{"id":4344,"date":"2018-05-27T21:20:06","date_gmt":"2018-05-27T20:20:06","guid":{"rendered":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/?p=4344"},"modified":"2018-05-27T21:20:09","modified_gmt":"2018-05-27T20:20:09","slug":"tentang-me-time","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2018\/05\/tentang-me-time\/","title":{"rendered":"Tentang \u201cMe Time\u201d"},"content":{"rendered":"<p>Saya ini aslinya anak rumahan. Lebih senang menghabiskan waktu senggang di rumah daripada keluyuran. Enak banget kalau bisa leyeh-leyeh di kasur, baca buku, mendengarkan musik, tidur, makan, ulangi berkali-kali. Sewaktu masih di Indonesia dan berstatus karyawati, hari yang saya tunggu jelasnya adalah sabtu dan minggu. Di dua hari itu saya bisa sepuasnya tinggal di kamar. Syukur-syukur kalau dikasih makan sama Ibu kos, jadi saya tidak perlu masak atau sampai ke luar rumah beli makan. Bersantai di kamar itupun dengan catatan saya tidak ada pekerjaan ke luar kota pada akhir pekan. Yang pada kenyataannya malah sering ke luar kota. Me time saya dulu itu adalah ke toko buku, nonton bioskop, bersemedi di kamar, ke perpustakaan, lari pagi, ngelamun di beberapa taman di Jakarta (Taman Suropati lebih seringnya, nonton orang-orang latihan musik), ke pasar, masak, dan ke TMII nonton pertunjukan gratis di sana. Seringnya dulu me time itu beneran sendiri, karena saya memang lebih suka ke mana-mana sendiri. Jarang punya temen sih sejak dulu kala. Dan ya, tetap hidup damai sentausa sampai sekarang walaupun yang namanya teman bisa dihitung dengan jari tangan.<\/p>\n<p>Nah, sejak menikah, tetap donk saya membutuhkan me time. Namanya juga awalnya seorang individu ya, jadi begitu menikah pun tetaplah jiwa individunya ada. Bersyukurnya saya mendapatkan suami yang satu pemikiran tentang hal ini. Jadi setiap bulan, kami pasti mempunyai waktu untuk sendiri. Entah saya yang ke luar rumah, dia yang ke luar rumah, atau kami berdua ke luar rumah dengan rute yang berbeda.<\/p>\n<p>Nah, walaupun pada dasarnya saya orang rumahan, tapi saya juga tipe yang petakilan. Apalagi di Belanda ini kan matahari nongol bisa dihitung maksimal hanya beberapa hari dalam setahun. Jadi begitu matahari muncul apalagi kalau angin tidak begitu kencang, pastilah kaki saya gatal ingin ke sana ke mari. Selama hampir 4 tahun menikah, me time yang saya lakukan seringnya adalah saya yang ke luar rumah. Maklum, suami lebih orang rumahan dibanding saya.<\/p>\n<p>Ke luarnya seringnya tidak jauh-jauh juga. Ke kota lain sekitaran kota kami tinggal. Tapi me time yang paling jauh saya lakukan adalah ke Berlin beberapa hari pada tahun 2016.<\/p>\n<p>Kenapa sih masing-masing daru kami butuh waktu sendiri? Seperti yang saya tulis sebelumnya, karena walaupun kami menikah, tetapi tidak setiap waktu kami harus selalu runtang runtung terus bersama. Me time itu seperti nge-charge. Kami biasanya mulai &#8220;berpisah&#8221; tidak ketemu sebelum makan siang sampai setelah makan malam baru kembali bertemu. Kalau saya atau suami dalam perjalanan pulang, baru kami saling berkirim kabar kira-kira jam berapa sampai di rumah. Jadi selama satu hari tidak barengan itu, kami tidak saling berkirim kabar. Benar-benar menikmati waktu sendiri.<\/p>\n<p>Rasanya bagaimana? Senang jelasnya. Kami sehari-hari sudah sangat disibukkan dengan kegiatan masing-masing dan kegiatan bersama yang berhubungan dengan rumah tangga. Jadi begitu ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang disukai tanpa harus bersama pasangan, pastinya senang. Tapi tidak semua merasa ini hal yang wajar lho, maksudnya keluar rumah tanpa suami menikmati kegiatan yang diinginkan. Tidak bergerombol bersama kenalan atau teman yang lain ya. Beberapa kali saya berjumpa dengan orang Indonesia dan ketika tahu saya kelayapan tanpa suami, langsung dikomentari ini itu (yang agak mengganggu telinga). Bahkan saya sering lho nonton bioskop sendiri. Lha wong nonton konser saja sendiri, suami tidak menemani. Ah ya wes lah. Wes biyasa dapat komentar apapun. Saya dari dulu memang tidak suka runtang runtung bergerombol. Lebih nyaman ke sana sini sendirian kalau tidak ditemani suami.<\/p>\n<p>Kembali lagi ke hal me time. Sehari jauh dari masing-masing pasangan tentu saja membuat kangen lho. Entah, rasanya seperti kangen kayak masa muda dulu itu. Kalau sudah dekat dengan rumah, deg-degan rasanya mau ketemu suami sendiri hahaha norak ya. Tapi memang betul itu yang saya rasakan. Me time yang bisa menimbulkan kupu-kupu beterbangan di perut ketika kami bertemu kembali saat malam di rumah.<\/p>\n<p>Beberapa minggu lalu, saya keluar rumah ke Den Haag hampir seharian tanpa suami. Kali ini jalan-jalan dan kulineran sekitaran Den Haag dengan 3 orang teman dekat. Dari jam 10 pagi sampai jam 8 malam sampai rumah. Ketika akan pulang menunggu tram, saya bilang suami kalau tramnya masih tunggu 5 menit lagi. Jadi kira-kira sampai rumah jam 8 malam. Saat sudah sampai di halte terakhir dekat rumah, keluar tram suami sudah menunggu. Lho saya terkejut, tumben dijemput padahal jalan kaki ke rumah cuma 5 menit. Lalu kami berjalan kaki bareng dan seperti biasa dia menggandeng tangan saya, lalu saya menggoda dia,&#8221;kok tiba-tiba kamu nongol. Tumben jemput.&#8221; Dia jawab,&#8221;iya nih sepi rumah. Aku kelimpungan padahal sudah menyibukkan diri ini itu.&#8221;<\/p>\n<p>Dikasih kejutan dengan dia menjemput tanpa pemberitahuan saja sudah membuat saya tersenyum simpul pipi menghangat sepanjang jalan menuju rumah.<\/p>\n<p>Kalau menurut kalian, apakah perlu punya me time? Kalau yang sudah berpasangan atau punya anak (-anak me time seperti apa sering dilakukan dan berapa lama?<\/p>\n<p>-Nootdorp, 27 Mei 2018-<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya ini aslinya anak rumahan. Lebih senang menghabiskan waktu senggang di rumah daripada keluyuran. Enak banget kalau bisa leyeh-leyeh di kasur, baca buku, mendengarkan musik, tidur, makan, ulangi berkali-kali. Sewaktu masih di Indonesia dan berstatus karyawati, hari yang saya tunggu&#8230; <a class=\"read-more-button\" href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2018\/05\/tentang-me-time\/\">(READ MORE)<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4346,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-4344","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-story"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4344"}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4344"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4344\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4345,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4344\/revisions\/4345"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4346"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4344"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4344"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4344"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}