Pertambahan Usia

Tumpeng (yang tidak berbentuk tumpeng) ulangtahun

Pertambahan usia kali ini, saya lewati dengan suasana dan kondisi yang tidak biasa. Siapa yang menyangka dalam hitungan bulan, dunia kelabakan dengan pandemi Covid-19. Begitupun kami. Banyak jadwal dan rencana yang tertunda, bahkan batal. Termasuk rencana merayakan ulangtahun saya yang akhirnya batal. Kali ini, saya merayakan dalam suasana yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di rumah saja. Justru saya merasa nyaman, di rumah leyeh-leyeh dan kruntelan seharian. Makin berasa hari yang spesial.

Baru saja, PM Belanda, Mark Rutte membacakan peraturan terbaru sehubungan dengan meminimalisir penyebaran Covid-19 di Belanda. Peraturan sebelumnya yang berlaku sampai 6 April, diperpanjang jadi 28 April, dengan catatan : nanti sebelum 28 April akan ada pidoto lagi apakah ada perpanjangan waktu lagi atau tidak. Peraturannya adalah : Horeca, daycare, Museum, sportclub, coffeeshop, salon, tutup sampai 28 April. Sekolah tutup sampai selesai liburan bulan Mei. Larangan mengadakan acara berlaku sampai 1 Juni (termasuk larangan perayaan paskah, sholat taraweh, Idul Fitri, Koningsdag dll). Dilarang berjalan bergerombol (lebih dari 2 orang, kecuali keluarga) dan tetap menjaga jarak minimal 1.5 meter. Jika dilanggar akan kena denda €400. Denda untuk perusahaan yang melanggar (misalkan mengadakan acara) sebesar €4000. Belanja dilarang membawa anak-anak dan cukup 1 orang dalam satu keluarga. Pasar tetap buka tapi dengan pengaturan yang ketat. Dilarang bepergian ke LN kecuali untuk urusan sangat mendesak. Hanya ada dua maskapai yang terbang ke Belanda, itupun jadwalnya sudah berkurang. Maskapai lainnya sudah meniadakan jadwal terbang ke Belanda. Sangat disarankan untuk tinggal di rumah, tidak usah ke luar rumah untuk hal-hal yang tidak mendesak. Boleh sesekali ke luar rumah untuk menghirup udara segar seperti sepedahan, jalan ke hutan atau danau asal tetap diingat untuk jaga jarak. Sangat disarankan untuk bekerja dari rumah, jika memang punya pilihan itu.

Sejak ditetapkan peraturan yang lebih ketat minggu lalu, ketika kami sepedahan sore hari, memang terlihat polisi patroli di mana-mana. Mereka bukan hanya patroli di jalan raya, tapi sampai blusukan ke dalam hutan, danau, taman-taman. Hanya taman bermain yang mungkin tidak terlalu karena saya melihat masih banyak taman bermain yang rame bukan hanya anak-anak kecil tapi remaja yang sampai membawa sound speaker lalu joged-joged. Pengen tak sampluk ae arek-arek iki. Belanda tidak pernah menyatakan bahwa kebijakan yang diambil ini adalah Lockdown. Opsi ini tidak akan diambil (untuk saat ini). PM Belanda menyebutnya kebijakan Intelligent Lockdown (terus terang saya sendiri masih ngikik kalau dengar istilah ini dilontarkan oleh Perdana Menterinya. Apa cuma Belanda aja nih yang pakai istilah Intelligent lockdown). Maksudnya, pemerintah tidak akan melarang orang ke luar rumah, diharapkan orang-orang punya common sense. Yang pada kenyataannya ya banyak yang tidak punya. Buktinya sebelum dikeluarkan peraturan baru yang lebih ketat, saat cuaca cerah mereka malah memenuhi pantai, taman, hutan, pasar, dll. Dibelahan bumi manapun memang akan selalu ada orang-orang yang seperti ini.

Begitulah sekilas keadaan di Belanda sekarang. Yang meninggal setiap hari masih diatas 100 orang. Tapi dari grafik, yang dites positif  tidak eksponensial lagi, meskipun tetap banyak. Sejak sebulan lalu kasus pasien pertama, per hari ini (31 Maret 2020) yang positif dites total sebanyak 12.595 orang dan total yang meninggal sebanyak 1.039 orang.

Kembali ke cerita saya. Saat hari pertambahan usia (yang bukan hari ini), seperti biasa saya membuat tumpeng (yang tidak berbentuk tumpeng karena tidak punya cetakannya). Kali ini isinya orek tempe tahu, sambel bajak, dadar telor, oseng buncis wortel, suwiran ayam oven, dan mie goreng. Kami makan siang dengan lahap setelah saya mengucapkan beberapa harapan. Mama mertua menelepon untuk mengucapkan selamat. Sudah hampir 4 minggu saya tidak bertemu Beliau. Biasanya kami berjumpa seminggu sekali. Cerita kenapa kami tidak bisa mengunjungi Beliau, sudah saya tuliskan sebelumnya di sini.

Tumpeng (yang tidak berbentuk tumpeng) ulangtahun
Tumpeng (yang tidak berbentuk tumpeng) ulangtahun

 

Nasi kuning ulangtahun
Nasi kuning ulangtahun

Setelah selesai makan siang, saya menyiapkan beberapa piring isi nasi kuning buat tetangga. Kali ini, saat mengantar makanan, saya sudah tidak bisa lagi mengobrol panjang. Hanya mengantar, mereka mengucapkan selamat ulang tahun dari balik pintu, lalu saya pulang. Beginilah sekarang hidup bermasyarakat di Belanda. Biasanya kalau berpapasan saling menyapa, melempar senyum, sekarang mukanya pada tegang. Apalagi saya, sekiranya dari jauh terlihat orang akan berpapasan, langsung cari cara bagaimana untuk menghindar atau putar balik. Setakut itu saya bertemu orang saat ini. Saya sudah tidak pernah lagi ke supermarket sejak 3 minggu lalu. Kami belanja mingguan online atau kalau mendesak ada yang harus dibeli, suami ke supermarket retail dan berangkat sangat pagi. Jadi masih sepi dan tidak bertemu banyak orang. Virus ini memang mengubah semuanya, sampai pada tatanan bermasyarakat.

Antar-antar ke tetangga
Antar-antar ke tetangga

Sorenya, kami makan taart yang dibeli suami saat ke supermarket retail sehari sebelumnya. Setelahnya, karena udara super dingin meskipun matahari sangat nyentrong, kami tidak sepedahan ke danau melainkan leyeh-leyeh saja di rumah, main-main di halaman belakang.

Taart ulangtahun
Taart ulangtahun

Menjelang makan malam, suami tiba-tiba punya ide untuk memesan makanan cepat saji. Sejak saya pindah ke Belanda (tahun 2015), baru dua kali ini kami memesan makanan diantar ke rumah. Makan malam ulang tahun tahun ini dipersembahkan oleh restoran cepat saji.

Makan malam ulangtahun
Makan malam ulangtahun

Banyak syukur yang terucap sampai usia saat ini. Meskipun tahun ini melewati pertambahan usia di tengah suasana pandemi, tapi saya bersyukur kami sekeluarga sehat, bahagia, masih diberikan keselamatan dan berkumpul bersama. Meskipun kami sekeluarga (terutama saya) harus mengikhlaskan tidak jadi mudik saat lebaran (tiket pesawat dibeli sebelum Covid-19 sampai ke Belanda) dan melakukan reschedule (tanggal belum ditetapkan), namun kami yakin kalau langkah kecil kami untuk tidak mudik saat situasi masih gonjang ganjing begini adalah keputusan yang tepat. Semoga langkah kecil kami ini bisa menyelamatkan banyak nyawa, membantu dunia untuk bisa cepat pulih dan melewati ini semua. Kami ingin menjadi bagian yang berjuang bersama seluruh orang di dunia berdasarkan porsinya masing-masing. Kami mengambil porsi yang bisa dilakukan  untuk meratakan kurva, mengurangi resiko menularkan dan ditulari, yaitu : semaksimal mungkin diam di rumah, tidak mudik ke Indonesia (dan liburan) saat situasi masih belum sepenuhnya terkendali. Berat diawal karena saya sudah memberitahu keluarga besar dan para teman, Ibu sudah mempersiapkan banyak hal untuk ketemu kami, sudah mempersiapkan waktu mengunjungi beberapa keluarga dan teman. Namun setelahnya saya malah lega akhirnya memutuskan tidak mudik saat lebaran. Mudah-mudahan diberikan rejeki waktu dan berjodoh bertemu Ibu dan keluarga di sana dalam keadaan sehat.

Doa saya pada pertambahan usia tahun ini : Semoga saya tetap hidup, selamat, dan sehat melewati pandemi ini. Semoga ini semua bisa segera selesai dan kami sekeluarga sehat selamat. Hal pertama yang ingin saya lakukan jika semua ini sudah terlewati : jalan-jalan santai di supermarket cuma melihat-lihat isi raknya tanpa harus beli. Hiburan yang selama ini saya lakukan (sebelum Corona Virus datang).

Yuk sama-sama berjuang supaya ini segera selesai. Kalau kata pemerintah Belanda : Alleen samen krijgen we corona onder controle – Hanya dengan bersama kita dapat mengendalikan Corona.

-31 Maret 2020-

Cerita Seorang Oma dan Cucunya Saat Wabah Virus Corona

Ini iseng juga motonya

Sudah tiga minggu Mama mertua tidak bertemu dengan anggota keluarga lainnya. Terakhir berjumpa dengan seluruh keluarga, saat pesta ulang tahun cucu termudanya. Setelah itu, berita tentang Virus Corona semakin santer di Belanda. Setiap hari selalu ada berita terbaru berapa banyak orang yang dites dan positif Corona, berapa banyak yang meninggal dan berapa jarak usia pasien yang meninggal. Nyaris setiap hari selalu ada seruan pemerintah untuk melakukan tindakan preventif supaya virus tidak semakin menyebar. Salah satunya adalah dengan seruan keras untuk tinggal di rumah (kecuali bagi mereka yang harus bekerja di luar rumah atau ke luar rumah untuk keadaan darurat misalkan belanja makanan ke supermarket, ke dokter, atau rumah sakit), menjaga jarak, dan membatasi pertemuan dengan orang dalam jumlah banyak.

Namanya manusia, tidak bisa diseragamkan. Ada saja yang tidak mematuhi himbauan pemerintah. Tidak memikirkan orang lain, hanya memikirkan diri sendiri. Akhir- akhir ini cuaca di Belanda sedang cerah. Sangat cerah malah, meskipun anginnya tetap dingin. Banyak yang memanfaatkan kesempatan untuk pergi ke pantai, pasar tetap penuh, leyeh-leyeh di taman, bergerombol di pusat kota. Lupa akan bahaya Virus Corona. Lupa untuk menjaga jarak minimal 1.5 meter. Lupa seruan tinggal di rumah. Lupa untuk sementara tidak bergerombol. Lupa bahwa virus ini sudah membunuh ribuan orang di dunia. Lupa bahwa dunia saat ini sedang berjuang bersama untuk memutuskan mata rantai penyebaran. Lupa bahwa yang kita lakukan untuk tinggal di rumah bisa menyelamatkan banyak nyawa. Mereka lupa atau memang sejenak melupakan atau bahkan sengaja lupa bahwa keadaan saat ini sedang tidak biasa saja.

Mama, yang setiap minggu selalu dikunjungi anak-anak dan cucunya, sejak tiga minggu lalu memutuskan untuk mengisolasi diri di rumah. Beliau tidak mau dikunjungi siapapun dan tidak keluar rumah dengan alasan apapun. Bahkan saat hari ulang tahun, sehari sebelumnya Beliau memutuskan membatalkan acara yang seharusnya dirayakan di sebuah restoran. Kami sekeluarga sedih karena ini pertama kali Mama melewati ulang tahun sendiri, sejak Papa meninggal 5 tahun lalu. Mama, yang memendam rindu bertemu anak-anak dan cucu-cucunya harus merelakan melewati akhir pekan tanpa kunjungan dari siapapun. Usia Beliau yang memang rawan terinfeksi virus ini, menyebabkan kami sekeluarga juga patuh untuk tidak mengunjungi Mama. Belanja pun, beliau meminta tolong salah satu anaknya, lalu meletakkan di depan pintu. Beliau akan mengambil belanjaan tersebut jika anaknya sudah tidak terlihat di depan mata.

Mereka yang tidak patuh pada anjuran pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus, mungkin tidak tahu ada banyak Oma dan Opa yang memendam rindu  tidak bisa melihat wajah anak cucunya sejak wabah ini berlangsung. Mereka yang merasa masih muda, mungkin merasa tidak akan jadi bagian yang terjangkiti virus ini sehingga abai dengan tindakan preventif. Tapi mereka lupa, bahwa mereka jadi bagian yang memperpanjang mata rantai virus.

Suatu hari, salah seorang cucu termuda (Balita) Mama rindu ingin bertemu Omanya. Terjadilah perbincangan di bawah ini antara dia dan Ibunya (sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia semuanya) :

Anak    : Oma Mana?

Ibunya : Oma ada di rumah.

Anak    : Kita pergi ke rumah Oma?

Ibunya   : Nanti ya, kalau Virus Coronanya sudah tidak ada, kita pergi lagi ketemu Oma.

Anak    : Hari minggu ya?

Ibunya : Hari minggu kalau virusnya sudah pergi ya. Kalau belum, kita di rumah saja. Kalau virusnya masih ada, nanti Oma jadi sakit. Kangen sama Oma ya?

Anak   : Iya. Kangen pengen peluk dan cium Oma. Kangen main sama Oma.

Si anak lalu menundukkan wajah. Terlihat raut sedih.

Sedih rasanya melihat cucu yang kangen dengan Omanya. Sedih seorang Oma juga memendam rindu tidak bisa bertemu keluarganya. Semoga keadaan ini segera berlalu. Semoga semakin ada titik terang. Mari berjuang bersama. Bisa saja kita memang (nampak) sehat, tapi bisa jadi kita sebagai pembawa. Ada banyak yang harus dipikirkan sebelum kita melakukan tindakan, saat ini.

Tolong patuhi anjuran pemerintah. Tinggal di rumah jika memang tidak ada hal mendesak untuk dilakukan di luar. Tolong jaga jarak jika memang harus ke luar rumah untuk sekedar jalan kaki, bersepeda atau menghirup udara segar. Jangan hadir dalam kerumunan dan acara yang melibatkan orang banyak. Saat ini, mari kita patuh. Ada banyak nyawa yang bisa kita selamatkan selain nyawa sendiri. Para dokter, perawat, dan pekerja yang berada di garis depan yang saat ini sudah kelelahan tapi tetap berjuang menyelamatkan nyawa para pasien yang sudah positif. Para pasien yang sedang berjuang melawan virus ini. Para Oma dan Opa yang sangat memendam rindu tapi tidak bisa bertemu langsung dengan keluarganya karena usia mereka yang rawan terinfeksi. Para anak yang tidak bisa bertemu orangtuanya yang bertugas di RS. Para orangtua yang melepas kepergian anaknya dan entah kapan lagi bisa bertemu karena mereka sedang berjuang menyelamatkan nyawa para pasien. Orang-orang yang lelah secara mental karena selalu dilanda cemas berlebihan dengan situasi dan kondisi seperti ini. Dan masih banyak lagi orang-orang yang terdampak dengan adanya wabah ini.

Pantai bisa menunggu, dia tak akan pindah tempat. Cuaca cerah bisa kita dapatkan lagi, dia akan selalu datang jika saatnya. Nyawa manusia yang tidak bisa menunggu. Banyak yang butuh diselamatkan.

Mari kita saling menguatkan. Semua ini pasti akan berlalu. Keadaan ini akan bisa terlewati jika kita berjuang bersama. Berikhitiar, berdoa, dan tawakkal. Kali ini, mari saling dukung. Lupakan perbedaan, apapun itu. Melakukan yang terbaik dari tempat masing-masing. Mari sama-sama kita putuskan mata rantai penyebaran virus Corona. Bahkan kita bisa melakukan hal yang paling sederhana untuk menyelamatkan nyawa orang banyak dan diri sendiri : di rumah saja.

-23 Maret 2020-

 

Situasi (Saya) Terkait Corona Virus di Belanda

Sudah lama ingin menuliskan tentang Covid-19 atau Corona Virus terkait diri saya dan situasi yang ada di Belanda, sejauh ini, saat tulisan ini dibuat.

Beberapa hal di bawah ini adalah dampak yang saya rasakan terkait Corona :

  • PERASAAN CEMAS TERAMAT SANGAT

Perasaan cemas ini mulai saya rasakan awal Januari 2020. Saat itu berita tentang Corona sering saya baca yang menjelaskan kondisi di Wuhan. Saya cemas super parah selama seminggu. Saya sering menangis, susah tidur dan perasaan was-was yang teramat sangat dengan situasi yang ada. Saya benar-benar takut bagaimana jika Corona sampai ke Belanda. Membayangkan jika salah satu anggota keluarga positif Corona. Lalu suami meredakan cemas saya dengan selalu memberikan saran yang positif. Mencoba menenangkan isi kepala saya yang ruwet. Akhirnya cemas mereda (sesaat).

Saya kembali cemas saat Corona sudah sampai Eropa. Saya berpikir : tinggal tunggu waktu saja sampai ke Belanda nih. Sejak itu sampai Corona benar-benar di Belanda (tanggal 27 Februari 2020 pertama kali satu orang positif Corona), perasaan cemas saya muncul dan tenggelam. Kadang bisa santai, dilain waktu bisa jadi super panik. Benar-benar yang panik. Ini perasaan cemas dalam pikiran. Sebagai informasi, pertulisan ini dibuat total 1135 orang positif Corona di Belanda, total 20 orang meninggal (pada range usia 59-94 tahun). Di kampung saya, ada7 orang yang positif Corona. Perkembangan tentang Corona bisa diikuti di website RIVM. Mereka akan selalu update setiap hari jam 2 siang.

Status tentang Corona di Belanda per 15 Maret 2020
Status tentang Corona di Belanda per 15 Maret 2020
  • BATAL UJIAN MENYETIR MOBIL

Pagi ini, seharusnya saya ujian menyetir mobil. Dua kali les terakhir di hari jumat dan sabtu minggu lalu, saya bertanya ke instruktur apakah ada kemungkinan ujian akan dibatalkan terkait Corona. Dia bilang, tidak. Kamis sore, PM Rutte mengumumkan tentang anak sekolah di jenjang tinggi mulai diliburkan, pembatalan acara-acara yang melibatkan lebih dari 100 orang, anjuran untuk mengurangi kumpul-kumpul, dan anjuran orang-orang bekerja dari rumah. Sabtu siang selesai les, saya bertanya lagi apa ada kemungkinan ujian dibatalkan. Instruktur saya bilang tidak.

Minggu sore, ada pengumuman resmi dari dua mentri tentang penutupan Sekolah (semua jenjang), daycare, sport club, sex club, coffeeshop, Horeca (termasuk restoran dan cafe) sampai 3 minggu kedepan, dan tetap anjuran orang kantoran bekerja dari rumah. Wah perasaan saya mulai tidak enak. Saya cek website CBR, ternyata benar jika semua ujian (theorie, toets, dan praktijk) ditiadakan sampai tanggal 31 Maret 2020. Setelah tanggal tersebut, baru bisa mendaftar ulang kembali untuk mencari jadwal ujian. Jadi, saya belum tahu kapan dapat jadwal ujian kembali. Sudah hampir selangkah dan di depan mata untuk mendapatkan SIM (jika langsung lulus), sekarang dalam ketidakpastian. Belum lagi karena les saya sudah berakhir, untuk tetap latihan menyetir, harus mengeluarkan uang ekstra per lesnya sampai ujian nanti.

  • BATAL LIBURAN ULANG TAHUN DI ANDALUSIA – SPANYOL

Setiap saya ulangtahun, jika kondisi memungkinkan, biasanya kami akan jalan-jalan. Sejak akhir tahun lalu, kami sudah merencanakan akan ke Andalusia selama 2 minggu, akhir maret ini. Kami fokus ke ngurusin tiket buat mudik, sehingga tiket ke Andalusia masih belum terbeli tapi penginapan dan tempat-tempat yang akan kami kunjungi sudah dibuat dengan detail. Rencananya, akhir Februari akan membeli tiket pesawat.

Akhir Februari, mulai ada yang positif Corona di Belanda dan keadaan di Spanyol mulai mengkhawatirkan. Akhirnya, awal maret kami putuskan batal ke Andalusia.

  • BATAL LIBURAN KE MECHELEN – BELGIA

Untuk mengobati batal ke Andalusia, kami berpikir pergi ke tempat yang dekat rumah saja. Dapat satu kota namanya Mechelen di Belgia. Jaraknya tidak terlalu jauh dan kotanya cantik. Cocok buat tempat beristirahat sejenak dari gonjang ganjing Corona.

Lalu keadaan di Belanda semakin mengkhawatirkan dan juga negara-negara lainnya, jadi kami memutuskan tidak jadi ke Belgia. Sudahlah berdiam diri di rumah sambil makan nasi kuning tidaklah terlalu buruk untuk merayakan ulang tahun.

  • BATAL ACARA DI RUMAH

Sabtu lalu, harusnya ada pesta kecil-kecilan di rumah. Sejumlah teman dan keluarganya kami undang. Seminggu sebelumnya, ada acara juga dengan keluarga di sini. Syukuran. Lalu seminggu kemudian, perubahan besar terjadi. Seperti biasa, jika di rumah ada acara, saya selalu mencicil memasak jauh hari sebelum hari H. Maklum ya, tenaga terbatas.

Setiap hari mengikuti perkembangan Corona, saya mulai was-was. Mulai berpikir akan membatalkan acara saja. Terlalu riskan jika banyak orang berkumpul dalam satu ruangan untuk situasi saat ini. Tapi suami bilang, acara diteruskan saja, sedatangnya orang karena ada beberapa teman yang membatalkan. Semua makanan sudah siap, kami sudah membeli minuman, camilan, sudah menyediakan goodie bag untuk anak-anak, intinya sudah siap semua. Sampai kamis malam, keinginan saya untuk membatalkan acara semakin kuat. Akhirnya setelah dibicarakan dengan suami, kami mantab membatalkan acara. Pesan saya kirimkan ke semua undangan yang sudah konfirmasi akan datang. Mereka maklum dan bilang akan mengirimkan kado yang sudah dipersiapkan. Saya pun bilang akan mengirimkan goodie bag. Lega sudah mengambil keputusan yang tepat untuk saat ini.

  • CEMAS DENGAN RENCANA MUDIK DALAM WAKTU DEKAT

Satu lagi yang membuat saya cemas akhir-akhir ini adalah tentang rencana mudik dalam waktu dekat. Akhirnya setelah 5.5 tahun sejak datang ke Belanda, kami ada kesempatan mudik ke Indonesia. Kesempatan yang sangat kami tunggu-tunggu selama ini. Jadi persiapannya pun sudah matang, sebelum Corona datang. Sekarang, kami mulai harap-harap cemas apakah bisa dan tetap akan mudik dengan situasi seperti ini. Saya sudah kangen dengan keluarga di Indonesia, Ibupun sudah sangat ingin bertemu kami. Tapi saya sudah mulai bilang ke Ibu, jika situasinya semakin memburuk dan ada kemungkinan bandara di Belanda ditutup, artinya kami tidak bisa mudik. Itu kondisi terburuknya. Sedih, tapi bagaimana lagi. Namun kita lihat saja perkembangannya bagaimana. Mudah-mudahan ada titik terang dan keadaan makin membaik.

  • PANIC BUYING

Kamis malam, tiga supermarket besar (bahkan toko turki pun) di kampung saya mulai diserbu orang-orang yang mulai panik. Kamis pagi dan sore waktu saya ke sana untuk membeli sayuran, semua masih aman terkendali. Saya mulai menjelajah tiga supermarket tersebut sambil melihat kondisi. Semua barang masih aman, tidak ada rak yang kosong.

Jumat pagi, saat kami mau belanja mingguan, sampai tidak mengenali dalamnya supermarket karena banyak rak yang kosong, terutama beras, pasta dan makanan-makanan beku. Benar-benar kosong. Ini di tiga supermarket di kampung. Orang-orang belanja super banyak dan mukanya tegang semua. Kami tidak terlalu banyak belanja karena bahan-bahan dasar sudah ada di rumah seperti beras, pasta, telor dan makanan beku.

IMG_C90B4D709C08-1

 

MENJAGA JARAK – MEMBATASI BERINTERAKSI SECARA LANGSUNG

Hal-hal tidak menyenangkan di atas tentang pembatalan beberapa hal, saya maknai positif. Memang sudah saatnya untuk melakukan tindakan yang bisa memutus mata rantai, mengurangi penyebaran virus. Membatasi diri berinteraksi langsung dengan orang lain, menjauhi kerumunan, dan menjaga jarak. Saya berpikir, mungkin saja saya yang jadi pembawa virus yang bisa menularkan pada orang lain, atau juga sebaliknya. Kita tidak pernah tahu. Bisa saja nampak sehat di luar tapi ternyata kita ada bibit pembawa. Jadi, dengan membatasi interaksi langsung bisa jadi salah satu jalan untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Meminimalisir. Bagaimana caranya? Salah satunya ikuti anjuran dengan tinggal di rumah jika tidak ada kegiatan yang mendesak untuk dilakukan di luar rumah.

Sekolah diliburkan, anjuran kerja dari rumah, menjauhi kerumunan orang, mengurangi bepergian menggunakan transportasi umum (jika memungkinkan) bertujuan untuk mengurangi penyebaran virus. Jadi ketika sekolah libur, tolong jangan lalu diartikan bisa pergi ke tempat liburan. Atau jika dianjurkan bekerja dari rumah, jangan diartikan bisa bekerja di tempat yang banyak kerumunan orangnya. Untuk saat ini, tahan keinginan ke mana-mana. Tinggal di rumah. Jika ingin menghirup udara segar, bisa pergi ke tempat yang minim orang misalkan hutan atau danau atau olahraga lari keliling kampung.

Sekali lagi, kita tidak tahu apakah kita menjadi pembawa virus atau tidak. Jika tidak dimulai dari sendiri, mata rantai ini tidak akan putus. Untuk saat ini, dengan situasi seperti ini, mari sama-sama berjuang. Mulai dari sendiri akan membantu orang sekitar juga. Meminimalisir penyebaran. Ini tidak berlangsung lama. Semua orang di dunia sedang berjuang bersama. Mari kita berjuang bersama memerangi virus ini. Mulai membatasi diri, menjaga jarak, mengurangi berinteraksi dengan orang lain, berdiam diri di rumah, tidak keluar rumah jika tidak mendesak, tidak menimbun bahan makanan, sering-sering mencuci tangan secara benar dengan sabun, meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan dan minuman tinggi gizi, tidak lagi bersalaman, tidak gampang menyebarkan berita sebelum dicek kebenarannya (No Hoax please), dan beberapa hal tindakan pencegahan lainnya.

Selain berdoa dan tawakkal, yuk sama-sama berikhtiar dengan maksimal. Ini saatnya kita berhenti sejenak, menepi sejenak dari kerumunan, kembali ke keluarga, kembali ke rumah, kembali ke orang-orang tersayang, menikmati waktu kebersamaan. Kami dan semua orang di dunia sedang dilanda cemas, khawatir, dan sedih. Kita sama-sama berjuang melewati situasi yang sedang susah di seluruh dunia. Ini tidak lama (semoga), pasti akan terlewati juga. Saat ini, yang diperlukan adalah perjuangan bersama. Semoga siapapun di manapun, sehat bersama keluarga. Percayalah, situasi sulit ini pasti bisa kita lewati. Pasti ada titik terang dan harapan. Mari sama-sama menguatkan dan optimis.

-16 Maret 2020-

Perjalanan Berjilbab

Loji, Bogor

Sepuluh tahun lalu, saya memutuskan untuk menggunakan jilbab. Tulisan kali ini, berisi kilas balik sebelum dan setelah berjilbab.

Disclaimer : Tulisan ini tidak membahas dari sisi perjalanan religi. Jadi, sebelum membaca sampai selesai lalu kecewa tidak ada bahasan religinya, saya tuliskan catatan dulu di awal.

  • LATAR BELAKANG KELUARGA

Orangtua saya biasa saja pengetahuan agamanya. Menjalankan kehidupan beragama juga sewajarnya, tidak yang ketat sekali juga tidak yang longgar. Sesuai porsinya lah kalau saya menyebut. Ibuk saya baru bisa mengaji beberapa tahun sebelum naik haji. Kalau Bapak bisa mengaji sejak kecil karena memang di desa Beliau, mengaji di langgar itu wajib setelah sholat Maghrib.

Setelah Bapak dan Ibuk naik haji sekitar 9 tahun lalu, mereka juga tetap biasa – biasa saja. Tidak lantas menjadi orang yang merasa lebih dari tetangga-tetangga. Tidak juga lantas menjadi paling mulia atau paling alim. Tidak minta ditinggikan kedudukannya juga. Para tetangga juga biasa saja, tidak lantas yang memanggil Bu Hajjah atau Pak Haji ke Bapak dan Ibuk. Kepada anak-anaknya, mereka tidak lantas yang memaksa untuk berjilbab misalkan (Adik saya belum berjilbab waktu itu). Santai saja mereka. Tetap ikut tahlilan, sholawatan. Jaman dulu tidak ada yang sibuk bid’ah-bid’ah, setidaknya di kota saya tumbuh besar. Kehidupan beragama menjadi urusan masing-masing.

Yang berbeda adalah intensitas beribadah. Ibu dan Bapak menjalankan ibadah semakin khusyuk. Tetap menjalankan yang wajib dan menambah dengan amalan yang sunnah. Adakalanya Ibuk kasak kusuk sih memberi tahu saya kok kayaknya si A ga sholat ya, atau si B ga puasa Ramadhan ya. Lalu saya ingatkan, “wes Buk, ayok kembali ke rel semula. Ga usah ngurusi agama orang lain. Kita fokus saja dengan urusan masing-masing. Beragama dan melaksanakan ibadah itu sudah masuk ke area pribadi. Ga perlu ikut campur.”

  • MASA SD

Meskipun orangtua santai dalam urusan beragama, namun mereka menginginkan anak-anaknya punya bekal yang cukup dalam agama. Saya dan adik-adik dimasukkan madrasah dan diikutkan mengaji setelah Maghrib. Saya Madrasah Ibtidaiyah sampai lulus. Jadi kalau pagi sekolah SD Negri, sorenya di Madrasah Ibtidaiyah. Jadi saya punya dua ijazah. Setelah sholat Maghrib, saya pergi ke rumah  tetangga untuk belajar mengaji dengan anak-anak tetangga lainnya. Tidak lama, hanya setengah jam seingat saya. Sebelum Isya, saya sudah di rumah lagi, lanjut belajar atau kalau tidak ada PR ya main-main di halaman dengan anak-anak tetangga. Yang saya ingat, sewaktu madrasah sangat menyenangkan. Saya bisa belajar tentang sejarah Islam, Fiqih, membaca huruf gundul, ikut lomba Qiro’ah, bahkan menang lomba kaligrafi tingkat kecamatan. Senang saya ikut lomba-lomba sewaktu di Madrasah. Sementara di SD Negri, saya juga sering dikirim lomba misalkan cerdas cermat, murid teladan, sampai lomba bidang studi. Kayaknya masa SD saya isinya dari lomba satu ke lomba yang lain.

Saat sekolah Madrasah, murid – murid lainnya menggunakan jilbab. Saya tidak mau. Saya menggunakan kerudung yang hanya mau saya pakai saat di kelas saja. Di luar kelas, saya buka kerudung, gerah. Kota pesisir sis, panas. Guru-guru tidak ada yang mempermasalahkan. Tidak ada paksaan. Saat mengaji malam pun saya tidak pernah mau berjilbab. Cuma pakai mukena. Untuk informasi, saya tinggal di kota kecil yang terdapat dua organisasi Islam yang kuat, yaitu NU dan Muhammadiyah. Tapi seingat saya NU lebih kuat di sana. Saya sekolah Madrasah di Muhammadiyah, tapi guru ngaji di rumah orang NU. Jadilah dalam tubuh saya ini berjiwa campuran haha. Keluarga saya juga tidak fanatik ke kubu tertentu. Biasa saja. Dulu kalau ada yang bertanya, saya NU atau Muhammadiyah? Saya menjawab : saya Islam.

  • MASA SMP

Sewaktu di SMP, saya mulai tertarik menggunakan Jilbab. Melihat beberapa teman kok rasanya kece kalau memakai jilbab. Yang menggunakan jilbab waktu itu cuma beberapa gelintir manusia saja dan kok ya semuanya parasnya cantik. Memang alasan saya waktu SMP ingin berjilbab secetek itu sih, biar nampak kece haha. Saya lalu mengutarakan ke orangtua tentang keinginan untuk berjilbab. Sudah bisa saya duga, tidak diijinkan. Bapak Ibu memang tidak mau kalau keputusan berjilbab hanya untuk ikut-ikutan teman, supaya nampak kece, ataupun ingin menutupi suatu kekurangan. Bapak bilang, “Berjilbab itu keputusan besar. Kamu harus punya alasan kuat, punya pijakan agama yang sudah kokoh, dan harus datang dari diri sendiri. Bukan karena disuruh, bukan karena ikutan tren, dan bukan karena alasan manusia lainnya. Cukup agama saja yang kami turunkan. Berjilbab, kamu harus memutuskan kalau sudah siap. Kalau belum, ya tidak usah terburu-buru. Kamu masih muda. Banyak waktu. Nikmati saja semuanya dulu.”  Saya disuruh menemukan alasan kuat dulu.

Seiring berjalannya waktu, saya lalu lupa keinginan berjilbab. Waktu SMP saya pernah masuk pondok pesantren, sebentar. Sewaktu libur panjang sekolah. Nah, di pesantren memang jilbab diwajibkan. Walhasil saya pakai jilbab hanya kalau ada kegiatan di luar saja. Jilbab yang asal ditali kebelakang. Selebihnya, saya copot. Ga koaatt akuuhh. Sumuk Men! Panasnya kotaku rasanya tak ada duanya. Intinya, saya lupa keinginan berjilbab.

  • MASA KULIAH

Saya loncat cerita ke masa kuliah. Sewaktu SMA, saya tidak terpikir sama sekali dengan jilbab. Sedang menikmati hidup penuh kebebasan karena tinggal ngekos jauh dari orangtua (mulai ngekos sejak umur 15 tahun). Bebas dalam artian, ya bebas haha. Masa-masa nakal lah saya menyebutnya. Nakal tapi saya tidak menyesal pernah melakukan kenakalan-kenakalan masa SMA.

Awal masuk kuliah, untuk yang muslim, diwajibkan ikut kegiatan mentoring. Ini saya agak samar-samar ingat sebenarnya apa ya waktu itu kegiatan mentoring. Saya banyak mbolos haha. Kalau tidak salah kajian Al-Qur’an dan pembahasan Fiqih. Tidak patut dibanggakan karena mbolos tapi saya punya alasan kuat kenapa sering mbolos. Saya sering disindir oleh mbak mentor kenapa tidak pakai jilbab. Saya seringnya pakai kerudung kan, lalu sering disindir. Walhasil saya pakai mukena saja, sekalian sholat Ashar di Masjid kampus.

Jaman kuliah, ini masa di mana saya haus sekali belajar agama. Saya sering ikut kajian-kajian. Inginnya bisa masuk ke komunitas-komunitas tertentu. Intinya saya ingin banyak belajar tentang Islam. Tapi, saya terkecewakan oleh : seringnya ditolak secara tidak terang-terangan karena saya tidak berjilbab, “Maaf lebih baik ditutup dulu auratnya baru bisa bergabung dengan kajian kami.” Coy! saya kan ga pakai bikini ke kampus. Masa sih sampai segitunya. Sungguh, saya kecewa sekali. Sempat mutung kenapa ya ada yang ingin belajar agama Islam secara serius tapi kok malah ditutup jalannya hanya karena saya tidak berjilbab. Dan yang menutup jalan justru dari mereka yang paham agama. Ga jalan logika saya dibagian itu. Mereka seperti mengeksklusifkan diri. Saya sempat agak dendam kalau melihat perempuan dengan jilbab yang menjuntai lebar. Jilbab taplak dulu saya menyebutnya karena saking lebarnya kayak ukuran taplak. Dan sejak itu, saya merasa antipati dengan yang namanya kajian agama Islam atau belajar Islam oleh komunitas tertentu. Bagaimana mau merangkul kalau sudah mengeksklusifkan diri. Saya lalu belajar sendiri dan mencoba mencari sumber-sumber belajar lainnya. Masa kelam dalam hal belajar tentang Islam pada saat kuliah itu.

Loji, Bogor
Loji, Bogor
  • MASA KERJA

Setelah lulus kuliah, saya bekerja 9 bulan di Surabaya. Lalu pindah ke Jakarta dan bekerja di sana selama 7 tahun. Di dua perusahaan tersebut, karyawan yang beragama Islam sedikit sekali jumlahnya, minoritas. Ya tidak masalah juga karena perusahaan tidak pernah menganggap beda, yang penting berprestasi dan hasil dari pekerjaan yang baik.

Saya sampai lupa perihal berjilbab, sibuk bekerja. Cemerlanglah karir saya selama total 8 tahun itu walaupun ada saja cobaan hidup. Meskipun tidak terpikir tentang Jilbab, tapi belajar agama tetap jalan terus. Saya selalu ikut ceramah agama yang diadakan di Musholla kantor, seminggu sekali. Saya menjalani kehidupan sehari-hari ya seperti biasa. Mencoba menyeimbangkan urusan kantor dan pribadi.

Sampai suatu ketika, setelah acara liburan kantor ke Bali, saya mendadak terpikir tentang ingin menggunakan Jilbab. Di malam itu, di kamar kos, saya berpikir dan merasa terpanggil. Saat itu, saya sudah punya alasan kuat  dan sudah lebih mantab. Saya sudah bisa memutuskan sendiri dan pasti bisa bertanggungjawab dengan keputusan yang dibuat. Saya telepon Bapak, menyampaikan niat tersebut. Kali ini, Bapak dan Ibuk menyerahkan semuanya pada saya. Waktu itu, Ibuk belum berjilbab. Jadi, Ibuk tidak bisa berkomentar banyak tentang keputusan yang saya ambil.

Waktu itu, saya tidak tahu kapan akan mulai berjilbab. Saya tidak punya jilbab, bahkan baju lengan panjang saja hanya punya satu pasang. Celana dan kaos. Selebihnya, rok pendek dan kemeja lengan pendek. Nah, beberapa hari kemudian, saya ditugaskan ke Surabaya. Lalu saya ingat, punya teman sekelas waktu SMA yang berjilbab. Saya hubungi dia, bisa tidak mengajarkan saya bagaimana cara menggunakan jilbab. Ya, sampai menggunakan Jilbab saja saya tidak tahu caranya. Teman yang sangat berjasa pada awal mula saya berjilbab itu bernama Halimatuz. Saya panggil Tuz. Dia sekarang tukang rias terkemuka di seantero Surabaya (dan Jatim kayaknya). Akun IG nya @RiasJilbab (bukan testimoni berbayar ini).

Saat itu, dia masih bekerja di bank. Kami janjian malam hari di McD Basrah, Surabaya. Dia diantar oleh suami, datang dengan anaknya. Saya ditemani adik. Di sana, saya diajari cara menggunakan Jilbab yang rapi, masang peniti, bagaimana cara melipatnya, bagaimana membuatnya rapi. Dia yang bawa jilbabnya, karena saya tidak punya Jilbab. Lalu dia memberi saya dua jilbab dan penitinya. The Best lah Halimatuz ini. Suwun ya, Wes 10 tahun lalu Tuz.

Singkat cerita, akhirnya saya berjilbab tepat dihari ulangtahun yang ke 29. Ya ini memang saya sengaja, biar gampang mengingatnya haha. Wah, heboh satu ruangan, semua langsung datang ke kubikel. Bukan untuk menyelamati, tapi terbengong rasa tidak percaya bagaimana bisa seorang Deny kok jadi berjilbab. Bagaimana bisa. Seharian itu, ruangan yang isinya 25 orang jadi gaduh. Bahkan saya dipanggil bos besar, bukan ditegur. Beliau menanyakan apakah saya punya masalah. Saya bilang tidak, baik-baik saja semua. Beliau bertanya seperti itu karena sebelum ke Surabaya selama seminggu, saya menangis di ruangan karena stress dengan urusan budget kantor yang ruwet. Dipikirnya saya berjilbab karena stress haha. Lha menghilang seminggu, lalu balik ke kantor sudah beda tampilan.

Setelah berjilbab, perlahan saya mulai menghilangkan foto-foto yang diunggah ke media sosial saat belum berjilbab. Saya berpikir, setelah berkomitmen berjilbab, seharusnya saya tidak perlu lagi menampilkan foto-foto tanpa Jilbab. Membuka lembaran baru, tutup yang lama. Walaupun apa yang diunggah ke Internet akan selamanya ada, setidaknya saya berusaha menghapus yang di halaman media sosial. Makanya sekarang saya sangat berhati-hati dalam mengunggah foto diri.

Beruntung saat itu saya berjilbab karena keputusan yang datang dari diri sendiri, dari kemauan sendiri, dan tidak dalam keadaan terpaksa.

  • SETELAH 10 TAHUN BERJILBAB

10 tahun kemudian, saya tetap berjilbab, tetap haus dengan ilmu agama, dan tetap belajar sebanyak mungkin tentang Islam. Semakin saya banyak belajar, semakin saya merasa saya ini tidak ada apa-apanya. Tidak ada yang berubah sama sekali dari saya. Tidak lalu tiba-tiba menjadi tukang dakwah, tidak lantas menyuruh teman atau sahabat untuk berjilbab. Saya masih tetap dengan apa yang orangtua ajarkan : Agama dan beribadah itu urusan masing-masing. Sudahlah tak perlu ikut campur. Saya tidak lantas merasa lebih dari mereka yang tidak berjilbab atau memandang sebelah mata yang memutuskan melepaskan Jilbab. Sama sekali tidak.  Setiap orang punya pergulatan hati masing-masing, sayapun demikian. Saya tidak memandang berbeda mereka yang berjilbab berdasarkan lebar atau kecilnya jilbab. Tidak ada yang beda buat saya.

Perjalanan berjilbab selama 10 tahun ini juga tidak selalu riang gembira. Sewaktu di Indonesia, sering dipandang sebelah mata oleh mereka yang jilbabnya lebar sedangkan jilbab saya ya cukupan lebarnya, yang penting terjulur sampai dada. Belum lagi di Belanda, ada saja ujiannya. Dari yang pernah jilbab dijambak, dikatain kalau saya ini bawa kuman penyakit dengan menggunakan jilbab, sampai diteriakin saya harus kembali ke negara asal karena dia benci lihat perempuan berjilbab, dan masih ada beberapa cerita lainnya. Di mana-mana, ada saja ujiannya. Cerita senangnya, untungnya lebih banyak. Salah satunya tentang keluarga suami. Sejak berkenalan, keluarga di sini tidak mempermasalahkan tentang jilbab yang saya kenakan. Malah Mama mertua memberikan saya dua Jilbab sebagai hadiah waktu berkunjung pertama kali ke Belanda. Saya berbeda di keluarga, tapi mereka memperlakukan saya dengan sangat baik.

Saat pasang pohon Natal di rumah lalu saya unggah fotonya di media sosial, seorang mantan sahabat bertanya,“Kamu masih pakai Jilbab, Den?” Lalu saya jawab, “Kalau memang kita pernah bersahabat, kamu tidak akan menanyakan hal ini.

Saya ingat betul pernah berbincang seperti ini dengan Bapak,“Pak, nanti kalau misalkan saya lepas jilbab atau pindah agama, bagaimana menurut Bapak?” Lalu Bapak menjawab,“Apa yang sudah kamu putuskan, pasti sudah kamu pikirkan masak-masak. Bapak sebagai orangtua hanya sebatas memberikan pandangan. Selebihnya, apapun itu, jadi tanggungjawabmu sendiri.” Beruntung sekali saya mempunyai Bapak yang tidak memaksakan apapun pada anak-anaknya, sampai urusan agamapun. Bapak memang berbeda dengan Ibuk tentang penyikapan.

Begitulah kisah panjang saya tentang perjalanan berjilbab. Setiap orang punya perjalanan religi dan spiritual masing-masing. Begitupun saya yang sampai saat ini masih meraba dan tertatih untuk semakin baik dari hari ke hari.

-16 Februari 2020-

Lima Tahun di Belanda

Akhir bulan Januari ini, tepat lima tahun saya tinggal di Belanda. Masih ingat dengan jelas, lima tahun lalu saat suami menjemput di Schiphol, saya sampai lupa wajahnya seperti apa sampai dia memanggil beberapa kali haha. Maklum, setelah menikah kami tinggal terpisah dan selama 6 bulan tidak pernah sekalipun video call-an. Jadi wajah suami agak samar di ingatan dikepruk bojoku :))). Lima tahun lalu, badan saya masih singset mungil –koyok wong ga doyan mangan– Memang saya susah naik Berat Badan….. duluuu. Dua tahun terakhir ini, badan saya sukses mengembang kayak diguyur fermipan. Entah naik berapa puluh kilo. Tak mengapa, memang sengaja dibuat membesar, supaya tidak gampang diterbangkan kerasnya angin di Belanda dan angin kehidupan *krikk kriikk.

Saya tanya suami, apa perbedaan saya lima tahun lalu dan lima tahun kemudian. Inilah jawaban dari dia :

  • Makin Dewasa dan Lebih Jinak

Bagian makin dewasanya saya tidak bisa komentar ya karena ukuran dewasa itu banyak variabelnya. Jadi saya menyebutnya, relatif. Saya mau komentar bagian lebih jinak. Ini maksudnya lebih ke arah emosi. Saya akui, selama 5 tahun ini memang cara saya mengatur emosi lebih stabil. Dulu kan senggol bacok. Seiring berjalannya waktu, lebih banyak pelajaran kehidupan, dan tertular suami yang panjang urat sabarnya, saya pun jadi lebih panjang sumbu sabarnya. Saya makin santai menghadapi apapun, dalam segala suasana. Lebih bisa memilih dan memilah mana yang harus disikapi. Lebih bisa berpikir panjang sebelum bertindak atau bereaksi. Intinya, saya yang dulu senggol bacok, sekarang lebih zen. Dulu yang reaktif, sekarang lebih santai dalam bereaksi. Tidak gampang tersulut, tidak gampang meledak. Pegangan saya cuma satu : tidak semua hal perlu saya urusi dan  ada hal-hal di luar kuasa yang tidak bisa saya kendalikan. Belajar dari kesalahan – kesalahan yang pernah terjadi, saya ingin menjadi jiwa yang lebih baik. Mengendalikan emosi salah satunya. Sekarang, sudah jauh lebih baik. Banyak hal-hal baik dari suami yang saya serap, salah satunya ya bagian emosi ini. Dari dia lah saya belajar untuk lebih santai dan tidak reaktif.

  • Lebih Belanda Dari Orang Belanda

Saya dari dulu kalau ngomong, ceplas ceplos, apa adanya. Awalnya suami kaget pas kenal saya. Berasa bicara sama orang Belanda katanya haha mirip. Kalau di Belanda, disebutnya direct. Jadi ngomong ya apa adanya, tanpa basa basi. Walaupun tingkat direct saya lebih tinggi dibandingkan lingkungan saya di Indonesia, tapi pas tahun pertama menikah, duh ada saja yang bikin perang dunia. Salah paham terus dengan suami perkara dia lebih direct (ya iyalah, dia dari orok di sini). Lama-lama makin paham, lalu sekarang kata suami terkadang saya lebih direct dari orang Belanda asli.

Yang kedua, tentang waktu. Sejak di Indonesia, saya memang paling tidak suka telat dan nelat. Janjian pasti lebih awal dari jam yang disepakati. Lebih baik menunggu daripada ditunggu. Jadi begitu pindah Belanda, saya tidak ada masalah dengan perkara janjian. Suami, tipe yang on time. Jadi benar-benar pas waktunya. Sedangkan saya lebih awal dari waktu janjian. Makanya dia bilang saya lebih Belanda dari orang Belanda.

Yang terakhir tentang uang. Biasa ngirit kan ya karena 13 tahun jadi anak kos. Selain itu juga hasil ajaran orangtua : jika membeli sesuatu, yang seperlunya saja. Walhasil menancaplah ajaran itu sampai akar. Konon katanya, orang Belanda terkenal pelit. Kalau menurut saya, bukan pelit, tapi memperhitungkan segala sesuatunya. Jadi kalau tidak penting-penting amat, tidak akan berfoya-foya. Seperlunya saja. Suami dan keluarganya, termasuk orang yang dalam mengeluarkan uang, seperlunya. Tapi mereka sangat menikmati hidup justru dengan prinsip itu. Menabung kencang, pos-pos untuk hiburan juga diisi kencang. Jadi kalau saatnya travelling, ya menikmatinya dengan maksimal. Makan di tempat yang ok, nginep di hotel yang ok, tidak terlalu memikirkan harus mengirit ini dan itu karena memang sudah memperhitungkan sesuai yang ditabung. Nah, saya lebih perhitungan lagi dari mereka haha. Entah, antara perhitungan sama pelit memang tipis kalau diterapkan pada saya. Suami pernah komen : Kupikir aku ini sudah ngirit, eh kamu kok lebih ngirit dari aku :)))

Itulah dua poin utama dari kacamata suami tentang perubahan saya selama lima tahun numpang tinggal di negara orang. Nah kalau dari saya, ada beberapa hal yang saya masih belum bisa lepas dari hal-hal yang berbau Indonesia dan juga beberapa perkembangan yang saya dapat selama di sini :

  • Masih Takut Hantu

Ini bagian yang agak kocak. Saya ini suka nonton film horor dan sudah terpapar film horor sejak balita mungkin haha. Ya generasi Suzanna lah pokoknya. Jadinya, otak saya itu suka kreatif menciptakan sosok-sosok hantu yang entah ada atau nggak. Apalagi pas kuliah, doyan banget nonton film horor Jepang macam Sadako. Belum lagi horor Thailand kan ngerinya ga main-main. Walhasil, saya jadi orang yang takut akan hantu (yang entah ada apa tidak *ga minta dilihatin juga). Selama di Belanda, saya tidak terlalu merasa horor lagi. Padahal katanya hantu Belanda di Indonesia itu menyeramkan ya. Yang pasti, lingkungan di Belanda tidak terasa horor. Pulang malam jam 10 saya masih berani sepedahan. Tapi, kalau lewat hutan dengan penerangan yang minimal, saya langsung merinding. Membayangkan kalau tiba-tiba ada bayangan putih melesat di depan mata, atau tiba-tiba boncengan sepeda berat trus saya nengok tiba-tiba ada mbak-mbak rambut panjang sudah duduk dengan menyeringai ke arah saya. Itu khayalan saya ya, yang nyatanya memang tidak terjadi. Harusnya saya lebih takut dengan penjahat kalau lewat hutan seperti itu. Nyatanya, bayangan hantu lebih membuat saya takut. Padahal kata suami, kalau di Belanda yang paling ngeri itu cuma satu : dapat surat cinta dari kantor pajak haha.

Beberapa waktu lalu, saya merasa ada hal aneh terjadi di rumah. Lalu saya menyimpulkan kalau ada setan di rumah. Saya cerita ke suami dengan menggebu. Suami ambil Hp, googling, lalu memaparkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi termasuk aspek psikologis. Tidak ada dalam paparannya kemungkinan ada setan. Ya beginilah salah satu perbedaan saya dan suami. Beda antara yang dibesarkan dengan ilmu pengetahuan dan logika, dengan yang dibesarkan oleh film-film Suzanna.

  • Nyebrang Jalan Masih Ragu-Ragu

Terbiasa di Indonesia sebagai pejalan kaki selalu terkalahkan oleh kendaraan bermotor, akhirnya mental itu terbawa sampai sini. Setiap kali lewat zebra cross, saya selalu menunggu mobil lewat dulu. Padahal jelas-jelas kalau menyeberang lewat zebra cross, mobil akan berhenti menunggu pejalan kaki  menyeberang. Tapi entah, sampai saat ini saya masih otomatis berhenti dan menunggu mobil lewat dulu. Sudah lumayan berkurang, tapi masih ada rasa takut kena serempet mobil.

  • Denda Sepeda

Ini yang agak aib. Akhirnya selama 5 tahun sepedahan di Belanda, awal Januari  kena denda. Duh memalukan sekali. Padahal sepedahan sampai 90km  lintas kota Den Haag-Leiden, baik-baik saja. Eh ini mau ke klinik dokter yang jaraknya cuma 10 menit dari rumah, kena denda. Salah saya memang. Karena terburu-buru, saya lupa menyalakan lampu belakang sepeda. Waktu itu jam 8 pagi. Saya pikir, sudah agak terang, jadi lupa saya menyalakan lampu belakang sepeda. Lha kok pas banget ada polisi patroli dengan mobil. Walhasil, saya dihentikan, ditanya kartu identitas, lalu beberapa hari kemudian surat denda datang ke rumah. €65 melayang gara-gara lampu belakang.

  • Pemahaman Bahasa Belanda Semakin Membaik

Ada satu kursus yang saya ikuti saat ini pesertanya semua orang Belanda, bahasa pengantar kursusnya juga bahasa Belanda. Saya satu-satunya imigran di sana. Pertama kali masuk, pulang-pulang kliyengan kepala saya. Kursusnya selama 3 jam. Walaupun saya paham dengan yang disampaikan oleh pemateri, tapi saat diskusi, peserta lainnya kalau ngomong dengan aksen yang berbeda-beda. Kebanyakan ga nangkep jadinya apa yang mereka sampaikan. Kadang malah saya dengarnya kayak kumur-kumur atau krusek krusek kayak nyari gelombang radio. Tapi, ya sesama orang Belanda paham mereka meskipun di telinga saya seperti sedang sakit gigi pas ngomong. Ya sejauh ini, setiap evaluasi setidaknya saya selalu mendapatkan nilai bagus. Masih jadi 3 terbaik di kelas dari 20 peserta. Sampai yang lainnya sempat bertanya apa saya pernah mengikuti kursus ini sebelumnya. Saya bilang tidak. Tapi di rumah, saya memang selalu belajar. Intinya, sebagai imigran, saya sadar diri kemampuan bahasa Belanda saya masih 75%, jadi saya harus inisiatif belajar sendiri di rumah, menyiapkan materi sebelum kelas mulai. Jadi ketika di kelas, saya sudah lumayan tahu apa yang akan disampaikan. Sebagai imigran, dalam hal apapun, saya harus berusaha 10 kali lipat dibandingkan orang Belanda, supaya kemampuan tidak dianggap sebelah mata.

Itulah beberapa hal yang bisa saya tuliskan. Tadi pagi, sebelum berangkat kerja, ucluk-ucluk suami bawa tas dari gudang belakang. Dia memberikan hadiah buat saya. Ya ampun, saya yang rembes dengan rambut masih awut-awutan merasa senang dikasih kado. Merasa suami kok sweet sekali *sekali-kali muji suami nang blog lak ga haram tho. Lalu jam 9 pagi saya mulai berkreasi, masak maksudnya. Saya membuat martabak telor dengan kulit bikin sendiri. Lalu masak mie ayam jamur dengan bahan seadanya di kulkas. Saya pakai ayam sisa soto ayam minggu lalu. Lalu karena tak ada sawi, jadi pakai sayur salad. Dan tak punya cabe merah, jadi pakai cabe buat martabak.

Martabak telor dengan kulit buat sendiri
Martabak telor dengan kulit buat sendiri
Mie ayam jamur
Mie ayam jamur

Ini kali kedua saya membuat martabak telor dalam dua bulan terakhir. Resepnya saya nyontek dari blog Mbak Yoyen. Gampil sih, cuma yang agak akrobatik pas naruh di penggorengan. Debus pun kalah. Tapi hasil akhirnya tak mengecewakan. Semua suka, tandas sekejap mata.

Ini martabak telor yang saya buat bulan lalu. Makan pake nasi haha.
Ini martabak telor yang saya buat bulan lalu. Makan pake nasi haha.

Suami mengajak makan malam di Sushi restoran. Merayakan 5 tahun saya di Belanda. Lima tahun lalu saya tiba di sini. Meninggalkan Indonesia, memulai semua dari awal, tidak menengok lagi yang dibelakang. Lima tahun mengenal negara ini, jatuh bangun dijalani, suka duka dilewati bersama keluarga kecil kami. Semoga saya berjodoh lama dengan negara ini, berjodoh lama dengan suami, dan bisa bersama menjalani pernikahan ini sampai berpuluh tahun lamanya. Sekali lagi, selamat 5 tahun untuk diri sendiri, selamat sudah sampai sejauh ini. Semoga tahun-tahun mendatang tetap menjalani hari dan mencapai yang dicitakan dengan langkah penuh kebahagiaan.

IMG_2509

-30 Januari 2020-

Delapan Tahun Berlalu

Nasi Goreng Hijau

Semakin bisa mengikhlaskan, semakin bisa berdamai dengan waktu, dan semakin bisa memeluk rasa kehilangan yang teramat sangat. Luka karena kesedihan yang mendalam semakin membaik. Airmata masih saja menetes jika mengingat kenangan yang pernah ada, tapi perih di hati semakin bisa teratasi.

Siang ini saya makan nasi goreng favorit kami semua, saya dan adik-adik, sejak kecil sampai kami hidup terpisah. Salah satu dari sekian masakan yang akan selalu kami rindukan. Ketika kami sudah tidak tinggal bersama di rumah, pulang menjadi sangat berarti. Selain bisa mengobrol apa saja sampai tengah malam, kami juga bisa menyantap nasi goreng super pedas yang rasanya tidak akan pernah kami temukan selain di rumah. Bahkan sampai beratus kali saya membuat sendiri, rasanya tak akan pernah menyamai aslinya.

Nasi goreng hijau, kami menamainya. Warna hijau di dapat dari ulekan cabe rawit hijau, bawang putih, daun jeruk, dan garam. Diuleknya tidak terlalu halus, lalu dioseng dengan sedikit minyak sampai bumbu agak mengering supaya tidak langu. Setelahnya nasi dimasukkan dan digoreng sampai tanak. Biasanya kami akan tambahkan lauk seperti telor ceplok atau dimakan tanpa lauk pun sudah sangat enak.

Tadi, saya makan nasi goreng hijau ini sambil mengenang jika kami makan bersama. Duduk bersila di depan TV dengan piring masing-masing. Sembari ngobrol dan sesekali menengguk air minum karena rasa nasi goreng yang super pedas. Bahkan saking pedasnya, seringkali telinga menjadi berdenging. Mungkin karena sejak kecil sudah makan nasi goreng pedas ini, kami tumbuh jadi anak-anak yang doyan pedas.

Nasi Goreng Hijau
Nasi Goreng Hijau

Saat sudah bekerja di Jakarta, saya sering mendengar candaan yang terlontar saat berbincang di telefon, “Nanti kalau kamu sudah bertemu dengan jodohmu dan kalian sudah punya anak, jangan lupa untuk liburan ke rumah. Bapak akan sangat senang bermain dengan cucu-cucu. Nanti Bapak ajak berkebun. Nanti Bapak dipanggil Mbah Kakung saja. Mbah Kakung akan cerita pada cucu-cucu kalau Ibunya dulu paling senang duduk di pangkuan Mbah Kakung saat Mbah Kakung makan sepulang kerja.”

Tadi pagi saat berjalan-jalan, saya melihat seorang Opa menggandeng cucunya sambil mendorong stroller cucu yang satunya. Mata saya berembun, ada rasa sesak dan perih melihat pemandangan tersebut. Selalu perasaan yang sama muncul saat melihat Opa bersama cucunya, bersenda gurau dan bercengkrama. “Insya Allah, tahun ini kami semua akan datang dan liburan ke rumah, Pak. Berziarah dan menunjukkan pada mereka kuburan Mbah Kakungnya. Seorang Mbah Kakung  yang tak pernah mereka temui tapi akan selalu menemani lewat cerita dari Ibunya.” Waktu memang tidak lagi bisa diajak berandai-andai. Saya selalu yakin, Bapak tidak pernah pergi. Beliau ada di sekitar kami, tersenyum melihat hidup saya sekarang, sejauh ini.

Bapak, satu-satunya orang di keluarga yang selalu mendukung apapun keputusan yang saya ambil, “asal kamu mampu bertanggungjawab dengan apapun konsekuensinya,”. Bapak, satu-satunya yang percaya setiap mimpi dan keinginan saya yang nampak mustahil buat orang lain, tapi selalu mengatakan tak ada yang tidak mungkin di dunia. Bapak, satu-satunya orang yang tidak pernah bosan mengatakan bahwa saya harus bersekolah setinggi mungkin. Bapak, satu-satunya yang tidak pernah menyuruh saya cepat-cepat menikah, apalagi punya anak, “Nikmati hidupmu dulu, berkarier dan sekolah dulu setinggi-tingginya. melihat dunia sejauh-jauhnya. Nanti jodoh akan datang sendiri pada saatnya.” Bapak, yang selalu mengusahakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Bapak, yang selalu merasa cukup berapapun dan apapun yang dipunya. Tidak pernah ngoyo mencari diluar kemampuan, tidak pernah hidup berlebihan.

Sudah delapan tahun berlalu, tepat tanggal ini, saya selalu melangkah diselimuti kerinduan. Kenangan baik yang selalu akan teringat bersama doa-doa yang terlantun.

-6 Januari 2020-

Kilas Balik 2019 dan Rencana 2020

SELAMAT TAHUN BARU 2020

Semoga kebahagiaan dan kesehatan senantiasa menyertai kita semua sepanjang tahun, juga diberikan umur panjang yang barakah. Semoga segala rencana dan doa yang terpanjat mendapatkan jalan kelancaran untuk mencapainya. Semoga semakin rendah hati, dikuatkan iman, melakukan hal – hal yang semakin baik setiap hari. Apapun itu, semoga yang terbaik.

Sebelum masuk ke tulisan utama, saya akan bercerita singkat tentang malam tahun baru dan hari pertama di tahun 2020. Malam tahun baru, seperti biasa tidak ada acara yang spesial. Setelah makan malam, saya mulai menggoreng pisang, ubi, dan singkong. Di luar rumah, terdengar suara petasan dan kembang api saling bersahutan, tapi tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Seperti tradisi di Belanda pada umumnya, tidak lengkap rasanya jika malam tahun baru tidak ada camilan Oliebollen. Akhirnya camilan yang ada di rumah perpaduan dari dua negara. Kearifan lokal : Oliebollen, Berliner bollen, Appleflap. Bersanding dengan kearifan Internasional : Pisang goreng, Ubi goreng, Singkong goreng.

Kami tidur jam 9 malam (maklum pasangan jompo ya begini, tidak kuat melek terlalu malam haha), jam setengah 12 saya terbangun, lalu jam 12 saya membangunkan suami mengucapkan selamat tahun baru dan mengucap beberapa doa dan harapan, setelahnya saya bergegas ke loteng untuk melihat kembang api. Tidak berapa lama, saya turun dan membuka korden kamar. Melihat kembang api dari kamar sambil twitteran haha mulia sekali hidup saya ini. Kembang api mulai berkurang, saya kembali tidur jam 2.

Kearifan lokal : Oliebollen, Berliner bollen, Appleflap. Bersanding dengan kearifan Internasional : Pisang goreng, Ubi goreng, Singkong goreng.
Kearifan lokal : Oliebollen, Berliner bollen, Appleflap. Bersanding dengan kearifan Internasional : Pisang goreng, Ubi goreng, Singkong goreng.

Paginya kami bangun seperti biasa, sarapan, lalu saya mulai masak. Rencananya, saya akan membuat tumpeng. Sudah menjadi kebiasaan sejak di Belanda, setiap tahun baru saya membuat tumpengan lalu menghantarkan nasi kuning ke para tetangga.

Jam 11 sudah selesai semua, saya mulai menyusun tumpeng dan printilannya. Seperti biasa, karena tidak punya cetakan tumpeng, saya menggunakan kertas karton dibentuk kerucut. Tumpeng kali ini isinya : mie goreng, sambel goreng kentang pete, tempe orek, ayam kalasan, dadar telor, perkedel, dan urap sayur. Setelah berdoa bersama dan mengucapkan beberapa harapan, kami menyantap tumpeng dengan antusias. Maklum, sudah sangat lapar.

Tumpeng Nasi Kuning Tahun Baru 2020
Tumpeng Nasi Kuning Tahun Baru 2020

Setelah makan, saya ke para tetangga untuk memberikan kotak nasi kuning. Setiap tahun baru memang seperti ini. Senang rasanya bisa lebih memperkenalkan makanan Indonesia. Sorenya, kami ke tetangga sebelah rumah. Setiap tahun baru  kami juga selalu mendapatkan undangan untuk sekedar ngobrol sambil makan camilan (salah satunya Oliebollen lagi hahaha mabok Oliebollen).

Nasi kuning untuk para tetangga
Nasi kuning untuk para tetangga

Seperti itulah cerita malam tahun baru dan hari pertama tahun 2020. Sekarang menuju tulisan utama yang mungkin akan sangat panjang. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.

KILAS BALIK 2019

Cerita tahun 2019, saya sambil mengintip tulisan tentang rencana tahun 2019 yang saya tulis awal 2019. Jadi saya tahu apa saja yang sudah terlaksanakan, apa saja yang masih menjadi PR.

KEHIDUPAN PRIBADI

  • Diploma Kelulusan Ujian Integrasi

Akhirnya saya menerima Diploma kelulusan ujian integrasi. Sah sudah saya memenuhi kewajiban lulus semua ujian integrasi. Dengan begitu, saya bisa mengajukan proses menjadi permanen residen. Akhir tahun sudah diproses.

  • Batal Menonton Beberapa Konser

Tahun 2018, saya membeli tiga tiket konser yaitu BSB, Maroon 5, dan Bon Jovi. Dua diantaranya memang konser yang saya tunggu-tunggu selama ini. Konser impianlah ceritanya. Padahal saya sudah tahu saat membeli tiket kalau tahun 2019 tidak akan bisa menonton konser. Dengan membeli tiket saja sudah senang haha. Akhirnya saya jual tiket-tiket tersebut, lumayan ada untungnya (calo haha).

  • Mengikuti Dua Kursus

Sewaktu awal tahun 2019 menuliskan ingin mengikuti kursus, sebenarnya belum terbayangkan kursus apa yang ingin saya ikuti. Ternyata menjelang akhir tahun, saya ada ide mau ikut kursus apa. Salah satunya kursus bahasa Belanda gratisan dari pemerintah kampung saya. Jadi kursus ini diadakan buat mereka yang sudah lulus ujian integrasi dan ingin mengikuti ujian level lebih tinggi. Saya sudah lulus ujian B1, rencananya tahun depan ingin mengambil ujian bahasa Belanda level B2. Ya mumpung ada kursus gratisan di perpustakaan dekat rumah, saya tidak mau menyiakan kesempatan. Waktunya malam, jadi pas dengan kondisi saya.

  • Menyelesaikan Target Membaca 50 Buku Dalam Satu Tahun

Ini adalah salah satu prestasi yang saya banggakan tahun ini, tuntas menyelesaikan target membaca 50 buku. Akhirnya yaa, setelah 4 tahun berturut memasang target 50 buku, tahun ini bisa juga capai target. Ternyata tidak ada yang mustahil di dunia ini, asal konsisten dan disiplin.

Selalu pasang target 50 buku sejak tahun 2016
Selalu pasang target 50 buku sejak tahun 2016

Saya ikut challenge seperti ini supaya disiplin saja. Sejauh mana saya konsisten dan disiplin menuju target yang saya tetapkan di awal. Sama halnya seperti membuat catatan rencana di awal tahun. Sejauh mana rencana sudah mendekati tujuan. Sama halnya dengan membaca Al-Qur’an, sebenarnya kalau mau khataman setiap tahun, sangat bisa. Mau pilih cara harian atau cara sebulan sewaktu Ramadan. Misalnya Ramadan, satu juz satu hari. Sebelum Idul Fitri sudah khataman. Begitu juga dengan cara harian, misalkan 5 lembar setiap hari. Bisa setiap selesai sholat satu lembar atau langsung satu waktu 5 lembar. Akhir tahun akan khataman Al-Qur’an. Seperti itu gambarannya.

Yihaa!! Akhirnya capai target.
Yihaa!! Akhirnya capai target.

Tentang buku-buku apa saja yang saya baca tahun 2019, nanti akan saya buatkan tulisan khusus. Saya membaca lumayan banyak buku yang menarik, beberapa tentang parenting.

  • BERTEMU DENGAN KAWAN-KAWAN BARU, PARA BLOGGER

Beberapa kali saya mengikuti potluck dengan grup yang sama. Pertemanan makan saya menyebutnya haha. Selain dengan orang-orang yang sama, tahun 2019 beberapa kali juga bertemu dengan orang-orang baru.

Rasanya tahun 2019 saya bertemu lumayan banyak orang-orang baru. Mereka ini saya kenal lewat twitter maupun lewat blog, ada juga yang dari komunitas. Bulan November saya mengundang makan siang beberapa orang yang saya kenal lewat twitter. Beberapa sudah pernah ketemu sebelumnya. Wah, seru sih obrolan kami. Waktu 4 jam cekikikan membahas dari yang serius sampai yang santai, tidak terasa. Sambil ngobrol sambil nyamil.

Akhir tahun, mendapat pesan dari Dita, salah satu blogger panutan saya dalam hal membaca buku. Dita yang tinggal di NYC, berencana akhir tahun liburan di Belanda dan mengajak saya serta Crystal untuk kopdaran. Akhir tahun 2018 sebenarnya Dita juga liburan di Belanda dan kamipun sudah janjian kopdaran. Apadaya, kalau belum berjodoh memang ada saja hambatannya. Tidak akan terpikir bakal ada kesempatan bertemu Dita dalam waktu dekat. Eh, ternyata kali ini bisa ketemu juga. Semakin percaya konsep Jodoh Pasti Bertemu *TerAfgan.

Sudah kenal Dita dari Blog sekitar 4 tahunan ini. Dita ini unik menurut saya. Banyak hal-hal yang saya suka dari apa yang dia ceritakan di blog. Tidak semuanya tentu saja ya, tapi secara keseluruhan, menarik. Salah satunya, selera musik Dita, yang saya tidak mengerti sama sekali hahaha. Maklum, generasi Afgan saya ini (bukan umurnya ya, selera musiknya *harus diperjelas). Karena sering komen-komenan, begitu pertama ketemu di Den Haag, kami sudah tidak ada canggung-canggungnya. Ngobrol seperti teman lama. Nyambung satu sama lain dengan Crystal juga. Saya yang penasaran tentang NYC, banyak bertanya seperti apa NYC. Dibayangan saya, pasti benar-benar megah, besar, dan meriah. Selain itu, topik obrolan kami juga unik sih, sampai ngobrolin Capres masing-masing periode haha Diaspora yang rasan-rasan Indonesia. Senang bertemu Dita secara langsung. Semoga lain waktu bisa bertemu Dita lagi, di NYC mungkin. Ada amin lagi? *minta amin mulu haha.

  • PEMILU INDONESIA DI BELANDA

Akhirnya bisa merasakan juga mengikuti Pemilu Indonesia di Belanda. Wah ini sih pengalaman tidak akan terlupa. Bukan hanya prosesnya (yang agak ruwet) tapi juga lebih karena saya sangat antusias.

  • SEPUPU TINGGAL 3 BULAN DI RUMAH

Akhir Februari, sepupu dekat datang ke Belanda dan tinggal di rumah selama 3 bulan. Rasanya menyenangkan punya teman ngobrol berbahasa Indonesia selama 3 bulan dan memberikan informasi terkini kabar di keluarga besar. Maklum, sejak di sini saya jadi kurang tahu kabar terkini di keluarga besar. Saya tidak ikut satupun WhatsApp grup keluarga.

  • KONSISTEN MENULIS DI BLOG 

Ini juga jadi salah satu prestasi yang saya banggakan tahun ini, tetap konsisten menulis di blog diantara hingar bingar kegiatan sehari-hari. Lumayan, tahun ini saya bisa menulis sebanyak 48 judul. Jadi rata-rata 1 tulisan per minggu. Tahun 2018, saya menulis sebanyak 48 judul juga. Lumayanlah, masih rajin diantara keseruan saya mantengin (dan meramaikan) republik twitter.

  • HEATWAVE

Tahun 2019 panasnya ga ketulungan. Super panas, sampai 40 derajat sewaktu kami sedang di Kroasia. Belanda pun tak kalah panasnya. Kami sampai harus ke UGD karena ada yang nyaris kena dehidrasi. Salah satu pengalaman tak terlupakan, malam-malam harus ke UGD.

JALAN-JALAN

Jalan-jalan tahun ini tidak terlalu banyak, hanya tiga kali. Satu mengunjungi negara baru, yaitu Kroasia. Dua kali ke Jerman yaitu ke Cochem dan Nurnberg. Selebihnya, jalan-jalan di sekitar Belanda saja.

KELUARGA

Cerita bahagia dan sedih datang silih berganti di keluarga inti maupun keluarga besar kami. Banyak berita bahagia salah satunya adalah kelahiran, beberapa juga berita duka. Saya menerima kabar beberapa saudara meninggal dunia. Yang paling menyedihkan dari perantau yang jauh dari tanah air selain kangen makanan adalah saat ada kabar gembira, tidak berada di sana. Saat mendengar kabar duka, pun tidak bisa ada di sana.

Kabar duka yang datang di keluarga inti kami semakin menguatkan hubungan. Suka duka dijalani bersama, saling menopang, saling menguatkan.

MAKIN MELEK DUNIA MAYA

Semakin lama bergelut dengan dunia maya, semakin bisa mengendalikan diri. Tidak gampang terpancing dan tidak ingin berkomentar semua hal. Semakin bisa memilih dan memilah mana saja yang layak dikomentari. Kuncinya satu sih supaya tetap waras bermedia sosial : jangan terlalu diambil hati dan tidak perlu semua hal dikomentari. Kalau sudah menggebu ingin berkomentar, tarik napas dulu lalu tinggalkan. Kalau satu hari berlalu masih kepikiran, ya silahkan berkomentar. Menjadi pengamat lebih menyenangkan buat saya. Sembari mengamati, sembari menganalisa (lalu dijadikan bahan tulisan kalau kata Dita haha). Kritis boleh, lebih baik kurang-kurangi nyinyir. Mau cari apa sih. Tapi hari pertama 2020 sudah lumayan kepancing dengan pembahasan ASI di twitter. Akhirnya ya saya kasih data saja.

Selain itu, saya semakin berhati-hati membagikan hal-hal yang berhubungan denga n pribadi dan keluarga. Pamer hal-hal yang umum saja seperti masakan atau buku atau apapun itu. Saya juga semakin jarang membagikan foto diri, berpikir akan berakhir di mana foto yang saya taruh di internet. Ngeri juga kalau berpikir sejauh itu.

Beberapa pelajaran berharga yang saya dapat dari tahun 2019 :

  1. Mengikhlaskan kehilangan, seberapapun sakitnya. Meskipun butuh waktu, perlahan untuk melepaskan yang memang dititipkan hanya sementara. Mengingat memang hanya sampai waktu tertentu saja berjodoh untuk merasakan kehadirannya.
  2. Merawat sebaik mungkin apa yang sudah ada : kesehatan, pertemanan, keluarga, dan pernikahan
  3. Bahwa kebahagiaan dalam pernikahan itu butuh diperjuangkan bersama. Tidak harus selalu bahagia setiap saat, tapi masing-masing bisa saling menopang

Begitulah catatan tahun 2018. Sekarang saatnya saya menuliskan rencana tahun 2020.

RENCANA 2020

  • MUDIK

Liburan ke Indonesia ini semacam rencana tahunan sejak tahun 2016 yang entah kapan bisa terealisasi haha. Ya sudahlah tidak apa, tiap tahun dibuat rencana. Siapa tahu 2020 bisa mudik beneran. Ada sumbangan amin?

  • KURSUS

Menyelesaikan kursus yang sudah berjalan sekarang, semoga langsung lulus ujian tidak sampai mengulang karena harganya sangatlah mahal. Selain kursus tersebut, kursus bahasa Belanda gratisan dari pemerintah juga semoga selesai tahun ini dan bisa ke langkah selanjutnya yaitu ujian bahasa Belanda level B2. Ada lagi kursus yang ingin saya ikuti berhubungan dengan pendidikan anak-anak, juga satu kursus lagi berhubungan dengan New Product Development. Kok rasanya antara kursus satu dan lainnya ga nyambung ya haha ya sudahlah tak mengapa. Tahun 2020 saya belum tahu sudah bisa mulai cari pekerjaan atau belum, jadi ingin memaksimalkan ambil kursus saja dulu.

  • BACA BUKU

Baca buku seperti biasa, ikut Reading Challenge di Goodreads. Tahun 2019 sudah lunas menyelesaikan target 50 buku, jadi 2020 mau santai, cukup target 20 buku.

  • NULIS BLOG

Nulis blog semoga masih jalan terus. Minimal seminggu sekali. Kalau tidak menulis blog rasanya ada yang hampa *tsaahh!

  • TURUN BERAT BADAN (BB) 25KG

Sebenarnya saya tidak tahu pasti sih selama dua tahun terakhir berapa kenaikan BB, setahun belakang memang sengaja tidak menimbang. Saya tulis 25kg sebagai perkiraan, bisa lebih bisa kurang. Karena 2020 sudah tidak ada alasan untuk berginuk-ginuk ria, jadi saatnya mulai atur pola makan dan makin kencang olahraga. Syukur-syukur kalau tahun ini bisa ikut Half Marathon. Cukuplah dua tahun punya badan melar haha mari kembali ke badan singset seperti sedia kala…. ini dengan catatan kalau saya ga kebanyakan rebahan ya haha.

  • JALAN-JALAN

Seperti biasa, target tidak muluk-muluk, minimal bisa mendatangi satu negara baru. Sudah ada di daftar, mudah-mudahan terlaksana. Selebihnya, ya paling mendatangi negara-negara tetangga tapi ke kota yang baru.

  • KELUARGA

Tidak ada rencana khusus di keluarga kami. Doa dari tahun ke tahun tetap sama. Semoga semuanya diberikan kesehatan yang baik, ikatan dalam keluarga selalu baik dan semakin baik, bahagia semuanya, hidup saling berdampingan dalam suka duka sampai akhir hayat.

  • TEGAK IBADAH DAN BERUSAHA BERMANFAAT

Tahun bertambah, umur berkurang, harusnya makin kencang ibadah. Tidak tahu sampai kapan diberikan kesempatan hidup, jadi lebih baik berusaha bermanfaat untuk diri sendiri, Sang Maha Pencipta dan orang-orang sekitar. Semakin berusaha keras mengendalikan nafsu merusak baik dari segi perkataan maupun perbuatan. Harus semakin kencang melakukan hal-hal yang berguna. Hidup di dunia tidak abadi.

Sejauh ini baru itu rencana saya untuk tahun 2020. Rencana-rencana lainnya akan muncul sambil jalan. Jadi, jalani saja dulu.

Cheers untuk 2020!

5CC5F1A1-D199-4D72-9EFF-6CC08BB46AA0

-2 Januari 2020-

 

 

 

 

Makan Malam Natal 2019

Salmon panggang, roti, acar timun, daun dili

Bangun terlalu pagi, serumah masih tidur semua. Daripada nganggur, nulis blog saja *tsahh biar nampak rajin. Nulis cepet-cepetan saja ya, yang baru tadi malam terjadi. Makan malam Natal 2019. Di Belanda biasanya makan malam Natal itu pas malam tanggal 24, kumpul keluarga atau teman-teman. Tapi banyak juga pas tanggal 25 malam. Kami yang kedua. Jadi kami mengundang beberapa keluarga dekat (tidak semua) untuk makan malam di rumah, pas Natal hari pertama. Natal hari kedua, seluruh keluarga besar (yang tidak terlalu besar) kumpul makan di restoran. Saya pernah menuliskan makan Malam Natal tahun 2016 di sini. Nah, menu makan malam kali ini, saya pilih yang gampang-gampang saja. Dengan kekuatan Oven, cringg!! Matang. Semua menu ini, saya baru pertama mencoba resepnya. Jadi harap maklum ada yang diluar ekspektasi (agak gagal haha). Semua resepnya, saya intip dari majalah Aller Hande (Majalah supermarket Albert Heijn. Bisa cek juga di websitenya. Ada tutorial videonya juga.) dan saya modifikasi sedikit-sedikit sesuai situasi dan kondisi.

Makan malam, Natal 2019
Makan malam, Natal 2019

Pembuka: Roti dan salmon asap. Knolselderijsoep (sup umbi seledri)

Utama: Beef Wellington (saus nyontek Jamie Oliver), Potato gratin, Chicken roulade, Brussel Sprouts Kol Wortel panggang pake Mint.

Penutup: Chocolademousse (yg agak gagal haha)

img_1879

Saya bahas satu persatu ya resepnya (tanpa takaran).

 

A. MAKANAN PEMBUKA :

  • Camilan : Roti dan Salmon asap

Sebagai teman ngobrol sebelum masuk ke menu makanan. Hanya Salmon asap ditaruh diantara roti, diberi acar timun dan daun Dili.

Salmon panggang, roti, acar timun, daun dili
Salmon panggang, roti, acar timun, daun dili

 

  • Knolselderijsoep

Makanan pembukanya saya buat Knolselderijsoep : Sup umbi seledri (silahkan gugling bentuknya). Masaknya gampang. Knolselderij potong2. Masukkan ke tumisan bawang bombay dan bawang putih. Oseng sebentar, lalu beri air. Beri bumbu : garam, merica, kumin, pala, kaldu sayur, potongan seledri. Masak sampai ubi empuk. Kalau sudah empuk, matikan api lalu masukkan potongan apel merah. Jika sudah agak dingin, blender. Masukkan lagi ke panci, panaskan, tambahkan krim atau santen. Sajikan hangat.

Knolselderijsoep
Knolselderijsoep

B. MAKANAN UTAMA

  • Beef Wellington

Beef setelah dikeringkan dengan tisu dapur, olesi dengan garam merica dan bumbu-bumbu bubuk sesuai selera. Panaskan di penggorengan dengan butter, daun Salie, rosemarin, bawang putih. Jika sudah kulitnya coklat, angkat. Isiannya saya pake : jamur dioseng pake peterselie, bieslook. Blender semua. Urutan pengerjaan : Kalkun bacon (resep asli pake Raw Ham, saya ganti kalkun bacon) ditata supaya nanti bisa ngewrap beefnya, lumuri pake blenderan jamur, taruh beefnya, lalu wrap sampai ketutup. Taruh di kulit pastri. Tutup semuanya. Lumuri pake kocokan telur. Panggang 200°C selama 40 menit atau tergantung mau seberapa matang beefnya. Kalau saya, temperatur beef 60°C (cek menggunakan termometer daging).

Sajikan dengan saus. Ini resep sausnya nyontek punya Jamie Oliver. Sayap ayam dipanggang 180°C 30 menit dengan Batang Seledri besar, wortel, bunga pekak, tijm, rosemarin, bawang bombay. Keluarkan dari oven, hancurkan kasar, kasih tepung terigu tergantung kekentalan saus yang diinginkan (saya, 3 sendok makan), kasih air, masak sampai aromanya keluar (saya masak pakai api kecil selama 2 jam). Jangan lupa kasih garam merica dan bumbu lainnya sesuai yang diinginkan. Jadilah saus bumbu campur.

Di bawah ini penampakannnya. Beef Wellingtonnya baru keluar dari oven. Harus diistirahatkan dulu minimal 10 menit.

Beef Wellington
Beef Wellington
  • Chicken Roulade

Ini saya beli yang sudah jadi. Tinggal panaskan di wajan pakai buter sampai kecoklatan, lalu panggang di oven 200°C selama 1 jam. Setengah jam balik permukaan. Cek suhu ayam, minimal 74ºC. Sempat bingung pas mau manasin di wajan. Saya lihat kok ada plastiknya. Musti dibuka atau tidak usah. Dari tutorial sih tidak dibuka. Tapi tetep takut mbledos. Nanya ke grup buk ibuk. Anis dan Rurie bilang tidak usah karena itu kolagen. Ternyata bener, tidak mbledos saudara-saudara. Maklum, masih amatiran ini haha.

Chicken Raulade
Chicken Raulade
  • Potato Gratin

Kentang (Vastkokende aardappelen1kg potong tipis. Masukkan ke adonan slagroom segar (krim kocok segar) yang sudah dibumbui garam merica pala bawang putih daun tijm segar. Pinggan tahan panas olesi dengan bawang putih lalu buter. Masukkan potongan kentang tadi di pinggan tahan panas, tata, lalu siram dengan sisa cairan. Tutup dengan keju parut (saya pake jenis Gruyere) dan potongan buter. Panggang 200°C selama 1 jam. 30 menit pertama, tutup dengan aluminium folie. 30 menit selanjutnya, buka aluminium folie.

Potato Gratin
Potato Gratin
  • Sayuran (Wortel, Kol, Brussel Sprouts)

Ini biasa, cuma dipanggang 180ºC selama 45 menit, balik pas 30 menit. pakai bumbu bubuk macam bawang putih, garam, merica, dan bubuk lainnya. Saya tambahkan potongan daun mint dan balsamik, di wortelnya diberi sedikit madu. Yumm enak!

img_1875

 

C. MAKANAN PENUTUP : CHOCOLADEMOUSSE

Alias Coklat Mouse. Gampil sih ini. Tidak perlu trik-trik mematikan haha. Cuma butuh mixer. Tidak perlu dipanggang. Silahkan google, resep bertebaran di mana-mana. Punya saya agak gagal, tidak terlalu terasa mouse nya, malah semacam brownie. Sepertinya agak salah pas nyampur kocokan putih telur dan adonan coklat. Kurang penghayatan dan kurang kalem haha. Masih enak kok dimakan. Ludes. Saya sajikan dengan krim kocok dan Frambozen.

Chocolademousse
Chocolademousse

 

Begitulah makan malam Natal 2019 dengan menu anti ribet-ribet tapi semua kenyang, puas, dan senang. No banyak cuci peralatan dan no encok setelahnya. Masak semua sendiri tidak berasa capek karena ya semuanya masuk oven. Jadi bisa santai. Persiapannya pun tidak lama. Beda kalau masak makanan Indonesia untuk acara, setelahnya encok haha.

Het was super gezellig! Setelah buka-buka kado, sampai jam 9 malam tamu-tamu baru pulang. Senang berbincang-bincang tertawa saling bertukar kabar.

Selamat Natal hari kedua dan selamat liburan buat semua.

-26 Desember 2019-

Pasar Natal di Nürnberg – Jerman

Nürnberger Christkindlesmarkt

Tahun ini, karena tidak bisa liburan terlalu jauh tempatnya, kami memutuskan untuk berkunjung ke Pasar Natal. Nürnberg yang ada di Jerman adalah pertama yang terlintas. Sejak tahun 2015 sebenarnya kami merencanakan ke pasar Natal di Nürnberg yang merupakan salah satu terbesar, terbaik, bahkan tertua di Dunia. Namun tahun 2015 kami berkunjung ke pasar Natal yang ada di KÖLN.

Hampir setiap akhir tahun kami memang menyempatkan diri untuk ke pasar Natal. Tahun 2015 kami ke pasar Natal di Koln – Jerman. Tahun 2016 ke Royal Christmas Fair di Den Haag (yang sebenarnya tidak terlalu terlihat sebagai pasar Natal). Lalu tahun 2017 kami tidak pergi ke mana-mana. Tahun 2018 kami ke Natalis Notabilis, pasar Natal yang ada di Malta. Kami memang sama-sama menyenangi suasana pasar Natal. Seperti benar-benar merasakan dan terasa kesyahduan bulan Desember.

Perjalanan dari tempat tinggal kami ke Nürnberg total 8 jam berkendara. Setelah melewati Frankfurt, sudah mulai terlihat di kanan dan kiri hamparan putih. Ya, salju turun sepanjang sisa perjalanan menuju Nürnberg. Tentu saja kami sudah tahu dengan melihat prediksi cuaca yang meramalkan akan turun salju di Nürnberg selama dua hari.

Nürnberg Christmas Market
Nürnberg Christmas Market

Kami sampai di hotel sudah menjelang malam, jadi kami memutuskan langsung istirahat. Keesokan paginya, baru kami menjelajah kota Nürnberg dengan tujuan utama pasar Natal. Salju benar-benar deras turun. Antara senang dan jengkel juga. Senang karena merasa : wah pas ya waktunya ke pasar Natal salju juga turun. Jadi berasa seperti di film-film berlatar belakang suasana Natal *hahaha korban film-film Hollywood. Jengkelnya jadi susah mau mengeluarkan kamera. Sayang, takut kamera basah. Akhirnya ya sesekali tetap dikeluarkan. Meskipun salju yang turun lumayan deras dan hampir sepanjang hari, tapi saljunya jenis yang basah. Jadi sesampainya di tanah langsung cair.

Seperti biasa saya tetep norak donk kalau melihat salju. Hati rasa berbunga-bunga, padahal ya sebenarnya merasa ribet karena kacamata basah (saya gampang kesal kalau kacamata basah). Tak apalah, anggap saja White (menjelang) Christmas, jadi dinikmati saja.

Pasar Natal di Nürnberg benar-benar super besar. Ada beberapa bagian yang letaknya berdekatan satu sama lain. Kami mendatangi tiga pasar Natal yaitu Pasar Natal khusus anak-anak, pasar Natal yang bekerjasama dengan beberapa Negara, dan pasar Natal umum. Saking besarnya pasar Natal yang umum ini, rasanya kami sudah berjalan lama mengikuti setiap baris stan-stan yang ada di sana, tapi kok tidak ada habisnya. Sampai kami berpikir jangan-jangan tersesat haha.

Nürnberg Christmas Market
Nürnberg Christmas Market

Nürnberger Kinderweihnacht

Pasar Natal untuk anak-anak, lokasinya tidak terlalu besar. Stan-stan yang ada juga tidak terlalu banyak. Ada dua permainan utama di lokasi ini, yaitu Carrousel dan permainan kereta api. Sewaktu kami sampai di sana, berbarengan dengan rombongan anak-anak dari berbagai macam sekolah. Jadinya ya ramai sekali dan riuh.

Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt
Nürnberg Kinderweihnachtsmarkt

Nürnberger Christkindlesmarkt

Tahun ini, pasar Natal di Nürnberg diselenggarakan dari tanggal 29 November sampai 24 Desember 2019. Seperti yang saya tulis sebelumnya, pasar Natal di Nürnberg terkenal sebagai salah satu yang terbesar, terbaik, dan tertua di dunia (sudah ada sejak abad ke 16). Jika dibandingkan dengan yang ada di Koln, meskipun memang hampir sama, tetapi yang di Nürnberg jauh lebih besar dan lebih meriah.

Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt

Salah satu yang membuat kami selalu semangat untuk berkunjung ke Pasar Natal setiap akhir tahun, selain ingin merasakan suasananya, juga suami selalu mengincar Glühwein (minuman yang terbuat dari campuran anggur merah, kulit jeruk, lemon, rempah seperti kayu manis, cengkeh, adas. Glühwein disajikan dalam keadaan panas di cangkir). Kata suami : Apalah artinya pasar Natal tanpa Glühwein. Kesempatan buat dia minum Glühwein sebanyak-banyaknya.

Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt
Nürnberger Christkindlesmarkt

Begitulah cerita singkat (dan lebih banyak foto-fotonya) kunjungan kami ke pasar Natal yang ada di Nürnberg, Jerman. Tahun depan semoga kesampaian ke Pasar Natal di tempat lainnya (atau di negara lainnya).

Buat teman-teman yang merayakan, saya mengucapkan Selamat Natal.

Ik wens alle vrienden en bekenden

Prettige Kerstdagen!

Mejeng di depan pohon Natal di dalam Mall di Den Haag
Mejeng di depan pohon Natal di dalam Mall di Den Haag

-22 Desember 2019-

Perjalanan Satu Dekade (2010 – 2019)

Sunset di Karimunjawa

Kalau yang lainnya mengunggah foto awal dan akhir dekade, saya menuliskan kisah perjalanan saja. Sekalian kilas balik. Lumayan ternyata, membongkar ingatan dan menata perasaan karena perjalanan selama 2010 sampai 2019 turun naik.

KARIR

Setelah hampir 8 tahun (sejak lulus kuliah) bekerja di dua perusahaan berbeda (yang terakhir yang paling lama), pada era permulaan dekade, akhirnya saya memutuskan untuk istirahat sebentar dari dunia kerja dan mencari tantangan lainnya. Alasannya, karena saya mulai bosan dengan ritme kerja yang gampang ditebak (jadi kurang tantangan) dan satu alasan lainnya. Kesempatan yang terbuka adalah melanjutkan kuliah S2. Sebenarnya waktu itu saya ragu apakah bisa otak yang biasanya dipakai untuk bekerja lalu beralih menjadi anak kuliahan lagi. Setelah membaca dan mencari jurusan apa yang sekiranya cocok dengan kondisi saya, terpilihlah satu jurusan yang berbeda dengan latar belakang S1 tetapi berhubungan dekat dengan pekerjaan sebelumnya.

Saya berhenti bekerja dengan perasaan puas karena mencapai satu posisi yang saya perjuangkan, inginkan, dan tidak mengecewakan, pada saat merintis karir dari nol. Setidaknya, saya berhenti kerja dengan penuh kebanggaan. Saat kuliah S2, sebenarnya banyak sekali hal terjadi yang berhubungan dengan dunia akademis. Namun, untuk menghindari polemik karena berhubungan dengan pihak-pihak tertentu, lebih baik tidak saya ceritakan secara detail. Intinya, setelah berpikir selama kurang lebih 3 bulan, saya mantab melepaskan kesempatan untuk berkarir di dunia akademis. Alasannya, berhubungan dengan pembahasan selanjutnya, yaitu kehidupan pribadi.

Cerita kelulusan S2, pernah saya tulis di siniLulus S2 merupakan salah satu pencapaian  besar dalam hidup saya, karena prosesnya yang cukup berliku, belum lagi LDM-an dengan suami. Syukurlah akhirnya selesai juga. Meskipun berliku, namun masa S2 adalah salah satu waktu terbaik dalam hidup saya. Bertemu dengan teman-teman baru yang rasa saudara. Menyadari bahwa sesungguhnya saya ini memang suka sekali belajar dan mempelajari ilmu baru. Yang tidak saya suka adalah bagian ujiannya.

Pindah ke Belanda, sengaja saya tidak langsung mencari kerja. Leyeh-leyeh dulu sambil serius belajar Bahasa Belanda. Selain harus menyelesaikan kewajiban lulus semua ujian integrasi, juga sebagai modal saya berkomunikasi sehari-hari di sini. Setelah lebih dari 6 bulan, saya mulai percaya diri untuk ikut beberapa kegiatan sukarelawan, sebagai sarana melatih bahasa Belanda secara langsung dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Cerita tentang kegiatan sukarewalan yang pernah saya ikuti, bisa di baca di sini dan di sini. Sebelum satu tahun, saya sudah menyelesaikan 5 ujian dari total 6 ujian. Untuk bahasa Belanda, saya lulus tingkat B1. Hal-hal yang berkaitan dengan ujian Staatsexamen I (B1) bisa dibaca di sini. Ujian yang terakhir, baru saya selesaikan akhir tahun 2018. Awal tahun ini saya sudah menerima diploma kelulusan dan akhir tahun saya sudah proses Permanen Residen.

Selain itu, berbarengan saat aktif di beberapa kegiatan sukarelawan, saya juga mulai mengirimkan lamaran pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pekerjaan sebelumnya dan pendidikan. Puluhan mendapatkan penolakan. Ada yang sedari awal sudah ditolak, ada yang setelah melalui beberapa tes lalu tidak lulus. Alasannya bermacam-macam, dari yang overqualified sampai alasan bahasa Belanda yang kurang menurut mereka. Pernah dua kali diterima sebenarnya, tapi dari saya yang tidak mau melanjutkan. Alasan saya waktu itu, satu tempat gajinya jauh lebih kecil dibandingkan tanggungjawabnya yang besar. Sedang tempat lainnya, masalah jadwal yang tidak cocok bertabrakan dengan jadwal sekolah bahasa Belanda. Benar-benar perjuangan mencari pekerjaan di negara ini.

Di tengah perjuangan nyusruk-nyusruk mencari kerja, salah satu tempat saya berkegiatan sukarelawan, membutuhkan pekerja. Saya mendapatkan tawaran untuk mengisi posisi tersebut. Wah, tentu saja saya menyambut dengan senang hati. Dari sukarelawan, lalu mendapatkan gaji. Saya tidak punya pengalaman maupun latar belakang pendidikan, karenanya saya sering dikirim training ini dan itu. Lumayan, jadi bisa belajar banyak hal baru dan mendapatkan sertifikat. Saya bekerja di Panti Jompo (Verpleeghuis) dan belajar banyak hal di sana. Bukan hanya teori, tapi juga mengenal karakter manusia selain juga menempa kesabaran. Ya bagaimana, yang diurusin Oma dan Opa.

Dua tahun di sana, saya akhirnya mengundurkan diri karena satu hal. Dua tahun yang penuh pembelajaran, sedih senang bersama para Oma Opa dan kolega-kolega. Setelah memutuskan tidak bekerja di luar, saya berkarir di rumah sejak dua tahun terakhir (sampai kondisi sudah memungkinkan untuk bekerja lagi di luar rumah). Meskipun rasanya rak uwis uwis ada saja kerjaan yang belum beres, bekerja di rumah sangat saya nikmati prosesnya, detil perubahannya, dan bahagia menjalaninya. Bekerja di rumah membuat saya belajar banyak hal baru setiap saat. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada menjalani sesuatu yang sesuai panggilan hati.

Setiap fase kehidupan, selalu saya lakukan secara maksimal. Jadi setiap keputusan yang saya ambil, apapun itu, sejauh ini tidak pernah saya keluhkan. Setiap orang punya timeline yang berbeda, karenanya saya selalu menjalani setiap fase kehidupan dengan sebaik-baiknya, secara sadar, dan tidak ada penyesalan. Saya tidak perlu membuktikan apapun pada khalayak. Untuk apa, selama saya bahagia menjalani, lalu apa yang perlu dibuktikan. Selain itu, setiap keputusan yang saya ambil, selalu mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat, termasuk suami.

KEHIDUPAN PRIBADI

Tahun 2010, awal mula saya memakai jilbab. Bukan, bukan karena saya mendadak berubah menjadi relijius. Dari awal saya tidak mentasbihkan diri sendiri sebagai seorang yang relijius ataupun menyebut ini sebagai bentuk hijrah. Jauh dari hal-hal tersebut. Saya menyebutnya sebagai bagian dari perjalanan spriritual dan beragama. Apapun yang saya lakukan berhubungan dengan dua hal tersebut, satu sebagai pegangan saya : Ibadah yang saya lakukan kepada Tuhan, seharusnya tercermin dalam keseharian saya berhubungan dengan manusia, tumbuhan, hewan, semuanya yang ada di alam ini. Menjaga hubungan vertikal dan horisontal. Jika dalam keseharian masih ada hal-hal tidak baik yang saya lakukan (secara sengaja), berarti hubungan vertikal saya pun harus saya perbaiki menjadi lebih baik. Walaupun memang pada prakteknya, banyak hal-hal tidak baik yang sengaja saya lakukan, meskipun mulai menyusut…. sedikit haha. Ya inilah proses. Hari ini harus lebih baik dari hari kemaren, bukan?

Dunia percintaan, ya seperti itulah. Sejak rentang 20an memang tidak ada cahaya terang, byar pet penuh ketidakjelasan, dengan beribu macam alasan. Dari perbedaan agama, keluarga kedua pihak yang tidak menyetujui, saya yang tiba-tiba males, sampai alasan yang kadang kalau ingat tetap membuat saya heran : katanya tidak PD karena pendidikan saya terlalu tinggi dan pengalaman kerja saya membuat pihak lelaki minder. Ya sudahlah, berarti memang mereka bukan jodoh saya.

Saat serius kuliah, ndilalah jodoh saya muncul. Meskipun berbeda benua, kalau sudah berjodoh memang dimudahkan ya jalannya. Delapan bulan sejak awal berkenalan, akhirnya kami menikah. Saya menikah umur 33 tahun. Bersyukur menikah saat umur tidak lagi muda, sudah mengerjakan hal-hal yang ingin dikerjakan saat masih single. Sudah berambisi ini dan itu. Jadi ketika sudah menikah, tidak lagi penasaran dan bisa mengerjakan hal-hal lainnya. Saat ini, kami sedang menjalani menuju tahun keenam pernikahan. Semoga kami berjodoh sampai tua dalam keadaan sehat, bahagia, dan langgeng.

Inilah yang membuat saya melepaskan kesempatan berkarir di bidang akademis, karena menikah dan pindah negara. Hidup selalu saja dihadapkan dengan pilihan. Saya memilih untuk meninggalkan Indonesia dan menetap di Belanda, bukan hanya sekedar karena rasa cinta pada suami, juga karena banyak pertimbangan lainnya salah satunya adalah ada hal yang ingin saya raih di masa depan di negara ini. Pada akhirnya, saya mantab dengan pilihan tersebut dan sampai saat ini menjalani dengan bahagia dan tanpa penyesalan.

Saat ini, hampir 5 tahun saya tinggal di Belanda. Meskipun proses adaptasi yang tidaklah mudah, saya bahagia tinggal di sini. Bagaimana tidak, keluarga saya di sini. Home is where the heart is. My heart is in The Netherlands, together with my family.

Sunset di Karimunjawa
Sunset di Karimunjawa

KEMATIAN

Salah satu sepupu terdekat saya meninggal pada awal periode dekade. Hal ini membuat saya sangat sangat terpukul. Dia meninggal diusia yang masih muda. Saya sempat sedih berkepanjangan setelahnya. Sampai kabar duka yang lain datang, Bapak meninggal tepat setahun setelahnya.

Salah satu yang menguatkan niat saya untuk berhenti bekerja dan kembali kuliah adalah meninggalnya Bapak. Saya pernah berjanji pada Bapak untuk melanjutkan kuliah minimal sampai S2. Pada akhirnya saya bisa melaksanakan janji, meskipun setelah Bapak meninggal dunia. Tahun tersebut adalah tahun terberat selama hidup saya. Bapak meninggal, Ibu kecelakaan sampai koma. Saya kembali kuliah supaya waktu lebih fleksibel untuk menemani Ibu yang dalam masa pemulihan dan saya juga harus memulihkan diri sendiri dari rasa kehilangan yang sangat besar atas meninggalnya Bapak yang mendadak tanpa ada sakit sebelumnya. Sampai saat ini (hampir 8 tahun berlalu), saya tetap dalam proses memulihkan mental (jiwa) dan mencoba berdamai dengan rasa kehilangan tersebut. Tidak mudah, tapi saat ini sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Bukan hanya kehilangan yang besar atas meninggalnya Bapak, dalam periode perkawinan, saya (dan suami tentu saja) harus kehilangan beberapa kali calon bayi kami. Saya mengalami keguguran beberapa kali dengan usia kandungan yang sudah besar. Perihal keguguran, sampai saat ini pun saya tetap dan masih belajar berdamai dengan keadaan.

Semakin banyak keluarga, teman2, kenalan yang meninggal, makin membuat saya selalu berintrospeksi. Makin membuat saya semakin menundukkan kepala tidak berpongah dalam hidup, tidak sombong pada semua yang dititipkan, dan mencoba setiap harinya berbuat baik dan lebih baik lagi bukan hanya buat diri sendiri tapi juga buat orang lain. Mau dikenang seperti apa setelah meninggal nanti. Apakah banyak yang bersenang-senang saat saya meninggal atau banyak yang menangis.

KELAHIRAN

Ada kesedihan, ada kebahagiaan. Ada kematian, ada kelahiran. Begitulah siklus kehidupan ya. Beberapa kali merasakan kesedihan yang mendalam karena kehilangan yang terdekat dalam hidup, disela-selanya, kamipun diberikan kesempatan untuk merasakan banyak kebahagiaan.

Salah satu kebahagiaan saya adalah Ibu, Adik, dan sepupu dekat bisa datang ke Belanda dalam waktu 3 tahun berturut (bergantian tentu saja) dan tinggal selama 3 bulan. Kalau adik, cuma 1 bulan. Senang di rumah ada teman ngobrol berbahasa Indonesia, nggosip-nggosip seputar kabar terkini di keluarga. Maklum, sejak pindah ke Belanda awal tahun 2015, sampai tulisan ini diunggah, saya belum pernah pulang sama sekali. Jadi, hasrat menggosip info terkini di keluarga lumayan bisa tersalurkan sewaktu mereka ke sini.

PERTEMANAN

Semakin bertambah umur, semakin tidak ngoyo perihal pertemanan. Yang ada dan seadanya saja. Apalagi sebagai perantau, sudah tidak ada waktu berdrama kumbara menyangkut hubungan sosial. Lebih baik saya menggunakan energi untuk menyetrika setumpuk baju daripada berantem hal-hal yang tak penting. Jika tidak cocok, ya sudah jangan dilanjutkan daripada mencari perkara. Yang ada dan sudah cocok saja dilanjutkan dan dipertahankan. Dihadapi saja kenyataan kalau teman datang dan pergi. Jodohnya ya segitu saja. Sejauh ini, hubungan saya dengan 3 sahabat di Indonesia yang sudah berlangsung 20 tahun, langgeng sampai sekarang dan mudah-mudahan selamanya.

Ada hal menarik selama satu dekade mengenai pertemanan ini. Meskipun tidak ngoyo perihal pertemanan, tapi saya tidak pernah menutup diri mengenal orang-orang baru. Banyak yang saya kenal lalu dari dunia blog dan akrab sampai sekarang. Banyak juga mereka yang saya kenal dari media sosial dan setelah jumpa di dunia nyata, ternyata asyik dan hubungan tetap baik sampai sekarang. Jadi, meskipun memang semakin pemilih. tapi saya tidak pernah menutup diri berkenalan dengan orang-orang baru.

TRAVELLING DAN OLAHRAGA

Pekerjaan yang terakhir di Indonesia, mengharuskan saya untuk sering melakukan perjalanan bisnis. Tentu saja, saya riang gembira menjalaninya. Karena pekerjaan itu juga, saya berkesempatan bisa berkunjung ke hampir seluruh provinsi di Indonesia. Hampir ya, masih belum semua.

Perjalanan mancanegara, sampai saat ini saya pernah mengunjungi 15 negara di dua benua. Dulu saya jalan-jalan bersama sahabat-sahabat, sekarang bersama suami. Jumlah negara tersebut masih seiprit dibandingkan total negara yang ada di dunia. Alon-alon asal kelakon, filsafat travelling saya dan suami. Semuanya disesuaikan dengan ketersediaan waktu dan dana. Kami tidak terlalu ambisi karena memang travelling bukan kebutuhan utama. Ada uang dan waktu, hayuk pergi. Kalau tidak ada, ya jalan-jalan ke danau dekat rumah saja haha. Meskipun begitu, kami tetap mempunyai impian bisa jalan-jalan keliling dunia sampai tua nanti.

Untuk olahraga, satu dekade ini saya pernah beberapa kali ikutan race lari, jarak 10km saja, belum sampai lebih dari itu. Olahraga yang saya sukai sejak dulu ya lari. Race lari yang paling berkesan adalah saat kami bulan madu lalu ikut Bromo Marathon. Saya ikut yang 10km, suami ikut yang 21km (Half Marathon). Ceritanya saya pernah tulis di sini. Selain itu, NN CPC Loop di Den Haag juga sangat berkesan buat saya. Ceritanya bisa dibaca di sini. Saat ini, saya sedang proses kembali latihan lari lagi setelah sekian lama absen. Meskipun masih turun naik niatnya, setidaknya seminggu sekali saya masih rutinkan lari. Mudah-mudahan, entah kapan, saya bisa ikut Half Marathon.

Perjalanan satu dekade yang bisa saya ceritakan hanya itu saja (yang ternyata banyak). Sengaja saya tidak cantumkan detail tahun supaya lebih terkelompok. Cerita lainnya yang lebih banyak lagi, tidak bisa saya ceritakan di sini, saya simpan untuk diri sendiri, keluarga, dan teman dekat. Meminjam istilah sekarang : saya sisakan ruang untuk privasi. Oh satu lagi yang saya rasakan perubahan selama satu dekade ini : dulu saya orangnya gaspol, dalam hal apapun : karir, emosi. Menikmati hidup dengan ambisi tinggi. Sekarang semakin lebih santai dalam menjalani hidup, terutama untuk hal-hal yang di luar kendali. Saya semakin bisa menikmati hidup dengan cara yang santai.

Menyenangkan ternyata menuliskan kilas balik seperti ini meskipun membuat campur aduk perasaan. Semoga 1 dekade kedepan, saya dan keluarga diberikan kesehatan, umur panjang, dan tetap bersama dalam suka duka.

-18 Desember 2019-

Ada yang ingin menuliskan perjalanan satu dekade juga? Saya dengan senang hati ingin membaca kisah-kisah rekan blogger lainnya.