Where is the Love?

Saya tidak pernah sepemikir ini mikir tentang apa yang terjadi di dunia, akhir-akhir ini khususnya. Entah kenapa nyesek sekali sampai-sampai sulit membendung air mata. Biasanya juga saya mikir, tapi tidak sampai se-mikir sekarang. Apa yang terjadi beruntun membuat pertanyaan sederhana muncul di benak saya, “Di mana cinta saat ini berada?” Kebencian seperti merajalela, mengalahkan cinta yang sejatinya ada dalam setiap manusia. Politik, agama, kekuasaan seakan menjadi kendaraan untuk menebar jala-jala amarah yang semakin membara. Tentu saja selalu ada korban yang jatuh, mereka yang tidak mengerti apa-apa, nyawa melayang, ketakutan, kelaparan, kemiskinan, kebingungan harus pergi ke mana mencari tempat untuk berlindung.

Saya rindu pertemanan yang penuh cinta, tanpa harus menuding ini atau itu kafir ataupun beraliran A atau B hanya karena cara pandang yang berbeda, seolah-olah yang paling benar dan yang berbeda dianggap salah dan layak untuk disalahkan. Hey, jika Tuhan mau, bisa saja Dia menciptakan hanya satu agama ataupun tidak beragama semua. Tetapi tidak seperti itu, karenanya Dia menciptakan perbedaan. Saya rindu pertemanan yang jauh dari prasangka dan kemudian hari tidak porak poranda karena pilihan politik ataupun pendapat yang berbeda. Kenapa tidak berpikir sederhana bahwa berbeda itu indah.

Saya rindu suasana menjelang Ramadan di mana anak-anak kecil berarak keliling desa membawa oncor dan kentongan sepulang Taraweh malam pertama. Mereka menyerukan kegembiraan dan tidak sabar menunaikan puasa Ramadan. Kecintaan mereka akan hadirnya bulan Ramadan. Bukan anak-anak kecil yang dikekang cara berpikirnya dengan ajaran kebencian penuh doktrin, berarak bukan untuk menebarkan kegembiraan tetapi meneriakkan kalimat-kalimat penuh amarah yang saya yakin mereka sendiri tidak paham apa arti sebenarnya saat mereka bersuara “bunuh bunuh!.” Betapa sedihnya saya membayangkan bagaimana hidup anak-anak itu nanti kedepannya jika saat ini saja lingkungan mereka mengajarkan kedengkian.

Saya sedih melihat Negara saya menjadi seperti ini. Jangan bilang bahwa saya hanya mengikuti apa yang terjadi di Indonesia hanya lewat TV, media sosial ataupun radio. Saya masih punya banyak keluarga dan teman-teman baik di Indonesia, baik yang tinggal di kota besar maupun di desa. Saya mendapat cerita dari mereka, dari cerita paling baik sampai yang paling buruk. Sungguh, saya sedih sampai tidak tahu harus menulis apa pada bagian ini. Kemarahan, hujatan seakan menjadi hal yang lumrah saat ini. Apakah bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang ramah sekarang hanyalah mitos belaka? Apa yang sebenarnya ingin diperjuangkan atau dibela? Tuhan? Yakin bahwa ingin membela Tuhan, bukan hanya ingin memperjuangkan kepentingan golongan atau ego semata lalu agama yang dibawa-bawa? Tuhan itu Maha apapun dari segala ciptaanNya.

Saya rindu Masjid, Surau, Musholla menjadi tempat beribadah dan menimba ilmu, bukan sebagai tempat dakwah dengan materi yang disampaikan penuh rasa amarah. Berteriak dan bersuara kencang menjelekkan mereka yang berbeda keyakinan. Tidakkah mereka lelah menebarkan kebencian? Jika ingin menyebarkan ajaran kebaikan, lakukanlah dengan cara yang santun dan baik pula dan penuh cinta. Jika ada yang ingin mengatakan bahwa ini hanya propaganda media saja, saya dengan sangat yakin mengatakan bahwa saya mengalami ini saat masih mengais rejeki di Ibukota dan ternyata masih berlangsung sampai saat ini, tidak hanya di Ibukota saja

Saya rindu dunia yang damai, yang penuh rasa cinta terhadap sesama meskipun banyak perbedaan yang ada.

Namun saya selalu optimis bahwa masih banyak orang baik di dunia ini, yang tidak pernah mempermasalahkan dan mempertanyakan agama kamu apa, suku kamu apa, asal kamu dari mana, atau apapun itu. Masih banyak orang yang punya rasa cinta dalam hati mereka yang akan selalu menebarkan kebaikan tanpa pandang bulu dan tanpa pamrih. Masih banyak orang jujur meskipun jalan mereka terjal berliku untuk menegakkan kejujuran. Masih banyak keluarga yang merangkul anak-anak mereka penuh cinta dan mengajarkan bahwa perbedaan itu sangatlah indah. Masih banyak hal-hal optimis yang saya simpan dalam hati dan pikiran tentang kebaikan di dunia ini. Jika harapan saya akan dunia ataupun Indonesia terlihat dan terdengar sangat muluk, maka saya akan melakukan apa yang saya bisa saat ini. Mulai dari keluarga kecil saya, kami membangun dari banyak sekali perbedaan. Tapi karena semua berawal dari cinta dan kasih sayang, semoga kedepannya kami selalu bisa menularkan cinta dan sayang yang kami punya pada lingkungan terdekat, pada orang-orang yang kami sayangi. Semoga cinta dan sayang itu akan menular. Saya selalu meyakini dan tetap meyakini bahwa kebencian akan selalu kalah dengan rasa cinta dan kasih sayang.

Jadi, di manakah rasa cinta itu? Saya yakin, akan selalu ada dalam setiap manusia.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan bagi yang menjalankan.

Saya senang mendengarkan lagunya Kyai Kanjeng yang judulnya Rampak Osing. Kalau ada yang tahu bahasa Jawa, lagu ini artinya sangatlah dalam.

Arep golek opo arep golek opo kok uber uberan. Bondo kuwoso ra digowo mati

Menikah Muda

Hari ini saya mendapatkan kabar kalau salah satu dari teman SD dikaruniai cucu pertama. Ini bukan kali pertama saya mengetahui teman SD saya yang sudah punya cucu. Bukan hanya cucu pertama tetapi cucu ke sekian. Kali pertama saya tahu ada satu teman SD yang punya cucu itu saat saya sekitar umur 30. Waktu itu secara tidak sengaja saya bertemu dengan dia saat saya liburan ke rumah orangtua dan kami sama-sama membeli rujak. Dia menggendong bayi, yang awalnya saya pikir anaknya. Ini pertemuan pertama setelah lulus SD, tapi kami masih sama-sama mengingat wajah satu sama lain karena memang tidak terlalu banyak berubah. Setelah kami saling bertegur sapa, saya bertanya usia berapa bulan anaknya. Dia lalu memberikan jawaban yang mengejutkan saya kalau bayi dalam gendongannya itu adalah cucunya. 

Dia lalu bertanya balik ke saya, berapa umur anak saya. Dia bahkan tidak bertanya apakah saya sudah menikah pada saat itu. Saya jawab kalau saya belum menikah. Ternyata jawaban saya membuat dia terkejut. Jadi kami akhirnya sama-sama terkejut dengan jawaban yang diterima haha. Dia kaget kok usia 30 tahun belum menikah. Kalau orang lain yang bertanya, mungkin saya akan gusar dengan pertanyaan itu. Namun karena dia yang bertanya dan saya tahu persis bagaimana lingkungan dia tinggal dan lingkungan saya dibesarkan, saya menjawab dengan santai. Saya bilang kalau saya masih menikmati pekerjaan saya dan masih belum ada calon pada saat itu. Saya kemudian mengajak dia untuk mampir ke rumah lalu melanjutkan perbincangan sambil makan rujak yang kami beli.

Saat menulis ini, saya jadi mengingat kembali hidup berbelas tahun lalu. Rasanya saya memang dari dulu tidak punya keinginan untuk menikah muda. Ukuran menikah muda buat ukuran saya adalah dibawah 25 tahun (jadi subjektif sekali). Saya dulu punya keinginan dan tujuan yang saya tuliskan di diary yang ada kuncinya. Diary itu masih ada sampai sekarang dan kalau saya pulang ke rumah orang tua pasti saya baca-baca lagi. Saya lumayan rajin menulis diary, bahkan sampai saat ini. Ada satu Diary saat saya SMA yang bertuliskan keinginan saya 10 tahun kedepan. Saya ingat diantaranya saya menuliskan ingin kuliah di ITS, bekerja di perusahaan asing di Jakarta, kuliah S2, tinggal di LN, jalan-jalan keliling Indonesia dan LN. Tidak ada satu poin yang menyebutkan bahwa dalam 10 tahun kedepan akan menikah. Kalau ditanya orang, saya selalu mantab menjawab saya akan menikah minimal usia 30 tahun. Ucapan adalah doa ya, akhirnya terkabul nikah di usia 33, dimana untuk ukuran orang Indonesia, terutama lingkungan saya dibesarkan, adalah usia telat kawin. Diluar jodoh adalah urusan Tuhan, menikah pada usia tersebut karena memang pilihan saya. 

Sebelum bertemu dan dipertemukan dengan jodoh apakah saya pernah merasa cemas, “kok rasa-rasanya susah sekali ya yang namanya ketemu jodoh.” Tidak dipungkiri, iya. Perasaan tersebut menyelinap saat saya membangun hubungan dan ternyata kandas. Saya berpikir, gila ini yang namanya jodoh misteri sekali ya. Yang nampaknya semua baik-baik saja dan tinggal satu langkah, eh malah buyar tengah jalan. Yang sudah sangat serius dan berpikir matang tentang masa depan, eh ga bisa lanjut karena beda agama. Ada di satu masa saya pernah berpikir, enak ya yang menikah karena dijodohkan. Tidak usah merasakan kegagalan seperti saya. Eitss tunggu dulu. Ada dasarnya saya berpikir seperti ini. Nanti akan saya tuliskan. Namun gagal dalam hubungan percintaan tidak membuat saya ngelangut dan menyalahkan  keadaan. Saya malah mempergunakan waktu kesendirian dengan semaksimal mungkin. Bekerja sesuai target yang saya tetapkan, jalan-jalan sepuas mungkin, sekolah lagi, menggapai apa yang ingin saya gapai. Intinya mempergunakan waktu sebaik mungkin dengan melakukan kegiatan yang bermanfaat.

Kembali lagi ke cerita teman SD saya. Di lingkungan saya dibesarkan, menikah usia dini saat itu (pada era saya SMP sampai SMA) sangatlah lumrah dilakukan. Kenapa saya tuliskan saat itu, karena saat saya kuliah sudah tidak terlalu mengikuti perkembangan lagi. Beberapa teman SD saya begitu lulus SD langsung dinikahkan oleh orangtuanya. Pernikahan ini terjadi karena adanya perjodohan. Bahkan seringnya mereka dijodohkan saat masih dalam kandungan. Tradisi perjodohan ini terjadi bukan hanya antara orangtua yang berteman dekat, atau antara tetangga, tetapi juga antara saudara jauh. Saya tidak tahu sebenarnya ini tradisi atau budaya atau apa yang tepat penyebutannya. Tetapi perjodohan ini dilakukan dalam satu suku. Mereka tidak ada pilihan untuk menolak karena apa yang sudah ditetapkan oleh orangtua ya harus dijalankan. Tidak ada dalam kamus mereka saat itu menikah dini karena menghindari zina atau apalah itu. Tidak ada dalam pikiran mereka menikah dini karena ingin menggapai surga. Yang ada ya karena jalan hidup mereka sudah diatur oleh orangtuanya.  Saat saya pusing memikirkan harus juara kelas saat SMP, mereka sudah melahirkan anak pertama. 

Saya pernah bertanya ke tetangga saya yang menikah saat lulus SD juga, apakah dia paham saat menikah apa sebenarnya arti menikah itu sendiri. Oh ya, kebanyakan yang menikah saat usia SD ini adalah pihak perempuannya dan lelakinya terpaut usia tidak terlalu jauh. Usia lulus SMP atau usia SMA. Mungkin ada yang bertanya, mau makan apa mereka di usia itu sudah menikah atau bekerja apa suaminya. Di masyarakat tersebut, menikah cepat lebih membanggakan dibandingkan punya pekerjaan yang bagus. Pendidikan tinggi tidak perlu buat mereka asal keluarga bisa kumpul. Jadi tidak ada ceritanya bagi mereka sampai mengirimkan anaknya sekolah ke luar kota. Mereka lebih memilih untuk selalu berkumpul utuh bersama seluruh keluarga daripada harus mengirimkan anaknya sekolah sampai tinggi. Para orangtua lebih memilih menanggung biaya hidup anak-anak mereka yang menikah karena hasil perjodohan dan tidak melanjutkan sekolah daripada anak-anak mereka menikah telat tapi punya pekerjaan yang bagus. Mereka dalam tulisan ini merujuk pada sebagian besar masyarakat di kota saya dibesarkan. Tentunya tidak semua seperti itu, tapi yang saya tahu sebagian besar pada saat itu berlaku hal yang seperti sudah saya sebutkan di atas.

Buat teman-teman saya itu, mereka sudah tidak berpikir lagi tentang bahagia atau tidak bahagia dalam pernikahan usia dini. Mereka tidak ada pilihan untuk menolak. Mereka tidak ada pilihan untuk menentukan masa depan mereka. Mereka tidak ada pilihan untuk menikmati kehidupan seperti teman-teman lainnya yang masih sibuk belajar dan bermain. Tetapi diantara mereka bilang pada saya bahwa mereka menikmati hidup seperti itu. Maksudnya hidup dengan suami pilihan orangtua dan hidup bahagia berkecukupan versi mereka, yaitu selalu bahagia bisa berkumpul dengan keluarga.

Kalau ditilik lagi, dulu kadang-kadang saya berpikir pilihan hidup yang saya inginkan dan tuliskan di Diary nampak sangat tinggi dan rumit. Ingin ini dan itu yang butuh usaha agak ruwet dalam mewujudkannya. Dan kalau ingat teman-teman SD, sepertinya tujuan hidup mereka sederhana. Tapi saya lupa, bahwa hidup itu selalu sawang sinawang. Apa yang saya pikirkan sederhana tentang hidup mereka, belum tentu juga pada kenyataannya sederhana. Seperti saat saya berpikir lebih enak dijodohkan, saat saya mengalami kegagalan dalam urusan percintaan, pada kenyataannya memang perjodohan yang dilalui mereka tidak sederhana. Saya tidak tahu isi hati mereka. Belum tentu juga saat saya dijodohkan trus saya menerima dengan lapang dada. Bisa jadi malah saya memberontak. Dan mungkin juga mereka pernah berpikir sesuatu tentang hidup saya yang nampaknya baik-baik saja, tetapi sesungguhnya banyak hal berliku yang terjadi.

Buat saya, menikah itu adalah pilihan bukan kewajiban bukan pula untuk memenuhi tuntutan lingkungan. Menikah buat saya adalah saat saya sudah merasa siap dan mengisi waktu sebelum bertemu jodoh dengan semaksimal mungkin untuk meraih segala cita dan impian. Tetapi untuk masyarakat tertentu, menikah itu adalah kewajiban jadi harus ditunaikan dengan cara tidak memandang usia. Dari hasil perbincangan dengan teman saya pada saat itu, saya bersyukur dilahirkan tidak satu suku dengan dia meskipun tinggal dan besar dilingkungan mereka jadi saya tidak perlu merasakan yang namanya perjodohan dan harus menikah usia muda bahkan usia dini. Sedangkan teman saya beranggapan bahwa dia bersyukur dijodohkan karena dia hidup berbahagia dengan pilihan orangtuanya dan bisa berkumpul terus dengan keluarganya tanpa harus hidup saling berjauhan satu sama lain dengan anggota keluarga yang lain. 

Versi bahagia setiap orang memang berbeda dan mudah-mudahan apapun yang telah diputuskan saat akan melangkah lebih jauh tidak mengurangi rasa syukur tanpa harus selalu melihat ke atas dan membuat silau sesaat.

-Nootdorp, 17 Mei 2017-

Cerita Kumpul Teman

img_5448-1

Enak juga ya 1.5 bulan tidak menulis blog, BW juga sesempatnya, rasanya luar biasa 😁 Sebenarnya banyak yang ingin ditulis, mudah-mudahan lain waktu bisa menuliskan cerita yang selama ini tertunda. Sekarang saya mau bercerita keseruan yang baru saja terjadi. Lumayan ditulis di sini jadi kapan-kapan kalau baca lagi bisa senyum-senyum sendiri.

Sebulan lalu, kami mengirimkan undangan ke beberapa teman saya untuk datang ke rumah karena saya dan suami akan menyelenggarakan sebuah acara. Kalau di sini memang untuk mengundang harus jauh-jauh hari dan konfirmasi bisa atau tidaknya maksimal 7 hari sebelum acara. Enak sih kalau begini, jadi bisa tahu berapa orang yang datang sehingga bisa mempersiapkan khususnya berapa banyak makanan yg harus disediakan si pengundang. Saya bersyukur dari sekian yang kami undang, hanya satu yang tidak bisa datang. Ini memang undangan khusus untuk teman-teman saya dan hampir semuanya bersuamikan orang Belanda. Jadi yang akan datang separuh dari Indonesia dan separuh Belanda. Ada juga yang membawa anak-anak. Jadi saya harus memikirkan menu yang cocok untuk lidah orang Indonesia (sebagian besar teman-teman saya yang datang asalnya dari Jawa Timur), lidah orang Belanda juga bisa dinikmati untuk anak-anak. Saya menyusun menu, berdiskusi dengan suami, lalu menyiapkan menu plan B. Kenapa harus dipersiapkan menu plan B? Ya jaga-jaga kalau ditengah jalan saya tiba-tiba males masak haha saya ini memang masaknya berdasarkan mood. Makanya harus ada rencana cadangan.

Seminggu sebelum acara, badan saya terasa tidak nyaman. Saya sudah pesimis apakah bisa memasak sendiri nantinya. Lalu suami bilang, “gampang kalau kamu ga kuat masak, kita pesan saja katering.” Saya lumayan tenang sih begitu suami ada jalan keluar seperti itu. Tapi idealisme saya keluar, harusnya saya bisa masak sendiri karena saya sudah niat akan menjamu teman-teman yang datang. Saya berharap badan saya lebih enakan menjelang hari H sehingga bisa masak. Hari Rabu saya pergi ke pasar. Ini pergi ke pasar pertama kali sejak 2 bulan lalu. Beberapa langganan menanyakan kemana saja saya kok lama ga terlihat ke pasar. Wah, terharu jadinya sampai diingat sama mereka. Saya sampai dikasih bonus belimbing wuluh waktu beli cabe rawit. Trus pas beli ikan, biasanya kalau saya belinya sedikit oleh penjualnya tidak ditawari untuk sekalian dibersihkan. Tapi kemarin itu tanpa bilang, ikannya langsung dibersihkan padahal saya beli tidak banyak. Berkah lama tidak ke pasar 😁

Singkat cerita, saya masaknya mencicil tiap hari, sekuat badan saya saja. Karena sudah ada plan B, jadi saya tidak ngoyo. Kalau capek ya tiduran, selonjoran atau jalan kaki ke danau dekat rumah. Kalau sudah kuat ya masak lagi. Karena masaknya dicicil, akhirnya tidak terasa pas hari Sabtu sewaktu acara berlangsung masakan sudah siap. Tinggal yang belum siap saja yang harus dimasak. Meskipun kompor 4 nyala semua dan harus konsentrasi tinggi jangan sampai ada yang gosong, sebelum jam 12 siang masakan sudah siap semua. Acara mulai jam 14.30. Jadi Sabtu pagi hari saya mulai dengan menusuk daging ayam yang sudah saya potong seukuran sate dan saya rendam dengan bumbu malam sebelumnya lalu taruh di kulkas. Paginya tinggal tusuk lalu saya sambi dengan membakar. Setelah sekitar 70 tusuk sate selesai, saya lanjutkan dengan mengisi lumpia disambi dengan bolak balik mengecek bakaran sate. Setelah mengisi lumpia selesai, saya menyalakan kompor sebelah panggangan sate untuk menggoreng lumpia, tahu tempe dan hati rempelo. Lalu kompor depannya menyala juga untuk membuat kuah bakso dan kompor sebelahnya menyala juga untuk merebus mie dan bihun untuk bakso juga merebus sayuran untuk urap-urap. Jadi 4 kompor nyala semua, makanya butuh konsentrasi tinggi biar salah satunya ga ada yang gosong. 

Malam sebelumnya saya membuat cendol, tapi ternyata gagal. Akhirnya membuat cendol nangka harus dicoret dari menu. Niat membuat brownies juga terpaksa diurungkan karena badan saya sudah tidak sanggup. Suami tugasnya membersihkan seisi rumah dari menyapu sampai mengepel, menata kursi, menyiapkan meja, membersihkan taman depan belakang, menyiapkan kursi-kursi dan meja di taman belakang karena cuaca cerah (tapi dingin semriwing) jadi nanti yang datang bisa makan dan bercengkerama di taman belakang. 

Jadi ini menu yang saya masak untuk acara Sabtu kemarin : Bakso isinya bakso daging, bakso ikan, bakso tahu goreng dan tahu putih dan balungan. Baksonya saya buat sendiri kecuali yang bakso ikan. Saya tempatkan baksonya di panci seperti abang bakso di Indonesia. Saya beli di orang Indonesia yang jualan di sini. Sebenarnya ada sarangannya di atasnya, ya seperti dandang bakso di gerobak itu. Tapi saya malas menata isi baksonya di sarangan, akhirnya sarangannya saya lepas haha. Beberapa teman saya kaget saya punya dandang bakso, dipikir saya mau buka katering bakso. Ya siapa tahu 😁 Menu bakso ini saya lengkapi dengan pendampingnya seperti bihun, mie, lontong, sawi, jeruk nipis, kecap, saus, dan saus sambel. Maunya saya bikin pangsit juga tapi ku tak sanggup buatnya.

Menu Bakso
Menu Bakso

Menu selanjutnya lumpia isi wortel, rebung dan tahu. Saya buat ala lumpia Semarang. Tidak sempat saya foto lumpianya. Lalu saya buat pepes ikan lengkap dengan belimbing wuluh dan kemangi plus daun pisang. Ini juga lupa saya foto. Saya buat sepuluh bungkus, satu bungkusnya isi dua ikan. Sengaja masak banyak supaya bisa dibawa pulang teman-teman. Lalu saya buat sate ayam, bebek goreng ala Surabaya, urap urap, gorengan tahu tempe hati dan rempelo, sambel teri, nasi, lontong, acar, buat bawang goreng, sambel bakso dan sambel bebek.

Sate dan beberapa pendamping bakso
Sate dan beberapa pendamping bakso
Gorengan tahu tempe hati rempelo, beberapa sambel, bumbu sate, bebek dan urap, tak lupa kerupuk
Gorengan tahu tempe hati rempelo, beberapa sambel, bumbu sate, bebek dan urap, tak lupa kerupuk
 

Lalu suami menyiapkan minuman semacam infused water ditaruh Jar. Ini lupa saya foto juga. Jarnya seperti foto di bawah diisi air lalu potongan Strawberry, lemon dan daun mint lalu diisi es batu. Enak juga rasanya dan segar. Selain itu juga ada minuman lainnya, tidak ketinggalan teh kotak (ini primadonanya).


Begitu teman-teman saya beserta suaminya datang (ada beberapa yang suaminya tidak bisa datang karena bekerja), wah suasana langsung riuh. Maklum saja ya kalau orang Jawa Timur ngumpul (teman-teman saya ini kebanyakan dari Surabaya), biasanya langsung rame, yang ada tertawa tanpa berhenti saling berebut ngobrol satu sama lain. Sementara para suami ngumpul sendiri tapi lama lama juga antara kami bisa saling ngumpul satu sama lain. Badan nyaris rontok karena beberapa hari mencicil memasak, rasanya hilang begitu mereka makan dan berkali-kali nambah bahkan teman-teman saya makan tanpa sendok langsung muluk. Karena cuaca cerah, mereka makan di taman belakang di meja dan kursi-kursi yang sudah ditata. Orang-orang Belanda juga suka dengan masakan yang saya sajikan, bahkan saya terkejut mereka juga doyan bebek dan jeroan karena setahu saya orang Belanda tidak suka jeroaan. Apalagi yang bakso, bersyukur semua cocok dengan rasanya sampai semua nambah berkali-kali dan bilang “Heerlijk, Deny. Heerlijk!” Artinya enak sekali. Wah saya senang sekali, capek langsung hilang. Niatnya masak dengan porsi lebih supaya masih ada lebih makanan sehingga teman-teman bisa bungkus bawa pulang. Ternyata makanan yang lebih juga tidak terlalu banyak bahkan bebeknya tinggal sedikit. Saya bilang ke mereka untuk membungkus apapun yang ingin dibungkus karena saya tidak mau menyimpan di kulkas. Bersyukur mereka bungkus semua sampai baksonya tinggal sedikit kuahnya. Saya senang karena tidak harus menyimpan di kulkas, mereka juga senang karena bisa bawa makanan pulang. Oh iya, ada teman yang bawa ote ote, dia ini spesialis pembuat ote ote, rasanya juara! Ada juga teman yang membawa carrot cake, wuiihh ini juga rasanya enaakk.

Acara kemarin adalah acara pertama yang saya buat untuk teman-teman Indonesia yang saya kenal baik selama di Belanda, yang datang 15 orang dewasa dan sukses. Setiap orang bisa ngobrol sepuasnya satu sama lain, makan sepuasnya, tertawa sepuasnya, tidak ada grup grupan benar-benar bisa berbaur dan tidak ada yang canggung padahal banyak yang baru pertama kali kenal, rasanya seperti teman lama. Rasa senangnya masih terbawa sampai saat saya menulis ini. Yang penting setiap orang benar-benar menikmati dan membawa kesan baik di acara kemarin. Pulang ke rumah dengan hati riang. Itu yang kami harapkan. Hari minggunya saya menulis pesan ke masing-masing orang ucapan terima kasih atas kesenangan di acara kemaren. Mereka juga senang dan ditutup dengan “masakanmu enak banget lho, suamiku nambah sampai begah perutnya nambah terus. Kamu pintar masak, sana buka restoran saja.” Haha Amiiinn.

Het was een erg gezellige dag! Tot volgende keer!

-Nootdorp, 7 Mei 2017-

Maret Berlalu Sangat Cepat

img_4751-1

Kok sudah akan April ya, lah Maret saya ke mana saja kok tidak berasa *mikir. Beberapa hal yang terjadi di bulan Maret ini.

KOPDAR DENGAN PUJI

Setelah beberapa kali saling mengirim email tentang rencana Puji dan Suaminya akan liburan ke Eropa dan Belanda salah satu tujuan liburan mereka, kami lalu membuat janji untuk saling ketemu. Mendekati hari H, keadaan antara pasti dan tidak pasti dari pihak saya karena ada satu hal. Setelah berunding di WhatsApp,  bersyukur mereka menyanggupi ke Den Haag (karena satu keadaan saya tidak bisa mendatangi mereka) dari Amsterdam, tempat merek menginap, demi supaya saya dan Puji bisa saling ketemu. Saya kenal Puji dari blog sejak sekitar 2014, jadi tidak terlalu lama juga. Saya suka Puji apalagi kalau sudah bercerita tentang makanan. Rasanya saya seakan berada disekitarnya menikmati hasil memasaknya saat akhir pekan. Beberapa kali saya mengirim kartupos ke Puji dan saling kirim-kirim email juga. Jadi rasanya seperti sudah kenal lama.

Saya telat 10 menit saat ketemu Puji karena ada perbaikan rel kereta (berangkat lebih awal tetep aja telat) dan sudah memberitahu sebelumnya ke Puji. Saat ketemu Puji dan Suaminya, saya tidak merasa canggung sama sekali. Biasanya saya kalau ketemu orang baru pertama kali, pasti suasananya jadi canggung, karena saya tidak bisa langsung ngobrol atau cerita ini itu. Saya harus memetakan situasi dulu. Tapi dengan Puji dan suaminya beda. Seperti sudah kenal lama, padahal tahu cerita tentang mereka ya hanya mengandalkan dari blog.

Singkat cerita, sebelum ke tempat makan, saya membawa mereka berkeliling sebentar ke sekitar Den Haag kota. Karena sudah jam 8 malam, jadi tidak banyak yang bisa dilihat. Cuma yang saya ingat dari Puji beberapa kali ngomong “Lho ini Den Haag kok sepi ya, kok jam 8 malam sudah banyak toko tutup ya padahal ini kan sabtu malam. Lho ini mallnya kok seuplik gini, aku kira dulu Mbak deny becanda lho kalau di Den Haag ga ada mall gede.” hahaha Puji terkaget mungkin tidak menyangka Den Haag ga ada apa-apanya dibandingkan Jakarta.

Kami lalu menuju restoran Indonesia karena saya sudah reservasi sebelumnya lewat telefon. Waktu kami tidak terlalu banyak di sana karena restorannya akan tutup jam 9 malam. Setelah memesan dan mengobrol sambil makan, tidak menyangka saya diberi buah tangan oleh Puji, dua botol sambel Bu Rudy. Plus makanan saya dibayarin oleh mereka. Jadi (ga) enak hati nih, tuan rumah macam apa saya sampai makan dibayarin (padahal ya seneng sih, kan rejeki ya jangan ditolak :D). Kesampaian juga ketemu dengan Puji dan Mas Eri yang super ramah jadi berasa sudah berteman lama. Sekitar jam setengah 10, saya dijemput suami sekalian saya kenalkan dengan mereka. Lalu kami berpisah karena mereka menuju Den Haag Centraal untuk kembali ke Amsterdam dan saya pulang ke rumah. Semoga kita bisa ketemu lagi nanti ya Puji dan semoga lancar liburan keliling Eropanya.

MASUK KORAN BELANDA

Ini sebenarnya tidak disengaja. Jadi sewaktu acara ulang tahun Piet Mondriaan ke 145 dan juga De Stijl ke 100, Pemerintah kota Den Haag mengadakan acara bagi-bagi Taart gratis ke 5000 orang di balai kota. Jadi ini Taart raksasa. Nah saya hari itu ada urusan ke kota, akhirnya mampir untuk lihat sebesar apa taartnya. Ternyata memang besar sekali dengan motif Mondriaan. Saat sedang asyik makan Taartnya (yang enak sekali rasanya), ada seseorang menawari saya untuk berfoto di depan taart bersama dua orang lainnya. Beliau adalah wartawan koran Belanda AD (Algemeen Dagblad). Lalu berposelah kami bertiga. Kata wartawannya, berita bisa di baca online sorenya. Saya bilang suami ternyata memang sorenya sudah ada beritanya di website mereka dengan foto kami bertiga (yang dua lagi saya tidak kenal) di depan taart. Keesokan paginya, Mama mertua heboh kasih tahu kalau foto saya ada di koran lalu Beliau bersemangat menggunting bagian yang ada foto saya itu. Lumayanlah pernah masuk koran Belanda, makan taart haha.

KANGEN DENGAN MAKANAN RUMAH, MAKANAN WARUNG, DAN JAJANAN MALAM

Entah kenapa sepanjang maret ini saya benar-benar kangen dengan makanan rumah, makanan warung, dan jajanan malam di Indonesia (khususnya di Surabaya dan Situbondo). Makanan rumah ini maksudnya adalah makanan yang biasa dimasak Ibu atau tetangga atau Bude saya. Kalau makanan warung yang saya kangen adalah warung-warung di dekat kampus saya dulu. Kalau jajanan malam yang saya kangen semacam terang bulan, martabak, gorengan ote-ote dimakan dengan sambel petis dan cabe (duh nulis ini saja saya ileran sendiri), singkong goreng yang ngeprul, tahu tek, nasi goreng dan mie goreng gerobak (ini bukan jajanan ya, tergolong makan besar haha). Dulu kan kalau lapar pas malam saya keluar kos lalu keluyuran jalan kaki cari tukang gerobak trus beli. Di sini kan tidak ada mas yang jualan dorong gerobak. Saking nelongsonya saya, beberapa minggu lalu sampai nangis trus ditanya suami kenapa, saya jawab pengen makan nasi goreng merah gerobakan. Dia cuma menghela nafas, dipikir ada masalah serius, ternyata ingin makan nasi goreng merah. Tapi kan buat saya segala sesuatu yang berhubungan dengan makanan itu menjadi serius haha!.

Daripada nelongso berkepanjangan, akhirnya saya singsingkan lengan baju, masak sendiri (lah emang biasanya masak sendiri :D). Saya masak lodeh tewel kacang pete. Kali ini lodeh tewelnya istimewa karena saya campuri dengan tempe busuk (tempe bosok). Saya memang punya persediaan tempe semanggit untuk dibuat sambel tumpang. Saya ambil sedikit tempe bosok ini untuk campuran lodeh (karena Ibu kalau masak lodeh pasti dicampuri tempe bosok). Waaahh aromanya luar biasa bisa mengobati kangen lodeh buatan Ibu. Lodeh ini dimakan pakai ikan asin dan sambel trasi. Ikan asinnya saya buat sendiri. Saya beli ikan kebanyakan di pasar lalu saya jemur buat ikan asin. Suami saya sampai nambah makan lodehnya. Dia tanya “ini kok beda ya lodehnya?” Saya jawab “iya, aku kasih tempe bosok.” Dia manggut-manggut saja haha.

Lodeh tewel kacang panjang pete
Lodeh tewel kacang panjang pete

Lalu saya masak jangan klentang. Di pasar Den Haag sini kan ada kios langganan yang jual klentang, makanya saya bisa sering masak sayur asem klentang. Ihhh seger sekali pakai belimbing wuluh. Ibu saya sampai heran kok di sini ada klentang dan belimbing wuluh.

Sayur asem klentang
Sayur asem klentang

Lalu saya masak rawon labu siem dan kacang panjang. Makan pakai telur asin dan sambel trasi pakai kecambah pendek dari kacang hijau yang direndam. Wuahhh saya dan suami nambah makan rawon ini.

Rawon labu siem kacang panjang
Rawon labu siem kacang panjang

Saya juga buat nasi bakar, botok tempe teri, dan bumbu urap banyak karena ada yang pesan. Lumayan bisa buat stok saya juga kalau sewaktu-waktu malas masak. Nasi bakar isi osengan sayur plus pete dimakan pakai botok, lalapan dan sambel bawang. Suami bawa bekal nasi bakar tiga hari berturut ke kantor. Mudah-mudahan setelah makan dia gosok gigi ya, kan ada petenya :)))

Nasi bakar komplit
Nasi bakar komplit

Kangen mie goreng gerobak, akhirnya buat sendiri mie goreng pakai kol, sawi, telur, tuna dan saya taburi ebi. Masih kalah sih rasanya dengan yang dijual gerobakan itu. tapi lumayanlah tombo kangen.

Saya sudahi saja cerita makanannya, sebenarnya masih ada beberapa tapi saya jadi lapar ketika nulis ini. Intinya saya bersyukur meskipun kangen sekali dengan masakan rumah tapi masih dikasih kekuatan untuk masak sendiri. Bersyukur masih bisa makan.

MASTER EVENT TU DELFT 2017

Awal Maret saya datang ke TU Delft untuk melihat Master Event TU Delft 2017. Padahal ingat sekali hari itu badan saya lemas seperti tidak ada tenaga. Rasanya ingin tidur seharian. Tapi sayang juga acara ini kalau dilewatkan dan cuaca di luar cerah sekali, langitnya biru. Akhirnya saya seret pantat ke Master Event TU Delft karena juga sudah terlanjur daftar sehari sebelumnya. Jadi acara ini adalah pemberian informasi untuk semua program S2 yang ada di TU Delft. Jadi saya benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya sejelas mungkin tentang informasi yang ingin saya tahu ke beberapa jurusan yang saya incar. Selain itu, ada sesi pemberian informasi, tanya jawab untuk mereka yang lulusan S1 (dan juga S2) nya berasal dari luar Belanda. Saya bertanya di forum ini tentang biaya kuliahnya jika saya punya ijin tinggal karena menikah dengan orang Belanda. Ternyata membayarnya 1/8 nya dibanding dengan siswa Internasional yang normal. Lumayan menghemat. Ini ceritanya kan saya sedang berencana untuk kuliah lagi. Untuk kapannya masih belum tahu, yang penting niat dulu dan sudah mulai cari-cari informasi  dan memantapkan jurusan mana yang ingin saya ambil. Mudah-mudahan ya bisa merealisasikan niat ini.

KE LIMBURG

Rencana liburan ke Limburg ini diputuskan beberapa hari sebelum ulang tahun saya. Jadi awalnya sekitar dua bulan lalu kami berencana merencanakan ulang tahun jalan-jalan ke beberapa negara ke LN. Rencana sempat ganti beberapa kali sampai akhirnya kami memutuskan tidak jadi liburan ke LN karena satu hal. Daripada tidak kemana-mana, akhirnya saya bilang bagaimana kalau jalan-jalan sehari saja ke kota yang dekat. Jadi masih bisa jalan-jalan di hari ulang tahun saya. Akhirnya suami mengajukan cuti, saya memilih ke Limburg. Jadi kami ke dua kota yaitu ke Thorn dan Valkenburg. Jaraknya 2.5 jam berkendara dari rumah kami. Setelah dari Thorn, sempat istirahat dulu di pemberhentian untuk tidur karena saya dan suami ngantuk sekali. Setelah tidur selama satu jam, kami melanjutkan perjalanan ke Valkenburg. Eh ternyata setelah sampai Valkenburg tempat yang ingin kami datangi sudah tutup. Sempat kesal sih tapi ya mau bagaimana lagi. Kami terlalu lama tidurnya haha. Akhirnya kami hanya jalan-jalan di kota saja lalu makan. Saya senang sekali dengan alam di Limburg karena seperti alam di Jerman. Beda dengan struktur alam di tempat tinggal kami. Rasanya saya akan kerasan kalau tinggal di Limburg (tapi jauh ya kalau mau ke kota besar *lalu bingung). Senang menghabiskan hari ulang tahun dengan berjalan-jalan dan seharian bersama suami. Senang mendapatkan ucapan dari teman-teman dekat dan keluarga. Bersyukur masih diberikan kesempatan untuk tinggal di dunia, bilangan umur nambah, dan sehat bersama seluruh keluarga. Kami menghabiskan sisa hari di Limburg dengan makan malam di sebuah restoran.

Maret memang berlalu sangat cepat, mungkin pertanda saya sangat menikmati setiap detiknya. Bagaimana dengan Maret kalian?

-Nootdorp, 31 Maret 2017-

Semua Tentang Pilihan

Yang namanya orang hidup, masih bernafas, bisa berpikir dan bertindak pasti akan banyak sekali menghadapi pilihan. Ya, macam saya yang setiap sarapan pagi sudah mikir nanti siang mau makan apa ya. Kalau sedang tidak bekerja, enak saya bisa makan lalapan sama sambel. Kalau sedang bekerja, ya makannya disesuaikan dengan apa yang disediakan di tempat kerja. Masalah mengisi perut saja, saya harus berpikir untuk memutuskan diantara beberapa menu. Masih bersyukur saya punya pilihan menu karena banyak orang yang tidak seberuntung saya. Jangankan berpikir menu, bisa makan saja sudah sangat bersyukur sekali. Hal-hal seperti ini sering membuat saya melipatgandakan syukur yang luar biasa.

Dulu, saat gejolak jiwa muda masih bergelora (tetap berjiwa muda sih sampai kapanpun, kan forever young :D) dan sudah mengenal yang namanya media sosial, segala sesuatu pasti saya bagikan di akun media sosial yang saya punya. Apapun itu, dari hal-hal remeh sampai status yang memang ada muatan informasinya. Dari foto liburan sampai foto yang (saat ini saya mikirnya) tidak terlalu penting seperti foto tentang materi kuliah yang isinya angka-angka dengan caption “duh susah sekali tugasnya.” Mbok ya kalau susah dicari tahu penyelesaiannya, jangan nyetatus, kan tidak menyelesaikan masalah tho yo. Rasanya senang saja kalau bisa eksis setiap saat. Bahkan hal-hal yang tidak terlalu penting untuk dibagikan secara maya pun saya unggah fotonya, secara sadar. Berharap akan banyak reaksi yang menyanjung dan mendapatkan “like” sebanyak mungkin. Walaupun memang tidak semua menyukai foto-foto yang saya unggah, dilihat dari komentar yang dituliskan “gini aja kok diunggah” atau ada selentingan yang terdengar alias rasan-rasan kalau saya terlalu berlebihan dalam mengunggah foto atau menuliskan status. Waktu itu saya berpikir “ihh sirik aja, wong akunku ini, yo sak karepku tho yo mau nulis opo.” Maklum, prinsip saya kan semua orang harus tahu. Padahal waktu itu saya sibuk banget lho kerja sebagai mbak-mbak kantoran yang selalu lembur bareng bos, tapi selalu ada waktu untuk bermedia sosial. Mungkin karena multitasking itu ya jadinya selalu lembur, kebanyakan main medsos. Tanpa main medsos pun ya tetap aja lembur sebenarnya. Waktu kuliahpun begitu, sedang dikejar-kejar revisi tugas, tetap aja lho ada waktu unggah foto di FB atau minimal nyetatus, meskipun mengumpulkan revisi sesuai jadwal walaupun mepet waktunya. Intinya saya dulu eksis sekali lah. Tiada hari tanpa ber FB dan IG. Kalau twitter  saya buka dan seringnya ikut kuis-kuis, makanya dulu saya sering menang kuis di twitter *haha kurang gawean.

Sampai akhirnya saya mengenal Suami. Waktu awal dia ke Surabaya, saya memperhatikan ini orang kok jarang banget ya pegang HP nya. Jadi kalau bersama saya, dia sama sekali tidak menyentuh Hp nya. sedangkan saya, sibuk jeprat jepret sana sini lalu unggah di FB. Trus beberapa menit sekali mengecek, kalau-kalau ada yang komentar atau menekan tombol suka. Sampai waktu itu dia nanya, kok saya sering cek Hp ada apa. Apakah dosen pembimbing mencari saya. Lalu saya jawab dengan santai “nggak, lagi ngecek FB saja.” Dan juga dia heran, kenapa setiap makan harus difoto dulu. Bukannya langsung dimakan. Lalu saya dengan cuek bilang “harus difoto dulu, untuk diunggah ke FB atau IG.” Entah saya tidak ingat reaksi mukanya seperti apa waktu itu, karena fokus saya pada makanan. Kebiasaan menjepret makanan tetap saya lakukan sampai sekarang, kecuali kalau makan sama mertua atau acara makan formal. Malah suami jadi suka mengingatkan “sudah difoto belum makanannya?”

Sebelumnya saya sudah tahu kalau dia tidak punya FB dan IG. Saya berpikir kok bisa ya orang ini tidak punya FB dan IG. Alasannya : karena tidak perlu dan cukup twitter saja. Lalu saya mbatin kok bisa ya hidup tanpa FB dan IG. Yang dikemudian hari saya tahu jawabannya, ya bisa saja karena memang media sosial itu digunakan sesuai kebutuhan. Kalau tidak ada kebutuhannya ya bisa-bisa saja. Seperti saya tidak pernah punya Path, ya karena memang saya tidak butuh makanya tidak punya. Suami saya ini akhirnya punya Instagram setelah satu tahun kawin dengan saya dan ikut-ikutan membuat akun, padahal jarang diisi. Setelah saya tidak punya IG lagi, akunnya ikut terbengkalai tidak pernah ditengok. Ohhh jangan-jangan punya akun IG untuk memantau saya *manggut-manggut *tatapan mata tajam *zoom in zoom out *istri suudzon *lalu minta maaf. Kalau mengingat masa itu, ada sedikit rasa sesal. Kenapa saya terlalu memperhatikan “penghargaan” orang di dunia maya (baca : sibuk bermedsos) yang tidak semuanya saya kenal dengan baik. Kenapa saya tidak fokus dengan orang yang ada di depan atau sekitar saya. Waktu tidak bisa diputar kembali, sesal juga jadi tidak berarti. Sekarang saya mencoba untuk lebih memperhatikan penghargaan orang-orang terdekat saya dan sebaliknya menghargai mereka secara nyata.

Sebelum menikah, saya dan suami sama-sama punya blog. Jadi kami memang dasarnya suka menulis. Bedanya, blog pribadi saya isinya puisi patah hati dan cerpen putus cinta. Ya maklum, dulu kesehariannya kalau tidak patah hati ya putus cinta. Akhirnya daripada linglung, mending saya tuangkan dalam bentuk puisi dan cerpen. Lumayanlah akhirnya dibukukan. Sedangkan blog suami isinya kalau tidak tentang sejarah, politik, musik, ya kritikan dia tentang ini dan itu. Lalu suami mengusulkan, bagaimana kalau kami membuat blog bersama, jadi ya diisi bersama. Dia bilang waktu itu “daripada kamu menulis status ga jelas di FB, mendingan kamu menulis di blog, jadi sekalian bisa melatih menulis panjang semacam artikel.” Akhirnya jadilah blog ini. Walaupun pada akhirnya saya yang dominan dalam mengisi. Tahun kemarin, saya rajin memperhatikan search terms  blog ini. Banyak yang lucu-lucu tetapi tidak sedikit juga yang ternyata mencari informasi detail tentang kami seperti kami menikah secara apa, apakah betul kami menikah, apakah kami sudah punya anak, mencari tahu masa lalu saya dan suami, kami bertemunya di mana, sampai ada yang mencari tahu kami ini agamanya apa (khusus ini, menyusul akan saya tuliskan secara terpisah). Wah, sedap-sedap ngeri juga ya banyak yang mencari tahu secara detail informasi tentang kami.

Pada awal membuat blog ini, saya sudah memberi batasan pada diri sendiri dan saya diskusikan dengan suami apa yang bisa ditulis dan apa yang harus kami simpan sendiri. Bukan berarti ketika kami mempunyai blog bersama terus semuanya bisa diumbar cerita ini dan itu. Banyak hal yang memang selayaknya tidak perlu semua orang tahu misalkan tentang hal-hal yang terjadi dalam RT (we keep our dirty laundry at home), kegiatan secara detail, cerita yang kami pikir tidak perlulah untuk dibagikan ataupun cerita tentang bagian rumah. Syukurlah keputusan itu tepat karena pada akhirnya ternyata memang ada orang-orang di luar sana yang mencari informasi tentang kami. Kami berpikir bahwa kami ini bukan orang terkenal. Jadi tidak perlulah semuanya diceritakan di blog karena tidak semua yang baca blog kami juga butuh cerita detail. Kami tidak bisa mengontrol siapa yang bisa membaca blog ini, jadi yang kami lakukan adalah mengontrol diri sendiri untuk berbagi cerita seperlunya saja, sewajarnya dengan batasan yang telah kami sepakati.

Saat masa-masa bulan madu (kalau tidak salah seminggu setelah menikah), suami pernah bertanya apakah jika kami punya anak, saya akan memajang foto anak dan mengunggahnya secara rutin di media sosial yang saya punya. Saya menjawab dengan haqul yakin “Iya donk!. Dunia harus tahu anak berdarah Jatim dan Belanda,” kira-kira seperti itu jawaban saya. Waktu itu membayangkan pasti bangga sekali saya kalau punya anak berdarah campuran, jadi ya wajiblah dipamer dengan catatan dalam batas wajar ya. Bukan pas mandi atau tidak memakai baju trus diunggah karena terus terang dari dulu saya paling anti dengan orang tua yang mengunggah foto bayinya yang sedang telanjang atau tidak memakai baju secara lengkap. Biasanya saya kasih tahu secara baik. Dan seringnya saya malah kena semprot balik, “ini anak saya, jadi saya tahu mana yang boleh apa tidak. Kamu kan belum punya anak, jadi ga tahu rasanya kalau punya anak yang sedang lucu-lucunya semua orang harus tahu.” Oh ya wes lah, mungkin memang saya yang terlalu rese ya, sok ngasih tahu (padahal saya membayangkan beberapa tahun lagi kalau anak itu melihat fotonya yang telanjang dan setengah telanjang ada di internet dan yang mengunggah orangtuanya sendiri, bagaimana perasaannya. Saya membayangkan, pasti malu). Ok, kembali lagi ke pembahasan foto. Suami lalu menyarankan untuk dipikirkan lagi apakah yang saya akan lakukan itu cukup bijaksana kedepannya untuk anak kami bahkan untuk kami sendiri. Tujuan lainnya selain rasa bangga apa? karena menurut dia justru yang paling berbahaya adalah kejahatan internet yang kami tidak bisa tahu kapan datangnya. Bisa datang cepat atau saat anak sudah beranjak besar. Mungkin dia sudah mengendus nantinya saya akan jadi Ibu yang over share. Waktu itu cuma saya dengarkan lalu menguap tak bersisa sarannya.

Lalu sewaktu saya rajin BW dan berkenalanlah dengan Mbak Yoyen dan mulai membaca satu persatu tulisannya sampai mata saya terantuk pada tulisan tentang SharentSaya membaca sambil mencerna. Lalu perlahan mulai merenung dan menyambungkan apa yang suami saya pernah katakan dan tulisan Mbak Yoyen serta beberapa artikel yang ada di postingan tersebut. Tapi belum masuk ke hati, dibaca, dicerna, lalu hilang lupa. Sampai saatnya saya pindah ke Belanda.

Ketika sampai di Belanda, cara pandang saya terhadap media sosial perlahan namun pasti menjadi berubah. Saya tidak se aktif sebelumnya ketika mengunggah foto ke FB atau IG (yang dikemudian hari akun IG saya malah tidak terdeteksi saking lamanya deactive). Malah ketika saya menghilang dari FB, salah seorang dosen dan teman-teman saya mengirim email, menanyakan kok lama tidak melihat saya di FB (karena dulu terlalu aktif, menghilang pun sampai bisa terdeteksi). Saya menjadi pemilih mana yang harus dibagikan mana yang saya simpan. Semuanya terjadi secara alami, tidak ada paksaan melainkan keinginan sendiri. Saya merasa untuk apa ya terlalu banyak berbagi ini dan itu. Iya kalau berguna, kalau ga berguna kan nyampah jadinya. Lalu saya membaca beberapa tulisan di blog ataupun beberapa artikel di internet tentang media sosial untuk anak. Ya yang berkaitan dengan topik itulah. Lama merenung, mempertimbangkan, berbicara dengan hati sendiri, menurunkan ego, dan melatih diri. Kemudian suatu hari disekitar awal tahun 2016 saya bilang pada suami bahwa saya memutuskan nantinya tidak akan bercerita apapun tentang kehamilan (pernah bercerita tentang keguguran tahun 2015), proses kehamilan, melahirkan proses tumbuh kembang anak dan tidak mengunggah foto anak, sampai mereka bisa menentukan sendiri dan berpendapat bahwa fotonya atau ceritanya bisa dibagikan kepada orang banyak. Bahkan waktu itu saya bilang pada suami bahwa saya tidak akan mengunggah foto hasil USG karena anak pun punya  hak untuk dilindungi privasinya sejak dalam kandungan. Terdengar berlebihan? mungkin iya untuk banyak orang. Tapi buat kami (khususnya saya) lebih baik mencegah dan lebih baik berhati-hati di awal daripada ada sesuatu yang tidak diharapkan terjadi dikemudian hari. Kami bisanya mengontrol sesuai kemampuan kami dan beginilah yang bisa kami lakukan. Kami (terutama saya) tidak paranoid, hanya lebih kepada berhati-hati sebelum bertindak.  Tidak ada alasan buat saya untuk paranoid dengan media sosial. Kami akan membagikan cerita dan informasi hanya pada keluarga dekat dan teman-teman yang kami kenal dengan baik. Kembali lagi, kami tidak bisa mengontrol siapa yang bisa membaca blog ini dan mengakses media sosial kami, tapi kami berusaha untuk mengontrol diri sendiri. Berharapnya sih satu : semoga akan konsisten terlaksana.

Selain daripada yang saya sebutkan di atas, rasa tidak nyaman (lebih tepatnya resah) lainnya muncul ketika membaca tulisan Mbak Yo yang Respect Your Kids Online dan ada sepenggal kalimat yang selalu saya ingat sampai sekarang : Sharents or not what you put on the net stays forever. Waktu itu saya agak tidak percaya sampai saya bertanya ke suami dan dijelaskan secara gamblang olehnya, ditambah saya mencari informasi yang terpercaya tentang hal ini dan akhirnya menjadi percaya setelah membuktikan sendiri. Saya mencoba googling foto dan status lebih dari 10 tahun yang lalu dan saya ingat betul sudah saya hapus ketika memutuskan menggunakan jilbab (jadi ketika memutuskan menggunakan jilbab, semua foto-foto sebelum berjilbab sudah saya hapus semua dari FB dan tidak akan saya munculkan lagi dengan alasan apapun), ternyata masih ada yang muncul. Padahal sudah saya hapus lho dulu. Akhirnya saya percaya kalimat di atas : Sharents or not what you put on the net stays forever. Hal ini berlaku bukan hanya foto, bahkan status-status pun masih bisa terlacak. Ya sudah, anggap saja karena dulu minim sekali pengetahuan tentang internet, jadinya memang tidak tahu dan karena sekarang sudah agak pintar dan sudah belajar mencari tahu kesana kemari, jangan sampai saya mengulangi kecerobohan masa lalu. Semoga kedepannya semakin bijaksana dalam bermedia sosial.

Saya sangat senang sekali dengan keberadaan internet (terutama media sosial), mempermudah hampir semuanya, menguntungkan (jika dipakai secara benar), mendekatkan yang jauh bahkan bisa menjauhkan yang dekat juga. Apa yang terjadi dalam kehidupan saya saat ini, selain karena campur tangan Tuhan juga karena campur tangan internet. Saya tidak bisa sampai pada titik ini tanpa adanya internet. Namun, saat ini saya lebih memilih mengontrol diri dan jari tangan. Berbagi yang sewajarnya, seperlunya, dan tidak berlebihan (meskipun batas berlebihan ini subjektif sifatnya). Memilih lebih berpikir banyak langkah ke depan sebelum mengunggah atau nyetatus di twitter atau menulis di blog. Saya belajar banyak hal dari dunia blog. Banyak ilmu baru dan hal-hal baru yang sangat berguna saya dapatkan dari blog. Karenanya saya suka sekali dengan dunia blog.

Memang benar bahwa namanya media sosial kan wadah untuk berbagi ya. Tapi saya memilih berbagi yang menyamankan hati, tidak merugikan kedepannya untuk saya sendiri maupun keluarga. Kalau saya dan suami masih bisa berpikir dan memilah mana yang bisa untuk diunggah dan dibagikan. Tapi yang belum bisa berpendapat dan menentukan keputusan sendiri kan masih belum tahu apa-apa. Saya suka sekali dengan pujian atau sanjungan, tapi jangan sampai karena terlena dengan sanjungan komentar dan banyaknya like yang didapat, malah menjerumuskan saya untuk melakukan sesuatu yang berlebihan. Saya jadi teringat kata-kata Ibu tempo hari “anak dan orangtua kan tidak bisa saling memilih, anak tidak bisa memilih dilahirkan oleh orangtua mana begitupun sebaliknya. Tapi begitu anak lahir, maka kewajiban orangtua untuk bertanggungjawab penuh melindungi anak sampai mereka bisa melindungi mereka sendiri.” Kalau kata suami, “biarlah mereka nanti ngetop dengan cara mereka sendiri, ga usah nebeng ngetop orangtuanya.” hahaha yang ini minta dijitak.

Semua memang tentang pilihan. Masing-masing orang (atau keluarga) pasti berbeda pilihan dan penyikapan tentang hidup dalam era media sosial ini. Saya tidak bisa menghakimi atau memberi label ini itu jika pilihan orang berbeda dengan pilihan saya dan berharap juga sebaliknya, meskipun pelabelan atau penghakiman pun tanpa sadar ataupun dalam keadaan sadar pernah saya lakukan. Hanya yang selalu saya ingat adalah membuka hati dan pikiran menerima pendapat dan berpikir jauh kedepan, tidak egois berpikir tentang diri sendiri karena saat ini saya hidup tidak lagi sendiri tetapi sudah membangun sebuah keluarga. Untuk saat ini (dan mudah-mudahan kedepannya juga) saya merasa nyaman dengan pilihan ini karena disetiap pilihan yang diambil pasti selalu ada konsekuensi baik buruknya. Saya mencoba untuk lebih bertindak bijaksana dan lebih hati-hati kedepannya hidup di era media sosial karena what you put on the net stays forever.

Film pendek ini membuat saya lebih berhati-hati untuk “nyampah” di media sosial. Di youtube, banyak sekali dokumenter tentang media sosial atau internet. Membuat lebih melek informasi dan lebih berhati-hati.

Ini juga mengingatkan saya pada diri sendiri

-Nootdorp, 21 Maret 2017-

Portofino – Kampung Nelayan Yang Tersohor

Portofino

Dalam perjalanan dari Turin menuju Cinque Terre (kami menginap di La Spezia, kota terdekat ke Cinque Terre), kami mampir Bra lalu Portofino. Awalnya Portofino tidak masuk dalam daftar yang akan kami kunjungi, tapi Anggi merekomendasikan desa ini. Katanya tempatnya sangat bagus meskipun kalau musim panas berjubel turis. Dan karena kami melihat rutenya juga tidak terlalu nyempal, akhirnya kami mampir.

Portofino
Portofino
Portofino
Portofino

Portofino ini tempatnya menjorok, semacam di pojokan. Lokasinya di wilayah Genoa. Menuju ke Portofino sepanjang jalan mata dimanjakan oleh warna biru laut dan banyak sekali Yacht yang bersandar di dermaga. Dulu, Portofino ini adalah kampung nelayan. Tetapi karena keindahan alamnya, lambat laun tempat ini berubah menjadi tempat liburan para artis dari seluruh dunia dan orang-orang terkenal lainnya. Karenanya, di Portofino saat ini banyak sekali resor-resor mewah dan menjadikan Portofino sebagai kampung nelayan yang tersohor. Waktu itu saya berharap bisa berpapasan dengan Bon Jovi *ngayal jangan nanggung-nanggung.

Portofino
Portofino
Portofino. Di Italia, banyak dijumpai jemuran bergelantungan, tapi tetap sedap dillihat
Portofino. Di Italia, banyak dijumpai jemuran bergelantungan, tapi tetap sedap dillihat
Portofino
Portofino. Mungkin artis-artis Hollywood nya ada di sana
Portofino
Portofino

Selain banyak ditemui restoran-restoran dengan harga yang standar sampai harga yang super mahal (Kami hanya mengintip harga makanan karena saya puasa Ramadhan hari terakhir), sepanjang bibir pantai juga banyak ditemui butik-butik dengan merek terkenal seperti Dior, Prada, Versace (masih banyak tapi lupa nama-namanya).

Portofino
Portofino

Portofino

Untuk bisa menikmati Portofino dari ketinggian, salah satu tempat yang pas yaitu dari Kastil Brown. Untuk masuk Kastil Brown, perlu membayar tiket (lupa berapa) sehingga bisa menikmati dalam kastilnya juga. Tetapi jika tidak ingin melihat dalam kastilnya, ada jalan setapak yang menuju ke salah satu sudut di ketinggian sehingga tetap bisa melihat keindahan Portofino secara maksimal.

Portofino
Portofino
Portofino
Portofino
Portofino
Portofino
Salah satu sudut Kastil Brown - Portofino
Salah satu sudut Kastil Brown – Portofino

Sewaktu kami ke sana, ramainya tidak seperti yang kami bayangkan. Memang ramai turis tetapi tidak sampai sesak berjubel. Karena memang mampir, jadi kami tidak berlama-lama di sana, tidak sampai 3 jam. Setelahnya kami melanjutkan kembali perjalanan ke La Spezia.

 

After the Dutch 2017 Election

C7C7cc_VwAAw2G2-1024x640

When reading through the international comments on the Dutch parliament elections there is an international and general sense of relief and even happiness. The movement of “extreme right populism” as it recently gained victories in the UK (Brexit referendum) and the USA (President Trump’s election) seems to have be put to a halt in The Netherlands. The main reason for this optimism was the small rise in seats for Geert Wilder’s PVV (Party for Freedom, from 15 to 20) where until recently explosive growth was expected. Wilders’ PVV is now the second party in the Netherlands after Mark Rutte’s VVD (Popular Democratic Party). Rutte’s VVD lost a small number of seats (8) yet remains the biggest party in the Netherlands.

So Wilders gained a few seats but his role in the political arena is over after yesterday’s election results. Rutte already indicated that a collaboration between his VVD and Wilders’ PVV  would not be in question. In the Netherlands political parties have to seek collaborations to hold a majority (minimal 76 of the 150 seats) in the “Tweede Kamer” (the House of Parliament).

Wilders was remarkably absent in the recent campaign: a few TV shows, a few public appearances and not even a joint gathering of his PVV party members to watch the election results come in which is a common procedure for Dutch political parties. It is to guess why Wilders followed this strategy: did he think that social media would do for him what it had done for Trump? Where there issues surrounding his security? Or did he deliberately seek to fight his political arguments from the opposition ranks and was he scared his movement would become too big to handle? Although only Wilders himself could answer these questions, it becomes clear that Wilders will never lead a Dutch government administration. He is unfit to propose proper solutions for his sharp criticism of developments within Dutch society. He failed to bind influential figures of Dutch society to support his party and its policies.

The biggest loser yesterday was PvdA (The Labour Party). The party was decimated (from 38 to 9 seats) although it does not necessarily mean that its strong tentacles within the government, NGO’s and media now suddenly have disappeared. The seats that PvdA lost went to other left-wing and center parties like GroenLinks (Green Party), D66 (Democratic Party) and CDA (Christian Party). This means that PvdA lost its attractiveness to the voters, but it does not mean that their defeat will lead to radical changes in the political landscape.

So the conclusion is that the result of the election will be foremost a continuation of the status quo of Dutch “kartel parties” so called by new comer Forum voor Democratie (from 0 to 2 seats). ‘Kartel parties’  is the conglomerate of institutionalised parties that already reign over the Dutch politics in different combinations for many decades.

The large majority of the Dutch voters still seem to approve the current political situation. There is little interest in controversial subjects like abolishing the Euro or leaving the EU (Nexit). For now they seem to comfortably close their eyes for the big issues that sooner or later will be knocking at their doors: the high amounts of immigrants, the stability of the EU and Euro and last but not least, the internal stability of a segregated society where different populations hold their own ideas about their loyalty to the Netherlands. Last week events in the Netherlands surrounding the visit of Turkey’s ministers and the commotion it caused afterwards are strong indicators  about the current state of things and what is likely to be expected to happen more intensively and more often in the near future.

Other election events in 2017 (Germany, France) will give further indicators if citizens of those EU countries wish to continue the current direction of their political leaders or whether they are already prepared for more dramatic measures.

Den Haag, 16 maart 2017

Tentang Aksen Bicara

img_4693

Yang mau saya ceritakan pada tulisan kali ini saya sendiri tidak yakin apakah menyebutnya aksen atau logat. Kalau saya biasa menyebut logat. Tapi kalau dari KBBI Aksen dan Logat artinya sama. 

Jadi begini, saya ini logat bicara gampang sekali terpengaruh tempat di mana saya tinggal agak lama. Contohnya sewaktu bekerja di Jakarta, kantor sering mengirim saya untuk perjalanan bisnis ke beberapa daerah di beberapa pulau di luar Jawa. Kalau saya tinggal seminggu saja misalkan di Manado, sewaktu kembali ke Jakarta, pasti logat bicara saya sudah seperti orang Manado. Begitu juga kalau saya ke Makassar dan beberapa kota lainnya. Hampir selalu logat bicara saya berubah setelah selesai perjalanan bisnis. Orang-orang di kantor sampai menyebut logat saya sudah menyerupai bunglon bisa berubah dengan cepat. Saya juga menyadari itu dan saya sendiri juga heran kok ya gampang sekali logat bicara bisa berubah, semacam terlalu menjiwai haha.

Anehnya, sejak kecil kan saya tinggal di lingkungan yang mayoritas masyarakatnya dari suku Madura (kota Situbondo). Saya dibesarkan dalam keluarga Jawa. Otomatis bahasa Ibu untuk saya adalah Jawa dan Madura. Walaupun saya lancar sekali berbahasa Madura (ya sebatas bahasa pergaulan, bukan yang bahasa Madura halus), tapi entah kenapa saya susah ngomong bahasa Madura dengan logat Madura. Jadi kalau saya ngobrol memakai bahasa Madura, logatnya ya Jawa. Kalau adik saya yang perempuan justru kebalikannya. Dia ngomong bahasa Jawa dengan logat Madura. Padahal Bapak dan Ibu ada aturan di rumah, tidak boleh berbicara bahasa Madura kalau sudah di dalam rumah. Wajib menggunakan bahasa Jawa. Adik saya ternyata tidak bisa lepas dengan logat Madura.

Nah, selama 13 tahun tinggal di Surabaya, logat Jawa saya berubahlah menjadi Suroboyoan. Selain suara saya semakin kencang (koyok nelan toa kata teman-teman saya haha) juga medok Suroboyoan semakin menjadi. Ketika tinggal di Jakarta hampir 7 tahun, logat Suroboyoan tidak hilang dan tidak terpengaruh dengan logat ala Jakarta. Sampai bos saya selalu tertawa kalau mendengar saya sedang ngobrol dengan teman di telpon memakai bahasa Jawa, “gw nih kalo denger Deny ngomong pakai bahasa Jawa sama temennya, gw pikir dia lagi bertengkar lho. Gila, intonasinya kayak orang ngajak berantem. Belum lagi Jawanya bledak bleduk kayak polisi tidur” hahaha selalu Beliau komentar ke orang-orang seruangan. Bahkan ketika saya kirim video ke Beliau sewaktu rekaman pertama Net CJ tayang, komentarnya “gila Den, lo sudah dua tahun tinggal di Belanda tetap aja ngomongnya bledak bleduk ya, suami lo ga pusing tuh” hahaha. Dan Beliau tetap tidak paham kenapa sampai detik terakhir saya meninggalkan Jakarta untuk kembali ke Surabaya, logat saya tetap Jawa Suroboyoan. Tidak terpengaruh dengan logat Jakarta. Apalagi saya tidak pernah menyebut “lo gue” selama tinggal di Jakarta. Kalau tidak “aku kamu” atau “saya kamu”. Aneh saja buat saya sebagai pendatang di Jakarta kalau harus menyebut “lo gue”. Masalah tidak terbiasa.

Itu cerita seputar bahasa daerah ya. Kalau logat bahasa daerah, saya bisa mendeteksi sendiri kalau logat saya berubah. Sekarang saya mau bercerita tentang logat bicara yang terpengaruh aksen bahasa negara lain seperti Inggris dan Belanda. Sewaktu di Surabaya, saya sempat bekerja tidak sampai satu tahun di perusahaan rokok besar. Pemilik sahamnya ada yang dari Amerika. Jadi banyak atasan yang berasal dari Amerika. Karena saya termasuk dalam departemen marketing, jadinya saya sering ada rapat dengan mereka karena harus presentasi dan berdiskusi banyak hal. Nah, suatu saat setelah selesai rapat, seorang kolega bilang kalau aksen bahasa Inggris saya sama persis dengan aksen atasan-atasan yang dari Amerika tersebut. Wah, saya kok tidak sadar ya. Saya berbicara mana sempat mikir aksen segala. Wong mikir tata bahasa saja susah. Lalu sewaktu di Jakarta, saya bekerja di perusahaan yang kantor pusatnya ada di Filipina. Jadi, banyak orang Filipina di kantor termasuk atasan saya langsung. Karena sehari-hari selalu ngobrol (cieee ngobrol *sok ikrib *padahal ngobrol angka penjualan) dengan mereka dan saya selalu mendengarkan mereka berbicara menggunakan bahasa Tagalog satu sama lain, tanpa disadari kalau saya berbicara dalam bahasa Inggris tetapi logatnya Tagalog haha. Nah, bos saya yang komentar bledak bleduk, bilang ke saya “lo kok bisa sih ngomong bahasa Inggris logatnya Tagalog?” hahaha lha ya mana saya tau. Saya tidak merasa, tapi hampir semua orang bilang seperti itu. Ya sudahlah, pasrah.

Kalau tadi cerita dalam kehidupan nyata, maksudnya saya berubah logat karena berinteraksi langsung. Jangan salah, gara-gara keseringan melihat Masterchef yang edisi Australia, bahasa Inggris saya sok-sok ikutan aksen Australia. Saya merasa kok agak mirip dengan British ya aksennya Australia ini? Atau hanya perasaan saya saja. Nah, saya merasa aksen British ini kok sexy ya. Apa gara-gara saya terpesona sama Jude Law. Sampai saat ini, motivasi saya ingin ke Inggris karena ingin mendengar langsung orang-orang Inggris kalau ngobrol. Pasti terdengar menarik.

Selama dua tahun di Belanda, saya tidak pernah terpikir sama sekali tentang aksen. Saya merasa semua orang Belanda aksennya sama, kecuali Belanda bagian utara dan selatan yang memang saya sadari aksennya berbeda bahkan Friesland punya bahasa sendiri. Karena sehari-hari saya berbicara bahasa Belanda dengan orang-orang di seputaran Den Haag, jadi saya tidak sadar kalau ternyata orang Den Haag juga punya aksen sendiri. Saya tahunya saat berkunjung ke rumah teman yang di daerah Limburg. Suaminya bilang bahasa Belanda saya aksennya seperti orang Belanda atas. Walah, saya mikir tata bahasa Belanda saja sudah puyeng, syukur-syukur bisa bicara bahasa Belanda. Tidak terpikir sama sekali tentang aksen. Tapi lumayan bikin senyam senyum sih dipuji bahasa Belanda saya beraksen. Penjiwaan ada hasilnya haha. Tapi karena sehari-hari ngobrolnya dengan suami, apalagi di tempat kerja ngobrol dengan para oma opa, jadinya ikut terbawa juga aksennya.

Ada yang punya pengalaman seperti saya? Gampang terpengaruh aksen?

-Nootdorp, 8 Maret 2017-

Africa Here I Come!

Blyde-River-Canyon (Sumber Foto : http://www.travelstart.co.za/blog/50-top-tourist-attractions-in-south-africa/)

Sudah beberapa kali saya singgung di blog bahwa saya ini suka sekali membaca sejak kecil karena memang melihat orangtua yang gemar membaca. Selain membaca, ternyata sejak kecil saya juga suka menonton film walaupun saat itu TV masih hitam putih dan menonton film disatu-satunya saluran TV yaitu TVRI. Nah, sampai sekarang kebiasaan membaca dan menonton film masih tetap berlanjut. Tidak mengherankan kalau saya suka terobsesi ingin pergi ke suatu tempat gara-gara cerita buku yang saya baca atau film yang saya tonton. Contohnya saja tahun lalu saat saya dan suami berlibur ke Italia, salah satu tempat yang kami datangi adalah impian saya bertahun-tahun lalu saat menonton film Letters To Juliet. Cerita film ini sebenarnya biasa saja namun menarik untuk disimak. Sepanjang film mata saya dimanjakan dengan alam Italia terutama Verona dan Siena serta perkebunan anggur yang ada di sana. Karena suka sekali dengan film ini, sampai saat ini saya sudah lebih dari lima kali menontonnya. Dan karena film ini juga, sejak pertama menontonnya pada tahun 2010, waktu itu saya seperti punya misi pribadi kalau punya anak perempuan akan saya beri nama Sophie atau Siena. Korban film ini namanya haha! Waktu menjejakkan kaki di Verona dan Siena, mata saya berkaca-kaca rasanya terharu sekali karena bisa menjejakkan kaki di tempat yang selama ini hanya saya lihat di film yang sudah ditonton berulang kali. Terdengar berlebihan ya tapi percayalah kalau apa yang kita impikan selama ini lalu menjadi kenyataan, rasa harunya sampai membuat kerongkongan tercekat, haru sampai mata berkaca-kaca. Sedangkan obsesi saya untuk kuliah S2 di Belanda berawal dari buku Negeri Van Oranje (tahun 2009). Meskipun tak gentar berkali-kali mengikuti proses mendapatkan beasiswa ke Belanda dan sampai tahun 2012 akhirnya menyudahi perburuan beasiswa ke Belanda karena sudah diterima kuliah di tempat lain, tapi memupuk mimpi ke Belanda tetap dilakukan sampai akhirnya suratan takdir berkata lain dan menerima kenyataan bahwa saat ini saya malah tinggal di Belanda.

Lalu, obsesi apalagi sehubungan dengan tempat atau negara atau benua yang ingin saya kunjungi karena melihat film atau membaca buku?

Afrika adalah benua yang ingin saya datangi sejak usia SD kelas 1 atau 2. Bayangkan anak SD ditanya kalau mau liburan ingin pergi ke mana, jawabnya Afrika! Padahal waktu itu letak Afrika di sebelah mana di peta saja saya tidak tahu. Awal ketertarikan saya dengan benua Afrika karena waktu kelas satu atau kelas dua (lupa tepatnya) saya melihat film The God Must Be Crazy yang ditayangkan di TVRI. Kalau seusia saya atau di atas saya kayaknya tahu film ini. Saya tidak terlalu ingat apakah film ini dulu terkenal atau tidak tapi yang pasti TVRI menayangkan film ini berulangkali sampai menancap dengan baik pada ingatan anak usia 7 tahun. Sebenarnya bukan cerita filmnya yang saya ingat, tetapi alam yang ditampilkan di film ini yang tidak bisa saya lupa. Cerita film ini berawal dari seorang Afrika yang sedang berjalan di sebuah padang savanah tiba-tiba kaget karena ada botol beling yang jatuh dari langit. Di Afrika diyakini bahwa sesuatu yang jatuh dari langit itu adalah kiriman dari Tuhan. Dan karena botol inilah orang Afrika ini mengalami petualangan-petualangan yang mengejutkan dan juga ada banyak komedi di film ini. Film yang ada sejak tahun 1980 ini benar-benar tidak hilang dari fikiran saya, semacam obsesi terpendam untuk bisa mengunjungi Afrika.

Setelah mengenal internet pertama kali, saat jaman SMA, saya mulai mencari tahu lokasi film The God Must Be Crazy yang di Afrika. Ternyata lokasi filmnya adalah Kalahari Desert. Kalahari Desert sendiri lokasinya ada di tiga negara yaitu Botswana, Namibia, dan South Africa. Penampakan Kalahari Desert seperti beberapa foto di bawah ini.

Kalahari Desert (Sumber Foto : https://www.flickr.com/photos/travelmarketingworldwide/8405144361/)
Kalahari Desert (Sumber Foto : https://www.flickr.com/photos/travelmarketingworldwide/8405144361/)
Kalahari Dessert (doitinafrica)
Kalahari Desert (Sumber foto : http://doitinafrica.com)

Saya ingin ikut safari di Afrika melihat binatang-binatang di alam terbuka dari dekat. Meskipun saya pribadi bukan orang yang suka binatang, tetapi jika melihat binatang di alam terbuka entah kenapa saya suka. Keinginan untuk ikut Safari ini semakin kuat saat saya membaca serial Supernova yang berjudul Partikel yang ditulis oleh Dewi Lestari yang salah satu ceritanya saat Zarah sedang mendapatkan tugas ke Afrika untuk memotret binatang buas di padang savanah. Karena pendeskripsian yang kuat tentang karakter Zarah, jadi punya keinginan juga untuk menamai anak perempuan dengan nama Zarah (halah, ancene labil kok haha). Dewi Lestari begitu detail mendeskripsikan bagaimana proses saat Zarah memotret binatang buas sampai harus berendam di rawa. Saya seperti berada di sana juga, ikut merasakan suasana mencekam, harus menahan nafas dan seperti ikut berada di tengah-tengah keindahan savanah di Afrika yang diceritakan.

Buku kedua yang semakin membuat saya ingin pergi ke Africa adalah This is Africa yang ditulis oleh J.E Ginting. Meskipun negara-negara di Afrika yang diceritakan dalam buku ini adalah negara-negara konflik, justru itu yang membuat saya penasaran. Sepanjang membaca buku ini, yang ada penasaran lembar demi lembarnya ingin mengetahui kelanjutan ceritanya. Bukan hanya ketegangan saja yang dituliskan tetapi keindahan pantai-pantainya juga juga banyak sekali kalimat sarkas dan kelucuan-kelucuan. Ah, keinginan saya semakin kuat untuk menginjakkan kaki di Afrika.

Buku This is Africa!
Buku This is Afrika

Impian sejak SD untuk bisa mengunjungi Afrika sempat timbul dan tenggelam. Timbul kalau saya melihat tayangan tentang Afrika lalu kembali menelusuri keindahan foto-foto Afrika lewat internet. Tenggelam saat mimpi-mimpi lain muncul untuk mengunjungi negara-negara yang saya lihat di film atau baca di buku. Tetapi keinginan itu semakin menguat saat saya kuliah S2. Karena saya memilih kelas Internasional dimana isi kelas tersebut mahasiswanya dari berbagai macam negara, maka berkenalanlah saya dengan seorang mahasiswa yang ternyata dosen dari University of Zimbabwe yang terletak di Harare, Zimbabwe. Perkenalan awal kami sangat singkat tetapi siapa yang menyangka selama dua tahun kuliah, saya justru dekat dengan dia yang selalu menceritakan keindahan Afrika terutama Zimbabwe. Dia bilang saya harus mengunjungi Afrika terutama Zimbabwe dan sekitarnya paling tidak sekali seumur hidup karena memang alamnya yang indah. Semakin terkiwir kiwirlah saya dengan cerita dia. Salah satu yang sering diceritakan dia adalah Victoria Falls yang ada di Zimbabwe. Air terjun ini berada di perbatasan Zambia dan Zimbabwe. Teman saya ini juga menawarkan kalau saya singgah di Zimbabwe, pintu rumahnya selalu terbuka untuk saya sekeluarga. Kami masih berhubungan sampai sekarang dan dia terus mengulang tawaran untuk menginap di rumahnya yang terletak di Harare.

Victoria Falls Zimbabwe

Bukan hanya alam Afrika saja yang ingin saya buktikan keindahannya, tetapi juga makanannya. Saya menyukai serial Parts Unknown yang dipandu oleh Anthony Bourdain (saya penggemar Anthony Bourdain sampai punya beberapa bukunya). Beberapa tayangan Parts Unknown lokasinya di Afrika salah satunya adalah Ethiopia. Saya ngiler-ngiler melihat makanan di serial itu. Apalagi saya juga suka dengan Marcus Samuelsson Amharic, seorang Chef terkenal di Amerika yang memiliki beberapa restoran, yang asalnya dari Ethiopia dan diadopsi oleh keluarga Swedia. Dan satu lagi tayangan TV yang juga semakin menguatkan keinginan saya untuk ke Afrika adalah Oprah Winfrey Show. Acara ini beberapa kali meliput kegiatan sukarelawan yang lokasinya di Afrika. Keindahan alam dan kulinernya juga tak luput diliput.

Sebenarnya sewaktu saya masih di Jakarta, beberapa kali terpikir untuk ikut menjadi sukarelawan yang lokasinya di Afrika demi saya bisa ke Afrika. Tetapi waktu itu masih maju mundur mengingat saya tidak bisa lepas begitu saja dengan karier yang saya bangun. Dan keinginan untuk ke Afrika saya sampaikan ke suami diikuti oleh tatapan aneh darinya. Bukan sekali atau dua kali saya mendapatkan tatapan aneh seperti ini. Dulu kalau ada pertanyaan negara atau tempat mana yang ingin saya kunjungi. Kalau yang lain menjawab negara-negara di Eropa, atau Amerika atau Australia, saya menjawab negara-negara di Afrika. Bukan atas nama Anti Mainstream, tapi atas nama mewujudkan impian saat saya berumur 7 tahun, impian anak kecil yang masih menancap sampai sekarang.

Harusnya tahun ini saya bisa berkunjung ke Zimbabwe, Zambia, Namibia, Malawi, dan Botswana karena saya dan suami sudah merencanakan ke negara-negara tersebut sejak tahun kemarin. Tetapi karena satu hal, rencana itu terpaksa ditangguhkan dahulu sampai nanti saat yang tepat. Mungkin belum jodoh saya untuk pergi ke Afrika tahun ini, tetapi saya yakin, suatu hari nanti saya akan bisa berucap “Africa Here I Come!”

Blyde-River-Canyon (Sumber Foto : http://www.travelstart.co.za/blog/50-top-tourist-attractions-in-south-africa/)
Blyde-River-Canyon (Sumber Foto : http://www.travelstart.co.za/blog/50-top-tourist-attractions-in-south-africa/)

Ada yang ingin pergi ke Afrika juga? Atau ada yang sudah ke sana? ke negara mana?

“Tulisan ini diikutsertakan untuk giveaway milik Nyonya Sepatu dan Jalan2Liburan

-Nootdorp, 28 Februari 2017-

Hubungan Antara Saya, Sejarah, dan Museum

img_3987

Saya tidak ingat kapan pertama kali mengenal museum. Mungkin saat kami sekeluarga jalan-jalan ke Jakarta sewaktu saya masih kecil (sekitar umur 7 tahun kayaknya). Bapak dan ibu sering mengajak anak-anaknya jalan-jalan ke Jakarta karena memang banyak keluarga Ibu yang tinggal di sana. Beberapa museum yang kami kunjungi waktu itu ya seputar museum yang di Monas, Lubang Buaya (ini museum kan ya), beberapa museum yang ada di TMII (termasuk museumnya Ibu Tien). Seingat saya hanya itu. Ingatan saya tentang museum yang dikunjungi waktu kecil tidak terlalu bagus. Membosankan, menakutkan, dan membuat saya sedih. Apalagi waktu ke Lubang Buaya, entah kenapa saya selalu ketakutan sekaligus sedih ketika di sana, tapi ya entah kenapa juga tetap berkali-kali mau diajak ke sana lagi. Nah, karena pengalaman masa kecil yang tidak terlalu bagus dengan museum, akhirnya saya tumbuh menjadi orang yang tidak suka kalau ada yang mengajak ke museum. Saya takut terbawa sedih karena saya memang mikiran orangnya. Ditambah lagi, minat saya terhadap sejarah juga tidak terlalu tinggi. Saya sudah terlanjur setia dengan angka-angka. Meskipun saya tidak terlalu suka pelajaran sejarah, tapi nilai-nilai saya pada mata pelajaran sejarah lebih tinggi dibandingkan fisika *misteri yang tak terpecahkan.

Itu cerita dulu, sebelum saya mengenal suami. Awal kenal dia dan tahu latar belakang pendidikannya adalah sejarah serta memang passionnya di sejarah (juga musik), sempat terpikir juga ini nanti kami nyambung apa tidak ya ngobrolnya karena saya kalau sudah diajak ngobrol tentang sejarah ciut duluan. Pengetahuan saya tentang sejarah sangatlah minim, bahkan sejarah bangsa sendiri. Masing-masing orang memang minatnya berbeda-beda ya dan saya tidak memaksakan diri untuk menyukai sesuatu yang memang datangnya tidak dari hati. Saya berpikir nanti akan ada saatnya saya akan tertarik minimal membaca sesuatu yang berhubungan dengan sejarah. Nah, suami suka sekali yang namanya berkunjung ke museum. Dia selalu berbinar-binar kalau sudah berada di museum, anteng sampai lupa waktu. Awal-awal, saya tersiksa menemani dia berkunjung dari satu museum ke museum lainnya.

Ketika pertama kali ke Surabaya, dia bertanya museum apa yang bisa dikunjungi. Dia agak terkejut ketika saya bilang tidak pernah berkunjung ke museum sama sekali selama belasan tahun numpang hidup di Surabaya. Dan baru dengan dia lah saya masuk ke House of Sampoerna (padahal dulu pernah kerja di perusahaan rokok ini) dan museum Sepuluh Nopember. Ketika pertama kali saya berkunjung ke Belanda, dia ajak saya berkunjung dari satu museum ke museum yang lain, dari Rijksmuseum, Anne Frank House, dua museum lainnya saya lupa namanya. Diantara beberapa museum tersebut, Anne Frank House yang membuat saya sampai menangis. Dan setelahnya saya jadi tertarik dengan sejarah yang berhubungan dengan Nazi. Apalagi setelah mengunjungi Camp Westerbork, kepala saya langsung pusing membaca cerita dan melihat camp transit pada saat Nazi ada di Belanda, membayangkan bagaimana keadaan jaman dulu bersempit2-sempitan dengan banyak orang di satu ruangan kecil dan perlakuan yang mereka dapatkan.

Setelah menikah, selama 6 minggu kami melakukan perjalanan dari Bali sampai Bandung dengan menggunakan segala macam alat transportasi, seperti kereta api ekonomi, bis ekonomi, kapal laut, kereta api eksekutif, sampai pesawat terbang. Selama perjalanan tersebut, tentu saja suami ingin berkunjung ke museum di setiap kota, jika memungkinkan. Dari lebih 10 museum yang kami kunjungi, yang paling berkesan buat saya adalah Ullen Sentalu di Jogjakarta dan Museum Gajah di Jakarta. Kalau di Ullen Sentalu karena perjalanan menuju kesananya yang berkesan harus berganti beberapa kali bis dan pulangnya sudah tidak ada kendaraan lagi sehingga kami harus menumpang sepeda motor orang. Ullen Sentalu sendiri meninggalkan kesan mendalam karena cerita silsilah Dinasti Mataram, budaya, dan koleksi bermacam batik (serta makna masing-masing coraknya) juga lukisan. Karena terkesan dengan kisah yang disampaikan oleh pemandunya, sampai tidak terasa kalau berkeliling Ullen Sentalu sudah berakhir. Tidak boleh berfoto di dalamnya karena menyangkut koleksi pribadi. Sedangkan Museum Gajah yang ada di Jakarta baru saya kunjungi ya setelah menikah dengan suami, padahal selama 6 tahun lebih tinggal di Jakarta dan sering wira wiri depan Museum Gajah, tidak satupun tergerak hati untuk masuk ke dalam. Ternyata di dalam, bagus sekali isinya terdiri dari benda-benda kuno dari seluruh Nusantara beserta sejarahnya. Saya membaca satu persatu dan amati satu persatu benda-benda yang ada di sana. Hampir seharian kami berkeliling Museum Gajah. Saya jadi belajar banyak hal.

Ullen Sentalu. Cuma di sini yang diperkenankan foto
Ullen Sentalu. Cuma di sini yang diperkenankan foto

Nah, mempunyai blog ini dan beberapa kali menuliskan tentang cerita perjalanan kami setelah liburan, mau tidak mau membuat saya juga harus sedikit melek sejarah. Sebelum bepergian, saya banyak mencari tahu tentang tempat-tempat yang akan kami kunjungi. Minimal tahu ceritanya ini tempat apa. Dan ketika akan menuliskan cerita tersebut dalam blog, sebelumnya saya juga melengkapi informasi supaya apa yang saya tuliskan ada nilainya, minimal membuat saya banyak belajar tentang tempat-tempat tersebut. Padahal dulu tidak sedalam itu saya menggali informasi karena memang dulu setelah bepergian, ada fotonya, selesai. Tidak ada keinginan untuk mencari tahu lebih dalam tempat itu. Entah kenapa sekarang saya lebih ingin tahu. Secara tidak langsung, keinginan untuk belajar sejarah dan masuk museum memang tertular dari suami. Bagaimana tidak, di ruangan perpustakaan kecil kami di rumah, buku-buku sejarah punya suami lebih mendominasi daripada buku-buku saya. Akhirnya saya jadi penasaran dan mencoba membaca meskipun tidak pernah sampai tuntas.

Kalau tahun kemarin saya disibukkan dengan persiapan ujian bahasa Belanda sehingga perhatian saya seluruhnya tercurah untuk belajar bahasa Belanda, sehingga intensitas kami ke museum juga berkurang dibandingkan tahun 2016, mungkin sekitar 15 museum (total dengan yang kami kunjungi ketika ke Italia dan Perancis). Saya juga minta ke suami untuk berkunjung ke museum tentang lukisan saja karena saya lebih tertarik ke lukisan. Kami pernah ke Bronbeek Museum yang ada di Arnhem, pulangnya kepala saya jadi nyut-nyutan karena memang isinya sarat tentang sejarah, jadi banyak informasi yang harus dibaca. Saya jadi puyeng sendiri sekaligus sedih setelah keluar dari sana. Kembali lagi, saya itu suka mikir kalau ke museum yang isinya sarat tentang sejarah, jadi mikir jaman dahulu seperti apa. Makanya saya lebih senang ke museum yang isinya tentang lukisan atau kalau misalkan yang murni sejarah saya tertarik yang ada hubungannya dengan Nazi meskipun ujungnya tetap sedih.

Nah, tahun ini saya ingin belajar sesuatu yang baru. Awalnya saya sudah mempersiapkan diri untuk kuliah lagi di jurusan dan universitas yang sudah saya incar sejak bertahun-tahun lalu. Tapi karena satu hal, untuk sementara kembali ke bangku kuliah di tahun ini bukan pilihan tepat. Nanti kalau waktunya sudah memungkinkan, kembali kuliah akan kembali menjadi prioritas. Akhirnya saya mencanangkan, 2017 sebagai tahun museum karena saya ingin mengunjungi sebanyak mungkin museum yang ada dan sebanyak mungkin untuk belajar sejarah. Saya suka terkagum dengan anak-anak kecil di sini yang sudah diajarkan untuk suka museum sejak dini. Jadi bersemangat juga selain karena memang museum-museum yang ada di sini itu asyik sekali tempatnya, bersih dan terawat. Nyamanlah pokoknya, jadi saya ingin memanfaatkan semaksimal mungkin. Nah, untuk memecut diri sendiri supaya semangat, saya membeli museumkaart seharga €59.90 yang bisa dipakai selama setahun di lebih 400 museum yang ada di Belanda. Tinggal pilih saja mana museum yang akan dikunjungi. Bayangkan betapa hematnya saya punya kartu tersebut bisa dipakai setahun padahal kalau beli ketengan masuk museum di sini rata-rata harganya €10 per museum. Selain museum, saya juga ingin mendatangi tempat-tempat bersejarah sekitar Den Haag minimal, seperti Het Binnenhof dan De Ridderzaal (tempat diadakan Konferensi Meja Bundar) atau tempat-tempat lainnya.

Minggu kemarin, saya dan suami memanfaatkan fasilitas gratis masuk museum yang diadakan oleh Gemeentemuseum tempat diadakan pameran karya-karya Piet Mondriaan dan kawan-kawannya yang mempelopori De Stijl. Saya yang selama ini cuma mengerti sepintas warna warni lukisan Mondriaan tapi tidak ngeh sejarah dibaliknya, setelah kunjungan ke museum minggu lalu, jadi sedikit banyak mengerti sejarah De Stijl. Itupun harus dijelaskan berkali-kali oleh suami supaya saya mengerti benang merahnya (memang agak lama otak saya memproses cerita sejarah, harus diulang-ulang).

Salah satu lukisan Piet Mondriaan yang terkenal, yang terakhir dan belum sepenuhnya selesai yaitu Victory Boogie Woogie
Salah satu lukisan Piet Mondriaan yang terkenal, yang terakhir dan belum sepenuhnya selesai yaitu Victory Boogie Woogie

Lalu hari Senin saya ikut tour masuk ke dalam De Ridderzaal yang sampai saat ini masih difungsikan sebagai tempat berlangsungnya acara kenegaraan seperti Prinsjesdag (Hari saat Raja membacakan kebijakan pemerintah untuk kerja parlemen setahun ke depan) dan pernah dijadikan tempat pelaksanakan Konferensi Meja Bundar. Ada rasa haru waktu masuk ke dalam dan diterangkan satu persatu sejarah dan fungsi tempat ini oleh pemandunya. Haru karena bisa melihat secara dekat dalamnya yang selama ini hanya bisa dilihat di TV, sejarah bangunan ini, dan membayangkan dulu di tempat ini dilaksanakan KMB. Tour juga mengunjung ruangan Eerste Kamer (Senat) dan Tweede Kamer (Parlemen). Sewaktu ke gedung Tweede Kamer tidak diperkenankan membawa Hp atau Kamera karena semua barang harus disimpan di dalam loker. Masuknya pun diperiksa secara ketat harus lepas sepatu segala. Pengalaman hari Senin sangatlah menyenangkan karena saya bisa melihat secara dekat gedung yang sering saya lewati dan dalamnya selama ini saya lihat dari TV, mengerti sejarahnya, dan juga diperlihatkan cara kerja parlemen.

De Ridderzaal
De Ridderzaal

Ruangan Senat (De Eerste Kamer)
Ruangan Senat (De Eerste Kamer)

Mudah-mudahan niat baik dan keinginan saya untuk belajar sejarah mulai tahun ini dan berkunjung ke banyak museum tidak hanya hangat di depan tetapi konsisten minimal sepanjang tahun. Meskipun saya akan mengunjungi museum sendirian tanpa ditemani suami (karena dia sudah masuk ke banyak museum di Belanda *ya iya, lha dia sudah mulai ke museum sejak kecil), tapi saya tetap semangat. Selama saya masih memungkinkan untuk melakukan aktivitas tersebut, maka saya akan maksimal melakukannya karena ternyata menyenangkan. Mungkin nanti ada saatnya rehat sebentar, tapi minimal sudah ada keinginan dalam diri untuk belajar sejarah.

Kalau kamu, ada cerita tentang museum atau sejarah?

-Nootdorp, 14 Februari 2017-