{"id":4334,"date":"2018-05-13T21:23:27","date_gmt":"2018-05-13T20:23:27","guid":{"rendered":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2018\/05\/13\/minggu-kelabu\/"},"modified":"2018-05-13T21:53:03","modified_gmt":"2018-05-13T20:53:03","slug":"minggu-kelabu","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2018\/05\/minggu-kelabu\/","title":{"rendered":"Minggu Kelabu"},"content":{"rendered":"<p>Harusnya hari ini, minggu 13 Mei 2018, adalah hari yang menyenangkan. Di Belanda (dan beberapa negara lainnya) hari ini diperingati sebagai Hari Ibu. Saya sudah membayangkan pagi hari saya akan dapat kejutan (entah itu apa) lalu sorenya kami sekeluarga akan ke rumah Mama karena memang sudah tradisi kalau Hari Ibu, seluruh keluarga akan kumpul di rumah Mama, yang artinya bisa ngobrol ngalur ngidul dengan semua dan tentu saja banyak makanan. Nyatanya, hari minggu ini menjadi minggu kelabu yang mampu memporakporandakan perasaan saya. Sedih sampai menangis, bingung sampai bengong, hati rasa tercabik-cabik mendengar dan membaca berita duka datang silih berganti.<\/p>\n<p>Sekitar jam 3 dini hari (waktu Belanda) saya terbangun, lalu jam 4 saya kembali tertidur. Seperti biasa, saya buka dulu sebentar twitter untuk membaca berita apa yang ada di Indonesia atau dunia. Sebenarnya mata saya sudah sepet mengantuk, jadi membaca beberapa berita dengan setengah sadar. Saya tersentak begitu membaca ada berita bom meledak di beberapa Gereja di Surabaya. Seperti tidak percaya, Surabaya?! Bagaimana mungkin?!. Kota yang sempat saya tinggali selama 13 tahun adalah kota yang adem ayem meskipun penghuninya terkenal dengan keras dan cepat panasnya. Tapi percayalah, kota itu meskipun nampak galak dan garang, sesungguhnya sangatlah adem ayem. Masyarakatnya hidup berdampingan dengan segala perbedaannya. Bahkan saat kerusuhan di Jakarta tahun 98, di Surabaya ya aman dan adem ayem. Saya lalu menuliskan di grup wa sahabat-sahabat saya apakah benar ada bom di Surabaya. Lalu karena memang mengantuk sekali, saya tertidur kembali sampai jam 7 bangun. Dan kembali membuka twitter dan wa, ternyata benar adanya bom itu. Hati saya retak. Sedih campur kesal. Hal tersebut sempat teralihkan karena saya diberi kejutan satu buket bunga dan coklat sebagai hadiah dihari Ibu.<\/p>\n<p>Sekitar jam 9 pagi, Ibu berkirim pesan di wa, menanyakan kabar kami sekeluarga. Setelahnya Ibu menyampaikan berita duka. Salah satu teman SMP saya yang juga rekan kerja Ibu, pagi dini hari meninggal dunia. Teman saya ini meninggalkan satu anak perempuan yang masih kecil dan seorang istri. Hati saya kembali remuk. Walaupun saya tidak dekat dengan dia, tapi saya kenal dengan baik bagaimana betapa baiknya dia, pintar dan juga pekerja keras sehingga dia bukan hanya PNS tetapi juga mempunyai beberapa usaha yang sukses. Saya ingat betul, sewaktu Ibu sedang dioperasi, ternyata Bapak dia juga sedang sakit. Kamar pasien saling berhadapan. Waktu itu dia sering menghibur saya untuk sabar menghadapi ujian hidup. Padahal keadaan dia tidak lebih baik dari keadaan saya, tapi dia tetap memberikan semangat untuk saya. Pada saat saya kawin, dia datang ke kawinan kami. Itu terakhir saya bertemu dia. Sewaktu Ibu ke Belanda, Ibu menyampaikan salam dari dia. Katanya kalau saya pulang, minta dikabari karena ingin berjumpa. &#8220;Belum juga aku sempat pulang As, kamu sudah pergi. Gone too soon! Semoga kamu tenang ya disisiNya dan semoga keluargamu diberikan kekuatan dan ketabahan.&#8221; Saya sedih jika teringat anak perempuannya, sudah kehilangan seorang Bapak diusia yang masih belia.<\/p>\n<p>Menjelang siang, kembali saya sekilas membuka twitter. Begitu membaca bahwa ada anak-anak yang menjadi korban, perasaan saya kembali berkecamuk sedih. Anak-anak itu pasti dengan semangat bangun pagi dan senang karena akan beribadah di Gereja. Sesampainya di sana, ada bom meledak. Apa yang salah dengan mereka? Mereka ingin beribadah, berucap syukur pada Tuhan, ingin berdoa. Apa yang salah dengan mereka sehingga mereka yang tak tahu apa-apa ikut menjadi korban? Lalu saya kembali membaca bahwa dua orang anak kecil diajak Ibunya untuk membunuh, meledakkan diri. Kegilaan apalagi ini. Anak-anak itu masih kecil. Kenapa harus melibatkan mereka. Tugas mereka hanyalah bermain, bersenang-senang dengan teman-temannya. Kenapa harus diajak membunuh orang-orang yang akan beribadah? Sebenarnya apa sih yang dicari oleh para pembunuh ini? Apa yang sebenarnya mereka benci sehingga harus membunuh. Sebegitu bencikah mereka sampai harus membunuh? Punya hak apa mereka sebagai sesama makhluk Tuhan dengan pongahnya bisa bertindak sebagai pencabut nyawa? Tidak bisakah hidup berdampingan dalam perbedaan. Toh yang menciptakan berbeda juga Tuhan, lalu mengapa harus dilenyapkan perbedaan itu?<\/p>\n<p>Sore hari kami ke rumah Mama. Begitu pintu terbuka, Mama langsung memberondong dengan banyak pertanyaan terkait Bom di Surabaya. Sudah saya duga akan banyak pertanyaan terlontar dan ada banyak pasang mata menunggu penjelasan dari saya. Yang keluarga kami sesalkan dan juga seperti kekesalan saya adalah kenapa harus melibatkan anak-anak?! Kenapa?!<\/p>\n<p>Sore hari menjelang malam, kembali ada berita ledakan di Sidoarjo. Hari yang melelahkan terus terang untuk saya mendengar banyak berita duka dari tanah air. Banyak pertanyaan berkecamuk silih berganti datang dan pergi.<\/p>\n<p>Terkait teman saya yang meninggal, saya kembali berpikir bahwa memang usia adalah rahasia Ilahi. Bahkan sedetik kedepan kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Hal ini semakin mengingatkan saya untuk mempergunakan waktu yang tersisa sebaik dan sebermanfaat mungkin. Nikmati secara maksimal waktu bersama orang-orang yang kita cintai dan sampaikan rasa sayang kita pada mereka. Berbuat hal-hal yang bermanfaat, karena kita tidak pernah tahu kapan saat itu akan datang. Kalau ingat kematian, rasanya ga ada nyali untuk sombong. Apa yang akan kita sombongkan karena semua ini memang hanya titipan, apa iya kita akan bawa semua ini ke liang kubur?<\/p>\n<p>Terkait teroris, pertanyaan yang selama ini mengganjal saya adalah : banyak yang bilang bahwa terorisme itu jangan dikaitkan dengan agama karena perbuatan teror itu tak mengenal agama. Tapi kenapa selama ini teroris yang ada di Indonesia (saya hanya ingin fokus yang di Indonesia, karena mengamati hanya di Indonesia) selalu menggunakan atribut atau berpakaian secara Islam? Meneriakkan kalimat-kalimat yang ada di agama Islam? Lalu dengan kenyataan seperti itu, apakah tetap tidak bisa dikatakan bahwa teroris itu tidak beragama Islam? Toh nyata-nyata yang mereka lakukan katanya adalah jihad. Jihad macam apa, tujuannya apa? Kalau mereka ingin masuk surga dengan cara seperti itu dan ingin mengapling surga hanya untuk kaum mereka saja, monggo silahkan. Lebih baik saya tidak ada kaplingan di manapun daripada hidup saya merugikan orang lain dan membuat kerusakan saja. Sebenarnya apa yang mereka benci? Mengapa mereka sangat benci sehingga harus membunuh banyak orang? Oh Tuhan, banyak sekali hal-hal yang berkecamuk di kepala saya sampai saat ini lebih dari jam 10 malam saya masih belum bisa tidur. Masih memikirkan anak-anak kecil tak berdosa itu.<\/p>\n<p>Doa saya teriring untuk para korban dan keluarga korban.<\/p>\n<p>Dan untuk para pembunuh, Damn you Teroris!<\/p>\n<p>-Nootdorp, 13 Mei 2018-<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Harusnya hari ini, minggu 13 Mei 2018, adalah hari yang menyenangkan. Di Belanda (dan beberapa negara lainnya) hari ini diperingati sebagai Hari Ibu. Saya sudah membayangkan pagi hari saya akan dapat kejutan (entah itu apa) lalu sorenya kami sekeluarga akan&#8230; <a class=\"read-more-button\" href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2018\/05\/minggu-kelabu\/\">(READ MORE)<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-4334","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-story"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4334"}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4334"}],"version-history":[{"count":5,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4334\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4339,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4334\/revisions\/4339"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4334"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4334"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4334"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}