Minggu Kelabu

Harusnya hari ini, minggu 13 Mei 2018, adalah hari yang menyenangkan. Di Belanda (dan beberapa negara lainnya) hari ini diperingati sebagai Hari Ibu. Saya sudah membayangkan pagi hari saya akan dapat kejutan (entah itu apa) lalu sorenya kami sekeluarga akan ke rumah Mama karena memang sudah tradisi kalau Hari Ibu, seluruh keluarga akan kumpul di rumah Mama, yang artinya bisa ngobrol ngalur ngidul dengan semua dan tentu saja banyak makanan. Nyatanya, hari minggu ini menjadi minggu kelabu yang mampu memporakporandakan perasaan saya. Sedih sampai menangis, bingung sampai bengong, hati rasa tercabik-cabik mendengar dan membaca berita duka datang silih berganti.

Sekitar jam 3 dini hari (waktu Belanda) saya terbangun, lalu jam 4 saya kembali tertidur. Seperti biasa, saya buka dulu sebentar twitter untuk membaca berita apa yang ada di Indonesia atau dunia. Sebenarnya mata saya sudah sepet mengantuk, jadi membaca beberapa berita dengan setengah sadar. Saya tersentak begitu membaca ada berita bom meledak di beberapa Gereja di Surabaya. Seperti tidak percaya, Surabaya?! Bagaimana mungkin?!. Kota yang sempat saya tinggali selama 13 tahun adalah kota yang adem ayem meskipun penghuninya terkenal dengan keras dan cepat panasnya. Tapi percayalah, kota itu meskipun nampak galak dan garang, sesungguhnya sangatlah adem ayem. Masyarakatnya hidup berdampingan dengan segala perbedaannya. Bahkan saat kerusuhan di Jakarta tahun 98, di Surabaya ya aman dan adem ayem. Saya lalu menuliskan di grup wa sahabat-sahabat saya apakah benar ada bom di Surabaya. Lalu karena memang mengantuk sekali, saya tertidur kembali sampai jam 7 bangun. Dan kembali membuka twitter dan wa, ternyata benar adanya bom itu. Hati saya retak. Sedih campur kesal. Hal tersebut sempat teralihkan karena saya diberi kejutan satu buket bunga dan coklat sebagai hadiah dihari Ibu.

Sekitar jam 9 pagi, Ibu berkirim pesan di wa, menanyakan kabar kami sekeluarga. Setelahnya Ibu menyampaikan berita duka. Salah satu teman SMP saya yang juga rekan kerja Ibu, pagi dini hari meninggal dunia. Teman saya ini meninggalkan satu anak perempuan yang masih kecil dan seorang istri. Hati saya kembali remuk. Walaupun saya tidak dekat dengan dia, tapi saya kenal dengan baik bagaimana betapa baiknya dia, pintar dan juga pekerja keras sehingga dia bukan hanya PNS tetapi juga mempunyai beberapa usaha yang sukses. Saya ingat betul, sewaktu Ibu sedang dioperasi, ternyata Bapak dia juga sedang sakit. Kamar pasien saling berhadapan. Waktu itu dia sering menghibur saya untuk sabar menghadapi ujian hidup. Padahal keadaan dia tidak lebih baik dari keadaan saya, tapi dia tetap memberikan semangat untuk saya. Pada saat saya kawin, dia datang ke kawinan kami. Itu terakhir saya bertemu dia. Sewaktu Ibu ke Belanda, Ibu menyampaikan salam dari dia. Katanya kalau saya pulang, minta dikabari karena ingin berjumpa. “Belum juga aku sempat pulang As, kamu sudah pergi. Gone too soon! Semoga kamu tenang ya disisiNya dan semoga keluargamu diberikan kekuatan dan ketabahan.” Saya sedih jika teringat anak perempuannya, sudah kehilangan seorang Bapak diusia yang masih belia.

Menjelang siang, kembali saya sekilas membuka twitter. Begitu membaca bahwa ada anak-anak yang menjadi korban, perasaan saya kembali berkecamuk sedih. Anak-anak itu pasti dengan semangat bangun pagi dan senang karena akan beribadah di Gereja. Sesampainya di sana, ada bom meledak. Apa yang salah dengan mereka? Mereka ingin beribadah, berucap syukur pada Tuhan, ingin berdoa. Apa yang salah dengan mereka sehingga mereka yang tak tahu apa-apa ikut menjadi korban? Lalu saya kembali membaca bahwa dua orang anak kecil diajak Ibunya untuk membunuh, meledakkan diri. Kegilaan apalagi ini. Anak-anak itu masih kecil. Kenapa harus melibatkan mereka. Tugas mereka hanyalah bermain, bersenang-senang dengan teman-temannya. Kenapa harus diajak membunuh orang-orang yang akan beribadah? Sebenarnya apa sih yang dicari oleh para pembunuh ini? Apa yang sebenarnya mereka benci sehingga harus membunuh. Sebegitu bencikah mereka sampai harus membunuh? Punya hak apa mereka sebagai sesama makhluk Tuhan dengan pongahnya bisa bertindak sebagai pencabut nyawa? Tidak bisakah hidup berdampingan dalam perbedaan. Toh yang menciptakan berbeda juga Tuhan, lalu mengapa harus dilenyapkan perbedaan itu?

Sore hari kami ke rumah Mama. Begitu pintu terbuka, Mama langsung memberondong dengan banyak pertanyaan terkait Bom di Surabaya. Sudah saya duga akan banyak pertanyaan terlontar dan ada banyak pasang mata menunggu penjelasan dari saya. Yang keluarga kami sesalkan dan juga seperti kekesalan saya adalah kenapa harus melibatkan anak-anak?! Kenapa?!

Sore hari menjelang malam, kembali ada berita ledakan di Sidoarjo. Hari yang melelahkan terus terang untuk saya mendengar banyak berita duka dari tanah air. Banyak pertanyaan berkecamuk silih berganti datang dan pergi.

Terkait teman saya yang meninggal, saya kembali berpikir bahwa memang usia adalah rahasia Ilahi. Bahkan sedetik kedepan kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Hal ini semakin mengingatkan saya untuk mempergunakan waktu yang tersisa sebaik dan sebermanfaat mungkin. Nikmati secara maksimal waktu bersama orang-orang yang kita cintai dan sampaikan rasa sayang kita pada mereka. Berbuat hal-hal yang bermanfaat, karena kita tidak pernah tahu kapan saat itu akan datang. Kalau ingat kematian, rasanya ga ada nyali untuk sombong. Apa yang akan kita sombongkan karena semua ini memang hanya titipan, apa iya kita akan bawa semua ini ke liang kubur?

Terkait teroris, pertanyaan yang selama ini mengganjal saya adalah : banyak yang bilang bahwa terorisme itu jangan dikaitkan dengan agama karena perbuatan teror itu tak mengenal agama. Tapi kenapa selama ini teroris yang ada di Indonesia (saya hanya ingin fokus yang di Indonesia, karena mengamati hanya di Indonesia) selalu menggunakan atribut atau berpakaian secara Islam? Meneriakkan kalimat-kalimat yang ada di agama Islam? Lalu dengan kenyataan seperti itu, apakah tetap tidak bisa dikatakan bahwa teroris itu tidak beragama Islam? Toh nyata-nyata yang mereka lakukan katanya adalah jihad. Jihad macam apa, tujuannya apa? Kalau mereka ingin masuk surga dengan cara seperti itu dan ingin mengapling surga hanya untuk kaum mereka saja, monggo silahkan. Lebih baik saya tidak ada kaplingan di manapun daripada hidup saya merugikan orang lain dan membuat kerusakan saja. Sebenarnya apa yang mereka benci? Mengapa mereka sangat benci sehingga harus membunuh banyak orang? Oh Tuhan, banyak sekali hal-hal yang berkecamuk di kepala saya sampai saat ini lebih dari jam 10 malam saya masih belum bisa tidur. Masih memikirkan anak-anak kecil tak berdosa itu.

Doa saya teriring untuk para korban dan keluarga korban.

Dan untuk para pembunuh, Damn you Teroris!

-Nootdorp, 13 Mei 2018-

Urus Saja Takdirmu Sendiri

Pernah tidak bertemu dengan orang yang selalu saja ingin tahu detil kehidupan kita. Mulai dari bertanya tentang sudah punya pacar belum, pacarnya orang mana, sudah berkeluarga belum, sudah punya anak belum, suaminya orang mana, dan kalau perlu sampai bertanya berapa kali kamu kencing satu hari. Ya saking tidak ada kerjaan sampai urusan orangpun diurusin sampai detil. Atau memang kerjaan dia sudah selesai makanya banyak waktu untuk mengurusi kehidupan pribadi orang lain. Kalau hanya bertanya sekali atau dua kali sih tidak masalah ya. Tapi kalau sampai setiap bertemu topik pertanyaannya selalu sama padahal yang ditanyakan sudah masuk area pribadi dan jawaban yang diberikan pun sudah tegas tetapi tetap saja bertanya, rasa-rasanya orang tersebut sudah tidak punya urat malu.

Saya pernah (dan banyak) bertemu dengan tipe orang seperti ini. Saking parahnya, dia (dan mereka) karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari saya atau malah tidak bertanya langsung pada saya, malah mengorek-ngorek jawaban dari orang-orang yang dekat dengan saya. Bertanya ini itu yang jelas-jelas sudah mulai masuk ke ranah paling pribadi. Saya sampai heran luar biasa lho dengan tipe orang semacam ini. Apa ya yang ada di pikiran mereka kok ya punya energi yang luar biasa sampai ingin tahu setiap jengkal kehidupan orang lain.

Yang akan saya ceritakan sekilas ini berhubungan dengan cerita yang ada di gambar. Tulisan dalam foto tersebut bukan saya yang menulis tetapi saya dapatkan dari seorang teman jadi saya tidak tahu siapa awalnya yang menulis. Kalau ada yang tahu tolong kasih tahu saya sumbernya sehingga bisa saya sertakan linknya di foto tersebut.

Cerita ini berhubungan dengan pertanyaan tentang anak, tentu saja. Alkisah, pertanyaan tentang kapan punya anak itu dulu sudah bikin telinga saya kapalan seketika saking seringnya. Bahkan ada yang bertanya tentang program kehamilan apa saja yang pernah kami jalani. Kalau Ibu saya yang bertanya mungkin akan saya jawab ya (yang pada kenyataannya juga Ibu tidak bertanya tentang program kehamilan, cuma dulu suka nanya kapan saya akan memutuskan untuk hamil dan saya jawab dengan tegas untuk menghargai privasi kami dengan tidak terlalu jauh masuk dalam ranah RT kami). Nah, herannya ada lho orang yang dulunya paling sensitif kalau ditanya tentang anak karena memang lama punya anak, eh setelah (akhirnya!) punya anak lalu dengan gampangnya jadi tukang survey kepada orang-orang yang belum diberikan rejeki anak, bertanya tentang topik anak. Bahkan menanyakan tentang program kehamilan apa yang sedang atau pernah dijalani. Nih orang amnesia atau bagaimana, dulu sampai mengucilkan diri karena tersinggung kalau ditanya-tanya tentang anak, setelah Tuhan kasih kesempatan untuk dia punya anak kok ya tidak ada empatinya sama sekali. Bahkan sampai mengulik kabar terbaru bukan dari empunya langsung tapi dari orang lain. Kadar kesopanannya sungguhlah luar biasa perlu dipertanyakan.

Saya sangat menghindari bertanya kepada orang lain yang berhubungan dengan anak atau kehamilan. Sedekat apapun hubungan kami, kecuali yang bersangkutan cerita lebih dulu. Apalagi bertanya tentang program kehamilan yang sedang atau pernah dijalani, saya usahakan semaksimal mungkin supaya mulut tertutup rapat tidak bertanya yang bukan menjadi urusan saya, kecuali seperti yang saya sebutkan sebelumnya, yang bersangkutan bercerita lebih dahulu. Berceritapun saya pilah lagi, ini hanya butuh didengarkan atau ingin diberi masukan. Kalau ada orang yang bercerita, saya maksimalkan supaya tidak jadi kompetisi penderitaan, seperti yang sudah pernah saya tuliskan beberapa waktu lalu. Contohnya : ada yang sedang curhat perutnya begah sekali pas kehamilan umur 7 bulan. Saya tidak akan menimpali : kamu sih lumayan ya cuma begah, saya dulu 9 bulan tidak bisa makan sama sekali. Itu misalnya ya. Buat apa to kompetisi penderitaan macam itu. Malah menyakiti hati yang sedang curhat. Saya memperlakukan orang seperti saya ingin diperlakukan. Saya tidak suka membicarakan hal-hal pribadi kepada orang yang saya tidak kenal dengan sangat baik. Ibaratnya pada Ibu saya saja ada banyak hal yang tidak saya ceritakan, lalu kenapa saya harus bercerita macam-macam kepada orang yang kenal cuma selintas lalu, apalagi sampai cerita di media sosial. Itu bukan saya.

Kepada siapapun yang pernah dan sampai saat ini selalu tertarik dengan kehidupan privasi kami yang tidak kami ceritakan atau tampilkan kecuali dalam kehidupan nyata, apalagi sampai bertanya kepada orang lain hal-hal privasi tentang kami, tolong urus saja dunia kalian sendiri. Kami bukan orang terkenal, bukan pesohor, jadi tidak perlu sampai mengulik terlalu dalam yang bukan menjadi urusan kalian. Jika ada yang pernah “tertarik” dengan cerita kami tentang anak dan tidak bertanya langsung pada saya, kenapa nyali sekecil itu. Saya lebih menghargai yang langsung bertanya pada saya. Tidak harus tahu semua hal lho di dunia ini, bahkan sampai ngurusi RT orang. Punya anak itu bukan lahan pertandingan dan anak bukan ajang kompetisi. Apa sih yang ingin dicapai, medali apa yang ingin diraih, apa yang ingin dipamerkan. Urus saja takdirmu sendiri, urus RT mu sendiri, urus anakmu sendiri. Dan yang terpenting adalah tidak usah terlalu sibuk mengurusi takdir orang lain.

Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. BE KIND. ALWAYS.

-unknown-

-Nootdorp, 9 Mei 2018-

Tahun Ketujuh

Setiap tahun terasa seperti baru beberapa saat lalu. Tidak pernah terlupa sedikitpun detil setiap peristiwa sebelum dan sesudahnya. Seperti film yang selalu terputar lagi dan lagi dikepingan kenangan. Selalu ada rasa sesal, kenapa saya tidak di sana, bahkan sampai sekarangpun rasa itu tetap ada. Lalu selanjutnya saya pun berandai-andai, yang semestinya hal itu tak perlu saya lakukan. Hanya akan menambah sedih dan luka lama muncul kembali, walaupun sampai sekarang sebenarnya tak pernah tertutup, selalu menganga.

Setiap menjelang Ramadan terlebih lebaran, segala rasa berkecamuk di dada. Sedih dan pilu, itu yang pasti. Tetesan air mata selalu mengalir jika teringat hari itu. Terlebih jika saya melihat anak kecil sedang menghabiskan waktu dan bersenda gurau dengan Opa mereka. Ada yang terasa kosong di hati. Andaikan saja.

Konon katanya waktu yang akan menyembuhkan. Tapi saya selalu percaya bahwa sayalah yang harus berusaha keras untuk ikhlas dan menyembuhkan diri sendiri, bukan waktu. Sejak saat itu, hari di mana jadi titik balik kehidupan, saya mulai mempertanyakan segalanya-bahkan sampai saat ini. Harusnya saya lelah dan mengambil jeda untuk bernafas lalu berhenti. Tak perlu menggugat apa yang sudah tertuliskan. Saya hanya butuh waktu lebih untuk mengerti semua ini.

Tahun ini adalah tahun ketujuh saya tetap belajar apa namanya ikhlas. Entah butuh berapa tahun, saya tak terburu waktu. Menikmati prosesnya, bergulat dengan sakitnya dan berkawan dengan lelahnya. Banyak yang ingin saya ceritakan pada satu-satunya orang yang dulu selalu menjadi nomer satu untuk tahu saat saya sedih maupun senang.

“Bapak, tak perlu khawatirkan saya. Walaupun tak ada secara nyata, saya selalu percaya bahwa Bapak tak pernah benar-benar pergi, selalu ada disekitar saya. Dan saya yakin, tanpa perlu bercerita, Bapak pasti selalu tersenyum saat ini melihat apa yang dulu selalu Bapak doakan sudah dikabulkan. Tabungan doa untuk saya tentang sebuah keluarga. Saya butuh waktu untuk ikhlas, semoga itu tidak menghambat langkah Bapak.”

-Nootdorp, 6 Mei 2018-

Cerita Koningsdag 2018

27 April adalah hari ulang tahun Raja Belanda, karenanya ini menjadi hari libur nasional. Kemeriahan sudah dimulai pada 26 April malam. Pesta nampak di mana-mana terutama kota-kota besar. Malam hari ini dinamakan Koningsnacht. Banyak konser musik gratis diadakan. Tahun 2015 saat tahun pertama saya di Belanda, kami menikmati Koningsnacht sampai jam 12 malam di Den Haag. Menonton konser musik dari satu panggung ke panggung lainnya. Memang sangat seru. Tapi tahun-tahun berikutnya, kami habiskan Koningsnacht di rumah saja. Menonton TV atau ya seperti biasa tidur cepat. Koningsnacht tahun ini pun begitu. Kami memilih tinggal di rumah dan menonton film Wonder. Sejak tahun lalu saya punya bukunya, tapi masih belum selesai juga dibaca. Begitu melihat filmnya, yang ada nangis sesenggukan di beberapa bagian. Bukan karena jalan ceritanya yang sedih, tapi saya lebih melihat tentang hubungan Ibu dan anak laki-lakinya di film itu. Ah, film ini mengajarkan banyak hal-hal penting.

27 April bertepatan dengan hari Jumat. Sejak pagi saya sudah menyalakan TV, kebiasaan kalau Koningsdag karena ingin melihat liputan peringatan ulangtahun Raja. Tahun ini kota yang kebagian memperingati ulangtahun Raja adalah Groningen. Saya lihat di TV kok cuaca di Groningen cerah dan ada matahari, sementara di tempat saya tinggal kok mendung dan sedikit hujan. Wah, pawang hujannya tokcer di Groningen. Sementara saya masih sibuk di dapur memasak bebek, membuat sayur lodeh dan memasak bubur.

Jika Raja berulangtahun, pasang bendera depan rumah dan ditambahi kain warna oranye

Salah satu yang selalu saya nantikan kalau Koningsdag adalah pasar barang bekas atau disebut Rommelmarkt. Setiap orang berhak dan bisa berjualan apa saja pada hari ini, terutama barang-barang bekas. Bagaimana dengan harganya? Sangat sangatlah murah. Apalagi kalau jeli, bisa mendapatkan barang yang masih baru tapi harganya super miring. Tahun lalu sewaktu Koningsdag saya tidak bisa pergi ke luar rumah karena sedang tidak enak badan. Karena tahun ink sudah saya niatkan untuk ke Rommelmarkt disekitaran rumah saja. Tidak perlu sampai ke Den Haag kota atau Rotterdam.

Setelah makan siang dan menunggu cuaca lebih baik, kami menuju ke tempat kemeriahan Koningsdag di kampung tempat kami tinggal. Tidak terlalu jauh, hanya 10 menit jalan kaki. Ada panggung besar dengan penampilan beberapa Band, ada banyak sekali penjual barang bekas, ada banyak stan makana, ada banyak sekali permainan anak dan juga atraksi air.

]Salah satu group yang tampil Salah satu group yang tampil

Setelah saya berkeliling, ternyata di Rommelmarkt ini banyak sekali yang menjual barang-barang anak-anak. Saya tidak menyangka ternyata banyak anak-anak ya di sini. Kok seperti tidak melihat terlalu banyak anak-anak berkeliaran kalau hari biasa.

Yang dijual banyak barang-barang anak-anak Yang dijual banyak barang-barang anak-anak

Yang dijual banyak barang-barang anak-anak
Yang dijual banyak barang-barang anak-anak

Atraksi air seperti ini terakhir saya lihat sewaktu menonton Gay Pride di Amsterdam tahun 2015. Tidak menyangka di danau kecil yang sering kali saya lewati kalau akan ke danau besar dekat rumah, ternyata juga bisa dijadikan tempat atraksi seperti ini. Dan tidak menyangkanya lagi atraksi seperti ini ada di kampung tempat saya tinggal.

Atraksi Air Atraksi Air

Atraksi Air
Atraksi Air
Atraksi Air
Atraksi Air

Permainan anak-anak yang disediakan banyak sekali ragamnya. Salah satunya adalah panjat-panjatan ini. Kalau tidak ingat umur dan malu, pengen rasanya ikutan manjat-manjat juga. Tidak hanya atraksi ini, sepanjang jalan utama, masih ada banyak permainan anak.

Salah satu permainan anak Salah satu permainan anak

Sepanjang jalan ini penuh permainan anak-anak
Sepanjang jalan ini penuh permainan anak-anak

Saya kalap memborong 6 puzzles dari kayu dan beberapa alat musik yang kesemuanya seharga kurang dari ‚ā¨4. Kalau beli barunya mana boleh harga segitu untuk 9 barang yang saya beli. Kalau tidak jaga dompet, bisa kalap pengen beli ini itu. Setelah puas berkeliling dan langit mulai mendung lagi, kami mampir ke stan makanan. Saya ingin sekali makan sate, tapi begitu melihat satenya dimakan pakai roti, urung saya membeli. Lebih baik makan es krim saja.

Sate dimakan dengan lontong atau nasi itu sudah biasa. Cobalah sesekali sate dimakan dengan roti, dan bandingkan rasanya :D Sate dimakan dengan lontong atau nasi itu sudah biasa. Cobalah sesekali sate dimakan dengan roti, dan bandingkan rasanya :D

Harum manis atau dalam bahasa Belandanya adalah Suikerspin
Harum manis atau dalam bahasa Belandanya adalah Suikerspin
Kami seperti biasa, apapun cucanya dan di manapun kapanpun selalu makan ice cream
Kami seperti biasa, apapun cucanya dan di manapun kapanpun selalu makan ice cream

Seperti biasa, Koningsdag selalu menyenangkan dengan berbagai macam kegiatan dan tentu saja Rommelmarktnya menjadi daya tarik utama. Semoga tahun depan kami bisa ikut bergabung di Rommelmarkt untuk menjual beberapa barang yang sudah tidak terpakai supaya gudang tidak terlalu penuh. Satu lagi dari kebiasaan orang Belanda yang saya kagumi adalah jika ada barang-barang yang tidak terpakai lagi dan mereka tidak ingin menjualnya, mereka tinggal taruh saja depan rumah dan menulis keterangan Gratis, jadi siapa saja boleh mengambilnya.
Nah kalau ini saya numpang mejeng dengan atribut koningsdag berwarna oranye, sepatunya saja :D Nah kalau ini saya numpang mejeng dengan atribut koningsdag berwarna oranye, sepatunya saja ūüėÄ

Kalau di bawah ini bonus cerita. Mau pamer hasil masakan saya. Lodeh ini adalah salah satu menu favorit di rumah. Kami doyan sekali makan lodeh terutama suami. Tapi cukup sebulan sekali aja paling sering menu ini tersedia.
Lodeh tewel, rebung, tahu, kacang panjang dan pete. Pakai balungan juga tapi ada di panci. Tak lupa bawang goreng andalan, beli di Inlly (haha disebut lagi) Lodeh tewel, rebung, tahu, kacang panjang dan pete. Pakai balungan juga tapi ada di panci. Tak lupa bawang goreng andalan, beli di Inly (haha disebut lagi)

Masakan bebek ala Madura ini termasuk salah satu andalan saya jika sedang ada acara atau sekedar ingin membawa buah tangan untuk teman. Sudah menerima banyak testimoni, kalau bebek buatan saya ini enak, bumbunya meresap dan yang terpenting tidak amis. Sambelnya juga katanya enak. Ini saya bukan menyombong, hanya menuliskan kebenaran haha. Nah karena hari Sabtu kami akan ke rumah seorang teman, salah satu masakan yang saya bawa ya bebek ini. Setelah diungkep selama dua hari, bebeknya saya masukkan di oven. Saya sudah jarang goreng menggoreng kalau tidak terpaksa. Selain malas, ya lebih praktis saja kalau dioven. Hasil dari satu buah bebek, bisa saya bagikan ke dua orang teman dan kami nikmati sendiri. Sekali masak, banyak mulut yang bisa terpuaskan.
Bagaimana, penampakannya sudah mirip Bebek Madura belum? Bagaimana, penampakannya sudah mirip Bebek Madura belum?

Kunjung ke rumah teman disuguhi ikan panggang, oseng daun pepaya, capcay, ayam bumbu saus, tempe goreng, lele goreng dan tak lupa sambalKunjung ke rumah teman disuguhi ikan panggang, oseng daun pepaya, capcay, ayam bumbu saus, tempe goreng, lele goreng dan tak lupa sambal

Begitulah cerita kami minggu lalu. Meskipun tidak terlalu banyak waktu yang saya punya karena harus mengerjakan pekerjaan domestik dan pekerjaan lainnya, semuanya berbagi tugas berdua dengan suami, tapi ide untuk menulis ada banyak di kepala, jadi saya sempatkan kalau ada waktu untuk selalu menulis.

-Nootdorp, 1 Mei 2018-

Pekan Terhangat di Musim Semi

Menuju danau Dobbeplass

Terhitung sejak hari selasa minggu lalu sampai saat saya menulis ini (hari senin) cuaca di Belanda secara keseluruhan menghangat dan cenderung panas, kecuali hari ini cuma gonjreng tapi hawanya semilir sejuk. Minggu lalu benar-benar hari ternyaman untuk saya, karena untuk suami katanya terlalu panas. Suhu setiap hari rata-rata bisa diatas 25 derajat celcius. Malah ada satu hari suhunya sampai 30 derajat celcius.

Karena keadaan seperti ini sangatlah jarang, apalagi di musim semi, maka mendadak saya jadi petakilan. Saya tidak betah di rumah, mendadak males masak, maunya ke luar rumah terus selama cuaca nyentrong seperti ini. Suasana hati mendadak gembira sekali. Senyum sepanjang hari. Riang gembira lah pokoknya. Ke luar rumah juga jadi lebih mudah. Cuma pakai sandal dan baju selapis. Merdeka banget rasanya. Saya inginnya kalau pagi sampai siang cuma leyeh-leyeh di halaman belakang. Rajin berbenah halaman depan dan belakang. Pokoknya halaman depan dan belakang mendadak jadi agak rapi (walaupun yang bagian depan tidak terlalu rapi sekali). Tahun ini saya tidak menanam apapun. Hanya mengandalkan tanaman-tanaman yang sudah ada. Semoga tahun depan bisa kembali bercocok tanam.

Kalau menjelang sore, kami seperti gasing jalan jalan ke sana sini. Dari jelajah taman sampai jelajah danau. Kenapa tidak ke pantai? karena membayangkan banyak orang di pantai saya sudah pusing duluan (ya kalau mau sepi, di kuburan Den!). Saya sampai bilang ke suami bahwa sejak tinggal di Belanda, saya jadi lebih menghargai yang namanya cuaca hangat (dan panas). Padahal kalau di Indonesia, marah-marah terus saya kalau cuaca panas. Ya tapi kan beda situasi, kalau di Belanda jarang cuaca panas karenanya lebih banyak bersyukur kalau panas datang.

Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark

Kalau di taman, kami beneran tidur di rumput-rumputnya melihat langit dan berjemur. Duh beneran nikmat sekali. Apalagi anginnya semilir ya, bikin ngantuk. Kalau tidak ingat punya tanggungan di rumah, saya bisa seharian di taman tiduran sambil baca buku.

Menuju danau Dobbeplass
Menuju danau Dobbeplass

Ada danau dekat rumah. Jalan kaki hanya 15 menit saja. Sewaktu kami ke sana, waduh ramainya tidak karuan. Semua berenang. Mau ambil foto saja sampai tidak bisa karena semua sudut ada orang pakai baju renang. Kan melanggar privasi kalau saya mengambil foto. kami duduk-duduk di bawah pohon, sesekali main pasir juga. Nah, beberapa hari setelahnya, kami ke danau ke kota sebelah di Zoetermeer. Ini danaunya lebih besar dari yang dekat rumah. Tapi ramainya juga tidak karuan. Sewaktu kami pertama sampai, saya mencium harum sate. Langsung dong ya saya mencari sumber harum sate itu, ternyata ada keluarga yang sedang memanggang sate dan panggangannya sama seperti panggangan di Indonesia. Langsung membayangkan makan sate pakai lontong trus minumnya es degan *halusinasi sesekali.

Kalau cuaca panas seperti ini saya memang seringnya membayangkan tukanhg jual makanan gerobak. Andaikan ada gerobak bakso, gorengan, dan es degan, sempurna sekali di pinggir danau makan semangkuk bakso pedas dan minum es degan *ngayal teruuusss!

Zoetermeer
Zoetermeer
Zoetermeer
Zoetermeer
Leyeh leyeh pinggir danau
Leyeh leyeh pinggir danau

Saking petakilannya, saya sampai tiba-tiba terpikir untuk ke pasar. Terakhir ke pasar Haagse, 3 bulan lalu sewaktu Ibu ada di sini. Ke pasar kali ini juga dipicu oleh suami yang belakangan ini mengeluh karena stok sambal habis. Setiap mau makan atau buka kulkas, dia selalu komentar “Sambelnya habis lho” “Kamu ga bikin sambal nih?” “Kok ada yang kurang ya makan tanpa sambal” “Kamu ada rencana bikin sambal kapan.” —-Saya merasa terteror dengan urusan sambal ini. Akhirnya demi mendapatkan cabe merah dengan harga murah, ke pasarlah kami naik tram, suami sih tidak ikut karena dia sedang belajar untuk ujian. Eh ternyata di pasar cabe rawit merah sedang langka. Di beberapa stan langganan tidak jualan karena katanya sedang mahal sekali. Untung saja mata saya melihat ada cabe rawit nyelip di jual di stan lainnya. Langsung saya borong semua. Selain untuk beli cabe, saya juga ingin beli ikan segar. Rencananya akan saya buat pepes. Selain itu saya juga cari buah naga, biasanya di pasar ada dengan harga murah. Eh, saya cari sampai teliti ternyata tidak ada.

Saking lamanya saya tidak ke pasar, beberapa langganan yang memang sudah hapal dengan saya sampai bertanya, “lama tidak ke pasar, stok cabe aman ya?” Hahahaha, maklum, saya kalau beli cabe sampai berkilo-kilo. Bukan buat diri sendiri saja, tapi titipan dari beberapa teman. Makanya sampai dihapalin oleh si pemilik stan. Belum lagi satu-satunya stan yang jual belimbing wuluh, pemiliknya sewaktu saya mau beli belimbing wuluh bilang, “setiap ada belimbing wuluh segar, saya selalu mbatin kamu lho. Kok lama tidak ke pasar.” ya beginilah kegiatan di pasar, selalu menyenangkan karena bertemu dengan banyak orang dan bisa sekalian cuci mata.

Langsung lahap makan pakai ikan beli di pasar meskipun menunya ga nyambung :)))
Langsung lahap makan pakai ikan beli di pasar meskipun menunya ga nyambung :)))
Sepanjang minggu bisa makan di halaman belakang. Ini makan pakai ayam panggang dan sisa bumbunya dipakai untuk masak Mie goreng
Sepanjang minggu bisa makan di halaman belakang. Ini makan pakai ayam panggang dan sisa bumbunya dipakai untuk masak Mie goreng

Hari Senin saya diawali dengan membuat stok sambal. Begitu melihat saya membuat sambal, sumringah lah muka suami. Berasa dapat lotere haha!

Sambel untuk suami
Sambel untuk suami

Bagaimana hari Senin kalian? Semoga awal minggu kalian juga menyenangkan yaaa. Minggu ini suhu di Belanda kembali pada angka belasan dan konon katanya beberapa hari kedepan akan turun hujan. Saatnya produktif lagi di rumah

-Nootdorp, 23 April 2018-

Ada Apa di Bulan Maret?

Coimbra

Bulan Maret selalu spesial di hati, karenanya saya selalu membuat rangkuman apa saja yang sudah dilalui di bulan Maret

  • Salju datang lagi

Awal bulan Maret salju datang lagi ke Belanda. Lumayan tebal juga. Dan cuaca semakin tidak menentu pada saat itu. Saya pikir musim semi akan semakin dekat, tapi cuaca minus tidak membuat keadaan jadi baik, apalagi suasana hati yang sudah bosan terkungkung jaket tebal dan ribet sekali kalau mau keluar padahal cuma mau beli tempe ke toko yang jaraknya cuma 5 menit jalan kaki.

  • Membuat Lumpia isi Rebung, Tahu dan Wortel

Saya itu doyan banget yang namanya lumpia isi rebung. Seringnya beli di toko Asia. Tapi, kalau beli mahal sekali. Per lumpia isi rebung dan ayam harganya ‚ā¨1.5. Kalau saya lagi rajin, lebih baik membuat sendiri. Nah pertengahan Maret lalu, saya lagi kepengen banget nyemil lumpia. Kepengennya sudah macam orang hamil yang ngidam. Lalu saya niati bikin lumpia isi rebung, tahu, dan wortel. Ternyata isinya kebanyakan. Walhasil saya bisa membuat sekitar 50 lumpia. Niatnya untuk stok di freezer, tapi saya pikir lebih baik dibagi ke tetangga dan Mama mertua. Tetangga senang sekali, trus dibarter dengan brownies. Kalau Mama mertua memang suka sekali dengan lumpia, apalagi bikinan menantunya *yang terakhir tambahan saya sendiri, ke PD an haha.

Kreasi Lumpia untuk tetangga dan Mama Mertua
Kreasi Lumpia untuk tetangga dan Mama Mertua
  • Setahun Lalu

Setahun lalu, seminggu sebelum ulangtahun saya menjadi hari yang tidak akan pernah kami lupa. Tanggal bersejarah kami menyebutnya.

  • Ulang Tahun

Akhir Maret adalah ulangtahun saya. Karena sudah terbiasa menghadiahi diri sendiri saat ulangtahun, maka kali ini saya memilih untuk membeli tas punggung dan pouch yang dibuat oleh Aggy. Nama produk ini adalah Astanya. Nama variannya adalah Sejuk dan Gula Jawa. Sejak awal lihat motif Sejuk dan Gula Jawa, saya langsung jatuh cinta. Dan karena memang saya suka sekali dengan tas punggung, belilah saya tas buatan Aggy ini (padahal dua tahun berturut lalu dikasih hadiah sama Mama mertua juga tas punggung. Beliau sampai heran, barang yang saya beli kalau tidak tas punggung, sepatu lari atau jalan, dan buku. Seputar itu saja). Saya belinya di sini. Saya suka tas dan pouchnya. Tasnya besar dan bisa menampung banyak barang. Pouchnya juga pas sekali sesuai dengan ukuran yang saya butuhkan.

Suka dua duanya!
Suka dua duanya!

 

Pada hari ulangtahun, saya sudah ribet sejak jam 3 pagi karena kami akan pergi ke Portugal pesawat jam 9 pagi. Makan malam ulangtahun, di restoran Italia di Portugal (haha ga nyambung sebenarnya, di Portugal tapi makannya Italy). Sebenarnya restoran ini juga pas nemu saja karena kami sudah capek dengan perjalanan satu hari dari Belanda ke Portugal. Eh tapi restorannya bagus sekali. Terkesan klasik. Saya makan menu favorit, apalagi kalau bukan Risotto.

Risotto Jamur dan Bayam. Duh ini enak sekali
Risotto Jamur dan Bayam. Duh ini enak sekali

Doa dan harapan saya setiap ulangtahun selalu sama, sehat dan bahagia selalu bersama keluarga kecil kami serta tidak menjadi orang yg lupa untuk selalu bersyukur atas apapun.

  • Roadtrip pertama kami tahun 2018 ke Portugal

Sewaktu menulis tentang liburan kami ke M√ľnster, sedikit saya singgung kalau kami akan liburan dalam waktu dekat ke suatu tempat. Nah, suatu tempatnya itu adalah Portugal. Roadtrip selama 10 hari ini adalah kado ulangtahun suami untuk saya. Seperti biasa, setiap ulangtahun, saya ingin kadonya adalah jalan-jalan. Kalau kami sedang ada waktu dan uang, jalan-jalannya agak jauh. Jika uang dan waktunya mepet, jalan-jalan yang dekat saja. Senang kali ini bisa ke Portugal karena ke Portugal sebenarnya adalah rencana liburan musim panas tahun 2017. Tapi tahun lalu kami akhirnya roadtrip dengan rute yang berbeda. Selama 10 hari di Portugal, kami roadtrip berkunjung ke beberapa kota yaitu Porto, Lisabon, Sintra, Coimbra, dan Braga. Bersyukur semua lancar tanpa halangan yang berarti sejak berangkat sampai kami kembali ke rumah. Cerita lengkap tentang Portugal akan saya tulis pada postingan terpisah.

Coimbra
Coimbra
Porto
Porto
Kastil di dekat Braga
Kastil di dekat Braga

Oh ya, pulang liburan, saya turun 2kg lho. Meskipun mulut ngunyah tanpa henti karena makanan Portugal tidak ada yang tidak enak, tapi jalan kaki seharian dengan kontur kota yang naik turun, sukses merontokkan 2kg lemak di badan.

Nasi kuning syukuran
Nasi kuning syukuran

Beberapa hal itulah yang terjadi di bulan Maret. Saat ini, cuaca menghangat di Belanda. Senang karena bunga-bunga mulai bermekaran, saya bisa keluar rumah tanpa jaket tebal dan malah sudah pakai sandal terbuka.

-Nootdorp, 10 April 2018-

Kemana Kita Setelah Mati

Sabtu setelah kami selesai makan malam, sekitar jam setengah delapan, saya bertanya ke suami enaknya ngapain ya. Mumpung masih sore dan kami sedang tidak ada hal mendesak urusan masing-masing yang harus dikerjakan. Lalu saya mengusulkan untuk menonton film karena seingat saya terakhir kami menonton film bersama itu dua bulan lalu. Suami setuju. Saya lalu membuat coklat panas dan suami mengambil beberapa buah di kulkas sebagai camilan ketika menonton film. Kami tidak berlangganan Netflix di rumah (bahaya kata suami, bisa-bisa istrinya 24 jam di depan TV haha), jadinya pilihan film yang ditawarkan oleh provider TV kami juga terbatas. Setelah memilih beberapa judul, lalu kami memutuskan untuk menonton Maudie. Film baru, drama, ringan sekali ceritanya, gampang dicerna, terasa manis. Tetapi setelahnya membuat saya meneteskan air mata. Bukan karena filmnya sedih, tapi mengingatkan saya akan suatu hal. Saya merekomendasikan sekali film ini karena memang menarik. Saya tidak akan menuliskan di sini tentang bagaimana jalan cerita Maudie, film yang berdurasi hampir dua jam, karena pasti sudah banyak sekali yang menuliskan tentang film ini. Jadi silahkan dicari. Akhir dari cerita ini adalah sang istri meninggal dunia (spoiler sekali :D).

Setelah film selesai, tenggorokan saya tercekat dan perlahan mata saya berembun. “Bagaimana kalau aku meninggal duluan?” begitu tanya saya pada suami dengan suara yang agak serak menahan tangis. Suami lalu melihat saya perlahan, kemudian memeluk pundak saya, “kamu kan orang Statistik, jadi tahu donk berapa prosentase kemungkinan hidup pria dibandingkan wanita.” Duh, lagi melankolis gitu lalu menyebut tentang Statistik kan jadi mendadak males. Lalu saya bilang kalau namanya hidup itu kan bukan tentang Statistik. Umur itu sudah ditentukan, itu menurut saya. Sedangkan menurut dia yang semuanya berdasarkan logika, yang namanya umur itu ya tergantung bagaimana kita menjaga badan dan keberuntungan. Ok, tentang umur memang kami sepakat tidak memperdebatkan karena sudah dibahas beberapa kali tetap tidak menemukan titik temu.

Yang membuat saya menangis itu bagaimana kalau saya meninggal duluan, lalu siapa yang akan mengurus orang-orang yang saya tinggalkan. Saya pernah bilang ke suami bahwa saya tidak akan mengirimkan dia ke panti jompo kalau kami sudah sama-sama menua. Kami akan saling menjaga satu sama lain. Saya yang selama hampir dua tahun bekerja di panti jompo, tahu betul bagaimana kehidupan di sana. Bukannya kehidupan di panti jompo tidak baik, bukan begitu. Tapi saya bilang ke dia kalau panti jompo bukan tempat yang cocok untuk dia karena ada beberapa alasan. Jadi saya selalu bilang ke dia, “nanti kalau kamu sudah tua dan saya masih sehat, biar saya yang mengurus kamu. Saya tidak akan mengirimkan kamu ke panti jompo.” Nah, kalau saya mati duluan bagaimana? siapa yang akan mengurus orang-orang yang saya tinggalkan. Bagaimana keadaan mereka nanti? Film Maudie ditambah suhu yang beberapa hari ini kembali ke angka minus dan salju datang lagi (padahal saya sudah ke PD an memasukkan jaket winter dan menggantinya dengan jaket musim semi) membuat hati saya jadi sedih sekali.

Pembicaraan tentang kematian bukan sesuatu yang saya hindari lagi sejak kehilangan sepupu saya tercinta pada tahun 2011. Sedih sekali rasanya waktu itu dan saya seperti menggugat Tuhan kenapa harus dia yang dipanggil secepat itu. Setahun kemudian, Bapak meninggal. Hidup saya langsung melorot dititik nol, bahkan minus mungkin. Pertanyaan “kenapa harus Bapak?” terngiang terus di kepala dan selalu saya tanyakan pada Tuhan, bahkan mungkin sampai sekarang. Bukannya saya tidak ikhlas, tapi ada banyak hal diluar ikhlas yang tetap mengganjal hati dan pikiran saya. Percayalah, ikhlas itu tak segampang ketika saya menuliskan kata ini di blog atau mengucapkannya. Kata orang waktu yang akan menyembuhkan. Kalau menurut saya, ya kita sendirilah yang harus menemukan apa yang membuat kita ikhlas. Sejak tahun 2011, saya banyak berpikir dan mencari bahan bacaan tentang kematian, apa yang akan kita lakukan setelah mati, kemana kita setelah mati dan semua yang ada sangkut pautnya dengan kematian.

Bertemu dan menikah dengan orang yang selalu mengedepankan logika, membuat saya seperti mendapatkan lawan bicara yang cocok untuk membahas kematian. Papa mertua meninggal ketika saya baru dua bulan pindah ke Belanda. Melihat bagaimana keluarga di sini memaknai kematian dan melihat sesuatu yang berbeda dengan di Indonesia tentang prosesi pemakaman, kembali otak saya tidak berhenti berpikir tentang mati. Bukan sekali atau dua kali saya dan suami membicarakan tentang kematian, bagaimana kalau salah satu diantara kami mati duluan, akankah yang ditinggal mati nanti menikah lagi, menunggukah di suatu tempat yang mati duluan dan banyak hal. Membicarakan kematian buat kami bukan berarti kami tidak takut mati. Paling tidak, saya masih takut mati. Entah ya kalau suami. Tapi, membicarakan kematian bagi kami adalah mempersiapkan banyak hal di depan dan membuat kematian tidak terlalu lagi nampak mengerikan. Kami bahkan sering tergelak ditengah-tengah pembahasan tentang mati. Meskipun yang namanya kematian itu akan selalu menyisakan ketidaksiapan, walaupun dipersiapkan serapi mungkin. Kematian itu pasti, tidak bisa dielakkan. Tapi menyambut kematian itu yang sering kami perbincangkan dan juga kemana kita setelah mati.

Suami selalu bilang kalau dia sudah mempersiapkan daftar lagu yang harus diputar ketika prosesi pemakamannya dan ada beberapa daftar permintaan lainnya. Kalau saya sederhana, meskipun mungkin nantinya akan meninggal di Belanda tapi saya ingin dikuburkan di tanah kelahiran. Membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kematian membuat kami jadi tahu satu sama lain apa yang kami inginkan ketika sudah mati nanti jadi ada hal-hal yang sudah bisa dipersiapkan dari sekarang. Berbicara tentang kematian bukan hal yang tabu buat kami. Dan saya sering bilang ke dia, “siapapun nanti yang mati duluan, saling tunggu ya di suatu tempat. Supaya kita tetap saling bergandengan tangan di sana dan tetap jatuh cinta meskipun tidak di dunia lagi.”

Selain itu, hal menarik lainnya yang selalu kami bahas adalah tentang kemana kita setelah mati. Bukannya tidak percaya tentang hal-hal yang sudah dituliskan dalam kitab suci agama saya, tapi saya masih merasa belum dapat gambarannya. Masih absurd menurut saya. Kami mempunyai pendapat yang berbeda tentang kehidupan setelah mati. Saya mempunyai pendapat yang saya sendiri masih belum sreg 100%, sedangkan suami mempunyai pendapat dari hasil pemikiran dan penelusurannya. Saya tidak berbicara tentang kesangsian akan ajaran agama sendiri, hanya saya sedang dalam proses pencarian. Salah satunya adalah : benarkah nantinya ada surga dan neraka? Apakah kita beribadah hanya untuk mengharapkan surga supaya tidak masuk ke neraka? bagaimana kalau ternyata surga dan neraka itu tidak ada, apakah kita tetap beribadah? kenapa beribadah tidak hanya dengan tujuan berucap syukur? masih banyak pertanyaan yang bergaung di kepala dan saya selalu haus ilmu untuk mencari jawabannya termasuk kemana kita setelah mati nanti.

Membicarakan dan mengingat tentang kematian membuat saya jadi selalu menghargai setiap detik kehidupan. Selalu bilang tentang saya sangat sayang dan cinta kepada orang-orang yang saya cintai, meminta maaf sesegera mungkin jika melakukan kesalahan, berterimakasih sebanyak mungkin akan banyak hal, berusaha dan belajar untuk tidak selalu mendongakkan kepala. Mengutip apa yang Tulus bilang, “kita tak pernah tahu berapa lama kita diberi waktu.” Kalau kata Bude saya, “hidup itu seperti pagi dan malam. Ketika kita tertidur saat malam, belum tentu kita bangun lagi saat pagi. Jadi sebelum tidur malam, selesaikan apa yang harus diselesaikan.”

Sebenarnya ngeri-ngeri sedap sih menuliskan tentang kematian di blog, apalagi mengangkat topik ini diawal minggu. Buat saya membicarakan atau menuliskan tentang kematian itu tidak masalah karena yang namanya mati itu pasti.

Kalau kalian, apakah pembicaraan tentang kematian itu tabu atau hal yang dihindari? Pernah membicarakan tentang kematian dengan pasangan atau orang terdekat? kalian ingin ketika sudah mati nanti orang mengingat kalian seperti apa? dan satu pertanyaan lagi, diluar apa yang sudah tertera dalam kitab suci, menurut kalian sendiri : kemana kita setelah mati? Pertanyaannya banyak ya, hanya ingin tahu saja persepsi tentang kematian.

Selamat mengawali minggu dengan kebahagiaan

-Nootdorp, 18 Maret 2018-

Kompetisi Penderitaan

A : Pas pembukaan 5, aku sudah ga kuat banget. Rasanya pengen dadah-dadah ke kamera menyerah. Padahal itu sudah 8 jam, stuck ga nambah.

B : Pembukaan 5 sih ga ada apa-apanya ya. Ga seberapa itu. Aku pas menuju ke pembukaan 9 baru tuh mulesnya ga kira-kira. Pas aku pembukaan ke 5 masih bisa akrobat segala. Pas pembukaan 9 sampai 5 jam tapi masih kuat ngeden.


A : Kerjaan kok gini-gini amat ya. Sudahlah gaji ga seberapa, bos galak, eh kolega di kantor pada sikut-sikutan pula.

B : Masih untung lho itu. Aku sudahlah gaji pas-pasan, musti biayain adik-adik sekolah pula dan ada tanggungan kredit rumah. Ngos-ngosan banget deh tiap bulan


A : Setelah melahirkan, aku sempat kena baby blues. Duh, ga enak banget ya rasanya. Gelap dan sedih berkepanjangan. Kira-kira sampai sebulanan kayak gitu.

B : Masih mending itu sebulan. Aku dulu sampai berbulan-bulan dan lebih parah dari itu. 


A : Tetanggaku ini lho, setiap siang hari muter lagu dangdut kenceng sekali. Ditegur berkali-kali kok ya tetep aja gitu. Aku yang sakit kepala jadi makin parah aja ini karena ga bisa tidur. Surem banget deh punya tetangga kayak gitu.

B : Dulu sebelum aku pindah ke rumah yang sekarang, tetanggaku muter lagu rock tengah malam kenceng banget. Aku di kantor sampai sering ketiduran gara-gara kalau malam ga nyenyak tidur denger lagu-lagu itu


A : Anakku ini lho kenapa ya umur 2 tahun masih belum bisa ngucapin sepatah katapun dengan jelas. Aku kan jadi gelisah gini. Dia cuma bisa ngedumel ga jelas gitu anaknya.

B : Anakku hampir 2.5 tahun ngomong masih belum bisa, jalan pun masih belum PD. Masih mending itu anakmu.


Dan daftar pun masih panjang.

Merasa seperti pernah dalam salah satu dari contoh perbincangan di atas? pernah menjadi A atau pernah menjadi B? Saya pernah menjadi kedua duanya. Pernah secara sadar maupun tidak sadar berkompetisi dalam penderitaan. Padahal lawan bicara inginnya mencurahkan isi hati, hanya ingin didengarkan, eh malah saya menimpali dengan kalimat yang bukannya menghibur atau menenangkan, malah membuat kalimat yang seolah-olah keadaannya tidak ada apa-apanya dibandingkan keadaan saya. Seakan saya ingin menegaskan bahwa dia harus bersyukur karena keadaan saya lebih terpuruk dibandingkan dia. Padahal yang namanya keadaan sedih atau sedang tidak beruntung, tidak ada yang bisa mengatakan bahwa siapapun lebih beruntung.

Dan ketika saya ingin mencurahkan isi hati karena sedih atau gelisah akan suatu hal, eh malah ditanggapi dan ditimpali bahwa penderitaan saya tidak ada seujung kuku dari apa yang pernah atau yang sedang dialami lawan bicara. Padahal saya hanya ingin didengarkan, bukan ingin mendengarkan perbandingan.

Semakin bertambahnya usia, saya semakin lebih belajar untuk mendengarkan, bahkan sampai sekarang dan sampai kapanpun. Tidak semua yang bercerita butuh nasihat, tidak semua yang berkeluh kesah butuh perbandingan, tidak semua yang bersedih butuh dihibur. Saya perlu banyak belajar untuk mendengarkan. Ketika mereka butuh tanggapan, saya akan menanggapi sesuai dengan kondisi. Sebisa mungkin tidak akan menasehati jika memang tidak diminta. Menahan diri untuk tidak cepat-cepat menimpali. Mendengarkan jauh lebih baik.

Setiap orang punya perjuangan masing-masing, tidak perlu berkompetisi dalam penderitaan.

Punya cerita seputar pengalaman di posisi A? atau di posisi B? atau keduanya? Gimana perasaanmu?

-Nootdorp, 12 Maret 2018-

Pernah Tirus

Tadi pagi sambil sarapan, sebelum kehebohan sehari-hari di rumah dimulai, saya melihat-lihat foto lama. Niatnya mencari foto jaman kuliah 3-4 tahun lalu. Saya sedang rindu dengan teman-teman kuliah, dengan mereka tempat saya berbagi canda tawa getir pahit jatuh bangun menyelesaikan perjuangan 2.5 tahun (mustinya 2 tahun, saya yang molor 0.5 tahun). Sudah tahu namanya kampus perjuangan, masih saja kecemplung di sana sampai 3 kali. Begitu melihat beberapa foto dengan mereka, tiba-tiba saya tergelak sendiri sambil mbatin, ‚Äúpernah tirus ya.‚ÄĚ Setelahnya saya membahas tentang ‚Äúpernah tirus‚ÄĚ ini dengan sahabat-sahabat saya di grup wa. Kami sampai menarik waktu kebelakang, saat pertama bertemu di kampus 19 tahun lalu. Semuanya sama-sama kurus dan pastinya juga tirus. Saat masalah terbesar dalam hidup hanya berputar pada kalkulus dan seputar mau makan apa akhir bulan saat uang mulai menipis. Maklum, anak kosan. Saking kurus dan tirusnya kami, sampai ada julukan kami sama-sama punya ‚Äúwadah sabun‚ÄĚ *mudah-mudahan ngerti ya istilah ini 😅 tapi saat itu, badan kurus dan pipi tirus yang saya miliki sebenarnya bukan berat badan ideal. Terlalu kurus. 

Badan saya ini sebenarnya tidak rewel. Mau naik atau turun berat badan bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Tidak pernah susah. Seperti jungkat jungkit. Malah lebih gampang turun daripada naiknya. Tapi itu dulu, sebelum usia 33 tahun. Setelah melewati usia tersebut, untuk membuat berat badan ideal harus dengan kerja keras. Bukan hanya mengatur pola makan tetapi juga olahraga. 

Saya selalu mengatakan berkali-kali bahwa saya tidak pernah percaya dengan yang namanya hasil yang instan tanpa berproses. Mau berat badan yang ideal, ya olahraga juga dong bukan hanya mengandalkan mengatur pola makan. Olahraga di sini jangan dibayangkan harus selalu gerak badan yang ‚Äúhardcore‚ÄĚ ya. Hardcore ini istilah yang saya buat sendiri ya untuk menyebut olahraga yang saya geluti dulu seperti Karate, Lari 10km-an, atau renang. Badan bergerak mengerjakan pekerjaan rumah seperti ngepel rumah manual merangkak, bersih-bersih taman, menyapu, bersih-bersih naik turun loteng rumah 3 lantai. Semuanya itu juga bisa disebut olahraga karena meng-olah-kan raga. Jalan kaki, naik sepeda dengan jarak tertentu juga termasuk olahraga. Yang penting badan gerak. Yang saya sebutkan tadi adalah jenis gerak badan yang saya lakukan setahun terakhir sejak tidak aktif lari.

Ok, kembali ke pembahasan pernah tirus. Dua anggota badan yang bisa jadi tolok ukur kalau badan saya tambah berisi adalah pantat dan pipi. Tidak perlu menimbang, kalau pantat sudah mulai agak semok atau pipi mulai melebar, tandanya berat badan saya sedang naik. Oh iya, perlu digaris bawahi yang saya maksud berat badan naik ini bukan massa ototnya bertambah ya, tapi benar-benar lemak. Karena sewaktu dulu saya rajin olahraga, berat badan malah naik karena larinya ke otot dan secara penampakan tetap sama. Berisi tapi padat. Nah ini yang saya bilang berat badan ideal. Sedangkan saat ini berat saya sedang tidak ideal karena lemaknya yang bertambah bukan otot. Makanya jadi melebar.

Terhitung sejak bekerja sampai saat ini, transformasi BB saya angka depannya pernah di angka 4, 5, bahkan 6. Jadi BB saya pernah di angka 40an kg, 50an kg, bahkan 60an kg. Kalau sekarang sih dikisaran 50an kg (yang kalau tidak direm bisa tembus ke 60kg😅). Walaupun saat ini bukan BB ideal, tapi ya sudahlah, sedang waktunya saja. Yang penting setiap hari badan saya selalu bergerak. Setidaknya lemak-lemaknya tiap hari ada yang luruh, meskipun langsung tergantikan dengan lemak-lemak yang baru *haha lha piye karepe *maklum, lagi banyak makan. 

Melihat transformasi pipi yang pernah tirus sampai saat ini pipi yang mengembang seperti diberi fermipan dan baking soda, membuat saya tetap tersenyum bahagia karena bisa menertawakan diri sendiri dengan transformasi tersebut. Seperti halnya tidak ada yang abadi di dunia ini, saya juga percaya dan yakin kalau pipi tembem ini juga tidak akan abadi 😅. Suatu saat akan kembali tirus, nanti pada saat yang tepat *halah, bahasaku ndakik-ndakik 😅

Kalau buat banyak orang pembahasan BB ini adalah hal yang tabu dan sensitif, buat saya tidak. Seperti juga saat membahas umur. Memang sekarang saya sedang semok-semoknya, saat beberapa tahun lagi menuju umur 40 tahun (Insya Allah). Mudah-mudahan tahun depan mulai menyusut.

Ada yang mau berbagi cerita tentang transformasi berat badan? Atau pernah tirus? Monggo lho dipersilahkan.

Selingan : saya tidak bisa menahan senyum setiap ingat selorohan bahwa kesuksesan lelaki setelah lulus kuliah bisa dilihat dari perubahan lingkar pinggangnya.

-Nootdorp, 7 Maret 2018-

Berakhir Pekan di M√ľnster – Jerman

M√ľnster terletak di Jerman bagian utara. Selain dikenal sebagai kota sepeda karena populasi sepeda di kota ini yang banyak, M√ľnster juga dihuni oleh banyak pelajar, sekitar 40 ribu karena ada universitas besar di sini. Meskipun pada perang dunia ke dua kota ini rusak parah terkena bom, secara bertahap pembangunan di kota ini membuat M√ľnster terlihat sebagai kota modern tetapi masih menyisakan beberapa bangunan bersejarah.

 

Munster
Munster

Munster
Munster
Dua minggu lalu, setelah dengan rencana yang mendadak (seperti biasa), kami memutuskan untuk berakhir pekan di M√ľnster, Jerman. Kenapa memutuskan, karena sebelumnya ada beberapa pilihan tempat. Awalnya ingin ke Texel, ganti lagi ke pulau lainnya dekat Texel. Dua duanya sama mahalnya karena harus membayar biaya kapal buat menyeberang dan hotel di sana pun mahal. Padahal kan kami hanya ingin liburan akhir pekan saja. Anggap saja liburan musim dingin. Biasanya kami menginap di Airbnb, tapi nampaknya kedepan kami akan lebih sering menginap di hotel.  Lalu tercetus ide dari saya, ke M√ľnster saja. Selain letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kami tinggal, juga kotanya nampak menyenangkan, tidak terlalu ramai. Kami berangkat jumat siang setelah dari Gemeente untuk membuat kartu identitas lalu belanja mingguan. Sampai M√ľnster sudah jam 7 malam. Sebelumnya kami mampir dulu ke Restoran Yunani untuk makan malam. Baru pertama ini saya makan di Restoran Yunani, enak juga ya rasa makanannya.

Munster
Munster

Munster
Munster
Hotel yang kami tempati letaknya persis di pusat kota, lebih tepatnya di daerah Prinzipalmarkt, pusat perbelanjaan di M√ľnster. Setelah berbenah sana sini, jam 8 malam kami tidur. Memang kali ini liburannya santai sekali, dan mengingat faktor umur juga, jadi jam 8 malam sudah tidur hahaha, biasanya jam 10 kami baru tidur.

Munster
Munster

Munster
Munster

Munster
Munster
Paginya setelah sarapan di hotel, kami langsung bergegas menuju beberapa tempat. Masih pagi sebenarnya, jam 9 pagi dan suhu juga hanya 3 derajat celcius. Dingin tidak karuan. Ketika saya melihat prakiraan cuaca di tempat kami tinggal, matahari bersinar dan suhu diatas 5 derajat. Duh, langsung pengen pulang cari yang hangat :D. Tapi seperti pepatah bilang “There is no such thing as bad weather, only bad clothes.” Kami berjalan santai saja, tidak melihat peta sama sekali. Karena dari informasi yang kami dapatkan, tempat-tempat yang menarik tidak jauh letaknya dari hotel. Persinggahan pertama kami adalah pasar besar yang ada setiap hari rabu dan sabtu. Pasar yang terkenal dengan Wochenmarkt M√ľnster (M√ľnster‚Äôs Weekly Market) terletak di Domplatz, buka sejak jam 7 pagi sampai setengah tiga sore. Wah, kami beruntung bisa datang ke pasar besar ini. Entah kenapa, saya itu memang selalu senang mengunjungi pasar, apalagi sejak di Belanda. Satu yang pasti, pasarnya tidak becek dan kotor.

Munster
Munster

Munster
Munster
Selain itu kami juga mampir ke Cathedral. Setelah berkeliling selama tiga jam, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Istirahat siang. Selama kami bepergian, baru kali ini lho ada istirahat siang dan kembali ke hotel. Benar-benar liburan yang santai sekali haha. Sekitar jam 3 sore, kami kembali melanjutkan jalan-jalan. Seperti yang telah saya tuliskan di awal, M√ľnster adalah kota sepeda. Jadi tidak heran kalau saya melihat kota ini seperti kota-kota di Belanda. Tidak semua kota di Jerman konturnya bisa dilalui sepeda, berbeda dengan di Belanda yang datar.

Munster
Munster
Saya mempunyai teman, kenalan dan tahu beberapa blogger yang tinggal di Jerman. Dari mereka saya lumayan tahu kalau orang Jerman sangat sensitif dengan orang yang membawa kamera, maksudnya memotret tanpa seijin mereka. Karenanya saya sangat hati-hati sekali kalau memotret. Sebisa mungkin pas lagi sepi atau dari jarak jauh. Takut kena tegur :D. Dan karena alasan ini juga saya tidak terlalu banyak memotret.

Numpang mejeng
Numpang mejeng

Kami kembali ke Belanda jam 9 pagi hari minggu. Sesampainya di Belanda, seperti biasa entah ini dinamakan ritual atau apa, kalau kami dari berpergian dan kembali ke Belanda, tempat yang pertama dituju adalah Pempek Elysha. Ini bukan promosi ya haha tapi saya selalu mengandalkan tempat ini karena setiap liburan kami tidak punya stok makanan di rumah jadi langsung ke tempat ini untuk makan di tempat atau bungkus. Selain itu tempatnya juga dekat dengan rumah, karenanya andalan banget deh, penolong saat lapar :D.

Kami menyebut liburan akhir pekan musim dingin ini adalah test drive sebelum liburan sebenarnya akan datang. Akan ke mana kami? Tunggu saja ceritanya nanti di blog ini *sok ada yang nunggu ceritanya.

 

-Nootdorp, 4 Maret 2018-