Sakit di Perantauan

Dini hari sekitar jam 2 saya terbangun karena rasa nyeri yang saya rasakan di perut. Saya mengubah posisi tidur yang miring ke kiri menjadi terlentang kemudian mencoba untuk duduk. Semakin lama nyeri yang saya rasakan semakin menusuk. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya merasakan nyeri yang seperti ini. Dalam rentang dua bulan, ini sudah ke empat kalinya. Tiga nyeri terdahulu sudah dikonsultasikan kepada pihak medis dan hasilnya masih dalam tahap normal, tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Karenanya ketika rasa nyeri ini datang, saya tidak terlalu khawatir karena sudah “berpengalaman” sebelumnya. Selang satu jam kemudian, nyerinya semakin hebat. Saya terpaksa membangunkan suami yang terlelap. Tujuannya cuma satu, kalau misalkan saya pingsan, minimal ada yang tahu lah. Suami bangun lalu bingung juga apa yang musti dilakukan. Dia mengelus punggung saya. Sedangkan saya duduk sambil berusaha mengatur nafas. Satu jam berlalu, nyerinya tetap datang tapi saya sudah mulai kelelahan dan mengantuk. Akhirnya saya coba untuk tidur dengan harapan ketika bangun rasa nyerinya hilang.

Pagi datang, saya terbangun. Saya rasakan nyerinya masih ada. Suami lalu menyarankan untuk menelepon pihak medis. Saya menahan, “jangan sekarang, biasanya ga lama lagi hilang.” Setelah membawakan sarapan roti dan segelas susu coklat, suami berangkat ke kantor karena saya bilang sudah agak baikan. Tinggallah saya di rumah dengan adik. Saya bilang ke adik kalau rencana hari ini ke Amsterdam terpaksa dibatalkan karena untuk bergerak dari tempat tidur saja sangat susah. Sayang sebenarnya karena cuaca sangat cerah. Tapi adik memaklumi melihat kondisi saya yang kesakitan. Berbicara saja terbata-bata karena menahan sakit. Saya bilang ke adik untuk sering-sering mengecek kondisi saya di kamar. Takutnya saya pingsan tanpa ketahuan. Bersyukur ada adik di rumah. Jadi saya agak tenang kalau misalkan keadaan makin memburuk, setidaknya dia bisa telpon suami atau memberitahu tetangga.

Sekitar jam 10, suami telpon. Saya bilang nyerinya semakin hebat dan datangnya sering. Saya sebutkan di bagian mana saja yang nyeri dan tanda-tanda lainnya. Dia lalu bilang akan menelepon pihak medis. Selang berapa lama, dia menelepon saya kembali. Kata pihak medisnya, setelah mendengar keluhan dan tanda-tandanya yang masih sama dengan yang sebelum-sebelumnya, saya hanya disuruh menunggu, banyak minum air putih dan sering bergerak. Saya bingung juga ya mau bergerak yang bagaimana. Ke kamar mandi saja rasanya pengen ngesot saking tidak kuatnya jalan. Tapi akhirnya saya paksakan juga turun ke lantai bawah dengan menahan nyeri yang amat sangat. Nyeri yang saya rasakan itu seperti sakit maag yang sakitnya sampai ke ulu hati dan seperti ketusuk-tusuk. Nyerinya datang dan pergi.

Karena sudah jam makan siang, saya mempersiapkan makan dibantu adik. Dalam keadaan seperti ini, kangen deh dengan warung. Tinggal beli langsung makan. Ingin makan nasi pecel pakai lauk dadar jagung. Sempet kesel juga kenapa pas sakit gini, makan saja musti tetep masak sendiri. Tapi pikiran itu langsung saya enyahkan, karena bersyukur saya masih bisa makan dan mempersiapkan makanan meskipun dengan keadaan yang tidak ideal dan ditemani adik. Akhirnya saya makan dengan oseng sayuran dan tahu tempe sembari menahan nyeri. Sebenarnya bisa makan yang simpel seperti roti, tapi saya ingin makan yang ada sayurnya.

Siang menjelang sore, keadaan tidak semakin membaik. Saya coba untuk tidur dengan harapan yang sama, pas bangun nyerinya hilang. Sementara adik bilang akan jalan-jalan sebentar ke kota. Ternyata setelah satu jam tidur dan ketika terbangun, sakitnya makin tidak karuan. Saya mencoba menyeret pantat menjauh dari tempat tidur dan mengatur nafas ketika bergerak. Tapi nyerinya makin sering datang. Tidak berapa lama, suami datang. Dia menyarankan untuk telepon lagi pihak medis. Saya menyetujui. Yang saya khawatirkan bukanlah rasa nyeri yang semakin menjadi-jadi, karena untuk menahan sakit, saya masih bisa. Tapi karena sudah lebih dari 12 jam nyerinya tidak hilang, jadi khawatir juga pasti ada sesuatu di dalam sana. Setelah menelepon, pihak medis bilang akan segera datang ke rumah dan jika ada sesuatu yang genting ditemukan, saya akan langsung dikirim ke RS. 10 menit kemudian Beliau sampai rumah dan langsung menuju ke kamar. Setelah ditanya ini dan itu untuk diagnosa awal, lalu dilanjutkan pemeriksaan luar dan dalam. Setelah pemeriksaan menyeluruh, dikatakan ulu hati saya tertekan (semacam itulah kesimpulannya). Saya disarankan minum paracetamol untuk meredakan nyeri, lebih banyak minum air, dan makan buah. Kalau sudah menjalankan itu semua tetapi nyerinya belum hilang, disuruh telpon lagi. Saya sempat bilang ke Beliau, baru kali ini saya kesakitan trus diperiksanya di rumah. Semacam seperti di film-film yang saya tonton. Biasanya kalau saya sakit walaupun sampai susah berjalan (sewaktu sakit usus buntu), ya saya yang pergi ke dokter. Beliau langsung tertawa mendengar guyonan saya dan memuji daya tahan saya terhadap sakit. Maksudnya bisa menahan sakit dengan tidak panik sampai lebih dari 12 jam.

Mendengar bahwa semuanya baik-baik saja, saya agak tenang. Saya tidak langsung mengkonsumsi paracetamol, tapi langsung hajar dengan buah lalu guyur dengan minum yang banyak. Saya bilang suami, kalau sampai malam nyerinya tidak hilang, baru akan minum paracetamol. Saya lalu banyak bergerak jalan ke sana ke mari. Sekitar jam 9 malam, saya merasakan nyerinya jauh berkurang. Dan ketika menulis ini, nyerinya tinggal sekitar 10% dari awal. Semoga nyerinya tidak kembali lagi sehingga besok saya bisa mengantarkan adik jalan-jalan ke Amsterdam *loalaaahh lak pecicilan maneh. Suami bilang rasanya tidak tega melihat saya kesakitan yang sedemikian hingga sampai beberapa kali dia berkata, “andaikan nyerinya bisa ditransfer sedikit ke saya,” sambil memeluk dan mengelus punggung saya.

Kejadian hari ini mengingatkan saya tentang tidak enaknya sakit terutama jika sedang merantau. Sakit saja sudah tidak enak, apalagi kalau jauh dari keluarga. Mulai hidup ngekos sejak umur 15 tahun, saya sangat berhati-hati sekali dalam menjaga kesehatan. Saya berpikirnya, kalau sakit jauh dari keluarga pasti rasanya sangat nelongso dan bingung ya mau minta tolong siapa kalau ada apa-apa. Tapi yang namanya musibah, bisa datang kapan saja tanpa terduga. Sewaktu di Surabaya, masih enak lah kalau sakit tidak terlalu jauh kalau mau pulang ke rumah (6 jam perjalanan). Waktu itu saya sakit usus buntu yang akhirnya harus operasi. Tapi sewaktu di Jakarta, kalau sakit ya harus dihadapi sendiri, kalau semakin memburuk baru saya telepon teman untuk mengantarkan ke dokter atau RS. Sewaktu di Jakarta sempat 2 kali harus dirawat di RS. Saya ini bukan tipe kalau sakit langsung memberi tahu ke orangtua. Sebisa mungkin saya tangani sendiri dulu. Kalau sudah semakin parah, baru memberi tahu mereka. Tapi satu yang pasti, kalau sedang sakit saya pasti memberi tahu orang di sekitar dengan tujuan untuk sering-sering menengok saya di kamar. Jadi kalau saya pingsan atau katakan kalau keadaan buruk saya meninggal, ketahuan. Jadi ga pingsan atau meninggal tanpa ketahuan.

Yang paling nelongso kalau sakit jauh dari keluarga itu adalah urusan makan. Kalau di Indonesia masih bisa minta tolong teman kos untuk nitip beli makan. Atau setidaknya saya bisa jalan sendiri ke warung terdekat untuk beli makan. Tapi kalau seperti hari ini, sedih sekali pas ingin makan sesuatu yang diingini, malah makannya yang lain dan harus masak dulu pula. Tapi pikiran itu langsung saya usir jauh-jauh karena bersyukur masih bisa makan dan masih ada tenaga untuk menyiapkan makanan. Itu tandanya sakit masih bisa saya tahan. Dan bersyukur ada ada adik di rumah. Dan sangat bersyukur meskipun suami ngantor hari ini tapi tetap memantau keadaan saya bahkan mengurus ke pihak medis dan mengurus saya di rumah. Dia pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Setidaknya tenang ada keluarga di sekitar saya. Memang musti dicari celah supaya ditengah kesusahan masih ada yang bisa disyukuri. Hidup jauh dari keluarga sejak usia muda, lumayan menempa jiwa kalau saat-saat sulit datang. Minimal tidak panik.

Ada yang punya pengalaman sakit di perantauan, jauh dari keluarga?

-Nootdorp, 31 Juli 2017-

Tentang Menikmati Hidup

{"total_effects_actions":0,"total_draw_time":0,"layers_used":0,"effects_tried":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{"border":0,"frame":0,"mask":0,"lensflare":0,"clipart":0,"text":0,"square_fit":0,"shape_mask":0,"callout":0},"effects_applied":0,"uid":"968FF27D-5C68-4130-BB3A-EE49AE865EB9_1501178854065","width":3264,"photos_added":0,"total_effects_time":0,"tools_used":{"tilt_shift":0,"resize":0,"adjust":0,"curves":0,"motion":0,"perspective":0,"clone":0,"crop":0,"enhance":0,"selection":0,"free_crop":0,"flip_rotate":0,"shape_crop":0,"stretch":0},"source":"editor","origin":"gallery","height":2448,"subsource":"done_button","total_editor_time":220,"brushes_used":0}

Hampir setiap hari saya menerima email dari mereka yang membaca blog kami. Dari bertanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan persyaratan tinggal di Belanda, ujian bahasa Belanda, pernikahan dengan WN Belanda, pasar di Belanda, bahkan sampai bertanya harga cabe di Belanda. Tentu saja pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak saya jawab langsung karena memang tidak terlalu tergesa dilihat dari tingkat kepentingannya. Saya menunggu sampai bisa duduk manis di depan komputer karena saya tidak membiasakan diri untuk terlalu banyak menghabiskan waktu dengan telefon genggam. Selain pertanyan, tentu juga saya menerima email yang isinya tentang komentar bahkan nasihat. Komentar yang disampaikan berkaitan dengan saya pribadi, saya dan suami, maupun komentar tentang blog ini. Sedangkan nasihat, beberapa kali saya menerima masukan yang berhubungan dengan agama. Kadang ya bikin gemas, kadang ya biasa saja. Dan yang terakhir, tentu saja blog kami ini tidak luput dari kritikan. Semuanya kami terima, khususnya untuk saya, sebagai bahan evaluasi dalam menulis dan berbagi cerita, merenung, maupun sekedar bahan bacaan. Terima kasih untuk yang sudah meluangkan menulis email.

Dari sekian email, ada beberapa yang bernada serupa menanyakan atau memberi komentar betapa saya terlihat sangat menikmati hidup dan kehidupan selama di Belanda, terlihat dari cerita-cerita yang saya bagikan di blog ini. Mereka menanyakan bagaimana caranya beradaptasi dengan semua hal yang baru di Belanda atau caranya supaya hubungan dengan suami selalu baik-baik saja (karena ada beberapa yang menuliskan sepertinya hubungan kami lancar dari awal kenalan sampai menikah. Padahal saya tidak pernah bercerita sekalipun di blog ini tentang kehidupan sebelum pernikahan, tentang bagaimana kami bertemu sampai menikah). Saya tentu saja senyum-senyum membaca hal tersebut.

Apa yang kami tuliskan di blog ini murni adalah apa yang kami alami, apa yang kami pikirkan, apa yang kami jalani tanpa harus dipoles sana sini. Tetapi, tidak semua hal dalam kehidupan kami perlu dituangkan di sini. Ada banyak hal yang sekiranya berguna, tentu saja kami bagikan, siapa tahu ada yang memerlukan informasinya, atau ada beberapa pemikiran yang tertuliskan setidaknya kami belajar menyampaikan pendapat melalui tulisan. Tetapi ada banyak hal juga yang harus kami simpan sendiri, biarlah kami saja yang tahu, tidak perlu sampai dunia luas ini mengetahui setiap peristiwa yang terjadi. Buat saya, lebih baik menuliskan hal-hal yang membuat hati gembira, meskipun tidak dipungkiri beberapa tulisan di blog ini terinspirasi dari kisah sedih saya (atau kami), keresahan yang saya rasakan, atau kerinduan akan tanah air dan keluarga. Tetapi untuk hal-hal yang bersifat pribadi dan sangat pribadi, biarlah itu menjadi bagian kehidupan nyata kami. Mungkin karena beberapa hal tersebut yang kami terapkan dalam menulis blog, jadi terbaca bahwa saya nampak sangat menikmati hidup, selalu gembira, dan tidak pernah ada masalah.

Selama masih hidup, masalah akan selalu ada. Namanya juga manusia ya, siapa juga yang tidak pernah tertimpa masalah dari hal-hal yang kecil sampai yang nampaknya mustahil untuk diselesaikan. Hal tersebut berlaku juga untuk saya. Bedanya, mungkin karena saya jarang sekali berkeluh kesah di dunia maya (blog atau twitter), jadi nampak semua baik-baik saja. Padahal kalau mau ditelisik lebih dalam, ada saja masalah yang menghampiri. Bukan ingin menampilkan pencitraan yang baik-baik saja, tetapi saya lebih memilih untuk tidak terlalu berkeluh kesah di media sosial, karena untuk saya, tidak ada gunanya. Saya rasa orang juga males membaca kalau misalkan saya ngomel-ngomel terus di media sosial. Saya memilih untuk menyelesaikan masalah yang datang, menghadapinya, mencari solusinya, dan berdiskusi dengan suami. Sejak menikah, tentu saja tempat saya untuk berdiskusi adalah suami. Dari suami juga saya belajar banyak hal tentang penyikapan terhadap suatu masalah. Saya yang dulunya berjiwa senggol bacok, sekarang jadi lebih tenang kalau menghadapi sesuatu meskipun tetap sih sesekali “api” nya muncul, tapi setidaknya lebih terkendali. Kalau kami yang sedang bermasalah, maka masalah itu harus berhenti di kami, tidak sampai keluar. Bahkan dengan sahabat-sahabat dekat, saya tidak pernah bercerita sedikitpun tentang rumah tangga kami. Intinya, apa yang terjadi di rumah, jangan sampai seisi dunia tahu. Dan bersyukur sampai sekarang (dan mudah-mudahan  seterusnya) hal tersebut tetap terjaga dengan baik.

Menikmati Rujak Cingur dengan es kelapa
Menikmati Rujak Cingur dengan es kelapa, salah satu cara menikmati hidup haha.

Pernah suatu ketika, mantan atasan di perusahaan tempat bekerja di Jakarta bertanya apakah saya tidak rindu dunia kerja seperti dulu. Maksudnya kerja kantoran yang penuh waktu dan mengejar karier. Pertanyaan inipun pernah ditanyakan oleh suami. Dia merasa agak bersalah karena saya ke Belanda artinya saya harus beradaptasi lagi dari awal termasuk tentang pekerjaan. Saya menjawab pertanyaan itu : ada kalanya saya rindu tetapi saya menikmati apa yang ada sekarang. Bukannya saya tidak ingin mengejar karier dan bekerja sesuai dengan pengalaman serta latar belakang pendidikan, tetapi saat ini saya memilih bekerja karena ada hal baru yang bisa saya pelajari meskipun tidak ada jenjang karier dan masalah gaji juga biasa saja. Tetapi saya menikmati pekerjaan paruh waktu ini. Nanti, kalau sudah keadaan dan waktu memungkinkan, saya akan kembali bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman saya atau bahkan mungkin bekerja di bidang yang baru yang penting masih sesuai dengan minat dan dengan pendapatan yang lebih baik. Awal pindah memang saya masih sangat berambisi tinggi untuk mendapatkan pekerjaan yang saya inginkan dengan alasan : kalau yang di Indonesia bertanya, biar tidak malu menjawabnya. Masa sudah sekolah tinggi dan punya pengalaman kerja di sana, begitu nyampe sini dapat kerjanya yang biasa-biasa saja. Tetapi seiring berjalannya waktu dan kondisi, saya bertanya pada diri sendiri apakah saya ingin bekerja karena ingin memenuhi standar orang lain biar tidak dipandang sebelah mata atau saya ingin bekerja karena sesuatu yang memang saya sukai. Akhirnya saya memilih yang kedua, bukan karena saya tidak punya ambisi tetapi saya pernah ada pada kondisi yang pertama dan pada akhirnya saya malah tidak menikmati apa yang saya kerjakan hanya karena ingin dipandang hebat oleh orang lain. Saya sekarang memilih untuk hidup berdasarkan standar saya, bukan ditentukan oleh pujian atau sanjungan orang lain. Penghargaan dari orang-orang terdekat yang mengenal saya, itu lebih baik lebih dari cukup dibandingkan pujian dan sanjungan dari mereka yang tidak mengenal saya secara dekat.

Beberapa hari lalu, saya berbincang dengan seorang teman baik yang juga teman jalan di Belanda. Dia bercerita kalau ada kenalannya yang sedang bosan menjalani rutinitas hidupnya yang monoton dari rumah-tempat kerja-rumah setiap hari. Dia ingin kembali ke fase kehidupan sebelum saat ini yang bisa pergi ke kafe, belanja sesuka hati dll. Teman baik saya ini lalu mencontohkan saya (saya juga tidak tahu kenapa mencontohkan saya haha), “Sebenarnya yang perlu diubah adalah cara berpikir kamu. Mau dimanapun kamu hidup, harusnya sama saja kamu masih bisa menikmatinya kalau kamu tidak memikirkan lagi masa lalu. Lihat saja Deny, dia sangat menikmati hidupnya di sini. Melakukan apapun yang dia suka, mengerjakan yang dia senangi.” Lalu saya hanya terkekeh. Ada benarnya yang dia ucapkan. Saya menikmati apapun fase hidup yang saya jalani, termasuk saat ini. Sewaktu bekerja di Indonesia, saya menikmati sebagai pekerja kantoran yang hampir setiap hari stress dan lembur pulang dini hari. Iya, Jakarta keras Bung! pulang dini hari bahkan subuh sudah jadi makanan sehari-hari. Saya menikmati ke-stress-an itu karena ada hal-hal lain yang bisa saya nikmati yaitu bisa berkeliling Indonesia dengan gratis lewat perjalanan kantor. Sewaktu fase kuliah, saya juga menikmati setiap hari baru bisa tidur dini hari karena mengerjakan tugas dan laporan. Wanita dini hari lah pokoknya saya dulu haha. Walaupun capek, tapi teman-teman kuliah sangatlah menyenangkan sehingga lelah mengerjakan tugas agak tidak terlalu terasa karena kebersamaan dan gelak tawa dengan mereka bisa membasuh penat yang ada *tsaahh bahasanya :))). Pindah ke negara baru dengan kondisi yang jauh berbeda dengan negara asal pun sangat saya nikmati sekali. Saya berpikirnya karena akan ada banyak hal baru yang bisa saya pelajari, meskipun tidak dipungkiri sampai saat ini permasalahan utama saya masih seputar makanan (isi cuitan saya di twitter ya selalu seputar makanan). Tetapi karena saya pindah ke Belanda dengan penuh rasa kesadaran dan keputusan sendiri tanpa paksaan, pada akhirnya saya sangat menikmati kehidupan  di sini. Dari awal saya sudah mencari kegiatan yang saya suka, karenanya saya ikut menjadi sukarelawan, belajar bahasa Belanda di sekolah sehingga mengenal orang-orang yang baru, mulai mencari pekerjaan paruh waktu, jalan-jalan karena saya memang sukanya pecicilan jalan-jalan baik sendiri, bareng teman atau suami. Karena sudah terbiasa kemana-mana sendiri sejak di Indonesia, dari awal pindah ke Belanda saya tidak terpikir untuk segera mencari kenalan. Justru yang saya lakukan adalah mencari tempat wisata mana yang bisa saya kunjungi dan mengenal lingkungan sekitar sampai nyasar kemana-mana. Waktu itu saya berpikir, nanti sambil waktu juga bakal ketemu sendiri kenalan atau bahkan teman yang sreg dihati, jadi tidak usah terburu-buru. Karena sibuknya saya dengan berbagai hal baru, maka tidak ada kesempatan untuk kangen dengan Indonesia, tidak ada waktu untuk mengeluh ini dan itu, walaupun tetap kangen dengan keluarga di sana. Kalau ada yang bertanya,”kerasan tinggal di Belanda?” Saya mantab menjawab, “kerasan.” Entahlah, sampai saat ini saya belum pernah merasa bosan dengan keadaan di sini, kecuali sesekali bosan sarapan buah atau roti, inginnya sarapan nasi pecel *lah balik lagi ke makanan haha.

Jadi, kenapa saya nampak menikmati hidup? karena saya selalu melakukan apapun yang saya suka, tidak terlalu muluk-muluk dalam hidup, menikmati apapun yang menjadi pilihan hidup saya saat ini, berjalan berdasarkan standar hidup yang saya inginkan bukan berharap sanjungan dari orang lain ataupun melakukan sesuatu dengan harapan ingin dipuji orang. Jika ada yang memuji, saya anggap bonus. Jika tidak, ya tidak masalah. Saya tidak berhenti belajar akan banyak hal baru, berkeluh kesah hanya pada tempat dan sarana yang tepat, hidup pada saat ini dan berencana untuk masa depan bukan  berhenti pada ingatan masa lalu, menjadi diri saya sendiri dimanapun berada, punya sahabat-sahabat yang hampir 20 tahun bersama sampai saat ini, punya teman yang menyenangkan, dan yang terpenting adalah selalu bersyukur. Masalah pasti akan selalu ada, tinggal disikapi seperti apa. Mau diselesaikan atau hanya dilihat lalu ditinggal atau hanya dikoar-koarkan saja. Kita sendiri yang tahu jawabannya bagaimana menyikapi dan menikmati hidup. Ya intinya, nikmati dan jalani saja hidup dengan segala pernak perniknya. Kalau kata Ibuk, “ga usah kakehan nersulo, urip mung sepisan. Ojok keseringen ndangak, kesandung malah catu kabeh awak e”

-Nootdorp, 27 Juli 2017-

Ramadan Ketiga di Belanda

{"total_effects_actions":0,"total_draw_time":0,"layers_used":0,"effects_tried":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{"border":0,"frame":0,"mask":0,"lensflare":0,"clipart":0,"text":0,"square_fit":0,"shape_mask":0,"callout":0},"effects_applied":0,"uid":"968FF27D-5C68-4130-BB3A-EE49AE865EB9_1498074879200","width":3264,"photos_added":0,"total_effects_time":0,"tools_used":{"tilt_shift":0,"resize":0,"adjust":0,"curves":0,"motion":0,"perspective":0,"clone":0,"crop":0,"enhance":0,"selection":0,"free_crop":0,"flip_rotate":0,"shape_crop":0,"stretch":0},"source":"editor","origin":"gallery","height":2448,"subsource":"done_button","total_editor_time":137,"brushes_used":0}

Saat saya menulis ini, Ramadan sudah memasuki malam ke-27. Bersyukur masih diberikan umur yang berkah dan kesehatan yang baik untuk kembali bertemu dengan Ramadan tahun ini dan menuliskan kembali pengalaman Ramadan di tanah rantau. Ramadan yang jatuh pada musim semi tidak serta merta membuat cuaca lebih sejuk dibandingkan tahun kemarin yang jatuh pada musim panas. Sejak awal puasa, cuaca di Belanda sudah sangat panas. Meskipun beberapa kali hujan mengguyur, tetapi selebihnya kembali panas. Pada hari pertama Ramadan, saya ingat betul waktu itu saya sedang ke Roermond bersama beberapa teman dan suhu mencapai 33°C. Musim semi rasa musim panas. Selama dua minggu terakhir cuaca stabil panas bahkan seminggu ini sampai 32°C. Saya kalau sepedahan ke tempat kerja sampai harus berhenti “ngiyup” kata orang Jawa saking ga kuat kepala -pening- dan gobyos berkeringat. Durasi Ramadan tahun ini kurang lebih tidak terlalu berbeda jauh dengan tahun kemarin, rata-rata 19 jam setiap hari. Semoga yang menjalankan ibadah puasa Ramadan selalu diberikan kekuatan dan kelancaran selama sebulan ini. Hari ini adalah hari pertama resmi musim panas dan juga sebagai siang terpanjang.

Jadwal puasa Ramadan dari KBRI di Den Haag
Jadwal puasa Ramadan dari KBRI di Den Haag

Setiap bulan puasa selalu istimewa untuk saya, khususnya sejak tinggal di Belanda. Ada saja pengalaman spesial yang saya dapatkan, juga berkah dan rejeki. Tidak terkecuali Ramadan tahun ini yang juga spesial untuk kami. Kegiatan selama Ramadan sekarang masih seputar kegiatan rutin bekerja, jalan-jalan, bersih-bersih taman, bersih-bersih rumah, dan kembali produktif baca buku (mudah-mudahan nanti saya sempat membuat review beberapa buku yang sudah saya baca). Yang masih belum kembali produktif yaitu memasak. Namun karena tanggal 18 Juni kemarin adalah Father’s Day, saya bertanya ke suami dia mau hadiah apa. Trus suami menjawab, “Kalau kamu sudah mood masak, aku kangen makan soto ayam buatan kamu. Itu saja kado yang aku minta.” Duh Mas, kok yo melas men tho. Saya antara kasihan dan ingin tertawa sebenarnya mendengar jawabannya. Terakhir saya memasak soto ayam buat dia sekitar 3.5 bulan lalu kalau tidak salah. Biasanya paling tidak sebulan sekali saya masakkan karena memang soto ayam adalah makanan favoritnya (bahkan sebelum menikah dengan saya). Akhirnya saya melihat stok bumbu di freezer, lha kok ndilalah masih ada satu porsi bumbu yang tersisa. Lalu saya membuat printilan lainnya seperti sambal dan kentang goreng. Karena malas memasak nasi, saya perbanyak saja bihunnya. Setelah saya hidangkan, dia lama sekali melihat saya lalu makan perlahan soto ayam tersebut. Lha trus orang ini kok ga ada komentarnya, diam khusyuk makannya. Lalu saya tanya, gimana apa enak soalnya saya tidak mencicipi. Dia bilang terharu sekali rasanya akhirnya bisa makan soto ayam setelah berbulan-bulan libur. Jadinya dia makan penuh perasaan. Owalaahhh saya ngikik haha.

Oh ya, di awal saya sempat cerita tentang pergi ke Roermond. Jadi Roermond ini kota di selatan Belanda yang terkenal dengan outlet brand-brand terkenal gitu (katanya ya) dengan harga agak miring dan terkenal diantara orang-orang Indonesia yang tinggal di sini ataupun mereka yang datang ke Belanda dengan tujuan berlibur dan berbelanja. Nah, beberapa kali teman saya mengajak ke sana, tetapi karena saya tidak suka berbelanja barang-barang kalau sedang tidak butuh, maka ajakan mereka selalu saya tolak. Pertengahan Mei, saya ingat kalau punya tiket kereta yang saya beli saat ada penawaran khusus dan bisa dipakai keliling Belanda satu hari penuh selama akhir pekan. Dan tiket ini akan hangus akhir bulan Mei. Wah, sayang, pikir saya kalau tidak digunakan. Saya lalu menghubungi salah satu teman jalan dan bertanya apakah ada rencana jalan bulan Mei ini. Dia lalu mengusulkan ke Roermond (kembali). Saya pikir daripada tiket hangus tidak dipakai, mending dipakai. Akhirnya saya setuju yang penting ketemu teman-teman dan makan-makan di rumah salah satu teman saya setelah jalan-jalan. Jadi agenda makan-makan lebih penting untuk saya haha. Saya sudah membayangkan kalau di Roermond nanti pasti penuh sesak dan akan bertemu dengan banyak orang Indonesia. Ternyata setelah memutari keseluruhan lokasi Outlet Roermond, tidak terlalu ramai dan tidak banyak saya jumpai orang Indonesia. Di salah satu outlet, ketika saya sedang melihat-lihat (dan berencana membeli), tiba-tiba ada yang menyapa saya, “Mbak Deny ya?” Lho, saya kan jadi kaget kok mak bedundug ada yang menyapa. Dia lalu memperkenalkan diri dan memberi tahu kalau dia adalah pembaca blog kami. Jadi ketika dia melihat saya, dia menebak kalau itu adalah saya. Ada gunanya juga memajang foto di blog haha. Hai Sari, kalau kamu membaca tulisan ini, maaf waktu itu tidak sempat pamitan. Terima kasih sudah menyapa saya. Semoga lancar kuliah kamu. Selain jalan-jalan ke Roermond, pada tulisan sebelumnya saya bercerita tentang liburan kami ke beberapa kota. Selebihnya pada akhir pekan kami habiskan ngadem  di rumah dan jalan-jalan ke danau atau hutan didekat rumah. Rencana untuk ke pantai sejauh ini masih sebatas rencana karena saya masih tidak kuat kalau panas cetar begini harus ke pantai. Kalau cuaca bagus seperti ini, di danau dekat rumah pun penuh dengan orang yang sedang berjemur atau berenang atau BBQ an. Jadinya ya di mana-mana intinya ramai karena semua orang keluar rumah menikmati sinar matahari.

Danau dekat rumah ketika sedang sepi
Danau dekat rumah ketika sedang sepi

Kalau sudah mendekati lebaran begini, ada perasaan sedih yang menyelinap. Tidak bisa dipungkiri kalau saya sangat rindu merasakan suasana lebaran terutama di desa kelahiran saya. Suasana malam takbir, suasana setelah sholat Ied, suasana saling silaturrahmi dan kumpul keluarga, dan yang paling ditunggu adalah momen makan-makan dengan masakan khas keluarga seperti jangan laos, pecel pitik, lodho, jangan lodeh tempe tahu yang super pedes, dan kue kue lebaran khas keluarga di desa. Rindu semuanya. Semoga diberikan umur yang berkah dan kesehatan yang baik untuk kami sekeluarga bisa berlebaran di Indonesia dan marasakan syahdunya berlebaran bersama seluruh keluarga di sana.

Untuk yang sedang bersiap mudik ataupun sudah dalam perjalanan, semoga diberikan kelancaran dan selamat berkumpul bersama seluruh keluarga di hari lebaran. Semoga kita semua dipertemukan kembali dengan Ramadan dan Lebaran tahun-tahun selanjutnya dalam keadaan yang lebih baik. Bagi yang tidak bisa kumpul keluarga saat lebaran nanti karena beberapa hal misalkan jauh dari tanah air seperti saya, tetap Semangat!!

-Nootdorp, 21 Juni 2017-

After the Dutch 2017 Election

C7C7cc_VwAAw2G2-1024x640

When reading through the international comments on the Dutch parliament elections there is an international and general sense of relief and even happiness. The movement of “extreme right populism” as it recently gained victories in the UK (Brexit referendum) and the USA (President Trump’s election) seems to have be put to a halt in The Netherlands. The main reason for this optimism was the small rise in seats for Geert Wilder’s PVV (Party for Freedom, from 15 to 20) where until recently explosive growth was expected. Wilders’ PVV is now the second party in the Netherlands after Mark Rutte’s VVD (Popular Democratic Party). Rutte’s VVD lost a small number of seats (8) yet remains the biggest party in the Netherlands.

So Wilders gained a few seats but his role in the political arena is over after yesterday’s election results. Rutte already indicated that a collaboration between his VVD and Wilders’ PVV  would not be in question. In the Netherlands political parties have to seek collaborations to hold a majority (minimal 76 of the 150 seats) in the “Tweede Kamer” (the House of Parliament).

Wilders was remarkably absent in the recent campaign: a few TV shows, a few public appearances and not even a joint gathering of his PVV party members to watch the election results come in which is a common procedure for Dutch political parties. It is to guess why Wilders followed this strategy: did he think that social media would do for him what it had done for Trump? Where there issues surrounding his security? Or did he deliberately seek to fight his political arguments from the opposition ranks and was he scared his movement would become too big to handle? Although only Wilders himself could answer these questions, it becomes clear that Wilders will never lead a Dutch government administration. He is unfit to propose proper solutions for his sharp criticism of developments within Dutch society. He failed to bind influential figures of Dutch society to support his party and its policies.

The biggest loser yesterday was PvdA (The Labour Party). The party was decimated (from 38 to 9 seats) although it does not necessarily mean that its strong tentacles within the government, NGO’s and media now suddenly have disappeared. The seats that PvdA lost went to other left-wing and center parties like GroenLinks (Green Party), D66 (Democratic Party) and CDA (Christian Party). This means that PvdA lost its attractiveness to the voters, but it does not mean that their defeat will lead to radical changes in the political landscape.

So the conclusion is that the result of the election will be foremost a continuation of the status quo of Dutch “kartel parties” so called by new comer Forum voor Democratie (from 0 to 2 seats). ‘Kartel parties’  is the conglomerate of institutionalised parties that already reign over the Dutch politics in different combinations for many decades.

The large majority of the Dutch voters still seem to approve the current political situation. There is little interest in controversial subjects like abolishing the Euro or leaving the EU (Nexit). For now they seem to comfortably close their eyes for the big issues that sooner or later will be knocking at their doors: the high amounts of immigrants, the stability of the EU and Euro and last but not least, the internal stability of a segregated society where different populations hold their own ideas about their loyalty to the Netherlands. Last week events in the Netherlands surrounding the visit of Turkey’s ministers and the commotion it caused afterwards are strong indicators  about the current state of things and what is likely to be expected to happen more intensively and more often in the near future.

Other election events in 2017 (Germany, France) will give further indicators if citizens of those EU countries wish to continue the current direction of their political leaders or whether they are already prepared for more dramatic measures.

Den Haag, 16 maart 2017

Pengalaman Sebagai Kontributor Citizen Journalist NET TV

Citizen Journalist NET TV liputan di pasar Den Haag

Sejak bisa membeli telepon genggam yang agak canggih beberapa tahun lalu saat masih di Indonesia, setelah sebelumnya bertahan cukup lama dengan Nokia yang fungsi utamanya saya gunakan kebanyakan untuk sms dan telpon saja sampai rusak dan tidak bisa terpakai lagi, salah satu kesenangan saya adalah selain menggunakan secara maksimal untuk membuat foto dimanapun dan kapanpun, HP tersebut juga saya gunakan untuk merekam hal-hal yang sekiranya perlu direkam. Kesenangan tersebut tetap saya lakukan sampai sekarang. Banyak yang berakhir hanya saya simpan di laptop dan ada beberapa yang saya unggah di channel youtube. Jangan salah, yang saya unggah di youtube juga bukan hasil editan yang super canggih, seringnya malah tidak saya edit sama sekali. Langsung saya unggah apa adanya. Saya memang agak malas belajar untuk membuat video nampak lebih menarik, mungkin itu juga itu salah satu alasan saya tidak bisa -baca : malas- membuat vlog yang durasinya panjang. Apalagi untuk daily vlog, ini sih sudah Big No buat saya karena terbayang ribetnya musti pakai jilbab di rumah haha lagipula kehidupan sehari-hari saya ya begitu-begitu saja. Sebenarnya alasan utamanya saya tidak punya cukup percaya diri harus berbicara depan kamera sendirian di keramaian dan juga ribetnya itu lho. Belum lagi tentang kesepakatan dengan suami untuk tidak mengunggah kondisi rumah dan sekitarnya ke sosial media. Akhirnya youtube saya isinya ya seputar jalan-jalan, konser, dan beberapa acara yang saya datangi.

Sampai suatu hari, saya membaca postingan Fe tentang menjadi kontributor sebagai Citizen Journalist di Net TV. Wah saya langsung tertarik karena caranya gampang dan cocok dengan kesenangan saya yang suka merekam hal-hal disekitar apalagi saat jalan-jalan. Lalu saya pikir, iya juga ya, saya bisa karyakan hasil rekaman dengan mengirimkan ke Net TV lewat program Citizen Journalist (CJ). Setelah membaca tulisan Fe tersebut, niat saya lalu menggebu ingin segera bisa merekam dan mengirimkan ke Net TV. Niat hanya sekedar niat, nyatanya akhir tahun lalu saya ruwet dengan berbagai macam urusan.

Sampai pada suatu hari, pertengahan bulan Januari tepatnya hari minggu, keinginan tersebut terwujud dan saya bisa membuat video yang kemudian saya kirimkan. Tidak perlu menunggu lama, keesokan harinya saya mendapatkan email yang memberitahukan kalau video kiriman saya tayang di Net 12. Gembira sekali! Nanti pada bagian akhir tulisan akan saya ceritakan cerita di balik pembuatan video ini. Sekarang saya ingin berbagi pengalaman cara bisa menjadi Citizen Journalist di Net TV :

  • Membuat Akun di netcj.co.id. Membuatnya gampang sekali, hanya mengisi form yang tidak terlalu rumit seperti email dan nomer telefon. Nanti akan ada verifikasi email dan nomer telefon
  • Unggah video yang sudah siap. Video di sini adalah video mentah tanpa diberikan efek suara maupun tulisan atau watermark. Saya menggabungkan beberapa rekaman yang saya buat menjadi satu video utuh menggunakan iMovie. Ada banyak aplikasi selain iMovie untuk menggabungkan rekaman-rekaman menjadi satu video, contohnya seperti video maker. Panjang video yang dikirim, disarankan antara 3-4 menit (ini saya melihat produser Net CJ memberikan keterangan di yotube) karena nanti akan di edit lagi oleh pihak Net menjadi durasi antara 1 sampai kurang dari 2 menit yang tayang di TV. Tema video bisa macam-macam, dari segala kejadian sehari-hari yang unik, travelling, kuliner, bahkan sekarang saya lihat ada video tutorialnya juga.
  • Setelah mengunggah Video, selanjutnya mengisi deskripsi dari video tersebut. Deskripsi ini terdiri dari judul liputan (tidak boleh lebih dari 65 karakter), keterangan isi dari video, lokasi di mana video dibuat, dan kategori video (ini ada pilihannya). Keterangan video isi selengkap-lengkapnya sesuai dengan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan. Bisa memakai rumus 5W 1H. Misalkan video yang saya kirim tentang ice skating di danau beku, saya tuliskan lokasi danaunya di mana, fakta bahwa danau tersebut tidak pernah beku sejak 5 tahun terakhir, luas dan kedalam danau, suhu waktu saya merekam, dll. Keterangan yang dituliskan menjadi acuan pengisi suara untuk bernarasi. Yang pasti mereka juga akan memverifikasi kebenaran video dan keterangan yang kita tuliskan. Maksudnya verifikasi ini adalah jika berkaitan dengan video, apakah video ini pernah tayang di TV lain atau belum (mereka punya alat untuk mendeteksi) dan berkaitan dengan keterangan yang kita tuliskan, mereka juga aka memverifikasi kebenarannya. Jika ada narasumber yang diwawancara, jangan lupa sertakan juga nama narasumber dan keterangan lainnya. Misalkan video pertama saya narasumbernya adalah suami sendiri (hahaha namanya video yang tidak direncanakan, akhirnya suami sendiri yang diwawancara), jadi saya tuliskan : SB (Sound Bite merupakan hasil wawancara dari narasumber yang diliput) nama suami dengan keterangan warga Belanda. Video kedua, yang saya wawancara adalah penjual langganan di pasar (karena ini video tentang pasar di Den Haag) saya tulis SB : nama penjual, keterangannya penjual di Pasar Den Haag asal Srilanka. Dan jika narasumbernya berbicara selain bahasa Indonesia, kita juga wajib menuliskan terjemahan dalam bahasa Indonesia dari wawancara yang ada di video. Video saya yang pertama narasumber berbicara bahasa Inggris dan video ke tiga dalam bahasa Belanda. Untuk wawancara yang ditaruh di video, sertakan yang kira-kira menarik hasil wawancaranya. Jangan terlalu panjang, yang penting informatif. Apakah harus ada yang diwawancara dalam video? tidak harus, saya saja yang iseng-iseng mewawancara karena kenal orangnya. Dan ketika mewawancara saya juga sebutkan kalau akan di kirim ke televisi di Indonesia. Tetapi jika ada yang diwawancara akan lebih baik karena video liputan jadi lebih komplit (sesuai tips yang dituliskan di akun twitter NET CJ).
  • Setelahnya, tunggu beberapa saat untuk proses mengunggahnya. Ini tergantung dengan kecepatan internet ya karena memang butuh waktu yang tidak sebentar juga.
  • Setelah sukses diunggah, pada akun yang kita buat akan ada status waiting approval. Video kita akan melalui proses checking. Lama untuk disetujui tergantung redaksinya. Jika layak tayang, statusnya berubah dari waiting approval ke waiting for published, tapi belum tentu tayang di TV. Video pertama, saya unggah malam hari waktu Belanda, pagi harinya saat akan berangkat kerja menerima email ternyata sudah tayang di Net 12. Video ketiga yang tentang pasar, satu hari setelah diunggah status dari waiting approval berubah menjadi waiting for published lalu satu hari kemudian saya membaca di twitter @NET_CJ ternyata video saya sudah tayang di Net 10. Video kedua yang saya kirimkan tentang perayaan imlek di Den Haag, tidak tayang di TV tapi tayang di website mereka. Kalau tayang di TV, pihak mereka akan mengirimkan email memberitahukan di program apa video yang kita kirimkan ditayangkan lalu mereka akan meminta scan atau foto ID, halaman depan buku tabungan (bagi yang baru pertama kali mengirimkan video). Betul sekali, kita akan mendapatkan honor ketika video yang kita kirimkan tayang di TV. Berapa besarnya? bisa langsung dibaca di website mereka karena keterangan tentang jumlah honor yang akan kita terima sangat jelas dituliskan. Pengiriman honor berselang antara 4-5 minggu sejak kita mengirimkan biodata. Kalau videonya tayang di website, kita tetap akan menerima email pemberitahuan kalau video kita sudah published tetapi tidak mendapatkan honor. Oh iya, video yang tayang, tidak hanya di program Net 10 saja, bisa jadi di program-program lainnya misalkan Net 12, Net 5, IMS atau program lainnya. Hanya, yang disebutkan di twitter mereka adalah video yang tayang di Net 10. Saya membaca pada akun twitter mereka, kalau misalkan dalam satu bulan video kita masih belum diapprove, berarti video yang kita kirimkan belum memenuhi standar kelayakan untuk tayang di NET TV.
  • Dulu, video yang tayang di TV ada link nya di youtube. Sejak akhir Januari, ada kebijakan baru bahwa video yang tayang di TV tidak ditampilkan lagi di youtube, hanya ada di website mereka.
Citizen Journalist NET TV liputan di pasar Den Haag
Citizen Journalist NET TV liputan di pasar Den Haag

Kalau mungkin ada yang bertanya kira-kira video seperti apa yang sukses tayang di TV? Saya juga tidak tahu secara pasti karena saya masih pemula (baru mengirimkan 3 video, dua yang tayang di TV). Tapi kalau yang saya baca dari akun twitter mereka dan saya amati dari video-video yang tayang di TV, saya bisa berbagi tips (catatan buat saya juga) :

  • Unik dan buat video se kreatif mungkin. Buka mata lebar dan telinga karena mungkin saja ada hal-hal disekitar kita yang bisa dijadikan bahan untuk membuat video. Tidak usah sesuatu peristiwa yang besar, hal-hal yang terjadi disekitar kita bisa jadi unik dimata redaksi. Misalkan video saya tentang ber-ice skating di danau beku. Ketika saya merekam itu, tidak bakal berpikir hal ini akan tayang di TV, karena saya mikir : haduh ini nilai jualnya di mana. Ternyata buat redaksi ini layak tayang.
  • Jika ingin meliput tentang kuliner, 50% dari isi video harus close up pada makanan dan varian makanan yang ada (jika tempat makannya menjual dari satu macam menu) atau bisa juga tunjukkan kartu atau buku menunya. Rekam juga keramaian, syukur-syukur bisa mewawancara yang punya tempat makan atau pengunjung yang sedang makan. Kalau ingin mengutarakan makanannya enak, bisa dijelaskan enaknya di mana apakah rasanya asin manis gurih, tidak terlalu liat ketika dimakan dan sebagainya.
  • Ketika merekam, usahakan jangan banyak goyang supaya yang menonton tidak pusing. Angle nya bisa dari kiri ke kanan, kanan ke kiri, atas ke bawah, atau bawah ke atas. Variasikan saja dengan gerakan perlahan.
  • Saya pernah tanya di postingan Fe apakah muka kita harus kelihatan? maksudnya apakah harus seperti reportase begitu? Soalnya saya kan kagok ya ngomong sendiri depan kamera haha. Apalagi waktu saya di pasar, musti cari tempat yang agak sepi supaya tidak dilihat banyak orang, itu saja tetep banyak yang lihat. Belum lagi cuaca dingin sekali sampai mulut saya kaku untuk dibuka. Ok kembali lagi ke topik. Ternyata baca dari twitter mereka, liputan yang menggunakan PTC (Piece To Camera atau On Cam atau ngomong depan kamera yang berfungsi menguatkan liputan, jika liputan itu adalah hasil dari CJ) sudah dipastikan dimasukkan rundown. Apa yang kita omongkan ketika depan kamera? Tergantung fakta apa yang ingin disampaikan yang tidak bisa dilihat oleh penonton dalam video kita. Artikulasi dan suara harus jelas ketika sedang PTC. Hindari mengucapkan kata-kata : Sekarang, saat ini karena bukan liputan secara langsung (LIVE). Saran saya, bisa mencari informasi atau fakta terlebih dahulu tentang tempat yang akan kita liput, jadi kita tahu akan menyampaikan apa di depan kamera. Teknik PTC ini bisa dilakukan secara selfie. Tapi saya melihat juga ada beberapa video yang tidak menggunakan PTC tayang di TV. Jadi, kembali lagi kepada kita mana yang ingin dilakukan.
  • Banyak melihat video-video yang sudah tayang di Net TV sebagai bahan pembelajaran untuk membuat video-video selanjutnya supaya lebih baik lagi, atau bisa juga mencari ide-ide dari video-video tersebut. Kalau saya, banyak melihat video dari Mbak Rosi  (yang merupakan kontributor tetap) di youtube maupun website Net CJ untuk melihat bagaimana cara pengambilan object, cara berbicara depan kamera, cara mewawancara orang dll. Karena saya dan Mbak Rosi tergabung dalam satu grup whatsapp, jadi saya bisa langsung bertanya ke Mbak Rosi hal-hal yang saya masih kurang mengerti dan mendapatkan banyak masukan. Terima kasih Mbak!
  • Saat merekam momen, kamera harus dalam posisi horizontal (landscape), jangan portrait (vertikal). Lalu saat merekam usahakan angle nya ada yang Wide, Medium, dan Close Up. Jangan takut dengan piranti yang dipakai untuk merekam. Sejauh ini saya selalu merekam menggunakan iPhone (belum pernah menggunakan kamera) atau apapun jenis HP kamu selama hasil dan kualitas rekamannya memadai untuk ditayangkan di TV.
  • Secara keseluruhan bisa disimpulkan bahwa video CJ yang layak tayang di NET TV memenuhi beberapa kriteria seperti : angle menarik, kualitas video, lengkap informasi, unik, menarik, dan tidak basi.
  • Sampai saat ini, ketika saya membuat liputan, tidak dalam kondisi yang memang diniatkan datang ke lokasi hanya sekedar untuk merekam. Misalkan tentang liputan ke pasar, saya merekam ya memang saat jadwal saya ke pasar. Jadi waktu ke pasar, sekalian merekam. Saat liputan imlek juga begitu, saya ke Den Haag kota karena janjian dengan teman-teman untuk melihat perayaan imlek, sekalian saja saya rekam. Jadi sekali kayuh beberapa tujuan terlampaui. Saat merekam ice skating di danau beku, aslinya hari minggu itu saya tidak tahu kalau danaunya sangat ramai dan banyak yang bermain ice skating dan hockey. Karena sehari sebelumnya saat saya jalan kaki sendiri ke danau (rumah kami tidak jauh dari hutan, danau, dan peternakan), saya lihat danaunya beku tapi tidak ada siapapun di sana kecuali saya. Keesokan harinya saya ajak suami jalan kaki ke danau setelah belanja (jadi kami ke danau bawa tas-tas belanjaan), eh ternyata ramai sekali orang. Tiba-tiba ada ide untuk merekam meskipun muka saya tanpa polesan lipstick, tanpa bedak, hanya pakai pelembab saja :))) Ngomong depan kamera juga grogi sekali, sampai belepotan haha!. Saya akhirnya menodong suami untuk diwawancarai. Untung dianya oke oke saja. Ini video rekamannya yang masih ada link di youtube sebelum ada kebijakan baru.

Jadi, tidak susah ya menjadi Citizen Journalist. Jika ada yang berminat yuk rekam kejadian yang ada di sekitar kamu ketika jalan-jalan, saat berwisata kuliner, tutorial memasak bisa juga atau membuat kerajinan tangan, untuk yang suka berkebun juga, atau kejadian apapun itu. Apa yang kita pikir tidak unik, siapa tahu itu menjadi unik bagi redaksi. Jadi jangan ragu-ragu. Buat saya manfaatnya sangat banyak, selain bisa menyalurkan kesenangan saya dalam merekam apapun, menyalurkan kesenangan menulis karena harus menulis deskripsi, melatih keberanian dengan mewawancara orang, mleatih PD dengan ngomong depan kamera, banyak belajar hal-hal baru karena CJ ini benar-benar hal baru untuk saya meskipun sebenarnya sudah ada sejak tahun 2013, dan bisa mendapatkan uang. Betul kata Mbak Rosi, sekali unggah video di CJ Net TV, bakalan ketagihan setelahnya. Yuk kirim videonya sekarang!

-Nootdorp, 7 Februari 2017-

A happy and healthy 2017!

best-happy-new-year-pictures

As the final hours of 2016 here in the Netherlands are ticking away I wish all the readers of our blog a very happy and healthy 2017!

2017 will be a very important year for the people of the Netherlands and Indonesia.

In the Netherlands people feel more and more the (financial) stress of the situation from the unstable economic situation within the European Union and with the Euro. There are many uncertainties around the influx of immigrants from Syria and other Arabic and African countries that could lead to tensions with the Dutch citizens when it comes to social matters (like housing) and cultural differences. In March we will have elections in The Netherlands and I have recently become involved with a new and fresh political party so this promises to be a new and busy experience for me!

In Indonesia I feel worried about what I read in the press about the events concerning the Jakarte governor Mr. Ahok. It would be a very sad situation if religious circumstances would challenge the stability of Indonesia. Religion should not be a reason to silence opinions from individuals or groups in a society. I hope for 2017 that the situation in Indonesia stabilizes and the different religious groups can return to live peacefully and practice their religion with respect to the each other.

Nootdorp, 31 december 2016

Kenangan Masa Kecil Pada Semangkuk Rawon

img_1940-1

*Duh judulnya kok seperti FTV

Sudah lama tidak bercerita masak memasak meskipun akhir pekan ini saya juga tidak terlalu masak banyak. Malah kami makan jenis makanan yang sama pada hari Sabtu dan Minggu. Yang menjadikan istimewa karena saya memasak makanan masa kecil yaitu rawon. Bedanya, rawon yang biasa Ibu masak untuk saya dan adik-adik isinya bukan daging sapi melainkan kacang panjang dan labu siem. Kami tinggal di kota yang dekat pesisir, maka konsumsi daging sapi dikeluarga sangatlah jarang, lebih banyak mengkonsumsi makanan laut. Karena tidak terbiasa itulah yang membuat kami tidak terlalu suka makan daging bahkan saya sudah beberapa tahun ini berhenti mengkonsumsi daging (dan unggas). 

Seminggu lalu saat membersihkan gudang tempat menyimpan persediaan bahan makanan, saya menemukan sebungkus kluwak yang belum terpakai sama sekali. Lalu saya melihat freezer, ternyata stok bumbu rawon sudah habis. Akhirnya niat kalau minggu ini harus membuat stok bumbu rawon dan masak rawon. Kebetulan rendaman telur asin sudah waktunya di”panen”. Tinggal merendam kacang hijau untuk membuat kecambah pendek. Bumbu rawon untuk 4 porsi : 3 porsi untuk stok, satu porsi untuk dimasak. Wangi aroma rawon menyebar ke segala penjuru rumah. Sambil masak, jadi teringat masa kecil kalau Ibu masak rawon ini, saya dan adik-adik sangat lahap makannya. Salah satu makanan favorit di rumah (masakan Ibu lainnya khas rumah pernah saya tulis di sini). Jadi mrebes mili kangen Ibu dan adik-adik, namun terobati kangennya saat berbincang dengan adik di telepon. Dan saya kirimkan foto di bawah ini ke Ibu dengan keterangan : Deny kangen rawon buatan Ibu.

Rawon isi labu siem dan kacang panjang. Telur asin buat sendiri, kecambah pendek buat sendiri. Untung tempe ga harus buat sendiri :D sambel trasi mentah tidak ketinggalan juga couscous sebagai pengganti nasi.
Rawon isi labu siem dan kacang panjang. Telur asin buat sendiri, kecambah pendek buat sendiri. Untung tempe ga harus buat sendiri 😀 sambel trasi mentah tidak ketinggalan juga couscous sebagai pengganti nasi.
Ini blendrang rawon, dimakan saat hari minggu
Ini blendrang rawon, dimakan saat hari minggu

Saya selalu bercerita ke suami kisah dibalik setiap masakan Indonesia yang saya buat. Sekalian memperkenalkan kuliner Indonesia sekaligus memberitahu ada kedekatan apa antara saya dengan beberapa makanan tersebut. Seperti rawon, saya bilang kalau rawon biasanya isinya daging sapi. Jadi yang saya masak ini perkecualian. Ini kali kedua suami makan rawon dan dia tetap penasaran tentang kluwek. Mungkin dia heran ya ada bahan warna hitam dan bisa dimakan.

Terobati sudah kangen saya dengan rawon khas rumah. Minimal bentuknya sama meskipun rasa masih kalah jauh dengan buatan Ibu. Kenangan masa kecil pada semangkok rawon labu siem dan kacang panjang. 

Sabtu kami melihat Sinterklaas di dekat rumah. Meskipun udara dingin sekali, tapi penasaran dengan kemeriahannya. Ternyata benar, rame sekali. Anak-anak kecil bersuka cita bernyanyi dan menanti kedatangan Sinterklaas. 

Hari minggu saya bisa menyelesaikan 6k lari sementara suami 18k. Hawanya super dingin, saya pikir minus kok tangan rasanya beku sampai kibas kibas beberapa kali tetap rasa kebas. Ternyata begitu saya cek, masih 4°c tapi serasa minus. Siangnya saya masak semur tahu telur puyuh untuk bekal suami minggu depan. Saya juga membuat lemper isi ayam dan ikan tuna, pesanan teman-teman kantor suami. Sisa akhir pekan kami nikmati dengan berbincang-bincang santai sambil jemur baju.

Musim gugur tapi rasa musim dingin
Musim gugur tapi rasa musim dingin

Kalau kalian, adakah masakan rumah yang membuat teringat akan kenangan masa kecil?

-Den Haag, 13 November 2016-

Thierry Baudet: about national identity and political reforms

het_binnenhof-den_haag-nl-3426

October 18th I attended a presentation of Thierry Baudet, a Dutch intellectual and since recently aspiring a political career. Baudet is in the Netherlands known as one of the initiators of the ‘Ukraine referendum’ from April 2016.  Dutch citizens could vote in favor or against a trade association between the Ukraine and the EU. The referendum resulted in a strong ‘against’. Afterwards the Dutch government struggled -and failed so far- to find a clear and decisive response to other EU members concerning the verdict of the Dutch referendum. The referendum was unique: it was the first of its kind based on new legislation that allowed Dutch citizens to organize a referendum for new bills that had passed both chambers of the parliament.

The April referendum sparkled interest from the Dutch public in the affairs of politics, the first time since the rise of Pim Fortuyn’s LPF party in 2001. After Fortuyn’s was brutally murdered in May 2002 the interest of the Dutch in political affairs gradually waned over the years. In his presentation Baudet outlined that the success of the Ukraine referendum called for more permanent referenda: not only for new bills but also the possibility to organize referenda to re-evaluate existing bills. This raised the question from the audience if ‘referenda activists’ could frustrate the democratic process and make any kind of legislation impossible or questionable by provoking referenda.

Through a series of books Baudet’s intellectual baggage and ideas about politics gradually evolved. He concluded that for citizens of a country it is important to have a national identity. Baudet considers this national identity essential for a democratic process within the nation. Yet in his opinion a small, powerful elite in Dutch society acts reversely as they consider a national Dutch identity to be a burden from the past. A past when the Dutch nation gathered much of its wealth as a colonizing nation, slave transporter and introducing ‘racist’ phenomena like Zwarte Piet (the assistant of Sinterklaas). This elite, though small in numbers, has its tentacles in all important Dutch social and political institutions. It controls education facilities (from kindergarten to university), traditional media (radio, television, papers) and has a strong presence in all levels of civil administration and subsidized non-governmental institutions The most conspicuous manner to undermine the national identity and to replace it with a new one is their strive for a new multicultural European identity. The introduction of the Euro as a common currency was a remarkable exponent to aim for such a shared European identity. The allowance of mass immigration is another key policy in undermining the belief in a national identity.

According to Baudet most citizens from an individual perspective have a very good intuition about what is ‘wrong’  or ‘right’ to contain the stability of the nation and to keep their national identity. Yet the Dutch citizens have no platform or means to express their intuition. On contrary, they are often being marginalized or criminalized by the elite for expressing challenging opinions. On a personal level Baudet notes that for him and other intellectuals it became impossible to express their opinion through traditional media outlets. Baudet told he became an outcast in the world of Dutch universities, while universities should be the ultimate place for debate on social and political matters from all points of view.

From intellectuals educated in Dutch universities, again according to Baudet, no miracles could be be expected to oppose the views of the elite. These intellectuals are educated in the universities and think along the lines developed by their teachers in the 60’s and 70’s. They want to invent, plan, regulate and control every aspect of social and economic life. For them the unpredictability of the free market consisting of its small and autonomous parts is a horrendous thought.

Baudet explained his decision to join with his Forum voor Democratie next year’s Dutch parliament elections. In the past he was not interested in becoming involved in the field of politics. The inability of Dutch politicians to renew and reform within made him change his mind. His Forum voor Democratie now wants to join the political world in order to reform and break out from within the political system. Besides expanding the possibilities of referenda other targets included an elected mayor. Mayors for Dutch cities are nowadays chosen from the small political elite. Dutch citizens should directly influence politics through the use of digital technology: a dashboard should indicates the current status and opinions of important political subjects.

Baudet’s ideas are interesting and at the same time they leave one wondering about consistency and practicality of his ideas. His thoughts about the nation state and national identity are applicable to many nations within the Western hemisphere and do not particularly apply to the Dutch situation alone. So this might need to further investigation why they face similar tendencies as in the Netherlands.

Personally my belief is that the nation state as an instrument of identity will become less relevant in a not too distant future. As the world opens up, physically and virtually people will adapt themselves to new identities from completely different perspectives and for example adapt to virtual identities (something we already can witness with the growth of social media groups). As people consider the world a commonplace to work and live in, new identities will arise from those perspectives too. The combination of the continuation of the importance of an identification with the nation state in comparison to a rapidly changing world through digital innovation seems to me a bit weird. I do agree though with Baudet it is silly to keep the processes of democracy embedded in a 19th century world when many of the nation states emerged. The same digital innovations open up completely new ways to improve the democratic process.

A second thought was if Baudet’s ideas will really appeal to an already lukewarm audience or will they die in theoretical and idealistic beauty? Participating in daily political affairs opens an opportunity to realize reforms, but within the crowded Dutch political landscape with its many political parties there is a big risk that ideas will get lost in watery compromises. There is the famous example of D66, a political party started 50 years ago with similar and radical plans to reform politics from within the system. Nothing substantial from their original revolutionary ideas ever materialized. D66 is nowadays considered to be part of the Dutch political elite, having dropped all of its initial principles.

-Den Haag, 19 Oktober 2016-

Van Horster Land 2016 – Festival Kuliner dan Kultur di Horst

Horst adalah sebuah desa yang terletak di dekat lembah Groote Molenbeek, merupakan bagian dari pemerintahan Horst aan de Maas, Provinsi Limburg, Belanda. Populasi Horst aan de Maas sebanyak 41.700 orang (2015), 0.246% dari total populasi di Belanda. Horst terkenal dengan budidaya jamur skala besar dan holtikultura. Penduduk Horst mempunyai beberapa dialek saat berbicara. Ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi di Horst seperti Het Aarbeinland, Museum de Kantfabriek, Kasteelse Bossen, dan beberapa tempat lainnya. Sayangnya kunjungan saya ke Horst minggu lalu bukan untuk mengunjungi tempat-tempat tersebut, melainkan untuk memeriahkan Van Horster Land dan berkunjung ke rumah seorang teman.

Van Horster Land adalah festival kuliner dan kebudayaan Horst yang diadakan di pusat kota (centrum) Horst. Acara ini baru diadakan selama dua tahun berturut. Tahun ini Van Horster Land diadakan pada tanggal 24 dan 25 September 2016. Untuk ukuran kota kecil, festival ini tergolong cukup besar karena banyak sekali stan yang ada di sana. Tidak hanya stan, panggungnya pun ada 3 yang terletak di 3 tempat berbeda. Teman saya yang tinggal di Horst ini adalah salah satu yang ikut memeriahkan acara ini, dimana dikemudian hari dia mengajak saya dan seorang teman yang tinggal di Amsterdam untuk mengisi stan yang disediakan untuk dia. Stan yang disediakan untuk dia merupakan bagian stan dari tempat kursus integrasi yang dia ikuti, namanya Siham. Jadi stan yang kami gunakan adalah stan Indonesia.

Sebulan lalu saat saya dan teman dari Horst sedang jalan-jalan sehari ke Volendam, Edam, dan Marken (ceritanya menyusul), dia mengatakan tentang acara ini pada saya. Sebenarnya saya ingin datang karena saya memang suka sekali dengan acara-acara lokal semacam ini. Tapi tergantung tiket kereta juga, apakah ada tiket kereta murah yang dijual (dagkaart), karena kalau memakai tiket kereta biasa ke Horst mahal juga mengingat jarak tempuh dari Den Haag ke Horst 2.5 jam berkereta. Bersyukurnya akhir Agustus ada dagkaart yang dijual di salah satu supermarket di Belanda. Kesampaian juga akhirnya mengunjungi Horst.

Beberapa minggu lalu, saya pernah memamerkan foto ke dia saat saya berhasil untuk pertama kalinya membuat sate lilit Bali dan sate ayam. Saat itu saya bilang kalau nanti ke Horst, saya akan membawa sate lilit untuk dimakan bersama di rumahnya bersama 3 teman lainnya. Saya tidak menyangka kalau membuat sate lilit begitu mudah. Saya pikir selama ini agak ruwet, ternyata gampang sekali dan prosesnya cepat. Hari jumat sepulang kerja, saya bilang ke dia kalau sate lilit siap diproses dan meminta dia untuk mempersiapkan sambel matah sebagai teman makan sate lilit. Ternyata dia memberikan ide, bagaimana kalau saya membuat sate lilit dengan porsi yang lebih banyak supaya bisa dijual di stan dia. Wah, dadakan sekali karena saya tidak terlalu cukup bahan juga. Tetapi sayang juga ya kalau dilewatkan. Kesempatan emas untuk memperkenalkan sate lilit kepada orang Belanda karena di Belanda yang terkenal adalah sate ayam. Akhirnya saya membuat sate lilit dengan bahan yang ada saat itu. Saat saya memberitahu suami, dia ikut antusias juga sampai membuatkan deskripsi sate lilit itu apa. Dia sampai menawarakan untuk membuatkan saya kartu nama, siapa tahu ada yang mau pesan katanya. Walah, saya sampai tidak berpikir sepanjang itu karena untuk saat ini memasak itu bagian dari hobi meskipun beberapa kali juga saya memasak pesanan dari teman-teman dekat suami dan saya.

Setelah 2.5 jam perjalanan, sampai juga saya di Stasiun Horst-Sevenum (Suami tinggal di rumah. Setiap bulan kami memang selalu ada me time sehari melakukan kegiatan sendiri-sendiri). Saya dan seorang teman dijemput lalu kami langsung menuju ke tempat acara. Teman saya bersama teman lainnya sudah ada di stan. Teman yang tinggal di Amsterdam membawa barang jualannya yaitu batik-batik. Sedangkan teman saya yang di Horst menjual lumpia lalu saya menjual sate lilit. Saya antusias sekali selain karena bertemu dengan mereka, juga pertama kali ikut dalam acara lokal seperti ini. Sebenarnya suami sudah menawarkan beberapa kali untuk ikut serta di festival kuliner yanga ada di Den Haag, tapi saya masih males-malesan menyanggupi. Suami saya ini memang selalu berapi-api kalau mendukung saya untuk usaha makanan. Tapi saya masih belum sepenuh hati, meskipun cita-cita besar saya di masa depan ingin punya restoran yang dipadukan dengan toko buku atau perpustakaan. Mudah-mudahan terwujud. Saya dan teman-teman menggunakan batik, nyambung dengan apa yang dijual di stan tersebut.

Stan kami, menjual aneka macam batik, pernak pernik dari silver, lumpia dan sate lilit. Peta Indonesia yang merah itu akhirnya saya beli, unik untuk dipasang di rumah.
Stan kami, menjual aneka macam batik, pernak pernik dari perak, lumpia dan sate lilit. Peta Indonesia yang merah itu akhirnya saya beli (menggunakan uang hasil jualan sate :D), unik untuk dipasang di rumah.
Sate Lilit
Sate Lilit buatan saya. Yang di kotak belakang itu lumpia isi sayuran dan ayam buatan teman.
Nampang depan stan. Saya memakai batik dari Jambi kalau ga salah. Ingat-ingat lupa entah ini kado kawinan atau nitip teman trus jahit model sendiri
Nampang depan stan. Saya memakai batik dari Jambi kalau ga salah. Ingat-ingat lupa entah ini kado kawinan atau nitip teman trus jahit model sendiri.

Resep sate lilit ikan ini saya menyontek dari blog Melly. Dari beberapa yang mengunjungi stan kami dan membeli makanan dan barang-barang yang kami jual, mereka belum pernah mendengar yang namanya sate lilit. Akhirnya mereka membeli dan mencoba. Menurut mereka rasanya enak sekali (dengan mengatakan “heerlijk” yang artinya lezat). Lalu mereka bertanya bagaimana cara membuatnya dan bahan-bahan yang digunakan apa. Untung saja ada deskripsi yang dibuatkan oleh suami sehingga saya tidak terlalu banyak menjelaskan. Ada yang suka rasanya, ada yang tidak suka rasa kelapanya, ada yang merasa terlalu pedas, dan ada yang bilang rasanya tidak pedas sama sekali. Yang mengejutkan, ada yang ingin pesan lumpia dan sate lilit. Mereka minta kartu nama kami untuk pemesanan. Kami lalu bilang kalau kami tidak buka katering. Saya bilang bisa saja saya membuat sate lilit lalu dikirim ke Horst dari Den Haag, kalau mereka mau. Tapi mereka bilang terlalu jauh. Lalu teman saya ditodong untuk membuat lumpia. Teman saya tidak menyanggupi karena dia bekerja penuh waktu, jadi tidak ada waktu untuk menerima pesanan. Ketika saya cerita ke suami, dia bilang “wat jammer!” (=sayang sekali!).

Beberapa saat kemudian, saya mulai berkeliling melihat stan-stan lainnya. Meskipun tidak semua stan saya kunjungi, tapi senang sekali dengan kemeriahan acara ini. Beberapa kebudayaan dari negara-negara lain seperti Afrika, Irlandia, Indonesia, Ukraina, Maroko, dan masih banyak lainnya ikut memeriahkan festival ini. Dan yang pasti, banyak sekali stan yang menawarkan makanan untuk dicicipi. Nah bagian ini yang saya suka, incip makanan gratis 😀

Paprika dan jagung
Paprika dan jagung
Radish, enak dimakan untuk salad
Radish, enak dimakan untuk salad

Camilan paprika
Camilan paprika

Aneka olahan jahe
Aneka olahan jahe
Keju dan Kacang
Keju dan Kacang
Panggung musik
Panggung musik
Air mancur dan panggung lainnya
Air mancur dan panggung lainnya

Selain stan di luar ruangan, ada juga produk pertanian yang dijual di dalam gereja.

Sayur mayur yang ada dalam Gereja
Sayur mayur yang ada dalam Gereja
Sayur mayur yang ada dalam Gereja
Sayur mayur yang ada dalam Gereja

Gereja
Gereja

Saya dan teman-teman juga berkesempatan membuat Henna. Awalnya melihat ada seorang perempuan membuat Henna untuk anak kecil. Lalu saya bertanya harus bayar berapa dan tahan berapa lama Henna tersebut. Ternyata gratis dan cuma tahan kurang lebih satu minggu. Saya lalu tertarik lalu minta dibuatkan salah satu model yang tertera di salah satu bukunya. Sambil menunggu dilukis, saya bisa mendengarkan alunan gendang (entah apa nama alat semacam gendang) yang dimainkan dari stan Afrika dan beberapa orang ikut belajar memukul gendang tersebut. Begitu sampai rumah, suami kaget ada Henna di tangan saya. Saya suka karena gambarnya tidak ramai. Sampai hari ini, Henna yang ada di tangan sudah agak memudar.

Henna
Henna
Belajar memukul gendang
Belajar memukul gendang

Selain stan-stan yang memang berjualan untuk mendapatkan uang pribadi, ada juga stan-stan yang berjualan untuk mendapatkan uang yang nantinya akan disumbangkan pada yayasan dimana mereka berada. Salah satu stan yayasan tersebut ada di depan stan kami. Yayasan ini namanya Wahyu, didirikan untuk membantu anak-anak di Bali utara. Yayasan Wahyu ini didirikan pada tahun 2008 atas prakarsa Perancis Gardingen dan Willemien van Gardingen- van den Elzen. Keduanya adalah pengusaha yang sudah pensiun. Sejak tahun 2003, mereka aktif bersama-sama dengan pemberian bantuan kepada anak-anak di wilayah Bali Utara, Indonesia. Yayasan Wahyu ingin memberikan bantuan untuk pelatihan pemuda di Bali Utara. Anak-anak ini layak mempunyai masa depan yang lebih baik dengan kesempatan untuk bersekolah di tempat yang baik, dengan atap yang tidak bocor dan fasilitas sanitasi yang memadai dan higienis karena banyak sekolah tidak memiliki irigasi dan air minum (dari website Yayasan Wahyu). Rasanya saya malu hati melihat bangsa lain mengumpulkan dana untuk membantu bangsa Indonesia. Jadi bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia. Ada kejadian yang menggelitik, stan-stan disekitar yayasan Wahyu ini kalau memanggil Meneer yang menjaga stan dengan panggilan Wahyu, padahal nama Beliau bukan Wahyu.

Yayasan Wahyu
Yayasan Wahyu
Ibu ini asalnya Irlandia, menikah dengan orang Belanda kemudian mendirikan yayasan untuk membantu masyarakat Ghana
Ibu ini asalnya Irlandia, menikah dengan orang Belanda kemudian mendirikan yayasan untuk membantu masyarakat Ghana

Van Horster Land berlangsung dari jam 12 sampai jam 5 sore. Sekitar jam setengah lima kami mulai beres-beres. Kami sudah lapar dan ingin segera makan di rumah temen. Senang sekali bisa ikut berpartisipasi di acara ini. Selain saya dan teman-teman yang tinggal di Belanda baru 1.5 tahun bisa langsung praktek menggunakan bahasa Belanda, bisa berinteraksi dengan masyarakat lokal dan orang dari beberapa negara, bisa mengetahui kebudayaan bangsa lain, bisa memperkenalkan Indonesia lewat makanan dan barang-barang khas Indonesia serta bisa menjelaskan jika ada yang bertanya tentang Indonesia. Pengalaman sangat berharga.

Setelah acara selesai, kami langsung menuju rumah teman untuk makan, berbincang dan tertawa saling bertukar cerita tentang pengalaman kami saat awal-awal tinggal di Belanda. Ternyata banyak sekali kejadian lucu yang kami alami karena saat itu kami belum bisa bahasa Belanda sama sekali, jadi banyak sekali salah paham kalau sedang berbicara dengan orang Belanda. Kami tertawa tiada henti mengenang masa-masa itu. Bersyukurnya saat ini kami sudah bisa berbicara menggunakan bahasa Belanda, meskipun tetap masih harus belajar lebih giat lagi untuk meningkatkan kemampuan bahasa Belanda kami. Terima kasih untuk teman saya yang sudah memasak dengan sangat enak dan untuk teman-teman lainnya atas segala cerita serta kebersamaan hari itu. Tot volgende keer!

Makanan Nusantara. Kreco (siput), asem-asem ikan, sambel trasi, lalapan, bakso, ikan bumbu kuning. Super Lekker!
Makanan Nusantara. Kreco (siput) masak pedas, asem-asem ikan, sambel trasi, lalapan, bakso, ikan bumbu kuning, sate lilit, tempe mendoan, kue lapis. Super Lekker!

-Den Haag, 28 September 2016-

Bieslanddagen 2016

Bieslanddagen 2016

Saya suka sekali yang namanya belanja. Maksudnya adalah belanja bahan makanan di supermarket ataupun di pasar. Berbelanja di pasar tradisional selalu mempunyai kesenangan tersendiri, salah satu cara untuk refreshing, begitu saya menyebutnya. Beruntung sekali di Den Haag pasar tradisionalnya (Haagse Markt) super lengkap dan super murah dengan kualitas barangnya bagus. Saya mengatakan super lengkap karena banyak sayur mayur ataupun buah yang ada di Indonesia juga dijual di sini. Sebut saja sukun, belimbing wuluh, kedondong dan masih banyak lainnya, bahkan ontong (jantung pisang) segar pun ada. Selain itu, kalau di pasar saya selalu mengamati interaksi antara penjual-pembeli, penjual-penjual, maupun pembeli-pembeli. Karenanya, saya tidak bisa sebentar kalau ke pasar. Minimal 2 jam di sini, selain karena pasarnya sangat besar, saya juga sambil jalan-jalan melihat barang-barang yang lain (elektronik, baju-baju, kain, perlengkapan dapur dll). Saya ke pasar setiap tiga minggu sekali. Di Haagse Markt barangnya bisa ditawar, selayaknya pasar tradisional di Indonesia. Saya sering menawar harga cabe rawit.

Ontong atau jantun pisang di Haagse Markt
Ontong atau jantun pisang di Haagse Markt

Selain ke pasar tradisional atau supermarket, saya dan suami juga senang membeli sayuran, buah, dan telur langsung ke pertanian dan peternakan. Jadi kami di sini bisa langsung petik sayuran atau buah yang ingin di beli (terkadang didampingi yang punya, terkadang bisa langsung petik sendiri) lalu ditimbang dan bayar. Membeli telur ayam juga sama, kami langsung datang ke peternakannya, ambil sendiri telur yang ada dalam kandangnya, lalu ditimbang dan bayar. Area pertanian dan peternakan yang dekat dengan rumah adalah Biesland yang terletak diantara Den Haag, Delft, dan Pijnacker. Daerah ini selalu kami lalui setiap minggunya karena hutannya (Bieslandse Bos) menjadi tempat kami olahraga lari ataupun sekedar jalan-jalan di akhir pekan. Jangan bayangkan hutannya seram dan penuh pepohonan lebat seperti di Indonesia. Hutan di sini jauh dari kesan angker. Beberapa foto di bawah ini adalah lahan pertanian yang biasanya kami datangi untuk membeli sayuran.

Buncis
Buncis
Ini tanaman apa ya, Kale kayaknya. Yang disebelahnya adalah Pre
Ini tanaman apa ya, Kale kayaknya. Yang disebelahnya adalah Pre
Seledri (dalam bahasa Belanda : Selderij)
Seledri (dalam bahasa Belanda : Selderij)

Selain di Biesland, ada dua tempat lagi tempat kami membeli sayur mayur dan buah. Kalau di dua tempat tersebut bukanlah area pertanian, melainkan rumah kecil yang di dalamnya berisi hasil pertanian. Jadi hasil pertanian tersebut sudah diberi harga, kita bisa timbang sendiri lalu memasukkan uangnya ke dalam kotak yang sudah tersedia. Kenapa memasukkan uang ke dalam kotak? Karena tidak ada yang menjaga rumah kecil ini. Jadi sistemnya adalah kepercayaan dan kejujuran. Kita membayar sesuai dengan harga yang tertera di timbangan.

Untuk metode membeli sayuran langsung di lahan pertanian, mengingatkan saya akan sistem penjualan di kebun di Ambulu dan sawah milik Mbah Putri di Nganjuk. Jadi kalau di sawah, Mbah Putri selain menanam tanaman pokok, juga ada beberapa tanaman pendamping misalkan cabe, kacang panjang, lembayung, buncis dll. Bedanya, pembeli memetik sendiri apa yang ingin membeli, lalu Mbah Putri mengira-ngira harganya. Jadi tidak memakai timbangan. Kalau di Ambulu juga sama. Ada kebun milik keluarga (namanya tegalan) yang menanam pohon kelapa, cabe, salak, rambutan, mangga dan masih banyak lainnya, juga ada peternakan ayam. Bedanya kalau di Ambulu setelah pembeli mendapatkan barangnya, bude atau Ibu lalu menimbang barang tersebut. Jadi membayarnya sesuai beratnya, tidak menggunakan ilmu perkiraan.

BIESLANDDAGEN 2016

Bieslanddagen 2016
Bieslanddagen 2016

Tanggal 3 dan 4 September 2016 ada acara di area Biesland yang namanya adalah Bieslanddagen (dagen = hari dalam bentuk jamak). Bieslanddagen 2016 sudah memasuki tahun ke empat belas. Acara ini diadakan setiap tahun pada minggu pertama bulan September. Jadi dalam dua hari tersebut diadakan acara semacam pesta pertanian dan peternakan, acaranya gratis kecuali kalau kita membeli sesuatu tentunya membayar. Kami datang pada hari sabtu, cuaca lumayan cerah tapi tidak cerah sekali. Saya antusias sekali datang ke acara ini. Saya selalu suka dengan acara yang konsepnya kembali ke alam. Setelah memarkir sepeda, kami melihat banyak sekali anak-anak kecil. Suami sempat ragu, jangan-jangan acara ini diperuntukkan untuk anak-anak kecil. Saya bilang tentu saja tidak, acara ini untuk umum, siapapun boleh datang tidak mengenal umur. Beberapa kegiatan pada Bieslanddagen ini adalah kegiatan untuk anak, stan yang menjual produk lokal, acara musik, dan membeli secara langsung buah dan sayur di kebun. Lokasi acara ini ada di sembilan tempat berbeda tetapi letaknya berdekatan. Jadi bisa ditempuh jalan kaki antara satu tempat ke tempat lainnya.

Hoeve Biesland
Hoeve Biesland

KEGIATAN ANAK

Di awal saya sudah menyebutkan kalau dalam acara ini didominasi oleh keberadaan anak-anak kecil. Rupanya banyak sekali kegiatan yang bisa dilakukan olah anak-anak tersebut pada acara ini. Beberapa kegiatan seperti yang terlihat pada foto-foto dibawah ini, yaitu : memberi makan sapi, memancing, ada story telling juga, bisa naik kereta secara gratis (ada beberapa kereta yang disediakan), belajar memanah, bermain bersama domba dan sapi di lapangan, belajar melukis muka, bermain hulahop, kemping, dan membuat gerabah dari tanah liat. Asyik-asyik ya semua kegiatannya.

Memberi makan sapi
Memberi makan sapi
Memancing
Memancing
Mendongeng
Mendongeng
Naik kereta
Naik kereta

Sewaktu melewati tempat belajar memanah ini saya hanya bisa memandang dengan rasa ingin ikutan juga. Suami menggoda “kalau kamu mau, ayok aku temani. Nanti aku bilang kalau usiamu baru 14 tahun.” :p Dia tahu kalau salah satu keinginan saya bisa memanah, setelah menonton The Hunger Games *korban film.

Belajar memanah
Belajar memanah
Sapinya menggemaskan
Sapinya menggemaskan
Bermain bersama kuda
Bermain bersama kuda

STAN MENJUAL PRODUK LOKAL

Nah, bagian ini yang membuat antusias. Saya selalu senang kalau melintasi stan-stan yang menjual produk lokal, maksudnya adalah sayur mayur dan buah yang dijual langsung dipetik dari kebun atau lahan pertanian. Atau bahan makanan atau minuman yang dijual juga diolah dari hasil pertanian maupun perkebunan setempat. Jadi benar-benar terasa lokal dan segarnya. Ada satu stan yang menjual sambal. Variasi sambalnya lumayan banyak, tapi tidak ada sambal terasi apalagi sambal pete. Ditengah saya mencicipi beberapa jenis sambal, ada seseorang yang menyapa. Dia bertanya apakah saya dari Indonesia (bertanya menggunakan bahasa Belanda). Setelah saya jawab iya, langsung dia berganti berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Rupanya Bapak tersebutlah yang membuat sambal-sambal ini. Bapak tersebut berasal dari Kalimantan dan sudah lama tinggal di Belanda. Suami menggoda saya “mustinya kamu juga buka stan di sini, menjual sambal buatanmu yang fenomenal itu.” Dia ini menggoda saya seperti itu karena memang beberapa kali saya pernah menjual sambal buatan saya kepada beberapa teman. Mereka minta dibuatkan tapi maunya membeli, tidak mau diberi secara cuma-cuma. Ya akhirnya saya buatkan, lumayan buat nambah tabungan.

Jual segala jenis sambel
Jual segala jenis sambel
Gemes lihat warnanya
Gemes lihat warnanya. Stan ini menjual minuman, sambal, dan beberapa kue.
Perwadah isinya bercaman sayuran, harganya 1.5 euro
Perwadah isinya bercaman sayuran, harganya 1.5 euro
Bir
Bir
Tomat segar
Tomat segar
Keju produksi Biesland
Keju produksi Biesland
Sayuran segar
Sayuran segar

Roti dan ovennya
Roti dan ovennya
Meracik minuman
Meracik minuman

ACARA MUSIK

Di Bieslanddagen ini juga ada acara musik yang terletak di beberapa tempat. Ada yang akustik, ada kelompok musik, maupun ada yang berkeliling sambil memainkan alat musik akordian ditemani oleh Oma dan Opa yang berdansa dan ikut bernyanyi. Ini ada sedikit rekamannya :

Kelompok musik Pijnacker
Kelompok musik Pijnacker
Sambil makan, menikmati nyanyian dari kelompok musik
Sambil makan, menikmati nyanyian dari kelompok musik
Bernyanyi dan menari
Bernyanyi dan menari

BERKUNJUNG KE KEBUN BUAH

Kebun buah ini letaknya di belakang sebuah rumah yang dulunya juga berfungsi sebagai kincir angin. Tapi sejak lama kincir angin tidak difungsikan lagi tetapi rumahnya masih ditempati oleh seorang Opa. Kebun buahnya sebenarnya tidak terlalu besar, tetapi lumayan banyak jenis buah yang ada di dalamnya. Ada buah pir, apel, framboesa, strawberry, dan beberapa buah lainnya yang saya tidak tahu namanya.

Rumah yang dulunya juga berfungsi sebagai kincir angin. Saat ini kincir anginnya tidak berfungsi lagi, tinggal rumahnya saja dihuni oleh seorang Opa. Rumah ini dibangun tahun 1800an
Rumah yang dulunya juga berfungsi sebagai kincir angin. Saat ini kincir anginnya tidak berfungsi lagi, tinggal rumahnya saja dihuni oleh seorang Opa. Rumah ini dibangun tahun 1800an.
Ini buah apa tidak tahu namanya.
Ini buah apa tidak tahu namanya.
Framboesa
Framboesa

Sedang memangkas tanaman yang digunakan sebagai dekorasi rumah, untuk dijual langsung kepada seorang pembeli kepada seorang pembeli.
Sedang memangkas tanaman yang digunakan sebagai dekorasi rumah, untuk dijual langsung kepada seorang pembeli.
Kebun buah
Kebun buah

Tidak terasa kami mengunjungi satu persatu semua lokasi acara dan suami kalap belanja ini itu (terutama keju), tiga jam kami berada di acara ini. Tidak berasa capek sama sekali karena memang acara ini sangat menarik, banyak stan yang menyediakan tester juga sehingga kami bisa incip-incip gratis, melihat keseruan anak-anak kecil dengan kegiatannya, mendengarkan musik yang dimainkan, maupun sekedar duduk-duduk di dalam kebun buah atau yang tidak ketinggalan juga, menikmati es krim.

Duo es krim. Satu scoop nya 1 euro.
Duo es krim. Satu scoop nya 1 euro.

Selama bulan September ini di Den Haag berlangsung banyak food festival. Kami sampai kebingungan mau datang ke acara yang mana.

Kalian punya pengalaman juga membeli sayur mayur dan buah ataupun telur langsung di peternakan atau pertanian ataupun kebun?

CERITA TAMBAHAN

Cerita tambahan ini tidak ada hubungannnya dengan Biesanddagen. Hanya ingin pamer, kalau minggu lalu akhirnya saya bisa membuat klepon untuk pertama kalinya dan setelah sekian lama akhirnya bisa makan sayur bobor. Warna kleponnya tidak cerah karena tidak punya pewarna makanan, akhirnya warna hijaunya didapat dari daun pandan yang diblender. Saya cuma makan 4 biji, sisanya suami yang tidak berhenti mulutnya mengunyah. Ternyata membuat klepon tidak sesusah yang saya bayangkan (haha sok!). Sayur bobor juga saya baru pertama buat. Rasanya nyaris mirip dengan yang biasa Ibu masak, hanya tidak ada rasa tempe bosoknya (karena memang tidak punya) yang saya ganti aromanya dari ebi.

Klepon
Klepon
Sayur bobor yang dimakan bersama singkong kukus, jagung kukus, mendol panggang, sambel trasi mentah, dan kerupuk. Makan ini berasa lagi ada di Indonesia
Sayur bobor yang dimakan bersama singkong kukus, jagung kukus, mendol panggang, sambel trasi mentah, dan kerupuk. Makan ini berasa lagi ada di Indonesia

-Den Haag,  September 2016-

Semua foto milik pribadi