Empat Belas Tahun

Nasi Goreng Hijau

Tanggal 6 Januari, 14 tahun lalu, Bapak meninggal. Setiap tanggal ini, hati saya terasa perih. Tidak bisa dipungkiri, sakit itu masih ada, meski ikhlas sudah saya rasakan sejak 5 tahun lalu. Benar, butuh sembilan tahun bagi saya untuk ikhlas, merelakan, dan menerima. Walaupun, setiap tanggal 6 Januari selalu saya lewati dengan rasa yang campur aduk. Rindu kepada Bapak, tapi tidak bisa berjumpa lagi.

Hari ini hati saya semakin sedih dan rasanya berat. Kemarin pagi, tanggal 5 Januari, Budhe saya meninggal. Adik mengabari lewat pesan di WA, saya baca jam 2 dini hari waktu Belanda. Kebetulan pas saya sedang terbangun. Menerima pesan tersebut, saya sebenarnya sudah mempersiapkan diri. Budhe sejak 2 minggu ini kesehatannya menurun drastis. Memang Beliau sudah sangat sepuh. Kata Ibu, semangat hidupnya pun sudah tidak ada. Budhe adalah Mbaknya Bapak yang nomer 2. Semua saudara kandung Bapak, termasuk Bapak sudah meninggal. Bapak sebagai anak terakhir, meninggal terlebih dahulu. Jadi dalam kurun 14 tahun ini, saya sudah kehilangan 4 orang termasuk Bapak. Jadi total dari keluarga Bapak, sudah tidak ada yang hidup lagi. Tinggal Ibu saya saja yang sekarang dituakan.

Budhe yang meninggal ini, paling dekat dengan saya diantara 2 Budhe lainnya. De Mur saya memanggilnya. Beliau selalu ada untuk saya dan selalu membela saya setiap ada masalah dengan Ibu. Beliau yang selalu menangkan saya dan memberikan banyak nasihat. Beliau juga yang menjadikan alasan kuat setiap mudik ke Indonesia. Saya selalu semangat mudik karena ingin bertemu Beliau.

Terakhir kami mudik sekeluarga 2 tahun lalu, saya bilang kalau akan mudik lagi 2 tahun lagi (tahun ini). Saya bilang untuk selalu sehat biar bisa ketemu lagi. Beliau optimis kalau akan selalu sehat, ingin melihat anak terakhir kami yang waktu itu masih bayi, tumbuh besar. Bahkan saat lebaran saya menelepon Beliau yang saat itu masih sehat, Beliau mengatakan menunggu saya mudik.

Tahun ini jika saya mudik, lebaran tak lagi sama. Biasanya saat lebaran, saya selalu ke rumah De Mur untuk makan pecel pitik, masakan Beliau yang sangat enak. Sekarang sudah tidak bisa saya rasakan lagi. Kehilangan besar untuk saya. Dua hari berturut denga rasa yang sendu.

Semoga Budhe Mur mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah dan semoga saya pelan bisa memproses rasa kehilangan ini.

Seperti biasa saat tanggal 6 Januari, saya memasak nasi goreng hijau khas Bapak. Nasi goreng buatan Bapak yang menjadi Favorit saya dan adik – adik, bahkan sampai rebutan.

Nasi Goreng Hijau
Nasi Goreng Hijau

Sebelumnya, saya sempatkan berjalan kaki setelah mengantar anak – anak ke sekolah. Belanda sedang bersalju dari tanggal 2 Januari dan diperkirakan besok rabu salju yang turun lebih deras. Seluruh Belanda dinyatak dengan kode oranye, artinya siaga. Kondisi bersalju ini akan berlangsung sampai akhir pekan.

Saya berjalan kaki sejauh 4.7km sambil memikirkan banyak hal. Mencoba mengurai kesedihan karena kehilangan orang – orang tersayang. Memang umur sudah ditentukan oleh Yang Kuasa. Hanya saja yang ditinggalkan perlu waktu untuk menerima. Saya butuh waktu untuk mencerna.

Tiap tanggal 5 Januari sekarang tidak lagi sama untuk saya. Sama halnya dengan tanggal 6 Januari.

Dua tanggal dimana saya kehilangan keluarga yang sangat saya sayangi. Dua orang Kakak beradik yang meninggal hanya berbeda satu hari, meski terpaut 14 tahun tahun kepergian. Dua orang yang sangat dekat di hati saya. Bapak dan Budhe.

Tanggal 5 Januari sekarang akan saya lalui dengan memasak Pecel Pitik, makanan De Mur yang selalu saya rindukan. Sama halnya tiap tanggal 6 Januari saya memasak nasi goreng hijau dengan resep Bapak.

Semoga Beliau tenang di tempat terbaik dan dimudahkan hisabnya.

  • 6 Januari 2026 –

2 Comments

  1. Nindya

    Assalamualaikum, Mba Deny!
    Sebelumnya, turut berduka cita atas wafatnya Bude ya, Mba. Aku baru inget Mba Deny punya blog pas baca kartu ucapan dari Mba. Aku langsung susur dan baca tulisannya Mba Deny.

    Btw, kartu ucapannya sudah aku terima dan baca ya, Mba. Terima kasih untuk ucapan dan doanya, Mba, bener-bener menghangatkan hati banget. Aku seneng dapet kabar dari Mba dan Mba dalam kondisi sehat dan bahagia. Alhamdulillah kabarku juga sehat dan nikmatin banget membersamai tumbuh kembangnya si bayik

    Ikut sedih karena Mba mengawali tahun ini dengan berita duka. Semoga Mba dimudahkan dalam melewati kedukaan ini ya. Sehat-sehat dan bahagia untuk Mba Deny dan keluarga. Semoga tahun ini menjadi tahun yang penuh berkah dan kebahagiaan.

    Reply
  2. Messa

    Turut berduka mbak deny. Sukurlah mbak tetap semangat masak nasi goreng hijau & pecel pitik untuk mengenang orang-orang tercinta. Perubahan akan selalu datang dalam hidup.

    Reply

Leave a Reply to Nindya Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.