{"id":1645,"date":"2015-07-18T02:13:29","date_gmt":"2015-07-18T02:13:29","guid":{"rendered":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/?p=1645"},"modified":"2015-07-18T02:24:33","modified_gmt":"2015-07-18T02:24:33","slug":"lebaran-pertama-di-belanda","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2015\/07\/lebaran-pertama-di-belanda\/","title":{"rendered":"Lebaran Pertama di Belanda"},"content":{"rendered":"<p>Dua hari menjelang Lebaran yang jatuh pada hari Jumat 17 Juli 2015, perasaan saya berkecamuk sedih. Tidak dapat dipungkiri saya rindu suasana menjelang lebaran di Ambulu, Jember atau di Nganjuk. Meskipun saya dan adik-adik tinggal di Situbondo, tapi sejak kecil kami tidak pernah merayakan lebaran disana. Alasannya simpel : kami tidak punya saudara disana karena Bapak dan Ibu adalah pendatang. Tahun 2014 pertama kali kami berlebaran di Situbondo karena satu minggu setelahnya saya menikah. Jadi lebaran tahun kemarin juga disibukkan oleh persiapan pernikahan. Sehingga selama ini kalau lebaran ya identik dengan Ambulu atau Nganjuk. Suasana takbir keliling sambil bawa oncor, pelepasan balon raksasa di Ambulu, arak-arakan penduduk desa yang mendatangi masing-masing rumah setelah sholat Ied, sholat Ied bersama, makanan khas keluarga seperti : pecel ayam pedes, lodeh pedes tahu tempe, brongkos laos, brengkes pindang, sambel goreng kentang telur puyuh, penyet lele dan ikan mujaer, serta kue-kue lebaran khas desa. Hal-hal seperti itulah yang dirindukan sehingga membuat saya menangis terus menjelang lebaran tahun ini karena merasa <i>nelongso<\/i> tidak dapat merasakan &nbsp;suasana lebaran yang selalu menemani sejak masih kecil. Tapi yang membuat makin sedih bahwa saya jauh dari Ibu, tidak bisa sungkem, tidak bisa <i>nyekar <\/i>ke kuburan Bapak. Mas Suami sampai bingung melihat saya menangis terus menerus.<\/p>\n<p>Namun kesedihan tersebut sedikit terobati ketika Jumat pagi saya memulai bersiap untuk Sholat Ied di Masjid Al Hikmah di Den Haag. Menurut sejarahnya, Masjid yang terletak di Moerwijk ini dulunya adalah Gereja yang bernama Immanuel. Pada tahun 1995 Gereja tersebut dibeli oleh pengusaha Probosutedjo dan diwakafkan atas nama kakaknya yang wafat di Leiden. Mengapa Gereja? Untuk mendirikan bangunan baru di Belanda tidak mudah sementara pada saat itu banyak Gereja yang tidak lagi difungsikan dan dijual kepada umum. Menurut salah satu pengurusnya, masyarakat sekitar Gereja lebih senang Gereja tersebut difungsikan untuk Masjid dibandingan kepentingan lainnya, misalkan Diskotik.<\/p>\n<p>Dengan berganti bis dan tram, dalam waktu setengah jam saya sudah sampai di Masjid Al Hikmah. Sholat Ied baru akan dimulai jam 10 pagi, tetapi salah sorang kenalan bercerita lebih baik datang pagi sekali karena jika datangnya mepet maka kemungkinan tempat sudah penuh. Akhirnya saya sampai Masjid jam 8.30 dan benar saja &nbsp;saya masih mendapat Shaf pertama diruangan bawah. Sepanjang mata memandang jamaahnya mayoritas memang dari Indonesia dan sebagian kecil dari bangsa negara lain. Ceramahnya menggunakan bahasa Indonesia. Mendengar suara takbir yang dikumandangkan langsung didalam Masjid, saya kembali menangis. Betapa saya memang merindukan datang ke Masjid. Ibu-ibu yang ada disebelah saya datang dari Paris dan Belgia untuk sholat di Masjid ini. Sholat dimulai tepat jam 10 pagi. Ditengah-tengah sholat ada beberapa anak kecil menangis kencang. Saya <i>mbatin &#8220;ga di Indonesia, ga di Den Haag, masih aja ada suara anak kecil menangis kalau pas sholat Ied atau Idul Adha. Mbok ya anaknya ditinggal dirumah atau kalau memang ga ada yang jaga, mbok ya ga usah ikut sholat di Masjid, kan bisa dilakukan sendiri dirumah daripada mengganggu jamaah lainnya.&#8221;<\/i>&nbsp;<\/p>\n<p>Jam 10.30 Sholat Ied dan ceramahnya selesai. Saya yang memang datang sendirian dan tidak mengenal siapa-siapa disana, langsung keluar dari Masjid setelah bersalaman dengan beberapa Ibu.&nbsp;<\/p>\n<p><div style=\"width: 876px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/IMG_3256.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"866\" height=\"650\" alt=\"Suasana setelah bubaran Masjid nampak dari kejauhan\" src=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/IMG_3256.jpg\" title=\"Suasana setelah bubaran Masjid nampak dari kejauhan\" class=\"size-medium\"><\/a><p class=\"wp-caption-text\">Suasana setelah bubaran Masjid nampak dari kejauhan<\/p><\/div>Setelah dari Masjid, saya langsung meluncur ke acara selanjutnya yaitu open house di Salero Minang. Beberapa hari sebelum lebaran, Uni Rita pemilik Salero Minang membuat pengumuman di Facebook akan mengadakan Open House. Tanpa berpikir panjang saya langsung mendaftar. Lumayan daripada dirumah sedih sendiri mending &#8220;<i>kelayapan&#8221; <\/i>mencari kegiatan. Karena Restoran padang maka menu yang disediakan adalah lontong Padang, teri kacang, telur balado, beberapa kue-kue. Senang sekali berkenalan dengan beberapa orang baru.<\/p>\n<p>Setelahnya saya pulang untuk istirahat sebentar. Jam 4 sore saya dan suami berangkat ke Halal Bihalal KBRI yang diadakan di Event Plaza, Rijswijk. Karena saya memang belum punya banyak kenalan disini, niat datang kesana karena ingin tahu suasananya dan niat makan. Sesampainya disana ternyata ruangan sudah penuh, antrian makan mengular, dan ada beberapa yang sedang poco-poco mengikuti alunan musik dan lantunan suara penyanyi dipanggung.&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/IMG_3266.jpg\"><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/IMG_3266.jpg\" alt=\"\"><\/a>&nbsp;&nbsp;<a href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/IMG_3268.jpg\"><img decoding=\"async\" src=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/IMG_3268.jpg\" alt=\"\"><\/a>&nbsp;<br \/>\nAntrian makanan dengan menggunakan sistem kupon yang diberikan ketika pertama kali kita masuk ruangan. Satu orang satu kupon. Ditengah mengantri, tiba-tiba ada yang memberikan 2 kupon tambahan ke suami. Jelas saja dia langsung senang sekali. Menunya adalah opor ayam, lontong, sayur lodeh, sambal goreng kentang ati, kerupuk, sambal terasi, dan telor balado. Saya kemarin memang niat tidak masak karena sudah tahu kalau seharian akan numpang makan disana sini.&nbsp;<div style=\"width: 970px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/IMG_3276.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"960\" height=\"717\" alt=\"Bertemu beberapa kenalan\" src=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/IMG_3276.jpg\" title=\"Bertemu beberapa kenalan\" class=\"size-custom\"><\/a><p class=\"wp-caption-text\">Bertemu beberapa kenalan<\/p><\/div>&nbsp;<\/p>\n<p>Saya dan Suami mengucapkan selamat lebaran, maaf untuk khilaf kata dan perbuatan, semoga kita semua dipertemukan lagi dengan Ramadan akan datang dalam keadaan yang lebih baik supaya dapat beribadah lebih baik juga.&nbsp;<\/p>\n<p><div style=\"width: 497px\" class=\"wp-caption alignnone\"><a href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/IMG_3273.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"487\" height=\"650\" alt=\"Pertama kali memakai Batik :)\" src=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/IMG_3273.jpg\" title=\"Pertama kali memakai Batik :)\" class=\"size-medium\"><\/a><p class=\"wp-caption-text\">Pertama kali memakai Batik \ud83d\ude42<\/p><\/div><br \/>\n-Den Haag, 18 Juli 2015-<\/p>\n<p>&nbsp;&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dua hari menjelang Lebaran yang jatuh pada hari Jumat 17 Juli 2015, perasaan saya berkecamuk sedih. Tidak dapat dipungkiri saya rindu suasana menjelang lebaran di Ambulu, Jember atau di Nganjuk. Meskipun saya dan adik-adik tinggal di Situbondo, tapi sejak kecil&#8230; <a class=\"read-more-button\" href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2015\/07\/lebaran-pertama-di-belanda\/\">(READ MORE)<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1644,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1645","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1645"}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1645"}],"version-history":[{"count":2,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1645\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1648,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1645\/revisions\/1648"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1644"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1645"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1645"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1645"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}