{"id":4348,"date":"2018-05-31T21:06:51","date_gmt":"2018-05-31T20:06:51","guid":{"rendered":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/?p=4348"},"modified":"2018-05-31T21:59:35","modified_gmt":"2018-05-31T20:59:35","slug":"republik-twitter","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2018\/05\/republik-twitter\/","title":{"rendered":"Republik Twitter"},"content":{"rendered":"<blockquote>\n<p style=\"text-align: center\"><strong><em>Eh sik ya sebentar, aku tak ngecek Republik Twitter dulu<\/em><\/strong><\/p>\n<\/blockquote>\n<p>Kalimat itu yang sering kali muncul di grup <strong><em>WhatsApp<\/em><\/strong> (wa) yang isinya sahabat2 saya. Kami berlima sudah bersahabat sejak awal kuliah. Jadi sekitar 19 tahun lamanya. Kami sudah saling tahu baik buruk dan cerita masing-masing, secara personal yang tentu saja diceritakan karena pasti banyak juga yang disimpan sendiri. Nah, empat diantara kami mempunyai akun twitter. Diantara 4 ini, saya dan satu orang lagi yang aktif. Dua lainnya hanya sesekali karena faktor kesibukan. Bukannya saya dan sahabat saya tidak sibuk ya, justru karena sibuk juga akhirnya kami mencari hiburan lewat twitter. Dan buat saya pribadi, twitter sangatlah menghibur. Apalagi ketika kami terpisah tempat tinggal dan berbeda waktu, twitter juga tempat <em>update<\/em> berita terbaru lalu kami saling memberitahu di grup. Bukan hanya saling memberitahu, tapi seringnya juga akhirnya jadi bahan diskusi sampai bahan bercandaan.<\/p>\n<p>Diantara semua media sosial yang pernah saya miliki (FB, IG, Twitter. Saya tidak pernah punya Path dan Snapchat), twitter lah yang selama ini awet tidak pernah saya <em>deactive<\/em> kan (saya juga tidak tahu apakah bisa karena tidak pernah mencoba). Kalau tidak salah, tahun ini adalah tahun ke sembilan atau ke sepuluh ya saya punya akun di twitter. Saya ingat sekali awal bergabung di twitter karena di kantor sedang jadi pengangguran dibayar alias makan gaji buta. Dulu masih bingung apa fungisnya RT, bagaimana cara pakainya. Masih kagoklah. Lalu saya ikut kuis di akunnya Detik. Menang beberapa kali dan hadiahnya dikirim ke kantor (saya dulu juga sering menang ikut kuis-kuis di IG, sewaktu masih punya akunnya). Sampai oleh orang kantor saya dijuluki ratu kuis twitter haha.<\/p>\n<p>Setelahnya saya mulai\u00a0<em>follow<\/em> akun-akun yang sesuai minat (misalkan tentang menulis, penulis atau akun yang sering membahas buku), diluar akun-akun berita dalam dan luar negeri juga akun personal yang menurut saya menarik (terutama yang lucu dan informatif). Sampai saat ini, saya tidak pernah ruwet mencari follower. Bukannya tidak penting, tapi sejak awal punya akun di twitter, murni hal tersebut untuk hiburan selain juga mendapatkan informasi yang bermanfaat secara cepat. Sama seperti prinsip bermedia sosial yang lainnya, semua akan berfaedah jika kita mengikuti akun yang tepat. Bersyukurnya, sampai detik ini akun-akun yang saya ikuti masih berfaedah. Di twitter juga saya bisa berinteraksi dengan beberapa rekan blogger dan percayalah, sangat menyenangkan. Ada beberapa yang selalu membuat saya tertawa ngakak setiap berbalas pesan. Sungguh twitter ini penemuan yang sangat membuat bahagia. Terbekatilah penemunya.<\/p>\n<p>Jika ada keluhan atau pertanyaan ke suatu perusahaan, lebih cepat tanggapannya lewat akun twitter mereka dibandingkan lewat email. Saya pernah ingin mengganti jadwal pesawat KLM punya adik. Saya mengurus lewat akun twitter KLM. Wow! Cepat reaksinya. Kami saling berbalas DM. Begitupun ketika saya ingin mengurus sesuatu di Bank Mandiri, tanggapan lewat twitter lebih cepat daripada email yang saya kirimkan. Itu salah dua contohnya ya. Saya masih punya pengalaman beberapa lagi.<\/p>\n<p>Tidak hanya itu, lewat twitter juga saya bisa ikut <em>project<\/em> menulis yang akhirnya bisa berperan dalam 4 buku. Ceritanya pernah saya tulis <strong><a href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2014\/11\/01\/secangkir-kopi\/\">di sini<\/a><\/strong>. Media sosial itu bermanfaat kok, asal bijak saja menggunakannya (sok kasih nasehat, padahal pernah mutung gara-gara FB haha).<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Kumpulan-Buku.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Kumpulan-Buku.jpg\" class=\"size-full wp-image-250\" height=\"720\" alt=\"\" width=\"960\" srcset=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Kumpulan-Buku.jpg 960w, http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Kumpulan-Buku-300x225.jpg 300w, http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Kumpulan-Buku-750x562.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 960px) 100vw, 960px\" \/><\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Untukmu-Pena-Inspirasi.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Untukmu-Pena-Inspirasi.jpg\" class=\"wp-image-249 size-full\" height=\"351\" alt=\"\" width=\"960\" srcset=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Untukmu-Pena-Inspirasi.jpg 960w, http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Untukmu-Pena-Inspirasi-300x109.jpg 300w, http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2014\/11\/Untukmu-Pena-Inspirasi-750x274.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 960px) 100vw, 960px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Saya menulis begini bukan dibayar twitter untuk promosi ya. Siapalah saya ini, <em>wong<\/em> pengikut saja cuma beberapa gelintir, tidak sampai 600. Saya menulis cerita tentang twitter karena memang selalu merasa terhibur. Disamping itu, ada saja bahan dari twitter yang membuat saya dan sahabat-sahabat tertawa terbahak. Jadi kalau kami sedang berdiskusi tentang sesuatu yang maha penting pun (contohnya tentang rumus statistik), eh ujung-ujungnya,<em>&#8220;Sik yo rehat, aku tak ngecek Republik Twitter. Onok huru hara opo saiki.&#8221; &#8212;-Saking menghiburnya kehidupan di twitter.<\/em><\/p>\n<p>Apakah saya punya pengalaman buruk di twitter? Sejauh ini belum pernah. Ya karena memang tujuannya tidak yang serius-serius sekali, jadi semua saya buat santai saja. Nge-tweet ya yang santai-santai yang tidak memancing keriuhan atau menambah keruh keadaan. Terkadang (yang sangat jarang) saya juga berbagi informasi. Yang sering, jelas pamer makanan hahaha. Karena seingat saya (seingat saya lho ini) tidak pernah menulis hal-hal yang jelek, mengumpat atau memaki-maki, jadi saya tidak pernah menggembok akun walaupun sedang dalam proses mencari pekerjaan misalnya. Ya apa yang mau digembok, wong yang ditulis hal yang biasa. Saya dan suami juga saling <em>follow<\/em> di twitter dan \u00a099% tidak pernah berinteraksi, lha wong saya ndak paham apa yang dia tulis di twitter, terlalu serius. Sedangkan dia tidak terlalu paham juga apa yang saya tulis, wong pakai bahasa Indonesia sesekali bahasa Jawa (sangat kadang sekali pakai bahasa Belanda).<\/p>\n<p>Dikala ada perpecahan pendapat tentang mereka yang bangga punya akun twitter atau mereka yang bangga punya akun IG, saya sih tidak peduli mau punya akun di manapun. Selama enjoy dan tidak terbebani, buat apa saling meninggikan. Santai <em>wae<\/em>. Saat ini saya tidak seaktif sebelumnya. Yang pasti setiap hari memang saya buka, walaupun cepat-cepat membacanya. Biasanya malam saat sudah santai atau di sela-sela hari saat sudah tidak ada huru hara dengan kegiatan harian.<\/p>\n<p>Jadi, untuk saya dan para sahabat, twitter adalah sumber informasi tercepat, terkini dan juga sebagai sumber hiburan yang hakiki. Ada saja yang jadi bahan banyolan kami.<\/p>\n<p>Kalian punya akun twitter? punya pengalaman seru apa di twitter?<\/p>\n<p>-Nootdorp, 31 Mei 2018-<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Eh sik ya sebentar, aku tak ngecek Republik Twitter dulu Kalimat itu yang sering kali muncul di grup WhatsApp (wa) yang isinya sahabat2 saya. Kami berlima sudah bersahabat sejak awal kuliah. Jadi sekitar 19 tahun lamanya. Kami sudah saling tahu&#8230; <a class=\"read-more-button\" href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2018\/05\/republik-twitter\/\">(READ MORE)<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":249,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-4348","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-story"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4348"}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4348"}],"version-history":[{"count":3,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4348\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4351,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4348\/revisions\/4351"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/media\/249"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4348"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4348"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4348"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}