Kilas Balik 2019 dan Rencana 2020

SELAMAT TAHUN BARU 2020

Semoga kebahagiaan dan kesehatan senantiasa menyertai kita semua sepanjang tahun, juga diberikan umur panjang yang barakah. Semoga segala rencana dan doa yang terpanjat mendapatkan jalan kelancaran untuk mencapainya. Semoga semakin rendah hati, dikuatkan iman, melakukan hal – hal yang semakin baik setiap hari. Apapun itu, semoga yang terbaik.

Sebelum masuk ke tulisan utama, saya akan bercerita singkat tentang malam tahun baru dan hari pertama di tahun 2020. Malam tahun baru, seperti biasa tidak ada acara yang spesial. Setelah makan malam, saya mulai menggoreng pisang, ubi, dan singkong. Di luar rumah, terdengar suara petasan dan kembang api saling bersahutan, tapi tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Seperti tradisi di Belanda pada umumnya, tidak lengkap rasanya jika malam tahun baru tidak ada camilan Oliebollen. Akhirnya camilan yang ada di rumah perpaduan dari dua negara. Kearifan lokal : Oliebollen, Berliner bollen, Appleflap. Bersanding dengan kearifan Internasional : Pisang goreng, Ubi goreng, Singkong goreng.

Kami tidur jam 9 malam (maklum pasangan jompo ya begini, tidak kuat melek terlalu malam haha), jam setengah 12 saya terbangun, lalu jam 12 saya membangunkan suami mengucapkan selamat tahun baru dan mengucap beberapa doa dan harapan, setelahnya saya bergegas ke loteng untuk melihat kembang api. Tidak berapa lama, saya turun dan membuka korden kamar. Melihat kembang api dari kamar sambil twitteran haha mulia sekali hidup saya ini. Kembang api mulai berkurang, saya kembali tidur jam 2.

Kearifan lokal : Oliebollen, Berliner bollen, Appleflap. Bersanding dengan kearifan Internasional : Pisang goreng, Ubi goreng, Singkong goreng.
Kearifan lokal : Oliebollen, Berliner bollen, Appleflap. Bersanding dengan kearifan Internasional : Pisang goreng, Ubi goreng, Singkong goreng.

Paginya kami bangun seperti biasa, sarapan, lalu saya mulai masak. Rencananya, saya akan membuat tumpeng. Sudah menjadi kebiasaan sejak di Belanda, setiap tahun baru saya membuat tumpengan lalu menghantarkan nasi kuning ke para tetangga.

Jam 11 sudah selesai semua, saya mulai menyusun tumpeng dan printilannya. Seperti biasa, karena tidak punya cetakan tumpeng, saya menggunakan kertas karton dibentuk kerucut. Tumpeng kali ini isinya : mie goreng, sambel goreng kentang pete, tempe orek, ayam kalasan, dadar telor, perkedel, dan urap sayur. Setelah berdoa bersama dan mengucapkan beberapa harapan, kami menyantap tumpeng dengan antusias. Maklum, sudah sangat lapar.

Tumpeng Nasi Kuning Tahun Baru 2020
Tumpeng Nasi Kuning Tahun Baru 2020

Setelah makan, saya ke para tetangga untuk memberikan kotak nasi kuning. Setiap tahun baru memang seperti ini. Senang rasanya bisa lebih memperkenalkan makanan Indonesia. Sorenya, kami ke tetangga sebelah rumah. Setiap tahun baru  kami juga selalu mendapatkan undangan untuk sekedar ngobrol sambil makan camilan (salah satunya Oliebollen lagi hahaha mabok Oliebollen).

Nasi kuning untuk para tetangga
Nasi kuning untuk para tetangga

Seperti itulah cerita malam tahun baru dan hari pertama tahun 2020. Sekarang menuju tulisan utama yang mungkin akan sangat panjang. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.

KILAS BALIK 2019

Cerita tahun 2019, saya sambil mengintip tulisan tentang rencana tahun 2019 yang saya tulis awal 2019. Jadi saya tahu apa saja yang sudah terlaksanakan, apa saja yang masih menjadi PR.

KEHIDUPAN PRIBADI

  • Diploma Kelulusan Ujian Integrasi

Akhirnya saya menerima Diploma kelulusan ujian integrasi. Sah sudah saya memenuhi kewajiban lulus semua ujian integrasi. Dengan begitu, saya bisa mengajukan proses menjadi permanen residen. Akhir tahun sudah diproses.

  • Batal Menonton Beberapa Konser

Tahun 2018, saya membeli tiga tiket konser yaitu BSB, Maroon 5, dan Bon Jovi. Dua diantaranya memang konser yang saya tunggu-tunggu selama ini. Konser impianlah ceritanya. Padahal saya sudah tahu saat membeli tiket kalau tahun 2019 tidak akan bisa menonton konser. Dengan membeli tiket saja sudah senang haha. Akhirnya saya jual tiket-tiket tersebut, lumayan ada untungnya (calo haha).

  • Mengikuti Dua Kursus

Sewaktu awal tahun 2019 menuliskan ingin mengikuti kursus, sebenarnya belum terbayangkan kursus apa yang ingin saya ikuti. Ternyata menjelang akhir tahun, saya ada ide mau ikut kursus apa. Salah satunya kursus bahasa Belanda gratisan dari pemerintah kampung saya. Jadi kursus ini diadakan buat mereka yang sudah lulus ujian integrasi dan ingin mengikuti ujian level lebih tinggi. Saya sudah lulus ujian B1, rencananya tahun depan ingin mengambil ujian bahasa Belanda level B2. Ya mumpung ada kursus gratisan di perpustakaan dekat rumah, saya tidak mau menyiakan kesempatan. Waktunya malam, jadi pas dengan kondisi saya.

  • Menyelesaikan Target Membaca 50 Buku Dalam Satu Tahun

Ini adalah salah satu prestasi yang saya banggakan tahun ini, tuntas menyelesaikan target membaca 50 buku. Akhirnya yaa, setelah 4 tahun berturut memasang target 50 buku, tahun ini bisa juga capai target. Ternyata tidak ada yang mustahil di dunia ini, asal konsisten dan disiplin.

Selalu pasang target 50 buku sejak tahun 2016
Selalu pasang target 50 buku sejak tahun 2016

Saya ikut challenge seperti ini supaya disiplin saja. Sejauh mana saya konsisten dan disiplin menuju target yang saya tetapkan di awal. Sama halnya seperti membuat catatan rencana di awal tahun. Sejauh mana rencana sudah mendekati tujuan. Sama halnya dengan membaca Al-Qur’an, sebenarnya kalau mau khataman setiap tahun, sangat bisa. Mau pilih cara harian atau cara sebulan sewaktu Ramadan. Misalnya Ramadan, satu juz satu hari. Sebelum Idul Fitri sudah khataman. Begitu juga dengan cara harian, misalkan 5 lembar setiap hari. Bisa setiap selesai sholat satu lembar atau langsung satu waktu 5 lembar. Akhir tahun akan khataman Al-Qur’an. Seperti itu gambarannya.

Yihaa!! Akhirnya capai target.
Yihaa!! Akhirnya capai target.

Tentang buku-buku apa saja yang saya baca tahun 2019, nanti akan saya buatkan tulisan khusus. Saya membaca lumayan banyak buku yang menarik, beberapa tentang parenting.

  • BERTEMU DENGAN KAWAN-KAWAN BARU, PARA BLOGGER

Beberapa kali saya mengikuti potluck dengan grup yang sama. Pertemanan makan saya menyebutnya haha. Selain dengan orang-orang yang sama, tahun 2019 beberapa kali juga bertemu dengan orang-orang baru.

Rasanya tahun 2019 saya bertemu lumayan banyak orang-orang baru. Mereka ini saya kenal lewat twitter maupun lewat blog, ada juga yang dari komunitas. Bulan November saya mengundang makan siang beberapa orang yang saya kenal lewat twitter. Beberapa sudah pernah ketemu sebelumnya. Wah, seru sih obrolan kami. Waktu 4 jam cekikikan membahas dari yang serius sampai yang santai, tidak terasa. Sambil ngobrol sambil nyamil.

Akhir tahun, mendapat pesan dari Dita, salah satu blogger panutan saya dalam hal membaca buku. Dita yang tinggal di NYC, berencana akhir tahun liburan di Belanda dan mengajak saya serta Crystal untuk kopdaran. Akhir tahun 2018 sebenarnya Dita juga liburan di Belanda dan kamipun sudah janjian kopdaran. Apadaya, kalau belum berjodoh memang ada saja hambatannya. Tidak akan terpikir bakal ada kesempatan bertemu Dita dalam waktu dekat. Eh, ternyata kali ini bisa ketemu juga. Semakin percaya konsep Jodoh Pasti Bertemu *TerAfgan.

Sudah kenal Dita dari Blog sekitar 4 tahunan ini. Dita ini unik menurut saya. Banyak hal-hal yang saya suka dari apa yang dia ceritakan di blog. Tidak semuanya tentu saja ya, tapi secara keseluruhan, menarik. Salah satunya, selera musik Dita, yang saya tidak mengerti sama sekali hahaha. Maklum, generasi Afgan saya ini (bukan umurnya ya, selera musiknya *harus diperjelas). Karena sering komen-komenan, begitu pertama ketemu di Den Haag, kami sudah tidak ada canggung-canggungnya. Ngobrol seperti teman lama. Nyambung satu sama lain dengan Crystal juga. Saya yang penasaran tentang NYC, banyak bertanya seperti apa NYC. Dibayangan saya, pasti benar-benar megah, besar, dan meriah. Selain itu, topik obrolan kami juga unik sih, sampai ngobrolin Capres masing-masing periode haha Diaspora yang rasan-rasan Indonesia. Senang bertemu Dita secara langsung. Semoga lain waktu bisa bertemu Dita lagi, di NYC mungkin. Ada amin lagi? *minta amin mulu haha.

  • PEMILU INDONESIA DI BELANDA

Akhirnya bisa merasakan juga mengikuti Pemilu Indonesia di Belanda. Wah ini sih pengalaman tidak akan terlupa. Bukan hanya prosesnya (yang agak ruwet) tapi juga lebih karena saya sangat antusias.

  • SEPUPU TINGGAL 3 BULAN DI RUMAH

Akhir Februari, sepupu dekat datang ke Belanda dan tinggal di rumah selama 3 bulan. Rasanya menyenangkan punya teman ngobrol berbahasa Indonesia selama 3 bulan dan memberikan informasi terkini kabar di keluarga besar. Maklum, sejak di sini saya jadi kurang tahu kabar terkini di keluarga besar. Saya tidak ikut satupun WhatsApp grup keluarga.

  • KONSISTEN MENULIS DI BLOG 

Ini juga jadi salah satu prestasi yang saya banggakan tahun ini, tetap konsisten menulis di blog diantara hingar bingar kegiatan sehari-hari. Lumayan, tahun ini saya bisa menulis sebanyak 48 judul. Jadi rata-rata 1 tulisan per minggu. Tahun 2018, saya menulis sebanyak 48 judul juga. Lumayanlah, masih rajin diantara keseruan saya mantengin (dan meramaikan) republik twitter.

  • HEATWAVE

Tahun 2019 panasnya ga ketulungan. Super panas, sampai 40 derajat sewaktu kami sedang di Kroasia. Belanda pun tak kalah panasnya. Kami sampai harus ke UGD karena ada yang nyaris kena dehidrasi. Salah satu pengalaman tak terlupakan, malam-malam harus ke UGD.

JALAN-JALAN

Jalan-jalan tahun ini tidak terlalu banyak, hanya tiga kali. Satu mengunjungi negara baru, yaitu Kroasia. Dua kali ke Jerman yaitu ke Cochem dan Nurnberg. Selebihnya, jalan-jalan di sekitar Belanda saja.

KELUARGA

Cerita bahagia dan sedih datang silih berganti di keluarga inti maupun keluarga besar kami. Banyak berita bahagia salah satunya adalah kelahiran, beberapa juga berita duka. Saya menerima kabar beberapa saudara meninggal dunia. Yang paling menyedihkan dari perantau yang jauh dari tanah air selain kangen makanan adalah saat ada kabar gembira, tidak berada di sana. Saat mendengar kabar duka, pun tidak bisa ada di sana.

Kabar duka yang datang di keluarga inti kami semakin menguatkan hubungan. Suka duka dijalani bersama, saling menopang, saling menguatkan.

MAKIN MELEK DUNIA MAYA

Semakin lama bergelut dengan dunia maya, semakin bisa mengendalikan diri. Tidak gampang terpancing dan tidak ingin berkomentar semua hal. Semakin bisa memilih dan memilah mana saja yang layak dikomentari. Kuncinya satu sih supaya tetap waras bermedia sosial : jangan terlalu diambil hati dan tidak perlu semua hal dikomentari. Kalau sudah menggebu ingin berkomentar, tarik napas dulu lalu tinggalkan. Kalau satu hari berlalu masih kepikiran, ya silahkan berkomentar. Menjadi pengamat lebih menyenangkan buat saya. Sembari mengamati, sembari menganalisa (lalu dijadikan bahan tulisan kalau kata Dita haha). Kritis boleh, lebih baik kurang-kurangi nyinyir. Mau cari apa sih. Tapi hari pertama 2020 sudah lumayan kepancing dengan pembahasan ASI di twitter. Akhirnya ya saya kasih data saja.

Selain itu, saya semakin berhati-hati membagikan hal-hal yang berhubungan denga n pribadi dan keluarga. Pamer hal-hal yang umum saja seperti masakan atau buku atau apapun itu. Saya juga semakin jarang membagikan foto diri, berpikir akan berakhir di mana foto yang saya taruh di internet. Ngeri juga kalau berpikir sejauh itu.

Beberapa pelajaran berharga yang saya dapat dari tahun 2019 :

  1. Mengikhlaskan kehilangan, seberapapun sakitnya. Meskipun butuh waktu, perlahan untuk melepaskan yang memang dititipkan hanya sementara. Mengingat memang hanya sampai waktu tertentu saja berjodoh untuk merasakan kehadirannya.
  2. Merawat sebaik mungkin apa yang sudah ada : kesehatan, pertemanan, keluarga, dan pernikahan
  3. Bahwa kebahagiaan dalam pernikahan itu butuh diperjuangkan bersama. Tidak harus selalu bahagia setiap saat, tapi masing-masing bisa saling menopang

Begitulah catatan tahun 2018. Sekarang saatnya saya menuliskan rencana tahun 2020.

RENCANA 2020

  • MUDIK

Liburan ke Indonesia ini semacam rencana tahunan sejak tahun 2016 yang entah kapan bisa terealisasi haha. Ya sudahlah tidak apa, tiap tahun dibuat rencana. Siapa tahu 2020 bisa mudik beneran. Ada sumbangan amin?

  • KURSUS

Menyelesaikan kursus yang sudah berjalan sekarang, semoga langsung lulus ujian tidak sampai mengulang karena harganya sangatlah mahal. Selain kursus tersebut, kursus bahasa Belanda gratisan dari pemerintah juga semoga selesai tahun ini dan bisa ke langkah selanjutnya yaitu ujian bahasa Belanda level B2. Ada lagi kursus yang ingin saya ikuti berhubungan dengan pendidikan anak-anak, juga satu kursus lagi berhubungan dengan New Product Development. Kok rasanya antara kursus satu dan lainnya ga nyambung ya haha ya sudahlah tak mengapa. Tahun 2020 saya belum tahu sudah bisa mulai cari pekerjaan atau belum, jadi ingin memaksimalkan ambil kursus saja dulu.

  • BACA BUKU

Baca buku seperti biasa, ikut Reading Challenge di Goodreads. Tahun 2019 sudah lunas menyelesaikan target 50 buku, jadi 2020 mau santai, cukup target 20 buku.

  • NULIS BLOG

Nulis blog semoga masih jalan terus. Minimal seminggu sekali. Kalau tidak menulis blog rasanya ada yang hampa *tsaahh!

  • TURUN BERAT BADAN (BB) 25KG

Sebenarnya saya tidak tahu pasti sih selama dua tahun terakhir berapa kenaikan BB, setahun belakang memang sengaja tidak menimbang. Saya tulis 25kg sebagai perkiraan, bisa lebih bisa kurang. Karena 2020 sudah tidak ada alasan untuk berginuk-ginuk ria, jadi saatnya mulai atur pola makan dan makin kencang olahraga. Syukur-syukur kalau tahun ini bisa ikut Half Marathon. Cukuplah dua tahun punya badan melar haha mari kembali ke badan singset seperti sedia kala…. ini dengan catatan kalau saya ga kebanyakan rebahan ya haha.

  • JALAN-JALAN

Seperti biasa, target tidak muluk-muluk, minimal bisa mendatangi satu negara baru. Sudah ada di daftar, mudah-mudahan terlaksana. Selebihnya, ya paling mendatangi negara-negara tetangga tapi ke kota yang baru.

  • KELUARGA

Tidak ada rencana khusus di keluarga kami. Doa dari tahun ke tahun tetap sama. Semoga semuanya diberikan kesehatan yang baik, ikatan dalam keluarga selalu baik dan semakin baik, bahagia semuanya, hidup saling berdampingan dalam suka duka sampai akhir hayat.

  • TEGAK IBADAH DAN BERUSAHA BERMANFAAT

Tahun bertambah, umur berkurang, harusnya makin kencang ibadah. Tidak tahu sampai kapan diberikan kesempatan hidup, jadi lebih baik berusaha bermanfaat untuk diri sendiri, Sang Maha Pencipta dan orang-orang sekitar. Semakin berusaha keras mengendalikan nafsu merusak baik dari segi perkataan maupun perbuatan. Harus semakin kencang melakukan hal-hal yang berguna. Hidup di dunia tidak abadi.

Sejauh ini baru itu rencana saya untuk tahun 2020. Rencana-rencana lainnya akan muncul sambil jalan. Jadi, jalani saja dulu.

Cheers untuk 2020!

5CC5F1A1-D199-4D72-9EFF-6CC08BB46AA0

-2 Januari 2020-

 

 

 

 

Menutup Diri Setelah Tinggal di Luar Negeri?

Suasana kampung tempat tinggal kami

Membaca postingan  di blog ini, pendapat penulis tentang Diaspora yang disinyalir mengalami sindrom menutup diri, jadi tertarik untuk membuat tulisan dari sudut pandang saya dan berdasarkan pengalaman diri sendiri tentunya. Sejak pindah ke Belanda, seringkali saya mendengar dari kerabat, kenalan, teman di Indonesia kalau saya semakin menutup diri dan menjaga jarak dengan mereka. Ada benar dan tidaknya apa yang mereka sampaikan serta ada alasannya juga kenapa saya bersikap seperti itu. Salah satu alasan saya membuat tulisan ini adalah untuk memberikan gambaran tentang hal tersebut.

Saya nyaris 5 tahun tinggal di Belanda dan belum pulang sama sekali ke Indonesia. Jadi saat membaca penjabaran selanjutnya bisa membayangkan kondisi dan situasi saya. Tulisan ini lumayan panjang.

GANTI NOMER TELEPON

Pindah ke Belanda, artinya ganti nomer telepon. Saatnya tidak lagi bergabung dengan banyak grup WhatsApp (WA). Sampai saat ini, saya hanya punya tiga grup WA. Ya, cuma tiga. Saya membatasi berbagi nomer telepon yang baru. Hanya pada yang merasa dekat saja saya berbagi nomer telepon Belanda. Itupun ternyata beberapa kali ada yang lancang membagikan nomer tanpa sepengetahuan saya lebih dahulu.

Alasan saya tidak lagi bergabung dengan banyak grup wa, pertama karena zona waktu sudah berbeda. Kedua, karena seringnya saya tidak membaca isi grup wa yang sangat aktif. Ketiga, ya saya mau fokus dulu dengan kehidupan di Belanda. Disinilah awal mula ada beberapa komentar yang saya dengar kalau saya “mengasingkan” diri. Mereka berpikir saya tidak mau ikut grup lagi karena sudah tinggal di LN, tidak level dengan mereka yang tinggal di Indonesia. Lha, apa hubungannya ya. Tapi ya sudahlah, saya juga tidak mau repot-repot menjelaskan.

PROSES ADAPTASI YANG TIDAK MUDAH DAN JUGA TIDAK SUSAH

Saya memulai semuanya di Belanda dari nol, dari awal. Jatuh tersungkur-sungkur belajar bahasa baru, mengenal lingkungan baru, mendaftar sebagai sukarelawan untuk beberapa kegiatan supaya memperlancar bahasa Belanda, ujian bahasa Belanda sebagai syarat memperpanjang ijin tinggal, jungkir balik mencari pekerjaan, lalu dapat kerja di bidang yang baru dan sangat berbeda dengan latar belakang pendidikan maupun pengalaman kerja sebelumnya, penyesuaian terhadap cuaca, mempelajari (dan belajar panjang sabar) terhadap segala sistem birokrasi di sini, dan masih banyak lagi yang harus saya lakukan sebagai proses adaptasi. Semuanya bukan perkara yang mudah, terutama untuk bahasa dan cuaca, namun buat saya juga bukan hal yang susah. Saya fokus dengan apa yang ada sekarang, apa yang perlu saya jalani saat ini. Bukan berarti saya melupakan apa yang ada di Indonesia, tapi setiap hari di sini adalah proses adaptasi, pun sampai detik ini. Banyak hal-hal baru yang terus saya pelajari dan perlu fokus. Itu saja sebenarnya. Fokus saya sudah berbeda dengan kehidupan sebelumnya sewaktu di Indonesia. Menjadi imigran buat saya tidak mudah, karenanya saya ingin membuat lebih mudah dengan menjalani secara fokus apa yang ada sekarang dan menerapkan skala prioritas.

PERTANYAAN YANG TERLALU PRIBADI

Ada beberapa kenalan, teman, dan kerabat yang mengajukan pertanyaan atau memberikan pernyataan yang sudah jauh masuk dalam ruang privasi saya. Misalkan saja : suami kerja di mana, gaji suami berapa, beli rumah di Belanda harganya berapa, suami sholat nggak, sudah punya anak apa belum, sudah dapat apa saja dari suami (mengacu pada materi), kenapa kamu kok tidak bekerja kantoran, kenapa kok kamu sudah sekolah tinggi tapi malah tinggal di rumah, dan sebagainya dan sebagainya. Masih banyak sebenarnya, tapi tidak akan saya tuliskan semua. Pertanyaan tersebut datang dari orang-orang yang tinggal di Indonesia maupun dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Belanda. Saya merasa tidak nyaman dengan hal tersebut dan saya memilih untuk selalu mengatakan bahwa apa yang mereka katakan terlalu masuk dalam ranah pribadi saya dan saya tidak akan memberikan jawaban atau pernyataan apapun. Saya tidak berhutang penjelasan pada siapapun. Jadi, kalau saya menjaga jarak dengan mereka, bukannya tanpa sebab, melainkan karena mereka sendiri yang membuat saya berlaku seperti itu. Bertukar kabar dengan berbagi cerita yang umum saja saya sudah cukup, tidak perlu bertanya sampai jauh ke ranah pribadi.

Saya punya teman-teman baik (belum sampai level sahabat) di Belanda, tapi sangat terbatas. Tidak lebih dari jumlah jari tangan. Prioritas hidup saya saat ini (dan sejak awal di sini) bukan untuk mencari teman baru, jadi saya sudah cukup bahagia dengan teman-teman dekat yang ada sekarang. Sebenarnya sejak saya pindah ke Belanda, mencari teman bukanlah prioritas. Ada atau tidak ada teman, saya biasa saja. Saya lebih sibuk untuk adaptasi hal-hal lainnya. Semuanya mengalir dalam pertemanan, tidak pernah saya buat ngoyo. Karena itulah, saya punya teman sangat sedikit dan itu tidak jadi masalah.

Saya selalu membalas senyuman atau tegur sapa orang Indonesia yang ketemu dijalan (meskipun saya sendiri nyaris tidak pernah menegur duluan), menjawab obrolan mereka juga. Namun jika sudah terlalu jauh topik obrolannya, saya memilih tidak melanjutkan dan lebih baik permisi pergi. Saya pernah menuliskan di sini, cerita tentang mereka yang saya temui di Belanda, asal njeplak berkomentar padahal kenal (baik) saja tidak.

img_1521

LEBIH “MELEK” DENGAN YANG NAMANYA PRIVASI

Melanjutkan dari tulisan di atas, semakin bertambah umur, saya semakin melek dengan yang namanya privasi. Dulu sih semuanya saya ceritakan dan tuliskan terutama di media sosial. Semakin ke arah sini, saya semakin membatasi dan berpikir berulang kali perkara penting tidaknya mengunggah foto, status, cerita dan tulisan. Tahun 2015 saya deactive FB. Lalu tahun 2018 saya aktifkan lagi. Sejak mengaktifkan lagi, saya benar-benar menggunakan FB sebijak mungkin. Saya kurangi daftar teman yang ada di sana, hanya mereka yang sudah saya kenal yang dipertahankan. Saya makin selektif menerima permintaan pertemanan. Saya unggah sesuatu yang umum-umum saja, bahkan seringnya hanya sebagai sarana berbagi tulisan blog. Berbagi foto? seingat saya, tidak sampai 10 kali foto yang diunggah sejak FB aktif kembali.

Hal tersebut menimbulkan pertanyaan beberapa orang kenapa saya nampak terlalu menutup diri, tidak pernah mengunggah foto keluarga, tidak pernah bercerita tentang keluarga. Bahkan ada yang bertanya apakah kehidupan pernikahan saya baik-baik saja. Mungkin karena dulunya saya terlalu gampang “berbagi” di media sosial dan sekarang nampak lebih tertutup, jadi mereka menginterpretasikan bahwa kehidupan saya di Belanda tidak baik-baik saja. Padahal sebenarnya simpel : sekarang saya lebih nyaman seperti ini, tidak terlalu “obral” diri di media sosial maupun di blog, lebih nyaman dengan ruang privasi saya dan keluarga yang terjaga. Jejak digital tidak bisa dihapus, itu pegangan saya.

MENASEHATI TANPA DIMINTA PENDAPAT

Karena saya terlihat menutup diri dibandingkan sebelumnya, ada beberapa yang memberi nasihat tanpa diminta, berdasarkan asumsi mereka sendiri. Jadi semacam tebak-tebak buah manggis lalu mencoba menasehati. Misalkan : Saya tidak pernah bercerita secara detail tentang keluarga atau memasang foto keluarga, lalu ada yang berasumsi bahwa kehidupan saya di Belanda ada masalah. Lalu dinasehatilah saya bahwa kehidupan berkeluarga memang seperti itu, ada naik turunnya. Padahal, saya tidak pernah memberi komen apapun tentang asumsi yang dibuat. Karena tidak ada komentar dari saya, lalu mereka memberi cap kalau saya sombong sejak tinggal di Belanda. Padahal yang saya lakukan hanyalah tidak mau memberi ruang akan segala hal yang sudah mereka asumsikan sendiri. Saya diberi cap sombong? ya silahkan saja. Sejak di Indonesia pun saya sudah sering diberi cap sombong bahkan judes. Jadi kalau sekarang diberi cap itu lagi, rasanya ya biasa aja. Saya tidak bisa mengendalikan reaksi orang. Itu salah satu contohnya.

PERKARA JANJIAN

Beberapa kali ada teman dan kenalan dari Indonesia yang akan main ke Belanda, selalu dadakan mengajak janjian. Seringnya mereka mengajak ketemuan di Amsterdam. Tempat tinggal saya ke Amsterdam lumayan jauh, sekitar 1.5 jam naik transportasi umum. Pertama, Belanda itu negara kecil dan transportasi di Belanda seringnya tepat waktu (karena ada masanya tidak tepat waktu juga karena kendala teknis). Jadi, jarak tempuh 1.5 jam itu adalah waktu yang lumayan lama. Kedua, transportasi umum di Belanda itu mahal. Jadi biasanya kalau akan pergi jauh, saya mencari info lebih dahulu apakah ada tiket kereta yang dijual murah (banyak promo tentang ini). Meskipun saya menggunakan kartu abonemen (yang akan mendapat diskon 40% jika naik kereta), tapi jika dihitung akan lebih murah menggunakan tiket promo, ya saya menggunakan tiket promo. Belanda ini negara mahal, jadi kalau ada banyak cara untuk bisa hidup hemat, kenapa tidak ya kan.

Alasan ketiga, kami tinggal di Belanda semua dikerjakan berdua. Bukan berarti dengan saya tidak bekerja kantoran lalu saya banyak waktu senggang lalu bisa mengajak ketemuan dadakan. Setiap hari saya sudah punya rencana apa saja yang harus saya kerjakan. Saya sudah terbiasa membuat janjian jauh hari, wong mau makan bakso saja musti janjian paling tidak sebulan sebelumnya. Jadi kalau dadakan, seringnya saya tolak.  Kalau ketemuannya di kota terdekat, akan saya pertimbangkan.

Lalu tanggapan yang saya terima, dibilang saya terlalu londo, terlalu kaku padahal di Indonesia dulu tidak begitu. Mereka lupa, bahwa saya tinggal di Belanda hampir 5 tahun dan sudah menyesuaikan (nyaris) semuanya dengan tempat tinggal saat ini. Ya, lalu bagaimana saya menjadi tidak “terlalu londo?” *sudah terbaca belagu belum.

MEMBATASI DAN MENJAGA JARAK, BUKAN MENUTUP DIRI

Dari semua hal yang saya jabarkan di atas, jika banyak yang mengatakan saya menutup diri, mungkin bagi mereka nampak seperti itu. Saya membatasi dan menjaga jarak dengan orang-orang yang tidak saya kenal baik yang berada di Indonesia maupun orang-orang Indonesia yang ada di Belanda. Buat saya, jumlah teman tidaklah penting. Yang lebih penting adalah kualitasnya. Keluarga, teman-teman dekat, sahabat yang ada sekarang (cuma 4 orang yang semuanya ada di Indonesia), sudah lebih dari cukup. Mereka tidak pernah terlalu mencampuri urusan pribadi, sayapun berlaku sama. Kami tahu batasan masing-masing. Kami saling menanyakan kabar terbaru, cerita terbaru, dan sering juga mengirimkan foto terbaru. Hanya dengan mereka saya merasa nyaman berbagi cerita yang ingin saya bagi. Lalu kalau ada yang bilang saya menutup diri, artinya saya tidak dekat dengan mereka.

Jadi jika ada yang tidak mengenal saya dengan baik lalu berasumsi sendiri tentang kehidupan saat ini, ya monggo. Sekali lagi, saya tidak berhutang penjelasan detail pada siapapun. Yang terpenting, saya tidak pernah menutup diri, hanya membatasi dan menjaga jarak, melakukan hal yang membuat nyaman. Berteman dengan mereka yang saling menyamankan, berbagi kabar pada keluarga yang membuat saya merasa nyaman, dan berbagi hal-hal yang seperlunya saja di media sosial. Rasanya motto yang cocok dengan hidup saya sejak tinggal di Belanda adalah : bertindak, berbicara, dan nyetatus seperlunya saja.

-21 Oktober 2019-

 

Handal Pekerjaan Rumah Tangga yang Mana?

http://courageouscolleen.blogspot.nl/2013_09_01_archive.html

Hari senin kemaren akan saya ingat sebagai salah satu hari bersejarah dalam hidup. Pasalnya, saya akhirnya bisa juga mengerjakan salah satu pekerjaan rumah tangga yang tidak terlalu saya sukai karena merasa tidak handal (berdasarkan dari hasil yang lalu-lalu, tidak memuaskan). Memasang seprei (dan kurungan selimut) adalah salah satu pekerjaan RT yang saya tidak suka. Sejak jaman ngekos, entahlah kenapa kalau pasang seprei selalu tidak rapi. Mencong sana sini. Mau dipakai peniti atau sepreinya sudah ada karetnya, tetap saja mencang mencong tak rapi. Mungkin karena saya tidak telaten.

Berbeda dengan suami, dia bisa rapi jali kalau pasang seprei. Betul-betul rapi seperti di hotel. Karenanya selama ini urusan ganti seprei saya serahkan ke dia. Nah beberapa waktu ini, dia memang sedang sibuk. Dan lagi, ada orang yang kerja bersih-bersih di rumah, jadi sekalian saya minta tolong mbak tersebut buat ganti seprei. Karena ada masalah, mbak tersebut tidak kerja lagi dengan kami. Terpaksalah saya yang ganti seprei karena sudah waktunya diganti. Membayangkan saja saya sudah capek dan pengen ngunyah martabak telor *alesan, padahal ya aslinya pengen makan.

Singkat cerita, ternyata saya bisa. Hasilnya lumayan rapi meskipun tidak selicin kalau suami yang pasang. Bener-benar saya langsung bangga pada diri sendiri haha. Pasang seprei bisa jadi pencapaian hidup saat ini. Kalau terpaksa, apapun mendadak jadi bisa.

Selain pasang seprei, pekerjaan RT lain yang saya tidak suka adalah ngosek kamar mandi dan wc. Untunglah di sini kamar mandinya kering pakai shower, jadi tidak perlu nguras bak mandi. Nah ini suami juga kinclong banget kalau mengerjakan. Semacam sangat menghayati kalau sedang membersihkan kamar mandi dan WC. 

Ada beberapa pekerjaan RT yang saya memang tidak suka dan tidak memaksakan untuk suka. Ternyata suami yang lebih handal. Di rumah kami, semua kami lakukan berdua. Jadi tidak ada tuh yang ongkang-ongkang kaki sementara yang lainnya bersih-bersih. Prinsipnya adalah rumah ditempati bersama ya dirawat dan dibersihkan bersama. Pernah saya tuliskan tentang hal ini ditulisan ini. Namun, meskipun sudah ada bagian siapa mengerjakan apa, tapi hal tersebut tidak saklek. Kalau ada yang tidak bisa, ya yang bisa mengerjakan. Yang penting rumah tidak sampai berantakan. 

Pekerjaan RT yang saya suka selain memasak dan beres-beres rumah (termasuk nyapu dan ngepel) adalah menyetrika. Saking sukanya dengan menyetrika, sampai serbet pun saya setrika haha. Kalau menyetrika saya bisa semacam meditasi. Jadi bisa ada ide-ide yang keluar dan bisa dapat inspirasi. Oh ya, meskipun saya suka masak, tapi saya tidak suka mencuci perkakas yang dipakai masak. Meskipun ada mesin cuci piring, tapi untuk peralatan masak yang besar tidak kami masukkan ke situ. Biasanya suami yang dengan sukarela mencuci peralatan masaknya (kalau pas dia di rumah ya).

http://courageouscolleen.blogspot.nl/2013_09_01_archive.html

Saking saya doyan dengan bersih-bersih dan kayaknya setiap saat selalu ngelap-ngelap, suami sering nyelutuk,”ga usah lah rumah terlalu bersih. Ini bukan museum, jadi kotor ya wajar.” Haha iya bener sih, memang bukan museum. Tapi mata gatel kalau ada yang kotor.

Kalau kalian gimana, handal dipekerjaan RT yang mana dan yang tidak disukai apa? Partner kalian ikut bareng-bareng ngerjain pekerjaan RT ga? 

Oh ya, selamat mudik ya buat yang mudik. Semoga selamat sampai tujuan berkumpul dengan keluarga besar merayakan Idul Fitri. Selamat liburan juga. Kalau makan opor dan hidangan lebaran lainnya, tolong ingat saya, di sini ga masak apa-apa minggu depan haha. Lebaran sepi seperti biasa. 

-Nootdorp, 29 Mei 2019-

Ramadan Kelima di Belanda

Biasanya saya menuliskan tentang pengalaman Ramadan selalu menjelang akhir Ramadan atau saya jadikan satu dengan cerita Idul Fitri. Tapi kali ini saya menuliskan di awal dan mudah-mudahan diakhir Ramadan dan cerita Idul Fitri tahun ini bisa saya tuliskan juga.

Tanggal 6 Mei sudah mulai puasa Ramadan. Selalu, ada rasa haru, sedih, serta rindu suasana Ramadan di kampung halaman bersama keluarga di Indonesia. Rindu taraweh bersama, rindu mendengar bedug Maghrib dari Masjid, rindu mendengar khataman Al Quran dari Musholla, rindu buka puasa bersama, rindu masakan Ibu selama Ramadan, bahkan rindu berburu gorengan dan berbagai jenis es ketika ngabuburit. Yang saya tidak terlalu rindu adalah buka puasa bersama di mall karena antrinya panjang, tempatnya rame, sholat maghribnya terburu-buru. Sebagai perantau, saya tahu konsekuensinya jika jauh seperti ini, ya pasti merindukan kebiasaan-kebiasaan menjelang dan selama Ramadan.

Tahun ini adalah Ramadan kelima di Belanda dan akan menjadi tahun ketiga saya tidak menunaikan puasa selama Ramadan. Semoga tahun depan saya sudah bisa kembali berpuasa ketika Ramadan dan hutang-hutang puasa bisa saya cicil pelan-pelan.

Buat yang menjalankan puasa Ramadan, semoga lancar, berkah, sehat-sehat terus dan diijabah doa-doa yang dipanjatkan. Buat yang berpuasa di negara dengan durasi Ramadannya panjang (di Belanda tahun ini sekitar 18.5 jam), semoga dikuatkan dan istiqomah. Cuaca di Belanda nampaknya tidak terlalu panas selama Ramadan ini (kayaknya ya, karena kemaren cuacanya super labil. Sebentar hujan, panas, angin, hujan es, repeat sampai seharian. Ini bulan Mei lho masih saja hujan es deras. Bahkan saat menulis ini, di luar mendung dan hujan. Saya sudah kangen sekali cuaca hangat).

Maaf lahir batin dari saya jika ada khilaf dalam berkomentar ataupun tidak berkenan maupun tidak sependapat dengan postingan yang ada di blog ini (maupun di media sosial lainnya). Berbeda pendapat tidak masalah yang penting tidak memecah belah. Semoga yang mempunyai kesulitan dibukakan pintu kemudahan untuk menyelesaikannya dan Ramadan membawa berkah.

Selamat berpuasa!

-Nootdorp, 5 Mei 2019-

Koningsdag 2019

Kinderrommelmarkt
Pasang Bendera depan rumah Pasang Bendera depan rumah

Koningsdag tahun ini jatuh pada hari Sabtu. Jika bertepatan dengan hari kerja, maka hari dimana raja berulangtahun tersebut menjadi hari libur nasional. Ada yang berbeda tahun ini, biasanya pesta pada Koningsnacht hanya berlangsung malam itu saja, tetapi di Den Haag panggung musiknya berlangsung sampai keesokan harinya. Sungguhlah pesta raja ini meriah sekali (nampaknya ya, karena Koningsnacht tahun ini tentu saja saya selonjoran saja di rumah, saya hanya mendapatkan cerita dari sepupu yang melihat langsung di Den Haag).

Rumah-rumah memasang Bendera dan satu bendera Orange. Rumah kami? Tentu saja tidak memasang, wong tidak punya Bendera Belanda.

Kinderrommelmarkt Kinderrommelmarkt

Tentu saja yang kami nantikan jika Koningsdag adalah berburu barang bekas. Karena Koningsdag identik dengan pasar barang bekas atau disebut Rommelmarkt. Seperti tahun lalu (ceritanya bisa dibaca di sini), kali ini kami hanya pergi ke perayaan yang diadakan di kampung tempat tinggal kami. Namun karena cuaca sungguhlah tidak bisa ditebak maunya apa karena sebentar hujan, angin kencang, lalu muncul matahari dan panas, lalu hujan lagi, ulang berkali-kali (Cuaca asli Belanda yang bisa berubah suka-suka), kami nyaris membatalkan rencana berburu barang bekas. Ternyata setelah makan siang, matahari muncul sekelebatan.

Permainan untuk anak, gratis Permainan untuk anak, gratis

Mungkin karena diprediksi akan badai, saya lihat penjual barang bekasnya tidak sebanyak tahun lalu. Oh ya, di kampung kami, barang bekas yang dijual khusus barang anak-anak, karenanya pasarnya disebut Kinderrommelmarkt yang artinya pasar barang bekas anak-anak. Jangan dibayangkan barang bekasnya sudah jelek sekali ya. Meskipun disebut bekas tapi kondisinya masih bagus dan tentu saja harganya sangatlah murah bahkan ada banyak barang diberikan secara gratis.

Permainan untuk anak, gratis Permainan untuk anak, gratis

Senang dan menggemaskan melihat anak-anak kecil diajari berjualan oleh orangtuanya. Jadi ingat cerita Yayang di blognya tentang anak-anaknya yang berjualan mainan mereka dan semuanya ludes terjual. Pembelajaran yang bagus juga buat anak-anak supaya berani berkomunikasi dengan orang baru, melatih negoisasi, dan berlatih berhitung juga.

Sama juga seperti tahun lalu, ada panggung hiburan, beberapa permainan anak yang disediakan secara gratis, dan tak lupa stan-stan makanan. Meskipun diguyur hujan, semua tetap bersenang-senang. Kami akhirnya pulang membawa beberapa barang yang kami butuhkan. Semoga tahun depan kami bisa berpartisipasi berjualan di sini karena ada beberapa barang yang siap untuk dijual.

-Nootdorp, 28 April 2019-

Akhir Musim Dingin (yang Hangat)

Buah-buah tropis yang aduhai mahal harganya

Hari ini adalah terakhir musim dingin. Besok sudah mulai masuk Maret yang artinya musim semi. Beberapa hari terakhir (tepatnya sejak sabtu minggu lalu), cuaca mulai menghangat sampai 18ºC. Agak aneh sih untuk ukuran musim dingin. Aneh dan membingungkan. Meskipun tak dapat dipungkiri saya senang ya dengan suhu hangat seperti ini yang artinya hasrat petakilan bisa tersalurkan, tapi saya juga khawatir bagaimana dengan musim panas nanti. Karena tahun kemaren, saya ingat betul suhu mulai menghangat ketika memasuki awal April dan musim panas benar-benar parah panasnya dan berlangsung panjang. Jadi kalau akhir Februari saja sudah mulai menghangat, siap-siap musim panas tahun ini akan lebih panjang, lama dan makin panas.

Karena sepupu saya sudah datang sejak minggu kemaren (dan akan tinggal di sini sampai tiga bulan ke depan) dan cuaca sedang hangat, maka saya ajak dia untuk jalan-jalan ke kota-kota sekitar Den Haag. Dimulai dengan ke pasar Haagse Markt haha. Ya karena dekat dengan rumah dan saya ingin menunjukkan ke dia bagaimana pasar tradisional di Belanda ditambah lagi memang ada banyak yang akan saya beli. Pengalaman pertama dia jalan-jalan di Belanda, ke pasar. Dia sampai terbengong melihat betapa pasar ini luas sekali dan betapa ragam barang yang dijual banyak. Dari pasar becek sampai pasar kering. Dan tentu saja membandingkan harga dengan di Indonesia.

Hari Sabtu saya ada acara di Gouda. Undangan kumpul-kumpul dari anggota Mbakyurop cabang Belanda. Tapi sejatinya yang datang malah bukan hanya dari Belanda tapi juga dari Belgia, Jerman, dan Perancis. Waahh seruuu kumpul-kumpul kali ini karena bukan hanya pasokan makanan yang melimpah ruah, tapi juga berkesempatan bertemu beberapa orang yang selama ini hanya ngobrol lewat whatsapp saja. Rurie sebagai tuan rumah (pemilik katering @kioskana -akun IG nya-), benar-benar menjamu kami dengan suguhan masakan yang enak sekali. Belum lagi tambahan yang lainnya juga membawa makanan. Makin melimpah ruahlah makanan sampai acara bungkus membungkus saat waktu pulang tiba, bingung mau bawa pulang apa saking banyaknya haha.

Saya pun bertemu lagi dengan Anis setelah terakhir ketemu lebih dari satu tahun lalu saat Anis ke rumah. Diberi hadiah lagi oleh Anis, jadi senang saya haha. Terima kasih ya Anis. Bertemu lagi juga dengan Maureen dan Patricia. Wah pokoknya ramai dan seruuu sabtu lalu. Tidak hanya makan-makan di rumah, kami juga menyempatkan ke pusat kota Gouda yang hanya selemparan kolor dari rumah Rurie. Rombongan rame-rame ke sana jadi seperti rombongan turis. Dan kok ya pas ada pasar di pusat kotanya. Saking berkesannya acara kemaren, kami sudah membuat rencana lagi ketemuan selanjutnya di mana. Tidak Sabar!

Keriaan di Gouda
Keriaan di Gouda

Beberapa hari kemudian berturut-turut saya (bersama sepupu saya tentu saja) menjelajah beberapa kota. (Delft, Den Haag, Rotterdam) sejak pagi sampai sore baru kembali ke rumah. Jadi kalau dihitung, total jalan kaki kami perhari minimal 10km dan sampai 15km. Lumayanlah melemaskan kaki. Senang sekali saya bisa mengajak dia keliling dengan cuaca cerah seperti ini. Sekaligus menjelaskan sistem transportasi di Belanda, jadi nanti kedepannya dia bisa jalan-jalan sendiri keliling Belanda bahkan ke negara tetangga.

Tujuan kami sewaktu ke Rotterdam adalah Markthal dan Rumah Kubus. Sewaktu kami ke sana, ada pasar rame sekali. Saya pikir pasar kaget. Ternyata kata Yayang itu namanya pasar Blaak dan memang selalu ada setiap hari selasa dan sabtu. Owalaahh saya baru tahu itu namanya pasar Blaak padahal sering dengar haha. Sayang sekali saya tidak janjian dengan Yayang padahal waktu itu ternyata berada di lokasi yang sama dengan dia dan si Kembar. Volgende keer ya Yang!

Lalu kami ke Den Haag, muter-muter pusat kota, menunjukkan Binnenhof dan danaunya lalu berakhir cari makan di restoran Indonesia. Saya makan bakso beranak (pake nasi), sepupu saya makan soto betawi. Bakso beranaknya rasanya ya biasa saja. Malah enak bakso buatan Rurie.

Keesokan harinya, karena saya ada jadwal ke RS di Delft, jadi sekalian saya ajak sepupu ke Delft. Kota favorit saya ini. Tempat nongkrong favorit, depan gereja sambil berjemur menikmati sinar matahari. Intinya saya benar-benar memanfaatkan sinar matahari yang cerah ceria beberapa hari ini.

Jalan - jalanke Rotterdam, Den Haag, dan Delft
Jalan – jalanke Rotterdam, Den Haag, dan Delft

Ada satu cerita kocak saat kami ke Markthal yang ada di Rotterdam. Ada satu stan yang menjual buah-buah tropis. Lebih lengkaplah dibandingkan Haagse Markt buah tropisnya sampai Manggis dan salak pun ada. Nah, saya tunjukkan ke sepupu sambil bilang harganya sekian per buahnya. Dia berkali-kali istighfar melihat harganya. Shock sambil bilang “Buset dah, ketelen itu ya makan Manggis seperempat kilo harganya €5, buah naga satu biji harganya €4. Di sana mah rambutan tinggal petik di halaman, buah naga sekilo ma belas rebu. Set dah! Ntar balik ke sana aku ga akan sia siakan lagi buah buahan ini. Ingat-ingat harga di sini” Hahaha langsung tobat dia. Saya terus terang meskipun ngiler-ngiler ingin makan buah naga sejak pertama kali tinggal di sini, tapi ga pernah kesampaian karena melihat harganya mendadak langsung kenyang. Nanti pas liburan ke Indonesia, saya puas-puasin makan apa yang tidak kesampaian makan di sini karena mahal. Maka bagi kalian yang tinggal di Indonesia, berlimpah ruah buah-buah tropis lokal, manfaatkanlah dan bersyukurlah dengan makan buah sebanyak-banyaknya. Ingatlah kami di sini terkadang cuma bisa ngiler menahan hasrat untuk beli karena harganya mahal.

Buah-buah tropis yang aduhai mahal harganya
Buah-buah tropis yang aduhai mahal harganya

Itulah sekilas cerita seminggu terakhir musim dingin tahun ini. Maret akan datang, saya antusias menyambutnya. Mudah-mudahan meskipun cuaca jadi tidak karuan begini, musim panas nanti tidak menyengat sekali. Pada foto di bawah ini, perbedaan musim dingin tahun lalu dibandingkan tahun ini pada tanggal yang sama. Tahun lalu bersalju dan tahun ini suhu hangat 11ºC. Ngeri ya, pemanasan global itu nyata.

Perbandingan cuaca pad tanggal yang sama ditahun yang berbeda
Perbandingan cuaca pad tanggal yang sama ditahun yang berbeda

Selamat hari Jumat, selamat berakhir pekan, semoga keberkahan dan kebahagiaan menyertai kita semua. Selamat datang Maret!

-Nootdorp, 28 Februari 2019-

De Haagse Markt Den Haag – Salah Satu Pasar Tradisional Terbesar di Eropa

De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Ontong (jantung pisang) pun ada

Sebelumnya saya sudah pernah menulis tentang Haagse Markt di sini . Pada tahun 2015 tersebut, pasar ini belum direnovasi secara besar-besaran. Selang beberapa waktu kemudian Hagse Markt mengalami renovasi selama beberapa bulan. Hasilnya, pasar ini semakin bagus dan tertata rapi.

De Haagse Markt - Den Haag - Belanda
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Ontong (jantung pisang) pun ada
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Ontong (jantung pisang) pun ada

Sesuai namanya, De Haagse Markt yang artinya pasar Den Haag, letaknya berada di kota Den Haag, Belanda. Pasar Tradisional ruang terbuka ini terbesar se-Belanda dan salah satu terbesar se-Eropa. Panjangnya lebih dari 500 meter dengan jumlah stan tak kurang dari 500. Stan-stan yang ada di sini merupakan pertemuan dari berbagai budaya. Karenanya, Haagse Markt juga disebut sebagai pasar pertemuan berbagai macam budaya. Dari Asia (Thailand, Indonesia, Vietnam, Malaysia dll), Turki, Belanda, Maroko dan masih banyak lainnya.

Stan-stan yang ada di sini tidak hanya menjual sayuran, buah, daging ataupun ikan. Bukan hanya pasar basah, melainkan juga pasar kering seperti menjual kain, mainan anak-anak, berbagai macam warung makanan jadi, toko menjual baju-baju muslim. Istilahnya pasar ini komplit se komplit-komplitnya. Mau apapun ada. Yang saya sertakan fotonya dalam tulisan kali ini adalah pada bagian pasar basah karena biasanya kalau ke pasar ini, saya langsung menuju bagian belakang pasar yaitu pasar basah.

Pengunjungnya, kalau hari biasa bisa mencapai 40.000 orang dan akhir pekan bisa mencapai 60.000 orang.

Di Haagse Markt, selain bisa dijumpai berbagai sayuran yang tidak asing bagi saya yang datang dari Indonesia seperti daun kelor, klentang, kluwih, sampai belimbing wuluh. Harganya pun sangat terjangkau dibandingkan dengan supermarket tentunya. Bahkan super murah. Ada banyak sayuran dan buah yang ditaruh tempat, di sini menyebutnya “bak” itu harganya 1 euro. Tidak memandang berapapun banyaknya selama ditaruh dalam bak, harganya 1 euro (seperti dalam foto-foto di bawah). Awal ke Haagse Markt, saya sering kalap membeli yang serba 1 euro ini. Lama-lama sudah bisa menguasai diri, tidak gampang khilaf lagi haha.

De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Kalau dalam wadah seperti ini, harganya 1 euro
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Kalau dalam wadah seperti ini, harganya 1 euro
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Kalau dalam wadah seperti ini, harganya 1 euro
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Kalau dalam wadah seperti ini, harganya 1 euro
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Kalau dalam wadah seperti ini, harganya 1 euro
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Kalau dalam wadah seperti ini, harganya 1 euro

Haagse Markt buka setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Sabtu dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore. Konon katanya kalau sudah sore, banyak sayur dan buah yang diobral harganya jadi super murah. Saya tidak pernah ke pasar ini sore karena biasanya jam setengah 10 pagi saya sudah sampai di sini. Karena semakin siang, semakin ramai. Saya menghindari pasar ramai karena gampang pusing kalau lihat orang banyak.

De Haagse Markt - Den Haag - Belanda
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Kelengkeng dan belimbing? Jangan khawatir, adaa
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Kelengkeng dan belimbing? Jangan khawatir, adaa
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Kluwih dan sukun? Adaa
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Kluwih dan sukun? Adaa
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Salah satu stan langganan karena bisa beli cabe rawit 1kg hanya 4 euro saja. Surga!
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Salah satu stan langganan karena bisa beli cabe rawit 1kg hanya 4 euro saja. Surga!
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Salah satu stan langganan yang lain karena hanya di stan ini yang menjual belimbing wuluh
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Salah satu stan langganan yang lain karena hanya di stan ini yang menjual belimbing wuluh
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Daun kelor pun ada
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Daun kelor pun ada

Pasar ini terletak di area Herman Costerstraat, Den Haag. Tahun 2018 Haagse Markt tepat 80 tahun sejak berdiri tahun 1938. Menuju pasar ini sangatlah mudah karena dilewati oleh tram no. 6, 11, 12 dan bus 25 turun di Halte Haagse Markt (bagian depan pasar). Dan bisa juga dengan tram no. 11, 12 dan bus no 50, 51 turun di halte Hoefkade (bagin belakang pasar). Selain menggunakan transportasi umum, parkir sepeda di pasar ini juga sangat besar serta gratis. Parkir kendaraan pribadi juga sangat luas.

Selain bagian sayuran dan buah, salah satu bagian favorit saya lainnya adalah stan-stan yang menjual ikan-ikan segar. Tips yang saya dapat dari penjual ikan di sini, ikan segar datang setiap hari Jumat. Jadi biasanya hari Jumat ikan-ikan yang dijual masih segar langsung datang dari pelabuhan. Tips yang lain, ada banyak ikan yang dijual murah dalam bak, itu harganya 5 euro. Yang dalam bak ini juga ikan-ikan segar. Kategori ikan segar di sini maksudnya yang masih belum masuk freezer.

De Haagse Markt - Den Haag - Belanda Stan ikan.
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda Stan ikan.
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda Stan ikan.
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda Stan ikan.
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda Stan ikan. Ini yang saya maksud, dalam bak harganya 5 euro
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda Stan ikan. Ini yang saya maksud, dalam bak harganya 5 euro
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda Stan ikan. Ini yang saya maksud, dalam bak harganya 5 euro
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda Stan ikan. Ini yang saya maksud, dalam bak harganya 5 euro
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda Stan ikan. Ikan lele pun ada
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda Stan ikan. Ikan lele pun ada

Nah, yang terakhir ini juga stan favorit saya. Penjual daging halal, karena di stan ini bisa pesan bagian-bagian seperti di Indonesia seperti otak sapi, babat, lidah, paru, bahkan kaki sapi. Saya tidak pernah pesan bagian -bagian tersebut. Tapi saya sering beli bebek yang sama kayak di Indonesia dan ceker ayam di sini. Otak sapi pernah beli juga untuk saya masak gulai, tapi bukan saya yang makan karena tidak doyan

De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Penjual daging halal
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Penjual daging halal
De Haagse Markt - Den Haag - Belanda. Penjual daging halal. Lidah sapi dan kaki sapipun mulus putih haha
De Haagse Markt – Den Haag – Belanda. Penjual daging halal. Lidah sapi dan kaki sapipun mulus putih haha

Bagaimana, serasa bukan di Belanda ya pasarnya. Sama lah dengan pasar becek di Indonesia cuma di sini lebih bersih dan rapi. Ini saya bandingannya dengan pasar becek di kota saya berasal. Kalau di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia, pasar beceknya sudah bersih dan rapi kayaknya. Saya sangat senang dengan keberadaan Haagse Markt. Selain letaknya tidak terlalu jauh dari rumah kami, harganya yang murah, juga jadi tempat pelipur lara kalau lagi bosan di seputaran rumah. Saya biasanya ke sini cuma beli beberapa barang, selebihnya jalan-jalan saja keliling pasar. Pulang-pulang hati sudah riang gembira. Saya juga sering mempromosikan pasar ini ke teman-teman dan kenalan yang di Belanda. Mereka tertarik, datang, dan kalap ingin dibeli semuanya. Bahkan sewaktu Ibu selama 3 bulan di rumah kami, sering ke pasar ini sendirian naik tram. Biasa di desa ke pasar kan ya, begitu tau ada pasar tradisional di Belanda, jalan-jalannya tetap ke pasar haha. Jangan lupa kalau misalkan lewat Den Haag, kunjungi pasar ini. Pesan saya cuma satu, jangan kalap!

Muka gembira bersama teman yang kena kompor datang dari Rotterdam khusus ke Haagse Markt. Saya gembira ada daun kelor, dia gembira karena bisa beli kedondong dan terong hijau. Gembira itu gampang ternyata haha
Akhir tahun 2018. Muka gembira bersama teman yang kena kompor datang dari Rotterdam khusus ke Haagse Markt. Saya gembira ada daun kelor, dia gembira karena bisa beli kedondong dan terong hijau. Gembira itu gampang ternyata haha

Satu yang saya rindukan, setelah belanja tidak bisa makan soto atau gule atau sate kambing karena tidak ada yang jualan di pasar ini haha. Kalau di Indonesia, biasanya setelah belanja bisa ke bagian penjual makanan lalu marung Soto atau sate atau gulai kambing haha. Duh kok jadi lapar malam-malam gini ngomongin gulai kambing. Ada sih di pasar ini warung Indonesia, bahkan menunya ada dawet juga. Ya disyukuri saja yang ada depan mata. Masih untung bisa makan es dawet, ya kan.

-Nootdorp, 17 Februari 2019-

Minibieb : Perpustakaan Mini di Belanda

Minibieb

Dalam bahasa Belanda, perpustakaan adalah Bibliotheek atau sering disingkat Bieb (baca : Bib). Nah jika diartikan, Minibieb adalah perpustakaan mini. Maksudnya gimana nih? Jangan dibayangkan perpustakaan mini adalah sebuah ruangan kecil yang penuh dengan buku dan kita bisa meminjam buku-buku tersebut. Perpustakaan mini di Belanda adalah sebuah lemari kecil berkaca (biasanya dua atau tiga rak atau bahkan ada yang lebih besar) yang di dalamnya berisi buku-buku (kebanyakan dalam bahasa Belanda). Lemari buku ini dibuat oleh perorangan atau komunitas atau bahkan perusahaan dan diletakkan di tempat-tempat strategis yang dilewati orang-orang, misalnya di pinggir jalan besar, depan rumah, pojokan jalan  bahkan di taman bermain luar ruangan atau tempat di ruang publik lainnya. Yang saya lihat selama ini seringnya diletakkan di depan rumah orang yang mempunyai inisiatif membuat minibieb.

Minibieb
Minibieb di depan rumah

Lemari kaca yang berisi buku-buku ini tidak dalam keadaan terkunci. Jadi siapa saja bisa meminjam dan mengembalikan kapanpun setiap saat. Bahkan, siapapun juga bisa meletakkan buku yang sekiranya sudah tidak ingin mereka simpan lagi di rumah. Karena tidak dikunci, jelas sistemnya saling percaya. Yang meminjam nanti akan mengembalikan lagi jika sudah selesai membaca, yang mempunyai minibieb percaya bahwa buku-buku yang diletakkan akan dikembalikan atau bahkan diganti dengan buku lainnya. Apakah pernah ada kejadian minibieb ini dicuri atau tiba-tiba menghilang? Yang saya tahu, tetangga dekat rumah pernah kehilangan minibiebnya. Tapi beberapa hari kemudian ditemukan di sungai dekat rumah juga. Buku-buku masih ada lengkap di dalamnya. Jadi tidak tahu sebenarnya motivasi orang yang mengambil minibieb ini apa. Mungkin kejadian ini hanya satu dari banyak yang aman karena selama ini saya tidak pernah membaca tentang pencurian minibieb.

Minibieb
Minibieb

Lemari kaca bisa dibuat sendiri maupun membeli, tergantung lebih mudahnya bagaimana. Yang saya taruh foto-fotonya di sini adalah minibieb yang ada di sekitaran rumah, jadi lemarinya tidak terlalu besar. Namun beberapa kali saya melihat minibieb yang diletakkan di pinggir jalan raya besar itu lemarinya besar, ya seperti lemari baju berkaca berisi penuh buku. Menurut saya konsep ini sangat menarik. Jadi orang-orang yang kebetulan melewati dan punya keinginan membaca buku tidak perlu jauh-jauh untuk meminjam buku ke perpustakaan. Saya sering meminjam buku di minibieb yang ada di sekitar rumah. Seringnya buku cerita anak. Meskipun jarak rumah ke perpustakaan juga tidak terlalu jauh (hanya sekitar 200 meter dan saya sering ke sana), tapi meminjam buku-buku di minibieb dekat rumah juga mengasyikkan karena ragam bukunya juga banyak.

Minibieb
Minibieb di pinggir jalan untuk sepeda

Seiring makin banyaknya minibieb, sekarang tak kurang ada 900 jumlahnya yang tersebar di seluruh Belanda. Data ini saya baca dari portal berita AD. Tidak hanya jumlahnya yang makin bertambah sejak pertama kali minibieb ada yaitu tahun 2009, namun fungsinya saat ini juga mulai meluas tidak hanya sebagai perpustakaan mini untuk buku. Beberapa lemari kaca ini selain untuk menaruh buku, juga kadang ditemukan beberapa makanan atau bunga atau camilan yang bisa diambil juga secara gratis. Atau kalau misalkan ada yang ingin menaruh makanan di lemari ini juga bisa. Makin menarik saja fungsi dari minibieb dewasa ini.

Minibieb
Minibieb

Saya pernah mengutarakan pada suami tentang keinginan untuk memiliki minibieb di depan rumah. Jadi lumayan bisa menaruh beberapa koleksi buku yang ada di rumah dan bisa dipinjam untuk dibaca oleh mereka yang melintas depan rumah kami. Mungkin tahun depan mulai direalisasikan. Informasi tentang minibieb bisa dibaca pada website resminya.

Ada yang tertarik menerapkan konsep ini di lingkungan tempat tinggalnya? atau mungkin ada yang sudah punya di rumahnya?

-Nootdorp, 10 Februari 2019-

Empat Tahun di Belanda : Tentang Perkembangan Bahasa Belanda

Jalan kaki satu jam menjelang makan siang. Lalu makan soto (di rumah, bukan abang gerobak) dilanjutkan leyeh-leyeh baca buku menuju waktu tidur siang

Saat menulis ini, persis empat tahun sejak kedatangan saya di Belanda, untuk pindah dan menetap. Empat tahun berlalu, rasanya seperti baru beberapa bulan lalu saya sampai Schiphol, membawa hampir 60kg koper dan tas dari Indonesia. Memantapkan hati memulai hidup baru di negara yang hanya pernah saya kunjungi sekali sebelumnya, sebagai turis, selama hanya dua minggu. Kedatangan empat tahun lalu berbeda, bukan lagi sebagai turis tetapi sebagai seseorang yang memutuskan meletakkan semua yang ada di Indonesia. Berniat tidak akan menoleh lagi apa yang sudah dirintis, didapat, dan apapun yang sudah dipunya. Memulai segalanya dari nol. Meminimalisir segala keluh kesah jika memang ternyata kenyataan tidak sesuai harapan karena keputusan pindah datang dari diri sendiri. Hidup dan menikmati waktu bersama suami tercinta walaupun saat itu tidak terpikir untuk membangun keluarga lengkap dengan menghadirkan anak. Tidak tercetus keinginan punya anak, pada saat itu.

Empat tahun berlalu. Apakah terasa? satu tahun pertama, sangat terasa. Bukan karena perkara jauh dari keluarga di Indonesia atau rindu akan makanan Indonesia. Saya sudah jauh dari keluarga saat merantau pertama kali sejak umur 15 tahun. Jadi jauh dari keluarga sudah biasa. Kangen dengan makanan Indonesia juga bukan permasalahan utama karena di kota tempat saya tinggal waktu itu, restoran Indonesia tinggal tunjuk jari saja asal bayar setelahnya dan menemukan bahan untuk memasak makanan Indonesia segampang menjentikkan jari tangan. Kendala utama saat itu adalah perbedaan bahasa dan cuaca yang bisa berubah 4 musim dalam satu hari.

Meskipun orang Belanda banyak yang bisa berbahasa Inggris, tapi buat saya belajar dan bisa berkomunikasi dengan bahasa Belanda adalah harus. Kenapa saya bilang harus? ya karena saya tinggal di sini, sehari-hari bertemu dan melakukan aktivitas dengan penduduk setempat (misalkan ke Supermarket, ke dokter, atau sekedar jalan-jalan ke taman kalau berpapasan saling mengucapkan salam). Selain itu, karena saya harus menyelesaikan ujian integrasi yang hanya diberi waktu 3 tahun sejak kedatangan. Dan tujuan lain kedepannya tentu saja untuk membuka kesempatan mendapatkan pekerjaan seluas mungkin.

Mempelajari bahasa di mana kita tinggal itu banyak keuntungannya. Ya paling nggak kita jadi bisa membaca koran (jadi bisa tahu berita lokal), menonton berita di TV, membaca panduan obat dari dokter, dan tentu saja untuk komunikasi sehari-hari. Itulah kenapa saya benar-benar fokus dan giat memperlancar kemampuan bahasa Belanda saya dengan menggunakan apapun medianya dalam berbagai kesempatan.

Selama sembilan bulan, saya mengikuti kursus bahasa Belanda, setiap hari di rumah berbicara dengan suami menggunakan bahasa Belanda -meskipun belum 100%- (walaupun selama dua tahun terakhir, kami di rumah menggunakan dua bahasa aktif yaitu bahasa Belanda dan bahasa Indonesia. Bahasa Inggris hanya sesekali saya gunakan kalau kepepet males mikir atau kalau lagi pengen ngomel haha), kalau ke luar rumah tidak takut memulai percakapan dengan bahasa Belanda. Setiap ada yang mengajak saya berbicara menggunakan bahasa Inggris (biasanya orang Belanda akan ganti menggunakan bahasa Inggris kalau tahu ada yang kesusahan berbicara menggunakan bahasa Belanda), saya selalu jawab : Ik kan alleen mijn moeder taal en Nederlands spreken. Ik kan niet Engels spreken. Artinya : Saya hanya bisa berbicara menggunakan bahasa Ibu dan bahasa Belanda. Saya tidak dapat berbicara menggunakan bahasa Inggris.

Kenapa saya tidak mau menggunakan bahasa Inggris meskipun saya bisa? Supaya saya tidak terlena dan lebih memacu semangat saya supaya bisa lebih lancar berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda. Selain itu, setahun pertama saya isi dengan sering mengikuti kegiatan sukarelawan yang komunikasinya menggunakan bahasa Belanda, sering mendatangi forum-forum diskusi yang menggunakan bahasa Belanda, dan memasuki tahun kedua saya diterima bekerja di tempat yang komunikasinya dengan bahasa Belanda. Dengan cara-cara yang saya sebutkan di atas, lumayan dalam waktu satu tahun saya merasa sudah lumayan berani kapanpun dan dimanapun berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda -kecuali jika berhubungan dengan tenaga medis, dua tahun pertama saya selalu memilih menggunakan bahasa Inggris untuk menghindari kesalahpahaman- dan bisa menyelesaikan ujian bahasa Belanda level B1 dan KNM. Kecuali satu ujian baru selesai tiga tahun kemudian (yaitu ONA. Perihal ujian ONA, saya pernah ceritakan di sini).

PERKEMBANGAN BAHASA BELANDA SAYA SAAT INI

Jadi apakah selama 4 tahun bahasa Belanda saya sudah sangat fasih? oh ya tentu belum haha pembaca kecewa. Bahasa Belanda itu susah kawan, setidaknya buat saya pribadi yang merasa lebih gampang mengerjakan penurunan rumus kalkulus dibandingkan mempelajari rumus tata bahasa Belanda. Bukan hanya tata bahasanya tapi juga kosakatanya yang agak tricky. Meskipun banyak juga kosakatanya yang sama atau mirip dengan kosakata bahasa Indonesia (ini bagian yang memudahkan dalam belajar bahasa Belanda), tetapi lebih banyak lagi kosakata baru yang harus dipelajari. Belajar bahasa itu memang butuh waktu, ketekunan, berkesinambungan, dan banyak praktek tentunya. Belajar bahasa tidak bisa hanya sekedar dihapal rumus tata bahasanya tapi minim praktek, percayalah itu tidak akan berhasil. Belajar bahasa butuh praktek yang banyak. Praktek, praktek, dan praktek. Dari membaca, menulis, mendengarkan, serta berbicara. Jika tidak diasah secara rutin, kapan lancarnya, ya kan?

Nah, bagaimana perkembangan bahasa Belanda saya sekarang ini? Di awal sudah saya tuliskan kalau saya sudah menggunakan bahasa Belanda nyaris di setiap lini kehidupan, kecuali jika berhubungan dengan medis. Bahasa Belanda yang saya gunakan dulu ya levelnya masih tingkatan tawar menawar di pasar, ngobrol dengan tetangga dan kolega kerja, melakukan aktivitas sehari-hari, membaca koran dan majalah dan resep dokter, menulis email, dan wawancara kerja. Tapi sejak dua tahun terakhir, sejak saya mulai sering bersinggungan dengan tenaga medis (dari pihak rumah sakit, dokter, bidan, perawat, pekerja di posyandu), secara tidak sadar saya mulai berani perlahan menggunakan bahasa Belanda. Padahal di sistem yang ada, sudah tertulis kalau saya lebih suka menggunakan bahasa Inggris. Karena itulah, dulu jika saya ada urusan dengan medis, otomatis mereka menggunakan bahasa Inggris karena sudah tertulis di sistem. Tapi sejak dua tahun terakhir, saya perlahan mulai memberanikan diri untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda ketika berhubungan dengan tenaga medis baik saat bertemu muka maupun ditelepon. Saya sudah tidak ragu dan takut lagi. Sampai suami ketika mendengar saya berbicara dengan dokter di telepon, kaget sendiri, kok mendadak jadi canggih katanya haha. Ya sebenarnya belum canggih-canggih banget. Cuma sekarang jadi berani. Kalau benar-benar ada penjelasan yang sudah berulangkali dijelaskan tapi saya tetap tidak paham dalam bahasa Belanda, baru saya minta tolong untuk dijelaskan dalam bahasa Inggris. Jadi intinya, level perkembangan bahasa Belanda saya sekarang sudah mulai merambah ke level medis. Lumayanlah buat saya, jadi makin percaya diri meskipun ya masih harus terus belajar mengasah kemampuan dengan tetap belajar dan praktek yang banyak.

Kenapa saya jadi punya keberanian? Karena saya mikirnya sederhana, kalau tidak mulai diniatkan belajar berani, ya kapan beraninya. Lagipula, tidak setiap kesempatan bertemu dengan tenaga medis suami bisa mendampingi. Dari dulu memang saya ini istri lepasan, nyaris dari awal kedatangan, urusan apapun saya urus sendiri. Ya pendeknya, kalau apapun menggantungkan ke suami, malah rugi ke diri sendiri. Jadi tidak berkembang kan kemampuannya.

Dan satu lagi, saya sudah lulus semua ujian integrasi dan sudah menerima diploma. Leganya, empat tahun sudah tanpa tanggungan ujian lagi. Saya mempunyai niat tahun depan ingin ikut ujian bahasa Belanda level B2. Semoga tahun ini bisa khusyuk belajar sehingga niat bisa terealisasikan dan bukan hanya sebatas wacana (seperti biasanya haha).

Bagaimana dengan urusan cuaca? semakin hari saya dan cuaca semakin berteman akrab. Meskipun kalau sedang musim dingin seperti sekarang, ada saja yang bikin saya agak “konslet” haha. Sepet rasanya kalau melihat langit setiap hari warnanya abu-abu. Walaupun jika sedang turun salju, ya saya masih norak lah melihatnya. Khusus hari pertama saja. Hari selanjutnya hati kembali empet karena jalanan jadi super licin. Nah, kalau musim dingin begini harus pintar-pintar memanfaatkan keadaan. Jika cuaca sedang cerah dan langit biru, pasti kami manfaatkan untuk jalan kaki meskipun suhu ya paling banter 3ºC. Satu jam jalan kaki lumayan lho bisa membuat hati gembira.

Jalan kaki satu jam menjelang makan siang. Lalu makan soto (di rumah, bukan abang gerobak) dilanjutkan leyeh-leyeh baca buku menuju waktu tidur siang
Jalan kaki satu jam menjelang makan siang. Lalu makan soto (di rumah, bukan abang gerobak) dilanjutkan leyeh-leyeh baca buku menuju waktu tidur siang
Setelah bangun tidur siang, ngemil sebentar lalu lanjut jalan sore selama satu jam. Sayang kalau cuaca cerah cuma di rumah saja, meskipun dingin.
Setelah bangun tidur siang, ngemil sebentar lalu lanjut jalan sore selama satu jam. Sayang kalau cuaca cerah cuma di rumah saja, meskipun dingin.

Diantara suka duka dengan cuaca, saya selalu bersyukur karena masih punya rumah yang hangat untuk berteduh, persediaan makanan sehat yang cukup serta keluarga yang berkumpul dalam keadaan sehat.

Empat tahun yang sebenarnya tidak sebentar tapi terasa sebentar karena saya menikmati setiap prosesnya, jatuh bangun, suka duka dan apapun yang terjadi selama ini. Empat tahun belum berkesempatan untuk bertemu kembali dengan teman-teman dan keluarga di Indonesia. Empat tahun yang penuh perjuangan dan suka cita. Tadi siang (pada tanggal saat menulis), saya memandangi salju yang turun tipis di kampung tempat saya tinggal, sambil berucap syukur atas empat tahun yang terlewati dan berdoa semoga kedepannya makin berkah dengan apa ada sekarang ini. Kesehatan yang baik, keluarga yang mudah-mudahan selalu sehat dan bahagia, dan semoga setiap langkah kedepannya selalu membawa manfaat dan hal-hal positif minimal untuk diri sendiri dan keluarga, syukur-syukur bisa untuk orang banyak.

-Nootdorp, 30 Januari 2019-

Malam Tahun Baru dan Tahun Baru 2019

Tumpeng Syukuran nasi kuning dengan lauk pelengkapnya : orek tahu tempe, mie goreng kuning, urapan sayur, ayam panggang bumbu rujak, sambe goreng kentang pete, irisan telur dadar, dan perkedel

Masih tentang cerita seputaran tahun baru, ada cerita yang sayang kalau tidak dituliskan di blog. Bukan cerita yang fantastis, tapi sebagai dokumentasi saja.

Tradisi di Belanda kalau malam tahun baru itu makan Oliebollen. Saya menyebutnya roti goreng karena memang mirip roti goreng yang ada di Indonesia. Hanya kalau Oliebollen variasinya ada beberapa. Ada yang tanpa kismis, ada yang pakai kismis, ada yang diisi coklat dan variasi lainnya. Terus terang, sejak makan pertama kali beberapa tahun lalu, lidah saya tidak terlalu cocok dengan Oliebollen. Malah saya lebih suka makan Berlinerbollen, karena isinya Vla tapi tidak terlalu manis.

Stan yang jualan Oliebollen biasanya sudah ada sejak awal Desember. Bahkan disekitar tempat tinggal saya, sejak bulan November sudah buka. Nah, di Den Haag kota, ada satu stan besar yang katanya Oliebollennya terenak se Den Haag (atau se Belanda ya saya lupa). Saya sudah pernah beli, tapi ya menurut saya rasanya sama dengan lainnya haha. Mungkin bagi yang suka rasanya enak ya.

Nah, tanggal 31 Desember suami masih ngantor. Dia berencana beli Oliebollen dan Berlinerbollen di stan ini pas makan siang. Lah, ternyata antriannya panjang. Akhirnya dia mengurungkan niatnya beli di sini, malah beli di toko roti. Dia pulang lebih awal karena kantornya sudah tutup jam 4 sore.

Antrian di stan Oliebollen yang terkenal di Den Haag
Antrian di stan Oliebollen yang terkenal di Den Haag

Sejak sore, suara jedar jedor petasan sudah terdengar. Meskipun menurut saya tidak seramai tahun kemaren, tapi tetep juga was was kalau jalan sore trus ketemu anak-anak, lalu dilempar petasan. Tentu saja tidak kejadian ya, cuma imajinasi saya saja. Setelah bangun tidur siang, tiba-tiba saya ingin makan pisang goreng. Karena saya juga harus membeli ayam untuk dibuat ayam panggang sebagai lauk nasi kuning keesokan harinya, akhirnya kami jalan-jalan sore sekalian beli pisang khusus pisang goreng dan beberapa keperluan untuk nasi kuning.

Setelah selesai makan malam, saya mulai menggoreng pisang. Haduuh aromanya menggoda. Jadi camilan malam tahun baru kami perpaduan Belanda dan Indonesia, bercengkrama akrab di piring haha. Kami makan camilan sambil melihat kembang api yang mulai banyak terlihat dari kejauhan.

Jadi, rumah kami ini kan semacam komplek kluster, tidak langsung pinggir jalan raya. Di dalam komplek ini, kebanyakan adalah rumah dari para orang tua (Oma Opa) dan juga tidak jauh dari sini ada rumah jompo. Karenanya, suara petasan dan jedar jeder tidak terlalu nyaring terdengar dari rumah. Ditambah lagi, kami tinggal di kampung. Syukurlah, jadi seisi rumah nyenyak tidur sampai keesokan harinya tanpa ada yang terbangun (kecuali saya yang memang menunggu pertunjukan kembang api jam 12 malam). Saya dan suami sudah selimutan di kamar sejak jam setengah 10 malam. Ya seperti malam-malam sebelumnya, tidak ada bedanya apakah malam tahun baru atau tidak, jam tidur selalu sama. Kalau suami langsung tidur, saya masih menunggu jam 12 malam. Lumayan satu jam dalam satu tahun melihat pertujunjukan gratis kembang api dari dalam kamar.

Camilan malam tahun baru kami : Oliebollen, Berlinerbollen, Apelkanjer, dan pisang goreng. Yang laku malah pisang gorengnya
Camilan malam tahun baru kami : Oliebollen, Berlinerbollen, Apelkanjer, dan pisang goreng. Yang laku malah pisang gorengnya

Keesokan paginya saya mulai memasak untuk keperluan syukuran. Harusnya syukuran ini sudah dilaksanakan seminggu sebelumnya. Tapi karena saya ambeien, akhirnya diundur. Dan ya kebetulan pas sekalian awal tahun. Kali ini syukuran untuk dua hal penting yang sedang diamanahkan pada keluarga kami dan sekalian syukuran awal tahun semoga sepanjang tahun 2019 ini berkah untuk kami sekeluarga, diberikan kesehatan yang baik dan dijauhkan dari marabahaya.

Saya membuat tumpeng nasi kuning dengan lauk pelengkapnya : orek tahu tempe, mie goreng kuning, urapan sayur, ayam panggang bumbu rujak, sambe goreng kentang pete, irisan telur dadar, dan perkedel. Seperti biasa karena tidak punya cetakan tumpeng, saya memanfaatkan karton yang dibentuk tumpeng. Kalau kepepet kan bisa kreatif. Jadi kami serumah makan siang tumpeng ini. Berasa seperti syukuran betulan karena ada acara doa bersama dan potong tumpeng.

Tumpeng Syukuran nasi kuning dengan lauk pelengkapnya : orek tahu tempe, mie goreng kuning, urapan sayur, ayam panggang bumbu rujak, sambe goreng kentang pete, irisan telur dadar, dan perkedel
Tumpeng Syukuran nasi kuning dengan lauk pelengkapnya : orek tahu tempe, mie goreng kuning, urapan sayur, ayam panggang bumbu rujak, sambe goreng kentang pete, irisan telur dadar, dan perkedel

Selain dibuat tumpeng, saya juga memberikan nasi kotak ke para tetangga, saudara-saudara dan Mama mertua. Bagi-bagi rejeki dan memberi tahu mereka tentang syukuran apa yang kami lakukan. Dan kok yaa kalau diingat kembali, selama tiga tahun kebelakang, setiap hari pertama awal tahun, saya selalu membuat nasi kuning syukuran dan memberi hantaran nasi kotak. Sampai Para tetangga bertanya apa ini tradisi di Indonesia setiap awal tahun, sampai mereka hafal haha. Sebenarnya bukan tradisi ya, kebetulan saja.

Beberapa nasi kuning yang dikirim ke paratetangga, saudara-saudara, dan Mama mertua
Beberapa nasi kuning yang dikirim ke paratetangga, saudara-saudara, dan Mama mertua

Begitulah cerita awal tahun baru kami yang diawali dengan syukuran. Semoga keberkahan menyertai langkah kita semua di tahun ini.

-Nootdorp, 11 Januari 2019-