Lebaran 2020 dan Hantaran Antar Teman

Sebelum memulai cerita lebaran tahun 2020, saya ingin mengucapkan terlebih dahulu Selamat Lebaran untuk yang merayakan dan Mohon maaf lahir batin untuk semuanya. Maaf atas segala hal-hal yang tidak berkenan selama berinteraksi di blog atau media sosial, atas segala komentar, jawaban, atau status. Semoga kita semua diberikan kesehatan yang baik, umur panjang yang barakah bersama seluruh keluarga dan orang-orang yang kita cintai, bisa bertemu kembali dengan Ramadan dan Lebaran tahun-tahun akan datang dengan kualitas ibadah yang lebih baik dan dalam keadaan sehat.

Saya ucapkan terima kasih untuk mereka yang lebaran kali ini tidak mudik, tidak berdesakan membeli baju baru, sholat Ied di rumah, tidak melakukan anjangsana, dan tidak menerima tamu di rumah. Lebaran kali ini berbeda, jangan dipaksakan sama. Mari kita berjuang bersama supaya keadaan menjadi aman kembali.

Selamat Lebaran 2020
Selamat Lebaran 2020 dengan foto kue-kue kering buatan sendiri

MEMBUAT KUE KERING UNTUK LEBARAN

Tidak pernah terpikirkan kalau suatu saat saya akan membuat kue-kue kering sendiri untuk lebaran. Selama ini, sejak tinggal di Belanda, saya tidak pernah membuat kue kering untuk lebaran. Malah ketika masuk bulan Desember, menjelang Natal, saya biasanya membuat Kaasstengels.

Lebaran ini, karena tidak jadi mudik sehubungan pandemi, maka saya sudah niat ingin menciptakan suasana lebaran di rumah secara maksimal. Salah satunya adalah mengisi toples-toples yang seringnya menganggur di rumah, dengan kue-kue kering.

Dimulai dua minggu menjelang lebaran, saya sudah mulai mencicil membuat kue-kue yang sekiranya saya dan orang-orang di rumah akan suka. Mulailah saya membuat putri salju (meskipun saya tidak terlalu suka, tapi saya rasa suami akan suka. Kan bertabur gula), dilanjut kue kacang, lalu Kaasstengels, dan terakhir kue tepung beras yang orisinil dan rasa coklat. Untuk kue kacang saya membuat dua versi dari dua resep yang berbeda. Satu resep untuk ditaruh di rumah, satu resep saya persiapkan khusus untuk teman-teman yang akan saling bertukar hantaran.

Pertama kali membuat beberapa kue kering untuk lebaran kesannya adalah capek luar biasa. Salut buat yang berjualan kue kering. Boyokku rasa cuklek setelah beberapa hari membuatnya. Tapi ada rasa puas juga karena ternyata kok ya saya bisa disela jadwal rumah yang super padat. Sewaktu diberikan ke Mama mertua, Beliau suka sekali. Memuji Kaasstengels dan Putri saljunya. Senangnya hati ini.

Inilah isi toples-toples yang biasanya menganggur : Kue kacang, Kaasstengels, Rengginang, Putri Salju, dan Kue tepung beras. Saya sengaja tidak membuat nastar karena selama lebaran di desa kue yang tersajikan tidak pernah ada nastar. Jadinya lidah saya tidak terbiasa dengan nastar. Yang penting ada rengginang karena di desa kalau tidak ada rengginang rasanya tidak sah berlebaran haha.

Kue kering untuk lebaran ala saya
Kue kering untuk lebaran ala saya

MASAKAN LEBARAN

Masih terkait mudik yang ditunda, maka sedari awal saya sudah niat sekali untuk masak spesial lebaran ini. Saya ingin menyuguhkan masakan khas dari desa mbah, namanya Pecel Pitik. Sebenarnya agak tidak percaya diri awalnya ingin masak pecel pitik. Saya merasa nanti pasti dari segi rasa sangat jauh kalau Bude saya yang memasak. Tapi, karena niat yang membara, saya akhirnya menanyakan resep Pecel Pitik ke Bude lewat perantara Ibuk.

Sebenarnya setiap lebaran di desa saya juga ikut dalam proses memasaknya, bahkan selalu kebagian mengulek bumbu dan cabe. Tapi karena terakhir makan pecel pitik itu saat lebaran tahun 2014, terus terang ingatan saya akan rasanya agak buram. Walhasil berkali-kali saya tanya ke Ibu tentang rasa yang dominan apa, bagaimana urutan memasaknya, dan beberapa hal lagi. Bahkan saat H-1 lebaran, saat saya memasak, groginya luar biasa. Mana masih puasa kan, jadi tidak bisa mencicipi langsung. Saat buka puasa baru bisa dicicipi dan lega karena rasanya mirip dengan yang biasa saya makan di desa. Terharu luar biasa. Leluhur saya pasti bangga karena salah satu keturunannya bisa memasak pecel pitik di tanah rantau haha.

Yang menjadikan pecel pitik ini istimewa, karena ayamnya harus dipanggang terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke bumbu santan. Tujuan dipanggang untuk mengeringkan kandungan air dan menimbulkan aroma panggangan. Ayam yang digunakan juga wajib ayam kampung. Di Belanda ada yang menyerupai ayam kampung dengan daging yang agak liat, meskipun harganya tidak murah. Tutup mata saja, kan untuk hari raya. Memanggang pun lebih enak kalau menggunakan sabut kelapa atau kayu di pawonan. Tapi kan ya di londo ini susah, jadi pakai yang ada saja, memanggang di teflon.

Tempe yang dimasukkan juga dipanggang terlebih dahulu. Rasa yang dominan adalah pedas. Aslinya masakan ini pedasnya luar biasa. Tetapi karena saya tidak ingin “meracuni” suami dan teman-teman yang akan menerima pecel pitik, jadi saya kurangi level pedasnya menjadi 1/4 dari aslinya. Inilah pecel pitik yang membuat saya terharu karena setelah 6 tahun lalu, sekarang bisa makan lagi dan dari hasil masakan sendiri.

Pecel Pitik Jember
Pecel Pitik My Love!

Hidangan lebaran lainnya yang sanggup saya masak sesuai ketersediaan stok tenaga dan mood adalah : telor petis madura, sate ayam, oseng Kohlrabi wortel, balado udang pete, dimakan pakai lontong atau nasi, dan minumnya es garbis (blewah).

Hidangan lebaran di rumah kami
Hidangan lebaran di rumah kami

Mengapa tidak ada rendang dan opor? Karena sejak kecil jika lebaran tiba, makanan yang disediakan di rumah Mbah tidak pernah ada menu rendang dan opor. Jadi ya saya selama ini tidak memasukkan opor dan rendang sebagai menu lebaran di rumah kami. Tapi tahun ini kami bisa makan rendang dan opor dari pemberian teman-teman.

HANTARAN UNTUK DAN DARI TEMAN-TEMAN

Lebaran kali ini sangat spesial karena dalam suasana pandemi yang artinya tidak bisa saling kunjung antar teman. Bisa sebenarnya karena aturan berkunjung sekarang sudah lebih longgar. Tapi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, saat ini lebih baik tidak berinteraksi secara dekat dulu. Saling menjaga satu sama lain.

Selama 6 kali lebaran di Belanda, selain untuk keluarga sendiri, saya biasanya juga memasak dalam jumlah banyak untuk dikirim ke para tetangga dan saudara-saudara. Nah, karena lebaran ini teman-teman saya tidak ke mana-mana apalagi mudik, akhirnya ada ide untuk saling memberikan hantaran yang salah satu isinya adalah masakan spesial masing-masing orang. Selain itu, terserah apa yang ingin diberikan. Tentu saja kami sangat menyambut dengan senang hati ide ini. Apalagi Anis dan Asri dengan sukarela menawarkan diri sebagai pihak yang mengambil paket dan mengantarkannya (eh, beneran sukarela ya Nis, Asri haha. Takutnya aku ngarang).

Saya menyiapkan 6 tas (yang foto di bawah cuma 5 tas karena tas untuk Dita menyusul saya hantarkan ke rumahnya di Delft keesokan harinya) yang isinya masakan pecel pitik dan telor petis madura, kue kacang dalam wadah kecil, kerupuk, coklat, dan beberapa barang tambahan (masing-masing orang berbeda) serta saya lampirkan kartupos dari beberapa negara yang pernah kami kunjungi yang saya tulisi ucapan selamat lebaran.

Urutannya adalah begini : Asri mengambil tas dari saya untuk Eby, Rurie, dan Asri sendiri. Lalu Asri memberikan pada saya tas hantaran dari dia. Kemudian Asri membawa tas-tas saya untuk diserahkan ke Eby dan Rurie. Sementara Anis, pergi ke rumah Rurie dulu untuk menyerahkan hantaran dari dia dan Patricia serta mengambil hantaran dari Rurie (dan Asri) untuk dia sendiri, saya, dan untuk Patricia. Lalu Anis ke rumah saya untuk menyerahkan hantaran dari dia, Patricia, dan Rurie. Terakhir, Anis ke rumah Patricia menyerahkan 3 tas (karena yang dari Anis sudah diserahkan sehari sebelumnya). Jadi 5 orang diantara kami akan saling mendapat hantaran dari masing-masing orang tersebut. Eby adalah teman saya dan Asri, jadi dia mendapatkan hantaran hanya dari kami berdua. Diantara kami berlima, Asri dan Patricia tidak merayakan lebaran (plus Eby), tapi mereka semangat mempersiapkan hantaran. Oh ya ada satu lagi, saya menerima kiriman juga dari Astrid, dia mengirimkan lewat pos. Astrid juga tidak merayakan lebaran, tapi selama ini dia selalu berkirim kartu ucapan selamat lebaran. Teman saya Andrea yang tinggal di Leuwaarden juga mengirimkan kartu ucapan.

Kami ini jarang bertemu (paling tidak untuk saya karena memang saya tidak (mau) sering ikutan kumpul-kumpul haha), jadi dengan momen saling memberi hantaran begini, rasanya hangat di hati, menjalin silaturrahmi dan tetap bisa saling kunjung lewat hantaran. Walaupun hanya sesaat bertemu Anis dan Asri, tapi senang bisa melihat dan berbincang sebentar dengan mereka. Saking sebentarnya, paling hanya 2 menit kami ngobrol. Mereka menaruh barang-barang di depan pintu dan kursi taman, saya pun demikian. Tetap saling jaga jarak.

Tas-tas hantaran dari saya

Saya sengaja memotret satu persatu apa yang sudah mereka berikan pada saya untuk nanti saya pamerkan di blog dan media sosial. Ya memang seniat itu. Bukan karena permintaan mereka, bukan karena untuk berterima kasih karena hal ini jelas sudah saya lakukan secara langsung. Saya memotret apa yang sudah saya dapatkan dari mereka memang karena suka. Tidak ada alasan lain. Perkara nanti ada orang lain yang tidak suka karena saya pamer, ya itu bukan urusan saya. Saya tidak bisa mengendalikan apa reaksi orang karena yanh bisa saya kendalikan adalah apa yang ingin saya tampilkan. Sama halnya terkadang saya nyinyir kalau melihat orang menjembreng uang di media sosial. Itu bukan salah yang menjembreng uang, ya saya saja yang cari-cari bahan gosip. Kalau ada yang melihat unggahan saya lalu ikut merasakan kegembiraan saya menerima dan memberi hantaran dari dan untuk teman-teman, yuk toss virtual.

Saya dan teman-teman ini sudah sering saling kirim mengirim barang dan makanan. Jadi tidak dalam momen lebaran saja. Dan setiap kali saya mendapatkan kiriman, biasanya selalu saya pamer, kalau saya niat. Kalau tidak niat ya saya tidak akan koar-koar. Apakah demi konten? Ya jelas tidak. Saya bermedia sosial tidak berpikir konten, tapi lebih ke arah berbagi dan pamer. Sesimpel itu. Salah satu tujuan saya bermedia sosial kan memang ingin pamer, ya untuk apa lagi haha. Kadangkala saya pamer opini, lain waktu saya pamer foto-foto, sesekali juga pamer pencapain. Berbagi makanan ke teman – teman juga tidak pada saat hari raya saja saya lakukan. Hari – hari biasa kalau saya niat masak banyak, akan saya bagikan ke beberapa teman juga.

Hantaran dari teman-teman

Saya membaca beberapa opini yang beredar mengatakan kenapa hantaran harus dipamer di media sosial, kenapa kok tidak secara wajar saja tidak usah dipamerkan. Ya kembali lagi ke prinsip utama dalam bermedia sosial, kalau sudah sangat meresahkan, lebih baik tidak usah dilihat, dilewati saja. Toh pamer hasil pemberian tidak akan merugikan siapapun, tidak menyakiti hati siapapun, tidak akan membuat pingsan siapapun. Kalau ada yang merasa resah, tidak suka, atau clekit-clekit hatinya, coba diperiksa lagi hati dan pikirannya. Mungkin ada yang tidak benar di dalamnya. Tapi saya kan juga tidak bisa mengatur orang-orang yang berbeda pandangan tentang hal ini. Semua orang bebas berpendapat. Pamer hantaran kalau di Indonesia malah bisa untuk membantu jasa pembuat hantaran lho. Bisa jadi orang akan mencatat akun media sosial pembuat hantaran lalu saat mereka butuh bisa menghubunginya. Kalau hantaran yang kami buat kan bikin sendiri. Tapi saya tetap dengan senang hati mempromosikan akun media sosial teman-teman saya itu. Siapa tahu ada yang mau pesan makanan.

Saya sejak dulu selalu suka melihat orang mendapatkan hantaran dan memperlihatkan isinya. Entah, suka saja. Merasa ikut merasakan gembiranya sang penerima. Padahal waktu itu saya tidak ada yang mengirimi, melas yo. Saya suka tulisan Dila tentang opini dia mengenai hal ini. Silahkan baca di sini.

Beberapa makanan dari teman-teman yang sudah kami makan. Ada banyak yang belum makanya belum bisa difoto. Dua foto di atas (foto taart) saya pinjam dari Rurie. Saking semangatnya mau makan, sampai lupa moto duluan.

HARI LEBARAN

Hari Minggu, 24 Mei 2020, lebaran tiba. Setelah berkutat di dapur sejenak, saya bilang suami untuk mandi dan siap-siap sholat Ied. Saya memakai baju rapi, supaya berasa lebarannya. Selama 6 kali lebaran di sini, baru dua kali saya ikut sholat Ied bersama di Masjid (Al Hikmah, Den Haag). Selebihnya sholat di rumah. Jadi untuk lebaran kali ini, biasa saja sholat di rumah karena acara keagamaan yang melibatkan orang banyak masih dilarang di Belanda, termasuk sholat Idul Fitri.

Setelah sarapan, saya mulai panggilan video dengan Ibu, Adik, dan satu keluarga di Bekasi. Selama lebaran ya memang seperti itu. Jadi kali ini tetap tidak ada bedanya. Oh ada sih, kali ini saat saya telepon mereka satu persatu, mereka semua leyeh-leyeh di kasur di rumah masing-masing. Karena mereka sholat Ied di rumah, lalu menutup rumah serapat mungkin.Tidak mau menerima tamu. Jadinya ya mereka leyeh-leyeh.

Jam 11.30 kami makan bersama. Bersyukur lebaran bisa berkumpul sekeluarga lengkap dan sehat. Semoga kami diberikan jodoh panjang untuk selalu bersama dalam formasi lengkap dan sehat setiap Ramadan dan Lebaran tahun – tahun akan datang.

Begitulah cerita sekelumit keseruan lebaran kali ini. Jika ingin membaca cerita lebaran – lebaran saya sebelumnya, saya akan sertakan tautannya di bawah :

Lebaran Pertama di Belanda

Lebaran Kedua di Italia

Lebaran Ketiga di Belanda

Lebaran Keempat di Belanda

Lebaran Kelima di Belanda

Sehat-sehat selalu ya untuk kita semua.

-26 Mei 2020-

Ramadan Keenam di Belanda

Tulisan singkat saja kali ini tentang Ramadan keenam di Belanda. Tahun ini adalah Ramadan pertama setelah beberapa tahun terakhir saya cuti puasa Ramadan. Rasanya bagaimana? hari pertama badan saya kaget. Sejak pagi sampai sore tidak ada masalah. Menjelang buka puasa jam 9 malam, baru perut saya terasa mual. Tiba-tiba kepala pusing, perut mual seperti mau muntah, lalu badan mendadak menggigil dingin. Wah, tidak beres ini, pikir saya. Lalu saya mencoba rebahan. Beberapa saat kemudian, lumayan membaik. Mungkin badan saya kaget. Setelahnya baru saya berbuka puasa. Hari-hari selanjutnya sampai sekarang, lancar. Hanya hari pertama saja yang butuh penyesuaian.

Ramadan Pertama di Belanda

Ramadan di Belanda tahun 2020 durasinya 17- 17.5 jam. Semakin bertambah hari, durasinya semakin panjang. Saat tulisan ini dibuat, Ramadan sudah memasuki hari ke-26. Imsak jam 3.43, buka puasa jam 21.43, dan Isya’ jam 23.25. Waktu yang saya sebut itu untuk wilayah Den Haag dan sekitarnya karena berbeda provinsi, waktunya juga beda. Terbayang ya, sholat Isya disambung taraweh sambil menahan kantuk. Target khataman Al-Qur’an Insya Allah tahun ini tidak tercapai hahaha. Lho ini bukan tertawa bangga, tapi miris. Kalah sama ngantuk setiap membuka Al-Qur’an. Niatnya satu hari satu Juz. Kenyataannya setiap mulai membaca, masuk halaman keempat, huruf-huruf mulai buram karena mata mendadak mengantuk sangat. Apalagi kalau Tadarusan siang hari, duh itu baca sehalaman saja bisa lamaa sekali karena mata berat. Sepuluh hari pertama masih Istiqomah satu hari satu Juz. Selebihnya ya sesuai kemampuan saja. Jadi, saat Ramadan akan berakhir, Juz baru lebih sedikit setengah dari yang ditargetkan. Terakhir bisa khataman Al-Qur’an saat Ramadan, tahun 2016.

Ramadan Kedua di Belanda

Bagaimana dengan mengatur antara sahur dan berbuka dengan durasi waktu yang tidak terlalu lama? Berbeda dengan trik makan tahun-tahun sebelumnya (saat saya berpuasa di sini), tahun ini saya lebih santai mengenai makan. Buka puasa saya minum segelas air lalu lanjut minum smoothie (biasanya buah yang saya pakai : mangga, strawberry, dan anggur. Atau pakai buah apa saja yang ada di kulkas. Yang penting tidak asam. Saya harus buka dengan buah terlebih dahulu, supaya perut tidak kaget). Setelah itu, saya makan takjil. Tidak terlalu banyak (ya namanya juga takjil ya), misalkan pastel sebiji atau sup sayuran atau apapun seadanya saja. Lalu saya lanjutkan makanan utama yang tidak terlalu berat karena perut sudah kenyang makan takjil dan minum smoothie. Saya tidak masak khusus, makan apa yang saya masak siang. Jadi malam tinggal menghangatkan saja. Oh ya, disela-selanya sejak makan takjil sampai makanan utama, saya minum air putih serta berjeda, tidak terus-terusan disambung makan.

Ramadan Ketiga di Belanda

Setelah urusan berbuka selesai, saya lanjut sholat Maghrib. Sambil menunggu Isya, saya tadarussan sebentar lanjut ngobrol dengan suami, ngobrol di grup wa atau buka-buka media sosial. Karena itulah menjelang tengah malam (dan pagi hari) akhir-akhir ini saya baru aktif di media sosial. Untuk sahur, saya cuma makan sepotong roti yang ada hari itu, roti yang saya buat sendiri. Sekitar jam setengah 12 malam saya makan sahur lalu lanjut Isya dan taraweh. Ini biasanya cepet-cepetan sih karena mata sudah sangat mengantuk. Lalu jam 00.15 biasanya saya baru tidur, bangun lagi sewaktu sholat subuh. Jadi ada bayangan ya jarak antara berbuka puasa dan sahur yang saya lakukan. Saya malas untuk bangun sahur pagi hari. Jadinya ya sebelum tidur, saya niatkan makan sahur. Makan dan minum terakhir jam 23.30, buka puasa jam 21.40 an. Kalau dihitung waktu tersebut, hampir 22 jam ya sebenarnya saya puasa. Sejauh ini, kuat melewatinya.

Ramadan Keempat di Belanda

Bagaimana dengan kegiatan sehari-hari? tidak ada bedanya dengan sebelum Ramadan. Malah saya merasa selama Ramadan ini kok makin sibuk. Semakin sibuk bersih-bersih rumah seisinya, halaman depan belakang (rumah tidak terlalu besar kok adaaa saja yang dibersihkan, sampai suami bilang : ini bukan museum, ga usah terlalu bersih. Saya ngakak kalau ingat dia ngomong begitu). Pada dasarnya memang saya suka sekali bersih-bersih dan mengurangi barang-barang yang tidak penting di rumah. Lebih baik diberikan kepada yang memerlukan atau dibuang jika memang sudah tidak bisa digunakan lagi.

Belum lagi ngurusin tanaman-tanaman (yang beberapa kok ya susah sekali numbuhnya), membuat roti untuk makan malam, masak seperti biasa untuk makan siang, trus sibuk membuat beberapa kue kering supaya nanti terasa suasana lebaran seperti di Indonesia (akhirnya pecah telor, seumur hidup, baru kali ini saya membuat kue kering untuk lebaran seperti kaasstengels, kue kacang, putri salju dan beberapa kue yang rencana akan dibuat. Biasanya beli atau tidak ada sama sekali. Ternyata ya bisa kalau niat), sepedahan sore jalan-jalan ke hutan atau danau atau taman bermain yang sepi, baca buku, belanja online, ikut kursus online. Ya seperti itulah, malah rasanya lebih sibuk.

Kaasstengels buatan sendiri
Kaasstengels buatan sendiri

Ramadan Kelima di Belanda

Senang juga kalau sibuk begitu, malah tidak sempat mengeluh, jadi jarang buka media sosial kalau siang hari (jadi bisa terlewati dengan berita-berita yang tak penting), waktu berlalu cepet lalu tiba-tiba sudah menjelang berbuka, jadi lebih banyak bersyukur karena meskipun di rumah saja tapi banyak kegiatan yang dilakukan. Tidak merasa bosan dan belum ada keinginan sama sekali ke tempat keramaian apalagi ke pusat kota. Masih belum siap bertemu banyak orang. Sesekali terpikir kapan ya bisa jajan di restoran Indonesia atau Sushi atau restoran-restoran lainnya. Tapi cuma sebatas pikiran, toh beberapa restoran Indonesia di sekitaran Den Haag menyediakan layanan antar dengan ongkos kirim yang terjangkau. Pengen Sushi, ya bikin sendiri. Sekarang kalau lagi ingin makan apapun, ya diusahakan bikin sendiri dulu.

Sushi dengan macam sayuran yang selalu ada di kulkas
Sushi dengan macam sayuran yang selalu ada di kulkas

Cuaca Ramadan tahun ini juga sangat bersahabat. Tidak sangat panas juga tidak dingin. Jadi tengah-tengah. Maksimal 26 derajat celcius. Kadang masih hujan dan angin dingin juga. Tapi secara keseluruhan cerah dan hangat. Ramadan kali ini berbeda karena situasi di tengah Pandemi. Semoga keadaan berangsur kembali aman.

Begitulah cerita Ramadan saya kali ini yang sudah keenam di Belanda. Di atas saya sertakan juga tautan cerita Ramadan dari yang pertama sampai yang kelima sejak tinggal di Belanda. Pertama kali datang merasakan puasa sekitar 19 jam. Saat ini hanya 17 jam, jadi semakin terlatih. Semoga berkah buat kita semua dan sama-sama berdoa untuk dunia semoga vaksin segera ditemukan, didistribusikan, dan dunia kembali aman. Semoga masih bisa dipertemukan kembali dengan Ramadan-ramadan akan datang dengan keadaan yang lebih baik, sehat beserta seluruh keluarga. Mudah-mudahan Ramadan tahun depan keluarga saya di sini bisa merayakan dengan keluarga di Indonesia dalam keadaan sehat dan lengkap.

Selamat berpuasa teman-teman, tinggal sebentar lagi lebaran. Jangan mudik ya, tinggal di rumah saja, sholat Ied di rumah saja, Taraweh di rumah, tidak usah ke mall dulu, perbanyak di rumah kalau tidak penting-penting sekali untuk ke luar rumah. Kondisinya berbeda saat ini, jadi sholat Ied di rumah saja tidak akan mengurangi pahala. Kita semua sadar bahwa Ramadan dan Lebaran tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jangan dipaksakan untuk sama, karena memang tidak akan pernah sama. Ikhlaskan, demi melindungi diri sendiri, demi orang-orang yang kita cintai, demi banyak orang yangs sedang berjuang bersama kita. Sholat Ied di rumah saja ya.

-19 Mei 2020-

Tidak Sulit Untuk Berempati

(Nyaris) semua orang saat ini sedang berlomba2 bersama menyelamatkan diri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Tidak hanya lingkup negara, tapi seluruh dunia. Musuh kita tak kasat mata tapi sudah membuktikan kekuatannya : menghilangkan banyak nyawa dan menimbulkan krisis ekonomi.

Setiap individu punya cara masing-masing untuk bertahan, apapun itu. Bertahan waras secara mental maupun raga. Bertahan untuk hidup menit demi menit.

Ada yang setiap masuk rumah dari luar rumah, langsung mandi dan mencuci bajunya. Apakah berlebihan? Tidak. Itu cara mereka bertahan hidup dengan melindungi diri dan keluarganya. Supaya hal-hal yang tak kasat mata dan mematikan di luar tidak menyebar di dalam rumah.

Ada yang merasa cemas setiap berpapasan dengan orang lain lalu memilih jauh-jauh supaya tidak berdekatan. Apakah berlebihan? Tidak. Itu cara mereka menentramkan hati supaya tidak was-was tertular atau menularkan pada orang lain. Kita tidak pernah tahu siapa yang jadi pembawa musuh utama kita saat ini.

Ada yang sangat patuh dengan anjuran : menjaga jarak, banyak diam di rumah, bahkan menggunakan masker saat di luar rumah. Apakah berlebihan? Tidak. Itu cara mereka berjuang supaya virus ini tidak semakin merajalela. Mereka percaya pada ahli-ahli yang lebih mengerti tentang hal ini.

Ada yang pergi ke psikolog bahkan sampai dirujuk ke psikiater karena butuh pertolongan untuk membuat kesehatan mental mereka tetap terjaga. Apakah mereka berlebihan? Tidak. Rasa was-was dan cemas dengan keadaan ini sangat nyata dan bisa mempengaruhi kesehatan jiwa. Mereka butuh pertolongan untuk tetap sehat secara mental.

Ada yang lebih memilih tinggal di rumah, merasa nyaman untuk tidak bertemu banyak orang, dan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan untuk mengalihkan perhatian dari berita-berita yang bersliweran. Apakah mereka berlebihan? Tidak. Itu cara mereka bertahan melewati hari, menumbuhkan sekeping harapan bisa melewati pandemi ini dengan selamat bersama yang mereka cintai.

Ada yang tidak punya pilihan, harus tetap bekerja di luar rumah. Menjadi bagian yang menyelamatkan banyak nyawa karena musuh yang tak tampak jelas oleh mata, menjadi bagian yang bekerja membersihkan tempat-tempat rawan oleh makhluk ini, tidak memikirkan keselamatan diri selama masih punya uang untuk membeli nasi dan membawa pulang untuk dimakan bersama keluarga. Dan masih banyak yang tidak punya pilihan untuk jauh-jauh dari virus ini.

Ada yang tidak mengindahkan anjuran dan malah mencela pilihan orang lain yang sangat berhati-hati sekali menjaga diri dan lingkungan terdekat. Apakah yang mencela ini berlebihan? Entahlah. Yang pasti, saya menuduh mereka tidak punya empati.

Ada yang berbondong-bondong bergerombol mendatangi suatu tempat demi kesenangan sesaat dan melupakan anjuran untuk menjaga jarak. Apakah mereka berlebihan? Tentu saja. Apa manfaatnya datang ke suatu tempat beramai-ramai hanya demi kesenangan sesaat lalu membuat virus ini semakin ke sana ke mari. Melupakan bahwa banyak orang yang berjuang supaya keadaan saat ini aman kembali.

Kita yang punya banyak pilihan, bersyukurlah. Bersyukur karena masih hidup dengan sehat, punya cukup makanan, masih bisa melihat anggota keluarga berkumpul dengan lengkap. Bersyukur sampai saat ini kita masih selamat dari virus ini.

Namun, tak perlu jumawa. Virus ini berbahaya. Bagi banyak orang, sangat menakutkan. Tidak perlu berkoar-koar bahwa virus ini tidak ada apa-apanya hanya karena kita masih bisa duduk santai dipagi hari sambil makan roti dan menyeruput kopi. Jika kita masih sehat, bersyukurlah. Mari sama-sama jadi bagian untuk berjuang melawan makhluk ini. Semua orang lelah dengan keadaan saat ini. Setiap jenuh, ingatlah tenaga kesehatan yang bahkan mereka tidak punya pilihan untuk jenuh, tetap berjuang menyelamatkan banyak nyawa. Setiap rasa rindu berkumpul dengan teman-teman dan keluarga datang, tahanlah dan ingat petugas kebersihan yang bekerja di tempat-tempat rawan bergelut dengan virus ini. Ingatlah mereka yang tidak punya pilihan untuk menghindar. Tahanlah untuk melakukan hal-hal demi kesenangan pribadi semata untuk saat ini, paling tidak sampai semua ini aman kembali.

Tahanlah sejenak setiap merindukan ritme kehidupan yang lalu untuk datang lagi. Ini tidak akan lama jika kita berjuang bersama dengan cara sekecil apapun yang kita bisa. Mari saling jaga. Ingatlah banyak orang meninggal karena virus ini. Ingatlah banyak keluarga yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Ingatlah banyak Oma Opa yang tidak bisa memeluk anak cucunya, menahan rindu karena ingin menjaga diri mereka dan keluarga dari virus ini. Semua saat ini sedang berjuang bersama. Virus ini nyata, bukan hasil gembar gembor media. Angka-angka mereka yang meninggal bukan hanya sekadar angka karena itu adalah nyawa. Jika ada yang punya teori sendiri mengenai keadaan saat ini, simpan sajalah. Tak perlu mengerdilkan keadaan yang kacau saat ini hanya karena masih bisa berdiri tegak tanpa kurang satu hal. Tak perlu.

Jika saat ini kita masih sehat, bersyukurlah dan jangan jumawa. Tiap orang punya cara sendiri untuk berjuang, jangan dianggap sebelah mata apapun usahanya, asal bisa selamat dan tetap hidup demi tidak terpapar sang virus. Tidak sulit untuk berempati, kecuali memang sudah tak ada hati atau sang empati sudah mati.

*Awalnya saya tulis di FB. Sekarang saya salin di blog.

-15 Mei 2020-

Hari Ibu

Kembang, Pie Susu, Dadar Gulung isi Unti, dan Pastel di hari Ubu

Saya mau bercerita singkat tentang Hari Ibu pada hari minggu lalu. Di Belanda, hari Ibu selalu pada hari minggu kedua dibulan Mei.

Beberapa waktu sebelumnya, suami beberapa kali bertanya apakah ada sesuatu yang bisa dia kasih sebagai kado untuk hari Ibu. Sekarang kami benar-benar nyaris melakukan pembelian semua online, tidak bisa spontan langsung pergi ke toko kalau ingin membeli sesuatu, karenanya untuk kado pun harus disiapkan jauh hari supaya ada waktu untuk melakukan pembelian. Pengantaran barang pun saat ini jauh lebih lama dibandingkan saat keadaan normal.

Saya bilang, tidak usah diberi kado karena sewaktu ulangtahun toh saya sudah mendapatkan kado. Apalagi 2 hari sebelum hari Ibu saya sangat sedih karena tidak bisa pulang ke Indonesia seperti rencana awal tiket pesawat dibeli. Namun begitu, toh suami tetap memberikan kado berupa beberapa tanaman. Wahh saya senang sekali, jadi makin bertambah tanaman-tanaman di halaman.

Minggu pagi bangun seperti biasa, lalu mendapatkan bunga dari sigarane nyowo dan dari mereka yang memanggil saya Ibu. Lalu tiba-tiba saya mendapatkan Hidayah ingin membuat pastel dan dadar gulung. Ingin membuat sesuatu yang spesial di hari Ibu. Saya memang orang yang terbiasa merayakan apapun, bahkan hal-hal yang kecil sekalipun. Apalagi hari Ibu yang menurut saya spesial. Lalu saya bertanya ke salah satu teman, untuk membuat pastel, tepung apayang digunakan. Pertanyaan tepung ini selalu jadi topik utama. Untuk sekedar info, di Belanda dunia pertepungannya agak ruwet. Tidak segampang di Indonesia.

Kembang, Pie Susu, Dadar Gulung isi Unti, dan Pastel di hari Ubu
Kembang, Pie Susu, Dadar Gulung isi Unti, dan Pastel di hari Ibu

Setelahnya, saya berkutat di dapur menyiapkan semuanya. Membuat adonan kulit pastel, membuat kulit dadar gulung, dan membuat isian pastel. Semuanya saya lakukan secara pararel. Jadi kompor dua nyala semua sambil saya mengadon kulit pastel. Ini pertama kali saya membuat pastel dalam seumur hidup. Biasanya selalu beli karena pastel adalah salah satu camilan favorit.

Singkat cerita, jam 11 menjelang makan siang, semua sudah siap. Wah saya bangganya bukan main bisa membuat pastel pertama kali. Resep kulit pastel saya dapat dari Anis. Saking bangganya dengan pastel yang pertama kali dibuat dan merasa sukses, saya sampai pamer ke mana-mana. Dari twitter, FB, sampai grup WhatsApp haha. Ya wes tidak apa, namanya juga euforia. Waktu membuat semua makanan ini, saya masih puasa. Jadi belum bisa mencicipi bagaimana rasanya. Tapi siangnya sudah ada yang mencicipi, memberikan testimoni enak. Termasuk tetangga dan Mama mertua yang saya  bagi juga makanan tersebut.

Pastel isi Bihun, ayam, kentang, dan wortel.
Pastel isi Bihun, ayam, kentang, dan wortel.

Pastel perdana. Berhasil!
Pastel perdana. Berhasil!

Resep Pie Susunya saya mencontek milik Chef Tiarbah di YouTube. Hanya untuk yang saya buat ini, resepnya digandakan supaya lebih nampak sebagai pie susu. Sewaktu pertama kali membuat beberapa waktu lalu, penampakannya tidak terlalu tebal karena teflon yang saya punya terlalu lebar. Kunci utama sukses membuat pie susu teflon ini adalah api harus super kecil supaya bawahnya tidak gampang gosong dan matang merata. Memasaknya memang akan memakan waktu yang lama. Yang saya buat ini sampai 1.5 jam. Tentu saja bisa saya sambi mengerjakan yang lain. Oh ya, diresepnya menggunakan susu kental manis, tapi karena menurut saya terlalu manis, saya ganti menggunakan slaagroom ditambahi gula sedikit. Jadi lebih enak karena rasa tidak terlalu manis. Bisa juga diganti susu biasa.

Pie Susu Teflon
Pie Susu Teflon

Untuk dadar gulungnya, standar saja. Saya biasa menggunakan resep yang diberikan Ibu. Isinya juga standar, unti (kelapa dan gula merah). Setelah dirasakan, rasanya seperti biasa, tidak standar karena enak *hahaha masak sendiri dipuji sendiri.

Sorenya kami sepedahan ingin jalan-jalan ke hutan. Mampir sebentar ka rumah Oma untuk mengantarkan Anggrek, mengucapkan selamat hari Ibu dan makanan yang saya buat. Seperti biasa, semua yang kami bawa diletakkan di depan pintu, Oma membuka pintu, dan kami berbincang sejenak dari jarak jauh (sekitar 3 meter). Begitu saja sudah membuat kami senang bisa melihat Oma dan berbincang sejenak.

Dadar gulung isi unti
Dadar gulung isi unti

Setelah berbuka, saya ada kesempatan untuk mencoba. Walhasil terharu sekali dengan pastel yang saya buat. Seperti yang saya harapkan, kulitnya crunchy, tidak menyerap minyak dan setelah sekian lama digoreng (pagi) masih juga kulitnya crunchy. Isiannya juga pas rasanya. Enaklah menurut saya. Pantas saja siangnya ada yang sampai habis 3 pastel haha. Saking terharunya karena pertama kami membuat pastel dan setelah mencicipi ternyata sesuai yang diharapkan, setiap selesai menggigit saya komen ke suami : aduuhh enak banget ini, waahh aku sampai terharu ini bisa membuat pastel… begitu terus sampai pastelnya habis haha. Super terharu sampai mengalahkan rasa terharu waktu lulus kuliah :)))

Begitulah cerita singkat kegiatan Hari Ibu minggu lalu. Selamat hari Ibu, semoga kita sehat selalu. Ramadan sudah memasuki minggu ketiga. Semoga semuanya masih lancar ya puasanya dan disertai kesehatan yang baik. Postingan selanjutnya saya akan menceritakan tentang Ramadan keenam di Belanda.

-13 Mei 2020-

Seharusnya Hari Ini…

Hutan dekat rumah

Pagi kami bersiap dengan beberapa koper, membawa perlengkapan pribadi dan buah tangan yang terbeli. Mengecek apakah semua dokumen sudah lengkap, obat-obatan dan vitamin yang diperlukan tak tertinggal, dan semua barang yang akan dibawa sudah pada tempatnya.

Seharusnya hari ini kami menitipkan rumah selama ditinggal liburan pada tetangga sebelah, duduk di taksi yang telah kami sewa menuju bandara, melewati jalan raya dengan bergumam sampai bertemu lagi tiga bulan kemudian.

Seharusnya siang ini kami dalam antrian untuk melewati petugas imigrasi, duduk di ruang tunggu dengan penuh senyuman membayangkan segera bertemu keluarga, teman dan beberapa sahabat, di dalam pesawat selama total 17 jam dengan sedikit perasaan was-was namun gembira semoga semua lancar sampai negara tujuan.

Seharusnya hari ini, rencana yang kami persiapkan sejak tahun lalu untuk mudik ke Indonesia bisa terlaksana setelah beberapa tahun tertunda. Seharusnya hari ini sejak pindah 5.5 tahun lalu, akhirnya kesempatan mudik pun tiba. Seharusnya esok hari saya sudah bisa bertemu dengan Ibu, adik-adik dan semua saudara di desa. Seharusnya esok hari semua rindu yang saya tahan selama 5.5 tahun ini bisa tertumpahkan. Seharusnya beberapa hari ke depan kami sudah bisa nyekar ke kuburan Bapak. Betapa saya sudah rindu mengirimkan doa di depan kuburan Bapak seperti yang biasa saya lakukan sebelum pindah, berbisik lirih bahwa akhirnya saya bisa ada di sana bersama seluruh anggota keluarga. Memperlihatkan tempat mbah Kakung yang sosoknya tak pernah mereka temui secara nyata. Seharusnya lebaran tahun ini kami bisa bersama seluruh keluarga di sana setelah terakhir kali saya berlebaran dengan mereka 6 tahun lalu. Mudik kali ini tidaklah muluk-muluk dengan banyak rencana karena ingin menghabiskan banyak waktu dengan keluarga dan menikmati masakan Ibu yang sudah sangat saya rindu.

Seharusnya memang semua rencana itu bisa terlaksana karena kami sudah mempersiapkan setiap detilnya sedemikian hingga. Memang seharusnya saya tidak memperkarakan apa yang seharusnya terjadi hari ini. Memang seharusnya saya bisa berdamai dengan situasi yang diluar kendali seperti saat ini. Idealnya seperti itu. Tapi saya masih mencoba berdamai dengan rasa sesak yang kadang timbul tenggelam, pergi lalu datang lagi. Saya sedang menata hati dan emosi. Menata sedih yang sering mengalirkan air mata, bahkan saat tulisan ini tercipta.

Entah kapan rencana yang tertunda ini akan bisa terwujud kembali. Entah. Yang bisa saya lakukan saat ini hanya memanjangkan doa, harapan, dan permohonan pada yang Kuasa. Semoga kami di sini dan keluarga serta para teman juga sahabat di Indonesia yang telah direncanakan untuk bertemu diberikan panjang umur dalam kesehatan yang baik, hidup melewati situasi saat ini, berjodoh untuk saling bertemu tanpa rasa was-was dan dalam situasi yang tak membuat cemas. Semoga situasi ini segera berlalu dan semua pulih seperti sedia kala.

-8 Mei 2020-

Seharusnya Hari Ini…

Pagi kami bersiap dengan beberapa koper, membawa perlengkapan pribadi dan buah tangan yang terbeli. Mengecek apakah semua dokumen sudah lengkap, obat-obatan yang diperlukan tak tertinggal, dan semua barang yang akan dibawa sudah pada tempatnya.

Seharusnya hari ini kami menitipkan rumah selama ditinggal liburan pada tetangga sebelah, duduk di taxi yang telah kami sewa menuju bandara, melewati jalan raya dengan bergumam sampai bertemu lagi tiga bulan kemudian.

Seharusnya siang ini kami dalam antrian untuk melewati petugas imigrasi, duduk di ruang tunggu dengan penuh senyuman membayangkan segera bertemu keluarga, teman dan beberapa sahabat, di dalam pesawat selama total 17 jam dengan sedikit perasaan was-was semoga semua lancar sampai negara tujuan.

Seharusnya hari ini, rencana yang kami persiapkan sejak tahun lalu untuk mudik ke Indonesia bisa terlaksana setelah beberapa tahun tertunda. Seharusnya hari ini sejak pindah 5.5 tahun lalu, akhirnya kesempatan mudik pun tiba. Seharusnya esok hari saya sudah bisa bertemu dengan Ibu, adik-adik dan semua saudara di kampung. Seharusnya esok hari semua rindu yang saya tahan selama 5.5 tahun ini bisa tertumpahkan. Seharusnya beberapa hari ke depan kami sudah bisa nyekar ke kuburan Bapak. Betapa saya sudah rindu mengirimkan doa di depan kuburan Bapak, berbisik lirih bahwa akhirnya saya bisa ada di sana bersama seluruh keluarga. Seharusnya lebaran tahun ini kami bisa bersama mereka setelah terakhir kali saya lebaran di sana 6 tahun lalu. Mudik kali ini tidaklah muluk-muluk dengan banyak rencana karena ingin menghabiskan banyak waktu dengan keluarga di sana dan menikmati masakan Ibu yang sudah sangat saya rindu.

Seharusnya memang semua rencana itu bisa terlaksana karena kami sudah mempersiapkan setiap detilnya sedemikian hingga. Memang seharusnya saya tidak memperkarakan apa yang seharusnya terjadi hari ini. Memang seharusnya saya bisa berdamai dengan situasi yang diluar kendali seperti saat ini. Idealnya seperti itu. Tapi saya masih mencoba berdamai dengan rasa sesak yang kadang timbul tenggelam, pergi lalu datang lagi. Saya sedang menata hati dan emosi. Menata sedih yang sering mengalirkan air mata.

Entah kapan rencana yang tertunda ini akan bisa terwujud kembali. Entah. Yang bisa saya lakukan saat ini hanya memanjangkan doa, harapan, dan permohonan pada yang Kuasa. Semoga kami di sini dan keluarga serta para teman juga sahabat di Indonesia yang telah direncanakan untuk bertemu diberikan panjang umur dalam kesehatan yang baik, hidup melewati situasi saat ini, berjodoh untuk saling bertemu tanpa rasa was-was dan dalam situasi yang tak membuat cemas. Semoga situasi ini segera berlalu dan semua pulih seperti sedia kala.

-8 Mei 2020-

The New Normal

Hai, apa kabar? mau menyapa sejenak dunia per-blog-an. Saya ingin menuliskan hal-hal baru yang akhirnya bisa menjadi bagian hidup sehari-hari setelah 6 minggu beradaptasi.

  • DIAM DI RUMAH. 

Buat saya, diam di rumah bukanlah hal baru. Sejak berhenti kerja akhir tahun 2017, kegiatan saya ya kebanyakan di rumah. Tapi diam di rumah kali ini berbeda. Biasanya saya suka spontan jalan-jalan ke luar rumah tanpa harus ada alasan kuat. Misalkan, ke supermarket hanya sekedar cuci mata, jalan sore ke taman bermain, jalan pagi ke sekeliling rumah, atau tiba-tiba pergi ke kota karena cuaca sedang cerah. Sekarang kami sudah beradaptasi, tidak bisa lagi seperti itu. Kami benar-benar diam di rumah saja jika tidak ada kepentingan ke luar.

  • KE TEMPAT YANG SEPI

Setiap sore, kami menyempatkan untuk sepedahan. Tujuannya ya ke tempat-tempat yang sepi semacam hutan, danau, peternakan, atau sekadar sepedahan keliling kampung. Beruntung kami tinggal di kampung, jadi kesempatan berpapasan dengan banyak orang di tempat-tempat yang saya sebutkan di atas sangat kecil. Jika salah satu tempat tersebut ramai, kami tidak akan berhenti di sana. Kami melanjutkan perjalanan sampai ketemu tempat yang sepi. Apalagi sejak Intelligent Lockdown diberlakukan di sini, entah kenapa cuaca mendadak nyaris selalu cerah setiap hari. Karenanya kami menyempatkan sepedahan setiap sore.

Hutan dekat rumah
Hutan dekat rumah

  • MENJAGA JARAK

Saat pemerintah mulai menganjurkan secara keras untuk menjaga jarak minimal 1.5 meter, saya malah merasa takut kalau bertemu orang. Kalau dari jauh terlihat ada orang yang berjalan ke arah saya,  cepat-cepat saya mencari cara supaya tidak berpapasan. Waktu itu saya benar ketakutan bertemu orang. Sekarang sudah tidak lagi. Perlahan perasaan cemas hilang dan otomatis jika bertemu orang langsung menjaga jarak. Berbicara dari jarak jauh.

  • MEMAKAI MASKER

Belanda tidak menyarankan untuk memakai masker. Tapi kami selalu membawa masker jika ke luar rumah dan memakainya jika bertemu orang. Bahkan suami saya menggunakan masker jika pergi ke supermarket retail. Kami punya masker dua jenis. Yang dari kain dan masker N95. Yang dari kain kami membeli dari orang Indonesia tinggal di sini, sedangkan masker N95 kami pesan sejak pertengahan Februari 2020 saat belum ada kasus di Belanda.

IMG_6387
Masker Kain

  • BELANJA MINGGUAN ONLINE

Sejak 6 minggu lalu, kami sudah tidak belanja mingguan ke supermarket lagi. Terutama saya karena terakhir ke supermarket tanggal 13 Maret 2020. Jadi sampai detik ini, saya tidak tahu sama sekali secara nyata perubahan apa yang ada di supermarket. Sedangkan suami sesekali pergi ke supermarket tapi yang retail jika ada kebutuhan yang mendesak. Setiap minggunya, kami berbelanja online. Menyenangkan berbelanja mingguan online, tapi perjuangannya tidak mudah. Slot jadwal pengiriman dibuka tidak setiap saat. Jadi harus benar-benar memantau aplikasinya. Saya selalu mendapatkan slot jika membuka aplikasi sekitar dini hari. Beruntung selama ini kami selalu mendapatkan slot dua minggu berturut. Jadi belanja mingguan aman.

  • SEMUANYA BELANJA ONLINE

Tidak hanya belanja mingguan saja yang online, semua belanja apapun kami lakukan secara online. Dulu tidak terbiasa karena kami lebih memilih datang langsung ke toko. Sekarang beli pelembab badan atau pasta gigi sebiji saja beli online.

  • MEMBUAT ROTI SENDIRI

Karena kami sudah tidak lagi pergi ke supermarket dan bakery, walhasil saya “terpaksa” membuat roti sendiri. Roti merupakan makanan sehari-hari di rumah kami. Jadi bukan sebagai camilan, tetapi sebagai makanan utama setiap makan malam. Dari awal yang saya buta sama sekali tentang tepung, jenis ragi, sekarang sudah lumayan bisa otak atik resep, otak atik cara membuatnya bahkan mulai bisa membuat desain eksperimennya. Nanti kapan-kapan kalau senggang, saya akan tuliskan tersendiri tentang perjalanan saya membuat roti.

Salah satu roti buatan sendiri. Roti tawar dan roti isi
Salah satu roti buatan sendiri. Roti tawar dan roti isi

  • BERTEMU OMA DARI JARAK JAUH

Akhirnya dua minggu lalu kami ke rumah Oma (Mama mertua saya). Sebelumnya sudah saya tuliskan tentang bagaimana kami tidak bisa bertemu Oma, di sini. Kami bertemu Oma dengan jarak yang sangat jauh. Jadi Oma membuka pintu rumah, berdiri di belakang pintu dalam rumah, dan kami berdiri di jalan. Tidak bisa ngobrol terlalu lama karena Oma sudah tidak terlalu kuat berdiri lama. Pertemuan pertama setelah 1 bulan tidak bertemu, berlangsung haru. Oma menangis, saya apalagi, sesenggukan. Merasa nelangsa kami sekarang tidak bisa lagi duduk di ruang tamu berbicara santai. Merasa nelangsa karena tidak bisa lagi sering – sering ke sana. Tapi masih bersyukur bisa melihat keadaan Oma.

  • SERING VIDEO CALL
<li> Saya dan suami bukan tipe orang yang suka video call-an. Entah, males aja gitu nelpon sambil lihat muka yang ditelpon haha. Tapi sejak 6 minggu terakhir, mau tidak mau kami jadi rajin menggunakan video call. Menelepon Oma atau saudara-saudara di Indonesia. Sekarang jadi terbiasa menelepon sambil melihat mukanya.</li>
  • BERSIH-BERSIH RUMAH BERDUA

Sejak awal tahun lalu (2019), setiap dua minggu sekali ada Mbak yang datang untuk bersih-bersih rumah. Enam minggu terakhir, kami kembali gotong royong bersih-bersih rumah. Nanti kalau keadaan sudah aman, kami akan menggunakan jasa bersih-bersih rumah lagi

  • SETIAP SAAT WAKTU KUMPUL KELUARGA

Suami sudah mulai kerja dari rumah sejak 12 Maret 2020. Meskipun kerja dari rumah, dia benar-benar seperti kerja di kantor. Sering meeting online juga. Turun ke bawah hanya jika mau ambil minum dan snack sekitar jam 10 dan saat makan siang. Sore jika sudah selesai jam kerja, kami baru jalan-jalan. Secara keseluruhan, tidak ada bedanya dengan dia bekerja di kantor. Hanya saat makan siang kami bisa bersama dan jika ada hal yang mendesak saya bisa minta bantuannya. Menyenangkan buat saya karena merasa tenang ada suami di rumah. Merasa lebih tenang dan senang.

  • BELUM NAIK KENDARAAN UMUM LAGI

Terakhir naik kendaraan umum tanggal 10 Maret. Sampai sekarang belum pernah naik kendaraan umum lagi. Kalau lihat bis atau tram yang lewat, kangen sebenarnya. Nanti-nanti saja kalau sudah aman.

  • KEHILANGAN SPONTANITAS

Kami sudah beradaptasi untuk tidak spontan lagi saat ini. Dulu kalau cuaca cerah, menjelang makan siang biasanya kami spontan punya rencana ke luar rumah ke mana. Sekarang kalau cuaca cerah, ya tujuannya ke mana lagi kalau bukan ke tempat yang sepi atau tinggal saja di rumah. Kangen sebenarnya spontan bisa jalan-jalan ke supermarket tanpa membeli apa-apa. Nanti saja, kalau keadaan sudah membaik kembali. Akan ada saatnya.

 

Begitulah beberapa adaptasi yang kami lakukan sehubungan dengan kondisi terkini. Adaptasi selama 6 minggu terakhir yang merupakan the new normal buat kami.

Saat menulis, di sini masih waktu Maghrib malam Ramadhan hari pertama. Selamat menjalankan Ibadah puasa Ramadhan untuk teman-teman yang menjalankan. Semoga diberikan kelancaran, kesehatan yang baik, dan berkah. Insya Allah Ramadhan kali ini saya sudah ikut berpuasa, semoga bisa khatam Al-Qur’an juga selama sebulan ini. Walaupun Ramadhan tahun ini yang rencananya saya bisa berpuasa dengan keluarga di Indonesia, tapi ternyata belum berjodoh untuk bisa pulang karena pandemi, semoga saya dan keluarga di sini diberikan umur panjang dan sehat sehingga bisa bertemu keluarga di Indonesia dalam keadaan yang jauh lebih baik.

Semangat buat kita semua. Semoga keadaan berangsur membaik dan kita diberikan perlindungan sehingga selamat dan hidup melewati pandemi ini.

IMG_6186

-23 April 2020-

Pertambahan Usia

Tumpeng (yang tidak berbentuk tumpeng) ulangtahun

Pertambahan usia kali ini, saya lewati dengan suasana dan kondisi yang tidak biasa. Siapa yang menyangka dalam hitungan bulan, dunia kelabakan dengan pandemi Covid-19. Begitupun kami. Banyak jadwal dan rencana yang tertunda, bahkan batal. Termasuk rencana merayakan ulangtahun saya yang akhirnya batal. Kali ini, saya merayakan dalam suasana yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di rumah saja. Justru saya merasa nyaman, di rumah leyeh-leyeh dan kruntelan seharian. Makin berasa hari yang spesial.

Baru saja, PM Belanda, Mark Rutte membacakan peraturan terbaru sehubungan dengan meminimalisir penyebaran Covid-19 di Belanda. Peraturan sebelumnya yang berlaku sampai 6 April, diperpanjang jadi 28 April, dengan catatan : nanti sebelum 28 April akan ada pidoto lagi apakah ada perpanjangan waktu lagi atau tidak. Peraturannya adalah : Horeca, daycare, Museum, sportclub, coffeeshop, salon, tutup sampai 28 April. Sekolah tutup sampai selesai liburan bulan Mei. Larangan mengadakan acara berlaku sampai 1 Juni (termasuk larangan perayaan paskah, sholat taraweh, Idul Fitri, Koningsdag dll). Dilarang berjalan bergerombol (lebih dari 2 orang, kecuali keluarga) dan tetap menjaga jarak minimal 1.5 meter. Jika dilanggar akan kena denda €400. Denda untuk perusahaan yang melanggar (misalkan mengadakan acara) sebesar €4000. Belanja dilarang membawa anak-anak dan cukup 1 orang dalam satu keluarga. Pasar tetap buka tapi dengan pengaturan yang ketat. Dilarang bepergian ke LN kecuali untuk urusan sangat mendesak. Hanya ada dua maskapai yang terbang ke Belanda, itupun jadwalnya sudah berkurang. Maskapai lainnya sudah meniadakan jadwal terbang ke Belanda. Sangat disarankan untuk tinggal di rumah, tidak usah ke luar rumah untuk hal-hal yang tidak mendesak. Boleh sesekali ke luar rumah untuk menghirup udara segar seperti sepedahan, jalan ke hutan atau danau asal tetap diingat untuk jaga jarak. Sangat disarankan untuk bekerja dari rumah, jika memang punya pilihan itu.

Sejak ditetapkan peraturan yang lebih ketat minggu lalu, ketika kami sepedahan sore hari, memang terlihat polisi patroli di mana-mana. Mereka bukan hanya patroli di jalan raya, tapi sampai blusukan ke dalam hutan, danau, taman-taman. Hanya taman bermain yang mungkin tidak terlalu karena saya melihat masih banyak taman bermain yang rame bukan hanya anak-anak kecil tapi remaja yang sampai membawa sound speaker lalu joged-joged. Pengen tak sampluk ae arek-arek iki. Belanda tidak pernah menyatakan bahwa kebijakan yang diambil ini adalah Lockdown. Opsi ini tidak akan diambil (untuk saat ini). PM Belanda menyebutnya kebijakan Intelligent Lockdown (terus terang saya sendiri masih ngikik kalau dengar istilah ini dilontarkan oleh Perdana Menterinya. Apa cuma Belanda aja nih yang pakai istilah Intelligent lockdown). Maksudnya, pemerintah tidak akan melarang orang ke luar rumah, diharapkan orang-orang punya common sense. Yang pada kenyataannya ya banyak yang tidak punya. Buktinya sebelum dikeluarkan peraturan baru yang lebih ketat, saat cuaca cerah mereka malah memenuhi pantai, taman, hutan, pasar, dll. Dibelahan bumi manapun memang akan selalu ada orang-orang yang seperti ini.

Begitulah sekilas keadaan di Belanda sekarang. Yang meninggal setiap hari masih diatas 100 orang. Tapi dari grafik, yang dites positif  tidak eksponensial lagi, meskipun tetap banyak. Sejak sebulan lalu kasus pasien pertama, per hari ini (31 Maret 2020) yang positif dites total sebanyak 12.595 orang dan total yang meninggal sebanyak 1.039 orang.

Kembali ke cerita saya. Saat hari pertambahan usia (yang bukan hari ini), seperti biasa saya membuat tumpeng (yang tidak berbentuk tumpeng karena tidak punya cetakannya). Kali ini isinya orek tempe tahu, sambel bajak, dadar telor, oseng buncis wortel, suwiran ayam oven, dan mie goreng. Kami makan siang dengan lahap setelah saya mengucapkan beberapa harapan. Mama mertua menelepon untuk mengucapkan selamat. Sudah hampir 4 minggu saya tidak bertemu Beliau. Biasanya kami berjumpa seminggu sekali. Cerita kenapa kami tidak bisa mengunjungi Beliau, sudah saya tuliskan sebelumnya di sini.

Tumpeng (yang tidak berbentuk tumpeng) ulangtahun
Tumpeng (yang tidak berbentuk tumpeng) ulangtahun

 

Nasi kuning ulangtahun
Nasi kuning ulangtahun

Setelah selesai makan siang, saya menyiapkan beberapa piring isi nasi kuning buat tetangga. Kali ini, saat mengantar makanan, saya sudah tidak bisa lagi mengobrol panjang. Hanya mengantar, mereka mengucapkan selamat ulang tahun dari balik pintu, lalu saya pulang. Beginilah sekarang hidup bermasyarakat di Belanda. Biasanya kalau berpapasan saling menyapa, melempar senyum, sekarang mukanya pada tegang. Apalagi saya, sekiranya dari jauh terlihat orang akan berpapasan, langsung cari cara bagaimana untuk menghindar atau putar balik. Setakut itu saya bertemu orang saat ini. Saya sudah tidak pernah lagi ke supermarket sejak 3 minggu lalu. Kami belanja mingguan online atau kalau mendesak ada yang harus dibeli, suami ke supermarket retail dan berangkat sangat pagi. Jadi masih sepi dan tidak bertemu banyak orang. Virus ini memang mengubah semuanya, sampai pada tatanan bermasyarakat.

Antar-antar ke tetangga
Antar-antar ke tetangga

Sorenya, kami makan taart yang dibeli suami saat ke supermarket retail sehari sebelumnya. Setelahnya, karena udara super dingin meskipun matahari sangat nyentrong, kami tidak sepedahan ke danau melainkan leyeh-leyeh saja di rumah, main-main di halaman belakang.

Taart ulangtahun
Taart ulangtahun

Menjelang makan malam, suami tiba-tiba punya ide untuk memesan makanan cepat saji. Sejak saya pindah ke Belanda (tahun 2015), baru dua kali ini kami memesan makanan diantar ke rumah. Makan malam ulang tahun tahun ini dipersembahkan oleh restoran cepat saji.

Makan malam ulangtahun
Makan malam ulangtahun

Banyak syukur yang terucap sampai usia saat ini. Meskipun tahun ini melewati pertambahan usia di tengah suasana pandemi, tapi saya bersyukur kami sekeluarga sehat, bahagia, masih diberikan keselamatan dan berkumpul bersama. Meskipun kami sekeluarga (terutama saya) harus mengikhlaskan tidak jadi mudik saat lebaran (tiket pesawat dibeli sebelum Covid-19 sampai ke Belanda) dan melakukan reschedule (tanggal belum ditetapkan), namun kami yakin kalau langkah kecil kami untuk tidak mudik saat situasi masih gonjang ganjing begini adalah keputusan yang tepat. Semoga langkah kecil kami ini bisa menyelamatkan banyak nyawa, membantu dunia untuk bisa cepat pulih dan melewati ini semua. Kami ingin menjadi bagian yang berjuang bersama seluruh orang di dunia berdasarkan porsinya masing-masing. Kami mengambil porsi yang bisa dilakukan  untuk meratakan kurva, mengurangi resiko menularkan dan ditulari, yaitu : semaksimal mungkin diam di rumah, tidak mudik ke Indonesia (dan liburan) saat situasi masih belum sepenuhnya terkendali. Berat diawal karena saya sudah memberitahu keluarga besar dan para teman, Ibu sudah mempersiapkan banyak hal untuk ketemu kami, sudah mempersiapkan waktu mengunjungi beberapa keluarga dan teman. Namun setelahnya saya malah lega akhirnya memutuskan tidak mudik saat lebaran. Mudah-mudahan diberikan rejeki waktu dan berjodoh bertemu Ibu dan keluarga di sana dalam keadaan sehat.

Doa saya pada pertambahan usia tahun ini : Semoga saya tetap hidup, selamat, dan sehat melewati pandemi ini. Semoga ini semua bisa segera selesai dan kami sekeluarga sehat selamat. Hal pertama yang ingin saya lakukan jika semua ini sudah terlewati : jalan-jalan santai di supermarket cuma melihat-lihat isi raknya tanpa harus beli. Hiburan yang selama ini saya lakukan (sebelum Corona Virus datang).

Yuk sama-sama berjuang supaya ini segera selesai. Kalau kata pemerintah Belanda : Alleen samen krijgen we corona onder controle – Hanya dengan bersama kita dapat mengendalikan Corona.

-31 Maret 2020-

Cerita Seorang Oma dan Cucunya Saat Wabah Virus Corona

Ini iseng juga motonya

Sudah tiga minggu Mama mertua tidak bertemu dengan anggota keluarga lainnya. Terakhir berjumpa dengan seluruh keluarga, saat pesta ulang tahun cucu termudanya. Setelah itu, berita tentang Virus Corona semakin santer di Belanda. Setiap hari selalu ada berita terbaru berapa banyak orang yang dites dan positif Corona, berapa banyak yang meninggal dan berapa jarak usia pasien yang meninggal. Nyaris setiap hari selalu ada seruan pemerintah untuk melakukan tindakan preventif supaya virus tidak semakin menyebar. Salah satunya adalah dengan seruan keras untuk tinggal di rumah (kecuali bagi mereka yang harus bekerja di luar rumah atau ke luar rumah untuk keadaan darurat misalkan belanja makanan ke supermarket, ke dokter, atau rumah sakit), menjaga jarak, dan membatasi pertemuan dengan orang dalam jumlah banyak.

Namanya manusia, tidak bisa diseragamkan. Ada saja yang tidak mematuhi himbauan pemerintah. Tidak memikirkan orang lain, hanya memikirkan diri sendiri. Akhir- akhir ini cuaca di Belanda sedang cerah. Sangat cerah malah, meskipun anginnya tetap dingin. Banyak yang memanfaatkan kesempatan untuk pergi ke pantai, pasar tetap penuh, leyeh-leyeh di taman, bergerombol di pusat kota. Lupa akan bahaya Virus Corona. Lupa untuk menjaga jarak minimal 1.5 meter. Lupa seruan tinggal di rumah. Lupa untuk sementara tidak bergerombol. Lupa bahwa virus ini sudah membunuh ribuan orang di dunia. Lupa bahwa dunia saat ini sedang berjuang bersama untuk memutuskan mata rantai penyebaran. Lupa bahwa yang kita lakukan untuk tinggal di rumah bisa menyelamatkan banyak nyawa. Mereka lupa atau memang sejenak melupakan atau bahkan sengaja lupa bahwa keadaan saat ini sedang tidak biasa saja.

Mama, yang setiap minggu selalu dikunjungi anak-anak dan cucunya, sejak tiga minggu lalu memutuskan untuk mengisolasi diri di rumah. Beliau tidak mau dikunjungi siapapun dan tidak keluar rumah dengan alasan apapun. Bahkan saat hari ulang tahun, sehari sebelumnya Beliau memutuskan membatalkan acara yang seharusnya dirayakan di sebuah restoran. Kami sekeluarga sedih karena ini pertama kali Mama melewati ulang tahun sendiri, sejak Papa meninggal 5 tahun lalu. Mama, yang memendam rindu bertemu anak-anak dan cucu-cucunya harus merelakan melewati akhir pekan tanpa kunjungan dari siapapun. Usia Beliau yang memang rawan terinfeksi virus ini, menyebabkan kami sekeluarga juga patuh untuk tidak mengunjungi Mama. Belanja pun, beliau meminta tolong salah satu anaknya, lalu meletakkan di depan pintu. Beliau akan mengambil belanjaan tersebut jika anaknya sudah tidak terlihat di depan mata.

Mereka yang tidak patuh pada anjuran pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus, mungkin tidak tahu ada banyak Oma dan Opa yang memendam rindu  tidak bisa melihat wajah anak cucunya sejak wabah ini berlangsung. Mereka yang merasa masih muda, mungkin merasa tidak akan jadi bagian yang terjangkiti virus ini sehingga abai dengan tindakan preventif. Tapi mereka lupa, bahwa mereka jadi bagian yang memperpanjang mata rantai virus.

Suatu hari, salah seorang cucu termuda (Balita) Mama rindu ingin bertemu Omanya. Terjadilah perbincangan di bawah ini antara dia dan Ibunya (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia semuanya) :

Anak    : Oma Mana?

Ibunya : Oma ada di rumah.

Anak    : Kita pergi ke rumah Oma?

Ibunya   : Nanti ya, kalau Virus Coronanya sudah tidak ada, kita pergi lagi ketemu Oma.

Anak    : Hari minggu ya?

Ibunya : Hari minggu kalau virusnya sudah pergi ya. Kalau belum, kita di rumah saja. Kalau virusnya masih ada, nanti Oma jadi sakit. Kangen sama Oma ya?

Anak   : Iya. Kangen pengen peluk dan cium Oma. Kangen main sama Oma.

Si anak lalu menundukkan wajah. Terlihat raut sedih.

Sedih rasanya melihat cucu yang kangen dengan Omanya. Sedih seorang Oma juga memendam rindu tidak bisa bertemu keluarganya. Semoga keadaan ini segera berlalu. Semoga semakin ada titik terang. Mari berjuang bersama. Bisa saja kita memang (nampak) sehat, tapi bisa jadi kita sebagai pembawa. Ada banyak yang harus dipikirkan sebelum kita melakukan tindakan, saat ini.

Tolong patuhi anjuran pemerintah. Tinggal di rumah jika memang tidak ada hal mendesak untuk dilakukan di luar. Tolong jaga jarak jika memang harus ke luar rumah untuk sekedar jalan kaki, bersepeda atau menghirup udara segar. Jangan hadir dalam kerumunan dan acara yang melibatkan orang banyak. Saat ini, mari kita patuh. Ada banyak nyawa yang bisa kita selamatkan selain nyawa sendiri. Para dokter, perawat, dan pekerja yang berada di garis depan yang saat ini sudah kelelahan tapi tetap berjuang menyelamatkan nyawa para pasien yang sudah positif. Para pasien yang sedang berjuang melawan virus ini. Para Oma dan Opa yang sangat memendam rindu tapi tidak bisa bertemu langsung dengan keluarganya karena usia mereka yang rawan terinfeksi. Para anak yang tidak bisa bertemu orangtuanya yang bertugas di RS. Para orangtua yang melepas kepergian anaknya dan entah kapan lagi bisa bertemu karena mereka sedang berjuang menyelamatkan nyawa para pasien. Orang-orang yang lelah secara mental karena selalu dilanda cemas berlebihan dengan situasi dan kondisi seperti ini. Dan masih banyak lagi orang-orang yang terdampak dengan adanya wabah ini.

Pantai bisa menunggu, dia tak akan pindah tempat. Cuaca cerah bisa kita dapatkan lagi, dia akan selalu datang jika saatnya. Nyawa manusia yang tidak bisa menunggu. Banyak yang butuh diselamatkan.

Mari kita saling menguatkan. Semua ini pasti akan berlalu. Keadaan ini akan bisa terlewati jika kita berjuang bersama. Berikhitiar, berdoa, dan tawakkal. Kali ini, mari saling dukung. Lupakan perbedaan, apapun itu. Melakukan yang terbaik dari tempat masing-masing. Mari sama-sama kita putuskan mata rantai penyebaran virus Corona. Bahkan kita bisa melakukan hal yang paling sederhana untuk menyelamatkan nyawa orang banyak dan diri sendiri : di rumah saja.

-23 Maret 2020-

 

Situasi (Saya) Terkait Corona Virus di Belanda

Sudah lama ingin menuliskan tentang Covid-19 atau Corona Virus terkait diri saya dan situasi yang ada di Belanda, sejauh ini, saat tulisan ini dibuat.

Beberapa hal di bawah ini adalah dampak yang saya rasakan terkait Corona :

  • PERASAAN CEMAS TERAMAT SANGAT

Perasaan cemas ini mulai saya rasakan awal Januari 2020. Saat itu berita tentang Corona sering saya baca yang menjelaskan kondisi di Wuhan. Saya cemas super parah selama seminggu. Saya sering menangis, susah tidur dan perasaan was-was yang teramat sangat dengan situasi yang ada. Saya benar-benar takut bagaimana jika Corona sampai ke Belanda. Membayangkan jika salah satu anggota keluarga positif Corona. Lalu suami meredakan cemas saya dengan selalu memberikan saran yang positif. Mencoba menenangkan isi kepala saya yang ruwet. Akhirnya cemas mereda (sesaat).

Saya kembali cemas saat Corona sudah sampai Eropa. Saya berpikir : tinggal tunggu waktu saja sampai ke Belanda nih. Sejak itu sampai Corona benar-benar di Belanda (tanggal 27 Februari 2020 pertama kali satu orang positif Corona), perasaan cemas saya muncul dan tenggelam. Kadang bisa santai, dilain waktu bisa jadi super panik. Benar-benar yang panik. Ini perasaan cemas dalam pikiran. Sebagai informasi, pertulisan ini dibuat total 1135 orang positif Corona di Belanda, total 20 orang meninggal (pada range usia 59-94 tahun). Di kampung saya, ada7 orang yang positif Corona. Perkembangan tentang Corona bisa diikuti di website RIVM. Mereka akan selalu update setiap hari jam 2 siang.

Status tentang Corona di Belanda per 15 Maret 2020
Status tentang Corona di Belanda per 15 Maret 2020

  • BATAL UJIAN MENYETIR MOBIL

Pagi ini, seharusnya saya ujian menyetir mobil. Dua kali les terakhir di hari jumat dan sabtu minggu lalu, saya bertanya ke instruktur apakah ada kemungkinan ujian akan dibatalkan terkait Corona. Dia bilang, tidak. Kamis sore, PM Rutte mengumumkan tentang anak sekolah di jenjang tinggi mulai diliburkan, pembatalan acara-acara yang melibatkan lebih dari 100 orang, anjuran untuk mengurangi kumpul-kumpul, dan anjuran orang-orang bekerja dari rumah. Sabtu siang selesai les, saya bertanya lagi apa ada kemungkinan ujian dibatalkan. Instruktur saya bilang tidak.

Minggu sore, ada pengumuman resmi dari dua mentri tentang penutupan Sekolah (semua jenjang), daycare, sport club, sex club, coffeeshop, Horeca (termasuk restoran dan cafe) sampai 3 minggu kedepan, dan tetap anjuran orang kantoran bekerja dari rumah. Wah perasaan saya mulai tidak enak. Saya cek website CBR, ternyata benar jika semua ujian (theorie, toets, dan praktijk) ditiadakan sampai tanggal 31 Maret 2020. Setelah tanggal tersebut, baru bisa mendaftar ulang kembali untuk mencari jadwal ujian. Jadi, saya belum tahu kapan dapat jadwal ujian kembali. Sudah hampir selangkah dan di depan mata untuk mendapatkan SIM (jika langsung lulus), sekarang dalam ketidakpastian. Belum lagi karena les saya sudah berakhir, untuk tetap latihan menyetir, harus mengeluarkan uang ekstra per lesnya sampai ujian nanti.

  • BATAL LIBURAN ULANG TAHUN DI ANDALUSIA – SPANYOL

Setiap saya ulangtahun, jika kondisi memungkinkan, biasanya kami akan jalan-jalan. Sejak akhir tahun lalu, kami sudah merencanakan akan ke Andalusia selama 2 minggu, akhir maret ini. Kami fokus ke ngurusin tiket buat mudik, sehingga tiket ke Andalusia masih belum terbeli tapi penginapan dan tempat-tempat yang akan kami kunjungi sudah dibuat dengan detail. Rencananya, akhir Februari akan membeli tiket pesawat.

Akhir Februari, mulai ada yang positif Corona di Belanda dan keadaan di Spanyol mulai mengkhawatirkan. Akhirnya, awal maret kami putuskan batal ke Andalusia.

  • BATAL LIBURAN KE MECHELEN – BELGIA

Untuk mengobati batal ke Andalusia, kami berpikir pergi ke tempat yang dekat rumah saja. Dapat satu kota namanya Mechelen di Belgia. Jaraknya tidak terlalu jauh dan kotanya cantik. Cocok buat tempat beristirahat sejenak dari gonjang ganjing Corona.

Lalu keadaan di Belanda semakin mengkhawatirkan dan juga negara-negara lainnya, jadi kami memutuskan tidak jadi ke Belgia. Sudahlah berdiam diri di rumah sambil makan nasi kuning tidaklah terlalu buruk untuk merayakan ulang tahun.

  • BATAL ACARA DI RUMAH

Sabtu lalu, harusnya ada pesta kecil-kecilan di rumah. Sejumlah teman dan keluarganya kami undang. Seminggu sebelumnya, ada acara juga dengan keluarga di sini. Syukuran. Lalu seminggu kemudian, perubahan besar terjadi. Seperti biasa, jika di rumah ada acara, saya selalu mencicil memasak jauh hari sebelum hari H. Maklum ya, tenaga terbatas.

Setiap hari mengikuti perkembangan Corona, saya mulai was-was. Mulai berpikir akan membatalkan acara saja. Terlalu riskan jika banyak orang berkumpul dalam satu ruangan untuk situasi saat ini. Tapi suami bilang, acara diteruskan saja, sedatangnya orang karena ada beberapa teman yang membatalkan. Semua makanan sudah siap, kami sudah membeli minuman, camilan, sudah menyediakan goodie bag untuk anak-anak, intinya sudah siap semua. Sampai kamis malam, keinginan saya untuk membatalkan acara semakin kuat. Akhirnya setelah dibicarakan dengan suami, kami mantab membatalkan acara. Pesan saya kirimkan ke semua undangan yang sudah konfirmasi akan datang. Mereka maklum dan bilang akan mengirimkan kado yang sudah dipersiapkan. Saya pun bilang akan mengirimkan goodie bag. Lega sudah mengambil keputusan yang tepat untuk saat ini.

  • CEMAS DENGAN RENCANA MUDIK DALAM WAKTU DEKAT

Satu lagi yang membuat saya cemas akhir-akhir ini adalah tentang rencana mudik dalam waktu dekat. Akhirnya setelah 5.5 tahun sejak datang ke Belanda, kami ada kesempatan mudik ke Indonesia. Kesempatan yang sangat kami tunggu-tunggu selama ini. Jadi persiapannya pun sudah matang, sebelum Corona datang. Sekarang, kami mulai harap-harap cemas apakah bisa dan tetap akan mudik dengan situasi seperti ini. Saya sudah kangen dengan keluarga di Indonesia, Ibupun sudah sangat ingin bertemu kami. Tapi saya sudah mulai bilang ke Ibu, jika situasinya semakin memburuk dan ada kemungkinan bandara di Belanda ditutup, artinya kami tidak bisa mudik. Itu kondisi terburuknya. Sedih, tapi bagaimana lagi. Namun kita lihat saja perkembangannya bagaimana. Mudah-mudahan ada titik terang dan keadaan makin membaik.

  • PANIC BUYING

Kamis malam, tiga supermarket besar (bahkan toko turki pun) di kampung saya mulai diserbu orang-orang yang mulai panik. Kamis pagi dan sore waktu saya ke sana untuk membeli sayuran, semua masih aman terkendali. Saya mulai menjelajah tiga supermarket tersebut sambil melihat kondisi. Semua barang masih aman, tidak ada rak yang kosong.

Jumat pagi, saat kami mau belanja mingguan, sampai tidak mengenali dalamnya supermarket karena banyak rak yang kosong, terutama beras, pasta dan makanan-makanan beku. Benar-benar kosong. Ini di tiga supermarket di kampung. Orang-orang belanja super banyak dan mukanya tegang semua. Kami tidak terlalu banyak belanja karena bahan-bahan dasar sudah ada di rumah seperti beras, pasta, telor dan makanan beku.

IMG_C90B4D709C08-1

 

MENJAGA JARAK – MEMBATASI BERINTERAKSI SECARA LANGSUNG

Hal-hal tidak menyenangkan di atas tentang pembatalan beberapa hal, saya maknai positif. Memang sudah saatnya untuk melakukan tindakan yang bisa memutus mata rantai, mengurangi penyebaran virus. Membatasi diri berinteraksi langsung dengan orang lain, menjauhi kerumunan, dan menjaga jarak. Saya berpikir, mungkin saja saya yang jadi pembawa virus yang bisa menularkan pada orang lain, atau juga sebaliknya. Kita tidak pernah tahu. Bisa saja nampak sehat di luar tapi ternyata kita ada bibit pembawa. Jadi, dengan membatasi interaksi langsung bisa jadi salah satu jalan untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Meminimalisir. Bagaimana caranya? Salah satunya ikuti anjuran dengan tinggal di rumah jika tidak ada kegiatan yang mendesak untuk dilakukan di luar rumah.

Sekolah diliburkan, anjuran kerja dari rumah, menjauhi kerumunan orang, mengurangi bepergian menggunakan transportasi umum (jika memungkinkan) bertujuan untuk mengurangi penyebaran virus. Jadi ketika sekolah libur, tolong jangan lalu diartikan bisa pergi ke tempat liburan. Atau jika dianjurkan bekerja dari rumah, jangan diartikan bisa bekerja di tempat yang banyak kerumunan orangnya. Untuk saat ini, tahan keinginan ke mana-mana. Tinggal di rumah. Jika ingin menghirup udara segar, bisa pergi ke tempat yang minim orang misalkan hutan atau danau atau olahraga lari keliling kampung.

Sekali lagi, kita tidak tahu apakah kita menjadi pembawa virus atau tidak. Jika tidak dimulai dari sendiri, mata rantai ini tidak akan putus. Untuk saat ini, dengan situasi seperti ini, mari sama-sama berjuang. Mulai dari sendiri akan membantu orang sekitar juga. Meminimalisir penyebaran. Ini tidak berlangsung lama. Semua orang di dunia sedang berjuang bersama. Mari kita berjuang bersama memerangi virus ini. Mulai membatasi diri, menjaga jarak, mengurangi berinteraksi dengan orang lain, berdiam diri di rumah, tidak keluar rumah jika tidak mendesak, tidak menimbun bahan makanan, sering-sering mencuci tangan secara benar dengan sabun, meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan dan minuman tinggi gizi, tidak lagi bersalaman, tidak gampang menyebarkan berita sebelum dicek kebenarannya (No Hoax please), dan beberapa hal tindakan pencegahan lainnya.

Selain berdoa dan tawakkal, yuk sama-sama berikhtiar dengan maksimal. Ini saatnya kita berhenti sejenak, menepi sejenak dari kerumunan, kembali ke keluarga, kembali ke rumah, kembali ke orang-orang tersayang, menikmati waktu kebersamaan. Kami dan semua orang di dunia sedang dilanda cemas, khawatir, dan sedih. Kita sama-sama berjuang melewati situasi yang sedang susah di seluruh dunia. Ini tidak lama (semoga), pasti akan terlewati juga. Saat ini, yang diperlukan adalah perjuangan bersama. Semoga siapapun di manapun, sehat bersama keluarga. Percayalah, situasi sulit ini pasti bisa kita lewati. Pasti ada titik terang dan harapan. Mari sama-sama menguatkan dan optimis.

-16 Maret 2020-