Ngobrol Dengan Tetangga

Danau besar di kampung kami

Saya bukan tipe yang gampang ngobrol ketika bertemu orang baru. Seringnya, saya akan menghindari percakapan atau mempercepat jalan ketika berpapasan dengan orang yang sering saya lihat di sekitar rumah. Tujuannya ya supaya tidak diajak ngobrol. Sejak di Indonesia saya sudah seperti itu. Dibanding adik – adik yang akrab dengan tetangga kanan kiri, saya lebih memilih leyeh – leyeh di rumah daripada ngobrol di rumah tetangga. Saya bergaul dengan tetangga di sana, sekedarnya saja. Bahkan boleh dibilang, kalau sedang butuh saja atau kalau tetangga sedang ada acara, saya baru muncul untuk membantu (memasak biasanya). Tapi para tetangga tidak pernah mempermasalahkan kenapa saya jarang ngobrol dengan mereka. Sudah terwakilkan dengan adik – adik, Ibu, dan Bapak. Mereka lebih bersosialisasi dibanding saya. Hubungan kami dengan para tetangga sangat baik, sudah seperti saudara sendiri. Mereka pun bukan tipe tetangga yang ikut campur urusan pribadi, termasuk saat saya belum menikah, mereka tidak pernah bertanya kenapa saya belum menikah. Intinya, tetangga saya di sana, bukan tipe yang suka mencampuri urusan orang.

Kesan orang ketika pertama kali melihat raut muka saya, sebagian besar mengatakan kalau saya ini nampak judes, congkak, angkuh. Kalau saya sedang berkaca, ya ternyata memang benar apa yang dikatakan mereka. Raut muka saya judes, jika sedang tidak tersenyum. Bertolak belakang dengan raut muka, saya ini gampang tersenyum kalau bertemu orang. Gampang memberikan salam. Hal ini yang akhirnya sedikit melunturkan kesan judes di muka. Ya lumayanlah, akhirnya ga judes – judes banget. Seingat saya, saat di Indonesia, kebiasaan orang saling menyapa itu diantara mereka yang saling kenal. Minimal menanyakan apa kabar. Kalau random orang bertemu di jalan dan tidak saling kenal, sepertinya mereka tidak akan saling sapa. Apalagi hanya saling sapa hallo, selamat pagi/siang/malam.

Berbeda dengan di Indonesia, di Belanda orang gampang sekali saling melontarkan sapaan. Saat bertemu di manapun, kalau berpapasan entah di jalan, taman bermain, danau, atau di manapun mereka paling tidak akan saling bertukar salam : hai, hallo, morgen, dag sambil tersenyum. Ini benar – benar random yang papasan tidak mengenal satu sama lain. Kebanyakan di kota kecil ya, kalau kota besar seperti Amsterdam sepertinya sudah tidak terlalu apalagi di pusat kotanya. Kalau di Den Haag (asal bukan di pusat kotanya), sepertinya masih meskipun tidak banyak (karena kami dulu tinggal di Den Haag pinggiran). Sekarang kami tinggal di kampung, ketemu siapa saja akan saling menyapa. Apalagi ini kampung kecil sekali yang kalau ketemu di pusat perbelanjaan atau danau atau taman sepertinya sudah hapal karena ya mukanya itu – itu saja.

Danau besar di kampung kami
Danau besar di kampung kami

Awalnya saya agak canggung dengan budaya menyapa ini. Belum terbiasa dan berasa agak aneh. Lama – lama akhirnya terbiasa juga lalu jadi spontan kalau berpapasan akan memberikan salam sambil tersenyum. Tidak semua orang Belanda akan gampang menyapa tentu saja. Ada juga kalau berpapasan ya jalan aja dia seperti tidak ada orang lain disekitarnya. Contohnya suami saya haha. Dia sangat jarang sekali menyapa orang kalau tidak disapa duluan. Itupun kalau disapa, dia ya jawabnya datar jarang ada senyumnya. Beda dengan saya yang selalu melemparkan senyum penuh suka cita dan sumringah sekali kalau memberikan salam pada orang. Itulah akhirnya di sini saya gampang tersenyum dan memberikan salam saat berpapasan, termasuk dengan tetangga. Jiwa gampang tersenyum saya jadi makin terasah. Pun ngobrol dengan tetangga saat berpapasan.

Lingkungan rumah kami kalau digamparkan semacam kompleks kecil. Penghuninya 90% orang Belanda, selebihnya imigran termasuk saya. Semacam kluster perumahan yang di dalamnya ada komplek rumah khusus untuk Oma Opa. Jadi tetangga kami kebanyakan ya para Oma dan Opa. Nah mereka ini punya kebiasaan kalau pagi pasti jalan kaki sekitaran rumah dengan anjing atau sendirian. Saya akhirnya mengenal beberapa diantara mereka karena sering berpapasan setelah aktifitas mengantar ke sekolah, lalu kami saling melemparkan salam. Karena sering bertemu, akhirnya kami mulai percakapan. Bukan percakapan yang serius, hanya saling bertanya kabar. Lama kelamaan, mulai melebarkan obrolan tentang makanan, anjing mereka, rencana akhir pekan apa, liburan mau ke mana, bahkan saya jadi tahu misalkan ada tetangga lain yang baru melahirkan, ada yang sedang masuk RS, atau punya cucu ya dari mereka ini. Lumayan ya jadi update informasi dari para Oma Opa. Obrolan yang kami lakukan ya sambil berdiri tentu saja karena memang sedang berpapasan. Bukan lantas mengundang duduk minum kopi di rumah lalu dilanjutkan dengan sesi rasan – rasan. Orang sini meskipun ramah, tapi mereka sangat menjaga jarak. Tidak akan gampang menjadikan seseorang itu temannya atau dengan gampang mengundang ke rumah. Tidak ada istilah nonggo atau nenangga atau duduk manis santai – santai nggosip di rumah tetangga. Saya beberapa kali memberi mereka camilan seperti lumpia, pukis, martabak. Hanya saya antarkan depan rumah mereka saja, tidak sampai masuk ke rumah. Bersyukurnya, para tetangga ini tidak ada yang berkelakuan aneh – aneh. Tidak pernah ada kejadian khusus di sekitar sini. Hanya memang karena lingkungan para orangtua dan depan kompleks adalah rumah jompo, jadi sering ada ambulans yang datang.

Pernah suatu malam, ada ambulans datang ke tetangga persis depan rumah kami. Lalu disusul dengan mobil pemadam kebakaran. Saya ingat sekali saat itu sekitar jam 9 malam karena kami sedang seru menonton film. Dua mobil ambulans datang, disusul 3 mobil pemadam kebakaran. Wah rasanya sangat serius. Lalu suami memutuskan ke luar rumah untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi. Eh ternyata para tetangga juga keluar rumah ingin tahu ada apa sebenarnya. Lalu saya mbatin : ternyata sama saja di sini pun orang – orang masih punya rasa penasaran. Bedanya, di sini tidak sampai ada kerumunan. Hanya melihat dari kejauhan saja, sangat jauh malah.

Diantara banyak tetangga, kami hanya akrab dengan dua tetangga, keluarga Belanda. Ya bukan akrab yang bagaimana, hanya memang sering mengobrol dan pasti diundang dan saling mengundang jika ada acara. Juga saling berkirim makanan. Hanya sebatas itu. Dengan mereka, kami juga saling membantu. Jika sedang pergi liburan, kami akan menitipkan rumah pada mereka untuk sesekali ditengok atau minta tolong untuk menaruh surat – surat yang datang ke atas meja. Jadi mereka pegang kunci rumah kami. Begitu juga sebaliknya mereka berlaku yang sama. Kami beruntung sekali punya tetangga seperti mereka, setidaknya masih berasa hidup bertetangga, tidak terlalu individualis. Obrolan diantara kami juga lumayan sering, jadi tahu tentang keluarga masing – masing. Mereka sangat perhatian, bahkan saat saya lulus ujian apapun (termasuk ujian praktek dan teori menyetir mobil), pasti dikirimi bunga dan ucapan selamat. Saya sungguh merasa terharu mereka seperhatian itu.

Ngobrol saat papasan dengan tetangga, ternyata sangat menyenangkan untuk saya. Memang tidak lama, hanya 5-10 menit tapi setelahnya bisa memberikan efek yang membuat bahagia. Entah kenapa seperti itu. Mungkin karena topik obrolannya tidak ada ucapan yang menghakimi atau pertanyaan basa basi atau pertanyaan sangat ingin tahu. Menanyakan kabar, kesehatan, saling berucap semoga harinya menyenangkan, bahkan ada satu Oma yang dengan ucapan tulus bilang kalau warna jilbab saya bagus, rok yang saya kenakan cantik motifnya dsb. Ucapan singkat yang bisa membuat hari saya ceria. Obrolan ringan seperti itu membuat saya merasa ternyata saya masih butuh hidup bertetangga. Saling ngobrol meskipun sebentar, saling melemparkan salam, saling mengundang, saling menanyakan kabar. Kehidupan bertetangga yang saling menjaga batasan dan privasi. Kehidupan bertetangga yang secukupnya tidak berlebihan. Menjaga hubungan baik dengan tetangga, buat saya sangat penting. Apalagi kami jauh dari saudara.

Jadi ingat ucapan Ibu sewaktu di Indonesia : berbuat baiklah dengan tetangga, jaga hubungan baik dengan mereka, karena jika kita butuh pertolongan, mereka yang pertama membantu.

-10 September 2021-

*Bagaimana hubungan kalian dengan tetangga? *Sayangnya kalau pas cabe atau beras habis, tidak bisa minta tetangga karena pasti mereka tidak punya cabe.

Bangga (Akhirnya) Bisa Menyetir Mobil (di Belanda)

Pertama kali menyetir di Belanda setelah punya SIM

Menyetir mobil ini benar – benar salah satu pencapaian terbesar dalam hidup saya. Bayangkan, dari orang yang sangat takut berkendara sendiri, bahkan naik motor saja takut, sekarang sudah bisa menyetir mobil lintas provinsi di Belanda.

Jadi, kami baru pulang liburan 4 hari. Di dalam negeri saja. Selama liburan tersebut, kami tinggal di vakantie huis (rumah yang disewakan untuk berlibur) di salah satu kota di provinsi Gelderland. Seperti biasa kalau liburan menginap beberapa hari, suami pasti akan menyewa mobil karena pasti kami mengunjungi kota – kota di sekitar tempat yang kami tinggali. Lalu suami bilang kalau liburan kali ini, bagian saya yang menyetir mobil supaya latihan dan tidak kaku.

Sebenarnya saat kami liburan awal Juli, itupun sudah direncanakan kalau saya yang akan menyetir mobil selama liburan. Waktu itu kami ke provinsi Drenthe dan Friesland. Tapi, karena SIM saya jadinya telat seminggu setelah liburan, walhasil saya tidak jadi menyetir saat itu. Akhirnya kesempatan liburan kali ini saya yang menyetir mobil.

Terakhir menyetir mobil ya waktu saya ujian praktek dan dinyatakan lulus akhir bulan Mei. Setelahnya sama sekali belum menyetir mobil lagi. Pagi hari saat mau berangkat, sempat ada rasa deg – deg an, kira – kira masih bisa tidak ya, kira – kira masih ingat tidak ya aturannya seperti apa, dsb. Sempat ada rasa khawatir sejenak. Tapi setelah saya duduk di belakang setir, semua berjalan lancar.

Jadi liburan kali ini, saya menyetir mobil lintas 4 provinsi di Belanda. Sebenarnya letak antara satu provinsi dan lainnya tidak terlalu jauh karena ya Belanda ini sebesar apa sih, negara yang kecil. Jadi, kami berhenti – berhenti di 3 provinsi : Utrecht – Gelderland – Zeeland. Berhentinya bukan hanya di Pom Bensin saja tapi masuk ke kotanya karena kami mengunjungi beberapa tempat di sana. Nah karena rumah kami ada di provinsi yang berbeda yaitu Zuid Holland, jadinya ya saya menyetir lintas 4 provinsi : Zuid Holland – Utrecht – Gelderland – Zeeland – Zuid Holland.

Sekitar 90% selama liburan, saya yang pegang setir. Sementara suami menggantikan saya menyetir cuma 1 jam sisa perjalanan saat dari Gelderland ke Zeeland yang total waktu tempuhnya 2 jam 45 menit. Jadi saya menyetir 1 jam 45 menit, sisanya suami. Selebihnya, selama 4 hari ya saya yang menyetir.

Rasanya bagaimana akhirnya bisa menyetir mobil? Bangganya luar biasa pada diri sendiri. Menengok lagi ke belakang, tidak mudah meyakinkan saya sendiri kalau menyetir mobil adalah keterampilan yang benar – benar ingin saya kuasai. Dulu waktu di Indonesia, sama sekali tidak ada keinginan dan terpikir untuk bisa menyetir mobil. Tapi saat di sini, pikiran saya jadi berubah. Saya merasa, saya harus bisa menyetir mobil supaya lebih mandiri dan pasti terpakai untuk kebutuhan lainnya. Lalu saya berkeras kepala untuk lulus ujian teori meskipun buat saya itu bahasanya sudah tingkat dewa saking susahnya (tricky dan bahasa Belanda yang dipakai formal sekali). Alhamdulillah sekali tes langsung lulus. Kemudian saya pun kembali berkeras kepala untuk lulus ujian praktek meskipun gagal dua kali dan 3 kali ujian tidak jadi karena terkena lockdown. Ujian ketiga baru saya dinyatakan lulus.

Sekarang saya bisa merasakan apa yang saya perjuangkan selama 1.5 tahun. Bisa menyetir dengan aman sesuai peraturan yang berlaku, menyetir dengan tenang dan bisa berpikir cepat apa yang harus dilakukan kalau ada kondisi yang tidak ideal.

Selama liburan kemaren, rasanya hampir semua situasi sudah saya lewati. Menyetir saat hujan deras sekali, menyetir di jalanan berkelok curam ke atas saat ke kastil, menyetir di kecepatan 120km/jam, 100km/jam saat jam sibuk, menyetir dalam kota, menyetir di sekitar pusat perbelanjaan, bermanuver di jalan tol menyalip truk – truk yang berukuran super besar, menyetir di jalanan super sempit, menyetir saat macet di dalam kota dan di jalan tol, menyetir malam hari. Alhamdulillah semua terlewati dengan baik. Dulu berpapasan dengan truk saja sudah membuat gemetaran. Sekarang setelah di belakang setir, semuanya jadi biasa. Dulu membayangkan melewati jalan berkelok curam saja ngeri, sekarang setelah dijalani sendiri, ya berani.

Kenapa saya berani? karena aturan menyetir di sini semuanya jelas dan peraturan lalu lintasnya pun jelas. Jadi orang tidak akan seenak udelnya serobot sana sini di jalanan. Selain itu, karena sudah punya SIM yang mendapatkannya penuh perjuangan, banyak uang yang sudah dikeluarkan, ya tidak ada alasan untuk tidak berani menyetir.

Suami bilang : Wah, rute selanjutnya roadtrip lintas negara nih. Selama ini, kalau kami roadtrip ya pasti dia saja yang menyetir. Karena sekarang saya sudah bisa, jadi saya juga tertantang menyetir mobil roadtrip lintas negara.

Ibu saja sampai heran, darimana keberanian yang saya dapatkan kok bisa – bisanya sekarang ga ada takutnya menyetir. Padahal dulu sudah ditawari beberapa kali untuk les nyetir mobil di Indonesia selalu saya tolak dan bilang kalau seumur hidup tidak akan pernah menyetir mobil sendiri. Sekarang saya telan omongan sendiri.

Kalau tidak merantau sejauh ini, saya tidak akan punya keberanian sebesar sekarang. Jika saya tidak berkeras kepala untuk meneruskan les menyetir sampai lulus dan mendapatkan SIM, rasanya saya tidak akan sebangga ini. Jika tidak mencoba sendiri menyetir mobil, rasanya saya tidak akan tahu bahwa saya pun bisa mengalahkan ketakutan selama ini.

Rute selanjutnya, lintas negara? Kita lihat saja nanti. Kalau menyetir mobil di Belanda saya bisa tanpa ada rasa takut, nanti di Indonesia saya serahkan saja pada ahlinya. Membayangkan lalu lintasnya saja sudah bikin saya dadah – dadah ke kamera .

-24 Agustus 2021-

Vaksin Covid – Bagian Kedua – Selesai

Sourdouh Multigrain Bread

Cerita singkat saja ya kali ini. Beberapa hari lalu, saya selesai mendapatkan vaksin kedua covid. Yang bagian pertama, bisa dibaca ceritanya di sini ya.

Berbeda dengan vaksin pertama yang masih ada sedikit efek sampingnya, vaksin kedua ini benar – benar tidak berasa ada efek setelahnya. Lengan sakit pun tidak berasa. Padahal saya sudah mempersiapkan mental kalau efek vaksin kedua ini akan berat karena mendengar cerita – cerita mereka yang sudah mendapatkan vaksin kedua.

Sama halnya dengan yang pertama, sebelum vaksin kedua ini pun saya tidak ada persiapan khusus. Makan minum seperti biasa, istirahat dan tidur pun seperti biasa, tidak mengkonsumsi vitamin apapun. Intinya, biasa saja. Ada satu yang nyaris sama dengan vaksin yang pertama : Saya nyaris lupa kalau hari itu harus vaksin. Padahal dua hari sebelumnya saya sudah mengingat – ingat kalau akan vaksin 2 hari lagi. Pas tengah malam saya baru teringat kalau besok pagi jadwal vaksin. Walah, nyaris terlewat. Padahal jadwal saya hari itu padat sekali. Harus mengerjakan Sourdough bread 4 macam yang adonannya sudah diinapkan di kulkas, masak makan siang, dan masak lodeh buat akhir pekan. Ngerinya kalau setelah vaksin efeknya berat, buyaarr semua jadwal itu. Adonan roti bisa – bisa berubah jadi adonan tape.

Selesai vaksin, sesampainya di rumah, saya masih leyeh – leyeh 30 menit. Kok tidak ada tanda – tanda sakit ya. Lalu saya mulai mengerjakan roti satu persatu. Sampai roti kedua, masih ga ada rasa sakit. Saya tidak mau jumawa. Takutnya kena tulah besokannya sakit parah. Tiga jam berlalu, 6 jam berlalu, 10 jam berlalu, tetap biasa saja. Bahkan semua rencana hari itu, bisa saya selesaikan semua. Membuat 4 macam roti, masak makan siang, masak lodeh untuk akhir pekan, jalan – jalan ke hutan, sampai beberes pun selesai semua. Hari itu, terlewati dengan mulus.

Keesokan paginya, bangun dengan tanpa badan sakit. Oh ya lupa dituliskan. Seminggu sebelum vaksin, hidung saya mulai mampet. Pilek. Sampai hari vaksin pun, hidung saya tetap mampet, pilek. Nah keesokan harinya, bangun tidur tetep mampet. Jadi kondisi setelah vaksin, tidak ngefek pada kemampetan hidung. Berharapnya agak membaik ya, tapi tetap saja. Sehari setelah vaksin, juga sama, mulus dilalui tanpa rasa sakit (bahkan sampai tulisan ini diunggah). Akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa untuk vaksin kedua, tidak ada efek samping apapun di badan saya. Mulus tetap berkegiatan seperti biasa.

Senang akhirnya sudah mendapatkan vaksin yang kedua. Yang membuat saya makin lega lagi, Ibu dan adik – adik saya di Indonesia, akhirnya sudah mendapatkan vaksin yang pertama. Setelah lika liku stok vaksin di daerah yang cepat habis, akhirnya mereka sudah bisa vaksin yang pertama. Rasanya benar – benar ingin sujud syukur saking senangnya mereka sudah divaksin.

Suami masih bulan depan vaksin keduanya. Apa rencana kami setelah mendapatkan vaksin lengkap? Tidak ada rencana apapun. Ya begini saja tetap tinggal di rumah karena tidak ada undangan kumpul – kumpul juga. Kehidupan berjalan seperti biasa. Tetap liburan gentayangan di Belanda. Kemaren saya menanyakan lagi ke suami, apa dia ada rencana liburan ke LN secara dia ini kalau bikin rencana liburan selalu dadakan. Dia lalu mengingatkan saya bahwa negara ini kodenya sedang merah. Jadi kami tidak mau ruwet perkara liburan di LN dengan embel – embel datang dari negara berkode merah. Dan lagi, peraturan di situasi seperti ini cepet berubah. Intinya, kami males ruwet sih. Jadinya, tetap seperti rencana semula sejak awal tahun kalau tahun ini tema liburan kami adalah explore Belanda. Lumayan, jadi lebih tau kota – kota kecil di Belanda, menjelajah museum, dan lebih mengenal hotel – hotel di sini haha.

Stay Happy and healthy ya! Doa saya tetap dan selalu sama. Semoga keadaan ini cepat membaik, kehidupan berjalan normal lagi, kita semua diberikan kekuatan lebih untuk melangkah. Turut berduka cita untuk mereka yang ditinggalkan keluarga, teman, sahabat, yang tercinta karena pandemi ini. Semoga diberikan kekuatan dan penguatan.

-25 Juli 2021-

*Cerita tambahan. Sebenarnya sangat tidak penting. Tapi tetap ingin saya tuliskan. Sewaktu diarahkan ke salah satu loket pemeriksaan kartu identitas, petugasnya ganteng sekali. Matanya bagus, giginya rapi dan bentuknya bagus sekali. Pas dia tersenyum, duh tiba-tiba jantung saya kayak yang jadi cepat gitu detaknya. Matanya bagus banget asli. Wah gawat, jangan sampai ga bisa vaksin gara – gara disenyumin lalu tensi saya melonjak. Setelah meninggalkan loket, jantung saya masih deg-degan gitu lho. Ya Allah, norak! Lemah memang saya kalau lihat mata bagus. Makanya saya lemah lihat matanya NicSap *nyebut Mbak!

Sampai rumah saya cerita suami kan. Dia cuma senyum datar aja. Komen dia : ya untung saya ga ditelpon sama GGD suruh jemput kamu yang pingsan gara – gara disenyumin anak muda dengan mata yang menurutmu bagus.

Haha!

Lulus Ujian Praktek Menyetir Mobil di Belanda

Bunga dari tetangga setelah saya dinyatakan lulus ujian menyetir mobil

Akhirnyaaaa, Alhamdulillah hari itu datang juga dimana saya dinyatakan lulus ujian menyetir mobil setelah 30 menit praktek didampingi oleh penguji yang disebut Examinator. Setelah dinyatakan lulus, saya langsung loncat – loncat kegirangan sampai otomatis nyaris memeluk instruktur yang ada di sebelah saya. Untung saya masih bisa mengendalikan diri. Bukan karena ingat dia bukan muhrim, tapi ingat ini masih musim Corona. Kalau tidak, mungkin benar adanya saya akan memeluk dia hahaha saking gembiranya dan legaaaa rasanya akhirnya lulus juga. Rasanya seperti satu beban terangkat dari pundak. Saya sangat bangga sama diri sendiri akhirnya lulus ujian praktek menyetir mobil di Belanda. Saya perlu tuliskan berkali – kali BELANDA-nya karena untuk mendapatkan SIM di sini, bukanlah perkara yang mudah. Selain mahalnya minta ampun, ujiannya pun susah karena standar kelulusan yang tinggi. Ujian teorinya, tricky minta ampun. Bersyukurnya tahun lalu saya langsung lulus sekali ujian dalam bahasa Belanda. Sebagai gambaran, orang Belanda saja bisa sampai 2-4 kali baru bisa lulus ujian teori. Makanya saya bangga bisa sekali lulus ujian teori dalam bahasa Belanda, saking tricky – nya ujian itu. Lengkapnya bisa dibaca di sini ya tentang ujian teori menyetir mobil. Ujian teori bisa sekali lulus, ujian praktek lain cerita. Panjaaanggg dan berliku. Saya ceritakan lengkapnya di bawah ya.

PERJALANAN PANJANG, BERLIKU, DAN PENUH AIRMATA

Sub judul ini tidak melebih – lebihkan. Bagaimana tidak panjang, berliku, dan penuh air mata kalau mendapatkan SIM mobil saja susahnyaaaa minta ampun. Jadi begini, saya mulai belajar menyetir di sini itu dari nul putul alias tidak bisa menyetir sama sekali. Di Indonesia tidak ada hasrat buat belajar menyetir mobil karena memang tidak minat. Di sini lain cerita, karena saya pikir menyetir mobil itu sebuah keterampilan yang saya harus bisa karena pasti akan terpakai nantinya. Supaya tidak tergantung dengan suami juga kalau butuh. Jadilah saya belajar dari awal. Mulai dari mengenali satu persatu segala tombol yang ada di mobil itu fungsinya apa saja. Bahkan belajar bagaimana mengendalikan setir mobil. Dari yang awal belok aja kayak mau nabrak trotoar, nginjak rem kayak mau tabrakan saking kerasnya (ga ada penghayatan sama sekali). Menginjak pedal gas sudah seperti di sirkuit balapan saking kencangnya. Saya kadang sampai sungkan dengan instruktur yang supeeerrr sabar. Sering bertanya sama dia apa saya ini murid dia yang paling parah ketidakbisaannya. Dia cuma 4 tahun lebih muda dari saya. Sabar dan telaten mengajari. Seingat saya, dia tidak pernah marah sama sekali. Hanya, dia tegas.

Ada masanya setelah beberapa bulan les, merasa kok kemampuan saya masih begitu – begitu saja. Merasa kok masih banyak salahnya. Sampai ada satu titik, memutuskan untuk menyerah. Saya sampai menangis di depan si Instruktur, bilang kenapa kok saya ini ga ada bakat menyetir rasanya. Sudah tidak terhitung menangis di depan suami bilang mau berhenti saja lesnya. Mau menyerah tapi ada rasa sayang kalau berhenti tengah jalan. Nanggung dan seperti tidak mendapatkan sesuatu. Seperti sia – sia kalau tidak diselesaikan sampai tuntas.

Apalagi setelah gagal ujian pertama. Rasanya makin merasa saya ini ga punya bakat menyetir. Padahal Instruktur saya selalu bilang begini : Setiap les, kamu jangan selalu lihat negatifnya saja. Lihat positifnya lebih banyak. Apa yang kamu pelajari hari ini, lebih banyak dari kesalahan apa yang kamu perbuat. Namanya juga masih belajar, pasti ada salahnya. Kesalahan itupun bukan selalu hal negatif. Dari kesalahan kamu bisa belajar banyak hal supaya kedepannya lebih baik lagi. Kamu jangan jadi orang yang terlalu perfeksionis. Letakkan perfeksionis kamu di rumah saat kamu sedang belajar menyetir. Jangan dibawa. Ingat, kamu dulu memulai belajar, bahkan menginjak menginjak rem saja tidak bisa. Lihat kamu sekarang, sudah bisa bawa mobil di jalan bebas hambatan. Lihat kamu sekarang sudah bisa lewat jalan yang super sempit. Lihat kamu sekarang sudah bisa papasan dengan truk tanpa rasa takut. Jangan bebani dirimu dengan target yang terlalu tinggi. Pelan – pelan yang penting pasti. Ya, kesalahan terbesar saya adalah terlalu menaruh target yang terlalu tinggi setiap les. Walhasil saya bukan fokus pada prosesnya tapi pada hasil akhirnya. Padahal tidak bisa seperti itu. Menyetir itu kan keterampilan, jadi ya ala bisa karena terbiasa. Pelan – pelan tapi ada progresnya. Tidak bisa mendadak sulapan sim salabim jadi lancar sekali. Setelahnya, perlahan saya mulai letakkan perfeksionis saya dan kemampuan menyetir semakin baik dan lancar.

Saya sampai curhat ke beberapa orang yang mengalami betapa susahnyaaaa mendapatkan SIM di sini. Cerita ke Yayang, Ratih, Maya. Lalu Yayang pernah bilang seperti ini : Kalaupun kamu pernah gagal ujian praktek, jangan menyerah. Lanjutkan sampai kamu dapat SIM. Mau berhenti di tengah jalan, akan rugi karena sudah sejauh ini. Lanjutkan. Lalu suatu ketika, Agnes di twitter juga pernah bilang : aku ujian kelima baru lulus. Aku memang berkeras kepala harus lulus, bagaimanapun caranya. Lalu sejak saat itu, saya punya keyakinan kalau sebenarnya saya ini sudah bisa menyetir, ya buktinya saya bisa menyetir kan setiap kali les. Hanya, kemampuan saya menyetir mobil tersebut belum sesuai standar sang penguji yang didasarkan pada aturan Belanda yang Subhanallah buanyaakkk dan supeerrr detail. Standar menyetir di Belanda ini memang tinggi. Saya tahu sih, demi keamanan dan untuk menekan angka kecelakaan. Untuk keselamatan diri sendiri dan orang lain juga tentu saja.

Persoalan lainnya, dalam perjalanan menuju lulus ini, di tengah – tengahnya ada selingan lockdown 2 kali plus perpanjangan lockdown satu kali. Dampaknya, durasi saya les pun makin panjang karena saat lockdown, beberapa jenis pekerjaan termasuk sekolah les menyetir dilarang beroperasi. Jadilah selama masa lockdown tidak ada kegiatan les sama sekali. Saya mulai les nyetir itu akhir Desember 2019. Lalu awal Februari 2020 sudah lulus ujian teori. Harusnya pertengahan Maret saya ujian (yang pertama). Tapi sehari sebelum waktu saya ujian, Belanda statusnya lockdown. Wassalam ujian saya dibatalkan. Lalu baru bisa ujian bulan Juli, hasilnya gagal saat ujian pertama. Lalu saya mendaftar lagi ujian kedua, bulan Oktober, hasilnya gagal lagi. Lalu mendaftar ujian lagi, harusnya akhir Desember 2020 jadwal ujian. Tapi seminggu sebelumnya, Belanda kembali status lockdown, jadi ujian saya dibatalkan. Akhir Januari 2021, ada pengumuman kalau kandidat yang ujiannya dibatalkan karena lockdown, bisa daftar ulang ujian. Akhirnya saya daftar lagi (lewat sekolah), dapat jadwal awal Maret 2021. Eh ternyata Februari diumumkan kalau lockdown diperpanjang sampai awal maret 2021. Walhasil ujian saya dibatalkan lagi. Pertengahan maret, mendaftar lagi, baru dapat jadwalnya akhir Mei. Berliku macam ular tangga.

Entah kenapa, selama bulan Mei les 4 kali, saya lebih PD dan lebih tenang. Mungkin efek pasrah yo wes lah sak karepmu iki ujian piye. Jadinya malah pasrah, tapi lebih fokus lebih PD dan lebih baik. Instruktur saya pun heran saya jadi lebih tenang dan lebih yakin saat menyetir. Makanya dia yakin kalau kali ini saya bisa lulus. Saya pun meskipun tidak mau menaruh harapan terlalu tinggi, tapi punya secercah keyakinan mungkin saja bisa lulus. Gagal ujian dua kali sebenarnya ada sisi positifnya, latihan menyetir jadi semakin panjang durasinya. Jadi makin luwes. Sisi negatifnya tentu saja uang yang keluar semakin banyak. Mendapatkan SIM di Belanda ini supeerrrr mahal. Saking mahalnya sampai puyeng sendiri. Sudahlah jangan ditanya berapa mahalnya, yang penting sekarang sudah lulus.

HARI H UJIAN KETIGA

Jadi ujian kali ini, adalah yang ketiga kalinya. Orang Belanda punya satu perkataan : drie keer is scheepsrecht. Artinya : yang ketiga kali, kamu akan sukses dengan apa yang kamu perjuangkan. Semacam itu ya artinya. Itu instruktur saya yang bilang. Saya amini saja supaya saya mensugesti hal – hal yang positif buat diri sendiri. Suami dulu juga ujian ketiga, baru lulus.

Ujian saya siang hari. Selama sepagian, saya benar – benar tidak tenang. Mendadak badan saya menggigil. Antara gugup dan sangat gugup. Sampai memikirkan kemungkinan terburuk : nabrak pas ujian. Bahkan saat pagi hari saya mengirimkan pesanan brownies dan cookies, saking gugup dan tidak konsen sampai salah masuk toko haha. Nah setelah makan siang, mendadak saya mengantuk. Lalu saya duduk di bangku dan tertidur. Sampai suami membangunkan dan bilang kalau sudah waktunya saya berangkat karena instruktur sudah menjemput. Ajaibnya, setelah bangun tidur, saya sudah tidak gugup dan panik lagi. Semuanya lenyap. Saya jadi lebih santai dan yakin. Lebih PD.

Saat menyetir ke tempat ujian, saya juga santai. Sudah seperti orang yang Pro menyetirnya. Setelah menunggu beberapa saat, Examinator datang ke mobil di tempat parkir. Setelah bertanya beberapa hal berkaitan dengan administrasi, lalu kami masuk mobil. Instruktur menunggu di parkiran CBR. Sebagai gambaran, Examinator kali ini sepertinya seumuran saya dan gerak badannya santai. Pria dan tidak banyak bicara, sekalinya bicara nadanya santai. Jadi sejak awal saat melihat dia, saya yakin kalau akan tenang selama ujian. Di dalam mobil saya ditanya -tanya beberapa fungsi yang ada di sana. Saya ditanya lampu merah yang menyala artinya apa dan ditanya kalau ada keadaan bahaya musti pencet tombol yang mana. Semua lancar saya jawab.

Lalu mulailah saya menyetir. Dalam waktu 30 menit itu, 3 kali saya bolak balik ke jalan bebas hambatan (snelweg), di lingkungan perumahan (woonwijk), di dalam kota, satu kali menyetir arah belakang (achteruitrijden), satu kali parkir arah belakang (fileparkeren achteruit), dan satu kali menyetir mandiri menggunakan aplikasi penunjuk jalan. Alhamdulillah semua lancar saya lakukan. Pengujinya pun tidak sampai menginjak rem dan sampai menolong mengendalikan setir. Intinya saya bisa membawa mobil penuh dalam kendali saya. Saya indikasikan, hasilnya ok lah ini. Meskipun ya, tetap jangan ke PD an. Nanti ga lulus lagi, bisa kecewa luar biasa.

Setelah sampai kembali ke parkiran CBR, kami langsung keluar mobil, instruktur saya sudah menunggu. Penguji bilang : Deny, ik heb goede nieuws voor je. Jij bent geslaagd. Gefeliciteerd! (Deny, saya punya kabar gembira. Kamu lulus. Selamat). Wuaaahhh saya spontan langsung meloncat – meloncat sambil bilang terima kasih berkali – kali ke penguji dan instruktur saya. Saking gembiranya dinyatakan lulus sampai spontan ingin meluk instruktur haha. Kalau tidak ingat Corona, pasti dia sudah saya peluk beneran. Sampai saya diingatkan penguji : Jangan keras – keras senangnya. Di parkiran ini banyak yang tidak lulus. Saya minta maaf karena sudah terlalu heboh reaksi senangnya. Ya bagaimana lagi, saya pikir entah kapan ini bisa lulus. Faktor penguji pun besar lho dalam kelulusan. Kalau dapat penguji yang galak dan tidak sabaran, wassalam susah sekali lulusnya. Alhamdulillah kali ini dapat penguji yang baik dan santai. Saya berkali – kali bilang terima kasih pada Kevin, Instruktur saya. 1.5 tahun bersama dia, bukan waktu yang sebentar. Saya memberikan Kevin Sourdough Chocolate Cookies, lebihan pesanan orang. Ucapan terima kasih pada dia. Tentu saja Kevin senang luar biasa pada akhirnya saya lulus.

Begitu sampai rumah, saya pun langsung mengucapkan terima kasih pada suami dan anak – anak yang tidak patah semangat menyemangati saya selama ini. Pun keluarga suami yang selalu support. Juga Ibuk yang tidak putus berdoa setiap Tahajjud demi kelulusan saya. Juga pada tetangga sebelah yang selalu menanyakan kapan saya akan ujian dan memberikan bunga saat lulus. Betapa saya bersyukur dengan rejeki dikelilingi orang -orang yang perhatian. Juga Maya yang selalu menyemangati saya. Kami ini sama – sama pejuang Rijbewijs. Begitu saya lulus, langsung saya kirimkan pose wajib di bawah ini ke beberapa teman dekat dan keluarga. Anis sampai senang sekali akhirnya melihat saya berpose seperti ini. Ini pose wajib punya setelah dinyatakan lulus ujian praktek menyetir mobil. Untung badan sudah melangsing, jadi difoto tidak nampak melebar haha. Terima kasih juga buat kalian para pembaca blog ini yang sudah ikut mendoakan saya sebelumnya.

Sorenya kami merayakan dengan membeli makanan di luar. Standar sih, makanan cepat saji. Yang penting ada perayaan atas pencapaian di titik ini.

Pose wajib setelah lulus ujian praktek menyetir mobil

JADI…..

Jadi untuk siapapun yang membaca cerita saya ini dan sedang ada niatan untuk les menyetir di Belanda, semangaaatt!! Semoga lancar proses lesnya, lancar ujian teori dan prakteknya. Kalau bisa, langsung lulus. Kalau tidak bisa, jangan patah semangat. Jangan pantang menyerah. Selama uangnya ada, selesaikan apa yang sudah dimulai. Bisa menyetir mobil di sini itu banyaaakkk sekali manfaatnya. Bisa mandiri dan tidak tergantung dengan pasangan kalau memang butuh untuk menyetir mobil. Meskipun di sini sarana transportasi sangat memadai dan tersedia sampai tengah malam, tidak ada salahnya punya keterampilan menyetir dan punya SIM. Sangat membantu saat diperlukan.

Buat yang masih belum lulus ujian praktek menyetir, tetap semangat. Yakin suatu saat pasti lulus. Sewaktu ujian, yang penting jangan tegang, jangan panik. Serahkan saja perkara hasil pada Yang Kuasa dan pada penguji. Kita lakukan yang bisa kita lakukan, menyetir seaman mungkin dan sesuai peraturan. Selebihnya, jangan terlalu dipikirkan. Pesan ini ditulis oleh orang yang pernah hampir menyerah dan ingin putus ditengah jalan tidak ingin meneruskan mendapatkan SIM. Pesan ini dituliskan oleh orang yang 2 kali gagal ujian. Tapi akhirnya bersemangat kembali berbekal perkataan ke diri sendiri : Saya harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai, bagaimanapun susahnya. Saya harus berkeras kepala lulus sampai punya SIM.

Alhamdulillah, saya sudah menyelesaikan dengan lulus ujian praktek menyetir mobil dan dapat Rijbewijs! Selamat untuk diri sendiri. Bangganya luar biasa sama diri sendiri karena tidak memutuskan menyerah ditengah jalan dan menyelesaikan sampai akhir. Bangga karena saya lulus. Rasa bangga kali ini melebihi saat saya lulus ujian bahasa Belanda NT2. Selamat Deny! Akhirnya aku punya SIM Belanda, Yiaayy!! Sekarang musti sering menyetir mobil supaya makin terasah kemampuan menyetir saya.

Bunga dari Tetangga

*Kata Suami : Kamu kan sudah punya SIM, nanti pas di Indonesia bisa donk nyetir sendiri. Saya jawab : Ogah, mending kita nyewa mobil sekalian yang nyetirin. Ogah nyetir di Indonesia kalau tidak terpaksa. Ruwetnyaaa ga nahan. Ogah uji nyali.

-28 Mei 2021-

Empat Musim Dalam Satu Hari di Belanda

Musim semi, bunag - bunga cantik mulai bermekaran

Saat baru pindah ke Belanda, guru les bahasa Belanda saya bilang kalau mau basa basi dengan orang Belanda, gampang. Cukup obrolkan saja tentang cuaca hari ini. Mereka akan sangat bersemangat bercerita. Dan topik kedua adalah berbincang tentang rencana liburan atau mereka sudah pernah libur ke mana saja. Beberapa lama kemudian, saya membuktikan sendiri. Kalau disapa di kendaraan umum, mereka pasti ngomong tentang cuaca. Semisal : cuaca hari ini cerah ya. Atau : prakiran cuaca hari ini bilang akan turun hujan deras. Jadi saya cepat – cepat pulang ke rumah. Atau : Hey, minggu depan cuaca bagus, kamu ada rencana ke mana? Jadi buat kalian yang ada rencana liburan ke Belanda atau tinggal di Belanda, ga usah khawatir akan ditanya : Sudah punya anak? Tinggal sama siapa di sini? Kapan nambah anak? ya pertanyaan – pertanyaan lazim pas lebaran tiba. Ga usah kawatir, kalian tidak akan mendapatkan rentetan pertanyaan seperti itu (kecuali ketemunya dengan orang Indonesia yang masih berjiwa Indonesia sekali).

Saya, akhirnya ketularan kebiasaan itu. Setiap disapa orang, biar tidak terjadi situasi yang canggung, akhirnya senjata pamungkas obrolan tentang cuaca pun dikeluarkan. Sebenarnya basi sih, tapi saya jadi terikut terobsesi dengan cuaca. Bahkan menyimak analisa tentang cuaca ekstrem tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya atau tahun – tahun yang lama sudah lewat. Menurut saya, menarik menyimak analisa mendalam mereka tentang cuaca. Apalagi cuaca di Belanda ini sangat cepat berubah dalam satu hari.

Musim semi, bunga – bunga cantik mulai mekar

Dulu saya sering mendengar, cuaca di Belanda bisa berbeda dalam satu hari. Bisa merasakan 4 musim dihari yang sama, itu sudah biasa. Saya membuktikan bagian yang ini. Sering dalam satu hari : hujan es lalu tak berapa lama hujan air biasa, disusul matahari bersinar cerah dengan langit biru dan ditutup dengan angin yang super kencang. Sudah biasa seperti itu. Jadi saya sudah tidak kaget. Atau misalkan saat Belanda bersalju dan sungai serta danau serentak beku, minggu depannya langsung hangat. Seperti tidak ada sisa – sisa kenangan saat salju turun deras. Kali inipun seperti itu, malah lebih ekstrem lagi.

Bunga di halaman belakang. Semoga tidak mati kena salju.
Bunga di halaman belakang. Semoga tidak mati kena salju.

Jadi, seminggu lalu cuaca di Belanda sedang bagus. Hangat. Benar – benar nikmat untuk leyeh – leyeh di luar rumah. Suhu sampai 26 derajat celcius. Sempurna lah untuk musim semi. Cuaca seperti itu, kami nikmati nyaris selama seminggu. Pas banget selama seminggu tersebut, kami liburan ke provinsi sebelah. Ini akan saya ceritakan dipostingan terpisah. Pulang liburan, saya langsung sibuk berbenah halaman depan dan belakang karena ditinggal seminggu saja kok rumput – rumput liar sudah tumbuh dan bunga – bunga mulai mekar. Saya berencana, minggu depannya akan saya tambahi beberapa tanaman di halaman rumah kami. Jadi sebelumnya dibersihkan terlebih dahulu.

Tunas bayi pohon pisang yan mulai tumbuh. Sempat mati pas salju datang

Minggu malam, saat kami melihat siaran berita, prakiraan cuaca mengatakan kalau mulai senin salju akan turun dan suhu tidak lebih dari 4 derajat celcius. Ini sudah April lho, suhu kok ya ngedrop lagi. Wah saya kaget. Cepat – cepat saya ke luar rumah untuk menutup bayi pohon pisang yang sempat mati saat salju datang, lalu sekarang tumbuh tunas baru. Kalau terkena salju, khawatir mati suri lagi. Demi bisa melihat pohon pisang tumbuh di halaman ya kan. Tapi kekhawatiran saya bukan itu saja. Kalau salju betul akan datang, bunga – bunga yang sudah mekar ini akan bertahan atau bagaimana ini nasibnya. Lagian ini sudah April, kok ya masih saja salju turun. Rasanya capek juga bergelut dengan dingin selama berbulan lamanya.

Senin kemaren, pagi hari saya melihat hujan turun. Tak berapa lama kemudian salju lalu disusul dengan hujan es. Lalu matahari bersinar terang dan langit biru cantik. Setelahnya langit menggelap, lalu hujan es lagi. Disusul angin kencang, salju turun lagi. Matahari nongol lagi, langit kembali biru cerah. Begitu seterusnya sampai menjelang malam. Saat malam hari saya tidak terlalu memperhatikan apakah hujan es dan salju masih turun.

Hari ini, selasa, cuaca lebih ekstrem. Pagi hari saya harus ke luar rumah. Jadi selama 2 jam di luar rumah, saya langsung merasakan yang namanya hujan air, salju, hujan es, angin kencang, matahari gonjreng bersinar terang, langit biru lalu berubah jadi langit gelap. Rasa meriang ya dan butuh makan bakso plus gorengan berlimpah minyak jelantah *halah, alasan! Cuaca hari ini benar – benar cepat sekali berubah. Saya membayangkan seperti time-lapse 4 musim tapi terjadi dalam satu hari. Bahkan salju yang turun lebih tebal dari kemaren dan es yang turun pun lebih besar dibandingkan kemaren. Angin pun tidak mau kalah mau unjuk diri, sudah seperti badai saking kencangnya. Bahkan saking anehnya, hujan es dan salju beberapa kali turun dalam waktu bersamaan. Jadi dua hari ini, saya merasakan apa yang orang Belanda bilang, 4 musim terjadi dalam satu hari. Ini malah dua hari berturut. Entah esok hari masih berlanjut atau tidak.

Sebesar ini lho esnya. Sakit ini kena kepala.

Mengalami dan melihat sendiri hal tersebut, membuat saya khawatir. Ini rasanya sudah tidak biasa. Khawatir apa yang akan terjadi dengan bumi. Apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Khawatir dengan alam yang mulai berubah. Bahkan saat menulis ini dimalam hari, saya masih mendengar suara kencang hujan es turun di luar dan suara geluduk yang keras.. Ada rasa takut dan khawatir karena ini rasanya sudah tidak biasa. Salju di bulan April? rasanya sudah tidak biasa. Alam sedang dalam kondisi tidak baik, saya tahu itu.

Semoga esok hari cuaca kembali normal meskipun suhu diperkirakan kembali minus beberapa hari kedepan. Ingin rasanya kembali merasakan suhu musim semi. Bukan suhu musim dingin di musim semi. Saya rindu cuaca hangat.

Stay safe semuanya, sehat – sehat selalu dan semoga alam kembali baik – baik saja.

*saat tulisan ini siap diluncurkan, di luar lanjut salju turun lebat.

-6 April 2021-

Musim Dingin Yang Beku dan Bersalju

Salju dan langit biru

Musim dingin kali ini saya tidak menaruh harapan salju lebat akan datang. Sudah terbiasa dengan prakiraan cuaca yang memporakporandakan harapan akan turunnya salju, yang ternyata hanya air saja. Seperti tahun – tahun sebelumnya, kalaupun ada salju, biasanya datang dalam bentuk basah alias kalau sudah menyentuh tanah langsung mencair. Selama saya di sini sejak awal 2015, salju yang lumayan lebat datang kalau tidak salah tahun 2017 – 2018. Saat Ibu tinggal di sini selama 3 bulan, Beliau juga sampai setiap hari ke luar rumah untuk menikmati suasana musim dingin yang bersalju. Setelah tahun tersebut, salju yang datang kebanyakan salju basah, paling tidak di sekitar tempat tinggal kami.

Musim dingin awal tahun ini, berbeda. Salju pertama datang di sekitar rumah 16 Januari 2021. Itu salju yang tipis sekali tapi sudah membuat semua orang di sekitaran rumah bahagia. Ini sekitaran rumah maksudnya para tetangga dan anak – anaknya. Saljunya datang pas akhir pekan. Langsung lah mereka dengan suka cita ke luar rumah main di bawah hujan salju. Kami pun tidak mau kalah, ikut ke luar rumah juga. Suami tidak mau berlama – lama di luar karena kata dia dinginnya sangat menususk. Saya lalu menatap dia aneh : yang lahir di sini siapaa, yang ga kuat dingin siapa. Padahal dia sudah berpakaian lengkap dengan sarung tangan saat di luar, tapi tetap dia tidak kuat dingin. Saya malah tidak pakai sarung tangan karena malas (dan sebenarnya tidak punya sarung tangan yang tebal). Saya memang paling tidak suka memakai sarung tangan dan boots, kalau cuaca tidak sangat ekstrim. Kalau cuma salju tipis, pakai sneakers saja sudah cukup. Kalau salju sudah tebal, baru mengeluarkan satu – satunya sepatu tebal yang saya punya.

Dua minggu kemudian, sudah ada kasak kusuk salju akan datang lagi. Tapi karena kami sudah terbiasa di “PHP” oleh prakiraan cuaca, jadi tetap tidak berharap banyak salju yang datang akan lebat. Sekedar informasi, tempat tinggal kami suhunya lebih hangat dibanding beberapa tempat di Belanda yang biasanya turun salju lebat karena rumah kami tidak jauh dari pantai. Beberapa hari sebelum salju datang, berita di TV terus mengatakan kalau salju kali ini akan lebih banyak dari tahun – tahun sebelumnya. Bukan hanya itu, peringatan badai salju pun sudah didengungkan. Sudah ada peringatan juga untuk tidak bepergian ke luar rumah bahkan beberapa sarana transportasi akan berhenti beroperasi jika memang ketebalan salju melebihi batas maksimalnya.

Salju dan langit biru
Salju dan langit biru

Di satu grup aplikasi pesan, kami para buk ibuk sudah heboh sendiri sekaligus tetap tidak menaruh harapan tinggi akan salju lebat. Terbiasa harapan dipatahkan oleh kenyataan.

PADA AKHIRNYA ….

Sekitar jam 5 pagi saat bangun tidur, saya membuka gordijn kamar, dan melihat tumpukan salju di luar yang lumayan tebal. Wah, saljunya beneran datang batin saya. Minggu, 7 Februari 2021, salju lebat akhirnya datang. Hari minggu kami jadi berbeda. Semua antusias untuk segera ke luar rumah bermain dengan salju, termasuk saya tentunya. Setelah suami menunaikan tugasnya dihari minggu yaitu bersih – bersih rumah dan kamar mandi, setelah makan siang kami langsung menjelajah menggunakan Slee (kereta luncur) di sekitaran kampung. Saljunya sudah lumayan tebal. Saya benar – benar terkagum bagaimana sekitar rumah kami langsung berubah suasananya dibanding sehari sebelumnya. Benar – benar berbeda seperti tidak tinggal di Belanda. Sangat sureal semuanya memutih.

Sekitaran kampung

Ada satu cerita agak kocak. Saya kan tidak punya sarung tangan tebal, tapi suhu pada hari minggu itu terlalu dingin untuk tidak memakai sarung tangan. Tercetuslah ide untuk menggunakan sarung tangan buat oven. Hari itu, saya sedang baking roti dan kue. Pas lihat sarung tangan yang saya pakai saat mengeluarkan loyang dari oven, seperti mendapatkan ide cemerlang untuk menggunakannya di luar rumah. Ternyata hangat lho, lumayan bisa meredam dingin karena tebal (bisa dipakai sampai suhu oven 300 derajat celcius).

Minggu siang saat itu, suasana benar – benar senyap. Tidak terlihat sama sekali kendaraan di jalan, hanya banyak orang berjalan kaki atau menggeret slee bersama anak – anak. Orang – orang yang jalan kakipun, outfit mereka sudah seperti di negara yang rutin datang salju. Ini juga membuat saya merasa seperti tinggal di Finlandia (kayak yang pernah ke Finlandia saja, padahal ya karena lihat di TV). Bukan hanya salju yang terus saja turun deras, anginnya pun cukup kencang. Itulah kenapa beberapa hari sebelumnya sudah ada peringatan badai salju.

Setelah puas 2 jam berjalan menyusuri kampung, pemberhentian kami selanjutnya adalah taman bermain. Di taman bermain ini ada semacam bukit kecil. Kami dan beberapa orang lainnya main seluncuran di bukit ini. Saking antusiasnya, saya pun ikut mencoba seluncuran di atas salju menggunakan slee di atas bukit kecil ini. Senangnya luar biasa. Ya beginilah kalau tumbuh besar di pesisir, bagitu lihat salju dan bisa bermain seluncuran, langsung noraknya maksimal dan memanfaatkan kesempatan semaksimal mungkin. Gembiranya luar biasa. Saya benar – benar memanfaatkan momen yang ada untuk bersenang – senang sepuasnya. Kapan lagi ya kan bisa main seluncuran, belum tentu tiap tahun salju datang. Ini tahun ke tujuh saya tinggal di Belanda, tetap saja kalau lihat salju selalu norak, riang gembira.

Sarung tangan untuk oven, penyelamat saat suhu dingin ekstrim

Setelah puas bermain di luar rumah, kami pulang. Menikmati minuman coklat hangat dan kue yang saya buat, sambil melihat hujan salju yang terus saja turun. Menikmati pemandangan orang – orang bergembira ria hilir mudik depan rumah dengan wajah ceria. Kedatangan salju kali ini, membuat orang lupa sejenak akan Corona dan Lockdown. Hati saya menghangat. Bersyukur kami berkumpul bersama dalam keadaan sehat, menikmati suasana salju dengan hangatnya coklat, kue yang baru dibuat, dan obrolan serta senda gurau.

SUNGAI DAN DANAU MEMBEKU

Selama seminggu penuh, Kami selalu ke luar rumah setiap sore. Tidak pernah absen satu haripun. Paling tidak, kami menghabiskan waktu 2 jam jalan kaki atau bermain salju di seluncuran bukit penuh salju. Suhu selama seminggu tersebut sangatlah dingin, buat saya yang lebih menyukai musim panas. Kalau tidak salah, sampai -13 derajat celcius (atau lebih ya, lupa). Tapi suhu yang dingin tidak menghalangi saya untuk tetap bersenang – senang dengan datangnya salju.

Kami mencoba membuat boneka salju di halaman belakang, tapi tidak berhasil. Saljunya terlalu halus, susah disatukan. Pada hari Rabu, sungai kecil di dekat rumah mulai beku. Kami melihat beberapa anak dan orang dewasa berjalan di atasnya. Wah, jadi ingat saat saya berjalan di atas danau yang beku tahun 2016, sewaktu membuat liputan pertama untuk Net TV. Melihat sungai yang beku saya antusias juga berjalan di atasnya, sekaligus ngeri bagaimana kalau pas di tengah esnya pecah dan kejeblos ya kan ga lucu. Sadar diri kalau badan tidak semungil saat 2016 lalu.

Setelah mencoba menapakkan kaki sambil sesekali lari ke pinggir setiap mendengar suara : kraakk kraakk seperti es mau pecah, saya akhirnya berani jalan di atas air yang membeku. Beberapa anak kecil dan orang dewasa sudah mulai ice skating an. Kami juga tidak mau kalah, menarik slee di atas air es. Wahhh itu asli saya senangnya luar biasa. Hilir mudik di atas air yang membeku. Membuat foto sana sini dan merekam tiada henti. Mendokumentasikan untuk diri sendiri. Kenang – kenangan musim dingin tahun ini.

Slee yang setia menemani selama seminggu

Hari Sabtu siang, kami pergi ke danau besar di kampung. Danau ini sangat besar. Sesampainya di sana, saya merasa suasananya semacam liburan musim dingin. Danau penuh dengan orang main ice skating. Penuh sekali. Belum lagi mereka yang menikmati suasana hanya duduk – duduk di pinggir danau sambil menikmati minuman dan makanan hangat yang mereka bawa. Nih kurang orang jualan bakso, soto ayam, dan rawon, juga gorengan – gorengan batin saya. Kami langsung mencoba jalan – jalan di atas danau yang membeku. Rasanya agak aneh karena semua orang di danau tersebut bermain ice skating sedangkan beberapa gelintir orang hanya berjalan kaki. Kami lalu jalan kaki mengelilingi pinggir danau dan melihat kemeriahan dari atas bukti.

Saya senang melihat antusias orang – orang, bersenang – senang saat salju datang dan air di danau membeku. Semua benar – benar bersuka cita. Saya sampai merasa sedang tidak dalam suasana hard lockdown. Melihat bahwa mereka benar – benar memanfaatkan dan menikmati momen yang ada.

Ada satu pemandangan yang luar biasa berbeda selama satu minggu salju lebat ini ada. Setiap pergi ke sekolah, saya selalu merasa kalau tidak tinggal di Belanda. Para orangtua mengantarkan anak – anaknya menggunakan slee dan mereka berpakaian lengkap seperti tinggal di negara yang musim dinginnya ekstrim. Sampai saya bilang ke suami mungkin ini rasanya kalau tinggal di Finlandia atau Islandia. Pemandangan seperti ini yang dilihat sehari – hari. Jadinya saya suka terbawa suasana bahagia lalu senyum – senyum sendiri. Bahagia karena melihat anak – anak ditarik slee oleh orangtuanya atau bahagia melihat mereka berpakaian lengkap di salju. I really enjoyed the moment. Kalau kata orang Belanda Genieten van karena tidak setiap tahun bisa melihat dan merasakan suasana yang seperti ini. Saya jadi tahu rasanya setiap hari geret – geret slee hampir ke mana – mana sampai urusan belanja juga.

NYARIS SEMUA ORANG BAHAGIA DAN LUPA SEJENAK TENTANG CORONA

Selama seminggu tersebut, nyaris semua orang di lingkungan kami tinggal sangat suka cita dengan adanya salju. Suasana yang tidak biasa, jadi kita secara maksimal menikmatinya. Setiap ke luar rumah, yang terlihat orang – orang berpakaian musim dingin yang super lengkap, para orangtua menarik anaknya menggunakan slee, di depan rumah anak – anak saling lempar bola salju dan membuat boneka salju, sungai yang beku jadi tempat untuk ice skating, hutan yang berbukit jadi tempat untuk seluncuran, taman bermain yang ada bukit kecilnya pun jadi sarana untuk bermain seluncuran.

Danau besar yang penuh orang piknik dan ice skating an

Melihat orang – orang bersuka cita dengan datangnya salju tebal, air sungai dan danau yang membeku, bisa bermain ice skating di udara terbuka, dan benar – benar menikmati suasana selama seminggu, itu juga bahagia yang saya rasakan. Merasa mereka melupakan dulu apa yang terjadi saat itu, menikmati suasana yang ada. Berita di TV pun menyiarkan betapa salju kali ini seperti memberikan suasana yang berbeda di tengah Corona dan hard lockdown di Belanda. Yang diwawancarai sangat antusias memanfaatkan suasana Belanda yang bersalju.

Tentu tidak semua orang merasa senang ya dengan datangnya salju karena beberapa hal juga terhambat. Tapi yang saya garis bawahi, ditengah kondisi sulit saat itu, melihat orang – orang dengan muka sumringah menikmati Belanda yang bersalju dan beku, hangatnya pun sampai ke hati. Yang sedang bersedih, lupa sejenak dengan kesedihannya. Yang sedang ditimpa masalah, bisa bersenang – senang selama seminggu bermain dengan salju. Yang sedang ada masalah, bisa mengalihkan perhatian sejenak dari masalah yang ada. Selama seminggu tersebut, semua perhatian dan hati tersedot pada salju.

Hari Senin, hujan mulai turun. Jadi kami mengucapkan selamat tinggal pada salju yang sudah memberi warna tersendiri selama satu minggu. Untung juga hujan turun cepat, jadi tidak sampai membuat salju menjadi es yang keras dan membahayakan. Hari Selasa, salju sudah mencair dan sebagian besar jalanan sudah bersih dari salju dan es yang keras.

Sungai kecil dekat rumah, yang membeku.

Seminggu yang penuh kenangan indah. Menikmati suka cita musim dingin yang bersalju dan beku di Belanda. Kami benar – benar sangat menikmatinya. Menciptakan kenangan yang tidak akan terlupa. Merasakan hangatnya hati di tengah dinginnya salju dan air sungai yang membeku. Alih – alih merasa bosan dan tidak senang dengan datangnya salju dan suhu yang dingin selama seminggu, saya lebih memilih untuk menikmati suasana yang ada, bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikmati salju tahun ini.

Tot volgende keer, sneeuw!

-11 Maret 2021-

Lebaran 2020 dan Hantaran Antar Teman

Sebelum memulai cerita lebaran tahun 2020, saya ingin mengucapkan terlebih dahulu Selamat Lebaran untuk yang merayakan dan Mohon maaf lahir batin untuk semuanya. Maaf atas segala hal-hal yang tidak berkenan selama berinteraksi di blog atau media sosial, atas segala komentar, jawaban, atau status. Semoga kita semua diberikan kesehatan yang baik, umur panjang yang barakah bersama seluruh keluarga dan orang-orang yang kita cintai, bisa bertemu kembali dengan Ramadan dan Lebaran tahun-tahun akan datang dengan kualitas ibadah yang lebih baik dan dalam keadaan sehat.

Saya ucapkan terima kasih untuk mereka yang lebaran kali ini tidak mudik, tidak berdesakan membeli baju baru, sholat Ied di rumah, tidak melakukan anjangsana, dan tidak menerima tamu di rumah. Lebaran kali ini berbeda, jangan dipaksakan sama. Mari kita berjuang bersama supaya keadaan menjadi aman kembali.

Selamat Lebaran 2020
Selamat Lebaran 2020 dengan foto kue-kue kering buatan sendiri

MEMBUAT KUE KERING UNTUK LEBARAN

Tidak pernah terpikirkan kalau suatu saat saya akan membuat kue-kue kering sendiri untuk lebaran. Selama ini, sejak tinggal di Belanda, saya tidak pernah membuat kue kering untuk lebaran. Malah ketika masuk bulan Desember, menjelang Natal, saya biasanya membuat Kaasstengels.

Lebaran ini, karena tidak jadi mudik sehubungan pandemi, maka saya sudah niat ingin menciptakan suasana lebaran di rumah secara maksimal. Salah satunya adalah mengisi toples-toples yang seringnya menganggur di rumah, dengan kue-kue kering.

Dimulai dua minggu menjelang lebaran, saya sudah mulai mencicil membuat kue-kue yang sekiranya saya dan orang-orang di rumah akan suka. Mulailah saya membuat putri salju (meskipun saya tidak terlalu suka, tapi saya rasa suami akan suka. Kan bertabur gula), dilanjut kue kacang, lalu Kaasstengels, dan terakhir kue tepung beras yang orisinil dan rasa coklat. Untuk kue kacang saya membuat dua versi dari dua resep yang berbeda. Satu resep untuk ditaruh di rumah, satu resep saya persiapkan khusus untuk teman-teman yang akan saling bertukar hantaran.

Pertama kali membuat beberapa kue kering untuk lebaran kesannya adalah capek luar biasa. Salut buat yang berjualan kue kering. Boyokku rasa cuklek setelah beberapa hari membuatnya. Tapi ada rasa puas juga karena ternyata kok ya saya bisa disela jadwal rumah yang super padat. Sewaktu diberikan ke Mama mertua, Beliau suka sekali. Memuji Kaasstengels dan Putri saljunya. Senangnya hati ini.

Inilah isi toples-toples yang biasanya menganggur : Kue kacang, Kaasstengels, Rengginang, Putri Salju, dan Kue tepung beras. Saya sengaja tidak membuat nastar karena selama lebaran di desa kue yang tersajikan tidak pernah ada nastar. Jadinya lidah saya tidak terbiasa dengan nastar. Yang penting ada rengginang karena di desa kalau tidak ada rengginang rasanya tidak sah berlebaran haha.

Kue kering untuk lebaran ala saya
Kue kering untuk lebaran ala saya

MASAKAN LEBARAN

Masih terkait mudik yang ditunda, maka sedari awal saya sudah niat sekali untuk masak spesial lebaran ini. Saya ingin menyuguhkan masakan khas dari desa mbah, namanya Pecel Pitik. Sebenarnya agak tidak percaya diri awalnya ingin masak pecel pitik. Saya merasa nanti pasti dari segi rasa sangat jauh kalau Bude saya yang memasak. Tapi, karena niat yang membara, saya akhirnya menanyakan resep Pecel Pitik ke Bude lewat perantara Ibuk.

Sebenarnya setiap lebaran di desa saya juga ikut dalam proses memasaknya, bahkan selalu kebagian mengulek bumbu dan cabe. Tapi karena terakhir makan pecel pitik itu saat lebaran tahun 2014, terus terang ingatan saya akan rasanya agak buram. Walhasil berkali-kali saya tanya ke Ibu tentang rasa yang dominan apa, bagaimana urutan memasaknya, dan beberapa hal lagi. Bahkan saat H-1 lebaran, saat saya memasak, groginya luar biasa. Mana masih puasa kan, jadi tidak bisa mencicipi langsung. Saat buka puasa baru bisa dicicipi dan lega karena rasanya mirip dengan yang biasa saya makan di desa. Terharu luar biasa. Leluhur saya pasti bangga karena salah satu keturunannya bisa memasak pecel pitik di tanah rantau haha.

Yang menjadikan pecel pitik ini istimewa, karena ayamnya harus dipanggang terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke bumbu santan. Tujuan dipanggang untuk mengeringkan kandungan air dan menimbulkan aroma panggangan. Ayam yang digunakan juga wajib ayam kampung. Di Belanda ada yang menyerupai ayam kampung dengan daging yang agak liat, meskipun harganya tidak murah. Tutup mata saja, kan untuk hari raya. Memanggang pun lebih enak kalau menggunakan sabut kelapa atau kayu di pawonan. Tapi kan ya di londo ini susah, jadi pakai yang ada saja, memanggang di teflon.

Tempe yang dimasukkan juga dipanggang terlebih dahulu. Rasa yang dominan adalah pedas. Aslinya masakan ini pedasnya luar biasa. Tetapi karena saya tidak ingin “meracuni” suami dan teman-teman yang akan menerima pecel pitik, jadi saya kurangi level pedasnya menjadi 1/4 dari aslinya. Inilah pecel pitik yang membuat saya terharu karena setelah 6 tahun lalu, sekarang bisa makan lagi dan dari hasil masakan sendiri.

Pecel Pitik Jember
Pecel Pitik My Love!

Hidangan lebaran lainnya yang sanggup saya masak sesuai ketersediaan stok tenaga dan mood adalah : telor petis madura, sate ayam, oseng Kohlrabi wortel, balado udang pete, dimakan pakai lontong atau nasi, dan minumnya es garbis (blewah).

Hidangan lebaran di rumah kami
Hidangan lebaran di rumah kami

Mengapa tidak ada rendang dan opor? Karena sejak kecil jika lebaran tiba, makanan yang disediakan di rumah Mbah tidak pernah ada menu rendang dan opor. Jadi ya saya selama ini tidak memasukkan opor dan rendang sebagai menu lebaran di rumah kami. Tapi tahun ini kami bisa makan rendang dan opor dari pemberian teman-teman.

HANTARAN UNTUK DAN DARI TEMAN-TEMAN

Lebaran kali ini sangat spesial karena dalam suasana pandemi yang artinya tidak bisa saling kunjung antar teman. Bisa sebenarnya karena aturan berkunjung sekarang sudah lebih longgar. Tapi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, saat ini lebih baik tidak berinteraksi secara dekat dulu. Saling menjaga satu sama lain.

Selama 6 kali lebaran di Belanda, selain untuk keluarga sendiri, saya biasanya juga memasak dalam jumlah banyak untuk dikirim ke para tetangga dan saudara-saudara. Nah, karena lebaran ini teman-teman saya tidak ke mana-mana apalagi mudik, akhirnya ada ide untuk saling memberikan hantaran yang salah satu isinya adalah masakan spesial masing-masing orang. Selain itu, terserah apa yang ingin diberikan. Tentu saja kami sangat menyambut dengan senang hati ide ini. Apalagi Anis dan Asri dengan sukarela menawarkan diri sebagai pihak yang mengambil paket dan mengantarkannya (eh, beneran sukarela ya Nis, Asri haha. Takutnya aku ngarang).

Saya menyiapkan 6 tas (yang foto di bawah cuma 5 tas karena tas untuk Dita menyusul saya hantarkan ke rumahnya di Delft keesokan harinya) yang isinya masakan pecel pitik dan telor petis madura, kue kacang dalam wadah kecil, kerupuk, coklat, dan beberapa barang tambahan (masing-masing orang berbeda) serta saya lampirkan kartupos dari beberapa negara yang pernah kami kunjungi yang saya tulisi ucapan selamat lebaran.

Urutannya adalah begini : Asri mengambil tas dari saya untuk Eby, Rurie, dan Asri sendiri. Lalu Asri memberikan pada saya tas hantaran dari dia. Kemudian Asri membawa tas-tas saya untuk diserahkan ke Eby dan Rurie. Sementara Anis, pergi ke rumah Rurie dulu untuk menyerahkan hantaran dari dia dan Patricia serta mengambil hantaran dari Rurie (dan Asri) untuk dia sendiri, saya, dan untuk Patricia. Lalu Anis ke rumah saya untuk menyerahkan hantaran dari dia, Patricia, dan Rurie. Terakhir, Anis ke rumah Patricia menyerahkan 3 tas (karena yang dari Anis sudah diserahkan sehari sebelumnya). Jadi 5 orang diantara kami akan saling mendapat hantaran dari masing-masing orang tersebut. Eby adalah teman saya dan Asri, jadi dia mendapatkan hantaran hanya dari kami berdua. Diantara kami berlima, Asri dan Patricia tidak merayakan lebaran (plus Eby), tapi mereka semangat mempersiapkan hantaran. Oh ya ada satu lagi, saya menerima kiriman juga dari Astrid, dia mengirimkan lewat pos. Astrid juga tidak merayakan lebaran, tapi selama ini dia selalu berkirim kartu ucapan selamat lebaran. Teman saya Andrea yang tinggal di Leuwaarden juga mengirimkan kartu ucapan.

Kami ini jarang bertemu (paling tidak untuk saya karena memang saya tidak (mau) sering ikutan kumpul-kumpul haha), jadi dengan momen saling memberi hantaran begini, rasanya hangat di hati, menjalin silaturrahmi dan tetap bisa saling kunjung lewat hantaran. Walaupun hanya sesaat bertemu Anis dan Asri, tapi senang bisa melihat dan berbincang sebentar dengan mereka. Saking sebentarnya, paling hanya 2 menit kami ngobrol. Mereka menaruh barang-barang di depan pintu dan kursi taman, saya pun demikian. Tetap saling jaga jarak.

Tas-tas hantaran dari saya

Saya sengaja memotret satu persatu apa yang sudah mereka berikan pada saya untuk nanti saya pamerkan di blog dan media sosial. Ya memang seniat itu. Bukan karena permintaan mereka, bukan karena untuk berterima kasih karena hal ini jelas sudah saya lakukan secara langsung. Saya memotret apa yang sudah saya dapatkan dari mereka memang karena suka. Tidak ada alasan lain. Perkara nanti ada orang lain yang tidak suka karena saya pamer, ya itu bukan urusan saya. Saya tidak bisa mengendalikan apa reaksi orang karena yanh bisa saya kendalikan adalah apa yang ingin saya tampilkan. Sama halnya terkadang saya nyinyir kalau melihat orang menjembreng uang di media sosial. Itu bukan salah yang menjembreng uang, ya saya saja yang cari-cari bahan gosip. Kalau ada yang melihat unggahan saya lalu ikut merasakan kegembiraan saya menerima dan memberi hantaran dari dan untuk teman-teman, yuk toss virtual.

Saya dan teman-teman ini sudah sering saling kirim mengirim barang dan makanan. Jadi tidak dalam momen lebaran saja. Dan setiap kali saya mendapatkan kiriman, biasanya selalu saya pamer, kalau saya niat. Kalau tidak niat ya saya tidak akan koar-koar. Apakah demi konten? Ya jelas tidak. Saya bermedia sosial tidak berpikir konten, tapi lebih ke arah berbagi dan pamer. Sesimpel itu. Salah satu tujuan saya bermedia sosial kan memang ingin pamer, ya untuk apa lagi haha. Kadangkala saya pamer opini, lain waktu saya pamer foto-foto, sesekali juga pamer pencapain. Berbagi makanan ke teman – teman juga tidak pada saat hari raya saja saya lakukan. Hari – hari biasa kalau saya niat masak banyak, akan saya bagikan ke beberapa teman juga.

Hantaran dari teman-teman

Saya membaca beberapa opini yang beredar mengatakan kenapa hantaran harus dipamer di media sosial, kenapa kok tidak secara wajar saja tidak usah dipamerkan. Ya kembali lagi ke prinsip utama dalam bermedia sosial, kalau sudah sangat meresahkan, lebih baik tidak usah dilihat, dilewati saja. Toh pamer hasil pemberian tidak akan merugikan siapapun, tidak menyakiti hati siapapun, tidak akan membuat pingsan siapapun. Kalau ada yang merasa resah, tidak suka, atau clekit-clekit hatinya, coba diperiksa lagi hati dan pikirannya. Mungkin ada yang tidak benar di dalamnya. Tapi saya kan juga tidak bisa mengatur orang-orang yang berbeda pandangan tentang hal ini. Semua orang bebas berpendapat. Pamer hantaran kalau di Indonesia malah bisa untuk membantu jasa pembuat hantaran lho. Bisa jadi orang akan mencatat akun media sosial pembuat hantaran lalu saat mereka butuh bisa menghubunginya. Kalau hantaran yang kami buat kan bikin sendiri. Tapi saya tetap dengan senang hati mempromosikan akun media sosial teman-teman saya itu. Siapa tahu ada yang mau pesan makanan.

Saya sejak dulu selalu suka melihat orang mendapatkan hantaran dan memperlihatkan isinya. Entah, suka saja. Merasa ikut merasakan gembiranya sang penerima. Padahal waktu itu saya tidak ada yang mengirimi, melas yo. Saya suka tulisan Dila tentang opini dia mengenai hal ini. Silahkan baca di sini.

Beberapa makanan dari teman-teman yang sudah kami makan. Ada banyak yang belum makanya belum bisa difoto. Dua foto di atas (foto taart) saya pinjam dari Rurie. Saking semangatnya mau makan, sampai lupa moto duluan.

HARI LEBARAN

Hari Minggu, 24 Mei 2020, lebaran tiba. Setelah berkutat di dapur sejenak, saya bilang suami untuk mandi dan siap-siap sholat Ied. Saya memakai baju rapi, supaya berasa lebarannya. Selama 6 kali lebaran di sini, baru dua kali saya ikut sholat Ied bersama di Masjid (Al Hikmah, Den Haag). Selebihnya sholat di rumah. Jadi untuk lebaran kali ini, biasa saja sholat di rumah karena acara keagamaan yang melibatkan orang banyak masih dilarang di Belanda, termasuk sholat Idul Fitri.

Setelah sarapan, saya mulai panggilan video dengan Ibu, Adik, dan satu keluarga di Bekasi. Selama lebaran ya memang seperti itu. Jadi kali ini tetap tidak ada bedanya. Oh ada sih, kali ini saat saya telepon mereka satu persatu, mereka semua leyeh-leyeh di kasur di rumah masing-masing. Karena mereka sholat Ied di rumah, lalu menutup rumah serapat mungkin.Tidak mau menerima tamu. Jadinya ya mereka leyeh-leyeh.

Jam 11.30 kami makan bersama. Bersyukur lebaran bisa berkumpul sekeluarga lengkap dan sehat. Semoga kami diberikan jodoh panjang untuk selalu bersama dalam formasi lengkap dan sehat setiap Ramadan dan Lebaran tahun – tahun akan datang.

Begitulah cerita sekelumit keseruan lebaran kali ini. Jika ingin membaca cerita lebaran – lebaran saya sebelumnya, saya akan sertakan tautannya di bawah :

Lebaran Pertama di Belanda

Lebaran Kedua di Italia

Lebaran Ketiga di Belanda

Lebaran Keempat di Belanda

Lebaran Kelima di Belanda

Sehat-sehat selalu ya untuk kita semua.

-26 Mei 2020-

Prosedur Pengajuan Verblijfsvergunning EU-Langdurig Ingezetene

IND

Beberapa minggu lalu, selang beberapa hari setelah lulus ujian tes teori menyetir mobil, saya mendapatkan surat keputusan dari kantor Imigrasi di Belanda (IND = Immigratie -en Naturalisatiedienst) yang menyatakan bahwa mereka meluluskan pengajuan ijin tinggal yang baru. Jadi total proses pengajuan dari awal sampai keputusan, 3.5 bulan dari maksimal 6 bulan yang dijanjikan pihak IND. Itupun sempat ada “prahara” mereka meminta data tambahan tanpa diduga. Jadi dokumen-dokumen yang saya ajukan sudah lengkap sesuai dengan yang tertera pada formulir, lalu mereka meminta data tambahan lagi. Sehari setelah data tambahan dikirim, mereka langsung memberi keputusan diterima.

Suami sempat mengusulkan supaya saya langsung ganti paspor Belanda saja supaya mempermudah administrasi di Belanda dan lebih praktis semuanya. Dia bilang : kan kamu sudah tinggal di Belanda dan keluarga kita di Belanda. Tapi saya belum menemukan alasan yang kuat mengganti paspor Indonesia menjadi paspor Belanda. Bukan karena saya terlalu nasionalis, tapi ya itu tadi. Saya belum menemukan alasan kuat mengganti paspor. Kalau untuk alasan praktis buat travelling (salah satu yang suami saya bilang), saya belum terlalu perlu karena kami travelling juga paling banyak 4 kali dalam setahun. Itu paling banyak ya, seringnya ya 3 kali. Jadi, saya putuskan untuk saat ini mengajukan perpanjangan ijin tinggal saja, bukan mengganti paspor. Entah kalau nanti sudah menemukan alasan yang kuat, bisa jadi saya akan berubah pikiran mengganti paspor Indonesia ke Belanda. Bisa jadi tetap paspor Indonesia.

IND
IND

Saya akan tuliskan beberapa poin tentang prosedur pengajuannya. Catatan : Ijin tinggal ini sponsor saya adalah suami dengan status saat pengajuan saya sedang tidak bekerja. Saya sedang malas menulis yang terlalu lengkap, jadi beberapa informasi yang akan ditulis di bawah, untuk lebih lengkapnya bisa baca sendiri pada link yang saya berikan *BLOGGER GAK SEPIRO NIAT :))).

  • PEMBERITAHUAN MASA BERLAKU VERBLIJFSVERGUNNING BEPAALDE TIJD AKAN BERAKHIR

Tiga bulan sebelum VERBLIJFSVERGUNNING  (seterusnya akan saya singkat menjadi VV) BEPAALDE TIJD selesai masa berlakunya, IND akan mengirimkan surat pemberitahuan ke alamat kita. Itu tandanya, kita sudah bisa mulai mengajukan permohonan. CATATAN : Jangan mengajukan permohonan sebelum surat dari IND datang atau sebelum 3 bulan masa berlaku VV berakhir. Jika mengajukan sebelum 3 bulan dan kalian sudah membayar, IND akan meminta kalian mengajukan lagi dan mengulangi proses dari awal. Termasuk membayar lagi. Jika belum mendapatkan surat dari IND lebih dari 3 bulan sebelum masa berlaku VV lama akan selesai, silahkan kontak IND untuk memastikan.

VV saya berakhir bulan Desember. Jadi bulan September saya mendapatkan surat dari IND.

  • VV EU-LANGDURIG INGEZETENE

Ijin tinggal namanya VERBLIJFSVERGUNNING tipenya BEPAALDE TIJD jika baru pindah, yang artinya terbatas waktu selama 5 tahun. Jadi semacam bukan permanen residen. Nah setelah 5 tahun, bisa mengajukan ijin tinggal tipe yang baru yaitu yang tidak terbatas waktu (onbepaalde tijd). Nah yang onbepaalde tijd ini ada tipe yang baru yaitu EU-Langdurig Ingezetene (Long Term Residence EU). Apa itu? Silahkan baca sendiri di siniAda banyak keuntungannya. Salah satu yang saya ingat dari surat keputusan yang dikirim oleh IND, hak orang yang memegang ijin tinggal tipe ini, sama dengan hak penduduk Belanda, kecuali tidak bisa ikut pemilu tingkat nasional.

Saya mengajukan VV EU-LANGDURIG INGEZETENE.

  • PENGIRIMAN DOKUMEN

Dokumen apa saja yang diperlukan, silahkan baca di Aanvragen status EU-langdurig ingezetenePengajuannya bisa dengan dua cara : dikirim lewat pos atau online. Saya memilih cara online karena lebih cepat, gampang, dan langsung bisa membayar biaya pengajuannya. Untuk biaya yang harus dibayarkan sebesar €174. Pengajuan lewat online, langkah-langkahnya ada pada link di atas yang saya berikan. Tinggal ikuti saja perbagiannya. Dokumen discan terlebih dahulu sebelum diunggah.

Pastikan semua dokumen yang diunggah sudah lengkap sesuai dengan permintaan dari IND yang tertera di formulir, sesuai dengan kondisi dan situasi aplikan. Jangan sampai ada yang kurang karena kemungkinan besar setelah dikirim lalu ternyata ada yang kurang, pihak IND akan meminta mengulang proses dari awal. Artinya, harus membayar lagi.

  • STIKER DI PASPOR

Setelah selesai mengunggah semua dokumen dan membayar, kita akan mendapat surat dari IND yang menyatakan kapan maksimal keputusan akan diberikan, yaitu 6 bulan setelah tanggal pengajuan. Artinya, selama proses masih berlangsung dan saat VV lama kita sudah selesai masa berlakunya, kita akan menjadi penduduk ilegal. Bagaimana caranya supaya kita tidak tercatat sebagai penduduk ilegal? Ajukan permintaan stiker ijin tinggal yang ditempel pada paspor. Jadi stiker ini adalah ijin tinggal sementara selama ijin tinggal yang baru belum keluar. Ingat, ijin tinggal sementara ini sifatnya hanya berlaku di dalam Belanda. Jadi selama ijin tinggal yang baru belum keluar, kita tidak bisa keluar dari Belanda, kecuali memakai Terugkeervisum yang harganya €157 untuk satu kali perjalanan keluar Belanda dan berlaku selama 90 hari.

Permintaan Stiker di Paspor bisa dengan membuat janji dulu di sini. Saya mengajukan permintaan stiker supaya ke mana-mana lebih tenang dan memang saat itu akan dipakai saat tes teori menyetir. Jika pemohon adalah karyawan, stiker ini bisa diberikan ke HRD sebagai pemberitahuan bahwa ijin tinggal yang baru sedang diproses, sehingga proses penggajian tidak bermasalah.

Stiker ini tidak dipungut biaya alias gratis.

  • SERING CEK STATUS PENGAJUAN DI AKUN IND

Sering-seringlah mengecek status proses aplikasi sudah sampai tahap mana. Kadangkala surat tidak sampai di rumah, sehingga cek di akun IND akan lebih efektif. Cek akun IND ini menggunakan DigiD.

  • BIOMETRIK (FOTO, SIDIK JARI, TANDA TANGAN)

Ditengah proses, saya harus melakukan foto diri, sidik jari, dan tanda tangan di kantor IND. Melakukan Biometrik harus membuat janji terlebih dahulu di sini.

Saat itu, janji antara meminta stiker di Paspor dan melakukan Biometrik saya jadikan satu supaya tidak bolak balik. Biometrik gratis

  • KEPUTUSAN DARI IND

Jika memang semua dokumen lengkap dan pihak IND tidak minta data tambahan, maka keputusan akan ijin tinggal yang baru cepat keluar. Mungkin juga cepat tidaknya tergantung sepi atau ramainya aplikasi yang masuk ke IND. Mungkin lho ya, ini analisa saya saja.

Total waktu untuk ijin tinggal saya yang baru dari awal pengajuan sampai keputusan keluar adalah 3.5 bulan.

  • SURAT UNDANGAN PENGAMBILAN VV YANG BARU

Setelah surat keputusan dikirim, nanti akan ada surat lagi yang datang yang menyatakan di IND cabang mana kartu ijin tinggal bisa diambil. Biasanya sih yang terdekat dengan rumah. Kalau saya, mengambil ke IND cabang Den Haag. Jangan langsung mengambil sebelum surat undangan ini datang karena harus membuat janji dulu kapan bisa diambil dan di IND cabang mana (sesuai yang sudah ditentukan dalam surat). Janji pengambilan kartu ijin tinggal bisa dilakukan di sini. Yang dibawa saat pengambilan VV yang baru adalah : Paspor atau VV yang lama. Jangan lupa kode yang dikirim lewat email setelah membuat janji temu juga ditunjukkan. Datanglah lima menit sebelum janji temu yang sudah kita pilih.

  • VV EU-LANGDURIG INGEZETENE

Selamat, VV EU-LANGDURIG INGEZETENE sudah ditangan. Artinya status tinggal sekarang adalah permanen residen untuk waktu tak terbatas waktu. Meskipun statusnya untuk periode yang lama, tapi setiap 5 tahun sekali, tetap harus memperbaharui kartunya, tanpa perlu mengirimkan dokumen-dokumen lagi. Di kartu VV EU-LANGDURIG INGEZETENE sudah tidak ada nama suami sebagai sponsor, seperti nampak kita adalah sponsor diri sendiri.

Begitulah prosedur pengajuan ijin tinggal tipe VV EU-LANGDURIG INGEZETENE. Semoga informasi yang saya tuliskan berguna. Jika ada yang tidak jelas, silahkan ditanyakan.

-25 Februari 2020-

Ujian Teori Mengemudi Mobil di Belanda

Buku yang saya gunakan. Sampai lecek karena tiga kali saya baca tuntas sampai hafal titik komanya :))

Awalnya tulisan ini akan diunggah saat sudah selesai dan lulus ujian praktek menyetir. Jadwal selesai les masih beberapa minggu lagi, jadi diunggah sekarang saja. Mumpung masih hangat.

Jadi, minggu lalu saya LULUS ujian teori mengemudi mobil dalam bahasa Belanda. Rasa tidak percaya saat melihat layar komputer dan ada tulisan Geslaagd. Saya sampai terdiam sesaat dan mata berkaca-kaca. Bukan lebay tapi ujian teori ini memang tricky. Banyak yang mengulang ujian teori 2-3 kali baru lulus. Jadi, rasanya tidak berlebihan kalau saya bangga sama diri sendiri begitu pertama kali ujian lalu langsung lulus, terlebih saya ujiannya memilih dalam bahasa Belanda. Ok, saya akan mulai cerita awal mula kenapa saya memutuskan untuk les menyetir.

Saya itu orang yang sangat takut berkendara, meskipun hanya duduk manis di kursi penumpang. Saya lebih menikmati naik kendaraan umum dibandingkan kendaraan pribadi. Di Indonesia, saya pernah punya SIM C, yang sampai kadaluarsa cuma dipakai beberapa kali. Sejak cedera karena kecelakaan tunggal saat saya naik sepeda motor, setelahnya saya seperti bersumpah tidak akan lagi nyetir motor. Menyetir mobil? tidak pernah terpikirkan sama sekali. Sesuatu yang sudah diluar jangkauan.

Di Belanda, kami tinggal di kampung yang terletak diantara 3 kota besar, disebut sebagai randstad. Jadi kendaraan umum sangatlah gampang. Menyewa mobil pun lokasinya di pojokan rumah dengan harga terjangkau. Itulah kenapa kami memilih tidak mempunyai mobil selama 5 tahun ini. Sewaktu masih punya mobil, seringkali tidak terpakai karena kami lebih memilih naik sepeda atau kendaraan umum jika bepergian agak jauh. Setelah dipikir-pikir, kok ga ada manfaatnya waktu itu punya mobil, sangat jarang dipakai, akhirnya kami jual.

Dulu saya pernah bilang ke suami, tidak akan pernah mau belajar nyetir mobil selama rumah masih gampang akses dengan transportasi umum. Alasannya ya karena saya merasa takut nyetir, takut nabrak dan tabrakan. Never say never. Sampai pada bulan Oktober tahun lalu, kok ya mak bedundug tiba-tiba saya dapat hidayah. Saya ingin belajar menyetir mobil. Meskipun kami tidak ada mobil dan tidak berencana punya mobil dalam waktu dekat, tapi kok saya merasa kalau menyetir itu jadi semacam kebutuhan buat saya. Salah satu cara supaya saya tidak tergantung sama suami, mandiri. Jadi kalau misalkan ada perlu, tanpa bergantung ke suami saya bisa menyetir mobil sewaan. Lebih jauh lagi, menyetir itu semacam skill. Jadi, ya saya ingin punya skill menyetir. Jadi kalau suatu hari nanti kami beli mobil karena sudah butuh, saya sudah bisa menyetir sendiri. Alasan terakhir, karena saya ingin menantang diri sendiri, apakah bisa mengalahkan rasa takut yang selama ini ada. Apakah bisa keluar dari zona nyaman.

Berbekal niat yang sudah bulat, saya utarakan rencana tersebut ke suami. Tentu saja dia syok haha. Lha wong duduk di sebelah dia saat menyetir saja saya bisa ketakutan kalau dia menyalip kendaraan lain, ini kok pakai ide mau belajar menyetir. Tapi dia tahu saya, kalau sudah ada niat, akan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dimulailah petualangan  dalam belajar menyetir mobil. Saya harus melewati ujian teori dulu sebelum menuju ujian praktek.

Ini beberapa hal yang saya lakukan saat mencari sekolah menyetir :

  • Wajib belajar menyetir di sekolah. Untuk mendapatkan SIM, wajib belajar menyetir dulu di sekolah, meskipun sebelumnya sudah bisa menyetir. Saya mencari beberapa informasi sekolah menyetir di area tempat tinggal. Ada beberapa kandidat, lalu saya membandingkan dengan mencari beberapa variabel yang menurut saya penting yaitu tingkat kelulusan, testimoni tentang instruktur, harga, dan fasilitasnya.

 

  • Pembayaran. Setelahnya, mengerucut satu sekolah. Saya membaca semua informasi di website mereka, terutama tentang pembayaran. Tentang berapa biaya yang harus dikeluarkan, ini penting buat saya karena sekolah menyetir sampai lulus di Belanda itu sangatlah tidak murah. Saya cek dulu tabungan, apakah ada cukup dana untuk membayar sampai lulus dan dana jaga-jaga siapa tahu saya harus mengulang ujian. Saya membayar sendiri karena biasanya kalau dibayari jadi menggampangkan dan kurang bertanggungjawab. Kalau bayar sendiri, saya jadi lebih bertanggungjawab dan bersungguh-sungguh belajar supaya bisa dan lulus. Perkara nanti dibelakang uangnya akan diganti suami, ya saya terima *lah ngarep mbaknya. Beruntungnya, di sekolah menyetir ini pembayaran bisa dicicil. Beberapa sekolah menyetir yang saya tahu, pembayaran bisa dicicil (tanpa bunga), sehingga tidak memberatkan di depan. Saya bersyukur sekali ada sistem menyicil ini. Membuat tabungan saya tidak mendadak kering keronta :))

 

  • Proefles. Setelah yakin ada uangnya, saya lalu menghubungi sekolah tersebut menanyakan bagaimana prosedur mendaftar. Saya bilang juga kalau tidak ada pengalaman menyetir, nul puthul. Mereka menyarankan untuk melakukan proefles, jadi semacam cek ombak sejauh mana saya bisa diarahkan saat pertama kali dibelakang kemudi. Ini tidak wajib ya, hanya disarankan. Karena dari hasil proefles akan direkomendasikan berapa jam yang harus diambil saat les menyetir. Wah, saya yang benar-benar pertama kali duduk di belakang setir, tidak tahu mana gas mana rem haha. Wes pokok e kacau beliau. Magic lah saya tiba-tiba berani menyetir, meskipun di sebelah ada instruktur yang mendampingi dan mengarahkan. Setelah proefles, mereka menyarankan jumlah jam les yang musti dilakukan dan rekomendasi tipe kendaraannya. Setelahnya saya mulai komunikasi intensif dengan mereka berhubungan dengan jadwal les, informasi rencana liburan, jadwal ujian, pendaftaran ujian, sampai perkara membayar yang bisa dicicil.

 

  • Bahasa. Dari awal dikomunikasikan ke pihak sekolah, akan menggunakan bahasa apa selama les berlangsung (dan juga tesnya). Saya memilih bahasa Belanda. Bukan karena bahasa Belanda saya sudah canggih, tapi karena dalam keseharian lebih banyak menggunakan bahasa Belanda daripada bahasa Inggris, jadi saya merasa nyaman untuk keseluruhan rangkaian les mengemudi ini komunikasinya dalam bahasa Belanda, termasuk tes teori dan tes praktek. Kalau merasa nyamannya menggunakan bahasa Inggris, ditanyakan apakah sekolahnya menyediakan instruktur yang bisa menggunakan bahasa Inggris dengan baik.

 

  • Instruktur. Instruktur merupakan faktor yang penting dalam kelancaran les. Kalau kita tidak nyaman, dipastikan les menyetir akan seperti medan perang, tegang, yang berakibat kita akan lama bisanya. Saya mendapatkan tiga instruktur dengan satu instruktur utama. Dua lainnya pengganti kalau yang utama sedang tidak bertugas. Beruntungnya saya, ketiganya sabar dan tegas. Jadi membuat situasi dalam mobil tidak tegang. Apalagi instruktur utama saya, sudahlah ganteng (penting banget ini disebutkan haha), sabar, tapi juga tegas. Tidak banyak bicara selama les kecuali yang berhubungan dengan mengemudi. Sesekali juga kami saling bersenda gurau. Supaya tidak tegang. Selebihnya, ya fokus pada materi menyetir. Jika ternyata tidak cocok dengan instruktur, lebih baik minta ganti sejak awal, komunikasikan dengan pihak sekolah. Hal ini sudah biasa, minta ganti instruktur jika dirasa tidak cocok.

 

  • Theorie CursusSetelah mendaftar, pihak sekolah menyarankan untuk segera mempelajari teori dari buku yang mereka gunakan. Nah, sekolah ini juga menyediakan kursusnya, itu termasuk dalam harga satu paketnya. Ya jelas saya manfaatkan. Kursus berlangsung sekali seminggu selama 4 kali dan setiap pertemuan selama 2.5 jam. Ini salah satu dari dua kursus yang saya ikuti bulan lalu. Di kursus, saya banyak sekali mendapatkan tips dan trik membaca dan mempelajari soal-soal ujian yang lumayan tricky. Satu kelas, isinya orang Belanda semua. Saya satu-satunya yang imigran dan yang paling tua haha. Semuanya masih kisaran usia belasan sampai 25 tahun. Tapi saya tidak berkecil hati karena selama evaluasi, saya selalu lulus. Buku, selalu cari yang edisi terbaru ya karena peraturan beberapa yang bisa jadi berubah. Misalkan, per maret nanti, kecepatan maksimal di autosnelweg jadi 100km/u di jam normal. Kalau sekarang masih 130km/u.

Buku yang saya gunakan. Sampai lecek karena tiga kali saya baca tuntas sampai hafal titik komanya :))
Buku yang saya gunakan. Sampai lecek karena tiga kali saya baca tuntas sampai hafal titik komanya :))

 

  • Puas. Sampai detik ini, saya puas dengan sekolah mengemudi ini. Semua hal dengan cepat mereka informasikan melalui email ataupun telefon. Van Buuren, mereka ada cabang di beberapa kota. Ini bukan testimoni berbayar. Siapa tahu ada yang sedang mencari info sekolah menyetir.

 

Oh ya, saat mulai memantabkan niat, saya juga bertanya-tanya perkara menyetir di Belanda kepada mereka yang sudah lulus dan sudah punya SIM. Saya bertanya ke Anis, Yayang, Ratih. Wes pokoknya bawel nanya terus. Setelahnya saya nanya ke Mbak Dede, lalu Maya yang saya kenal lewat twitter. Selain itu saya juga rajin mencari informasi pengalaman orang lain dalam mendapatkan SIM di Belanda, saat ujian teori maupun ujian prakteknya. SIM dalam bahasa Belanda adalah Rijbewijs. Kalau untuk kendaraan pribadi, Rijbewijs tipe B.

 

Beberapa hal di bawah ini berkaitan dengan ujian teori mengemudi berdasarkan pengalaman saya :

  • Pararel antara les menyetir dan belajar teori. Jika memungkinkan, belajar teori dilakukan pararel dengan les menyetir jadi feelnya lebih dapat. Hal ini juga memudahkan saat ujian teori, sudah ada gambaran di lapangan seperti apa. Saat ujian teori, les menyetir saya sudah berlangsung selama 8 kali.

 

  • Tidak Sistem Kebut Semalam. Tahu diri dengan kemampuan menghapal yang sangat jauh dibawah kemampuan dalam menurunkan rumus dan menghitung -terutama dosa para mantan-, jadi saya memulai belajar dua bulan sebelum ujian. Bulan Desember, buku sudah ada di tangan. Saya mulai membaca dan perlahan menerjemahkan beberapa kata yang tidak saya pahami. Bahasa Belanda yang digunakan lumayan agak tinggi, mungkin sekelas B2. Jadi saya agak tertatih-tatih pahamnya. Bulan Desember sibuk dengan acara ini itu, jadi tidak terlalu intensif belajar. Mulai belajar intensif itu dari awal Januari. Saya harus konsisten satu hari minimal 3 jam belajar. Waktu saya belajar siang hari selama 2 jam dan malam hari sebelum tidur sekitar 2 jam (kalau sedang tidak ada jadwal kursus satunya). Saya sempat bertanya juga ke Geraldine yang langsung lulus ujian teori, berapa jam per hari belajarnya. Dia bilang 3 jam. Wah aman berarti. Saya makin PD.

Salah satu halaman buku yang penuh coretan.
Salah satu halaman buku yang penuh coretan.

 

  • Belajar dari sumber lain. Selain belajar dari buku, saya juga banyak berlatih soal dari website Theorieexamen.nl. Bagi yang sedang belajar dan berencana ujian, saya sangat merekomendasikan website ini. Sekitar 80% soal ujian, mirip soal-soal yang ada di sini. Saya menggunakan yang layanan berbayar dalam satu bulan. Jadi makin banyak variasi soal yang bisa dijadikan latihan. Terima kasih buat Mbak Dede dan Maya yang memberitahukan website ini. Di website ini juga diperlihatkan progress kita setiap mengerjakan soal. Kalau progressnya sudah mencapai 90% atau lebih, yakin bisa lulus. Saya sampai sebelum ujian, progress 93%.

 

  • Santai sebelum ujian. Ini kebiasaan yang selalu saya lakukan : satu hari sebelum ujian (apapun), saya sudah tidak mau membuka buku. Belajar sudah selesai. Biasanya saya akan jalan-jalan atau keluar rumah melakukan kegiatan apapun untuk menenangkan pikiran supaya saat ujian pikiran lebih segar dan otak tidak lelah.

 

  • Datang lebih awal. Awalnya tempat ujian saya di Rijswijk. Lalu CBR yang di Rijswijk menurut informasi yang saya dapat, terbakar. Penyebab kebakaran simpang siur. Tapi katanya dilempar peledak oleh salah satu peserta ujian praktek yang tidak lulus sampai 7x (duh jangan sampai ngulang sampai 7x). Lalu, ujian dipindah ke Barendrecht di Rotterdam. Perjalanan selama 1 jam. Saya datang setengah jam dari jadwal ujian. Lumayan bisa mengenali medan sebelum berperang.

 

  • Het zorgvuldig lezen en het goed begrijpen. Saat mengerjakan soal, baca dan pahami dengan baik pertanyaan dan jawabannya. Lumayan banyak pertanyaan yang menjebak. Meskipun harus hati-hati dalam membaca soal, jangan lupa dipertimbangkan masalah waktu. Ada batas waktu setiap bagiannya. Hafalkan dan pahami semua yang ada di buku juga soal-soal latihan. Angka-angka sampai komanya. Penting karena kita tidak tahu bagian mana dari materi yang keluar di ujian.

 

  • Konsumsi Coklat sebelum Ujian. Dari yang saya baca, coklat bersifat menenangkan. Jadi sebelum ujian, saya minum Chocomel haha. Ya lumayanlah bisa mensugesti diri sendiri supaya tenang.

 

  • Ujian teori ada 3 bagian :Gevaarherkenning: 25 vragen waarvan je er ten minste 13 goed moet beantwoorden. Di bagian ini, hanya boleh salah maksimal 12 pertanyaan. Saya salah 6.
    • Kennis: 12 vragen waarvan je er ten minste 10 goed moet beantwoorden. Bagian ini, boleh salah maksimal 2. Saya salah 1.
    • Inzicht: 28 vragen waarvan je er ten minste 25 goed moet beantwoorden. Bagian ini boleh salah maksimal 3. Saya salah 1.

 

  • Sertifikat kelulusan ujian teori berlaku selama 1.5 tahun. Artinya jika dalam waktu 1.5 tahun tidak lulus ujian praktek, maka harus mengulang ujian teori.

 

Saking bahagianya saya sekali ujian langsung lulus, begitu selesai langsung mengabarkan ke suami. Berita langsung beredar di keluarga. Saya mendapatkan ucapan bertubi dari seluruh keluarga. Mungkin berasa ajaib saya langsung lulus haha. Ponakan yang sedang belajar menyetir, lulus teori saat ujian kedua kali. Padahal saya lulus bukan karena keberuntungan tapi belajar penuh perjuangan. Dua intsruktur saya juga nggumun, karena murid-murid mereka biasanya setelah paling tidak 2-3 kali ujian teori baru lulus. Tetangga saya pun mengucapkan selamat dan mengirimkan bunga.

Bunga ucapan selamat dari suami dan tetangga
Bunga ucapan selamat dari suami dan tetangga

 

Berat ya perjalanan mendapatkan SIM di Belanda. Berat dan mahal. Ujian teori telah terlewati. Saatnya saya melanjutkan perjuangan menuju ujian praktek. Saya mencoba tidak menjadikan beban. Yang penting berusaha semakin baik setiap les. Semoga nanti ujian praktek juga bisa sekali lulus mengikuti jejak Yayang, Ratih, dan Anis. Doakan saya ya.

Semoga tulisan super panjang ini bisa bermanfaat buat yang akan ujian teori menyetir di Belanda dan semoga sukses ujiannya. Heel veel succes!

-9 Februari 2020-

Lima Tahun di Belanda

Akhir bulan Januari ini, tepat lima tahun saya tinggal di Belanda. Masih ingat dengan jelas, lima tahun lalu saat suami menjemput di Schiphol, saya sampai lupa wajahnya seperti apa sampai dia memanggil beberapa kali haha. Maklum, setelah menikah kami tinggal terpisah dan selama 6 bulan tidak pernah sekalipun video call-an. Jadi wajah suami agak samar di ingatan dikepruk bojoku :))). Lima tahun lalu, badan saya masih singset mungil –koyok wong ga doyan mangan– Memang saya susah naik Berat Badan….. duluuu. Dua tahun terakhir ini, badan saya sukses mengembang kayak diguyur fermipan. Entah naik berapa puluh kilo. Tak mengapa, memang sengaja dibuat membesar, supaya tidak gampang diterbangkan kerasnya angin di Belanda dan angin kehidupan *krikk kriikk.

Saya tanya suami, apa perbedaan saya lima tahun lalu dan lima tahun kemudian. Inilah jawaban dari dia :

  • Makin Dewasa dan Lebih Jinak

Bagian makin dewasanya saya tidak bisa komentar ya karena ukuran dewasa itu banyak variabelnya. Jadi saya menyebutnya, relatif. Saya mau komentar bagian lebih jinak. Ini maksudnya lebih ke arah emosi. Saya akui, selama 5 tahun ini memang cara saya mengatur emosi lebih stabil. Dulu kan senggol bacok. Seiring berjalannya waktu, lebih banyak pelajaran kehidupan, dan tertular suami yang panjang urat sabarnya, saya pun jadi lebih panjang sumbu sabarnya. Saya makin santai menghadapi apapun, dalam segala suasana. Lebih bisa memilih dan memilah mana yang harus disikapi. Lebih bisa berpikir panjang sebelum bertindak atau bereaksi. Intinya, saya yang dulu senggol bacok, sekarang lebih zen. Dulu yang reaktif, sekarang lebih santai dalam bereaksi. Tidak gampang tersulut, tidak gampang meledak. Pegangan saya cuma satu : tidak semua hal perlu saya urusi dan  ada hal-hal di luar kuasa yang tidak bisa saya kendalikan. Belajar dari kesalahan – kesalahan yang pernah terjadi, saya ingin menjadi jiwa yang lebih baik. Mengendalikan emosi salah satunya. Sekarang, sudah jauh lebih baik. Banyak hal-hal baik dari suami yang saya serap, salah satunya ya bagian emosi ini. Dari dia lah saya belajar untuk lebih santai dan tidak reaktif.

  • Lebih Belanda Dari Orang Belanda

Saya dari dulu kalau ngomong, ceplas ceplos, apa adanya. Awalnya suami kaget pas kenal saya. Berasa bicara sama orang Belanda katanya haha mirip. Kalau di Belanda, disebutnya direct. Jadi ngomong ya apa adanya, tanpa basa basi. Walaupun tingkat direct saya lebih tinggi dibandingkan lingkungan saya di Indonesia, tapi pas tahun pertama menikah, duh ada saja yang bikin perang dunia. Salah paham terus dengan suami perkara dia lebih direct (ya iyalah, dia dari orok di sini). Lama-lama makin paham, lalu sekarang kata suami terkadang saya lebih direct dari orang Belanda asli.

Yang kedua, tentang waktu. Sejak di Indonesia, saya memang paling tidak suka telat dan nelat. Janjian pasti lebih awal dari jam yang disepakati. Lebih baik menunggu daripada ditunggu. Jadi begitu pindah Belanda, saya tidak ada masalah dengan perkara janjian. Suami, tipe yang on time. Jadi benar-benar pas waktunya. Sedangkan saya lebih awal dari waktu janjian. Makanya dia bilang saya lebih Belanda dari orang Belanda.

Yang terakhir tentang uang. Biasa ngirit kan ya karena 13 tahun jadi anak kos. Selain itu juga hasil ajaran orangtua : jika membeli sesuatu, yang seperlunya saja. Walhasil menancaplah ajaran itu sampai akar. Konon katanya, orang Belanda terkenal pelit. Kalau menurut saya, bukan pelit, tapi memperhitungkan segala sesuatunya. Jadi kalau tidak penting-penting amat, tidak akan berfoya-foya. Seperlunya saja. Suami dan keluarganya, termasuk orang yang dalam mengeluarkan uang, seperlunya. Tapi mereka sangat menikmati hidup justru dengan prinsip itu. Menabung kencang, pos-pos untuk hiburan juga diisi kencang. Jadi kalau saatnya travelling, ya menikmatinya dengan maksimal. Makan di tempat yang ok, nginep di hotel yang ok, tidak terlalu memikirkan harus mengirit ini dan itu karena memang sudah memperhitungkan sesuai yang ditabung. Nah, saya lebih perhitungan lagi dari mereka haha. Entah, antara perhitungan sama pelit memang tipis kalau diterapkan pada saya. Suami pernah komen : Kupikir aku ini sudah ngirit, eh kamu kok lebih ngirit dari aku :)))

Itulah dua poin utama dari kacamata suami tentang perubahan saya selama lima tahun numpang tinggal di negara orang. Nah kalau dari saya, ada beberapa hal yang saya masih belum bisa lepas dari hal-hal yang berbau Indonesia dan juga beberapa perkembangan yang saya dapat selama di sini :

  • Masih Takut Hantu

Ini bagian yang agak kocak. Saya ini suka nonton film horor dan sudah terpapar film horor sejak balita mungkin haha. Ya generasi Suzanna lah pokoknya. Jadinya, otak saya itu suka kreatif menciptakan sosok-sosok hantu yang entah ada atau nggak. Apalagi pas kuliah, doyan banget nonton film horor Jepang macam Sadako. Belum lagi horor Thailand kan ngerinya ga main-main. Walhasil, saya jadi orang yang takut akan hantu (yang entah ada apa tidak *ga minta dilihatin juga). Selama di Belanda, saya tidak terlalu merasa horor lagi. Padahal katanya hantu Belanda di Indonesia itu menyeramkan ya. Yang pasti, lingkungan di Belanda tidak terasa horor. Pulang malam jam 10 saya masih berani sepedahan. Tapi, kalau lewat hutan dengan penerangan yang minimal, saya langsung merinding. Membayangkan kalau tiba-tiba ada bayangan putih melesat di depan mata, atau tiba-tiba boncengan sepeda berat trus saya nengok tiba-tiba ada mbak-mbak rambut panjang sudah duduk dengan menyeringai ke arah saya. Itu khayalan saya ya, yang nyatanya memang tidak terjadi. Harusnya saya lebih takut dengan penjahat kalau lewat hutan seperti itu. Nyatanya, bayangan hantu lebih membuat saya takut. Padahal kata suami, kalau di Belanda yang paling ngeri itu cuma satu : dapat surat cinta dari kantor pajak haha.

Beberapa waktu lalu, saya merasa ada hal aneh terjadi di rumah. Lalu saya menyimpulkan kalau ada setan di rumah. Saya cerita ke suami dengan menggebu. Suami ambil Hp, googling, lalu memaparkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi termasuk aspek psikologis. Tidak ada dalam paparannya kemungkinan ada setan. Ya beginilah salah satu perbedaan saya dan suami. Beda antara yang dibesarkan dengan ilmu pengetahuan dan logika, dengan yang dibesarkan oleh film-film Suzanna.

  • Nyebrang Jalan Masih Ragu-Ragu

Terbiasa di Indonesia sebagai pejalan kaki selalu terkalahkan oleh kendaraan bermotor, akhirnya mental itu terbawa sampai sini. Setiap kali lewat zebra cross, saya selalu menunggu mobil lewat dulu. Padahal jelas-jelas kalau menyeberang lewat zebra cross, mobil akan berhenti menunggu pejalan kaki  menyeberang. Tapi entah, sampai saat ini saya masih otomatis berhenti dan menunggu mobil lewat dulu. Sudah lumayan berkurang, tapi masih ada rasa takut kena serempet mobil.

  • Denda Sepeda

Ini yang agak aib. Akhirnya selama 5 tahun sepedahan di Belanda, awal Januari  kena denda. Duh memalukan sekali. Padahal sepedahan sampai 90km  lintas kota Den Haag-Leiden, baik-baik saja. Eh ini mau ke klinik dokter yang jaraknya cuma 10 menit dari rumah, kena denda. Salah saya memang. Karena terburu-buru, saya lupa menyalakan lampu belakang sepeda. Waktu itu jam 8 pagi. Saya pikir, sudah agak terang, jadi lupa saya menyalakan lampu belakang sepeda. Lha kok pas banget ada polisi patroli dengan mobil. Walhasil, saya dihentikan, ditanya kartu identitas, lalu beberapa hari kemudian surat denda datang ke rumah. €65 melayang gara-gara lampu belakang.

  • Pemahaman Bahasa Belanda Semakin Membaik

Ada satu kursus yang saya ikuti saat ini pesertanya semua orang Belanda, bahasa pengantar kursusnya juga bahasa Belanda. Saya satu-satunya imigran di sana. Pertama kali masuk, pulang-pulang kliyengan kepala saya. Kursusnya selama 3 jam. Walaupun saya paham dengan yang disampaikan oleh pemateri, tapi saat diskusi, peserta lainnya kalau ngomong dengan aksen yang berbeda-beda. Kebanyakan ga nangkep jadinya apa yang mereka sampaikan. Kadang malah saya dengarnya kayak kumur-kumur atau krusek krusek kayak nyari gelombang radio. Tapi, ya sesama orang Belanda paham mereka meskipun di telinga saya seperti sedang sakit gigi pas ngomong. Ya sejauh ini, setiap evaluasi setidaknya saya selalu mendapatkan nilai bagus. Masih jadi 3 terbaik di kelas dari 20 peserta. Sampai yang lainnya sempat bertanya apa saya pernah mengikuti kursus ini sebelumnya. Saya bilang tidak. Tapi di rumah, saya memang selalu belajar. Intinya, sebagai imigran, saya sadar diri kemampuan bahasa Belanda saya masih 75%, jadi saya harus inisiatif belajar sendiri di rumah, menyiapkan materi sebelum kelas mulai. Jadi ketika di kelas, saya sudah lumayan tahu apa yang akan disampaikan. Sebagai imigran, dalam hal apapun, saya harus berusaha 10 kali lipat dibandingkan orang Belanda, supaya kemampuan tidak dianggap sebelah mata.

Itulah beberapa hal yang bisa saya tuliskan. Tadi pagi, sebelum berangkat kerja, ucluk-ucluk suami bawa tas dari gudang belakang. Dia memberikan hadiah buat saya. Ya ampun, saya yang rembes dengan rambut masih awut-awutan merasa senang dikasih kado. Merasa suami kok sweet sekali *sekali-kali muji suami nang blog lak ga haram tho. Lalu jam 9 pagi saya mulai berkreasi, masak maksudnya. Saya membuat martabak telor dengan kulit bikin sendiri. Lalu masak mie ayam jamur dengan bahan seadanya di kulkas. Saya pakai ayam sisa soto ayam minggu lalu. Lalu karena tak ada sawi, jadi pakai sayur salad. Dan tak punya cabe merah, jadi pakai cabe buat martabak.

Martabak telor dengan kulit buat sendiri
Martabak telor dengan kulit buat sendiri

Mie ayam jamur
Mie ayam jamur

Ini kali kedua saya membuat martabak telor dalam dua bulan terakhir. Resepnya saya nyontek dari blog Mbak Yoyen. Gampil sih, cuma yang agak akrobatik pas naruh di penggorengan. Debus pun kalah. Tapi hasil akhirnya tak mengecewakan. Semua suka, tandas sekejap mata.

Ini martabak telor yang saya buat bulan lalu. Makan pake nasi haha.
Ini martabak telor yang saya buat bulan lalu. Makan pake nasi haha.

Suami mengajak makan malam di Sushi restoran. Merayakan 5 tahun saya di Belanda. Lima tahun lalu saya tiba di sini. Meninggalkan Indonesia, memulai semua dari awal, tidak menengok lagi yang dibelakang. Lima tahun mengenal negara ini, jatuh bangun dijalani, suka duka dilewati bersama keluarga kecil kami. Semoga saya berjodoh lama dengan negara ini, berjodoh lama dengan suami, dan bisa bersama menjalani pernikahan ini sampai berpuluh tahun lamanya. Sekali lagi, selamat 5 tahun untuk diri sendiri, selamat sudah sampai sejauh ini. Semoga tahun-tahun mendatang tetap menjalani hari dan mencapai yang dicitakan dengan langkah penuh kebahagiaan.

IMG_2509

-30 Januari 2020-