Tahun Baru 2022

Tiramisu tahun baru 2022

Tahun dengan angka yang cantik. Selamat tahun baru semuanya. Sehat dan banyak berkah ya tahun ini. Harapan tidak muluk – muluk. Semoga keadaan dunia terkait Corona makin membaik. Karantina di Indonesia dihapuskan atau paling tidak jadi 2 hari sajalah, cukup. Saya pengen sekali mudik. Lalu apalagi ya, kami sekeluarga tetap komplit, sehat, bahagia dan lancar rejeki supaya makin banyak untuk berbagi. Usaha saya makin berkembang, mulai nambah pembeli dan rencana saya ikut beberapa kelas baking lancar tanpa hambatan.

Cerita malam tahun baru sama seperti tahun – tahun sebelumnya. Jam 8 sudah leyeh – leyeh di kasur sambil mainan twitter dengan mata sayup – sayup mengantuk. Tapi ada yang spesial sebenarnya tahun ini. Untuk pertama kalinya, kami melakukan tradisi keluarga di Belanda pada umumnya, malam tahun baru dengan gourmetten. Ini semacam BBQ an tapi dalam rumah pake alat listrik. Terharu juga akhirnya merasakan apa yang dilakukan keluarga Belanda lainnya hahaha agak norak memang saya. Ayam, daging, dan ikannya ya beli jadi sajalah yang sudah dibumbuin di supermarket kebanggaan orang Belanda :)))

Gourmetten

Selain itu, ya jelas yang tidak boleh ketinggalan, gerombolan Oliebollen, berlinerbollen, dan apelbeignet. Pastinya, ini beli semua karena saya malas membuat sendiri. Saya tidak terlalu suka oliebollen. Entah kenapa tekstur roti goreng, lebih cocok di lidah saya. Kalau berlinerbollen, saya suka karena ada vla vanilla di tengahnya. Pagi hari, saya memanggang sourdough bread dan siangnya sourdough baguette untuk dimakan saat gourmetten. Sorenya saya sempat membuat Tiramisu lalu masak beberapa printilan untuk tumpeng nasi kuning.

Berlinerbollen. Apelbeignet dan oliebollen
Sourdough bread with special patroon

Sama seperti tahun lalu, kembang api dilarang saat malam tahun baru. Tapi saya juga tidak tahu apakah ada denda atau cuma larangan saja karena ya tetap saja suara jedar jeder masih mengudara. Sebagai penyuka kembang api, ya saya nikmati saja suara jedar jeder dan warna warni di udara saat jam 12 malam. Saya melihat dari kamar sambil rebahan. Sebenarnya saya sudah tertidur sebelum jam 12 malam, padahal niatnya melek. Apadaya, sudah menjelang sepuh, gampang mengantuk. Pas jam 12 malam, terbangun ya karena suara kembang api. Saya bangunkan suami, seperti biasa mengucapkan selamat tahun baru sambil berdoa untuk harapan – harapan yang terucapkan. Saya bangunkan penghuni kamar -kamar sebelah, tak ada yang bergerak. Lalu saya kembali tidur.

Tiramisu

Hari ini, sejak pagi saya sibuk menyiapkan tumpeng nasi kuning. Ini semacam kebiasaan saja kalau tahun baru saya membuat tumpeng. Sebagai bentuk syukuran atas tahun yang telah terlewati dengan segala suka dukanya. Juga sebagai syukur awal tahun dengan segala harapan dan doa yang terucap untuk tahun ini. Dan seperti biasa juga, saya berbagi ke tetangga. Ditambah, saya berikan ke satu keluarga Indonesia yang baru saja saya kenal dan tinggalnya tidak jauh dari rumah kami. Kami satu almamater, jadi senang rasanya kenal orang Indonesia di dekat rumah dan ada latar belakang yang sedikit sama.

Bagi – bagi nasi kuning

Biasanya saya membuat nasi kuning langsung dari rice cooker. Kali ini saya niat pakai aron trus dikukus karena mencoba campuran beras basmati dan beras pandan. Hasil memang tidak khianat dari usaha karena teksturnya saya lebih suka yang hari ini dibandingkan yang sebelumnya dari rice cooker dan hanya menggunakan beras pandan. Jadi berikutnya kalau membuat nasi uduk, saya akan coba kombinasi beras ini.

Karena baru pertama kali menggunakan basmati, jadi saat membentuk tumpengnya agak kesulitan. Tidak terlalu lengket, langsung ambyaarr haha. Jadilah gunungnya agak longsor. Tak ada foto cantik tumpeng tahun ini karena tumpeng tak maksimal bentuknya. Lalu saya bentuk saja pakai mangkok kecil. Minimal supaya rapi tampilannya.

Tumpeng yang longsor gunungnya

Sorenya, kami ke rumah tetangga. Ini juga semacam tradisi, setiap tanggal 1 Januari, kami pasti ke sana karena ada undangan untuk makan oliebollen (sekalian mengantar nasi kuning). Sebenarnya untuk silaturrahmi saja sih, karena makanan yang disediakan bukan hanya Oliebollen saja. Lumayan juga variasinya untuk standar orang Belanda yang mengundang tamu *uhukk!

Selama 2 jam di sana, kami pulang ke rumah. Rangkaian acara malam tahun baru dan pas tanggal 1 januari sudah usai.

Semoga segala harapan baik tahun ini bisa terlaksana dan tercapai. Dimudahkan segala urusan dan dijauhkan dari segala marabahaya. Sehat dan bahagia untuk kita semua.

First sweets in 2022

– 1 Januari 2022 –

Cerita Natal Tahun 2021

Christmas Taart

Seminggu lalu, aturan di Belanda diperketat lagi terkait dengan Corona. Bahasa kerennya, Hard Lockdown. Apapun istilahnya, ya rasanya jadi terbiasa dengan keadaan ini. Hanya, terselip rasa sedih karena artinya Natal tahun ini tidak bisa kumpul keluarga lagi. Terakhir kami kumpul keluarga besar di sini waktu Natal 2019. Kami pergi ke restoran di sebuah hotel, semua memakai baju yang kece – kece dan makan malam yang agak fancy. Saya lahir dan besar di keluarga yang merayakan apapun dan kumpul – kumpul dengan keluarga besar, jadi momen keluarga ngumpul itu selalu membuat saya senang. Karenanya bisa dibayangkan, sejak 24 Desember pagi, hati saya sudah mendung. Sudahlah mudik entah kapan hilalnya belum terlihat, Belanda lockdown begini semua tutup kecuali yang penting – penting saja. Pas banget ada kartupos dari Agnes yang kata – katanya benar menyentuh sampai saya menangis membacanya.

Suasana hati yang mendung, Natal yang sepi, cuaca yang super dingin dan agak hujan, baca tulisan Agnes, langsung ambrol pertahanan. Nangis. Untungnya (Jawa banget ya, untungnya haha) sehari sebelum hard lockdown, masih bisa ketemuan sama Agnes, Ajeng dan Crystal. Jadi senang kalau mengingat obrolan kami siang itu. Bayangkan, dari jam 12 siang sampai rumah Agnes, mulut ga berhenti mengunyah sambil ngobrol sampai jam 7 malam. Itu saja seperti masih merasa kurang aja yang perlu diobrolkan masih banyak stoknya. Terakhir kami ketemu, 2 tahun lalu pas di rumah saya.

Bagian dari tulisan Agnes di kartupos

Tanggal 24 Desember siang, saya jalan – jalan di pusat pertokoan di kampung sini. Melewati satu persatu toko yang buka hanya untuk pelanggan yang ambil barang, melihat restoran tutup untuk makan ditempat, semua tempat jadi sepi. Sudahlah kampung ini sepi, eh ketambahan lockdown jadinya makin sepi.

Natal hari pertama, ya kami di rumah saja, mau ke mana. Tidak ada kumpul keluarga besar, Mama mertua juga tidak mau didatangi (Mama agak was – was karena ada varian baru), jadinya ya kami bikin acara sendiri di rumah. Sebenarnya jauh hari sudah mempersiapkan kondisi ini. Makanya kami juga tidak mengundang siapa – siapa untuk makan malam Natal. Belajar dari tahun lalu yang tiba – tiba juga akhir tahun lockdown.

Taart dengan isian buttercream dan selai Rhubarb

Jadi saya akan bercerita seputar makanan saja Natal hari pertama

Pagi hari, kerstonbijt alias sarapan Natal kami adalah Feestbrood atau roti pesta. Ini semacam stollen tapi tidak ditabur gula. Rasanya jelas manis dari kismisnya dan gelondongan almond campur gula. Saya tidak pernah bisa makan gelondongan putih itu.

Feestbrood

Lalu setelah sarapan, saya membuat siomay dan isian pangsit. Saya ingin makan siomay, sekalian bikin pangsit basah untuk makan siang dan makan malam.

Makan siang kami, mie bakso pakai pangsit basah. Ini menu paling gampang karena tinggal mengeluarkan stok dari freezer.

Makan malam, saya sudah mempersiapkan menu pembuka, utama, dan penutup. Ada sedikit tragedi sewaktu proses memasaknya. Jadi saya mengeluarkan box dari dalam kulkas isinya beberapa jenis jamur. Nah setelah saya potong – potong, saya taruh lagi di box tapi dekat wastafel. Suami lagi beres2 sampah apel. Lalu saya mengerjakan hal lainnya. Sekitar jam 4 sore, saya mulai masak – masak supaya jam 5 sudah siap semua. Pas saya cari jamur di mana, langsung saya berpikir buruk. Suami baru saja masuk rumah dari buang sampah

Saya : Hon, kamu buang box isinya jamur ya?

Suami : Lho, itu bukannya sampah ya. Kok kayak jamur sisa – sisa gitu

Saya : Itu buat makan malam kita. Aku kan ga suka Asparagus, makanya aku mau bikin oseng jamur.

…………………. langsung gondok kesel banget. Ya lagian bukannya nanya dulu, langsung aja dibuang. Jelas – jelas boxnya saya taruh atas meja dapur. Pakai inisiatif tinggi dibereskan trus dibuang. Pas kejadian sih gondok banget ya. Pas nulis ini, jadinya ngikik kok yaaa suamiku niatnya baik tapi berakhir tragedi jamur kebuang. Tapi ya sudahlah, setelah gondok ya saya akhirnya meneruskan masak lagi.

Meja makan yang beda dari biasanya

Meskipun kami tidak ada tamu, tapi karena spesial makan malam saat Natal, saya mengkondisikan ruangan yang spesial juga. Meja makan saya hias, sewaktu makan juga kami memakai baju yang rapi. Beda dengan makan malam seperti biasanya.

Makanan pembuka : Wonton dengan kuah kaldu ayam dan jahe

Makanan utama : Potatoes au gratin, steak rusa, dijon mustard sauce, asparagus, wortel warna warni, jamur (sisa bikin saus), kentang goreng, nugget ayam, mini burger, potongan kecil bebek panggang.

Senang karena warna steak rusanya merah muda

Penutupnya : Taart & Buttercream vanilla

Minumnya : cukup air kran, Kombucha, dan jus jeruk. haha tidak nyambung ya. Wes tak mengapa. Yang penting malam itu kami benar – benar menikmati makan malam spesial. Semua suka, semua gembira.

Setelah makan, acara penutup yang ditunggu – tunggu adalah buka kado.

Kartu Natal untuk Suami

Meskipun terselip rasa sedih kami masih belum bisa kumpul keluarga, tapi kami penuh rasa syukur masih diberikan kebersamaan, komplit sekeluarga tidak kurang apapun, umur dan kesehatan yang baik, juga masih bisa menikmati makan Malam Natal penuh suka cita. Tahun inipun kami menerima banyak sekali kartu ucapan Natal dan tahun baru. Lebih banyak dari tahun lalu. Ini juga yang membuat saya senang bulan Desember. Mengirim dan dikirimi kartu.

Semoga yang merayakan Natal juga merasakan kehangatan dan kebersamaan bersama keluarga dan orang – orang tersayang. Semoga tahun depan keadaan lebih baik.

Prettige Kerstdagen! Selamat Natal

-27 Desember 2021-

Vaksin Corona Ketiga (Booster)

Vaksin Ketiga (booster)

Mumpung masih hangat, jadi mari dituliskan (sebelum terbit madingnya *kriikk). Jadi, saya sudah suntik booster. Ini benar – benar dadakan, tanpa persiapan, tanpa pemberitahuan beberapa hari sebelumnya. Pun, saya tidak mendaftar.

Jadi begini ceritanya.

Saya ini tidak terlalu menyimak tentang vaksin ketiga. Setiap sore beritanya ada di TV, tapi ya sekilas saja saya memperhatikan, karena di Belanda baru dimulai. Setahu saya, kira – kira Januari pertengahan baru giliran saya bisa dapat (berdasarkan tahun kelahiran, itupun kalau lancar). Dan yang kedua, kalau tidak suntik booster, QR Code vaksin pertama dan kedua tidak bisa dipakai lagi. Saya sejak awal memang sudah berencana akan suntik booster. Satu – satunya alasan adalah supaya QR Code masih tetap bisa dipakai demi untuk kedepannya bisa liburan tanpa terkendala masalah pervaksin-an. Bisa sih tanpa bukti vaksin ya tapi harus tes dulu sebelumnya, atau malah ada negara yang mewajibkan vaksin dulu sebelum masuk ke sana. Intinya, saya tidak mau dibuat pusing kedepannya tentang vaksin ini. Tujuan utama saya ya mudik. Jadi saya tidak terlalu berpikir tentang proteksi badan terhadap Corona setelah vaksin ketiga. Yang penting nanti pas mudik, tidak terhadang tentang bukti vaksin. Itu saja. Meskipun kata menteri kesehatan Belanda setelah vaksin ketiga akan ada vaksin – vaksin selanjutnya, ya sudah itu dipikirkan nanti saja. Sekarang ya sekarang.

Beberapa waktu lalu, sekitar jam makan malam, ada dua surat yang diantarkan langsung ke rumah. Suami yang mengambil dan membaca, bilang kalau itu surat undangan untuk vaksin ketiga (booster) corona yang dilakukan di klinik huisarts (dokter keluarga). Jadi itu surat undangan langsung dari klinik tersebut. Membaca surat cuma selembar tersebut, saya awalnya Suudzon (berburuk sangka) karena kok nampak tidak formal. Tidak ada cap atau tanda tangannya atau apa gitu yang meyakinkan. Tapi disitu disebutkan jenis Vaksin apa yang akan kami dapatkan.

Nah, di surat undangan, disebutkan kalau cara penjadwalan suntiknya berdasarkan huruf pertama nama terakhir. Kami berdua, dapat hari pertama. Jadi cuma dua hari saja jadwal suntik booster di klinik. Selama dua hari dipakai vaksin, klinik ditutup untuk pemeriksaan lainnya. Hanya untuk mengambil atau membeli obat di apotek dalam klinik masih bisa. Suami keesokan hari setelah saya vaksin, menelepon klinik ingin membuat janji diperiksa. Ditolak oleh mesin penjawab, disuruh telpon besok paginya lagi.

Ok, kembali lagi ke bahasan vaksin. Disebutkan juga, kalau tidak datang sesuai jadwal, tidak akan bisa suntik di klinik pada waktu lainnya. Artinya harus lewat jalur GGD (Municipal Health Service). Yang vaksin pertama dan kedua memang jalurnya lewat GGD (atau ada yang lewat huisarts ya, saya juga tidak terlalu paham). Makanya kami kaget tiba – tiba dapat undangan dari klinik untuk suntik di sana. Saya masih ragu apa mau di GGD atau di klinik. Kalau di GGD, kok lokasinya yang terdekat di Delft dan kemungkinan besar dapat Moderna (Mama mertua sudah suntik 2 minggu lalu di GGD dan dapat Moderna. Vaksin 1 dan 2 Beliau adalah Pfizer). Jadi, malam itu saya belum memutuskan besok paginya mau suntik apa tidak. Sementara suami sudah memutuskan, dia cukup dua kali vaksin saja. Dia tidak mau suntik apa – apa lagi yang berhubungan dengan vaksin. Sudah males nuruti pemerintah katanya. Wes mbuh karepmu.

Besok paginya, saya ke kota mengantar pesanan. Sempat lupa perkara vaksin. Setelah sampai rumah kembali dan setelah makan siang, saya mencoba untuk menelepon GGD, ingin menanyakan apa benar undangan yang dari klinik ini. Masih dalam rangka Suudzon, ini jebakan batman apa bukan. Lahir dan besar di negara yang banyak marabahaya, jadinya terbawa sampai di sini, apa – apa musti waspada. Dari pihak GGD Den Haag menjelaskan, kalau sudah dapat surat undangan dari klinik huisarts dan jika memang saya ingin vaksin, bisa langsung ke sana karena memang bisa dilakukan di klinik juga. Wah jadi lega mendapatkan pencerahan seperti itu. Lalu hilang Suudzonnya.

Oh ya, syarat untuk bisa suntik booster di klinik tersebut berdasarkan surat undangan adalah usia 18+, vaksin yang kedua minimal 3 bulan lalu, dan dalam 2 bulan terakhir tidak positif Corona. Itu syarat utamanya. Ada juga syarat – syarat lainnya yang berhubungan dengan kondisi kesehatan. Saya lalu berangkat ke klinik sepedahan hanya 5 menit saja. Surat harus dibawa karena tidak bisa suntik tanpa membawa surat. Sesampainya di sana, saya lihat antrian di luar tidak terlalu panjang.

Vaksin ketiga

Saya menuju barisan, antri, lalu antrian mulai maju perlahan. Setelahnya macet sampai 45 menit. benar – benar tidak maju sama sekali. Suhu -2 derajat celcius plus agak berangin. Dinginnya menampar -nampar pipi. Pas saya lihat ke belakang, antrian sudah mengular kira – kira 40-50 meter. Orang – orang yang antri sudah kasak kusuk, tapi jelas saya tidak paham karena suaranya tidak terlalu keras. Tiba – tiba ada mobil berhenti, turun seorang perempuan membawa beberapa box warna putih. Ohhh ternyata antrian stuck karena stok vaksin di klinik habis. Pantes.

Antrian mulai maju cepat, lalu masuk pendataan, mengecek surat dan ID dan penulisan bukti di kertas. Setelahnya diarahkan masuk ruangan mana. Kalau di GGD dulu, Saat vaksin harus duduk. Sementara booster ini, nyuntiknya sambil berdiri. Cepet sekali prosesnya. Di surat undangan dibilang, kalau mau menunggu 15 menit setelah suntik, bisa saja tapi menunggunya tidak di dalam gedung melainkan di parkiran (kliniknya sungguh mungil, jadi ga cukup tempat menunggu). Juga dibilang kalau vaksin 1 & 2 tidak ada keluhan yang berat atau efek yang parah ke badan, kemungkinan besar vaksin ketiga juga akan biasa saja. Karena Vaksin pertama (Pfizer) dan Vaksin kedua (Pfizer) saya tidak ada keluhan apapun setelahnya (hanya jadwal mens yang berantakan 3 bulan pertama, setelahnya kembali normal), jadi saya memutuskan langsung pulang.

SETELAH VAKSIN

Beberapa jam setelah vaksin, keadaan masih aman terkendali. Saya tidak merasa ada yang berbeda dengan badan. Lengan pun tidak sakit. Tidak mengantuk parah. Tidak gampang lapar. Sampai malam menjelang tidur pun masih ok. Keesokan harinya, juga baik – baik saja. Tidak merasa sakit apapun. Lalu saya beraktifitas seperti biasa, bahkan saya tetap ber Chloe Ting 30 menit. Semua lancar – lancar. Setelah lewat 24 jam setelah vaksin, badan tidak ada rasa sakit sedikitpun, lengan tidak, semua baik dan aman terkendali. Jadi saya simpulkan, efek vaksin ketiga (Pfizer – booster) di badan saya tidak ada efek sakitnya. Entah nanti apakah jadwal mens akan terganggu lagi apa tidak. Mudah – mudahan tidak. Mama mertua yang mendapatkan Moderna divaksin ketiga ini (setelah yang pertama dan kedua adalah Pfizer), juga tidak ada keluhan apapun setelahnya. Sama seperti sebelumnya.

Begitulah cerita saya vaksin ketiga (booster) lewat jalur undangan dari klinik dokter keluarga. Kalau lewat jalur GGD, saat ini masih untuk mereka yang kelahiran tahun 1965 dan sebelumnya. Jadi, saya lumayan beruntung dapat jalur express. Tidak semua klinik huisarts di Belanda bisa sebagai tempat suntik vaksin ketiga ini. Entah kriteria kliniknya seperti apa. Dalam waktu dua minggu setelah vaksin, buktinya otomatis sudah ada di QR Code.

Sehat – sehat semua buat kita.

-23 Desember 2021-

Kembali Belajar : Kelas Dasar Membuat Roti

Mejeng di kelas roti

Pertengahan tahun 2020, saat mulai tertarik menekuni dunia bikin kue dan roti, saya mencari informasi sekolah baking yang ada di Belanda. Saat itu, setelah berdiskusi dengan suami, saya ingin lebih serius terjun di bidang ini. Alih – alih ingin meneruskan ke S3 di Institut teknik (yang sudah saya rencanakan sejak dulu kala tapi nyatanya maju mundur ga jelas dengan berbagai alasan dan kesibukan), saya berpikir lebih baik saya jadikan serius saja dunia oven mengoven ini. Setelah mencari dan mengumpulkan informasi, dari berbagai macam sekolah baking, pilihan saya jatuh pada satu institut. Ga jadi ke Institut teknik, beloknya ke institut bakery haha. Saya diskusikan secara mendalam dengan suami, dia sangat mendukung rencana saya kembali sekolah meskipun bidangnya sangat berbeda dengan latar belakang pendidikan juga pengalaman kerja. Dia bilang : tekuni kalau memang ini yang kamu yakini, inginkan dan bisa membuat kamu berkembang secara ilmu dan pengalaman. Tekuni kalau memang ini bidang kerja yang kamu ingin jalani dan juga kamu senang mengerjakannya. Dapat dukungan gini, saya tentu saja jadi ringan melangkah.

Ruang kelas

Institut ini punya program khusus berdiploma yaitu kelas 9 minggu untuk Pattiserie dan 9 minggu Boulangerie. Waktu itu, saya memutuskan untuk ikut gabungan keduanya. Jadi minimal 20 minggu, setiap hari masuk dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Saya dan suami juga mulai cari cara bagaimana supaya berjalan seimbang antara yang di rumah dan saat saya sekolah. Ada beberapa hal yang menyulitkan sebenarnya, tapi kami mencoba jalan tengahnya. Ini program yang sangat intensif dan musti punya komitmen tinggi. Tidak bisa berhenti di tengah karena biayanya sangat mahal. Pun ujian akhirnya juga belum tentu lulus. Tergantung kemampuan peserta selama mengikuti sekolah.

Hasil roti hari pertama kursus

Singkat cerita, setelah berpikir lama mempertimbangkan segala hal dan mencoba mencari celah kesulitan yang kami hadapi kalau saya kembali sekolah secara intensif, akhirnya diputuskan saya akan mendaftar 1 jurusan dulu yaitu Boulangerie. Saya mendaftar sekitar Maret 2021, lalu dipanggil interview sekitar bulan Mei. Saat interview, semua bisa saya jawab dengan baik, dengan bahasa Belanda tentunya. Saat interview itulah saya mendapatkan gambaran kira – kira bagaimana nanti suasana selama 10 minggu sekolah. Akhirnya keesokan harinya, saya mendapatkan kabar kalau saya lulus interview dan bisa meneruskan proses pendaftaran yang berikutnya.

Hasil roti hari kedua kursus

Lalu saya mulai gamang. Saya mulai mempertanyakan diri sendiri, apa iya saya sanggup meninggalkan rumah seharian, 5 hari dalam seminggu, selama minimal 10 minggu (karena akan ada masa magang juga). Apa iya saya akan kuat secara mental meninggalkan yang ada di rumah. Pertanyaan – pertanyaan itu mulai saya pikirkan secara serius. Kalau menuruti ambisi, saya bisa saja berkeras hati tetap berjalan sesuai rencana. Tapi saya kembali berpikir, sebenarnya prioritas saya sekarang apa.

Salah satu materi kursus

Singkat cerita, saya akhirnya memutuskan mengundurkan diri, tidak melanjutkan untuk ikut kelas pendidikan 9 minggu Boulangerie. Tapi hasrat saya untuk masuk kelas tetap membara. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil kelas kursus pengenalan pembuatan roti. Sebenarnya kursus yang saya incar adalah kelas Croissant. Namun kelas ini mensyaratkan untuk ambil kursus dasar dulu. Meskipun secara praktek saya sudah bisa membuat roti bahkan menjualnya (bisa ditengok akun jualan dan prakarya baked goods IG : @SophieBreadnSweets) khusus sourdough bread, tapi secara teori saya butuh banyak belajar. Akhirnya saya mendaftar kursus di Institut ini dengan dosen yang sama mengajar di kelas pendidikan 9 minggu. Saya pikir, dengan jalan tengah seperti ini, semua hal bisa terakomodasi. Saya bisa tetap belajar di kelas yang berhubungan dengan baking, pun yang di rumah tidak keteteran saya tinggal karena waktunya tidak terlalu intensif. Toh dosennya sama dengan kelas pendidikan dan diakhir kursus saya mendapatkan sertifikat. Win Win Solution.

Mejeng dulu

Awal November, saya masuk kursus kelas dasar pembuatan roti. Kursus ini berlangsung 2 hari, yang tempatnya lumayan jauh dari tempat tinggal saya. Sekitar 4 jam perjalanan menggunakan kereta total pergi dan pulang. Waktu kursus, hari minggu dan senin dari jam 8 pagi sampai 4 sore . Peserta total 8 orang. Setelah perkenalan, diantara 8 orang ini, hanya 2 orang yang punya usaha baked goods. Saya dan satu orang dari Zeeland. Selebihnya, mereka baru mengenal dasar – dasar roti ya dari kursus ini.

Selama 2 hari kursus, banyak teori baru yang saya dapatkan berkaitan dengan cara membuat formula resep roti, proses kimianya, bahkan praktek cara melipat dan membentuknya pun saya mendapatkan insight baru. Wah antusias sekali saya selama 2 hari ini. Beberapa kali dipuji peserta kursus lainnya katanya cara saya membuat roti pakai tangan sudah terlihat professional. Lalu dosennya menjawab : ya dia jualan roti, kalau sampai tidak bagus kan bawa reputasi usahanya. Bwuahaha Pak Dosen, beraatt Pak! Namanya belajar otodidak dan belajar di kelas pasti banyak bedanya. Intinya, yang namanya belajar, pasti akan banyak hal baru yang didapat.

Hasil karya punya Pak Dosen. Memang beda kalau ahlinya yang bikin

Setiap hari selama 2 hari ini, para peserta membawa pulang hasil karya membuat roti. Dalam 1 hari, kami membuat 4 macam roti, dan per satu varian, kami membuat 3. Jadi jumlah roti yang kami bawa sebanyak 12 haha mabok roti dalam dua hari. 12 roti itu dalam satu hari saja ya. Besoknya membawa jumlah yag sama dengan varian yang berbeda. Karena kami sekeluarga akan pergi liburan, jadi roti yang saya bawa pulang, saya bagikan ke tetangga – tetangga. Dan dihari kedua, rotinya saya bagikan ke peserta kursus lainnya.

Roti yang dibawa pulang hari pertama

Yang membuat saya bangga dengan diri sendiri adalah, selama kursus dua hari ini saya paham apa yang dijelaskan dosen dalam bahasa Belanda. Bahkan saya ikut bertanya dan menjawab beberapa pertanyaan dari dosen dan peserta kursus lainnya. Dosen hari kedua, sudahlah ngomong Belandanya cepet, aksennya perancis. Duh puyeng. Saya sampai musti benar – benar konsentrasi penuh dengan apa yang dijelaskan. Jangan sampai meleng sedikit. Dan selama kursus 2 hari ini saya bersyukur memutuskan tidak jadi meneruskan mendaftar ke pendidikan 9 minggu. Lha dua hari saja terasa sekali capeknya. Berangkat sebelum jam 6 pagi, sampai rumah paling cepet jam 6 malam. Selama di kelas, tidak duduk sama sekali. Beda dengan kelas Patisserie di sebelah yang disediakan tempat duduk. Jadi selama 8 jam, duduk cuma 1/2 jam waktu makan siang dan waktu di toilet. Selebihnya berdiri. Tidak duduk karena memang sistem kerjanya berdiri wira wiri ngurusin resep, mencatat di papan, ngecek oven, sampai membuat adonan pakai tangan dan diajari pakai mesin.

Para peserta kursus. Foto sudah disepakati bersama boleh diunggah di media sosial (termasuk blog)

Akhir dari kursus, peserta mendapatkan sertifikat dan berfoto bersama. Pengalaman dan banyak ilmu yang saya dapatkan selama 2 hari kursus di Bakery Insitute. Juga mengenal peserta kursus dari bidang pekerjaan yang lain. Mereka baik sekali, kalau saya tidak paham, dijelaskan secara sabar pelan – pelan. Yang sekelas, cuma saya yang pendatang. Bahasa Belanda pun pas – pasan mentok yang lumayan bisa paham penjelasan dosen. Waktu sesi perkenalan, masing – masing menyebutkan umur dan bidang kerja saat ini. Karena saya mendapatkan urutan awal, saya PD sekali kalau saya akan masuk umur yang lumayan masih muda. Lha ternyata saat semua sudah memperkenalkan diri, ternyata saya masuk 3 besar paling atas umur yang tua hahaha. Terlalu PD dengan wajah sendiri.

Me time yang saya sukai ya salah satunya seperti ini. Belajar hal baru yang mudah – mudahan jadi jalan karier saya dimasa depan, yang dengan perasaan senang jadi pekerjaan yang saya serius geluti. Untuk tahun depan, saya sudah mendaftar 2 kursus, satu di Pattiserie dan satu Boulangerie di tempat yang sama. Tidak sabar ingin belajar di kelas lagi, menambah banyak ilmu baru lagi, dan bertemu dosen juga peserta kursus yang baru. Jadi, sampai dicerita kursus baking selanjutnya.

-9 Desember 2021-

Pakjesavond 2021

Pakjesavond 2021

Pakjesavond atau malam saat Sinterklaas bagi – bagi kado, tahun ini lumayan meriah karena kami mendapatkan sumbangan kado yang banyak. Tahun kemaren penyumbangnya juga sama, tapi tahun ini jumlahnya lebih banyak. Selain itu, yang membuat meriah karena yang diberi kado lebih paham apa Pakjesavond itu.

Tahun ini kami mulai belanja kado sejak pertengahan oktober karena minggu kedua November kami pergi liburan selama 2 minggu. Pun karena minggu – minggu sebelumnya ada beberapa acara termasuk saya yang masuk kelas baking. Takutnya kalau tidak dicicil, tidak akan sempat dan terlalu pendek waktunya. Juga saat November, ada beberapa anak teman yang ulangtahun, jadi sekalian belanja untuk kado ulangtahun. Walhasil awal November semua kebutuhan kado ulangtahun dan untuk Pakjesavond sudah selesai. Kami pergi liburan dengan perasaan tenang.

Seluruh kado yang selesai dibungkus akhir Oktober

Menjelang tanggal 5 Desember, sumbangan kado dari tetangga dan Oma datang. Makin banyak kado yang kami terima. Karena menurut kami terlalu banyak jika diberikan saat Pakjesavond, jadinya dibagi 2. Nanti akan dibagikan saat Natal juga. Jadi terasa hawa Natalnya dengan bagi – bagi kado.

Cerita selingan, tentang pohon Natal. Kalau tahun – tahun sebelumnya termasuk tahun lalu akhir November sudah terpasang Pohon Natal, tahun ini kami baru sempat menyelesaikan tepat tanggal 1 Desember. Sebenarnya ini juga hitungannya terlalu awal karena tradisi di Belanda, Pohon Natal baru didirikan setelah Sinterklaas meninggalkan Belanda yaitu tanggal 6 Desember. Di komplek rumah kami, sepertinya hanya saya dan rumah Oma dekat sini yang sudah ada pohon Natal sebelum Sinterklaas.

Selama 6 tahun berturut, kami selalu menggunakan pohon Natal yang sama dari bahan plastik. Tahun ini kami memutuskan memasang pohon Natal asli dari pohon. Jadi kami membeli pohonnya di dekat rumah tanggal 30 November dan langsung dihias. Lumayan juga wangi pinus, segar. Meskipun tidak semerbak seperti yang saya bayangkan. Mungkin aroma pinusnya ketutup dengan aroma sate ayam haha.

Pohon Natal tahun ini dari pohon asli

Hiasan yang kami pakai tetap sama hanya ada tambahan sedikit. Semua ikut menghias makanya agak amburadul konsepnya. Saya juga tidak terlalu banyak ikut campur cuma membetulkan sedikit kalau ada yang jatuh. Yang penting semua senang dan ruang tamu jadi lebih meriah lampu kelap kelip di tengah cuaca yang abu – abu setiap hari dan dingin tidak karuan.

Rangkaian acara Sintreklaas juga dimeriahkan di sekolah – sekolah dan pusat perbelanjaan. Pesta di sekolah selain bagi – bagi kado, juga mendatangkan Sinterklaas dan Zwarte Piet yang jam 8 pagi sudah heboh nari – nari di atas genteng sekolah sambil pasang musik kenceng lagu Sinterklaas. Saya sampai ngikik membayangkan jangan sampai nyangsang aja di cerobong asap. Tapi seru sih, saya saja menikmatinya. Apalagi para bocah – bocah sekolah ya. Di beberapa supermarket menyediakan rak yang bisa ditaruh sepatu lalu bisa diambil lagi sebelum tanggal 5 Desember. Di dalam sepatu sudah ada coklat atau kruidnoten (biskuit kecil – kecil rasa kayu manis). Saya juga mengirimkan kado ke beberapa anak teman, menyemarakkan suasana Pakjesavond di rumah mereka.

Saat Pakjesavond, sama seperti tahun sebelumnya. Suami pura – pura menggedor pintu trus teriak – teriak ada siapa di depan pintu. Saya sampai ngakak saking ga tahan sama sandiwaranya. Sukses sih, dipikir beneran Sinterklaas yang mengantar kado – kado yang ditaruh dalam kantung depan rumah.

Lalu kami bareng – bareng membuka kadonya. Semua senang, semua riang. Kenangan seperti ini bukan hanya anak – anak se Belanda saja yang menikmati keseruannya, juga orang dewasanya. Seru dan penuh suka cita.

Pakjesavond 2021
Pakjesavond 2021

Sekarang saatnya mulai mencicil menulis kartu Natal dan mulai mengirimkan ke wilayah Belanda. Yang wilayah Internasional sudah saya kirimkan sejak minggu ketiga dan keempat November. Mudah – mudahkan sampai tepat waktu paling tidak sebelum tahun baru. Saya juga mulai memikirkan menu malam Natal nanti, meskipun tidak mengundang siapapun terkait peraturan hanya 4 tamu dewasa dalam satu hari (kalau peraturannya tetap sama sampai akhir Desember). Tahun ini sepi lagi Natalnya, tidak ada kumpul keluarga besar. Semoga tetap penuh suka cita. Dipatuhi saja, namanya juga peraturan kan.

Tot volgende jaar Sinterklaas!

-7 Desember 2021-

Resah dan Ingin Mudik

Danau di kampung sini

Beberapa hari ini perasaan saya gundah tidak menentu. Rasanya resah dan tidak tenang. Hal ini terkait dengan rencana kami yang akan mudik ke Indonesia tahun depan. Awalnya, kami optimis akan mudik karena peraturan karantina masih bisa kami penuhi dan persyaratan visa untuk suami, terpaksa kami ikuti alurnya. Itu saat kondisi masih dalam jangkauan aman – aman saja ditengah situasi yang belum sepenuhnya aman. Sampai minggu lalu yang peraturan cepat sekali berubah. Bahkan hanya dalam hitungan hari. Kemaren ada berita erupsi di Lumajang, Jawa Timur. Lumajang ini dekat dengan kota tempat Ibu dan adik – adik saya tinggal. Hati saya makin sedih karena makin sadar bahwa jarak yang terbentang antara Belanda dan Jawa Timur itu sangat jauh. Artinya, saya memang harus mengikhlaskan kalau ada segala hal terburuk terjadi dengan keluarga, saya tidak bisa segera ke sana. Sebenarnya saat pindah ke Belanda pun saya sudah tau konsekuensi tersebut. Hanya saat ini, makin nyesek di hati. Keluarga saya baik – baik saja, tidak terdampak erupsi kemaren.

Sebelum kami liburan ke Andalusia (cerita tentang ini, menyusul), suami sudah bertanya dan “mendesak” saya untuk menjadikan saja mudik tahun depan saat lebaran. Toh “hanya” karantina 5 hari (saat itu) dan syarat visa (atau KITAS) pun masih bisa diusahakan. Saya sebenarnya berat hati karena masih tidak rela men”sedekah” kan uang untuk karantina hotel 5 hari. Lalu suami bilang : yang penting bisa ketemu keluarga, kamu kan sejak pindah sini belum mudik sama sekali. Uang bisa dicari lagi, ga usah mikir terlalu panjang. Apalagi Ibuk beberapa kali bilang kangen ingin ketemu kita semua. Saya tertegun saat dia bilang begitu. Lalu saya berpikir, iya juga. Apalagi selama ini memang saya ingin sekali mudik saat lebaran. Saya berlebaran terakhir dengan keluarga di Indonesia, tahun 2014. Jadi saya memang benar – benar rindu merasakan lagi suasana lebaran berkumpul dengan keluarga besar di sana. Juga saya ingin memperkenalkan keluarga saya di sini, lebaran itu seperti apa dan bagaimana. Biar mereka tahu dan ada kenangannya. Ada alasan lain juga kenapa lebaran tahun depan satu – satunya kesempatan saya bisa mudik, tapi tidak bisa saya tuliskan di sini alasannya apa. Lalu aturan karantina dipersempit lagi jadi 3 hari. Saya semakin optimis. Saya sampai bilang ke Ibuk : Insya Allah mudik jadi Bu tahun depan pas lebaran. Saya akan urus semuanya setelah pulang liburan.

Akhirnya saya sanggupi saran suami : Ok, setelah pulang liburan dari Andalusia, kita akan urus semuanya. Kita mulai dengan reschedule tiket Garuda (yang memang sudah kami beli sejak sebelum pandemi masuk Belanda, awal 2020), lalu urus – urus semuanya. Kami sudah menetapkan tanggal kapan berangkat, sudah memilih jam berapa akan berangkat, dan tanggal berapa akan pulang ke Indonesia. Lalu kami pergi liburan lah selama 2 minggu. Selama di Andalusia pun saya masih sempatkan cari informasi apa saja rentetan persyaratan yang harus kami penuhi sebelum dan sesampainya di sana.

Sesampainya di Belanda kembali, kami teler beberapa hari, kecapean. Jadi baru ada tenaga untuk mikir mudik ya minggu lalu. Lalu terdengar kabar, karantina yang awalnya 3 hari, karena ada varian baru yang sudah masuk ke beberapa negara (termasuk Belanda), diperpanjang jadi 7 hari. Mencegah masuk ke Indonesia tentu saja. Saya masih punya harapan : ok, tidak apa – apa masih 7 hari. Begitu saya membesarkan hati. Suamipun ikut membesarkan hati (nya sendiri lol), 7 hari masih ok katanya. Lalu beberapa hari kemudian, sebelum subuh saya dapat kabar kalau karantina jadi 10 hari. Saya langsung sedih. Gila, 10 hari ngapain di dalam kamar ga bisa ke mana – mana. Untuk pembayaran hotel, meskipun dengan berat hati bisa kami sanggupi dan untuk waktu pun kami bisa (karena rencana liburan di Indonesia selama 6 minggu), tapi membayangkan 10 hari di dalam kamar itu ngapain saja. Sehobi – hobinya saya rebahan, tapi kalau 10 hari dalam ruangan sekeluarga, kan ya jadi gila rasanya kalau dibayangkan. Tidak bisa ke luar kamar sama sekali kan. Bisa saling bunuh kami di dalam ruangan.

Sampai kami membuat beberapa skenario yang pada akhirnya semuanya sulit diwujudkan (skenario ini dengan aturan karantina 10 hari) :

  1. Saya pulang sendiri ke Indonesia. Ini jelas tidak bisa saya lakukan. Keberadaan saya masih dibutuhkan secara fisik di Belanda dan juga saya tidak akan tenang meninggalkan keluarga saya di rumah dalam waktu yang tidak sebentar. Bukan saya tidak percaya dengan suami atau dia tidak bisa diandalkan, tapi memang saya masih harus hadir dalam keseharian. Tidak bisa tidak. Suami jelas bisa diandalkan, tapi untuk hal – hal tertentu, untuk saat ini, saya yang harus ada.
  2. Saya pulang membawa satu anak kami. Ini juga sulit diwujudkan karena dia sudah tak terpisahkan dengan saudaranya. Sehari ga ketemu saja sudah saling mencari nangis ga karuan. Memisahkan mereka, sama saja membuat mereka sakit yang nantinya kami juga yang kerepotan
  3. Kami mudik sekeluarga. Ini kemungkinannya juga kecil walaupun kalau bisa diusahakan kalau kepepet, karena anak – anak tidak pernah tidak ke luar rumah satu haripun kecuali sedang badai. Mereka setiap hari selalu beraktifitas di luar rumah, bermain di udara terbuka meskipun cuma 2-3 jam (di luar jam sekolah). Jadi membayangkan dikurung dalam ruangan selama 10 hari walaupun disediakan mainan dan bahan hiburan yang cukup, rasanya tidak bagus buat perkembangan mental mereka. Mereka ini sedang di usia yang aktif – aktifnya bergerak (kalau saya kan sudah masuk usia sedang aktif – aktifnya ingin rebahan tapi inginnya tetap bergelimang uang *yang mana ya jelas ndabrus.). Suami saya saja tidak bisa membayangkan apa dia sanggup selama 10 hari tidak beraktifitas di luar ruangan sama sekali.
  4. Saya sudah mencari informasi tempat karantina berupa apartemen, sudah dapat tapi dia hanya ada 1 kamar tidur. Bentuk apartemen ini rasanya lebih manusiawi buat kami karena ada sekat – sekat dengan ruangan yang lain. Punya dapur juga, dan jelas ada ruang tamunya. Juga ada balkonnya, jadi bisa cari udara segar di balkon. Tapi kalau cuma 1 kamar tidur, ya tetap sulit. Bisa dipaksakan kalau kepepet. Tapi males juga kalau dipepet – pepet tidur karena memang tidak pernah selama ini. Sudahlah tidak bisa ke mana – mana 10 hari, masa tidur juga musti merana.
  5. Saya pulang membawa anak – anak sendiri tanpa suami. Lah ini sama juga dengan skenario sebelumnya tapi dengan kondisi yang lebih merepotkan karena saya harus mengurus semuanya sendiri. Encok buukkk kalau ga ada suami siaga di samping saya. Hari pertama mungkin sudah dadah – dadah ke kamera.
  6. Skenario terakhir, terpikir untuk mendatangkan kembali Ibuk ke Belanda. Tapi rencana ini langsung gugur mengingat Ibuk sudah sepuh dan perjalanan panjang ke sini terlalu melelahkan untuk usia Beliau. Saya juga tidak tega membayangkan prosedur yang harus dijalani Ibuk nanti jika kembali ke Indonesia harus menunggu berjam – jam sebelum bisa ke hotel karantina.

Baru itu saja skenario yang terpikirkan karena belum ada pembicaraan lebih lanjut dengan suami (juga sahabat – sahabat saya). Suami dan sahabat – sahabat saya juga lelah hati memikirkan skenario apa lagi. Hal yang paling mungkin kami lakukan ya tetap mudik. Saya menuliskan semuanya di blog ini untuk menguraikan keruwetan yang ada di otak dan keresahan yang ada di hati perkara rencana mudik dan peraturan yang berubah dan juga varian baru yang mak bedundug muncul lagi. Supaya saya berasa lebih lega sedikit. Tidak usah banyak, sedikit saja bisa membuat saya lebih legowo menjalani esok hari. Seminggu ini saya mengerjakan sesuatunya seperti ngawang tidak menginjak tanah. Bahkan mengerjakan pesanan juga dengan perasaan yang tidak tenang. Untungnya ya saya bisa menyelesaikan pesanan minggu lalu dengan baik. Minggu depan dan depannya lagi juga masih banyak pesanan. Alhamdulillah bulan Desember ini saya banyak pesanan.

Sepupu saya di Jakarta mengingatkan : kalau mau mudik menjelang momen besar misalkan akhir tahun atau lebaran, pasti aturan akan diperketat. Polanya selama ini seperti itu. Sahabat – sahabat saya di sana pun berpendapat yang sama. Kenapa saya “ngotot” ingin mudik tahun depan. Selain alasan yang sudah saya sebutkan di atas, juga karena ada beberapa hal yang harus saya urus di sana. Saya harus hadir sendiri secara fisik, tidak bisa diwakilkan. Juga alasan ada perasaan khusus kalau saya memang harus mudik tahun depan. Seperti perasaan yang sangat kuat, tidak bisa ditunda lagi, memang harus mudik.

Selain itu, alasan utama ya karena saya sudah rindu sekali ingin bertemu dengan Ibuk, adik – adik saya dan keluarga besar di sana. Tidak ada yang saya rindukan lainnya selain keluarga dan para sahabat. Saya memang dekat dengan keluarga di Indonesia apapun dinamika yang terjadi selama ini. Mereka tetap dan akan selalu jadi alasan utama saya untuk liburan lama di Indonesia. Bahkan waktu 3 bulan saja buat saya masih kurang, apalagi 6 minggu, rasanya tidak cukup untuk melepas kangen dan saling bercerita. Makanan tentu saja rindu tapi masih bisa ditunda. Januari tahun depan, tepat 7 tahun saya tidak bertemu dengan mereka (kecuali adik dan Ibu saya yang pernah ke Belanda tahun 2017. Sedangkan adik saya yang satunya, terakhir bertemu tahun 2014). Rasanya sesak sekali setiap memikirkan betapa sulitnya mudik di situasi saat ini. Saya tahu, akan ada banyak (dan sudah banyak) yang menyarankan : ditunda saja sampai keadaan lebih aman dan memungkinkan. Jika saya pernah mudik ke Indonesia selama 7 tahun sejak pindah ke sini, saran tersebut akan bisa saya dengarkan dengan perasaan lebih nerimo. Tapi karena saya belum pernah mudik sama sekali, jadi susah buat saya untuk menunda sampai keadaan aman. Parameter aman yang bagaimana, sampai kapan benar – benar aman, apakah memang akan bisa benar – benar aman? Saya sedang menata hati mencoba berdamai dengan keadaan ini.

Saat mengabarkan pada Ibuk kalau karantina saat ini jadi 10 hari, hati ini rasanya retak. Sedih sekali. Membayangkan Ibuk dengan susah payah mencoba mengerti situasi yang memang sulit saat ini. Saya tahu, Ibu memang tidak akan pernah menampakkan kekecewaannya. Bisa merasakan bagaimana Ibuk bersusah payah menyiapkan mental jika kami mungkin akan batal mudik lagi. Membayangkan begitu saja, saya sudah tak sanggup untuk tidak keluar air mata. Meskipun Ibuk selalu menjawab : tidak apa -apa Den, yang penting semua sehat. Tapi saya tahu dengan pasti, sebenarnya Beliau menata perih hatinya supaya tidak nampak oleh saya.

Sekarang yang bisa saya harapkan dan doakan ya keadaan lebih baik kedepannya dan peraturan karantina lebih diperpendek dan dalam waktu dekat tidak muncul lagi varian baru. Suami meyakinkan sambil memeluk saya untuk menenangkan : apapun yang terjadi, selama kita bisa mudik, lebaran tahun depan kita akan mudik sekeluarga ke Indonesia.

Saya ingin mudik. Saya ingin bertemu Ibuk, adik – adik dan keluarga besar di sana. Ingin mempertemukan keluarga saya dengan mereka semua. Ingin ziarah ke makam Bapak yang terakhir saya kunjungi akhir tahun 2014. Itu saja, tidak muluk – muluk.

-5 Desember 2021-

Saat ini sebenarnya ada perayaan yang menggembirakan di rumah karena sedang Pakjesavond (Sinterklaas bagi – bagi kado), tapi hati saya tetap digelayuti rasa sedih. Jadi mencoba professional nampak baik – baik saja, padahal tidak. Hanya suami yang tahu, dan dia bertanya ada apa. Ya sebenarnya dia tahu kenapa saya begini. Dia hanya memastikan saja.

TETAP SEMANGAT NGEBLOG

Autumn

SELAMAT HARI BLOGGER NASIONAL!

Dunia blog sekarang sudah berbeda dengan jaman saya masih ngeblog di Multiply, Blogspot, Friendster, Tumblr. Apalagi MP, setiap masuk kerja, pertama yang dibuka ya multiply. Membaca ada postingan apa hari itu karena yang saya ikuti postingannya pasti bagus – bagus. Ya seputaran dunia percintaan, puisi, cerpen. Masa itu, saya memang lebih produktif menulis cerpen dan puisi dibandingkan cerita ringan sehari – hari. Total perjalanan saya ngeblog ya 15 tahun an dari awal sampai sekarang.

Mulai ngeblog di WP tahun 2014 karena awalnya memang saya dan suami yang akan menulis bersama di blog ini. Karena itu nama blog ini Deny and Ewald. Seiring berjalan waktu, saya yang lebih banyak menulis di sini sedang suami fokus pada blognya sendiri. Meskipun alamat blog ini masih nunut blog dia dan dia juga yang bayar iurannya. Blog ini juga sarana saya belajar menuliskan cerita yang santai, kehidupan sehari – hari, cerita liburan, beberapa informasi yang mudah – mudahan berguna bagi yang baca, sarana mendokumentasikan apapun bahkan juga tulisan rasan – rasan. Ya lumayan lengkap luas lah cakupan blog ini. Mau yang positif ada, yang negatif juga ada. Balance. Blog suka – sukalah isinya.

Autumn
Autumn

Tahun 2014, masih banyak yang rajin ngeblog. Yang saya ikuti, hampir ada saja tulisannya tiap minggu. Semakin bertambah tahun, makin berkurang yang aktif. Tiga tahun terakhir makin terasa sepinya. Syukurlah yang saya kenal lumayan baik dari tulisannya, mereka masih tetap menulis. Yang penting tetap menulis jadi saya tahu dan tetap bisa baca apa kabar terbaru dari mereka. Beberapa ada yang saya ikuti ceritanya di media sosial dan yang lainnya tidak. Jadi, ya andalan saya tetap blog.

Meskipun saya tidak selalu berkomentar di setiap tulisan, tapi saya usahakan untuk tetap baca. Selalu ada hal menarik di setiap tulisan. Beda dengan media sosial, blog itu “arwah” nya berbeda. Lebih terasa ke hati jika membaca tulisan yang lengkap, menceritakan hal yang baru, atau apapun itu.

Jaman memang sudah berubah. Banyak yang memindahkan tulisannya ke media sosial sehingga tidak aktif lagi di dunia blog. Banyak yang lebih nyaman berbagi di dunia video. Saya pun akhir – akhir ini ada saja alasan untuk malas menulis padahal banyak sekali bahan dan cerita sehari – hari yang bisa didokumentasikan di sini. Bahkan membalas komentar pun belum saya lakukan. Maaf ya yang sudah komen di tulisan – tulisan sebelumnya, pasti nanti akan saya balas. Saya sadar, interaksi yang kita bangun lewat tulisan bisa semakin intensif lewat kolom komentar. Jadi tahu sudut pandang yang membaca seperti apa. Selain waktu, menulis di blog memang butuh mood khusus. Saya sudah punya waktu lebih longgar. Hanya mood yang seringnya malas. Memang harus diberantas sikap malas menulis. Supaya tujuan awal punya blog di WP tetap terlaksanakan, yaitu sarana mendokumentasikan apapun.

Saya tetap semangat ngeblog meskipun dunia blog semakin sepi. Saya tetap semangat ngeblog meskipun yang membaca semakin sedikit. Saya tetap dan akan selalu ngeblog selama platform ini tidak gulung tikar. Saya pasti akan terus menulis sampai kondisi tidak memungkinkan lagi. Selama jiwa dan raga masih sehat, semangat saya untuk menulis di blog tak akan pernah surut. Buat saya, media blog tidak akan tergantikan dengan media yang lainnya. Seaktif aktifnya saya di media sosial, blog tetaplah media yang tepat buat saya untuk menulis.

Saya tetap semangat ngeblog!

-27 Oktober 2021-

Sambal dan Makanan Pedas

Aneka Macam Sambal Buatan Sendiri

Tumbuh besar di wilayah Jawa Timur bagian timur dan lingkungan tempat tinggal mayoritas adalah orang Madura, sejak kecil saya sudah terbiasa mengkonsumsi makanan pedas. Jika diingat kembali, hanya ada dua rasa makanan yang saya kenal sejak kecil yaitu asin dan pedas. Saya ingat sekali, mungkin sekitar umur TK, saya makan lodeh yang dibuatkan Mbah, sampai telinga berdenging. Saking pedasnya. Rasanya semua makanan bersantan dari desa Bapak, tidak ada yang tidak pedas. Masak sayur asem pun, ya pasti ada sandingan nya sambal. Malah, meskipun sayurnya sudah pedas, tetep saja sambal tidak absen untuk dihadirkan. Karena itulah kenapa pengetahuan saya akan rasa, tidak terlalu luas. Karena ya hanya mengenal asin dan pedas, lidah saya tidak terlalu terpapar rasa makanan lainnya. Itulah mengapa sampai sekarang, saya lebih menyukai rasa makanan yang asin dibanding yang manis. Ironis sebenarnya karena saya saat ini berjualan camilan manis, tapi saya sendiri tidak terlalu doyan rasa manis.

Makanan Jawa Timur wilayah timur itu didominasi dengan rasa asin, pedas, petis, dan terasi. Merantau ke Surabaya dan Jakarta pun, tidak terlalu banyak bedanya. Tetap saja buat saya makanan enak itu kalau ada rasa pedasnya dan asin. Meskipun sewaktu kerja di Jakarta, saya sering tugas ke seluruh pulau di Indonesia, tetap saja yang saya cari ya makanan pedasnya. Intinya, level pedas lidah saya sudah tidak terhingga. Kata teman – teman yang mengenal saya, lidah saya sudah mati rasa saking semua rasa pedas ga ngefek. Mungkin kalau dulu sudah ada vlogger yang mukbang makanan pedas, saya mengajukan diri untuk diadu. PD akan menang.

Sebelum pindah ke Belanda, dua kali saya jalan – jalan ke LN, tepatnya ke Malaysia dan Vietnam. Kalau ke Malaysia, ya secara melayu, makanan masih bisa lah diterima lidah. Tapi, untuk mengantisipasi kalau misalkan masakannya tidak pedas, saya sampai belain bawa cabe bubuk. Kalau tidak salah ingat, saat itu belum ada cabe bubuk dengan merek ternama yang punya level sampai 30. Jadi saya bawa merek entah apa, yang sebenarnya bubuk cabenya pun tidak terlalu pedas. Tapi lebih baik daripada tidak ada sama sekali ya kan. Liburan ke Vietnam pun barang yang tidak boleh ketinggalan ya kalau tidak bubuk cabe, saus cabe. Pokoknya permasalahan makanan tidak cocok di lidah saat itu, akan terselesaikan kalau dua barang ini ada di depan mata.

Aneka Macam Sambal Buatan Sendiri
Aneka Macam Sambal Buatan Sendiri

MERANTAU LEBIH JAUH

Sebelum pindah ke Belanda, saya kan beberapa bulan sebelumnya pernah datang sebagai turis. Jadi sudah tau nih kira – kira makanan Indonesia di Belanda tuh tipenya yang seperti apa. Sudah ada bayanganlah. Tidak perlu takut kekurangan bahan makanan dan masakan Indonesia. Banyak yang jual dan kalau bikin sendiri juga gampang. Apalagi waktu itu kami tinggal di Den Haag yang jadi surganya makanan Indonesia.

Saat packing barang – barang untuk pindahan, tentu saja saya tidak melupakan untuk bawa cobek. Karena cobek batu, tidak bisa ditemukan di Den Haag, kecuali pesan pada perorangan baru ada. Nyambel kan paling enak kalau dicobek batu, apalagi saya sudah terbiasa ngulek. Jadi, dunia persambalan aman. Awal di sini, saya masih belum terpisahkan dengan sambal dan makanan pedas. Inginnya segala jenis makanan dipedesin pake sambal atau saus sambal. Sudah pindah negara, beda benua, masih saja lidah tidak diberi kesempatan untuk mengenal rasa yang lainnya.

Sampai saat kami road trip ke Perancis Utara, selama perjalanan itulah saya dapat hidayah. Awalnya saya lupa kenapa, tapi sepertinya saya tidak ingat untuk membawa saus sambal. Lalu selama perjalanan 8 hari, tentu saja tidak ada yang namanya makanan saya taburi dengan bubuk cabe atau dicocol ke saus cabe. Selama itulah pertama kalinya saya merasakan masakan negara lain dengan rasa aslinya. Tanpa tambahan apapun yang membuat pedas. Ternyata hey! saya tidak ada masalah kalau makan tidak pedas. Saya tidak jadi ngamuk karena makanannya, misalkan level asinnya tidak sesuai lidah saya. Di sanalah saya belajar mengenal rasa lainnya yang takjubnya membuat saya suka. Saya sangat menikmati apapun jenis makanan yang kami pesan. Dan selama itu juga tidak makan nasi, saya baik – baik saja, tidak emosi karena tidak bertemu makanan Indonesia. Disitulah saya disadarkan kalau ya tidak semua makanan butuh rasa pedas.

TOBAT

Sepulangnya dari Perancis Utara, saya seperti tobat dengan rasa pedas. Perlahan mulai mengurangi dan merubah cara berpikir ya ga perlu sampai nenteng sachet saus sambel ke mana – mana. Tidak perlu panik kalau makanannya tidak pedas. Saya beruntung bisa travelling ke beberapa negara selama di sini. Jadi makin tahu makanan lokal di negara tersebut bagaimana rasanya. Saya mulai memberi kesempatan pada lidah untuk mengenal rasa sebanyak – banyaknya. Makin banyak rasa yang saya kenal, makin gampang saya beradaptasi dengan rasa makanan yang baru. Asal makanannya masih masuk kriteria yang bisa saya makan, bablass akan saya santap tidak peduli lagi kalau rasanya tidak pedas. Justru salah satu manfaat jalan – jalan ke berbagai negara itu ya mengenal makanan lokalnya kan. Sayang kalau sampai makanan lokal dinodai dengan campuran saus sambal atau ditaburi dengan cabe bubuk, jika memang penyajiannya dan rasa aslinya tidak pedas. Sayang kalau menyiakan kesempatan untuk merasakan makanan lokal dengan citarasa aslinya. Ada sih beberapa kali pikiran : wah ini enak sih kalau dimakan sama sambel terasi, wah ini bakal lebih oke nih kalau disajikan pedas, dsb. Pikiran tersebut tentu ada. Tapi ya tentu saja hanya pikiran saja, tidak lalu diwujudkan. Toh saat makan, tetap saja nikmat, meskipun tidak pedas.

Beda lagi kalau memang saat liburan sengaja singgah ke restoran Indonesia ya. Itu kan bukan makanan lokal negara yang disinggahi. Saya saat di Berlin pun makan di dua restoran Indonesia. Tapi sebisa mungkin kalau sedang liburan ke LN, saya tidak makan di restoran Indonesia atau Asia. Konsekuensinya adalah saat pulang liburan dan kembali ke Belanda, jujugan pertama kami adalah restoran Indonesia atau Chinese Restaurant. Kami berdua pasti sudah kangen banget dengan makanan Asia. Berapapun lamanya liburan, entah di dalam Belanda atau luar Belanda, pasti sebelum sampai di rumah, kami belok dulu untuk beli makanan Asia atau Indonesia untuk dibawa pulang. Kembali ke zona nyaman. Di rumah pun, sekarang saya santai saja kalau misalkan tidak ada sambal. Kalau malas nyambel, ya sudah makan aja seadanya. Tidak dibuat repot.

Saya bersyukur sekarang lidah dan pengetahuan saya akan rasa semakin luas. Dulu saya mendefinisikan makanan enak itu kalau ada rasa pedasnya, asin, dan dimakan dengan sambal. Sekarang pandangan saya akan makanan enak sudah berbeda. Makanan enak buat saya, jika saya bisa merasakan dengan citarasa aslinya. Saya suka agak gimana gitu kalau melihat foto orang Indonesia yang sedang liburan di sebuah negara lalu makanan lokalnya ditaburi cabe bubuk atau dicocol saus sambel. Dulu kan saya pelaku seperti itu. Tapi karena sudah tobat, jadi saat melihat ada yang melakukan sama seperti yang saya lakukan dulu, ternyata ga elok ya. Balik ke selera sih ya.

Saya semakin paham dan yakin, bahwa tidak semua makanan perlu dimakan pakai sambal, punya rasa pedas, dan tidak semua makanan butuh saus sambal.

-27 September 2021-

Tujuh Tahun Perkawinan

Sourdough Bread

Agustus jadi bulan bahagia buat kami karena merupakan bulan ulangtahun perkawinan. Tahun ini, sudah memasuki usia ke tujuh tahun perkawinan. Kadang kami berpikir, wow cepat sekali ya sudah tujuh tahun menikah dan hampir delapan tahun sejak awal perkenalan. Setiap tahun yang terlewati adalah kerja keras dan kerja sama kami berdua dalam rumah tangga ini. Kami menyadari, semakin bertambahnya umur perkawinan, semakin tidak penting dan tidak bermutu sumber pertengkaran yang lewat. Ada saja hal – hal yang sebenarnya tak penting untuk diperdebatkan, eh ini malah jadi bahan pertengkaran. Seringnya bersumber dari saya. Berasa butuh tantangan kalau sekian lama tidak ada huru hara, trus cari gara – gara trus kesel sendiri. Kapokmu kapan. Suami sih lempeng – lempeng saja. Sudah hapal tabiat istrinya.

Bahagianya, Alhamdulillah semakin bertambah. Bahagia yang datangnya dari dalam, bukan material. Kalau di atas saya tuliskan hal receh yang jadi sumber pertengkaran, maka hal receh yang jadi sumber becandaan pun lebih banyak lagi. Bahkan kadang kalau sedang duduk – duduk di taman, lalu kami melihat satu objek yang sama, trus kami saling pandang, setelahnya bisa tertawa ngakak bersama. Padahal ya ga paham apa sebenarnya sumber tertawaan kami. Cuma pengen tertawa aja. Memang seretjeh itu. Jadi bahan tertawa kami setiap hari juga tidak terlalu penting. Tapi dari hal – hal receh yang kami sebutkan di atas, makin menguatkan hubungan kami.

Sekarang kalau bertengkar, baikannya juga cepet. Sudah males berlama – lama, tak ada tenaga. Sudah tak ada drama kumbara lagi. Diselesaikan secepatnya, saling minta maaf, ngobrol kedepannya seperti apa. Sudah sama – sama berumur, jadi ga ada tenaga lebih untuk tak saling sapa. Mending tenaganya dialihkan ke hal – hal berguna lainnya. Pernikahan kan proses belajar seumur hidup. Setiap hari ada saja hal baru dari pasangan yang membuat kita terkejut dan jadi bahan pembelajaran. Tidak setiap hari hidup kami dihiasi hal – hal yang romantis. Tapi dari sanalah justru kami belajar untuk lebih mengenal satu sama lain.

Kartu ucapan dari suami

Ulangtahun perkawinan tahun ini, kami rayakan di restoran All you can eat dekat rumah. Sebulan sebelumnya suami sudah reservasi tempat dan saya tidak sabar hari H karena sudah lama kami tidak ke tempat ini. Sebelum pandemi, beberapa kali kami ke sini dan jadi tempat favorit karena menunya yang supeerr banyak dan enak. Saya berdandan maksimal sebelum berangkat dan suami pun berpakaian rapi. Kami sama – sama memakai cincin perkawinan yang selama 7 tahun ini cuma dipakai 3 kali, selebihnya tergeletak di kotak. Kami memang tidak suka memakai cincin. Tapi entah kenapa tahun ini ingin memakai. Berasa kencan, gitu.

Kalau orang lain merayakan hari bahagia dengan potong taart, kami melakukan dengan cara yang berbeda. Potong sourdough bread. Hari itu, jadwal saya membuat sourdough bread, jadinya ya kami potong roti saja.

Sourdough Bread

Dua minggu sebelumnya, saya bertanya ke suami, “tahun ini ada kado – kadoan gitu ga sih? aku lupa tahun kemaren apa saling ngasih kado apa nggak ya?” pasangan lanjut usia, lupa tahun lalu ngado apa nggak. Eh pas hari H, seperti biasa suami kasih kartu ucapan dalam tiga bahasa. Begitu membaca yang bahasa Indonesia, saya yakin dia pasti pakai google translate. Namanya usaha ya. Saya senang sekali diberi kartu ucapan, mama mertua memberikan bunga dan mentraktir kami makan malam 2 hari setelahnya. Ucapan dan doa juga kami dapatkan dari keluarga suami, Ibu dan adik – adik saya di Indonesia, para sahabat yang datang ke perkawinan kami 7 tahun lalu. Bahagia kami rasakan karena mereka ingat dan ikut mendoakan hal – hal baik pada perjalanan perkawinan kami.

Sama seperti tahun – tahun sebelumnya, tahun inipun kami bersedekah lewat makanan untuk merayakan ulangtahun pernikahan kami. Saya memilih satu akun jual makanan di twitter @berhijabmerah sebagai perantara sedekah kami. Jadi saya memesan makanan pada beliau dan meminta tolong untuk mendistribusikan pada orang – orang yang memang butuh. Saya mempercayakan semuanya pada beliau. Saya senang dengan cara komunikasinya. Cepat dan bisa diajak diskusi. Saya orangnya kan detail ya, jadi saat memesan, sayapun akan bertanya sangat detail. Makanya saya puas pesan di @berhijabmerah.

Isi paket ricebowl : nasi putih, chicken teriyaki, beef rolade, tumis buncis wortel, saus sambal, buah, brownies potong, sendok, garpu dan tissue. Paketnya saya tambahi dengan 2 masker dan 1 handsanitizer. Saya pesan 50 paket yang dibagikan ke petugas kebersihan, pekerja jalanan, petugas puskesmas dan dokter yang sedang melakukan pemberian vaksin di lingkungan beliau tinggal, petugas keamanan, penjual kerupuk, dan beberapa orang lainnya.

Setiap hari bahagia di keluarga kami, selalu tidak lupa kami siapkan untuk bersedekah. Kami berpikir, setiap rejeki yang kami dapatkan, ada hak orang yang membutuhkan di situ. Saat di sini kami bahagia merayakan, maka kami ingin berbagi kebahagiaan juga buat orang lain yang berhak dan membutuhkan. Semoga berkah buat semua.

Tumpeng nasi kuning

Akhir pekan saya membuat tumpeng nasi kuning dan pie susu. Pengennya membuat taart tapi karena tetangga sedang liburan dua minggu, jadi tidak ada yang membantu menghabiskan taart yang saya buat. Akhirnya saya buat pie susu yang hasil akhirnya berantakan. Wes ga masalah sing penting rasane josss! *dipuji dewe dan memang habis di hari yang sama.

Ricebowl

Banyak syukur selalu kami ucapkan karena berkah yang selalu datang di kehidupan perkawinan kami. Pasang surut, naik turun, sedih bahagia selalu kami hadapi bersama. Tidak pernah sekalipun diantara kami yang meninggalkan satu sama lain. Sampai detik ini, bahu kami satu sama lain bisa dijadikan sandaran dan tangan kami masih tetap saling bergandengan. Semoga seperti ini, seterusnya, sampai nanti ujung waktu. Sehat dan menua bersama dalam suka dan duka. Dalam tangis dan tawa. Tetap saling cinta dan mencintai. Saling menopang dan menegakkan. Saling memeluk dan menghangatkan. Saling tersenyum dan menggembirakan.

Ricebowl

-29 Agustus 2021-

Bangga (Akhirnya) Bisa Menyetir Mobil (di Belanda)

Pertama kali menyetir di Belanda setelah punya SIM

Menyetir mobil ini benar – benar salah satu pencapaian terbesar dalam hidup saya. Bayangkan, dari orang yang sangat takut berkendara sendiri, bahkan naik motor saja takut, sekarang sudah bisa menyetir mobil lintas provinsi di Belanda.

Jadi, kami baru pulang liburan 4 hari. Di dalam negeri saja. Selama liburan tersebut, kami tinggal di vakantie huis (rumah yang disewakan untuk berlibur) di salah satu kota di provinsi Gelderland. Seperti biasa kalau liburan menginap beberapa hari, suami pasti akan menyewa mobil karena pasti kami mengunjungi kota – kota di sekitar tempat yang kami tinggali. Lalu suami bilang kalau liburan kali ini, bagian saya yang menyetir mobil supaya latihan dan tidak kaku.

Sebenarnya saat kami liburan awal Juli, itupun sudah direncanakan kalau saya yang akan menyetir mobil selama liburan. Waktu itu kami ke provinsi Drenthe dan Friesland. Tapi, karena SIM saya jadinya telat seminggu setelah liburan, walhasil saya tidak jadi menyetir saat itu. Akhirnya kesempatan liburan kali ini saya yang menyetir mobil.

Terakhir menyetir mobil ya waktu saya ujian praktek dan dinyatakan lulus akhir bulan Mei. Setelahnya sama sekali belum menyetir mobil lagi. Pagi hari saat mau berangkat, sempat ada rasa deg – deg an, kira – kira masih bisa tidak ya, kira – kira masih ingat tidak ya aturannya seperti apa, dsb. Sempat ada rasa khawatir sejenak. Tapi setelah saya duduk di belakang setir, semua berjalan lancar.

Jadi liburan kali ini, saya menyetir mobil lintas 4 provinsi di Belanda. Sebenarnya letak antara satu provinsi dan lainnya tidak terlalu jauh karena ya Belanda ini sebesar apa sih, negara yang kecil. Jadi, kami berhenti – berhenti di 3 provinsi : Utrecht – Gelderland – Zeeland. Berhentinya bukan hanya di Pom Bensin saja tapi masuk ke kotanya karena kami mengunjungi beberapa tempat di sana. Nah karena rumah kami ada di provinsi yang berbeda yaitu Zuid Holland, jadinya ya saya menyetir lintas 4 provinsi : Zuid Holland – Utrecht – Gelderland – Zeeland – Zuid Holland.

Sekitar 90% selama liburan, saya yang pegang setir. Sementara suami menggantikan saya menyetir cuma 1 jam sisa perjalanan saat dari Gelderland ke Zeeland yang total waktu tempuhnya 2 jam 45 menit. Jadi saya menyetir 1 jam 45 menit, sisanya suami. Selebihnya, selama 4 hari ya saya yang menyetir.

Rasanya bagaimana akhirnya bisa menyetir mobil? Bangganya luar biasa pada diri sendiri. Menengok lagi ke belakang, tidak mudah meyakinkan saya sendiri kalau menyetir mobil adalah keterampilan yang benar – benar ingin saya kuasai. Dulu waktu di Indonesia, sama sekali tidak ada keinginan dan terpikir untuk bisa menyetir mobil. Tapi saat di sini, pikiran saya jadi berubah. Saya merasa, saya harus bisa menyetir mobil supaya lebih mandiri dan pasti terpakai untuk kebutuhan lainnya. Lalu saya berkeras kepala untuk lulus ujian teori meskipun buat saya itu bahasanya sudah tingkat dewa saking susahnya (tricky dan bahasa Belanda yang dipakai formal sekali). Alhamdulillah sekali tes langsung lulus. Kemudian saya pun kembali berkeras kepala untuk lulus ujian praktek meskipun gagal dua kali dan 3 kali ujian tidak jadi karena terkena lockdown. Ujian ketiga baru saya dinyatakan lulus.

Sekarang saya bisa merasakan apa yang saya perjuangkan selama 1.5 tahun. Bisa menyetir dengan aman sesuai peraturan yang berlaku, menyetir dengan tenang dan bisa berpikir cepat apa yang harus dilakukan kalau ada kondisi yang tidak ideal.

Selama liburan kemaren, rasanya hampir semua situasi sudah saya lewati. Menyetir saat hujan deras sekali, menyetir di jalanan berkelok curam ke atas saat ke kastil, menyetir di kecepatan 120km/jam, 100km/jam saat jam sibuk, menyetir dalam kota, menyetir di sekitar pusat perbelanjaan, bermanuver di jalan tol menyalip truk – truk yang berukuran super besar, menyetir di jalanan super sempit, menyetir saat macet di dalam kota dan di jalan tol, menyetir malam hari. Alhamdulillah semua terlewati dengan baik. Dulu berpapasan dengan truk saja sudah membuat gemetaran. Sekarang setelah di belakang setir, semuanya jadi biasa. Dulu membayangkan melewati jalan berkelok curam saja ngeri, sekarang setelah dijalani sendiri, ya berani.

Kenapa saya berani? karena aturan menyetir di sini semuanya jelas dan peraturan lalu lintasnya pun jelas. Jadi orang tidak akan seenak udelnya serobot sana sini di jalanan. Selain itu, karena sudah punya SIM yang mendapatkannya penuh perjuangan, banyak uang yang sudah dikeluarkan, ya tidak ada alasan untuk tidak berani menyetir.

Suami bilang : Wah, rute selanjutnya roadtrip lintas negara nih. Selama ini, kalau kami roadtrip ya pasti dia saja yang menyetir. Karena sekarang saya sudah bisa, jadi saya juga tertantang menyetir mobil roadtrip lintas negara.

Ibu saja sampai heran, darimana keberanian yang saya dapatkan kok bisa – bisanya sekarang ga ada takutnya menyetir. Padahal dulu sudah ditawari beberapa kali untuk les nyetir mobil di Indonesia selalu saya tolak dan bilang kalau seumur hidup tidak akan pernah menyetir mobil sendiri. Sekarang saya telan omongan sendiri.

Kalau tidak merantau sejauh ini, saya tidak akan punya keberanian sebesar sekarang. Jika saya tidak berkeras kepala untuk meneruskan les menyetir sampai lulus dan mendapatkan SIM, rasanya saya tidak akan sebangga ini. Jika tidak mencoba sendiri menyetir mobil, rasanya saya tidak akan tahu bahwa saya pun bisa mengalahkan ketakutan selama ini.

Rute selanjutnya, lintas negara? Kita lihat saja nanti. Kalau menyetir mobil di Belanda saya bisa tanpa ada rasa takut, nanti di Indonesia saya serahkan saja pada ahlinya. Membayangkan lalu lintasnya saja sudah bikin saya dadah – dadah ke kamera .

-24 Agustus 2021-