Yang Terjadi Pada Kehidupan Setelah Keguguran

Perihal Keguguran. Saya pernah bercerita di blog tentang salah satu keguguran yang terjadi. Cerita singkatnya pernah saya tuliskan di bagian akhir tentang Berkah dan Musibah. Iya, salah satu, karena saya mengalami keguguran tidak hanya sekali. Jumlah keguguran yang pernah saya alami bukanlah hal yang ingin saya banggakan atau untuk kompetisi penderitaan. Bukan. Jika memungkinkan, lebih baik saya tidak pernah mengalami peristiwa yang akan selalu membekas dalam hidup sampai kapanpun. Perihnya bukan hanya tertinggal pada badan, tetapi juga pada jiwa dan pikiran. Sampai sekarang saya masih berdamai dengan keadaan, hati, dan juga pikiran. Tidak semudah itu buat saya untuk melepaskan yang telah pergi, yang pernah satu raga, dan pernah saya lihat detak jantungnya. Tidak semudah itu buat saya untuk melupakan yang pernah saya kandung tetapi tidak sempat saya lahirkan pada saat cukup umur. Hidup memang terus berjalan, tapi kenangan akan mereka selalu melekat dalam setiap langkah saya melewati hari. Kehidupan setelah keguguran tidaklah mudah, sangat tidak mudah.

image1.JPG

Butuh waktu buat saya untuk bercerita tentang keguguran pada lingkungan selain keluarga. Bahkan pada keluarga dekat pun saya memilih untuk tidak bercerita secara detail, malah pada akhirnya saya memilih untuk tidak bercerita sama sekali. Pada akhirnya saya lebih memilih bercerita pada yang saya percaya dan menyamankan. Hal yang paling menyakitkan dan menyedihkan buat saya adalah saat menerima komentar tentang keguguran (di luar lingkungan keluarga). Percayalah, ucapan belasungkawa saja sangatlah cukup. Jika memang tidak diberitahu, lebih baik simpan keinginan untuk bertanya, “kenapa keguguran?” meskipun memang mungkin keinginan bertanya hal tersebut sangatlah kuat. Apalagi kalau komentarnya disertai penghakiman seperti : Terlalu capek sih. Makanya makannya dijaga jangan sembarangan. Mungkin kamu melakukan hal-hal yang dilarang. Sudahlah lupakan saja toh hanya keguguran. Move on dan fokus dengan yang sudah ada sekarang. Dan sebagainya dan sebagainya. Keguguran sudahlah sangat membuat sedih, tolong jangan ditambahi dengan komentar yang lebih membuat terluka. Jika memang tidak diminta pendapat, tolong simpan saja segala macam komentar. Cukup berikan rasa simpati dan empati, itu sungguh sangat berarti. Mudah-mudahan tulisan saya kali ini bisa memberikan gambaran, bagaimana musti menyikapi dan bersikap ketika kita mendengar ada kerabat, teman, atau kenalan yang mengalami keguguran. Mungkin memang membingungkan bagaimana harus bersikap. Jika lama tidak berkomunikasi lalu mendengar ada yang keguguran dan kalian ada sedikit waktu, sekedar menanyakan kabar, itu sangatlah berarti. Jika mereka butuh dipeluk untuk membuat tenang, peluklah. Mungkin tampak luar mereka baik-baik saja, tapi dalamnya mereka sedang berjuang menyatukan kepingan-kepingan hati supaya kuat kembali. Mereka sedang bingung dan butuh ruang. Terkadang mereka butuh bahu dari seorang teman untuk menyandarkan sejenak dari rasa sakit akan kehilangan.

IMG_0123

Dukungan dari pasangan sangat diperlukan. Saya tahu, kesedihan bukan hanya dimonopoli oleh calon Ibu yang kehilangan calon bayinya. Rasa sedih pasti juga dirasakan oleh calon Bapak. Dalam situasi yang seperti ini, saatnya untuk menguatkan satu sama lain. Saling mendampingi dan tidak meninggalkan sesulit apapun kondisi dan situasinya. Jika memang kata-kata tak cukup untuk saling menguatkan, peluk sesering mungkin pasangan kalian. Perempuan yang kehilangan janinnya, perasaannya akan hampa dan kosong, bahkan seringnya emosi juga turun naik. Bagi suami atau pasangannya, tolong dampingi istrimu atau pasanganmu. Jangan anggap sepele perkara keguguran. Buat Istri, Perempuan yang mengalami keguguran, tolong sempatkan untuk menanyakan perasaan suami atau pasangan kalian. Kesedihan bukan hanya milik kalian saja. Suami atau pasangan kalian juga merasakan kehilangan itu. Inilah waktunya untuk saling menguatkan. Keguguran bisa mengakibatkan depresi jika tidak ada dukungan dari orang terdekat, bahkan bisa juga membuat retak hubungan dan ikatan pernikahan.

image3.JPG

Untuk semua Ibu yang kehilangan bayinya, doa saya selalu menyertai semoga saya, kalian, kita semua yang kehilangan selalu dikuatkan. Saya tahu, entah butuh berapa lama untuk bisa berdamai dengan keadaan ini. Rasa sakit yang menyertai hari-hari kita, pertanyaan yang selalu datang, “jika mereka lahir dengan sehat, tahun ini mereka seperti apa, sudah bisa apa?” Pertanyaan itu tetap datang pada saya, setiap saat. Bukan karena saya tidak mau melepaskan dan melanjutkan kehidupan dengan yang ada saat ini, tetapi seperti yang saya bilang di awal, kehilangan tetaplah kehilangan. Butuh waktu yang entah berapa lama untuk mengatasi rasa sakit karena kehilangan. Mungkin setahun, dua tahun, atau mungkin memang waktu tidak bisa menyembuhkannya karena sakit itu akan selalu ada. Saya tidak tahu caranya menghentikan rasa sakit itu dan saya memang tidak mencari tahu bagaimana caranya. Saya tahu rasa sakit yang kalian alami juga and I am sorry that any of us ever had to know this reality. Saya tahu duka itu mungkin akan selalu ada. Yang bisa kita lakukan adalah tetap menjalani hari demi hari dan membawa dalam hati dan pikiran, hati bayi kita yang hilang. Mereka pernah ada di sini. Mereka pernah ada satu badan dengan kita. Mereka pernah ada satu detak jantung dengan kita. Mereka pernah kita kandung. Kenangan akan mereka akan selalu ada sampai kapanpun. Bawa mereka dalam doa. Saya, Kalian adalah Ibu mereka, selamanya dan untuk selamanya.

Peluk erat dari saya.

Terima kasih saya ucapkan (kali ini saya tuliskan di blog setelah waktu itu saya ucapkan langsung) sepenuh hati pada teman-teman yang telah menguatkan saya, memikirkan, mencari dan menanyakan kabar saat saya tidak bisa dihubungi karena sedang butuh ruang untuk sendiri, serta ikut mendoakan yang terbaik untuk keluarga kami. Terima kasih.

-15 Oktober 2019-

 

 

Lima Tahun Ngeblog

Como - Lake Como - Italy

…. di WordPress.org. Kalau lama ngeblog dihitung sejak awal mula sampai pindah-pindah platform dari friendster, multiply, blogspot, tumblr sampai wordpress, ya sudah lebih dari 15 tahun. Lumayanlah, lebih dari 15 tahun nggedabrus lintas platform haha. Tapi yang paling tidak terlupakan sewaktu aktif di blogspot karena sampai bisa menulis yang dijadikan beberapa buku (antologi) bersama penulis-penulis lainnya. Kalau tidak salah ada 5 buku berbeda. Produktif sekali waktu itu. Jamannya sering pulang subuh karena lembur di  kantor, diantara tumpukan angka-angka dan materi presentasi, masih sempat juga saya untuk mengikuti beberapa project membuat buku, tetap aktif menulis di blog, aktif di media sosial.

Umur blog ini sesuai dengan umur pernikahan karena memang dibuat beberapa bulan sebelum kami menikah. Awalnya ditulis bareng suami. Lama-lama suami fokus dengan blognya sendiri dan saya tetap menulis di sini. Selama 5 tahun sudah ada 280 tulisan. Ya lumayanlah meskipun tidak terlalu aktif sekali tapi setidaknya selama lima tahun tetap konsisten menulis, dari tulisan yang sangat serius sampai yang super receh.

Perjalanan menulis lima tahun di WP pun bisa terlihat dengan jelas. Kalau dulu dipikirkan setiap mau menulis kira-kira temanya harus yang seperti apa ya. 2.5 tahun terakhir saya semakin santai, menulis apa yang ingin saya tulis. Apa yang melintas di kepala. Karena tidak terbawa beban mungkin ya jadinya ya mengalir begitu saja dan temanya pun tidak terlalu saya pikirkan apakah akan kontroversial atau tidak. Selama tidak menyinggung orang lain, ya saya tuangkan saja apa yang ada diisi kepala. Misalkan tema yang sensitif seperti agama, kalau saya ingin bahas ya santai saja saya tulis. Dan juga saya tidak lagi memikirkan apakah tulisan saya ada yang membaca atau tidak, ada yang berkomentar atau tidak. Apapun itu, saya tetap menulis.

Hanya saja, ada beberapa hal yang sampai saat ini tetap saya patuhi rambu-rambu yang saya dan suami buat untuk blog ini. Salah satunya, sejak awal kami sepakat tidak menuliskan secara detail cerita tentang keluarga. Sejauh ini, saya tetap patuh dengan aturan yang kami buat sendiri. Apa tidak pernah tergoda untuk menuliskannya? saya bisa jawab dengan tegas, tidak sama sekali. Ada banyak tema yang bisa saya tulis di blog ini selain tema keluarga. Banyak sekali ide-ide lainnya, jadi saya menuliskan yang menyamankan saja.

Ditengah suasana dunia blog yang semakin sepi, saya tetap konsisten bisa menulis seminggu sekali. Mungkin karena saya tidak terlalu memikirkan konten jadi ya santai saja. Atau memang karena saya sangat suka menulis, jadi kalau tidak menulis ada yang kurang dalam hidup *tsaahh!. Sebenarnya seminggu sekali masih kurang karena ada banyak ide-ide di kepala yang ingin saya tuliskan. Tapi prioritas saya bukan ngeblog untuk saat ini. Lumayanlah ditengah keriuhan aktifitas sehari-hari yang lumayan padat, saya masih bisa meluangkan seminggu sekali untuk menulis di blog (dan membaca buku). Dunia blog semakin sepi mungkin karena para blogger sudah pindah aktifitas di media sosial ya atau karena kesibukan yang bertambah. Selama WP belum gulung tikar, saya akan tetap menulis apapun ide-ide yang ada di kepala. Kalau gulung tikar, ya pindah platform lagi :D.

Terima kasih untuk email-email yang saya terima. Apresiasi yang saya dapatkan karena beberapa mendapatkan informasi dari yang saya tuliskan dan juga mereka berterima kasih karena bisa membaca cerita-cerita ringan tapi enak dibaca dari blog ini. Saya berterima kasih kembali karena menyediakan waktu untuk membaca dan mengirim email pada saya. Terima kasih juga bagi rekan-rekan blogger atau pembaca yang telah menuliskan komentar meskipun ada beberapa yang menyampaikan bahwa kolom komentar di blog ini sulit ditembus seperti benteng Takeshi :))). Saran dan kritik dengan senang hati saya terima, jadi bukan hanya pujian saja. Monggo yang mau memberikan kritikan silahkan tulis di kolom komentar atau berkirim email pada saya. Ada beberapa kritik pernah saya terima di komentar dan juga email. Saya dengan senang hati membuka ruang diskusi.

Varenna - Lake Como - Italy
Varenna – Lake Como – Italy

Berkat blog, saya bisa mengenal dan berjumpa beberapa orang kenalan. Dari blog juga saya mendapatkan banyak wawasan baru karena membaca tulisan blogger lainnya juga bertukar pikiran dengan beberapa pembaca lewat email. Meskipun sekarang saya jarang sekali blogwalking karena keterbatasan waktu dan jika membalas komentar sangat lama, tapi jangan khawatir karena setiap komentar akan saya balas, setiap email akan saya balas juga serta jika ada waktu (sedikit luang) akan saya sempatkan BW, meskipun saya tidak mengomentari semua tulisan yang saya baca.

Buat rekan-rekan blogger yang sedang tidak aktif dan membaca tulisan saya, yuk aktif ngeblog lagi. Mari kita ramaikan dunia blog seperti 4-5 tahun lalu. Sekarang saya membaca 2 tulisan baru setiap harinya, sudah untung-untungan. Padahal 4-5 tahun lalu, setiap hari sampai kewalahan mau blogwalking karena banyak sekali tulisan dari blogger. Yuk rekan-rekan blogger, ngeblog lagi biar ramai seperti ramainya media sosial macam IG dan Twitter.

Semoga kedepannya apa yang saya tuliskan di blog ini akan semakin baik lagi dan semoga yang membaca mendapatkan manfaatnya. Jadi, selama WP tidak gulung tikar, saya akan tetap ngeblog karena banyak sekali opini yang perlu saya tuangkan dalam tulisan. Tetap semangat ngeblog!

-23 September 2019-

Sebuah Pelukan

Sunset di Karimunjawa

Hari minggu kemaren saya pergi ke provinsi sebelah dalam rangka memenuhi undangan seorang teman yang mengadakan syukuran 7 bulan kehamilannya. Saya pergi tanpa suami. Total perjalanan 2 jam, diantaranya dengan naik kereta cepat selama 1 jam. Syukurlah suami dari teman saya tersebut menawarkan untuk menjemput dan mengantarkan kembali ke stasiun besar. Acara syukurannya berjalan lancar, menyenangkan, dan saya kenal dengan beberapa orang baru. Saya harus mengejar kereta kembali karena harus sampai rumah sebelum jam 7 malam.

Lima menit sebelum kereta tiba, saya sudah sampai stasiun. Saat kereta tiba, saya memilih duduk di ruangan antar gerbong, jadi bukan di dalam gerbongnya. Ruangannya cukup luas, ada 7 tempat duduk dan ruang kosongnya. Segera setelah kereta jalan, saya mengeluarkan Hp, mengirimkan pesan ke suami kalau saya sudah dalam perjalanan pulang dan sambil mengecek pesan-pesan yang masuk (selama acara berlangsung saya tidak mengeluarkan Hp). Saya satu-satunya orang dewasa dalam ruangan tersebut.

Tidak berapa lama, pintu antar gerbong terbuka. Dengan ekor mata, saya melihat seorang wanita muda berjalan dan memilih duduk di seberang, dekat dengan pintu. Mata saya masih membaca pesan-pesan dalam Hp sembari saling berkirim pesan dengan suami. Tak berapa lama, seorang kondektur datang memeriksa tiket. Saya mengangkat kepala dan baru menyadari bahwa wanita muda itu sedang menangis terisak. Kondektur tersebut bertanya pada wanita itu apakah ada yang bisa dibantu, wanita tersebut menggelengkan kepala sambil tersenyum, “terima kasih, saya tidak apa-apa.” Sebelum kondektur pergi, dia memastikan pada wanita tersebut jika membutuhkan bantuan jangan sungkan untuk mengatakan.

Tinggal kami, dua orang dewasa dalam ruangan kecil. Saya memandang dia, tidak tahu harus bagaimana. Sedangkan wanita itu semakin keras menangisnya sambil memandang keluar pintu. Suasana canggung, masih tersisa 50 menit perjalanan dan 4 stasiun yang harus saya tuju. “Anda baik-baik saja?” sangat terdengar konyol memang pertanyaan itu karena jelas dia sedang tidak baik-baik saja. Hanya, saya tidak tahu kalimat apa untuk membuka obrolan. “Terima kasih, saya baik-baik saja,” ucapnya sambil melihat sekilas ke arah saya. Dia kembali menangis dan saya mencoba membuka obrolan lagi, “boleh saya duduk sebelah Anda, mungkin ada yang bisa saya bantu.” Dia menganggukkan kepala.

Saya berjalan ke arahnya, duduk di sebelahnya, lalu saya melihat dia sedangkan dia juga memandang mata saya, “Sterkte, yang kuat ya,” kata saya sambil menyentuh lembut pundaknya. Apapun yang terjadi, pasti permasalahan yang sedang menimpanya sangat berat. Saya mencoba menguatkannya dengan mengucapkan kata itu. Dia melihat saya dan semakin deras air mata yang keluar. “Kalau kamu ingin ada yang diceritakan, saya bisa mendengarkan. Saya masih punya waktu banyak sampai stasiun yang saya tuju.” Saya mengganti kata Anda dengan Kamu, karena yakin dia lebih muda dibanding saya dan supaya suasana lebih cair.

Sambil menangis, dia bercerita dari awal sampai akhir dan detail apa yang sudah menimpanya. Cerita yang dia sampaikan terpotong-potong, beberapa kali sempat terhenti karena tangisannya yang semakin menjadi. Saya sabar mendengarkan sembari sesekali menyentuh pundaknya untuk menguatkan. Setelah ceritanya selesai, saya menarik nafas, “saya tidak punya apa-apa untuk membantu kamu. Bahkan air saja yang biasanya tidak lupa saya bawa, entah kenapa kali ini saya tidak membawa. Jadi saya tidak bisa menawarkan air minum. Tapi jika kamu mau, saya bisa memelukmu, mungkin akan membuat kamu sedikit tenang.”

Dia lalu memeluk saya dan semakin menangis. Saya mengelus punggungnya. Saat memeluk dia, mata saya berkaca-kaca. Mungkin karena kami dalam posisi yang sama, tapi dia sedang tertimpa musibah, jadi saya seperti bisa merasakan kepedihannya. Setelah beberapa menit, dia melepaskan pelukan lalu tersenyum pada saya, “terima kasih, saya sekarang lebih tenang. Terima kasih kamu sudah mendengarkan cerita saya dan menawarkan untuk memeluk. Itu sangat menenangkan dan saya butuhkan saat ini. Terima kasih.”

Saya tersenyum, tetap duduk disebelahnya, lalu saya menyandarkan punggung. Kami sama-sama terdiam dan dia lebih tenang dari sebelumnya. Tak berapa lama, dia membuka percapakan dengan bercerita beberapa hal. Karena suasana sudah lebih cair, saya bisa bertanya lebih banyak dan dia juga menceritakan banyak hal pada saya. Wanita muda yang sedang kesusahan. Wanita muda yang sedang diberikan cobaan hidup.

Saya mendengarkan pengumuman, stasiun yang saya tuju semakin dekat. Saya berpamitan, “Sebentar lagi saya harus turun. Yang kuat ya dan harapan saya kamu bisa mendapatkan jalan keluar yang terbaik dari masalah ini.”

Setelah turun dari kereta, perlahan saya menuju halte bus. Tiba-tiba saya terkesiap, teringat dengan kejadian beberapa tahun lalu. Sore itu, saya ingin keluar rumah sebentar menuju taman dekat rumah. Saya ingin menghirup udara segar setelah beberapa hari mengurung diri di rumah dan menangis karena ada masalah besar yang menimpa. Sesampainya di taman dan duduk, mata saya menikmati pemandangan angsa yang hilir mudik di sungai kecil. Tak berapa lama, saya terisak karena teringat kembali masalah itu.

Awalnya hanya isakan, lama-lama menjadi tangisan besar. Saya tidak tahu kalau ada orang lain di taman itu dan sejak datang sudah memperhatikan. Dengan ekor mata, saya melihat Ibu paruh baya melangkah mendekat dan duduk disebelah. Saya melihat dia dengan tetap menangis. Ibu itu tersenyum tipis, “boleh saya memeluk kamu? mungkin kamu akan lebih tenang.” Saya lalu memeluk Beliau dan menumpahkan apa yang menyesakkan di dada. Hanya menangis tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Saya menangis selama beberapa menit. Kemudian setelah agak tenang, saya melepaskan pelukan. Saya tersenyum, “terima kasih sudah bersedia memeluk saya. Sekarang saya lebih tenang. Terima kasih.” Dia lalu berkata, “saya tidak tahu masalah apa yang sedang menimpa kamu, tapi saya tahu kamu akan mendapatkan jalan keluar yang terbaik. Sterkte, yang kuat ya. Saya pergi dulu.” Saya tersenyum. Saya tahu, bahwa jalan keluar yang terbaik dari masalah yang terjadi saat itu adalah mengikhlaskan. Saya kembali ke rumah dengan perasaan lebih ringan.

Sunset di Karimunjawa
Sunset di Karimunjawa

Semoga wanita muda tersebut kuat dan mendapatkan jalan keluar terbaik, bisa melanjutan hidupnya ke depan dengan lebih baik. Saya tidak bisa membantu banyak, hanya mampu menawarkan pelukan. Semoga Ibu yang memeluk saya pada sore itu diberkahi hidupnya karena sudah memeluk saya meskipun kami berdua tidak mengenal satu sama lain. Karena pelukan Beliaulah, sore itu saya jadi tahu bahwa ikhlas adalah jalan keluar yang terbaik. Semua karena sebuah pelukan.

Bis yang membawa saya bergerak perlahan. Saya tidak sabar sampai di rumah dan bertemu keluarga kecil saya dan memeluk mereka satu persatu. Betapa saya sangat beruntung setiap saat menerima dan memberikan pelukan untuk mereka yang saya cinta.

Peluklah dengan hangat dan sesering mungkin yang kita cintai, ucapkan sayang, pandang mata mereka, dengarkan cerita mereka, segeralah minta maaf jika melakukan kesalahan, dan manfaatkan waktu bersama mereka. Hp, media sosial, dan segala macam gawai bisa menunggu, tapi waktu kebersamaan dengan yang kita cintai tidak akan terulang. Manfaatkan sebijaksana mungkin.

Tulisan ini ada karena kisah sebuah pelukan. Kita tidak pernah tahu, hal yang nampak sepele, mungkin bisa memberikan kekuatan pada orang lain.

-9 September 2019-

Saat Suami Berkunjung ke Indonesia

Saya tiba-tiba ingin menuliskan beberapa hal saat suami berkunjung ke Indonesia 5 tahun lalu. Tahun 2014 ada dua kali kunjungan, yang pertama untuk melamar dan 6 bulan kemudian suami datang lagi untuk menikah. Kunjungan pertama hanya satu minggu, sedangkan kunjungan kedua selama 6 minggu karena setelah menikah kami bulan madu backpacker-an dari Bali sampai Bandung, benar-benar naik transportasi umum perjalanan darat berhenti di beberapa kota. Nah selama dua kunjungan itu, ada hal-hal dari yang lucu sampai yang biasa saja tapi teringat terus sampai sekarang. Sebenarnya banyak ya cerita-cerita selama suami di Indonesia, tapi saya tuliskan yang paling diingat saja.

  • TANGAN SAKTI

Malam pertama dia di Surabaya (saat itu status masih teman), saya jemput dia di penginapan yang tidak jauh dari kos saya. Lalu kami jalan kaki menuju tempat makan yang ada di Mulyosari. Nah ketika hendak menyeberang jalan, saya kan tengok kiri kanan dulu. Lalu saya bilang, “nanti kalau aku nyebrang, kamu ikut nyebrang ya sambil tangan kamu agak diangkat satu kayak posisi menyetop,” saya memberikan contoh. Dia masih bingung, tapi mengikuti saya ketika menyeberang. Itu jalanan Mulyosari lumayan ramai kalau malam. Jadi kalau terlihat agak sepi, harus cepat-cepat menyeberang.

Sesampainya di seberang jalan, dia bertanya,”kok tadi kita tidak menyeberang di tempat penyeberangan? Kok bisa sih menyeberang hanya dengan mengacungkan tangan seperti itu?” saya jawab,”wah, bisa kelamaan kalau nyebrang di tempat penyeberangan. Ya beginilah cara kami menyeberang. Memang kalau menyeberang seperti itu, meskipun tidak jaminan kendaraan akan berhenti sih. Tapi lumayan memberi tanda kalau kita akan menyeberang.”

Dia cuma komen,”sakti sekali ya fungsi tangan di sini, bisa untuk menyeberang dan memperlambat laju kendaraan.” haha saya waktu itu tertawa melihat mukanya yang masih bingung. Setelah tinggal di Belanda, barulah saya paham kenapa waktu itu dia reaksinya seperti itu. Di Belanda, tidak bisa sembarangan menyeberang jalan. Kalau mau menyeberang, di tempat penyeberangan dan musti memencet tombol dulu dan tunggu sampai lampu untuk pejalan kaki (atau pesepeda) berwarna hijau. Bisa saja menyeberang tanpa di tempat penyeberangan khusus, misalkan jalan di desa yang kecil, tapi perhatikan rambu disekitarnya. Meskipun di Belanda pejalan kaki adalah raja, tapi jika ada tanda bahwa pejalan kaki menyeberang menunggu mobil lewat, maka harus dipatuhi juga. Dan tidak ada tangan sakti di sini.

  • SARAPAN SUPER LENGKAP

Sejak pertama dia datang ke rumah orangtua, saya sudah mewanti-wanti kalau Ibu selalu menyiapkan sarapan yang pasti termasuk ukuran berat buatnya, apalagi kalau ada tamu yang menginap. Berat di sini maksudnya setara dengan makan siang dia. Benar saja, saat sarapan Ibu memasak nasi goreng, telor dadar, sambel, ayam goreng, pepaya, dan menyajikan nasi putih juga oseng kangkung. Dia yang biasa cuma sarapan dengan roti gandum dua lembar, mentimun diiris, telor rebus, keju dan yoghurt, terbelalak betapa banyaknya menu sarapan di Indonesia. Dia lalu bisik-bisik ke saya.”sarapannya seperti ini, bagaimana makan siang dan malamnya ya.” Saya bilang kalau di Indonesia tidak ada beda antara sarapan, makan siang, atau malam, semuanya berat haha.

Sebagai bayangan, kami di Belanda makan berat hanya sekali dalam sehari. Umumnya orang Belanda akan makan panas saat makan malam. Tapi di keluarga kami, makan panas justru siang hari sedangkan makan malam hanya roti atau salad. Makan panas ini maksudnya makan lengkap ya dan dalam keadaan panas. Sedangkan sarapan, saya cukup makan buah (pisang atau apel), minum susu almond. Itu sudah cukup sampai waktu makan siang. Kalau lagi males sarapan buah, ya saya sarapan roti dua lembar pakai keju atau selai coklat pakai meses. Simpel kan.

  • ARTI LAMPU LALU LINTAS

Saya ingat sekali kejadian ini. Setelah kami selesai berkunjung ke museum House of Sampoerna, kembali ke penginapan kami naik bemo O dari jembatan merah. Kami duduk di muka. Sesampainya di depan Galaxy Mall, saat lampu lalu lintas terlihat warna kuning dari kejauhan, supir bemo melambatkan kendaraan. Nah saat lampu berwarna merah, kami melihat beberapa sepeda motor tetap menerobos. Pemandangan tersebut tentu saja biasa untuk saya, tapi tidak untuk suami. Dengan perlahan memutar kepala ke arah saya, dia nanya, “arti lampu berwarna merah di sini dengan di negaraku apa beda ya? kalau di Belanda, lampu warna merah berhenti. Kalau di sini apa perkecualian untuk sepeda motor?” Hahaha saya langsung tergelak mendengar pertanyaannya. Saya lalu menjelaskan, ya di mana-mana sama artinya, hanya di Indonesia pemandangan seperti itu akan sering dilihat. Memang salah, tapi ya sudah mendarah daging nampaknya. Dia hanya mengangguk-angguk tapi mukanya tetap bingung haha.

  • TUKANG PARKIR SILUMAN

Beberapa kali kejadian, saat naik mobil, cari posisi parkirnya sendiri, eh tiba-tiba saat akan pergi tukang parkir datang minta uang parkir. Lah dia fungsinya apa ya, bantuin cari tempat kosong nggak, minta uang iya. Nah, suami juga komennya sama, dia sampai bingung, orang kok tiba-tiba muncul kayak siluman trus minta uang. Maklum ya, di Belanda mau parkir pun pasti nyari tempat sendiri. Tidak ada yang namanya tukang parkir, apalagi yang tiba-tiba muncul hanya minta uang saja.

  • SHOWER DAN WC JONGKOK

Di Belanda kan kamar mandinya kering. Bagian basah hanya untuk mandi. Selebihnya, kering semua. Sedangkan di rumah ortu, kamar mandi adanya ya bak mandi besar. Sedangkan WC tipe yang jongkok. Di kamar mandi selalu tersedia selang yang fungsinya untuk mengeluarkan kotoran yang ada di bagian bawah bak mandi. Kotoran ini maksudnya seperti tanah lembut yang terikut air keran. Sewaktu mandi, suami mikir selang ini fungsinya apa. Lalu dia ngarang sendiri apa mungkin semacam shower gitu haha. Tapi kalau misalkan semacam shower, cara pakainya bagaimana. Selesai mandi, dia cerita sama saya lalu saya tertawa terpingkal. Untung saja dia tidak menggunakan selang itu untuk mandi haha. Dan selama di rumah orangtua, tentu saja dia sangat tersiksa kalau di WC. Ya bagaimana tidak, kebanyakan orang Belanda kan tidak bisa duduk jongkok. Pasti susah buang hajat besar sambil jongkok.

Kami, 5 tahun lalu. Dan Saya, berpuluh-puluh kg lalu :D
Kami, 5 tahun lalu. Dan Saya, berpuluh-puluh kg lalu 😀
  • TISSUE TOILET

Di Indonesia, pada umumnya tissue yang digunakan dan diletakkan di atas meja restauran adalah tissue gulung yang sebenarnya adalah tissue toilet. Saya pun dulu cuek saja menggunakannya. Tapi suami saat pertama melihat sudah merasa aneh dan memastikan apakah tissue yang di taruh di atas meja itu tidak tertukar dengan tipe tissue lainnya.

Setelah tinggal di Belanda dan dipikir kembali, wah iya ya, pantas saja suami males menggunakan tissue gulung yang disediakan di restauran atau warung-warung di Indonesia, lah wong memang fungsinya untuk di toilet, bukan untuk mengelap mulut.

  • DUDUK MELANTAI

Nah ini yang tadi sempat saya singgung. Seperti kebanyakan orang Belanda (dan orang Eropa mungkin ya), mereka tidak bisa duduk dalam posisi jongkok. Entah mungkin tidak terbiasa sejak kecil. Hal tersebut akhirnya berpengaruh pada susahnya mereka untuk duduk lesehan. Suamipun seperti itu. Keluarga saya sudah terbiasa ngobrol santai ya lesehan. Sedangkan suami kesusahan duduk lesehan. Daripada merasa tersiksa, saya suruh saja dia duduk di kursi. Jadi terbayang, orang-orang lainnya duduk di lantai (bahkan sampai yang paling tua pun), suami seperti raja duduk sendirian di kursi haha. Orang kalau tidak mengerti dipikir suami tidak ada unggah ungguhnya. Yang lain duduk melantai, dia duduk di kursi, padahal yang sepuh lainnya ada di bawah. Untuk ukuran orang Jawa, tentu saja hal tersebut tidak sopan ya. Tapi buat suami, perkecualian. Daripada kakinya bengkak kan.

  • SAUDARA SATU DESA

Setelah menikah, kami menyempatkan untuk berkunjung ke rumah saudara-saudara yang ada di desa. Meskipun mbah saya sudah meninggal, tapi kami ada satu rumah yang biasa kami tempati jika berkunjung ke sana. Selama tiga hari saya dan suami tinggal di desa. Selama itu, saya memperkenalkan suami ke semua saudara yang ada di sana. Yang anehnya dan baru saya sadari waktu itu, ternyata hampir seluruh penduduk desa mempunyai hubungan saudara haha. Sampai suami bingung, banyak sekali saudara saya. Dibandingkan dia dan keluarganya yang memang sangat sedikit jumlahnya, saya dan saudara-saudara tentu saja jumlahnya terlalu banyak untuk ukurannya. Dia bilang,”bagaimana kamu bisa hafal kalau A adalah Bude kamu, C adalah sepupu kamu, Z adalah keponakan kamu dll. Padahal jumlahnya kan banyak,” saya bilang saja,”ya setiap lebaran selalu diulang-ulang lama-lama jadi hafal sendiri.” hahaha.

  • MAKANAN SUPER MURAH

Ya kalau ini memang sudah tidak diragukan lagi ya. Makanan di Indonesia tentu saja relatif lebih murah dibandingkan harga makanan di Belanda. Salah satu contoh saja saat kami makan di Jejamuran Jogjakarta. Kami memesan menu super lengkap ditambah minum beberapa jenis, saat membayar hanya sekitar 60 ribu rupiah atau setara 4 euro saat ini. Dia sampai sangat heran, makanan yang begitu banyak, enak, dan sangat mengenyangkan hanya seharga satu jenis makanan di Belanda. Belum lagi waktu di kota  saya, beli nasi goreng cuma 50 cent, sudah bisa dimakan berdua saking banyaknya.

10391041_10152692204928812_7177307795553235946_n

  • JALAN TOL ATAU LAPANGAN PARKIR

Minggu terakhir bulan madu, kami menginap di rumah pak lek saya di Bekasi. Nah, kami berencana akan liburan ke Bandung dan menginap satu malam. Jadwal kereta ke Bandung yang paling awal sekitar jam 8 (kalau tidak salah ingat ya). Pak Lek saya bilang, lebih baik berangkat setelah subuh dari Bekasi karena kalau telat sedikit, jalan tol sudah macet parah. Benar saja, meskipun kami sudah berangkat pas setelah sholat subuh, ternyata keluar dari tol Jati Asih, kendaraan bergerak lambat cenderung tidak bergerak. Telat beberapa menit saja sudah begitu keadaannya. Suami waktu itu sampai bingung dan bertanya ke Pak Lek yang posisi menyetir mobil,”ini kita sedang ada di lapangan parkir atau bagaimana ya, kok banyak mobil yang berhenti.” hahaha Saya dan Pak Lek langsung tertawa terpingkal. Saya terangkan kalau kita sedang berada di jalan tol yang selalu banyak hambatan haha.Ya maklum saja, di negaranya namanya jalan tol ya jalan yang lancar meskipun tidak selalu ya. Jika jam-jam sibuk misalkan jam pulang kantor juga macet meskipun tidak sampai berhenti total.

Cerita yang saya tuliskan di atas kejadiannya 5 tahun lalu ya, jadi mungkin saja ada yang berbeda saat ini. Saya sendiri sudah lebih dari 4.5 tahun sejak tinggal di Belanda, belum pernah sekalipun mudik, jadi tidak tahu situasi saat ini. Menuliskan hal-hal yang berkesan tersebut membuat saya senyum-senyum sendiri dan tertawa ngikik bersama suami yang ada di sebelah saya sedang membaca buku sambil ngobrol. Jadi kangen dengan Indonesia.

Selamat berakhir pekan semua. Mungkin ada cerita dan pengalaman kenalan atau pasangan atau teman saat pertama kali berkunjung ke Indonesia, bagaimana kesannya, mungkin ada cerita lucu silahkan tulis di komen.

-5 September 2019-

 

 

Pembahasan Penting Sebelum (Memutuskan) Kawin

Saya menikah saat umur tak lagi muda untuk ukuran orang Indonesia. Justru saya bersyukur sekali menikah saat jiwa raga, mental spiritual sudah siap, meskipun kata lingkungan terbilang telat. Saya pribadi tidak memandang dan merasa menikah saat usia 33 tahun telat. Saya menikah ketika banyak hal suka duka dalam kehidupan sudah terlewati, mengajarkan banyak hal, jadi saat memutuskan serta melihat sesuatu tidak grasa grusu lagi. Pun ketika saya dipertemukan dengan suami, saya memutuskan menikah dengannya setelah melalui pembicaraan dan diskusi yang panjang tentang beberapa hal. Diskusi ini benar-benar sangat terbuka tanpa ada satupun yang kami tutupi. Kami melakukan pembicaraan ini untuk memperkecil gesekan yang akan kami hadapi dalam kehidupan rumah tangga. Memperkecil ya, bukan meniadakan. Dua kepala yang berbeda tinggal dalam satu rumah dengan sebuah ikatan, mustahil kalau selalu adem ayem. Tapi dengan pembicaraan yang tuntas tentang beberapa hal yang kami anggap penting sebelum melanjutkan untuk memutuskan menikah, saya rasakan rumah tangga kami tak terlalu gonjang ganjing. Justru seringnya pertengkaran datang dari hal-hal yang sepele, misalkan saya lupa menutup kran setelah menyiram tanaman atau suami memakai sepatu naik ke lantai atas karena terburu-buru ingin mengambil suatu barang. Selebihnya, ya kami lewati 5 tahun pernikahan (dan semoga banyak tahun-tahun di depan) dengan baik-baik saja.

Beberapa hal di bawah ini yang kami bicarakan sebelum melanjutkan hubungan dan memutuskan untuk menikah. Hal-hal di bawah ini juga saya terapkan saat saya berhubungan dengan beberapa pria sebelum bertemu suami *bukan bermaksud sok laku ya haha. Tulisan ini sangat panjang, jadi siapkan waktu luang jika berniat membaca.

  • BAYANGAN AKAN RUMAH TANGGA

Bayangan akan rumah tangga ini maksudnya kami saling mengemukakan pendapat rumah tangga seperti apa yang ingin kami punya nantinya. Hubungan yang seperti apa, keluarga yang bagaimana ataupun bayangan hal-hal apa saja yang akan kami lakukan. Lebih khususnya kami dulu membicarakan tentang hak dan kewajiban. Misalkan salah satunya tentang mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Apakah harus istri semua yang mengerjakan atau ada pembagian atau fleksibel siapapun bisa mengerjakan apapun. Itu sangat penting dibicarakan diawal untuk menghindari kekesalan yang timbul nantinya setelah menikah.

Saya dibesarkan oleh orangtua yang selalu berbagi dan saling membantu pekerjaan rumah tangga. Bapak saya selalu penuh suka cita saat mencuci baju (Kami tidak pernah punya mesin cuci, jadi mencuci baju manual dengan tangan), memasak, mencuci piring, menyapu, bahkan mengepel (Bapak selalu mengepel dengan berjongkok, tidak pernah menggunakan alat) dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Apalagi saat Ibu melanjutkan kuliah, otomatis Bapak yang sering berperan dalam mengerjakan pekerjaan RT. Kami anak-anaknya pun sejak kecil sudah diajari untuk membantu tugas dalam rumah meskipun saat itu kami punya pembantu. Saya sudah diajari menanak nasi dengan cara aron dan memakai dandang saat kelas 4 SD. Dan sejak itu, salah satu tugas saya adalah menanak nasi.

Dengan latar belakang seperti itu, penting bagi saya mempunyai suami yang dengan kesadaran (tanpa disuruh-suruh apalagi menggerutu) untuk berbagi peran dalam rumah tangga, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan fleksibel dalam tugasnya. Beberapa kali mengenal pria yang tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena menurut mereka hal itu adalah mutlak harus istri yang mengerjakan. Meskipun misalkan pria tersebut seganteng Nicholas Saputra, saya jadi tidak selera lagi melanjutkan hubungan.

Ada satu lagi yang saya biasanya langsung berpikir ulang untuk melanjutkan hubungan, jika bertemu dengan pria yang selalu membandingkan dengan Ibunya dan mengharapkan saya seperti Ibunya. Percayalah, saya tidak bisa berhubungan dengan lelaki seperti itu. Saya adalah saya, berdiri sendiri tidak mau dikasih tempelan ataupun dituntut seperti orang yang sangat dikaguminya. Jika hal ini tidak dibicarakan di awal, nantinya pasti akan jadi salah satu sumber pertengkaran hebat jika sudah menikah.

Begitulah beberapa contoh yang berhubungan dengan gambaran tentang rumah tangga. Oh ya, yang akan pindah ke LN (yang mempunyai 4 musim) mengikuti domisili pasangannya, cek dan ricek dulu secara akurat calon tempat tinggalnya bagaimana, cuaca, lingkungannya, budayanya dan sebagainya. Jangan hanya membayangkan luar negeri itu romantis seperti di film-film Hollywood. Misalkan : Siapkah mempelajari bahasa domisili pasangan dan memulai lagi kehidupan dari awal, meninggalkan apa yang sudah dirintis di tanah air? Sudah siapkah saat kangen makan tempe tapi harus membeli dengan perjuangan melewati tumpukan salju dengan jaket bertumpuk? Persiapkan untuk hal yang terburuk, jika ternyata tidak siap, pikirkan lagi sebelum memutuskan untuk melanjutkan menikah.

  • KEUANGAN

Bagi orang Indonesia pada umumnya, sangatlah tabu membicarakan tentang keuangan sebelum menikah. Buat saya pribadi, justru hal ini harus dibicarakan di awal. Saat suami mengutarakan maksudnya untuk menikah dengan saya, pertanyaan pertama yang saya lontarkan pada bagian keuangan adalah : Apakah kamu punya hutang? Jika memang ada, berapa jumlahnya, apa saja, dan dalam jangka waktu berapa tahun harus lunas? Pertanyaan yang sama dia lontarkan juga pada saya. Jadi sejak awal kami sudah buka-bukaan tentang kondisi keuangan masing-masing. Hutang, aset, gaji, pekerjaan, semuanya yang berhubungan dengan keuangan, kami buka di awal.

Hal ini juga berkaitan dengan expense dalam rumah tangga. Hal-hal apa saja yang harus saya bayar dan dia bayarkan. Tentang hal ini, saya juga melihat langsung dari orangtua. Kedua orangtua saya bekerja, jadi mereka berbagi dalam pembayaran pengeluaran rumah tangga. Jadi hal ini juga harus saya dan suami bicarakan di awal. Kalau misalkan saya belum bekerja bagaimana, dan jika sudah bekerja namun gaji saya lebih kecil atau lebih besar bagaimana pembagiannya. Hal ini kami cantumkan semua dalam perjanjian Pra Nikah (Saya tuliskan secara rinci dalam bahasan akhir). Saat saya bekerja selama dua tahun, kami berbagi prosentase pembayaran pengeluaran rumah tangga. Ini juga berlaku untuk pengeluaran selama liburan ya. Jadi semuanya kami tanggung berdua pengeluaran dalam rumah tangga, bukan hanya jadi tanggungjawab suami. Nah saat saya tidak bekerja, ada tak tik lainnya yang kami lakukan.

Untuk orang Indonesia yang biasa membantu keluarga dan menikah dengan WNA, saya sarankan untuk dibahas di awal juga tentang hal ini. Jangan menjadi batu sandungan di kemudian hari saat sudah menikah. Jangan curi-curi kesempatan juga untuk bisa mengirim keluarga. Lebih baik dikemukakan di awal, jadi kalau ada pihak yang merasa keberatan, bisa dicari jalan keluarnya. Untuk hal ini, saya tidak melakukan karena saya tidak pernah memberi uang kepada Ibu. Tapi saya mengamati dari beberapa kenalan dan teman yang sudah menikah lama dengan WNA.

DE_0445

  • ANAK

Pembahasan yang tidak kalah pentingnya adalah tentang anak. Pastikan dulu apakah calon yang akan menikah dengan kita mempunyai pandangan yang sama tentang memiliki atau tidak mau memiliki anak. Jika dari awal sudah terjadi perbedaan pendapat, lebih baik dipikirkan berulangkali untuk melanjutkan menikah. Misi tentang anak ini harus sama. Jangan mengentengkan : ah nanti siapa tahu berubah pikiran. Jangan seperti itu. Harus jelas di awal tentang hal ini.

Saya waktu itu masih belum yakin ingin memiliki anak, tapi ada keinginan mungkin 10%. Sedangkan suami, menikah dengan saya tidak dengan tujuan hanya untuk memiliki anak. Buat dia, punya anak ok, tidak pun tidak masalah. Saya utarakan hal tersebut kepada suami. Saya bilang : bagaimana kalau nanti kita tidak punya anak karena saya tidak mau, bagaimana kalau ternyata kami tidak bisa memiliki anak karena masalah kesehatan, kalau misalkan ingin memiliki, berapa anak, kalau misalkan tidak bisa punya anak karena kendala kesehatan apakah ada opsi untuk adopsi, dan sebagainya. Kami terbuka tentang hal ini sejak awal.

  • KESEHATAN

Berterus terang tentang kesehatan sama pentingnya buat kami berterus terang tentang kondisi keuangan. Jadi sejak awal kami sudah memberitahu apakah kami punya sakit serius atau tidak, sakit apa saja yang biasa kami derita, apakah dari keluarga ada keturunan sakit serius, dan sebagainya. Jadi, blak-blakan tentang kondisi kesehatan masing-masing sangat perlu buat kami.

  • AGAMA

Nah, pembicaraan tentang agama, buat kami sama pentingnya dengan pembicaraan tentang anak karena ada juga kaitannya. Hal ini juga harus disepakati di awal bagaimana kedepannya nanti. Jangan sampai satu pihak berharap lebih, lalu nanti merasa kecewa ketika setelah menikah kenyataan tidak sesuai yang diharapkan. Kalau berhubungan dengan anak, kami ada kesepakatan di awal. Kalau misalkan kami punya anak, akan dibesarkan dengan cara apa anak ini. Apakah dibesarkan sesuai ajaran agama, apakah dibesarkan sesuai ajaran kebaikan tanpa cenderung ke agama tertentu, ataukah anak nantinya akan dibebaskan mau memilih beragama atau memilih tidak beragama, dimasukkan ke sekolah umum atau sekolah agama, dan pembahasan lebih mendalam dan detail tentang agama. Semuanya sudah kami bahas diawal. Jadi selama  menikah, kami tidak pernah lagi membicarakan hal-hal yang berhubungan tentang agama karena semua sudah jelas di awal.

  • PERJANJIAN PRANIKAH

Ada anggapan bahwa perjanjian pranikah dibuat karena berjaga-jaga jika terjadi perceraian, jadi membuat perjanjian pranikah tidak disarankan karena belum apa-apa kok sudah memikirkan tentang cerai. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah meskipun juga tidak benar seutuhnya. Perjanjian pranikah, buat kami pribadi justru melindungi hak dan kewajiban kami sebagai pasangan juga hak dan kewajiban sebagai individu. Misalkan mencantumkan berapa persen pembayaran pengeluaran rumah tangga oleh masing-masing pihak (seperti yang sudah saya bahas sebelumnya). Selain itu, juga melindungi hak kami sebagai individu misalkan jika kami mempunyai properti yang kami beli sebelum menikah, maka hal tersebut tetap menjadi milik pribadi. Jika nanti terjadi perceraian, hak dan kewajiban juga tercantum dengan jelas di situ. Jadi buat kami, perjanjian pranikah sangat perlu, terlebih karena saya menikah dengan WNA.

Sepatu

Begitulah tulisan panjang tentang diskusi saya dengan suami akan beberapa hal penting. Nampak ruwet ya, sebelum menikah kok pembicaraannya berat sekali. Kami lebih memilih ruwet di awal dan mempunyai kata sepakat daripada tidak dibicarakan tapi nanti jadi ganjalan dan batu sandungan dalam pernikahan. Memperkecil gesekan, kami menyebutnya.

Semoga yang saya tuliskan ini bisa membuka wacana dan pandangan bahwa tidak ada hal-hal yang dirasa tabu dan perlu dibicarakan sebelum menikah. Jika memang hal tesebut penting, lebih baik bicarakan di awal. Lebih baik ruwet di awal daripada ruwet di pertengahan. Tentu saja poin-poin di atas subjektif dan sesuai kondisi kami. Masing-masing pasangan punya poin-poin penting lainnya yang mungkin berbeda untuk didiskusikan.

Menikah bukan hanya tentang hal-hal manis saja. Pahitnya pun tak kalah banyaknya. Menikah bukan hanya perkara cinta yang penuh bunga, tapi juga duri-duri harus dihadapi dan diselesaikan. Saya menuliskan tentang topik ini bukan dengan tujuan menggurui dan sok mengerti lika liku pernikahan. Saya ingin berbagi pemikiran dan pengalaman saja, meskipun pernikahan kami baru berjalan 5 tahun. Jika hal-hal yang dirasa mendasar sudah disampaikan dan didiskusikan di awal, semoga bisa memperkecil gesekan.

-26 Agustus 2019-

Perihal Negara Paling Santai di Dunia

Iseng motoin kucing yang selalu ngintilin kami kalau akan sarapan

Minggu lalu, saya membaca cuitan seorang sahabat di twitter yang menampilkan sebuah artikel dari Kumparan, menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara paling santai di dunia. Saya tertarik, lalu membaca lebih lanjut isi tulisan tersebut. Ternyata survey dilakukan pada 15 negara yang terpilih dengan memasukkan beberapa variabel seperti suhu, jumlah hari libur, berapa banyak spa yang dimiliki. Riset ini dilakukan olah agen perjalanan asal Inggris. Untuk membaca berita lebih lengkapnya, silahkan klik di sini

Sebagai lulusan Statistik, kalau ada survey yang hasilnya menetapkan “Ter” atau “Paling” biasanya saya tergelitik untuk mencari tahu sampai detil misalkan bagaimana cara pengambilan samplenya, menggunakan metode apa, lalu berdasarkan apa variabel-variabel yang ada ditetapkan, dan masih panjang lagi. Tapi untuk survey kali ini, alih-alih mencari tahu lebih dalam, saya malah tergelitik mengomentari fenomena di sekitar (dan juga yang saya alami) berhubungan dengan bagaimana santainya orang-orang (juga saya) di Indonesia dalam menyikapi sesuatu, bahkan yang mendekati bahaya. Oh ya, setelah berita tersebut dirilis kumparan, tidak sampai hitungan jam, meme-memenya pun langsung keluar. Sukses membuat saya tertawa terpingkal di pagi hari. Kreatif sekali. Silahkan cari di twitter, berserakan di mana-mana.

Kembali lagi, tidak ada hubungannya dengan isi survey, saya ingin menceritakan beberapa hal tentang bagaimana santainya beberapa orang di Indonesia. Ini berdasarkan pengalaman (dan pengamatan) pribadi.

  • Gempa

Tidak bermaksud untuk menjadikan musibah sebagai bahan becanda, tapi ini adalah cerita pengalaman pribadi saya saat bekerja di Jakarta. Waktu itu, entah tahun berapa lupa, terjadi gempa yang cukup kuat di Jakarta. Seingat saya waktunya adalah sore menjelang maghrib. Ruangan saya di lantai 2. Saat sedang khusyuk meneliti angka-angka di PC, tiba-tiba saya merasa kok lantainya agak getar lalu meja kerja sedikit bergeretak. Posisi duduk saya di kubikel. Saya melihat dengan ekor mata, rekan-rekan satu ruangan bergegas ke luar. Malah ada satu Manager yang mengajak saya segera ke luar, “Ayok Den, cepetan turun!” Waktu itu saya pikir kenapa sih orang-orang kok buru-buru mau turun, mau jajan bakso depan kantor atau bagaimana. Biasanya kalau sore memang ada rombong bakso depan kantor.

Tak berselang lama, Saya agak tersadar. Lho jangan-jangan ini gempa ya, makanya orang-orang kok pada cepet-cepetan turun. Saya langsung menyambar dompet (dan lupa Hp ada di mana), jalan tetep santai malah sempat ke ruangan sebelah cari teman saya apa sudah turun. Kalau saya pikir sekarang, kok yaaa sik klewas klewes nyari teman. Sesampainya di lobby, saya lihat semua sudah berkumpul di halaman kantor. Saat saya buka pintu, semua langsung tepuk tangan dan bos saya menyelutuk, “loe mampir beli soto mie dulu apa gimana nih lama banget.” Bwuahahaha. Radar saya terhadap bencana memang agak tidak sensitif. Bayangkan, gempa yang kuat seperti itu saya masih santai di dalam lalu klewas klewes ke luar ruangan. Untung ga rubuh itu bangunan.

Nah, yang satu ini saya baca dari cuitan salah satu penulis di Indonesia. Sahabat saya yang memberi tahu. Jadi sewaktu gempa yang lumayan kencang hari Jumat malam di Banten, goncangannya terasa sampai Bandung (entah Jakarta terasa tidak ya). Nah Penulis ini masuk ke sebuah toko, lalu terasa gempa. Panik, dia lari ke halaman. Lalu tiba-tiba ada yang minta foto bersama. Hahaha kok yaaa dalam keadaan panik begitu sempat-sempatnya minta foto bersama. Santai sekali hidupnya.

  • Pesan Makanan

Ini adalah salah satu kelakuan santai yang paling tidak saya sukai. Dulu jika sedang mengantri di restoran cepat saji, sambil antri saya melihat-lihat daftar menunya apa yang biasanya terpampang besar di atas. Jadi ketika sudah sampai depan kasir, saya langsung menyebutkan pesanan lalu membayar.

Namun tidak semua orang yang mempunyai pemikiran yang sama. Begitu panjangnya antrian, banya orang sampai depan kasir masih mulai membaca satu persatu menunya, menimbang-nimbang, gamang, resah, ragu, dan seterusnya. Nampaknya sewaktu dalam antrian dia sedang sibuk menguras kamar mandi sampai tidak sempat membaca dulu menunya apa. Begitu sampai depan baru membaca satu persatu. Rasanya pengen tak bisiki : Sampeyan sehat? kok menyebalkan pol-polan.

Ada lagi yang nyaris sama dengan kejadian di atas, yaitu saat membayar angkot. Saya itu paling jengkel kalau ada penumpang bemo (waktu di Surabaya), bukannya mempersiapkan uangnya sebelum turun. Jadi saat turun, sibuk mencari uang di tasnya. Kalau sebentar sih tidak masalah. Seringnya nyari ngubek sana sini lama sekali seperti ada galian sumur saja dalam tasnya.

  • Obrolan Sesama Kasir

Nah, kejadian ini ada di kota saya. Terdapat sebuah supermarket yang paling besar di kota tempat orangtua saya tinggal. Supermarket ini terkenal dengan barang-barangnya yang lengkap serta harganya yang murah. Tapi, tidak ada yang sempurna di dunia kan, begitu juga di sini. Kalau sudah membayar di kasir, lamanya ngalah-ngalahin orang pacaran yang menunggu kepastian kelanjutan hubungan seperti apa (lah kok curhat selipan masa lalu). Pasalnya, 4 kasir yang ada bisa saling ngobrol satu sama lain. Mereka ini seperti ada dalam dunia sendiri. Jadilah kami sebagai pembeli selain gregetan dengan lamanya pelayanan, akhirnya juga ikutan mendengarkan gosip seputar rumah tangga. Haha nyambi. Ya Tuhan, per lambean yang waktu itu belum ada, masih kalah jauh dengan 4 kasir ini. Super santai seng ada lawan.

Fussen
Fussen
  • POM Bensin

Saya ini kan sukanya mengamati. Selain mengamati, iseng-iseng juga menganalisa kelakuan orang. Pernah mengalami ketika sedang membeli bensin di POM, lalu antrian depan kita bukannya dengan sigap menutup wadah bensin di sepeda motor, melainkan dengan gerak yang super lamban justru melakukan kegiatan lainnya? Saya sering menjumpai seperti ini. Persis di depan saya, ada yang dengan santainya menutup tanki bensin, menutup jok, lalu ngaca, membetulkan letak jilbab, membetulkan letak kaca spion, lalu bayar trus baru pelan-pelan pergi. Saking lamanya nunggu, saya pikir dia melanjutkan kegiatannya dengan menyulam, merajut, memandikan anak, memasak, lalu tidur. Lha lapo seh kok sempat-sempate ngoco, mbenakno lipstick, senyam senyum nang spion. Mbok pikir sing nang mburimu iki adalah bayangan semu masa lalu? santai men uripmu.

  • Saat Penangkapan Terduga Teroris

Ingat kejadian proses penangkapan terduga teroris di Sarinah, Jakarta?. Saya mengikuti dari sini. Mengikuti lewat twitter, saya ikutan tegang. Seperti biasa, saya membahas dengan sahabat-sahabat saya di wa grup. Dasar twitter ya, di tengah ketegangan seperti itu, adaaa saja foto-foto lucu yang bermunculan. Orang-orang ini benar-benar santai luar biasa masih sempat-sempatnya membahas hal-hal yang kocak. Nah diantara beberapa foto yang beredar, yang membuat saya dan para sahabat tergelak adalah para pedagang di sekitar Sarinah yang seperti tidak terganggu dengan aksi baku tembak tersebut. Dalam foto yang beredar, ada tukang sate yang masih mengipasi sate jualannya, pembeli yang terlihat santai makan, penjual minuman keliling yang tetap menjajakan dagangannya, bahkan ada yang dengan santainya selfie dengan latar belakang petugas yang sedang siaga memegang senapan. Nyowomu iku onok piro, kok nduwe nyali. Koen ga wedho onok peluru nyangsang ta yok opo. Saya rasa mungkin hanya ada di Indonesia pemandangan ini bisa kita jumpai. Orang makan sate sementara tak jauh dari tempat dia makan sedang genting terjadi proses penangkapan teroris. Luarrr biasa haha.

Itulah beberapa kejadian yang menggambarkan bahwa banyak orang Indonesia sangat santai dalam segala situasi, bahkan saat genting sekalipun. Yang saya tuliskan di atas hanya segelintir cerita saja.

Silahkan berbagi cerita di kolom komen, kejadian apa yang pernah kalian temui atau mungkin kalian sendiri sebagai pelakunya yang mengindikasikan kalau hidup di Indonesia itu memang santhayy. Kalau susah menulis di komen, mungkin bisa dituliskn di blog masing-masing. Lumayan kan jadi ide postingan.

-Nootdorp, 4 Agustus 2019-

Berbeda Pilihan

Tegernsee

Beberapa minggu lalu saya bertemu seorang kenalan yang entah kapan terakhir kami berbincang secara langsung. Sayapun sudah tak mengikuti lagi kabarnya seperti apa. Setelah saling bertukar kabar, dia bertanya apakah saya pernah mudik. Saya jawab kalau mudik bukan prioritas, setidaknya dalam beberapa tahun ini. Lalu tanpa diminta, dia berbicara panjang lebar agak “menceramahi” kasihan Ibu saya kalau tidak pernah mudik, harusnya saya bisa menyisihkan uang untuk ditabung supaya bisa mudik, bahkan memberitahu bahwa jalan-jalan sekitar Eropa harusnya bukan jadi prioritas karena mudik lebih penting.

Bisa saja saya langsung nyolot karena segala yang dia “sarankan” tersebut tidak sesuai dengan kondisi saat ini dan karena saya punya alasan khusus kenapa mudik tidak menjadi prioritas. Bisa saja saya bilang bahwa kalau mau, tiap tahun saya mampu pulang ke Indonesia. Bisa saja saya memberi penjelasan -sejelas-jelasnya-. Tapi saya memilih tersenyum saja lalu permisi. Saya tidak berhutang penjelasan apapun atas pilihan-pilihan yang saya putuskan, termasuk padanya, yang ternyata setiap tahun pulang ke Indonesia. Saya tidak harus menjelaskan apapun karena toh yang ingin dia dengar hanyalah hal-hal yang sesuai pikirannya.

Seringnya ketika berbeda pilihan, orang langsung menganggap hal tersebut tidak baik, apalagi jika memakai standar pribadi. Kenalan saya tersebut memilih untuk setiap tahun pulang ke Indonesia, sedangkan saya tidak. Menurutnya, ketika saya memilih untuk memprioritaskan tidak pulang, itu adalah hal yang salah karena kasihan Ibu. Padahal kenyataannya tidak sesuai dengan asumsinya. Mustinya, jika tidak tahu alasan akan suatu keputusan atau perkara, tidak perlu memberikan pendapat lalu seolah-olah memberi masukan padahal sebenarnya justru menyalahkan. Hal ini juga saya amati saat berbeda tentang pilihan politik (apapun kondisinya). Hal-hal yang mendasar jadi terlupakan ketika pilihan politik kita berseberangan dengan orang lain, teman, kenalan, bahkan orang terdekat. Prinsip tak mengapa putus hubungan pun menjadi sebuah hal yang lumrah. Sangat disayangkan. Namun hal tersebut kembali lagi pada masing-masing individu. Tidak semua orang demikian, meskipun banyak yang memilih seperti itu.

Di era media sosial seperti sekarang ini, orang makin gampang menuding ini salah dan itu salah jika ada hal-hal yang tidak sesuai standar pribadi mereka. Banyak sekali keributan tentang berbeda pilihan ini, misalkan : memilih memberi ASI vs susu formula, operasi caesar vs melahirkan per vaginal, BLW vs menyuapi, memilih menikah vs melajang, memilih tidak olahraga vs rajin olahraga, bahkan sampai memilih punya anak vs memilih tidak punya anak. Semua hal ini jadi bahan keributan yang rak uwis uwis. Kalau mau dijabarkan secara panjang, contohnya akan banyak sekali. Banyak yang memilih untuk mengkritisi, tapi tidak sedikit juga yang memilih untuk menyinyiri *haduh bahasa opo iki. Beda ya antara nyinyir dan kritis. Saking bedanya terlalu tipis, banyak yang terjebak, maksudnya kritis malah jadinya nyinyir.

Saya menulis seperti ini kok kesannya suci banget, tidak pernah nyinyir dengan pilihan orang lain. Jangan salah, saya sering nyinyir, apalagi kalau melihat ada yang berbeda dengan standar hidup yang saya jalani. Saya masih suka nyinyir kalau melihat ada yang ngejembreng uang di media sosial (padahal kan uang dia, tidak berhutang pada saya), nyinyir kalau ada yang menampilkan perbincangan intim dengan pasangan di media sosial, bahkan nyinyir kalau ada yang terlalu memuja-muja anaknya setinggi langit (padahal ya anak dia sendiri, wajar kalau dipuji. Masa mau memuji anak tetangga). Kalau saya pikir lagi, ya kenapa saya musti terusik dengan pilihan orang lain yang berbuat demikian, toh tidak merugikan saya. Mungkin saja memang hal tersebut adalah cara mereka membagi kebahagiaan. Ataukah saya nyinyir karena sirik? atau karena merasa “lebih” dari mereka tapi tidak melakukan hal yang sama? ataukah saya nyinyir  karena beda standar? atau ya hanya ingin nyinyir saja? pasti jawabannya salah satu dari yang sudah saya tuliskan.

Masih menjadi PR besar buat saya untuk menjaga pikiran, tangan, dan mulut supaya tidak gampang menghakimi pilihan orang lain yang berbeda dengan apa yang saya putuskan. Beruntung beberapa bulan ini kesibukan saya mulai bertambah, jadi fokus teralihkan dari yang suka mengamati kemudian nyinyir, jadi berkurang banyak. Berkurang lho ya, bukan nihil. Mudah-mudahan kedepannya saya semakin bisa menahan diri dan berpikir panjang sebelum menghakimi pilihan orang lain. Hal ini termasuk pilihan seseorang (yang saya kagumi karena karyanya) tidak melakukan vaksin untuk anaknya. Bukan Andien, saya biasa-biasa aja dengan Beliau meskipun belajar banyak juga dari ilmu-ilmu yang dibagikan.

Kuncinya cuma satu sih sebenarnya, saling menghormati. Standar kebahagiaan masing-masing orang kan berbeda. Kalau yang satu memilih beda dengan apa yang sudah kita putuskan, lalu kenapa musti “terusik.” Toh tidak saling merugikan. Kalau sudah merasa bahagia dengan pilihannya, ya sudah nikmati saja. Tidak perlu mengutuk orang lain yang beda jalan hidupnya. Contohnya : Jika memilih untuk punya anak dan merasa bahagia dengan keputusan tersebut, ya jalani dengan sukacita. Tidak perlu memperolok mereka yang memutuskan untuk tidak punya anak. Tidak usah merasa tinggi hati serta jumawa karena merasa lebih bahagia dari yang memilih tidak punya anak. Sebaliknya pun, jika sudah nyaman dengan pilihan tidak ingin punya anak dan bahagia dengan jalan tersebut, silahkan jalani dengan gembira. Masing-masing pihak tidak perlu koar-koar dengan  pilihan yang sudah diputuskan dan dijalankan, apalagi saling memperolok. Selama ini saya selalu berpikir bahwa yang namanya bahagia, tidak perlu digembar gemborkan, orang pasti bisa merasakannya.

Saya suka dengan apa yang ditulis Beth di blognya, “People have different standard for happiness. Some are happy with children, some are happy without children.” Hal inipun berlaku untuk versus – versusan lainnya. Standar kebahagiaan masing-masing orang berbeda. Jalurnya sudah berbeda, kenapa musti saling memperolok? Bahagialah dengan apapun yang sudah dipilih, jalani dengan tenang tanpa harus saling cela.

Respect each other
Respect each other

Masing-masing orang mempunyai alasan sendiri kenapa memilih sesuatu. Mungkin saja karena sesuai kondisi dan situasi saat itu, mungkin saja memilih sesuai kesadaran, bahkan mungkin saja memilih karena tidak punya pilihan. Kita tidak pernah tahu perjuangan atau cerita apa yang membawa mereka pada pilihan tersebut. Kita tidak pernah tahu.

-Nootdorp, 28 Juli 2019-

Belanda Kembali Panas

Ngidam Bakso

Cerita yang santai saja kali ini ya, setelah sebelumnya membahas hal yang terlalu serius. Belanda seminggu ini kembali panas. Tentu saja saya menyambut dengan riang gembira. Bagaimanapun, sebagai anak tropis dan lahir besar di pesisir, kalau cuaca di Belanda menghangat itu rasanya ingin sujud syukur setiap saat. Maklum saja, dibandingkan panas yang sebenarnya, Belanda lebih sering hujan, mendung, dingin, angin, dan bisa 4 musim terjadi dalam satu hari. Jadi, buat saya kalau cuaca menghangat, berkah luar biasa.

Sebenarnya ini bukan kali pertama Belanda mengalami panas sampai seminggu pada tahun ini. Sebelumnya saat kami di Kroasia, Belanda terkena heatwave.

Panas
Panas

Hari ini, saat saya menulis, suhu sampai 33°C. Konon, kamis sampai 39°C. Walaupun hari ini panas, untungnya masih ada angin semilir. Jadi tidak terlalu gerah. Biasanya kalau sedang panas, saya sudah blingsatan merencanakan pergi ke sana sini. Tapi seminggu ini saya sudah berencana untuk anteng di rumah saja sambil memamah biak haha.

Rujak buah bumbu gula merah, petis ikan, bawang putih, cabe, gaaram, terasi, sedikit kacang, asem, , dan sedikit air
Rujak buah bumbu gula merah, petis ikan, bawang putih, cabe, gaaram, terasi, sedikit kacang, asem, , dan sedikit air

Untuk memenuhi rencana makin menambah berat badan, saya sudah menyiapkan asupan yang penuh lemak, seperti bakso, mie ayam, dendeng balado, kikil pedas, dan masih ada menu-menu lainnya. Ada juga yang menyehatkan, macam rujak buah. Ya lumayan lah untuk menambah cadangan lemak menghadapi musim dingin nanti haha.

Ngebakso minumnya Nutrisari
Ngebakso minumnya Nutrisari
Mie jamur, bakso, minumnya es kopi
Mie jamur, bakso, minumnya es kopi

Kalau di rumah saja, selain menyiapkan asupan perut, juga kesempatan untuk main air karena suhu diatas 30°C. Kalau di bawah itu, terlalu dingin. Cemal cemil juga tetap berlanjut karena saya sudah punya beberapa camilan dari Indonesia. Satu persatu camilan tersebut dikeluarkan, seperti wafer Superman, Malkist, Silverqueen. Saya agak kecewa karena rasa wafer Superman tidak seenak jaman saya masih SD. Selain rasa, bungkusnya pun tidak warna merah dan bentuknya lebih langsing. Mungkin Supermannya sudah diet *kriik kriikk.

Nyamil sambil cibang cibung
Nyamil sambil cibang cibung

Mungkin ada yang penasaran apakah jajanan itu ada di Belanda. Oh tentu saja tidak ada karena saya beli di Indonesia lalu pake Jastip sewaktu Rurie mudik . Lumayan, harga teman jadi tak terlalu mahal. Ini lho hasil jastipan saya, sekalian pamer (bandeng dan otak-otaknya gratisan dari Rurie) *haha pamer kok jastipan panganan.

Jastipan ke Rurie
Jastipan ke Rurie

Calon-calon anggur di halaman belakang pun sudah mulai nampak. Biasanya bulan Agustus kami akan panen, kurang lebih 10kg. Lumayan banyak untuk ukuran nanam sendiri. Anggur-anggur tersebut tidak kami jual melainkan diberikan ke para tetangga, saudara, dibuat selai dan dimakan sendiri.

Sebagian kecil calon-calon Anggur
Sebagian kecil calon-calon Anggur

Ya sudah, begitu saja cerita singkat kali ini. Kalau sudah mood, saya akan nulis yang agak serius lagi. Kalau kalian suka membaca tulisan saya yang serius, yang santai-santai saja, atau yang seperti apa? *bwuahaha macam banyak yang baca aja, Den!

Ngidam Bakso
Ngidam Bakso

Oh ya, beberapa blogger menyampaikan keluhan dan masukan tentang susahnya meninggalkan komentar di blog kami. Terus terang, saya tidak tahu permasalahannya di mana karena saya tidak pernah mengotak atik settingan. Hanya update yang perlu diupdate. Jadi mohon maaf ya, kalau susah berkomentar. Terima kasih karena sudah menyempatkan membaca dan berusaha menulis komentar.

Cuaca di tempat kalian bagaimana?

Update : saking panasnya (pas update ini suhu 38°C, saya jemur sprei, sarung selimut, handuk2 semuanya kering dalam waktu ga sampai 3 jam. Kipas angin yang lumayan bagus di rumah pun ga ada rasanya. Akhirnya sore kami ngadem dari satu toko ke toko lainnya. Lumayan 1.5 jam kena ademnya AC haha. Hikmah panas, jadi bisa ngerasakan AC di toko :)))

-Nootdorp, 23 Juli 2019-

Agama dan Proses Pencarian

“Den, aku nanti mampir kosmu ya. Mau belajar Sholat.”

Seorang teman yang saya kenal saat dibangku SMA, tiba-tiba berkata seperti itu saat berpapasan di gang ketika saya pulang kuliah. Rumahnya tidak jauh dari tempat saya ngekos. Saya mengiyakan tapi di kepala saya timbul pertanyaan, “kok dia mau belajar sholat, kenapa ya?” Sore hari, dia ke tempat saya. Dia belajar wudhu, belajar mengenakan mukena, dan belajar gerakan sholat. Saya dan beberapa teman mengajarinya tanpa banyak bertanya. Dia ingin belajar, kami mengajari dan memberitahu apa yang ingin dia ketahui. Dia juga mengatakan, kalau waktunya sholat Maghrib dan Isya ingin ikut berjamaah dengan kami. Sejak saat itu, dia rajin datang ke kosan dan sholat berjamaah bersama saya dan teman-teman.

Saya sudah lama tidak bertemu dengannya sejak kami lulus SMA. Meskipun rumah kami tidak terlalu jauh, tapi kami kuliah di kampus yang berbeda. Jadi saya tidak tahu kabar apapun tentangnya sampai suatu hari dia bilang ingin belajar sholat. Saat dia selesai belajar sholat pertama kali, saya tanya kabarnya bagaimana. Dia hanya menjawab singkat, “baik Den. Aku ingin belajar tentang Islam. Tolong ajari aku ya.” Banyak sebenarnya yang ingin saya tanyakan saat itu, terutama kenapa dia ingin belajar tentang Islam. Apakah dia ingin pindah agama? Tapi saya simpan sendiri pertanyaan tersebut. “Yuk kita belajar bareng-bareng. Akupun butuh belajar banyak tentang Islam.” Setelah beberapa lama dia belajar ke sana dan ke sini, suatu hari saya mendengar kabar kalau dia sudah masuk Islam.

Setelah berbelas tahun lamanya, hari ini saya kembali teringat dengan ceritanya. Pertama kali dalam hidup saya, tahu proses dari awal seorang kawan memilih agama secara sadar dari perjalanan panjang, kegelisahan dan pergulatan batin meninggalkan agama sebelumnya, dan berproses dengan banyak belajar serta bertanya. Pernah terlontar perkataan pada saat itu, “saya iri dengan kamu karena berani mengambil langkah memilih agama sesuai kata hati dan proses pembelajaran serta pencarian. Sedangkan saya, beragama karena warisan keluarga turun temurun.”

Beragama di Indonesia bukanlah tentang sebuah pilihan tetapi kewajiban. Itupun agama yang didapat bukan karena proses pencarian melainkan karena meneruskan dari agama turun temurun di keluarga. Agama warisan. Selain itu, beragama dan berkeyakinan menjadi sebuah kewajiban karena harus tercantum saat ingin mendapatkan kartu identitas sebagai seorang penduduk. Lalu bagaimana dengan orang yang memilih tidak beragama dan tidak berkeyakinan? Tetap harus memilih dari daftar agama resmi dan keyakinan yang diakui di Indonesia.

Dalam proses beragama, sayapun seringkali mengalami pergolakan batin dan banyak mempertanyakan ajaran agama yang pada akhirnya saya pilih secara sadar, untuk saat ini, walaupun awalnya saya dapat dari warisan keluarga. Itupun setelah saya belajar, mencari dan tetap mempertanyakan banyak hal, sampai saat ini. Salah satu alasan kenapa sampai sekarang saya tetap belajar dan tidak pernah berhenti bertanya tentang ajaran agama saya, supaya saya semakin mengenal agama yang saya pilih. Bukan hanya terima jadi lalu merasa ini adalah agama yang paling benar di muka bumi.

Sebelum memutuskan berjilbab, saya mengalami dilema besar. Bertanya dan melakukan pencarian kenapa dan hukumnya apa sebenarnya jilbab itu. Belajar dan mencari tahu sejarahnya bagaimana. Sampai saat ini setelah hampir 10 tahun lamanya mengenakan Jilbab, saya tetap menggali lebih dalam tentang jilbab. Saya tidak pernah berhenti dan tetap dahaga ilmu dengan apa yang saya pilih sampai sekarang. Saya berproses dan tidak tahu kedepannya proses yang saya lakukan sekarang akan menuju pada jalan ke arah yang mana. Saya tidak pernah tahu.

Bukan hanya tentang perjalanan agama dan spiritual saya yang berproses, cara berpikir sayapun seiring bertambahnya umur mengalami banyak sekali proses pembelajaran. Dulu saat mendengar ada yang pindah agama dari A ke B, B ke A, A ke Z, Z ke K, selalu timbul pertanyaan, kenapa ya? lalu mencoba menebak sendiri alasannya dari kabar yang berhembus. Mendengar dan tahu ada teman atau kenalan yang awalnya mengenakan jilbab lalu mencopotnya atau buka copot jilbab, rasanya ingin nyinyir kenapa kok seperti labil tidak punya pendirian. Dari proses pembelajaran dan melewati perjalanan hidup, akhirnya saya pada satu pemikiran bahwa semua pasti ada alasannya. Mereka yang memutuskan berpindah, melalui proses pencarian, perjalanan dan pergulatan yang saya tidak tahu apa. Jadi saya tidak punya hak untuk menghakimi apapun.

IMG_4943

Beragama, berTuhan, memilih tidak beragama dan mempercayai selain Tuhan, semuanya berproses, melalui perjalanan panjang, pergolakan batin, pengalaman hidup yang sifatnya sangat individu dan menjadi urusan pribadi. Kecuali kita ada di sana saat seseorang memutuskan berpindah (apapun konteksnya), kita tidak pernah tahu pergumulan seperti apa yang terjadi sebelumnya. Kita tidak punya hak menghakimi. Memutuskan berjilbab, melepas jilbab, semuanya pun berproses. Mereka melewati sebuah perjalanan dan proses batin yang kita tidak tahu seperti apa. Kita tidak berhak untuk menghakimi.

Saat seseorang datang padamu ketika dia sedang dalam pergolakan batin, temanilah. Rangkul dan dengarkan apa yang menjadi kegelisahannya. Berkomentar saat memang diminta pendapat. Jika tidak, dengarkan saja apa yang dia utarakan dan apa yang ingin dia ceritakan. Bawalah dia dalam doamu supaya proses pencarian dan pergolakan batinnya membawanya pada titik yang bisa membuatnya lebih damai dan menjawab semua keresahannya selama ini.

Jika kita memilih beragama, bukan berarti kita pantas untuk merasa lebih dari yang memilih tidak beragama. Jika kita mengenakan jilbab, tidak ada alasan untuk menjadi tinggi hati dan memandang sebelah mata mereka yang memilih tidak berjilbab. Saat kita mendengar seseorang melepaskan jilbab, tidak perlu dengan jumawa memberi pelabelan ini itu. Mereka berproses, mari kitapun menghargai apapun yang sudah mereka putuskan saat kita tidak menjadi bagian dalam proses yang mereka jalani.

Saat teman saya memilih untuk pindah agama, yang bisa saya lakukan adalah sama-sama belajar dengannya dan membawa dalam doa semoga yang sudah dia lalui sampai dititik saat itu menguatkan dia untuk melangkah dalam pilihannya. Saya tidak pernah menanyakan alasan kenapa dia memutuskan pindah agama karena dia tidak pernah menyebutkan. Seyogyanya memang kita tidak usah terlalu mencampuri terlalu jauh sesuatu yang kita tidak tahu dengan pasti. Tidak perlu menduga-duga apakah orang pindah agama karena pernikahan, perceraian, kekecewaan akan suatu hal atau yang lainnya. Pun berlaku ketika seseorang memutuskan menggunakan atau melepas simbol keagamaan. Simpan saja pendapat kita dan tidak perlu menduga terlalu jauh, apalagi sampai menghakimi. Kita tidak ada di sana saat mereka sedang berproses.

Beragama, berTuhan, memilih tidak beragama dan mempercayai selain Tuhan, mengenakan atau tidak mengenakan simbol sebuah agama, semuanya adalah urusan pribadi dan melalui sebuah proses pencarian. Punya hak apa kita menilai benar atau salah?

-Nootdorp, 15 Juli 2019-

Buku yang Tuntas Dibaca Q1 2019

Buku Q1 2019

Memenuhi janji terhadap diri sendiri, bukan hanya lebih rajin membaca buku ditahun ini, tetapi juga rajin menuliskan di blog buku-buku apa saja yang sudah tuntas dibaca. Supaya tidak menumpuk di belakang dan malah membuat malas menuliskannya (lalu hanya berakhir menjadi wacana), saya akan membuat tulisan tentang buku setiap tiga bulan sekali. Untuk Q1 2019 (Januari – Maret 2019), saya membaca tuntas 10 buku. Menurut saya ini kemajuan dibandingkan tahun kemaren apalagi kesibukan saya di rumah sekarang bertambah. Mencuri waktu membaca buku di tengah hiruk pikuk pekerjaan rumah tangga. 

Buku Q1 2019
Buku Q1 2019

Beberapa buku tersebut akan saya bahas beberapa :

MEMPELAJARI KEMBALI TENTANG ISLAM

Tahun 2019 ini saya niatkan untuk serius mempelajari kembali tentang Islam. Saya tidak berkiblat pada siapapun, benar-benar mengosongkan diri ketika nawaitu untuk belajar. Melepaskan segala ilmu yang saya dapatkan sebelumnya supaya kepala dan otak saya mau dan mampu menerima ilmu. Supaya saya tidak terjebak dalam ke-sok tahu-an. Buku yang pertama saya baca adalah Islam yang Saya Anut dari M. Quraish Shihab. Dalam buku ini dikupas satu persatu dasar-dasar Islam dari Rukun Iman, Rukun Islam, tata cara Sholat, Zakat dll. Bahasanya yang mudah dipahami, tidak ndakik ndakik, dan menjabarkan secara runtun dan terperinci tentang dasar Islam membuat niat belajar kembali tentang Islam tidaklah berat dan memberatkan.

Buku lainnya, meskipun tidak terlalu berkaitan erat dengan ilmu keislaman tapi masih ada irisannya yaitu tentang spiritual yaitu buku Hidup Itu Harus  Pintar Ngegas dan Ngerem, kumpulan tulisan Emha Ainun Nadjib. Topik yang diangkat dalam buku ini bermacam karena merupakan kumpulan tulisan yang sudah dipublikasikan maupun yang ada di website maiyahan, tapi secara garis besar selama hidup kita musti tahu menempatkan diri. Maksudnya adalah tahu kapan harus mempertahankan pendapat, tahu kapan harus menundukkan hati dan memperlambat langkah. Sepertinya mudah, tapi kadang dalam pelaksanaannya susah. 

PARENTING

Ada tiga buku tentang parenting yang saya baca pada tiga bulan pertama tahun ini. Five Minute Mindfulness Parenting mengupas tentang bagaimana menjadi orangtua tidaklah gampang, tapi juga jangan dipersulit. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk tidak melupakan bahwa orangtuapun adalah seorang individu, jadi tetap harus menyisakan waktu untuk diri sendiri, memenuhi diri sendiri dengan banyak cinta sehingga akan memberikan banyak cinta juga untuk keluarganya. Buku ini juga mengingatkan bahwa apa yang dilakukan oleh anak sesungguhnya adalah cerminan yang dilakukan oleh orangtua. Ingin anak kita sopan, mulailah dari diri sendiri dulu sebelum menuntut mereka untuk sopan. Mereka meniru dan mencontoh apa yang ada di depan mata, setiap hari. Ada kutipan dari buku ini yang saya suka :

“Your children model their behavior on your behavior. If you use your phone or screens incessantly, then do not be surprised when their technology usage mirrors or exceeds your own”

Buku kedua adalah Indahnya Susahnya Jadi Ibu. Sesungguhnya jika belum siap menjadi Ibu janganlah coba-coba karena menjadi Ibu tak seindah yang ditampilkan oleh selebgram-selebgram yang bergentayangan dengan tampilan kesempurnaan mereka sebagai sosok seorang Ibu. Menjadi Ibu itu capek, betul. Menjadi Ibu itu melelahkan, tidak salah. Menjadi Ibu menjadikan dunia jungkir balik, betul pada awalnya karena harus beradaptasi dengan hal-hal baru dan dengan manusia mungil yang tergantung 100 persen dengan kita. Namun ada banyak hal juga yang bisa dipelajari ketika status Ibu sudah menempel pada kita. Kelucuan-kelucuan yang spontan hadir serta hal-hal menyenangkan lainnya. Menjadi Ibu menjadi menyenangkan jika menjalaninya secara sadar. Buku ini mengupas secara apik dan lucu tentang pengalaman penulis (dan mungkin mewakili banyak Ibu diluaran sana) sehari-hari menghadapi bayi dan toddler. Saya seperti bercermin ketika membaca buku ini.

Parenting Without Borders adalah salah satu buku parenting yang saya suka. Memang benar bahwa setiap anak itu unik dan setiap orangtua punya  gaya parenting masing-masing. Buku ini mengupas banyak hal tentang tipe parenting di beberapa negara. Membuka mata saya bahwa tiap negara mempunyai garis merah tentang khas parenting yang ada di dalamnya. Juga dijabarkan baik buruknya gaya parenting setiap negara tersebut. Misalkan : di Amerika anak diajarkan untuk percaya diri dengan menjadikan mereka berlomba-lomba menjadi nomer satu (disekolah dan lingkungan akademis), sementara di beberapa negara Eropa malah mengajarkan bahwa bermain lebih dikedepankan karena jika mereka gembira maka ketika berhadapan dengan akademis tidak akan merasa terpaksa dan meminimalisir depresi. Selain itu dengan bermain bisa diajarkan banyak hal misalkan kerjasama tim, belajar memecahkan masalah dan lain sebagainya. Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca bagi yang tertarik dengan topik parenting.

Menjadi orangtua sampai kapanpun mustinya tak pernah berhenti untuk belajar, meskipun pada prakteknya akan banyak trial and error. Yang penting sudah ada bekal ilmu dan tak lelah untuk terus memperbaiki diri, koreksi diri dan belajar lebih baik hari demi hari. Saya selalu mengingat apa yang disarankan Maureen : Keep Learning. Belajar dan selalu belajar setiap saat supaya hari ini lebih baik dari hari kemarin. Tidak ada orangtua yang sempurna, saya pun tidak berambisi untuk menjadi sempurna. Yang saya harapkan bisa memberikan kasih sayang yang tulus, mempunyai stok sabar dan tegas yang berlimpah serta stok waktu dan cinta yang tak terbatas.

NOVEL

Laila S.Chudori adalah salah satu penulis favorit saya. Semua bukunya sudah saya baca. Laut Bercerita adalah novel yang ditulis dengan latar belakang kisah nyata yang terjadi pada jaman Orba khususnya tragedi ’98. Kisah para aktivis yang hilang, tentang keluarga mereka yang menunggu dan menuntut keadilan sampai saat ini, dan kisah mereka yang kembali tapi melalui beberapa perlakuan yang mengerikan. Mata saya semakin dibuka dengan banyak hal menyakitkan yang terjadi saat Orba. Pada bagian akhir Laut Bercerita membuat saya menangis. Membayangkan bagaimana menjadi keluarga mereka yang hilang tanpa diketahui nasibnya. Jika disuruh memilih, lebih baik tahu mereka meninggal dan bisa dikuburkan daripada tidak tahu kepastian nasibnya bagaimana, apakah masih hidup atau sudah mati, berharap setiap saat mereka pulang kembali ke rumah. 

FILOSOFI

Filosofi Teras adalah buku pertama yang saya baca tahun ini. Terus terang tertarik baca buku ini awalnya karena penulisnya, Henry Manampiring, yang merupakan twitter crush saya haha *ngaku. Bukan hanya perkara tampang ya, tapi menurut saya, dia ini pintar dan cerdas. Makanya saya suka. Lalu ketika gencar dipromosikan Filosofi Teras karena dijanjikan bahwa bukunya tidak seperti buku filsosfi pada umumnya yang berat, makin tertariklah saya baca. Ternyata benar, buku ini enak dibaca karena dihubungan dengan kejadian sehari-hari. Stoicism adalah akar dari Filosofi Teras. Sebuah Filosofi yang mengajarkan untuk tidak terlalu mengambil pusing hal-hal yang di luar kendali kita dan lebih fokus dengan hal-hal yang bisa kita kendalikan. Ternyata, suami saya pernah mempelajari Stoicism ketika mengerjakan tesisnya (jadi salah satu bahan dalam tesisnya) dan dia punya beberapa buku yang membahas Stoicism. Saya makin tertarik mempelajari lebih dalam filosofi ini. 

Yang lebih penting, Filosofi Teras bukanlah buku motivasi yang bahasanya indah-indah. Penulisnya menyelipkan beberapa contoh yang seringnya malah membuat senyum-senyum bahkan terbahak. Buku ini serius tapi juga banyak lucunya. 

LAIN – LAIN

Buku L’art de la Simplicite : How to live more with less cukup menarik dengan cara penulisan yang mudah dimengerti. Beberapa ide dan gagasan bagaimana kita bisa merasa hidup yang lebih dengan mengurangi atau mereduksi kepemilikan terhadap barang. Misalkan untuk rumah : disarankan jika rumah tidak terlalu banyak aksesori yang dipajang. Selain supaya rumah lebih nampak lapang, juga dengan keberadaan banyak barang (yang sebenarnya tak terlalu penting secara fungsi), bisa menyerap energi kita. Akibatnya, orang yang berada dalam rumah yang banyak barangnya akan cepat merasa lelah, sering mempunyai pikiran yang negatif dan sebagainya. Intinya, jangan terlalu melekatkan hidup kita terhadap barang-barang. Semakin sedikit yang kita punya, semakin lebih yang kita rasakan. Kalau dituruti, memiliki barang-barang dan terlalu lekat, tidak akan pernah habis dan terpuaskan. Miliki sesuai kebutuhan dan fungsinya.

 

Itulah beberapa buku yang sudah selesai saya baca ditiga bulan pertama tahun 2019. Semoga Q2 2019 tidak terlalu banyak bedanya secara jumlah. Yang pasti ada beberapa buku yang benar-benar menarik yang sudah saya baca di Q2. Tunggu review selanjutnya, edisi Q2 2019 

Buku apa yang paling menarik sampai saat ini yang sudah kalian baca tahun 2019?

-Nootdorp, 17 Juni 2019-