{"id":4388,"date":"2018-07-11T21:49:48","date_gmt":"2018-07-11T20:49:48","guid":{"rendered":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/?p=4388"},"modified":"2018-11-26T04:42:45","modified_gmt":"2018-11-26T03:42:45","slug":"teman-dan-sahabat-adalah-perkara-rejeki-dan-jodoh","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2018\/07\/teman-dan-sahabat-adalah-perkara-rejeki-dan-jodoh\/","title":{"rendered":"Teman dan Sahabat Adalah Perkara Rejeki dan Jodoh"},"content":{"rendered":"<p>Saya adalah orang yang susah sekali menyatakan ke orang lain bahwa dia adalah teman saya kalau memang kami belum akrab sekali. Lebih susah lagi mendeklarasikan persahabatan. Buat saya, yang namanya bersahabat itu haruslah sudah teruji jarak dan terlebih waktu. Butuh bertahun-tahun lamanya buat saya bisa dengan nyaman menyebutkan bahwa dia atau mereka adalah sahabat saya. Saya juga bukanlah orang yang gampang masuk ke dalam suatu lingkungan baru. Memang pada dasarnya saya orang yang lebih nyaman sendiri. Saya bukan anti sosial, jelas tidak. Tapi saya butuh proses agak lama untuk mengenali lingkungan baru. Kalau tidak satu frekuensi, lebih baik saya sendiri daripada memaksakan diri bergaul tapi tidak nyaman di hati. Dari dulu saya tidak pernah ada ketakutan untuk tidak mempunyai teman karena saya percaya yang namanya pertemanan akan selalu melewati seleksi alam. Kalau tidak satu frekuensi, begitu saya menyebutnya, maka akan gugur dengan sendirinya.<\/p>\n<p>Menuliskan kalimat terakhir di atas bukanlah perkara mudah. Saya sudah melewati suka duka, babak belur, bahagia kecewa dalam pertemanan bahkan persahabatan. Awalnya jelas membuat kecewa luar dalam dan membuat kepercayaan terhadap orang lain menjadi pudar. Ketika persahabatan saya berakhir dengan tidak baik walaupun saya mengakhirinya dengan proses yang baik, berbelas tahun lalu, saya mengalami krisis kepercayaan bukan hanya terhadap diri sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Butuh waktu lama untuk memulihkan dan menyembuhkan lukanya. Menyembuhkan patah hati karena masalah cinta buat saya lebih mudah dibandingkan patah hati karena persahabatan. Benar, luka karena cinta paling lama satu bulan sudah pulih kembali tapi kalau karena persahabatan, butuh beberapa tahun hingga bisa bangkit lagi. Bukan karena saya menggantungkan kebahagiaan di atas nama persahabatan, tetapi lebih kepada rasa percaya dan sesuatu yang sudah kami lalui bersama selama bertahun-tahun, tahu baik buruknya secara mendalam karena menjadi diri sendiri yang apa adanya. Satu persahabatan berakhir, lalu saya memulai membuka diri untuk mengenal sebanyak-banyaknya orang supaya lebih tahu banyak tentang karakter orang. Dari sekian banyak yang hadir dan pergi dalam hidup saya, akhirnya saya dan empat orang lainnya bertahan sampai sekarang. Mereka lah sahabat saya selama 19 tahun ini. Kami dipertemukan saat awal kuliah, sudah melewati asam manis dan segala macam pertengkaran yang menyakitkan. Bersyukurnya kami masih tetap bersama sampai saat ini meskipun komunikasi kami hanya melalui Whatsapp karena kami berbeda kota tinggal satu dengan lainnya. Saya sangat beruntung dan merasakan anugrah yang besar memiliki mereka, memiliki satu sama lain.<\/p>\n<div id=\"attachment_2232\" style=\"width: 650px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><a href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2016\/01\/SMALLALF2015-88.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" aria-describedby=\"caption-attachment-2232\" class=\"wp-image-2232 size-full\" src=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-content\/uploads\/2016\/01\/SMALLALF2015-88.jpg\" alt=\"Bands of Friendship\" width=\"640\" height=\"427\" \/><\/a><p id=\"caption-attachment-2232\" class=\"wp-caption-text\">Bands of Friendship<\/p><\/div>\n<p>Seiring berjalannya waktu, bertambahnya umur dan pengalaman yang menempa, hati dan pikiran saya pun mengalami proses penerimaan jika ada hal yang tidak sesuai dengan harapan. Saya lebih bisa berdamai dengan diri sendiri, berpikir lebih panjang dan menikmati proses hening saat ada hal yang diluar jangkauan. Teman datang dan pergi, namun sahabat akan selalu ada saat senang maupun susah. Kehidupan manusia sangatlah dinamis. Begitupun yang namanya pertemanan. Salah satu seleksi alam yang terjadi adalah saat teman berganti status. Dari sendiri, sudah menikah, memiliki anak, mungkin ada yang bercerai, memilih untuk tidak menikah, dan memilih untuk tidak memiliki anak. Ketika satu lingkar pertemanan yang dimulai dari status yang sama, dalam hal ini misalkan dimulai saat usia sekolah atau kuliah, maka semakin bertambah umur maka satu persatu teman yang memutuskan untuk menikah akan berganti status lalu yang memutuskan untuk memiliki anak pun kembali berganti status.<\/p>\n<p>Saya yang menikah saat umur 33 tahun, yang disebut usia telat untuk ukuran Indonesia, memang rasanya menjadi aneh ketika berkumpul dengan teman-teman kuliah atau SMA yang menikah saat rentang usia 20an. Ketika mereka dengan spontan membicarakan tentang anak, sekolah anak, perkembangan anak, serba serbi rumah tangga, saya hanya menjadi pendengar setia. Rasanya memang tidak menyenangkan seorang yang belum berumahtangga ada dalam lingkup pembicaraan itu. Ada perasaan seperti tersisihkan. Beberapa kali saat diajak ketemuan, saya memilih untuk bilang tidak bisa dengan berbagai alasan, misalnya ada acara ini dan itu. Kembali lagi, karena perasaan tidak nyaman karena kami sudah berbeda status dan bahan obrolan kamipun berbeda jadi saya merasa tidak nyambung. Ini yang saya namakan salah satu seleksi alam. Saya tidak mau memaksakan diri saya untuk tetap dalam lingkaran pertemanan itu karena saya sudah merasa tidak nyaman. Kami tetap berteman, tapi perlahan dan pasti semakin menjauh. Butuh legowo buat saya menerima bahwa memang kami sudah berbeda. Saya tidak pernah menyalahkan keadaan, tidak pernah menyalahkan mereka, maupun menyalahkan diri sendiri. Yang saya lakukan hanyalah membuka mata dan pikiran bahwa kami memang sudah tidak satu frekuensi lagi. Saya yang memutuskan menjauh. Jodoh saya dengan mereka tidak bisa dilanjutkan lagi.<\/p>\n<p>Saat saya sudah menikah, beberapa sahabat saya belum menikah. Karena saya sudah mengalami betapa tidak menyenangkannya berada diantara mereka yang sudah menikah saat saya belum menikah karena obrolan yang tidak nyambung, maka obrolan kami pun tetap seperti biasa saat saya belum menikah. Walaupun sesekali saya selipkan cerita seputar rumah tangga, itupun tidak banyak. Hanya selingan saja. Saat saya sedang ingin curhat tentang permasalahan yang pelikpun, mereka tetap ada buat saya. Begitu juga sebaliknya, saat mereka sedang ingin cerita tentang hal yang penting, akan tetap saya dengarkan tanpa mencoba menjadi seseorang yang nampak lebih pintar atau lebih berpengalaman. Kami tahu batasan masing-masing secara otomatis dan saling menghormati status yang berbeda saat ini.<\/p>\n<p>Di Belanda, teman saya tidak banyak. Bisa dihitung. Teman baik, ada beberapa. Sahabat, saya tidak punya. Boleh dibilang, suami saya merangkap sebagai sahabat saya juga selama di sini. Saya tidak berusaha keras untuk mencari teman di sini. Saya lebih nyaman ketika pertemanan terjadi karena ada hal-hal yang membuat kami terhubungkan. Saya memang tidak berusaha menonjol dalam lingkungan sosial di Belanda. Tidak berusaha supaya terkenal. Saya menjadi seorang Deny yang melakukan apapun tanpa dipaksakan atau memaksakan diri, melakukan sesuatu yang membuat nyaman. Ya menjadi diri saya sendiri tanpa perlu pengakuan banyak orang. Buat saya, perhatian dan memperhatikan orang-orang yang mengenal saya atau saya kenal dengan baik, itu lebih penting.<\/p>\n<p>Ada beberapa teman di sini yang statusnya berbeda dengan saya. Adakalanya saya tidak bisa keluar bersama mereka, hal tersebut tidak membuat saya lantas menjadi cemburu. Karena saya sadar, bahwa saya sekarang berbeda dengan mereka dan saya tidak mau membuat mereka mengerti keadaan saya. Saya mengerti bahwa mereka juga butuh waktu bersama yang kadang tidak bisa melibatkan saya. Dengan keadaan seperti ini, saya sangat mengerti. Apakah saya lantas marah dan menyalahkan mereka karena kami tidak bisa jalan bersama lagi seperti saat satu atau dua tahun lalu? Tentu saja tidak karena kembali lagi ke pemahaman bahwa kami sekarang berbeda. Saat ada kesempatan kami bisa keluar bersama, saya tidak akan mendominasi pembicaraan dengan kondisi saya sekarang. Berbicara topik sewajarnya saja, toh banyak sekali yang bisa dibahas.<\/p>\n<p>Butuh hati dan pikiran terbuka ketika suatu perubahan terjadi dalam jalinan pertemanan atau persahabatan. Kita tidak bisa menyalahkan siapapun bahkan keadaan. Saling mengerti, saling komunikasi, dan saling menempatkan diri melihat di posisi orang lain adalah hal yang bisa membuat pertemanan dan persahabatan menjadi nyaman. Jika memang hal tersebut tidak bisa dilakukan lagi, ya musti menerima dengan lapang dada bahwa memang sudah tidak sejalan lagi, berjodoh hanya sementara dan bukan rejekinya. Harus dengan legowo bahwa pertemanan atau persahabatan tidak bisa berjalan seperti dulu lagi. Tidak perlu menyalahkan apapun atau siapapun. Tidak perlu menuding dia salah atau aku yang benar. Tidak perlu memaksakan standar kita hanya untuk membuat kita benar. Apa yang menjadi standar kita belum tentu sama dengan standar orang lain. Saya selalu mengingat kata-kata ini :\u00a0<strong><em>Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. BE KIND. ALWAYS<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Berteman dan bersahabat adalah perkara rejeki dan jodoh. Itu yang selalu saya yakini. Buat saya, teman ada yang datang dan pergi silih berganti. Kalau bisa dan layak untuk dipertahankan, maka akan saya perjuangkan. Kalau tidak bisa dan tidak mampu lagi saya perjuangkan untuk bertahan, maka saya akan ikhlaskan untuk pergi dan berlalu. Hubungan persahabatan dan pertemanan yang dipaksakan, yang datangnya tidak lagi dari hati, lebih baik direlakan untuk pergi. Semoga persahabatan saya selama 19 tahun ini dan tahun-tahun kedepan adalah rejeki dan jodoh saya sampai kami menua bersama.<\/p>\n<p>Bagi yang mempunyai sahabat dan teman yang sudah klik, semoga langgeng selalu.<\/p>\n<p>-Nootdorp, 11 Juli 2018-<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya adalah orang yang susah sekali menyatakan ke orang lain bahwa dia adalah teman saya kalau memang kami belum akrab sekali. Lebih susah lagi mendeklarasikan persahabatan. Buat saya, yang namanya bersahabat itu haruslah sudah teruji jarak dan terlebih waktu. Butuh&#8230; <a class=\"read-more-button\" href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2018\/07\/teman-dan-sahabat-adalah-perkara-rejeki-dan-jodoh\/\">(READ MORE)<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2232,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-4388","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-story"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4388"}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4388"}],"version-history":[{"count":11,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4388\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4788,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4388\/revisions\/4788"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2232"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4388"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4388"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4388"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}