Anak dan Teknologi

Sebelum menulis lebih lanjut, yang saya maksud Teknologi di sini adalah telefon genggam, tablet (ini saya juga bingung menyebutnya apa, tapi biasa disebut tablet kan semacam iPad gitu), televisi, dan komputer. Kata suami saya, semua itu disebut media devices. Saya bingung mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia, jadi saya menyebutnya teknologi. Kalau ada yang tahu padanan kata yang lebih tepat, tolong saya dikoreksi dan mohon masukannya ya.

Suatu malam ketika kami ditraktir oleh Mama mertua makan di restoran Indonesia yang tidak jauh letaknya dari rumah, kami menempati meja yang sudah dipesan sebelumnya persis di sebelah keluarga bersama satu anak usia sekitar 5 tahun. Saya awalnya tidak memperhatikan ada yang unik dari keluarga tersebut. Selama menunggu pesanan, Mama kasak kusuk kalau keluarga yang di sebelah meja kami sibuk dengan HP (telefon genggam) masing-masing. Anak sedang menonton kartun, sang Bapak sedang menonton siaran entah apa, dan sang Ibu juga asyik memelototi telefon genggamnya. Mereka dalam posisi sama-sama makan. Namun tidak ada pembicaraan diantara mereka, senyap sibuk dengan HP masing-masing.

Melihat hal tersebut, pikiran saya mulai terusik. Dan terus terang saat itu saya mbatin yang bernada menghakimi. Semacam, wah kok sibuk sendiri-sendiri melototin Hp padahal kan sedang makan. Kenapa tidak mengobrol saja sambil makan. Cerita apalah asalkan tidak terpukau dengan Hp. Dilain tempat lain waktu, saat kami makan di restoran, ada beberapa keluarga juga yang membawa anak berusia dari bayi sampai sekitar 5 tahunan. Nah ada dua meja dari dua keluarga berbeda tentunya yang saya perkirakan usia bayinya sama, kira-kira 7 bulanan. Yang satu bayi duduk anteng (dan makan) di kursi makannya sambil bersenda gurau dengan kedua orangtuanya (yang juga sambil makan). Sedangkan satu bayi duduk anteng dengan melihat tablet didepannya yang memutarkan kartun, sedangkan dua orangtuanya menikmati makanannya. Nah di meja lainnya, anak usia 5 tahun saya lihat sedang urek-urek buku gambar sedangkan orangtuanya makan. Sesekali orangtuanya bertanya ini itu kepada anaknya (yang saya lihat memang tidak makan, atau makannya sudah selesai saya kurang tahu). Jadi anak umur 5 tahun ini anteng di restoran selama orangtuanya makan, dengan melakukan aktivitas menggambar. Nah dari beberapa pengalaman (yang sebenarnya masih banyak sih, cuma saya ambil contohnya saja untuk dituliskan di sini), otak saya jadi sibuk berpikir. Kenapa satu bayi bisa anteng makan dan duduk di kursi makannya dengan cara berkomunikasi dengan orangtuanya, sementara bayi yang lain anteng karena melihat kartun di tablet. Kenapa satu anak usia 5 tahun anteng dengan menggambar, kenapa yang lainnya anteng dengan melihat tayangan di Hp. Pertanyaan saya ini jangan dianggap sedang menghakimi ya, tapi lebih tepatnya ke sebuah pemikiran.

Karena kepikiran, saya lalu bercerita hal tersebut ke grup WA yang isinya perempuan-perempuan perantau di Eropa. Kebanyakan sudah punya anak. Saya bercerita tentang keresahan saya akan anak kecil yang memelototi Hp atau tablet untuk melihat tayangan YouTube atau kartun atau permainan saat makan di restoran. Karena terus terang bukan sekali dua kali saya melihat kejadian seperti ini.

Dari hasil diskusi di grup, memang ternyata banyak sekali alasan yang melatar belakangi memberikan sarana media untuk anak saat makan di restoran atau tempat umum. Benang merahnya adalah supaya anak duduk tenang dan anteng. Belum tentu anak yang diberi tontonan di restoran, di rumah mereka juga dibiasakan seperti itu. Karena suasana rumah dan suasana restoran (atau tempat umum lainnya) berbeda dengan suasana rumah, mungkin anak (atau bayi) jadi merasa tidak nyaman. Jadilah orangtua memberikan ijin untuk menonton di sarana media tersebut supaya anak anteng tidak mengganggu pengunjung lainnya dan orangtuapun enak makannya. Nah dari hasil ngobrol di grup itulah saya jadi ada rasa bersalah telah menghakimi keluarga pertama yang sibuk dengan Hp masing-masing tanpa tahu alasan mereka apa. Menurut kacamata saya, hal tersebut memang tidak ideal karena kebiasaan di keluarga kami kalau makan ya benar-benar makan, saling ngobrol satu sama lain. Apalagi saat makan malam, ya saatnya bercerita tentang kegiatan satu hari. Meletakkan segala macam tekhnologi apapun bentuknya. Jadi sebenarnya saya tidak bisa menghakimi satu perkara benar atau salah karena tidak sesuai dengan standar saya, karena masing-masing keluarga pasti punya aturan masing-masing.

Tujuan dari tulisan ini adalah saya ingin bertanya kepada rekan-rekan blogger atau siapapun yang membaca tulisan ini yang sudah mempunyai anak (balita juga termasuk ya ini) atau jika belum tapi berpengalaman dengan keponakan atau sepupunya atau anak kecil lainnya, untuk bisa memberikan komentar atau gambaran dari beberapa pertanyaan saya di bawah. Sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada komentar benar atau salah karena masing-masing keluarga punya aturan masing-masing yang bisa jadi berbeda dengan keluarga lainnya. Dari jawaban rekan-rekan, saya akan belajar banyak hal.

  • Anak sudah dikenalkan pada teknologi (TV, HP, Tablet dan Komputer) sejak usia berapa dengan alasan apa. Media apa yang pertama kali dikenalkan?
  • Aturan makan di rumah bersama keluarga seperti apa? Apakah boleh sambil melihat TV, apakah boleh sambil mengecek Hp sesekali ataukah waktu makan memang khusus untuk makan dan ajang saling bercerita antara anggota keluarga?
  • Jika sedang makan di luar rumah (restoran atau warung atau tempat makan lainnya), apa yang biasa dilakukan untuk membuat anak tenang supaya tidak resah sendiri, tidak mengganggu pengunjung lain, dan orang dewasa dalam meja yang sama makannya pun jadi nyaman?
  • Jika memang anak sudah dikenalkan dengan teknologi, berapa lama maksimal dalam satu hari toleransi melihat layar media tersebut?
  • Jika memang anak sudah dikenalkan dengan teknologi, apakah selama melihat layar media selalu ada yang menemani atau dibiarkan saja sendiri atau seperti apa?

 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut spontan muncul di kepala saat saya menulis. Jadi saya tidak cek dulu tentang variabel-variabelnya ya. Namanya juga pertanyaan spontan. Apapun pendapat yang masuk, tidak akan menjadikan satu keluarga lebih baik dari keluarga lainnya karena kembali lagi seperti yang saya bilang tadi : masing-masing keluarga punya aturan yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. Mari jadikan pertanyaan-pertanyaan keingintahuan saya tersebut sebagai bahan diskusi karena sayapun akan banyak belajar dari pengalaman rekan-rekan. Terima kasih sebelumnya atas urun pendapatnya.

-Nootdorp,1 Agustus 2018-

 

 

Serba Serbi Musim Panas di Belanda (Tahun 2018)

Judulnya diberi tahun, siapa tahu tahun 2019 ada cerita unik lainnya pada saat musim panas.

Saya akan menuliskan beberapa hal yang terjadi akhir-akhir ini berkaitan dengan musim panas di Belanda. Tentu saja subyektif dari pengamatan, pengalaman saya dan beberapa baca dan melihat berita di TV.

  • Panas Terlama dan Terkering Sejak Tahun 1976

Seingat saya, sejak pulang dari Portugal awal April 2018, Matahari hampir setiap hari nyentrong. Meskipun suhunya masih berkisar di bawah 15ºC (rata-rata 13ºC selama bulan April), tapi rasa ke kulit mulai menghangat. Saya sudah mulai berani keluar rumah tanpa jaket. Hanya kaus lengan panjang. Hujan masih sesekali datang, tapi tidak sering. Memasuki bulan Mei, suhu mulai naik diatas 15ºC, sekitar 17ºC-20ºC. Ini saya mulai merasa gerah. Tapi masih bisa ditolerir. Pada bulan Juni, suhu mulai naik diatas 20ºC dan ini rasanya stabil sampai saat ini. Maksudnya stabil naik diatas 20ºC. Pernah sesekali dibawah itu, tapi tidak banyak. Nah parahnya suhu 24ºC ditambah angin yang tidak terlalu banyak, malah membuat cuaca makin terasa panas. Kalau mengutip kata Maya, Matahari seperti ada 9 saking panas dan nyentrongnya. Mungkin yang di Indonesia berpikir bahwa suhu 24ºC saja kok lebay sekali sih sampai dibilang panas menyengat. Percayalah, panasnya sudah sangat mirip dengan panas di Surabaya, Jakarta dan Makassar. Kenapa saya menyebut 3 kota tersebut, karena memang saya punya pengalaman tinggal di 3 kota yang katanya masuk bagian kota terpanas di Indonesia.

Kalau cerita yang saya sebutkan di atas cuaca masih tergolong Warm, minggu ini sudah masuk ke Tropisch Warm. Suhu sudah mencapai diatas 30ºC. Tiga hari terakhir panasnya ga ketulungan, ga kira-kira, ga masuk akal. Bahkan kemarin dan hari ini, saya menyebut suhu 31ºC di sini rasanya persis saat Surabaya pernah mencapai suhu 42ºC. Waktu itu saya sedang kuliah di Surabaya, jadi tahu persis rasanya blingsatan kepanasan. Sampai saya harus mengungsi ke kampus ngadem di ruangan ber AC, yang parahnya ruangan itu ga ada rasa dingin. Akhirnya saya melipir ke Perpustakaan, mencari ruangan paling dingin. Nah, dua hari terakhir rasanya seperti itu. Serba salah di rumah. Padahal sudah ada tiga kipas angin dan satu AC. Tetap saja rasanya ga ngefek. Akhirnya saya seringnya leyeh-leyeh di halaman belakang memakai pakaian seminim mungkin. Gerah luar biasa. Beberapa hari ini juga kami jadi doyan main air di kolam plastik yang agak besar ternyata ukurannya di halaman belakang. Lumayanlah ngadem sambil mainan air, berenang kecil-kecilan.

Saya yang biasanya tidak suka dengan es teh, beberapa terakhir ini minumnya es teh terus (tanpa gula). Dan rasa haus seperti tidak pernah berakhir. Sampai saya halusinasi ada tukang jual es degan lewat depan rumah. Untungnya saya masih bisa makan soto Madura super pedas sambelnya, dikasih teman. Besok rencana saya ingin buat rujak sepedas mungkin, makan di halaman belakang bawah pohon pakai tikar. Duh sedap!

Soto Madura
Soto Madura

Kamis dan Jumat esok ini, diperkirakan suhu di Belanda akan mencapai 37ºC, bahkan di beberapa wilayah sampai 40ºC. Bisa dibayangkan itu rasanya seperti apa. Semoga kami bisa melewati ini meskipun keringetan, pliket, dan haus sepanjang hari. Menurut sumber berita yang saya baca, tahun 2018 ini adalah musim panas dengan intensitas matahari nongol paling lama dan paling kering sejak terakhir tahun 1976. Jadi ini musim panas terkering sejak 40 tahun terakhir. Ada beberapa wilayah di Belanda (dan juga beberapa negara di Eropa) yang saking keringnya hutan atau rumput sampai terbakar. Bahkan di berita saya lihat, ada beberapa bagian rumah sampai retak karena cuaca yang sangat panas.

  • Kipas Angin Seperti Kacang Goreng

Kipas angin adalah benda yang paling banyak diburu. Saking banyaknya permintaan, penjualannya seperti kacang goreng, laris manis bahkan sejak bulan Juni sudah banyak yang tidak tersedia di gudang. Suami membeli kipas angin sejak musim panas tahun kemarin. Hanya satu, itupun ditaruh diruangannya. Ini kipas angin yang menurut saya harganya tidak masuk akal saking mahalnya. Walaupun memang putarannya kencang, sampai volume 5. Nah, karena tahun ini panasnya lebih membara, beberapa bulan lalu dia memutuskan untuk membeli AC karena kipas angin diruangannya tidak nampol lagi. Akhirnya kipas angin tersebut ditaruh di ruang bawah. Lumayan, semilir angin. Lalu permasalahan lain muncul. Kalau malam hari, panasnya minta ampun. Jam 12 malam sampai jam 2 dini hari saya rasa puncak paling gerah karena saya selalu terbangun. Nah, kami merasa kalau kami membutuhkan dua kipas angin tambahan untuk dua kamar tidur. Untungnya di Hema dekat rumah sedang ada diskon kipas angin, tinggal dua pula. Langsung kami beli semua. Untunglah minggu lalu kami beli dua kipas angin tersebut. Kalau tidak, bakalan bingung kami kemana harus beli kipas angin karena barang ini jadi langka di Belanda. Kecuali beli online, ada yang bisa mengantarkan cepat (informasi dari seorang kenalan).

Walaupun kipas angin yang kami beli di Hema tidak sefantastis kipas angin mahal yang dibeli di Mediamarkt, tapi lumayanlah daripada tidak ada sama sekali. Lagian, ada harga ada rupa. Beli yang murah mintanya kenceng :)))

  • Gedung Tanpa AC

Kalau kali ini cerita dari suami. Karena Belanda ini terkenal sekali dengan intesitas hujan yang sering dan dingin serta berangin, maka gedung-gedung kebanyakan didesain (terutama gedung-gedung lama) tanpa jendela dan tanpa pendingin ruangan. Jadi kebayang kan ya bagaimana rasanya kalau sedang panas cetar seperti sekarang ini. Orang-orang yang kerja di gedung-gedung tersebut seperti dipanggang rasanya saking panasnya. Suami bilang, sampai dulu dia kerja di gedung tersebut tidak konsen sama sekali. Diberi kipas angin pun tidak menolong banyak. Bukan hanya gedung perkantoran, beberapa apartemen meskipun memiliki jendela, tetapi lantainya tidak bisa menyerap panas malah memantulkan panas. Kalau begini, beruntung rumah kami lantai paling bawah terbuat dari ubin. Jadi kalau siang, saya seringnya kelesetan ngadem. Walaupun diberi tatapan penuh tanda tanya oleh suami, ngapain tidur di lantai. Belum tahu aja dia, bayi di Indonesia sudah diajari sejak dini tidur di lantai.

  • Angkutan Umum Penuh Sesak

Ini terutama pada saat akhir pekan yang namanya angkutan umum penuh sesak apalagi tram dan bus yang jurusan ke kota dan ke pantai. Saking sesaknya tram dan bus, saya sampai merasa bukan berada di Belanda tapi rasa di Jakarta saat naikTransJakarta dan KRL. Mau naik ke atas tram saja susah karena orang sudah berdiri di tangga depan pintu masuk. Di dalam tram apalagi, sudah sangat dempet-dempetan. Belum lagi bau badan yang aduhai semerbak beraneka macam aroma. Sebagai catatan, walaupun saya pernah menasbihkan diri sendiri di blog ini kalau malas mandi, tapi sejak panas tak kira-kira, jadi rajin tiap hari mandi. Malah beberapa kali sehari mandi dua kali. Suami saja sampai terheran. Dipikir kesambet Jin dari mana. Dan setelahnya saya pakai deodoran supaya kalau keringetan bau badan tidak menyengat.

  • Kegiatan BBQ an Dimanapun Berada

Kalau cuacaya sedang bersahabat, maksudnya bukan panas yang menyengat, saya senangnya petakilan ke luar rumah. Paling sering ya goler-goler di taman atau danau dekat rumah. Nah, saya perhatikan sepanjang matahari selalu nongol, kegiatan bakar-bakar atau BBQan bukan hanya dilakukan di rumah, tapi di manapun asalkan ada tempat yang memungkinkan. Contohnya : di pinggir sungai, di taman, di danau bahkan di padang rumput. Kalau di danau dekat rumah, sampai ada yang bawa bukan hanya alat pembakarnya tapi juga kompor, wajan dan meja untuk makan. Luar biasa memang. Sementara kami seringnya cuma berbekal gorengan yang saya buat beberapa saat sebelumnya. Misalkan dadar jagung.

Piknik ala kami di danau bawa dadar jagung. Selalu di bawah pohon, maklum saya takut panas haha
Piknik ala kami di danau bawa dadar jagung. Selalu di bawah pohon, maklum saya takut panas haha
Sewaktu BBQ an di rumah teman
Sewaktu BBQ an di rumah teman
  • Jadwal Undangan Akhir Pekan Penuh Sejak Dua Bulan Sebelumnya

Sebelum memasuki musim pans, jadwal undangan di akhir pekan kami sudah penuh sampai dua bulan ke depan. Jadi sejak Juni sampai akhir Juli jadwal sudah terisi sejak bulan Mei. Di sini kalau mengundang atau janjian minimal sebulan sebelumnya. Dan dalam pilihannya cuma ada dua : bisa datang atau tidak bisa datang. Tidak ada pilihan Insya Allah (pilihan ngambang). Kalau memang nanti dekat acara atau pas hari H ada sesuatu yang sangat penting yang tidak bisa ditinggalkan dan mendadak, ya itu sudah diluar kuasa dan pihak pengundang akan sangat mengerti jika ada keadaan mendadak lalu ada yang membatalkan kedatangan. Mengapa konfirmasi kedatangan sangat diperlukan, itu menyangkut salah satunya dengan konsumsi yang akan disediakan.

CERITA TAMBAHAN

Ini tidak berkaitan langsung dengan poin-poin di atas. Tapi karena terjadi di musim panas, maka lebih baik saya tuliskan jadi kapan-kapan bisa dibaca ulang. Jadi kemarin saya bertemu dengan salah satu dosen saat saya kuliah S2 di Surabaya. Beliau ini Professor dalam bidang Data mining atau Metaheuristik saya juga tidak jelas pasti. Yang pasti dua mata kuliah itu tingkat kesulitannya sudah diatas rata-rata, buat saya. Nah, Beliau pernah mengajar Statistik dan ketika perkenalan satu persatu mahasiswa yang ada di kelas, saat giliran saya selesai, Beliau langsung bilang, “Deny, kamu tidak usah ikut kuliah saya. Sudah pasti kamu lulus. Nanti kalau kamu ikut kuliah saya, kalau saya ada yang tidak benar menjelaskan kamu protes terus dan teman-temanmu jadi tidak percaya diri karena nilaimu selalu bagus. Statistik itu usah lho, kecuali buat kamu karena kamu lulusan sana.” Saya waktu itu langsung bingung, ini Beliau becanda atau serius ya, karena nada bicaranya serius sekali. Setelah kelas, saya langsung menghadap Beliau menanyakan perihal yang dikatakan di kelas. Tetap dengan nada yang serius Beliau menjawab, “Ya terserah kamu. Saya tidak mewajibkan kamu ikut kelas saya.” Makin ga jelas haha. Setelah 2.5 tahun di sana, makin kenal saya dengan Beliau yang ternyata suka becanda tetapi wajahnya serius. Nah, Beliau ini juga yang memberikan rekomendasi ke saya saat mengajukan double degree ke NTUST Taiwan. Saya lolos tapi ada beberapa pertimbangan akhirnya tidak saya ambil dan memilih menyelesaikan kuliah S2 saya tetap di kampus yang sama.

Nah, Beliau sedang liburan ke beberapa negara di Eropa sekaligus ada tugas kerja di Paris. Beliau mampir ke Belanda dan menyempatkan untuk ke Den Haag. Beliau dan istri setelah kami tunjukkan beberapa tempat di Den Haag kota, lalu kami undang makan malam di rumah. Senang sekali saya ketemu dengan Pak Budi, nama Beliau. Banyak cerita-cerita bermakna yang Beliau dan Istri sampaikan pada kami. Selain itu, Beliau juga aktif menulis di beberapa kolom di koran, baru saja menyelesaikan novelnya, serta aktif di grup musik. Saya suka kagum dengan orang seperti Beliau. Serasa energinya tidak habis dan talentanya banyak. Semoga saat saya ke Surabaya dan ke kampus untuk mengambil ijazah, saya bisa bertemu lagi dengan Beliau.

Menu saat makan malam lupa saya foto saking menyenangkannya pembicaraan kemarin. Kami menikmati urap sayur, sambel trasi, sambel goreng pete, ayam panggang, tahu tempe goreng. Seperti inilah penampakannya kalau sedang arisan dalam satu piring.

Menu tadi malam
Menu tadi malam

Oh iya, sebelum menutup postingan yang ternyata lumayan panjang ini, Anggur di halaman belakang berbuah sangat lebat. terbayang di bulan Agustus nanti kami pesta anggur saking banyaknya.

Penampakan Anggur-anggur di salah satu sisi halaman belakang
Penampakan Anggur-anggur di salah satu sisi halaman belakang

Musim panas akan berakhir masih sekitar satu bulan lebih. Semoga kami semua yang di sini kuat melewati setiap harinya, diberikan kesehatan yang baik dan tidak tumbang sakit karena panas yang menyengat. Musim panas kali ini adalah keempat buat saya dan super luar biasa dahsyat panasnya.

Bagaimana cuaca di tempat kalian?

-Nootdorp, 25 Juli 2018-

Bavaria Road Trip dan Kastil Neuschwanstein

Kastil dilihat dari atas jembatan

Akhir bulan Juni sampai akhir minggu pertama di bulan Juli 2018 kami melakukan perjalanan darat selama 12 jam dari tempat tinggal kami ke daerah Bavaria di Jerman (Jika ingin tahu lebih jelas tentang Bavaria, bisa dibaca di sini). Perjalanan darat yang saya maksud adalah dengan menggunakan mobil. Bisa dikatakan ini adalah liburan musim panas walaupun sebenarnya liburan ini dalam rangka merayakan ulang tahun suami. Kami berangkat hari minggu jam setengah tujuh pagi, waktu dimana para tetangga nampaknya masih tertidur dengan pulas. Hari sebelumnya, kami datang ke undangan ulang tahun anak seorang teman. Acaranya meriah dengan hidangan yang luar biasa enaknya (penting ini), maklum yang punya acara Ibunya orang Indonesia jadi bisa dipastikan makanan melimpah ruah. Kami pulang terlebih dulu setelah perut kenyang, tentu saja, dan tak lupa membungkus.

Memilih hari minggu untuk petualangan 12 jam naik mobil menuju Bavaria adalah pilihan tepat. Sepanjang perjalanan lancar, baru setelah Frankfurt jalan lumayan tersendat tetapi tidak sampai macet yang mengesalkan. Aman terkendali. Kami berhenti sebanyak 4 kali untuk makan siang, isi bensin, istirahat sejenak, dan ke toilet. Secara keseluruhan, perjalanan kami sangatlah lancar tanpa hambatan. Walaupun mobil yang kami sewa (kami memutuskan untuk tidak punya mobil sendiri sejak lama) tidak ada fasilitas AC, tapi hal tersebut tidak mengurangi riang gembira kami selama perjalanan, dengan konsekuensi jendela mobil dibuka. Kebayang dimusim panas yang sangat menyengat seperti saat ini, membuka jendela mobil sama saja terkena hawa panas dari luar. Tapi daripada pengap di dalam, hitung-hitung seperti road trip jaman dulu saat belum ada AC. Sebenarnya lama perjalanan kalau tidak pakai berhenti sama sekali hanya butuh waktu 8 jam. Tapi ya kan tidak mungkin kalau tidak berhenti. Maklum, tulang tidak muda lagi, butuh untuk diluruskan setelah duduk dalam waktu yang lama.

Selama 5 hari kami menginap di Munich atau München dalam bahasa Jerman. Munich adalah ibukota Bavaria. Karena liburan kali ini dalam rangka ulangtahun suami, maka seperti kebiasaan kami, semua yang mengurus adalah yang berulangtahun, termasuk hotel. Jadi saya tidak bertanya secara detail tentang hotel yang akan kami tempati. Yang saya dapatkan gambarannya adalah letaknya di pusat kota. Ternyata sesampainya di sana, ada saja kejadian diluar kuasa. Air di WC nya yang mengalir terus, beberapa kali menghubungi resepsionis dijawab akan segera diperbaiki yang nyatanya sampai akhir kami kembali ke Belanda tetap saja tanpa solusi. Walaupun bisa digunakan secara normal, tapi suara air lumayan terdengar sayup dimalam hari. Keluhan-keluhan lainnya bersifat minor, jadi ya anggap saja seni selama liburan.

BERKELILING di PUSAT KOTA MUNICH

Selama di Munich, kami jalan kaki mengelilingi pusat kotanya dan juga naik metro serta tram ke beberapa tempat yang agak jauh dari pusat kota. Kami mengunjungi Olympiapark yang menjadi tempat dilaksanakannya Olimpiade tahun 1972. Tempatnya sangat luas. Saking luasnya saya lebih memilih menunggu suami yang dengan semangatnya menelusuri hampir seluruh tempat ini, termasuk lapangan sepakbolanya.

Olympiapark dilihat dari atas bukit
Olympiapark dilihat dari atas bukit

Masih satu area dengan Olympiapark, ada museum BMW. Sayang waktu kami ke sana pada hari senin, museumnya tutup. Jadi yang bisa dilihat adalah galeri BMW nya. Saya tidak masuk, menunggu diluar duduk di rumput di bawah pohon.

BMW Welt (Foto oleh suami)
BMW Welt (Foto oleh suami)

Di Munich, saya sempat janjian untuk bertemu dengan Mbak Dian yang tahun kemarin saya datangi kota tempat tinggalnya yaitu Salzburg (ceritanya ada di sini). Selain itu, saya juga ketemu Mindy yang terakhir ketemu sewaktu di Berlin (ceritanya di sini). Foto kami ketemuan bersama tidak saya tampilkan di sini ya. Senang sekali bisa bertemu lagi dengan mereka berdua diantara jadwal liburan kami. Meskipun waktu bertemunya tidak lama, tapi pembicaraan kami seperti biasa sangatlah bermakna.

Munich
Munich
Munich
Munich
Munich
Munich
Munich
Munich

DACHAU

Salah satu tempat yang ingin dikunjungi suami adalah Dachau Concentration Camp Memorial Site. Sebenarnya saya tidak terlalu suka mengunjungi kamp konsentrasi karena selalu membuat saya sedih dan berpikir berkepanjangan setelahnya yang berujung kepala saya pusing. Entahlah, jika berhubungan dengan Hitler, hati dan pikiran saya tidak kuat membayangkan apa yang terjadi pada masa itu.

Dachau Concentration Camp Memorial Site
Dachau Concentration Camp Memorial Site

Benar saja, baru memasuki satu penjara, saya sudah tidak sanggup meneruskan ke seluruh area. Saya bilang suami, lebih baik kami menunggu di bawah pohon dekat pintu masuk sambil main-main di rumput. Sedangkan suami menyusuri seluruh areanya. Sekitar 2.5 jam kami di sana. Masuk ke sini, gratis.

Dachau Camp Concentration
Dachau Camp Concentration

Kastil Neuschwanstein

Salah satu tujuan utama kami adalah ke kastil Neuschwanstein. Sudah lama saya melihat dan membaca di internet tentang keindahan kastil ini. Apalagi melihat fotonya yang tampak megah dan menjulang dengan warna putihnya. Semakin penasaran ketika membaca blog Dixie menceritakan tentang kastil ini. Waktu itu saya berdoa semoga suatu saat berkesempatan ke sini. Musim panas tahun ini, kesampaian juga mengunjungi kastil yang menjadi sumber inspirasi Walt Disney untuk beberapa ceritanya. Kami membeli tiket online (saya sarankan membeli tiket secara online untuk menghindari antrian yang panjang apalagi saat musim liburan). Kami berangkat jam setengah tujuh pagi dari hotel karena perjalanan akan memakan waktu lebih dari 1.5 jam. Jam setengah sembilan pagi kami sudah sampai di parkiran lalu menuju loket untuk menukarkan tiket dalam bentuk fisik.

Ditiketnya akan tertera jam berapa kita bisa masuk ke dalam kastil. Jangan sampai telat ya karena kalau telat, tidak akan bisa masuk dan harus membeli tiket ulang. Lebih baik 15 menit sebelum waktunya, sudah menunggu didepat pintu masuk. Untuk menuju ke kastil ada dua cara. Jalan kaki menanjak selama kurang lebih 30 menit atau naik kereta kuda yang harus membayar jumlah pastinya saya tidak tahu. Kami memilih jalan kaki sambil menikmati hawa segar pagi hari dari hutan kanan dan kiri jalan. Jalan menanjak pun kami lalui dengan sesekali menyanyi dan bersenda gurau.

Jalan menuju kastil
Jalan menuju kastil

Sesampainya di halaman kastil, kami masih punya waktu satu jam untuk menunggu. Saya pergunakan waktu tersebut untuk foto sana sini. Beruntungnya saat itu cuaca sedang bersahabat, tidak terlalu terik maupun tidak hujan.

Pemandangan dari halaman kastil
Pemandangan dari halaman kastil

Selama tour di dalam kastil, akan ada pemandu yang menjelaskan semuanya. Saat pertama masuk, saya sangat deg-degan. Seperti ketika saat pertama kali saya akan melihat Menara Eiffel secara langsung. Karena selama ini saya hanya membaca dan melihat di internet tentang kastil Neuschwanstein lalu sekarang bisa menjejakkan kaki di dalamnya, rasanya benar-benar campur aduk. Luar biasa terharu. Dan benarlah seperti yang saya baca, kastil ini memang indah sekali. Selama di dalam, tidak diperbolehkan mengambil foto. Hanya di balkon selesai tour boleh memfoto area sekeliling kastil. Selama di dalam kastil, saya benar-benar terbengong dengan karya manusia yang luar biasa indah. Takjub. Dinding penuh lukisan, bahkan ada satu ruangan yang berisi lukisan angsa yang berjumlah ratusan atau ribuan saya lupa yang menginsipirasi film Frozen. Saya bersyukur diberi kesempatan ke tempat yang sejak lama saya ingin kunjungi dan pada akhirnya bisa mengunjungi bersama keluarga.

Pemandangan dari atas kastil
Pemandangan dari atas kastil
Pemandangan dari atas kastil
Pemandangan dari atas kastil
Dari jembatan di depan sana, bisa melihat kastil dengan sudut yang paling baik
Dari jembatan di depan sana, bisa melihat kastil dengan sudut yang paling baik

Untuk bisa memotret atau melihat kastil secara keseluruhan, bisa dilakukan di jembatan seberang kastil. Kita harus berjalan menanjak lagi, sekitar 10 menit. Untuk masuk ke jembatan inipun harus melewati penjaga supaya tidak terlalu banyak pengunjung di atas jembatan. Saran saya jika ingin mengunjungi kastil Neuschwanstein, datang lebih pagi lebih baik karena saat kami kembali ke parkiran mobil, antrian untuk bisa ke jembatan, mengular. Antrian di loket, mengular.

Jalan menanjak menuju jembatan
Jalan menanjak menuju jembatan
Kastil Neuschwanstein dilihat dari atas jembatan
Kastil Neuschwanstein dilihat dari atas jembatan
Kastil dilihat dari atas jembatan
Kastil Neuschwanstein dilihat dari atas jembatan

Saat turun menuju parkiran mobil, hujan datang. Kami berteduh di restoran karena memang sudah saatnya makan siang. Selesai makan, hujan masih saja turun. Kami lalu nekat berlari menerobos hujan melewati jalan yang berbeda saat kami datang. Kali ini kami memilih jalan di dalam hutan. Meskipun agak berkerikil dan licin, tapi meminimalkan terkena air hujan. Selesai juga menuntaskan rasa penasaran saya tentang Kastil Neuschwanstein. Pengalaman yang tidak pernah akan saya lupakan.

FüSSEN

Jika sudah sampai di Kastil Neuschwanstein, mampirlah ke Füssen. Kota kecil yang berjarak hanya 5 menit berkendara. Meskipun kota ini kecil, tetapi menyusuri kotanya seperti ada daya tarik sendiri yang susah dijelaskan. Sungai yang berwarna hijau, bangunan-bangunan yang berwarna warni, dan latar belakang pegunungan. Füssen tidak terlalu banyak dikunjungi oleh turis, bahkan pada musim liburan seperti saat musim panas. Füssen juga salah satu kota yang termasuk dalam Romantic Route di Jerman

Fussen
Fussen
Fussen
Fussen
Fussen
Fussen
Fussen
Fussen
Taman di Fussen
Taman di Fussen
Fussen
Fussen

 

TEGERNSEE

Tujuan terakhir kami adalah ke danau Tegernsee. Karena saat ke sana sedang mendung, rencana untuk naik kapal mengelilingi danau kami batalkan. Akhirnya kami berjalan kaki menyusuri setengah danau. Lumayan juga untuk melunturkan lemak makanan yang banyak selama liburan.

Tegernsee
Tegernsee

 

MAKANAN DI BAVARIA SELAMA LIBURAN

Beberapa foto di bawah ini adalah beberapa makanan (yang sempat saya abadikan) yang kami makan selama liburan, Jangan tanya namanya apa, karena saya tidak ingat sama sekali. Yang saya ingat adalah makanan yang kami beli di restoran halal, isinya sate ayam dan sate kambing. Selain makanan itu, saya tidak ingat. Yang penting masih dalam kategori bisa saya makan.

Makanan di Bavaria
Makanan di Bavaria
Makanan di Bavaria
Makanan di Bavaria
Makanan di Bavaria
Makanan di Bavaria
Makanan di Bavaria
Makanan di Bavaria
Makanan di Bavaria
Makanan di Bavaria

Begitulah cerita liburan dalam rangka ulangtahun suami dan juga liburan musim panas kami. Perjalanan kembali ke Belanda juga lancar jaya selama 12 jam meskipun panasnya luar biasa menyengat. Sesampainya di Belanda, kami langsung menuju ke Pempek Elysha, seperti biasa tempat yang pertama kami setelah kami liburan.

Langsung kalap di Pempek Elysha
Langsung kalap di Pempek Elysha

Semoga suami yang berulangtahun selalu diberikan kesehatan yang baik, umur yang berkah dan sehat serta bahagia bersama kami sekeluarga. Sampai membaca cerita liburan kami selanjutnya.

-Nootdorp, 20 Juli 2018-

Membalas Komentar di Blog

Ini postingan pendek selingan karena sebenarnya saya sedang menulis tentang liburan kami awal bulan ini, trus mendadak saya mengantuk lalu males meneruskan. Jadi daripada nanggung sudah buka laptop, mending sekarang posting yang pendek-pendek saja tentang membalas komentar di Blog.

Sejak punya blog ini yang ditulis berdua dengan suami (pada awalnya, sekarang sih saya sendiri yang nulis. Berasa blog milik sendiri meskipun dia yang bayar haha), saya berkomitmen untuk membalas setiap komentar yang masuk yang berkaitan dengan setiap postingan yang kami tulis. Kenapa seperti itu? Saya mikirnya mereka yang sudah meninggalkan komentar, pada umumnya sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan dan meluangkan waktu untuk menulis komentar. Kalau saya tidak membalas komentar, rasanya kok ya seperti tidak menghargai. Apalagi setelah kenal dengan Mas Cumi Lebay Almarhum, Beliau selalu bilang, sempatkanlah untuk membalas komentar yang masuk karena mereka yang memberikan komentar sesungguhnya sudah meluangkan waktu untuk membaca dan mengetikkan komentar. Jadi mereka ada rasa dihargai. Mas Cumi yang blogger kondang saja atau Noni yang banyak pengikut blognya pasti membalas setiap komentar yang masuk, saya yang blogger anak kemarin sore masa iya sok-sok an tidak membalas komentar yang tidak terlalu banyak. Lagipula saya memang senang membalas komentar jadi tahu sudut pandang sesama blogger atau siapapun yang membaca terhadap tulisan kami. Kadang jadi bisa berdiskusi juga ataupun ada masukan dan ide baru. Jadi seru.

Hal tersebut kembali kepada kebijakan masing-masing pemilik blog ya. Kalau saya, memang sebisa mungkin pasti akan membalas setiap komentar yang masuk karena selama ini komentar yang spam secara otomatis masuk ke folder spam. Blog kami juga tanpa melalui moderasi jika ingin memberikan komentar. Alasannya sederhana : saya malas untuk memoderasi, tidak mau membuat pekerjaan di blog makin bertambah. Toh selama ini komentar yang masuk tidak terlalu banyak yang aneh (mungkin karena yang saya tulispun topik yang tidak aneh-aneh). Ada beberapa yang tidak sreg di hati, ya tetap saya tanggapi sesuai apa komentarnya. Dan kalau tanpa moderasi juga enak buat yang komentar, karena bisa saling membaca komentar yang sudah masuk. Apalagi saya ini kan lama sekali kalau balas komentar yang masuk. Harus duduk depan laptop baru bisa balas. Saya tidak membiasakan diri untuk melihat layar Hp terlalu lama. Apalagi kalau siang hari, saya batasi sekali berinteraksi dengan Hp kecuali benar2 sangat senggang sekali. Waktu luang saya diatas jam 7 malam, baru saya nikmati dengan Hp atau media sosial atau membaca buku. Tergantung mana yang sreg ingin saya lakukan. Pengennya sih ada tukang pijat ya, leyeh-leyeh sambil dipijat.

Dari sekian tulisan di blog, ada satu tulisan yang memang sengaja komentar-komentar yang masuk tidak saya balas karena setelah saya baca secara keseluruhan, komentar yang ada di sana lebih mengarah ke opini pribadi tentang apa yang akan mereka lakukan berdasarkan isi postingan tersebut. Jadi karena terlalu subyektif, lebih baik saya tidak balas. Hanya komentar punya Dita yang saya balas karena ada nama idola kami bersama. Anthony Bourdain. Postingan yang saya maksud bisa dibaca di sini yang intinya berisi pendapat saya tentang kesepakatan dengan suami untuk sangat meminimalisir -bahkan kalau bisa, tidak- memposting foto anak di media sosial sampai mereka bisa berpendapat sendiri mau atau tidak fotonya ditaruh di media sosial milik orangtuanya.

Buat rekan blogger atau siapapun yang sudah membaca blog kami dan sudah meluangkan waktunya untuk menuliskan komentar atau menanggapi isi tulisan, saya ucapkan terima kasih. Apalagi mungkin agak sulit ya menulis komentar di blog kami ini entah karena kendala teknis. Saya sebisa mungkin akan membalas komentar yang masuk. Maaf kalau misalkan ada yang kelewatan. Mungkin mata saya sedang siwer. Kalau komentarnya tidak muncul, mungkin masuk spam dan saya memang biasanya akan mengecek folder spam lalu mengeluarkan pada kolom komentar. Kalau jawabnya lama, mohon pengertian juga. Maklum di sini harus membagi badan dan pikiran serta waktu untuk mengerjakan antara hobi menulis dan membaca dengan pekerjaan dalam dunia nyata yang hanya dikerjakan berdua dengan suami. Jadi setelah pekerjaan selesai, baru bisa nyaman duduk depan laptop membalas komentar. Sebisa mungkin akan saya balas. Menulis adalah hobi saya, jadi selama saya masih bernafas, saya akan terus menulis blog. Syukur-syukur suatu hari nanti ada kesempatan untuk menulis buku lagi.

Yuk tetap semangat menulis di blog!

Kalau kamu bagaimana dengan kebijakan membalas komentar di blogmu?

-Nootdorp, 16 Juli 2018-

Teman dan Sahabat Adalah Perkara Rejeki dan Jodoh

Bands of Friendship

Saya adalah orang yang susah sekali menyatakan ke orang lain bahwa dia adalah teman saya kalau memang kami belum akrab sekali. Lebih susah lagi mendeklarasikan persahabatan. Buat saya, yang namanya bersahabat itu haruslah sudah teruji jarak dan terlebih waktu. Butuh bertahun-tahun lamanya buat saya bisa dengan nyaman menyebutkan bahwa dia atau mereka adalah sahabat saya. Saya juga bukanlah orang yang gampang masuk ke dalam suatu lingkungan baru. Memang pada dasarnya saya orang yang lebih nyaman sendiri. Saya bukan anti sosial, jelas tidak. Tapi saya butuh proses agak lama untuk mengenali lingkungan baru. Kalau tidak satu frekuensi, lebih baik saya sendiri daripada memaksakan diri bergaul tapi tidak nyaman di hati. Dari dulu saya tidak pernah ada ketakutan untuk tidak mempunyai teman karena saya percaya yang namanya pertemanan akan selalu melewati seleksi alam. Kalau tidak satu frekuensi, begitu saya menyebutnya, maka akan gugur dengan sendirinya.

Menuliskan kalimat terakhir di atas bukanlah perkara mudah. Saya sudah melewati suka duka, babak belur, bahagia kecewa dalam pertemanan bahkan persahabatan. Awalnya jelas membuat kecewa luar dalam dan membuat kepercayaan terhadap orang lain menjadi pudar. Ketika persahabatan saya berakhir dengan tidak baik walaupun saya mengakhirinya dengan proses yang baik, berbelas tahun lalu, saya mengalami krisis kepercayaan bukan hanya terhadap diri sendiri tetapi juga terhadap orang lain. Butuh waktu lama untuk memulihkan dan menyembuhkan lukanya. Menyembuhkan patah hati karena masalah cinta buat saya lebih mudah dibandingkan patah hati karena persahabatan. Benar, luka karena cinta paling lama satu bulan sudah pulih kembali tapi kalau karena persahabatan, butuh beberapa tahun hingga bisa bangkit lagi. Bukan karena saya menggantungkan kebahagiaan di atas nama persahabatan, tetapi lebih kepada rasa percaya dan sesuatu yang sudah kami lalui bersama selama bertahun-tahun, tahu baik buruknya secara mendalam karena menjadi diri sendiri yang apa adanya. Satu persahabatan berakhir, lalu saya memulai membuka diri untuk mengenal sebanyak-banyaknya orang supaya lebih tahu banyak tentang karakter orang. Dari sekian banyak yang hadir dan pergi dalam hidup saya, akhirnya saya dan empat orang lainnya bertahan sampai sekarang. Mereka lah sahabat saya selama 19 tahun ini. Kami dipertemukan saat awal kuliah, sudah melewati asam manis dan segala macam pertengkaran yang menyakitkan. Bersyukurnya kami masih tetap bersama sampai saat ini meskipun komunikasi kami hanya melalui Whatsapp karena kami berbeda kota tinggal satu dengan lainnya. Saya sangat beruntung dan merasakan anugrah yang besar memiliki mereka, memiliki satu sama lain.

Bands of Friendship
Bands of Friendship

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya umur dan pengalaman yang menempa, hati dan pikiran saya pun mengalami proses penerimaan jika ada hal yang tidak sesuai dengan harapan. Saya lebih bisa berdamai dengan diri sendiri, berpikir lebih panjang dan menikmati proses hening saat ada hal yang diluar jangkauan. Teman datang dan pergi, namun sahabat akan selalu ada saat senang maupun susah. Kehidupan manusia sangatlah dinamis. Begitupun yang namanya pertemanan. Salah satu seleksi alam yang terjadi adalah saat teman berganti status. Dari sendiri, sudah menikah, memiliki anak, mungkin ada yang bercerai, memilih untuk tidak menikah, dan memilih untuk tidak memiliki anak. Ketika satu lingkar pertemanan yang dimulai dari status yang sama, dalam hal ini misalkan dimulai saat usia sekolah atau kuliah, maka semakin bertambah umur maka satu persatu teman yang memutuskan untuk menikah akan berganti status lalu yang memutuskan untuk memiliki anak pun kembali berganti status.

Saya yang menikah saat umur 33 tahun, yang disebut usia telat untuk ukuran Indonesia, memang rasanya menjadi aneh ketika berkumpul dengan teman-teman kuliah atau SMA yang menikah saat rentang usia 20an. Ketika mereka dengan spontan membicarakan tentang anak, sekolah anak, perkembangan anak, serba serbi rumah tangga, saya hanya menjadi pendengar setia. Rasanya memang tidak menyenangkan seorang yang belum berumahtangga ada dalam lingkup pembicaraan itu. Ada perasaan seperti tersisihkan. Beberapa kali saat diajak ketemuan, saya memilih untuk bilang tidak bisa dengan berbagai alasan, misalnya ada acara ini dan itu. Kembali lagi, karena perasaan tidak nyaman karena kami sudah berbeda status dan bahan obrolan kamipun berbeda jadi saya merasa tidak nyambung. Ini yang saya namakan salah satu seleksi alam. Saya tidak mau memaksakan diri saya untuk tetap dalam lingkaran pertemanan itu karena saya sudah merasa tidak nyaman. Kami tetap berteman, tapi perlahan dan pasti semakin menjauh. Butuh legowo buat saya menerima bahwa memang kami sudah berbeda. Saya tidak pernah menyalahkan keadaan, tidak pernah menyalahkan mereka, maupun menyalahkan diri sendiri. Yang saya lakukan hanyalah membuka mata dan pikiran bahwa kami memang sudah tidak satu frekuensi lagi. Saya yang memutuskan menjauh. Jodoh saya dengan mereka tidak bisa dilanjutkan lagi.

Saat saya sudah menikah, beberapa sahabat saya belum menikah. Karena saya sudah mengalami betapa tidak menyenangkannya berada diantara mereka yang sudah menikah saat saya belum menikah karena obrolan yang tidak nyambung, maka obrolan kami pun tetap seperti biasa saat saya belum menikah. Walaupun sesekali saya selipkan cerita seputar rumah tangga, itupun tidak banyak. Hanya selingan saja. Saat saya sedang ingin curhat tentang permasalahan yang pelikpun, mereka tetap ada buat saya. Begitu juga sebaliknya, saat mereka sedang ingin cerita tentang hal yang penting, akan tetap saya dengarkan tanpa mencoba menjadi seseorang yang nampak lebih pintar atau lebih berpengalaman. Kami tahu batasan masing-masing secara otomatis dan saling menghormati status yang berbeda saat ini.

Di Belanda, teman saya tidak banyak. Bisa dihitung. Sahabat, saya tidak punya. Boleh dibilang, suami saya merangkap sebagai sahabat saya juga selama di sini. Saya tidak berusaha keras untuk mencari teman di sini. Saya lebih nyaman ketika pertemanan terjadi karena ada hal-hal yang membuat kami terhubungkan. Saya memang tidak berusaha menonjol dalam lingkungan sosial di Belanda. Tidak berusaha supaya terkenal. Saya menjadi seorang Deny yang melakukan apapun tanpa dipaksakan atau memaksakan diri, melakukan sesuatu yang membuat nyaman. Ya menjadi diri saya sendiri tanpa perlu pengakuan banyak orang. Buat saya, perhatian dan memperhatikan orang-orang yang mengenal saya atau saya kenal dengan baik, itu lebih penting.

Ada beberapa teman di sini yang statusnya berbeda dengan saya. Adakalanya saya tidak bisa keluar bersama mereka, hal tersebut tidak membuat saya lantas menjadi cemburu. Karena saya sadar, bahwa saya sekarang berbeda dengan mereka dan saya tidak mau membuat mereka mengerti keadaan saya. Saya mengerti bahwa mereka juga butuh waktu bersama yang kadang tidak bisa melibatkan saya. Dengan keadaan seperti ini, saya sangat mengerti. Apakah saya lantas marah dan menyalahkan mereka karena kami tidak bisa jalan bersama lagi seperti saat satu atau dua tahun lalu? Tentu saja tidak karena kembali lagi ke pemahaman bahwa kami sekarang berbeda. Saat ada kesempatan kami bisa keluar bersama, saya tidak akan mendominasi pembicaraan dengan kondisi saya sekarang. Berbicara topik sewajarnya saja, toh banyak sekali yang bisa dibahas.

Butuh hati dan pikiran terbuka ketika suatu perubahan terjadi dalam jalinan pertemanan atau persahabatan. Kita tidak bisa menyalahkan siapapun bahkan keadaan. Saling mengerti, saling komunikasi, dan saling menempatkan diri melihat di posisi orang lain adalah hal yang bisa membuat pertemanan dan persahabatan menjadi nyaman. Jika memang hal tersebut tidak bisa dilakukan lagi, ya musti menerima dengan lapang dada bahwa memang sudah tidak sejalan lagi, berjodoh hanya sementara dan bukan rejekinya. Harus dengan legowo bahwa pertemanan atau persahabatan tidak bisa berjalan seperti dulu lagi. Tidak perlu menyalahkan apapun atau siapapun. Tidak perlu menuding dia salah atau aku yang benar. Tidak perlu memaksakan standar kita hanya untuk membuat kita benar. Apa yang menjadi standar kita belum tentu sama dengan standar orang lain. Saya selalu mengingat kata-kata ini : Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. BE KIND. ALWAYS

Berteman dan bersahabat adalah perkara rejeki dan jodoh. Itu yang selalu saya yakini. Buat saya, teman ada yang datang dan pergi silih berganti. Kalau bisa dan layak untuk dipertahankan, maka akan saya perjuangkan. Kalau tidak bisa dan tidak mampu lagi saya perjuangkan untuk bertahan, maka saya akan ikhlaskan untuk pergi dan berlalu. Hubungan persahabatan dan pertemanan yang dipaksakan, yang datangnya tidak lagi dari hati, lebih baik direlakan untuk pergi. Semoga persahabatan saya selama 19 tahun ini dan tahun-tahun kedepan adalah rejeki dan jodoh saya sampai kami menua bersama.

Bagi yang mempunyai sahabat dan teman yang sudah klik, semoga langgeng selalu.

-Nootdorp, 11 Juli 2018-

Ramadan Keempat di Belanda

Hari ini adalah hari ke 22 di bulan Ramadan tahun 2018. Tidak terasa ya minggu depan sudah lebaran. Semoga kita semua bisa dipertemukan dengan lebaran tahun ini, berkumpul bersama keluarga dan handai taulan serta diberikan umur yang berkah supaya bisa bertemu dengan Ramadan tahun-tahun selanjutnya dengan Ibadah dan amalan yang lebih baik.

Tahun ini adalah tahun ke empat Ramadan saya di Belanda. Ternyata setiap tahunnya saya selalu membuat tulisan tentang Ramadan. Jadi cerita Ramadan di Belanda seperti berseri. Jika ingin membaca cerita Ramadan tahun-tahun sebelumnya bisa diklik tautan di bawah ini :

Tahun pertama Ramadan di Belanda, durasi puasa sampai 20 jam karena bertepatan dengan musim panas. Tahun ini durasinya antara 18 sampai 19 jam di musim semi dan musim panas. Suhunya meskipun tidak sepanas musim panas pada bulan Juli dan Agustus, tapi tetap saja rasanya panas karena ada hari-hari sampai 30 derajat celcius. Semoga selalu dikuatkan untuk mereka yang berpuasa dengan durasi yang panjang disertai cuaca yang berubah dari hujan ke panas.

Di bawah ini adalah jadwal Ramadan tahun 2018

Jadwal Ramadan Den Haag 2018
Jadwal Ramadan Den Haag 2018

Dua tahun terakhir Ramadan sangat berbeda untuk saya. Memaknainya pun berbeda. Walaupun begitu, semoga tidak mengurangi niat saya untuk tetap beribadah, apapun itu. Ramadan tahun ini, tidak terlalu banyak yang bisa saya ceritakan karena kegiatannya seputar rumah, jalan-jalan menikmati sinar matahari kalau sedang muncul, belanja, me time jalan-jalan tanpa suami, makan mencoba beberapa menu baru di restoran, masak, leyeh-leyeh, bersih-bersih rumah, baca buku (Sudah menuju buku ke 11 yang saya baca setengah tahun ini), apalagi ya. Akhirnya makan nasi padang dan sate padang setelah lebih dari 4 tahun tidak makan nasi padang. Lumayan tombo kangen meskipun kalau ingat harganya ya agak nyesek. Saya belinya di Tong Tong Fair stan Lapek Jo. Ini bener-bener enak sampai sekarang rasanya saya ingat dengan baik. Yang di Belanda, kalau beli masakan padang di Lapek Jo saja. Adanya di Den Haag. Ini bukan tulisan berbayar, murni karena puas dengan rasanya.

Nasi Padang
Nasi Padang
Sate Padang
Sate Padang

Semoga tahun depan ada lebih banyak cerita yang bisa saya bagi pada saat Ramadan seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini saya tidak bisa berbagi banyak cerita, saya simpan dulu ceritanya.

Buat yang sedang persiapan akan mudik, semoga semuanya dipersiapkan dengan baik tidak ada yang ketinggalan. Semoga selamat sampai tujuan berkumpul bersama keluarga menyambut hari yang fitri. Sudah 4 kali lebaran saya tidak berkumpul dengan keluarga di Indonesia. Semoga suatu saat kami sekeluarga bisa berlebaran di Indonesia, kumpul keluarga dan makan masakan khas keluarga di sana.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin.

Semoga Segala Amal Ibadah Selama Ramadan Menjadi Berkah dan Kita Semua Dipertemukan Dengan Ramadan Tahun-Tahun Mendatang

-Nootdorp, 7 Juni 2018-

Malas Mandi

Marken

Oke, mungkin ini adalah postingan paling tidak bermutu diantara postingan lainnya di blog ini. Tapi tak apalah. Daripada sebelum tidur digunakan buat melamun, lebih baik buat menulis saja. Kan lebih berfaedah, meskipun membuka aib sendiri haha.

Sesungguhnya saya tidak pernah menganggap kebiasaan malas mandi ini sebuah aib. Ya menurut saya biasa saja karena memang sejak kecil saya adalah anak yang paling susah disuruh mandi diantara anggota keluarga yang lain. Tinggal dan besar di kota pesisir, pastinya badan jadi cepat berkeringat ya. Ongkep nya itu lho ga nahan. Bergerak sedikit saja, badan basah keringat. Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat saya untuk tetap malas mandi hahaha. Saya ingat sekali, kalau sudah waktunya mandi, handuk pasti saya kalungkan di leher. Lalu saya tidak langsung masuk ke kamar mandi. Ada saja yang saya lakukan, entah itu makan, ke rumah tetangga, nyapu atau sekedar leyeh-leyeh depan TV dengan tetap berkalungkan handuk. Lalu malampun tiba, ya akhirnya saya tidak mandi seharian hahaha. Eh, buat saya ini lucu sih kalau diingat. Handuk dikalungkan di leher seharian akhirnya dikembalikan lagi ke jemuran handuk.

Bapak dan Ibu adalah dua orang dalam keluarga yang hobinya mandi. Satu hari bisa lebih dari dua kali mandi. Bahkan Ibu saya selama di Belanda, tiap hari mandi. Padahal waktu Beliau di sini sedang musim dingin. Lalu suatu hari Ibu saya menyelutuk, ” Kok Ibuk tidak pernah melihat kamu mandi ya,” lalu saya jawab, “ya mosok musti aku jelaskan Buk.” Maksudnya ga usah dijelaskan kalau kebiasaan malas mandi sejak kecil masih bersemayam sampai saat ini haha.

Saya pernah tinggal di Surabaya selama 13 tahun dan nyaris 7 tahun di Jakarta. Dua kota ini kan panasnya tidak ketulungan. Ampun DJ, apalagi Surabaya. Oh ya, selama ngekos saya tidak pernah tinggal di tempat kos yang ber AC. Di rumah orangtua pun kami tidak punya AC. Jadi kalau sedang panas-panasnya, saya hanya mengandalkan kipas angin. Bahkan saya sering tidur kampus, demi bisa ngadem di ruangan ber AC. Dengan situasi yang seperti itu saja, ya saya tetap malas mandi. Entahlah, jiwa malas mandi ini terlalu kuat terpatri dalam tubuh. Dulu seringnya kalau pulang kerja, entah karena memang terlalu capek atau memang malas mandi, saya langsung tidur. Atau kalau malamnya mandi, berangkat kerja saya tidak mandi hahaha *ya Tuhan, bongkar rahasia :))). Intinya kalau sehari saya mandi dua kali berasa seperti rugi sekali.

Apakah suami tidak protes karena saya jarang mandi? oh tenang saja, dia tidak pernah ngeh kalau saya tidak mandi haha. Malah saya sering bertanya ke dia kapan saya terakhir mandi, saking saya lupa. Kenapa bisa lupa? karena meskipun saya tidak mandi dengan mengguyur seluruh badan dengan air, saya tetap membersihkan bagian-bagian badan yang wajib dibersihkan. Hal tersebut karena berhubungan dengan Ibadah. Ya ga usah disebutlah ya bagiannya. Nah karena tetap dibersihkan itulah, jadi saya selalu merasa badan saya bersih. Jadi berasanya sudah mandi. Makanya saya sering lupa kapan terakhir mandi dengan mengucurkan air ke seluruh tubuh. Kecuali musim panas ya, saya lebih rajin mandi. Panas di Belanda berbeda dengan panas di Surabaya atau Jakarta atau rumah orangtua yang di pesisir. Beda sekali. Meskipun “cuma” 30 derajat celcius, Ongkepnya lebih parah dan panasnya lebih menyengat. Itu kenapa saya jadi lebih rajin mandi. Bukan tiap hari mandi ya, tapi lebih rajin mandi dibandingkan yang biasanya.

Siapa bilang bule malas mandi. Suami saya mandinya lebih rajin dibandingkan saya. Musim dinginpun dia rajin mandi, apalagi musim panas. Ya tapi itulah yang namanya jodoh ya, saling melengkapi *pembenaran hahaha. Suami bilang saya tidak masalah jarang mandi, berarti membantu bumi berlangsung lebih lama. Membantu lingkungan supaya tidak banyak air yang terbuang *terhibur haha.

Kalau kamu, rajin mandi atau malas mandi? Pernah berapa lama dan paling lama tidak mandi?

—-Kalau nanti ketemu saya, tidak usah mbatin ya saya mandi atau tidak. Tanya saja langsung daripada menebak-nebak.

-Nootdorp, 4 Juni 2018-

Republik Twitter

Eh sik ya sebentar, aku tak ngecek Republik Twitter dulu

Kalimat itu yang sering kali muncul di grup WhatsApp (wa) yang isinya sahabat2 saya. Kami berlima sudah bersahabat sejak awal kuliah. Jadi sekitar 19 tahun lamanya. Kami sudah saling tahu baik buruk dan cerita masing-masing, secara personal yang tentu saja diceritakan karena pasti banyak juga yang disimpan sendiri. Nah, empat diantara kami mempunyai akun twitter. Diantara 4 ini, saya dan satu orang lagi yang aktif. Dua lainnya hanya sesekali karena faktor kesibukan. Bukannya saya dan sahabat saya tidak sibuk ya, justru karena sibuk juga akhirnya kami mencari hiburan lewat twitter. Dan buat saya pribadi, twitter sangatlah menghibur. Apalagi ketika kami terpisah tempat tinggal dan berbeda waktu, twitter juga tempat update berita terbaru lalu kami saling memberitahu di grup. Bukan hanya saling memberitahu, tapi seringnya juga akhirnya jadi bahan diskusi sampai bahan bercandaan.

Diantara semua media sosial yang pernah saya miliki (FB, IG, Twitter. Saya tidak pernah punya Path dan Snapchat), twitter lah yang selama ini awet tidak pernah saya deactive kan (saya juga tidak tahu apakah bisa karena tidak pernah mencoba). Kalau tidak salah, tahun ini adalah tahun ke sembilan atau ke sepuluh ya saya punya akun di twitter. Saya ingat sekali awal bergabung di twitter karena di kantor sedang jadi pengangguran dibayar alias makan gaji buta. Dulu masih bingung apa fungisnya RT, bagaimana cara pakainya. Masih kagoklah. Lalu saya ikut kuis di akunnya Detik. Menang beberapa kali dan hadiahnya dikirim ke kantor (saya dulu juga sering menang ikut kuis-kuis di IG, sewaktu masih punya akunnya). Sampai oleh orang kantor saya dijuluki ratu kuis twitter haha.

Setelahnya saya mulai follow akun-akun yang sesuai minat (misalkan tentang menulis, penulis atau akun yang sering membahas buku), diluar akun-akun berita dalam dan luar negeri juga akun personal yang menurut saya menarik (terutama yang lucu dan informatif). Sampai saat ini, saya tidak pernah ruwet mencari follower. Bukannya tidak penting, tapi sejak awal punya akun di twitter, murni hal tersebut untuk hiburan selain juga mendapatkan informasi yang bermanfaat secara cepat. Sama seperti prinsip bermedia sosial yang lainnya, semua akan berfaedah jika kita mengikuti akun yang tepat. Bersyukurnya, sampai detik ini akun-akun yang saya ikuti masih berfaedah. Di twitter juga saya bisa berinteraksi dengan beberapa rekan blogger dan percayalah, sangat menyenangkan. Ada beberapa yang selalu membuat saya tertawa ngakak setiap berbalas pesan. Sungguh twitter ini penemuan yang sangat membuat bahagia. Terbekatilah penemunya.

Jika ada keluhan atau pertanyaan ke suatu perusahaan, lebih cepat tanggapannya lewat akun twitter mereka dibandingkan lewat email. Saya pernah ingin mengganti jadwal pesawat KLM punya adik. Saya mengurus lewat akun twitter KLM. Wow! Cepat reaksinya. Kami saling berbalas DM. Begitupun ketika saya ingin mengurus sesuatu di Bank Mandiri, tanggapan lewat twitter lebih cepat daripada email yang saya kirimkan. Itu salah dua contohnya ya. Saya masih punya pengalaman beberapa lagi.

Tidak hanya itu, lewat twitter juga saya bisa ikut project menulis yang akhirnya bisa berperan dalam 4 buku. Ceritanya pernah saya tulis di sini. Media sosial itu bermanfaat kok, asal bijak saja menggunakannya (sok kasih nasehat, padahal pernah mutung gara-gara FB haha).

Saya menulis begini bukan dibayar twitter untuk promosi ya. Siapalah saya ini, wong pengikut saja cuma beberapa gelintir, tidak sampai 600. Saya menulis cerita tentang twitter karena memang selalu merasa terhibur. Disamping itu, ada saja bahan dari twitter yang membuat saya dan sahabat-sahabat tertawa terbahak. Jadi kalau kami sedang berdiskusi tentang sesuatu yang maha penting pun (contohnya tentang rumus statistik), eh ujung-ujungnya,“Sik yo rehat, aku tak ngecek Republik Twitter. Onok huru hara opo saiki.” —-Saking menghiburnya kehidupan di twitter.

Apakah saya punya pengalaman buruk di twitter? Sejauh ini belum pernah. Ya karena memang tujuannya tidak yang serius-serius sekali, jadi semua saya buat santai saja. Nge-tweet ya yang santai-santai yang tidak memancing keriuhan atau menambah keruh keadaan. Terkadang (yang sangat jarang) saya juga berbagi informasi. Yang sering, jelas pamer makanan hahaha. Karena seingat saya (seingat saya lho ini) tidak pernah menulis hal-hal yang jelek, mengumpat atau memaki-maki, jadi saya tidak pernah menggembok akun walaupun sedang dalam proses mencari pekerjaan misalnya. Ya apa yang mau digembok, wong yang ditulis hal yang biasa. Saya dan suami juga saling follow di twitter dan  99% tidak pernah berinteraksi, lha wong saya ndak paham apa yang dia tulis di twitter, terlalu serius. Sedangkan dia tidak terlalu paham juga apa yang saya tulis, wong pakai bahasa Indonesia sesekali bahasa Jawa (sangat kadang sekali pakai bahasa Belanda).

Dikala ada perpecahan pendapat tentang mereka yang bangga punya akun twitter atau mereka yang bangga punya akun IG, saya sih tidak peduli mau punya akun di manapun. Selama enjoy dan tidak terbebani, buat apa saling meninggikan. Santai wae. Saat ini saya tidak seaktif sebelumnya. Yang pasti setiap hari memang saya buka, walaupun cepat-cepat membacanya. Biasanya malam saat sudah santai atau di sela-sela hari saat sudah tidak ada huru hara dengan kegiatan harian.

Jadi, untuk saya dan para sahabat, twitter adalah sumber informasi tercepat, terkini dan juga sebagai sumber hiburan yang hakiki. Ada saja yang jadi bahan banyolan kami.

Kalian punya akun twitter? punya pengalaman seru apa di twitter?

-Nootdorp, 31 Mei 2018-

Tentang “Me Time”

Saya ini aslinya anak rumahan. Lebih senang menghabiskan waktu senggang di rumah daripada keluyuran. Enak banget kalau bisa leyeh-leyeh di kasur, baca buku, mendengarkan musik, tidur, makan, ulangi berkali-kali. Sewaktu masih di Indonesia dan berstatus karyawati, hari yang saya tunggu jelasnya adalah sabtu dan minggu. Di dua hari itu saya bisa sepuasnya tinggal di kamar. Syukur-syukur kalau dikasih makan sama Ibu kos, jadi saya tidak perlu masak atau sampai ke luar rumah beli makan. Bersantai di kamar itupun dengan catatan saya tidak ada pekerjaan ke luar kota pada akhir pekan. Yang pada kenyataannya malah sering ke luar kota. Me time saya dulu itu adalah ke toko buku, nonton bioskop, bersemedi di kamar, ke perpustakaan, lari pagi, ngelamun di beberapa taman di Jakarta (Taman Suropati lebih seringnya, nonton orang-orang latihan musik), ke pasar, masak, dan ke TMII nonton pertunjukan gratis di sana. Seringnya dulu me time itu beneran sendiri, karena saya memang lebih suka ke mana-mana sendiri. Jarang punya temen sih sejak dulu kala. Dan ya, tetap hidup damai sentausa sampai sekarang walaupun yang namanya teman bisa dihitung dengan jari tangan.

Nah, sejak menikah, tetap donk saya membutuhkan me time. Namanya juga awalnya seorang individu ya, jadi begitu menikah pun tetaplah jiwa individunya ada. Bersyukurnya saya mendapatkan suami yang satu pemikiran tentang hal ini. Jadi setiap bulan, kami pasti mempunyai waktu untuk sendiri. Entah saya yang ke luar rumah, dia yang ke luar rumah, atau kami berdua ke luar rumah dengan rute yang berbeda.

Nah, walaupun pada dasarnya saya orang rumahan, tapi saya juga tipe yang petakilan. Apalagi di Belanda ini kan matahari nongol bisa dihitung maksimal hanya beberapa hari dalam setahun. Jadi begitu matahari muncul apalagi kalau angin tidak begitu kencang, pastilah kaki saya gatal ingin ke sana ke mari. Selama hampir 4 tahun menikah, me time yang saya lakukan seringnya adalah saya yang ke luar rumah. Maklum, suami lebih orang rumahan dibanding saya.

Ke luarnya seringnya tidak jauh-jauh juga. Ke kota lain sekitaran kota kami tinggal. Tapi me time yang paling jauh saya lakukan adalah ke Berlin beberapa hari pada tahun 2016.

Kenapa sih masing-masing daru kami butuh waktu sendiri? Seperti yang saya tulis sebelumnya, karena walaupun kami menikah, tetapi tidak setiap waktu kami harus selalu runtang runtung terus bersama. Me time itu seperti nge-charge. Kami biasanya mulai “berpisah” tidak ketemu sebelum makan siang sampai setelah makan malam baru kembali bertemu. Kalau saya atau suami dalam perjalanan pulang, baru kami saling berkirim kabar kira-kira jam berapa sampai di rumah. Jadi selama satu hari tidak barengan itu, kami tidak saling berkirim kabar. Benar-benar menikmati waktu sendiri.

Rasanya bagaimana? Senang jelasnya. Kami sehari-hari sudah sangat disibukkan dengan kegiatan masing-masing dan kegiatan bersama yang berhubungan dengan rumah tangga. Jadi begitu ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang disukai tanpa harus bersama pasangan, pastinya senang. Tapi tidak semua merasa ini hal yang wajar lho, maksudnya keluar rumah tanpa suami menikmati kegiatan yang diinginkan. Tidak bergerombol bersama kenalan atau teman yang lain ya. Beberapa kali saya berjumpa dengan orang Indonesia dan ketika tahu saya kelayapan tanpa suami, langsung dikomentari ini itu (yang agak mengganggu telinga). Bahkan saya sering lho nonton bioskop sendiri. Lha wong nonton konser saja sendiri, suami tidak menemani. Ah ya wes lah. Wes biyasa dapat komentar apapun. Saya dari dulu memang tidak suka runtang runtung bergerombol. Lebih nyaman ke sana sini sendirian kalau tidak ditemani suami.

Kembali lagi ke hal me time. Sehari jauh dari masing-masing pasangan tentu saja membuat kangen lho. Entah, rasanya seperti kangen kayak masa muda dulu itu. Kalau sudah dekat dengan rumah, deg-degan rasanya mau ketemu suami sendiri hahaha norak ya. Tapi memang betul itu yang saya rasakan. Me time yang bisa menimbulkan kupu-kupu beterbangan di perut ketika kami bertemu kembali saat malam di rumah.

Beberapa minggu lalu, saya keluar rumah ke Den Haag hampir seharian tanpa suami. Kali ini jalan-jalan dan kulineran sekitaran Den Haag dengan 3 orang teman dekat. Dari jam 10 pagi sampai jam 8 malam sampai rumah. Ketika akan pulang menunggu tram, saya bilang suami kalau tramnya masih tunggu 5 menit lagi. Jadi kira-kira sampai rumah jam 8 malam. Saat sudah sampai di halte terakhir dekat rumah, keluar tram suami sudah menunggu. Lho saya terkejut, tumben dijemput padahal jalan kaki ke rumah cuma 5 menit. Lalu kami berjalan kaki bareng dan seperti biasa dia menggandeng tangan saya, lalu saya menggoda dia,”kok tiba-tiba kamu nongol. Tumben jemput.” Dia jawab,”iya nih sepi rumah. Aku kelimpungan padahal sudah menyibukkan diri ini itu.”

Dikasih kejutan dengan dia menjemput tanpa pemberitahuan saja sudah membuat saya tersenyum simpul pipi menghangat sepanjang jalan menuju rumah.

Kalau menurut kalian, apakah perlu punya me time? Kalau yang sudah berpasangan atau punya anak (-anak me time seperti apa sering dilakukan dan berapa lama?

-Nootdorp, 27 Mei 2018-

Minggu Kelabu

Harusnya hari ini, minggu 13 Mei 2018, adalah hari yang menyenangkan. Di Belanda (dan beberapa negara lainnya) hari ini diperingati sebagai Hari Ibu. Saya sudah membayangkan pagi hari saya akan dapat kejutan (entah itu apa) lalu sorenya kami sekeluarga akan ke rumah Mama karena memang sudah tradisi kalau Hari Ibu, seluruh keluarga akan kumpul di rumah Mama, yang artinya bisa ngobrol ngalur ngidul dengan semua dan tentu saja banyak makanan. Nyatanya, hari minggu ini menjadi minggu kelabu yang mampu memporakporandakan perasaan saya. Sedih sampai menangis, bingung sampai bengong, hati rasa tercabik-cabik mendengar dan membaca berita duka datang silih berganti.

Sekitar jam 3 dini hari (waktu Belanda) saya terbangun, lalu jam 4 saya kembali tertidur. Seperti biasa, saya buka dulu sebentar twitter untuk membaca berita apa yang ada di Indonesia atau dunia. Sebenarnya mata saya sudah sepet mengantuk, jadi membaca beberapa berita dengan setengah sadar. Saya tersentak begitu membaca ada berita bom meledak di beberapa Gereja di Surabaya. Seperti tidak percaya, Surabaya?! Bagaimana mungkin?!. Kota yang sempat saya tinggali selama 13 tahun adalah kota yang adem ayem meskipun penghuninya terkenal dengan keras dan cepat panasnya. Tapi percayalah, kota itu meskipun nampak galak dan garang, sesungguhnya sangatlah adem ayem. Masyarakatnya hidup berdampingan dengan segala perbedaannya. Bahkan saat kerusuhan di Jakarta tahun 98, di Surabaya ya aman dan adem ayem. Saya lalu menuliskan di grup wa sahabat-sahabat saya apakah benar ada bom di Surabaya. Lalu karena memang mengantuk sekali, saya tertidur kembali sampai jam 7 bangun. Dan kembali membuka twitter dan wa, ternyata benar adanya bom itu. Hati saya retak. Sedih campur kesal. Hal tersebut sempat teralihkan karena saya diberi kejutan satu buket bunga dan coklat sebagai hadiah dihari Ibu.

Sekitar jam 9 pagi, Ibu berkirim pesan di wa, menanyakan kabar kami sekeluarga. Setelahnya Ibu menyampaikan berita duka. Salah satu teman SMP saya yang juga rekan kerja Ibu, pagi dini hari meninggal dunia. Teman saya ini meninggalkan satu anak perempuan yang masih kecil dan seorang istri. Hati saya kembali remuk. Walaupun saya tidak dekat dengan dia, tapi saya kenal dengan baik bagaimana betapa baiknya dia, pintar dan juga pekerja keras sehingga dia bukan hanya PNS tetapi juga mempunyai beberapa usaha yang sukses. Saya ingat betul, sewaktu Ibu sedang dioperasi, ternyata Bapak dia juga sedang sakit. Kamar pasien saling berhadapan. Waktu itu dia sering menghibur saya untuk sabar menghadapi ujian hidup. Padahal keadaan dia tidak lebih baik dari keadaan saya, tapi dia tetap memberikan semangat untuk saya. Pada saat saya kawin, dia datang ke kawinan kami. Itu terakhir saya bertemu dia. Sewaktu Ibu ke Belanda, Ibu menyampaikan salam dari dia. Katanya kalau saya pulang, minta dikabari karena ingin berjumpa. “Belum juga aku sempat pulang As, kamu sudah pergi. Gone too soon! Semoga kamu tenang ya disisiNya dan semoga keluargamu diberikan kekuatan dan ketabahan.” Saya sedih jika teringat anak perempuannya, sudah kehilangan seorang Bapak diusia yang masih belia.

Menjelang siang, kembali saya sekilas membuka twitter. Begitu membaca bahwa ada anak-anak yang menjadi korban, perasaan saya kembali berkecamuk sedih. Anak-anak itu pasti dengan semangat bangun pagi dan senang karena akan beribadah di Gereja. Sesampainya di sana, ada bom meledak. Apa yang salah dengan mereka? Mereka ingin beribadah, berucap syukur pada Tuhan, ingin berdoa. Apa yang salah dengan mereka sehingga mereka yang tak tahu apa-apa ikut menjadi korban? Lalu saya kembali membaca bahwa dua orang anak kecil diajak Ibunya untuk membunuh, meledakkan diri. Kegilaan apalagi ini. Anak-anak itu masih kecil. Kenapa harus melibatkan mereka. Tugas mereka hanyalah bermain, bersenang-senang dengan teman-temannya. Kenapa harus diajak membunuh orang-orang yang akan beribadah? Sebenarnya apa sih yang dicari oleh para pembunuh ini? Apa yang sebenarnya mereka benci sehingga harus membunuh. Sebegitu bencikah mereka sampai harus membunuh? Punya hak apa mereka sebagai sesama makhluk Tuhan dengan pongahnya bisa bertindak sebagai pencabut nyawa? Tidak bisakah hidup berdampingan dalam perbedaan. Toh yang menciptakan berbeda juga Tuhan, lalu mengapa harus dilenyapkan perbedaan itu?

Sore hari kami ke rumah Mama. Begitu pintu terbuka, Mama langsung memberondong dengan banyak pertanyaan terkait Bom di Surabaya. Sudah saya duga akan banyak pertanyaan terlontar dan ada banyak pasang mata menunggu penjelasan dari saya. Yang keluarga kami sesalkan dan juga seperti kekesalan saya adalah kenapa harus melibatkan anak-anak?! Kenapa?!

Sore hari menjelang malam, kembali ada berita ledakan di Sidoarjo. Hari yang melelahkan terus terang untuk saya mendengar banyak berita duka dari tanah air. Banyak pertanyaan berkecamuk silih berganti datang dan pergi.

Terkait teman saya yang meninggal, saya kembali berpikir bahwa memang usia adalah rahasia Ilahi. Bahkan sedetik kedepan kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Hal ini semakin mengingatkan saya untuk mempergunakan waktu yang tersisa sebaik dan sebermanfaat mungkin. Nikmati secara maksimal waktu bersama orang-orang yang kita cintai dan sampaikan rasa sayang kita pada mereka. Berbuat hal-hal yang bermanfaat, karena kita tidak pernah tahu kapan saat itu akan datang. Kalau ingat kematian, rasanya ga ada nyali untuk sombong. Apa yang akan kita sombongkan karena semua ini memang hanya titipan, apa iya kita akan bawa semua ini ke liang kubur?

Terkait teroris, pertanyaan yang selama ini mengganjal saya adalah : banyak yang bilang bahwa terorisme itu jangan dikaitkan dengan agama karena perbuatan teror itu tak mengenal agama. Tapi kenapa selama ini teroris yang ada di Indonesia (saya hanya ingin fokus yang di Indonesia, karena mengamati hanya di Indonesia) selalu menggunakan atribut atau berpakaian secara Islam? Meneriakkan kalimat-kalimat yang ada di agama Islam? Lalu dengan kenyataan seperti itu, apakah tetap tidak bisa dikatakan bahwa teroris itu tidak beragama Islam? Toh nyata-nyata yang mereka lakukan katanya adalah jihad. Jihad macam apa, tujuannya apa? Kalau mereka ingin masuk surga dengan cara seperti itu dan ingin mengapling surga hanya untuk kaum mereka saja, monggo silahkan. Lebih baik saya tidak ada kaplingan di manapun daripada hidup saya merugikan orang lain dan membuat kerusakan saja. Sebenarnya apa yang mereka benci? Mengapa mereka sangat benci sehingga harus membunuh banyak orang? Oh Tuhan, banyak sekali hal-hal yang berkecamuk di kepala saya sampai saat ini lebih dari jam 10 malam saya masih belum bisa tidur. Masih memikirkan anak-anak kecil tak berdosa itu.

Doa saya teriring untuk para korban dan keluarga korban.

Dan untuk para pembunuh, Damn you Teroris!

-Nootdorp, 13 Mei 2018-