Perihal Negara Paling Santai di Dunia

Iseng motoin kucing yang selalu ngintilin kami kalau akan sarapan

Minggu lalu, saya membaca cuitan seorang sahabat di twitter yang menampilkan sebuah artikel dari Kumparan, menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara paling santai di dunia. Saya tertarik, lalu membaca lebih lanjut isi tulisan tersebut. Ternyata survey dilakukan pada 15 negara yang terpilih dengan memasukkan beberapa variabel seperti suhu, jumlah hari libur, berapa banyak spa yang dimiliki. Riset ini dilakukan olah agen perjalanan asal Inggris. Untuk membaca berita lebih lengkapnya, silahkan klik di sini

Sebagai lulusan Statistik, kalau ada survey yang hasilnya menetapkan “Ter” atau “Paling” biasanya saya tergelitik untuk mencari tahu sampai detil misalkan bagaimana cara pengambilan samplenya, menggunakan metode apa, lalu berdasarkan apa variabel-variabel yang ada ditetapkan, dan masih panjang lagi. Tapi untuk survey kali ini, alih-alih mencari tahu lebih dalam, saya malah tergelitik mengomentari fenomena di sekitar (dan juga yang saya alami) berhubungan dengan bagaimana santainya orang-orang (juga saya) di Indonesia dalam menyikapi sesuatu, bahkan yang mendekati bahaya. Oh ya, setelah berita tersebut dirilis kumparan, tidak sampai hitungan jam, meme-memenya pun langsung keluar. Sukses membuat saya tertawa terpingkal di pagi hari. Kreatif sekali. Silahkan cari di twitter, berserakan di mana-mana.

Kembali lagi, tidak ada hubungannya dengan isi survey, saya ingin menceritakan beberapa hal tentang bagaimana santainya beberapa orang di Indonesia. Ini berdasarkan pengalaman (dan pengamatan) pribadi.

  • Gempa

Tidak bermaksud untuk menjadikan musibah sebagai bahan becanda, tapi ini adalah cerita pengalaman pribadi saya saat bekerja di Jakarta. Waktu itu, entah tahun berapa lupa, terjadi gempa yang cukup kuat di Jakarta. Seingat saya waktunya adalah sore menjelang maghrib. Ruangan saya di lantai 2. Saat sedang khusyuk meneliti angka-angka di PC, tiba-tiba saya merasa kok lantainya agak getar lalu meja kerja sedikit bergeretak. Posisi duduk saya di kubikel. Saya melihat dengan ekor mata, rekan-rekan satu ruangan bergegas ke luar. Malah ada satu Manager yang mengajak saya segera ke luar, “Ayok Den, cepetan turun!” Waktu itu saya pikir kenapa sih orang-orang kok buru-buru mau turun, mau jajan bakso depan kantor atau bagaimana. Biasanya kalau sore memang ada rombong bakso depan kantor.

Tak berselang lama, Saya agak tersadar. Lho jangan-jangan ini gempa ya, makanya orang-orang kok pada cepet-cepetan turun. Saya langsung menyambar dompet (dan lupa Hp ada di mana), jalan tetep santai malah sempat ke ruangan sebelah cari teman saya apa sudah turun. Kalau saya pikir sekarang, kok yaaa sik klewas klewes nyari teman. Sesampainya di lobby, saya lihat semua sudah berkumpul di halaman kantor. Saat saya buka pintu, semua langsung tepuk tangan dan bos saya menyelutuk, “loe mampir beli soto mie dulu apa gimana nih lama banget.” Bwuahahaha. Radar saya terhadap bencana memang agak tidak sensitif. Bayangkan, gempa yang kuat seperti itu saya masih santai di dalam lalu klewas klewes ke luar ruangan. Untung ga rubuh itu bangunan.

Nah, yang satu ini saya baca dari cuitan salah satu penulis di Indonesia. Sahabat saya yang memberi tahu. Jadi sewaktu gempa yang lumayan kencang hari Jumat malam di Banten, goncangannya terasa sampai Bandung (entah Jakarta terasa tidak ya). Nah Penulis ini masuk ke sebuah toko, lalu terasa gempa. Panik, dia lari ke halaman. Lalu tiba-tiba ada yang minta foto bersama. Hahaha kok yaaa dalam keadaan panik begitu sempat-sempatnya minta foto bersama. Santai sekali hidupnya.

  • Pesan Makanan

Ini adalah salah satu kelakuan santai yang paling tidak saya sukai. Dulu jika sedang mengantri di restoran cepat saji, sambil antri saya melihat-lihat daftar menunya apa yang biasanya terpampang besar di atas. Jadi ketika sudah sampai depan kasir, saya langsung menyebutkan pesanan lalu membayar.

Namun tidak semua orang yang mempunyai pemikiran yang sama. Begitu panjangnya antrian, banya orang sampai depan kasir masih mulai membaca satu persatu menunya, menimbang-nimbang, gamang, resah, ragu, dan seterusnya. Nampaknya sewaktu dalam antrian dia sedang sibuk menguras kamar mandi sampai tidak sempat membaca dulu menunya apa. Begitu sampai depan baru membaca satu persatu. Rasanya pengen tak bisiki : Sampeyan sehat? kok menyebalkan pol-polan.

Ada lagi yang nyaris sama dengan kejadian di atas, yaitu saat membayar angkot. Saya itu paling jengkel kalau ada penumpang bemo (waktu di Surabaya), bukannya mempersiapkan uangnya sebelum turun. Jadi saat turun, sibuk mencari uang di tasnya. Kalau sebentar sih tidak masalah. Seringnya nyari ngubek sana sini lama sekali seperti ada galian sumur saja dalam tasnya.

  • Obrolan Sesama Kasir

Nah, kejadian ini ada di kota saya. Terdapat sebuah supermarket yang paling besar di kota tempat orangtua saya tinggal. Supermarket ini terkenal dengan barang-barangnya yang lengkap serta harganya yang murah. Tapi, tidak ada yang sempurna di dunia kan, begitu juga di sini. Kalau sudah membayar di kasir, lamanya ngalah-ngalahin orang pacaran yang menunggu kepastian kelanjutan hubungan seperti apa (lah kok curhat selipan masa lalu). Pasalnya, 4 kasir yang ada bisa saling ngobrol satu sama lain. Mereka ini seperti ada dalam dunia sendiri. Jadilah kami sebagai pembeli selain gregetan dengan lamanya pelayanan, akhirnya juga ikutan mendengarkan gosip seputar rumah tangga. Haha nyambi. Ya Tuhan, per lambean yang waktu itu belum ada, masih kalah jauh dengan 4 kasir ini. Super santai seng ada lawan.

Fussen
Fussen
  • POM Bensin

Saya ini kan sukanya mengamati. Selain mengamati, iseng-iseng juga menganalisa kelakuan orang. Pernah mengalami ketika sedang membeli bensin di POM, lalu antrian depan kita bukannya dengan sigap menutup wadah bensin di sepeda motor, melainkan dengan gerak yang super lamban justru melakukan kegiatan lainnya? Saya sering menjumpai seperti ini. Persis di depan saya, ada yang dengan santainya menutup tanki bensin, menutup jok, lalu ngaca, membetulkan letak jilbab, membetulkan letak kaca spion, lalu bayar trus baru pelan-pelan pergi. Saking lamanya nunggu, saya pikir dia melanjutkan kegiatannya dengan menyulam, merajut, memandikan anak, memasak, lalu tidur. Lha lapo seh kok sempat-sempate ngoco, mbenakno lipstick, senyam senyum nang spion. Mbok pikir sing nang mburimu iki adalah bayangan semu masa lalu? santai men uripmu.

  • Saat Penangkapan Terduga Teroris

Ingat kejadian proses penangkapan terduga teroris di Sarinah, Jakarta?. Saya mengikuti dari sini. Mengikuti lewat twitter, saya ikutan tegang. Seperti biasa, saya membahas dengan sahabat-sahabat saya di wa grup. Dasar twitter ya, di tengah ketegangan seperti itu, adaaa saja foto-foto lucu yang bermunculan. Orang-orang ini benar-benar santai luar biasa masih sempat-sempatnya membahas hal-hal yang kocak. Nah diantara beberapa foto yang beredar, yang membuat saya dan para sahabat tergelak adalah para pedagang di sekitar Sarinah yang seperti tidak terganggu dengan aksi baku tembak tersebut. Dalam foto yang beredar, ada tukang sate yang masih mengipasi sate jualannya, pembeli yang terlihat santai makan, penjual minuman keliling yang tetap menjajakan dagangannya, bahkan ada yang dengan santainya selfie dengan latar belakang petugas yang sedang siaga memegang senapan. Nyowomu iku onok piro, kok nduwe nyali. Koen ga wedho onok peluru nyangsang ta yok opo. Saya rasa mungkin hanya ada di Indonesia pemandangan ini bisa kita jumpai. Orang makan sate sementara tak jauh dari tempat dia makan sedang genting terjadi proses penangkapan teroris. Luarrr biasa haha.

Itulah beberapa kejadian yang menggambarkan bahwa banyak orang Indonesia sangat santai dalam segala situasi, bahkan saat genting sekalipun. Yang saya tuliskan di atas hanya segelintir cerita saja.

Silahkan berbagi cerita di kolom komen, kejadian apa yang pernah kalian temui atau mungkin kalian sendiri sebagai pelakunya yang mengindikasikan kalau hidup di Indonesia itu memang santhayy. Kalau susah menulis di komen, mungkin bisa dituliskn di blog masing-masing. Lumayan kan jadi ide postingan.

-Nootdorp, 4 Agustus 2019-

Berbeda Pilihan

Tegernsee

Beberapa minggu lalu saya bertemu seorang kenalan yang entah kapan terakhir kami berbincang secara langsung. Sayapun sudah tak mengikuti lagi kabarnya seperti apa. Setelah saling bertukar kabar, dia bertanya apakah saya pernah mudik. Saya jawab kalau mudik bukan prioritas, setidaknya dalam beberapa tahun ini. Lalu tanpa diminta, dia berbicara panjang lebar agak “menceramahi” kasihan Ibu saya kalau tidak pernah mudik, harusnya saya bisa menyisihkan uang untuk ditabung supaya bisa mudik, bahkan memberitahu bahwa jalan-jalan sekitar Eropa harusnya bukan jadi prioritas karena mudik lebih penting.

Bisa saja saya langsung nyolot karena segala yang dia “sarankan” tersebut tidak sesuai dengan kondisi saat ini dan karena saya punya alasan khusus kenapa mudik tidak menjadi prioritas. Bisa saja saya bilang bahwa kalau mau, tiap tahun saya mampu pulang ke Indonesia. Bisa saja saya memberi penjelasan -sejelas-jelasnya-. Tapi saya memilih tersenyum saja lalu permisi. Saya tidak berhutang penjelasan apapun atas pilihan-pilihan yang saya putuskan, termasuk padanya, yang ternyata setiap tahun pulang ke Indonesia. Saya tidak harus menjelaskan apapun karena toh yang ingin dia dengar hanyalah hal-hal yang sesuai pikirannya.

Seringnya ketika berbeda pilihan, orang langsung menganggap hal tersebut tidak baik, apalagi jika memakai standar pribadi. Kenalan saya tersebut memilih untuk setiap tahun pulang ke Indonesia, sedangkan saya tidak. Menurutnya, ketika saya memilih untuk memprioritaskan tidak pulang, itu adalah hal yang salah karena kasihan Ibu. Padahal kenyataannya tidak sesuai dengan asumsinya. Mustinya, jika tidak tahu alasan akan suatu keputusan atau perkara, tidak perlu memberikan pendapat lalu seolah-olah memberi masukan padahal sebenarnya justru menyalahkan. Hal ini juga saya amati saat berbeda tentang pilihan politik (apapun kondisinya). Hal-hal yang mendasar jadi terlupakan ketika pilihan politik kita berseberangan dengan orang lain, teman, kenalan, bahkan orang terdekat. Prinsip tak mengapa putus hubungan pun menjadi sebuah hal yang lumrah. Sangat disayangkan. Namun hal tersebut kembali lagi pada masing-masing individu. Tidak semua orang demikian, meskipun banyak yang memilih seperti itu.

Di era media sosial seperti sekarang ini, orang makin gampang menuding ini salah dan itu salah jika ada hal-hal yang tidak sesuai standar pribadi mereka. Banyak sekali keributan tentang berbeda pilihan ini, misalkan : memilih memberi ASI vs susu formula, operasi caesar vs melahirkan per vaginal, BLW vs menyuapi, memilih menikah vs melajang, memilih tidak olahraga vs rajin olahraga, bahkan sampai memilih punya anak vs memilih tidak punya anak. Semua hal ini jadi bahan keributan yang rak uwis uwis. Kalau mau dijabarkan secara panjang, contohnya akan banyak sekali. Banyak yang memilih untuk mengkritisi, tapi tidak sedikit juga yang memilih untuk menyinyiri *haduh bahasa opo iki. Beda ya antara nyinyir dan kritis. Saking bedanya terlalu tipis, banyak yang terjebak, maksudnya kritis malah jadinya nyinyir.

Saya menulis seperti ini kok kesannya suci banget, tidak pernah nyinyir dengan pilihan orang lain. Jangan salah, saya sering nyinyir, apalagi kalau melihat ada yang berbeda dengan standar hidup yang saya jalani. Saya masih suka nyinyir kalau melihat ada yang ngejembreng uang di media sosial (padahal kan uang dia, tidak berhutang pada saya), nyinyir kalau ada yang menampilkan perbincangan intim dengan pasangan di media sosial, bahkan nyinyir kalau ada yang terlalu memuja-muja anaknya setinggi langit (padahal ya anak dia sendiri, wajar kalau dipuji. Masa mau memuji anak tetangga). Kalau saya pikir lagi, ya kenapa saya musti terusik dengan pilihan orang lain yang berbuat demikian, toh tidak merugikan saya. Mungkin saja memang hal tersebut adalah cara mereka membagi kebahagiaan. Ataukah saya nyinyir karena sirik? atau karena merasa “lebih” dari mereka tapi tidak melakukan hal yang sama? ataukah saya nyinyir  karena beda standar? atau ya hanya ingin nyinyir saja? pasti jawabannya salah satu dari yang sudah saya tuliskan.

Masih menjadi PR besar buat saya untuk menjaga pikiran, tangan, dan mulut supaya tidak gampang menghakimi pilihan orang lain yang berbeda dengan apa yang saya putuskan. Beruntung beberapa bulan ini kesibukan saya mulai bertambah, jadi fokus teralihkan dari yang suka mengamati kemudian nyinyir, jadi berkurang banyak. Berkurang lho ya, bukan nihil. Mudah-mudahan kedepannya saya semakin bisa menahan diri dan berpikir panjang sebelum menghakimi pilihan orang lain. Hal ini termasuk pilihan seseorang (yang saya kagumi karena karyanya) tidak melakukan vaksin untuk anaknya. Bukan Andien, saya biasa-biasa aja dengan Beliau meskipun belajar banyak juga dari ilmu-ilmu yang dibagikan.

Kuncinya cuma satu sih sebenarnya, saling menghormati. Standar kebahagiaan masing-masing orang kan berbeda. Kalau yang satu memilih beda dengan apa yang sudah kita putuskan, lalu kenapa musti “terusik.” Toh tidak saling merugikan. Kalau sudah merasa bahagia dengan pilihannya, ya sudah nikmati saja. Tidak perlu mengutuk orang lain yang beda jalan hidupnya. Contohnya : Jika memilih untuk punya anak dan merasa bahagia dengan keputusan tersebut, ya jalani dengan sukacita. Tidak perlu memperolok mereka yang memutuskan untuk tidak punya anak. Tidak usah merasa tinggi hati serta jumawa karena merasa lebih bahagia dari yang memilih tidak punya anak. Sebaliknya pun, jika sudah nyaman dengan pilihan tidak ingin punya anak dan bahagia dengan jalan tersebut, silahkan jalani dengan gembira. Masing-masing pihak tidak perlu koar-koar dengan  pilihan yang sudah diputuskan dan dijalankan, apalagi saling memperolok. Selama ini saya selalu berpikir bahwa yang namanya bahagia, tidak perlu digembar gemborkan, orang pasti bisa merasakannya.

Saya suka dengan apa yang ditulis Beth di blognya, “People have different standard for happiness. Some are happy with children, some are happy without children.” Hal inipun berlaku untuk versus – versusan lainnya. Standar kebahagiaan masing-masing orang berbeda. Jalurnya sudah berbeda, kenapa musti saling memperolok? Bahagialah dengan apapun yang sudah dipilih, jalani dengan tenang tanpa harus saling cela.

Respect each other
Respect each other

Masing-masing orang mempunyai alasan sendiri kenapa memilih sesuatu. Mungkin saja karena sesuai kondisi dan situasi saat itu, mungkin saja memilih sesuai kesadaran, bahkan mungkin saja memilih karena tidak punya pilihan. Kita tidak pernah tahu perjuangan atau cerita apa yang membawa mereka pada pilihan tersebut. Kita tidak pernah tahu.

-Nootdorp, 28 Juli 2019-

Belanda Kembali Panas

Ngidam Bakso

Cerita yang santai saja kali ini ya, setelah sebelumnya membahas hal yang terlalu serius. Belanda seminggu ini kembali panas. Tentu saja saya menyambut dengan riang gembira. Bagaimanapun, sebagai anak tropis dan lahir besar di pesisir, kalau cuaca di Belanda menghangat itu rasanya ingin sujud syukur setiap saat. Maklum saja, dibandingkan panas yang sebenarnya, Belanda lebih sering hujan, mendung, dingin, angin, dan bisa 4 musim terjadi dalam satu hari. Jadi, buat saya kalau cuaca menghangat, berkah luar biasa.

Sebenarnya ini bukan kali pertama Belanda mengalami panas sampai seminggu pada tahun ini. Sebelumnya saat kami di Kroasia, Belanda terkena heatwave.

Panas
Panas

Hari ini, saat saya menulis, suhu sampai 33°C. Konon, kamis sampai 39°C. Walaupun hari ini panas, untungnya masih ada angin semilir. Jadi tidak terlalu gerah. Biasanya kalau sedang panas, saya sudah blingsatan merencanakan pergi ke sana sini. Tapi seminggu ini saya sudah berencana untuk anteng di rumah saja sambil memamah biak haha.

Rujak buah bumbu gula merah, petis ikan, bawang putih, cabe, gaaram, terasi, sedikit kacang, asem, , dan sedikit air
Rujak buah bumbu gula merah, petis ikan, bawang putih, cabe, gaaram, terasi, sedikit kacang, asem, , dan sedikit air

Untuk memenuhi rencana makin menambah berat badan, saya sudah menyiapkan asupan yang penuh lemak, seperti bakso, mie ayam, dendeng balado, kikil pedas, dan masih ada menu-menu lainnya. Ada juga yang menyehatkan, macam rujak buah. Ya lumayan lah untuk menambah cadangan lemak menghadapi musim dingin nanti haha.

Ngebakso minumnya Nutrisari
Ngebakso minumnya Nutrisari
Mie jamur, bakso, minumnya es kopi
Mie jamur, bakso, minumnya es kopi

Kalau di rumah saja, selain menyiapkan asupan perut, juga kesempatan untuk main air karena suhu diatas 30°C. Kalau di bawah itu, terlalu dingin. Cemal cemil juga tetap berlanjut karena saya sudah punya beberapa camilan dari Indonesia. Satu persatu camilan tersebut dikeluarkan, seperti wafer Superman, Malkist, Silverqueen. Saya agak kecewa karena rasa wafer Superman tidak seenak jaman saya masih SD. Selain rasa, bungkusnya pun tidak warna merah dan bentuknya lebih langsing. Mungkin Supermannya sudah diet *kriik kriikk.

Nyamil sambil cibang cibung
Nyamil sambil cibang cibung

Mungkin ada yang penasaran apakah jajanan itu ada di Belanda. Oh tentu saja tidak ada karena saya beli di Indonesia lalu pake Jastip sewaktu Rurie mudik . Lumayan, harga teman jadi tak terlalu mahal. Ini lho hasil jastipan saya, sekalian pamer (bandeng dan otak-otaknya gratisan dari Rurie) *haha pamer kok jastipan panganan.

Jastipan ke Rurie
Jastipan ke Rurie

Calon-calon anggur di halaman belakang pun sudah mulai nampak. Biasanya bulan Agustus kami akan panen, kurang lebih 10kg. Lumayan banyak untuk ukuran nanam sendiri. Anggur-anggur tersebut tidak kami jual melainkan diberikan ke para tetangga, saudara, dibuat selai dan dimakan sendiri.

Sebagian kecil calon-calon Anggur
Sebagian kecil calon-calon Anggur

Ya sudah, begitu saja cerita singkat kali ini. Kalau sudah mood, saya akan nulis yang agak serius lagi. Kalau kalian suka membaca tulisan saya yang serius, yang santai-santai saja, atau yang seperti apa? *bwuahaha macam banyak yang baca aja, Den!

Ngidam Bakso
Ngidam Bakso

Oh ya, beberapa blogger menyampaikan keluhan dan masukan tentang susahnya meninggalkan komentar di blog kami. Terus terang, saya tidak tahu permasalahannya di mana karena saya tidak pernah mengotak atik settingan. Hanya update yang perlu diupdate. Jadi mohon maaf ya, kalau susah berkomentar. Terima kasih karena sudah menyempatkan membaca dan berusaha menulis komentar.

Cuaca di tempat kalian bagaimana?

Update : saking panasnya (pas update ini suhu 38°C, saya jemur sprei, sarung selimut, handuk2 semuanya kering dalam waktu ga sampai 3 jam. Kipas angin yang lumayan bagus di rumah pun ga ada rasanya. Akhirnya sore kami ngadem dari satu toko ke toko lainnya. Lumayan 1.5 jam kena ademnya AC haha. Hikmah panas, jadi bisa ngerasakan AC di toko :)))

-Nootdorp, 23 Juli 2019-

Agama dan Proses Pencarian

“Den, aku nanti mampir kosmu ya. Mau belajar Sholat.”

Seorang teman yang saya kenal saat dibangku SMA, tiba-tiba berkata seperti itu saat berpapasan di gang ketika saya pulang kuliah. Rumahnya tidak jauh dari tempat saya ngekos. Saya mengiyakan tapi di kepala saya timbul pertanyaan, “kok dia mau belajar sholat, kenapa ya?” Sore hari, dia ke tempat saya. Dia belajar wudhu, belajar mengenakan mukena, dan belajar gerakan sholat. Saya dan beberapa teman mengajarinya tanpa banyak bertanya. Dia ingin belajar, kami mengajari dan memberitahu apa yang ingin dia ketahui. Dia juga mengatakan, kalau waktunya sholat Maghrib dan Isya ingin ikut berjamaah dengan kami. Sejak saat itu, dia rajin datang ke kosan dan sholat berjamaah bersama saya dan teman-teman.

Saya sudah lama tidak bertemu dengannya sejak kami lulus SMA. Meskipun rumah kami tidak terlalu jauh, tapi kami kuliah di kampus yang berbeda. Jadi saya tidak tahu kabar apapun tentangnya sampai suatu hari dia bilang ingin belajar sholat. Saat dia selesai belajar sholat pertama kali, saya tanya kabarnya bagaimana. Dia hanya menjawab singkat, “baik Den. Aku ingin belajar tentang Islam. Tolong ajari aku ya.” Banyak sebenarnya yang ingin saya tanyakan saat itu, terutama kenapa dia ingin belajar tentang Islam. Apakah dia ingin pindah agama? Tapi saya simpan sendiri pertanyaan tersebut. “Yuk kita belajar bareng-bareng. Akupun butuh belajar banyak tentang Islam.” Setelah beberapa lama dia belajar ke sana dan ke sini, suatu hari saya mendengar kabar kalau dia sudah masuk Islam.

Setelah berbelas tahun lamanya, hari ini saya kembali teringat dengan ceritanya. Pertama kali dalam hidup saya, tahu proses dari awal seorang kawan memilih agama secara sadar dari perjalanan panjang, kegelisahan dan pergulatan batin meninggalkan agama sebelumnya, dan berproses dengan banyak belajar serta bertanya. Pernah terlontar perkataan pada saat itu, “saya iri dengan kamu karena berani mengambil langkah memilih agama sesuai kata hati dan proses pembelajaran serta pencarian. Sedangkan saya, beragama karena warisan keluarga turun temurun.”

Beragama di Indonesia bukanlah tentang sebuah pilihan tetapi kewajiban. Itupun agama yang didapat bukan karena proses pencarian melainkan karena meneruskan dari agama turun temurun di keluarga. Agama warisan. Selain itu, beragama dan berkeyakinan menjadi sebuah kewajiban karena harus tercantum saat ingin mendapatkan kartu identitas sebagai seorang penduduk. Lalu bagaimana dengan orang yang memilih tidak beragama dan tidak berkeyakinan? Tetap harus memilih dari daftar agama resmi dan keyakinan yang diakui di Indonesia.

Dalam proses beragama, sayapun seringkali mengalami pergolakan batin dan banyak mempertanyakan ajaran agama yang pada akhirnya saya pilih secara sadar, untuk saat ini, walaupun awalnya saya dapat dari warisan keluarga. Itupun setelah saya belajar, mencari dan tetap mempertanyakan banyak hal, sampai saat ini. Salah satu alasan kenapa sampai sekarang saya tetap belajar dan tidak pernah berhenti bertanya tentang ajaran agama saya, supaya saya semakin mengenal agama yang saya pilih. Bukan hanya terima jadi lalu merasa ini adalah agama yang paling benar di muka bumi.

Sebelum memutuskan berjilbab, saya mengalami dilema besar. Bertanya dan melakukan pencarian kenapa dan hukumnya apa sebenarnya jilbab itu. Belajar dan mencari tahu sejarahnya bagaimana. Sampai saat ini setelah hampir 10 tahun lamanya mengenakan Jilbab, saya tetap menggali lebih dalam tentang jilbab. Saya tidak pernah berhenti dan tetap dahaga ilmu dengan apa yang saya pilih sampai sekarang. Saya berproses dan tidak tahu kedepannya proses yang saya lakukan sekarang akan menuju pada jalan ke arah yang mana. Saya tidak pernah tahu.

Bukan hanya tentang perjalanan agama dan spiritual saya yang berproses, cara berpikir sayapun seiring bertambahnya umur mengalami banyak sekali proses pembelajaran. Dulu saat mendengar ada yang pindah agama dari A ke B, B ke A, A ke Z, Z ke K, selalu timbul pertanyaan, kenapa ya? lalu mencoba menebak sendiri alasannya dari kabar yang berhembus. Mendengar dan tahu ada teman atau kenalan yang awalnya mengenakan jilbab lalu mencopotnya atau buka copot jilbab, rasanya ingin nyinyir kenapa kok seperti labil tidak punya pendirian. Dari proses pembelajaran dan melewati perjalanan hidup, akhirnya saya pada satu pemikiran bahwa semua pasti ada alasannya. Mereka yang memutuskan berpindah, melalui proses pencarian, perjalanan dan pergulatan yang saya tidak tahu apa. Jadi saya tidak punya hak untuk menghakimi apapun.

IMG_4943

Beragama, berTuhan, memilih tidak beragama dan mempercayai selain Tuhan, semuanya berproses, melalui perjalanan panjang, pergolakan batin, pengalaman hidup yang sifatnya sangat individu dan menjadi urusan pribadi. Kecuali kita ada di sana saat seseorang memutuskan berpindah (apapun konteksnya), kita tidak pernah tahu pergumulan seperti apa yang terjadi sebelumnya. Kita tidak punya hak menghakimi. Memutuskan berjilbab, melepas jilbab, semuanya pun berproses. Mereka melewati sebuah perjalanan dan proses batin yang kita tidak tahu seperti apa. Kita tidak berhak untuk menghakimi.

Saat seseorang datang padamu ketika dia sedang dalam pergolakan batin, temanilah. Rangkul dan dengarkan apa yang menjadi kegelisahannya. Berkomentar saat memang diminta pendapat. Jika tidak, dengarkan saja apa yang dia utarakan dan apa yang ingin dia ceritakan. Bawalah dia dalam doamu supaya proses pencarian dan pergolakan batinnya membawanya pada titik yang bisa membuatnya lebih damai dan menjawab semua keresahannya selama ini.

Jika kita memilih beragama, bukan berarti kita pantas untuk merasa lebih dari yang memilih tidak beragama. Jika kita mengenakan jilbab, tidak ada alasan untuk menjadi tinggi hati dan memandang sebelah mata mereka yang memilih tidak berjilbab. Saat kita mendengar seseorang melepaskan jilbab, tidak perlu dengan jumawa memberi pelabelan ini itu. Mereka berproses, mari kitapun menghargai apapun yang sudah mereka putuskan saat kita tidak menjadi bagian dalam proses yang mereka jalani.

Saat teman saya memilih untuk pindah agama, yang bisa saya lakukan adalah sama-sama belajar dengannya dan membawa dalam doa semoga yang sudah dia lalui sampai dititik saat itu menguatkan dia untuk melangkah dalam pilihannya. Saya tidak pernah menanyakan alasan kenapa dia memutuskan pindah agama karena dia tidak pernah menyebutkan. Seyogyanya memang kita tidak usah terlalu mencampuri terlalu jauh sesuatu yang kita tidak tahu dengan pasti. Tidak perlu menduga-duga apakah orang pindah agama karena pernikahan, perceraian, kekecewaan akan suatu hal atau yang lainnya. Pun berlaku ketika seseorang memutuskan menggunakan atau melepas simbol keagamaan. Simpan saja pendapat kita dan tidak perlu menduga terlalu jauh, apalagi sampai menghakimi. Kita tidak ada di sana saat mereka sedang berproses.

Beragama, berTuhan, memilih tidak beragama dan mempercayai selain Tuhan, mengenakan atau tidak mengenakan simbol sebuah agama, semuanya adalah urusan pribadi dan melalui sebuah proses pencarian. Punya hak apa kita menilai benar atau salah?

-Nootdorp, 15 Juli 2019-

Buku yang Tuntas Dibaca Q1 2019

Buku Q1 2019

Memenuhi janji terhadap diri sendiri, bukan hanya lebih rajin membaca buku ditahun ini, tetapi juga rajin menuliskan di blog buku-buku apa saja yang sudah tuntas dibaca. Supaya tidak menumpuk di belakang dan malah membuat malas menuliskannya (lalu hanya berakhir menjadi wacana), saya akan membuat tulisan tentang buku setiap tiga bulan sekali. Untuk Q1 2019 (Januari – Maret 2019), saya membaca tuntas 10 buku. Menurut saya ini kemajuan dibandingkan tahun kemaren apalagi kesibukan saya di rumah sekarang bertambah. Mencuri waktu membaca buku di tengah hiruk pikuk pekerjaan rumah tangga. 

Buku Q1 2019
Buku Q1 2019

Beberapa buku tersebut akan saya bahas beberapa :

MEMPELAJARI KEMBALI TENTANG ISLAM

Tahun 2019 ini saya niatkan untuk serius mempelajari kembali tentang Islam. Saya tidak berkiblat pada siapapun, benar-benar mengosongkan diri ketika nawaitu untuk belajar. Melepaskan segala ilmu yang saya dapatkan sebelumnya supaya kepala dan otak saya mau dan mampu menerima ilmu. Supaya saya tidak terjebak dalam ke-sok tahu-an. Buku yang pertama saya baca adalah Islam yang Saya Anut dari M. Quraish Shihab. Dalam buku ini dikupas satu persatu dasar-dasar Islam dari Rukun Iman, Rukun Islam, tata cara Sholat, Zakat dll. Bahasanya yang mudah dipahami, tidak ndakik ndakik, dan menjabarkan secara runtun dan terperinci tentang dasar Islam membuat niat belajar kembali tentang Islam tidaklah berat dan memberatkan.

Buku lainnya, meskipun tidak terlalu berkaitan erat dengan ilmu keislaman tapi masih ada irisannya yaitu tentang spiritual yaitu buku Hidup Itu Harus  Pintar Ngegas dan Ngerem, kumpulan tulisan Emha Ainun Nadjib. Topik yang diangkat dalam buku ini bermacam karena merupakan kumpulan tulisan yang sudah dipublikasikan maupun yang ada di website maiyahan, tapi secara garis besar selama hidup kita musti tahu menempatkan diri. Maksudnya adalah tahu kapan harus mempertahankan pendapat, tahu kapan harus menundukkan hati dan memperlambat langkah. Sepertinya mudah, tapi kadang dalam pelaksanaannya susah. 

PARENTING

Ada tiga buku tentang parenting yang saya baca pada tiga bulan pertama tahun ini. Five Minute Mindfulness Parenting mengupas tentang bagaimana menjadi orangtua tidaklah gampang, tapi juga jangan dipersulit. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk tidak melupakan bahwa orangtuapun adalah seorang individu, jadi tetap harus menyisakan waktu untuk diri sendiri, memenuhi diri sendiri dengan banyak cinta sehingga akan memberikan banyak cinta juga untuk keluarganya. Buku ini juga mengingatkan bahwa apa yang dilakukan oleh anak sesungguhnya adalah cerminan yang dilakukan oleh orangtua. Ingin anak kita sopan, mulailah dari diri sendiri dulu sebelum menuntut mereka untuk sopan. Mereka meniru dan mencontoh apa yang ada di depan mata, setiap hari. Ada kutipan dari buku ini yang saya suka :

“Your children model their behavior on your behavior. If you use your phone or screens incessantly, then do not be surprised when their technology usage mirrors or exceeds your own”

Buku kedua adalah Indahnya Susahnya Jadi Ibu. Sesungguhnya jika belum siap menjadi Ibu janganlah coba-coba karena menjadi Ibu tak seindah yang ditampilkan oleh selebgram-selebgram yang bergentayangan dengan tampilan kesempurnaan mereka sebagai sosok seorang Ibu. Menjadi Ibu itu capek, betul. Menjadi Ibu itu melelahkan, tidak salah. Menjadi Ibu menjadikan dunia jungkir balik, betul pada awalnya karena harus beradaptasi dengan hal-hal baru dan dengan manusia mungil yang tergantung 100 persen dengan kita. Namun ada banyak hal juga yang bisa dipelajari ketika status Ibu sudah menempel pada kita. Kelucuan-kelucuan yang spontan hadir serta hal-hal menyenangkan lainnya. Menjadi Ibu menjadi menyenangkan jika menjalaninya secara sadar. Buku ini mengupas secara apik dan lucu tentang pengalaman penulis (dan mungkin mewakili banyak Ibu diluaran sana) sehari-hari menghadapi bayi dan toddler. Saya seperti bercermin ketika membaca buku ini.

Parenting Without Borders adalah salah satu buku parenting yang saya suka. Memang benar bahwa setiap anak itu unik dan setiap orangtua punya  gaya parenting masing-masing. Buku ini mengupas banyak hal tentang tipe parenting di beberapa negara. Membuka mata saya bahwa tiap negara mempunyai garis merah tentang khas parenting yang ada di dalamnya. Juga dijabarkan baik buruknya gaya parenting setiap negara tersebut. Misalkan : di Amerika anak diajarkan untuk percaya diri dengan menjadikan mereka berlomba-lomba menjadi nomer satu (disekolah dan lingkungan akademis), sementara di beberapa negara Eropa malah mengajarkan bahwa bermain lebih dikedepankan karena jika mereka gembira maka ketika berhadapan dengan akademis tidak akan merasa terpaksa dan meminimalisir depresi. Selain itu dengan bermain bisa diajarkan banyak hal misalkan kerjasama tim, belajar memecahkan masalah dan lain sebagainya. Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca bagi yang tertarik dengan topik parenting.

Menjadi orangtua sampai kapanpun mustinya tak pernah berhenti untuk belajar, meskipun pada prakteknya akan banyak trial and error. Yang penting sudah ada bekal ilmu dan tak lelah untuk terus memperbaiki diri, koreksi diri dan belajar lebih baik hari demi hari. Saya selalu mengingat apa yang disarankan Maureen : Keep Learning. Belajar dan selalu belajar setiap saat supaya hari ini lebih baik dari hari kemarin. Tidak ada orangtua yang sempurna, saya pun tidak berambisi untuk menjadi sempurna. Yang saya harapkan bisa memberikan kasih sayang yang tulus, mempunyai stok sabar dan tegas yang berlimpah serta stok waktu dan cinta yang tak terbatas.

NOVEL

Laila S.Chudori adalah salah satu penulis favorit saya. Semua bukunya sudah saya baca. Laut Bercerita adalah novel yang ditulis dengan latar belakang kisah nyata yang terjadi pada jaman Orba khususnya tragedi ’98. Kisah para aktivis yang hilang, tentang keluarga mereka yang menunggu dan menuntut keadilan sampai saat ini, dan kisah mereka yang kembali tapi melalui beberapa perlakuan yang mengerikan. Mata saya semakin dibuka dengan banyak hal menyakitkan yang terjadi saat Orba. Pada bagian akhir Laut Bercerita membuat saya menangis. Membayangkan bagaimana menjadi keluarga mereka yang hilang tanpa diketahui nasibnya. Jika disuruh memilih, lebih baik tahu mereka meninggal dan bisa dikuburkan daripada tidak tahu kepastian nasibnya bagaimana, apakah masih hidup atau sudah mati, berharap setiap saat mereka pulang kembali ke rumah. 

FILOSOFI

Filosofi Teras adalah buku pertama yang saya baca tahun ini. Terus terang tertarik baca buku ini awalnya karena penulisnya, Henry Manampiring, yang merupakan twitter crush saya haha *ngaku. Bukan hanya perkara tampang ya, tapi menurut saya, dia ini pintar dan cerdas. Makanya saya suka. Lalu ketika gencar dipromosikan Filosofi Teras karena dijanjikan bahwa bukunya tidak seperti buku filsosfi pada umumnya yang berat, makin tertariklah saya baca. Ternyata benar, buku ini enak dibaca karena dihubungan dengan kejadian sehari-hari. Stoicism adalah akar dari Filosofi Teras. Sebuah Filosofi yang mengajarkan untuk tidak terlalu mengambil pusing hal-hal yang di luar kendali kita dan lebih fokus dengan hal-hal yang bisa kita kendalikan. Ternyata, suami saya pernah mempelajari Stoicism ketika mengerjakan tesisnya (jadi salah satu bahan dalam tesisnya) dan dia punya beberapa buku yang membahas Stoicism. Saya makin tertarik mempelajari lebih dalam filosofi ini. 

Yang lebih penting, Filosofi Teras bukanlah buku motivasi yang bahasanya indah-indah. Penulisnya menyelipkan beberapa contoh yang seringnya malah membuat senyum-senyum bahkan terbahak. Buku ini serius tapi juga banyak lucunya. 

LAIN – LAIN

Buku L’art de la Simplicite : How to live more with less cukup menarik dengan cara penulisan yang mudah dimengerti. Beberapa ide dan gagasan bagaimana kita bisa merasa hidup yang lebih dengan mengurangi atau mereduksi kepemilikan terhadap barang. Misalkan untuk rumah : disarankan jika rumah tidak terlalu banyak aksesori yang dipajang. Selain supaya rumah lebih nampak lapang, juga dengan keberadaan banyak barang (yang sebenarnya tak terlalu penting secara fungsi), bisa menyerap energi kita. Akibatnya, orang yang berada dalam rumah yang banyak barangnya akan cepat merasa lelah, sering mempunyai pikiran yang negatif dan sebagainya. Intinya, jangan terlalu melekatkan hidup kita terhadap barang-barang. Semakin sedikit yang kita punya, semakin lebih yang kita rasakan. Kalau dituruti, memiliki barang-barang dan terlalu lekat, tidak akan pernah habis dan terpuaskan. Miliki sesuai kebutuhan dan fungsinya.

 

Itulah beberapa buku yang sudah selesai saya baca ditiga bulan pertama tahun 2019. Semoga Q2 2019 tidak terlalu banyak bedanya secara jumlah. Yang pasti ada beberapa buku yang benar-benar menarik yang sudah saya baca di Q2. Tunggu review selanjutnya, edisi Q2 2019 

Buku apa yang paling menarik sampai saat ini yang sudah kalian baca tahun 2019?

-Nootdorp, 17 Juni 2019- 

 

Terlalu Senang di Nijntje Museum – Utrecht – Belanda

Nijntje Museum - Utrecht - Belanda

‘I create a world that children fill with their own imagination.’

-Dick Bruna (1927-2017)-

Begitulah yang dilakukan oleh Dick Bruna, seorang penulis dan ilustrator dari lebih 124 buku bergambar, kelahiran Utrecht Belanda. Belanda selain terkenal dengan kincir angin, keju, tulip, dan beberapa ikon lainnya, juga dikenal dengan karakter kelinci kecil yang bernama Nijntje. Karakter ini diambil dari Kelinci yang dalam bahasa Belanda adalah Konijn. Konijntje berarti kelinci kecil. Konijntje yang lebih dikenal Nijntje lahir pada tanggal 21 Juni 1955. Nijntje juga dikenal dengan sebutan Miffy, karena tidak semua orang selain Belanda bisa menyebutkan Nijntje (baca : Naince).

Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Nijntje Museum – Utrecht – Belanda

Dick Bruna menuliskan cerita dengan karakter Nijntje berdasarkan kisah sehari-hari sehingga mudah dipahami olah anak-anak. Nijntje yang dikisahkan dalam bukunya adalah seorang kelinci kecil yang hadir pagi hari setelah malam sebelumnya seorang malaikat datang dan berkata pada keluarga Plaus (keluarga kelinci) bahwa akan ada kelinci perempuan yang akan hadir ditengah keluarga mereka. Pada akhirnya Bapak dan Ibu Plaus memberi nama kelinci tersebut Nijntje dan sejak saat itu si kelinci adalah anak dari keluarga Plaus.

Karakter Nijntje adalah penggambaran dari keseharian anak-anak yang tidak jauh dari aktivitas bermain, berkegiatan dengan keluarga, mengajarkan cara menyeberang jalan, dan aktivitas harian lainnya. Dalam buku-bukunya, Dick Bruna melalui Nijntje selain bertujuan menghibur anak-anak dengan cerita-ceritanya, juga sebisa mungkin mengajarkan mereka tentang dasar-dasar bersikap. Misalkan tentang berucap terima kasih, meminta maaf, mengantri, mengucapkan selamat ulang tahun, membuang sampah pada tempat yang sesuai dan sebagainya. Nijntje tidak hanya populer di Belanda, di Jepang juga ada satu museum Miffy. Bahkan ada satu kereta di Jepang yang interiornya penuh dengan gambar Miffy

Hall Utama - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Hall Utama – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Tempat menggantungkan jaket - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Tempat menggantungkan jaket – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Tempat Parkir Stroller - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Tempat Parkir Stroller – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Tempat Parkir Stroller - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Tempat Parkir Stroller – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Loker - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Loker – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda

Akhir tahun 2019, kami akhirnya bisa juga ke Museum Nijntje di Utrecht. Bersama seorang teman dan putrinya, lebih dari 4 jam kami bersenang-senang di sana. Saya memang sudah jatuh cinta dengan Nijntje sejak membaca beberapa bukunya. Tak heran, setelahnya saya suka gemas sendiri kalau ada barang yang ada Nijntjenya dan berakhir dengan membeli *bukan khilaf tapi sengaja beli :)))

Tips : 

  • Saya sarankan untuk membeli tiketnya secara online. Selain karena harganya lebih murah (kalau tidak salah ingat bedanya €2 lebih murah dibanding beli langsung), juga untuk menghindari antrian panjang apalagi jika musim liburan dan libur sekolah. Tiket online bisa dibeli melalui website merekaSaat membeli tiket tersebut kita juga bisa memilih rentang waktu sesuai dengan yang kita inginkan. Dan pastikan kita tidak telat datang sesuai waktu yang kita pilih.
  • Anak dibawah usia 2 tahun, gratis. 2-17 tahun serta dewasa jika membeli tiket online €6 per orang.
  • Ada beberapa pilihan tiket sesuai kebutuhan. Misalkan tiket dengan anggota keluarga, tiket bersama sekolah, dan sebagainya.
  • Jika datang pada hari kerja, pengunjung tidak seramai pada akhir pekan. Namun hal tersebut tak berlaku saat musim liburan dan libur sekolah karena setiap hari ramai pengunjung.

Bersyukurnya kami waktu itu membeli tiket secara online dan datang pada hari kerja jadi tidak ada antrian.

Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Nijntje Museum – Utrecht – Belanda

Fasilitas dalam museum ini juga lengkap. Ada loker, tempat khusus menaruh stroller, menaruh tas, dan jaket, ruang khusus untuk menyusui dan memanaskan makanan (disediakan microwave), ruang khusus tempat mengganti popok. Tidak itu saja,ada juga ruang khusus tempat makan.

Tips : 

  • Jika tidak ingin membeli makanan di restoran Nijntje Museum yang terletak tepat di depan museumnya, kita juga bisa membawa bekal. Ada ruangan khusus tempat kita bisa makan bekal yang kita bawa. Tidak itu saja, kita juga bisa menggunakan microwave yang disediakan.
  • Jika ingin makan siang pancake Nijntje, kita bisa makan siang di restorannya, dengan harga yang (menurut saya) tidak terlalu murah untuk sepiring Pancake.

Kami waktu itu membawa makanan sendiri. Jadi lumayan, selain bisa mengirit, juga bisa sembari leyeh-leyeh sejenak. Tapi jangan dibayangkan bekal yang kami bawa semacam nasi liwet lengkap dengan ayam goreng sambel trasi ya. Kami cukup membawa roti keju dan roti coklat haha *pembaca pun kecewa. Kalau ada yang berencana ke Nijntje museum dan akan bawa bekal lengkap, monggo lho tidak ada larangan. Kalau saya sih lebih kepada ringkesnya saja.

Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Nyocokin gambar - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Nyocokin gambar – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Main dokter-dokteran - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Main dokter-dokteran – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda

Jadi dalam Nijntje Museum ini isinya apa? banyak sekali. Anak-anak seperti diberikan semacam surga buat mereka. Bukan hanya bermain, tapi juga bisa berimajinasi. Misalkan di ruangan rumah sakit, mereka bisa memakai baju yang disediakan, menggunakan stetoskop. Ada yang pura-pura menjadi pasien tidur di ranjang pasien, ada yang menjadi dokter. Di ruangan lain, ada baju pemadam kebakaran, polisi dll. Jadi mereka bisa berimajinasi tanpa batas. Semua yang ada di Nijntje museum bisa dipegang dan dimainkan.

Selain itu, mereka juga bisa bereksperimen dengan layar sentuh. Memasangkan gambar-gambar balok, mewarnai, atau bahkan menggambar. Ada juga pojok cerita yang bisa kita gunakan untuk mendongeng menggunakan boneka tangan.

Main dokter-dokteran - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Main dokter-dokteran – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Bermain bentuk - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Bermain bentuk – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Ruangan mengenal lalu lintas - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Ruangan mengenal lalu lintas – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Ruangan mengenal lalu lintas - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Ruangan mengenal lalu lintas – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda

Untuk orangtua yang mendampingi, mereka pun bisa bercerita kepada anak tentang ruangan yang mereka kunjungi. Setiap ruangan akan ada keterangan hal-hal apa saja yang bisa kita eksplorasi. Museum ini terdiri dari dua lantai.

Pengunjung museum ini meskipun mayoritas adalah anak-anak dengan pendampingnya, tapi banyak juga yang berminat dan tertarik dari kalangan dewasa tanpa anak. Mereka berkunjung ke sini karena tertarik dengan karakter Nijntje.

Ruangan mengenal binatang - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Ruangan mengenal binatang – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Ruangan mengenal binatang - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Ruangan mengenal binatang – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda
Ruangan mengenal binatang - Nijntje Museum - Utrecht - Belanda
Ruangan mengenal binatang – Nijntje Museum – Utrecht – Belanda

Tempat Workshop, anak-anak dalam grup bisa menggunakan ruangan ini untuk menggambar bersama.
Tempat Workshop, anak-anak dalam grup bisa menggunakan ruangan ini untuk menggambar bersama.
Ruang istirahat. BIsa makan dan minum di sini
Ruang istirahat. BIsa makan dan minum di sini

Buat kami, waktu 4 jam berlalu sangat cepat karena betul-betul menikmati suasana dan hal-hal yang ada di dalamnya. Menikmati mungkin kata yang terlalu sederhana. Kami sangat antusias mencoba segala macam yang ada di sana.

Nijntje museum terletak tidak jauh dari stasiun Utrecht. Bisa ditempuh dengan jalan kaki ataupun naik bis. Jika ada yang berencana berlibur ke Belanda dan membawa anak, bingung mau diajak ke mana, bisa dicoba berkunjung ke Nijntje Museum.

Karena hari ini Nijntje berulang tahun, jadi saya akan ucapkan selamat ulang tahun.

Gefeliciteerd met je Verjaardag Nijntje. Alle beste wensen!

Selamat Ulang Tahun Nijntje. All The Best!

Tertarik berkunjung ke Nijntje Museum?

-Nootdorp, 21 Juni 2019-

Fijne Vaderdag!

Kado Vader Dag

Hari ini adalah Hari Bapak (atau tergantung manggilnya apa, bisa ayah, papa dll) di Belanda. Kalau hari Ibu dirayakan setiap bulan Mei minggu kedua pada hari minggu, maka hari Bapak dirayakan setiap bulan Juni minggu kedua pada hari minggu. Berdasarkan pengamatan saya, euforia hari Bapak dari iklan-iklan maupun diskon-diskon yang ditawarkan tidak semeriah pada saat hari Ibu, meskipun ya gemanya tetap terasa.

Hari Bapak di rumah ngapain saja? Tidak ada acara khusus haha. Saya bangun pagi untuk lari (hei, saya sudah mulai kembali lari. Senangnya. Tadi pagi bisa 5km), satu jam kemudian sudah di rumah lalu suami gantian lari. Daripada nganggur, saya kemudian bersih-bersih halaman depan dan belakang. Setelah suami sampai rumah, kami semua lalu makan pagi bersama.

Sebelum makan pagi, kami bersama-sama mengucapkan hari Bapak lalu memberinya kado. Aslinya ada kado lainnya, tapi karena pesannya mendadak, walhasil barangnya belum sampai haha. Jadi ya kado yang ini saja .

Kado Vader Dag

Setelah itu suami ke luar karena ada acara. Saya leyeh-leyeh (baca : beberes), mandi lalu makan siang. Oh ya, menu weekend kami adalah rawon pake kohlrabi, kacang panjang dan daging.

Rawon

Sorenya setelah semua bangun tidur, kami jalan-jalan ke Den Haag. Sudah terbiasa hidup di kampung, kalau ke Den Haag apalagi weekend, pulangnya pasti agak pening kepala. Ramenya ga ketulungan. Dan disetiap pengkolan, pasti kedengeran obrolan dalam bahasa Indonesia.

Setelah mendapatkan barang-barang yang dicari, kami lalu makan malam di restoran. Menu yang kami pesan : Cap Chay, Daging bumbu Shicuan, dan Yakitori (fotonya blur karena grogi ditunggu yang mau makan sudah tak sabar). Makan di restoran inipun kayak makan di warteg, isinya banyak orang Indonesia. Kembali ke rumah, bersih-bersih lalu jam 8 malam rumah senyap. Penduduknya sudah dikamar masing-masing.

Een hele fijne vaderdag voor alle vaders! Vooral mijn man, Jij bent geweldig!
Selamat hari Bapak untuk semua para Bapak. Dan spesial untuk suamiku, kamu Bapak yang hebat!

— sekali-kali muji suami di blog  🙂

Begitulah akhir pekan sekaligus perayaan hari Bapak dikeluarga kami. Semoga akhir pekan kalian juga berkesan ya.

-Nootdorp, 16 Juni 2019-

Lebaran Kali Ini (2019)

Seperti layaknya lebaran-lebaran tahun sebelumnya, setelah saya menetap di sini. Sepi, tak ada bedanya dengan hari-hari biasanya. Kecuali kalau ikutan sholat di Masjid Al Hikmah di Den Haag atau ikut halal bihalal di rumah dinas Dubes, baru berasa suasana lebaran. Tapi karena saya tidak ke mana-mana, jadi ya biasa saja suasana lebaran tahun ini.

Awalnya saya sudah berencana akan ikutan halal bihalal. Namun saya cukup sadar diri dengan situasi yang tidak memungkinkan, akhirnya ya di rumah saja. Tahun ini adalah tahun ketiga saya tidak puasa Ramadan. Kangen pastinya ikutan puasa. Mudah-mudahan tahun depan bisa kembali puasa Ramadan. 

Tidak ada rencana pasti apakah saya akan memasak khusus untuk lebaran, seperti tahun-tahun sebelumnya. Masih belum tertebak situasinya. Tapi H-1, ternyata cukup kondusif keadaan di rumah, secepat kilat saya memasak dengan bahan-bahan yang ada di freezer dan di kulkas. Intinya tidak memaksakan diri. Bisa masak, bersyukur. Kalau tidak, ya makan yang ada saja. Niatnya saya memasak yang agak banyak, jadi bisa diantar ke tetangga-tetangga. 

Di Belanda, lebaran jatuh pada hari selasa, 4 Juni 2019. Lebih cepat satu hari dari lebaran di Indonesia. Suami berinisiatif bekerja dari rumah, jadi tidak berangkat ke kantor. Katanya supaya saya tidak terlalu sedih lebaran jauh dari keluarga, padahal dia ingin makan siang mewah haha.

Hidangan Lebaran
Hidangan Lebaran

Singkat cerita, inilah hidangan lebaran yang bisa saya masak. Kecuali rendang yang beli dari kateringan padang di Den Haag, selebihnya saya masak sendiri. Lodeh labu siem tahu, sambel goreng kentang ati, telor petis, sate ayam, lontong, dan opor ayam tahu. Terharu juga dengan waktu yang tidak banyak bisa masak beberapa macam. Kami sekeluarga makan siang bersama, merayakan lebaran di rumah.

BAB40E94-3B27-4E59-8F6B-F0F7ABAD99C0

Sorenya saya menghantarkan makanan-makanan tersebut ke beberapa tetangga, supaya mereka juga ikut merasakan suasana lebaran lewat masakan Indonesia. Mereka mengucapkan selamat lebaran pada saya. Dalam bahasa Belanda, lebaran adalah Suikerfeest : pesta gula, karena lebaran identik dengan makanan yang manis-manis. 

2A594910-6827-4152-9A61-19123DD7F6C8

Lingkungan rumah kami memang tetangga lumayan guyub. Maklum, mungkin karena di kampung. Jadi mengantarkan makanan satu sama lain adalah hal yang biasa. Para tetangga kami mayoritas Belanda karena lingkungan orang lokal, bukan pendatang. Paginya, seorang tetangga yang saya antarkan makanan menyapa saat saya terburu-buru jalan,”Deny, kalau kamu sering memberi saya makanan Indonesia yang enak-enak, badan saya nanti jadi melebar.” Saya anggap sebagai pujian. 

92215A36-8292-4510-873D-29B4781C1E4B

Begitulah cerita lebaran tahun ini. Selamat hari raya Idul Fitri, selamat merayakan kemenangan. Mohon maaf lahir batin atas segala khilaf komen, menjawab komen, status, postingan yang tak berkenan, maupun perbuatan di dunia nyata. Semoga bulan syawal ini membawa keberkahan buat siapapun, dibukakan pintu kemudahan untuk yang sedang diuji dan kesabaran untuk menjalaninya. Semoga kita selalu bersyukur atas sekecil apapun nikmat yang dititipkanNya dan musibah sebagai pengingat untuk menundukkan hati.

-Nootdorp, 11 Juni 2019-

Handal Pekerjaan Rumah Tangga yang Mana?

http://courageouscolleen.blogspot.nl/2013_09_01_archive.html

Hari senin kemaren akan saya ingat sebagai salah satu hari bersejarah dalam hidup. Pasalnya, saya akhirnya bisa juga mengerjakan salah satu pekerjaan rumah tangga yang tidak terlalu saya sukai karena merasa tidak handal (berdasarkan dari hasil yang lalu-lalu, tidak memuaskan). Memasang seprei (dan kurungan selimut) adalah salah satu pekerjaan RT yang saya tidak suka. Sejak jaman ngekos, entahlah kenapa kalau pasang seprei selalu tidak rapi. Mencong sana sini. Mau dipakai peniti atau sepreinya sudah ada karetnya, tetap saja mencang mencong tak rapi. Mungkin karena saya tidak telaten.

Berbeda dengan suami, dia bisa rapi jali kalau pasang seprei. Betul-betul rapi seperti di hotel. Karenanya selama ini urusan ganti seprei saya serahkan ke dia. Nah beberapa waktu ini, dia memang sedang sibuk. Dan lagi, ada orang yang kerja bersih-bersih di rumah, jadi sekalian saya minta tolong mbak tersebut buat ganti seprei. Karena ada masalah, mbak tersebut tidak kerja lagi dengan kami. Terpaksalah saya yang ganti seprei karena sudah waktunya diganti. Membayangkan saja saya sudah capek dan pengen ngunyah martabak telor *alesan, padahal ya aslinya pengen makan.

Singkat cerita, ternyata saya bisa. Hasilnya lumayan rapi meskipun tidak selicin kalau suami yang pasang. Bener-benar saya langsung bangga pada diri sendiri haha. Pasang seprei bisa jadi pencapaian hidup saat ini. Kalau terpaksa, apapun mendadak jadi bisa.

Selain pasang seprei, pekerjaan RT lain yang saya tidak suka adalah ngosek kamar mandi dan wc. Untunglah di sini kamar mandinya kering pakai shower, jadi tidak perlu nguras bak mandi. Nah ini suami juga kinclong banget kalau mengerjakan. Semacam sangat menghayati kalau sedang membersihkan kamar mandi dan WC. 

Ada beberapa pekerjaan RT yang saya memang tidak suka dan tidak memaksakan untuk suka. Ternyata suami yang lebih handal. Di rumah kami, semua kami lakukan berdua. Jadi tidak ada tuh yang ongkang-ongkang kaki sementara yang lainnya bersih-bersih. Prinsipnya adalah rumah ditempati bersama ya dirawat dan dibersihkan bersama. Pernah saya tuliskan tentang hal ini ditulisan ini. Namun, meskipun sudah ada bagian siapa mengerjakan apa, tapi hal tersebut tidak saklek. Kalau ada yang tidak bisa, ya yang bisa mengerjakan. Yang penting rumah tidak sampai berantakan. 

Pekerjaan RT yang saya suka selain memasak dan beres-beres rumah (termasuk nyapu dan ngepel) adalah menyetrika. Saking sukanya dengan menyetrika, sampai serbet pun saya setrika haha. Kalau menyetrika saya bisa semacam meditasi. Jadi bisa ada ide-ide yang keluar dan bisa dapat inspirasi. Oh ya, meskipun saya suka masak, tapi saya tidak suka mencuci perkakas yang dipakai masak. Meskipun ada mesin cuci piring, tapi untuk peralatan masak yang besar tidak kami masukkan ke situ. Biasanya suami yang dengan sukarela mencuci peralatan masaknya (kalau pas dia di rumah ya).

http://courageouscolleen.blogspot.nl/2013_09_01_archive.html

Saking saya doyan dengan bersih-bersih dan kayaknya setiap saat selalu ngelap-ngelap, suami sering nyelutuk,”ga usah lah rumah terlalu bersih. Ini bukan museum, jadi kotor ya wajar.” Haha iya bener sih, memang bukan museum. Tapi mata gatel kalau ada yang kotor.

Kalau kalian gimana, handal dipekerjaan RT yang mana dan yang tidak disukai apa? Partner kalian ikut bareng-bareng ngerjain pekerjaan RT ga? 

Oh ya, selamat mudik ya buat yang mudik. Semoga selamat sampai tujuan berkumpul dengan keluarga besar merayakan Idul Fitri. Selamat liburan juga. Kalau makan opor dan hidangan lebaran lainnya, tolong ingat saya, di sini ga masak apa-apa minggu depan haha. Lebaran sepi seperti biasa. 

-Nootdorp, 29 Mei 2019-

Cerita Seru Potluck

Potluck di rumah kami

Saat di Jakarta, saya sering diajak grup Peucangers (teman2 backpackeran yang ketemu di pulau Peucang) untuk potluck. Seringnya sih ngumpul di taman Suropati. Selain memang tempatnya nyaman, sekalian saya bisa melihat pemuda pemudi yang main alat musik hari minggu pagi.

Sebenarnya potluck bukanlah hal yang baru buat saya karena sewaktu masih di Surabaya pun juga sering mengadakan potluck dengan teman-teman kampus. Cuma waktu itu menyebutnya bukan potluck melainkan : nggowo dewe-dewe yo rek panganane. Haha ga ringkes ya, kedawan (terlalu panjang). Tapi ya intinya sama, bawa makanan sendiri-sendiri lalu dimakan bareng dengan bawaan kawan lainnya.

Nah selama di Belanda, sudah tak terhitung berapa kali saya ikut dalam acara potluck. Bukan hanya dengan sesama orang Indonesia, tapi juga dengan kolega-kolega di tempat saya kerja dulu. Serunya kalau dengan kolega-kolega, kami bisa saling mencicipi masakan dari berbagai negara karena kolega saya tidak hanya berasal dari Belanda, ada juga yang dari Iran, Turki, Thailand, Irlandia, Kenya, Suriname, dan beberapa negara lagi tapi lupa mana saja. Wah itu masakan yang dibawa enak-enak. Kalau cuaca cerah, kami duduk-duduk di taman belakang rumah jompo. Lesehan gitu. Guyub rasanya. Saya yang memang selalu penasaran dengan makanan dari negara lain, selalu bawel bertanya tentang namanya, bahan masaknya apa saja, cara masaknya bagaimana dan tradisi memakannya di negara asal seperti apa. Seru sekali.

Potluck di Rotterdam
Potluck di Rotterdam

Kalau dengan sesama orang Indonesia juga tidak kalah seru. Karena bukan hanya suku Jawa peserta potlucknya, makanan yang dibawa juga bervariasi. Ada makanan Jawa Timur, Manado, Jawa Barat, Sumatera, Aceh, sampai Kalimantan. Lengkap. Nah inipun tidak kalah serunya karena kami bisa saling bertukar resep ataupun menyimak bagaimana proses memasaknya. Di Belanda, kumpul-kumpul yang paling enak memang kalau di rumah, lebih bebas dan tak terbatas waktu (ya ga mungkin sampai dini hari sih haha). Bisa juga disepakati kumpul di taman atau pinggir danau. Intinya bukan di mall atau restoran karena konsepnya bukan lagi potluck melainkan njajan

Kalau potluck begini, biasanya memang dibahas dulu siapa akan membawa apa. Semampu dan sebisanya saja. Fungsinya dibahas sebelumnya adalah untuk menghindari menu yang sama dan juga supaya tidak terlalu bentrok antara satu menu dan lainnya. Jadi saling melengkapi. Nah membahas menu ini juga menyenangkan karena akan menimbulkan perut keroncongan padahal rencana potlucknya masih 4 bulan yang akan datang.

Baru-baru ini saya dan beberapa teman mengadakan potluck yang bertempat di rumah kami. Pesertanya sih hanya 6 orang ya (plus anak-anak dan para suami), tapi makanan yang dibawa bisa untuk makan satu kampung haha saking banyaknya. Meja makan di rumah sudah lumayan besar, bisa untuk 8 orang, masih saja tidak cukup menampung makanan-makanan yang dibawa. Luar biasa memang semangat Ibuk-ibuk ini membawa makanan. Silahkan dizoom saja untuk melihat menunya apa saja. Kalau saya daftar, nanti malah panjang jadi buku berseri.

Potluck di rumah kami
Potluck di rumah kami

Empat diantaranya adalah blogger. Ya peserta tetap yang sering ketemuan. Yayang, Anis, Maureen, dan dua lainnya juga peserta tetap yaitu Rurie dan Asri. Karena masih dalam suasana hari Paskah, Rurie mengadakan permainan mencari coklat telur. Ini juga lumayan seru, anak-anak bersemangat sekali mencari coklat telur yang disembunyikan. Sayang cuaca saat itu tidak terlalu cerah di luar, jadinya kami hanya duduk dan ngobrol di dalam rumah.

Peserta Potluck
Peserta Potluck

Yang paling menyenangkan kalau ada acara kumpul-kumpul begini ya apalagi kalau bukan bungkus membungkus makanan. Lumayan kan jadi bisa bawa pulang beraneka jenis makanan. Apalagi saya sebagai tuan rumah, sampai 4 hari berturut tidak masak. Mengandalkan makanan hasil potluck haha. Jadi merasa orang paling kaya sedunia karena punya berbagai jenis makanan.

Kami sudah merencanakan untuk potluck selanjutnya summer nanti di ruang terbuka alias di alam. Sudah tidak sabar rasanya, karena menu-menunya juga enak-enak dan tempatnya nampak menyenangkan. Mudah-mudahan cuacanya benar-benar musim panas. Bukan musim gugur berkedok musim panas.

Kalian ada cerita seru juga tentang Potluck?

-Nootdorp, 22 Mei 2019-