamu tidak memikirkan lagi masa lalu. Lihat saja Deny, dia sangat menikmati hidupnya di sini. Melakukan apapun yang dia suka, mengerjakan yang dia senangi.” Lalu saya hanya terkekeh. Ada benarnya yang dia ucapkan. Saya menikmati apapun fase hidup yang saya jalani, termasuk saat ini. Sewaktu bekerja di Indonesia, saya menikmati sebagai pekerja kantoran yang hampir setiap hari stress dan lembur pulang dini hari. Iya, Jakarta keras Bung! pulang dini hari bahkan subuh sudah jadi makanan sehari-hari. Saya menikmati ke-stress-an itu karena ada hal-hal lain yang bisa saya nikmati yaitu bisa berkeliling Indonesia dengan gratis lewat perjalanan kantor. Sewaktu fase kuliah, saya juga menikmati setiap hari baru bisa tidur dini hari karena mengerjakan tugas dan laporan. Wanita dini hari lah pokoknya saya dulu haha. Walaupun capek, tapi teman-teman kuliah sangatlah menyenangkan sehingga lelah mengerjakan tugas agak tidak terlalu terasa karena kebersamaan dan gelak tawa dengan mereka bisa membasuh penat yang ada *tsaahh bahasanya :))). Pindah ke negara baru dengan kondisi yang jauh berbeda dengan negara asal pun sangat saya nikmati sekali. Saya berpikirnya karena akan ada banyak hal baru yang bisa saya pelajari, meskipun tidak dipungkiri sampai saat ini permasalahan utama saya masih seputar makanan (isi cuitan saya di twitter ya selalu seputar makanan). Tetapi karena saya pindah ke Belanda dengan penuh rasa kesadaran dan keputusan sendiri tanpa paksaan, pada akhirnya saya sangat menikmati kehidupan  di sini. Dari awal saya sudah mencari kegiatan yang saya suka, karenanya saya ikut menjadi sukarelawan, belajar bahasa Belanda di sekolah sehingga mengenal orang-orang yang baru, mulai mencari pekerjaan paruh waktu, jalan-jalan karena saya memang sukanya pecicilan jalan-jalan baik sendiri, bareng teman atau suami. Karena sudah terbiasa kemana-mana sendiri sejak di Indonesia, dari awal pindah ke Belanda saya tidak terpikir untuk segera mencari kenalan. Justru yang saya lakukan adalah mencari tempat wisata mana yang bisa saya kunjungi dan mengenal lingkungan sekitar sampai nyasar kemana-mana. Waktu itu saya berpikir, nanti sambil waktu juga bakal ketemu sendiri kenalan atau bahkan teman yang sreg dihati, jadi tidak usah terburu-buru. Karena sibuknya saya dengan berbagai hal baru, maka tidak ada kesempatan untuk kangen dengan Indonesia, tidak ada waktu untuk mengeluh ini dan itu, walaupun tetap kangen dengan keluarga di sana. Kalau ada yang bertanya,”kerasan tinggal di Belanda?” Saya mantab menjawab, “kerasan.” Entahlah, sampai saat ini saya belum pernah merasa bosan dengan keadaan di sini, kecuali sesekali bosan sarapan buah atau roti, inginnya sarapan nasi pecel *lah balik lagi ke makanan haha.

Jadi, kenapa saya nampak menikmati hidup? karena saya selalu melakukan apapun yang saya suka, tidak terlalu muluk-muluk dalam hidup, menikmati apapun yang menjadi pilihan hidup saya saat ini, berjalan berdasarkan standar hidup yang saya inginkan bukan berharap sanjungan dari orang lain ataupun melakukan sesuatu dengan harapan ingin dipuji orang. Jika ada yang memuji, saya anggap bonus. Jika tidak, ya tidak masalah. Saya tidak berhenti belajar akan banyak hal baru, berkeluh kesah hanya pada tempat dan sarana yang tepat, hidup pada saat ini dan berencana untuk masa depan bukan  berhenti pada ingatan masa lalu, menjadi diri saya sendiri dimanapun berada, punya sahabat-sahabat yang hampir 20 tahun bersama sampai saat ini, punya teman yang menyenangkan, dan yang terpenting adalah selalu bersyukur. Masalah pasti akan selalu ada, tinggal disikapi seperti apa. Mau diselesaikan atau hanya dilihat lalu ditinggal atau hanya dikoar-koarkan saja. Kita sendiri yang tahu jawabannya bagaimana menyikapi dan menikmati hidup. Ya intinya, nikmati dan jalani saja hidup dengan segala pernak perniknya. Kalau kata Ibuk, “ga usah kakehan nersulo, urip mung sepisan. Ojok keseringen ndangak, kesandung malah catu kabeh awak e”

-Nootdorp, 27 Juli 2017-

Ramadan Ketiga di Belanda

Saat saya menulis ini, Ramadan sudah memasuki malam ke-27. Bersyukur masih diberikan umur yang berkah dan kesehatan yang baik untuk kembali bertemu dengan Ramadan tahun ini dan menuliskan kembali pengalaman Ramadan di tanah rantau. Ramadan yang jatuh pada musim semi tidak serta merta membuat cuaca lebih sejuk dibandingkan tahun kemarin yang jatuh pada musim panas. Sejak awal puasa, cuaca di Belanda sudah sangat panas. Meskipun beberapa kali hujan mengguyur, tetapi selebihnya kembali panas. Pada hari pertama Ramadan, saya ingat betul waktu itu saya sedang ke Roermond bersama beberapa teman dan suhu mencapai 33°C. Musim semi rasa musim panas. Selama dua minggu terakhir cuaca stabil panas bahkan seminggu ini sampai 32°C. Saya kalau sepedahan ke tempat kerja sampai harus berhenti “ngiyup” kata orang Jawa saking ga kuat kepala -pening- dan gobyos berkeringat. Durasi Ramadan tahun ini kurang lebih tidak terlalu berbeda jauh dengan tahun kemarin, rata-rata 19 jam setiap hari. Semoga yang menjalankan ibadah puasa Ramadan selalu diberikan kekuatan dan kelancaran selama sebulan ini. Hari ini adalah hari pertama resmi musim panas dan juga sebagai siang terpanjang.

Jadwal puasa Ramadan dari KBRI di Den Haag
Jadwal puasa Ramadan dari KBRI di Den Haag

Setiap bulan puasa selalu istimewa untuk saya, khususnya sejak tinggal di Belanda. Ada saja pengalaman spesial yang saya dapatkan, juga berkah dan rejeki. Tidak terkecuali Ramadan tahun ini yang juga spesial untuk kami. Kegiatan selama Ramadan sekarang masih seputar kegiatan rutin bekerja, jalan-jalan, bersih-bersih taman, bersih-bersih rumah, dan kembali produktif baca buku (mudah-mudahan nanti saya sempat membuat review beberapa buku yang sudah saya baca). Yang masih belum kembali produktif yaitu memasak. Namun karena tanggal 18 Juni kemarin adalah Father’s Day, saya bertanya ke suami dia mau hadiah apa. Trus suami menjawab, “Kalau kamu sudah mood masak, aku kangen makan soto ayam buatan kamu. Itu saja kado yang aku minta.” Duh Mas, kok yo melas men tho. Saya antara kasihan dan ingin tertawa sebenarnya mendengar jawabannya. Terakhir saya memasak soto ayam buat dia sekitar 3.5 bulan lalu kalau tidak salah. Biasanya paling tidak sebulan sekali saya masakkan karena memang soto ayam adalah makanan favoritnya (bahkan sebelum menikah dengan saya). Akhirnya saya melihat stok bumbu di freezer, lha kok ndilalah masih ada satu porsi bumbu yang tersisa. Lalu saya membuat printilan lainnya seperti sambal dan kentang goreng. Karena malas memasak nasi, saya perbanyak saja bihunnya. Setelah saya hidangkan, dia lama sekali melihat saya lalu makan perlahan soto ayam tersebut. Lha trus orang ini kok ga ada komentarnya, diam khusyuk makannya. Lalu saya tanya, gimana apa enak soalnya saya tidak mencicipi. Dia bilang terharu sekali rasanya akhirnya bisa makan soto ayam setelah berbulan-bulan libur. Jadinya dia makan penuh perasaan. Owalaahhh saya ngikik haha.

Oh ya, di awal saya sempat cerita tentang pergi ke Roermond. Jadi Roermond ini kota di selatan Belanda yang terkenal dengan outlet brand-brand terkenal gitu (katanya ya) dengan harga agak miring dan terkenal diantara orang-orang Indonesia yang tinggal di sini ataupun mereka yang datang ke Belanda dengan tujuan berlibur dan berbelanja. Nah, beberapa kali teman saya mengajak ke sana, tetapi karena saya tidak suka berbelanja barang-barang kalau sedang tidak butuh, maka ajakan mereka selalu saya tolak. Pertengahan Mei, saya ingat kalau punya tiket kereta yang saya beli saat ada penawaran khusus dan bisa dipakai keliling Belanda satu hari penuh selama akhir pekan. Dan tiket ini akan hangus akhir bulan Mei. Wah, sayang, pikir saya kalau tidak digunakan. Saya lalu menghubungi salah satu teman jalan dan bertanya apakah ada rencana jalan bulan Mei ini. Dia lalu mengusulkan ke Roermond (kembali). Saya pikir daripada tiket hangus tidak dipakai, mending dipakai. Akhirnya saya setuju yang penting ketemu teman-teman dan makan-makan di rumah salah satu teman saya setelah jalan-jalan. Jadi agenda makan-makan lebih penting untuk saya haha. Saya sudah membayangkan kalau di Roermond nanti pasti penuh sesak dan akan bertemu dengan banyak orang Indonesia. Ternyata setelah memutari keseluruhan lokasi Outlet Roermond, tidak terlalu ramai dan tidak banyak saya jumpai orang Indonesia. Di salah satu outlet, ketika saya sedang melihat-lihat (dan berencana membeli), tiba-tiba ada yang menyapa saya, “Mbak Deny ya?” Lho, saya kan jadi kaget kok mak bedundug ada yang menyapa. Dia lalu memperkenalkan diri dan memberi tahu kalau dia adalah pembaca blog kami. Jadi ketika dia melihat saya, dia menebak kalau itu adalah saya. Ada gunanya juga memajang foto di blog haha. Hai Sari, kalau kamu membaca tulisan ini, maaf waktu itu tidak sempat pamitan. Terima kasih sudah menyapa saya. Semoga lancar kuliah kamu. Selain jalan-jalan ke Roermond, pada tulisan sebelumnya saya bercerita tentang liburan kami ke beberapa kota. Selebihnya pada akhir pekan kami habiskan ngadem  di rumah dan jalan-jalan ke danau atau hutan didekat rumah. Rencana untuk ke pantai sejauh ini masih sebatas rencana karena saya masih tidak kuat kalau panas cetar begini harus ke pantai. Kalau cuaca bagus seperti ini, di danau dekat rumah pun penuh dengan orang yang sedang berjemur atau berenang atau BBQ an. Jadinya ya di mana-mana intinya ramai karena semua orang keluar rumah menikmati sinar matahari.

Danau dekat rumah ketika sedang sepi
Danau dekat rumah ketika sedang sepi

Kalau sudah mendekati lebaran begini, ada perasaan sedih yang menyelinap. Tidak bisa dipungkiri kalau saya sangat rindu merasakan suasana lebaran terutama di desa kelahiran saya. Suasana malam takbir, suasana setelah sholat Ied, suasana saling silaturrahmi dan kumpul keluarga, dan yang paling ditunggu adalah momen makan-makan dengan masakan khas keluarga seperti jangan laos, pecel pitik, lodho, jangan lodeh tempe tahu yang super pedes, dan kue kue lebaran khas keluarga di desa. Rindu semuanya. Semoga diberikan umur yang berkah dan kesehatan yang baik untuk kami sekeluarga bisa berlebaran di Indonesia dan marasakan syahdunya berlebaran bersama seluruh keluarga di sana.

Untuk yang sedang bersiap mudik ataupun sudah dalam perjalanan, semoga diberikan kelancaran dan selamat berkumpul bersama seluruh keluarga di hari lebaran. Semoga kita semua dipertemukan kembali dengan Ramadan dan Lebaran tahun-tahun selanjutnya dalam keadaan yang lebih baik. Bagi yang tidak bisa kumpul keluarga saat lebaran nanti karena beberapa hal misalkan jauh dari tanah air seperti saya, tetap Semangat!!

-Nootdorp, 21 Juni 2017-