Pembahasan Penting Sebelum (Memutuskan) Kawin

Saya menikah saat umur tak lagi muda untuk ukuran orang Indonesia. Justru saya bersyukur sekali menikah saat jiwa raga, mental spiritual sudah siap, meskipun kata lingkungan terbilang telat. Saya pribadi tidak memandang dan merasa menikah saat usia 33 tahun telat. Saya menikah ketika banyak hal suka duka dalam kehidupan sudah terlewati, mengajarkan banyak hal, jadi saat memutuskan serta melihat sesuatu tidak grasa grusu lagi. Pun ketika saya dipertemukan dengan suami, saya memutuskan menikah dengannya setelah melalui pembicaraan dan diskusi yang panjang tentang beberapa hal. Diskusi ini benar-benar sangat terbuka tanpa ada satupun yang kami tutupi. Kami melakukan pembicaraan ini untuk memperkecil gesekan yang akan kami hadapi dalam kehidupan rumah tangga. Memperkecil ya, bukan meniadakan. Dua kepala yang berbeda tinggal dalam satu rumah dengan sebuah ikatan, mustahil kalau selalu adem ayem. Tapi dengan pembicaraan yang tuntas tentang beberapa hal yang kami anggap penting sebelum melanjutkan untuk memutuskan menikah, saya rasakan rumah tangga kami tak terlalu gonjang ganjing. Justru seringnya pertengkaran datang dari hal-hal yang sepele, misalkan saya lupa menutup kran setelah menyiram tanaman atau suami memakai sepatu naik ke lantai atas karena terburu-buru ingin mengambil suatu barang. Selebihnya, ya kami lewati 5 tahun pernikahan (dan semoga banyak tahun-tahun di depan) dengan baik-baik saja.

Beberapa hal di bawah ini yang kami bicarakan sebelum melanjutkan hubungan dan memutuskan untuk menikah. Hal-hal di bawah ini juga saya terapkan saat saya berhubungan dengan beberapa pria sebelum bertemu suami *bukan bermaksud sok laku ya haha. Tulisan ini sangat panjang, jadi siapkan waktu luang jika berniat membaca.

  • BAYANGAN AKAN RUMAH TANGGA

Bayangan akan rumah tangga ini maksudnya kami saling mengemukakan pendapat rumah tangga seperti apa yang ingin kami punya nantinya. Hubungan yang seperti apa, keluarga yang bagaimana ataupun bayangan hal-hal apa saja yang akan kami lakukan. Lebih khususnya kami dulu membicarakan tentang hak dan kewajiban. Misalkan salah satunya tentang mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Apakah harus istri semua yang mengerjakan atau ada pembagian atau fleksibel siapapun bisa mengerjakan apapun. Itu sangat penting dibicarakan diawal untuk menghindari kekesalan yang timbul nantinya setelah menikah.

Saya dibesarkan oleh orangtua yang selalu berbagi dan saling membantu pekerjaan rumah tangga. Bapak saya selalu penuh suka cita saat mencuci baju (Kami tidak pernah punya mesin cuci, jadi mencuci baju manual dengan tangan), memasak, mencuci piring, menyapu, bahkan mengepel (Bapak selalu mengepel dengan berjongkok, tidak pernah menggunakan alat) dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Apalagi saat Ibu melanjutkan kuliah, otomatis Bapak yang sering berperan dalam mengerjakan pekerjaan RT. Kami anak-anaknya pun sejak kecil sudah diajari untuk membantu tugas dalam rumah meskipun saat itu kami punya pembantu. Saya sudah diajari menanak nasi dengan cara aron dan memakai dandang saat kelas 4 SD. Dan sejak itu, salah satu tugas saya adalah menanak nasi.

Dengan latar belakang seperti itu, penting bagi saya mempunyai suami yang dengan kesadaran (tanpa disuruh-suruh apalagi menggerutu) untuk berbagi peran dalam rumah tangga, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan fleksibel dalam tugasnya. Beberapa kali mengenal pria yang tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena menurut mereka hal itu adalah mutlak harus istri yang mengerjakan. Meskipun misalkan pria tersebut seganteng Nicholas Saputra, saya jadi tidak selera lagi melanjutkan hubungan.

Ada satu lagi yang saya biasanya langsung berpikir ulang untuk melanjutkan hubungan, jika bertemu dengan pria yang selalu membandingkan dengan Ibunya dan mengharapkan saya seperti Ibunya. Percayalah, saya tidak bisa berhubungan dengan lelaki seperti itu. Saya adalah saya, berdiri sendiri tidak mau dikasih tempelan ataupun dituntut seperti orang yang sangat dikaguminya. Jika hal ini tidak dibicarakan di awal, nantinya pasti akan jadi salah satu sumber pertengkaran hebat jika sudah menikah.

Begitulah beberapa contoh yang berhubungan dengan gambaran tentang rumah tangga. Oh ya, yang akan pindah ke LN (yang mempunyai 4 musim) mengikuti domisili pasangannya, cek dan ricek dulu secara akurat calon tempat tinggalnya bagaimana, cuaca, lingkungannya, budayanya dan sebagainya. Jangan hanya membayangkan luar negeri itu romantis seperti di film-film Hollywood. Misalkan : Siapkah mempelajari bahasa domisili pasangan dan memulai lagi kehidupan dari awal, meninggalkan apa yang sudah dirintis di tanah air? Sudah siapkah saat kangen makan tempe tapi harus membeli dengan perjuangan melewati tumpukan salju dengan jaket bertumpuk? Persiapkan untuk hal yang terburuk, jika ternyata tidak siap, pikirkan lagi sebelum memutuskan untuk melanjutkan menikah.

  • KEUANGAN

Bagi orang Indonesia pada umumnya, sangatlah tabu membicarakan tentang keuangan sebelum menikah. Buat saya pribadi, justru hal ini harus dibicarakan di awal. Saat suami mengutarakan maksudnya untuk menikah dengan saya, pertanyaan pertama yang saya lontarkan pada bagian keuangan adalah : Apakah kamu punya hutang? Jika memang ada, berapa jumlahnya, apa saja, dan dalam jangka waktu berapa tahun harus lunas? Pertanyaan yang sama dia lontarkan juga pada saya. Jadi sejak awal kami sudah buka-bukaan tentang kondisi keuangan masing-masing. Hutang, aset, gaji, pekerjaan, semuanya yang berhubungan dengan keuangan, kami buka di awal.

Hal ini juga berkaitan dengan expense dalam rumah tangga. Hal-hal apa saja yang harus saya bayar dan dia bayarkan. Tentang hal ini, saya juga melihat langsung dari orangtua. Kedua orangtua saya bekerja, jadi mereka berbagi dalam pembayaran pengeluaran rumah tangga. Jadi hal ini juga harus saya dan suami bicarakan di awal. Kalau misalkan saya belum bekerja bagaimana, dan jika sudah bekerja namun gaji saya lebih kecil atau lebih besar bagaimana pembagiannya. Hal ini kami cantumkan semua dalam perjanjian Pra Nikah (Saya tuliskan secara rinci dalam bahasan akhir). Saat saya bekerja selama dua tahun, kami berbagi prosentase pembayaran pengeluaran rumah tangga. Ini juga berlaku untuk pengeluaran selama liburan ya. Jadi semuanya kami tanggung berdua pengeluaran dalam rumah tangga, bukan hanya jadi tanggungjawab suami. Nah saat saya tidak bekerja, ada tak tik lainnya yang kami lakukan.

Untuk orang Indonesia yang biasa membantu keluarga dan menikah dengan WNA, saya sarankan untuk dibahas di awal juga tentang hal ini. Jangan menjadi batu sandungan di kemudian hari saat sudah menikah. Jangan curi-curi kesempatan juga untuk bisa mengirim keluarga. Lebih baik dikemukakan di awal, jadi kalau ada pihak yang merasa keberatan, bisa dicari jalan keluarnya. Untuk hal ini, saya tidak melakukan karena saya tidak pernah memberi uang kepada Ibu. Tapi saya mengamati dari beberapa kenalan dan teman yang sudah menikah lama dengan WNA.

DE_0445

  • ANAK

Pembahasan yang tidak kalah pentingnya adalah tentang anak. Pastikan dulu apakah calon yang akan menikah dengan kita mempunyai pandangan yang sama tentang memiliki atau tidak mau memiliki anak. Jika dari awal sudah terjadi perbedaan pendapat, lebih baik dipikirkan berulangkali untuk melanjutkan menikah. Misi tentang anak ini harus sama. Jangan mengentengkan : ah nanti siapa tahu berubah pikiran. Jangan seperti itu. Harus jelas di awal tentang hal ini.

Saya waktu itu masih belum yakin ingin memiliki anak, tapi ada keinginan mungkin 10%. Sedangkan suami, menikah dengan saya tidak dengan tujuan hanya untuk memiliki anak. Buat dia, punya anak ok, tidak pun tidak masalah. Saya utarakan hal tersebut kepada suami. Saya bilang : bagaimana kalau nanti kita tidak punya anak karena saya tidak mau, bagaimana kalau ternyata kami tidak bisa memiliki anak karena masalah kesehatan, kalau misalkan ingin memiliki, berapa anak, kalau misalkan tidak bisa punya anak karena kendala kesehatan apakah ada opsi untuk adopsi, dan sebagainya. Kami terbuka tentang hal ini sejak awal.

  • KESEHATAN

Berterus terang tentang kesehatan sama pentingnya buat kami berterus terang tentang kondisi keuangan. Jadi sejak awal kami sudah memberitahu apakah kami punya sakit serius atau tidak, sakit apa saja yang biasa kami derita, apakah dari keluarga ada keturunan sakit serius, dan sebagainya. Jadi, blak-blakan tentang kondisi kesehatan masing-masing sangat perlu buat kami.

  • AGAMA

Nah, pembicaraan tentang agama, buat kami sama pentingnya dengan pembicaraan tentang anak karena ada juga kaitannya. Hal ini juga harus disepakati di awal bagaimana kedepannya nanti. Jangan sampai satu pihak berharap lebih, lalu nanti merasa kecewa ketika setelah menikah kenyataan tidak sesuai yang diharapkan. Kalau berhubungan dengan anak, kami ada kesepakatan di awal. Kalau misalkan kami punya anak, akan dibesarkan dengan cara apa anak ini. Apakah dibesarkan sesuai ajaran agama, apakah dibesarkan sesuai ajaran kebaikan tanpa cenderung ke agama tertentu, ataukah anak nantinya akan dibebaskan mau memilih beragama atau memilih tidak beragama, dimasukkan ke sekolah umum atau sekolah agama, dan pembahasan lebih mendalam dan detail tentang agama. Semuanya sudah kami bahas diawal. Jadi selama  menikah, kami tidak pernah lagi membicarakan hal-hal yang berhubungan tentang agama karena semua sudah jelas di awal.

  • PERJANJIAN PRANIKAH

Ada anggapan bahwa perjanjian pranikah dibuat karena berjaga-jaga jika terjadi perceraian, jadi membuat perjanjian pranikah tidak disarankan karena belum apa-apa kok sudah memikirkan tentang cerai. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah meskipun juga tidak benar seutuhnya. Perjanjian pranikah, buat kami pribadi justru melindungi hak dan kewajiban kami sebagai pasangan juga hak dan kewajiban sebagai individu. Misalkan mencantumkan berapa persen pembayaran pengeluaran rumah tangga oleh masing-masing pihak (seperti yang sudah saya bahas sebelumnya). Selain itu, juga melindungi hak kami sebagai individu misalkan jika kami mempunyai properti yang kami beli sebelum menikah, maka hal tersebut tetap menjadi milik pribadi. Jika nanti terjadi perceraian, hak dan kewajiban juga tercantum dengan jelas di situ. Jadi buat kami, perjanjian pranikah sangat perlu, terlebih karena saya menikah dengan WNA.

Sepatu

Begitulah tulisan panjang tentang diskusi saya dengan suami akan beberapa hal penting. Nampak ruwet ya, sebelum menikah kok pembicaraannya berat sekali. Kami lebih memilih ruwet di awal dan mempunyai kata sepakat daripada tidak dibicarakan tapi nanti jadi ganjalan dan batu sandungan dalam pernikahan. Memperkecil gesekan, kami menyebutnya.

Semoga yang saya tuliskan ini bisa membuka wacana dan pandangan bahwa tidak ada hal-hal yang dirasa tabu dan perlu dibicarakan sebelum menikah. Jika memang hal tesebut penting, lebih baik bicarakan di awal. Lebih baik ruwet di awal daripada ruwet di pertengahan. Tentu saja poin-poin di atas subjektif dan sesuai kondisi kami. Masing-masing pasangan punya poin-poin penting lainnya yang mungkin berbeda untuk didiskusikan.

Menikah bukan hanya tentang hal-hal manis saja. Pahitnya pun tak kalah banyaknya. Menikah bukan hanya perkara cinta yang penuh bunga, tapi juga duri-duri harus dihadapi dan diselesaikan. Saya menuliskan tentang topik ini bukan dengan tujuan menggurui dan sok mengerti lika liku pernikahan. Saya ingin berbagi pemikiran dan pengalaman saja, meskipun pernikahan kami baru berjalan 5 tahun. Jika hal-hal yang dirasa mendasar sudah disampaikan dan didiskusikan di awal, semoga bisa memperkecil gesekan.

-26 Agustus 2019-

Berakhir Pekan ke Cochem – Jerman

Cochem - Dari atas jembatan

Ide untuk berakhir pekan di Cochem, Jerman, mendadak setelah kami pulang liburan dari Kroasia. Tidak direncanakan sebelumnya untuk merayakan 5 tahun perkawinan kami dengan berlibur ke Cochem, karena biasanya makan malam di restoran sudah cukup. Tahun pertama perkawinan, kami sebenarnya juga merayakan dengan bepergian, yaitu ke Texel. Setelahnya, setiap ulang tahun pernikahan, kami rayakan dengan makan malam di restoran saja. Namun karena lima tahun dan kami rasa sangat spesial, maka kami sepakat untuk weekendje wegistilah bahasa Belanda untuk liburan akhir pekan dengan bepergian ke suatu tempat dan menginap.

Awalnya kami inginke Hamburg. Tapi setelah mempertimbangkan banyak hal, rencana tersebut dibatalkan. Hamburg kotanya sangat besar, jadi sayang kalau hanya kami kunjungi untuk akhir pekan saja. Mungkin lain waktu kalau kami jadi roadtrip ke arah Denmark dan sekitarnya. Lagipula kalau ke Hamburg, waktunya lebih lama di perjalanan (sekitar 5 jam berkendara dari tempat kami, tanpa berhenti) dibandingkan jalan-jalan di kotanya. Setelah bertanya di grup, akhirnya Beth memunculkan satu nama kota yaitu Cochem. Setelah saya cari info, langsung suka. Kota kecil tapi indah karena ada kastil dan juga wisata kapal menyusuri sungai. Kami sekeluarga memang sangat menyukai berwisata ke tempat yang ada kastilnya, selain juga suka ke Amphitheater.

Cochem dari atas Kastil
Cochem dari atas Kastil

Kami berangkat Jumat siang. Cuaca di Belanda sejak dini hari hujan lumayan deras. Sampai siang saat kami berangkat juga masih deras. Waktu itu kami berharap semoga hujannya tidak mengikuti kami sampai di Cochem. Maklum ya, hujan di Belanda ini kadang-kadang semacam kutukan, bisa ngintil ke manapun orang mau liburan haha. Eh ternyata ya doa dan harapan belum dikabulkan. Sepanjang perjalanan dari Belanda sampai Cochem hujannya super deras ditambah petir dan kilat. Benar-benar mencekam di sepanjang jalan tol. Suami harus menyetir sangat pelan karena jarak pandang yang pendek. Perjalanan ke Cochem yang normalnya hanya 3.5 jam, jadi molor 8 jam karena kami berhenti dua kali, hujan deras, ditambah pula macet. Lengkaplah sudah. Untungnya (selalu saja untung ya), keadaan di dalam mobil sangat kondusif, jadinya meskipun perjalanan panjang tetap tanpa stres. Semua tetap riang gembira.

Keesokan harinya, cuaca di Cochem lumayan cerah meskipun pagi masih sedikit mendung dan agak hujan rintik. Tujuan pertama adalah ke Kastil. Hotel kami tidak jauh kastil, jadi jalan kaki ke atas tidak terlalu jauh, hanya sekitar 30 menit sambil menanjak. Tanjakannya lumayan ya, berasa juga agak ngos-ngosan. Mungkin selain membawa berat tubuh, juga berat dosa makanya makin berat :)))

Jalan menuju kastil
Jalan menuju kastil
Cochem Kastil
Cochem Kastil

Kastil di Cochem dibangun pada abad ke 12 dan sudah mengalami beberapa kali renovasi. Jadi kastil yang nampak sekarang ini bukan bangunan aslinya. Untuk menuju kastil, ada dua jalur yang bisa ditempuh. Satu adalah jalur mendaki menggunakan tangga dan satunya jalur mendaki jalan biasa yang melewati perkebunan anggur (dipinggir jalannya, bukan pada jalur mendakinya). Melihat dalamnya kastil, kita wajib mengikuti tour yang bisa dipilih berdasarkan bahasa penuturnya. Kami waktu itu ikut tour yang berbahasa Belanda.

Tour ini tidak gratis, tepatnya membayar berapa saya lupa, kalau tidak salah €6 per orang. Lama tour di dalam kastil sekitar 45 menit. Selama di dalam, saya tidak terlalu banyak mengabadikan dengan kamera. Terlalu khusyuk menyimak penjelasan guide nya, maklum pakai bahasa Belanda kan. Wong pakai bahasa Inggris saja kadang-kadang agak mbleset mengartikan kalau guide nya menggunakan aksen tertentu. Nah ini Guide nya menggunakan aksen daerah Brabant, makanya saya harus menyimak dengan seksama. Itupun masih saja ada kejadian konyol yang kalau saya bahas dengan suami selalu membuat kami mengakak :)))

Dari atas jalan menuju kastil
Dari atas jalan menuju kastil

Jadi begini ceritanya. Saat guidenya menerangkan tentang sebuah lampu yang berbentuk dewa laut, waktu itu saya sempat meleng sebentar melihat ke arah yang lain. Jadi ada penjelasan dia yang saya tidak terlalu mendengar. Lalu dia menyuruh para peserta tour untuk memegang badan orang disebelahnya, sambung menyambung begitu. Nah Ibuk guidenya memegang lampu tersebut. Lalu saya sayup-sayup mendengar dia berkata sesuatu yang sebenarnya saya tidak jelas. Nah, orang-orang mulai menutup mata. Lalu saya main asumsi, oh mungkin disuruh merasakan apakah ada aliran listrik yang terasa dari lampu. Saya tunggu-tunggu kok tidak terasa apa-apa (suami memegang lengan saya, sementara saya memegang lengan Opa di sebelah).

Saat orang-orang sudah membuka mata, saya bilang ke suami, “mana sih aku kok ga kerasa ada aliran listrik.” Suami bingung, “aliran listrik apa?” lah saya jadi bingung juga,”lho tadi itu disuruh saling memegang bukannya untuk merasakan aliran listrik ya. Nah itu guidenya ngapain pegang lampunya?” Suami lalu ngakak ditahan (maklum tournya belum selesai),”itu tadi disuruh meminta sesuatu. Kayak berdoa gitu lho, mohon apa gitu. Katanya lampu dewa laut itu membawa keberuntungan. Berarti kamu ga mohon apa-apa ya?” hahaha kami lalu berdua ngakak. Duh Den, pintar sekali kamu. Disuruh memohon sesuatu malah mikir disuruh merasakan aliran listrik :))) koplak!

Cochem
Cochem

Setelah dari kastil, kami turun menuju kotanya. Karena ini memang kota sangat kecil ya, jadi menjelajah sehari sudah cukup. Meskipun kota kecil, turisnya sangat padat. Tapi saya tidak merasakan ramai yang umpel-umpelan. Ramainya masih asyik buat dinikmati. Menyusuri gang-gang di kota tuanya menyenangkan. Menikmati bangunan tua, gereja, mendengarkan lonceng dari gereja berbunyi setiap 15 menit, duduk-duduk menikmati pretzel, lalu kami ikut wisata sungainya dengan menggunakan perahu besar.

Cochem
Cochem

Tour menggunakan perahu durasinya selama satu jam, kita bisa melihat kota Cochem dari sisi lainnya. Jadi bukan hanya di pusat kotanya tapi juga di pinggirannya. Selama tour juga dijelaskan, bangunan bersejarah apa saja yang dilewati. Cochem ini terbagi jadi dua bagian kota yang dipisahkan oleh sungai Mosel. Nah untuk melihat Cochem bagian satunya, sebenarnya kita bisa berjalan melewati jembatan, jadi tidak perlu naik perahu. Namun, jika ingin merasakan keseruan naik perahu, bisa dicoba juga.

Dari atas perahu
Dari atas perahu
Cochem - Dari atas jembatan
Cochem – Dari atas jembatan

Liburan ke kota kecil seperti Cochem, saya sangat suka. Cochem mengingatkan saya pada Monschau, kecil tapi menarik. Meskipun turisnya banyak (karena musim panas juga kan), tapi tidak terasa sesak. Kami juga santai sekali jalan-jalan. Semua tempat bisa dikunjungi. Malah sorenya kami sempat satu jam mampir ke taman bermain yang ada di sisi sungai Mosel.

Keesokan harinya, kami kembali ke Belanda setelah sarapan. Perjalanan pulang lumayan lancar. Tidak ada macet, cuaca cerah, kami berhenti satu kali untuk makan siang. Total lama perjalanan pulang 5 jam. Selesai sudah weekendje weg. Karena roadtrip kali ini berjalan lancar, semoga roadtrip selanjutnya pun tidak akan banyak kendala. Ke mana? nantikan saja ceritanya 🙂

-20 Agustus 2019-

 

 

 

 

Lima Tahun Perkawinan

Wedding Day

Ada rasa yang membuncah karena kisah cinta super kilat yang dimulai 5.5 tahun lalu telah membawa kami pada tahun kelima perkawinan. Senang tak terperi, syukur yang terucap bertubi, gembira, dan rasa haru mewarnai beberapa hari ini.

DE_0137

Seminggu lalu, saya membuka laptop lama untuk mencari satu dokumen. Membuka satu persatu folder, mata saya terantuk pada folder perjalanan kisah kami berawal, sampai pernikahan. Membaca kembali salinan surat elektronik, sontak membuat mata saya berkabut. Rasa haru menyeruak dan melemparkan ingatan ke 5.5 tahun lalu. Siapa sangka ketika banyak orang yang meragukan hubungan kami, pun kami sendiri saat awal pernikahan, sekarang ikatan ini semakin kuat. Siapa sangka bahwa kami mampu membuktikan pada kami sendiri bahwa 5 tahun pernikahan yang kata banyak orang adalah masa-masa kritis, telah terlewati dengan baik.

IMG_20140705_112432

Kisah kami tidak selalu berjalan mulus dan tidak seindah foto banyak pasangan yang terpampang di media sosial. Ada hari sangat sulit dilewati, ada hari rasanya ingin menyerah, namun lebih banyak hari berisi suka cita dan selalu mengingat kembali apa sebenarnya yang membuat kami di awal memutuskan untuk menikah. Kami saling mencintai, itu yang mudah-mudahan selalu terjaga, sampai kapanpun. Segala terjal perjalanan, gelombang, batu, dan kerikil yang selalu ada di depan, mudah-mudahan bisa selalu kami lewati dengan berjuang bersama. Mudah-mudahan kami tak pernah meninggalkan satu sama lain dan selalu berjuang bersama.

Kami memilih untuk tidak terlalu banyak bercerita tentang hubungan kami di ruang umum, pun tidak terlalu sering menaruh foto berdua, hanya sesekali saja. Itulah cara kami menikmati setiap momen dalam kehidupan rumah tangga. Waktu berlalu sangat cepat, jadi setiap detiknya kami manfaatkan sebaik mungkin. Ada satu yang selalu kami pegang selama ini, bahwa setiap masalah yang terjadi, jangan sampai terhembus keluar rumah. Hadapi dan selesaikan bersama di dalam rumah. Tidak perlu banyak cerita pada keluarga, teman, bahkan mengumbar ke media sosial.  Tidak perlu.

Lebur Dalam Sebuah Ikatan
Lebur Dalam Sebuah Ikatan

Lima tahun belumlah waktu yang terlalu panjang dalam perhitungan kuantitatif membina rumah tangga. Namun, bukankah dalam berumah tangga yang terpenting adalah sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik setiap saat, tidak menyoal satu tahun, lima tahun atau berpuluh tahun. Selama lima tahun ini, kami merasa menjadi pribadi yang lebih baik dan memberi kebaikan satu sama lain. Kami berubah bukan untuk menarik perhatian pasangan. Kami berubah untuk diri sendiri. Jika perubahan dilandasi oleh kesadaran sendiri, maka manfaatnya akan terasa buat sekitar. Begitupun yang kami lakukan. Kami tidak pernah saling menuntut pasangan untuk lebih mengerti, tapi saling introspeksi berbicara dari hati ke hati dan kepala dingin mengakui serta minta maaf jika melakukan kesalahan serta tak pernah pelit untuk saling memuji. Kami saling menghormati, bukan selalu menuntut. Kami selalu belajar dari kesalahan dan menjadikannya lecutan untuk lebih baik dalam melangkah.

Kami selalu merasa jatuh cinta. Merawat dan menumbuhkan perasaan berjuta kupu-kupu yang menggelitik perut. Kami masih sering melemparkan kata-kata rayuan gombal yang entah kenapa tetap saja membuat saling tersipu. Kami merawat cinta ini berdua, bersama, dan terus menerus. Kami tetap saling menomor satukan kepentingan satu sama lain karena kami mengawali rumah tangga ini berdua dan pada akhirnya nanti, saat yang lainnya memilih dengan hidup masing-masing, kami akan kembali berdua. Kami tak pernah lupa untuk saling jatuh cinta karena cinta juga yang menjaga kami sampai akhir nanti.

Lima tahun, waktu yang belum panjang dalam berumah tangga. Namun lima tahun ini buat kami berlalu sangat cepat. Jika dijalani bersama orang yang tepat, segala suka duka bisa dilalui, memang tidak mudah, tetapi relatif lebih mudah. Semoga akan banyak tahun didepan yang akan kami tempuh bersama dalam banyak tawa, sesekali menangis, pertengkaran, perbedaan pendapat, dan tatapan mata yang selalu jatuh cinta. Semoga kami diberikan umur panjang dan kesehatan yang baik sehingga bisa menjalani tidak hanya lima tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, atau berapapun lamanya yang sudah menjadi takdir kami bersama sampai nanti ujung waktu.

Wedding Day
Wedding Day

Buat suami : Terima kasih untuk lima tahun ini. Terima kasih dengan kesabaran dan pengertian luar biasa, selalu ada ketika saya ingin bercerita, menangis, marah, bergembira, ataupun sekadar ingin diam. Terima kasih kamu selalu menemani pada saat-saat tersulit hidup saya dan saat-saat paling bahagia. Terima kasih, karena hanya bersama kamu, saya bisa membicarakan apapun tanpa ada rasa kawatir. Terima kasih atas segala dukungan kamu. Terima kasih sudah menjadi pasangan dalam gelak tawa dan duka nestapa. Mari kita jalani terus hari-hari kedepan, menua dengan penuh cinta, bahagia, dan sehat bersama.

-Nootdorp, 9 Agustus 2019-

Perihal Negara Paling Santai di Dunia

Iseng motoin kucing yang selalu ngintilin kami kalau akan sarapan

Minggu lalu, saya membaca cuitan seorang sahabat di twitter yang menampilkan sebuah artikel dari Kumparan, menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara paling santai di dunia. Saya tertarik, lalu membaca lebih lanjut isi tulisan tersebut. Ternyata survey dilakukan pada 15 negara yang terpilih dengan memasukkan beberapa variabel seperti suhu, jumlah hari libur, berapa banyak spa yang dimiliki. Riset ini dilakukan olah agen perjalanan asal Inggris. Untuk membaca berita lebih lengkapnya, silahkan klik di sini

Sebagai lulusan Statistik, kalau ada survey yang hasilnya menetapkan “Ter” atau “Paling” biasanya saya tergelitik untuk mencari tahu sampai detil misalkan bagaimana cara pengambilan samplenya, menggunakan metode apa, lalu berdasarkan apa variabel-variabel yang ada ditetapkan, dan masih panjang lagi. Tapi untuk survey kali ini, alih-alih mencari tahu lebih dalam, saya malah tergelitik mengomentari fenomena di sekitar (dan juga yang saya alami) berhubungan dengan bagaimana santainya orang-orang (juga saya) di Indonesia dalam menyikapi sesuatu, bahkan yang mendekati bahaya. Oh ya, setelah berita tersebut dirilis kumparan, tidak sampai hitungan jam, meme-memenya pun langsung keluar. Sukses membuat saya tertawa terpingkal di pagi hari. Kreatif sekali. Silahkan cari di twitter, berserakan di mana-mana.

Kembali lagi, tidak ada hubungannya dengan isi survey, saya ingin menceritakan beberapa hal tentang bagaimana santainya beberapa orang di Indonesia. Ini berdasarkan pengalaman (dan pengamatan) pribadi.

  • Gempa

Tidak bermaksud untuk menjadikan musibah sebagai bahan becanda, tapi ini adalah cerita pengalaman pribadi saya saat bekerja di Jakarta. Waktu itu, entah tahun berapa lupa, terjadi gempa yang cukup kuat di Jakarta. Seingat saya waktunya adalah sore menjelang maghrib. Ruangan saya di lantai 2. Saat sedang khusyuk meneliti angka-angka di PC, tiba-tiba saya merasa kok lantainya agak getar lalu meja kerja sedikit bergeretak. Posisi duduk saya di kubikel. Saya melihat dengan ekor mata, rekan-rekan satu ruangan bergegas ke luar. Malah ada satu Manager yang mengajak saya segera ke luar, “Ayok Den, cepetan turun!” Waktu itu saya pikir kenapa sih orang-orang kok buru-buru mau turun, mau jajan bakso depan kantor atau bagaimana. Biasanya kalau sore memang ada rombong bakso depan kantor.

Tak berselang lama, Saya agak tersadar. Lho jangan-jangan ini gempa ya, makanya orang-orang kok pada cepet-cepetan turun. Saya langsung menyambar dompet (dan lupa Hp ada di mana), jalan tetep santai malah sempat ke ruangan sebelah cari teman saya apa sudah turun. Kalau saya pikir sekarang, kok yaaa sik klewas klewes nyari teman. Sesampainya di lobby, saya lihat semua sudah berkumpul di halaman kantor. Saat saya buka pintu, semua langsung tepuk tangan dan bos saya menyelutuk, “loe mampir beli soto mie dulu apa gimana nih lama banget.” Bwuahahaha. Radar saya terhadap bencana memang agak tidak sensitif. Bayangkan, gempa yang kuat seperti itu saya masih santai di dalam lalu klewas klewes ke luar ruangan. Untung ga rubuh itu bangunan.

Nah, yang satu ini saya baca dari cuitan salah satu penulis di Indonesia. Sahabat saya yang memberi tahu. Jadi sewaktu gempa yang lumayan kencang hari Jumat malam di Banten, goncangannya terasa sampai Bandung (entah Jakarta terasa tidak ya). Nah Penulis ini masuk ke sebuah toko, lalu terasa gempa. Panik, dia lari ke halaman. Lalu tiba-tiba ada yang minta foto bersama. Hahaha kok yaaa dalam keadaan panik begitu sempat-sempatnya minta foto bersama. Santai sekali hidupnya.

  • Pesan Makanan

Ini adalah salah satu kelakuan santai yang paling tidak saya sukai. Dulu jika sedang mengantri di restoran cepat saji, sambil antri saya melihat-lihat daftar menunya apa yang biasanya terpampang besar di atas. Jadi ketika sudah sampai depan kasir, saya langsung menyebutkan pesanan lalu membayar.

Namun tidak semua orang yang mempunyai pemikiran yang sama. Begitu panjangnya antrian, banya orang sampai depan kasir masih mulai membaca satu persatu menunya, menimbang-nimbang, gamang, resah, ragu, dan seterusnya. Nampaknya sewaktu dalam antrian dia sedang sibuk menguras kamar mandi sampai tidak sempat membaca dulu menunya apa. Begitu sampai depan baru membaca satu persatu. Rasanya pengen tak bisiki : Sampeyan sehat? kok menyebalkan pol-polan.

Ada lagi yang nyaris sama dengan kejadian di atas, yaitu saat membayar angkot. Saya itu paling jengkel kalau ada penumpang bemo (waktu di Surabaya), bukannya mempersiapkan uangnya sebelum turun. Jadi saat turun, sibuk mencari uang di tasnya. Kalau sebentar sih tidak masalah. Seringnya nyari ngubek sana sini lama sekali seperti ada galian sumur saja dalam tasnya.

  • Obrolan Sesama Kasir

Nah, kejadian ini ada di kota saya. Terdapat sebuah supermarket yang paling besar di kota tempat orangtua saya tinggal. Supermarket ini terkenal dengan barang-barangnya yang lengkap serta harganya yang murah. Tapi, tidak ada yang sempurna di dunia kan, begitu juga di sini. Kalau sudah membayar di kasir, lamanya ngalah-ngalahin orang pacaran yang menunggu kepastian kelanjutan hubungan seperti apa (lah kok curhat selipan masa lalu). Pasalnya, 4 kasir yang ada bisa saling ngobrol satu sama lain. Mereka ini seperti ada dalam dunia sendiri. Jadilah kami sebagai pembeli selain gregetan dengan lamanya pelayanan, akhirnya juga ikutan mendengarkan gosip seputar rumah tangga. Haha nyambi. Ya Tuhan, per lambean yang waktu itu belum ada, masih kalah jauh dengan 4 kasir ini. Super santai seng ada lawan.

Fussen
Fussen
  • POM Bensin

Saya ini kan sukanya mengamati. Selain mengamati, iseng-iseng juga menganalisa kelakuan orang. Pernah mengalami ketika sedang membeli bensin di POM, lalu antrian depan kita bukannya dengan sigap menutup wadah bensin di sepeda motor, melainkan dengan gerak yang super lamban justru melakukan kegiatan lainnya? Saya sering menjumpai seperti ini. Persis di depan saya, ada yang dengan santainya menutup tanki bensin, menutup jok, lalu ngaca, membetulkan letak jilbab, membetulkan letak kaca spion, lalu bayar trus baru pelan-pelan pergi. Saking lamanya nunggu, saya pikir dia melanjutkan kegiatannya dengan menyulam, merajut, memandikan anak, memasak, lalu tidur. Lha lapo seh kok sempat-sempate ngoco, mbenakno lipstick, senyam senyum nang spion. Mbok pikir sing nang mburimu iki adalah bayangan semu masa lalu? santai men uripmu.

  • Saat Penangkapan Terduga Teroris

Ingat kejadian proses penangkapan terduga teroris di Sarinah, Jakarta?. Saya mengikuti dari sini. Mengikuti lewat twitter, saya ikutan tegang. Seperti biasa, saya membahas dengan sahabat-sahabat saya di wa grup. Dasar twitter ya, di tengah ketegangan seperti itu, adaaa saja foto-foto lucu yang bermunculan. Orang-orang ini benar-benar santai luar biasa masih sempat-sempatnya membahas hal-hal yang kocak. Nah diantara beberapa foto yang beredar, yang membuat saya dan para sahabat tergelak adalah para pedagang di sekitar Sarinah yang seperti tidak terganggu dengan aksi baku tembak tersebut. Dalam foto yang beredar, ada tukang sate yang masih mengipasi sate jualannya, pembeli yang terlihat santai makan, penjual minuman keliling yang tetap menjajakan dagangannya, bahkan ada yang dengan santainya selfie dengan latar belakang petugas yang sedang siaga memegang senapan. Nyowomu iku onok piro, kok nduwe nyali. Koen ga wedho onok peluru nyangsang ta yok opo. Saya rasa mungkin hanya ada di Indonesia pemandangan ini bisa kita jumpai. Orang makan sate sementara tak jauh dari tempat dia makan sedang genting terjadi proses penangkapan teroris. Luarrr biasa haha.

Itulah beberapa kejadian yang menggambarkan bahwa banyak orang Indonesia sangat santai dalam segala situasi, bahkan saat genting sekalipun. Yang saya tuliskan di atas hanya segelintir cerita saja.

Silahkan berbagi cerita di kolom komen, kejadian apa yang pernah kalian temui atau mungkin kalian sendiri sebagai pelakunya yang mengindikasikan kalau hidup di Indonesia itu memang santhayy. Kalau susah menulis di komen, mungkin bisa dituliskn di blog masing-masing. Lumayan kan jadi ide postingan.

-Nootdorp, 4 Agustus 2019-

Berbeda Pilihan

Tegernsee

Beberapa minggu lalu saya bertemu seorang kenalan yang entah kapan terakhir kami berbincang secara langsung. Sayapun sudah tak mengikuti lagi kabarnya seperti apa. Setelah saling bertukar kabar, dia bertanya apakah saya pernah mudik. Saya jawab kalau mudik bukan prioritas, setidaknya dalam beberapa tahun ini. Lalu tanpa diminta, dia berbicara panjang lebar agak “menceramahi” kasihan Ibu saya kalau tidak pernah mudik, harusnya saya bisa menyisihkan uang untuk ditabung supaya bisa mudik, bahkan memberitahu bahwa jalan-jalan sekitar Eropa harusnya bukan jadi prioritas karena mudik lebih penting.

Bisa saja saya langsung nyolot karena segala yang dia “sarankan” tersebut tidak sesuai dengan kondisi saat ini dan karena saya punya alasan khusus kenapa mudik tidak menjadi prioritas. Bisa saja saya bilang bahwa kalau mau, tiap tahun saya mampu pulang ke Indonesia. Bisa saja saya memberi penjelasan -sejelas-jelasnya-. Tapi saya memilih tersenyum saja lalu permisi. Saya tidak berhutang penjelasan apapun atas pilihan-pilihan yang saya putuskan, termasuk padanya, yang ternyata setiap tahun pulang ke Indonesia. Saya tidak harus menjelaskan apapun karena toh yang ingin dia dengar hanyalah hal-hal yang sesuai pikirannya.

Seringnya ketika berbeda pilihan, orang langsung menganggap hal tersebut tidak baik, apalagi jika memakai standar pribadi. Kenalan saya tersebut memilih untuk setiap tahun pulang ke Indonesia, sedangkan saya tidak. Menurutnya, ketika saya memilih untuk memprioritaskan tidak pulang, itu adalah hal yang salah karena kasihan Ibu. Padahal kenyataannya tidak sesuai dengan asumsinya. Mustinya, jika tidak tahu alasan akan suatu keputusan atau perkara, tidak perlu memberikan pendapat lalu seolah-olah memberi masukan padahal sebenarnya justru menyalahkan. Hal ini juga saya amati saat berbeda tentang pilihan politik (apapun kondisinya). Hal-hal yang mendasar jadi terlupakan ketika pilihan politik kita berseberangan dengan orang lain, teman, kenalan, bahkan orang terdekat. Prinsip tak mengapa putus hubungan pun menjadi sebuah hal yang lumrah. Sangat disayangkan. Namun hal tersebut kembali lagi pada masing-masing individu. Tidak semua orang demikian, meskipun banyak yang memilih seperti itu.

Di era media sosial seperti sekarang ini, orang makin gampang menuding ini salah dan itu salah jika ada hal-hal yang tidak sesuai standar pribadi mereka. Banyak sekali keributan tentang berbeda pilihan ini, misalkan : memilih memberi ASI vs susu formula, operasi caesar vs melahirkan per vaginal, BLW vs menyuapi, memilih menikah vs melajang, memilih tidak olahraga vs rajin olahraga, bahkan sampai memilih punya anak vs memilih tidak punya anak. Semua hal ini jadi bahan keributan yang rak uwis uwis. Kalau mau dijabarkan secara panjang, contohnya akan banyak sekali. Banyak yang memilih untuk mengkritisi, tapi tidak sedikit juga yang memilih untuk menyinyiri *haduh bahasa opo iki. Beda ya antara nyinyir dan kritis. Saking bedanya terlalu tipis, banyak yang terjebak, maksudnya kritis malah jadinya nyinyir.

Saya menulis seperti ini kok kesannya suci banget, tidak pernah nyinyir dengan pilihan orang lain. Jangan salah, saya sering nyinyir, apalagi kalau melihat ada yang berbeda dengan standar hidup yang saya jalani. Saya masih suka nyinyir kalau melihat ada yang ngejembreng uang di media sosial (padahal kan uang dia, tidak berhutang pada saya), nyinyir kalau ada yang menampilkan perbincangan intim dengan pasangan di media sosial, bahkan nyinyir kalau ada yang terlalu memuja-muja anaknya setinggi langit (padahal ya anak dia sendiri, wajar kalau dipuji. Masa mau memuji anak tetangga). Kalau saya pikir lagi, ya kenapa saya musti terusik dengan pilihan orang lain yang berbuat demikian, toh tidak merugikan saya. Mungkin saja memang hal tersebut adalah cara mereka membagi kebahagiaan. Ataukah saya nyinyir karena sirik? atau karena merasa “lebih” dari mereka tapi tidak melakukan hal yang sama? ataukah saya nyinyir  karena beda standar? atau ya hanya ingin nyinyir saja? pasti jawabannya salah satu dari yang sudah saya tuliskan.

Masih menjadi PR besar buat saya untuk menjaga pikiran, tangan, dan mulut supaya tidak gampang menghakimi pilihan orang lain yang berbeda dengan apa yang saya putuskan. Beruntung beberapa bulan ini kesibukan saya mulai bertambah, jadi fokus teralihkan dari yang suka mengamati kemudian nyinyir, jadi berkurang banyak. Berkurang lho ya, bukan nihil. Mudah-mudahan kedepannya saya semakin bisa menahan diri dan berpikir panjang sebelum menghakimi pilihan orang lain. Hal ini termasuk pilihan seseorang (yang saya kagumi karena karyanya) tidak melakukan vaksin untuk anaknya. Bukan Andien, saya biasa-biasa aja dengan Beliau meskipun belajar banyak juga dari ilmu-ilmu yang dibagikan.

Kuncinya cuma satu sih sebenarnya, saling menghormati. Standar kebahagiaan masing-masing orang kan berbeda. Kalau yang satu memilih beda dengan apa yang sudah kita putuskan, lalu kenapa musti “terusik.” Toh tidak saling merugikan. Kalau sudah merasa bahagia dengan pilihannya, ya sudah nikmati saja. Tidak perlu mengutuk orang lain yang beda jalan hidupnya. Contohnya : Jika memilih untuk punya anak dan merasa bahagia dengan keputusan tersebut, ya jalani dengan sukacita. Tidak perlu memperolok mereka yang memutuskan untuk tidak punya anak. Tidak usah merasa tinggi hati serta jumawa karena merasa lebih bahagia dari yang memilih tidak punya anak. Sebaliknya pun, jika sudah nyaman dengan pilihan tidak ingin punya anak dan bahagia dengan jalan tersebut, silahkan jalani dengan gembira. Masing-masing pihak tidak perlu koar-koar dengan  pilihan yang sudah diputuskan dan dijalankan, apalagi saling memperolok. Selama ini saya selalu berpikir bahwa yang namanya bahagia, tidak perlu digembar gemborkan, orang pasti bisa merasakannya.

Saya suka dengan apa yang ditulis Beth di blognya, “People have different standard for happiness. Some are happy with children, some are happy without children.” Hal inipun berlaku untuk versus – versusan lainnya. Standar kebahagiaan masing-masing orang berbeda. Jalurnya sudah berbeda, kenapa musti saling memperolok? Bahagialah dengan apapun yang sudah dipilih, jalani dengan tenang tanpa harus saling cela.

Respect each other
Respect each other

Masing-masing orang mempunyai alasan sendiri kenapa memilih sesuatu. Mungkin saja karena sesuai kondisi dan situasi saat itu, mungkin saja memilih sesuai kesadaran, bahkan mungkin saja memilih karena tidak punya pilihan. Kita tidak pernah tahu perjuangan atau cerita apa yang membawa mereka pada pilihan tersebut. Kita tidak pernah tahu.

-Nootdorp, 28 Juli 2019-

Belanda Kembali Panas

Ngidam Bakso

Cerita yang santai saja kali ini ya, setelah sebelumnya membahas hal yang terlalu serius. Belanda seminggu ini kembali panas. Tentu saja saya menyambut dengan riang gembira. Bagaimanapun, sebagai anak tropis dan lahir besar di pesisir, kalau cuaca di Belanda menghangat itu rasanya ingin sujud syukur setiap saat. Maklum saja, dibandingkan panas yang sebenarnya, Belanda lebih sering hujan, mendung, dingin, angin, dan bisa 4 musim terjadi dalam satu hari. Jadi, buat saya kalau cuaca menghangat, berkah luar biasa.

Sebenarnya ini bukan kali pertama Belanda mengalami panas sampai seminggu pada tahun ini. Sebelumnya saat kami di Kroasia, Belanda terkena heatwave.

Panas
Panas

Hari ini, saat saya menulis, suhu sampai 33°C. Konon, kamis sampai 39°C. Walaupun hari ini panas, untungnya masih ada angin semilir. Jadi tidak terlalu gerah. Biasanya kalau sedang panas, saya sudah blingsatan merencanakan pergi ke sana sini. Tapi seminggu ini saya sudah berencana untuk anteng di rumah saja sambil memamah biak haha.

Rujak buah bumbu gula merah, petis ikan, bawang putih, cabe, gaaram, terasi, sedikit kacang, asem, , dan sedikit air
Rujak buah bumbu gula merah, petis ikan, bawang putih, cabe, gaaram, terasi, sedikit kacang, asem, , dan sedikit air

Untuk memenuhi rencana makin menambah berat badan, saya sudah menyiapkan asupan yang penuh lemak, seperti bakso, mie ayam, dendeng balado, kikil pedas, dan masih ada menu-menu lainnya. Ada juga yang menyehatkan, macam rujak buah. Ya lumayan lah untuk menambah cadangan lemak menghadapi musim dingin nanti haha.

Ngebakso minumnya Nutrisari
Ngebakso minumnya Nutrisari
Mie jamur, bakso, minumnya es kopi
Mie jamur, bakso, minumnya es kopi

Kalau di rumah saja, selain menyiapkan asupan perut, juga kesempatan untuk main air karena suhu diatas 30°C. Kalau di bawah itu, terlalu dingin. Cemal cemil juga tetap berlanjut karena saya sudah punya beberapa camilan dari Indonesia. Satu persatu camilan tersebut dikeluarkan, seperti wafer Superman, Malkist, Silverqueen. Saya agak kecewa karena rasa wafer Superman tidak seenak jaman saya masih SD. Selain rasa, bungkusnya pun tidak warna merah dan bentuknya lebih langsing. Mungkin Supermannya sudah diet *kriik kriikk.

Nyamil sambil cibang cibung
Nyamil sambil cibang cibung

Mungkin ada yang penasaran apakah jajanan itu ada di Belanda. Oh tentu saja tidak ada karena saya beli di Indonesia lalu pake Jastip sewaktu Rurie mudik . Lumayan, harga teman jadi tak terlalu mahal. Ini lho hasil jastipan saya, sekalian pamer (bandeng dan otak-otaknya gratisan dari Rurie) *haha pamer kok jastipan panganan.

Jastipan ke Rurie
Jastipan ke Rurie

Calon-calon anggur di halaman belakang pun sudah mulai nampak. Biasanya bulan Agustus kami akan panen, kurang lebih 10kg. Lumayan banyak untuk ukuran nanam sendiri. Anggur-anggur tersebut tidak kami jual melainkan diberikan ke para tetangga, saudara, dibuat selai dan dimakan sendiri.

Sebagian kecil calon-calon Anggur
Sebagian kecil calon-calon Anggur

Ya sudah, begitu saja cerita singkat kali ini. Kalau sudah mood, saya akan nulis yang agak serius lagi. Kalau kalian suka membaca tulisan saya yang serius, yang santai-santai saja, atau yang seperti apa? *bwuahaha macam banyak yang baca aja, Den!

Ngidam Bakso
Ngidam Bakso

Oh ya, beberapa blogger menyampaikan keluhan dan masukan tentang susahnya meninggalkan komentar di blog kami. Terus terang, saya tidak tahu permasalahannya di mana karena saya tidak pernah mengotak atik settingan. Hanya update yang perlu diupdate. Jadi mohon maaf ya, kalau susah berkomentar. Terima kasih karena sudah menyempatkan membaca dan berusaha menulis komentar.

Cuaca di tempat kalian bagaimana?

Update : saking panasnya (pas update ini suhu 38°C, saya jemur sprei, sarung selimut, handuk2 semuanya kering dalam waktu ga sampai 3 jam. Kipas angin yang lumayan bagus di rumah pun ga ada rasanya. Akhirnya sore kami ngadem dari satu toko ke toko lainnya. Lumayan 1.5 jam kena ademnya AC haha. Hikmah panas, jadi bisa ngerasakan AC di toko :)))

-Nootdorp, 23 Juli 2019-

Agama dan Proses Pencarian

“Den, aku nanti mampir kosmu ya. Mau belajar Sholat.”

Seorang teman yang saya kenal saat dibangku SMA, tiba-tiba berkata seperti itu saat berpapasan di gang ketika saya pulang kuliah. Rumahnya tidak jauh dari tempat saya ngekos. Saya mengiyakan tapi di kepala saya timbul pertanyaan, “kok dia mau belajar sholat, kenapa ya?” Sore hari, dia ke tempat saya. Dia belajar wudhu, belajar mengenakan mukena, dan belajar gerakan sholat. Saya dan beberapa teman mengajarinya tanpa banyak bertanya. Dia ingin belajar, kami mengajari dan memberitahu apa yang ingin dia ketahui. Dia juga mengatakan, kalau waktunya sholat Maghrib dan Isya ingin ikut berjamaah dengan kami. Sejak saat itu, dia rajin datang ke kosan dan sholat berjamaah bersama saya dan teman-teman.

Saya sudah lama tidak bertemu dengannya sejak kami lulus SMA. Meskipun rumah kami tidak terlalu jauh, tapi kami kuliah di kampus yang berbeda. Jadi saya tidak tahu kabar apapun tentangnya sampai suatu hari dia bilang ingin belajar sholat. Saat dia selesai belajar sholat pertama kali, saya tanya kabarnya bagaimana. Dia hanya menjawab singkat, “baik Den. Aku ingin belajar tentang Islam. Tolong ajari aku ya.” Banyak sebenarnya yang ingin saya tanyakan saat itu, terutama kenapa dia ingin belajar tentang Islam. Apakah dia ingin pindah agama? Tapi saya simpan sendiri pertanyaan tersebut. “Yuk kita belajar bareng-bareng. Akupun butuh belajar banyak tentang Islam.” Setelah beberapa lama dia belajar ke sana dan ke sini, suatu hari saya mendengar kabar kalau dia sudah masuk Islam.

Setelah berbelas tahun lamanya, hari ini saya kembali teringat dengan ceritanya. Pertama kali dalam hidup saya, tahu proses dari awal seorang kawan memilih agama secara sadar dari perjalanan panjang, kegelisahan dan pergulatan batin meninggalkan agama sebelumnya, dan berproses dengan banyak belajar serta bertanya. Pernah terlontar perkataan pada saat itu, “saya iri dengan kamu karena berani mengambil langkah memilih agama sesuai kata hati dan proses pembelajaran serta pencarian. Sedangkan saya, beragama karena warisan keluarga turun temurun.”

Beragama di Indonesia bukanlah tentang sebuah pilihan tetapi kewajiban. Itupun agama yang didapat bukan karena proses pencarian melainkan karena meneruskan dari agama turun temurun di keluarga. Agama warisan. Selain itu, beragama dan berkeyakinan menjadi sebuah kewajiban karena harus tercantum saat ingin mendapatkan kartu identitas sebagai seorang penduduk. Lalu bagaimana dengan orang yang memilih tidak beragama dan tidak berkeyakinan? Tetap harus memilih dari daftar agama resmi dan keyakinan yang diakui di Indonesia.

Dalam proses beragama, sayapun seringkali mengalami pergolakan batin dan banyak mempertanyakan ajaran agama yang pada akhirnya saya pilih secara sadar, untuk saat ini, walaupun awalnya saya dapat dari warisan keluarga. Itupun setelah saya belajar, mencari dan tetap mempertanyakan banyak hal, sampai saat ini. Salah satu alasan kenapa sampai sekarang saya tetap belajar dan tidak pernah berhenti bertanya tentang ajaran agama saya, supaya saya semakin mengenal agama yang saya pilih. Bukan hanya terima jadi lalu merasa ini adalah agama yang paling benar di muka bumi.

Sebelum memutuskan berjilbab, saya mengalami dilema besar. Bertanya dan melakukan pencarian kenapa dan hukumnya apa sebenarnya jilbab itu. Belajar dan mencari tahu sejarahnya bagaimana. Sampai saat ini setelah hampir 10 tahun lamanya mengenakan Jilbab, saya tetap menggali lebih dalam tentang jilbab. Saya tidak pernah berhenti dan tetap dahaga ilmu dengan apa yang saya pilih sampai sekarang. Saya berproses dan tidak tahu kedepannya proses yang saya lakukan sekarang akan menuju pada jalan ke arah yang mana. Saya tidak pernah tahu.

Bukan hanya tentang perjalanan agama dan spiritual saya yang berproses, cara berpikir sayapun seiring bertambahnya umur mengalami banyak sekali proses pembelajaran. Dulu saat mendengar ada yang pindah agama dari A ke B, B ke A, A ke Z, Z ke K, selalu timbul pertanyaan, kenapa ya? lalu mencoba menebak sendiri alasannya dari kabar yang berhembus. Mendengar dan tahu ada teman atau kenalan yang awalnya mengenakan jilbab lalu mencopotnya atau buka copot jilbab, rasanya ingin nyinyir kenapa kok seperti labil tidak punya pendirian. Dari proses pembelajaran dan melewati perjalanan hidup, akhirnya saya pada satu pemikiran bahwa semua pasti ada alasannya. Mereka yang memutuskan berpindah, melalui proses pencarian, perjalanan dan pergulatan yang saya tidak tahu apa. Jadi saya tidak punya hak untuk menghakimi apapun.

IMG_4943

Beragama, berTuhan, memilih tidak beragama dan mempercayai selain Tuhan, semuanya berproses, melalui perjalanan panjang, pergolakan batin, pengalaman hidup yang sifatnya sangat individu dan menjadi urusan pribadi. Kecuali kita ada di sana saat seseorang memutuskan berpindah (apapun konteksnya), kita tidak pernah tahu pergumulan seperti apa yang terjadi sebelumnya. Kita tidak punya hak menghakimi. Memutuskan berjilbab, melepas jilbab, semuanya pun berproses. Mereka melewati sebuah perjalanan dan proses batin yang kita tidak tahu seperti apa. Kita tidak berhak untuk menghakimi.

Saat seseorang datang padamu ketika dia sedang dalam pergolakan batin, temanilah. Rangkul dan dengarkan apa yang menjadi kegelisahannya. Berkomentar saat memang diminta pendapat. Jika tidak, dengarkan saja apa yang dia utarakan dan apa yang ingin dia ceritakan. Bawalah dia dalam doamu supaya proses pencarian dan pergolakan batinnya membawanya pada titik yang bisa membuatnya lebih damai dan menjawab semua keresahannya selama ini.

Jika kita memilih beragama, bukan berarti kita pantas untuk merasa lebih dari yang memilih tidak beragama. Jika kita mengenakan jilbab, tidak ada alasan untuk menjadi tinggi hati dan memandang sebelah mata mereka yang memilih tidak berjilbab. Saat kita mendengar seseorang melepaskan jilbab, tidak perlu dengan jumawa memberi pelabelan ini itu. Mereka berproses, mari kitapun menghargai apapun yang sudah mereka putuskan saat kita tidak menjadi bagian dalam proses yang mereka jalani.

Saat teman saya memilih untuk pindah agama, yang bisa saya lakukan adalah sama-sama belajar dengannya dan membawa dalam doa semoga yang sudah dia lalui sampai dititik saat itu menguatkan dia untuk melangkah dalam pilihannya. Saya tidak pernah menanyakan alasan kenapa dia memutuskan pindah agama karena dia tidak pernah menyebutkan. Seyogyanya memang kita tidak usah terlalu mencampuri terlalu jauh sesuatu yang kita tidak tahu dengan pasti. Tidak perlu menduga-duga apakah orang pindah agama karena pernikahan, perceraian, kekecewaan akan suatu hal atau yang lainnya. Pun berlaku ketika seseorang memutuskan menggunakan atau melepas simbol keagamaan. Simpan saja pendapat kita dan tidak perlu menduga terlalu jauh, apalagi sampai menghakimi. Kita tidak ada di sana saat mereka sedang berproses.

Beragama, berTuhan, memilih tidak beragama dan mempercayai selain Tuhan, mengenakan atau tidak mengenakan simbol sebuah agama, semuanya adalah urusan pribadi dan melalui sebuah proses pencarian. Punya hak apa kita menilai benar atau salah?

-Nootdorp, 15 Juli 2019-

Pula, Rovinj, Umag : Kroasia

Verudela - Pula -Kroasia

Tahun lalu saat kami membatalkan rencana mudik ke Indonesia, lalu tercetuslah ide untuk ke Kroasia saat musim dingin. Menghindari cuaca dingin sesaat di Belanda. Namun rencana tersebut pun berubah, akhirnya malah kami ke Malta. Negara yang tak kalah indahnya. Akhirnya tahun ini kesampaian juga ke Kroasia.

Seperti yang sudah saya tuliskan pada postingan sebelumnya, saat pergi saya sempat tertahan di Bandara Schiphol terkait dengan paspor dan visa. Jadi, Kroasia ini adalah negara yang tidak masuk dalam daftar negara Schengen tapi bisa dikunjungi jika kita mempunyai visa Schengen. Untuk hal ini lebih lengkapnya bisa baca di website resmi yang membahas tentang visa Kroasia. Saya mempunyai kartu ijin tinggal di Belanda dengan batas waktu tertentu (bisa diperpanjang menjadi tak terbatas waktu setelah lima tahun sejak mendapatkan kartu ijin tinggal, asal sudah memenuhi persyaratan), jadi bisa digunakan untuk bepergian ke negara-negara Schengen maupun ke negara-negara non Schengen tapi bisa menggunakan visa Schengen, salah satunya Kroasia.

Dari pihak maskapai, ketika melihat paspor saya dan kartu identitas, mereka memastikan terlebih dulu apakah saya bisa terbang ke Kroasia. Lama sekali mereka cek sana sini, telpon sana sini. Wah saya mulai deg-degan, takut kalau saya yang salah informasi dan terlalu PD bisa ke Kroasia tanpa visa. Setelah kira-kira 20 menit, ternyata benar, bahwa saya bisa ke Kroasia dengan menggunakan ijin tinggal di Belanda. Ok, permasalahan pertama selesai.

Saat di Imigrasi, lagi-lagi pihak Imigrasi Belanda harus melakukan pengecekan yang lumayan lama. Telpon sana sini sambil dahi mengernyit, cek di komputer mereka, tanya beberapa hal ke saya. Sampai sekitar 20 menit, akhirnya saya diperbolehkan lewat. Artinya valid informasi yang saya baca. Pfiuuhh, begitu saja sudah membuat lutut bergetar lho. Padahal jelas-jelas ada di website resmi informasi hal ini, tapi gara-gara cek sana sini yang lama, sempat membuat saya jadi tidak PD juga.

Akhirnya, bisa juga saya pergi sekeluarga ke Kroasia. Ya, tidak lucu kalau misalkan saya harus pulang balik ke rumah sementara yang lainnya bisa terbang haha.

PULA

Pula adalah kota terbesar di wilayah Istria dan kota kedelapan terbesar di Kroasia. Kota ini dikenal dengan bangunan Romawi kuno. Yang paling terkenal diantaranya adalah  Pula Arena. Beberapa hal tentang Pula sudah saya tuliskan pada postingan sebelumnya.

Di bawah ini adalah beberapa tempat yang kami datangi selama di Pula.

  • VERUDELA

Tempat kami menginap adalah wilayah tepi laut yang bernama Verudela. Wilayah ini indah sekali. Karena saya mempunyai ikatan emosi dengan yang namanya kapal (maklum, saya ini anak pesisir. Rumah orangtua memang daerah pesisir), kalau melihat kapal rasanya senang bukan kepalang. Nah, selama di Verudela, setiap saat bisa melihat kapal lalu lalang hilir mudik, juga kapal yang sedang bersandar, girangnya bukan main.

Kegiatan kami kalau sedang tidak ke mana-mana, selain berenang di pantai (dan kolam renang) juga jalan-jalan sepanjang pinggiran laut sampai menuju ke Pelabuhan. Meskipun ya panas tidak karuan, tapi semua senang melihat birunya laut dan bermain air laut.

Verudela - Pula - Kroasia
Verudela – Pula – Kroasia
Verudela - Pula - Kroasia
Verudela – Pula – Kroasia
Verudela - Pula - Kroasia
Verudela – Pula – Kroasia
  • PULA ARENA – ROMAN AMPHITHEATRE

Pula Arena adalah Roman Amphitheatre, yang merupakan terbesar nomer 6 di dunia. Amphitheatre ini memang besar sekali dan masih terawat dengan baik. Letaknya persis di sebelah laut, makin membuat Amphitheatre ini nampak cantik. Setiap mengunjungi Amphitheatre, saya dan suami selalu duduk sambil memandang sekeliling lalu kami membayangkan bagaimana para Gladiator dulunya bertarung di sana, lalu terdengar sorak sorai dari penonton. Tidak terbayangkan.

Pula Arena - Roman Amphiteather
Pula Arena – Roman Amphiteather
Pula Arena - Roman Amphiteather
Pula Arena – Roman Amphiteather
  • TEMPLE OF AUGUSTUS
Temple of Augustus - Pula - Kroasia
Temple of Augustus – Pula – Kroasia
  • ARCH OF THE SERGII
Arch of the Sergii
Arch of the Sergii
  • BRIJUNI

Jika sedang berada di Pula dalam waktu yang tidak sebentar (paling tidak minimal 2 hari), sempatkan juga untuk mengikuti tour kapal yang bisa singgah ke beberapa pulau yang ada di sekitar Pula. Kami naik kapal, ikut tour selama 5 jam. Dalam rentang waktu tersebut, kami singgah ke Pulau di dekat Brijuni, sebuah taman nasional. Selama di pulau tersebut, selain berenang, kami juga bisa menjelajah seluruh pulaunya, melihat beberapa binatang dan juga masuk ke dalam hutan. Konon, kata pemandu tournya, Angelina Jolie mempunyai property di pulau ini berupa hotel. Tour yang kami ikuti dikenakan biaya €30 per orang dewasa dan diberi makan siang (memilih apakah menu ikan atau daging). Paket – paket tour ini banyak dijumpai di pelabuhan di dekat Pula Arena.

Menuju Pulau Brijuni
Menuju Pulau Brijuni
Menuju Pulau Brijuni
Menuju Pulau Brijuni
Pulau Brijuni
Pulau Brijuni
  • PULA AQUARIUM

Pula Aquarium adalah Aquarium terbesar di Kroasia, letaknya di Verudela. Lumayan dekat dengan apartemen tinggal kami, jalan kaki hanya 10 menit. Pula Aquarium cukup unik karena letaknya berada dalam benteng Austro-Hungaria yang dibangun pada tahun 1886. Benteng ini mengalami proses revitalisasi sejak tahun 2002 sampai saat ini. Beberapa bagian dari benteng dipergunakan untuk kunjungan umum, sedangkan bagian lainnya masih dalam proses untuk dipergunakan kebutuhan aquarium dan pengunjung.

Aquarium Pula terkenal unik karena selain memperlihatkan dan memperkenalkan hewan-hewan laut Adriatik, juga memperlihatkan sejarah tentang benteng. Pada beberapa dindingnya ada foto-foto dan keterangan tentang sejarah benteng Austro-Hungaria “Verudela”. Pengunjung tidak hanya belajar tentang hewan laut, juga belajar tentang sejarah. Untuk masuk, pengunjung dewasa dikenakan biaya 100 kuna dan anak-anak dibawah 3 tahun gratis.

Ada satu ruangan yang khusus memperlihatkan tentang sampah-sampah plastik yang ada di laut mediterania. Berapa banyak sampah, bagaimana cara supaya kita bisa mengurangi sampah plastik, juga diperlihatkan penyu-penyu yang mati karena memakan sampah plastik. Suasananya sangat menyentuh karena lagu yang diputar cukup mendayu. Saya sampai mbrebes mili saat di ruangan itu.

Pula Aquarium - Kroasia
Pula Aquarium – Kroasia
Pula Aquarium - Kroasia
Pula Aquarium – Kroasia
Pula Aquarium - Kroasia
Pula Aquarium – Kroasia

ROVINJ

Jika datang ke Istria Peninsula, yang tak boleh dilewatkan adalah Rovinj. Kota yang mendapat julukan “The Blue Pirl of Adriatic” memang mempunyai daya tarik khusus bagi turis salah satunya adalah bangunan yang berwarna warni dan letak kota yang melingkar dengan ikon gereja.  Menurut saya, Rovinj kotanya lebih turistik dibandingkan Pula. Jangan lupa untuk menyusuri kota tuanya karena kita seperti diajak membayangkan kehidupan masa lalu di kota ini. Sangat menyenangkan menyusuri jalan setapak dengan batu jalan yang sangat apik. Jika mempunyai waktu lebih, bisa menyeberang ke pulau terdekat dari Rovijn, duduk-duduk menikmati makanan lokal sambil menyesap wine atau minum bir, atau hanya sekedar melepas lelah duduk di bangku dermaga sambil melihat deretan kapal yang berjajar rapi serta kapal yang datang dan pergi.

Rovinj
Rovinj
Rovinj - Kroasia
Rovinj – Kroasia
Rovinj - Kroasia
Rovinj – Kroasia
Rovinj - Kroasia
Rovinj – Kroasia

UMAG

Umag terletak 2.5 jam perjalanan menuju utara dari Pula dengan menggunakan bus. Sekitar 10km dari perbatasan Slovenia. Kami tertarik pergi ke Umag karena tidak ada alasan khusus sebenarnya. Hanya tertarik saja dengan kota yang dikenal “the Croatian gate to Europe”. Setiap tahun, pada bulan Juli, Umag adalah tuan rumah turnamen Tennis ATP Croatian Open. Kami jalan-jalan seputar Umag tidak terlalu lama. Hanya disekitar pusat kota, pelabuhan, menyusuri kota tuanya, membeli roti sebagai makan siang, makan di taman kota, lalu kembali ke terminal bus untuk kembali ke arah Pula tetapi mampir ke Rovinj.

Kota tua Umag mengingatkan saya akan tipe kota-kota yang ada di Italia. Gang yang tidak terlalu besar, banyak jemuran baju (tapi tetap nampak apik gangnya), resik, dan menarik.

Umag - Kroasia
Umag – Kroasia
Umag - Kroasia
Umag – Kroasia
Banyak jemuran tapi gangnya tetap enak dipandang ya. Bersih. Umag - Kroasia
Banyak jemuran tapi gangnya tetap enak dipandang ya. Bersih. Umag – Kroasia

Seperti itulah gambaran liburan kami selama di Istria Peninsula, Kroasia. Benar-benar masih melekat di hati, indah laut dan pantainya serta makanannya. Saat kembali ke Belanda, saya pikir semua lancar-lancar saja. Lagi-lagi saya harus kembali berurusan dengan Imigrasi dalam waktu yang lama. Sebelum itu, saya terkena random check. Jadi sewaktu masuk bagian check yang seperti tabung, nah satu petugasnya mengajak untuk minggir. Saya pikir akan diperiksa dalamnya jilbab, seperti biasanya. Eh, ternyata tidak. Dia bilang saya terkena random check, jadi diperiksa lebih dalam. Ada satu lembar kertas dioles-oles ke kulit tangan, lalu kertas tersebut dimasukkan ke alat deteksi. Saya tidak asing lagi dengan hal ini karena sering melihat diacara Border Security. Wah itu beneran lutut saya langsung lemes. Biasanya saya melihat di TV hal seperti ini, lalu mengalami sendiri, deg-degannya luar biasa. Selama satu menit menunggu hasilnya rasanya kayak beberapa tahun lamanya. Walaupun saya tahu kalau hasilnya tidak bermasalah, tapi yang namanya alat kan bisa saja error ya. Syukurlah, baik-baik saja. Setelah di ruang tunggu, saya tanya suami, dia tahu ga saya terkena random check tadi. Eh ternyata dia tidak tahu karena ribet sendiri dengan barang-barangnya. Hadeh! padahal istrinya sudah mau pingsan rasanya karena deg-degan.

Urusan check selesai, eh pas di Imigrasi lagi-lagi petugasnya lama sekali mengecek paspor dan kartu ijin tinggal saya. Dia telpon sana sini, nanya ke kolega sebelahnya sambil menunjuk paspor dan kartu identitas saya, klak klik komputer sambil dahi berkerut, lalu setelah 20 menitan selesai juga. Paspor dan kartu ijin tinggal diberikan kembali ke saya. Lika liku mempunyai paspor hijau, jadi banyak cerita.

Selesai sudah liburan di Kroasia. Banyak cerita, banyak hal-hal yang bisa dibagikan, dan tentu saja menambah pengalaman kami sekeluarga dengan segala hal-hal yang terjadi selama liburan. Semoga kalau ada rejeki uang dan waktu bisa kembali ke Kroasia untuk mengunjungi taman-taman nasionalnya yang terkenal sangat indah.

-Nootdorp, 8 Juli 2019-

Berlibur ke Kroasia

Rovinj

Kami baru saja datang dari liburan awal musim panas 2019. Tujuan kali ini adalah Kroasia, tepatnya kami menginap di Pula, salah satu kota di wilayah Istria Peninsula, yang merupakan kota terbesar kedelapan di Kroasia. Selama lebih dari seminggu dengan membawa dua koper, kami tidak hanya berdiam diri di Pula, melainkan juga melakukan perjalanan menggunakan bis umum mengunjungi beberapa kota lainnya yaitu Umag, Rovinj, dan Porec, serta ke pulau lain yaitu Brijuni.

Tujuan liburan kali ini selain melaksanakan rencana yang sempat tertunda tahun lalu, juga dalam rangka ulang tahun suami. Niatnya ingin mencari cuaca yang lebih hangat dibandingkan Belanda, nyatanya selama kami di sana malah terkena gelombang panas yang melanda hampir sebagian besar negara-negara di Eropa (Barat). Bahkan dalam dua hari suhunya mencapai 39°C dan kami memutuskan tidak ke mana-mana. Melakukan kegiatan yang tidak jauh dari apartemen tempat kami tinggal, yaitu : berenang, bermain di pantai, dan leyeh-leyeh di dalam apartemen menikmati AC. Maklum, di rumah kami tidak ada AC jadi kami menikmati semaksimal mungkin dinginnya AC *haha norak, kalau panas gini memang jadi kangen AC. Intinya liburan kali ini betul-betul santai tidak ngoyo harus ke semua tujuan wisata.

Rovinj
Rovinj

Sebelum memutuskan untuk ke Pula dan beberapa kota yang ada di sana, saya melakukan riset kecil-kecilan, Kroasia bagian mana yang untuk kali pertama nyaman untuk dikunjungi. Nyaman dalam artian bisa mengakomodir kebutuhan semua anggota keluarga misalkan tidak terlalu rame (oleh turis) karena sudah masuk musim panas (ini keinginan saya, karena seperti biasa, kepala suka pusing mendadak kalau ke tempat yang ramai. Maklum, biasa tinggal di kampung), ingin melihat laut, ada hal-hal yang berkaitan dengan sejarah, dan juga faktor child friendly (-berdasarkan standar kami- terutama kontur kotanya yang tidak terlalu naik turun serta banyak taman). Pula akhirnya jadi pilihan karena mencakup hal-hal yang kami inginkan, meskipun penerbangan dari dan ke Belanda hanya satu kali dalam sehari.

Banyak taman dengan permainan di dalam. Sama seperti di Belands

Selama lebih dari seminggu di Pula, kami sangat suka dengan kota ini. Kota kecil namun rasanya hangat oleh penduduk lokal yang suka sekali tersenyum dan tidak sungkan-sungkan untuk menolong. Apakah ini karakter orang Kroasia? Entahlah. Oh ada satu lagi, turis Asia nyaris tidak saya jumpai selama di sini. Terang saja, mereka mungkin lebih memilih Dubrovnik dan Zagreb. 

Arena - Amphitheatre - Pula
Arena – Amphitheatre – Pula

Untuk tempat-tempat yang kami kunjungi selama di Pula (dan beberapa kota lainnya) akan saya tulis terpisah. Kali ini saya akan menuliskan beberapa hal tentang Kroasia pada umumnya dan wilayah Istria Peninsula khususnya, serta pengalaman kami selama di sana.

  • Mata Uang

Mata uang Kroasia adalah Kuna. Nilai tukar Kuna terhadap Euro adalah 1 Kuna = 0.13 – 0.14 Euro. Bagaimana dengan harga makanan (mencakup buah dan sayur serta bahan makanan lainnya)? Relatif lebih murah dibandingkan Den Haag dengan standar tempat yang sama.

  • Transportasi Umum

Transportasi umum di Pula sangatlah gampang, dalam kota maupun antar kota. Setahu saya adalah bus. Entah ada kereta atau tidak. Menurut informasi yang saya dapatkan, di Pula tidak ada kartu paket transportasi harian maupun mingguan. Adanya yang bulanan. Karenanya kami beli tiket bus per sekali jalan. Harganya sama, jauh dekat dalam kota, yaitu 11 Kuna (sekitar €1.5)

Bus di Pula
Bus di Pula

Standar bis kota di Pula, nyaman. Ber AC meskipun jika sedang penuh, AC hanyalah basa basi semata. Sopir bis bisa menggunakan bahasa Inggris, jadi memudahkan jika mau bertanya tentang rute. Cara menyetir mereka, selama kami di sana, santai tidak ugal-ugalan. Di dalam bus mempunyai tempat khusus untuk stroller dan kursi roda.

Stasiun bis di Pula

Untuk tiket bus antar kota, bisa langsung dibeli di stasiun bus. Namun jika musim liburan atau puncak musim panas, lebih baik membeli melalui website mereka. Diantara beberapa perusahaan bus antar kota yang ada, kami lebih merasa nyaman dengan bus Arriva. Busnya besar, lebih lega, AC nya terasa, dan gratis wifi. Sedangkan bus lainnya AC nya abal-abal. Dalam cuaca yang terik, perjalanan dari Pula ke Umag selama 2.5 jam sangatlah uji nyali, bermandikan keringat. Untung suasana aman terkendali dan untungnya lagi perjalanan kembali ke Pula kami mampir-mampir jadi bisa berganti-ganti bis *Jawa banget ya, masih untung saja.

  • Pantai

Tipe pantai di Istria Peninsula adalah pantai berbatu, bukan pasir. Jadi ya pintar-pintar kita saja cari posisi leyeh-leyeh supaya pantat tidak ngganjel di batu. Disarankan mempunyai sepatu untuk berenang, supaya kaki tidak sakit tertusuk batu-batu yang ada di bibir pantai. Harus saya akui, pantainya memang indah sekali. Di bawah ini salah satu contoh bibir pantai yang berbatu. Sebenarnya saya ada contoh foto bibir pantai yang lebih landai dan berkerikil, sehingga aman buat anak-anak, tapi tidak saya tampilkan karena tampak dekat dan banyak yang berjemur. Saya takut kena tuntut karena memposting tanpa ijin (karena dari jarak dekat).

Salah satu bibir pantai yang berbatu
  • Air Minum

Air kran di Istria Peninsula layak dan bisa diminum. Jadi jangan khawatir. Beda dengan Malta yang air krannya tidak bisa diminum. 

Verudela - Pula -Kroasia
Verudela – Pula -Kroasia
  • Sewa Sepeda

Mempunyai rencana berkeliling Pula dengan bersepeda? Jangan khawatir, banyak sekali tempat persewaan sepeda baik pribadi maupun milik pemerintah. Pula kontur kotanya tidak terlalu naik turun, jadi memungkinkan berkeliling Pula dengan bersepeda.

Salah satu tempat penyewaan sepeda
  • Bahasa

Bahasa yang dipakai penduduk setempat adalah bahasa Kroasia yang juga merupakan salah satu bahasa resmi di EU. Bahasa Kroasia juga digunakan di Bosnia Herzegovenia, Serbia, beberapa wilayah di Montenegro, beberapa wilayah di Romania, dan satu wilayah di Austria (Burgerland). Jangan khawatir, bahasa Inggris tetap bisa dipergunakan di sini, terutama untuk berkomunikasi dengan kalangan muda (dan di wilayah turistik). Untuk generasi Oma Opa, sepertinya tidak paham (dari pengalaman saya). Bahasa Kroasia menurut telinga saya terdengar seperti bahasa Jerman. Ada beberapa kata yang saya tebak-tebak artinya dan ternyata benar.

  • Turis

Seperti yang sudah saya singgung pada awal tulisan, selama di sini saya tidak melihat turis Asia. Mungkin kalah pamor dibandingkan Zagreb dan Dubrovnik. Dan penduduk lokalpun nyaris tidak saya lihat yang bermuka Asia. Bahkan saya tidak menjumpai restoran China, Jepang, apalagi Korea di daerah pusat turis. Seringnya yang kami jumpai adalah turis dari Jerman dan mereka yang berbicara dengan aksen British. Selain itu, meskipun sudah memasuki musim panas, namun di Pula tidak terlalu ramai oleh turis. Mungkin belum.

Pula - Kroasia
Pula – Kroasia
  • Penginapan Tempat Kami Tinggal

Kami sengaja tidak tinggal di hotel selama di Pula. Kami memilih tinggal agak melipir dari pusat kota dan lokasinya di dekat pantai. Pilihannya banyak, tentu saja. Setelah pilah pilih, akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di kawasan Verudela. Di sini terdapat komplek apartemen yang letaknya di pinggir laut. Jadi di apartemen ini terdapat kamar tidur cukup besar, ruang tamu, ruang makan, kamar mandi, dan dapur yang lengkap. Meskipun konsepnya adalah apartemen, tapi pelayanannya seperti hotel. Setiap hari ada karyawan yang membersihkan dan membawa handuk-handuk bersih, jika memang ingin ganti handuk.

Puas berenang di sini

Letak apartemen yang kami tempati tidak jauh dari kolam renang dan pantai. Jadi setiap saat kalau kami tidak keluar, bisa memandang laut dan hilir mudik kapal. Meskipun banyak anak-anak, herannya selama di sini saya tidak merasa keberisikan, bahkan berasa sunyi. Selain itu, komplek ini menyediakan tempat bermain anak dalam ruangan yang bersih dan bagus. Ada karyawannya juga yang menemani anak-anak yang bermain di sana. Kami puas sekali selama tinggal di sini. Transportasi ke pusat kota dan ke stasiun bus juga gampang dan sampai dini hari.

Pemandangan dari depan apartemen
  • Tentang Istria Peninsula

Istria adalah semenanjung terbesar di Kroasia dan terletak di bagian paling barat. Istria merupakan tujuan yang sangat populer dikalangan turis karena letaknya yang dekat dengan Italia, Slovenia, dan Austria. Istria mempunyai garis pantai yang besar, penuh teluk kecil dan lebih besar dengan ratusan pulau. Kontur semenanjung Istria juga sangat menarik, dengan sejumlah kota kecil dibangun di atas bukit di sekitar Istria.

Salah satu pulau di dekat Briljuni

Istria menjadi bagian dari Kroasia setelah Perang Dunia Kedua karena sebelumnya milik Italia, sehingga secara budaya (serta makanan), sangat dipengaruhi oleh budaya Italia. Itu disebut “Terra Magica” di zaman Romawi. Istria jauh lebih kebarat-baratan daripada bagian Kroasia lainnya karena sejarahnya.

Salah satu gang di Umag. Banyak yang jemur baju saja, gangnya bagus banget ya
  • Makanan

Nah ini bagian favorit saya, bercerita tentang makanan. Setiap wilayah di Kroasia mempunyai karakteristik makanan yang berbeda. Tergantung letaknya di mana apakah pinggir laut atau yang di dataran tinggi.

Begitu juga di wilayah Istria Peninsula, karakteristik makanannya tentu saja makanan laut dan makanan Italia (Akhirnya bisa makan makanan Italia lagi, yang otentik, setelah road trip kami ke Italia tahun 2016). Jadi jangan heran jika dijumpai restoran Italia di mana-mana. Namun begitu, ada beberapa makanan yg memang merupakan khas Pula. Diantaranya adalah Ikan Sea Brass yang digoreng kering beraroma kuat bawang putih, disajikan dengan campuran kentang dan bayam. Ada juga yang disajikan dengan kubis oseng yang rasanya asin kecut. Rasanya enak, saya suka (walaupun kata suami : ini lebih enak kalau ada nasi putih hangat dan sambal terasi ya haha).

Sajian ikan khas Pula
Sajian ikan khas Pula
Sajian ikan khas Pula yang kami dapat di kapal, dimakan dengan oseng kubis

Makanan khas Pula lainnya adalah beef steak yang disajikan di atas roti kemudian diguyur saus jamur serta mustard. Sayuran pendampingnya adalah acar wortel serta oseng terong. Ini juga enak, dagingnya lembut sekali.

Beef steak khas Pula

Selebihnya selama di sana saya pesan makanan Italia seperti Spaghetti seafood, risotto cumi hitam, pizza, dan sajian bermacam-macam aneka jenis makanan laut dalam satu piring besar. Suami juga mencoba beberapa bir lokal. Nah, makanan di foto terakhir itu adalah favorit saya karena dalam satu piring besar berisi lengkap aneka makanan laut. Benar-benar puas dan rasanya luar biasa enak. Saya sangat senang selama di sana karena bisa sepuasnya makan makanan laut. Mumpung ya, tidak masak sendiri. 

DSC00234

IMG_8754

DSC00303

IMG_8663

Jajanan khas Pula saya hanya mencoba satu macam yaitu semacam pastry yang diisi adonan putih telur dan gula. Rasanya tentu saja manis, tapi tingkatannya sedang. Tidak semanis kue-kue di Belanda.

IMG_8677

IMG_8678

Ada teman saya yang bertanya apakah di Pula ada restoran Indonesia? Sejauh mata memandang disekitar pusat turis, saya tidak menemukan. Saya memang sengaja tidak mencari informasi tentang ini. Prinsip saya, selama masa jalan-jalan, lebih baik saya jauh-jauh dari makanan Indonesia. Ini waktunya saya mengenal makanan lokal tempat tujuan liburan. Kalau mau cari restoran Indonesia, di Den Haag ga kurang, tinggal pilih semua lengkap. Nah kalau liburan nyarinya tetap makanan Indonesia, kok ya saya merasa rugi. Itulah kenapa setelah tinggal di Belanda, kalau kami liburan saya tidak pernah lagi membawa sambal karena tidak semua makanan perlu dan layak dikasih sambal. Selain itu, supaya tidak merusak rasa asli makanan tersebut. Ini pendapat pribadi buat saya sendiri ya. Kalau ada yang beda ya monggo. Makanan kan masalah selera. Beda dengan ketika saya pergi ke Berlin bersama teman-teman Indonesia, kami memang sengaja mencicipi berbagai macam makanan di restoran Indonesia, karena sebelumnya saya sudah beberapa kali ke Jerman dan sudah mencoba beberapa makanan khas Jerman.

Kalau tiba-tiba kangen ada Indomie
Kalau tiba-tiba kangen ada Indomie
  • Lavender, Truffle dan Olive Oil

Istria Peninsula terkenal juga akan hasil alamnya yaitu Lavender, Truffle dan olive oil. Kalau ingin membawa apa yang khas dari wilayah ini, bisa dipertimbangkan dari tiga yang khas tersebut.

Lavender, Olive Oil dan Truffle
Lavender, Olive Oil dan Truffle

Begitulah sekilas gambaran tentang Kroasia, khususnya Pula dan kota-kota sekitarnya serta cerita singkat pengalaman kami selama di sana. Tentang tempat mana saja yang kami kunjungi selama di sini, akan saya buatkan tulisan terpisah. Nanti juga akan saya ceritakan tentang saya nyaris tidak bisa masuk ke Kroasia perkara paspor hijau dan visa, serta terkena random Check saat akan pulang ke Belanda. Pengalaman yang menegangkan. Jadi, silahkan menyimak ya. Kroasia sangatlah indah. Ingin rasanya mengunjungi semua kota. Mudah-mudahan jika ada rejeki uang dan waktu, bisa kembali ke Kroasia, menjelajah bagian lain terutama wisata alamnya.

Di kapal saat menuju ke Pulau Briljuni
Di kapal saat menuju ke Pulau Briljuni

Oh ya, yang sedang membutuhkan rekomendasi bahan bacaan, bisa dilihat postingan sebelum ini. Buku-buku yang tuntas saya baca periode Januari-Maret 2019.

-Nootdorp, 2 Juli 2019-

Buku yang Tuntas Dibaca Q1 2019

Buku Q1 2019

Memenuhi janji terhadap diri sendiri, bukan hanya lebih rajin membaca buku ditahun ini, tetapi juga rajin menuliskan di blog buku-buku apa saja yang sudah tuntas dibaca. Supaya tidak menumpuk di belakang dan malah membuat malas menuliskannya (lalu hanya berakhir menjadi wacana), saya akan membuat tulisan tentang buku setiap tiga bulan sekali. Untuk Q1 2019 (Januari – Maret 2019), saya membaca tuntas 10 buku. Menurut saya ini kemajuan dibandingkan tahun kemaren apalagi kesibukan saya di rumah sekarang bertambah. Mencuri waktu membaca buku di tengah hiruk pikuk pekerjaan rumah tangga. 

Buku Q1 2019
Buku Q1 2019

Beberapa buku tersebut akan saya bahas beberapa :

MEMPELAJARI KEMBALI TENTANG ISLAM

Tahun 2019 ini saya niatkan untuk serius mempelajari kembali tentang Islam. Saya tidak berkiblat pada siapapun, benar-benar mengosongkan diri ketika nawaitu untuk belajar. Melepaskan segala ilmu yang saya dapatkan sebelumnya supaya kepala dan otak saya mau dan mampu menerima ilmu. Supaya saya tidak terjebak dalam ke-sok tahu-an. Buku yang pertama saya baca adalah Islam yang Saya Anut dari M. Quraish Shihab. Dalam buku ini dikupas satu persatu dasar-dasar Islam dari Rukun Iman, Rukun Islam, tata cara Sholat, Zakat dll. Bahasanya yang mudah dipahami, tidak ndakik ndakik, dan menjabarkan secara runtun dan terperinci tentang dasar Islam membuat niat belajar kembali tentang Islam tidaklah berat dan memberatkan.

Buku lainnya, meskipun tidak terlalu berkaitan erat dengan ilmu keislaman tapi masih ada irisannya yaitu tentang spiritual yaitu buku Hidup Itu Harus  Pintar Ngegas dan Ngerem, kumpulan tulisan Emha Ainun Nadjib. Topik yang diangkat dalam buku ini bermacam karena merupakan kumpulan tulisan yang sudah dipublikasikan maupun yang ada di website maiyahan, tapi secara garis besar selama hidup kita musti tahu menempatkan diri. Maksudnya adalah tahu kapan harus mempertahankan pendapat, tahu kapan harus menundukkan hati dan memperlambat langkah. Sepertinya mudah, tapi kadang dalam pelaksanaannya susah. 

PARENTING

Ada tiga buku tentang parenting yang saya baca pada tiga bulan pertama tahun ini. Five Minute Mindfulness Parenting mengupas tentang bagaimana menjadi orangtua tidaklah gampang, tapi juga jangan dipersulit. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk tidak melupakan bahwa orangtuapun adalah seorang individu, jadi tetap harus menyisakan waktu untuk diri sendiri, memenuhi diri sendiri dengan banyak cinta sehingga akan memberikan banyak cinta juga untuk keluarganya. Buku ini juga mengingatkan bahwa apa yang dilakukan oleh anak sesungguhnya adalah cerminan yang dilakukan oleh orangtua. Ingin anak kita sopan, mulailah dari diri sendiri dulu sebelum menuntut mereka untuk sopan. Mereka meniru dan mencontoh apa yang ada di depan mata, setiap hari. Ada kutipan dari buku ini yang saya suka :

“Your children model their behavior on your behavior. If you use your phone or screens incessantly, then do not be surprised when their technology usage mirrors or exceeds your own”

Buku kedua adalah Indahnya Susahnya Jadi Ibu. Sesungguhnya jika belum siap menjadi Ibu janganlah coba-coba karena menjadi Ibu tak seindah yang ditampilkan oleh selebgram-selebgram yang bergentayangan dengan tampilan kesempurnaan mereka sebagai sosok seorang Ibu. Menjadi Ibu itu capek, betul. Menjadi Ibu itu melelahkan, tidak salah. Menjadi Ibu menjadikan dunia jungkir balik, betul pada awalnya karena harus beradaptasi dengan hal-hal baru dan dengan manusia mungil yang tergantung 100 persen dengan kita. Namun ada banyak hal juga yang bisa dipelajari ketika status Ibu sudah menempel pada kita. Kelucuan-kelucuan yang spontan hadir serta hal-hal menyenangkan lainnya. Menjadi Ibu menjadi menyenangkan jika menjalaninya secara sadar. Buku ini mengupas secara apik dan lucu tentang pengalaman penulis (dan mungkin mewakili banyak Ibu diluaran sana) sehari-hari menghadapi bayi dan toddler. Saya seperti bercermin ketika membaca buku ini.

Parenting Without Borders adalah salah satu buku parenting yang saya suka. Memang benar bahwa setiap anak itu unik dan setiap orangtua punya  gaya parenting masing-masing. Buku ini mengupas banyak hal tentang tipe parenting di beberapa negara. Membuka mata saya bahwa tiap negara mempunyai garis merah tentang khas parenting yang ada di dalamnya. Juga dijabarkan baik buruknya gaya parenting setiap negara tersebut. Misalkan : di Amerika anak diajarkan untuk percaya diri dengan menjadikan mereka berlomba-lomba menjadi nomer satu (disekolah dan lingkungan akademis), sementara di beberapa negara Eropa malah mengajarkan bahwa bermain lebih dikedepankan karena jika mereka gembira maka ketika berhadapan dengan akademis tidak akan merasa terpaksa dan meminimalisir depresi. Selain itu dengan bermain bisa diajarkan banyak hal misalkan kerjasama tim, belajar memecahkan masalah dan lain sebagainya. Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk dibaca bagi yang tertarik dengan topik parenting.

Menjadi orangtua sampai kapanpun mustinya tak pernah berhenti untuk belajar, meskipun pada prakteknya akan banyak trial and error. Yang penting sudah ada bekal ilmu dan tak lelah untuk terus memperbaiki diri, koreksi diri dan belajar lebih baik hari demi hari. Saya selalu mengingat apa yang disarankan Maureen : Keep Learning. Belajar dan selalu belajar setiap saat supaya hari ini lebih baik dari hari kemarin. Tidak ada orangtua yang sempurna, saya pun tidak berambisi untuk menjadi sempurna. Yang saya harapkan bisa memberikan kasih sayang yang tulus, mempunyai stok sabar dan tegas yang berlimpah serta stok waktu dan cinta yang tak terbatas.

NOVEL

Laila S.Chudori adalah salah satu penulis favorit saya. Semua bukunya sudah saya baca. Laut Bercerita adalah novel yang ditulis dengan latar belakang kisah nyata yang terjadi pada jaman Orba khususnya tragedi ’98. Kisah para aktivis yang hilang, tentang keluarga mereka yang menunggu dan menuntut keadilan sampai saat ini, dan kisah mereka yang kembali tapi melalui beberapa perlakuan yang mengerikan. Mata saya semakin dibuka dengan banyak hal menyakitkan yang terjadi saat Orba. Pada bagian akhir Laut Bercerita membuat saya menangis. Membayangkan bagaimana menjadi keluarga mereka yang hilang tanpa diketahui nasibnya. Jika disuruh memilih, lebih baik tahu mereka meninggal dan bisa dikuburkan daripada tidak tahu kepastian nasibnya bagaimana, apakah masih hidup atau sudah mati, berharap setiap saat mereka pulang kembali ke rumah. 

FILOSOFI

Filosofi Teras adalah buku pertama yang saya baca tahun ini. Terus terang tertarik baca buku ini awalnya karena penulisnya, Henry Manampiring, yang merupakan twitter crush saya haha *ngaku. Bukan hanya perkara tampang ya, tapi menurut saya, dia ini pintar dan cerdas. Makanya saya suka. Lalu ketika gencar dipromosikan Filosofi Teras karena dijanjikan bahwa bukunya tidak seperti buku filsosfi pada umumnya yang berat, makin tertariklah saya baca. Ternyata benar, buku ini enak dibaca karena dihubungan dengan kejadian sehari-hari. Stoicism adalah akar dari Filosofi Teras. Sebuah Filosofi yang mengajarkan untuk tidak terlalu mengambil pusing hal-hal yang di luar kendali kita dan lebih fokus dengan hal-hal yang bisa kita kendalikan. Ternyata, suami saya pernah mempelajari Stoicism ketika mengerjakan tesisnya (jadi salah satu bahan dalam tesisnya) dan dia punya beberapa buku yang membahas Stoicism. Saya makin tertarik mempelajari lebih dalam filosofi ini. 

Yang lebih penting, Filosofi Teras bukanlah buku motivasi yang bahasanya indah-indah. Penulisnya menyelipkan beberapa contoh yang seringnya malah membuat senyum-senyum bahkan terbahak. Buku ini serius tapi juga banyak lucunya. 

LAIN – LAIN

Buku L’art de la Simplicite : How to live more with less cukup menarik dengan cara penulisan yang mudah dimengerti. Beberapa ide dan gagasan bagaimana kita bisa merasa hidup yang lebih dengan mengurangi atau mereduksi kepemilikan terhadap barang. Misalkan untuk rumah : disarankan jika rumah tidak terlalu banyak aksesori yang dipajang. Selain supaya rumah lebih nampak lapang, juga dengan keberadaan banyak barang (yang sebenarnya tak terlalu penting secara fungsi), bisa menyerap energi kita. Akibatnya, orang yang berada dalam rumah yang banyak barangnya akan cepat merasa lelah, sering mempunyai pikiran yang negatif dan sebagainya. Intinya, jangan terlalu melekatkan hidup kita terhadap barang-barang. Semakin sedikit yang kita punya, semakin lebih yang kita rasakan. Kalau dituruti, memiliki barang-barang dan terlalu lekat, tidak akan pernah habis dan terpuaskan. Miliki sesuai kebutuhan dan fungsinya.

 

Itulah beberapa buku yang sudah selesai saya baca ditiga bulan pertama tahun 2019. Semoga Q2 2019 tidak terlalu banyak bedanya secara jumlah. Yang pasti ada beberapa buku yang benar-benar menarik yang sudah saya baca di Q2. Tunggu review selanjutnya, edisi Q2 2019 

Buku apa yang paling menarik sampai saat ini yang sudah kalian baca tahun 2019?

-Nootdorp, 17 Juni 2019-