{"id":715,"date":"2014-12-15T01:54:10","date_gmt":"2014-12-15T01:54:10","guid":{"rendered":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/?p=715"},"modified":"2014-12-15T03:01:03","modified_gmt":"2014-12-15T03:01:03","slug":"kenapa-belum-hamil","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2014\/12\/kenapa-belum-hamil\/","title":{"rendered":"Kenapa Belum Hamil?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Beberapa hari ini saya pulang ke rumah. Kegiatan pagi hari yang saya lakukan ketika pulang ke Situbondo adalah belanja ke tukang sayur dekat rumah. Dalam perjalanan menuju kesana, saya berpapasan dengan teman SD yang rumahnya tidak jauh dari rumah orangtua. Kemudian terjadilah percakapan seperti ini :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify; padding-left: 30px;\"><em>\u201cGimana, sudah hamil belum?\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; padding-left: 30px;\"><em>\u201cBelum\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; padding-left: 30px;\"><em>\u201cLho, kenapa belum hamil?\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify; padding-left: 30px;\"><em>\u201cKamu sedang bertanya kepada saya, atau sedang bertanya kepada Allah yang berhak menjadikan saya hamil?\u201d<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 &#8212;&#8211;Kemudian hening. Jawaban saya terdengar sinis? Mungkin iya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya jarang pulang ke Situbondo, rumah orangtua, kota saya dibesarkan. Paling cepat, satu bulan sekali. Dan ketika saya pulang, otomatis saya juga jarang kemana-mana. Paling jauh ya beli rujak, atau belanja di tukang sayur, atau ke supermarket dekat rumah untuk beli es krim. Saya memang dari kecil tidak terlalu suka bersosialisasi dengan tetangga. Menyapa seadanya, selebihnya tinggal dirumah. Tidak kemana-mana. Ditambah lagi sejak umur 15 tahun saya sudah hidup merantau, tinggal di Surabaya yang menyebabkan tidak mempunyai banyak kawan lagi di Situbondo.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan keadaan seperti itu, otomatis saya pun hampir tidak pernah bertemu dengan teman SD itu dalam jangka waktu yang lama. Terakhir bertemu 4 bulan lalu sewaktu dia menikah, seminggu sebelum pernikahan saya. Seyogyanya, pertanyaan yang lazim adalah <em>\u201cHai Den, kapan datang? Gimana kabarnya? Suami ikut?<\/em>\u201d ya, basa basi dulu lah, bukan langsung main tembak dengan melontarkan pertanyaan yang pertama.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mungkin bagi dia, atau bagi beberapa orang, pertanyaan seperti itu adalah cara mereka untuk berbasa-basi, cara untuk memulai sebuah percakapan. Sama halnya dengan <em>\u201cGimana kabarnya? Sudah menikah belum?\u201d<\/em> Buat sebagian orang Indonesia, pertanyaan itu (mungkin dikategorikan) sangatlah lumrah karena masyarakat kita sangat terkenal dengan keramahannya, peduli dengan kabar terkini lingkungannya, yang dikemudian hari saya artikan bahwa antara ramah, peduli dan menuntaskan keingintahuan pribadi perbedaannya sangatlah besar. Karena terlalu peduli dengan kabar orang lainpun menjadikan <em>infotainment<\/em> di Negeri ini seolah tidak pernah berhenti hilir mudik membombardir tayangan televisi, bahkan dini hari sekalipun \u2013iya, saya pernah menonton yang tayangan dini hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Saya sangat tidak bermasalah, tidak sensitif maupun tersinggung jika menjawab tipe pertanyaan yang seperti itu, jika ditanyakan dengan tulus. Bukan ingin menuntaskan keingintahuan yang berujung dengan pertanyaan-pertanyaan penghakiman ataupun pelabelan. Bagaimana saya bisa membedakan yang tulus dan tidak tulus? Ya kalau itu berdasarkan jam terbang. Saya tumbuh diantara pertanyaan <em>\u201cKenapa belum menikah?\u201d<\/em> jadi saya sudah tahu dengan pasti mana pertanyaan datang dari hati ataukah yang hanya basa basi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebenarnya pertanyaan <em>\u201cKenapa belum hamil?\u201d<\/em> ini bukan hanya sekali dua kali saja ditanyakan. Sejak seminggu menikah, ada teman SMA yang secara khusus mengirim pesan ke <em>whatsapp<\/em> dan bertanya <em>\u201cSudah ada hasil?\u201d<\/em> yang membuat saya tercekat. Mungkin dia pikir satu-satunya tujuan menikah adalah wadah untuk mencetak anak secara legal. Dan mungkin dia pikir ketika pernikahan sudah terjadi artinya mesin pencetak anak sudah mulai berfungsi sehingga anak harus segera terealisasi. Dan rentetan pertanyaan juga bertubi datang dari keluarga. Pada saat hampir bersamaan dengan saya menikah, ada beberapa sepupu juga menikah. Dan sekarang mereka sudah hamil semua. Saya tentu saja senang. Artinya saya akan mempunyai beberapa calon keponakan. Tetapi rasa senang saya terkadang ternodai dengan komentar saudara yang lain. Membandingkan saya dengan sepupu-sepupu yang menurut mereka tingkat kesuburannya jauh lebih baik dari saya. Pernah tidak mereka berpikir sedikit saja tentang apa yang saya rasakan ketika mereka berpendapat seperti itu. Pernah tidak terlintas bagaimana perasaan ibu saya apabila perkataan itu didengar oleh beliau. Saya bisa bersikap tidak peduli karena saya sudah terbiasa dengan omongan dan gunjingan orang. Tapi belum tentu dengan Ibu saya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dan sebenarnya pertanyaan seperti itu (mungkin) lumrah terlontar ketika dalam sebuah rumah tangga masih belum dikaruniai anak, tidak peduli jangka waktunya. Apakah baru seminggu menikah, ataupun sudah berpuluh tahun bersama. Yang menjadi tidak santun adalah \u2013seperti yang sudah saya sebut sebelumnya- rentetan penghakiman dan pelabelan yang tanpa ampun datang bertubi. Tidak semua pasangan menjadikan anak sebagai prioritas dalam sebuah pernikahan. Pertanyaan seperti ini yang sekarang menghiasi hidup (baru) 4 bulan pernikahan saya:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cKamu kenapa belum hamil? Menunda ya? Kenapa harus ditunda? Anak kan rejeki. Rejeki kan dari Tuhan, jadi kalau menunda punya anak, berarti menunda dapat rejeki\u201d <\/em>&lt;&#8211;oh well, yang ngomong seperti ini seperti agen asuransi yang sedang menawarkan investasi jangka panjang yang bernama anak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cKamu kenapa belum hamil? Wanita itu punya batas waktu bereproduksi lho. Kalau tidak disegerakan, bisa-bisa susah dan malah ga bisa punya anak nantinya\u201d <\/em>&lt;&#8211; yang inipun tidak kalah menyeramkan, seakan dia Maha Penentu segalanya sehingga tahu pasti apa yang akan terjadi nantinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cKamu kenapa belum hamil? Sudah periksa ke dokter penyebabnya? Takutnya karena telat menikah jadi ada masalah dengan hormonnya\u201d<\/em> &lt;&#8211; belum hamil dan telat menikah dalam satu rentetan kalimat. <em>Well, perfect.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cKamu kenapa belum hamil? Suami kamu tidak ada masalah kan? Coba diperiksakan saja, takutnya yang bermasalah malah suami kamu. Ya kita kan tidak tahu disana sebelum menikah dia ngapain saja. Takutnya ada penyakit apa gitu\u201d <\/em>&lt;&#8211; Pengen nempelin semacam lakban ga ke mulut orang yang nanya. Kalau saya tidak pernah mempermasalahkan hidup suami sebelum menikah, kenapa dia harus repot berpikir sampai sejauh itu.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><em>\u201cKamu kenapa belum hamil? Kasihan ibu kamu lho ditanya tetangga dan saudara kenapa anaknya belum hamil juga\u201d <\/em>&lt;&#8211; Kamu kasihan ga sama saya ketika bertanya seperti ini?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Terima kasih untuk segala macam perhatian dan masukannya. Saya sangat berterimakasih sekali. Terima kasih untuk segala doa yang selalu terucap pada saya dan suami utuk segera mempunyai anak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Namun saya akan lebih berterimakasih jika membiarkan kami menjalani hidup secara normal. Tanpa pertanyaan yang menyudutkan. Tanpa perhatian yang membuat jengah. Tanpa perasaan mencoba peduli yang ujungnya membuat sakit hati. Dan disetiap pertanyaan yang terlontar, sayapun tidak harus menjawab secara rinci tentang rencana hidup kami. Saya akan berbagi cerita hanya dan hanya kepada orang yang saya percaya. Dan hey, kami saja tidak ribet dengan urusan anak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mari membiasakan diri untuk memilah dan memilih, mana yang perlu dan pantas untuk diucapkan, mana yang santun untuk dikatakan. Tempatkan diri kita pada lawan bicara. Jika memang tujuannya hanya sekedar basa-basi, pikirkan berulang kali. Tidak masalah berbasa-basi, jika memang betul-betul peduli, bukan menghakimi. Meminimalkan basa-basi, membuat hidup jauh lebih berarti. Hal ini juga menjadi catatan penting buat saya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jadi, ketika ada yang bertanya \u201ckenapa kamu belum hamil?\u201d sudah tahu kan saya akan menjawab apa.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">-Situbondo, 13 Desember 2014-<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Beberapa hari ini saya pulang ke rumah. Kegiatan pagi hari yang saya lakukan ketika pulang ke Situbondo adalah belanja ke tukang sayur dekat rumah. Dalam perjalanan menuju kesana, saya berpapasan dengan teman SD yang rumahnya tidak jauh dari rumah orangtua&#8230;. <a class=\"read-more-button\" href=\"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/2014\/12\/kenapa-belum-hamil\/\">(READ MORE)<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[33,7],"tags":[11,10,27],"class_list":["post-715","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-our-life","category-story","tag-cerita-santai","tag-gado-gado","tag-marriage-life"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/715"}],"collection":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=715"}],"version-history":[{"count":6,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/715\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":722,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/715\/revisions\/722"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=715"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=715"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/www.conedm.nl\/denald\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=715"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}