Kebiasaan Saat Makan

{"total_effects_actions":0,"total_draw_time":0,"layers_used":0,"effects_tried":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{"border":0,"frame":0,"mask":0,"lensflare":0,"clipart":0,"text":0,"square_fit":0,"shape_mask":0,"callout":0},"effects_applied":0,"uid":"968FF27D-5C68-4130-BB3A-EE49AE865EB9_1502646820682","width":3264,"photos_added":0,"total_effects_time":0,"tools_used":{"tilt_shift":0,"resize":0,"adjust":0,"curves":0,"motion":0,"perspective":0,"clone":0,"crop":0,"enhance":0,"selection":0,"free_crop":0,"flip_rotate":0,"shape_crop":0,"stretch":0},"source":"editor","origin":"gallery","height":2448,"subsource":"done_button","total_editor_time":388,"brushes_used":0}

Meskipun saya bukan tipe orang yang terlalu rewel dalam urusan makan, tetapi kadang juga termasuk tipe pemilih. Ada beberapa hal yang tidak bisa ditawar atau menjadi kebiasaan saat makan. Kebiasaan ini ada yang masih berlangsung sampai saat ini tapi juga ada yang perlahan bisa dihilangkan.

  • Kuah Pisah

Saya paling tidak bisa kalau makan yang berkuah terus dicampur dengan nasinya. Jadi, nasi harus dipisah dengan kuah. Tapi kalau kuah dimakan dengan lontong, masih bisa. Entah kenapa rasanya geli kalau makan yang berkuah ada nasinya. Melihat nasi mengambang atau ada di dalam kuah itu, entahlah rasanya tidak bisa dijelaskan. Geli lihatnya haha. Jadi saya tim kuah pisah dengan nasi :))))

  • Lebih Suka Makan Pakai Sendok

Meskipun dari kecil kebiasaan melihat Ibu dan hampir seluruh keluarga besar kalau makan pakai tangan (tidak menggunakan sendok) dan saya biasa disuapin dengan tidak menggunakan sendok, tetapi saya tumbuh besar mempunyai kebiasaan makan dengan menggunakan sendok. Pada dasarnya saya ini memang orang yang suka geli-an. Geli di sini maksudnya agak jijik an, jadi kalau makan tanpa menggunakan sendok, saya geli saat lihat tangan sendiri kotor. Duh, sok ratu banget ya saya haha. Tapi memang begitulah kenyataannya. Tetapi lama kelamaan akhirnya saya belajar supaya tidak geli sendiri, belajar makan tanpa menggunakan sendok. Sudah lumayan sering sih, meskipun frekuensinya ya tidak sangat sering. Minimal sudah bisa meredam ke-geli-an saya kalau lihat tangan kotor. Ngomong tentang kotor, saya juga paling tidak suka kalau hujan terus kaki saya kecipratan air hujan dari jalanan trus akhirnya kaki saya kotor. Pasti langsung saya bersihkan, tidak bisa berlama-lama. Saya lebih suka pakai sandal dibandingkan sepatu, tapi tidak suka kalau kaki kotor *rewel :))))

  • Durasi Makan Lama

Kalau yang ini, tidak diragukan lagi. Lamanya tidak ketulungan, sampai suami saya selalu geregetan kalau makan bareng. Kalau saya pikir-pikir lagi, ini awalnya mungkin karena sejak kecil (sampai sekarang) makan selalu sambil baca buku. Jadi konsentrasi makan terpecah antara makan dan baca buku. Saya makan bisa lebih dari setengah jam. Makanya, saya paling benci kalau makan diburu-buru. Saya ingat sekali pernah membentak teman kuliah waktu makan bakso di kampus karena dia buru-buru mau masuk kelas. Dia sampai kaget saya bentak hanya perkara makan yang super pelan haha. Tapi sekarang saya mulai belajar makan dengan tempo yang lebih cepat. Mulai membiasakan makan tidak baca buku, tapi tetap saja agak lama karena makan sambil ngelamun haha. Saya dan adik-adik sama saja, kami makannya lama. Padahal Ibu Bapak kalau makan cepet. Selama adik di Belanda, suami suka ngeledekin, “siapa nih yang menang, makan terlama” 😅

  • Suka Makan Sayur Kecuali ….

Meskipun Ibu adalah wanita pekerja dan di rumah ada pembantu, tetapi untuk urusan makan Ibu selalu memasak sendiri untuk semuanya. Jadi Ibu selalu bangun sebelum adzan subuh lalu mulai menyiapkan semuanya untuk memasak dari memasak nasi, lauk pauk dan sayur. Jam setengah tujuh pagi, Ibu sudah berangkat mengajar. Satu yang tidak pernah absen adalah sayur hijau harus selalu ada di meja makan. Jadi semacam sayur rebus gitu atau lalapan mentah. Meskipun kadang Ibu membuat sop sayur, tetapi tetap disediakan sayuran hijau. Akhirnya saya terbiasa sejak kecil makan sayur atau lalapan. Semua sayuran saya suka, kecuali kacang panjang. Saya kalau melihat kacang panjang seperti melihat ulat haha. Entah kenapa imajinasinya seperti itu. Karenanya, sayuran seenak apapun, tidak akan saya sentuh kalau ada kacang panjangnya. Tidak ingat pasti sejak kapan saya akhirnya mulai bisa makan kacang panjang. Kalau lodeh dikasih campuran kacang panjang, saya akhirnya bisa makan. Meskipun masih agak PR kalau mau makan lalapan kacang panjang.

  • Nasi Dikepel

Saya di masa kecil tumbuh jadi anak yang biasa disuapin. Ya sampai umur sebelum masuk TK. Nah, saya paling suka kalau disuapi nasi yang dikepel dengan lauknya. Dan favorit saya adalah nasi hangat yang dikepel dengan perkedel. Semakin besar, bertambah lagi kesukaan saya makan nasi dikepel dengan kuning telur ditambah sambel buje cabbi (sambelnya orang Madura, cabe dengan garam saja). Sampai sekarang, kalau saya sedang malas makan, ya akhirnya makan nasi dikepel kalau tidak dengan perkedel ya dengan kuning telur pakai sambel cabe garam.

  • Tidak Suka Bubur, Kecuali ….

Jika banyak orang suka sekali dengan yang namanya bubur ayam, tidak demikian dengan saya. Bahkan jauh dari Indonesia seperti ini, tidak membuat saya menjadi orang yang ingin sekali makan bubur ayam. Biasa saja. Sebenarnya secara keseluruhan saya memang bukan penggemar bubur. Meskipun bukan penggemar bubur, tetapi ada satu jenis bubur yang saya suka yaitu Tajin Palappa. Ini bubur khas Madura. Wah kalau bubur ini, saya doyan sekali. Saya pernah menjelaskan tentang Tajin Palappa di tulisan yang ini.

Tajin Palappa pakai hongkong (ote ote). Kalau di rumah Orangtua, setiap pagi saya bisa sarapan ini. Sumber foto http://kooliner.com/blog/main-ke-baluran-nikmati-tajin-palappa-situbondo/
Tajin Palappa pakai hongkong (ote ote). Kalau di rumah Orangtua, setiap pagi saya bisa sarapan ini. Sumber foto http://kooliner.com/blog/main-ke-baluran-nikmati-tajin-palappa-situbondo/

  • Tidak Harus Pakai Kerupuk Dan Sambal

Saya punya teman, kalau makan harus ada kerupuk dan sambal. Tanpa dua pelengkap tersebut terutama kerupuk, dia tidak bisa mulai makan. Jadi harus ada kerupuk disetiap dia makan. Kata dia, bukan orang Indonesia kalau makan tidak ada kerupuknya. Wah, berarti saya bukan orang Indonesia donk ya haha karena bisa makan tanpa kerupuk. Saya kalau makan tidak terbiasa dengan kerupuk berbarengan dengan makanan utama. Jika tidak makan kerupuknya di awal, pasti di akhir. Kalau makan berbarengan gitu, agak ribet buat saya. Tapi paling enak kalau makan soto atau rawon, atau bakso, kerupuknya dicelup di kuah. Ehhmm, Lekker! Sambel pun tidak harus ada sekarang. Jadi makan tanpa sambel pun tak mengapa. Sama seperti saya sekarang tidak harus makan nasi. Tapi yang pasti sehari harus ada karbohidrat satu kali yang saya konsumsi.

  • Lebih Baik Asin Daripada Manis

Nah ini, masalah rasa. Walaupun saya Jawa tulen, tapi saya tidak terlalu suka makan yang rasanya manis. Jelas ini terpengaruh dari lingkungan tinggal karena saya dari Jawa Timur apalagi lingkungan saya tumbuh besar yang memang mayoritas orang Madura. Terbiasalah saya mengkonsumsi makanan asin dibanding makanan manis. Sampai saya membuat perumpamaan : bisa hidup tanpa gula tapi susah kalau tanpa garam. Saya tidak terlalu suka kue yang rasanya manis. Mending makan dadar jagung yang rasanya asin haha perbandingannya jomplang banget. Saya tidak terlalu suka makan trus dicampur kecap. Tapi kalau nasi hangat dikasih kecap makan dengan telor ceplok, wah itu susah ditolak :))) Saya ingat punya teman kuliah yang kemana-mana (di dalam tasnya) bawa kecap. Makanan apapun pasti dikecapin sama dia. Sampai pernah dia makan sayur asem dikecapin juga. Untung sewaktu makan rawon tidak dikecapin juga haha.

  • Makan Jangan Dicampur

Ini masih lanjutan dengan rasa geli. Saya tidak bisa makan kalau isinya diaduk atau dicampur-campur. Contohnya : kalau makan nasi padang, selain saya tidak suka kalau nasi diguyur kuahnya, saya juga tidak suka kalau semua nasinya diaduk dengan kuah atau sayuran lainnya (nangka atau rebusan daun singkong). Kalau dibungkus pun, sebisa mungkin saya minta dipisah antara nasi dan lauknya biar tidak bersatu *terpisah sesaat :))). Sama saja dengan makan bubur, tidak bisa kalau saat makan harus diaduk campur semua. Makan mie ayam juga begitu, mienya dimakan sendiri tidak dicampur dengan kuahnya. Mienya harus bebas kuah. Intinya makan tidak diaduk dan dicampur. Btw, disaat banyak orang mengidolakan nasi padang, saya malah biasa saja dengan nasi padang. Entah kenapa, mungkin karena bersantan ya dan ada kuah kentalnya (padahal ya bisa saja pesan menu lainnya) . Saya kalau beli di restoran padang pasti menunya sama : ikan bakar dan sambel hijau plus sayur daun singkong. Sudah itu saja, tidak tertarik dengan menu lainnya.

  • Tidak Bersuara

Sejak kecil diajari oleh Bapak kalau makan mulut harus tertutup, tidak boleh mengeluarkan bunyi apapun, tidak boleh bersendawa. Jadi sampai sekarang terbiasa makan tidak berbunyi. Makanya paling tidak suka mendengar orang makan yang berbunyi dan bersendawa. Padahal untuk hal ini, masing-masing tempat berbeda ya. Ada yang kalau bersendawa atau makan berbunyi artinya pujian kepada yang masak dan artinya masakannya enak. Walaupun tetap saja, telinga agak risih kalau dengar orang makan berbunyi dan bersendawa. Cuma ya ditahan-tahan saja, kalau ga kenal ya masak langsung nyolot :)))) kalau adik saya sih ya langsung saya tegur.

Duh, rewel sekali ya kebiasaan makan saya. Untung dapat suami yang tabah haha. Tapi kalau dalam keadaan yang kepepet sekali, entah kenapa saya jadi mendadak bisa fleksibel. Terutama kalau sedang jalan-jalan. Tingkat kerewelan dan keruwetan saya mendadak melorot levelnya, jadi santai.

Yang akan saya ceritakan sekilas ini sebenarnya bukan tentang kebiasaan makan, tapi masih ada hubungannya dengan makan. Jadi kami sekeluarga bukan dari keluarga yang berkelebihan, cukupanlah. Tapi untuk makanan yang beli, sangat jarang sekali kalau tidak ada hari yang spesial misalkan ulang tahun atau ketika Bapak dan Ibu ada sedikit lebih rejeki. Nah, salah satu kesempatan untuk makan enak (beli di luar maksudnya) justru datang saat sakit. Jadi kalau ada anak-anaknya yang sakit, Bapak dan Ibu selalu bertanya, ” mau beli makan apa? sate atau soto ayam atau martabak atau mie goreng atau apa?” Sedangkan kalau dipikir-pikir, kalau sedang sakit kan mulut ga enak ya buat makan. Agak pahit gitu. Jadinya ya males ditawari untuk beli makanan diluar. Kenapa gak kalau pas lagi sehat aja ditawarinnya :)))

Kalau kalian, apa kebiasaan makan yang unik atau bahkan kadang mungkin berasa agak merepotkan untuk kalian sendiri atau orang sekitar?

Menu makanan favorit saya. Terong goreng, perkedel, telor dadar dan sambel petis Madura. Menu seperti ini selalu mengingatkan masa ngekos di Surabaya. Hampir selalu makan malam di warung penyetan. Bedanya di sambel saja. Ahhh saya jadi kangen warung penyetan di sekitar kampus (dekat Sakinah)
Menu makanan favorit saya. Terong goreng, perkedel, telor dadar dan sambel petis Madura. Menu seperti ini selalu mengingatkan masa ngekos di Surabaya. Hampir selalu makan malam di warung penyetan. Bedanya di sambel saja. Ahhh saya jadi kangen warung penyetan di sekitar kampus (dekat Sakinah)

-Nootdorp, 12 Agustus 2017-

Tiga Tahun

{"total_effects_actions":0,"total_draw_time":0,"layers_used":0,"effects_tried":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{"border":0,"frame":0,"mask":0,"lensflare":0,"clipart":0,"text":0,"square_fit":0,"shape_mask":0,"callout":0},"effects_applied":0,"uid":"968FF27D-5C68-4130-BB3A-EE49AE865EB9_1502220198258","width":3264,"photos_added":0,"total_effects_time":0,"tools_used":{"tilt_shift":0,"resize":0,"adjust":0,"curves":0,"motion":0,"perspective":0,"clone":0,"crop":0,"enhance":0,"selection":0,"free_crop":0,"flip_rotate":0,"shape_crop":0,"stretch":0},"source":"editor","origin":"gallery","height":2448,"subsource":"done_button","total_editor_time":171,"brushes_used":0}

Tiga tahun berjalan sangat cepat. Menjelang tiga tahun pernikahan, hampir setiap hari kami membahasnya kalau tiga tahun yang kami lalui ini benar-benar tidak terasa. Dan kami suka membahas sambil cekikikan kalau diantara kami tuh sebenarnya banyak sekali perbedaan. Kalau dibuat daftar, banyak bedanya dibanding samanya.

Zaanse Schans
Zaanse Schans

 

– Yang satu tukang ngegombal setiap detik setiap saat, yang satu cuma senyum-senyum saja sambil lempeng bilang thank you.

– Yang satu selalu ribet nyari kunci (apapun) di pagi hari, yang satu selalu gemes ngelihatnya dan mengulang omongan kalo kunci musti ditaruh tempat yg disediakan setiap nyampe rumah.

– Yang satu suka banget pakai sepatu dan sandal di dalam rumah tapi nyeker kalau ke luar rumah, yg satu tukang ngomel dan kayak kaset rusak ngomong setiap masuk rumah alas kaki harus dicopot dan suka geli kalau kaki sendiri basah dan kotor jadi harus cepat-cepat dibersihkan.

– Yang satu suka banget makan kue yang manis-manis, yang satu suka banget makan camilan yang banyak micinnya meskipun setelahnya pasti sakit tenggorokan.

– Yang satu hobi banget naik kendaraan umum, yang satu ga bisa hidup tanpa ngayuh sepeda setiap hari.

– Yang satu suka banget nanya ini dimana itu ditaruh mana dan kalau nyari ga ketemu, yang satu entah kenapa kayak punya kekuatan bulan selalu menemukan yang dicari.

– Yang satu tukang beberes dan paling tidak bisa lihat rumah berantakan, yang satu bagian ngeberantakin dan selalu komentar “ini kan rumah bukan museum, jadi ga usahlah terlalu bersih”

– Yang satu sukanya makan tempe, yang satu doyannya makan tahu.

– Yang satu bisa ngunyah buah sampai 4 jenis berbeda setiap harinya, yang satu suka banget sama sayuran mentah.

– Yang satu suka sekali dengan sejarah dan ga suka matematika, yang satu hobi utak atik rumus matematika kayak kurang kerjaan dan ga terlalu mudeng dengan geografi dan sejarah.

– Yang satu jago dan rapi sekali kalau pasang seprei, yang satu mending nyetrika daripada masang seprei.

Kalau mau dijabarkan perbedaan yang ada, bisa lebih panjang dari novel-novel yang beredar di pasaran. Bagaimanapun juga, kami menjalankan pernikahan ini atas nama perbedaan dan bukan untuk menyamakan yang beda tapi mengharmonikan hal-hal yang tidak sama.

Satu yang pasti, banyak perubahan yang terjadi termasuk perasaan kami tidak lagi sama seperti tiga tahun lalu atau getaran itu tidak lagi sama seperti 3.5 tahun lalu saat pertama kali bertemu. Perasaan dan getaran yang ada semakin hari semakin menguat. Selalu ada pipi yang menghangat dan kupu-kupu yang beterbangan di perut saat ucapan tulus terlontarkan atau celutukan-celutukan manis walau cuma selewat. Kadang-kadang kalau lama tidak bertengkar, yang satu suka iseng cari gara-gara tapi kalau salah paham beneran ngambeknya susah hilang.

Bersyukur atas tiga tahun yang terlewati. Semua yang hadir dalam tiga tahun ini datang pada waktu yang tepat, tidak terlalu cepat pun tidak lambat. Perbedaan atau persamaan, bukanlah hal yang besar buat kami saat ini. Karena sejak awal, kami sama-sama yakin bahwa kami dipertemukan untuk bisa saling belajar dan menjadi yang terbaik bagi satu sama lain.

Doa setiap tahun, semoga kami terus bersama dalam keadaan sehat dan bahagia, saling menguatkan dalam susah dan tidak takabur dalam senang, diberikan umur panjang yang barokah agar bisa saling beriringan berjalan dalam pernikahan sampai berpuluh tahun kemudian.

Di Leuven, Belgia
Di Leuven, Belgia
Biar agak romantis gitu, tiga tahunan di Paris. Tapi gelap fotonya 😅
Biar agak romantis gitu, tiga tahunan di Paris. Tapi gelap fotonya 😅

-Nootdorp, 9 Agustus 2017-

Sakit di Perantauan

Dini hari sekitar jam 2 saya terbangun karena rasa nyeri yang saya rasakan di perut. Saya mengubah posisi tidur yang miring ke kiri menjadi terlentang kemudian mencoba untuk duduk. Semakin lama nyeri yang saya rasakan semakin menusuk. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya merasakan nyeri yang seperti ini. Dalam rentang dua bulan, ini sudah ke empat kalinya. Tiga nyeri terdahulu sudah dikonsultasikan kepada pihak medis dan hasilnya masih dalam tahap normal, tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Karenanya ketika rasa nyeri ini datang, saya tidak terlalu khawatir karena sudah “berpengalaman” sebelumnya. Selang satu jam kemudian, nyerinya semakin hebat. Saya terpaksa membangunkan suami yang terlelap. Tujuannya cuma satu, kalau misalkan saya pingsan, minimal ada yang tahu lah. Suami bangun lalu bingung juga apa yang musti dilakukan. Dia mengelus punggung saya. Sedangkan saya duduk sambil berusaha mengatur nafas. Satu jam berlalu, nyerinya tetap datang tapi saya sudah mulai kelelahan dan mengantuk. Akhirnya saya coba untuk tidur dengan harapan ketika bangun rasa nyerinya hilang.

Pagi datang, saya terbangun. Saya rasakan nyerinya masih ada. Suami lalu menyarankan untuk menelepon pihak medis. Saya menahan, “jangan sekarang, biasanya ga lama lagi hilang.” Setelah membawakan sarapan roti dan segelas susu coklat, suami berangkat ke kantor karena saya bilang sudah agak baikan. Tinggallah saya di rumah dengan adik. Saya bilang ke adik kalau rencana hari ini ke Amsterdam terpaksa dibatalkan karena untuk bergerak dari tempat tidur saja sangat susah. Sayang sebenarnya karena cuaca sangat cerah. Tapi adik memaklumi melihat kondisi saya yang kesakitan. Berbicara saja terbata-bata karena menahan sakit. Saya bilang ke adik untuk sering-sering mengecek kondisi saya di kamar. Takutnya saya pingsan tanpa ketahuan. Bersyukur ada adik di rumah. Jadi saya agak tenang kalau misalkan keadaan makin memburuk, setidaknya dia bisa telpon suami atau memberitahu tetangga.

Sekitar jam 10, suami telpon. Saya bilang nyerinya semakin hebat dan datangnya sering. Saya sebutkan di bagian mana saja yang nyeri dan tanda-tanda lainnya. Dia lalu bilang akan menelepon pihak medis. Selang berapa lama, dia menelepon saya kembali. Kata pihak medisnya, setelah mendengar keluhan dan tanda-tandanya yang masih sama dengan yang sebelum-sebelumnya, saya hanya disuruh menunggu, banyak minum air putih dan sering bergerak. Saya bingung juga ya mau bergerak yang bagaimana. Ke kamar mandi saja rasanya pengen ngesot saking tidak kuatnya jalan. Tapi akhirnya saya paksakan juga turun ke lantai bawah dengan menahan nyeri yang amat sangat. Nyeri yang saya rasakan itu seperti sakit maag yang sakitnya sampai ke ulu hati dan seperti ketusuk-tusuk. Nyerinya datang dan pergi.

Karena sudah jam makan siang, saya mempersiapkan makan dibantu adik. Dalam keadaan seperti ini, kangen deh dengan warung. Tinggal beli langsung makan. Ingin makan nasi pecel pakai lauk dadar jagung. Sempet kesel juga kenapa pas sakit gini, makan saja musti tetep masak sendiri. Tapi pikiran itu langsung saya enyahkan, karena bersyukur saya masih bisa makan dan mempersiapkan makanan meskipun dengan keadaan yang tidak ideal dan ditemani adik. Akhirnya saya makan dengan oseng sayuran dan tahu tempe sembari menahan nyeri. Sebenarnya bisa makan yang simpel seperti roti, tapi saya ingin makan yang ada sayurnya.

Siang menjelang sore, keadaan tidak semakin membaik. Saya coba untuk tidur dengan harapan yang sama, pas bangun nyerinya hilang. Sementara adik bilang akan jalan-jalan sebentar ke kota. Ternyata setelah satu jam tidur dan ketika terbangun, sakitnya makin tidak karuan. Saya mencoba menyeret pantat menjauh dari tempat tidur dan mengatur nafas ketika bergerak. Tapi nyerinya makin sering datang. Tidak berapa lama, suami datang. Dia menyarankan untuk telepon lagi pihak medis. Saya menyetujui. Yang saya khawatirkan bukanlah rasa nyeri yang semakin menjadi-jadi, karena untuk menahan sakit, saya masih bisa. Tapi karena sudah lebih dari 12 jam nyerinya tidak hilang, jadi khawatir juga pasti ada sesuatu di dalam sana. Setelah menelepon, pihak medis bilang akan segera datang ke rumah dan jika ada sesuatu yang genting ditemukan, saya akan langsung dikirim ke RS. 10 menit kemudian Beliau sampai rumah dan langsung menuju ke kamar. Setelah ditanya ini dan itu untuk diagnosa awal, lalu dilanjutkan pemeriksaan luar dan dalam. Setelah pemeriksaan menyeluruh, dikatakan ulu hati saya tertekan (semacam itulah kesimpulannya). Saya disarankan minum paracetamol untuk meredakan nyeri, lebih banyak minum air, dan makan buah. Kalau sudah menjalankan itu semua tetapi nyerinya belum hilang, disuruh telpon lagi. Saya sempat bilang ke Beliau, baru kali ini saya kesakitan trus diperiksanya di rumah. Semacam seperti di film-film yang saya tonton. Biasanya kalau saya sakit walaupun sampai susah berjalan (sewaktu sakit usus buntu), ya saya yang pergi ke dokter. Beliau langsung tertawa mendengar guyonan saya dan memuji daya tahan saya terhadap sakit. Maksudnya bisa menahan sakit dengan tidak panik sampai lebih dari 12 jam.

Mendengar bahwa semuanya baik-baik saja, saya agak tenang. Saya tidak langsung mengkonsumsi paracetamol, tapi langsung hajar dengan buah lalu guyur dengan minum yang banyak. Saya bilang suami, kalau sampai malam nyerinya tidak hilang, baru akan minum paracetamol. Saya lalu banyak bergerak jalan ke sana ke mari. Sekitar jam 9 malam, saya merasakan nyerinya jauh berkurang. Dan ketika menulis ini, nyerinya tinggal sekitar 10% dari awal. Semoga nyerinya tidak kembali lagi sehingga besok saya bisa mengantarkan adik jalan-jalan ke Amsterdam *loalaaahh lak pecicilan maneh. Suami bilang rasanya tidak tega melihat saya kesakitan yang sedemikian hingga sampai beberapa kali dia berkata, “andaikan nyerinya bisa ditransfer sedikit ke saya,” sambil memeluk dan mengelus punggung saya.

Kejadian hari ini mengingatkan saya tentang tidak enaknya sakit terutama jika sedang merantau. Sakit saja sudah tidak enak, apalagi kalau jauh dari keluarga. Mulai hidup ngekos sejak umur 15 tahun, saya sangat berhati-hati sekali dalam menjaga kesehatan. Saya berpikirnya, kalau sakit jauh dari keluarga pasti rasanya sangat nelongso dan bingung ya mau minta tolong siapa kalau ada apa-apa. Tapi yang namanya musibah, bisa datang kapan saja tanpa terduga. Sewaktu di Surabaya, masih enak lah kalau sakit tidak terlalu jauh kalau mau pulang ke rumah (6 jam perjalanan). Waktu itu saya sakit usus buntu yang akhirnya harus operasi. Tapi sewaktu di Jakarta, kalau sakit ya harus dihadapi sendiri, kalau semakin memburuk baru saya telepon teman untuk mengantarkan ke dokter atau RS. Sewaktu di Jakarta sempat 2 kali harus dirawat di RS. Saya ini bukan tipe kalau sakit langsung memberi tahu ke orangtua. Sebisa mungkin saya tangani sendiri dulu. Kalau sudah semakin parah, baru memberi tahu mereka. Tapi satu yang pasti, kalau sedang sakit saya pasti memberi tahu orang di sekitar dengan tujuan untuk sering-sering menengok saya di kamar. Jadi kalau saya pingsan atau katakan kalau keadaan buruk saya meninggal, ketahuan. Jadi ga pingsan atau meninggal tanpa ketahuan.

Yang paling nelongso kalau sakit jauh dari keluarga itu adalah urusan makan. Kalau di Indonesia masih bisa minta tolong teman kos untuk nitip beli makan. Atau setidaknya saya bisa jalan sendiri ke warung terdekat untuk beli makan. Tapi kalau seperti hari ini, sedih sekali pas ingin makan sesuatu yang diingini, malah makannya yang lain dan harus masak dulu pula. Tapi pikiran itu langsung saya usir jauh-jauh karena bersyukur masih bisa makan dan masih ada tenaga untuk menyiapkan makanan. Itu tandanya sakit masih bisa saya tahan. Dan bersyukur ada ada adik di rumah. Dan sangat bersyukur meskipun suami ngantor hari ini tapi tetap memantau keadaan saya bahkan mengurus ke pihak medis dan mengurus saya di rumah. Dia pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Setidaknya tenang ada keluarga di sekitar saya. Memang musti dicari celah supaya ditengah kesusahan masih ada yang bisa disyukuri. Hidup jauh dari keluarga sejak usia muda, lumayan menempa jiwa kalau saat-saat sulit datang. Minimal tidak panik.

Ada yang punya pengalaman sakit di perantauan, jauh dari keluarga?

-Nootdorp, 31 Juli 2017-

Tentang Menikmati Hidup

{"total_effects_actions":0,"total_draw_time":0,"layers_used":0,"effects_tried":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{"border":0,"frame":0,"mask":0,"lensflare":0,"clipart":0,"text":0,"square_fit":0,"shape_mask":0,"callout":0},"effects_applied":0,"uid":"968FF27D-5C68-4130-BB3A-EE49AE865EB9_1501178854065","width":3264,"photos_added":0,"total_effects_time":0,"tools_used":{"tilt_shift":0,"resize":0,"adjust":0,"curves":0,"motion":0,"perspective":0,"clone":0,"crop":0,"enhance":0,"selection":0,"free_crop":0,"flip_rotate":0,"shape_crop":0,"stretch":0},"source":"editor","origin":"gallery","height":2448,"subsource":"done_button","total_editor_time":220,"brushes_used":0}

Hampir setiap hari saya menerima email dari mereka yang membaca blog kami. Dari bertanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan persyaratan tinggal di Belanda, ujian bahasa Belanda, pernikahan dengan WN Belanda, pasar di Belanda, bahkan sampai bertanya harga cabe di Belanda. Tentu saja pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak saya jawab langsung karena memang tidak terlalu tergesa dilihat dari tingkat kepentingannya. Saya menunggu sampai bisa duduk manis di depan komputer karena saya tidak membiasakan diri untuk terlalu banyak menghabiskan waktu dengan telefon genggam. Selain pertanyan, tentu juga saya menerima email yang isinya tentang komentar bahkan nasihat. Komentar yang disampaikan berkaitan dengan saya pribadi, saya dan suami, maupun komentar tentang blog ini. Sedangkan nasihat, beberapa kali saya menerima masukan yang berhubungan dengan agama. Kadang ya bikin gemas, kadang ya biasa saja. Dan yang terakhir, tentu saja blog kami ini tidak luput dari kritikan. Semuanya kami terima, khususnya untuk saya, sebagai bahan evaluasi dalam menulis dan berbagi cerita, merenung, maupun sekedar bahan bacaan. Terima kasih untuk yang sudah meluangkan menulis email.

Dari sekian email, ada beberapa yang bernada serupa menanyakan atau memberi komentar betapa saya terlihat sangat menikmati hidup dan kehidupan selama di Belanda, terlihat dari cerita-cerita yang saya bagikan di blog ini. Mereka menanyakan bagaimana caranya beradaptasi dengan semua hal yang baru di Belanda atau caranya supaya hubungan dengan suami selalu baik-baik saja (karena ada beberapa yang menuliskan sepertinya hubungan kami lancar dari awal kenalan sampai menikah. Padahal saya tidak pernah bercerita sekalipun di blog ini tentang kehidupan sebelum pernikahan, tentang bagaimana kami bertemu sampai menikah). Saya tentu saja senyum-senyum membaca hal tersebut.

Apa yang kami tuliskan di blog ini murni adalah apa yang kami alami, apa yang kami pikirkan, apa yang kami jalani tanpa harus dipoles sana sini. Tetapi, tidak semua hal dalam kehidupan kami perlu dituangkan di sini. Ada banyak hal yang sekiranya berguna, tentu saja kami bagikan, siapa tahu ada yang memerlukan informasinya, atau ada beberapa pemikiran yang tertuliskan setidaknya kami belajar menyampaikan pendapat melalui tulisan. Tetapi ada banyak hal juga yang harus kami simpan sendiri, biarlah kami saja yang tahu, tidak perlu sampai dunia luas ini mengetahui setiap peristiwa yang terjadi. Buat saya, lebih baik menuliskan hal-hal yang membuat hati gembira, meskipun tidak dipungkiri beberapa tulisan di blog ini terinspirasi dari kisah sedih saya (atau kami), keresahan yang saya rasakan, atau kerinduan akan tanah air dan keluarga. Tetapi untuk hal-hal yang bersifat pribadi dan sangat pribadi, biarlah itu menjadi bagian kehidupan nyata kami. Mungkin karena beberapa hal tersebut yang kami terapkan dalam menulis blog, jadi terbaca bahwa saya nampak sangat menikmati hidup, selalu gembira, dan tidak pernah ada masalah.

Selama masih hidup, masalah akan selalu ada. Namanya juga manusia ya, siapa juga yang tidak pernah tertimpa masalah dari hal-hal yang kecil sampai yang nampaknya mustahil untuk diselesaikan. Hal tersebut berlaku juga untuk saya. Bedanya, mungkin karena saya jarang sekali berkeluh kesah di dunia maya (blog atau twitter), jadi nampak semua baik-baik saja. Padahal kalau mau ditelisik lebih dalam, ada saja masalah yang menghampiri. Bukan ingin menampilkan pencitraan yang baik-baik saja, tetapi saya lebih memilih untuk tidak terlalu berkeluh kesah di media sosial, karena untuk saya, tidak ada gunanya. Saya rasa orang juga males membaca kalau misalkan saya ngomel-ngomel terus di media sosial. Saya memilih untuk menyelesaikan masalah yang datang, menghadapinya, mencari solusinya, dan berdiskusi dengan suami. Sejak menikah, tentu saja tempat saya untuk berdiskusi adalah suami. Dari suami juga saya belajar banyak hal tentang penyikapan terhadap suatu masalah. Saya yang dulunya berjiwa senggol bacok, sekarang jadi lebih tenang kalau menghadapi sesuatu meskipun tetap sih sesekali “api” nya muncul, tapi setidaknya lebih terkendali. Kalau kami yang sedang bermasalah, maka masalah itu harus berhenti di kami, tidak sampai keluar. Bahkan dengan sahabat-sahabat dekat, saya tidak pernah bercerita sedikitpun tentang rumah tangga kami. Intinya, apa yang terjadi di rumah, jangan sampai seisi dunia tahu. Dan bersyukur sampai sekarang (dan mudah-mudahan  seterusnya) hal tersebut tetap terjaga dengan baik.

Menikmati Rujak Cingur dengan es kelapa
Menikmati Rujak Cingur dengan es kelapa, salah satu cara menikmati hidup haha.

Pernah suatu ketika, mantan atasan di perusahaan tempat bekerja di Jakarta bertanya apakah saya tidak rindu dunia kerja seperti dulu. Maksudnya kerja kantoran yang penuh waktu dan mengejar karier. Pertanyaan inipun pernah ditanyakan oleh suami. Dia merasa agak bersalah karena saya ke Belanda artinya saya harus beradaptasi lagi dari awal termasuk tentang pekerjaan. Saya menjawab pertanyaan itu : ada kalanya saya rindu tetapi saya menikmati apa yang ada sekarang. Bukannya saya tidak ingin mengejar karier dan bekerja sesuai dengan pengalaman serta latar belakang pendidikan, tetapi saat ini saya memilih bekerja karena ada hal baru yang bisa saya pelajari meskipun tidak ada jenjang karier dan masalah gaji juga biasa saja. Tetapi saya menikmati pekerjaan paruh waktu ini. Nanti, kalau sudah keadaan dan waktu memungkinkan, saya akan kembali bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman saya atau bahkan mungkin bekerja di bidang yang baru yang penting masih sesuai dengan minat dan dengan pendapatan yang lebih baik. Awal pindah memang saya masih sangat berambisi tinggi untuk mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan dengan alasan : kalau yang di Indonesia bertanya, biar tidak malu menjawabnya. Masa sudah sekolah tinggi dan punya pengalaman kerja di sana, begitu nyampe sini dapat kerjanya yang biasa-biasa saja. Tetapi seiring berjalannya waktu dan kondisi, saya bertanya pada diri sendiri apakah saya ingin bekerja karena ingin memenuhi standar orang lain biar tidak dipandang sebelah mata atau saya ingin bekerja karena sesuatu yang memang saya sukai. Akhirnya saya memilih yang kedua, bukan karena saya tidak punya ambisi tetapi saya pernah ada pada kondisi yang pertama dan pada akhirnya saya malah tidak menikmati apa yang saya kerjakan hanya karena ingin dipandang hebat oleh orang lain. Saya sekarang memilih untuk hidup berdasarkan standar saya, bukan ditentukan oleh pujian atau sanjungan orang lain. Penghargaan dari orang-orang terdekat yang mengenal saya, itu lebih baik lebih dari cukup dibandingkan pujian dan sanjungan dari mereka yang tidak mengenal saya secara dekat.

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan seorang teman baik yang juga teman jalan di Belanda. Dia bercerita kalau ada kenalannya yang sedang bosan menjalani rutinitas hidupnya yang monoton dari rumah-tempat kerja-rumah setiap hari. Dia ingin kembali ke fase kehidupan sebelum saat ini yang bisa pergi ke kafe, belanja sesuka hati dll. Teman baik saya ini lalu mencontohkan saya (saya juga tidak tahu kenapa mencontohkan saya haha), “Sebenarnya yang perlu diubah adalah cara berpikir kamu. Mau dimanapun kamu hidup, harusnya sama saja kamu masih bisa menikmatinya kalau kamu tidak memikirkan lagi masa lalu. Lihat saja Deny, dia sangat menikmati hidupnya di sini. Melakukan apapun yang dia suka, mengerjakan yang dia senangi.” Lalu saya hanya terkekeh. Ada benarnya yang dia ucapkan. Saya menikmati apapun fase hidup yang saya jalani, termasuk saat ini. Sewaktu bekerja di Indonesia, saya menikmati sebagai pekerja kantoran yang hampir setiap hari stress dan lembur pulang dini hari. Iya, Jakarta keras Bung! pulang dini hari bahkan subuh sudah jadi makanan sehari-hari. Saya menikmati ke-stress-an itu karena ada hal-hal lain yang bisa saya nikmati yaitu bisa berkeliling Indonesia dengan gratis lewat perjalanan kantor. Sewaktu fase kuliah, saya juga menikmati setiap hari baru bisa tidur dini hari karena mengerjakan tugas dan laporan. Wanita dini hari lah pokoknya saya dulu haha. Walaupun capek, tapi teman-teman kuliah sangatlah menyenangkan sehingga lelah mengerjakan tugas agak tidak terlalu terasa karena kebersamaan dan gelak tawa dengan mereka bisa membasuh penat yang ada *tsaahh bahasanya :))). Pindah ke negara baru dengan kondisi yang jauh berbeda dengan negara asal pun sangat saya nikmati sekali. Saya berpikirnya karena akan ada banyak hal baru yang bisa saya pelajari, meskipun tidak dipungkiri sampai saat ini permasalahan utama saya masih seputar makanan (isi cuitan saya di twitter ya selalu seputar makanan). Tetapi karena saya pindah ke Belanda dengan penuh rasa kesadaran dan keputusan sendiri tanpa paksaan, pada akhirnya saya sangat menikmati kehidupan  di sini. Dari awal saya sudah mencari kegiatan yang saya suka, karenanya saya ikut menjadi sukarelawan, belajar bahasa Belanda di sekolah sehingga mengenal orang-orang yang baru, mulai mencari pekerjaan paruh waktu, jalan-jalan karena saya memang sukanya pecicilan jalan-jalan baik sendiri, bareng teman atau suami. Karena sudah terbiasa kemana-mana sendiri sejak di Indonesia, dari awal pindah ke Belanda saya tidak terpikir untuk segera mencari kenalan. Justru yang saya lakukan adalah mencari tempat wisata mana yang bisa saya kunjungi dan mengenal lingkungan sekitar sampai nyasar kemana-mana. Waktu itu saya berpikir, nanti sambil waktu juga bakal ketemu sendiri kenalan atau bahkan teman yang sreg dihati, jadi tidak usah terburu-buru. Karena sibuknya saya dengan berbagai hal baru, maka tidak ada kesempatan untuk kangen dengan Indonesia, tidak ada waktu untuk mengeluh ini dan itu, walaupun tetap kangen dengan keluarga di sana. Kalau ada yang bertanya,”kerasan tinggal di Belanda?” Saya mantab menjawab, “kerasan.” Entahlah, sampai saat ini saya belum pernah merasa bosan dengan keadaan di sini, kecuali sesekali bosan sarapan buah atau roti, inginnya sarapan nasi pecel *lah balik lagi ke makanan haha.

Jadi, kenapa saya nampak menikmati hidup? karena saya selalu melakukan apapun yang saya suka, tidak terlalu muluk-muluk dalam hidup, menikmati apapun yang menjadi pilihan hidup saya saat ini, berjalan berdasarkan standar hidup yang saya inginkan bukan berharap sanjungan dari orang lain ataupun melakukan sesuatu dengan harapan ingin dipuji orang. Jika ada yang memuji, saya anggap bonus. Jika tidak, ya tidak masalah. Saya tidak berhenti belajar akan banyak hal baru, berkeluh kesah hanya pada tempat dan sarana yang tepat, hidup pada saat ini dan berencana untuk masa depan bukan  berhenti pada ingatan masa lalu, menjadi diri saya sendiri dimanapun berada, punya sahabat-sahabat yang hampir 20 tahun bersama sampai saat ini, punya teman yang menyenangkan, dan yang terpenting adalah selalu bersyukur. Masalah pasti akan selalu ada, tinggal disikapi seperti apa. Mau diselesaikan atau hanya dilihat lalu ditinggal atau hanya dikoar-koarkan saja. Kita sendiri yang tahu jawabannya bagaimana menyikapi dan menikmati hidup. Ya intinya, nikmati dan jalani saja hidup dengan segala pernak perniknya. Kalau kata Ibuk, “ga usah kakehan nersulo, urip mung sepisan. Ojok keseringen ndangak, kesandung malah catu kabeh awak e”

-Nootdorp, 27 Juli 2017-

Banyak Syukur di Lebaran 2017

img_6200-1

Lebaran sudah dua minggu berlalu, tapi belum telat rasanya untuk mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri semoga kita semua dipertemukan kembali dengan Ramadan dan Idul Fitri di tahun-tahun mendatang dengan keadaan yang lebih baik, bahagia, dan sehat selalu menyertai. Bagaimana lebarannya? Semoga menyenangkan ya dengan bertebaran makanan enak dan berkumpul dengan keluarga, teman, serta orang-orang yang disayangi. Semoga lebarannya tidak langsung ternodai oleh pertanyaan-pertanyaan yang melelahkan hati.

Saya bersyukur lebaran kali ini dilewati bersama teman-teman dan keluarga di Belanda. Dua kali kumpul-kumpul dalam rangka lebaran bersama teman-teman (dan juga pasangan masing-masing serta anak-anaknya) juga dalam rangka ulang tahun suami (yang dirayakan bersama keluarga) karena jaraknya berdekatan. Kalau tahun kemarin lebarannya sendu karena tidak bisa sholat di Masjid karena kami sedang liburan ke Italia (saya tidak cukup informasi di mana pelaksanaan sholat Ied di La Spenzia), maka lebaran kali ini samgatlah ceria.

LEBARAN

Awal Ramadan, ada dua grup berbeda yang mulai mengusulkan untuk mengadakan kumpul-kumpul lebaran. Saya tentu saja senang karena jadwalnya tidak berbarengan. Jauh dari keluarga dan sesama perantau kalau lebaran memang enaknya kumpul-kumpul karena bisa menghilangkan rasa sedih karena tidak bisa berlebaran dengan keluarga di Indonesia (ini alasan saya sih, ga tau yang lainnya 😅).

Jadi setelah disepakati, pas hari lebaran acaranya diadakan di rumah kami dengan sistem potluck. Saya sih yang minta karena males masak haha. Mereka dengan senang hati membawa menu-menu lainnya sesuai kesanggupan dan setelah melalui rembugan. Jadi enak kalau begini, bisa merasakan banyak menu tanpa harus repot masak sendiri begitu banyak masakan. Maklum ya, semua harus dikerjakan sendiri ga ada rewang yang membantu jadi tenaga harus dihemat. Saya kenal dengan mereka ini dari Instagram (jaman saya masih punya) melalui uploadkompakan yang anggotanya tinggal di Eropa. Yang tinggal di Belanda sudah beberapa kali bertemu, jadi kami lumayan dekat lah.

Paginya saya sholat Ied dulu di Masjid Al-Hikmah di Den Haag. Sholat dimulai jam 9 pagi. Cuacanya bikin makin perasaan makin semriwing kangen keluarga karena mendung menuju hujan. Saya datangnya ternyata agak telat, jadinya dapat tempat di halaman Masjid. Mendengar suara takbir, membuat hati krenyes-krenyes. Kangen menyeruak dengan suasana sholat Ied di desa. Rindu sholat Ied di desa tanpa harus melihat orang-orang yang sibuk berfoto ria, selfie sana sini. Bersyukur sampai sholat selesai, hujan tidak turun meskipun terasa rintiknya. Oh ya, sewaktu saya sedang mencari tempat untuk menggelar sajadah, tiba-tiba ada yang menyapa, “mbak Deny, wah ketemu di sini.” Tentu saja saya bengong karena tidak mengenali yang menyapa. Ternyata dia salah satu pembaca blog ini dan beberapa kali kami saling berkirim email waktu dia akan pindah ke Den Haag dan bertanya beberapa hal tentang Den Haag. Cuma karena jadwal yang tidak cocok, kami tidak punya kesempatan untuk ketemu sampai dipertemukan secara tidak sengaja di Masjid. Menyenangkan akhirnya bertemu dengan yang selama ini hanya berkomunikasi lewat email.

Setelah sholat selesai, Saya bertemu satu teman di situ. Karena dia tidak ada acara, saya ajak saja ke rumah. Lumayan kan daripada dia luntang lantung (haha bahasanya). Dan saya harus cepat pulang ke rumah karena suami sedang ikut Half Marathon, jadi nanti kalau ada yang datang tidak ada yang membukakan pintu. Jam 12 siang, mereka mulai datang, berbarengan dengan suami yang juga datang. Sudah tidak sabar untuk makan, karena saya lapar haha. Saya masak sambel goreng kentang hati dan membuat lontong serta menyiapkan beberapa minuman. Sedangkan mereka membawa opor, rendang, lodeh labu siem, kerupuk, es buah, gorengan (tahu isi dan bakwan), tidak lupa sambel. Ada yang membawa kue juga untuk dimakan bersama teh dan kopi setelah makan besar. Beginilah penampakan makanannya :

Yummm!!
Yummm!!
Ini yang di piring saya
Ini yang di piring saya

 

Kami berkumpul di taman belakang rumah. Karena cuaca agak sendu, jadi makan agak khawatir juga kalau tiba-tiba turun hujan haha. Tapi itu tidak mengurangi betapa lahapnya kami menyantap hidangan lebaran di tanah rantau. Sementara pasangan masing-masing juga ikut merasakan suasana lebaran yang tercipta. Kami bercengkrama sehingga lupa sedih kalau lebaran jauh dari keluarga. Tidak hanya itu saja, kami memanfaatkan momen itu dengan berfoto sebanyak-banyaknya dengan berbagai macam gaya baik rame-rame maupun bersama pasangan masing-masing. Maklum, salah satu dari mereka adalah fotografer dan membawa kamera yang canggih pula, jadinya kami tidak menyiakan kesempatan *mumpung.

Betapa nikmatnya bisa merayakan lebaran bersama teman-teman, makan menu khas lebaran dan juga bercerita dan mengenal pasangan masing-masing. Kami tertawa terus, bercerita ini dan itu sampai tak terasa 4 jam ngobrol tiada henti. Syukur yang tak terkira.

Ini deretan yang perempuan, sementara pasangan ada di bangku sebelah. Entah kenapa ini saya kok tertawa ke sebelah sana
Ini deretan yang perempuan, sementara pasangan ada di bangku sebelah. Entah kenapa ini saya kok tertawa ke sebelah sana

 

Minggu depannya, acara kumpul lebaran diadakan di rumah salah satu teman yang biasa mengundang kami kalau ada acara. Suaminya memang sukanya bikin acara kumpul-kumpul. Yang pasti, kalau ada acara di rumahnya, makanan pasti melimpah ruah dan bisa dipastikan setelahnya kami bisa membungkus bawa pulang (ini bagian terpenting haha). Untuk acara kumpul lebaran ini, dia menawarkan kalau misalkan ada yang mau membawa makanan juga tidak apa-apa. Tidak pun tidak masalah karena makanan yang akan disediakan sudah cukup. Saya bilang akan membawa sambel goreng hati kentang pete (andalan, karena gampang masaknya).

Rujak serut, combro, dan beberapa kue tidak terfoto
Rujak serut, combro, dan beberapa kue tidak terfoto
Masih ada beberapa yang belum datang. Para pasangan berkumpul di taman belakang
Masih ada beberapa yang belum datang. Para pasangan berkumpul di taman belakang

 

Tentu saja pulangnya kami bisa bungkus makanan. Saya sudah mengincar rujak serut, combro, mie goreng, dan ote ote nya. Banyak ya mbungkusnya, lumayan bisa buat beberapa hari *niat haha. Bersyukur tidak masak beberapa hari dan senang bisa bersilaturrahmi dengan mereka yang sudah lama tidak ketemu. Saya dan suami juga dapat lungsuran beberapa barang dari yang punya hajat. Barang yang memang kami butuhkan kedepannya. Rejeki memang tidak kemana ya, lumayan sekali kami bisa menghemat.

ULANG TAHUN SUAMI

Keesokan harinya adalah hari ulang tahun suami. Karena angkanya adalah spesial, sehingga ultah kali ini dirayakan bersama seluruh keluarga. Kalau tahun kemarin dirayakan di Italia. Untuk acara kali ini, saya tidak memasak sendiri tapi pesan di Kios Kana milik Rurie (bisa dilihat di akun Instagramnya). Menunya adalah sate ayam, urap Bali, sambel bawang, Carrot cake, gado-gado, acar, dan Lumpia Semarang. Saya membuat es cendol nangka (setelah gagal sebelumnya, kali ini berhasil 😅) dan membuat lontong. Enak juga ya ternyata kalau pesan, tidak usah repot uyek di dapur. Kenapa menunya semua Indonesia sementara yang diundang adalah keluarga suami dan tetangga dimana mereka adalah orang Belanda? Karena mereka suka sekali dengan menu Indonesia terutama sate ayam, gado-gado dan es cendol. Senang seluruh keluarga bisa datang dan mereka menikmati sekali makanan yang disajikan serta bercerita tentang banyak hal.

Makanan acara ulang tahun
Makanan acara ulang tahun
Yang berulang tahun
Yang berulang tahun

 

Malam hari setelah hari ulang tahun, kami pergi menonton konser musik. Ini adalah pertama kali (dan mungkin satu-satunya) konser musik yang saya datangi tapi tidak tahu satupun lagunya haha. Lah kok bisa? Jadi waktu suami beli tiketnya, saya pikir dia beli cuma satu. Eh ternyata dia dengan sengaja memaksa saya untuk menemaninya menonton konser ini, meskipun dia tahu saya tidak tahu penyanyinya. Jadi ini adalah konsernya Brian Wilson, mungkin yang baca ini banyak yang tahu ya. Tapi saya memang tidak tahu. Jadinya sepanjang  2 jam ya saya menikmati musiknya tanpa tahu liriknya. Beruntung jenis musiknya masih bisa saya nikmati, jadi tidak terlalu garinglah buat saya (kan garing ya jadinya kalau saya tidak tahu liriknya, sementara musiknya pun tidak bisa dinikmati). Sementara suami menyanyi di sebelah.

Konser Brian Wilson
Konser Brian Wilson

 

Syukur yang tiada henti karena banyak berkah di lebaran tahun ini. Semoga suami yang bertambah bilangan usia selalu diberi kesehatan yang baik, umur yang berkah sehingga bisa terus bersama keluarga kecil kami sampai waktu yang lama, dan rejeki serta kebahagiaan yang menyertai. Semoga kami bisa menjadi lebih baik setiap waktu.

Lebaran yang menyenangkan, berkumpul bersama teman dan keluarga, banyak makanan enak, dan banyak syukur untuk rejeki-rejeki yang dititipkam pada kami.

-Nootdorp, 9 Juli 2017-


Ramadan Ketiga di Belanda

{"total_effects_actions":0,"total_draw_time":0,"layers_used":0,"effects_tried":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{"border":0,"frame":0,"mask":0,"lensflare":0,"clipart":0,"text":0,"square_fit":0,"shape_mask":0,"callout":0},"effects_applied":0,"uid":"968FF27D-5C68-4130-BB3A-EE49AE865EB9_1498074879200","width":3264,"photos_added":0,"total_effects_time":0,"tools_used":{"tilt_shift":0,"resize":0,"adjust":0,"curves":0,"motion":0,"perspective":0,"clone":0,"crop":0,"enhance":0,"selection":0,"free_crop":0,"flip_rotate":0,"shape_crop":0,"stretch":0},"source":"editor","origin":"gallery","height":2448,"subsource":"done_button","total_editor_time":137,"brushes_used":0}

Saat saya menulis ini, Ramadan sudah memasuki malam ke-27. Bersyukur masih diberikan umur yang berkah dan kesehatan yang baik untuk kembali bertemu dengan Ramadan tahun ini dan menuliskan kembali pengalaman Ramadan di tanah rantau. Ramadan yang jatuh pada musim semi tidak serta merta membuat cuaca lebih sejuk dibandingkan tahun kemarin yang jatuh pada musim panas. Sejak awal puasa, cuaca di Belanda sudah sangat panas. Meskipun beberapa kali hujan mengguyur, tetapi selebihnya kembali panas. Pada hari pertama Ramadan, saya ingat betul waktu itu saya sedang ke Roermond bersama beberapa teman dan suhu mencapai 33°C. Musim semi rasa musim panas. Selama dua minggu terakhir cuaca stabil panas bahkan seminggu ini sampai 32°C. Saya kalau sepedahan ke tempat kerja sampai harus berhenti “ngiyup” kata orang Jawa saking ga kuat kepala -pening- dan gobyos berkeringat. Durasi Ramadan tahun ini kurang lebih tidak terlalu berbeda jauh dengan tahun kemarin, rata-rata 19 jam setiap hari. Semoga yang menjalankan ibadah puasa Ramadan selalu diberikan kekuatan dan kelancaran selama sebulan ini. Hari ini adalah hari pertama resmi musim panas dan juga sebagai siang terpanjang.

Jadwal puasa Ramadan dari KBRI di Den Haag
Jadwal puasa Ramadan dari KBRI di Den Haag

Setiap bulan puasa selalu istimewa untuk saya, khususnya sejak tinggal di Belanda. Ada saja pengalaman spesial yang saya dapatkan, juga berkah dan rejeki. Tidak terkecuali Ramadan tahun ini yang juga spesial untuk kami. Kegiatan selama Ramadan sekarang masih seputar kegiatan rutin bekerja, jalan-jalan, bersih-bersih taman, bersih-bersih rumah, dan kembali produktif baca buku (mudah-mudahan nanti saya sempat membuat review beberapa buku yang sudah saya baca). Yang masih belum kembali produktif yaitu memasak. Namun karena tanggal 18 Juni kemarin adalah Father’s Day, saya bertanya ke suami dia mau hadiah apa. Trus suami menjawab, “Kalau kamu sudah mood masak, aku kangen makan soto ayam buatan kamu. Itu saja kado yang aku minta.” Duh Mas, kok yo melas men tho. Saya antara kasihan dan ingin tertawa sebenarnya mendengar jawabannya. Terakhir saya memasak soto ayam buat dia sekitar 3.5 bulan lalu kalau tidak salah. Biasanya paling tidak sebulan sekali saya masakkan karena memang soto ayam adalah makanan favoritnya (bahkan sebelum menikah dengan saya). Akhirnya saya melihat stok bumbu di freezer, lha kok ndilalah masih ada satu porsi bumbu yang tersisa. Lalu saya membuat printilan lainnya seperti sambal dan kentang goreng. Karena malas memasak nasi, saya perbanyak saja bihunnya. Setelah saya hidangkan, dia lama sekali melihat saya lalu makan perlahan soto ayam tersebut. Lha trus orang ini kok ga ada komentarnya, diam khusyuk makannya. Lalu saya tanya, gimana apa enak soalnya saya tidak mencicipi. Dia bilang terharu sekali rasanya akhirnya bisa makan soto ayam setelah berbulan-bulan libur. Jadinya dia makan penuh perasaan. Owalaahhh saya ngikik haha.

Oh ya, di awal saya sempat cerita tentang pergi ke Roermond. Jadi Roermond ini kota di selatan Belanda yang terkenal dengan outlet brand-brand terkenal gitu (katanya ya) dengan harga agak miring dan terkenal diantara orang-orang Indonesia yang tinggal di sini ataupun mereka yang datang ke Belanda dengan tujuan berlibur dan berbelanja. Nah, beberapa kali teman saya mengajak ke sana, tetapi karena saya tidak suka berbelanja barang-barang kalau sedang tidak butuh, maka ajakan mereka selalu saya tolak. Pertengahan Mei, saya ingat kalau punya tiket kereta yang saya beli saat ada penawaran khusus dan bisa dipakai keliling Belanda satu hari penuh selama akhir pekan. Dan tiket ini akan hangus akhir bulan Mei. Wah, sayang, pikir saya kalau tidak digunakan. Saya lalu menghubungi salah satu teman jalan dan bertanya apakah ada rencana jalan bulan Mei ini. Dia lalu mengusulkan ke Roermond (kembali). Saya pikir daripada tiket hangus tidak dipakai, mending dipakai. Akhirnya saya setuju yang penting ketemu teman-teman dan makan-makan di rumah salah satu teman saya setelah jalan-jalan. Jadi agenda makan-makan lebih penting untuk saya haha. Saya sudah membayangkan kalau di Roermond nanti pasti penuh sesak dan akan bertemu dengan banyak orang Indonesia. Ternyata setelah memutari keseluruhan lokasi Outlet Roermond, tidak terlalu ramai dan tidak banyak saya jumpai orang Indonesia. Di salah satu outlet, ketika saya sedang melihat-lihat (dan berencana membeli), tiba-tiba ada yang menyapa saya, “Mbak Deny ya?” Lho, saya kan jadi kaget kok mak bedundug ada yang menyapa. Dia lalu memperkenalkan diri dan memberi tahu kalau dia adalah pembaca blog kami. Jadi ketika dia melihat saya, dia menebak kalau itu adalah saya. Ada gunanya juga memajang foto di blog haha. Hai Sari, kalau kamu membaca tulisan ini, maaf waktu itu tidak sempat pamitan. Terima kasih sudah menyapa saya. Semoga lancar kuliah kamu. Selain jalan-jalan ke Roermond, pada tulisan sebelumnya saya bercerita tentang liburan kami ke beberapa kota. Selebihnya pada akhir pekan kami habiskan ngadem  di rumah dan jalan-jalan ke danau atau hutan didekat rumah. Rencana untuk ke pantai sejauh ini masih sebatas rencana karena saya masih tidak kuat kalau panas cetar begini harus ke pantai. Kalau cuaca bagus seperti ini, di danau dekat rumah pun penuh dengan orang yang sedang berjemur atau berenang atau BBQ an. Jadinya ya di mana-mana intinya ramai karena semua orang keluar rumah menikmati sinar matahari.

Danau dekat rumah ketika sedang sepi
Danau dekat rumah ketika sedang sepi

Kalau sudah mendekati lebaran begini, ada perasaan sedih yang menyelinap. Tidak bisa dipungkiri kalau saya sangat rindu merasakan suasana lebaran terutama di desa kelahiran saya. Suasana malam takbir, suasana setelah sholat Ied, suasana saling silaturrahmi dan kumpul keluarga, dan yang paling ditunggu adalah momen makan-makan dengan masakan khas keluarga seperti jangan laos, pecel pitik, lodho, jangan lodeh tempe tahu yang super pedes, dan kue kue lebaran khas keluarga di desa. Rindu semuanya. Semoga diberikan umur yang berkah dan kesehatan yang baik untuk kami sekeluarga bisa berlebaran di Indonesia dan marasakan syahdunya berlebaran bersama seluruh keluarga di sana.

Untuk yang sedang bersiap mudik ataupun sudah dalam perjalanan, semoga diberikan kelancaran dan selamat berkumpul bersama seluruh keluarga di hari lebaran. Semoga kita semua dipertemukan kembali dengan Ramadan dan Lebaran tahun-tahun selanjutnya dalam keadaan yang lebih baik. Bagi yang tidak bisa kumpul keluarga saat lebaran nanti karena beberapa hal misalkan jauh dari tanah air seperti saya, tetap Semangat!!

-Nootdorp, 21 Juni 2017-

Semua Ada Saatnya

Disuatu waktu -mungkin setahun lalu- seorang kenalan yang sudah lama tidak saling berkirim kabar dengan saya mengirimkan pesan dan bertanya tentang beberapa hal lalu terjadilah pembicaraan diantara kami melalui aplikasi kirim pesan. Kemudian saya pikir pembicaraan kami sudah berakhir. Ternyata saya salah. Dia melanjutkan dengan pertanyaan, “Bagaimana, apakah ada rencana program anak?” Mengingat hubungan kami yang hanya sebatas kenalan dan lama tidak saling bertukar sapa, saya tentu saja kaget dengan pertanyaan seperti itu. Saya lalu bertanya kembali, “kenapa?” Saya lupa dengan jawaban dia. Karena saya sedang “bolong atine” -kata orang Jawa- maka saya jawablah pertanyaan dia, “Saya dan suami santai untuk masalah anak, karena punya anak sama halnya dengan pernikahan : adalah pilihan bukan kewajiban. Semua ada saatnya, kami tidak pernah memaksakan apa yang sudah jadi ketetapanNya.” Dia lalu tidak membahas lagi dan harapan saya dia cukup teredukasi dengan jawaban saya seperti itu. Beberapa bulan kemudian -sialnya- saya bertemu dia lagi dalam sebuah kesempatan. Setelah berbasa basi yang tidak penting, dia melontarkan pertanyaan yang sama mengenai anak dan apakah kami mengikuti program untuk memiliki anak. Saya agak lama lumayan mengernyitkan dahi sebelum merespon pertanyaan dia. Kalau mengingat kembali bagaimana dia dulu sangat sensitif kalau ada yang bertanya anak dan setelah punya anak kenapa dia jadi ringan mulut bertanya perihal anak kepada orang-orang yang belum atau memilih tidak punya anak, apakah dia tidak ingat bagaimana dia dulu sampai menarik diri dari media sosial hanya karena tidak sanggup melihat teman-temannya yang selalu memposting foto-foto anak mereka. Karena saya tidak cukup cepat memberikan respon, dengan tidak sopannya dia bertanya kepada suami yang memang sedang ada di sebelah saya. Jawaban suami saya cukup menampar -untuk ukuran orang waras ya- “Kami sangat menikmati waktu bersama, ada atau tidak ada anak. Saya yakin semua sudah ada saatnya kapan waktu yang tepat kami memiliki anak jika memang kami ingin punya anak. Keberadaan anak bukan jadi tolok ukur kebahagiaan kami. Belum ada anak, hidup harus terus berjalan kan dan tidak perlu pusing memikirkannya apalagi sampai stress sendiri. Apapun yang jadi keputusan kami, orang lain yang tidak punya hubungan dekat dengan kami tidak perlu tahu. Hidup dan rencana kami cukup keluarga dan mereka yang sangat dekat dengan kami yang layak tahu. Diluar itu, tidak ada kewajiban bagi kami untuk memberitahu.” Kenalan saya lalu terdiam, kicep tak bersuara. Saya senyum-senyum mendengar suami saya ngomong panjang lebar sambil dalam hati ngomong “kapokmu kapan!”

Yang akan saya garis bawahi dari sekilas cerita di atas adalah bukan perkara kelancangan kenalan bertanya tentang hal-hal pribadi yang memang tidak patut ditanyakan ataupun perkara tentang anak. Semua ada saatnya, itulah yang ingin saya kemukakan pada tulisan kali ini. Dulu saat darah muda masih bergejolak, kalau sedang terjatuh dan gagal lalu ada yang memberi nasehat, “sabar, mungkin memang belum saatnya,” pasti deh saya langsung bersungut-sungut. Rasanya kesal sekali dengan setiap orang yang memberi nasehat seperti itu. Saat putus dengan pacar yang nampaknya sudah didepan mata akan jadi jodoh seumur hidup tenyata njekethek cuma numpang lewat kisah asmara aja lalu saya menangis dan ngelangut selama seminggu (saya kalau putus cinta selalu memberi batasan pada diri sendiri sedih maksimal seminggu. Lewat dari seminggu, hidup harus berjalan lagi tanpa harus menengok kisah kasih yang tak sampai). Saat lagi sedih-sedihnya pasti akan ada yang kasih nasehat, “tidak usah terlalu dipikirkan, mungkin memang belum jodohnya, belum saatnya,” dan saya selalu kesal dengan nasehat seperti itu. Masih banyak contoh-contoh lainnya waktu saya masih dalam pencarian jati diri dulu.

Seiring bertambahnya umur dan bertambahnya pengalaman hidup yang asem manis pahit pedes maupun seger, saya yang sampai saat ini percaya dengan campur tangan dan keberadaan Tuhan dalam setiap sendi kehidupan saya, semakin mengerti  konsep Semua ada saatnyaDulu saya belum tahu dan tidak terlalu paham tentang hal tersebut. Maklum, dulu hanya mengedepankan logika tanpa pemahaman. Saya belum tahu bahwa tidak semua harus sesuai keinginan dan kehendak saya. Ada hal yang sudah saya perjuangkan sedemikian hingga tapi ternyata hasilnya diluar kuasa, gagal, mungkin memang belum saatnya untuk berhasil atau akan diganti dengan yang lebih baik. Pada waktu itu konsep berserah masih belum saya genggam dengan kuat dan sampai kapanpun akan menjadi pembelajaran yang tanpa henti selama nafas masih ada. Berserah dan ikhlas. Semua memang ada saatnya.

Ada saatnya melepaskan jika memang sudah bukan waktunya jadi milik kita lagi. Hal ini saya rasakan saat Bapak meninggal. Meskipun butuh waktu untuk ikhlas, tapi kalau sudah kembali berpikir bahwa memang sudah saatnya Bapak berpulang ke penciptaNya, saya bisa apa.

Ada saatnya terjatuh lalu butuh perjuangan untuk bangkit, ya memang mungkin caranya seperti itu. Yang saya selalu ingat adalah selama saya sudah mengerahkan kemampuan untuk berjuang lalu berdoa dan berserah tentang hasil (berserah ya bukan pasrah), hasil akan mengikuti usaha yang telah saya perjuangkan. Bisa jadi sesuai yang diinginkan, diberikan yang lain yang lebih baik atau justru tidak diberikan apapun dengan kemungkinan bahwa memang itu yang terbaik untuk saya.

Ada saatnya perkara-perkara dalam hidup memang harus diperjuangkan sekuat tenaga, pikiran, hati dan iman. Tetapi diluar itu, yang selalu saya imani adalah ada kekuatan yang memang tidak bisa saya lawan karena hal-hal seperti rejeki, maut, dan jodoh memang sudah ditentukan.

Ada saatnya sedih, ada saatnya gembira. Ada saatnya senyum, ada saatnya marah. Ada saatnya bekerja, ada saatnya berlibur.

Semua ada saatnya.

Jika memang saat itu belum tiba, nikmati saja waktu yang ada. Lakukan hal-hal membuat hati senang karena waktu tidak bisa diputar kembali. Untuk apa menghabiskan detik tanpa hal yang berarti sibuk merutuki diri sendiri ataupun keadaan. Lebih baik melakukan banyak hal yang bermanfaat dan sibuk memantaskan diri.

Dan jika suatu hari saat itu tiba, apapun itu, berarti saya dirasa sudah mampu untuk menjaga hal tersebut dan masuk dalam ketetapanNya. Saya selalu yakin bahwa semua akan datang pada saat yang tepat, tidak datang terlalu cepat maupun datang terlambat. Pas pada waktu yang telah ditentukanNya.

Saya selalu menempatkan diri saya seperti ini : Jika ada sesuatu yang tidak saya ketahui dari orang lain lalu dikemudian hari saya tahu tapi sudah lewat masanya, ya berarti saya tidak cukup layak untuk mendapatkan berita tersebut langsung dari si empunya pada saatnya. Begitupun sebaliknya karena tidak semua hal akan saya bagikan kepada semua orang seperti yang pernah saya tulis pada postingan ini.

Ada saatnya kita tidak harus tahu semua hal yang terjadi dari semua orang. Ada saatnya kita tidak selalu menjadi garda terdepan yang harus selalu tahu.

Bagi yang sedang memperjuangkan apapun itu, tetap semangat untuk berjuang dan berdoa serta jangan lupa untuk bahagia. Karena hidup di dunia hanya sekali, yuk pergunakan waktu sebaiknya dengan hal-hal bermanfaat. Tidak perlu terlalu resah memikirkan apa yang diluar kuasa kita.  Tidak perlu pusing dengan pertanyaan yang tak penting. Kita hidup sesuai dengan apa yang kita inginkan, apa yang membuat kita bahagia dari dalam diri, bukan untuk memenuhi standar hidup orang lain ataupun untuk menjawab pertanyaan orang lain. 

Bagi yang sudah mendapatkan apa yang sudah diperjuangkan, selamat dan jangan lupa bersyukur serta tidak menjadikan hal tersebut kita tinggi hati dan lupa diri. Tetaplah berjuang untuk hal-hal selanjutnya. Karena konon, hidup selalu penuh perjuangan.

Semua selalu ada saatnya, apapun itu.

-Nootdorp, 11 juni 2017-

Where is the Love?

Saya tidak pernah sepemikir ini mikir tentang apa yang terjadi di dunia, akhir-akhir ini khususnya. Entah kenapa nyesek sekali sampai-sampai sulit membendung air mata. Biasanya juga saya mikir, tapi tidak sampai se-mikir sekarang. Apa yang terjadi beruntun membuat pertanyaan sederhana muncul di benak saya, “Di mana cinta saat ini berada?” Kebencian seperti merajalela, mengalahkan cinta yang sejatinya ada dalam setiap manusia. Politik, agama, kekuasaan seakan menjadi kendaraan untuk menebar jala-jala amarah yang semakin membara. Tentu saja selalu ada korban yang jatuh, mereka yang tidak mengerti apa-apa, nyawa melayang, ketakutan, kelaparan, kemiskinan, kebingungan harus pergi ke mana mencari tempat untuk berlindung.

Saya rindu pertemanan yang penuh cinta, tanpa harus menuding ini atau itu kafir ataupun beraliran A atau B hanya karena cara pandang yang berbeda, seolah-olah yang paling benar dan yang berbeda dianggap salah dan layak untuk disalahkan. Hey, jika Tuhan mau, bisa saja Dia menciptakan hanya satu agama ataupun tidak beragama semua. Tetapi tidak seperti itu, karenanya Dia menciptakan perbedaan. Saya rindu pertemanan yang jauh dari prasangka dan kemudian hari tidak porak poranda karena pilihan politik ataupun pendapat yang berbeda. Kenapa tidak berpikir sederhana bahwa berbeda itu indah.

Saya rindu suasana menjelang Ramadan di mana anak-anak kecil berarak keliling desa membawa oncor dan kentongan sepulang Taraweh malam pertama. Mereka menyerukan kegembiraan dan tidak sabar menunaikan puasa Ramadan. Kecintaan mereka akan hadirnya bulan Ramadan. Bukan anak-anak kecil yang dikekang cara berpikirnya dengan ajaran kebencian penuh doktrin, berarak bukan untuk menebarkan kegembiraan tetapi meneriakkan kalimat-kalimat penuh amarah yang saya yakin mereka sendiri tidak paham apa arti sebenarnya saat mereka bersuara “bunuh bunuh!.” Betapa sedihnya saya membayangkan bagaimana hidup anak-anak itu nanti kedepannya jika saat ini saja lingkungan mereka mengajarkan kedengkian.

Saya sedih melihat Negara saya menjadi seperti ini. Jangan bilang bahwa saya hanya mengikuti apa yang terjadi di Indonesia hanya lewat TV, media sosial ataupun radio. Saya masih punya banyak keluarga dan teman-teman baik di Indonesia, baik yang tinggal di kota besar maupun di desa. Saya mendapat cerita dari mereka, dari cerita paling baik sampai yang paling buruk. Sungguh, saya sedih sampai tidak tahu harus menulis apa pada bagian ini. Kemarahan, hujatan seakan menjadi hal yang lumrah saat ini. Apakah bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang ramah sekarang hanyalah mitos belaka? Apa yang sebenarnya ingin diperjuangkan atau dibela? Tuhan? Yakin bahwa ingin membela Tuhan, bukan hanya ingin memperjuangkan kepentingan golongan atau ego semata lalu agama yang dibawa-bawa? Tuhan itu Maha apapun dari segala ciptaanNya.

Saya rindu Masjid, Surau, Musholla menjadi tempat beribadah dan menimba ilmu, bukan sebagai tempat dakwah dengan materi yang disampaikan penuh rasa amarah. Berteriak dan bersuara kencang menjelekkan mereka yang berbeda keyakinan. Tidakkah mereka lelah menebarkan kebencian? Jika ingin menyebarkan ajaran kebaikan, lakukanlah dengan cara yang santun dan baik pula dan penuh cinta. Jika ada yang ingin mengatakan bahwa ini hanya propaganda media saja, saya dengan sangat yakin mengatakan bahwa saya mengalami ini saat masih mengais rejeki di Ibukota dan ternyata masih berlangsung sampai saat ini, tidak hanya di Ibukota saja

Saya rindu dunia yang damai, yang penuh rasa cinta terhadap sesama meskipun banyak perbedaan yang ada.

Namun saya selalu optimis bahwa masih banyak orang baik di dunia ini, yang tidak pernah mempermasalahkan dan mempertanyakan agama kamu apa, suku kamu apa, asal kamu dari mana, atau apapun itu. Masih banyak orang yang punya rasa cinta dalam hati mereka yang akan selalu menebarkan kebaikan tanpa pandang bulu dan tanpa pamrih. Masih banyak orang jujur meskipun jalan mereka terjal berliku untuk menegakkan kejujuran. Masih banyak keluarga yang merangkul anak-anak mereka penuh cinta dan mengajarkan bahwa perbedaan itu sangatlah indah. Masih banyak hal-hal optimis yang saya simpan dalam hati dan pikiran tentang kebaikan di dunia ini. Jika harapan saya akan dunia ataupun Indonesia terlihat dan terdengar sangat muluk, maka saya akan melakukan apa yang saya bisa saat ini. Mulai dari keluarga kecil saya, kami membangun dari banyak sekali perbedaan. Tapi karena semua berawal dari cinta dan kasih sayang, semoga kedepannya kami selalu bisa menularkan cinta dan sayang yang kami punya pada lingkungan terdekat, pada orang-orang yang kami sayangi. Semoga cinta dan sayang itu akan menular. Saya selalu meyakini dan tetap meyakini bahwa kebencian akan selalu kalah dengan rasa cinta dan kasih sayang.

Jadi, di manakah rasa cinta itu? Saya yakin, akan selalu ada dalam setiap manusia.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan bagi yang menjalankan.

Saya senang mendengarkan lagunya Kyai Kanjeng yang judulnya Rampak Osing. Kalau ada yang tahu bahasa Jawa, lagu ini artinya sangatlah dalam.

Arep golek opo arep golek opo kok uber uberan. Bondo kuwoso ra digowo mati

Menikah Muda

Hari ini saya mendapatkan kabar kalau salah satu dari teman SD dikaruniai cucu pertama. Ini bukan kali pertama saya mengetahui teman SD saya yang sudah punya cucu. Bukan hanya cucu pertama tetapi cucu ke sekian. Kali pertama saya tahu ada satu teman SD yang punya cucu itu saat saya sekitar umur 30. Waktu itu secara tidak sengaja saya bertemu dengan dia saat saya liburan ke rumah orangtua dan kami sama-sama membeli rujak. Dia menggendong bayi, yang awalnya saya pikir anaknya. Ini pertemuan pertama setelah lulus SD, tapi kami masih sama-sama mengingat wajah satu sama lain karena memang tidak terlalu banyak berubah. Setelah kami saling bertegur sapa, saya bertanya usia berapa bulan anaknya. Dia lalu memberikan jawaban yang mengejutkan saya kalau bayi dalam gendongannya itu adalah cucunya.

Dia lalu bertanya balik ke saya, berapa umur anak saya. Dia bahkan tidak bertanya apakah saya sudah menikah pada saat itu. Saya jawab kalau saya belum menikah. Ternyata jawaban saya membuat dia terkejut. Jadi kami akhirnya sama-sama terkejut dengan jawaban yang diterima haha. Dia kaget kok usia 30 tahun belum menikah. Kalau orang lain yang bertanya, mungkin saya akan gusar dengan pertanyaan itu. Namun karena dia yang bertanya dan saya tahu persis bagaimana lingkungan dia tinggal dan lingkungan saya dibesarkan, saya menjawab dengan santai. Saya bilang kalau saya masih menikmati pekerjaan saya dan masih belum ada calon pada saat itu. Saya kemudian mengajak dia untuk mampir ke rumah lalu melanjutkan perbincangan sambil makan rujak yang kami beli.

Saat menulis ini, saya jadi mengingat kembali hidup berbelas tahun lalu. Rasanya saya memang dari dulu tidak punya keinginan untuk menikah muda. Ukuran menikah muda buat ukuran saya adalah dibawah 25 tahun (jadi subjektif sekali). Saya dulu punya keinginan dan tujuan yang saya tuliskan di diary yang ada kuncinya. Diary itu masih ada sampai sekarang dan kalau saya pulang ke rumah orang tua pasti saya baca-baca lagi. Saya lumayan rajin menulis diary, bahkan sampai saat ini. Ada satu Diary saat saya SMA yang bertuliskan keinginan saya 10 tahun kedepan. Saya ingat diantaranya saya menuliskan ingin kuliah di ITS, bekerja di perusahaan asing di Jakarta, kuliah S2, tinggal di LN, jalan-jalan keliling Indonesia dan LN. Tidak ada satu poin yang menyebutkan bahwa dalam 10 tahun kedepan akan menikah. Kalau ditanya orang, saya selalu mantab menjawab saya akan menikah minimal usia 30 tahun. Ucapan adalah doa ya, akhirnya terkabul nikah di usia 33, dimana untuk ukuran orang Indonesia, terutama lingkungan saya dibesarkan, adalah usia telat kawin. Diluar jodoh adalah urusan Tuhan, menikah pada usia tersebut karena memang pilihan saya.

Sebelum bertemu dan dipertemukan dengan jodoh apakah saya pernah merasa cemas, “kok rasa-rasanya susah sekali ya yang namanya ketemu jodoh.” Tidak dipungkiri, iya. Perasaan tersebut menyelinap saat saya membangun hubungan dan ternyata kandas. Saya berpikir, gila ini yang namanya jodoh misteri sekali ya. Yang nampaknya semua baik-baik saja dan tinggal satu langkah, eh malah buyar tengah jalan. Yang sudah sangat serius dan berpikir matang tentang masa depan, eh ga bisa lanjut karena beda agama. Ada di satu masa saya pernah berpikir, enak ya yang menikah karena dijodohkan. Tidak usah merasakan kegagalan seperti saya. Eitss tunggu dulu. Ada dasarnya saya berpikir seperti ini. Nanti akan saya tuliskan. Namun gagal dalam hubungan percintaan tidak membuat saya ngelangut dan menyalahkan  keadaan. Saya malah mempergunakan waktu kesendirian dengan semaksimal mungkin. Bekerja sesuai target yang saya tetapkan, jalan-jalan sepuas mungkin, sekolah lagi, menggapai apa yang ingin saya gapai. Intinya mempergunakan waktu sebaik mungkin dengan melakukan kegiatan yang bermanfaat.

Kembali lagi ke cerita teman SD saya. Di lingkungan saya dibesarkan, menikah usia dini saat itu (pada era saya SMP sampai SMA) sangatlah lumrah dilakukan. Kenapa saya tuliskan saat itu, karena saat saya kuliah sudah tidak terlalu mengikuti perkembangan lagi. Beberapa teman SD saya begitu lulus SD langsung dinikahkan oleh orangtuanya. Pernikahan ini terjadi karena adanya perjodohan. Bahkan seringnya mereka dijodohkan saat masih dalam kandungan. Tradisi perjodohan ini terjadi bukan hanya antara orangtua yang berteman dekat, atau antara tetangga, tetapi juga antara saudara jauh. Saya tidak tahu sebenarnya ini tradisi atau budaya atau apa yang tepat penyebutannya. Tetapi perjodohan ini dilakukan dalam satu suku. Mereka tidak ada pilihan untuk menolak karena apa yang sudah ditetapkan oleh orangtua ya harus dijalankan. Tidak ada dalam kamus mereka saat itu menikah dini karena menghindari zina atau apalah itu. Tidak ada dalam pikiran mereka menikah dini karena ingin menggapai surga. Yang ada ya karena jalan hidup mereka sudah diatur oleh orangtuanya.  Saat saya pusing memikirkan harus juara kelas saat SMP, mereka sudah melahirkan anak pertama.

Saya pernah bertanya ke tetangga saya yang menikah saat lulus SD juga, apakah dia paham saat menikah apa sebenarnya arti menikah itu sendiri. Oh ya, kebanyakan yang menikah saat usia SD ini adalah pihak perempuannya dan lelakinya terpaut usia tidak terlalu jauh. Usia lulus SMP atau usia SMA. Mungkin ada yang bertanya, mau makan apa mereka di usia itu sudah menikah atau bekerja apa suaminya. Di masyarakat tersebut, menikah cepat lebih membanggakan dibandingkan punya pekerjaan yang bagus. Pendidikan tinggi tidak perlu buat mereka asal keluarga bisa kumpul. Jadi tidak ada ceritanya bagi mereka sampai mengirimkan anaknya sekolah ke luar kota. Mereka lebih memilih untuk selalu berkumpul utuh bersama seluruh keluarga daripada harus mengirimkan anaknya sekolah sampai tinggi. Para orangtua lebih memilih menanggung biaya hidup anak-anak mereka yang menikah karena hasil perjodohan dan tidak melanjutkan sekolah daripada anak-anak mereka menikah telat tapi punya pekerjaan yang bagus. Mereka dalam tulisan ini merujuk pada sebagian besar masyarakat di kota saya dibesarkan. Tentunya tidak semua seperti itu, tapi yang saya tahu sebagian besar pada saat itu berlaku hal yang seperti sudah saya sebutkan di atas.

Buat teman-teman saya itu, mereka sudah tidak berpikir lagi tentang bahagia atau tidak bahagia dalam pernikahan usia dini. Mereka tidak ada pilihan untuk menolak. Mereka tidak ada pilihan untuk menentukan masa depan mereka. Mereka tidak ada pilihan untuk menikmati kehidupan seperti teman-teman lainnya yang masih sibuk belajar dan bermain. Tetapi diantara mereka bilang pada saya bahwa mereka menikmati hidup seperti itu. Maksudnya hidup dengan suami pilihan orangtua dan hidup bahagia berkecukupan versi mereka, yaitu selalu bahagia bisa berkumpul dengan keluarga.

Kalau ditilik lagi, dulu kadang-kadang saya berpikir pilihan hidup yang saya inginkan dan tuliskan di Diary nampak sangat tinggi dan rumit. Ingin ini dan itu yang butuh usaha agak ruwet dalam mewujudkannya. Dan kalau ingat teman-teman SD, sepertinya tujuan hidup mereka sederhana. Tapi saya lupa, bahwa hidup itu selalu sawang sinawang. Apa yang saya pikirkan sederhana tentang hidup mereka, belum tentu juga pada kenyataannya sederhana. Seperti saat saya berpikir lebih enak dijodohkan, saat saya mengalami kegagalan dalam urusan percintaan, pada kenyataannya memang perjodohan yang dilalui mereka tidak sederhana. Saya tidak tahu isi hati mereka. Belum tentu juga saat saya dijodohkan trus saya menerima dengan lapang dada. Bisa jadi malah saya memberontak. Dan mungkin juga mereka pernah berpikir sesuatu tentang hidup saya yang nampaknya baik-baik saja, tetapi sesungguhnya banyak hal berliku yang terjadi.

Buat saya, menikah itu adalah pilihan bukan kewajiban bukan pula untuk memenuhi tuntutan lingkungan. Menikah buat saya adalah saat saya sudah merasa siap dan mengisi waktu sebelum bertemu jodoh dengan semaksimal mungkin untuk meraih segala cita dan impian. Tetapi untuk masyarakat tertentu, menikah itu adalah kewajiban jadi harus ditunaikan dengan cara tidak memandang usia. Dari hasil perbincangan dengan teman saya pada saat itu, saya bersyukur dilahirkan tidak satu suku dengan dia meskipun tinggal dan besar dilingkungan mereka jadi saya tidak perlu merasakan yang namanya perjodohan dan harus menikah usia muda bahkan usia dini. Sedangkan teman saya beranggapan bahwa dia bersyukur dijodohkan karena dia hidup berbahagia dengan pilihan orangtuanya dan bisa berkumpul terus dengan keluarganya tanpa harus hidup saling berjauhan satu sama lain dengan anggota keluarga yang lain.

Versi bahagia setiap orang memang berbeda dan mudah-mudahan apapun yang telah diputuskan saat akan melangkah lebih jauh tidak mengurangi rasa syukur tanpa harus selalu melihat ke atas dan membuat silau sesaat.

-Nootdorp, 17 Mei 2017-

Cerita Kumpul Teman

img_5448-1

Enak juga ya 1.5 bulan tidak menulis blog, BW juga sesempatnya, rasanya luar biasa 😁 Sebenarnya banyak yang ingin ditulis, mudah-mudahan lain waktu bisa menuliskan cerita yang selama ini tertunda. Sekarang saya mau bercerita keseruan yang baru saja terjadi. Lumayan ditulis di sini jadi kapan-kapan kalau baca lagi bisa senyum-senyum sendiri.

Sebulan lalu, kami mengirimkan undangan ke beberapa teman saya untuk datang ke rumah karena saya dan suami akan menyelenggarakan sebuah acara. Kalau di sini memang untuk mengundang harus jauh-jauh hari dan konfirmasi bisa atau tidaknya maksimal 7 hari sebelum acara. Enak sih kalau begini, jadi bisa tahu berapa orang yang datang sehingga bisa mempersiapkan khususnya berapa banyak makanan yg harus disediakan si pengundang. Saya bersyukur dari sekian yang kami undang, hanya satu yang tidak bisa datang. Ini memang undangan khusus untuk teman-teman saya dan hampir semuanya bersuamikan orang Belanda. Jadi yang akan datang separuh dari Indonesia dan separuh Belanda. Ada juga yang membawa anak-anak. Jadi saya harus memikirkan menu yang cocok untuk lidah orang Indonesia (sebagian besar teman-teman saya yang datang asalnya dari Jawa Timur), lidah orang Belanda juga bisa dinikmati untuk anak-anak. Saya menyusun menu, berdiskusi dengan suami, lalu menyiapkan menu plan B. Kenapa harus dipersiapkan menu plan B? Ya jaga-jaga kalau ditengah jalan saya tiba-tiba males masak haha saya ini memang masaknya berdasarkan mood. Makanya harus ada rencana cadangan.

Seminggu sebelum acara, badan saya terasa tidak nyaman. Saya sudah pesimis apakah bisa memasak sendiri nantinya. Lalu suami bilang, “gampang kalau kamu ga kuat masak, kita pesan saja katering.” Saya lumayan tenang sih begitu suami ada jalan keluar seperti itu. Tapi idealisme saya keluar, harusnya saya bisa masak sendiri karena saya sudah niat akan menjamu teman-teman yang datang. Saya berharap badan saya lebih enakan menjelang hari H sehingga bisa masak. Hari Rabu saya pergi ke pasar. Ini pergi ke pasar pertama kali sejak 2 bulan lalu. Beberapa langganan menanyakan kemana saja saya kok lama ga terlihat ke pasar. Wah, terharu jadinya sampai diingat sama mereka. Saya sampai dikasih bonus belimbing wuluh waktu beli cabe rawit. Trus pas beli ikan, biasanya kalau saya belinya sedikit oleh penjualnya tidak ditawari untuk sekalian dibersihkan. Tapi kemarin itu tanpa bilang, ikannya langsung dibersihkan padahal saya beli tidak banyak. Berkah lama tidak ke pasar 😁

Singkat cerita, saya masaknya mencicil tiap hari, sekuat badan saya saja. Karena sudah ada plan B, jadi saya tidak ngoyo. Kalau capek ya tiduran, selonjoran atau jalan kaki ke danau dekat rumah. Kalau sudah kuat ya masak lagi. Karena masaknya dicicil, akhirnya tidak terasa pas hari Sabtu sewaktu acara berlangsung masakan sudah siap. Tinggal yang belum siap saja yang harus dimasak. Meskipun kompor 4 nyala semua dan harus konsentrasi tinggi jangan sampai ada yang gosong, sebelum jam 12 siang masakan sudah siap semua. Acara mulai jam 14.30. Jadi Sabtu pagi hari saya mulai dengan menusuk daging ayam yang sudah saya potong seukuran sate dan saya rendam dengan bumbu malam sebelumnya lalu taruh di kulkas. Paginya tinggal tusuk lalu saya sambi dengan membakar. Setelah sekitar 70 tusuk sate selesai, saya lanjutkan dengan mengisi lumpia disambi dengan bolak balik mengecek bakaran sate. Setelah mengisi lumpia selesai, saya menyalakan kompor sebelah panggangan sate untuk menggoreng lumpia, tahu tempe dan hati rempelo. Lalu kompor depannya menyala juga untuk membuat kuah bakso dan kompor sebelahnya menyala juga untuk merebus mie dan bihun untuk bakso juga merebus sayuran untuk urap-urap. Jadi 4 kompor nyala semua, makanya butuh konsentrasi tinggi biar salah satunya ga ada yang gosong. 

Malam sebelumnya saya membuat cendol, tapi ternyata gagal. Akhirnya membuat cendol nangka harus dicoret dari menu. Niat membuat brownies juga terpaksa diurungkan karena badan saya sudah tidak sanggup. Suami tugasnya membersihkan seisi rumah dari menyapu sampai mengepel, menata kursi, menyiapkan meja, membersihkan taman depan belakang, menyiapkan kursi-kursi dan meja di taman belakang karena cuaca cerah (tapi dingin semriwing) jadi nanti yang datang bisa makan dan bercengkerama di taman belakang. 

Jadi ini menu yang saya masak untuk acara Sabtu kemarin : Bakso isinya bakso daging, bakso ikan, bakso tahu goreng dan tahu putih dan balungan. Baksonya saya buat sendiri kecuali yang bakso ikan. Saya tempatkan baksonya di panci seperti abang bakso di Indonesia. Saya beli di orang Indonesia yang jualan di sini. Sebenarnya ada sarangannya di atasnya, ya seperti dandang bakso di gerobak itu. Tapi saya malas menata isi baksonya di sarangan, akhirnya sarangannya saya lepas haha. Beberapa teman saya kaget saya punya dandang bakso, dipikir saya mau buka katering bakso. Ya siapa tahu 😁 Menu bakso ini saya lengkapi dengan pendampingnya seperti bihun, mie, lontong, sawi, jeruk nipis, kecap, saus, dan saus sambel. Maunya saya bikin pangsit juga tapi ku tak sanggup buatnya.

Menu Bakso
Menu Bakso

Menu selanjutnya lumpia isi wortel, rebung dan tahu. Saya buat ala lumpia Semarang. Tidak sempat saya foto lumpianya. Lalu saya buat pepes ikan lengkap dengan belimbing wuluh dan kemangi plus daun pisang. Ini juga lupa saya foto. Saya buat sepuluh bungkus, satu bungkusnya isi dua ikan. Sengaja masak banyak supaya bisa dibawa pulang teman-teman. Lalu saya buat sate ayam, bebek goreng ala Surabaya, urap urap, gorengan tahu tempe hati dan rempelo, sambel teri, nasi, lontong, acar, buat bawang goreng, sambel bakso dan sambel bebek.

Sate dan beberapa pendamping bakso
Sate dan beberapa pendamping bakso
Gorengan tahu tempe hati rempelo, beberapa sambel, bumbu sate, bebek dan urap, tak lupa kerupuk
Gorengan tahu tempe hati rempelo, beberapa sambel, bumbu sate, bebek dan urap, tak lupa kerupuk
 

Lalu suami menyiapkan minuman semacam infused water ditaruh Jar. Ini lupa saya foto juga. Jarnya seperti foto di bawah diisi air lalu potongan Strawberry, lemon dan daun mint lalu diisi es batu. Enak juga rasanya dan segar. Selain itu juga ada minuman lainnya, tidak ketinggalan teh kotak (ini primadonanya).


Begitu teman-teman saya beserta suaminya datang (ada beberapa yang suaminya tidak bisa datang karena bekerja), wah suasana langsung riuh. Maklum saja ya kalau orang Jawa Timur ngumpul (teman-teman saya ini kebanyakan dari Surabaya), biasanya langsung rame, yang ada tertawa tanpa berhenti saling berebut ngobrol satu sama lain. Sementara para suami ngumpul sendiri tapi lama lama juga antara kami bisa saling ngumpul satu sama lain. Badan nyaris rontok karena beberapa hari mencicil memasak, rasanya hilang begitu mereka makan dan berkali-kali nambah bahkan teman-teman saya makan tanpa sendok langsung muluk. Karena cuaca cerah, mereka makan di taman belakang di meja dan kursi-kursi yang sudah ditata. Orang-orang Belanda juga suka dengan masakan yang saya sajikan, bahkan saya terkejut mereka juga doyan bebek dan jeroan karena setahu saya orang Belanda tidak suka jeroaan. Apalagi yang bakso, bersyukur semua cocok dengan rasanya sampai semua nambah berkali-kali dan bilang “Heerlijk, Deny. Heerlijk!” Artinya enak sekali. Wah saya senang sekali, capek langsung hilang. Niatnya masak dengan porsi lebih supaya masih ada lebih makanan sehingga teman-teman bisa bungkus bawa pulang. Ternyata makanan yang lebih juga tidak terlalu banyak bahkan bebeknya tinggal sedikit. Saya bilang ke mereka untuk membungkus apapun yang ingin dibungkus karena saya tidak mau menyimpan di kulkas. Bersyukur mereka bungkus semua sampai baksonya tinggal sedikit kuahnya. Saya senang karena tidak harus menyimpan di kulkas, mereka juga senang karena bisa bawa makanan pulang. Oh iya, ada teman yang bawa ote ote, dia ini spesialis pembuat ote ote, rasanya juara! Ada juga teman yang membawa carrot cake, wuiihh ini juga rasanya enaakk.

Acara kemarin adalah acara pertama yang saya buat untuk teman-teman Indonesia yang saya kenal baik selama di Belanda, yang datang 15 orang dewasa dan sukses. Setiap orang bisa ngobrol sepuasnya satu sama lain, makan sepuasnya, tertawa sepuasnya, tidak ada grup grupan benar-benar bisa berbaur dan tidak ada yang canggung padahal banyak yang baru pertama kali kenal, rasanya seperti teman lama. Rasa senangnya masih terbawa sampai saat saya menulis ini. Yang penting setiap orang benar-benar menikmati dan membawa kesan baik di acara kemarin. Pulang ke rumah dengan hati riang. Itu yang kami harapkan. Hari minggunya saya menulis pesan ke masing-masing orang ucapan terima kasih atas kesenangan di acara kemaren. Mereka juga senang dan ditutup dengan “masakanmu enak banget lho, suamiku nambah sampai begah perutnya nambah terus. Kamu pintar masak, sana buka restoran saja.” Haha Amiiinn.

Het was een erg gezellige dag! Tot volgende keer!

-Nootdorp, 7 Mei 2017-