Science Centre di Delft

Minggu lalu cuaca lumayan “terik” dibandingkan minggu ini. Kenapa teriknya pakai tanda petik? Ya meskipun matahari bersinar nyentrong selama 5 hari, tapi angin dan dinginnya tak tahan aduhai membuat harus memakai jaket tebal. Maklum suhu sudah dikisaran 14 derajat celcius ke bawah. Tapi dengan adanya sisa-sisa matahari yang nongol, jadwal ke luar rumah harus dimaksimalkan karena tidak tahu kapan matahari akan nongol lagi.

Hari Rabu kami nongkrong di Delft. Matahari sedang bergembira sampai obral sinarnya sehingga kami bisa duduk leyeh-leyeh depan gereja sambil menikmati bekal dari rumah dan bersenda gurau. Oh ya, Delft ini adalah salah satu kota favorit saya selain Den Haag. Saya langsung jatuh cinta saat pertama kali ke sini tahun 2014. Suasana di Delft itu Cozy dengan bangunan-bangunannya yang masih mempunyai ciri khas bangunan tua tapi terawat dengan baik. Banyak turis datang ke sini tapi tidak sehiruk pikuk Amsterdam ataupun Den Haag. Kalau Den Haag sebenarnya juga tidak terlalu banyak turis, tapi memang penduduknya yang banyak. Kalau berkesempatan ke Belanda, silahkan mampir ke Delft dan rasakan perbedaannya dengan Amsterdam.

Delft saat cuaca cerah
Delft saat cuaca cerah

Hari kamis, makbedundug saya menerima pesan dari mahasiswa PhD sekaligus tempat belajar saya dalam dunia nak kanak children. Maureen sering membagikan ilmu dan pengalamannya  di blog dalam menyelami dunia anak-anak sebagai seorang Ibu maupun sebagai akademisi dan praktisi di bidang tersebut. Oh jangan salah, meskipun namanya nampak “barat”, medoknya Sorbeje asli. Saya pertama kali ketemu awal tahun ini sewaktu ada acara di rumah kami. Kenal lewat blog, twitter dan WhatsApp sudah lama. Ya beberapa tahun ini maksudnya.

Jadi, maksud dia kirim pesan ke saya, mengajak ketemuan di Delft mumpung cuaca masih cerah. Dia dan Stan -putranya- pengen ke Science Centre – museum science untuk anak-anak. Saya langsung cek jadwal dengan suami, hari sabtu kami tidak ada acara jadi saya langsung mengiyakan ajakannya. Sudah lama juga sebenarnya saya ingin ke museum ini tapi masih belum ketemu waktu yang pas. Saya langsung menghubungi Yayang mau mengajak juga siapa tahu Cinta Cahaya belum pernah ke sini. Sayang karena terlalu mendadak, Yayang yang bekerja pada hari sabtu tidak bisa bergabung dengan kami. Mudah-mudahan bulan depan bisa ketemu ya Yang!

Awalnya suami tidak mau ikut. Tapi entah kenapa saat makan siang tiba-tiba dia mengutarakan keinginannya untuk ikut. Ya tentu saja saya senang. Sekalian rame-rame. Rencananya saya akan berangkat naik bis. Tetapi karena dia ingin ikut, maka akhirnya kami naik sepeda. Jarak Science Centre dari rumah kami tidak terlalu jauh, hanya 20 menit jika naik sepeda. Jam 3 sore kami sudah tiba di sana. Tahu tidak, saya itu selalu berdebar-debar kalau melihat tulisan TU Delft dan ketika berada dalam area kampus ini. Maklum ya, memang sudah impian dan cita-cita saya sejak dahulu kala bisa kuliah di tempat ini. Jadi jangan bosan-bosan ketika membaca tulisan saya yang selalu mengungkapkan bahwa TU Delft adalah kampus impian. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa kuliah di sini. Kalau tidak sampai PhD seperti Maureen, ya paling tidak bisa mencicipi program masternya.

Ruang depan Science Centre TU Delft
Ruang depan Science Centre TU Delft
Ruang tunggu. Berasa anak kuliahan lagi nongkrong sewaktu duduk di sini *ngayal jangan nanggung2
Ruang tunggu. Berasa anak kuliahan lagi nongkrong sewaktu duduk di sini *ngayal jangan nanggung2

Masuk ruang tunggunya saja langsung berasa sekali aura tekniknya. Jadi Science centre ini memang museum yang ditujukan untuk dikunjungi oleh anak-anak. Tiga tema dari tempat ini adalah Sains, Desain, dan Teknik. Science centre merupakan tempat semua alat atau bahan penelitian yang sudah dan sedang dilakukan oleh TU Delft. Jadi kita bisa menikmati hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh mahasiswa maupun para peneliti. Tiket masuknya jika mempunyai museumkaart, gratis. Jika tidak mempunyai, untuk anak berumur dibawah 7 tahun gratis, umur 7-17 tahun harga tiketnya €4, diatas 18 tahun €7, dan untuk seluruh keluarga maksimal 4 orang €17.5.  Tentang Science centre, lebih lengkapnya bisa dibaca di sini.

Tertera di keterangan, ini permainannya agak rumit. Minimal butuh waktu 20 menit. Kata Maureen "duh, hidup sehari2 sudah serus masa iya main pun musti serius. Pening"
Tertera di keterangan, ini permainannya agak rumit. Minimal butuh waktu 20 menit. Kata Maureen “duh, hidup sehari2 sudah serius masa iya main pun musti serius. Pening”
Disetiap ruangannya, enath di lantai, tembok ataupun langit-langitnya selalu bertebaran rumus-rumus. Mengingatkan saya akan masa lalu yang tertimbun rumus-rumus
Disetiap ruangannya, entah di lantai, tembok ataupun langit-langitnya selalu bertebaran rumus-rumus. Mengingatkan saya akan masa lalu yang tertimbun rumus-rumus

Beberapa alat peraganya bisa dimainkan. Misalkan main simulasi mobil atau bola yang jatuh dari langit-langit atau simulasi angin. Di beberapa ruangan juga banyak yang bisa dicoba untuk dimainkan.

Ini ruangan utamanya
Ini ruangan utamanya
Ruangan utama
Ruangan utama
Sampai langit-langit pun ada rumusnya
Sampai langit-langit pun ada rumusnya

Kalau ke sini bukan hanya bisa berkeliling di ruangan-ruangannya saja, tapi juga bisa mengikuti workshop yang diadakan dengan jadwal yang ada pada websitenya. Selain itu, jika ada yang ingin merayakan ulangtahun, juga bisa jauh hari menghubungi pihak Science centre sehingga acara ulangtahunnya bisa dirayakan di tempat ini. Kalau ingin mengikuti tour, bisa juga. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sini. Oh iya, di halaman belakang, ada taman bermain juga. Sayang saya tidak bisa mengambil foto karena banyak anak yang sedang bermain di sini.

Tak terasa satu jam lebih kami berasa di sini. Senang rasanya berkeliling, melihat dan menjajal alat peraga yang ada. Saya dan Maureen juga sempat berbincang di taman belakang. Meskipun sak nyuk an ketemu tapi obrolan kami mendalam. Senang juga bisa berbagi cerita dengan Stan. Anak pintar dan supel. Stan ini bisa berbicara 4 bahasa lho. Jepang, Inggris, Belanda, dan Indonesia tentu saja. Jawa juga kalau mau dimasukkan. Sehat selalu ya Stan!

Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Pusat Delft. Kalau hari sabtu ada pasar, jadi seru bisa berkeliling sambil melihat-lihat pasar. Tidak berapa lama karena haus, akhirnya kami nongkrong.

Camilan nongkrong kami. Saya di mana-mana memang selalu pesannya susu coklat haha *sebelum ada yang nanya
Camilan nongkrong kami. Saya di mana-mana memang selalu pesannya susu coklat haha *sebelum ada yang nanya

Itu yang dipiring adalah Tortilla disiram keju dan saus tomat ditambahi Jalapeno. Terus terang saya tidak terlalu suka. Jadi saya makan sedikit saja. Andaikan bisa makan bakso ya *yak ngayal episode kesekian pun dimulai.

Setelah sekitar 30 menit menikmati sisa sore, kami memutuskan pulang tapi mampir dulu ke toko buku. Sempat ketemu lagi dengan Maureen dan Stan yang sedang berjemur di depan Gereja sambil makan kentang goreng. Tot volgende keer Maureen en Stan!

Kesan saya tentang Science centre, seru! Tapi kata suami, biasa saja. Ya beda selera. Yang penting ada yang senang bisa menikmati dan bersenang-senang di sana.

Saat menulis ini, di luar matahari sedang gonjreng dan langitpun biru menawan. Kami sedang bersiap jalan-jalan ke danau.

-Nootdorp, 3 Oktober 2018-

 

Kebiasaan Membaca Buku di Era Digital

Buku yang membahas tentang ketergantungan terhadap teknologi dan internet

“Kami main Twitter, Instagram, sesekali ikut arus perdebatan yang tidak perlu, tapi kami juga tidak berhenti membeli buku. Kami generasi digital masih membaca buku, hanya saja dengan cara yang baru. Kami pegang handphone tiap hari, tapi kami masih membaca. Kami main twitter, sesekali ikut debat tak perlu, tapi kami tak berhenti beli buku. Handphone kami bukan cuma untuk ribut, tapi juga menggali ilmu. Kami generasi digital, kami masih membaca buku.”

-Bernard Batubara-

Berawal dari obrolan antara saya, Maya, dan Ryan di Twitter tentang pertanyaan Ryan mengenai “Banyak baca akan menambah wawasan. Tul? Gimana kalau malas baca lagi muncul?”, saya jadi punya ide untuk menuliskan topik ini. Sebenarnya yang awal-awal ngobrol hanya Ryan dan Maya. Namun karena topiknya cukup menarik karena sudah menyinggung tentang penyebab kemalasan membaca yang salah satunya adalah aktif di media sosial, maka saya ikut nimbrung.

Memang kalau mau dituruti ya, scrolling-scrolling itu tidak akan ada habisnya. Apalagi kalau punya akun di beberapa media sosial. Niatnya ingin buka A, terus selesai lanjut B, selesai lanjut C, eh tiba-tiba ada yang terlupa kembali lagi membuka A, lanjut lagi membuka D, lanjut begitu seterusnya sampai Indonesia masuk piala dunia. Beneran, kalau tidak membatasi diri bisa-bisa 2 jam waktu terbuang hanya dengan duduk manis sambil memelototi Hp. Ngaku kan sebenarnya yang kita buka dan baca itu seringnya ya tidak berfaedah, kadang membaca akun gosip, kadang membaca pertengkaran di twitter, atau membaca komen-komen tidak jelas di Instagram atau YouTube. Lah trus setelahnya apa yang kita dapat? malah kadang sering membuat nggrundel. Meskipun dari sana kadang ide untuk menulis di blog muncul. Mungkin misalnya dari dua jam berkutat dengan Hp, hanya 15 menit yang kita sisihkan untuk membaca hal yang bermanfaat, misalkan artikel, berita atau jurnal. Ini saya tidak dalam rangka menggeneralisir ya. Hanya pengamatan receh lingkungan sekitar, termasuk saya dahulu kala. Ini lain cerita kalau pekerjaannya memang mengharuskan berkutat dengan media sosial.

Saat ini terus terang saya tidak bisa lagi berlama-lama menatap layar entah itu laptop atau Hp atau tablet. Paling lama 20 menit itupun tidak terus-terusan, mata saya cepat lelah. Mungkin total dalam satu hari saya memelototi Hp tidak lebih dari 1.5 jam. Setiap keluar rumah, jika tidak ada janjian dengan siapapun dan tidak membutuhkan google maps, internet pasti saya matikan. Hp saya pergunakan jika ingin memotret makanan ataupun pemandangan. Selebihnya masuk tas. Saya setiap hari tetap aktif di media sosial terutama Twitter. Waktu aktif saya dalam bermedia sosial seringnya adalah pagi hari saat belum memulai beraktifitas dan malam saat sudah selesai semua. Tengah hari saat makan siangpun saya juga sesekali muncul, kalau situasi memungkinkan. Nah apa hubungannya aktif di media sosial dengan kebiasaan membaca?

Dari kecil saya memang suka sekali membaca buku (selain menulis), sampai saat ini. Jadi, karena memang kebiasaan membaca buku sudah mendarah daging, rasanya ada yang aneh kalau sehari saja tidak membuka buku. Oh ya, saya membacanya masih buku kertas, belum beralih ke buku elektronik semacam Kindle, walaupun saya punya hadiah ulang tahun dari Mama mertua. Mungkin karena faktor belum terbiasa jadi saya belum bisa menikmati membaca selain dari buku kertas. Nah, kalau saya tetap aktif bermedia sosial lalu kapan waktu membacanya disela kesibukan kegiatan sehari-hari?

Saya mempunyai cara yang saat ini cukup efektif untuk diterapkan dengan situasi saat ini. Situasi saya tentu saja. Jadi, saya kalau membaca buku itu pararel. Minimal 2 buku dan maksimal 3. Satu buku saya taruh di antara buku-buku yang ada di rak buku di ruang bawah, satu buku saya taruh di meja kamar tidur, dan satu buku saya taruh di ruangan perpustakaan kecil di lantai atas yang juga merangkap sebagai ruang menyetrika. Jadi setelah masak, lalu makan siang dan bersih-bersih ruang bawah, biasanya saya masih punya waktu sebentar untuk leyeh-leyeh. Saya manfaatkan untuk membaca buku  yang saya taruh di ruang bawah paling tidak bisa membaca 3 sampai 4 halaman. Setelahnya kami akan keluar jalan-jalan dan bermain di luar jika cuaca memungkinkan. Nah sore hari menjelang makan malam, biasanya ada waktu untuk istirahat sebentar di kamar, saya memejamkan mata paling tidak 10 menit. Setelahnya saya membaca buku yang saya taruh di meja samping tempat tidur. Lumayan terkadang bisa sampai 3 halaman. Jadi setiap hari saya bisa membaca paling tidak 5 halaman. Nanti kalau waktunya menyetrika, biasanya setelah menyetrika, sambil istirahat sejenak, saya melanjutkan membaca buku yang ada di ruang baca tersebut. Jadi rak-rak buku di rumah kami adanya hanya di ruang keluarga (di lantai bawah) dan di ruang perpustakaan lantai atas. Disetiap kamar tidur, bebas dari rak buku. Biasanya nanti selesainya akan bersamaan dari ketiga buku yang saya baca, ini juga tergantung tebal bukunya. Saat ini kalau keluar rumah, saya sudah tidak pernah membawa buku karena pasti tidak sempat membaca jika naik kendaraan umum.

Dengan strategi tersebut, lumayan bisa membuat saya teringat untuk selalu membaca buku. Saya mikirnya sih begini : Kalau saya punya waktu untuk berselancar di dunia maya, berarti tidak ada alasan buat saya untuk tidak ada waktu membaca buku. Memang, prioritas masing-masing orang berbeda, tapi buat saya pribadi, membaca buku masih menjadi prioritas penting. Dalam satu minggu, ada hari-hari memang sengaja tidak membaca buku, misalkan akhir pekan karena ada aktivitas lainnya. Walaupun tidak seambisius dulu harus bisa menyelesaikan sekian buku dalam setahun (meskipun saya ikut tantangan di goodreads tahun ini menargetkan membaca 50 buku, sampai saat ini akan menyelesaikan 25 buku), sekarang saya lebih santai karena menyesuaikan dengan kondisi dan situasi saat ini. Saya mengibaratkan membaca buku dan menulis itu seperti memberi makanan dan vitamin pada otak. Memberi asupan supaya otak terus sehat. Dengan membaca buku saya juga semakin banyak perbendaharaan kata dan wawasan semakin bertambah karena banyak hal baru yang saya dapatkan. Selain itu saya juga jadi banyak belajar bagaimana cara menulis yang benar, tepat dan efektif. Semakin hari semakin belajar untuk menulis secara baik dan benar.

Buku yang membahas tentang ketergantungan terhadap teknologi dan internet
Buku yang membahas tentang ketergantungan terhadap teknologi dan internet

Buku yang saya baca ya ada yang topiknya berat, ada yang biasa saja bahkan sekedar buku resep pun saya baca haha seperti dua buku resep di bawah ini. Setahun belakang ini saya sedang tertarik banyak membaca buku parenting. Kebanyakan yang saya baca dalam bahasa Inggris karena faktor kemudahan mendapatkannya. Tapi beberapa ada juga dalam bahasa Indonesia. Kalau untuk novel, saya lebih memilih membaca yang bahasa Indonesia walaupun tetap ada yang dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Belanda juga ada, biasanya buku anak-anak haha. Nah topik lainnya tidak tentu, adakalanya buku yang membahas depresi, ada yang membahas ketergantungan anak-anak dan orang dewasa terhadap teknologi dan internet, maupun topik spiritual. Ya tergantung suasana hati juga mau membaca buku yang mana. Saya mendapatkan referensi buku-buku bagus selain dari Goodreads juga dari Twitter. Banyak akun yang saya ikuti di twitter suka membahas tentang buku. Nah kalau topiknya saya suka, biasanya saya beli atau meminjam dari perpustakaan di dekat rumah. Dan juga beberapa blogger yang saya ikuti akunnya di goodreads yang sangat rajin membaca buku seperti Aggy atau Dita yang rajin menulis di blognya topik tentang buku.

 

Buku resep Baby Lead Weaning
Buku resep Baby Lead Weaning

Pagi ini, lewat akun twitter, saya membaca tulisan dari penulis Bernard Batubara di Medium (lengkapnya bisa baca di sini). Kutipannya adalah seperti ini dari tulisan tersebut maupun dari akun twitternya : “Kami main Twitter, Instagram, sesekali ikut arus perdebatan yang tidak perlu, tapi kami juga tidak berhenti membeli buku. Kami generasi digital masih membaca buku, hanya saja dengan cara yang baru. Kami pegang handphone tiap hari, tapi kami masih membaca. Kami main twitter, sesekali ikut debat tak perlu, tapi kami tak berhenti beli buku. Handphone kami bukan cuma untuk ribut, tapi juga menggali ilmu. Kami generasi digital, kami masih membaca buku.”

Sekarang sudah banyak sekali media untuk bisa membaca buku, tidak hanya buku dalam bentuk fisik. Semakin memudahkan. Selain yang sudah saya sebutkan panjang lebar di atas tentang keuntungan dan tujuan dalam membaca buku, sebenarnya ada satu lagi : Supaya anggota keluarga kami semuanya juga suka membaca buku. Memberi contoh adalah cara paling jitu. Misalkan, jika kita rajin menonton TV, maka anggota keluarga lain terutama anak-anak akan meniru dengan rajin menonton TV juga. Begitu juga dengan membaca buku. Jika kita rajin membaca buku, maka mereka pun akan mencontohnya. Konon anak-anak adalah peniru yang ulung dari orangtuanya bukan?

Begitulah cerita panjang lebar tentang kebiasaan saya dalam membaca buku di era digital ini.

Kalau kamu, apakah masih suka membaca buku? Memilih media apa, apakah buku dalam bentuk fisik atau yang lainnya? Lalu apakah punya strategi khusus dalam membaca supaya tetap eksis juga dalam bermedia sosial?

-Nootdorp, 26 September 2018-

Tentang Perasaan Tenang dan Bahagia

Schloss Mirabell and Garden - Salzburg

Agustus tahun ini tepat 3.5 tahun saya tinggal di Belanda dan belum sekalipun berjodoh untuk liburan ke Indonesia. Awalnya tahun ini kami sudah merencanakan dengan matang akan pulang akhir tahun, tetapi situasi berkata lain. Rencana kami menengok keluarga di Indonesia diundur mungkin ke tahun 2020. Selama 3.5 tahun di Belanda banyak sekali hal-hal positif yang saya rasakan. Bukan hanya yang secara tampak mata, tetapi juga yang tidak tampak mata. Dua hal yang sangat saya rasakan ada perubahan dalam diri saya adalah tentang rasa tenang dan rasa bahagia.

Bukan karena saya menikah dengan pria yang berbeda kebangsaan dan berbeda warna kulit lalu saya menjadi bahagia. Bukan karena saya tinggal di negara maju yang segala sesuatunya lebih teratur lalu saya menjadi tenang. Rasa tenang yang saya rasakan lebih kepada suasana hati. Selama di Indonesia mungkin saya sering mengabaikan kata hati, tidak terlalu banyak waktu untuk mengajak berdialog dan terlalu mendengarkan suara-suara di luar. Dan itu ternyata membuat saya tidak sepenuhnya bahagia dan tenang.

Dulu saya pikir hati dan kehidupan saya bahagia. Bisa mengenyam pendidikan sampai jenjang yang tinggi, bisa bekerja sampai jenjang yang saya impikan dan inginkan, bisa mempunyai lingkungan pergaulan yang oke, bisa liburan ke sana sini dari hasil jerih payah sendiri, bisa membeli ini dan itu. Dulu saya pikir saya bahagia dengan itu semua, dengan semua yang saya miliki, dengan semua pencapaian dari hasil kerja keras. Sampai saya merenung dan berdialog dengan hati, dan pada satu titik saya tersadar bahwa kehidupan saya di Indonesia tidak sepenuhnya membuat bahagia. Saya bisa saja bangga dengan segala pencapaian dan hasil yang saya dapatkan. Tapi benarkah itu semua yang saya inginkan? Ternyata, saya terlalu ingin dilihat oleh khalayak ramai, ingin menunjukkan yang terbaik pada keluarga, ingin dilihat berhasil supaya bisa diterima oleh komunitas tertentu, tetapi saya lupa bertanya kepada diri sendiri bahwa apakah itu semua membuat saya tenang dan bahagia.

Rasanya melelahkan harus mencapai sesuatu bukan karena keinginan sendiri melainkan karena tuntutan. Tidak hanya tuntutan dari luar, tetapi juga tuntutan dari dalam kepala yang ingin “pamer” keberhasilan. Saya harus nampak bahagia meskipun dalam hati ada sesuatu yang kosong. Saya seperti selalu ceria walaupun rasanya asing dalam keramaian. Walaupun begitu, masih ada kepingan dalam hati saya yang merasakan kebanggaan atas semua pencapaian saya dulu.

Sejak menetap di Belanda yang berbeda segalanya dengan Indonesia, saya semakin sadar bahwa sebenarnya kebahagiaan itu kita sendiri yang menentukan, bukan karena sanjungan orang, bukan puja dan puji, bukan ditentukan oleh orang lain, pasangan, maupun anak. Membaca kalimat sebelum ini rasanya akan banyak yang mbatin : haduh, itu juga semua orang sudah tahu. Sayapun dulu tahu konsep seperti itu. Tapi saya tidak sadar, hanya pada tataran tahu. Sejak 3.5 tahun ini, saya semakin sadar karena di sini saya hidup tanpa tuntutan. Tidak menuntut diri sendiri untuk menjadi yang terbaik supaya dilihat orang, tidak memenuhi tuntutan luar supaya terlihat “normal” dalam hidup bermasyarakat. Saya lebih mendengarkan kata hati dalam ketenangan. Saya lebih sering mengajak berdialog hati dan pikiran. Dulu saya tidak sempat karena keriuhan yang ada, terlalu kemrusung. Saya tidak lagi melekatkan kebahagiaan saya pada kebendaan. Saya tidak lagi menggantungkan kebahagiaan kepada hal di luar diri saya.

Segala keputusan yang saya ambil selama di sini adalah keputusan yang saya buat secara sadar dan benar-benar melalui pertimbangan yang matang. Keputusan bekerja tidak sesuai dengan bidang keilmuan dan pengalaman kerja yang ternyata membuat saya jauh lebih bahagia dibandingkan ketika saya bekerja di Jakarta walaupun pekerjaan di sini ecek-ecek lah kalau dibandingkan dengan yang sebelumnya. Tapi saya bahagia. Akhirnya saya memutuskan berhenti dengan pertimbangan yang matang juga. Keputusan untuk mempunyai anak bukan karena sebagai ajang pamer dan bangga-banggaan semata atau supaya tidak ditanya terus karena kalau tidak mempunyai anak rasanya tidak “normal” di mata masyarakat Indonesia. Keputusan memiliki keturunan, saya (bersama suami) pikirkan secara matang dan bertanya beberapa kali pada hati apakah memang ini yang saya inginkan. Mempunyai anak akan merubah total hidup saya karena ikatannya seumur hidup dan saya harus siap dengan bekal ilmu dan harus konsekuen belajar sepanjang hidup dalam membesarkan anak, bagaimana dengan dananya apakah juga sudah siap, bagaimana dengan lingkungan apakah mendukung untuk memiliki anak, dan banyak pertimbangan lainnya. Saya bukan orang yang percaya bahwa anak datang dengan rejeki masing-masing. Yang saya percaya adalah setiap orang yang memutuskan untuk memiliki anak harus mempersiapkan sebaik mungkin masa depan anak dari segi dana sampai usia tertentu. Memiliki anak bukan hanya sekedar berapa kali bisa melahirkan, memiliki anak bukan sebagai pembuktian dan seberapa sering memajang foto mereka di ranah dunia maya, memiliki anak bukan untuk berkompetisi dalam hal cerita dengan sesama orangtua sejauh mana kemampuan anak, memiliki anak bukan karena supaya dinilai “normal” karena urutan setelah menikah adalah mempunyai anak. Memiliki anak adalah pilihan, karenanya saya memikirkan dan mempertimbangkan hal tersebut dalam ketenangan dan bertanya apakah itu akan membuat saya bahagia nantinya. Ketika keputusan sudah dibuat, artinya saya sudah siap dengan segala konsekuensinya, baik dan buruknya. Dan yang pasti, keputusan yang dibuat dalam keadaan hati dan pikiran yang tenang, kebahagiaanpun akan datang dengan sendirinya. Bahagia yang penuh kesadaran.

Schloss Mirabell and Garden - Salzburg
Schloss Mirabell and Garden – Salzburg

Mungkin memang ada masanya saya harus menjauh dari hiruk pikuk dalam arti yang sebenarnya dan dalam arti secara kiasan supaya saya lebih tau apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Lebih bisa berdialog dengan hati dan pikiran. Supaya saya hidup lebih sadar. Supaya saya bisa lebih bersyukur  Bahagia itu tidak perlu sesuatu yang ndakik ndakik. Bersyukur karena matahari muncul setelah dua hari hujan sehingga kami bisa jalan-jalan keluar, itu rasanya sungguh luar biasa bahagianya. Bersyukur diberikan kesehatan yang baik sehingga bisa duduk-duduk di taman sambil melihat angsa hilir mudik, itupun membuat bahagia. Bersyukur bisa mandi tanpa tergesa-gesa juga bahagia dari hal-hal yang kecil. Bersyukur bisa menyapa orang-orang yang selama ini saya jarang sapa, pun membuat saya bahagia. Bersyukur karena diberikan kesempatan untuk terus melanjutkan nafas detik demi detik. Lebih banyak bersyukur dan tidak terlalu membandingkan keadaan diri dengan sesuatu yang jauh diluar jangkauan adalah bahagia yang tidak terkira. Banyak ambisi yang ingin saya wujudkan. Tapi saat ini ambisinya lebih ke arah dalam, bukan ambisi ingin terlihat dari luar. Ambisi secara spiritual, begitu saya menyebutnya.

Jika banyak yang bilang saya lebih tertutup sekarang, mungkin iya mungkin tidak. Sebenarnya bukan tertutup, tapi saya sudah cukup bahagia dengan kehidupan saya saat ini, saya lebih tenang, jadi buat apa saya mengumbar-umbar. Saya bercerita yang perlu saya ceritakan saja. Yang sekiranya tidak perlu banyak orang tahu, ya saya simpan sendiri. Tidak semua kebahagiaan perlu diketahui khalayak ramai, begitu juga sebaliknya. Saya lebih memilih dan memilah mana yang patut dan layak dibagi. Sesederhana itu.

Semoga saya tidak pernah berhenti untuk selalu belajar tentang apapun itu sehingga akan banyak rasa syukur karena mengetahui banyak hal tanpa harus membandingkan dengan sesuatu yang diluar jangkauan, semoga saya bisa makin tenang dengan segala yang saya miliki dan ingin miliki dengan sadar. Semoga saya selalu bisa berdialog dengan hati dan pikiran sehingga makin tahu tentang tenang dan bahagia.

Semoga kita semua diberikan ketenangan dan kebahagiaan. Hidup di dunia sangatlah singkat, semoga kita bisa memanfaatkan apa yang ada secara maksimal  untuk kebaikan dan melakukan segala hal secara sadar.

-Nootdorp, 20 September 2018-

 

 

Pasar Raya Indonesia 2018

Ini lho penampakana rujak cingur yang makannya setahun sekali karena yang jual restorannya di Amsterdam, jauh dari rumah. Ciamik soro rasane

Tahun ini saya datang lagi ke Pasar Raya Indonesia yang memang acaranya digelar setiap tahun. Sejak tahun kemarin, acara ini diadakan di Rijswijk. Tahun-tahun sebelumnya diselenggarakan di Wassenaar. Karena yang di Rijswijk letaknya tinggal koprol dari rumah (congkak, karena saking dekatnya), ya pasti saya dengan sukacita datang lagi. Bedanya, kali ini saya tidak datang rombongan dengan teman-teman seperti tahun kemarin (ceritanya bisa dibaca di sini). Pada tahun ini acaranya diselenggarakan pada tanggal 14 sampai 16 September 2018. Saya datang pada hari sabtunya. Karena suami tidak ikut (seperti biasa, dia tidak suka acara dengan suara bising), jadi kami bertiga ke acara ini.

Kami sampai tempat sekitar jam 2 siang. Mau masuk saja antrinya panjang sekali. Untung kami bisa masuk melalui pintu khusus. Karena saya tidak ada janjian dengan siapa-siapa, saya langsung menuju stan masakan padang namanya Lapek Jo. Sempat saya kabari Crystal kalau saya sudah ada di sana. Siapa bisa bertemu karena Crystal juga di sana. Ternyata belum berjodoh. Saking ramenya.

Sejak jauh hari, saya memang niat ke Pasar Raya tahun ini ingin membungkus sebanyak mungkin makanan yang saya inginkan. Apalagi sejak rencana kami pulang ke Indonesia harus ditunda lagi, jadinya makin ada alasan untuk jajan makanan Nusantara haha. Nah karena niatnya membungkus makanan, dari rumah saya sudah makan siang dulu. Saya memasak lodeh ontong (jantung pisang), pete, tempe dan kacang panjang. Suami sampai nambah-nambah. Beda antara lapar dan enak memang tipis.

Lodeh ontong
Lodeh ontong

Untung saja antrian di Lapek Jo belum terlalu mengular jadi tidak harus lama menunggu. Saya membungkus Ikan bakar padang, tongkol balado setengah kilogram, dan sate kambing untuk suami. Setelah urusan perbungkusan selesai, kami langsung melipir ke stan yang menjual pisang goreng dan combro. Kami makan pisang goreng panas-panas, haduh nikmatnya. Beli dua rasanya ga cukup, pengen nambah tapi ingat pengen jajan yang lain. Sewaktu makan pisang goreng, saya mengabari Ananti siapa tahu bisa ketemuan. Mumpung sedang dalam satu ruangan. Ternyata berjodoh bisa ketemu. Berawal dari membaca blog dia, lanjut sering sahut menyahut di twitter, akhirnya ketemu di dunia nyata. Senang bisa ketemu dia walaupun tidak terlalu lama.

Kami lalu melanjutkan misi berburu makanan. Eh ternyata ada yang memanggil saya. Seorang kenalan. Kami ngobrol sebentar dekat panggung. Haduh, berisik saya sampai pening. Eh tiba-tiba ada Bapak Kedubes persis di sebelah kami ,sedang berfoto. Kenalan saya langsung heboh ingin berfoto juga dan menawari saya untuk foto bersama Pak Kedubes yang saya jawab, “Aku buru-buru nih, mau beli rujak cingur di Warung Barokah. Takut kehabisan.” hahaha congkak sekali mbak ini, foto bersama Bapak Kedubes ditolak demi beli rujak cingur :))) Rujak cingur ini memang enak, meskipun secara selera saya lebih suka rujak cingur Madura yang memakai petis ikan, bukan petis udang. Saya makan rujak cingur ini pada saat makan malam. Pedes memang karena sewaktu mengulek bumbu, saya minta cabe yang banyak. Sudah diingatkan oleh Ibu yang jualan kalau pedas. Saya bilang, “tidak apa-apa Bu. Saya lagi ngidam.” Ibunya hanya senyum ditahan melihat saya. Eh, keesokan harinya perut saya sakit. Beberapa kali harus ke WC. Akibat tidak mendengarkan peringatan Ibu penjual. Tidak apalah, setahun sekali makan rujak cingur.

Ini lho penampakana rujak cingur yang makannya setahun sekali karena yang jual restorannya di Amsterdam, jauh dari rumah. Ciamik soro rasane
Ini lho penampakana rujak cingur yang makannya setahun sekali karena yang jual restorannya di Amsterdam, jauh dari rumah. Ciamik soro rasane

Kami menjelajahi seluruh stan makanan dan stan-stan non makanan. Kesan saya, penataan stan pada tahun ini jauh lebih rapi dan lebih baik dibandingkan tahun kemarin. Penataan kursi dan meja untuk makan juga rapi. Intinya, semua lebih rapi dan lebih baik dibandingkan tahun kemarin. Meskipun dari stan makanan, tidak terlalu banyak dibandingkan tahun lalu. Tahun ini sedikit. Saya mengamati ada 4 stan yang antriannya panjang mengular. Yang pertama, stan makanan Padang Lapek Jo. Wah ketika kami pulang, sempat melewati stannya (kami pulang sekitar jam 4), antriannya sudah panjang sekali. Sampai penjualnya bilang kalau ada yang mau beli sate padang atau nasi padang musti nunggu setengah jam. Menu yang lainnya masih ada. Stan kedua, pempek Elysha. Ini sih sudah tidak diragukan lagi. Setiap acara pasti antriannya panjang. Padahal tahun ini buka 3 stan, tetap saja antrian membludak. Top memang. Untung dekat rumah restaurannya, jadi saya tidak ikutan antri. Stan ke 3, saya lupa sepertinya stan minuman segala macam es. Itu juga panjang sekali barisan antrian. Nah, stan terakhir ini yang sensasional lama antriannya, yaitu stan martabak namanya The Martabak House. Menunggu pesanan selesai minimal 2 jam. Untung lagi saya bukan penggemar martabak. Jadi terselamatkan dari antrian panjang. Ini yang ngantri sepertinya yang tempat tinggalnya jauh. Daripada pulang dengan tangan kosong kan.

Stan paling menguji kesabaran :)))
Stan paling menguji kesabaran :)))

Akhirnya bungkusan apa saja yang saya bawa pulang? Ikan bakar padang, tongkol balado setengah kilogram, sate kambing, rujak cingur, buntil, combro, oseng pare pete teri, botok, dan martabak telur. Banyak ya haha. Amanlah isi freezer. Disayang-sayang jadi pas lagi males masak perbekalan dikeluarkan. Sampai suami saya komentar melihat kami sampai rumah dengan banyak tentengan, “kayak besok mau perang saja menumpuk makanan.” Sebenarnya ada satu pesanan yang akhirnya tidak saya dapatkan yaitu asinan buah. Saking kepinginnya, saya sampai membuat sendiri. Duh, segar sekali setelah ditaruh di kulkas. Isinya : Mangga kemampo, mentimun, nectarin, dan apel hijau.

Asinan buah ala Deny
Asinan buah ala Deny

Percakapan saya dan suami tentang asinan ini (dia mencicipi dan ternyata doyan) :

Asinan buah atau aseman buah
Asinan buah atau aseman buah

Ya sudah, itu saja cerita saya tentang Pasar Raya Indonesia tahun 2018. Semoga kami bisa datang lagi ke acara ini tahun depan.

-Nootdorp, 16 September 2018-

Bieslanddagen 2018

Akhir pekan kali ini sebenarnya kami tidak ada rencana yang spesial. Ada teman yang datang ke rumah hari sabtu. Dia bersama suaminya. Saya buatkan tahu berontak aka tahu isi dan siomay ayam udang. Tidak sempat memfoto karena langsung diserbu. Kata mereka enak sampe nambah-nambah. Kalau kata saya siomaynya tidak sesuai yang saya harapkan rasanya. Tapi ya sudah, wong tamu dan suami saya suka, anggap saja memang enak. Menu makanan kami sekeluarga akhir pekan ini adalah cumi asin pete tempe super pedas dan sop sayuran daging plus buntut, dimakan pakai sambel kecap.

Cumi asin pedes
Cumi asin pedes

 Sabtu malam suami nanya, kami akan ke mana besok minggu. Saya usul ke Delft saja karena cuaca bagus. Akhirnya sepakat hari minggu kami akan ke Delft naik sepeda dari rumah dan setelahnya ke rumah Mertua. Prakiraan cuaca menyebutkan matahari akan cerah dan suhu akan sampai 22°C. Senang sekali. 

Minggu pagi seperti biasa suami olahraga ke luar. Sesampainya kembali di rumah, dia memberitahu lebih baik rencana ke Delft kota diganti ke acara lainnya yaitu Bieslanddagen. Wah tentu saja saya antusias. Kami pernah ke sini pada tahun 2016, saya pernah tuliskan di blog ini. Silahkan dicari jika ingin tahu lebih lengkap tentang acara ini. Bieslanddagen itu adalah pestanya petani dan peternak. Letaknya hanya 15 menit naik sepeda dari rumah. Acaranya di dekat hutan dan dalam area peternakan dan pertanian. Acara ini berlangsung tanggal 1 dan 2 September 2018.

Kami beberapa kali membeli sayur dan telur ayam di area ini. Jadi kalau beli sayur, kita bisa langsung memetik sendiri lalu menimbang dan uangnya taruh di kotak yang disediakan. Kalau ada kembalian langsung ambil di kotak itu juga. Harga per kg nya sudah ada di sana. Dan disediakan kalkulator juga. Intinya sistem percaya karena tidak ada yang menjaga. Beli telur ayam pun begitu. 

Nah, kami hari ini ke acara ini. Yang datang ke Bieslanddagen ini didominasi oleh keluarga dengan anak-anaknya. Acara ini gratis, disediakan beberapa fasilitas permainan pun gratis. Jadi anak-anak bisa bermain di alam terbuka, mendayung sampan, bermain bersama sapi dan kuda, melihat ayam-ayam dan masih banyak lagi permainan lainnya. Semuanya gratis. Bahkan ada beberapa stan yang menyediakan makanan dan minuman juga gratis.

Kali ini, kami mencoba naik traktor petani dengan duduk di atas jerami. Duh, saya senengnya minta ampun. Padahal cuma naik traktor gratisan. Entah, rasanya senang merasakan sensasi naik traktor, melemparkan ingatan ke masa kecil di desa, saya sering ikutan naik traktor di

Melihat anak-anak sangat menikmati segala macam permainan yang ada di ruang terbuka, saya dalam hati sampai berkata kalau mereka beruntung bisa bermain diruang terbuka dengan udara yang masih bersih dan tanpa harus membayar. Padahal letak area ini tidak jauh dari pusat kota Delft. Ya, anak-anak di sini memang hiburannya adalah bermain di taman, jalan-jalan ke hutan, memberi makan angsa di sungai, berenang di danau, bermain di taman bermain yang sudah di sediakan di setiap kompleks rumah, dan masih banyak kegiatan di ruang terbuka dengan fasilitas yang didukung oleh pemerintah. Hal-hal yang nampak sederhana, mungkin di tempat lain justru jadi sesuatu yang mewah karena sudah langka. Apakah di sini ada Mall? Jangan dibayangkan Mall seperti Tunjungan Plaza atau Galaxy Mall atau PIM, di sini tidak ada. Makanya mereka sudah sangat bahagia dengan kegiatan di alam yang gratis dan dengan udara yang bersih dan kegiatan lainnya misalkan ke perpustakaan. 

Naik traktor dengan duduk di kotak jerami benar-benar pengalaman baru buat kami kali ini. Kami dibawa berputar ke area peternakan dan pertanian. 

Begitulah cerita akhir pekan kami. Bagaimana akhir pekan kalian? Semoga akhir pekan kalian juga menyenangkan bersama orang-orang tersayang. 

-Nootdorp, 2 September 2018-

Santai Saja Jawabnya

Giethoorn

Pernah tidak ada di situasi orang lain mengomentari keadaan kita tanpa tahu fakta sesungguhnya. Jadi asal nyablak gitu. Dan kita langsung panas hati pengen memaki-maki orang tersebut. Saya sih sering. Apalagi dulu waktu jiwa saya masih senggol bacok. Kalau sekarang saya lebih ke santai dan melihat situasi dulu. Tapi jangan salah, satu dua kali kalau keadaan saya lagi capek dan ada yang bikin gara-gara, ya pasti masih gampang terpancing sih. Tapi yang masih elegan, tidak langsung ngegas.

Nah, kalau saya dikomentari oleh orang lain, kadang-kadang ada saatnya saya malah pengen ngerjain balik dan santai jawabnya. Kadang nih ya, orang yang melemparkan komentar tidak menyenangkan itu, sebenarnya menggambarkan ke tidak PD an dia sendiri atau menyuarakan suasana dan keadaan dia sendiri. Makanya, saya sangat berhati-hati dalam memberikan komentar. Jangan sampai curhat colongan haha.

Ini ada beberapa cerita saya dikomentari dan saya jawabnya santai saja meskipun tetap direct ya. Saya emang dari dulu orangnya direct, jarang berbasa basi. Yang melemparkan komentar malah yang jadi bungkam.

GENDUTAN

Sejak tahun kemaren sampai saat saya menulis ini, badan saya memang membengkak. Bukan tanpa sebab, tapi saya tidak bisa sebutkan di sini alasannya. Intinya badan saya memang bertambah beratnya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Saya juga sedang tidak berusaha diet dan sampai minimal 3 tahun ke depan, tidak ada niatan untuk menurunkan BB. Ya kalau misalkan bisa turun, saya bersyukur. Tapi saya tidak ngoyo. Suatu hari saat saya sedang ke kota, papasan dengan seorang kenalan. Setelah saling melemparkan salam, terjadilah pembicaraan ini :

Kenalan : Den, badan kamu kok menggendut ya, tapi aku lihat kamu sumringah senyum terus.

Sebenarnya dua pernyataan dia ini tidak ada korelasinya. Tapi ya saya jawab saja

Saya : Ya mbok sini ikutan menggendut juga biar kamu juga selalu sumringah. Jadi mulutnya ga sempat ngatain orang gendut karena sibuk dipake buat tersenyum.

Kenalan : ………………….. *hening

 

IBU RUMAH TANGGA

Suatu waktu di sebuah acara, saya baru saja berkenalan dengan teman dari kawan yang mengundang kami di acaranya. dari awal berkenalan, saya sudah agak malas dekat-dekat dengan dia karena dari awal cerita, dia selalu ngobrol tentang harta benda yang dia punya. Kok ya ndilalah, sebelum saya beranjak pergi ambil makanan, dia bertanya latar belakang pendidikan saya apa. Duh, macam petugas sensus saja.

Dia    : Deny, aku dengar kamu kuliah sampai S2 ya? jurusannya apa?

Saya : Teknik Industri

Dia    : Sekarang bekerja?

Saya  : Kerja di rumah, jadi Ibu Rumah Tangga

Dia     : Sayang sekali kamu sudah tinggi kuliahnya jadi Ibu Rumah Tangga aja. Buat apa kalau gitu kuliah tinggi-tinggi?

Saya   : Kalau Ibu Rumah Tangga kan salah satu tugasnya masak dan cari resep. Baca resep kan butuh bisa membaca. Nah, aku kuliah sampai tinggi ya buat baca resep masakan.

Dia : ……… *tak ada komen selanjutnya

 

SUNAT

Punya suami berbeda kebangsaan pasti ada saja pertanyaan unik yang selalu saya terima. Unik ini maksudnya dari yang memang pertanyaan ingin tahu sampai pertanyaan kurang ajar. Pertanyaan yang menjurus kurang ajar dan tidak sopan salah satunya tentang sunat. Dan ini tidak hanya sekali dua kali saya terima.

Saat saya dan suami sedang mencari baju di salah satu toko, saya disapa oleh seorang wanita Indonesia tentu saja. Dia mengajak berkenalan dan menyebutkan tempat tinggalnya. Setelah berbasa basi sejenak, dia lalu menanyakan tentang sunat :

Ibu itu  : Waktu menikah di KUA atau di catatan sipil?

Saya    : Di rumah Bu

Ibu itu : Maksud saya secara Islam atau beda agama?

Saya.   : Ada apa ya Bu kok bertanya sampai detail?

Ibu itu  : Kalau secara Islam kan pasti disunat dulu ya? Suaminya sudah sunat?

Saya    : Mau nyunatin suami saya Bu?

Lalu saya beranjak pergi. Saya dengar dia menyelutuk :

Ibu itu : Wah ditanya baik-baik kok jawabnya kurang ajar

Saya lalu balik badan mendatangi Ibu itu kembali

Saya : Yang kurang ajar saya atau Ibu ya. Menanyakan tentang area privasi suami saya itu sudah sangat tidak sopan dan tidak tahu malu. Ada kepentingan apa Ibu bertanya seperti itu? *Dengan intonasi jelas dan tegas tapi tetap senyum

Ibu itu : …….. *tak berkata-kata lalu balik badan pergi.

Giethoorn
Giethoorn

 

GENDUTAN BAGIAN DUA

Percayalah, sejak badan saya bertambah beratnya. Tidak hanya satu atau dua orang yang berkomentar, tentu dari orang yang saya tidak kenal dengan baik. Kalau sudah kenal baik, pasti tahu alasannya. Lagipula, saya tidak berhutang penjelasan kepada siapapun kan. Tapi karena saya bahagia-bahagia saja dengan berat yang sekarang, maka seringnya saya jawab santai. Ada orang yang kenal saya waktu awal pindah ke Belanda Setelahnya kami lama tidak saling ketemu. Beberapa bulan lalu kami bertemu kembali. Tidak menanyakan kabar atau apapun, dia langsung komentar (sebut saja dengan rumput) :

Rumput : Wuihhh kamu makin subur aja sekarang. Bahagia banget nih di Belanda?

Saya      : Ya bahagia lah, mau mikir apa. Negara pun sudah ada yang mikir. 

Rumput : Tapi ini beneran lho kamu gede banget dari yang awal-awal datang ke sini

Saya      : Ya itu tadi, aku bahagia banget selama ini sampai mau ngomentarin tentang perubahan badan orang lain pun tak sempat. Soalnya hatiku sudah senang, jadinya ya aku masa bodoh mau orang lain badannya gendut kek, kurus kek. Kan ga ngefek dalam kehidupanku.

Rumput  : ………. *tidak berkata-kata lebih lanjut

 

TIDAK PUNYA MOBIL

Saya pernah menyebutkan beberapa kali ya di postingan dalam blog ini kalau kami sejak tahun 2015 memutuskan untuk tidak mempunyai mobil pribadi. Mobil yang kami punya dijual. Kalau kami sekeluarga membutuhkan mobil, tinggal sewa sesuai kebutuhan. Ada yang harian ada yang jam-jam an. Alasannya karena sehari-hari mobilitas kami cukup terakomodir dengan naik sepeda, jalan kaki, dan naik kendaraan umum. Rumah kami meskipun di kampung, tapi letaknya diantara Den Haag, Delft, dan Rotterdam. Semua bisa ditempuh dengan bersepeda dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Dan juga dekat sekali dengan halte tram, halte bus, bahkan stasiun besar. Beroperasinya pun sampai dini hari dan sebelum subuh sudah beroperasi kembali. Nah kalau punya mobil, sayang membayar pajaknya dan kalau tidak sering dipakai mobil gampang rusak. Ada kenalan yang tahu kalau kami tidak mempunyai mobil dan naik mobil sewaan untuk datang ke sebuah acara

Orang itu : Kamu ga minta suami untuk beli mobil? Hari gini ga punya mobil susah lho

Saya         : Kami tinggal dekat kota besar, jadi ga susah sama sekali

Orang itu : Atau suami kamu ga sanggup ya beli mobil? Ga punya uang?

Lho kok mbaknya nge gas gini nanyanya.

Saya         : Punya atau tidak punya uang pun laporannya bukan ke kamu, tapi ke kantor pajak. Kecuali kalau kamu petugas kantor pajak

Orang itu : Sayang banget kamu jauh-jauh ke Belanda kawin sama Bule yang ga punya mobil. Kasihan.

Saya        : Saya sih lebih kasihan ke orang yang sudah jauh-jauh dan sudah lama tinggal di Belanda tapi cara berpikirnya masih seperti katak dalam tempurung dan melihat segala sesuatu dari kebendaan saja. Ya, Mudah-mudahan kedepannya lebih pintar dikit kalau komentar. Atau pas sekolah, mulutnya ga ikutan sekolah, jadinya ga ikut pintar *Saya jawab santai sambil senyum.

Orang itu : ……. *buang muka

 

KOK GA DITEMENIN?

Kalau keluar rumah, saya tidak selalu dengan suami. Ada saatnya saya ingin me time. Nah sewaktu acara Tong Tong Fair (TTF) beberapa bulan lalu, saya janjian dengan beberapa teman ketemu di sana. Tentunya saya keluar tidak dengan suami. Setelah ketemu dengan beberapa teman di sana, kami lalu duduk-duduk dulu di ruangan dekat pintu masuk. Temannya seorang teman menyapa saya, sebut saja namanya ilalang.

Ilalang : Suaminya ga ikut?

Saya    : Nggak, di rumah

Ilalang : Wah tega sekali membiarkan kalian pergi berdua. Kalau suami saya musti ikut ke manapun saya pergi. Kalau dia ga mau ikut, saya seret. Pokoknya musti ikut.

Saya    : Suami saya bukan koper, jadi ga perlu diseret-seret. Dan untungnya juga jodoh suami saya bukan Mbak.

Ilalang  : …… *pura-pura ga dengar lalu mendadak ngobrol dengan sebelahnya

Sebagai gambaran, Den Haag itu kota pemerintahan di Belanda. Hampir semua kedutaan besar ada di sini termasuk KBRI. Penduduknya pun beraneka rupa kebangsaannya. Gampang bertemu dengan orang Indonesia di Den Haag? Di setiap pengkolan pasti ada.

Sebenarnya masih banyak lagi komentar-komentar ajaib yang saya dapatkan selama di Belanda. Tapi yang saya tulis 6 cerita itu dulu. Nanti kalau tidak malas akan saya tulis versi lainnya. Karena sering dapat komentar yang ajaib, otak saya pun jadi terlatih kasih jawaban “kreatif” dalam waktu yang singkat. Pelontar komentar herannya sesama orang Indonesia juga. Mbok yaaa, kalau ketemu ngomongin apa gitu yang lebih berfaedah, jangan cuma bisanya mengomentari fisik atau harta. Selama di sini, saya belum pernah lho dikomentari fisik oleh orang Belanda. Tidak semua orang Indonesia yang di Belanda begini ya, teman-teman dan kenalan saya ya banyak yang baik. Cuma yang ajaib-ajaib saja rasanya yang seperti itu dan saya diberikan kesempatan langka bertemu yang ajaib-ajaib begitu. Jangan-jangan mereka juga menganggap saya manusia ajaib.

Tetapi bertemu dengan tipe manusia yang berbeda-beda membuat saya banyak belajar. Minimal belajar mengendalikan mulut dan berpikir dulu sebelum berkomentar. Dan juga diera digital sekarang ini, membuat saya berpikir berkali-kali sebelum menuliskan sesuatu atau mengomentari suatu hal. Jadi ada remnya dan semacam berkaca juga, jangan sampai saya seperti mereka. Saya tidak pernah keberatan kalau disapa orang. Bertemu dengan orang baru pun tidak masalah buat saya. Hitung-hitung hiburan lah. Asal tidak terlalu menjengkelkan.

Kalian ada yang punya pengalaman seperti saya?

-Nootdorp, 29 Agustus 2018-

Sekilas Cerita Idul Adha 2018

Sate Padang Mak Deny :)))

Rasanya baru kali ini dalam seumur hidup yang namanya jadwal lebaran agak membingungkan buat saya sehingga nyaris terlewat. Minggu lalu, saat kami ke KBRI untuk membuat paspor, saya bertanya ke petugas minggu depan liburnya tanggal berapa. Bapak petugas bilang kalau liburnya tanggal 22 Agustus karena Idul Adha. Ok, jadi saya ingat-ingat tuh tanggal 22 Agustus Idul Adha. Karena harus ambil darah untuk diperiksa, saya buatlah janji dengan Lab deket rumah tanggal 21 Agustus jam 9 pagi. Dan saya bilang suami kalau tanggal 22 saya akan sholat Ied di Al Hikmah, setelahnya mau membuat sate ayam dan sate padang. Sudah ok jadwalnya. Satu lagi alasan kenapa saya tidak terlalu ingat jadwal Idul Adha di Indonesia, karena sudah sejak lama (lebih dari 10 tahun) saya memutuskan untuk tidak pernah lagi ikut berkurban, saya lebih memilih dengan cara yang lain yang sesuai dan lebih nyaman menurut saya. Karena buat saya pribadi (setelah melalui proses pembelajaran yang panjang), makna berkurban tidak hanya pada hari H Idul Adha dan bisa dilakukan dengan cara yang lain.

Nah, tanggal 20 Agustus malam sekitar jam 8 saat saya sudah leyeh-leyeh, seperti biasa saya menuju republik twitter untuk membaca informasi apa saja hari itu. Lalu saya melihat akun KBRI yang menginformasikan kalau sholat Iednya tanggal 21 Agustus 2018 jam 9 pagi. Lho saya jadi bingung. Bertanyalah saya ke grup sahabat-sahabat sebenarnya kapan lebaran. Tanggal 21 atau 22? Saya bertanya ke grup Belanda juga. Ternyata, lebaran di Eropa (beberapa negara saja yang saya tahu seperti Norwegia, Belanda) jatuh pada tanggal 21, sedangkan di Indonesia pada tanggal 22. Jadi KBRI di Belanda liburnya menyamakan dengan libur Indonesia. Tapi saya tetap heran sih, kok beda ya. Biasanya antara KBRI di Belanda dan Indonesia lebarannya selalu sama. Mungkin ada yang tahu kenapanya.

Karena baru tahu dadakan tentang jadwal lebaran di Belanda, ya pada akhirnya saya tidak bisa ikut sholat Ied di Masjid karena sudah ada janji untuk ambil darah di Lab dan tidak bisa dibatalkan. Pada akhirnya sholat sendiri di rumah.

Idul Adha kali ini saya ingin sekali makan sate padang, tapi tidak beli melainkan mencoba membuat sendiri. Niat banget ya, namanya juga kepengen dan sedang niat untuk belajar bagaimana sih proses memasak sate padang. Saya memakai resep dari Just Try and Taste. Agak keder juga sebenarnya karena bumbunya yang supeeeerrr banyak. Meskipun tidak semua saya punya, tapi minimal yang rempah-rempah penting menurut saya, ada di dapur semua. Jadi tidak perlu bersusah payah mencari. Seadanya saja. Baru kali ini saya mencoba masakan baru tapi harus berkali-kali melihat resepnya karena takut ada yang terlewat saking banyaknya bumbu. Biasanya setelah membaca, saya ingat-ingat saja. Perkecualian untuk sate padang.

Sebenarnya proses memasak tidaklah ruwet dan tidak terlalu lama juga. Cuma karena bumbunya banyak, jadi saya mabok duluan. Singkat cerita, setelah keruwetan di dapur (sampai suami saya komen : ini dapur kok seperti habis perang, segala macam ada di atas meja ), jadi juga sate padang karya pertama saya. Karena sudah lama sekali saya tidak makan sate padang dengan rasa yang benar-benar enak, jadi sambil masak, saya mengingat seperti apa rasanya sate padang itu. Ya menurut saya ini rasanya oke, pedas dan rempahnya dapat dan kekentalan bumbunya juga pas. Untuk pemula, tidak terlalu kecewalah saya. Suami juga bilang rasanya enak sekali. Itu saja lebih dari cukup, jadi satenya ada yang makan, tidak sia-sia bertarung di dapur. Malah saya yang akhirnya tidak bisa makan sate padang tersebut karena sudah mabok dengan aroma rempah dan karinya. Jika boleh memilih, lebih baik saya beli saja yang sudah jadi sate padang ini. Ternyata saya tidak cukup kuat dengan aroma yang tajam kari dan rempahnya. Kata sahabat saya “Ya tidak rugilah bayar mahal sate Mak Syukur”

Sate Padang Mak Deny :)))
Sate Padang Mak Deny :)))

Beruntung saya membuat sate ayam juga. Kalau sate ayam sih gancil ya bikinnya. Tinggal masuk ke oven dan bumbunya pun tinggal merem lah. Sate ayam jadi penyelamat, jadinya saya bisa makan. Sate ayam ini menu sekeluarga jadi semuanya bisa makan.

Sate Ayam panggang oven andalan
Sate Ayam panggang oven andalan

Begitulah sekelumit cerita Idul Adha kami. Selamat Idul Adha buat yang merayakan.

Sate Ayam dan Sate Padang
Sate Ayam dan Sate Padang

-Nootdorp, 22 Agustus 2018-

Menua Bersama

Ini salah satu tempat favorit kami nongkrong di dekat rumah. Duduk-duduk pinggir danau sambil lihat angsa berenang dan membawa bekal seperti piknik

Pada tanggal 9 setiap bulan, kami selalu menghitung sudah berapa lama ya kami menikah. Sudah berapa bulan suka dan duka yang terlewati sejak ijab kabul. Ada kesenangan tersendiri mengetahui : oh sudah sekian bulan nih, wah banyak juga ya. Lalu biasanya kami akan sedikit kilas balik apa saja yang sudah terlewati, kisah baik dan buruknya. Apa yang perlu dibenahi kedepan, apa yang perlu ditinggalkan di belakang, apa yang perlu diambil sebagai bahan pembelajaran. Selalu menyenangkan diskusi pada tanggal 9 setiap bulan.

Minggu lalu, pernikahan kami genap berusia 4 tahun. Usia yang masih sangat muda tentu saja. Sampai sekarang kami kadangkala seringnya tak percaya bisa bertahan sejauh ini mengingat rentang perbedaan yang sangat lebar diantara kami. Bukan hanya sifat dan kebiasaan, cara berpikir dan keyakinan akan banyak hal pun banyak sekali bedanya. Namun kami selalu menyadari bahwa pernikahan bukanlah untuk menjadikan sama dua hal yang berbeda, tetapi menyelaraskan perbedaan itu sehingga daya bentroknya bisa diperkecil. Saudara kembar pun mempunyai perbedaan yang banyak, apalagi kami yang dibesarkan ditempat yang saling berjauhan dan membawa banyak hal yang berbeda dalam hidup.

Empat tahun yang terasa sangat cepat karena kami sangat menikmati setiap detik kebersamaan. Kebersamaan yang tidak hanya dilewati dengan tawa bahagia, senda gurau tapi juga terselip pertengkaran, amarah, dan air mata kecewa. Empat tahun, semoga akan menjadi empat puluh tahun kemudian atau lebih. Semoga kami bisa diberikan banyak kesabaran dan saling pengertian yang lebih satu sama lain. Banyak hal baik yang suami contohkan dan akhirnya bisa saya serap, begitu juga sebaliknya. Setiap hari kami belajar banyak hal. Mengenal dia selama empat tahun pernikahan membuat saya banyak bersyukur bahwa Tuhan memberi jodoh seperti dia. Mudah-mudahan dia pun merasa seperti itu. Kami saling mencukupkan, tapi tidak mencoba untuk saling menyempurnakan. Itu saja sudah lebih dari yang saya tuangkan dalam doa selama ini.

Semoga kami selalu dilimpahi kebahagiaan dan kesehatan yang baik kedepannya. Semoga kami bisa mendidik anak-anak kami dengan baik, melihat mereka bertumbuh, sehat, dan bahagia dengan apapun pilihan mereka yang membuat mereka bahagia dan tidak menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi siapapun serta apapun, terutama bagi mereka sendiri. Semoga kami tetap saling bergandengan tangan, menatap dengan penuh cinta seperti saat pertama kami saling jatuh cinta, dan menyandarkan kepala pada bahu  jika salah satunya sedang butuh sandaran, dan mempunyai rejeki yang cukup untuk bisa mewujudkan impian kami melangkahkan kaki dan melihat dunia yang lebih luas. Semoga kami dapat menua bersama dengan penuh rasa syukur. Semoga.

Ini salah satu tempat favorit kami nongkrong di dekat rumah. Duduk-duduk pinggir danau sambil lihat angsa berenang dan membawa bekal seperti piknik
Ini salah satu tempat favorit kami nongkrong di dekat rumah. Duduk-duduk pinggir danau sambil lihat angsa berenang dan membawa bekal seperti piknik

-Nootdorp, 12 Agustus 2018-

Trekking Enam Jam di Cinque Terre – Italia

Manarola - Cinque Terre

Pada saat membuat rencana perjalanan ke Italia, hampir saja saya melewatkan Cinque terre. Padahal saat melihat foto-foto yang bersliweran di IG tentang Cinque Terre, saya mbatin kalau suatu hari ke Italia ingin mampir ke tempat ini. Ternyata saya masih berjodoh dengan Cinque Terre sehingga bisa mengunjunginya pada saat liburan musim panas tahun 2016 sekaligus perjalanan 18 hari di Italia saat suami berulangtahun.

 

Monterosso dari atas
Monterosso dari atas
Monterosso dilihat dari kebun anggur
Monterosso dilihat dari kebun anggur

Hari sebelumnya, kami mampir ke PortofinoKami sengaja memilih untuk menginap di La Spezia yang letaknya tidak jauh dari Cinque Terre dan bisa ditempuh dengan kereta karena penginapan di sana tidak semahal di Cinque Terre. Kami menginap di Airbnb yang berupa apartemen lengkap fasiltasnya. Letaknya pun tidak terlalu jauh dari stasiun kereta api. Kami tidak membawa kendaraan dan lebih memilih naik kereta ke Cinque Terre sengaja karena sudah merencanakan memilih jalur trekking  untuk menyusuri 5 desa yang ada di sana.

Hari itu tidak akan saya lupa. 6 Juli 2016 bertepatan dengan Idul Fitri, salah satu mimpi saya di dunia per jalan-jalan an terwujud. Selepas sholat Ied di apartemen, kami langsung menuju ke Cinque Terre naik kereta. Tiket yang kami beli sudah termasuk dengan masuk Taman Nasional yang merupakan jalur trekkingnya. Kira-kira jam 11 siang kereta yang kami naiki berangkat. Sepanjang perjalanan, saya benar-benar gembira luar biasa, tidak berhenti tersenyum. Rasanya akan ketemu dengan blind date yang selama ini cuma bisa diangan-angan saja.

Kami tiba di desa yang pertama yaitu Monteresso, yang kami pilih sebagai titik awal trekking. Setelah berkeliling sebentar untuk membeli minuman dan makanan sebagai bekal trekking, kami memulai titik trekking dari desa ini. Suhu saat itu mendekati 40ºC saat matahari sudah di atas kepala. Jalur trekkingnya sungguh luar biasa indah. Kami melewati perkebunan anggur dan bisa melihat betapa birunya lautan dari atas. Meskipun medan trekking yang tidak mudah (bagi saya) karena menanjak dan sempit ditambah panas yang luar biasa, tetapi ketika melihat keindahan alam dan satu persatu desa yang kami datangi, memupuskan segala keluh kesah. Ditambah lagi banyak anak kecil yang sliweran di jalur trekking. Bahkan beberapa balita pun saya lihat dengan santainya jalan dan bersenda gurau dengan orangtuanya. Lah kan jiwa kompetitif saya jadi bergelora. Di beberapa tempat, saya melihat beberapa keluarga beristirahat sambil membacakan buku cerita buat balitanya. Berkali-kali saya mengucapkan syukur karena diberikan kesempatan dan kesehatan untuk menikmati dan merasakan semua ini.

Salah satu jalur trekking
Salah satu jalur trekking

Ada satu hal yang saya tidak pernah lupa sewaktu trekking di Cinque Terre selain hawa panas tadi yaitu saya memakai celana bolong haha! Jadi ceritanya dalam perjalanan waktu itu saya tidak terlalu banyak membawa celana dengan bahan yang bisa menyerap keringat dengan baik. Kebanyakan saya membawa rok. Nah sebelum trekking, saya cek berapa derajat suhunya. Ternyata nyaris 40 derajat. Saya lihat dalam koper kira-kira celana mana yang bisa dipakai. Ternyata ada satu celana rumah yang bahannya nyaman, adem. Ya karena ini di Eropa di mana orang-orang akan cuek kamu mau pakai apa, akhirnya saya memutuskan memakai celana rumah itu untuk trekking. Saya tidak memeriksa sebelumnya kondisi celana itu. Setelah pertengahan jalur trekking, saat jalurnya benar-benar menanjak sampai dengkul ketemu dengan janggut (saking menanjaknya), mata saya lihat kok ada yang bolong ditengah celana. Eh ternyata celana yang saya pakai tengahnya bolong besar hahaha! Duh saya langsung tertawa terbahak dan lapor ke suami. Saya tunjukkan bolongnya. Kami lalu tertawa terbahak. Ya sudahlah, selama jalannya santai toh orang tidak tahu kalau saya pakai celana bolong haha!

Vernazza dari kejauhan
Vernazza dari kejauhan
Vernazza
Vernazza
Vernazza
Vernazza

Di setiap desa, kami pasti berhenti. Entah sekedar minum atau makan atau istirahat untuk mengumpulkan tenaga menuju desa berikutnya. Sungguhlah cuaca yang panas saat itu membuat cepat lelah dan anginpun pelit bertiup. Bayangkan saja bagaimana energi tersedot dengan cepatnya.

Corniglia dari kejauhan
Corniglia dari kejauhan
Corniglia
Corniglia
Corniglia
Corniglia
Panas-panas makan ini, Yummm!!. Selama di Italia, hampir setiap hari kami makan Gelatto
Panas-panas makan ini, Yummm!!. Selama di Italia, hampir setiap hari kami makan Gelatto
Corniglia
Corniglia
Manarolla dilihat dari Corniglia
Manarolla dilihat dari Corniglia

CQ14

Kami sampai di desa ke empat yaitu Manarola saat matahari menjelang terbenam. Jadi kami putuskan bahwa Manarola adalah desa terakhir yang kami kunjungi karena selain badan sudah rontok, juga hari sudah beranjak malam. Riomaggiore, desa ke lima hanya bisa kami lihat dari atas kereta. Lihatlah foto Manarola yang saya ambil menggunakan kamera dari Hp, inilah foto yang selama ini selalu membuat saya berkhayal suatu hari bisa datang ke Cinque Terre dan melihat secara langsung desa-desa yang ada di sana yang masuk dalam Unesco World Heritage. Akhirnya saya bisa mewujudkannya setelah sekian lama, pergi bersama suami tercinta. Mimpi jadi nyata.

Manarola - Cinque Terre
Manarola – Cinque Terre
Inilah kami saat trekking di Cinque Terre dan saya memakai celana bolong :)))
Inilah kami saat trekking di Cinque Terre dan saya memakai celana bolong :)))

-Nootdorp, 8 Agustus 2018-

Anak dan Teknologi

Sebelum menulis lebih lanjut, yang saya maksud Teknologi di sini adalah telefon genggam, tablet (ini saya juga bingung menyebutnya apa, tapi biasa disebut tablet kan semacam iPad gitu), televisi, dan komputer. Kata suami saya, semua itu disebut media devices. Saya bingung mencari padanan kata dalam bahasa Indonesia, jadi saya menyebutnya teknologi. Kalau ada yang tahu padanan kata yang lebih tepat, tolong saya dikoreksi dan mohon masukannya ya.

Suatu malam ketika kami ditraktir oleh Mama mertua makan di restoran Indonesia yang tidak jauh letaknya dari rumah, kami menempati meja yang sudah dipesan sebelumnya persis di sebelah keluarga bersama satu anak usia sekitar 5 tahun. Saya awalnya tidak memperhatikan ada yang unik dari keluarga tersebut. Selama menunggu pesanan, Mama kasak kusuk kalau keluarga yang di sebelah meja kami sibuk dengan HP (telefon genggam) masing-masing. Anak sedang menonton kartun, sang Bapak sedang menonton siaran entah apa, dan sang Ibu juga asyik memelototi telefon genggamnya. Mereka dalam posisi sama-sama makan. Namun tidak ada pembicaraan diantara mereka, senyap sibuk dengan HP masing-masing.

Melihat hal tersebut, pikiran saya mulai terusik. Dan terus terang saat itu saya mbatin yang bernada menghakimi. Semacam, wah kok sibuk sendiri-sendiri melototin Hp padahal kan sedang makan. Kenapa tidak mengobrol saja sambil makan. Cerita apalah asalkan tidak terpukau dengan Hp. Dilain tempat lain waktu, saat kami makan di restoran, ada beberapa keluarga juga yang membawa anak berusia dari bayi sampai sekitar 5 tahunan. Nah ada dua meja dari dua keluarga berbeda tentunya yang saya perkirakan usia bayinya sama, kira-kira 7 bulanan. Yang satu bayi duduk anteng (dan makan) di kursi makannya sambil bersenda gurau dengan kedua orangtuanya (yang juga sambil makan). Sedangkan satu bayi duduk anteng dengan melihat tablet didepannya yang memutarkan kartun, sedangkan dua orangtuanya menikmati makanannya. Nah di meja lainnya, anak usia 5 tahun saya lihat sedang urek-urek buku gambar sedangkan orangtuanya makan. Sesekali orangtuanya bertanya ini itu kepada anaknya (yang saya lihat memang tidak makan, atau makannya sudah selesai saya kurang tahu). Jadi anak umur 5 tahun ini anteng di restoran selama orangtuanya makan, dengan melakukan aktivitas menggambar. Nah dari beberapa pengalaman (yang sebenarnya masih banyak sih, cuma saya ambil contohnya saja untuk dituliskan di sini), otak saya jadi sibuk berpikir. Kenapa satu bayi bisa anteng makan dan duduk di kursi makannya dengan cara berkomunikasi dengan orangtuanya, sementara bayi yang lain anteng karena melihat kartun di tablet. Kenapa satu anak usia 5 tahun anteng dengan menggambar, kenapa yang lainnya anteng dengan melihat tayangan di Hp. Pertanyaan saya ini jangan dianggap sedang menghakimi ya, tapi lebih tepatnya ke sebuah pemikiran.

Karena kepikiran, saya lalu bercerita hal tersebut ke grup WA yang isinya perempuan-perempuan perantau di Eropa. Kebanyakan sudah punya anak. Saya bercerita tentang keresahan saya akan anak kecil yang memelototi Hp atau tablet untuk melihat tayangan YouTube atau kartun atau permainan saat makan di restoran. Karena terus terang bukan sekali dua kali saya melihat kejadian seperti ini.

Dari hasil diskusi di grup, memang ternyata banyak sekali alasan yang melatar belakangi memberikan sarana media untuk anak saat makan di restoran atau tempat umum. Benang merahnya adalah supaya anak duduk tenang dan anteng. Belum tentu anak yang diberi tontonan di restoran, di rumah mereka juga dibiasakan seperti itu. Karena suasana rumah dan suasana restoran (atau tempat umum lainnya) berbeda dengan suasana rumah, mungkin anak (atau bayi) jadi merasa tidak nyaman. Jadilah orangtua memberikan ijin untuk menonton di sarana media tersebut supaya anak anteng tidak mengganggu pengunjung lainnya dan orangtuapun enak makannya. Nah dari hasil ngobrol di grup itulah saya jadi ada rasa bersalah telah menghakimi keluarga pertama yang sibuk dengan Hp masing-masing tanpa tahu alasan mereka apa. Menurut kacamata saya, hal tersebut memang tidak ideal karena kebiasaan di keluarga kami kalau makan ya benar-benar makan, saling ngobrol satu sama lain. Apalagi saat makan malam, ya saatnya bercerita tentang kegiatan satu hari. Meletakkan segala macam tekhnologi apapun bentuknya. Jadi sebenarnya saya tidak bisa menghakimi satu perkara benar atau salah karena tidak sesuai dengan standar saya, karena masing-masing keluarga pasti punya aturan masing-masing.

Tujuan dari tulisan ini adalah saya ingin bertanya kepada rekan-rekan blogger atau siapapun yang membaca tulisan ini yang sudah mempunyai anak (balita juga termasuk ya ini) atau jika belum tapi berpengalaman dengan keponakan atau sepupunya atau anak kecil lainnya, untuk bisa memberikan komentar atau gambaran dari beberapa pertanyaan saya di bawah. Sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada komentar benar atau salah karena masing-masing keluarga punya aturan masing-masing yang bisa jadi berbeda dengan keluarga lainnya. Dari jawaban rekan-rekan, saya akan belajar banyak hal.

  • Anak sudah dikenalkan pada teknologi (TV, HP, Tablet dan Komputer) sejak usia berapa dengan alasan apa. Media apa yang pertama kali dikenalkan?
  • Aturan makan di rumah bersama keluarga seperti apa? Apakah boleh sambil melihat TV, apakah boleh sambil mengecek Hp sesekali ataukah waktu makan memang khusus untuk makan dan ajang saling bercerita antara anggota keluarga?
  • Jika sedang makan di luar rumah (restoran atau warung atau tempat makan lainnya), apa yang biasa dilakukan untuk membuat anak tenang supaya tidak resah sendiri, tidak mengganggu pengunjung lain, dan orang dewasa dalam meja yang sama makannya pun jadi nyaman?
  • Jika memang anak sudah dikenalkan dengan teknologi, berapa lama maksimal dalam satu hari toleransi melihat layar media tersebut?
  • Jika memang anak sudah dikenalkan dengan teknologi, apakah selama melihat layar media selalu ada yang menemani atau dibiarkan saja sendiri atau seperti apa?

 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut spontan muncul di kepala saat saya menulis. Jadi saya tidak cek dulu tentang variabel-variabelnya ya. Namanya juga pertanyaan spontan. Apapun pendapat yang masuk, tidak akan menjadikan satu keluarga lebih baik dari keluarga lainnya karena kembali lagi seperti yang saya bilang tadi : masing-masing keluarga punya aturan yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. Mari jadikan pertanyaan-pertanyaan keingintahuan saya tersebut sebagai bahan diskusi karena sayapun akan banyak belajar dari pengalaman rekan-rekan. Terima kasih sebelumnya atas urun pendapatnya.

-Nootdorp,1 Agustus 2018-