Selamat Menjalankan Puasa Ramadan

Marble cake with dark chocolate icing

… dan rangkaian ibadahnya. Semoga sebulan kedepan selalu sehat, diberikan kekuatan untuk khusyuk beribadah, lancar semuanya. Semoga semua amalan yang kita lakukan dengan maksimal dan ikhlas, diterima oleh Allah. Semoga Ramadan tahun ini penuh dengan berkah dan segala doa diijabah.

Ramadan tahun ini di Belanda durasi diawal selama 16 jam (Subuh jam setengah empat pagi, maghrib jam setengah 9 malam). Nanti mendekati Idul Fitri menjadi 17.5 jam (Subuh jam 4 pagi, Maghrib jam setengah 10 malam). Sudah pernah merasakan Ramadan dengan durasi 19 jam saat musim panas tahun 2015, jadi kayaknya pas durasi 16 jam begini, bisa lah. Mudah – mudahan ya *ga mau congkak haha. Tahun lalu lantjar djaya.

Ramadan pas musim semi benar – benar ideal buat saya. Cuacanya afdol sekali (ya kesampingan cuaca seminggu belakangan yang amburadul), sejuk menuju semriwing dingin. Jadi tidak terlalu terasa meskipun dibuat beraktifitas yang lumayan banyak.

Marble cake with dark chocolate icing
Marble cake with dark chocolate icing

Empat bulan terakhir saya mulai latihan berpuasa supaya badan tidak kaget pas Ramadan tiba. Mulai puasa daud, puasa bayar hutang, sampai puasa senin kamis. Juga Intermitten Fasting (IF) yang awalnya saya coba 17 jam lalu saya tingkatkan jadi 20 jam. Kalau IF ini dalam rangka menurunkan berat badan sih sebenarnya. Cuma kalau IF kan masih boleh minum, sedangkan kalau puasa daud, senin kamis, dan Ramadan tidak boleh minum. Alhamdulillah dari latihan puasa dan IF, jaga pola makan, juga olahraga (nyaris) setiap hari, berat badan saya secara perlahan turun kilogramnya. Perlahan namun pasti. Alon – alon asal sehat jiwa raga.

Semangat ya semuanya. Mohon maaf untuk segala postingan yang tidak berkenan di hati.

-12 April 2021-

Empat Musim Dalam Satu Hari di Belanda

Musim semi, bunag - bunga cantik mulai bermekaran

Saat baru pindah ke Belanda, guru les bahasa Belanda saya bilang kalau mau basa basi dengan orang Belanda, gampang. Cukup obrolkan saja tentang cuaca hari ini. Mereka akan sangat bersemangat bercerita. Dan topik kedua adalah berbincang tentang rencana liburan atau mereka sudah pernah libur ke mana saja. Beberapa lama kemudian, saya membuktikan sendiri. Kalau disapa di kendaraan umum, mereka pasti ngomong tentang cuaca. Semisal : cuaca hari ini cerah ya. Atau : prakiran cuaca hari ini bilang akan turun hujan deras. Jadi saya cepat – cepat pulang ke rumah. Atau : Hey, minggu depan cuaca bagus, kamu ada rencana ke mana? Jadi buat kalian yang ada rencana liburan ke Belanda atau tinggal di Belanda, ga usah khawatir akan ditanya : Sudah punya anak? Tinggal sama siapa di sini? Kapan nambah anak? ya pertanyaan – pertanyaan lazim pas lebaran tiba. Ga usah kawatir, kalian tidak akan mendapatkan rentetan pertanyaan seperti itu (kecuali ketemunya dengan orang Indonesia yang masih berjiwa Indonesia sekali).

Saya, akhirnya ketularan kebiasaan itu. Setiap disapa orang, biar tidak terjadi situasi yang canggung, akhirnya senjata pamungkas obrolan tentang cuaca pun dikeluarkan. Sebenarnya basi sih, tapi saya jadi terikut terobsesi dengan cuaca. Bahkan menyimak analisa tentang cuaca ekstrem tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya atau tahun – tahun yang lama sudah lewat. Menurut saya, menarik menyimak analisa mendalam mereka tentang cuaca. Apalagi cuaca di Belanda ini sangat cepat berubah dalam satu hari.

Musim semi, bunga – bunga cantik mulai mekar

Dulu saya sering mendengar, cuaca di Belanda bisa berbeda dalam satu hari. Bisa merasakan 4 musim dihari yang sama, itu sudah biasa. Saya membuktikan bagian yang ini. Sering dalam satu hari : hujan es lalu tak berapa lama hujan air biasa, disusul matahari bersinar cerah dengan langit biru dan ditutup dengan angin yang super kencang. Sudah biasa seperti itu. Jadi saya sudah tidak kaget. Atau misalkan saat Belanda bersalju dan sungai serta danau serentak beku, minggu depannya langsung hangat. Seperti tidak ada sisa – sisa kenangan saat salju turun deras. Kali inipun seperti itu, malah lebih ekstrem lagi.

Bunga di halaman belakang. Semoga tidak mati kena salju.
Bunga di halaman belakang. Semoga tidak mati kena salju.

Jadi, seminggu lalu cuaca di Belanda sedang bagus. Hangat. Benar – benar nikmat untuk leyeh – leyeh di luar rumah. Suhu sampai 26 derajat celcius. Sempurna lah untuk musim semi. Cuaca seperti itu, kami nikmati nyaris selama seminggu. Pas banget selama seminggu tersebut, kami liburan ke provinsi sebelah. Ini akan saya ceritakan dipostingan terpisah. Pulang liburan, saya langsung sibuk berbenah halaman depan dan belakang karena ditinggal seminggu saja kok rumput – rumput liar sudah tumbuh dan bunga – bunga mulai mekar. Saya berencana, minggu depannya akan saya tambahi beberapa tanaman di halaman rumah kami. Jadi sebelumnya dibersihkan terlebih dahulu.

Tunas bayi pohon pisang yan mulai tumbuh. Sempat mati pas salju datang

Minggu malam, saat kami melihat siaran berita, prakiraan cuaca mengatakan kalau mulai senin salju akan turun dan suhu tidak lebih dari 4 derajat celcius. Ini sudah April lho, suhu kok ya ngedrop lagi. Wah saya kaget. Cepat – cepat saya ke luar rumah untuk menutup bayi pohon pisang yang sempat mati saat salju datang, lalu sekarang tumbuh tunas baru. Kalau terkena salju, khawatir mati suri lagi. Demi bisa melihat pohon pisang tumbuh di halaman ya kan. Tapi kekhawatiran saya bukan itu saja. Kalau salju betul akan datang, bunga – bunga yang sudah mekar ini akan bertahan atau bagaimana ini nasibnya. Lagian ini sudah April, kok ya masih saja salju turun. Rasanya capek juga bergelut dengan dingin selama berbulan lamanya.

Senin kemaren, pagi hari saya melihat hujan turun. Tak berapa lama kemudian salju lalu disusul dengan hujan es. Lalu matahari bersinar terang dan langit biru cantik. Setelahnya langit menggelap, lalu hujan es lagi. Disusul angin kencang, salju turun lagi. Matahari nongol lagi, langit kembali biru cerah. Begitu seterusnya sampai menjelang malam. Saat malam hari saya tidak terlalu memperhatikan apakah hujan es dan salju masih turun.

Hari ini, selasa, cuaca lebih ekstrem. Pagi hari saya harus ke luar rumah. Jadi selama 2 jam di luar rumah, saya langsung merasakan yang namanya hujan air, salju, hujan es, angin kencang, matahari gonjreng bersinar terang, langit biru lalu berubah jadi langit gelap. Rasa meriang ya dan butuh makan bakso plus gorengan berlimpah minyak jelantah *halah, alasan! Cuaca hari ini benar – benar cepat sekali berubah. Saya membayangkan seperti time-lapse 4 musim tapi terjadi dalam satu hari. Bahkan salju yang turun lebih tebal dari kemaren dan es yang turun pun lebih besar dibandingkan kemaren. Angin pun tidak mau kalah mau unjuk diri, sudah seperti badai saking kencangnya. Bahkan saking anehnya, hujan es dan salju beberapa kali turun dalam waktu bersamaan. Jadi dua hari ini, saya merasakan apa yang orang Belanda bilang, 4 musim terjadi dalam satu hari. Ini malah dua hari berturut. Entah esok hari masih berlanjut atau tidak.

Sebesar ini lho esnya. Sakit ini kena kepala.

Mengalami dan melihat sendiri hal tersebut, membuat saya khawatir. Ini rasanya sudah tidak biasa. Khawatir apa yang akan terjadi dengan bumi. Apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Khawatir dengan alam yang mulai berubah. Bahkan saat menulis ini dimalam hari, saya masih mendengar suara kencang hujan es turun di luar dan suara geluduk yang keras.. Ada rasa takut dan khawatir karena ini rasanya sudah tidak biasa. Salju di bulan April? rasanya sudah tidak biasa. Alam sedang dalam kondisi tidak baik, saya tahu itu.

Semoga esok hari cuaca kembali normal meskipun suhu diperkirakan kembali minus beberapa hari kedepan. Ingin rasanya kembali merasakan suhu musim semi. Bukan suhu musim dingin di musim semi. Saya rindu cuaca hangat.

Stay safe semuanya, sehat – sehat selalu dan semoga alam kembali baik – baik saja.

*saat tulisan ini siap diluncurkan, di luar lanjut salju turun lebat.

-6 April 2021-

Buah Tangan Setelah Bepergian

Museum De Valk - Leiden

Kalau ada pembicaraan tentang bagaimana terganggunya mereka yang sedang bepergian lalu diminta untuk membawakan buah tangan alias oleh – oleh saat kembali, saya tidak bisa ikut nimbrung karena tidak terlalu punya pengalaman diminta-in oleh – oleh setelah pulang bepergian. Kadang saya suka terperangah sendiri jika mendengar atau membaca yang meminta oleh – oleh seringnya tanpa sungkan sebut ini itu padahal jelas tidak ikutan nyumbang beli tiket pihak yang sedang bepergian. Kok ya ga ada rasa malu ya sampai minta sedemikian rupa, tanpa bertanya dulu yang diminta-in oleh – oleh ada uang lebih tidak, ada ruang lebih tidak untuk menaruh barang yang diminta. Meminta oleh – oleh itu kan artinya minta gratisan ya. Minta gratisan sampai menyebutkan spesifik barang yang diminta, ehmmm kok ya rasanya gimana gitu, ga nduwe isin.

Atau kalau si pihak yang bepergian memang dengan senang hati memberikan sesuatu lalu diberikan komentar oleh si penerima semacam : duh liburan ke luar negeri kok begini aja nih oleh – olehnya, coklat seperti ini sih banyak di supermarket sini. Atau komen seperti ini : Tugas kerja kan dibayarin kantor tiketnya, mbok ya oleh – olehnya jangan gantungan kunci donk, agak mahalan dikit. Atau komentar dari keluarga : liburan ke luar negeri bisa tapi kok ngasih oleh – oleh keluarga cuma tempelan kulkas, buat apaan nih. Sakit hati ya rasanya kalau sampai diberikan komentar seperti itu. Saya yang tidak pernah mengalami hanya mendengar atau membaca saja, rasanya krenyes – krenyes di hati. Kok sampai tega ngomong seperti itu padahal sudah diberikan sesuatu sebagai buah tangan. Saat membeli, orang yang bepergian pasti menyisakan budget dan waktu khusus untuk memilih yang cocok yang mana sebagai oleh – oleh. Artinya yang diberikan buah tangan, sudah ada di pikiran si pemberi. Kok ya sampai hati memberikan komentar seperti itu.

MINIM PENGALAMAN DIMINTA BUAH TANGAN

Kesukaan bepergian saya sepertinya turunan dari Ibuk yang memang suka jalan – jalan sendiri dari ke luar kota sampai luar pulau. Bapak saya tidak terlalu suka liburan jauh. Kalaupun liburan, biasanya yang bisa dijangkau oleh mobil atau kendaraan umum yang jarak tempuhnya tidak terlalu lama. Pernah sih Bapak beberapa kali ke Jakarta dari kota kami menyetir sendiri dengan seluruh keluarga. Waktu itu, bisa sampai 24 jam perjalanan diselingi beberapa kali berhenti untuk istirahat. Rasanya, itu jarak tempuh yang paling lama yang pernah Bapak lakukan. Ibuk, seingat saya kalau sudah sampai rumah dari bepergian, membawa oleh – oleh ala kadarnya. Seringnya makanan. Meskipun ala kadarnya menurut Ibuk, kami yang di rumah tentu saja senang apapun yang dibawa oleh Ibuk. Tidak membawa sesuatu pun, kami tidak pernah menanyakan.

Seingat saya, para tetangga kami pun tidak pernah ada yang menanyakan perihal oleh – oleh jika saya pulang ke rumah sejak pertama kali ngekos umur 15 tahun. Bahkan saat saya sudah mulai bekerja, mereka tetap tidak pernah meminta oleh – oleh padahal tahu pekerjaan saya isinya wira wiri lintas provinsi. Mereka lebih tertarik menanyakan kabar, mendengarkan cerita saya kalau pergi ke kota di provinsi nun jauh di sana, bahkan lebih tertarik bertanya sebenarnya pekerjaan saya itu ngapain saja.

Bagaimana dengan keluarga? Lah ya tentu saja mereka tidak peduli saya ini mau membawa oleh – oleh atau tidak. Setiap saya bepergian entah itu untuk urusan kantor atau liburan pribadi, saya selalu pamitan sama Bapak dan Ibu. Sekedar bilang kalau saya akan ke luar kota atau ke luar negeri. Mereka selalu berpesan hati – hati jaga diri dan mendoakan semoga selamat dari berangkat sampai pulang lagi. Bahkan Bapak selalu mengingatkan untuk tidak usah membawakan barang atau makanan apapun karena takut tidak bisa dimakan (karena beda selera) atau barangnya tidak cocok untuk mereka. Adik – adik saya pun sama, cuek saja perkara oleh – oleh. Dibawakan ya dimakan, tidak ada pun tidak pernah bertanya. Mereka lebih senang kalau saya pulang ke rumah lalu kami makan bersama satu keluarga, menyantap masakan Ibuk sambil mendengarkan saya bercerita seputar liburan atau tugas kantor di luar kota atau luar negeri.

Bagaimana dengan teman kantor dan teman – teman lainnya? Sama saja, mereka juga tidak pernah cerewet nitip ini dan itu. Kalau teman kantor, saya dengan senang hati selalu membawakan makanan sebagai oleh – oleh karena mereka pun berlaku yang sama jika sedang tugas kantor ke luar kota atau luar negeri. Sebagai informasi, frekuensi bepergian saya untuk urusan kantor dalam sebulan bisa sampai 3 minggu. Jadi efektif saya di kantor selama sebulan, paling lama 1,5 minggu saja. Kalau saya sudah masuk kantor, rasanya benar – benar melepas kangen dengan banyak bercerita sambil makan oleh – oleh yang saya bawakan untuk teman – teman satu ruangan. Nah, mereka tidak pernah komen : Den, loe kok cuma bawa makanan aja sih, atau Den, bawa apa gitu kek kalau dari kota A, jangan makanan mulu. Komen seperti itu tidak pernah saya dengar kalau membawakan makanan setelah dinas luar kantor. Makanan adalah pemersatu kubikel.

Teman – teman yang lainnya pun sama, rasanya saya tidak pernah ingat diminta-in oleh – oleh jika mereka tau saya ada urusan kerja di kota lain atau liburan ke negara lain. Mereka lebih tertarik mendengar pengalaman saya selama liburan atau tugas kantor.

MEMBELI BUAH TANGAN KARENA KEINGINAN SENDIRI BUKAN KARENA DIMINTA

Dari cerita yang saya sampaikan di atas, sudah ada bayangan ya selama ini saya nyaris tidak punya cerita bagaimana rasanya ditodong keluarga, teman, tetangga untuk membawakan oleh – oleh. Bersyukurnya, jika mereka tau saya akan bepergian, pasti akan berpesan untuk hati – hati dan mendoakan saya selamat dari berangkat sampai pulang lagi. Seingat saya, justru tidak pernah ada kata – kata untuk minta dibawakan oleh – oleh ini itu, atau nitip beli ini itu. Kalau saya sudah pulang, yang ditanyakan pertama ya kabar saya, sehat atau ada hal lainnya. Mereka antusias mendengarkan cerita saya.

Sewaktu Adik dan Ibuk di Belanda, saya bertanya mereka mau bawa oleh – oleh apa untuk dibawa ke Indonesia supaya bisa diberikan ke para tetangga atau teman – teman kerja Adik saya. Ibuk bilang tidak usah membeli banyak oleh – oleh, secukupnya saja. Toh tidak ada yang meminta. Malah Adik saya bilang kalau beli sedikit saja atau beli coklat saja, lebih berguna bisa dimakan. Sepupu yang tinggal dengan kami selama 3 bulan juga lebih tidak terlalu pusing memikirkan harus membawa apa saat pulang ke Indonesia. Dia bilang : beli aja dikit, buat syarat. Kalau ada yang protes kubilang aja “protes mulu loe, ngasih duit aja kagak” haha bener juga.

Museum De Valk - Leiden
Museum De Valk – Leiden

Tahun lalu saat kami sudah membeli tiket untuk mudik, saya mulai bertanya ke Ibuk dan saudara – saudara yang lain ingin dibawakan apa kalau saya mudik nanti. Ibuk bilang ga usah bawa apa – apa yang penting selamat semua sampai Indonesia. Sedangkan saudara yang lain malah malas – malasan jawab : ga usah lah dibawakan apa – apa, keju kami juga ga doyan. Ga usah repot bawa macam – macam, ketemu kamu saja kami sudah senang. Jadi tahun lalu saya pun tidak terlalu ribut mencari oleh – oleh. Dengan senang hati saya membeli seperlunya juga, semampu saya dan ya tidak memaksakan diri membawa banyak lha wong yang di Indonesia saja tidak minta. Kalau tidak diminta oleh – oleh seperti itu, saya malah dengan senang hati membelikan karena mereka akan sangat menghargai apapun yang saya beri. Buat mereka, saya sampai sana dalam keadaan selamat, itu jauh lebih penting. Oleh – olehnya sudah siap, lah mudiknya ditunda. Jadi oleh -olehnya mangkrak di rumah sampai saat ini.

Keluarga di Belanda juga begitu, khususnya Mama mertua. Kalau liburan, kami selalu bertanya ingin dibawakan apa. Mama sering bilang jangan sampai membeli apapun. Beliau lebih menantikan cerita kami selama liburan dan lebih antusias untuk melihat semua foto dan video yang kami buat. Walaupun begitu, sesekali kami masih membelikan seperti coklat sebagai buah tangan yang seringnya berujung kena omel karena sudah dibilang untuk tidak membawakan apapun, tapi kami tetap ngeyel membelikan. Tanda cinta kami buat Mama. Untuk tetangga yang kami titipi rumah selama liburan, seringnya kami berikan buah tangan. Biasanya makanan khas dari tempat yang kami datangi dan juga kiriman kartupos dari sana.

Sebenarnya saya senang memberikan satu benda sebagai buah tangan yaitu, mengirimkan kartupos. Untuk beberapa orang teman atau keluarga, kami senang mengirimkan kartupos dari tempat tujuan kami berlibur (atau tugas kerja). Mereka selalu antusias menerima kartupos yang kami kirimkan. Untuk kartupos ini, kami juga selalu mengirimkan ke alamat rumah kami sendiri. Jadi saat sampai ke rumah, seringnya kartupos sudah sampai. Jadi kami membaca sendiri kartupos tersebut. Buah tangan kami untuk kami selama liburan. Menyenangkan membacanya.

Bersyukur rasanya selama ini ternyata saya tidak pernah ada beban apapun untuk memberikan buah tangan jika sedang bepergian atau tugas kantor. Kalaupun sampai saya membawa, ya itu keinginan sendiri yang selalu mendapatkan ucapan terima kasih dan tidak pernah dikomen macam – macam (baca : dinyinyirin). Apapun yang saya bawa, pasti dengan senang hati diterima. Dititipi untuk minta dibelikan ini itu, juga rasanya tidak pernah.

Ada salah satu teman kantor dulu saat liburan ke Belanda lalu membawa oleh – oleh coklat ke kantor. Departemen sebelah ada yang komen : lah kalau coklat aja mah ada di sini, ngapain jauh – jauh ke Belanda. Dijawab oleh dia : Loe kan belum pernah ke Belanda, makan nih coklat biar tahu bedanya coklat Indonesia sama coklat Belanda tuh apa, biar loe ga kebanyakan komen macam ini. Masih untung loe gue beri.

Harusnya memang kalau ada orang komen macam – macam kalau diberi oleh – oleh, langsung aja kasih komen balik yang pedas, Atau ya tandain, kedepannya sekalian ga usah dikasih lagi. Atau kitanya sendiri yang ga usah repot – repot membelikan oleh – oleh. Orang banyak mengedepankan ga enak hati sih ya kalau tidak membawa apa – apa setelah bepergian. Padahal prinsip oleh – oleh kan sukarela. Cuma memang ada tipe orang yang kalau tidak bawa apa – apa rasanya sungkan. Padahal ya suka – suka dia aja ya mau bawa apa tidak. Toh kalau ada yang sampai komen tidak enak tinggal jawab aja apa adanya. Misal : ga ada duit lebih buat beli oleh – oleh. Atau : loe sih ga ngasih duit ke gw, jadi ya gw ga beli apa – apa buat loe. Atau ya jawab saja : males belinya. Singkat, padat, beres.

Sekali lagi, buah tangan setelah bepergian itu sifatnya sukarela. Jadi jangan sampai dijadikan beban. Liburan sampai beban mikiri oleh – oleh kok ya jadi repot sendiri. Atau mau mudik sampai repot berburu oleh – oleh sampai memaksakan diri melebihi kapasitas uang atau ruang yang ada. Memang ada yang kalau mudik membawa banyak sekali oleh – oleh untuk semua isi kampung. Salah satu kebanggaan karena satu indikator kesuksesan merantau buat dia terpenuhi, yaitu bisa membawa oleh – oleh yang banyak kalau mudik. Entah itu memang dianya sendiri yang secara sukarela membelikan aneka macam rupa buah tangan, atau sampai menabung lama asal bisa membawa barang banyak untuk penduduk desa, tak jadi soal. Yang penting bawa oleh – oleh. Ada yang sampai tidak mudik karena uang tidak cukup membeli oleh – oleh. Daripada malu tidak membawa buah tangan untuk orang kampung, lebih baik tidak mudik. Agak memusingkan memang perihal buah tangan untuk beberapa orang.

Kalau memang diri sendiri merasa senang membawakan oleh – oleh, itu lain hal. Artinya memang sukarela dan tidak merasa terbebani.

Lain orang, lain pandangan perihal oleh – oleh. Yang penting bijak menyikapi, tidak memaksakan diri, dan seperlunya saja.

-1 April 2021-

Sampai Lupa Rasa Aslinya

Pecel Pitik, sajian khas lebaran di kampung

Sudah seringkali saya singgung di blog ini tentang rencana mudik yang ada saja tertunda setiap tahunnya. Sudah beli tiket pun ya tetap tertunda. Jadi sejak pindah ke Belanda, saya belum pernah mudik sama sekali. Tahun ini, adalah tahun ke tujuh saya jadi imigran. Kangen Indonesia? ya jelas donk! Bagaimanapun juga, seburuk – buruknya Indonesia, itulah tempat saya lahir dan besar. Keluarga besar di sana, sahabat dan teman – teman dekat juga di sana, tempat saya meniti karier juga di sana, jatuh bangun dalam percintaan (halah, kok yo disebut barang), menempuh pendidikan formal dari SD sampai S2 juga di sana. Jadi, tidak mungkin kalau saya tidak rindu Indonesia. Selain keluarga besar, teman – teman dan para sahabat, yang paling saya rindukan tentu saja makanannya.

Tahun 2019 akhir, setelah kami Haqul Yakin akan mudik tahun 2020, mulailah saya mencicil untuk membuat daftar makanan apa saja yang wajib saya makan selama mudik 3 bulan. Sebenarnya 3 bulan ini saja buat saya rasanya terlalu singkat. Mana bisa waktu sesingkat itu berkunjung ke semua saudara, apalagi untuk mencicipi segala makanan. Lha wong keluarga besar saya itu sukanya menjamu saudara yang datang. Belum lagi Ibuk, tidak mungkin tidak memasak untuk anak perempuannya ini. Saya pun sudah pesan segala makanan ke Ibu untuk dimasakkan saat kami mudik. Perut cuma sebesar ini, daftar makanannya sampai beberapa bab sendiri. Ya mana muat.

Sebenarnya untuk urusan makanan Indonesia, di Belanda ini gampang sekali mencari restoran Indonesia yang rasanya benar – benar Indonesia. Belum lagi katering rumahan. Apalagi di Den Haag ya, tinggal tunjuk dan punya duit banyak saja, tiap hari bisa makan masakan Indonesia, kalau niat. Banyak sekali restoran Indonesia dan katering rumahan di sekitaran Den Haag yang rasanya masih Indonesia. Tapi, banyak juga Restoran Indonesia yang rasa masakannya sudah menyesuaikan dengan lidah orang Belanda. Jadi sudah tidak autentik lagi (dari sudut pandang orang Indonesia). Tinggal di dekat Den Haag ini sebenarnya dimanjakan sih. Segala sesuatunya gampang kalau berhubungan dengan makanan. Untungnya, saya bisa tahan diri *soale duite ga cukup. Saya jarang njajan karena ya kalau masih bisa masak sendiri, ya saya masak. Sesekali saja palingan njajannya sambil ketemu teman.

Bahan untuk memasak makanan Indonesia pun, gampang sekali dicari di sini. Jastip juga sekarang bisa membawa segala macam yang dipesan dari Indonesia. Jadi kalau benar – benar rindu dengan masakan Indonesia yang bukan kebanyakan dijual di restoran atau katering rumahan, saya bisa memasak sendiri. Misalkan masakan khas daerah tempat saya besar. Jadi istilahnya, selama ada niat (dan uang) rindu masih bisa lah terobati dengan segala makanan Indonesia yang dijual di sini. Atau ya memasak sendiri kalau lebih ingin sesuai selera lidah saya.

LUPA RASA ASLINYA

Meskipun gampang sekali untuk tetap makan hidangan asli Indonesia, baik itu memasak sendiri, ataupun membeli, ada saja beberapa masakan yang saya mulai lupa rasa aslinya. Kalau untuk urusan Bahasa Ibu, mau berapa lamapun tinggal di luar Indonesia, mustahil bagi saya untuk lupa. Lha wong saya ngobrol dengan Ibu dan saudara di sana menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa, ya ga mungkin lah mendadak lupa. Tapi, kalau rasa makanan, ternyata setelah lebih dari 6 tahun tidak mudik, bisa membuat lidah dan otak saya agak lupa ini rasa aslinya seperti apa.

Sering kali kalau bertanya resep ke Ibuk, saya pasti bertanya : ini rasa yang dominan apa ya Buk? saya kok agak lupa. Tahun lalu, pertama kali saya masak Pecel Pitik. Ini masakan khas desa tempat Mbah. Setiap lebaran, selalu ada masakan ini. Jadi, sejak saya bisa makan pedas, ya setiap tahun saya makan pecel pitik kalau lebaran. Nah, sejak di Belanda, lebaran jelaslah tidak ada pecel pitik. Selain tidak ada yang jualan, saya juga tidak terpikir untuk membuat sendiri. Karena tahun lalu kami gagal mudik, untuk mengobati kerinduan lebaran di desa, saya bertanya ke Ibuk apa resepnya dan bagaimana cara membuatnya. Kalau di desa, para Bude dan Mbah yang biasa memasak. Saya tinggal duduk manis menyantap karena biasanya Bapak dan Ibuk sampai di desa sehari sebelum lebaran. Jelas semua masakan untuk lebaran sudah matang semua. Kalaupun saya masih ada kesempatan membantu, paling banter ya cuma bagian mengulek cabe.

Pecel Pitik, sajian khas lebaran di kampung
Pecel Pitik, sajian khas lebaran di kampung

Bertanya bumbu pecel pitik ke Ibuk juga sebenarnya salah alamat. Lha wong Ibuk tidak pernah memasak hidangan ini seumur hidup Beliau. Sama seperti saya, Ibuk hanya bagian penyantap saja. Ibuk lalu bilang akan menanyakan ke Bude bumbu dan cara memasaknya seperti apa. Setelah dituliskan lengkap dan saya bertanya lebih detail, lalu pertanyaan pamungkas saya : Buk, ini rasa yang dominan apa ya selain pedas? Saya kok ingatnya hanya rasa pedas yang menyengat. Rasa dominan yang lainnya apa ya? Saya agak lupa.

Lain waktu, saat saya membeli Rujak Cingur di warung the one and only rasa rujak cingurnya paling wenaakk se Belanda, Warung Barokah di Amsterdam. Eh ternyata mereka juga menjual Tahu Campur Lamongan. Tanpa pikir panjang, saya langsung membungkus 2 porsi. Saya pikir karena rasa rujaknya tidak mengecewakan, pasti tahu campurnya pun tidak. Yang masak sekaligus pemilik warungnya asli orang Jawa Timur. Jadi pasti terpercayalah untuk rasa, begitu pikir saya. Sesampainya di rumah, tidak sabar saya mencicipi tahu campurnya. Pas merasakan, saya sampai berpikir lama. Kok seperti ini ya rasa tahu campurnya. Seingat saya, tidak seperti yang saya rasakan saat itu. Tapi saya sendiri juga agak lupa rasa aslinya nya seperti apa.

Saya lalu berkirim pesan ke grup yang isinya orang Jatim semua. Kami cuma berempat saja, hampir bersamaan pindah ke Belanda. Saya ingin mengkonfirmasi rasa dominan tahu campur itu seperti apa. Mereka lalu tertawa. Pasalnya, di grup ini juga beberapa kali sebelumya, dari anggota lainnya yang bertanya rasa atau bentuk asli dari masakan A, B, C dsb, seperti apa. Waktu kami ngobrol tentang isi pastel, satu teman malah nanya kok pastel isinya banyak banget. Dia lupa, pastel di Indonesia kan isinya aneka rupa dari bihun, wortel, kentang, ayam atau potongan telur rebus. Ya begini kalau sama – sama tidak pernah mudik setelah di Belanda. Lalu ketika saya bertanya, kok ya akhirnya giliran lupa rasa asli masakan sampai juga pada saya. Jadi bukan tahu campurnya yang tidak enak, lidah saya saja yang lupa rasa aslinya seperti apa.

Sebenarnya lupa rasa asli beberapa makanan Indonesia, tidak hanya dua dari yang saya sebutkan di atas. Masih ada beberapa masakan atau jajanan yang saya mulai samar ingat ini rasa aslinya seperti apa. Mungkin lidah saya mulai bingung. Kalau sedang malas masak tapi ingin makan masakan Indonesia, saya sesekali membeli di toko dekat rumah. Yang masak orang Indonesia asli, tapi mayoritas rasa makanan Indonesia yang dijual sudah disesuaikan dengan lidah orang lokal. Jadi bumbunya tidak terlalu medok. Kata suami : bahkan rendang yang dijual, kalah enak rasanya dengan rendang buatanmu. Ya beginilah kalau punya suami yang lidahnya sudah terhipnotis masakan istrinya. Semua rasa makanan Indonesia di luar sana pasti dibandingkan dengan masakan istrinya. Sering saya ingatkan : sesekali ga usah komen mbanding – mbandingin dengan masakanku. Sudah dinikmati saja, meskipun menurutmu ga enak. Senang sih dipuji sama suami. Tapi kan saya juga ingin menikmati makan tanpa masak sendiri.

Jadi, lidah saya mungkin bingung. Sudah tercampur dengan rasa masakan Indonesia yang masih otentik maupun yang sudah disesuaikan dengan lidah orang lokal. Belum lagi kalau saya masak sendiri, rasanya ya tentu saja sudah saya sesuaikan dengan lidah keluarga saya. Mbuh akhire bingung sing asli rasa Indonesia iku sing endhi.

Tahu Campur Lamongan, Warung Barokah Amsterdam

Lucu juga ya, makan masakan Indonesia sejak lahir, tapi begitu jadi imigran dan lama tidak pulang, jadi ada yang terlupa beberapa makanan rasa aslinya seperti apa. Apalagi untuk makanan yang tidak biasa dijual bahkan tidak dijumpai di restoran manapun bahkan katering rumahan. Entah lupa rasa asli ini terjadi pada semua imigran yang lama tidak mudik, atau hanya pada imigran yang lidahnya agak belagu, seperti saya. Sok – sok lupa rasa masakan asli, padahal tiap hari ya makan pakai sambel terasi *jaka sembung.

-25 Maret 2021-

Kangen Ngobrol dan Ketemu Langsung

Kue Lumpur Penyambung Silaturrahmi antar Tetangga

Dua bulan lalu, Anis ke rumah untuk mengembalikan panci dan toples yang saya bawa saat acara ulang tahun di rumahnya, bulan Agustus tahun lalu. Panci itu saya isi Pecel Pitik dan toplesnya saya isi cookies coklat buatan sendiri. Sewaktu Anis menghubungi saya ingin mengembalikan panci dan toples, awalnya saya tolak halus dan bertanya apa dia ada keperluan di dekat rumah dan akan mampir untuk mengembalikan barang – barang tersebut. Ternyata, dia ingin datang khusus untuk mengembalikan panci dan toples. Saya mikir, wah itu panci kan bukan dari merek terkenal, beli juga di Action, sampai lintas provinsi nyetir apa ga sayang waktu dan bensinnya. Tapi Anis bilang nggak apa, sekalian silaturrahmi katanya.

Saya lalu mengiyakan dan bertemulah kami di depan pintu pada tanggal yang disepakati. Itu pertemuan pertama kami setelah terakhir Agustus lalu. Ngobrol di depan pintu rumah, hanya sekitar 15 menit saja. Senang rasanya bisa bertanya kabar dan ditanya kabar secara langsung. Apalagi pada saat itu bulan pertama saya melipir dari Twitter dan FB. Rasanya senang diberi perhatian *haus perhatian. Saya juga menanyakan kabar dia, kabar anak – anaknya, pekerjaannya, lalu kami ngobrol yang lainnya.

Kami tidak bisa ngobrol lama karena saya dan keluarga mau jalan – jalan ke bukit dekat rumah. Setelah Anis pulang, hati saya rasanya menghangat. Ternyata, senang juga ya ketemu teman secara langsung, berasa kangen tidak bertemu lama. Sayang hanya sebentar kami berbincang dan tidak bisa masuk ke dalam rumah. Saya lalu mengirimkan pesan ke dia, terima kasih sudah berkunjung, sudah menanyakan kabar saya, sudah ngobrol secara langsung. Saya yang tidak terlalu banyak bergaul, ternyata punya rasa rindu juga untuk mengobrol lama dengan teman, berbincang ketemu muka dan mata, kangen saling bertanya kabar langsung, dan kangen bersenda gurau.

KANGEN MENGUNDANG TEMAN KE RUMAH

Meskipun intensitasnya tidak terlalu sering, saya terbilang lumayan lah dalam kurun waktu setahun beberapa kali pasti akan mengundang teman – teman dekat atau kenalan untuk kumpul – kumpul di rumah. Tidak harus ada acara khusus, ya hanya sekedar berkumpul saja. Entah itu potluck atau saya yang memasak untuk semua. Senang saja rasanya bisa ngobrol panjang lebar sambil makan dengan suasana santai. Bisa selonjoran, duduk bersila, atau segala pose, serta tidak dibatasi dengan waktu (beda kalau ketemuan di resturant ya).

Tahun lalu, meskipun pandemi, saya sempat mengundang 3 teman ke rumah, dalam waktu yang berbeda. Dua teman datang untuk bezoek dan Ananti beserta keluarganya memang saya undang untuk makan siang saat akhir pekan. Selain itu, saya pun diundang temen dekat untuk makan siang di rumahnya, dan satu kali saya berkunjung ke rumah teman yang lain untuk melayat Bapaknya meninggal. Lain waktu, saya juga menghadiri acara nikahan Crystal dan undangan ulang tahun Anis. Jadi untuk ukuran pandemi, ya saya tidak terlalu suci banget sih masih berkumpul – kumpul. Cuma kalau dibandingkan dengan situasi normal, intensitas kumpul – kumpul jauh berkurang. Berasa sih rindunya meskipun ya saya tidak terlalu keberatan juga kalau banyak berdiam diri di rumah seperti saat ini. Hanya, memang rasa kangen itu ada. Kangen mengundang secara spontan teman – teman untuk datang di rumah, kangen diundang makan – makan *ngarep banget buuukk ada yang ngundang. Kangen ngobrol, kangen bersenda gurau, kangen bercerita banyak hal, kangen bertemu langsung.

KANGEN KUMPUL KELUARGA

Setahun lalu, saat ada acara di rumah kami, itulah terakhir kalinya kami sekeluarga besar kumpul lengkap. Setelahnya, suasana dan kondisi mulai berubah. Lockdown, pandemi, segala peraturan yang cepat berubah, rasa was – was, dan segala macam mulai datang silih berganti. Sampai saat ini, setahun lamanya, kami belum pernah bertemu lagi dengan keluarga besar. Saya tidak tahu secara langsung bagaimana muka para ponakan, tidak tahu muka para ipar. Tidak tahu cerita terbaru dari mereka apa, cuma dengar kabar dari Mama mertua.

Di keluarga besar suami, acara kumpul – kumpul rutin dilakukan jika ada yang berulang tahun, makan malam Natal dan Tahun Baru. Jadi intensitas berkumpul kami dalam setahun, lumayan sering. Suasana berkumpul dengan seluruh keluarga itu, selalu menyenangkan buat saya. Jangan dibayangkan keluarga besar ini jumlahnya sangat banyak. Kalau ditotal, tidak sampai 15 orang. Ya memang cuma segini, tapi guyup.

Berkunjung ke rumah Mama mertua pun, selama setahun ini jadi berbeda. Kami tidak pernah masuk sama sekali ke dalam rumah. Hanya berdiri depan pintu, dalam jarak yang lumayan jauh. Saya kangen duduk dalam rumah itu, kangen ditanya mau minum apa dan diberi kue manis. Kangen berbincang lama dengan Mama. Kangen duduk santai di dalam rumah.
Saya kangen berkumpul dan bisa bertemu lagi dengan seluruh anggota keluarga besar.

KANGEN BERTEMU TEMAN DI RESTAURANT

Biasanya, ada beberapa teman yang mengajak bertemu di restaurant. Seringnya restaurant Indonesia. Ada juga beberapa yang memang tanpa agenda, ingin saja makan bareng. Saya, Crystal, dan Ajeng yang seringnya seperti ini. Janjian makan di restauran Indonesia mana gitu di Den Haag, gantian, dicoba satu – satu. saling bertukar kabar, ngobrol ngalur ngidul. Sampai ga kerasa, waktunya musti pulang. Sudah ada yang nunggu di rumah. Kembali lagi pada peran masing – masing. Lumayan, ngobrol begitu saja jadi bikin hati senang. Kangen bisa kembali ke situasi seperti itu. Horeca masih belum buka sampai saat ini. Sudah buka pun, ya masih bimbang kalau musti janjian di restaurant. Pada belum berani ke sana ramai – ramai.

KANGEN NGOBROL DI RUMAH TETANGGA

Tetangga nempel tembok, sangat baik pada kami. Sering kami diundang ke rumahnya tanpa ada acara khusus. Anak – anak mereka pun sudah akrab dengan anak – anak kami karena sudah terbiasa menjaga di rumah. Hubungan sudah seperti saudara lah. Sejak Pandemi, kami belum pernah lagi masuk rumah mereka, sebaliknya pun begitu. Kami ngobrol hanya depan pintu saja. Jika ada yang berulang tahun, tetap saling berkirim kado, tetap saling berkunjung, tapi sebatas depan pintu saja.

Beberapa minggu lalu, salah satu anak mereka ingin belajar membuat kue lumpur. Ceritanya, saya memberikan kue lumpur, lalu pacarnya si anak ini suka sekali dengan rasa kue lumpur buatan saya. Jadilah si gadis ini ingin belajar cara membuatnya. Saya bilang akan mengundang dia ke rumah kalau saya akan membuat lagi. Jadilah saya undang dia saat saya membuat untuk sajian tukang – tukang yang sedang kerja di rumah. Itulah pertama kalinya dia masuk lagi ke dalam rumah kami setelah satu tahun absen. Berkah kue lumpur. Kangen rasanya bisa berkunjung kembali antar rumah.

Kue Lumpur Penyambung Silaturrahmi antar Tetangga

BUKAN PENGGUNA VIDEO CALL KALAU TIDAK KEPEPET

Entahlah, sejak dulu sampai sekarang, saya tidak terlalu suka yang namanya panggilan melalui video. Saat LDM dan LDR an dengan suami selama 1 tahun, selama itu juga kami tidak pernah satu kalipun menggunakan panggilan video. Manual lewat WhatsApp atau email. Telpon pun hanya sekali setiap 2 minggu. Itu saja sudah lebih dari cukup. Pandemi seperti ini, rasanya panggilan video bisa dijadikan alternatif untuk melepas rindu ya, tapi saya toh tetap tidak terlalu suka. Entahlah, rasanya tidak suka melihat muka di layar haha, berasa aneh. Saya menggunakan panggilan video hanya untuk yang hubungannya sangat dekat, misalkan keluarga bulek di Bekasi, beberapa sahabat, dan Mama mertua. Sudah itu saja. Selebihnya, mending telponan biasa. Dengan Ibu pun saya jarang saling menggunakan panggilan video.

Saling berkirim pesan lewat aplikasi pesan pun, secukupnya saja. Saya tidak terlalu punya banyak grup di WhatsApp, cuma 2 aja yang aktif dari 4 yang saya ikuti. Yang lainnya, saya pasif. Saya lebih senang bertukar kabar secara langsung, bukan di grup. Lebih senang berkirim email, daripada menulis panjang di aplikasi pesan.

SEMOGA DUNIA KEMBALI MEMBAIK

Semoga perlahan dan pasti, keadaan kembali membaik. Meskipun definisi normal kedepannya akan jadi sangat berbeda, tapi setidaknya beberapa hal bisa kembali seperti semula. Misalkan, bisa kumpul lagi dengan teman, seluruh keluarga, roda perekonomian kembali membaik, rasa was – was semakin berkurang. Saya rindu bertemu teman secara langsung, ngobrol dan saling bertanya kabar. Rindu berkumpul dengan keluarga besar, rindu menghadiri acara tanpa rasa cemas. Rindu sesekali ke restaurant.

Saya memang selalu bersyukur karena masih diberi sehat dan berkumpul lengkap dengan keluarga di rumah, namun rasa rindu yang saya sebutkan di atas, tak terelakkan. Rindu bertatap muka selain dengan orang di rumah. Rindu yang semoga suatu hari nanti bisa terobati. Bisa bertemu dan ngobrol secara langsung.

-18 Maret 2021-

Musim Dingin Yang Beku dan Bersalju

Salju dan langit biru

Musim dingin kali ini saya tidak menaruh harapan salju lebat akan datang. Sudah terbiasa dengan prakiraan cuaca yang memporakporandakan harapan akan turunnya salju, yang ternyata hanya air saja. Seperti tahun – tahun sebelumnya, kalaupun ada salju, biasanya datang dalam bentuk basah alias kalau sudah menyentuh tanah langsung mencair. Selama saya di sini sejak awal 2015, salju yang lumayan lebat datang kalau tidak salah tahun 2017 – 2018. Saat Ibu tinggal di sini selama 3 bulan, Beliau juga sampai setiap hari ke luar rumah untuk menikmati suasana musim dingin yang bersalju. Setelah tahun tersebut, salju yang datang kebanyakan salju basah, paling tidak di sekitar tempat tinggal kami.

Musim dingin awal tahun ini, berbeda. Salju pertama datang di sekitar rumah 16 Januari 2021. Itu salju yang tipis sekali tapi sudah membuat semua orang di sekitaran rumah bahagia. Ini sekitaran rumah maksudnya para tetangga dan anak – anaknya. Saljunya datang pas akhir pekan. Langsung lah mereka dengan suka cita ke luar rumah main di bawah hujan salju. Kami pun tidak mau kalah, ikut ke luar rumah juga. Suami tidak mau berlama – lama di luar karena kata dia dinginnya sangat menususk. Saya lalu menatap dia aneh : yang lahir di sini siapaa, yang ga kuat dingin siapa. Padahal dia sudah berpakaian lengkap dengan sarung tangan saat di luar, tapi tetap dia tidak kuat dingin. Saya malah tidak pakai sarung tangan karena malas (dan sebenarnya tidak punya sarung tangan yang tebal). Saya memang paling tidak suka memakai sarung tangan dan boots, kalau cuaca tidak sangat ekstrim. Kalau cuma salju tipis, pakai sneakers saja sudah cukup. Kalau salju sudah tebal, baru mengeluarkan satu – satunya sepatu tebal yang saya punya.

Dua minggu kemudian, sudah ada kasak kusuk salju akan datang lagi. Tapi karena kami sudah terbiasa di “PHP” oleh prakiraan cuaca, jadi tetap tidak berharap banyak salju yang datang akan lebat. Sekedar informasi, tempat tinggal kami suhunya lebih hangat dibanding beberapa tempat di Belanda yang biasanya turun salju lebat karena rumah kami tidak jauh dari pantai. Beberapa hari sebelum salju datang, berita di TV terus mengatakan kalau salju kali ini akan lebih banyak dari tahun – tahun sebelumnya. Bukan hanya itu, peringatan badai salju pun sudah didengungkan. Sudah ada peringatan juga untuk tidak bepergian ke luar rumah bahkan beberapa sarana transportasi akan berhenti beroperasi jika memang ketebalan salju melebihi batas maksimalnya.

Salju dan langit biru
Salju dan langit biru

Di satu grup aplikasi pesan, kami para buk ibuk sudah heboh sendiri sekaligus tetap tidak menaruh harapan tinggi akan salju lebat. Terbiasa harapan dipatahkan oleh kenyataan.

PADA AKHIRNYA ….

Sekitar jam 5 pagi saat bangun tidur, saya membuka gordijn kamar, dan melihat tumpukan salju di luar yang lumayan tebal. Wah, saljunya beneran datang batin saya. Minggu, 7 Februari 2021, salju lebat akhirnya datang. Hari minggu kami jadi berbeda. Semua antusias untuk segera ke luar rumah bermain dengan salju, termasuk saya tentunya. Setelah suami menunaikan tugasnya dihari minggu yaitu bersih – bersih rumah dan kamar mandi, setelah makan siang kami langsung menjelajah menggunakan Slee (kereta luncur) di sekitaran kampung. Saljunya sudah lumayan tebal. Saya benar – benar terkagum bagaimana sekitar rumah kami langsung berubah suasananya dibanding sehari sebelumnya. Benar – benar berbeda seperti tidak tinggal di Belanda. Sangat sureal semuanya memutih.

Sekitaran kampung

Ada satu cerita agak kocak. Saya kan tidak punya sarung tangan tebal, tapi suhu pada hari minggu itu terlalu dingin untuk tidak memakai sarung tangan. Tercetuslah ide untuk menggunakan sarung tangan buat oven. Hari itu, saya sedang baking roti dan kue. Pas lihat sarung tangan yang saya pakai saat mengeluarkan loyang dari oven, seperti mendapatkan ide cemerlang untuk menggunakannya di luar rumah. Ternyata hangat lho, lumayan bisa meredam dingin karena tebal (bisa dipakai sampai suhu oven 300 derajat celcius).

Minggu siang saat itu, suasana benar – benar senyap. Tidak terlihat sama sekali kendaraan di jalan, hanya banyak orang berjalan kaki atau menggeret slee bersama anak – anak. Orang – orang yang jalan kakipun, outfit mereka sudah seperti di negara yang rutin datang salju. Ini juga membuat saya merasa seperti tinggal di Finlandia (kayak yang pernah ke Finlandia saja, padahal ya karena lihat di TV). Bukan hanya salju yang terus saja turun deras, anginnya pun cukup kencang. Itulah kenapa beberapa hari sebelumnya sudah ada peringatan badai salju.

Setelah puas 2 jam berjalan menyusuri kampung, pemberhentian kami selanjutnya adalah taman bermain. Di taman bermain ini ada semacam bukit kecil. Kami dan beberapa orang lainnya main seluncuran di bukit ini. Saking antusiasnya, saya pun ikut mencoba seluncuran di atas salju menggunakan slee di atas bukit kecil ini. Senangnya luar biasa. Ya beginilah kalau tumbuh besar di pesisir, bagitu lihat salju dan bisa bermain seluncuran, langsung noraknya maksimal dan memanfaatkan kesempatan semaksimal mungkin. Gembiranya luar biasa. Saya benar – benar memanfaatkan momen yang ada untuk bersenang – senang sepuasnya. Kapan lagi ya kan bisa main seluncuran, belum tentu tiap tahun salju datang. Ini tahun ke tujuh saya tinggal di Belanda, tetap saja kalau lihat salju selalu norak, riang gembira.

Sarung tangan untuk oven, penyelamat saat suhu dingin ekstrim

Setelah puas bermain di luar rumah, kami pulang. Menikmati minuman coklat hangat dan kue yang saya buat, sambil melihat hujan salju yang terus saja turun. Menikmati pemandangan orang – orang bergembira ria hilir mudik depan rumah dengan wajah ceria. Kedatangan salju kali ini, membuat orang lupa sejenak akan Corona dan Lockdown. Hati saya menghangat. Bersyukur kami berkumpul bersama dalam keadaan sehat, menikmati suasana salju dengan hangatnya coklat, kue yang baru dibuat, dan obrolan serta senda gurau.

SUNGAI DAN DANAU MEMBEKU

Selama seminggu penuh, Kami selalu ke luar rumah setiap sore. Tidak pernah absen satu haripun. Paling tidak, kami menghabiskan waktu 2 jam jalan kaki atau bermain salju di seluncuran bukit penuh salju. Suhu selama seminggu tersebut sangatlah dingin, buat saya yang lebih menyukai musim panas. Kalau tidak salah, sampai -13 derajat celcius (atau lebih ya, lupa). Tapi suhu yang dingin tidak menghalangi saya untuk tetap bersenang – senang dengan datangnya salju.

Kami mencoba membuat boneka salju di halaman belakang, tapi tidak berhasil. Saljunya terlalu halus, susah disatukan. Pada hari Rabu, sungai kecil di dekat rumah mulai beku. Kami melihat beberapa anak dan orang dewasa berjalan di atasnya. Wah, jadi ingat saat saya berjalan di atas danau yang beku tahun 2016, sewaktu membuat liputan pertama untuk Net TV. Melihat sungai yang beku saya antusias juga berjalan di atasnya, sekaligus ngeri bagaimana kalau pas di tengah esnya pecah dan kejeblos ya kan ga lucu. Sadar diri kalau badan tidak semungil saat 2016 lalu.

Setelah mencoba menapakkan kaki sambil sesekali lari ke pinggir setiap mendengar suara : kraakk kraakk seperti es mau pecah, saya akhirnya berani jalan di atas air yang membeku. Beberapa anak kecil dan orang dewasa sudah mulai ice skating an. Kami juga tidak mau kalah, menarik slee di atas air es. Wahhh itu asli saya senangnya luar biasa. Hilir mudik di atas air yang membeku. Membuat foto sana sini dan merekam tiada henti. Mendokumentasikan untuk diri sendiri. Kenang – kenangan musim dingin tahun ini.

Slee yang setia menemani selama seminggu

Hari Sabtu siang, kami pergi ke danau besar di kampung. Danau ini sangat besar. Sesampainya di sana, saya merasa suasananya semacam liburan musim dingin. Danau penuh dengan orang main ice skating. Penuh sekali. Belum lagi mereka yang menikmati suasana hanya duduk – duduk di pinggir danau sambil menikmati minuman dan makanan hangat yang mereka bawa. Nih kurang orang jualan bakso, soto ayam, dan rawon, juga gorengan – gorengan batin saya. Kami langsung mencoba jalan – jalan di atas danau yang membeku. Rasanya agak aneh karena semua orang di danau tersebut bermain ice skating sedangkan beberapa gelintir orang hanya berjalan kaki. Kami lalu jalan kaki mengelilingi pinggir danau dan melihat kemeriahan dari atas bukti.

Saya senang melihat antusias orang – orang, bersenang – senang saat salju datang dan air di danau membeku. Semua benar – benar bersuka cita. Saya sampai merasa sedang tidak dalam suasana hard lockdown. Melihat bahwa mereka benar – benar memanfaatkan dan menikmati momen yang ada.

Ada satu pemandangan yang luar biasa berbeda selama satu minggu salju lebat ini ada. Setiap pergi ke sekolah, saya selalu merasa kalau tidak tinggal di Belanda. Para orangtua mengantarkan anak – anaknya menggunakan slee dan mereka berpakaian lengkap seperti tinggal di negara yang musim dinginnya ekstrim. Sampai saya bilang ke suami mungkin ini rasanya kalau tinggal di Finlandia atau Islandia. Pemandangan seperti ini yang dilihat sehari – hari. Jadinya saya suka terbawa suasana bahagia lalu senyum – senyum sendiri. Bahagia karena melihat anak – anak ditarik slee oleh orangtuanya atau bahagia melihat mereka berpakaian lengkap di salju. I really enjoyed the moment. Kalau kata orang Belanda Genieten van karena tidak setiap tahun bisa melihat dan merasakan suasana yang seperti ini. Saya jadi tahu rasanya setiap hari geret – geret slee hampir ke mana – mana sampai urusan belanja juga.

NYARIS SEMUA ORANG BAHAGIA DAN LUPA SEJENAK TENTANG CORONA

Selama seminggu tersebut, nyaris semua orang di lingkungan kami tinggal sangat suka cita dengan adanya salju. Suasana yang tidak biasa, jadi kita secara maksimal menikmatinya. Setiap ke luar rumah, yang terlihat orang – orang berpakaian musim dingin yang super lengkap, para orangtua menarik anaknya menggunakan slee, di depan rumah anak – anak saling lempar bola salju dan membuat boneka salju, sungai yang beku jadi tempat untuk ice skating, hutan yang berbukit jadi tempat untuk seluncuran, taman bermain yang ada bukit kecilnya pun jadi sarana untuk bermain seluncuran.

Danau besar yang penuh orang piknik dan ice skating an

Melihat orang – orang bersuka cita dengan datangnya salju tebal, air sungai dan danau yang membeku, bisa bermain ice skating di udara terbuka, dan benar – benar menikmati suasana selama seminggu, itu juga bahagia yang saya rasakan. Merasa mereka melupakan dulu apa yang terjadi saat itu, menikmati suasana yang ada. Berita di TV pun menyiarkan betapa salju kali ini seperti memberikan suasana yang berbeda di tengah Corona dan hard lockdown di Belanda. Yang diwawancarai sangat antusias memanfaatkan suasana Belanda yang bersalju.

Tentu tidak semua orang merasa senang ya dengan datangnya salju karena beberapa hal juga terhambat. Tapi yang saya garis bawahi, ditengah kondisi sulit saat itu, melihat orang – orang dengan muka sumringah menikmati Belanda yang bersalju dan beku, hangatnya pun sampai ke hati. Yang sedang bersedih, lupa sejenak dengan kesedihannya. Yang sedang ditimpa masalah, bisa bersenang – senang selama seminggu bermain dengan salju. Yang sedang ada masalah, bisa mengalihkan perhatian sejenak dari masalah yang ada. Selama seminggu tersebut, semua perhatian dan hati tersedot pada salju.

Hari Senin, hujan mulai turun. Jadi kami mengucapkan selamat tinggal pada salju yang sudah memberi warna tersendiri selama satu minggu. Untung juga hujan turun cepat, jadi tidak sampai membuat salju menjadi es yang keras dan membahayakan. Hari Selasa, salju sudah mencair dan sebagian besar jalanan sudah bersih dari salju dan es yang keras.

Sungai kecil dekat rumah, yang membeku.

Seminggu yang penuh kenangan indah. Menikmati suka cita musim dingin yang bersalju dan beku di Belanda. Kami benar – benar sangat menikmatinya. Menciptakan kenangan yang tidak akan terlupa. Merasakan hangatnya hati di tengah dinginnya salju dan air sungai yang membeku. Alih – alih merasa bosan dan tidak senang dengan datangnya salju dan suhu yang dingin selama seminggu, saya lebih memilih untuk menikmati suasana yang ada, bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikmati salju tahun ini.

Tot volgende keer, sneeuw!

-11 Maret 2021-

Terima Kasih 2020. Hai 2021

Winter 2020

2020 memang fenomenal sekali ya, tak akan terlupa bagi semua orang di belahan dunia manapun. Beberapa hal menjadi catatan saya untuk tahun 2020 dan apa yang saya bayangkan untuk 2021.

TERIMA KASIH 2020

Apapun yang terjadi di 2020, saya tetap ingin mengucapkan terima kasih. Banyak pembelajaran, pengalaman, maupun cerita manis pahit yang terjadi di tahun ini. Semuanya saya syukuri. Dari hal – hal tersebut, saya bisa ambil hikmahnya dan mencoba terus melangkah. Ada beberapa poin yang bisa saya tuliskan dari tahun 2020.

  • PANDEMI

Saking malesnya cerita tentang Pandemi, jadi bagian ini singkat saja. Dari awalnya saya sangat takut dan cemas dengan adanya Covid – 19, lama – lama mental jadi beradaptasi dengan keadaan. Awal Pandemi, saya pernah menuliskan new normal versi kami. Dari yang agak takut dan menghindar ketemu orang, sekarang ya santai saja kalau ngobrol sama orang di ruang terbuka. Dari awalnya cemas kalau ke tempat ramai, sekarang jadi biasa saja. Saya sudah pada tahap : semaksimal mungkin berikhtiar apapun yang saya bisa lakukan. Semisal memakai masker, cuci tangan sesering mungkin, jaga jarak, belum mau ketemuan dalam jumlah banyak, tidak mengadakan pesta atau acara di rumah, tidak kumpul – kumpul sampai keadaan memungkinkan. Selebihnya, saya berserah saja. Kami sekeluarga selama ini sudah maksimal berikhtiar. Semoga Pandemi segera berakhir, tidak muncul varian – varian terbaru. Dunia aman kembali.

Dari Pandemi juga, saya melalui beberapa jenis lockdown di Belanda. Dari Intelligent Lockdown. semi lockdown, partial lockdown, lockdown beneran, sampai pemberlakuan jam malam.

  • LIBURAN DAN MUDIK

Rencana mudik ke Indonesia yang sudah dipersiapkan sejak 2019 dan kami pun sudah membeli tiketnya, harus kami relakan untuk tertunda. Kami tidak mau ambil resiko dan pada saat itu banyak peraturan baru yang cepat sekali berubah. Harusnya kami mudik bulan Mei. Saya akan kembali lagi ke Belanda bulan Agustus, sementara suami ke Belanda akhir Mei. Jadi dia hanya bisa cuti satu bulan. Semuanya jadi tertunda. Keluarga di Indonesia sangat mengerti kondisi dan situasi. Mereka malah menyarankan untuk menunda saja karena keadaan di Indonesia pun makin parah. Ibu pun bilang lebih baik mudik kalau keadaan benar – benar sudah aman supaya semua tetap sehat.

Tidak hanya rencana mudik, rencana liburan ke Andalusia, Hamburg, Montenegro, dan Norwegia juga semua tidak ada yang terlaksana. Berdiam diri di rumah, yang sebenarnya kami tidak terlalu berdiam diri juga karena masih keluar rumah untuk menikmati cuaca bahkan kami sempat liburan musim panas di Belanda.

Meskipun tidak bisa ke luar negeri, kami tetap liburan saat musim panas. Kami pergi berlibur di wilayah Gelderland, Belanda, dan beberapa kota lainnya. Memilih ke provinsi tersebut karena alamnya yang memang indah, beda dengan lingkungan tempat tinggal kami. Kota – kota yang kami kunjungi saat liburan musim panas : Deventer, Friesland, Enkhuizen, Zutphen, Hoenderloo, Veluwe, Amersfoort. Cerita lengkap saat liburan, akan saya tuliskan terpisah. Ada manfaatnya juga tidak bisa liburan ke luar negeri. Jadi bisa menjelajah dan lebih mengenal kota – kota di Belanda.

  • KEMAMPUAN BARU : BAKING

Tidak saya sangka, 2020 memberikan kesempatan pada saya untuk belajar sesuatu yang jauh dari yang saya bayangkan ternyata bisa juga ya, yaitu baking. Dulu mana kebayang kalau saya bisa membuat roti sendiri bahkan sampai membuat taart ulangtahun. Tahun lalu saya jadi tergerak untuk benar – benar mendalami apa itu baking dan pastry, belajar otodidak dari berbagai macam sumber : buku, YouTube, artikel, membaca tulisan dari beberapa chef pastry and baking, juga berbagi pengalaman dengan beberapa orang yang mempunyai minat yang sama. Keinginan jangka panjang, bisa sekolah serius di bidang ini. Atau bekerja di bidang ini.

Sampai detik ini, saya tetap membuat roti sendiri baik menggunakan ragi alami ataupun ragi segar. Seminggu 2 kali saya membuat roti menggunakan ragi alami (Sourdough bread) untuk suami dan 3 kali dalam seminggu menggunakan ragi segar. Saya sudah bisa mengotak – atik resep dan akhirnya bisa membuat resep baru cookies yang setelah dicobakan ke beberapa teman, mereka bilang enak sekali. Senang bukan kepalang. Bulan Juni juga sempat mengikuti Baking Challange di blog yang idenya dari Mbak Yoyen.

Brown Butter Pecan Cake bikinan sendiri. Salah satu taart yang saya buat, otak atik resep orang lain.

Membuat taart juga akhirnya bisa. Bukan hanya taart untuk ulang tahun, beberapa cake klasik dari beberapa negara juga akhirnya saya bisa membuatnya. Benar – benar tidak menyangka ternyata saya punya kemampuan dan tertarik untuk mendalami baking dan pastry. Dari baking pun hasrat untuk berkesperimen jadi tersalurkan. Baking ini unik menurut saya, menggabungkan science dan seni. Jadi, minat saya terhadap angka dan bereksperimen pun tersalurkan.

  • BELANJA MINGGUAN ONLINE DAN NYARIS SEMUANYA ONLINE

Saya adalah orang yang tidak terlalu memanfaatkan kecanggihan teknologi, termasuk belanja online. Itu dulu, saat sebelum pandemi. Kepuasannya beda kalau langsung datang ke tokonya. Tapi sejak Pandemi, karena ada segala macam lockdown dimana toko – toko pun harus tutup sementara dan kamipun menghindari keramaian, jadilah 2020 adalah tahun penuh belanja online, termasuk belanja mingguan. Sudah satu tahun ini, belanja mingguan kami berubah ke online. Ternyata, lebih menghemat waktu dan tenaga. Tinggal pilih – pilih di aplikasi, menunggu di rumah, belanjaan diantar, selesai. Oh senangnya. Tidak perlu ketemu orang banyak dalam jangka waktu lama. Meskipun kalau ada barang yang tidak ada, kami tetap datang ke supermarket yang bersangkutan, beli seperlunya, langsung bayar dan keluar lagi. Tidak perlu berlama – lama.

Namun dari segala kemudahan belanja online, saya tetap rindu keluyuran di toko cuci mata. Salah satu hiburan saya. Kangen Action, Hema, Tiger Fly, dan toko – toko sejenis.

  • INTENS DI MEDIA SOSIAL

Cerita betapa aktifnya saya di twitter dan FB tahun lalu, bisa dibaca lengkap di sini yang membawa pada keputusan untuk keluar dari dua media sosial tersebut. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri dari 2 media sosial itu juga saya bisa berkenalan dengan banyak orang yang membawa dampak positif dalam hidup saya. Dari pengalaman mereka, bertukar pikiran, membaca cerita hidup atau sekedar saling berkomentar positif terhadap sesuatu, menambah sudut pandang saya terhadap kehidupan, juga menambah kenalan dan teman baru. Media sosial memang selalu ada sisi positif dan negatifnya.

  • BERKEBUN

Awalnya tidak ada rencana 2020 akan jadi tahun berkebun. Selama 3 tahun terakhir memang saya sedang cuti dulu untuk berkebun karena tidak sempat. Ternyata kami batal mudik dan kondisi yang tidak bisa ke mana – mana dengan leluasa, akhirnya saya mendadak mengeluarkan segala stok benih dan tanah sisa 3 tahun lalu. Mau beli baru online kok sayang karena masih punya banyak sisa benih. Tapi tidak yakin juga apakah benih – benih yang ada masih bisa ditanam dengan maksimal. Ya, coba saja.

Segala macam saya tanam, dari kangkung, bayam, wortel, kemangi, cabe segala varian, tomat segala jenis, beberapa herb, pepaya, beberapa bunga, dan banyak macam lainnya. Halaman depan belakang jadi lumayan penuh. Bahkan saya menanam pohon pisang yang diberi oleh teman, hasil anakan pohon pisang milik dia. Yang paling sukses ya tomat karena hampir tiap hari saya panen. Yang tidak sukses kangkung karena kuntet hasilnya. Lumayan sih kembali berkebun setelah beberapa tahun absen, menyenangkan dan membuat bahagia. Mengalihkan sejenak dari hiruk pikuk dunia. Pada dasarnya saya memang suka dan telaten berkebun. Cuma satu yang tidak saya suka kalau sedang sibuk dengan tanaman, tiba – tiba melihat cacing. Duh gelinya.

Ini tanaman apa ya kok lupa. Cabe kayaknya.
  • SEMAKIN SEMANGAT MEMASAK

Dalam keadaan normal, kalau akhir pekan seringnya saya tidak masak karena kami ada agenda untuk makan di luar rumah. Pandemi membuat saya lebih sering berkutat di dapur untuk memasak dan baking. Bahkan untuk akhir pekan pun saya tidak absen masak sendiri. Ya bagaimana, horeca sempat tutup lama, pun kami awalnya sempat ragu untuk membeli makanan. Jadi saya punya kesempatan lebih untuk nguplek masak dan mencoba lebih banyak resep dan mengotak – atik resep. Dari yang tidak pernah saya masak, sampai masak yang super lengkap. Karena tidak makan di luar selama akhir pekan, dananya bisa ditabung. Lumayan lho ternyata hasilnya. Pada dasarnya keluarga kami memang jarang makan dan beli makanan di luar kecuali akhir pekan, itupun tidak setiap akhir pekan. Kalau bisa masak, ya akan saya masak sendiri.

Bubur ayam lengkap versi saya.
  • WAKTU BERSAMA KELUARGA

Terhitung bulan Maret tahun ini, suami sudah 1 tahun bekerja dari rumah. Dia kerja untuk 2 kantor, total dilakukan di rumah. Segala meeting atau semua hal, dikoordinasikan dari rumah. Saya tentu saja senang karena makin banyak waktu bersama. Dia punya ruang kerja sendiri yang letaknya sangat jauh dari ruangan saya berkegiatan. Jadi dia benar – benar bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Senangnya dia bisa bekerja dari rumah, selain waktu bersama makin banyak, juga kalau saya butuh sesuatu bisa minta tolong dia. Misalkan saya harus ke luar rumah, anak – anak bisa saya titip ke dia. Jadi para koleganya sudah terbiasa melihat dia meeting dengan background anak – anak mainan. Ruangan dia bagian belakang disulap jadi arena main mini.

Waktu kerja dia juga menjadi lebih fleksible sejak kerja dari rumah. Saat ada waktu untuk istirahat (selain istirahat siang), dia bisa gunakan untuk olahraga di rumah atau lari di luar rumah atau main sebentar dengan anak – anak. Ada dia di rumah juga membuat saya lebih tenang.

Pun jam kerjanya bisa lebih cepat selesai karena dia memulai kerja lebih cepat. Jadi kami nyaris selalu jalan – jalan sore. Bisa menikmati dan melewati musim demi musim setiap sorenya. Jadi pergantian musim tahun lalu lebih nyata buat kami. Hal yang tidak bisa kami lakukan pada hari kerja saat dia masih harus ke kantor. Makan siang pun kami selalu bersama. 2020 benar – benar membuat kami sekeluarga dekat secara fisik dan emosi. Hal ini benar – benar kami syukuri. Kami masih punya sumber penghasilan, hidup cukup, dan kedekatan sebagai keluarga semakin bertambah.

  • KEHILANGAN

Berita kehilangan dari teman dekat, teman, maupun kenalan datang silih berganti. Benar – benar membuat hati saya ikut hancur mendengar cerita mereka. Satu persatu orang terkasih berpulang. Ikut sedih rasanya. Ibu pun sering mengabarkan keluarga atau tetangga di Indonesia yang meninggal. Saya semakin tenggelam berpikir, hidup memang satu kedipan mata saja. Tidak tahu kapan waktu kita berpulang dan meninggalkan orang tercinta di dunia. Membuat saya semakin memanfaatkan waktu sebaik mungkin, menikmati setiap kebersamaan bersama keluarga dan orang – orang terdekat. Kita tidak tahu, kapan waktu itu datang, Bisa kapan saja.

  • BERITA BAHAGIA

Hidup selalu ada 2 sisi, sedih dan bahagia. Selain berita sedih yang saya terima, 2020 juga membawa berita bahagia. Beberapa teman dan kenalan mengawali fase baru dalam hidupnya. Beberapa menikah dan beberapa lainnya melahirkan. Turut senang dan bahagia dengan babak baru dalam hidup mereka. Semoga langgeng, penuh suka cita, saling cinta sampai ujung waktu, dan si kecil tumbuh besar penuh cinta dan dikelilingi cinta.

  • PERTEMANAN

2020 juga menguji hubungan pertemanan. Pandemi ini saya ibaratkan sebuah kepercayaan. Ada yang percaya pandemi itu nyata, ada yang mengira itu hanya akal – akalan WHO saja. Akhirnya, pertemanan pun diuji sesuai dengan kepercayaannya masing – masing. Ada yang tetap bertahan, ada yang gugur perlahan. Tak mengapa, pertemananpun memang akan melewati seleksi alam. Yang bertahan akan tetap dengan kelompoknya, yang gugur pun akan keluar secara perlahan mencari kelompok baru atau hidup sendiri.

Lain perkara dengan intensitas bertemu yang akhirnya digantikan dengan aplikasi kirim pesan. Ada beberapa yang menimbulkan salah paham, akhirnya ya sudah lebih baik jaga jarak saja daripada semua berasumsi sesuai kepala sendiri tanpa mencoba saling mengerti. Inipun tak mengapa. Akhirnya balik lagi, semua akan berkelompok sesuai frekuensi yang cocok. Berteman kan menganut prinsip cocok cocokan.

  • KESEHATAN

Saya kebanyakan rebahan dan makan, tapi tiap hari tidak pernah absen jalan kaki minimal 1 jam. Paling tidak, masih bergeraklah badan saya, meskipun mulut tak pernah berhenti mengunyah. Hal tersebut menyebabkan berat badan saya nampaknya mencapai puncaknya selama saya hidup. Maklum, selama ini saya tidak pernah bermasalah dengan berat badan. Namun 3 tahun terakhir, karena saya makin suka mengunyah, akhirnya BB melonjak perlahan tapi pasti. Tahun 2020 saya lihat kok bentuk badan jadi lumayan membulat. Apalagi selama pandemi, mikirnya : ya sudah, kalau rebahan dan makan membuat bahagia, ya apa salahnya dilakukan. Toh tahun ini sudah sangat berat. Terlalu terbuai dengan kata bahagia, akhirnya BB pun melonjak bahagia.

Kesehatan badan saya baik – baik saja, beda cerita dengan kesehatan mental. Haduuh parah sekali mental saya tahun 2020. Drop sampai titik mbuh angka berapa. Mengingatnya lagi sekarang jadi males sendiri. Tapi, ya ambil hikmahnya saja. Banyak hal yang bisa jadi pembelajaran selama mental ajrut – ajrutan. Ambil yang baik – baik, tinggalkan yang tidak baik, tidak usah diingat lagi, melangkah maju untuk jiwa yang lebih sehat.

Secara keseluruhan, kesehatan kami baik – baik saja. Suami sempat tes SWAB yang hasilnya adalah negatif. Alhamdulillah.

  • KURSUS ONLINE DAN KURSUS MENYETIR

Meskipun banyak rebahan, ternyata saya menyelesaikan kursus online beserta ujiannya. Ada 4 kursus online yang bisa saya selesaikan tahun 2020 dan mendapatkan sertifikat. Dua diantaranya masih berhubungan dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan sebelumnya, sedangkan dua lainnya adalah ilmu baru berhubungan dengan Neuroscience. Disela – sela rebahan, lumayan juga ya bisa menambah ilmu lewat kursus online.

Perjalanan saya mendapatkan SIM lumayan berliku juga. Setelah dibatalkan ujian pada bulan maret 2020 karena Belanda mendadak intelligent lockown sampai ujian bulan Juli yang ternyata gagal. Mencoba ujian lagi bulan oktober, gagal lagi. Eh diagendakan ujian akhir desember, batal karena Belanda lockdown lagi yang diperpanjang sampai awal Maret. Mudah – mudahan mendapatkan SIM ini tidak berkepanjangan lika likunya.

  • REJEKI

Karena tidak bisa liburan jauh dan tidak terlalu banyak beli ini itu, kami jadi lumayan bisa berhemat dan mengalokasikan dana tersebut untuk kepentingan lainnya misalkan renovasi beberapa bagian rumah seperti dapur dan mengecat rumah. Bersyukur secara rejeki, kami masih dicukupkan dalam keadaan negara yang memang sedang krisis. Kami jadi lebih bisa menabung dan alokasi untuk beberapa hal jadi bisa dipenuhi. Kami yang pada dasarnya sudah hidup minimalis, tahun 2020 lebih minimalis lagi, jadi dana yang biasa kami gunakan bisa kami tabung.

  • MINIM KEMBANG API PERGANTIAN TAHUN

Rasanya beda juga ya pergantian tahun 2020 tidak gegap gempita dengan kembang api. Terus terang saya senang sih melihat keseruan dan kemeriahan kembang api. Meskipun di Belanda ada larangan resmi, tapi tetap saja pergantian tahun, kembang api jedar jeder berkumandang. Tidak semeriah tahun – tahun sebelumnya dan tidak selama seperti biasanya. Ternyata enak juga ya di telinga, tidak terlalu berisik.

  • BERSERAH

2020 mengajarkan pada saya apa arti berserah yang sesungguhnya, apa arti kuasa dari sang Maha Pencipta. Sebagus dan serapi apapun rencana yang telah dibuat, jika Tuhan sudah punya kehendak lain, tidak ada yang bisa mengubah ketentuan dariNya. Berserah, saya benar – benar berserah.

Dari hal – hal yang saya ingat tentang 2020, masih banyak yang bisa saya syukuri. Bersyukur semua sudah terlewati. Semoga yang ditinggalkan orang – orang tercinta diberikan kekuatan untuk melangkah. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan yang baik.

HAI 2021

Saya melangkahkan kaki tanpa rencana besar apapun, semuanya mengalir begitu saja. Belajar dari tahun 2020, saya melewati 2021 dari hari ke hari. Mengikuti apa yang terjadi hari ini, melewati dengan semaksimal mungkin, mensyukuri apa yang sudah terjadi hari ini, lalu siap melangkah untuk esok hari. Begitu seterusnya. Mungkin tema yang cocok untuk saya tahun ini adalah mengalir. Tanpa ada rencana besar dalam jangka panjang apapun, melakukan yang terbaik hari demi hari. Tidak terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi di masa lalu maupun berpikir ruwet tentang masa depan. Jalani hari ini, lakukan yang terbaik untuk hari ini, dan benar – benar ada untuk hari ini. Lewati hari demi hari dengan mantra yang serupa. Semuanya mengalir saja.

Semoga Pandemi segera berakhir. Sehat jiwa raga semua, diberikan kelancaran rejeki, kebahagiaan bersama orang – orang tersayang.

Hai 2021, saya siap melangkah bersamamu.

– 3 Maret 2021-

Undur Diri Dari Twitter dan Facebook

Hai hai saya muncul kembali setelah 2 bulan absen menulis blog. Tulisan kali ini lumayan panjang karena sangat detail. Sekalian merangkum jawaban dan tinggal copy paste kalau ada yang bertanya. Buat yang berminat membaca, siapkan waktu lebih supaya lebih menghayati cerita saya kali ini.

Untuk mereka yang bertanya kenapa saya tiba – tiba menghilang dari Twitter dan Facebook (FB), tulisan kali ini akan membahas secara tuntas pertanyaan tersebut. Kabar saya sehat wal’afiat, tidak sakit, masih hidup, berkegiatan seperti biasa (lumayan makin sibuk), dan semua baik – baik saja sekeluarga. Terima kasih untuk yang menanyakan langsung kabar saya dan keluarga. Ada yang berpikir saya sakit, ada masalah keluarga, ada masalah dengan suami, ada anggota keluarga yang sakit, atau berpikir saya sedang kesusahan sehingga tidak muncul lagi di dua media sosial tersebut. Alhamdulillah, saya dan keluarga dalam keadaan sehat, tidak ada masalah dengan suami, bugar, segar, tanpa kekurangan suatu apapun (kecuali lemak – emak di badan saya sudah lumayan banyak berkurang, Yiaayy akhirnyaa! Tunggu ceritanya ya di tulisan selanjutnya).

Sengaja memang tanpa pamitan. Pertama, karena ya apalah saya ini ya pesohor juga bukan, mau woro – woro pamitan kok ya semacam sungkan sok terkenal. Kedua, karena memang keputusannya mendadak tanpa direncanakan jauh hari, ingin melipir (entah sejenak atau dalam jangka waktu lama) dari 2 media sosial yang saya punya tersebut. Ketiga, karena saya belum tahu apakah ini sifatnya akan permanen atau sementara saja. Daripada sudah heboh pamitan ternyata besoknya balik lagi, kan kayak balik kucing namanya.

Jadi ini saya ceritakan runutannya ya, sedikit berbagi cerita dibalik mak bedundug istirahat dulu dari ramainya 2 media sosial tersebut. Saya bukan undur diri dari media sosial karena akun YouTube masih aktif dan blog juga masih terus aktif sebagai sarana menulis. Ini khusus Twitter dan FB saja. Saat tulisan ini diunggah, saya akan masuk bulan ketiga log out (bukan deactived dan juga bukan delete akun) dari Twitter dan FB, juga membuang aplikasinya dari telepon pintar. Selama saya log out, tidak pernah log in lagi atau mengintip akun yang saya punyai tersebut, tidak pernah stalking akun orang lain. Sejauh ini benar – benar tidak menyentuh (dan belum terpikir untuk menyentuh kembali) 2 media sosial tersebut.

LATAR BELAKANG (macam bikin tulisan karya ilmiah, pakai latar belakang)

Dalam hidup, saya punya prinsip, secukupnya saja. Termasuk ketika memutuskan untuk nyemplung  secara sadar di dunia media sosial, saya pilih sekiranya hanya yang cocok saja. Jadi, selama ini saya tidak pernah punya akun di Tiktok, Path, Snapchat, apalagi ya saking banyaknya jenis rupa media sosial. Pernah punya akun Instagram (IG) selama 1 tahun, tapi sejak tahun 2015, akun tersebut lenyap setelah saya deactived selama 3 bulan. Saya malas tidak menelusuri lagi hilangnya ke mana, bahkan juga tidak membuat akun baru. Jadi, saya sudah tidak punya lagi akun di IG. Tanpa IG bagaimana hidup saya? Alhamdulillah sehat wal’afiat tidak kekurangan suatu apapun. Tidak merasa terbelakang ataupun kurang wawasan. Intinya baik – baik saja. Pun saya tidak ada hasrat membuat akun IG yang baru karena memang ternyata saya tidak sebutuh itu dengan IG. Hubungan saya dengan IG waktu itu ya baik – baik saja, menyenangkan, bisa dapat kenalan dan ada yang berteman sampai sekarang. Ada yang sudah menjadi mantan teman pun. Seingat saya, waktu itu IG masih belum terlalu ramai.

Twitter dan Facebook (FB), 2 akun media sosial yang lumayan aktif saya mainkan sejak punya 11 (atau 12) tahun lalu. Di FB, saya pernah deactived akun selama 3 tahun karena ingin konsentrasi belajar ujian integrasi dan setelahnya sibuk bekerja. Setelah berhenti kerja, saya aktifkan lagi akun FB, dengan alasan cari hiburan. Saya memilih mutual yang benar – benar dikenal saja, minimal pernah bertemu dalam dunia nyata. Kalau tidak salah ingat, saya membuang sekitar 400 an nama – nama di daftar mutual. Jadi di FB, mutual saya ya teman dan kenalan yang pernah saya temui dalam dunia nyata.

Twitter, lain cerita. Sejak punya, saya tidak pernah menonaktifkan media sosial ini. Terpikir untuk log out saja tidak pernah karena sangat menikmati apa yang ada di sana. Semacam saya sudah cocok di sana. Bahkan 3 tahun lalu, saya pernah membuat tulisan tentang twitter di blog ini. Silahkan bisa baca di sini jika tertarik. Saking cintanya sampai dibuatkan tulisan khusus. Interaksi di twitter selalu menyenangkan buat saya. Jadi kalau sampai saya memututuskan keluar dari twitter, pasti ada sesuatu yang besar di belakangnya. Nah, hal ini akan saya ceritakan secara rinci di bawah.

2020 adalah tahun yang spesial buat semua orang. Apalagi kalau bukan karena Pandemi. Bukan hanya kesehatan raga yang diobrak abrik, juga kesehatan jiwa yang terpengaruh oleh Covid. Termasuk saya, yang sempat mengalami masa – masa gelap dengan mental tahun lalu. Saya mencari pengalihan perhatian dengan menjadi lebih intensif bermain di twitter. Kemudian hari saya merasa malah semacam tidak bisa lepas dari twitter. Entah ini namanya kecanduan atau apa ya karena sejauh ini saya tidak pernah merasakan yang namanya kecanduan pada hal lainnya, jadi tidak bisa membandingkan. Kalau tidak membuka sehari saja, merasa ada yang kurang dalam hidup. Semacam menemukan banyak hiburan di sana. Bisa berkenalan dengan banyak orang yang punya latar belakang berbeda. Bisa membaca banyak cerita dan pengalaman yang memberikan motivasi positif. Banyak hiburan dan cerita yang lucu juga. Bukan hanya hal baik, yang tidak baik juga sama banyaknya. Intinya, tahun lalu, saya sangat menikmati interaksi di twitter. Saking “menikmati” nya, tanpa sadar ada yang tidak beres dengan diri sendiri yang saya sadari (agak telat) kok ternyata efeknya buruk ya. Awalnya saya denial merasa tidak ada yang salah antara saya dan twitter, semua baik – baik saja. Tapi lama – lama saya memang harus jujur dengan diri sendiri, memang ada yang tidak beres.

Saya di sini khusus menuliskan pengalaman tahun lalu, karena penggunaannya yang sangat intens dibandingkan tahun – tahun sebelumnya. Dan saya lebih menyorot ke interaksi di twitter dibandingkan FB karena di FB saya tidak terlalu aktif dan yah tidak ada yang spesial di sana. Penekanannya di sini adalah kurangnya kontrol diri sendiri dengan alasan ingin mencari hiburan dan mengalihkan perhatian dari rasa cemas, yang ternyata saya sadari dikemudian hari malah jadi sumber kecemasan.

Hal – hal yang saya sadari agak telat dan ternyata tidak bagus untuk mental (termasuk badan) saya karena interaksi terlalu erat di dua media sosial tersebut (khususnya twitter) saya sebutkan pada poin – poin di bawah ini :

  • TERLALU BISING BUAT SAYA, UNTUK SAAT INI

Twitter tahun lalu dibandingkan tahun – tahun sebelumnya, menjadi sangatlah ramai. Mungkin karena mereka memiliki alasan yang sama dengan saya, mencari hiburan untuk mengalihkan fokus dari hingar bingar dunia yang lagi bergejolak. Awalnya saya menikmati kebisingan itu. Tapi lama – lama kok semakin melelahkan. Banyak orang jadi gampang beropini, termasuk saya. Ada yang beropini sehat, ada juga yang sebaliknya. Ada yang jadi pihak sorak – sorak bergembira, ada yang hanya sekedar pengamat tapi menikmati kebisingan itu. Kalau dianalogikan, kumpulannya terlalu padat, saya ditengah – tengah merasa tidak bisa bernafas dengan baik karena mereka yang di sana berlomba berbicara lantang ingin didengarkan tapi sedikit yang terlihat untuk bersedia mendengarkan, tertimbun mereka yang saling berbicara. Jadi saling berlomba untuk beropini.
Tidak ada yang salah, karena memang setiap orang punya hak yang sama untuk berpendapat. Hanya, ternyata saya tidak sanggup. Jadi saya memutuskan keluar dari kerumunan tersebut. Memutuskan untuk menepi dan memilih jalan yang lebih sunyi yang pada akhirnya lebih menentramkan jiwa. Saya yang secara sadar masuk dalam kerumunan tersebut, ikut berkecimpung, akhirnya secara sadar juga keluar karena ternyata tidak mampu mengontrol diri sendiri. Merasa hidup, waktu, dan pikiran terlalu terfokus di sana. Merasa ternyata tahun lalu saya menjadi susah lepas dari twitter.

  • BUKAN KARENA UNGGAHAN KEBAHAGIAAN, ATAU KESUKSESAN ORANG LAIN

Alasan saya untuk rehat dari dua media sosial itu, 90% karena alasan diri sendiri, demi ketenangan jiwa dan raga dan 10% karena unggahan orang lain. Nah, saya akan bahas bagian 10% pada poin ini. Unggahan orang lain yang saya maksudkan bukanlah tentang bagaimana mereka mengunggah sukses ini itu, atau mencantumkan hal – hal apa yang mereka miliki. Bukan. Saya sudah lewat masa – masa iri karena orang lain lebih ini dan itu. Hal tersebut sudah saya lalui awal usia 30 tahun. Sekarang saya sudah pada fase ga ngefek kalau orang lain mau unggah mereka turun 30 kg, atau punya anak yang lucu menggemaskan, liburan ke A B C, bisa baking segala jenis rupa roti kue dan sebagainya, punya banyak teman, punya suami yang super romantis, punya rumah yang super kiyut atau apapun itu, sama sekali tidak mengusik iman. Sama sekali ga ngefek. Saya sudah sangat cukup dengan apa yang dimiliki saat ini, sudah sangat bersyukur. Jadi unggahan keberhasilan orang lain, tidak mengusik apapun dalam hidup. Saya tidak membandingkan hidup atau diri saya dengan keadaan orang lain. Orang ingin memperlihatkan apa yang mereka perlihatkan, sama dengan saya. Jadi, ya buat apa saya perlu membandingkan saya dengan orang lain di media sosial.

Namun, ada satu jenis unggahan yang masuk 10% menganggu dan sering membuat emosi itu : unggahan opini yang lumayan kontroversial atau yang menurut saya kok rasanya tidak masuk akal ada orang bisa beropini seperti itu. Pendeknya, opini yang tidak satu frekuensi dengan otak saya. Lalu ketika membaca komen – komen yang pro dan kontra, saya seperti tertarik masuk di dalamnya lalu ikut emosi juga. Nah, seringnya, hal ini membuat saya terlalu menjiwai apa yang terjadi di sana sampai mempengaruhi emosi dan pikiran sepanjang hari. Harusnya saya lebih bisa mengontrol diri. Harusnya. Tapi seperti yang saya bilang, kalau sudah mulai muncul suatu topik yang relevan, saya jadi tertarik untuk mengikuti secara runtun. Lalu jadi emosi sendiri, kepikiran sepanjang hari, mempengaruhi mood, dan malah jadi topik pembahasan dengan suami. Konyol parah.

Kenapa tidak dipergunakan fasilitas mute, block, dsb? Tujuan utama saya punya dan main media sosial adalah sekedar mencari hiburan, syukur – syukur kalau mendapatkan informasi yang berguna. Kalau saya merasa sudah tidak bahagia dan tidak terhibur, ya berarti sudah meleset jauh dari tujuan tersebut. Apalagi sampai diatur teknologi untuk menggunakan fasilitas – fasilitas tersebut, sungguh merepotkan. Saya tidak mau terlalu diatur teknologi. Yang bisa saya lakukan, ya keluar saja kalau sudah merasa ada yang mengganggu penggunaan saya dalam bermedia sosial. Media sosial saya menggunakan akun pribadi, bukan untuk berbisnis. Beda lagi kalau untuk bisnis, mungkin akan saya pertahankan karena sumber penghasilan saya di sana. Lah ini sudahlah ga dapat uang dari media sosial, kok ya mau – maunya saya mendedikasikan waktu dan mental di sana.

Dibuat santai saja mainan medsos, jangan terlalu serius. Sebelum tahun lalu, saya santai sekali mainan twitter dan FB. Entah tahun lalu kok jadi tidak bisa lepas begitu, ga jelas juga arah hidup saya bagaimana. Seperti mendapatkan tempat untuk menghibur diri, tapi kok ya ternyata banyak dampak tidak sehat lainnya yang menyertai. Jadinya, saya rehat sajalah. Dampaknya sudah tidak santai lagi buat mental dan raga saya.

Salah memilih yang difollow sih! Percayalah, saya follow orang – orang yang menyenangkan di twitter. Yang kebanyakan memberikan cerita dan berita yang positif. Tapi hal – hal yang negatif adaa saja yang mampir. Belum lagi saya sendiri yang cari – cari perkara mencari informasi yang ga jelas. Yo salahmu dewe!

  • KEPALA TERASA SANGAT PENUH DAN TINGKAT KECEMASAN BERTAMBAH PARAH

Masih ada hubungannya dengan alasan di atas, kepala saya menjadi sangat penuh. Terlalu banyak informasi yang saya dapat, terlalu banyak pendapat yang saya baca, terlalu banyak perseteruan yang saya ikuti, membuat kepala saya menjadi sangat penuh. Benar – benar penuh sampai rasanya tidak ada ruang lagi untuk mencerna. Tidak punya ruang lagi untuk berpikir mana informasi yang benar – benar bermanfaat. Penat rasanya. Bahkan berdialog dengan diri sendiri yang dulu sering saya lakukan, tahun lalu jadi tidak sempat dilakukan. Karena kepala terasa penuh, jadi ada hal – hal yang seharusnya lebih penting masuk ke kepala, jadi tergeserkan oleh informasi yang lebih tidak penting. Jadi kepala saya terasa sesak, penuh, dan terasa pengap oleh banyaknya informasi dan hal – hal yang saya dapatkan dari media sosial.

Hal tersebut membuat rasa cemas saya semakin bertambah parah dan meningkat drastis. Saya secara sadar bahkan mencari – cari sendiri semua informasi yang ingin diketahui. Instruktur menyetir saya pernah menyarankan : Jangan terlalu banyak membaca berita, menonton TV, itu akan membuatmu jadi makin tidak tenang. Tapi saya tentu saja tidak mendengarkan sarannya. Bagaimana bisa saya tidak mengikuti situasi terkini, saya merasa kok makin gelisah kalau tidak tahu apa – apa. Itu pemikiran saya tahun kemarin. Hasilnya, rasa cemas bertambah parah, saya jadi kemrusung, overthinking, yang mempengaruhi kesehatan mental dan mengganggu ritme tidur. Benar – benar melelahkan. Suasana hati rasanya engap terus seperti berkabut.

  • MENGAWALI HARI DENGAN LETIH

Setiap pagi, dengan sadar saya mengawali hari dengan membuka media sosial, twitter lebih tepatnya. Saya manusia pagi, jadi otak saya akan lebih segar jika digunakan sepagi mungkin. Salahnya, tahun lalu saya memilih “produktif” di pagi hari untuk membaca hal – hal di twitter, yang seringnya adalah adaaa saja perseteruan di sana. Padahal yang diperdebatkan ya topiknya begitu – begitu saja. Ibu bekerja tidak bekerja, mau punya anak atau tidak, Istri bisa masak atau tidak, lebih bangga mana punya twitter atau IG dan topik – topik yang ya sudahlah basi banget kan. Tapi saya dengan sadar malah “mencemplungkan ” diri dengan tetap membaca perseteruan itu dan membaca komen – komennya. Belum lagi berita – berita di Indonesia dan Belanda yang tidak semuanya membawa pesan baik. Ya saya sendiri yang mencari penyakit.

Hanya dengan membaca hal – hal tersebut, ternyata saya mengawali hari dengan rasa letih. Energi yang seharusnya saya pergunakan untuk 15 jam kedepan, sudah tersedot banyak hanya dengan mengikuti perseteruan orang lain, bahkan ikut nyemplung di dalamnya, membaca berita yang bikin sakit kepala, lalu merasa letih ketika aktifitas dalam dunia nyata benar – benar baru dimulai. Merasa saya hanya punya 50% energi untuk menjalani 14 jam kedepan karena 50% lainnya sudah tersedot hanya karena saya secara sadar menggunakan 1 jam sebelumnya untuk memantau apa yang terjadi di twitter.

  • GAMPANG EMOSI

Saya menjadi lebih terpancing untuk marah. Kalau ada suatu hal yang tidak menyenangkan di 2 media sosial tersebut, gampang mempengaruhi emosi saya, menjadi gampang marah di dunia nyata. Menjadi lebih susah untuk tenang. Konyolnya, yang menjadi pemicu bukanlah hal dari dunia nyata tapi lebih seringnya dari media sosial yang saya bawa ke dunia nyata. Kan miris sekali. Saya kurang punya kontrol diri untuk memisahkan antara dua hal tersebut. Jadi kalau misalkan ada hal yang tidak mengenakkan saya baca di twitter, hal itu akan terbawa ke emosi saya melewati hari. Padahal mereka yang di dunia nyata tidak mengerti apapun yang terjadi, malah jadi bahan pelampiasan kekesalan saya. Duh Gusti, tobat.

  • SERING TERGESA DAN TIDAK FOKUS

Misalnya ada sebuah perseteruan di twitter, saya kan jelasnya tidak bisa memantau sepanjang hari karena harus berkegiatan lainnya. Nah, saat melakukan aktifitas lainnya, pikiran saya jadi terbagi. Memikirkan perseteruan atau topik yang lagi hangat tersebut dan kegiatan yang saya lakukan. kepikiran bagaimana lanjutannya topik yang lagi dibahas atau perseteruan yang sedang terjadi. Saya jadi tidak fokus dengan dunia nyata yang ada di depan mata. Jadinya, saya cepat – cepat menyelesaikan kegiatan saya supaya saat waktu istirahat, saya bisa kembali menyimak kelanjutannya. Misal saat masak, pikiran saya tidak sepenuhnya ke masakan yang sedang saya buat. Mikir : eh penasaran gimana ya lanjutannya tadi. Eh ada berita baru apa ya. Lalu secara tergesa menyelesaikan masak supaya bisa curi – curi waktu membuka twitter untuk melihat lanjutan atau ya hanya sekedar mengecek apa sih yang lagi hangat di timeline sekarang. Saat makan sendiri saja sampai saya tidak khusyuk menyimak rasa makanan yang saya makan karena disambi membaca twitter, bukannya fokus pada makanan yang ada di depan mata. Karena mengerjakan kegiatan tanpa fokus dan selalu tergesa, akhirnya hasilnya ya asal – asalan. Saya seperti tidak sepenuh hati karena memang pikiran saya terbagi, mengerjakannya pun ya terbagi. Saya merasa tidak produktif.

  • WAKTU HANYA 24 JAM DAN MERASA TIDAK PRODUKTIF

Dalam waktu 24 jam, tahun lalu saya menggunakan 6-7 jam untuk istirahat di malam hari, 2-3 jam istirahat di siang hari, dan sisanya untuk berkegiatan. Anehnya, saya merasa kok waktu tersebut tidak pernah cukup dan rasanya saya tetap kurang mempunyai waktu untuk diri sendiri. Padahal waktu istirahat saya kalau ditotal lumayan banyak, 10 jam. Tapi kok rasanya saya selalu saja merasa kelelahan. Atau waktu 14 jam berkegiatan, saya merasa kok tidak menampakkan hasil yang maksimal. Ya jelas saja, wong di waktu istirahat, bukannya saya menggunakan untuk hal – hal yang bisa membuat diri sendiri bahagia atau menggunakan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat, saya malah memantau media sosial. Bukannya saya fokus dan perlahan dalam mengerjakan sesuatu, pikiran saya malah terbelah dengan ingin cepat – cepat menyelesaikan supaya bisa membuka media sosial. Jadinya saya merasa tahun lalu, sebenarnya apa sih yang saya kerjakan. Saya selalu kelelahan karena merasa waktu istirahat saya tidak cukup, emosi yang tidak stabil, merasa apa yang saya kerjakan tidak maksimal.

Saya istirahat sih memang, secara badan. Saya leyeh – leyeh rebahan, tapi tangan dan mata saya bekerja. Scrolling dan membaca apa yang ada di media sosial. Lha ya jelas saja, wong waktu istirahat bukannya dipakai benar – benar untuk istirahat malah dipakai untuk membaca opini orang lain yang malah memancing emosi dan membuat energi makin tersedot. Membaca timeline itu melelahkan lho buat saya karena bisa menyedot energi dan membuat labil emosi hasilnya saya kurang produktif dalam berkegiatan di dunia nyata. Ini yang saya bilang kalau saya belum mampu mengontrol malah dikontrol oleh media sosial. Kalau pakar mengibaratkan seperti slot machine. Secara sadar saya scroll – scroll terus ingin tahu apa yang terbaru. Mungkin saya sudah dalam fase kecanduan. Lelah ternyata.

  • TIDUR TERGANGGU

Tahun lalu, kualitas tidur jadi terganggu. Saya orangnya gampang tidur dan juga gampang terbangun. Biasanya dalam keadaan normal, kalau terbangun tengah malam, saya bisa kembali tidur dengan gampang. Nah, tahun lalu beda. Karena hubungan saya yang semakin erat dengan twitter, membuat saya seperti tidak terpisahkan bahkan oleh jam tidur. Kalau terbangun tengah malam, saya ambil Hp lalu buka twitter (atau kadang FB). Penasaran apa sih yang terjadi sekarang. Berita apa sih yang lagi “seru” di Indonesia. Akhirnya saya jadi terhanyut dan tidak sadar sudah menghabiskan sekian menit di sana lalu menjadi susah untuk kembali tidur yang membuat kualitas tidur saya tidak bagus. Terbangun pagi, yang dilakukan pertama ya ngecek media sosial. Jadi tidur saya tahun lalu tidak benar – benar nyenyak karena ada hubungannya dengan pikiran saya selalu pada twitter. Setiap bangun, saya merasa kelelahan karena jam tidur jadi berantakan dan tidur tidak nyenyak. Walhasil menjalani hari juga dengan kelelahan. Begitu saja terulang setiap harinya. Tidur saya seperti tidak berkualitas.

  • INTERAKSI YANG MENYENANGKAN SEKALIGUS MEMBUAT TERLENA

Interaksi di FB dan Twitter, sangat menyenangkan buat saya. Di sana, saya menemukan banyak informasi yang bermanfaat dari mereka yang punya minat yang sama, misalkan : baking, masak, jalan – jalan atau informasi lainnya. Saya mempunyai banyak kenalan baru dan yang mengejutkan, dalam setahun kemaren jumlah follower di twitter bertambah secara pesat. Kalau tidak salah ingat hampir mencapai 2000. Ya jumlah segitu mungkin masih kategori sedikit buat mereka yang memang menekuni media sosial secara serius. Tapi buat saya yang tidak terlalu sering mengunggah dalam sehari, tidak mengerti juga mereka follow saya karena apa.

Sebagai gambaran, dalam satu hari saya maksimal mengunggah hanya 2 kali, seringnya malah satu kali. Jadi bukan yang sehari bisa menulis status atau mengunggah foto sampai 10 kali. Memang saya batasi, supaya saya sendiri tidak “kebablasan”. Menuliskan opini pun sangat berhati – hati sekiranya yang tidak sampai menjadi viral atau menimbulkan kontroversi. Saya sudah merasakan beberapa opini pernah menjadi viral (yang positif) tahun – tahun sebelumnya, melelahkan sekali saudara – saudara. Menjadi terkenal itu ternyata not my thing meskipun terkenalnya karena opini yang positif (untuk banyak orang). Jadi tahun lalu opini – opini yang saya tuliskan ya sekadarnya saja. Pun saya tidak pernah membuat utas yang sangat berguna. Saya tidak bisa membuat utas di twitter, lebih baik saya menulis panjang di blog, lebih nyaman.

Interaksi dengan beberapa orang yang saya kenal di twitter pun sangat menyenangkan. Kami berbagi banyak cerita, banyak infomasi. Intinya banyak hal positif saya dapatkan dari mereka. Tidak ada yang salah dengan interaksi yang saya lakukan, pun tidak pernah ada masalah yang saya temukan di sana, semua baik – baik saja. Bahkan saat memutuskan keluar dari twitter pun, tidak ada masalah yang terjadi. Hanya ternyata, saya terlalu banyak menginvestasikan waktu di sana dan interaksi yang menyenangkan tersebut membuat saya jadi terlena akhirnya malah menjerumuskan saya jadi tidak bisa lepas. Saya kurang bisa mengontrol diri. Bukan interaksinya yang salah, tapi saya yang terlalu kebablasan.

  • MERASA SUDAH OVERSHARING DAN MERASAKAN KESENANGAN SEMU DALAM “LIKE”

Batasan oversharing bagi masing – masing orang berbeda. Apa yang saya pikir oversharing, belum tentu orang lain berpikir yang sama. Saat salah satu teman mengerti bahwa salah satu alasan saya undur diri dari FB dan Twitter adalah saya merasa sudah oversharing, dia kaget : Oversharing darimana wong kamu cuma menulis haal – hal yang umum, posting foto seringnya makanan dan pemandangan. Kamu tidak pernah menceritakan secara detail kegiatan keluargamu, bahkan isi rumahmu aja ga pernah kamu unggah di foto.

Benar, saya tidak pernah sama sekali mengunggah foto keluarga dalam formasi lengkap. Benar, saya tidak pernah bercerita sama sekali atau khusus bercerita tentang anak – anak (bahkan banyak yang tidak tahu kalau saya sudah punya anak karena memang tidak pernah woro – woro secara khusus tentang tambahan anggota keluarga karena selama ini saya sangat berhati – hati kalau sudah berurusan tentang anak. Rasanya baru pada tulisan kali ini saya secara jelas mengungkapkan. Saya masih memegang teguh tidak akan mengunggah foto mereka di media sosial atau bercerita secara detail tentang mereka sampai mereka bisa berpendapat boleh atau tidak. Bahkan pada komentar blog manapun yang membahas tentang anak, sebisa mungkin saya tidak ikut nimbrung, takut kebablasan). Benar, saya tidak pernah mengunggah foto isi rumah atau detail rumah (kecuali meja makan karena jadi tempat buat foto makanan). Benar, saya tidak pernah mengunggah barang – barang yang ada di rumah atau yang kami miliki. Benar, bahwa saya tidak pernah langsung mengunggah foto dan menceritakan saat kami sedang pergi liburan. Semua hal tersebut masih saya taati karena saya memang masih menyisakan banyak ruang untuk privasi.

Tapi, ada hal – hal yang sudah melenceng dari batasan yang saya tetapkan dalam bermedia sosial. Dengan banyaknya follower di twitter, membuat saya terlena untuk sering mengunggah foto makanan, pemandangan. Dalam unggahan tersebut tentu saya menuliskan ceritanya. Nah dalam cerita itu yang membuat saya merasa oversharing. Padahal ceritanya ya standar saja, tidak ada yang mendetail. Tapi ternyata kok membuat saya semakin lama semakin tidak nyaman berbagi dengan banyak orang yang tidak saya kenal dalam dunia nyata (ya kan saya belum pernah bertemu dengan mereka di dunia nyata. Kecuali beberapa orang yang saya percaya, seperti Maya, Inly, Christa). Seperti membagikan cerita ke kerumunan orang, yang sebenarnya tidak semuanya peduli pada cerita yang saya unggah. Lama – lama merasa kok saya jadi seperti laporan ke orang asing ya tentang hal – hal yang dilakukan. Saya jadi gampang pamer. Terlalu sering pamer ternyata membuat tidak nyaman juga. Ga bakat jadi selebriti atau influencer.

Ditambah lagi mereka memberikan like. Saya bingung fungsi like di twitter saat ini menjadi seperti IG. Dulu saya menggunakan tombol tersebut untuk menyimpan informasi. Jadi semacam tombol favorite. Sekarang, orang menggunakan tombol tersebut untuk menunjukkan mereka suka dengan postingan yang diunggah. Tidak semua unggahan saya mendapatkan like banyak. Ada yang sedikit, ada yang banyak, ada yang tidak mendapatkan sama sekali. Terkadang, itu malah mengusik saya. Jadi saya semakin mengunggah hal – hal yang sekiranya orang akan suka, bukan karena saya murni ingin mengunggah hal tersebut. Jadi semacam ingin mendapatkan pengakuan dari mereka yang kebanyakan belum pernah saya jumpai dalam dunia nyata. Saya suka sih semua yang saya unggah, tapi juga memikirkan apa orang yang melihat juga suka ya. Saya merasa konyol sih, padahal dalam dunia nyata saya sudah mendapatkan apresiasi, lebih dari cukup malahan. Ini kok malah mencari lebih lagi dari media sosial. “Like” yang melenakan saya dan membuat tidak nyaman. Semakin banyak “like” yang saya dapatkan, sebenarnya membuat saya semakin tidak nyaman. Berpikir sebenarnya mereka menekan tombol like itu karena apa ya. Apa benar – benar suka dengan unggahan saya atau ya sekedar iseng “like” saja. Kalau semakin banyak yang “like” saya jadi semakin termotivasi mengunggah yang sekiranya akan mendapatkan banyak “like” lagi. Ora uwis – uwis. Itu menjadi melelahkan karena saya sudah tidak menjadi diri sendiri lagi. Seperti melakukan hal berdasarkan standar “like” orang lain. Bukan hanya murni yang saya suka. Belum lagi kalau tidak mendapatkan “like” yang cukup, eh malah kepikiran. Duh kok uripmu ruwet men, Den! Padahal dulu saya mengunggah sesuatu tidak peduli orang mau suka apa tidak. Sak karepku.

Apalagi kalau ada yang komen misalnya : duh enak banget ya di sana hidupnya, kayak yang nyaman. Atau komen : tentram sekali situasi di sana ya, jadi pengen, kapan bisa merasakan hidup enak ya dsb. Komen – komen tersebut membuat saya berpikir : Apa yang saya unggah, pasti ada yang merasa tidak nyaman lalu membandingkan hidup mereka dan saya. Merasa pada akhirnya kok saya ini jadi sumber ketidakbahagiaan buat orang lain yang mungkin hidupnya tidak seperti saya, menurut pemikiran mereka. Hal tersebut membuat saya resah. Padahal saya pamer yang ingin saya pamerkan saja kan. Itu semua nyata, tapi yang bagus – bagus saja. Babak belurnya ya jelas lah saya simpan sendiri. Ya buat apa diceritakan.

Itulah mengapa saya merasa kalau sudah terlalu Oversharing. Saya tidak nyaman dan memang musti disudahi saja. Benar saya tidak bisa mengendalikan apa yang orang lain pikirkan, apa yang orang lain unggah. Tapi, satu hal yang bisa saya lakukan adalah mengendalikan diri sendiri.

  • HIDUP NYATA DALAM DUNIA NYATA

Kerinduan saya untuk ada secara nyata di dunia nyata, yang tidak saya dapatkan di media sosial, membuat saya mantab keluar dari “kenyamanan” dan kesenangan di sana. Saya rindu saling bertukar kabar dengan teman. Rindu bertanya kabar secara langsung dan ditanya kabar oleh mereka. Langsung di sini dalam artian bukan hanya bertemu langsung. Menanyakan kabar langsung lewat aplikasi pesan, juga termasuk langsung. Atau saling berkirim email. Bukan saya tahu kegiatan mereka atau mereka tahu kegiatan saya dari media sosial. Kok rasanya menyedihkan ya kalau teman dekat saya malah tahu saya sedang dalam kondisi A atau sedang ada kabar bahagia, mereka malah tahunya dari media sosial bukan karena saya berkabar langsung kepada mereka. Begitu juga sebaliknya.

Saya rindu bercerita banyak hal dengan mereka. Rindu ketika kami saling memberi sesuatu, tidak perlu diunggah di media sosial. Diucapkan secara langsung itu sangat menyenangkan. Diunggah di media sosial, itu bonus, yang sebenarnya buat saya juga tidak terlalu perlu. Saya tetap berterima kasih kalau mereka memang ingin mengunggahnya. Ga ada yang salah. Tapi, tidak perlu semua orang tahu saya sudah memberi A atau B, begitu juga sebaliknya. Kecuali dalam rangka promosi, tentu hal tersebut lain perkara. Begitu juga saya, rindu kalau diri ini memberi sesuatu pada orang lain tidak perlu dipamer di media sosial. Memberi ya memberi saja tanpa perlu saya pamer. Meredam hasrat pamer itu ternyata susah ya.

Saya ingat satu hal, pernah saya berkirim kartu ucapan, tapi kok tidak ada kabarnya ya apakah kartu ini sampai atau belum. Sampai suatu saat, saya memberikan komen ke unggahan yang bersangkutan, lalu dia bilang kalau kartunya sudah sampai dan tidak sempat mengabari secara langsung karena sibuk. Lalu saya berpikir : oh memberi kabar secara langsung tidak sempat karena sibuk, tapi mengunggah status masih sempat dan mengucapkan terima kasih di media sosial. Saya sedih sih setelahnya. Merasa diabaikan.

Saya tidak perlu terkenal kok. Saya tidak perlu semua orang tahu apa yang sudah saya lakukan untuk teman – teman. Saya lebih memilih berinteraksi secara intens dan intim dalam kehidupan sehari – hari. Nanti, kalau suatu hari saya sudah punya bisnis sendiri, nah itu lain cerita. Saya butuh bantuan mereka untuk mempromosikan bisnis yang saya rintis. Tapi kalau pemberian atau perhatian, cukup secara personal saja.

Saya rindu bertukar kabar dengan mereka secara langsung, bukan dari media sosial.

  • KELUARGA

Keluarga adalah salah satu alasan terbesar saya untuk rehat dari media sosial, selain alasan – alasan pribadi yang sudah saya sebutkan di atas. Saya ingin benar – benar menikmati waktu bersama mereka tanpa ada distraksi. Saya ingin fokus dan hadir secara nyata untuk mereka, bukan setengah – setengah. Anak – anak semakin beranjak besar, waktu bersama mereka semakin sedikit. Saya ingin menikmati setiap momen yang ada, setiap perubahan yang terjadi, setiap tangis dan tawa, apapun itu. Saya dan suami semakin bertambah umur, kami ingin menikmati kebersamaan secara maksimal tanpa pikiran terganggu adanya media sosial yang kami miliki. Hanya 24 jam yang saya miliki setiap hari, ingin saya maksimalkan bersama mereka. Media sosial akan tetap ada dan bisa menunggu selama tidak bangkrut dan saya masih hidup. Tapi anak – anak selalu bertumbuh setiap harinya, mereka tidak bisa menunggu. Waktu bersama suami dan anak – anak tidak akan bisa terulang karena akan ada banyak hal yang berbeda setiap waktu. Saya tidak mau melewatkan itu. Saya ingin berlama – lama memeluk dan berbagi banyak hal, sebelum mereka keluar dari rumah dan kami sebagai orangtua kembali hanya hidup berdua.

Saya benar – benar ingin menikmati waktu sebagai Ibu dan Istri, selain sebagai seorang Deny. Saya ingin seutuhnya ada untuk mereka dan diri sendiri, tanpa harus berbagi perhatian dengan media sosial.

TAMBAHAN

Dari cerita di atas, kok nampaknya tahun lalu saya benar – benar kecanduan ya. Tersiratnya seperti itu. Setelah saya pikir lagi, ya belum sampai taraf kecanduan sih. Saya punya aturan main dalam bermedia sosial yang tetap saya patuhi yaitu : Tidak mainan Hp di hadapan anak – anak dan suami kecuali menerima telepon penting atau merekam dan memfoto mereka untuk dokumentasi pribadi, mematikan notifikasi kecuali aplikasi pesan dari suami dan yang berhubungan dengan anak, Hp selalu mode silent kecuali ada janjian telepon, dan membatasi mainan Hp maksimal 4 jam dalam sehari. Kalau keluar rumah tanpa Hp pun hal yang biasa dan tidak membuat saya cemas. Jadi kalau saya pikir, sebenarnya masih belum dalam taraf kecanduan ya wong saya masih bisa mengontrol penggunaannya. Tapi pikiran yang selalu lekat dengan twitter ini kok ya rasanya saya jadi merasa candu pengen dekat – dekat dengan Hp terus.

PENUTUP

Itulah alasan – alasan yang menguatkan saya untuk undur diri dari twitter dan FB. Alasan sejujurnya dan keadaan saya yang sebenarnya tahun lalu merasa terlalu lekat pada 2 media sosial tersebut. Saya tidak tahu apakah undur diri ini akan jadi permanen atau sementara saja. Nanti kalau kangen ya mungkin sesekali berkunjung lagi. Yang pasti, saya sekarang sudah merasa nyaman tidak bersentuhan lagi dengan 2 media sosial tersebut. Merasa hidup saya lebih fokus, produktif, dan bahagia karena banyak hal – hal positif yang berdatangan dan saling berhubungan setelah saya tidak berkutat dan sibuk di sana.
Saya tidak pernah menyalahkan media sosialnya atau menyalahkan unggahan orang lain. Saya menyalahkan diri sendiri yang tidak mempunyai kontrol yang kuat untuk memilah memilih mana yang seharusnya. Media sosial dan unggahan orang lain tidak pernah salah karena saya tidak punya kuasa mengontrol apa yang di luar diri sendiri. Yang bisa saya kontrol adalah saya sendiri, ini yang saya lakukan sekarang. Rehat dari twitter dan facebook.

Tulisan ini saya tautkan ke twitter (entah bagaimana cara kerjanya, kalau log out apa masih bisa tertaut atau tidak). Bagi yang membaca dari twitter, misalkan saya masih punya hutang dalam bentuk apapun pada siapapun di sana atau sekiranya saya belum menyelesaikan satu tanggungan, silahkan kirim pesan ke saya di sini. Pasti akan saya balas email yang dituliskan. Atau kalau sekedar ingin ngobrol – ngobrol dengan saya, monggo menghubungi saya di tautan tersebut. Kita masih bisa saling berkirim kabar meskipun saya tidak di 2 media sosial tersebut. Malah lebih intim bisa saling ngobrol lewat email. Saling berbagi kabar terkini. Kalau ada yang mempunyai nomer telepon saya, silahkan saya langsung dihubungi kalau ingin berbagi kabar. Saya akan sangat senang jika ditanya dan saling bertanya kabar. Tidak perlu sungkan, saya akan jawab pesannya meskipun pasti lama membalasnya. Menunggu saya senggang tentu saja. Twitter setelah ini akan saya pergunakan sebagai sarana berbagi tulisan di blog saja. Nampaknya seperti itu. Saya akan kembali aktif menulis di blog. Kembali pada jalur saya. Meredam hasrat pamer di blog lebih gampang. Paling tidak bisa meminimalisirnya.

Terima kasih sudah membaca tulisan super panjang ini. Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat jiwa dan raga.

*Selanjutnya, saya akan menuliskan hal – hal positif apa yang sudah merubah hidup selama menerapkan Digital Minimalism (bukan hanya terhadap media sosial, tapi hal – hal digital lainnya) sejak awal tahun sampai saat ini. Pada tulisan selanjutnya ya akan saya paparkan secara lengkap.

-25 Februari 2021-

Sembilan Tahun, Pak! Saya Rindu

Nasi goreng hijau ala Bapak

Tadi pagi, saya mengirim pesan kepada Ibu, Pak. Pesan yang saya kirim tidak terlalu panjang, “Hari ini, 9 Tahun Bapak meninggal. Saya merasa seperti baru tahun lalu. Saya merasa Bapak belum lama meninggalkan kita. Saya masih merasa Bapak ada di sekitar. Hati saya masih merasa belum lapang untuk melepaskan. Saya masih belajar untuk mengikhlaskan, Bu. Saya hanya butuh waktu.”

Ibu menjawab pesan saya juga tidak kalah singkat, “Ibu juga merasa Bapak belum lama sudah tidak ada lagi diantara kita. Ternyata sudah 9 tahun ya. Ikhlas memang butuh waktu, Nak. Semoga kenangan baik tentang Bapak bisa mempermudah langkah dan hati kita untuk lebih Ikhlas.

Pagi ini saya bangun dengan perasaan tidak seberat tahun lalu. Sedih Pak, masih sama rasanya. Tapi saya merasa lebih ringan dibandingkan tahun lalu. Tadi pagi mungkin sedikit teralihkan karena saya mengajak cucu – cucu Bapak jalan pagi membeli ikan goreng kesukaan mereka. Sama seperti Bapak yang sangat suka dengan ikan goreng, mereka juga suka dengan segala produk laut. Salah satu dari mereka bahkan punya sifat dan hati mirip Bapak. Penyayang. Saya selalu bercerita pada mereka sambil memperlihatkan foto Ibunya dipangku oleh Mbah Kakung. Mereka paham, kalau Mbah Kakung sudah berbeda alam. Mereka paham kalau Mbah Kakung tidak mungkin bisa mengajak jalan – jalan seperti anak – anak lain yang masih memiliki Opa. Mereka paham Pak, dengan pemahaman sederhana anak – anak.

Tahun Lalu, kami tidak jadi pulang, Pak. Tiket pesawat sudah kami beli, segala rencana sudah kami susun dengan matang, namun apadaya Tuhan berkehendak lain. Pandemi datang, kami memundurkan liburan ke Indonesia entah sampai kapan. Bahkan sampai saat ini, meskipun vaksin sudah ditemukan dan banyak orang sudah divaksin, dunia masih berjuang keras melawan pandemi. Belanda juga sedang Lockdown, Pak. Konon akan diperpanjang lagi entah sampai kapan. Semuanya sekarang serba entah, Pak. Serba tak pasti. Hanya virusnya saja yang pasti, membuat sakit parah bahkan sampai menyebabkan kematian. Kalau keadaan sudah aman, situasi sudah memungkinkan, kami akan datang ke Indonesia, melakukan ziarah yang sempat tertunda.

Tahun lalu, sangat sulit secara mental buat saya. Menantu Bapak punya stok sabar berlebih untuk mendampingi saya melalui masa – masa sulit. Tidak pernah lelah untuk menguatkan. Tidak pernah bosan melihat saya selalu berurai air mata dan sudah seperti orang linglung. Beruntung sekali saya berjodoh dengan dia. Saya yakin, dia adalah jawaban doa – doa yang Bapak panjatkan selama naik haji. Sayang Bapak pergi terlalu cepat sebelum bertemu dengan dia. Saya yakin, Bapak akan bangga punya menantu seperti dia.

Saya sangat rindu bercerita banyak hal, apapun, dengan Bapak, seperti yang selalu kita lakukan. Saya terkadang lupa kalau Bapak sudah tidak bisa menelepon saya lagi seperti biasanya. Saya terkadang masih sering mbatin kok Bapak sudah lama ya tidak menelepon saya. Lalu saya tersadar, sudah 9 tahun tidak bisa mendengar suara Bapak. Setelahnya saya hanya menangis, memendam kembali rindu ingin berbicara dengan Bapak. Setiap bercerita tentang Bapak, airmata tetap mengalir. Padahal yang saya ceritakan adalah hal – hal yang lucu. Rindu dan tidak bisa bertemu adalah perpaduan yang menyakitkan.

Jika saya sedang rindu, seperti siang tadi, saya makan nasi goreng hijau yang biasa Bapak buat untuk saya dan adik – adik. Setiap tanggal Bapak pergi, saya selalu makan nasi goreng ini, Pak. Semuanya masih sama saya ikuti persis seperti yang Bapak lakukan. Bumbu sama persis meskipun cabe rawit hijau di sini tidak sepedas di Indoensia, masih menggunakan daun jeruk, semua diuleg kasar bukan diblender, bumbu dioseng agak kering sebelum nasi dimasukkan. Hanya satu yang susah saya ikuti yaitu menggunakan nasi sisa. Bagaimana nasi di rumah bisa bersisa kalau saya masih suka makan nasi dalam jumlah banyak, tidak berubah sejak dulu. Hanya badan yang berubah Pak, tidak semungil saat Bapak masih ada.

Nasi goreng hijau ala Bapak
Nasi goreng hijau ala Bapak

Kami sehat Pak, sekeluarga. Ibu sehat meskipun selalu di rumah saja karena kondisi belum memungkinkan untuk ke mana-mana. Adik juga sehat. Adik yang satu lagi, entah saya tidak tahu, tidak mencoba mencari tahu, dan tidak mau tahu. Dia sudah memilih jalannya sendiri. Saya sudah mengikhlaskan kalau kami tidak bisa seperti dulu lagi. Sudah tidak ada yang perlu dipertahankan. Saya sudah berusaha keras waktu itu, tapi semua saya kembalikan pada dia. Saya lebih baik mundur. Manusia bisa berubah, bahkan yang mempunyai hubungan darah. Bapak tidak usah sedih melihat kami seperti ini. Kami baik – baik saja dengan jalan kami masing – masing.

Keyakinan saya tetap sama, bahwa Bapak masih ada di sekitar sini. Kita memang sudah berbeda alam, tapi saya selalu merasa bahwa Bapak tidak pernah jauh pergi. Setiap hari, setiap langkah, dan setiap cerita, saya hidup bersama kenangan Bapak yang tidak ada cela buat Saya, Ibu, dan adik – adik. Pun dari kesaksian banyak orang yang selalu bercerita bahwa Bapak selama hidup melakukan banyak kebaikan. Tak heran saat Bapak pergi, yang menghantarkan ke kuburan, iringan orang sampai membludak. Meskipun tidak ada di sana saat itu, tapi saya bahagia bahwa banyak orang mengenang Bapak sebagai sosok yang baik. Setiap orang memang tidak ada yang sempurna, namun Bapak buat kami lebih dari sekedar teladan. Bapak menjadi panutan dengan memberi contoh, bukan menyuruh. Kami menghormati Bapak bukan karena takut, tapi karena Bapak sangat penyayang.

Saya rindu, Pak. Sangat. Saya masih mencoba belajar perlahan mengikhlaskan. Saya mencoba mencerna dan memahami selama sembilan tahun ini. Bukan saya tidak bisa menerima yang sudah ditakdirkan. Bukan, Pak. Saya hanya butuh waktu yang entah sampai kapan bisa lebih ikhlas, lebih lepas.

Sudah sembilan tahun Pak, rasanya masih baru saja. Insya Allah nanti pada saatnya kita akan dipertemukan kembali dan saya akan bercerita langsung, hal yang tidak bisa saya lakukan sejak Bapak pergi. Sekarang, saya akan selalu ceritakan semua kebaikan Bapak pada siapapun, juga pada cucu – cucu Bapak.

Bapak akan selalu hidup dalam kenangan baik disetiap langkah kami.

-6 Januari 2021-

Tentang Berita Kematian

Tahun ini, terasa lebih berat buat saya dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Banyak sekali kabar duka yang saya terima, baik dari kerabat jauh, keluarga, teman, kenalan, bahkan sahabat. Setahun terakhir, rasanya gelap suasana hati, meskipun banyak juga kebahagiaan yang saya dapatkan. Pikiran saya terpecah dan sangat sedih sampai berhari – hari, menangis, dan jadi ngelangut. Menerima berita duka, buat saya menjadi sebuah cerita tersendiri. Ada semacam ketakutan. Dulu, kematian saya maknai sebagai sebuah proses perjalanan yang harus dilalui setiap makhluk hidup. Mutlak. Sudah sesederhana itu saya berpikirnya. Tetapi sejak 9 tahun lalu, semua jadi berubah.

Berita meninggalnya sepupu dekat tanpa sakit sebelumnya, membuat saya sangat berduka selama beberapa bulan. Saya mulai mempertanyakan banyak hal. Kenapa dia harus meninggal cepat, kenapa harus meninggal mendadak, kenapa semuda itu sudah berpulang, kenapa ini kenapa itu. Saya semacam menggugat kewenangan Yang Kuasa atas nyawa yang diberikan pada MakhlukNya lalu bisa mengambilnya sewaktu – waktu tanpa pemberitahuan di awal. Hanya berselang beberapa bulan kemudian, Bapak meninggal. Tanpa sakit juga, secara tiba – tiba. Saya semakin linglung. Makin berpikir sebenarnya ada apa ini dengan hidup kok semacam naik turun seperti permainan halilintar di Dufan. Naik perlahan trus melorotnya sangat cepat.

Sejak 9 tahun lalu, otak saya tidak berhenti berpikir tentang kematian. Saya ketakutan dan setiap waktu selalu terbersit bagaimana kalau menerima berita duka. Saya susah menggambarkan dengan tulisan. Jadi kalau saya deskripsikan, setiap langkah saya, rasanya di punggung itu seperti ada bayangan kematian yang selalu mengikuti. Bukan takut diri sendiri akan mati, tapi memikirkan orang yang saya kenal akan meninggal. Jika saya berkumpul dengan teman – teman atau saudara atau siapapun itu, jadi suka berpikir : jangan – jangan ini terakhir saya ketemu mereka. Lalu saya menjadi ketakutan dan cemas berlebihan jika yang saya pikirkan jadi kenyataan.

Efek positifnya, saya jadi benar – benar memaksimalkan momen. Saya berpikir umur tidak ada yang tahu, jadi ingin berbuat baik selalu, berprasangka baik, ingin bermanfaat, ingin membuat senang orang – orang sekitar, selalu memaksimalkan apa yang saya lakukan dan kerjakan, memaksimalkan waktu bersama keluarga. Saya tidak pernah tahu apa yang akan terjadi sedetik kemudian.

Tapi yang saya rasakan tentang dibayangi ketakutan menerima berita duka selama 9 tahun ini, hidup saya jadi berat secara mental. Lelah. Saya berjuang keras keluar dari bayangan ini. Berusaha keras untuk lepas dari rasa takut. Meminta bantuan professional, sudah beberapa kali saya lakukan selama 9 tahun ini. Segala cara sudah saya lakukan. Selama ini, semua saya pendam sendiri. Hampir tidak pernah saya ceritakan perihal yang mengganggu hidup pada siapapun (kecuali pada professional tersebut), termasuk suami.

Sampai setahun lalu, tepatnya bulan November, saya ceritakan semuanya perihal ini pada suami. Dia terkejut karena selama ini saya nampak baik – baik saja. Tidak pernah terbersit saya menyimpan beban yang sebegitu berat. Saya simpan sendiri dan berlaku seperti tidak ada apa – apa. Saya tidak ada maksud menyembunyikan apapun pada suami karena menurut saya ini bukan hal yang besar. Saya pikir karena saya sudah pernah melakukan terapi, konseling, dan seiring berjalannya waktu, akan semakin berkurang dan hilang. Tapi setahun lalu, ketakutan ini semakin menjadi. Saya jadi sering menangis, perasaan jadi semakin gelap, semakin takut kalau orang terdekat, teman, keluarga dekat tiba – tiba meninggal. Semakin gampang cemas, jantung gampang berdebar. Ketakutan yang sampai mengganggu aktifitas harian, makin sering mimpi buruk, tapi kok ya anehnya selera makan saya tidak berubah. Tetap doyan makan.

Saya ini mendem njero kalau kata orang Jawa. Ada hal – hal yang bisa saya ceritakan, ada banyak hal yang saya pikir lebih baik saya simpan sendiri. Itu kenapa saya tidak terlalu punya banyak teman karena saya tidak terlalu suka bercerita yang macam – macam dan kumpul – kumpul. Dengan suami, saya bisa bercerita banyak hal, semuanya.

Saya susah menjelaskan lewat tulisan sebenarnya apa yang saya alami dan rasakan ini. Semoga gambaran yang saya uraikan di atas bisa ditangkap, sedikit ada bayangan. Setahun ini, kabar duka seperti bertubi datangnya. Saya seperti orang linglung setiap menerima kabar duka apalagi dari mereka yang saya kenal dekat. Apalagi membaca berita yang berkaitan dengan Pandemi. Itulah kenapa saya sangat menyibukkan diri supaya pikiran saya tidak hanya fokus pada hal – hal yang menyangkut kematian. Aktifitas harian saya sebenarnya sudah padat, tapi tahun ini semakin saya tambahi supaya lebih padat lagi. Saya melakukan apapun yang ingin dilakukan supaya pikiran tidak fokus pada satu hal itu. Ada masanya juga saya menarik diri sejenak dari media sosial, untuk menenangkan diri. Ada masanya saya aktif lagi. Jadi saya ikuti saja maunya hati bagaimana. Setelah dipikir lagi, tulisan saya tahun ini pun kayaknya temanya gelap. Banyak cerita sedihnya.

Pandemi sialan ini, makin membuat mental saya berjalan tak tentu arah. Saya bisa bilang bahwa tahun ini saya tidak baik – baik saja, secara mental. Badan saya sehat, jiwa saya tidak. Sebenarnya selama 9 tahun terakhir inipun saya juga tidak baik – baik saja, berjuang merelakan kepergian Bapak dan berjuang keluar dari perihal berita duka. Tapi setahun ini, semakin tidak baik. Saya memutuskan untuk menulis di sini pun sudah saya pikirkan berulang. Saya menulis juga salah satu sarana terapi diri.

Saya selalu merasa terharu kalau ada yang berkirim pesan : Den, gimana kabarnya, sehat, baik – baik saja? Mata saya selalu berair membaca pesan singkat itu, dari siapapun. Terutama setahun terakhir ini. Merasa tulisan satu baris tersebut sangat bermakna. Terima kasih pada siapapun yang telah bertanya kabar dan berkirim pesan pada saya selama ini. Terima kasih.

Ada sebuah toko yang selalu saya datangi untuk membeli kartu ucapan. Seringnya, yang saya beli di sana adalah kartu ucapan selamat ulang tahun, kelahiran, dan ucapan Natal serta tahun baru. Setahun ini, saya ke toko itu seringnya membeli kartu ucapan duka cita.

Sebulan terakhir, saya menerima kabar duka dari 10 orang : kerabat, teman, kenalan, teman dekat, bahkan sahabat. Mereka kehilangan Ibu/Bapak/Suaminya. Hati saya pedih sekali. Bahkan beberapa teman di sini kehilangan Bapak/Ibunya di Indonesia tapi tidak bisa pulang ke Indonesia karena Pandemi. Saat saya menuliskan kartu ucapan bela sungkawa, saya menulis sambil menangis. Perih rasanya hati saya membayangkan mereka tidak bisa bersama Bapak/Ibu untuk terakhir kali, bahkan tertunda pulang ke Indonesia.

Kemarin, saya ke toko tersebut untuk kedua kalinya dalam sebulan ini. Membeli 3 buah kartu ucapan duka. Saat memilih kartu di rak, mata saya berair. Saya tidak kuasa menahan tangis. Dalam waktu seminggu, beruntun 3 kabar duka saya terima. Terakhir yang saya terima beberapa hari lalu dari sahabat yang Ibunya meninggal. Patah hati ini karena saya mengenal Beliau. Kami bersahabat selama 21 tahun, jadi keluarga dia sudah saya anggap keluarga sendiri karena kami sama-sama kenal dekat. Saya benar – benar berduka. Berat rasanya hati, sangat pedih.

Ketika membayar, kasir menghitung jumlah kartu yang saya beli. Lalu dia berucap : Gecondoleerd, sterkte! – Turut berduka cita. Yang kuat ya. Untung pakai masker, jadi dia tidak tahu kalau saya sudah sangat menahan tangis. Saat berjalan kaki pulang ke rumah, saya sudah tidak sanggup menahan air mata. Rasanya sedih dan perih yang ada di hati. Saya berucap dalam hati : Tuhan, tolong cukupkan sampai di sini berita duka yang saya terima. Cukup, ini sudah terlalu banyak. Tolong berikan kesehatan yang baik dan keselamatan buat kami semua. Tolong bantu kami melewati pandemi ini Tuhan. Tolong kuatkan saya juga saat menerima berita duka. Tolong. Ini tidak mudah buat saya.

Untuk siapapun yang sedang berduka, berkabung, doa saya bersama kalian. Semoga dikuatkan. Turut berduka cita.

Semoga kesehatan yang baik selalu menyertai kita semua dan keluarga.

– 11 Desember 2020-