Undur Diri Dari Twitter dan Facebook

Hai hai saya muncul kembali setelah 2 bulan absen menulis blog. Tulisan kali ini lumayan panjang karena sangat detail. Sekalian merangkum jawaban dan tinggal copy paste kalau ada yang bertanya. Buat yang berminat membaca, siapkan waktu lebih supaya lebih menghayati cerita saya kali ini.

Untuk mereka yang bertanya kenapa saya tiba – tiba menghilang dari Twitter dan Facebook (FB), tulisan kali ini akan membahas secara tuntas pertanyaan tersebut. Kabar saya sehat wal’afiat, tidak sakit, masih hidup, berkegiatan seperti biasa (lumayan makin sibuk), dan semua baik – baik saja sekeluarga. Terima kasih untuk yang menanyakan langsung kabar saya dan keluarga. Ada yang berpikir saya sakit, ada masalah keluarga, ada masalah dengan suami, ada anggota keluarga yang sakit, atau berpikir saya sedang kesusahan sehingga tidak muncul lagi di dua media sosial tersebut. Alhamdulillah, saya dan keluarga dalam keadaan sehat, tidak ada masalah dengan suami, bugar, segar, tanpa kekurangan suatu apapun (kecuali lemak – emak di badan saya sudah lumayan banyak berkurang, Yiaayy akhirnyaa! Tunggu ceritanya ya di tulisan selanjutnya).

Sengaja memang tanpa pamitan. Pertama, karena ya apalah saya ini ya pesohor juga bukan, mau woro – woro pamitan kok ya semacam sungkan sok terkenal. Kedua, karena memang keputusannya mendadak tanpa direncanakan jauh hari, ingin melipir (entah sejenak atau dalam jangka waktu lama) dari 2 media sosial yang saya punya tersebut. Ketiga, karena saya belum tahu apakah ini sifatnya akan permanen atau sementara saja. Daripada sudah heboh pamitan ternyata besoknya balik lagi, kan kayak balik kucing namanya.

Jadi ini saya ceritakan runutannya ya, sedikit berbagi cerita dibalik mak bedundug istirahat dulu dari ramainya 2 media sosial tersebut. Saya bukan undur diri dari media sosial karena akun YouTube masih aktif dan blog juga masih terus aktif sebagai sarana menulis. Ini khusus Twitter dan FB saja. Saat tulisan ini diunggah, saya akan masuk bulan ketiga log out (bukan deactived dan juga bukan delete akun) dari Twitter dan FB, juga membuang aplikasinya dari telepon pintar. Selama saya log out, tidak pernah log in lagi atau mengintip akun yang saya punyai tersebut, tidak pernah stalking akun orang lain. Sejauh ini benar – benar tidak menyentuh (dan belum terpikir untuk menyentuh kembali) 2 media sosial tersebut.

LATAR BELAKANG (macam bikin tulisan karya ilmiah, pakai latar belakang)

Dalam hidup, saya punya prinsip, secukupnya saja. Termasuk ketika memutuskan untuk nyemplung  secara sadar di dunia media sosial, saya pilih sekiranya hanya yang cocok saja. Jadi, selama ini saya tidak pernah punya akun di Tiktok, Path, Snapchat, apalagi ya saking banyaknya jenis rupa media sosial. Pernah punya akun Instagram (IG) selama 1 tahun, tapi sejak tahun 2015, akun tersebut lenyap setelah saya deactived selama 3 bulan. Saya malas tidak menelusuri lagi hilangnya ke mana, bahkan juga tidak membuat akun baru. Jadi, saya sudah tidak punya lagi akun di IG. Tanpa IG bagaimana hidup saya? Alhamdulillah sehat wal’afiat tidak kekurangan suatu apapun. Tidak merasa terbelakang ataupun kurang wawasan. Intinya baik – baik saja. Pun saya tidak ada hasrat membuat akun IG yang baru karena memang ternyata saya tidak sebutuh itu dengan IG. Hubungan saya dengan IG waktu itu ya baik – baik saja, menyenangkan, bisa dapat kenalan dan ada yang berteman sampai sekarang. Ada yang sudah menjadi mantan teman pun. Seingat saya, waktu itu IG masih belum terlalu ramai.

Twitter dan Facebook (FB), 2 akun media sosial yang lumayan aktif saya mainkan sejak punya 11 (atau 12) tahun lalu. Di FB, saya pernah deactived akun selama 3 tahun karena ingin konsentrasi belajar ujian integrasi dan setelahnya sibuk bekerja. Setelah berhenti kerja, saya aktifkan lagi akun FB, dengan alasan cari hiburan. Saya memilih mutual yang benar – benar dikenal saja, minimal pernah bertemu dalam dunia nyata. Kalau tidak salah ingat, saya membuang sekitar 400 an nama – nama di daftar mutual. Jadi di FB, mutual saya ya teman dan kenalan yang pernah saya temui dalam dunia nyata.

Twitter, lain cerita. Sejak punya, saya tidak pernah menonaktifkan media sosial ini. Terpikir untuk log out saja tidak pernah karena sangat menikmati apa yang ada di sana. Semacam saya sudah cocok di sana. Bahkan 3 tahun lalu, saya pernah membuat tulisan tentang twitter di blog ini. Silahkan bisa baca di sini jika tertarik. Saking cintanya sampai dibuatkan tulisan khusus. Interaksi di twitter selalu menyenangkan buat saya. Jadi kalau sampai saya memututuskan keluar dari twitter, pasti ada sesuatu yang besar di belakangnya. Nah, hal ini akan saya ceritakan secara rinci di bawah.

2020 adalah tahun yang spesial buat semua orang. Apalagi kalau bukan karena Pandemi. Bukan hanya kesehatan raga yang diobrak abrik, juga kesehatan jiwa yang terpengaruh oleh Covid. Termasuk saya, yang sempat mengalami masa – masa gelap dengan mental tahun lalu. Saya mencari pengalihan perhatian dengan menjadi lebih intensif bermain di twitter. Kemudian hari saya merasa malah semacam tidak bisa lepas dari twitter. Entah ini namanya kecanduan atau apa ya karena sejauh ini saya tidak pernah merasakan yang namanya kecanduan pada hal lainnya, jadi tidak bisa membandingkan. Kalau tidak membuka sehari saja, merasa ada yang kurang dalam hidup. Semacam menemukan banyak hiburan di sana. Bisa berkenalan dengan banyak orang yang punya latar belakang berbeda. Bisa membaca banyak cerita dan pengalaman yang memberikan motivasi positif. Banyak hiburan dan cerita yang lucu juga. Bukan hanya hal baik, yang tidak baik juga sama banyaknya. Intinya, tahun lalu, saya sangat menikmati interaksi di twitter. Saking “menikmati” nya, tanpa sadar ada yang tidak beres dengan diri sendiri yang saya sadari (agak telat) kok ternyata efeknya buruk ya. Awalnya saya denial merasa tidak ada yang salah antara saya dan twitter, semua baik – baik saja. Tapi lama – lama saya memang harus jujur dengan diri sendiri, memang ada yang tidak beres.

Saya di sini khusus menuliskan pengalaman tahun lalu, karena penggunaannya yang sangat intens dibandingkan tahun – tahun sebelumnya. Dan saya lebih menyorot ke interaksi di twitter dibandingkan FB karena di FB saya tidak terlalu aktif dan yah tidak ada yang spesial di sana. Penekanannya di sini adalah kurangnya kontrol diri sendiri dengan alasan ingin mencari hiburan dan mengalihkan perhatian dari rasa cemas, yang ternyata saya sadari dikemudian hari malah jadi sumber kecemasan.

Hal – hal yang saya sadari agak telat dan ternyata tidak bagus untuk mental (termasuk badan) saya karena interaksi terlalu erat di dua media sosial tersebut (khususnya twitter) saya sebutkan pada poin – poin di bawah ini :

  • TERLALU BISING BUAT SAYA, UNTUK SAAT INI

Twitter tahun lalu dibandingkan tahun – tahun sebelumnya, menjadi sangatlah ramai. Mungkin karena mereka memiliki alasan yang sama dengan saya, mencari hiburan untuk mengalihkan fokus dari hingar bingar dunia yang lagi bergejolak. Awalnya saya menikmati kebisingan itu. Tapi lama – lama kok semakin melelahkan. Banyak orang jadi gampang beropini, termasuk saya. Ada yang beropini sehat, ada juga yang sebaliknya. Ada yang jadi pihak sorak – sorak bergembira, ada yang hanya sekedar pengamat tapi menikmati kebisingan itu. Kalau dianalogikan, kumpulannya terlalu padat, saya ditengah – tengah merasa tidak bisa bernafas dengan baik karena mereka yang di sana berlomba berbicara lantang ingin didengarkan tapi sedikit yang terlihat untuk bersedia mendengarkan, tertimbun mereka yang saling berbicara. Jadi saling berlomba untuk beropini.
Tidak ada yang salah, karena memang setiap orang punya hak yang sama untuk berpendapat. Hanya, ternyata saya tidak sanggup. Jadi saya memutuskan keluar dari kerumunan tersebut. Memutuskan untuk menepi dan memilih jalan yang lebih sunyi yang pada akhirnya lebih menentramkan jiwa. Saya yang secara sadar masuk dalam kerumunan tersebut, ikut berkecimpung, akhirnya secara sadar juga keluar karena ternyata tidak mampu mengontrol diri sendiri. Merasa hidup, waktu, dan pikiran terlalu terfokus di sana. Merasa ternyata tahun lalu saya menjadi susah lepas dari twitter.

  • BUKAN KARENA UNGGAHAN KEBAHAGIAAN, ATAU KESUKSESAN ORANG LAIN

Alasan saya untuk rehat dari dua media sosial itu, 90% karena alasan diri sendiri, demi ketenangan jiwa dan raga dan 10% karena unggahan orang lain. Nah, saya akan bahas bagian 10% pada poin ini. Unggahan orang lain yang saya maksudkan bukanlah tentang bagaimana mereka mengunggah sukses ini itu, atau mencantumkan hal – hal apa yang mereka miliki. Bukan. Saya sudah lewat masa – masa iri karena orang lain lebih ini dan itu. Hal tersebut sudah saya lalui awal usia 30 tahun. Sekarang saya sudah pada fase ga ngefek kalau orang lain mau unggah mereka turun 30 kg, atau punya anak yang lucu menggemaskan, liburan ke A B C, bisa baking segala jenis rupa roti kue dan sebagainya, punya banyak teman, punya suami yang super romantis, punya rumah yang super kiyut atau apapun itu, sama sekali tidak mengusik iman. Sama sekali ga ngefek. Saya sudah sangat cukup dengan apa yang dimiliki saat ini, sudah sangat bersyukur. Jadi unggahan keberhasilan orang lain, tidak mengusik apapun dalam hidup. Saya tidak membandingkan hidup atau diri saya dengan keadaan orang lain. Orang ingin memperlihatkan apa yang mereka perlihatkan, sama dengan saya. Jadi, ya buat apa saya perlu membandingkan saya dengan orang lain di media sosial.

Namun, ada satu jenis unggahan yang masuk 10% menganggu dan sering membuat emosi itu : unggahan opini yang lumayan kontroversial atau yang menurut saya kok rasanya tidak masuk akal ada orang bisa beropini seperti itu. Pendeknya, opini yang tidak satu frekuensi dengan otak saya. Lalu ketika membaca komen – komen yang pro dan kontra, saya seperti tertarik masuk di dalamnya lalu ikut emosi juga. Nah, seringnya, hal ini membuat saya terlalu menjiwai apa yang terjadi di sana sampai mempengaruhi emosi dan pikiran sepanjang hari. Harusnya saya lebih bisa mengontrol diri. Harusnya. Tapi seperti yang saya bilang, kalau sudah mulai muncul suatu topik yang relevan, saya jadi tertarik untuk mengikuti secara runtun. Lalu jadi emosi sendiri, kepikiran sepanjang hari, mempengaruhi mood, dan malah jadi topik pembahasan dengan suami. Konyol parah.

Kenapa tidak dipergunakan fasilitas mute, block, dsb? Tujuan utama saya punya dan main media sosial adalah sekedar mencari hiburan, syukur – syukur kalau mendapatkan informasi yang berguna. Kalau saya merasa sudah tidak bahagia dan tidak terhibur, ya berarti sudah meleset jauh dari tujuan tersebut. Apalagi sampai diatur teknologi untuk menggunakan fasilitas – fasilitas tersebut, sungguh merepotkan. Saya tidak mau terlalu diatur teknologi. Yang bisa saya lakukan, ya keluar saja kalau sudah merasa ada yang mengganggu penggunaan saya dalam bermedia sosial. Media sosial saya menggunakan akun pribadi, bukan untuk berbisnis. Beda lagi kalau untuk bisnis, mungkin akan saya pertahankan karena sumber penghasilan saya di sana. Lah ini sudahlah ga dapat uang dari media sosial, kok ya mau – maunya saya mendedikasikan waktu dan mental di sana.

Dibuat santai saja mainan medsos, jangan terlalu serius. Sebelum tahun lalu, saya santai sekali mainan twitter dan FB. Entah tahun lalu kok jadi tidak bisa lepas begitu, ga jelas juga arah hidup saya bagaimana. Seperti mendapatkan tempat untuk menghibur diri, tapi kok ya ternyata banyak dampak tidak sehat lainnya yang menyertai. Jadinya, saya rehat sajalah. Dampaknya sudah tidak santai lagi buat mental dan raga saya.

Salah memilih yang difollow sih! Percayalah, saya follow orang – orang yang menyenangkan di twitter. Yang kebanyakan memberikan cerita dan berita yang positif. Tapi hal – hal yang negatif adaa saja yang mampir. Belum lagi saya sendiri yang cari – cari perkara mencari informasi yang ga jelas. Yo salahmu dewe!

  • KEPALA TERASA SANGAT PENUH DAN TINGKAT KECEMASAN BERTAMBAH PARAH

Masih ada hubungannya dengan alasan di atas, kepala saya menjadi sangat penuh. Terlalu banyak informasi yang saya dapat, terlalu banyak pendapat yang saya baca, terlalu banyak perseteruan yang saya ikuti, membuat kepala saya menjadi sangat penuh. Benar – benar penuh sampai rasanya tidak ada ruang lagi untuk mencerna. Tidak punya ruang lagi untuk berpikir mana informasi yang benar – benar bermanfaat. Penat rasanya. Bahkan berdialog dengan diri sendiri yang dulu sering saya lakukan, tahun lalu jadi tidak sempat dilakukan. Karena kepala terasa penuh, jadi ada hal – hal yang seharusnya lebih penting masuk ke kepala, jadi tergeserkan oleh informasi yang lebih tidak penting. Jadi kepala saya terasa sesak, penuh, dan terasa pengap oleh banyaknya informasi dan hal – hal yang saya dapatkan dari media sosial.

Hal tersebut membuat rasa cemas saya semakin bertambah parah dan meningkat drastis. Saya secara sadar bahkan mencari – cari sendiri semua informasi yang ingin diketahui. Instruktur menyetir saya pernah menyarankan : Jangan terlalu banyak membaca berita, menonton TV, itu akan membuatmu jadi makin tidak tenang. Tapi saya tentu saja tidak mendengarkan sarannya. Bagaimana bisa saya tidak mengikuti situasi terkini, saya merasa kok makin gelisah kalau tidak tahu apa – apa. Itu pemikiran saya tahun kemarin. Hasilnya, rasa cemas bertambah parah, saya jadi kemrusung, overthinking, yang mempengaruhi kesehatan mental dan mengganggu ritme tidur. Benar – benar melelahkan. Suasana hati rasanya engap terus seperti berkabut.

  • MENGAWALI HARI DENGAN LETIH

Setiap pagi, dengan sadar saya mengawali hari dengan membuka media sosial, twitter lebih tepatnya. Saya manusia pagi, jadi otak saya akan lebih segar jika digunakan sepagi mungkin. Salahnya, tahun lalu saya memilih “produktif” di pagi hari untuk membaca hal – hal di twitter, yang seringnya adalah adaaa saja perseteruan di sana. Padahal yang diperdebatkan ya topiknya begitu – begitu saja. Ibu bekerja tidak bekerja, mau punya anak atau tidak, Istri bisa masak atau tidak, lebih bangga mana punya twitter atau IG dan topik – topik yang ya sudahlah basi banget kan. Tapi saya dengan sadar malah “mencemplungkan ” diri dengan tetap membaca perseteruan itu dan membaca komen – komennya. Belum lagi berita – berita di Indonesia dan Belanda yang tidak semuanya membawa pesan baik. Ya saya sendiri yang mencari penyakit.

Hanya dengan membaca hal – hal tersebut, ternyata saya mengawali hari dengan rasa letih. Energi yang seharusnya saya pergunakan untuk 15 jam kedepan, sudah tersedot banyak hanya dengan mengikuti perseteruan orang lain, bahkan ikut nyemplung di dalamnya, membaca berita yang bikin sakit kepala, lalu merasa letih ketika aktifitas dalam dunia nyata benar – benar baru dimulai. Merasa saya hanya punya 50% energi untuk menjalani 14 jam kedepan karena 50% lainnya sudah tersedot hanya karena saya secara sadar menggunakan 1 jam sebelumnya untuk memantau apa yang terjadi di twitter.

  • GAMPANG EMOSI

Saya menjadi lebih terpancing untuk marah. Kalau ada suatu hal yang tidak menyenangkan di 2 media sosial tersebut, gampang mempengaruhi emosi saya, menjadi gampang marah di dunia nyata. Menjadi lebih susah untuk tenang. Konyolnya, yang menjadi pemicu bukanlah hal dari dunia nyata tapi lebih seringnya dari media sosial yang saya bawa ke dunia nyata. Kan miris sekali. Saya kurang punya kontrol diri untuk memisahkan antara dua hal tersebut. Jadi kalau misalkan ada hal yang tidak mengenakkan saya baca di twitter, hal itu akan terbawa ke emosi saya melewati hari. Padahal mereka yang di dunia nyata tidak mengerti apapun yang terjadi, malah jadi bahan pelampiasan kekesalan saya. Duh Gusti, tobat.

  • SERING TERGESA DAN TIDAK FOKUS

Misalnya ada sebuah perseteruan di twitter, saya kan jelasnya tidak bisa memantau sepanjang hari karena harus berkegiatan lainnya. Nah, saat melakukan aktifitas lainnya, pikiran saya jadi terbagi. Memikirkan perseteruan atau topik yang lagi hangat tersebut dan kegiatan yang saya lakukan. kepikiran bagaimana lanjutannya topik yang lagi dibahas atau perseteruan yang sedang terjadi. Saya jadi tidak fokus dengan dunia nyata yang ada di depan mata. Jadinya, saya cepat – cepat menyelesaikan kegiatan saya supaya saat waktu istirahat, saya bisa kembali menyimak kelanjutannya. Misal saat masak, pikiran saya tidak sepenuhnya ke masakan yang sedang saya buat. Mikir : eh penasaran gimana ya lanjutannya tadi. Eh ada berita baru apa ya. Lalu secara tergesa menyelesaikan masak supaya bisa curi – curi waktu membuka twitter untuk melihat lanjutan atau ya hanya sekedar mengecek apa sih yang lagi hangat di timeline sekarang. Saat makan sendiri saja sampai saya tidak khusyuk menyimak rasa makanan yang saya makan karena disambi membaca twitter, bukannya fokus pada makanan yang ada di depan mata. Karena mengerjakan kegiatan tanpa fokus dan selalu tergesa, akhirnya hasilnya ya asal – asalan. Saya seperti tidak sepenuh hati karena memang pikiran saya terbagi, mengerjakannya pun ya terbagi. Saya merasa tidak produktif.

  • WAKTU HANYA 24 JAM DAN MERASA TIDAK PRODUKTIF

Dalam waktu 24 jam, tahun lalu saya menggunakan 6-7 jam untuk istirahat di malam hari, 2-3 jam istirahat di siang hari, dan sisanya untuk berkegiatan. Anehnya, saya merasa kok waktu tersebut tidak pernah cukup dan rasanya saya tetap kurang mempunyai waktu untuk diri sendiri. Padahal waktu istirahat saya kalau ditotal lumayan banyak, 10 jam. Tapi kok rasanya saya selalu saja merasa kelelahan. Atau waktu 14 jam berkegiatan, saya merasa kok tidak menampakkan hasil yang maksimal. Ya jelas saja, wong di waktu istirahat, bukannya saya menggunakan untuk hal – hal yang bisa membuat diri sendiri bahagia atau menggunakan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat, saya malah memantau media sosial. Bukannya saya fokus dan perlahan dalam mengerjakan sesuatu, pikiran saya malah terbelah dengan ingin cepat – cepat menyelesaikan supaya bisa membuka media sosial. Jadinya saya merasa tahun lalu, sebenarnya apa sih yang saya kerjakan. Saya selalu kelelahan karena merasa waktu istirahat saya tidak cukup, emosi yang tidak stabil, merasa apa yang saya kerjakan tidak maksimal.

Saya istirahat sih memang, secara badan. Saya leyeh – leyeh rebahan, tapi tangan dan mata saya bekerja. Scrolling dan membaca apa yang ada di media sosial. Lha ya jelas saja, wong waktu istirahat bukannya dipakai benar – benar untuk istirahat malah dipakai untuk membaca opini orang lain yang malah memancing emosi dan membuat energi makin tersedot. Membaca timeline itu melelahkan lho buat saya karena bisa menyedot energi dan membuat labil emosi hasilnya saya kurang produktif dalam berkegiatan di dunia nyata. Ini yang saya bilang kalau saya belum mampu mengontrol malah dikontrol oleh media sosial. Kalau pakar mengibaratkan seperti slot machine. Secara sadar saya scroll – scroll terus ingin tahu apa yang terbaru. Mungkin saya sudah dalam fase kecanduan. Lelah ternyata.

  • TIDUR TERGANGGU

Tahun lalu, kualitas tidur jadi terganggu. Saya orangnya gampang tidur dan juga gampang terbangun. Biasanya dalam keadaan normal, kalau terbangun tengah malam, saya bisa kembali tidur dengan gampang. Nah, tahun lalu beda. Karena hubungan saya yang semakin erat dengan twitter, membuat saya seperti tidak terpisahkan bahkan oleh jam tidur. Kalau terbangun tengah malam, saya ambil Hp lalu buka twitter (atau kadang FB). Penasaran apa sih yang terjadi sekarang. Berita apa sih yang lagi “seru” di Indonesia. Akhirnya saya jadi terhanyut dan tidak sadar sudah menghabiskan sekian menit di sana lalu menjadi susah untuk kembali tidur yang membuat kualitas tidur saya tidak bagus. Terbangun pagi, yang dilakukan pertama ya ngecek media sosial. Jadi tidur saya tahun lalu tidak benar – benar nyenyak karena ada hubungannya dengan pikiran saya selalu pada twitter. Setiap bangun, saya merasa kelelahan karena jam tidur jadi berantakan dan tidur tidak nyenyak. Walhasil menjalani hari juga dengan kelelahan. Begitu saja terulang setiap harinya. Tidur saya seperti tidak berkualitas.

  • INTERAKSI YANG MENYENANGKAN SEKALIGUS MEMBUAT TERLENA

Interaksi di FB dan Twitter, sangat menyenangkan buat saya. Di sana, saya menemukan banyak informasi yang bermanfaat dari mereka yang punya minat yang sama, misalkan : baking, masak, jalan – jalan atau informasi lainnya. Saya mempunyai banyak kenalan baru dan yang mengejutkan, dalam setahun kemaren jumlah follower di twitter bertambah secara pesat. Kalau tidak salah ingat hampir mencapai 2000. Ya jumlah segitu mungkin masih kategori sedikit buat mereka yang memang menekuni media sosial secara serius. Tapi buat saya yang tidak terlalu sering mengunggah dalam sehari, tidak mengerti juga mereka follow saya karena apa.

Sebagai gambaran, dalam satu hari saya maksimal mengunggah hanya 2 kali, seringnya malah satu kali. Jadi bukan yang sehari bisa menulis status atau mengunggah foto sampai 10 kali. Memang saya batasi, supaya saya sendiri tidak “kebablasan”. Menuliskan opini pun sangat berhati – hati sekiranya yang tidak sampai menjadi viral atau menimbulkan kontroversi. Saya sudah merasakan beberapa opini pernah menjadi viral (yang positif) tahun – tahun sebelumnya, melelahkan sekali saudara – saudara. Menjadi terkenal itu ternyata not my thing meskipun terkenalnya karena opini yang positif (untuk banyak orang). Jadi tahun lalu opini – opini yang saya tuliskan ya sekadarnya saja. Pun saya tidak pernah membuat utas yang sangat berguna. Saya tidak bisa membuat utas di twitter, lebih baik saya menulis panjang di blog, lebih nyaman.

Interaksi dengan beberapa orang yang saya kenal di twitter pun sangat menyenangkan. Kami berbagi banyak cerita, banyak infomasi. Intinya banyak hal positif saya dapatkan dari mereka. Tidak ada yang salah dengan interaksi yang saya lakukan, pun tidak pernah ada masalah yang saya temukan di sana, semua baik – baik saja. Bahkan saat memutuskan keluar dari twitter pun, tidak ada masalah yang terjadi. Hanya ternyata, saya terlalu banyak menginvestasikan waktu di sana dan interaksi yang menyenangkan tersebut membuat saya jadi terlena akhirnya malah menjerumuskan saya jadi tidak bisa lepas. Saya kurang bisa mengontrol diri. Bukan interaksinya yang salah, tapi saya yang terlalu kebablasan.

  • MERASA SUDAH OVERSHARING DAN MERASAKAN KESENANGAN SEMU DALAM “LIKE”

Batasan oversharing bagi masing – masing orang berbeda. Apa yang saya pikir oversharing, belum tentu orang lain berpikir yang sama. Saat salah satu teman mengerti bahwa salah satu alasan saya undur diri dari FB dan Twitter adalah saya merasa sudah oversharing, dia kaget : Oversharing darimana wong kamu cuma menulis haal – hal yang umum, posting foto seringnya makanan dan pemandangan. Kamu tidak pernah menceritakan secara detail kegiatan keluargamu, bahkan isi rumahmu aja ga pernah kamu unggah di foto.

Benar, saya tidak pernah sama sekali mengunggah foto keluarga dalam formasi lengkap. Benar, saya tidak pernah bercerita sama sekali atau khusus bercerita tentang anak – anak (bahkan banyak yang tidak tahu kalau saya sudah punya anak karena memang tidak pernah woro – woro secara khusus tentang tambahan anggota keluarga karena selama ini saya sangat berhati – hati kalau sudah berurusan tentang anak. Rasanya baru pada tulisan kali ini saya secara jelas mengungkapkan. Saya masih memegang teguh tidak akan mengunggah foto mereka di media sosial atau bercerita secara detail tentang mereka sampai mereka bisa berpendapat boleh atau tidak. Bahkan pada komentar blog manapun yang membahas tentang anak, sebisa mungkin saya tidak ikut nimbrung, takut kebablasan). Benar, saya tidak pernah mengunggah foto isi rumah atau detail rumah (kecuali meja makan karena jadi tempat buat foto makanan). Benar, saya tidak pernah mengunggah barang – barang yang ada di rumah atau yang kami miliki. Benar, bahwa saya tidak pernah langsung mengunggah foto dan menceritakan saat kami sedang pergi liburan. Semua hal tersebut masih saya taati karena saya memang masih menyisakan banyak ruang untuk privasi.

Tapi, ada hal – hal yang sudah melenceng dari batasan yang saya tetapkan dalam bermedia sosial. Dengan banyaknya follower di twitter, membuat saya terlena untuk sering mengunggah foto makanan, pemandangan. Dalam unggahan tersebut tentu saya menuliskan ceritanya. Nah dalam cerita itu yang membuat saya merasa oversharing. Padahal ceritanya ya standar saja, tidak ada yang mendetail. Tapi ternyata kok membuat saya semakin lama semakin tidak nyaman berbagi dengan banyak orang yang tidak saya kenal dalam dunia nyata (ya kan saya belum pernah bertemu dengan mereka di dunia nyata. Kecuali beberapa orang yang saya percaya, seperti Maya, Inly, Christa). Seperti membagikan cerita ke kerumunan orang, yang sebenarnya tidak semuanya peduli pada cerita yang saya unggah. Lama – lama merasa kok saya jadi seperti laporan ke orang asing ya tentang hal – hal yang dilakukan. Saya jadi gampang pamer. Terlalu sering pamer ternyata membuat tidak nyaman juga. Ga bakat jadi selebriti atau influencer.

Ditambah lagi mereka memberikan like. Saya bingung fungsi like di twitter saat ini menjadi seperti IG. Dulu saya menggunakan tombol tersebut untuk menyimpan informasi. Jadi semacam tombol favorite. Sekarang, orang menggunakan tombol tersebut untuk menunjukkan mereka suka dengan postingan yang diunggah. Tidak semua unggahan saya mendapatkan like banyak. Ada yang sedikit, ada yang banyak, ada yang tidak mendapatkan sama sekali. Terkadang, itu malah mengusik saya. Jadi saya semakin mengunggah hal – hal yang sekiranya orang akan suka, bukan karena saya murni ingin mengunggah hal tersebut. Jadi semacam ingin mendapatkan pengakuan dari mereka yang kebanyakan belum pernah saya jumpai dalam dunia nyata. Saya suka sih semua yang saya unggah, tapi juga memikirkan apa orang yang melihat juga suka ya. Saya merasa konyol sih, padahal dalam dunia nyata saya sudah mendapatkan apresiasi, lebih dari cukup malahan. Ini kok malah mencari lebih lagi dari media sosial. “Like” yang melenakan saya dan membuat tidak nyaman. Semakin banyak “like” yang saya dapatkan, sebenarnya membuat saya semakin tidak nyaman. Berpikir sebenarnya mereka menekan tombol like itu karena apa ya. Apa benar – benar suka dengan unggahan saya atau ya sekedar iseng “like” saja. Kalau semakin banyak yang “like” saya jadi semakin termotivasi mengunggah yang sekiranya akan mendapatkan banyak “like” lagi. Ora uwis – uwis. Itu menjadi melelahkan karena saya sudah tidak menjadi diri sendiri lagi. Seperti melakukan hal berdasarkan standar “like” orang lain. Bukan hanya murni yang saya suka. Belum lagi kalau tidak mendapatkan “like” yang cukup, eh malah kepikiran. Duh kok uripmu ruwet men, Den! Padahal dulu saya mengunggah sesuatu tidak peduli orang mau suka apa tidak. Sak karepku.

Apalagi kalau ada yang komen misalnya : duh enak banget ya di sana hidupnya, kayak yang nyaman. Atau komen : tentram sekali situasi di sana ya, jadi pengen, kapan bisa merasakan hidup enak ya dsb. Komen – komen tersebut membuat saya berpikir : Apa yang saya unggah, pasti ada yang merasa tidak nyaman lalu membandingkan hidup mereka dan saya. Merasa pada akhirnya kok saya ini jadi sumber ketidakbahagiaan buat orang lain yang mungkin hidupnya tidak seperti saya, menurut pemikiran mereka. Hal tersebut membuat saya resah. Padahal saya pamer yang ingin saya pamerkan saja kan. Itu semua nyata, tapi yang bagus – bagus saja. Babak belurnya ya jelas lah saya simpan sendiri. Ya buat apa diceritakan.

Itulah mengapa saya merasa kalau sudah terlalu Oversharing. Saya tidak nyaman dan memang musti disudahi saja. Benar saya tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain pikirkan, apa yang orang lain unggah. Tapi, satu hal yang bisa saya lakukan adalah mengendalikan diri sendiri.

  • HIDUP NYATA DALAM DUNIA NYATA

Kerinduan saya untuk ada secara nyata di dunia nyata, yang tidak saya dapatkan di media sosial, membuat saya mantab keluar dari “kenyamanan” dan kesenangan di sana. Saya rindu saling bertukar kabar dengan teman. Rindu bertanya kabar secara langsung dan ditanya kabar oleh mereka. Langsung di sini dalam artian bukan hanya bertemu langsung. Menanyakan kabar langsung lewat aplikasi pesan, juga termasuk langsung. Atau saling berkirim email. Bukan saya tahu kegiatan mereka atau mereka tahu kegiatan saya dari media sosial. Kok rasanya menyedihkan ya kalau teman dekat saya malah tahu saya sedang dalam kondisi A atau sedang ada kabar bahagia, mereka malah tahunya dari media sosial bukan karena saya berkabar langsung kepada mereka. Begitu juga sebaliknya.

Saya rindu bercerita banyak hal dengan mereka. Rindu ketika kami saling memberi sesuatu, tidak perlu diunggah di media sosial. Diucapkan secara langsung itu sangat menyenangkan. Diunggah di media sosial, itu bonus, yang sebenarnya buat saya juga tidak terlalu perlu. Saya tetap berterima kasih kalau mereka memang ingin mengunggahnya. Ga ada yang salah. Tapi, tidak perlu semua orang tahu saya sudah memberi A atau B, begitu juga sebaliknya. Kecuali dalam rangka promosi, tentu hal tersebut lain perkara. Begitu juga saya, rindu kalau diri ini memberi sesuatu pada orang lain tidak perlu dipamer di media sosial. Memberi ya memberi saja tanpa perlu saya pamer. Meredam hasrat pamer itu ternyata susah ya.

Saya ingat satu hal, pernah saya berkirim kartu ucapan, tapi kok tidak ada kabarnya ya apakah kartu ini sampai atau belum. Sampai suatu saat, saya memberikan komen ke unggahan yang bersangkutan, lalu dia bilang kalau kartunya sudah sampai dan tidak sempat mengabari secara langsung karena sibuk. Lalu saya berpikir : oh memberi kabar secara langsung tidak sempat karena sibuk, tapi mengunggah status masih sempat dan mengucapkan terima kasih di media sosial. Saya sedih sih setelahnya. Merasa diabaikan.

Saya tidak perlu terkenal kok. Saya tidak perlu semua orang tahu apa yang sudah saya lakukan untuk teman – teman. Saya lebih memilih berinteraksi secara intens dan intim dalam kehidupan sehari – hari. Nanti, kalau suatu hari saya sudah punya bisnis sendiri, nah itu lain cerita. Saya butuh bantuan mereka untuk mempromosikan bisnis yang saya rintis. Tapi kalau pemberian atau perhatian, cukup secara personal saja.

Saya rindu bertukar kabar dengan mereka secara langsung, bukan dari media sosial.

  • KELUARGA

Keluarga adalah salah satu alasan terbesar saya untuk rehat dari media sosial, selain alasan – alasan pribadi yang sudah saya sebutkan di atas. Saya ingin benar – benar menikmati waktu bersama mereka tanpa ada distraksi. Saya ingin fokus dan hadir secara nyata untuk mereka, bukan setengah – setengah. Anak – anak semakin beranjak besar, waktu bersama mereka semakin sedikit. Saya ingin menikmati setiap momen yang ada, setiap perubahan yang terjadi, setiap tangis dan tawa, apapun itu. Saya dan suami semakin bertambah umur, kami ingin menikmati kebersamaan secara maksimal tanpa pikiran terganggu adanya media sosial yang kami miliki. Hanya 24 jam yang saya miliki setiap hari, ingin saya maksimalkan bersama mereka. Media sosial akan tetap ada dan bisa menunggu selama tidak bangkrut dan saya masih hidup. Tapi anak – anak selalu bertumbuh setiap harinya, mereka tidak bisa menunggu. Waktu bersama suami dan anak – anak tidak akan bisa terulang karena akan ada banyak hal yang berbeda setiap waktu. Saya tidak mau melewatkan itu. Saya ingin berlama – lama memeluk dan berbagi banyak hal, sebelum mereka keluar dari rumah dan kami sebagai orangtua kembali hanya hidup berdua.

Saya benar – benar ingin menikmati waktu sebagai Ibu dan Istri, selain sebagai seorang Deny. Saya ingin seutuhnya ada untuk mereka dan diri sendiri, tanpa harus berbagi perhatian dengan media sosial.

TAMBAHAN

Dari cerita di atas, kok nampaknya tahun lalu saya benar – benar kecanduan ya. Tersiratnya seperti itu. Setelah saya pikir lagi, ya belum sampai taraf kecanduan sih. Saya punya aturan main dalam bermedia sosial yang tetap saya patuhi yaitu : Tidak mainan Hp di hadapan anak – anak dan suami kecuali menerima telepon penting atau merekam dan memfoto mereka untuk dokumentasi pribadi, mematikan notifikasi kecuali aplikasi pesan dari suami dan yang berhubungan dengan anak, Hp selalu mode silent kecuali ada janjian telepon, dan membatasi mainan Hp maksimal 4 jam dalam sehari. Kalau keluar rumah tanpa Hp pun hal yang biasa dan tidak membuat saya cemas. Jadi kalau saya pikir, sebenarnya masih belum dalam taraf kecanduan ya wong saya masih bisa mengontrol penggunaannya. Tapi pikiran yang selalu lekat dengan twitter ini kok ya rasanya saya jadi merasa candu pengen dekat – dekat dengan Hp terus.

PENUTUP

Itulah alasan – alasan yang menguatkan saya untuk undur diri dari twitter dan FB. Alasan sejujurnya dan keadaan saya yang sebenarnya tahun lalu merasa terlalu lekat pada 2 media sosial tersebut. Saya tidak tahu apakah undur diri ini akan jadi permanen atau sementara saja. Nanti kalau kangen ya mungkin sesekali berkunjung lagi. Yang pasti, saya sekarang sudah merasa nyaman tidak bersentuhan lagi dengan 2 media sosial tersebut. Merasa hidup saya lebih fokus, produktif, dan bahagia karena banyak hal – hal positif yang berdatangan dan saling berhubungan setelah saya tidak berkutat dan sibuk di sana.
Saya tidak pernah menyalahkan media sosialnya atau menyalahkan unggahan orang lain. Saya menyalahkan diri sendiri yang tidak mempunyai kontrol yang kuat untuk memilah memilih mana yang seharusnya. Media sosial dan unggahan orang lain tidak pernah salah karena saya tidak punya kuasa mengontrol apa yang di luar diri sendiri. Yang bisa saya kontrol adalah saya sendiri, ini yang saya lakukan sekarang. Rehat dari twitter dan facebook.

Tulisan ini saya tautkan ke twitter (entah bagaimana cara kerjanya, kalau log out apa masih bisa tertaut atau tidak). Bagi yang membaca dari twitter, misalkan saya masih punya hutang dalam bentuk apapun pada siapapun di sana atau sekiranya saya belum menyelesaikan satu tanggungan, silahkan kirim pesan ke saya di sini. Pasti akan saya balas email yang dituliskan. Atau kalau sekedar ingin ngobrol – ngobrol dengan saya, monggo menghubungi saya di tautan tersebut. Kita masih bisa saling berkirim kabar meskipun saya tidak di 2 media sosial tersebut. Malah lebih intim bisa saling ngobrol lewat email. Saling berbagi kabar terkini. Kalau ada yang mempunyai nomer telepon saya, silahkan saya langsung dihubungi kalau ingin berbagi kabar. Saya akan sangat senang jika ditanya dan saling bertanya kabar. Tidak perlu sungkan, saya akan jawab pesannya meskipun pasti lama membalasnya. Menunggu saya senggang tentu saja. Twitter setelah ini akan saya pergunakan sebagai sarana berbagi tulisan di blog saja. Nampaknya seperti itu. Saya akan kembali aktif menulis di blog. Kembali pada jalur saya. Meredam hasrat pamer di blog lebih gampang. Paling tidak bisa meminimalisirnya.

Terima kasih sudah membaca tulisan super panjang ini. Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat jiwa dan raga.

*Selanjutnya, saya akan menuliskan hal – hal positif apa yang sudah merubah hidup selama menerapkan Digital Minimalism (bukan hanya terhadap media sosial, tapi hal – hal digital lainnya) sejak awal tahun sampai saat ini. Pada tulisan selanjutnya ya akan saya paparkan secara lengkap.

-25 Februari 2021-

Sembilan Tahun, Pak! Saya Rindu

Nasi goreng hijau ala Bapak

Tadi pagi, saya mengirim pesan kepada Ibu, Pak. Pesan yang saya kirim tidak terlalu panjang, “Hari ini, 9 Tahun Bapak meninggal. Saya merasa seperti baru tahun lalu. Saya merasa Bapak belum lama meninggalkan kita. Saya masih merasa Bapak ada di sekitar. Hati saya masih merasa belum lapang untuk melepaskan. Saya masih belajar untuk mengikhlaskan, Bu. Saya hanya butuh waktu.”

Ibu menjawab pesan saya juga tidak kalah singkat, “Ibu juga merasa Bapak belum lama sudah tidak ada lagi diantara kita. Ternyata sudah 9 tahun ya. Ikhlas memang butuh waktu, Nak. Semoga kenangan baik tentang Bapak bisa mempermudah langkah dan hati kita untuk lebih Ikhlas.

Pagi ini saya bangun dengan perasaan tidak seberat tahun lalu. Sedih Pak, masih sama rasanya. Tapi saya merasa lebih ringan dibandingkan tahun lalu. Tadi pagi mungkin sedikit teralihkan karena saya mengajak cucu – cucu Bapak jalan pagi membeli ikan goreng kesukaan mereka. Sama seperti Bapak yang sangat suka dengan ikan goreng, mereka juga suka dengan segala produk laut. Salah satu dari mereka bahkan punya sifat dan hati mirip Bapak. Penyayang. Saya selalu bercerita pada mereka sambil memperlihatkan foto Ibunya dipangku oleh Mbah Kakung. Mereka paham, kalau Mbah Kakung sudah berbeda alam. Mereka paham kalau Mbah Kakung tidak mungkin bisa mengajak jalan – jalan seperti anak – anak lain yang masih memiliki Opa. Mereka paham Pak, dengan pemahaman sederhana anak – anak.

Tahun Lalu, kami tidak jadi pulang, Pak. Tiket pesawat sudah kami beli, segala rencana sudah kami susun dengan matang, namun apadaya Tuhan berkehendak lain. Pandemi datang, kami memundurkan liburan ke Indonesia entah sampai kapan. Bahkan sampai saat ini, meskipun vaksin sudah ditemukan dan banyak orang sudah divaksin, dunia masih berjuang keras melawan pandemi. Belanda juga sedang Lockdown, Pak. Konon akan diperpanjang lagi entah sampai kapan. Semuanya sekarang serba entah, Pak. Serba tak pasti. Hanya virusnya saja yang pasti, membuat sakit parah bahkan sampai menyebabkan kematian. Kalau keadaan sudah aman, situasi sudah memungkinkan, kami akan datang ke Indonesia, melakukan ziarah yang sempat tertunda.

Tahun lalu, sangat sulit secara mental buat saya. Menantu Bapak punya stok sabar berlebih untuk mendampingi saya melalui masa – masa sulit. Tidak pernah lelah untuk menguatkan. Tidak pernah bosan melihat saya selalu berurai air mata dan sudah seperti orang linglung. Beruntung sekali saya berjodoh dengan dia. Saya yakin, dia adalah jawaban doa – doa yang Bapak panjatkan selama naik haji. Sayang Bapak pergi terlalu cepat sebelum bertemu dengan dia. Saya yakin, Bapak akan bangga punya menantu seperti dia.

Saya sangat rindu bercerita banyak hal, apapun, dengan Bapak, seperti yang selalu kita lakukan. Saya terkadang lupa kalau Bapak sudah tidak bisa menelepon saya lagi seperti biasanya. Saya terkadang masih sering mbatin kok Bapak sudah lama ya tidak menelepon saya. Lalu saya tersadar, sudah 9 tahun tidak bisa mendengar suara Bapak. Setelahnya saya hanya menangis, memendam kembali rindu ingin berbicara dengan Bapak. Setiap bercerita tentang Bapak, airmata tetap mengalir. Padahal yang saya ceritakan adalah hal – hal yang lucu. Rindu dan tidak bisa bertemu adalah perpaduan yang menyakitkan.

Jika saya sedang rindu, seperti siang tadi, saya makan nasi goreng hijau yang biasa Bapak buat untuk saya dan adik – adik. Setiap tanggal Bapak pergi, saya selalu makan nasi goreng ini, Pak. Semuanya masih sama saya ikuti persis seperti yang Bapak lakukan. Bumbu sama persis meskipun cabe rawit hijau di sini tidak sepedas di Indoensia, masih menggunakan daun jeruk, semua diuleg kasar bukan diblender, bumbu dioseng agak kering sebelum nasi dimasukkan. Hanya satu yang susah saya ikuti yaitu menggunakan nasi sisa. Bagaimana nasi di rumah bisa bersisa kalau saya masih suka makan nasi dalam jumlah banyak, tidak berubah sejak dulu. Hanya badan yang berubah Pak, tidak semungil saat Bapak masih ada.

Nasi goreng hijau ala Bapak
Nasi goreng hijau ala Bapak

Kami sehat Pak, sekeluarga. Ibu sehat meskipun selalu di rumah saja karena kondisi belum memungkinkan untuk ke mana-mana. Adik juga sehat. Adik yang satu lagi, entah saya tidak tahu, tidak mencoba mencari tahu, dan tidak mau tahu. Dia sudah memilih jalannya sendiri. Saya sudah mengikhlaskan kalau kami tidak bisa seperti dulu lagi. Sudah tidak ada yang perlu dipertahankan. Saya sudah berusaha keras waktu itu, tapi semua saya kembalikan pada dia. Saya lebih baik mundur. Manusia bisa berubah, bahkan yang mempunyai hubungan darah. Bapak tidak usah sedih melihat kami seperti ini. Kami baik – baik saja dengan jalan kami masing – masing.

Keyakinan saya tetap sama, bahwa Bapak masih ada di sekitar sini. Kita memang sudah berbeda alam, tapi saya selalu merasa bahwa Bapak tidak pernah jauh pergi. Setiap hari, setiap langkah, dan setiap cerita, saya hidup bersama kenangan Bapak yang tidak ada cela buat Saya, Ibu, dan adik – adik. Pun dari kesaksian banyak orang yang selalu bercerita bahwa Bapak selama hidup melakukan banyak kebaikan. Tak heran saat Bapak pergi, yang menghantarkan ke kuburan, iringan orang sampai membludak. Meskipun tidak ada di sana saat itu, tapi saya bahagia bahwa banyak orang mengenang Bapak sebagai sosok yang baik. Setiap orang memang tidak ada yang sempurna, namun Bapak buat kami lebih dari sekedar teladan. Bapak menjadi panutan dengan memberi contoh, bukan menyuruh. Kami menghormati Bapak bukan karena takut, tapi karena Bapak sangat penyayang.

Saya rindu, Pak. Sangat. Saya masih mencoba belajar perlahan mengikhlaskan. Saya mencoba mencerna dan memahami selama sembilan tahun ini. Bukan saya tidak bisa menerima yang sudah ditakdirkan. Bukan, Pak. Saya hanya butuh waktu yang entah sampai kapan bisa lebih ikhlas, lebih lepas.

Sudah sembilan tahun Pak, rasanya masih baru saja. Insya Allah nanti pada saatnya kita akan dipertemukan kembali dan saya akan bercerita langsung, hal yang tidak bisa saya lakukan sejak Bapak pergi. Sekarang, saya akan selalu ceritakan semua kebaikan Bapak pada siapapun, juga pada cucu – cucu Bapak.

Bapak akan selalu hidup dalam kenangan baik disetiap langkah kami.

-6 Januari 2021-

Tentang Berita Kematian

Tahun ini, terasa lebih berat buat saya dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Banyak sekali kabar duka yang saya terima, baik dari kerabat jauh, keluarga, teman, kenalan, bahkan sahabat. Setahun terakhir, rasanya gelap suasana hati, meskipun banyak juga kebahagiaan yang saya dapatkan. Pikiran saya terpecah dan sangat sedih sampai berhari – hari, menangis, dan jadi ngelangut. Menerima berita duka, buat saya menjadi sebuah cerita tersendiri. Ada semacam ketakutan. Dulu, kematian saya maknai sebagai sebuah proses perjalanan yang harus dilalui setiap makhluk hidup. Mutlak. Sudah sesederhana itu saya berpikirnya. Tetapi sejak 9 tahun lalu, semua jadi berubah.

Berita meninggalnya sepupu dekat tanpa sakit sebelumnya, membuat saya sangat berduka selama beberapa bulan. Saya mulai mempertanyakan banyak hal. Kenapa dia harus meninggal cepat, kenapa harus meninggal mendadak, kenapa semuda itu sudah berpulang, kenapa ini kenapa itu. Saya semacam menggugat kewenangan Yang Kuasa atas nyawa yang diberikan pada MakhlukNya lalu bisa mengambilnya sewaktu – waktu tanpa pemberitahuan di awal. Hanya berselang beberapa bulan kemudian, Bapak meninggal. Tanpa sakit juga, secara tiba – tiba. Saya semakin linglung. Makin berpikir sebenarnya ada apa ini dengan hidup kok semacam naik turun seperti permainan halilintar di Dufan. Naik perlahan trus melorotnya sangat cepat.

Sejak 9 tahun lalu, otak saya tidak berhenti berpikir tentang kematian. Saya ketakutan dan setiap waktu selalu terbersit bagaimana kalau menerima berita duka. Saya susah menggambarkan dengan tulisan. Jadi kalau saya deskripsikan, setiap langkah saya, rasanya di punggung itu seperti ada bayangan kematian yang selalu mengikuti. Bukan takut diri sendiri akan mati, tapi memikirkan orang yang saya kenal akan meninggal. Jika saya berkumpul dengan teman – teman atau saudara atau siapapun itu, jadi suka berpikir : jangan – jangan ini terakhir saya ketemu mereka. Lalu saya menjadi ketakutan dan cemas berlebihan jika yang saya pikirkan jadi kenyataan.

Efek positifnya, saya jadi benar – benar memaksimalkan momen. Saya berpikir umur tidak ada yang tahu, jadi ingin berbuat baik selalu, berprasangka baik, ingin bermanfaat, ingin membuat senang orang – orang sekitar, selalu memaksimalkan apa yang saya lakukan dan kerjakan, memaksimalkan waktu bersama keluarga. Saya tidak pernah tahu apa yang akan terjadi sedetik kemudian.

Tapi yang saya rasakan tentang dibayangi ketakutan menerima berita duka selama 9 tahun ini, hidup saya jadi berat secara mental. Lelah. Saya berjuang keras keluar dari bayangan ini. Berusaha keras untuk lepas dari rasa takut. Meminta bantuan professional, sudah beberapa kali saya lakukan selama 9 tahun ini. Segala cara sudah saya lakukan. Selama ini, semua saya pendam sendiri. Hampir tidak pernah saya ceritakan perihal yang mengganggu hidup pada siapapun (kecuali pada professional tersebut), termasuk suami.

Sampai setahun lalu, tepatnya bulan November, saya ceritakan semuanya perihal ini pada suami. Dia terkejut karena selama ini saya nampak baik – baik saja. Tidak pernah terbersit saya menyimpan beban yang sebegitu berat. Saya simpan sendiri dan berlaku seperti tidak ada apa – apa. Saya tidak ada maksud menyembunyikan apapun pada suami karena menurut saya ini bukan hal yang besar. Saya pikir karena saya sudah pernah melakukan terapi, konseling, dan seiring berjalannya waktu, akan semakin berkurang dan hilang. Tapi setahun lalu, ketakutan ini semakin menjadi. Saya jadi sering menangis, perasaan jadi semakin gelap, semakin takut kalau orang terdekat, teman, keluarga dekat tiba – tiba meninggal. Semakin gampang cemas, jantung gampang berdebar. Ketakutan yang sampai mengganggu aktifitas harian, makin sering mimpi buruk, tapi kok ya anehnya selera makan saya tidak berubah. Tetap doyan makan.

Saya ini mendem njero kalau kata orang Jawa. Ada hal – hal yang bisa saya ceritakan, ada banyak hal yang saya pikir lebih baik saya simpan sendiri. Itu kenapa saya tidak terlalu punya banyak teman karena saya tidak terlalu suka bercerita yang macam – macam dan kumpul – kumpul. Dengan suami, saya bisa bercerita banyak hal, semuanya.

Saya susah menjelaskan lewat tulisan sebenarnya apa yang saya alami dan rasakan ini. Semoga gambaran yang saya uraikan di atas bisa ditangkap, sedikit ada bayangan. Setahun ini, kabar duka seperti bertubi datangnya. Saya seperti orang linglung setiap menerima kabar duka apalagi dari mereka yang saya kenal dekat. Apalagi membaca berita yang berkaitan dengan Pandemi. Itulah kenapa saya sangat menyibukkan diri supaya pikiran saya tidak hanya fokus pada hal – hal yang menyangkut kematian. Aktifitas harian saya sebenarnya sudah padat, tapi tahun ini semakin saya tambahi supaya lebih padat lagi. Saya melakukan apapun yang ingin dilakukan supaya pikiran tidak fokus pada satu hal itu. Ada masanya juga saya menarik diri sejenak dari media sosial, untuk menenangkan diri. Ada masanya saya aktif lagi. Jadi saya ikuti saja maunya hati bagaimana. Setelah dipikir lagi, tulisan saya tahun ini pun kayaknya temanya gelap. Banyak cerita sedihnya.

Pandemi sialan ini, makin membuat mental saya berjalan tak tentu arah. Saya bisa bilang bahwa tahun ini saya tidak baik – baik saja, secara mental. Badan saya sehat, jiwa saya tidak. Sebenarnya selama 9 tahun terakhir inipun saya juga tidak baik – baik saja, berjuang merelakan kepergian Bapak dan berjuang keluar dari perihal berita duka. Tapi setahun ini, semakin tidak baik. Saya memutuskan untuk menulis di sini pun sudah saya pikirkan berulang. Saya menulis juga salah satu sarana terapi diri.

Saya selalu merasa terharu kalau ada yang berkirim pesan : Den, gimana kabarnya, sehat, baik – baik saja? Mata saya selalu berair membaca pesan singkat itu, dari siapapun. Terutama setahun terakhir ini. Merasa tulisan satu baris tersebut sangat bermakna. Terima kasih pada siapapun yang telah bertanya kabar dan berkirim pesan pada saya selama ini. Terima kasih.

Ada sebuah toko yang selalu saya datangi untuk membeli kartu ucapan. Seringnya, yang saya beli di sana adalah kartu ucapan selamat ulang tahun, kelahiran, dan ucapan Natal serta tahun baru. Setahun ini, saya ke toko itu seringnya membeli kartu ucapan duka cita.

Sebulan terakhir, saya menerima kabar duka dari 10 orang : kerabat, teman, kenalan, teman dekat, bahkan sahabat. Mereka kehilangan Ibu/Bapak/Suaminya. Hati saya pedih sekali. Bahkan beberapa teman di sini kehilangan Bapak/Ibunya di Indonesia tapi tidak bisa pulang ke Indonesia karena Pandemi. Saat saya menuliskan kartu ucapan bela sungkawa, saya menulis sambil menangis. Perih rasanya hati saya membayangkan mereka tidak bisa bersama Bapak/Ibu untuk terakhir kali, bahkan tertunda pulang ke Indonesia.

Kemarin, saya ke toko tersebut untuk kedua kalinya dalam sebulan ini. Membeli 3 buah kartu ucapan duka. Saat memilih kartu di rak, mata saya berair. Saya tidak kuasa menahan tangis. Dalam waktu seminggu, beruntun 3 kabar duka saya terima. Terakhir yang saya terima beberapa hari lalu dari sahabat yang Ibunya meninggal. Patah hati ini karena saya mengenal Beliau. Kami bersahabat selama 21 tahun, jadi keluarga dia sudah saya anggap keluarga sendiri karena kami sama-sama kenal dekat. Saya benar – benar berduka. Berat rasanya hati, sangat pedih.

Ketika membayar, kasir menghitung jumlah kartu yang saya beli. Lalu dia berucap : Gecondoleerd, sterkte! – Turut berduka cita. Yang kuat ya. Untung pakai masker, jadi dia tidak tahu kalau saya sudah sangat menahan tangis. Saat berjalan kaki pulang ke rumah, saya sudah tidak sanggup menahan air mata. Rasanya sedih dan perih yang ada di hati. Saya berucap dalam hati : Tuhan, tolong cukupkan sampai di sini berita duka yang saya terima. Cukup, ini sudah terlalu banyak. Tolong berikan kesehatan yang baik dan keselamatan buat kami semua. Tolong bantu kami melewati pandemi ini Tuhan. Tolong kuatkan saya juga saat menerima berita duka. Tolong. Ini tidak mudah buat saya.

Untuk siapapun yang sedang berduka, berkabung, doa saya bersama kalian. Semoga dikuatkan. Turut berduka cita.

Semoga kesehatan yang baik selalu menyertai kita semua dan keluarga.

– 11 Desember 2020-

Tujuh Tahun Mengenalmu

Kalau sudah masuk bulan November, tidak mungkin kami tidak membicarakan bulan yang menjadi awal pijakan hubungan yang sudah berjalan selama 7 tahun. Awal perkenalan kami terjadi pada akhir bulan November, tujuh tahun lalu. Sebulan setelah saya gagal menikah. Sempat minim komunikasi pada bulan Desember karena saya sedang khusyuk belajar menjelang Ujian Akhir Semester dan kejar setoran menyelesaikan proposal tesis yang bolak balik ganti topik sampai lelah hayati. UAS pun ada satu mata kuliah momok yang harus diulang karena waktu ujian awal mendapatkan nilai C. Operasional Riset, kamu selalu menghantuiku, ga di S1 ga di S2, mueessttiii entuk elek. hih! untung setelah diulang, nilai untuk OR dapat A. Padahal pas ngulang selama 6 bulan, dosennya full pakai bahasa Inggris dan semua tugas pakai bahasa Inggris. Saya ikut kelas Internasional, tak ada pilihan. Matek koen, bahasa Indonesia ae entuk C, ndahnio bahasa Inggris, apa yang kau perjuangkan kisanak! Eh ternyata malah dapat A. Ternyata lebih cocok kuliah pakai bahasa Inggris. Mungkin saya sudah lupa bahasa Ibu dan lebih nyantol pakai bahasa Inggris *diunfollow berjamaah

Duh malah ngalor ngidul. Ya karena saya lebih fokus pada kuliah dan kok ya waktu itu dia lagi ada proyek kantor yang kejar tayang dan liburan ke Turki selama 1 minggu, walhasil Desember kami minim komunikasi. Sangat minim. Bulan Januari selesai UAS dan saya libur kuliah, kami kembali saling berkabar. Status masih berteman saat itu. Setelahnya waktu berjalan sangat cepat. Sat Set. Dia melamar ke Ibu bulan Februari dengan hasil ditolak Ibu dan saya masih mau mikir-mikir lagi (Guayaaa haha) karena banyak pertimbangan waktu itu. Bulan Mei dia melamar kedua kali, saya memberikan jawaban iya tapi Ibu belum sepenuhnya merestui. Agustus kami menikah, Ibu tetap belum sepenuhnya merestui. Ibu baru benar – benar merestui kami saat Beliau datang ke Belanda 3 tahun lalu.

Saya Ujian proposal tesis bulan September, ujian bahasa Belanda bulan Oktober, ngurus dokumen – dokumen pindah, ngurus ujian tesis, visa turun bulan November tapi saya belum bisa berangkat ke Belanda karena belum ujian tesis, Januari awal ujian tesis, akhir Januari pindah ke Belanda. Jadi ketika saya pindah ke Belanda, sudah selesai apa yang saya mulai yaitu lulus S2.

Kalau dipikir lagi, saya nekat juga ya. Dalam waktu sebegitu singkat (dalam waktu satu tahun dari komunikasi aktif sampai pindah) yakin kalau manusia ini adalah the one. Yakin meninggalkan apa yang sudah saya rintis di Indonesia, karir, dan kehidupan pribadi. Sebenarnya tidak nekat karena semua sudah dipikirkan secara matang. Kalau ditanya kenapa saat itu yakin dengan dia, ya saya melihat apa yang di depan mata saja. Dari awal kami membicarakan semuanya, bahkan sebelum saya memutuskan untuk menjawab iya untuk menikah dengannya. Saya melihat bahwa kami mempunyai beberapa persamaan pandangan dan banyak perbedaan tentu saja. Hubungan jarak jauh kami 7 tahun lalu minim komunikasi karena beda zona waktu dan kami sibuk dengan kegiatan masing – masing. Saya dengan dunia perkuliahan dan kerja. Dia dengan dunia kerja, musik, dan politik. Sudahlah beda zona waktu, kami sibuk, saya males pula kalau musti bangun malam waktu Indonesia untuk ngobrol sama dia yang baru pulang kerja waktu Belanda. Jadi komunikasi yang efektif bagi kami waktu itu adalah email dan WhatsApp sesempatnya. Telepon cuma 2 minggu sekali. Tidak pernah Video Call an. Kami sama-sama tidak suka.

Awal November lalu, sahabat saya mengirimkan catatan yang dia temukan kembali. Catatan akhir Januari 2014. Sahabat saya ini saksi perjalanan kami dari awal sampai saat ini. Jatuh bangun yang bisa saya ceritakan. Waktu itu saya bercerita ke dia kalau sedang dekat dengan seorang pria tapi masih belum yakin apa saya suka dia, atau dia juga suka saya. Semua masih ragu. Lha kok minggu depannya si pria ini melamar saya langsung ke Ibu.

Selain faktor kami memang sudah garisnya berjodoh (semoga berjodoh sampai ujung waktu), juga mungkin kami sama – sama easy going. Lumayan menyenangkan berhubungan dengannya. Santai dan sangat santai menghadapi saya yang penuh kobaran api :)))) Saat ini kobaran apinya sudah sangat jauh meredup. Berkat bimbingan jatuh bangun kehidupan dan kesabarannya menemani setiap fase hidup yang saya jalani sampai saat ini.

Dia bukan termasuk pria romantis yang penuh kata-kata manis dan setiap waktu memberikan bunga. Dia romantis dengan caranya yang sering tak terduga. Misalkan pulang kantor lalu membawakan roti kesukaan saya dari toko roti favorit. Padahal letak kantornya beda arah dengan toko ini. Saya merasa, selalu dia fikirkan. Atau membebaskan atas apapun yang ingin saya lakukan. Dia mendukung semua rencana dan impian yang ingin saya raih. Dia humoris, dengan wajah tanpa ekspresi lalu bercerita suatu hal dan membuat saya terpingkal. Entah dia yang pandai melucu atau selera humor saya yang gampangan. Dia penuh tanggungjawab dan sangat berdedikasi pada keluarga. Dia ulet dan pantang menyerah. Waktu kenal saya, dia tiba – tiba bilang, “Aku punya rencana kuliah S2. Jadi nanti kita bisa lulus ditahun yang sama.” Benar saja, saya lulus S2 bulan Januari, dia lulus bulan Juli, ditahun yang sama. Kemampuannya menciptakan lagu dan bermain musik, salah satu yang membuat saya meleleh. Buat saya, pria yang bisa main alat musik itu, berbeda. Apalagi kalau dia pintar, nilainya plus plus di mata saya. Mudah – mudahan saya juga bernilai plus plus di mata dia *ga mau kalah. Dia menciptakan lagu khusus untuk pernikahan kami dan menyanyikan langsung saat resepsi pernikahan.

Mengenal dia selama tujuh tahun, membuat hidup saya jauh lebih baik secara emosi dan spiritual. Bukan karena dia lalu saya ingin berubah, tapi saya berusaha menjadi lebih baik untuk diri sendiri. Sekarang saya jauh lebih tenang, lebih bisa menata diri, lebih mampu menahan diri, dan lebih sabar. Dia juga jauh lebih baik sekarang. Kami sama-sama belajar semakin baik waktu demi waktu. Selama tujuh tahun mengenal, kami tumbuh jadi individu yang lebih baik. Naik turun dalam kurun waktu tersebut, jelas kami alami. Sampai sekarang, diantara banyak peristiwa besar yang menguji pernikahan, kami tetap bersama dan semoga makin dikuatkan. Kebersamaan kami sampai saat ini (dan banyak tahun mendatang) adalah hasil kerja keras berdua. Tetap banyak hal baru yang membuat kami terkejut, sampai saat ini. Hidup ini penuh pembelajaran bukan, termasuk tidak pernah berhenti belajar mengenal pasangan.

Tanggal perkenalan ini, sakral bagi kami. Selalu kami peringati setelah ulang tahun pernikahan, ulang bulan, dan tanggal perkenalan. Kami memang suka merayakan apapun, termasuk tanggal yang mengesankan. Tanggal perkenalan, kami jadikan mahar mas kawin. Hari ini saya memasak pecel pitik dan cookies coklat. Pecel pitik ini, kalau di desa mbah, dimaknai sebagai makanan untuk perayaan besar seperti lebaran. Jadi saya masak pecel pitik karena kami merayakan tujuh tahun kebersamaan. Kalau cookies, maknanya, apapun yang telah dan akan kami lewati, hal – hal manis selalu dan tetap menyertai.

Tahun lalu, saat ulangtahun pernikahan kami ke 5, dia memberikan tulisan ini pada saya. Setelahnya, saya lupa menyimpan di mana sampai beberapa minggu lalu saya temukan di tumpukan buku dalam rak. Saya baca berulang, hati saya menghangat, dan mulut tersenyum. Saya terberkati mengenal dia, hidup bersamanya, pria penyayang keluarga. Sampai saat ini, saya masih suka tersipu kalau dia mengucapkan hal yang manis atau merasakan sensasi kupu – kupu beterbangan di perut saat dia memuji sesuatu. Rasanya seperti jatuh cinta pada dia saat pertama kali.

Tadi pagi, dia mengucapkan selamat tujuh tahun perkenalan pertama. Ucapan yang saya terima dari dia : Terima kasih untuk 7 tahun yang sudah terlewati dengan baik, naik dan turun, susah senang, dan banyak bahagia. Terima kasih atas tujuh tahun penuh cinta dan sama – sama belajar menjadi lebih baik. Semoga kita tetap bersama sampai ujung waktu, menua bersama dalam keadaan sehat dan bahagia.

Semoga.

-30 Nopember 2020-

Pohon Natal Kami

Pohon Natal Kami

Salah satu yang membuat antusias bulan November ini adalah kami memutuskan untuk memasang kembali pohon Natal setelah dua tahun berturut tidak memungkinkan untuk mendekorasi. Keputusannya juga baru dua minggu lalu, dadakan karena melihat kondisi sudah memungkinkan. Seperti yang saya sebutkan pada tulisan sebelumnya, sejak minggu kedua November, kami sudah mulai mengumpulkan kembali pernak pernik untuk pohon Natal yang tersimpan di gudang, beserta pohonnya. Lalu akhir minggu lalu, kami mulai mencicil untuk menghiasnya.

Pohon ini sudah kami miliki sejak tahun 2015, jadi usianya sudah 5 tahun. Pohon yang terbuat dari plastik ini, biasanya mulai kami pasang minggu ketiga November. Sebenarnya, kalau mau mengikuti tradisi di sini, pohon Natal baru mulai dipasang setelah Pakjesavond atau malam ulangtahun Sinterklaas. Jadi saat Sinterklaas kembali ke Spanyol tanggal 6 Desember, nah orang Belanda baru mulai pasang pohon Natal sampai tanggal 25 Desember. Jadi cuma sekitar 3 minggu saja. Saya melihat tempat yang biasanya menjual pohon asli dekat rumah, belum buka lapak. Mungkin baru minggu depan.

Kami beda, bikin aturan sendiri haha. Mikirnya, kalau cuma 3 minggu, terlalu singkat sekali menikmati suasana rumah yang hangat karena warna warni pantulan cahaya pada pernak pernik yang ada pada pohon Natal. Betul lho, memandangi lampu kerlap kerlip dan pantulan cahaya pada dekorasinya, membuat hati menghangat. Rasanya cozy. Hal ini membuat rasa depresif karena cuaca dan suasana suram menuju musim dingin jadi berkurang.

Kali ini, saya tidak terlalu dominan ikut serta menghias. Cukup jadi pengamat saja sambil tetap menjaga situasi tetap kondusif jangan sampai terjadi huru hara semacam pohon rubuh atau bola – bola nya berjatuhan lalu pecah. Jadi peran saya kali ini hanya 15% saja. Sangat menyenangkan, semua antusias menghias lalu setelah 3 hari dicicil dan semua hiasan terpasang, setiap saat mereka mengagumi hasil karyanya. Sesekali bergumam : Mooi he! atau kijkt, het is super mooi! atau menyentuh sesekali hiasannya sambil menyebutkan ini warna apa, itu warna apa atau menyebutkan bentuk-bentuknya. Semua bergembira.

Pohon sudah terpasang, minggu depan adalah Pakjesavond atau Sinterklaasfeest. Pesta ulangtahun Sinterklaas. Saya sudah tidak sabar. Kado-kado sudah selesai kami bungkus, sudah kami taruh kantong. Tahun lalu kami dapat sumbangan kado dari tetangga, banyak sekali. Dari Mama mertua juga. Tahun ini, belum nampak sumbangannya, hahaha ngarep. Tahun lalu, Suami pura-puranya jadi Sinterklaas yang gedor-gedor pintu membawa kantong berisi kado – kado. Saya merekam sambil menahan tertawa.

Supaya tidak membingungkan, saya ceritakan berurut ya perihal Sinterklaas ini, menurut pemahaman saya tentunya. Jadi, Sinterklaas datang ke Belanda setelah perayaan Sint Martin tanggal 11 November. Tepatnya Hari Sabtu setelah tanggal tersebut. Jadi Sinterklaas datangnya selalu hari Sabtu. Saat Sinterklaas datang ke Belanda dari Spanyol naik kapal laut, dia akan bagi – bagi coklat, permen, segala makanan kecil yang manis. Nah, setelah Sinterklaas datang, dimulai tradisi menaruh sepatu saat malam, mengisinya dengan rumput kering atau menaruh wortel atau air di wadah sebagai makanan kudanya Sinterklaas. Hal ini juga kami lakukan. Keesokan harinya, akan terlihat di dalam sepatu sudah ada hadiah misalkan coklat atau hadiah kecil lainnya. Menaruh sepatu ini akan berlanjut sampai 5 Desember pagi. Nah 5 Desember malam yang disebut Pakjesavond atau Sinterklaasfeest itulah pesta ulang tahun Sinterklaas yang ceritanya akan bagi-bagi kado. Pada tanggal 6 Desember, Sinterklaas kembali pulang ke Spanyol. Mudah-mudahan tidak bingung ya. Jadi Sinterklaasfeest ini gaungnya lebih terasa dibandingkan hari Natal tanggal 25 Desember. Kalau Natal, seperti biasa kumpul keluarga makan malam bersama, mungkin juga buka kado bersama.

Saya yang baru tahu cerita dan urutan ini beberapa tahun terakhir lumayan tertarik juga meskipun tidak sampai mendalami sejarahnya bagaimana sampai detail. Hal baru buat saya. Sinterklaas dulunya bernama Sint Nicolaas lalu berubah menjadi Sinterklaas.

Sejak dua minggu lalu, rumah kami juga mulai memutar lagu – lagu Sinterklaas dan Natal dalam bahasa Belanda. Kalau pagi kami mendengarkan dari radio sampai sore. Malam setelah menonton berita, kami menonton lagu – lagu dari YouTube. Saya sampai hapal liriknya. Mendengarkan nyanyian tersebut sambil memandangi pohon berwarna warni, hati jadi senang dan riang. Hati menghangat.

Meskipun tahun ini kami tidak bisa pergi ke pasar Natal seperti yang biasa kami lakukan setiap tahun karena pasar Natal pun tidak ada yang buka disebabkan Pandemi, pemasangan pohon Natal kembali tahun ini di rumah kami, membuat suasana di rumah tetap antusias melewati perayaan setiap perayaan saat bulan November dan Desember.

Sekian dulu cerita pohon Natal kami yang merembet cerita ke mana – mana. Nanti akan saya tuliskan cerita saat Paksjesavond atau Sinterklaasfeest.

Selamat berakhir pekan.

-26 November 2020-

Cerita – Cerita Ringan Terkini

Judule kok elek yo. Wes ben, sing penting isine

Setelah cerita ringan sebelumnya tentang merendah untuk meninggi, episode cerita ringan dilanjutkan di tulisan kali ini. Beberapa hal yang ingin saya ceritakan di sini :

  • BELI BUKU BAHASA INDONESIA BANYAK SEKALI

Tahun depan belum tentu bisa pulang ke Indonesia, meskipun sangat berharap dunia sudah membaik, vaksin ditemukan, Indonesia keadaannya lebih baik, tapi saya tidak terlalu menaruh harapan terlalu tinggi. Dengan kondisi tersebut, saya memutuskan untuk membeli beberapa barang di Indonesia termasuk makanan macam ikan – ikan asin, petis ikan, bahkan buku – buku dalam bahasa Indonesia. Buku ini adalah buku anak – anak, novel, dan buku non fiksi. Saking banyaknya yang dibeli, sepupu saya sampai heran apa mau dijual lagi di sini haha. Belum lagi dikasih Maya lungsuran buku – bukunya. Makin senang. Kirim ke Belanda pakai cargo laut. Lumayan, harganya masih terjangkau. Lama pengiriman 6-8 minggu. Tak sabar barangnya sampai di sini. Tidak sabar membaca buku – buku tersebut.

  • BELAJAR BAHASA BELANDA (LAGI) UNTUK PERSIAPAN UJIAN B2

Awal tahun 2020 saya sudah ada rencana, tahun ini akan ikut ujian bahasa Belanda level B2. Sudah mendaftar di kelas gratisan yang diadakan oleh perpustakaan lokal yang merupakan program dari gemeente. Lah trus Corona menyerang, kelasnya ditutup sementara, lalu saya lupa dengan niatan ujian tersebut haha gampang terdistraksi. Trus ingat lagi beberapa minggu lalu. Akhirnya mulai belajar lagi karena kelas gratisannya sudah dibuka kembali. Baru juga masuk seminggu, perpustakaan musti tutup selama dua minggu. Cobaan menuju masa depan cemerlang memanglah ini *lebaayy buukk :))). Minggu depan konon perpustakaan sudah dibuka lagi. Jadi bisa masuk kelas lagi. Untuk ujian B2, saya cari yang gratisan saja. Bukupun gratisan. Saya kalau belajar bahasa baru, mending bertemu lawan bicara. Tidak bisa kalau belajar sendiri. Tidak bisa dalam artian, butuh praktek yang lebih banyak. Kalau belajar sendiri, banyak malesnya. Buat apa tho ujian B2, apa mau sekolah lagi? Bisa jadi. Niatan sampai saat ini ya supaya ada motivasi supaya bahasa Belanda saya lebih baik lagi. Kalau tahun depan bisa sekolah lagi, jadi tidak repot – repot musti ujian dadakan.

  • MULAI MENGHIAS POHON NATAL

Akhirnya, setelah 2 tahun absen pasang pohon natal, tahun ini kami bisa pasang lagi. Semua antusias ingin menghias. Pohonnya baru dikeluarkan dari gudang, printilannya juga. Kalau ada yang kurang, langsung beli di toko retail dekat rumah. Tidak sabar pohon Natal mejeng kembali di rumah.

  • BUNGKUS – BUNGKUS KADO UNTUK PAKJESAVOND

Ini juga saya antusias sekali. Mulai membungkus kado – kado untuk Pakjesavond. Jadi tanggal 5 Desember itu ulangtahun Sinterklaas, yang ceritanya akan bagi – bagi kado untuk anak – anak. Tanggal 6 Desember, dia akan kembali lagi ke Spanyol. Seru sih tradisi ini buat kami. Tahun lalu kami dapat sumbangan banyak sekali kado dari tetangga sebelah dan dari Oma. Tahun ini belum tahu. Sebenarnya bukan kadonya yang bikin seru, tapi suami yang pura-pura jadi sinterklaas lalu bawa karung isi kado, masuk rumah sambil gedor-gedor pintu haha kocak. Tahun lalu saya merekam, kalau dilihat lagi jadi tertawa semua.

  • TIAP HARI PASANG LAGU – LAGU SINTERKLAAS DAN NATAL

Sudah seminggu ini, di rumah mulai memperdengarkan musik – musik bernuansa Natal dan Sinterklaas. Selalu senang mendengarkannya, apalagi lagu anak – anak dalam bahasa Belanda. Sampai Desember, setiap hari bernuansa Natal terus ini

  • MENULIS KARTU NATAL

Salah satu kegiatan yang saya suka menjelang Natal yaitu mulai mencicil menulis kartu – kartu Natal dan Tahun Baru untuk dikirimkan ke teman, kerabat yang ada di Belanda maupun di luar Belanda. Mulai dicicil karena yang akan dikirimi lumayan banyak sehingga sampainya juga tepat waktu.

  • TETAP MEMASAK, MEMBUAT ROTI, DAN BERKREASI DI DAPUR

Kegiatan tetap ya ini, berkreasi di dapur. Mencoba menu – menu baru, resep – resep roti yang baru, dan belajar membuat taart. Selain itu, kegiatan bersih – bersih juga tetap berjalan. Minggu lalu saya bersih – bersih halaman depan belakang, potong dahan, menyiangi rumput, menyapu daun kering. Halaman depan belakang sudah rapi sekarang. Bersih – bersih dalam rumah juga. Mulai memilah baju, barang – barang yang jarang terpakai untuk diberikan atau dijual. Lumayan banyak ini dapatnya. Saya selalu bersemangat kalau urusan memilah barang untuk dikeluarkan dari rumah.

  • WAJIB MENGGUNAKAN MASKER DI BELANDA BERLAKU SEJAK 1 DESEMBER 2020

Berita terbaru sehubungan dengan Corona, ada peraturan baru penggunaan masker dalam ruangan di ruang publik akan diwajibkan berlaku sejak 1 Desember 2020. Jika melanggar, akan terkena denda 75 euro. Sebenarnya tidak diwajibkan pun, saat ini jika saya amati, sudah banyak yang menggunakan masker dalam ruang tertutup di ruang umum seperti supermarket, perpustakaan, toko, musium. Bahkan beberapa toko menerapkan aturan tidak boleh masuk ke dalam jika tidak menggunakan masker. Namun jika diwajibkan tentunya lebih baik lagi karena aturan jadi lebih jelas.

  • PEMASANGAN KEMBANG API KEMUNGKINAN AKAN DILARANG TAHUN INI

Sebagai penikmat atraksi kembang api di lingkungan rumah setiap akhir tahun, sedih membayangkan kalau kembang api jadi dilarang, tahun ini tidak bisa menikmati saat pergantian tahun. Saya selalu menikmati dari lantai 3 dan dari kamar tidur dengan membuka korden. Senang melihat warna warninya. Keputusan tentang pelarangan ini jadi apa tidak, baru besok resmi diputuskan.

  • MENIKMATI KEINDAHAN WARNA MUSIM GUGUR

Meskipun suhu mulai dingin dan hujan juga rajin datang, tapi kalau cuaca sedang cerah seperti minggu lalu, kami tidak menyiakan kesempatan dengan bersepeda dan berjalan kaki di sekitar kampung. Kalau tidak ke hutan, ke danau, atau ke kota sebelah. Selain itu, saya juga sempatkan untuk memfoto sampah – sampah daun. Ini sampah kalau musim gugur jadi naik derajat banyak diburu untuk difoto. Cerita musim gugur nanti akan saya tulis terpisah, supaya lebih detail pamer foto – fotonya *terniat.

  • MENYELESAIKAN 3 KURSUS ONLINE

Tahun ini saya mendaftar 4 kursus online. Tiga diantaranya sudah lulus dan mendapatkan sertifikat, satu sisanya masih malas melanjutkan. Tinggal sedikit sih, masih bisalah dikejar sebelum Desember berakhir. Bidang yang saya ambil, 2 masih berhubungan dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Sedangkan 2 lainnya ilmu baru yaitu tentang Neuroscience. Menarik ilmu baru yang saya pelajari ini.

Selain kursus – kursus online tersebut, bulan Desember rencananya saya akan ikut satu ujian untuk mendapatkan sertifikat HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points). Musti ikut kursusnya terlebih dahulu, baru bisa ikut ujiannya. HACCP ini salah satu poinnya paham standar – standar dalam industri makanan sejak awal pemilihan bahan makanan, produksi, sampai hasil akhir. Saya memang tertarik mendapatkan sertifikat ini sejak dulu.

  • MASIH BERJUANG UNTUK LULUS TES MENYETIR MOBIL

Nah ini, masih dalam perjuangan. Untuk urusan menyetir, saya sudah bisa, jauh lebih percaya diri dibandingkan ujian pertama yang gagal. Tapi sudah memenuhi standar penguji atau tidak, itu sudah di luar jangkauan. Meskipun instruktur saya mengatakan cara mengemudi saya sudah ok dan aman, tapi kalau menurut penguji tidak seperti itu, ya wassalam. Semoga ujian yang akan datang saya bisa lulus dan mendapatkan SIM.

  • SELURUH KELUARGA SEHAT

Setelah drama sakit sampai suami tes SWAB yang saya ceritakan pada tulisan ini, setelahnya semua membaik dan kembali sehat sampai saat ini. Mudah – mudahan seterusnya. Sakit dalam situasi saat ini benar – benar horor rasanya. Apalagi yang tidak sakit, capeknya bukan lagi ganda tapi berlipat ganda.

Segitu dulu cerita ringan sehari – hari. Kapan – kapan dilanjut lagi. Sehat – sehat yaa semuanya. Semangat menjalani hari demi hari. Yang sakit semoga segera membaik. Yang kehilangan semoga diberi kekuatan menjalani hari. Semoga kita bisa menjadi berkah buat diri sendiri, keluarga, dan orang lain.

-12 November 2020-

Tidak Perlu Merendah Untuk Meninggi

Autumn 2020

Kali ini saya mau menulis yang retjeh-retjeh saja. Bahasan tentang manusia tertentu yang seringkali merendah untuk meninggi. Saya selalu punya masalah tersendiri dengan tipe orang seperti ini. Saya yang bermasalah, bukan mereka. Rasanya ingin misuh-misuh kalau berjumpa di dunia nyata maupun di dunia maya. Pasti pernah ketemu kan dengan manusia tipe ini? Atau kalian yang membaca tulisan ini penah jadi salah satu pelakunya *belum apa-apa langsung menuduh.

Biasanya kalau lagi kesel baca keterangan atau omongan mereka, langsung saya samber saja dengan kalimat sepedas omongan tetangga. Kalau lagi males ya saya tinggal pergi. Lha males nanggepi kan. Misal :

  • Berat Badan

Pengen ngatain orang yang nulis di keterangan foto, misal : Berat Badan nambah 5kg nih padahal cuma makan pete sama sambel aja. Sebel badanku jadi kelihatan gendut di foto, lemak terasa bergelantungan.

Kenyataannya saudara sebangsa setanah air, nampak di foto badannya langsing dengan bentuk yang nyaris sempurna. Lha gendut e sebelah endi lak ngono, lemak bergelantungan iku maksude gelantungan nang pasar ta yok opo. Ini memang roaming ya yang tidak paham bahasa Jawa. Karena uneg-uneg akan lebih tersampaikan kalau saya pakai bahasa Jatim an. Pengen dipuja puji kok sedemikian hingga caranya.

Atau ada lagi kalau ketemu langsung, bilang seperti ini : Aku nih ketok gendut yo Den, naik 1kg lho. Sekarang BB ku jadi 46kg. Batinku : Awakmu apik koyok ngono kok rumongso gendut, waras ta yok opo mikirmu. Kalau saya males basa basi biasanya saya jawab : Iyo, ketok lemu.

Wes sak karepmu, males komen aku.

  • Foto Diri

Ada yang pasang foto diri dengan dandanan yang bagus dan memang mukanya cantik. Eleganlah pokoknya. Lalu keterangannya, misalkan : Dandananku kok elek ya, mukaku kayak orang capek. Ga seger.

Meminjam kata-kata Kak Timmy yang populer di jagad Twitter : Stevie Wonder juga bisa ngelihat kalau kamu cantik. Baca komen-komen yang meyakinkan kalau dia cantik dengan dandanan seperti itu, dia tetap menyanggah kalau dia merasa tidak cantik. Trus saya komen : Lek dirimu merasa ga cantik, yo mungkin ancene asline nggak.

Bwuahaha jahat ya. Jarno. Lha semua komen yang masuk bilang cantik dia masih menyanggah, trus opooo karepmu.

  • Hasil Masakan

Hasil masakan lengkap satu meja penuh, dengan tulisan : masakan sederhana, apa adanya.

Hasil masakannya : ayam goreng, sate ayam, cap cay, nasi goreng, rendang, gulai, tahu, tempe, sambel, lalapan, ikan goreng, dll. Lalu saya akan komen : Masakan Restoran Sederhana ya maksudnya, apa adanya di sana lalu dibeli semua, jadi semeja makan.

Mangkelno yo komenku. Lha makanan lengkap sak meja penuh, sederhananya dilihat dari sudut apa.

  • Saling Memuji Tanpa Henti

Pasti pernah tahu keadaan seperti ini. Dalam satu pembicaraan, ada beberapa orang yang saling memuji tiada henti. Karya mereka bagus – bagus semua :

A : Lukisanmu bagus sekali itu, punyaku catnya ga rata, jadinya njlembret semua.

B : Ga lah, punyamu lebih bagus dari punyaku. Lihat ini punyaku ga kelihatan objek lukisannya kayak apa

A : Duh, ga bisa dibandingkan lah. Punyamu lebih bagus

B : Nggak, punyamu yang lebih bagus

………………. begitu seterusnya sampai Ahok jadi presiden RI.

Kalau dipuji begitu, biasanya saya akan ucapkan terima kasih. Kalau memang saya merasa hasil yang saya kerjakan bagus, ya saya akan komen hal lainnya misalkan : ini nampak bagus karena perpaduan cat A, B, C. Saya memang ada bibit congkak sih, jadi kalau dipuji tidak pernah merendah hahaha *congkak kok bangga. Ya buat apa merendah kan kalau hasil kerja keras kita memang bagus adanya. Ucapkan saja terima kasih pada yang memuji. Lalu berikan apresiasi juga pada hasil karya orang lain.

Autumn 2020
Autumn 2020

Itu hanya beberapa contoh ya, aslinya saya masih banyak contoh lainnya. Cuma terlalu panjang kalau saya tuliskan. Dari hasil pengamatan saya selama ini, tipe manusia seperti ini disebabkan karena 3 hal :

  • Memang Haus Pujian

Mereka sudah tau kalau punya kemampuan dan kapasitas yang lebih, hasil karya yang bagus, tapi karena memang ingin disanjung-sanjung, jadi mengeluarkan jurus merendah untuk meninggi. Mereka sudah punya kecenderungan sifat seperti ini. Biasanya sudah saya tandai, sudah tercium gelagatnya. Aslinya pengen pamer, tapi disamarkan dengan nampak direndahkan.

  • Tidak Percaya Diri

Mereka memang tidak percaya diri karena tidak pernah mendapatkan pujian dalam kehidupan nyata, misalnya. Jadi untuk menaikkan rasa percaya dirinya, dengan mengunggah di dunia maya supaya mendapatkan pujian, jadi rasa percaya dirinya meningkat.

  • Tidak Sadar Kalau Sedang Merendah Untuk Meninggi

Mungkin saya pernah di posisi seperti ini. Mungkin ya, tapi rasanya tidak pernah. Mungkin memang aslinya tidak sedang pamer, tapi penangkapan orang beda. Ya mungkin itu juga yang terjadi pada saya yang bermasalah dengan orang merendah untuk tinggi. Mungkin mereka tidak seperti itu, cuma saya yang terlalu berprasangka.

Saya berkomentar pedas ke orang yang tercium gelagat merendah untuk meninggi itu bukan ke sembarang orang ya, hanya ke orang – orang yang sudah saya kenal sebelumnya. Saya mencoba tidak berkata pedas seperti itu ke orang – orang yang tidak saya kenal karena tidak tahu latar belakang mereka seperti apa. Saya judes pun masih mikir. Paling kalau membaca atau bertemu orang seperti itu, saya akan diam saja. Memakai jurus : Sak karepmu.

Sekian tulisan receh minim mutu. Sesekali blog ini ditulis dengan hal -hal yang ringan saja, jangan hal – hal yang selalu bermutu (nah kalau begini, keluar congkak saya). Nanti kalau diisi tulisan terlalu bermutu, dipikir yang punya blog hidupnya lurus dan positif terus. Padahal ya saya ini manusia penuh gemilang dosa, sering judes dan disengaja untuk khilaf.

Jadi wahai umat manusia, kurang-kurangi sifat merendah untuk meninggi. Tidak perlu sungkan kalau mau pamer. Pamer adalah hal yang wajar. Perkara nanti dikomentari pedas oleh netijen, itu perkara lain. Resiko.

Ada yang mau berbagi cerita di kolom komen tentang orang seperti ini?

Selamat memulai minggu dan bulan baru, sehat-sehat selalu.

-1 November 2020-

Cerita Tes SWAB Covid-19 di Keluarga Kami

Tidak menyangka, salah satu anggota keluarga (pada akhirnya) ada yang bersinggungan dengan SWAB test. Baiklah, akan saya ceritakan runut dari awal ya.

Hampir 2 minggu ini, Belanda menerapkan parsial lockdown. Ada beberapa yang mulai diperketat yaitu horeca ditutup (hanya boleh pesan bawa pulang), penerapan jam malam beraktifitas di luar (maksimal sampai jam 8 malam), menerima tamu maksimal 3 orang dalam satu hari (tidak termasuk anak-anak), pembelian terakhir minuman beralkohol jam 8 malam dan beberapa aturan lainnya. Untuk sekolah, tetap masuk seperti biasa. Meskipun penelitian yang dilakukan pemerintah sini bilang kalau tingkat penyebaran virus di sekolah itu lebih tinggi daripada horeca, tetap sekolah tidak ditutup sementara karena proses belajar mengajar di sekolah penting *lalu batinku : kalau anak-anak sekolah dari rumah (online), paling nggak mereka dan anggota keluarga kemungkinan tidak tertularnya lebih tinggi dibandingkan mereka tetap sekolah dan bawa virus ke rumah. Anak sekolah dari rumah, masih bisa hidup. Lha anak masuk sekolah trus mati, lak ga onok gantinya. Kasarnya saya mikir seperti itu

Ada satu aturan lagi yang sulit diterima, paling tidak buat kami pribadi. Jadi, kalau ada anak sekolah yang sakit lalu tes SWAB, sambil menunggu hasilnya mereka tetap boleh masuk sekolah. Hasil tes SWAB keluar dalam waktu 48 jam. Lha, kalau ternyata mereka positif, sudah berapa orang itu yang kemungkinan tertular di sekolah dan membawa virus ke rumah lalu menulari orang rumah? Sering saya tidak paham aturan pemerintah sini yang ngambang, berasa kurang tegas. Kayak yang antara iya dan tidak. Jadi orang disuruh mikir sendiri, padahal kan tidak semua orang bisa berpikir rasional. Wes mbuh lah sak karepmu.

Panjang lebar saya tuliskan tentang aturan sekolah selama pandemi, karena berhubungan dengan apa yang terjadi di rumah kami. Sebagai keluarga yang mempunyai anak usia sudah masuk sekolah, situasi saat ini benar-benar horor buat kami. Sekolah tidak lagi sama seperti sebelum Maret. Sekolah kan memang sumbernya penyakit. Satu anak sakit, bakal menulari yang lainnya, apalagi untuk anak balita yang masih membangun daya tahan tubuh mereka. Tergantung imun masing-masing anak juga tentunya. Setelah intelligent lockdown dicabut bulan Mei (jadi sekolah sempat online sejak Maret sampai Mei) sebenarnya ada aturan dari pemerintah yang menyebutkan jika anak sedang sakit (batuk, pilek, demam dsb) atau ada anggota keluarga yang sakit, mereka tidak boleh masuk sekolah. Wah senang donk dengan aturan ini. Paling tidak jadi tahu kalau mereka yang di sekolah adalah anak-anak yang sedang tidak sakit dan anggota keluarganya juga tidak sakit. Tapi sejak Juli, aturan tersebut dicabut. Jadi, kalau sakit atau anggota keluarga sakit, tetap boleh masuk sekolah (kecuali sakit Corona jelas tidak boleh ke sekolah).

Dengan aturan baru ini, apalagi di situasi saat ini, akhirnya seperti mengirimkan anak ke medan perang. Pergi sehat wal afiat, pulang-pulang bisa sakit dan menularkan ke anggota keluarga lainnya. Sebenarnya sebelum ada Corona, keadaan ini adalah hal yang biasa. Ya terbiasa dengan anak yang sakit karena bawa penyakit dari sekolah. Tapi sejak ada Corona, begitu si anak sakit lalu menularkan pada yang lain, pikiran jadi macam-macam, cemas dan was-was ini sebenarnya sakit pilek batuk panas biasa atau ada penyakit lainnya. Selama Corona pun, sudah 3 kali anggota keluarga (kecuali saya) sakit berjamaah ya karena anak bawa penyakit dari sekolah lalu nulari yang di rumah. Tapi tidak separah kali ini.

Nah, ternyata masing-masing sekolah punya aturan sendiri meskipun pemerintah menerapkan aturan umum untuk sekolah. Jadi ada sekolah yang menuliskan kalau anak sakit, tidak boleh masuk sekolah sampai sembuh. Ada yang boleh masuk sekolah tapi kalau makin parah diminta tes SWAB. Ada yang boleh masuk sekolah seperti biasa. Di sekolah anak kami pun ada aturan sendiri. Jadi mereka mengirimkan email seperti ada pohon screening, kapan anak boleh masuk kapan harus tinggal di rumah. Tapi kami tidak mengikuti aturan sekolah tersebut. Kami membuat aturan sendiri. Kalau anak sakit, dia harus tinggal di rumah sampai sembuh. Kami tidak mau mengirim anak kami ke sekolah karena menghindari menularkan sakit ke anak-anak lainnya (dan gurunya tentu saja) dan dia juga bisa tertular sakit anak lainnya (karena daya tahan tubuh menurun saat sakit).

Walhasil, setiap masuk satu minggu, dia jadi sakit dan akan tinggal di rumah minimal 2 minggu sampai benar-benar sembuh. Terakhir masuk sekolah (sekitar 3 minggu lalu), diinformasikan kalau salah satu guru di kelasnya sedang sakit dan sedang menunggu hasil tes SWAB. Wah, saya sudah mulai tidak enak hati dan kepikiran. Bagaimana kalau hasilnya positif. Pada hari yang sama, kami menerima email dari sekolah yang menyebutkan hasil dari tes guru tersebut, positif. Ditulis juga kalau si guru akan karantina mandiri selama 14 hari dan 2 guru lainnya (dalam satu kelas ada 3 guru) langsung tes juga. Dheg! bimbanglah kami. Ini bagaimana jadwal sekolah berikutnya masuk apa tidak karena ada pemberitahuan bahwa proses belajar di sekolah berjalan seperti biasanya hanya guru di kelas dia akan diganti sementara dengan mendatangkan guru dari cabang lainnya. Setelah mempertimbangkan A-Z, akhirnya kami memperbolehkan anak masuk.

Setelah hari terakhir masuk sekolah, 2 hari kemudian dia mulai pilek, batuk, badan menghangat. Muuuulaiiii, pikir kami. Lalu 2 hari kemudian, semua yang di rumah, sakit berjamaah, kecuali saya. Sampai saat ini, bersyukurnya, saya masih sehat tanpa ada gejala sakit sedikitpun. Mulailah minggu-minggu sibuk saya mengurusi semua yang sakit di rumah. Biasa saya dan suami mengerjakan berdua, eh ini suami ikut sakit jadi dia juga terbatas bisa bantu. Pontang panting semua hampir saya kerjakan sendiri. Segala urusan di rumah, urusan di luar rumah, merawat yang sakit, semuanya. Tapi saya bersyukur masih bisa istirahat tengah hari. Paling tidak jika badan saya sudah capek, saya tidak meneruskan pekerjaan *langsung kumerindu tukang pijet untuk meluruskan urat-urat yang mringkel dan mbak yang bersih-bersih rumah. Kadang saya berpikir jangan-jangan saya ini orang tanpa gejala yang ternyata menulari orang di rumah. Setiap mereka sakit, saya baik-baik saja. Bersyukur saya sehat karena tidak terbayang kalau ambruk semua.

Seminggu berlalu, yang lainnya mulai membaik, kecuali suami yang kondisinya kok makin parah. Suhu tubuh tidak stabil kadang meningkat panas, kadang normal. Batuknya mulai dalam sampai susah untuk dibuat ngomong, tersendat-sendat menahan batuk. Badannya terasa sangat lemas. Indera penciuman dan perasa dia tidak ada masalah, masih normal. Pernafasannya pun normal. Badannya sempat nyeri di otot tapi tak berapa lama hilang. Bahkan 3 hari dia sempat tidak kerja. Sejak Maret sampai sekarang dia kerja dari rumah, tidak pernah masuk kantor sama sekali. Dengan kondisinya yang tidak stabil seperti itu, saya menyarankan dia untuk daftar tes SWAB saja. Memastikan sakitnya dia ini karena ada hubungan dengan Corona atau sakit lainnya. Setidaknya jadi tahu langkah selanjutnya harus bagaimana. Akhirnya dia mendaftar tes di website Corona Test menggunakan akun DigiD. Dia langsung dapat jadwal keesokan harinya. Tesnya gratis.

Tempat tes dari rumah kami sangat dekat, jadi suami ke sana naik sepeda. Ruangan tes bagi mereka yang datang naik sepeda atau jalan kaki, dipisah dengan mereka yang datang naik mobil.

Setelah tes, diberikan kertas yang berisi keterangan hasil tes akan keluar dalam waktu 48 jam (notifikasi hasil sudah keluar melalui email tapi hasil positif atau negatif langsung di akun DigiD) dan juga apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama menunggu hasil tes. Misalnya tidak boleh ke luar rumah. Malam hari setelah suami tes, saya gundah gulana donk. Mikir bagaimana nanti kalau hasilnya positif. Selama 2 minggu saya benar-benar capek secara fisik dan mental merawat yang sakit, ketambahan suami tes SWAB, memendam kekhawatiran sendiri, meledaklah malam itu saya menangis. Terjadi percakapan berikut ini :

Saya : Besok bagaimana ya kalau hasilnya positif. Kamu jangan ninggalin kami lho. Pokoknya kamu jangan mati sekarang. Kamu musti tetap hidup sampai berpuluh-puluh tahun lagi *sambil menangis

Suami : Lho ya aku ga ada rencana buat mati sekarang *dengan muka datar.

Awalnya saya menangis, begitu mendengar jawabannya yang pendek dan datar, jadi tertawa terbahak-bahak. Kok ya kocak gitu lho jawabannya.

Keesokan harinya, pagi hari hasil sudah keluar. Tidak sampai 15 jam. Alhamdulillah hasilnya Negatif. Hati saya langsung mak nyless begitu diberi tahu hasilnya. Lega. Berkurang setengah kekhawatiran. Setengahnya lagi masih khawatir karena suhu badan suami masih naik turun, badan masih lemas, dan batuknya masih dalam. Besok dia ada rencana telpon dokter untuk minta diperiksa sebenarnya ada apa dengan badannya. Semoga bukan sakit yang serius. Semoga hanya sakit karena pergantian musim.

Minggu depan sudah mulai masuk sekolah. Seminggu lalu sekolah libur musim gugur. Kami sudah berdiskusi kalau seminggu pertama anak tidak kami hantarkan sekolah. Biar di rumah dulu sambil melihat situasi terkini di sekolah dan di Belanda. Angka tes positif di sini sampai saat ini makin meningkat dan selasa minggu depan akan ada konferensi pers lanjutan.

Mengurus seorang diri anggota keluarga yang sakit benar-benar lelah secara badan dan mental, ketambahan lagi saat pandemi seperti ini. Pikiran ke mana-mana ditambah masih tetap mengerjakan rutinitas yang lainnya. Bagi yang sekarang ada anggota keluarga yang sedang sakit, jangan lupa jaga kesehatan diri sendiri juga ya. Klise tapi saya ingatkan jangan telat makan, tetap sediakan waktu untuk istirahat, cari teman bicara untuk sekedar curhat. Lakukan hal yang sekiranya bisa mengalihkan sesaat fokus dari yang sakit, misalnya jalan-jalan sebentar ke lua rumah, sepedahan, olahraga, baca buku, nulis blog, atau mainan media sosial. Tetap waras secara sehat dan mental itu sangat perlu.

Semoga kita semua tetap sehat jasmani dan rohani. Jaga jarak, gunakan masker di tempat umum, sering-sering cuci tangan, hindari kerumunan, tidak usah pesta-pesta terlebih dahulu, tidak usah kumpul-kumpul terlebih dahulu, keluar rumah seperlunya saja, dan makan makanan yang bergizi. Tidak kalah pentingnya, jangan lupa bahagiakan diri. Kita tidak bisa bergantung sepenuhnya pada pemerintah. Lakukan apa yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dan keluarga. Hal-hal yang susah diterima dari peraturan pemerintah, sudah diluar kuasa kita. Kita lakukan yang dalam kuasa kita saja, minimal seperti itu. Daripada ruwet sendiri.

-25 Oktober 2020-

Luangkan Waktu Sejenak

….. untuk menyapa teman, kerabat, kenalan yang sudah lama tidak terdengar kabarnya. Luangkan waktu sejenak untuk menyenangkan, membuat bahagia, dan berterima kasih pada diri sendiri.

Belanda selalu diguyur hujan, nyaris 3 minggu ini. Matahari sudah sangat jarang terlihat cerah. Setiap hari jika menatap ke luar, yang tampak hanya langit berwarna abu, hujan, angin, dan pasti dingin. Kombinasi yang pas untuk membuat hati dan pikiran gampang tertekan, cemas, dan sedih. Apalagi saat pandemi. Memasuki musim penghujan saat ini, ingatan saya selalu terlempar 3 tahun lalu.

Sekitar musim gugur lalu berlanjut ke musim dingin, kondisi mental saya saat itu sedang tidak stabil. Bukan karena ada masalah di tempat kerja, bukan juga karena hubungan yang tidak harmonis dengan suami, juga bukan karena ada masalah keluarga di Indonesia. Faktor hormon ditambah kondisi cuaca yang seperti saya tuliskan sebelumnya. Ada satu faktor lagi sebenarnya, hanya tidak bisa saya ceritakan di sini. Beruntungnya, saya punya tempat untuk berbicara, menumpahkan semua yang saya rasakan supaya sedikit lega. Ada suami, sahabat- sahabat selama 22 tahun yang tergabung di grup aplikasi pesan, dan juga seorang professional.

Yang saya ingat saat itu, ada rasa kosong, hampa, tapi di sisi lain ada rasa bahagia. Waktu itu saya tidak tahu, sebenarnya apa yang terjadi. Banyak pertanyaan yang datang di kepala, silih berganti seperti tidak lelah selalu membuat pikiran terjaga. Hati terasa berat seperti ada beban yang susah dipindahkan. Kosong, hampa, sesak juga pengap tidak pernah alpa datang setiap saat. Keadaan seperti itu berlangsung berbulan lamanya, meskipun perlahan akhirnya membaik. Hanya sedikit orang yang tahu kondisi saya saat itu. Kondisi mental saya yang sebenarnya.

Saat sadar bahwa saya sedang tidak baik-baik saja, langsung saya komunikasikan ke suami, sebagai orang yang paling dekat. Setiap bercerita tentang kebingungan apa yang sebenarnya sedang terjadi, airmata selalu mengucur deras. Saya juga bercerita ke sahabat-sahabat. Lalu perlahan saya paham, oh ini tho yang saya alami. Suami lalu menyarankankan untuk menghubungi professional, yang memang disediakan gratis untuk kondisi saya saat itu. Selanjutnya saya rutin ke sana sampai keadaan makin membaik. Saya tidak ceritakan lebih lengkap ya di sini karena sangat panjang ceritanya. Hanya secara garis besar dan gambarannya sebelum saya menuliskan lebih lanjut.

Ada satu hal yang membuat saya tersentuh saat itu. Astrid (blogger yang saat ini vakum menulis) tiba-tiba mengirimkan pesan di twitter. Dia menanyakan kabar. Saya tidak pernah berhubungan dengan Astrid secara pribadi, hanya lewat komen di blog saja. Jadi saat saya menerima pesan Astrid di twitter, berasa agak aneh. Dia tidak tahu kondisi saya saat itu. Hanya acak mengirimkan pesan dan bertanya bagaimana kabar saya. Astrid malah memberikan nomer teleponnya supaya saya bisa menghubunginya jika ingin bertukar kabar. Lama saya tidak langsung menghubunginya, sampai satu hari, saya mengirimkan pesan buat dia. Sejak saat itu, sampai detik ini, kami rutin saling bercerita semuanya. Dari yang sedih sampai yang bahagia. Selama di sini, kami bertemu bari 3 kali.

Astrid datang disaat yang tepat. Saat saya membutuhkan tempat untuk bercerita tanpa perlu diberikan penghakiman apa-apa. Astrid mendengarkan semua yang saya rasakan, hanya mendengarkan. Dia tidak pernah memberikan saran jika memang saya tidak minta. Dia tidak pernah menghubungkan keadaan yang saya alami dengan kurang ibadah, kurang sedekah, atau kurang dekat dengan Pencipta. Astrid tidak pernah membandingkan apa yang saya alami dengan apa yang sudah dia alami. Dia benar-benar ada di sana, saat itu, sebagai teman yang menyediakan telinga dan waktu untuk saya. Dan yang membuat tersentuh, secara konsisten dia selalu menanyakan kabar saya. Jadi saya merasa tidak sendiri.

Saya merasa tertolong dengan kehadiran Astrid. Entah bagaimana hari-hari saya kalau dia tidak ada. Tidak mengucilkan arti professional yang ada saat itu juga tidak mengabaikan para sahabat yang selalu ada setiap saat. Namun rasanya berbeda kalau berbicara dengan teman yang tepat. Sejak saat itu, saya berjanji dengan diri sendiri, kalau saya akan lebih memperhatikan teman, kerabat, atau kenalan. Dulu saya cuek sekali, sangat jarang bertanya kabar. Tapi sejak kejadian 3 tahun lalu, saya berubah. Saya mulai sering bertanya kabar kepada mereka yang sudah lama tidak tersentuh oleh saya. Saya perlahan menjalin komunikasi kembali. Saya merasakan jika ada yang bertanya tentang kabar, merasa ada yang memperhatikan. Berasa ada yang peduli.

Sejak Pandemi, intensitas saya bertanya kabar teman-teman, kenalan dan para kerabat semakin tinggi. Entah, saya merasa bahwa kondisi sekarang ini luar biasa dampaknya. Bukan hanya pada kesehatan fisik, juga terhadap kesehatan mental. Saya sendiri merasakan itu. Naik turun, jatuh bangun. Saya bersyukur mempunyai support system yang baik juga belajar dari pengalaman 3 tahun lalu. Sampai detik ini saya bisa melewati, meskipun terkadang terseok. Pandemi ini sungguhlah berat, efeknya bermacam-macam pada setiap orang.

Beberapa hal di bawah ini bisa kita lakukan untuk membantu siapapun yang kita kenal, bahkan diri sendiri :

  • Luangkan Waktu untuk bertanya kabar kepada teman, kenalan, atau kerabat yang sudah lama tidak kita hubungi secara personal. Meskipun nampaknya di media sosial mereka baik-baik saja, namun dalam kehidupan nyata belum tentu seperti itu. Lihat daftar kontak, kira-kira ada berapa orang di sana yang sudah lama sekali tidak saling berkirim pesan dengan kita. Tidak ada salahnya untuk mulai berkirim pesan. Say hello. Mereka pasti akan senang. Kita juga senang bisa tahu kabar mereka sekarang seperti apa. Rekan blog yang paling rajin menanyakan kabar saya adalah Nana. Paling senang jika membaca email dari Nana, meskipun seringnya telat. Saya juga beberapa kali bertanya kabar ke beberapa rekan blogger yang sekiranya kok jadi jarang menulis lagi. Ingin tahu kabar mereka seperti apa, apakah mereka baik dan dalam kondisi sehat. Saya sering juga bertukar kabar dengan Tyka lewat aplikasi kirim pesan.
  • Luangkan Waktu untuk bertanya kabar kepada teman, kenalan, atau kerabat yang sedang hamil, setelah melahirkan, mereka yang sedang berjuang dengan kesehatan mental berdasarkan diagnosa professional, baru diputus hubungan kerja, sedang menyelesaikan tugas akhir perkuliahan, sedang dalam proses mencari kerja, dan kondisi-kondisi khusus lainnya. Saya rajin menanyakan kabar mereka yang sedang hamil, sedang menyusui, yang mempunyai anak balita. Para wanita dengan kondisi tersebut, kondisi hormon sangat mempengaruhi emosi. Ketika ada yang bertanya kabar, rasanya senang sekali. Seperti ada yang peduli. Syukur-syukur kalau kita bisa mendengarkan apa yang ingin mereka ceritakan. Dengarkan saja, kecuali mereka minta saran, baru kita berikan. Sebenarnya yang mereka butuhkan adalah tempat untuk bercerita. Jika kita tidak bisa menolong secara benda, menjadi pendengar saja sudah sangat membantu. Kalau mereka butuh masukan, kita bisa memberikan motivasi dan semangat.
  • Jadilah Pendengar Yang Baik bagi mereka yang ingin bercerita. Tahan diri untuk tidak membandingkan dengan keadaan atau pengalaman yang pernah kita lalui. Tahan diri untuk tidak menasehati jika tidak diminta. Tahan diri untuk tidak berkompetisi terhadap penderitaan. Tahan diri untuk tidak mengeluarkan kalimat : kurang bersukur, kurang amalan, kurang berdoa, kurang dekat dengan sang Pencipta dll. Tahan diri terhadap omongan apapun yang sekiranya malah membuat situasi yang bercerita semakin berat. Jadilah pendengar saja. Jika mereka meminta pendapat atau saran, berikan suntikan semangat, berikan kata-kata yang memotivasi.
  • Luangkan Waktu untuk diri kita sendiri, untuk membuat diri senang dan bahagia, untuk berterima kasih sudah melangkah sejauh ini. Jangan lupa untuk membuat diri sendiri bahagia. Caranya, kita sendiri yang tahu. Ada masa-masa berat, pastinya. Lakukan yang sekiranya membuat kita merasa sedikit bisa bernapas. Jika saya sedang dalam keadaan susah, biasanya saya akan diam sejenak. Hening dan berbicara dengan diri sendiri. Lalu saya akan melakukan apapun yang sekiranya bisa membuat hati lebih nyaman, pikiran lebih longgar. Misalnya : off sejenak dari media sosial, memasak, membuat roti atau kue, keluar rumah sendirian, menulis blog, makan yang saya sukai, minum yang saya senangi, berkebun, dll. Apapun itu, yang penting membuat badan bergerak. Kalau nyamannya hanya sekedar rebahan, ya lakukan. Tidak usah yang muluk-muluk. Ini bukan ajang kompetisi. Bisa bertahan hidup sampai detik ini saja sebuah pencapaian. Selama bisa membuat suasana hati dan pikiran lebih nyaman, lakukan saja (selama tidak menyakiti diri sendiri ya). Jika ingin bercerita pada teman, pilih teman yang sekiranya bisa sebagai pendengar yang baik. Tidak ada salahnya meminta bantuan professional jika memang sudah sangat butuh. Kesehatan mental tidak kalah pentingnya dengan kesehatan fisik. Jangan lupa untuk berterima kasih pada diri sendiri karena sudah kuat dan tangguh sejauh ini.
  • Kita Tidak Sendiri melewati masa-masa sulit. Ada banyak yang bisa menolong kita. Ada banyak yang bisa kita mintai pertolongan. Kita tidak benar-benar sendiri. Keluar dan mintalah pertolongan jika memang keadaannya makin sulit. Jangan pernah berpikir kita hanya sendiri. Yakin bahwa kita bisa melewati ini semua. Tetap Semangat!

Yang saya tuliskan di atas berdasarkan pengalaman pribadi dan proses melalui hal-hal yang sulit sampai detik ini. Buat saya, meluangkan waktu 5 menit untuk bertukar kabar bukanlah hal yang berat. Mungkin 5 menit yang saya luangkan, akan sangat berarti bagi mereka yang membaca atau mendengar suara saya saat menanyakan kabar. Bisa jadi bisa membantu mereka atau bahkan saya sendiri keluar dari kesulitan. Bisa jadi yang saya pikir sepele selama ini, malah jadi hal yang sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan. Dimulai dari menanyakan kabar.

-12 Oktober 2020-

Memulai Perjalanan Bersama Sophie

Cerita Sophie

Perkenalkan, anggota terbaru keluarga kami yang lahir tanggal 25 Juli 2020. Kami menamainya, Sophie, si ragi alami. Sourdough atau Levain nama keren dari ragi alami.

Sophie saat hari ke 4 dibuat
Sophie saat hari ke 4 dibuat

Setelah berkutat belajar membuat roti menggunakan ragi segar sejak bulan Maret 2020 (pernah saya tuliskan di sini ceritanya) dan lumayan sudah agak pandai (agak ya, jadi masih ada beberapa kali kejadian error juga haha maklum pemula), akhirnya awal Juli saya mulai niat untuk mempelajari bagaimana cara membuat ragi alami. Momennya pas, mumpung cuaca mulai panas, jadi akan lebih mudah prosesnya dibandingkan saat masuk musim dingin.

Ragi alami bukan hal yang baru buat saya karena jauh sebelum Pandemi, Bude Tari (saya sertakan tautan akun IG Bude Tari di tulisan tentang belajar membuat roti) sudah sering berbagi foto dan cerita hasil rotinya menggunakan ragi alami. Saat itu, jangankan berpikir membuat ragi alami, berangan-angan membuat roti saja tidak pernah terlintas di kepala. Bahkan rekan-rekan satu grup saat awal pandemi sudah banyak yang mengikuti jejak Bude Tari. Sedangkan saya, santai saja. Lalu, saat sudah lumayan tahu seluk beluk dengan ragi segar, saya mulai penasaran tentang ragi alami. Saat mood sudah datang, lalu saya niat belajar langkah perlangkahnya

Sourdough Rustic Bread with Multigrain
Sourdough Rustic Bread with Multigrain
Sourdough Rustic Bread with Multigrain
Sourdough Rustic Bread with Multigrain

Langkah – langkah membuat ragi alami, saya belajar dari channelnya Helena. Saya sertakan tautannya di sini. Sebelum bereksperimen, saya putar berulang tutorial dari Helena tersebut. Saya pelajari dengan seksama sembari bertanya yang tidak saya pahami ke Bude Tari. Lima hari pertama, akhirnya sukses lahirlah Sophie. Setelahnya, karena saya mulai tahu sifat Sophie ini seperti apa, jadi memberi makannya pun sudah tidak mengikuti langkah yang Helena cantumkan, melainkan berdasarkan insting. Misalkan untuk ratio, saya sudah tidak memakai rasio lagi. Jadi setiap memberi makan, saya tidak memakai hydration 100%. Seringnya hanya 60%, jadi Sophie berbentuk seperti adonan kue, padat.

Sourdough roti tawar manis
Sourdough roti tawar manis

Saat biangnya sudah jadi, saya mulai mempelajari karakter Sophie ini seperti apa. Dia lebih suka kalau diberi makan campuran All Purpose Flour dan Rye Flour. Kalau orang lain bisa koleksi barang-barang bermerek, sejak Pandemi, koleksi saya adalah berbagai jenis tepung haha. Dari Patent Bloem, Patent Bloem Americans Type, Rye Flour, Speltmeel, Volkoren, Tarwebloem, Zelfrijzend bakmeel, dan Semolina. Itu saya pakai semua. Jadi kalau membuat roti, saya campur dua sampai 4 jenis tepung. Kalau untuk rustic bread, saya campur patent bloem, volkoren, speltmeel dan Rye. Tinggal padu padankan saja prosentasenya.

Cerita Sophie
Cerita Sophie

Kembali ke cerita Sophie, bersyukur sejak awal lahir sampai sekarang, tidak pernah rewel. Setiap dipakai membuat roti, hasilnya nyaris selalu berhasil. Ada masa Sophie sepertinya agak ngambeg jadi rotinya tidak maksimal terbentuk. Tapi secara keseluruhan, Sophie ragi yang baik. Kemungkinan besar karena selalu saya perhatikan dan diberi makan tepat waktu. Sama lah kayak Ibunya, kalau diperhatikan dengan baik dan makan tidak telat, hati selalu bahagia *cocoklogi :)))

Sourdough Multigrain Bread
Sourdough Multigrain Bread
Sourdough Multigrain Bread
Sourdough Multigrain Bread
Sourdough Multigrain Bread
Sourdough Multigrain Bread

Motivasi lain selain penasaran, suami juga sudah terbiasa makan Sourdough Bread sejak dahulu kala. Jadi sejak Pandemi, dia berhenti datang ke toko roti, akhirnya saya membuat roti sendiri dengan menggunakan ragi segar. Lalu saya bilang akan belajar membuat ragi alami. Wah, saat saya berhasil membuat roti yang biasa dia makan, gembiranya bukan main. Dia bilang roti buatan saya, jauh lebih enak dari Sourdough Bread yang biasa dia beli. Ah si Mas bisa saja. Kan jadi kembang kempis hidung saya.

Sourdough Pretzels
Sourdough Pretzels
Sourdough Pretzels
Sourdough Pretzels

Saya mulai sering mengutak atik resep yang menggunakan ragi biasa, saya transformasikan ke roti menggunakan Sophie. Lumayan berhasil dan gampang juga. Jadi Sophie ini saya gunakan bukan hanya untuk roti-roti ala Eropa, juga saya gunakan untuk roti-roti empuk ala Indonesia. Dalam satu minggu, saya menggunakan Sophie bisa 2-3 kali. Saya membuat roti hampir setiap hari.

Yang terbiasa menggunakan ragi instan atau ragi segar, begitu menggunakan ragi alami, akan diuji kesabarannya dengan lamanya waktu proofing. Biasa 2-3 jam adonan sudah ngembang (tergantung suhu ruangan), pakai ragi alami bisa 8-12 jam (bisa suhu ruang atau ditaruh di kulkas). Untungnya, saat awal mempunyai Sophie, sedang musim panas. Jadi tidak perlu mencari tempat khusus yang hangat. Satu lagi yang mungkin akan bikin kaget karena tidak terbiasa dengan ragi alami, yaitu rasa yang asam. Kalau untuk rustic bread, rasa asam malah membuat roti menjadi enak. Sedangkan untuk roti empuk dan manis, munculnya rasa asam yang membuat jadi tidak terlalu cocok, menurut saya. Jadi sekarang saya tahu, untuk jenis roti yang mana Sophie bisa digunakan. Satu yang masih membuat saya penasaran karena sampai sekarang masih belum bisa sempurna menghasilkan crumb yang besar pada rustic bread. Jangan patah semangat, suatu hari pasti bisa!

Sourdough Baguette
Sourdough Baguette

Sejak belajar ilmu membuat roti menggunakan ragi alami, saya juga banyak tahu kosakata baru, misalkan : hydration, laminating, stretch and fold, oven spring, open crumb, dll. Jadi makin banyak yang dipelajari, makin tahu dan menarik sekali ilmu ragi alami.

Saya masih pemula sekali untuk urusan ragi alami ini. Saya juga banyak belajar dari teman-teman yang berkutat dengan ragi alami, belajar dari beberapa orang di twitter, tidak sungkan bertanya jika tidak tahu. Apapun itu, yang membuat rasa penasaran saya bisa tertuntaskan. Biasanya setiap bereksperimen dengan Sophie, hasilnya akan saya bagikan (baca : pamerkan) di akun twitter dan FB beserta keterangan, misalkan tepung apa saja yang dipakai, hydration berapa % dan yang lainnya. Saya juga sangat senang kalau bisa berdiskusi tentang ragi alami. Unik sih ragi alami ini, polanya bisa berbeda tergantung suhu, makanan, dan suasana hati pemiliknya haha.

Sourdough Chocolate Cookies with Sea Salt
Sourdough Chocolate Cookies with Sea Salt

Semoga suatu hari nanti ada kesempatan sekolah untuk memperdalam ilmu dibidang membuat roti dan kue. Semoga terbuka jalan ke sana. Sekian cerita saya mengisi waktu, supaya hidup selama pandemi tidak hanya goler – goler saja (walau pada kenyataannya, ya lebih sering goler-goler dibandingkan produktif haha). Semoga Sophie hidup sejahtera bersama kami.

Penampakan Sophie saat ini, tidak terlalu cair lagi.
Penampakan Sophie saat ini, tidak terlalu cair lagi.

-28 September 2020-