Sebelas Tahun di Belanda

30 Januari 2026

Hari ini, sebelas tahun lalu, saya sampai di Belanda untuk menetap. Mengikuti suami yang memang warga negara Belanda dan tinggal di Belanda. Keputusan yang sempat membuat saya ragu karena banyak pertimbangan, salah satunya tentang pekerjaan di Indonesia dan segala hal yang akan saya tinggalkan termasuk keluarga dan para sahabat.

Dengan mengucap Bismillah dan niat yang Insya Allah sudah mantab, tentu saja setelah berdiskusi panjang dengan suami (bahkan sebelum menikah) saya putuskan untuk pindah ke Belanda. Saya pindah ke Belanda, 3 minggu setelah lulus sidang tesis S2. Meninggalkan apa yang sudah saya jalani di Indonesia dan memulai dari awal, belajar segala hal di Belanda. Termasuk bahasa, adaptasi cuaca, mencari pekerjaan, bersosialisasi, memiliki anak, dan banyak hal baru yang membuat saya belajar lagi.

Di sini saya sekarang, 11 tahun kemudian. Bahagia bersama keluarga kecil kami, dengan 3 anak, suami yang sangat baik, tetap beradaptasi dengan winter yang selalu membuat saya sakit, bahasa Belanda yang tetap membuat pusing kepala meskipun ya saya lancar dalam berbicara, menulis, maupun mendengarkan. Semua hal yang sudah saya lewati 11 tahun ini membuat saya makin kuat dan tidak gampang menyerah. Semakin nyaman dengan kehidupan di sini yang naik turun tapi banyak gembiranya. Semakin tenang, sadar, dan perlahan dalam menjalani hari demi hari.

Hari ini, saya menjemput seorang Sahabat di Schiphol yang akan liburan ke beberapa negara di Eropa. Seperti terlempar ke ingatan 11 tahun lalu, persis di tanggal yang sama dan maskapai yang sama, bahkan jam kedatangan yang sama. Tentu saja tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah Allah atur. Termasuk mengatur Sahabat saya saat membeli tiket sampai ke Belanda persis ditanggal saya sampai ke Belanda 11 tahun lalu.

Saat sampai Schiphol, saya merasa terharu. Sahabat saya muncul, saya memeluk dia sampai menangis. Perasaan yang campur aduk. Antara teringat 11 tahun saat suami saya menjemput di tempat yang sama, juga terharu bertemu sahabat saya kembali setelah terakhir 4 tahun lalu.

Saya sudah merencanakan membuat foto dengan baju yang sama ketika 11 tahun lalu tiba. Dengan rok yang sama dan jaket yang sama. Warna kaos yang sama. Yang berbeda hanya jilbab dan sepatu. Tempat yang sama yaitu di depan Hema. Lalu saya membuat beberapa foto dengan sahabat saya tersebut.

Terharu juga, Sahabat saya ini akhirnya bisa berkunjung ke Belanda karena saat saya meninggalkan Indonesia, dia berjanji akan berkunjung 5 tahun kemudian. Rencana itu baru terwujud 11 tahun kemudian. Dia ini sahabat saya selama 27 tahun.

Sebelas tahun lalu terasa sekejap. Bisa dipastikan karena saya sangat menikmati kehidupan di sini. Sangat bersyukur dan merasa cukup setiap harinya. Mencoba berpikir sesederhana mungkin. Apa yang terjadi hari ini, untuk hari ini. Yang belum selesai, dipikirkan besok lagi.

Sebelas lalu saya datang dengan banyak koper, tidak tau apa yang akan terjadi dengan masa depan saya di negara kincir angin ini. Saya hanya punya suami dan keluarganya. Saya jauh dari keluarga di Indonesia.

Sekarang, saat ini, saya punya keluarga sendiri. Tiga anak yang sangat kami banggakan, Alhamdulillah sehat dan sangat enerjik. Suami yang baiknya luar biasa meskipun ya tentu saja kehidupan rumah tangga kami ada saja selingan pertengkarannya. Tapi itu bukan sesuatu yang besar dan prinsip. Beda pendapat yang bisa diselesaikan. Meski tidak mudah menjalani peran sebagai Ibu dari 3 anak yang masih kecil, seorang Istri, dan seorang individu sebagai Deny, tapi saya sangat menikmatinya. Saya bisa dengan dukungan penuh dari suami.

Negara ini sudah menjadi rumah untuk saya. Segala baik buruknya, ya dijalani saja. Tak ada negara yang sempurna di dunia ini. Selama saya jalani bersama dengan keluarga, semua akan baik – baik saja. Selama kami tidak meninggalkan satu sama lain, kesulitan apapun bisa dilewati.

Selama saya percaya bahwa Allah membersamai dan memberkahi, Insya Allah langkah saya di negara ini akan selalu terlindungi. Untuk kedepannya, tidak ada harapan yang muluk. Hanya tetap merasa cukup, menjalani kehidupan secara sadar dan perlahan, sehat dan bahagia bersama keluarga. Bersama suami bisa membersamai anak – anak sampai besar.

Sebelas tahun yang sangat berarti. Perayaan untuk diri sendiri karena sudah tangguh sejauh ini dan tidak tumbang dengan aral merintang.

Perayaan bahwa saya sudah melangkah sejauh ini.

  • 30 Januari 2026-

1 Comment

  1. Pingback: Salju di Belanda, Rutin Olahraga, dan Kembali Bermedia Sosial – Deny and Ewald

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.