{"id":3704,"date":"2017-03-09T22:31:45","date_gmt":"2017-03-09T21:31:45","guid":{"rendered":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2017\/03\/09\/tentang-aksen-bicara\/"},"modified":"2017-03-09T22:31:45","modified_gmt":"2017-03-09T21:31:45","slug":"tentang-aksen-bicara","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2017\/03\/tentang-aksen-bicara\/","title":{"rendered":"Tentang Aksen Bicara"},"content":{"rendered":"<p>Yang mau saya ceritakan pada tulisan kali ini saya sendiri tidak yakin apakah menyebutnya aksen atau logat. Kalau saya biasa menyebut logat. Tapi kalau dari KBBI Aksen dan Logat artinya sama.&nbsp;<\/p>\n<p>Jadi begini, saya ini logat bicara gampang sekali terpengaruh tempat di mana saya tinggal agak lama. Contohnya sewaktu bekerja di Jakarta, kantor sering mengirim saya untuk perjalanan bisnis ke beberapa daerah di beberapa pulau di luar Jawa. Kalau saya tinggal seminggu saja misalkan di Manado, sewaktu kembali ke Jakarta, pasti logat bicara saya sudah seperti orang Manado. Begitu juga kalau saya ke Makassar dan beberapa kota lainnya. Hampir selalu logat bicara saya berubah setelah selesai perjalanan bisnis. Orang-orang di kantor sampai menyebut logat saya sudah menyerupai bunglon bisa berubah dengan cepat. Saya juga menyadari itu dan saya sendiri juga heran kok ya gampang sekali logat bicara bisa berubah, semacam terlalu menjiwai haha.<\/p>\n<p>Anehnya, sejak kecil kan saya tinggal di lingkungan yang mayoritas masyarakatnya dari suku Madura (kota Situbondo). Saya dibesarkan dalam keluarga Jawa. Otomatis bahasa Ibu untuk saya adalah Jawa dan Madura. Walaupun saya lancar sekali berbahasa Madura (ya sebatas bahasa pergaulan, bukan yang bahasa Madura halus), tapi entah kenapa saya susah ngomong bahasa Madura dengan logat Madura. Jadi kalau saya ngobrol memakai bahasa Madura, logatnya ya Jawa. Kalau adik saya yang perempuan justru kebalikannya. Dia ngomong bahasa Jawa dengan logat Madura. Padahal Bapak dan Ibu ada aturan di rumah, tidak boleh berbicara bahasa Madura kalau sudah di dalam rumah. Wajib menggunakan bahasa Jawa. Adik saya ternyata tidak bisa lepas dengan logat Madura.<\/p>\n<p>Nah, selama 13 tahun tinggal di Surabaya, logat Jawa saya berubahlah menjadi Suroboyoan. Selain suara saya semakin kencang (koyok nelan toa kata teman-teman saya haha) juga medok Suroboyoan semakin menjadi. Ketika tinggal di Jakarta hampir 7 tahun, logat Suroboyoan tidak hilang dan tidak terpengaruh dengan logat ala Jakarta. Sampai bos saya selalu tertawa kalau mendengar saya sedang ngobrol dengan teman di telpon memakai bahasa Jawa, &#8220;gw nih kalo denger Deny ngomong pakai bahasa Jawa sama temennya, gw pikir dia lagi bertengkar lho. Gila, intonasinya kayak orang ngajak berantem. Belum lagi Jawanya bledak bleduk kayak polisi tidur&#8221; hahaha selalu Beliau komentar ke orang-orang seruangan. Bahkan ketika saya kirim video ke Beliau sewaktu rekaman pertama Net CJ tayang, komentarnya &#8220;gila Den, lo sudah dua tahun tinggal di Belanda tetap aja ngomongnya bledak bleduk ya, suami lo ga pusing tuh&#8221; hahaha. Dan Beliau tetap tidak paham kenapa sampai detik terakhir saya meninggalkan Jakarta untuk kembali ke Surabaya, logat saya tetap Jawa Suroboyoan. Tidak terpengaruh dengan logat Jakarta. Apalagi saya tidak pernah menyebut &#8220;lo gue&#8221; selama tinggal di Jakarta. Kalau tidak &#8220;aku kamu&#8221; atau &#8220;saya kamu&#8221;. Aneh saja buat saya sebagai pendatang di Jakarta kalau harus menyebut &#8220;lo gue&#8221;. Masalah tidak terbiasa.<\/p>\n<p>Itu cerita seputar bahasa daerah ya. Kalau logat bahasa daerah, saya bisa mendeteksi sendiri kalau logat saya berubah. Sekarang saya mau bercerita tentang logat bicara yang terpengaruh aksen bahasa negara lain seperti Inggris dan Belanda. Sewaktu di Surabaya, saya sempat bekerja tidak sampai satu tahun di perusahaan rokok besar. Pemilik sahamnya ada yang dari Amerika. Jadi banyak atasan yang berasal dari Amerika. Karena saya termasuk dalam departemen marketing, jadinya saya sering ada rapat dengan mereka karena harus presentasi dan berdiskusi banyak hal. Nah, suatu saat setelah selesai rapat, seorang kolega bilang kalau aksen bahasa Inggris saya sama persis dengan aksen atasan-atasan yang dari Amerika tersebut. Wah, saya kok tidak sadar ya. Saya berbicara mana sempat mikir aksen segala. Wong mikir tata bahasa saja susah. Lalu sewaktu di Jakarta, saya bekerja di perusahaan yang kantor pusatnya ada di Filipina. Jadi, banyak orang Filipina di kantor termasuk atasan saya langsung. Karena sehari-hari selalu ngobrol (cieee ngobrol *sok ikrib *padahal ngobrol angka penjualan) dengan mereka dan saya selalu mendengarkan mereka berbicara menggunakan bahasa Tagalog satu sama lain, tanpa disadari kalau saya berbicara dalam bahasa Inggris tetapi logatnya Tagalog haha. Nah, bos saya yang komentar bledak bleduk, bilang ke saya &#8220;lo kok bisa sih ngomong bahasa Inggris logatnya Tagalog?&#8221; hahaha lha ya mana saya tau. Saya tidak merasa, tapi hampir semua orang bilang seperti itu. Ya sudahlah, pasrah.<\/p>\n<p>Kalau tadi cerita dalam kehidupan nyata, maksudnya saya berubah logat karena berinteraksi langsung. Jangan salah, gara-gara keseringan melihat Masterchef yang edisi Australia, bahasa Inggris saya sok-sok ikutan aksen Australia. Saya merasa kok agak mirip dengan British ya aksennya Australia ini? Atau hanya perasaan saya saja. Nah, saya merasa aksen British ini kok sexy ya. Apa gara-gara saya terpesona sama Jude Law. Sampai saat ini, motivasi saya ingin ke Inggris karena ingin mendengar langsung orang-orang Inggris kalau ngobrol. Pasti terdengar menarik.<\/p>\n<p>Selama dua tahun di Belanda, saya tidak pernah terpikir sama sekali tentang aksen. Saya merasa semua orang Belanda aksennya sama, kecuali Belanda bagian utara dan selatan yang memang saya sadari aksennya berbeda bahkan Friesland punya bahasa sendiri. Karena sehari-hari saya berbicara bahasa Belanda dengan orang-orang di seputaran Den Haag, jadi saya tidak sadar kalau ternyata orang Den Haag juga punya aksen sendiri. Saya tahunya saat berkunjung ke rumah teman yang di daerah Limburg. Suaminya bilang bahasa Belanda saya aksennya seperti orang Belanda atas. Walah, saya mikir tata bahasa Belanda saja sudah puyeng, syukur-syukur bisa bicara bahasa Belanda. Tidak terpikir sama sekali tentang aksen. Tapi lumayan bikin senyam senyum sih dipuji bahasa Belanda saya beraksen. Penjiwaan ada hasilnya haha. Tapi karena sehari-hari ngobrolnya dengan suami, apalagi di tempat kerja ngobrol dengan para oma opa, jadinya ikut terbawa juga aksennya.<\/p>\n<p>Ada yang punya pengalaman seperti saya? Gampang terpengaruh aksen?<\/p>\n<p>-Nootdorp, 8 Maret 2017-<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Yang mau saya ceritakan pada tulisan kali ini saya sendiri tidak yakin apakah menyebutnya aksen atau logat. Kalau saya biasa menyebut logat. Tapi kalau dari KBBI Aksen dan Logat artinya sama.&nbsp; Jadi begini, saya ini logat bicara gampang sekali terpengaruh&#8230; <a class=\"read-more-button\" href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2017\/03\/tentang-aksen-bicara\/\">(READ MORE)<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-3704","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-story"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3704"}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3704"}],"version-history":[{"count":0,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3704\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3704"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3704"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3704"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}