{"id":1434,"date":"2015-05-28T20:00:44","date_gmt":"2015-05-28T20:00:44","guid":{"rendered":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/?p=1434"},"modified":"2015-05-28T20:06:18","modified_gmt":"2015-05-28T20:06:18","slug":"mengapa-gampang-mengeluh","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2015\/05\/mengapa-gampang-mengeluh\/","title":{"rendered":"Mengapa Gampang Mengeluh?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Karena memang mengeluh itu gampang, sangat gampang. Kita tinggal menyalahkan keadaan dan mulai mencari perbandingan. Mengeluh lebih mudah dilakukan daripada harus mencari solusi dari permasalahan yang menyebabkan keluhan. Mengeluh terjadi karena keadaan yang kita alami tidak sesuai dengan kondisi ideal yang kita inginkan. Mengeluh itu menghabiskan banyak energi dan emosi. Semua tersita dan mendadak kita merasa seperti tidak ada daya, karena hanya berfokus pada satu hal yang sebenarnya gampang diselesaikan. Ya, keluhan dapat diselesaikan dengan mencari jalan keluar, bukan diam mematung sambil menatap nanar pada masalah yang ada dihadapan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Awal mula saya datang ke Belanda, tiap hari selalu ada saja keluhan yang terlontar dari mulut saya. Mengeluh karena cuaca yang sangat dingin. Mengeluh susah belajar bahasa Belanda. Membandingkan segala macam barang yang harganya (nampak) lebih mahal daripada Indonesia. Mengeluh susah cari bahan-bahan untuk memasak makanan Indonesia. Mengeluh susah, mahal, dan rasanya tidak enak kalau makan direstoran Indonesia yang ada disini. Intinya selama (mungkin) 2 minggu pertama tiada hari tanpa keluhan. Mengeluh karena toiletnya tidak ada <em>semprotan<\/em> seperti di Indonesia. Ada saja bahan untuk saya keluhkan. Dari hal yang sederhana sampai hal yang besar (menurut saya). Beruntungnya suami punya stok kesabaran yang (mudah-mudahan) banyak, jadi setiap hari mau mendengarkan istrinya yang mengomel segala macam ini dan itu. Namun, perlahan saya kok merasa seperti orang yang tidak waras karena sering <em>uring-uringan<\/em> sendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika memutuskan menikah dan akan pindah ke Belanda, saya sudah tahu konsekuensinya apa saja yang akan terjadi. Adaptasi memang tidak mudah karena saya orang yang susah masuk pada lingkungan baru. Tapi saya tidak punya pilihan, ya harus beradaptasi dan mulai melebur segala kebiasaan yang dulu menjadi sekarang. Jangan membuat perbandingan karena memang semuanya tidak bisa dibandingkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu saya mulai merubah cara berpikir. Kalau saya terlalu banyak mengeluh, maka energi akan habis tanpa ada jalan keluarnya. Mengeluh dan hanya diam ditempat tanpa mencari jalan keluar sama saja seperti orang tidak waras, karena hal itulah yang saya rasakan. Bayangkan kalau kita mengeluh ini itu tapi badan dan pikiran tidak mau bergerak untuk mencari solusinya, bukankah hal itu sama saja membuang energi dengan percuma. Kalau mulai dingin, saya memakai baju rangkap lebih banyak. Memang ruwet diawal, tapi setelahnya menjadi terbiasa. Kalau saya merasa semua harga disini mahal, ya itu kesalahan terbesar karena membandingkannya dengan Indonesia. Perbandingan yang tidak pada tempatnya. Setelah tahu <a href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/?p=1046\">Haagse Markt<\/a> dan setiap minggu mulai berbelanja disana, perlahan saya mulai memasak makanan Indonesia karena dipasar Haagse semua bumbu-bumbu Indonesia mudah ditemukan. Jadi saya tidak mengeluh lagi tentang makanan direstauran Indonesia disini yang tidak terlalu enak rasanya karena saya sudah bisa masak sendiri sesuai selera. Manfaatnya adalah saya mulai bisa belajar masak apapun yang dulu tidak pernah saya bayangkan akan bisa dilakukan. Dan beruntungnya suami memang selalu makan apapun yang saya sajikan, termasuk aneka sambel, ikan asin, bahkan pete juga <em>doyan<\/em>. Bahkan kalau saya (sering) malas memasak, dia dengan senang hati bergantian tempat untuk memasak. Susah belajar bahasa Belanda? ya tetap harus dilakukan meskipun sulitnya bukan main. Saya memutuskan tinggal disini, maka saya juga ingin bisa dengan lancar berbicara dan menulis menggunakan bahasa Belanda. Salah satu cara yang saya lakukan adalah belajar bahasa Belanda disekolah dan langsung praktek ketika bertemu dengan orang Belanda, meskipun dengan kalimat yang masih terbata. Bahkan sekarang saya sudah mulai belajar membuat surat lamaran menggunakan bahasa Belanda meskipun masih sederhana.<\/p>\n<div id=\"attachment_1437\" style=\"width: 510px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a class=\"boxer\" title=\"Sambat = Mengeluh dalam bahasa Jawa \" href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/?attachment_id=1437\" rel=\"attachment wp-att-1437\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-1437\" class=\"size-full wp-image-1437\" src=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/dilarang_sambat.jpg\" alt=\"Sambat = Mengeluh dalam bahasa Jawa \" width=\"500\" height=\"500\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-1437\" class=\"wp-caption-text\">Sambat = Mengeluh dalam bahasa Jawa<\/p><\/div>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika berusaha mencari jalan keluar dari segala macam keluhan yang terlontarkan, saya menjadi sibuk memperbaiki diri, dan tidak ada waktu lagi untuk mengeluh. Apakah saya sekarang tidak pernah mengeluh lagi? Saya manusia biasa dan mengeluh itu manusiawi sekali. Jadi ada saatnya saya tetap mengeluh, hanya saja porsinya semakin mengecil dan tidak berlama-lama tertimbun diantara keluhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Hidup itu memang tidak gampang, namun bukannya tidak mungkin juga untuk dijalani. Masalah memang selalu ada, tapi bukan hal yang mustahil untuk diselesaikan. Klasik memang, tetapi dengan mengeluh saja tidak akan pernah membuat hidup menjadi lebih baik. Selesaikan dan cari jalan keluarnya. Semakin kita sibuk memperbaiki diri, semakin kita sedikit waktu untuk mengeluh. Bersyukur dan berusaha dengan cerdas untuk menjadi lebih baik akan membuat kita sadar bahwa keluhan membuat hidup semakin <em>ruwet<\/em>. Membandingkan keadaan kita dengan orang lain itu wajar dengan catatan bahwa hal tersebut menjadikan wadah introspeksi kepada diri sendiri. Rumput tetangga seringkali memang lebih hijau. Tetapi jika kita merawat, menyirami, dan memberi pupuk pada rumput dipekarangan sendiri, niscaya hal tersebut tidak akan membuat kita sibuk untuk selalu melihat rumput tetangga.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mengeluh memang manusiawi. Tetapi sibuk mengeluh di sosial media tidak akan menjadikan apa yang kita keluhkan menjadi terselesaikan. Tidak perlu dunia tahu apa yang terjadi dengan &#8220;dapur&#8221; kita. Simpan &#8220;pakaian kotor&#8221; kita pada tempat yang sesuai, itu jauh lebih bijaksana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selamat berakhir pekan dengan ceria dan tanpa keluhan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">-Den Haag, 28 Mei 2015-<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Gambar dipinjam dari <a href=\"http:\/\/www.masrafa.com\/mengeluh\/\">sini<\/a> dan <a href=\"https:\/\/twitter.com\/wagimin21\">sini<\/a>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Karena memang mengeluh itu gampang, sangat gampang. Kita tinggal menyalahkan keadaan dan mulai mencari perbandingan. Mengeluh lebih mudah dilakukan daripada harus mencari solusi dari permasalahan yang menyebabkan keluhan. Mengeluh terjadi karena keadaan yang kita alami tidak sesuai dengan kondisi ideal&#8230; <a class=\"read-more-button\" href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2015\/05\/mengapa-gampang-mengeluh\/\">(READ MORE)<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-1434","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-story"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1434"}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1434"}],"version-history":[{"count":4,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1434\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1440,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1434\/revisions\/1440"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1434"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1434"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1434"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}