Semua Tentang Pilihan

Yang namanya orang hidup, masih bernafas, bisa berpikir dan bertindak pasti akan banyak sekali menghadapi pilihan. Ya, macam saya yang setiap sarapan pagi sudah mikir nanti siang mau makan apa ya. Kalau sedang tidak bekerja, enak saya bisa makan lalapan sama sambel. Kalau sedang bekerja, ya makannya disesuaikan dengan apa yang disediakan di tempat kerja. Masalah mengisi perut saja, saya harus berpikir untuk memutuskan diantara beberapa menu. Masih bersyukur saya punya pilihan menu karena banyak orang yang tidak seberuntung saya. Jangankan berpikir menu, bisa makan saja sudah sangat bersyukur sekali. Hal-hal seperti ini sering membuat saya melipatgandakan syukur yang luar biasa.

Dulu, saat gejolak jiwa muda masih bergelora (tetap berjiwa muda sih sampai kapanpun, kan forever young :D) dan sudah mengenal yang namanya media sosial, segala sesuatu pasti saya bagikan di akun media sosial yang saya punya. Apapun itu, dari hal-hal remeh sampai status yang memang ada muatan informasinya. Dari foto liburan sampai foto yang (saat ini saya mikirnya) tidak terlalu penting seperti foto tentang materi kuliah yang isinya angka-angka dengan caption “duh susah sekali tugasnya.” Mbok ya kalau susah dicari tahu penyelesaiannya, jangan nyetatus, kan tidak menyelesaikan masalah tho yo. Rasanya senang saja kalau bisa eksis setiap saat. Bahkan hal-hal yang tidak terlalu penting untuk dibagikan secara maya pun saya unggah fotonya, secara sadar. Berharap akan banyak reaksi yang menyanjung dan mendapatkan “like” sebanyak mungkin. Walaupun memang tidak semua menyukai foto-foto yang saya unggah, dilihat dari komentar yang dituliskan “gini aja kok diunggah” atau ada selentingan yang terdengar alias rasan-rasan kalau saya terlalu berlebihan dalam mengunggah foto atau menuliskan status. Waktu itu saya berpikir “ihh sirik aja, wong akunku ini, yo sak karepku tho yo mau nulis opo.” Maklum, prinsip saya kan semua orang harus tahu. Padahal waktu itu saya sibuk banget lho kerja sebagai mbak-mbak kantoran yang selalu lembur bareng bos, tapi selalu ada waktu untuk bermedia sosial. Mungkin karena multitasking itu ya jadinya selalu lembur, kebanyakan main medsos. Tanpa main medsos pun ya tetap aja lembur sebenarnya. Waktu kuliahpun begitu, sedang dikejar-kejar revisi tugas, tetap aja lho ada waktu unggah foto di FB atau minimal nyetatus, meskipun mengumpulkan revisi sesuai jadwal walaupun mepet waktunya. Intinya saya dulu eksis sekali lah. Tiada hari tanpa ber FB dan IG. Kalau twitter  saya buka dan seringnya ikut kuis-kuis, makanya dulu saya sering menang kuis di twitter *haha kurang gawean.

Sampai akhirnya saya mengenal Suami. Waktu awal dia ke Surabaya, saya memperhatikan ini orang kok jarang banget ya pegang HP nya. Jadi kalau bersama saya, dia sama sekali tidak menyentuh Hp nya. sedangkan saya, sibuk jeprat jepret sana sini lalu unggah di FB. Trus beberapa menit sekali mengecek, kalau-kalau ada yang komentar atau menekan tombol suka. Sampai waktu itu dia nanya, kok saya sering cek Hp ada apa. Apakah dosen pembimbing mencari saya. Lalu saya jawab dengan santai “nggak, lagi ngecek FB saja.” Dan juga dia heran, kenapa setiap makan harus difoto dulu. Bukannya langsung dimakan. Lalu saya dengan cuek bilang “harus difoto dulu, untuk diunggah ke FB atau IG.” Entah saya tidak ingat reaksi mukanya seperti apa waktu itu, karena fokus saya pada makanan. Kebiasaan menjepret makanan tetap saya lakukan sampai sekarang, kecuali kalau makan sama mertua atau acara makan formal. Malah suami jadi suka mengingatkan “sudah difoto belum makanannya?”

Sebelumnya saya sudah tahu kalau dia tidak punya FB dan IG. Saya berpikir kok bisa ya orang ini tidak punya FB dan IG. Alasannya : karena tidak perlu dan cukup twitter saja. Lalu saya mbatin kok bisa ya hidup tanpa FB dan IG. Yang dikemudian hari saya tahu jawabannya, ya bisa saja karena memang media sosial itu digunakan sesuai kebutuhan. Kalau tidak ada kebutuhannya ya bisa-bisa saja. Seperti saya tidak pernah punya Path, ya karena memang saya tidak butuh makanya tidak punya. Suami saya ini akhirnya punya Instagram setelah satu tahun kawin dengan saya dan ikut-ikutan membuat akun, padahal jarang diisi. Setelah saya tidak punya IG lagi, akunnya ikut terbengkalai tidak pernah ditengok. Ohhh jangan-jangan punya akun IG untuk memantau saya *manggut-manggut *tatapan mata tajam *zoom in zoom out *istri suudzon *lalu minta maaf. Kalau mengingat masa itu, ada sedikit rasa sesal. Kenapa saya terlalu memperhatikan “penghargaan” orang di dunia maya (baca : sibuk bermedsos) yang tidak semuanya saya kenal dengan baik. Kenapa saya tidak fokus dengan orang yang ada di depan atau sekitar saya. Waktu tidak bisa diputar kembali, sesal juga jadi tidak berarti. Sekarang saya mencoba untuk lebih memperhatikan penghargaan orang-orang terdekat saya dan sebaliknya menghargai mereka secara nyata.

Sebelum menikah, saya dan suami sama-sama punya blog. Jadi kami memang dasarnya suka menulis. Bedanya, blog pribadi saya isinya puisi patah hati dan cerpen putus cinta. Ya maklum, dulu kesehariannya kalau tidak patah hati ya putus cinta. Akhirnya daripada linglung, mending saya tuangkan dalam bentuk puisi dan cerpen. Lumayanlah akhirnya dibukukan. Sedangkan blog suami isinya kalau tidak tentang sejarah, politik, musik, ya kritikan dia tentang ini dan itu. Lalu suami mengusulkan, bagaimana kalau kami membuat blog bersama, jadi ya diisi bersama. Dia bilang waktu itu “daripada kamu menulis status ga jelas di FB, mendingan kamu menulis di blog, jadi sekalian bisa melatih menulis panjang semacam artikel.” Akhirnya jadilah blog ini. Walaupun pada akhirnya saya yang dominan dalam mengisi. Tahun kemarin, saya rajin memperhatikan search terms  blog ini. Banyak yang lucu-lucu tetapi tidak sedikit juga yang ternyata mencari informasi detail tentang kami seperti kami menikah secara apa, apakah betul kami menikah, apakah kami sudah punya anak, mencari tahu masa lalu saya dan suami, kami bertemunya di mana, sampai ada yang mencari tahu kami ini agamanya apa (khusus ini, menyusul akan saya tuliskan secara terpisah). Wah, sedap-sedap ngeri juga ya banyak yang mencari tahu secara detail informasi tentang kami.

Pada awal membuat blog ini, saya sudah memberi batasan pada diri sendiri dan saya diskusikan dengan suami apa yang bisa ditulis dan apa yang harus kami simpan sendiri. Bukan berarti ketika kami mempunyai blog bersama terus semuanya bisa diumbar cerita ini dan itu. Banyak hal yang memang selayaknya tidak perlu semua orang tahu misalkan tentang hal-hal yang terjadi dalam RT (we keep our dirty laundry at home), kegiatan secara detail, cerita yang kami pikir tidak perlulah untuk dibagikan ataupun cerita tentang bagian rumah. Syukurlah keputusan itu tepat karena pada akhirnya ternyata memang ada orang-orang di luar sana yang mencari informasi tentang kami. Kami berpikir bahwa kami ini bukan orang terkenal. Jadi tidak perlulah semuanya diceritakan di blog karena tidak semua yang baca blog kami juga butuh cerita detail. Kami tidak bisa mengontrol siapa yang bisa membaca blog ini, jadi yang kami lakukan adalah mengontrol diri sendiri untuk berbagi cerita seperlunya saja, sewajarnya dengan batasan yang telah kami sepakati.

Saat masa-masa bulan madu (kalau tidak salah seminggu setelah menikah), suami pernah bertanya apakah jika kami punya anak, saya akan memajang foto anak dan mengunggahnya secara rutin di media sosial yang saya punya. Saya menjawab dengan haqul yakin “Iya donk!. Dunia harus tahu anak berdarah Jatim dan Belanda,” kira-kira seperti itu jawaban saya. Waktu itu membayangkan pasti bangga sekali saya kalau punya anak berdarah campuran, jadi ya wajiblah dipamer dengan catatan dalam batas wajar ya. Bukan pas mandi atau tidak memakai baju trus diunggah karena terus terang dari dulu saya paling anti dengan orang tua yang mengunggah foto bayinya yang sedang telanjang atau tidak memakai baju secara lengkap. Biasanya saya kasih tahu secara baik. Dan seringnya saya malah kena semprot balik, “ini anak saya, jadi saya tahu mana yang boleh apa tidak. Kamu kan belum punya anak, jadi ga tahu rasanya kalau punya anak yang sedang lucu-lucunya semua orang harus tahu.” Oh ya wes lah, mungkin memang saya yang terlalu rese ya, sok ngasih tahu (padahal saya membayangkan beberapa tahun lagi kalau anak itu melihat fotonya yang telanjang dan setengah telanjang ada di internet dan yang mengunggah orangtuanya sendiri, bagaimana perasaannya. Saya membayangkan, pasti malu). Ok, kembali lagi ke pembahasan foto. Suami lalu menyarankan untuk dipikirkan lagi apakah yang saya akan lakukan itu cukup bijaksana kedepannya untuk anak kami bahkan untuk kami sendiri. Tujuan lainnya selain rasa bangga apa? karena menurut dia justru yang paling berbahaya adalah kejahatan internet yang kami tidak bisa tahu kapan datangnya. Bisa datang cepat atau saat anak sudah beranjak besar. Mungkin dia sudah mengendus nantinya saya akan jadi Ibu yang over share. Waktu itu cuma saya dengarkan lalu menguap tak bersisa sarannya.

Lalu sewaktu saya rajin BW dan berkenalanlah dengan Mbak Yoyen dan mulai membaca satu persatu tulisannya sampai mata saya terantuk pada tulisan tentang SharentSaya membaca sambil mencerna. Lalu perlahan mulai merenung dan menyambungkan apa yang suami saya pernah katakan dan tulisan Mbak Yoyen serta beberapa artikel yang ada di postingan tersebut. Tapi belum masuk ke hati, dibaca, dicerna, lalu hilang lupa. Sampai saatnya saya pindah ke Belanda.

Ketika sampai di Belanda, cara pandang saya terhadap media sosial perlahan namun pasti menjadi berubah. Saya tidak se aktif sebelumnya ketika mengunggah foto ke FB atau IG (yang dikemudian hari akun IG saya malah tidak terdeteksi saking lamanya deactive). Malah ketika saya menghilang dari FB, salah seorang dosen dan teman-teman saya mengirim email, menanyakan kok lama tidak melihat saya di FB (karena dulu terlalu aktif, menghilang pun sampai bisa terdeteksi). Saya menjadi pemilih mana yang harus dibagikan mana yang saya simpan. Semuanya terjadi secara alami, tidak ada paksaan melainkan keinginan sendiri. Saya merasa untuk apa ya terlalu banyak berbagi ini dan itu. Iya kalau berguna, kalau ga berguna kan nyampah jadinya. Lalu saya membaca beberapa tulisan di blog ataupun beberapa artikel di internet tentang media sosial untuk anak. Ya yang berkaitan dengan topik itulah. Lama merenung, mempertimbangkan, berbicara dengan hati sendiri, menurunkan ego, dan melatih diri. Kemudian suatu hari disekitar awal tahun 2016 saya bilang pada suami bahwa saya memutuskan nantinya tidak akan bercerita apapun tentang kehamilan (pernah bercerita tentang keguguran tahun 2015), proses kehamilan, melahirkan proses tumbuh kembang anak dan tidak mengunggah foto anak, sampai mereka bisa menentukan sendiri dan berpendapat bahwa fotonya atau ceritanya bisa dibagikan kepada orang banyak. Bahkan waktu itu saya bilang pada suami bahwa saya tidak akan mengunggah foto hasil USG karena anak pun punya  hak untuk dilindungi privasinya sejak dalam kandungan. Terdengar berlebihan? mungkin iya untuk banyak orang. Tapi buat kami (khususnya saya) lebih baik mencegah dan lebih baik berhati-hati di awal daripada ada sesuatu yang tidak diharapkan terjadi dikemudian hari. Kami bisanya mengontrol sesuai kemampuan kami dan beginilah yang bisa kami lakukan. Kami (terutama saya) tidak paranoid, hanya lebih kepada berhati-hati sebelum bertindak.  Tidak ada alasan buat saya untuk paranoid dengan media sosial. Kami akan membagikan cerita dan informasi hanya pada keluarga dekat dan teman-teman yang kami kenal dengan baik. Kembali lagi, kami tidak bisa mengontrol siapa yang bisa membaca blog ini dan mengakses media sosial kami, tapi kami berusaha untuk mengontrol diri sendiri. Berharapnya sih satu : semoga akan konsisten terlaksana.

Selain daripada yang saya sebutkan di atas, rasa tidak nyaman (lebih tepatnya resah) lainnya muncul ketika membaca tulisan Mbak Yo yang Respect Your Kids Online dan ada sepenggal kalimat yang selalu saya ingat sampai sekarang : Sharents or not what you put on the net stays forever. Waktu itu saya agak tidak percaya sampai saya bertanya ke suami dan dijelaskan secara gamblang olehnya, ditambah saya mencari informasi yang terpercaya tentang hal ini dan akhirnya menjadi percaya setelah membuktikan sendiri. Saya mencoba googling foto dan status lebih dari 10 tahun yang lalu dan saya ingat betul sudah saya hapus ketika memutuskan menggunakan jilbab (jadi ketika memutuskan menggunakan jilbab, semua foto-foto sebelum berjilbab sudah saya hapus semua dari FB dan tidak akan saya munculkan lagi dengan alasan apapun), ternyata masih ada yang muncul. Padahal sudah saya hapus lho dulu. Akhirnya saya percaya kalimat di atas : Sharents or not what you put on the net stays forever. Hal ini berlaku bukan hanya foto, bahkan status-status pun masih bisa terlacak. Ya sudah, anggap saja karena dulu minim sekali pengetahuan tentang internet, jadinya memang tidak tahu dan karena sekarang sudah agak pintar dan sudah belajar mencari tahu kesana kemari, jangan sampai saya mengulangi kecerobohan masa lalu. Semoga kedepannya semakin bijaksana dalam bermedia sosial.

Saya sangat senang sekali dengan keberadaan internet (terutama media sosial), mempermudah hampir semuanya, menguntungkan (jika dipakai secara benar), mendekatkan yang jauh bahkan bisa menjauhkan yang dekat juga. Apa yang terjadi dalam kehidupan saya saat ini, selain karena campur tangan Tuhan juga karena campur tangan internet. Saya tidak bisa sampai pada titik ini tanpa adanya internet. Namun, saat ini saya lebih memilih mengontrol diri dan jari tangan. Berbagi yang sewajarnya, seperlunya, dan tidak berlebihan (meskipun batas berlebihan ini subjektif sifatnya). Memilih lebih berpikir banyak langkah ke depan sebelum mengunggah atau nyetatus di twitter atau menulis di blog. Saya belajar banyak hal dari dunia blog. Banyak ilmu baru dan hal-hal baru yang sangat berguna saya dapatkan dari blog. Karenanya saya suka sekali dengan dunia blog.

Memang benar bahwa namanya media sosial kan wadah untuk berbagi ya. Tapi saya memilih berbagi yang menyamankan hati, tidak merugikan kedepannya untuk saya sendiri maupun keluarga. Kalau saya dan suami masih bisa berpikir dan memilah mana yang bisa untuk diunggah dan dibagikan. Tapi yang belum bisa berpendapat dan menentukan keputusan sendiri kan masih belum tahu apa-apa. Saya suka sekali dengan pujian atau sanjungan, tapi jangan sampai karena terlena dengan sanjungan komentar dan banyaknya like yang didapat, malah menjerumuskan saya untuk melakukan sesuatu yang berlebihan. Saya jadi teringat kata-kata Ibu tempo hari “anak dan orangtua kan tidak bisa saling memilih, anak tidak bisa memilih dilahirkan oleh orangtua mana begitupun sebaliknya. Tapi begitu anak lahir, maka kewajiban orangtua untuk bertanggungjawab penuh melindungi anak sampai mereka bisa melindungi mereka sendiri.” Kalau kata suami, “biarlah mereka nanti ngetop dengan cara mereka sendiri, ga usah nebeng ngetop orangtuanya.” hahaha yang ini minta dijitak.

Semua memang tentang pilihan. Masing-masing orang (atau keluarga) pasti berbeda pilihan dan penyikapan tentang hidup dalam era media sosial ini. Saya tidak bisa menghakimi atau memberi label ini itu jika pilihan orang berbeda dengan pilihan saya dan berharap juga sebaliknya, meskipun pelabelan atau penghakiman pun tanpa sadar ataupun dalam keadaan sadar pernah saya lakukan. Hanya yang selalu saya ingat adalah membuka hati dan pikiran menerima pendapat dan berpikir jauh kedepan, tidak egois berpikir tentang diri sendiri karena saat ini saya hidup tidak lagi sendiri tetapi sudah membangun sebuah keluarga. Untuk saat ini (dan mudah-mudahan kedepannya juga) saya merasa nyaman dengan pilihan ini karena disetiap pilihan yang diambil pasti selalu ada konsekuensi baik buruknya. Saya mencoba untuk lebih bertindak bijaksana dan lebih hati-hati kedepannya hidup di era media sosial karena what you put on the net stays forever.

Film pendek ini membuat saya lebih berhati-hati untuk “nyampah” di media sosial. Di youtube, banyak sekali dokumenter tentang media sosial atau internet. Membuat lebih melek informasi dan lebih berhati-hati.

Ini juga mengingatkan saya pada diri sendiri

-Nootdorp, 21 Maret 2017-