Lebaran 2020 dan Hantaran Antar Teman

Sebelum memulai cerita lebaran tahun 2020, saya ingin mengucapkan terlebih dahulu Selamat Lebaran untuk yang merayakan dan Mohon maaf lahir batin untuk semuanya. Maaf atas segala hal-hal yang tidak berkenan selama berinteraksi di blog atau media sosial, atas segala komentar, jawaban, atau status. Semoga kita semua diberikan kesehatan yang baik, umur panjang yang barakah bersama seluruh keluarga dan orang-orang yang kita cintai, bisa bertemu kembali dengan Ramadan dan Lebaran tahun-tahun akan datang dengan kualitas ibadah yang lebih baik dan dalam keadaan sehat.

Saya ucapkan terima kasih untuk mereka yang lebaran kali ini tidak mudik, tidak berdesakan membeli baju baru, sholat Ied di rumah, tidak melakukan anjangsana, dan tidak menerima tamu di rumah. Lebaran kali ini berbeda, jangan dipaksakan sama. Mari kita berjuang bersama supaya keadaan menjadi aman kembali.

Selamat Lebaran 2020
Selamat Lebaran 2020 dengan foto kue-kue kering buatan sendiri

MEMBUAT KUE KERING UNTUK LEBARAN

Tidak pernah terpikirkan kalau suatu saat saya akan membuat kue-kue kering sendiri untuk lebaran. Selama ini, sejak tinggal di Belanda, saya tidak pernah membuat kue kering untuk lebaran. Malah ketika masuk bulan Desember, menjelang Natal, saya biasanya membuat Kaasstengels.

Lebaran ini, karena tidak jadi mudik sehubungan pandemi, maka saya sudah niat ingin menciptakan suasana lebaran di rumah secara maksimal. Salah satunya adalah mengisi toples-toples yang seringnya menganggur di rumah, dengan kue-kue kering.

Dimulai dua minggu menjelang lebaran, saya sudah mulai mencicil membuat kue-kue yang sekiranya saya dan orang-orang di rumah akan suka. Mulailah saya membuat putri salju (meskipun saya tidak terlalu suka, tapi saya rasa suami akan suka. Kan bertabur gula), dilanjut kue kacang, lalu Kaasstengels, dan terakhir kue tepung beras yang orisinil dan rasa coklat. Untuk kue kacang saya membuat dua versi dari dua resep yang berbeda. Satu resep untuk ditaruh di rumah, satu resep saya persiapkan khusus untuk teman-teman yang akan saling bertukar hantaran.

Pertama kali membuat beberapa kue kering untuk lebaran kesannya adalah capek luar biasa. Salut buat yang berjualan kue kering. Boyokku rasa cuklek setelah beberapa hari membuatnya. Tapi ada rasa puas juga karena ternyata kok ya saya bisa disela jadwal rumah yang super padat. Sewaktu diberikan ke Mama mertua, Beliau suka sekali. Memuji Kaasstengels dan Putri saljunya. Senangnya hati ini.

Inilah isi toples-toples yang biasanya menganggur : Kue kacang, Kaasstengels, Rengginang, Putri Salju, dan Kue tepung beras. Saya sengaja tidak membuat nastar karena selama lebaran di desa kue yang tersajikan tidak pernah ada nastar. Jadinya lidah saya tidak terbiasa dengan nastar. Yang penting ada rengginang karena di desa kalau tidak ada rengginang rasanya tidak sah berlebaran haha.

Kue kering untuk lebaran ala saya
Kue kering untuk lebaran ala saya

MASAKAN LEBARAN

Masih terkait mudik yang ditunda, maka sedari awal saya sudah niat sekali untuk masak spesial lebaran ini. Saya ingin menyuguhkan masakan khas dari desa mbah, namanya Pecel Pitik. Sebenarnya agak tidak percaya diri awalnya ingin masak pecel pitik. Saya merasa nanti pasti dari segi rasa sangat jauh kalau Bude saya yang memasak. Tapi, karena niat yang membara, saya akhirnya menanyakan resep Pecel Pitik ke Bude lewat perantara Ibuk.

Sebenarnya setiap lebaran di desa saya juga ikut dalam proses memasaknya, bahkan selalu kebagian mengulek bumbu dan cabe. Tapi karena terakhir makan pecel pitik itu saat lebaran tahun 2014, terus terang ingatan saya akan rasanya agak buram. Walhasil berkali-kali saya tanya ke Ibu tentang rasa yang dominan apa, bagaimana urutan memasaknya, dan beberapa hal lagi. Bahkan saat H-1 lebaran, saat saya memasak, groginya luar biasa. Mana masih puasa kan, jadi tidak bisa mencicipi langsung. Saat buka puasa baru bisa dicicipi dan lega karena rasanya mirip dengan yang biasa saya makan di desa. Terharu luar biasa. Leluhur saya pasti bangga karena salah satu keturunannya bisa memasak pecel pitik di tanah rantau haha.

Yang menjadikan pecel pitik ini istimewa, karena ayamnya harus dipanggang terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke bumbu santan. Tujuan dipanggang untuk mengeringkan kandungan air dan menimbulkan aroma panggangan. Ayam yang digunakan juga wajib ayam kampung. Di Belanda ada yang menyerupai ayam kampung dengan daging yang agak liat, meskipun harganya tidak murah. Tutup mata saja, kan untuk hari raya. Memanggang pun lebih enak kalau menggunakan sabut kelapa atau kayu di pawonan. Tapi kan ya di londo ini susah, jadi pakai yang ada saja, memanggang di teflon.

Tempe yang dimasukkan juga dipanggang terlebih dahulu. Rasa yang dominan adalah pedas. Aslinya masakan ini pedasnya luar biasa. Tetapi karena saya tidak ingin “meracuni” suami dan teman-teman yang akan menerima pecel pitik, jadi saya kurangi level pedasnya menjadi 1/4 dari aslinya. Inilah pecel pitik yang membuat saya terharu karena setelah 6 tahun lalu, sekarang bisa makan lagi dan dari hasil masakan sendiri.

Pecel Pitik Jember
Pecel Pitik My Love!

Hidangan lebaran lainnya yang sanggup saya masak sesuai ketersediaan stok tenaga dan mood adalah : telor petis madura, sate ayam, oseng Kohlrabi wortel, balado udang pete, dimakan pakai lontong atau nasi, dan minumnya es garbis (blewah).

Hidangan lebaran di rumah kami
Hidangan lebaran di rumah kami

Mengapa tidak ada rendang dan opor? Karena sejak kecil jika lebaran tiba, makanan yang disediakan di rumah Mbah tidak pernah ada menu rendang dan opor. Jadi ya saya selama ini tidak memasukkan opor dan rendang sebagai menu lebaran di rumah kami. Tapi tahun ini kami bisa makan rendang dan opor dari pemberian teman-teman.

HANTARAN UNTUK DAN DARI TEMAN-TEMAN

Lebaran kali ini sangat spesial karena dalam suasana pandemi yang artinya tidak bisa saling kunjung antar teman. Bisa sebenarnya karena aturan berkunjung sekarang sudah lebih longgar. Tapi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, saat ini lebih baik tidak berinteraksi secara dekat dulu. Saling menjaga satu sama lain.

Selama 6 kali lebaran di Belanda, selain untuk keluarga sendiri, saya biasanya juga memasak dalam jumlah banyak untuk dikirim ke para tetangga dan saudara-saudara. Nah, karena lebaran ini teman-teman saya tidak ke mana-mana apalagi mudik, akhirnya ada ide untuk saling memberikan hantaran yang salah satu isinya adalah masakan spesial masing-masing orang. Selain itu, terserah apa yang ingin diberikan. Tentu saja kami sangat menyambut dengan senang hati ide ini. Apalagi Anis dan Asri dengan sukarela menawarkan diri sebagai pihak yang mengambil paket dan mengantarkannya (eh, beneran sukarela ya Nis, Asri haha. Takutnya aku ngarang).

Saya menyiapkan 6 tas (yang foto di bawah cuma 5 tas karena tas untuk Dita menyusul saya hantarkan ke rumahnya di Delft keesokan harinya) yang isinya masakan pecel pitik dan telor petis madura, kue kacang dalam wadah kecil, kerupuk, coklat, dan beberapa barang tambahan (masing-masing orang berbeda) serta saya lampirkan kartupos dari beberapa negara yang pernah kami kunjungi yang saya tulisi ucapan selamat lebaran.

Urutannya adalah begini : Asri mengambil tas dari saya untuk Eby, Rurie, dan Asri sendiri. Lalu Asri memberikan pada saya tas hantaran dari dia. Kemudian Asri membawa tas-tas saya untuk diserahkan ke Eby dan Rurie. Sementara Anis, pergi ke rumah Rurie dulu untuk menyerahkan hantaran dari dia dan Patricia serta mengambil hantaran dari Rurie (dan Asri) untuk dia sendiri, saya, dan untuk Patricia. Lalu Anis ke rumah saya untuk menyerahkan hantaran dari dia, Patricia, dan Rurie. Terakhir, Anis ke rumah Patricia menyerahkan 3 tas (karena yang dari Anis sudah diserahkan sehari sebelumnya). Jadi 5 orang diantara kami akan saling mendapat hantaran dari masing-masing orang tersebut. Eby adalah teman saya dan Asri, jadi dia mendapatkan hantaran hanya dari kami berdua. Diantara kami berlima, Asri dan Patricia tidak merayakan lebaran (plus Eby), tapi mereka semangat mempersiapkan hantaran. Oh ya ada satu lagi, saya menerima kiriman juga dari Astrid, dia mengirimkan lewat pos. Astrid juga tidak merayakan lebaran, tapi selama ini dia selalu berkirim kartu ucapan selamat lebaran. Teman saya Andrea yang tinggal di Leuwaarden juga mengirimkan kartu ucapan.

Kami ini jarang bertemu (paling tidak untuk saya karena memang saya tidak (mau) sering ikutan kumpul-kumpul haha), jadi dengan momen saling memberi hantaran begini, rasanya hangat di hati, menjalin silaturrahmi dan tetap bisa saling kunjung lewat hantaran. Walaupun hanya sesaat bertemu Anis dan Asri, tapi senang bisa melihat dan berbincang sebentar dengan mereka. Saking sebentarnya, paling hanya 2 menit kami ngobrol. Mereka menaruh barang-barang di depan pintu dan kursi taman, saya pun demikian. Tetap saling jaga jarak.

Tas-tas hantaran dari saya

Saya sengaja memotret satu persatu apa yang sudah mereka berikan pada saya untuk nanti saya pamerkan di blog dan media sosial. Ya memang seniat itu. Bukan karena permintaan mereka, bukan karena untuk berterima kasih karena hal ini jelas sudah saya lakukan secara langsung. Saya memotret apa yang sudah saya dapatkan dari mereka memang karena suka. Tidak ada alasan lain. Perkara nanti ada orang lain yang tidak suka karena saya pamer, ya itu bukan urusan saya. Saya tidak bisa mengendalikan apa reaksi orang karena yanh bisa saya kendalikan adalah apa yang ingin saya tampilkan. Sama halnya terkadang saya nyinyir kalau melihat orang menjembreng uang di media sosial. Itu bukan salah yang menjembreng uang, ya saya saja yang cari-cari bahan gosip. Kalau ada yang melihat unggahan saya lalu ikut merasakan kegembiraan saya menerima dan memberi hantaran dari dan untuk teman-teman, yuk toss virtual.

Saya dan teman-teman ini sudah sering saling kirim mengirim barang dan makanan. Jadi tidak dalam momen lebaran saja. Dan setiap kali saya mendapatkan kiriman, biasanya selalu saya pamer, kalau saya niat. Kalau tidak niat ya saya tidak akan koar-koar. Apakah demi konten? Ya jelas tidak. Saya bermedia sosial tidak berpikir konten, tapi lebih ke arah berbagi dan pamer. Sesimpel itu. Salah satu tujuan saya bermedia sosial kan memang ingin pamer, ya untuk apa lagi haha. Kadangkala saya pamer opini, lain waktu saya pamer foto-foto, sesekali juga pamer pencapain. Berbagi makanan ke teman – teman juga tidak pada saat hari raya saja saya lakukan. Hari – hari biasa kalau saya niat masak banyak, akan saya bagikan ke beberapa teman juga.

Hantaran dari teman-teman

Saya membaca beberapa opini yang beredar mengatakan kenapa hantaran harus dipamer di media sosial, kenapa kok tidak secara wajar saja tidak usah dipamerkan. Ya kembali lagi ke prinsip utama dalam bermedia sosial, kalau sudah sangat meresahkan, lebih baik tidak usah dilihat, dilewati saja. Toh pamer hasil pemberian tidak akan merugikan siapapun, tidak menyakiti hati siapapun, tidak akan membuat pingsan siapapun. Kalau ada yang merasa resah, tidak suka, atau clekit-clekit hatinya, coba diperiksa lagi hati dan pikirannya. Mungkin ada yang tidak benar di dalamnya. Tapi saya kan juga tidak bisa mengatur orang-orang yang berbeda pandangan tentang hal ini. Semua orang bebas berpendapat. Pamer hantaran kalau di Indonesia malah bisa untuk membantu jasa pembuat hantaran lho. Bisa jadi orang akan mencatat akun media sosial pembuat hantaran lalu saat mereka butuh bisa menghubunginya. Kalau hantaran yang kami buat kan bikin sendiri. Tapi saya tetap dengan senang hati mempromosikan akun media sosial teman-teman saya itu. Siapa tahu ada yang mau pesan makanan.

Saya sejak dulu selalu suka melihat orang mendapatkan hantaran dan memperlihatkan isinya. Entah, suka saja. Merasa ikut merasakan gembiranya sang penerima. Padahal waktu itu saya tidak ada yang mengirimi, melas yo. Saya suka tulisan Dila tentang opini dia mengenai hal ini. Silahkan baca di sini.

Beberapa makanan dari teman-teman yang sudah kami makan. Ada banyak yang belum makanya belum bisa difoto. Dua foto di atas (foto taart) saya pinjam dari Rurie. Saking semangatnya mau makan, sampai lupa moto duluan.

HARI LEBARAN

Hari Minggu, 24 Mei 2020, lebaran tiba. Setelah berkutat di dapur sejenak, saya bilang suami untuk mandi dan siap-siap sholat Ied. Saya memakai baju rapi, supaya berasa lebarannya. Selama 6 kali lebaran di sini, baru dua kali saya ikut sholat Ied bersama di Masjid (Al Hikmah, Den Haag). Selebihnya sholat di rumah. Jadi untuk lebaran kali ini, biasa saja sholat di rumah karena acara keagamaan yang melibatkan orang banyak masih dilarang di Belanda, termasuk sholat Idul Fitri.

Setelah sarapan, saya mulai panggilan video dengan Ibu, Adik, dan satu keluarga di Bekasi. Selama lebaran ya memang seperti itu. Jadi kali ini tetap tidak ada bedanya. Oh ada sih, kali ini saat saya telepon mereka satu persatu, mereka semua leyeh-leyeh di kasur di rumah masing-masing. Karena mereka sholat Ied di rumah, lalu menutup rumah serapat mungkin.Tidak mau menerima tamu. Jadinya ya mereka leyeh-leyeh.

Jam 11.30 kami makan bersama. Bersyukur lebaran bisa berkumpul sekeluarga lengkap dan sehat. Semoga kami diberikan jodoh panjang untuk selalu bersama dalam formasi lengkap dan sehat setiap Ramadan dan Lebaran tahun – tahun akan datang.

Begitulah cerita sekelumit keseruan lebaran kali ini. Jika ingin membaca cerita lebaran – lebaran saya sebelumnya, saya akan sertakan tautannya di bawah :

Lebaran Pertama di Belanda

Lebaran Kedua di Italia

Lebaran Ketiga di Belanda

Lebaran Keempat di Belanda

Lebaran Kelima di Belanda

Sehat-sehat selalu ya untuk kita semua.

-26 Mei 2020-

Prosedur Pengajuan Verblijfsvergunning EU-Langdurig Ingezetene

IND

Beberapa minggu lalu, selang beberapa hari setelah lulus ujian tes teori menyetir mobil, saya mendapatkan surat keputusan dari kantor Imigrasi di Belanda (IND = Immigratie -en Naturalisatiedienst) yang menyatakan bahwa mereka meluluskan pengajuan ijin tinggal yang baru. Jadi total proses pengajuan dari awal sampai keputusan, 3.5 bulan dari maksimal 6 bulan yang dijanjikan pihak IND. Itupun sempat ada “prahara” mereka meminta data tambahan tanpa diduga. Jadi dokumen-dokumen yang saya ajukan sudah lengkap sesuai dengan yang tertera pada formulir, lalu mereka meminta data tambahan lagi. Sehari setelah data tambahan dikirim, mereka langsung memberi keputusan diterima.

Suami sempat mengusulkan supaya saya langsung ganti paspor Belanda saja supaya mempermudah administrasi di Belanda dan lebih praktis semuanya. Dia bilang : kan kamu sudah tinggal di Belanda dan keluarga kita di Belanda. Tapi saya belum menemukan alasan yang kuat mengganti paspor Indonesia menjadi paspor Belanda. Bukan karena saya terlalu nasionalis, tapi ya itu tadi. Saya belum menemukan alasan kuat mengganti paspor. Kalau untuk alasan praktis buat travelling (salah satu yang suami saya bilang), saya belum terlalu perlu karena kami travelling juga paling banyak 4 kali dalam setahun. Itu paling banyak ya, seringnya ya 3 kali. Jadi, saya putuskan untuk saat ini mengajukan perpanjangan ijin tinggal saja, bukan mengganti paspor. Entah kalau nanti sudah menemukan alasan yang kuat, bisa jadi saya akan berubah pikiran mengganti paspor Indonesia ke Belanda. Bisa jadi tetap paspor Indonesia.

IND
IND

Saya akan tuliskan beberapa poin tentang prosedur pengajuannya. Catatan : Ijin tinggal ini sponsor saya adalah suami dengan status saat pengajuan saya sedang tidak bekerja. Saya sedang malas menulis yang terlalu lengkap, jadi beberapa informasi yang akan ditulis di bawah, untuk lebih lengkapnya bisa baca sendiri pada link yang saya berikan *BLOGGER GAK SEPIRO NIAT :))).

  • PEMBERITAHUAN MASA BERLAKU VERBLIJFSVERGUNNING BEPAALDE TIJD AKAN BERAKHIR

Tiga bulan sebelum VERBLIJFSVERGUNNING  (seterusnya akan saya singkat menjadi VV) BEPAALDE TIJD selesai masa berlakunya, IND akan mengirimkan surat pemberitahuan ke alamat kita. Itu tandanya, kita sudah bisa mulai mengajukan permohonan. CATATAN : Jangan mengajukan permohonan sebelum surat dari IND datang atau sebelum 3 bulan masa berlaku VV berakhir. Jika mengajukan sebelum 3 bulan dan kalian sudah membayar, IND akan meminta kalian mengajukan lagi dan mengulangi proses dari awal. Termasuk membayar lagi. Jika belum mendapatkan surat dari IND lebih dari 3 bulan sebelum masa berlaku VV lama akan selesai, silahkan kontak IND untuk memastikan.

VV saya berakhir bulan Desember. Jadi bulan September saya mendapatkan surat dari IND.

  • VV EU-LANGDURIG INGEZETENE

Ijin tinggal namanya VERBLIJFSVERGUNNING tipenya BEPAALDE TIJD jika baru pindah, yang artinya terbatas waktu selama 5 tahun. Jadi semacam bukan permanen residen. Nah setelah 5 tahun, bisa mengajukan ijin tinggal tipe yang baru yaitu yang tidak terbatas waktu (onbepaalde tijd). Nah yang onbepaalde tijd ini ada tipe yang baru yaitu EU-Langdurig Ingezetene (Long Term Residence EU). Apa itu? Silahkan baca sendiri di siniAda banyak keuntungannya. Salah satu yang saya ingat dari surat keputusan yang dikirim oleh IND, hak orang yang memegang ijin tinggal tipe ini, sama dengan hak penduduk Belanda, kecuali tidak bisa ikut pemilu tingkat nasional.

Saya mengajukan VV EU-LANGDURIG INGEZETENE.

  • PENGIRIMAN DOKUMEN

Dokumen apa saja yang diperlukan, silahkan baca di Aanvragen status EU-langdurig ingezetenePengajuannya bisa dengan dua cara : dikirim lewat pos atau online. Saya memilih cara online karena lebih cepat, gampang, dan langsung bisa membayar biaya pengajuannya. Untuk biaya yang harus dibayarkan sebesar €174. Pengajuan lewat online, langkah-langkahnya ada pada link di atas yang saya berikan. Tinggal ikuti saja perbagiannya. Dokumen discan terlebih dahulu sebelum diunggah.

Pastikan semua dokumen yang diunggah sudah lengkap sesuai dengan permintaan dari IND yang tertera di formulir, sesuai dengan kondisi dan situasi aplikan. Jangan sampai ada yang kurang karena kemungkinan besar setelah dikirim lalu ternyata ada yang kurang, pihak IND akan meminta mengulang proses dari awal. Artinya, harus membayar lagi.

  • STIKER DI PASPOR

Setelah selesai mengunggah semua dokumen dan membayar, kita akan mendapat surat dari IND yang menyatakan kapan maksimal keputusan akan diberikan, yaitu 6 bulan setelah tanggal pengajuan. Artinya, selama proses masih berlangsung dan saat VV lama kita sudah selesai masa berlakunya, kita akan menjadi penduduk ilegal. Bagaimana caranya supaya kita tidak tercatat sebagai penduduk ilegal? Ajukan permintaan stiker ijin tinggal yang ditempel pada paspor. Jadi stiker ini adalah ijin tinggal sementara selama ijin tinggal yang baru belum keluar. Ingat, ijin tinggal sementara ini sifatnya hanya berlaku di dalam Belanda. Jadi selama ijin tinggal yang baru belum keluar, kita tidak bisa keluar dari Belanda, kecuali memakai Terugkeervisum yang harganya €157 untuk satu kali perjalanan keluar Belanda dan berlaku selama 90 hari.

Permintaan Stiker di Paspor bisa dengan membuat janji dulu di sini. Saya mengajukan permintaan stiker supaya ke mana-mana lebih tenang dan memang saat itu akan dipakai saat tes teori menyetir. Jika pemohon adalah karyawan, stiker ini bisa diberikan ke HRD sebagai pemberitahuan bahwa ijin tinggal yang baru sedang diproses, sehingga proses penggajian tidak bermasalah.

Stiker ini tidak dipungut biaya alias gratis.

  • SERING CEK STATUS PENGAJUAN DI AKUN IND

Sering-seringlah mengecek status proses aplikasi sudah sampai tahap mana. Kadangkala surat tidak sampai di rumah, sehingga cek di akun IND akan lebih efektif. Cek akun IND ini menggunakan DigiD.

  • BIOMETRIK (FOTO, SIDIK JARI, TANDA TANGAN)

Ditengah proses, saya harus melakukan foto diri, sidik jari, dan tanda tangan di kantor IND. Melakukan Biometrik harus membuat janji terlebih dahulu di sini.

Saat itu, janji antara meminta stiker di Paspor dan melakukan Biometrik saya jadikan satu supaya tidak bolak balik. Biometrik gratis

  • KEPUTUSAN DARI IND

Jika memang semua dokumen lengkap dan pihak IND tidak minta data tambahan, maka keputusan akan ijin tinggal yang baru cepat keluar. Mungkin juga cepat tidaknya tergantung sepi atau ramainya aplikasi yang masuk ke IND. Mungkin lho ya, ini analisa saya saja.

Total waktu untuk ijin tinggal saya yang baru dari awal pengajuan sampai keputusan keluar adalah 3.5 bulan.

  • SURAT UNDANGAN PENGAMBILAN VV YANG BARU

Setelah surat keputusan dikirim, nanti akan ada surat lagi yang datang yang menyatakan di IND cabang mana kartu ijin tinggal bisa diambil. Biasanya sih yang terdekat dengan rumah. Kalau saya, mengambil ke IND cabang Den Haag. Jangan langsung mengambil sebelum surat undangan ini datang karena harus membuat janji dulu kapan bisa diambil dan di IND cabang mana (sesuai yang sudah ditentukan dalam surat). Janji pengambilan kartu ijin tinggal bisa dilakukan di sini. Yang dibawa saat pengambilan VV yang baru adalah : Paspor atau VV yang lama. Jangan lupa kode yang dikirim lewat email setelah membuat janji temu juga ditunjukkan. Datanglah lima menit sebelum janji temu yang sudah kita pilih.

  • VV EU-LANGDURIG INGEZETENE

Selamat, VV EU-LANGDURIG INGEZETENE sudah ditangan. Artinya status tinggal sekarang adalah permanen residen untuk waktu tak terbatas waktu. Meskipun statusnya untuk periode yang lama, tapi setiap 5 tahun sekali, tetap harus memperbaharui kartunya, tanpa perlu mengirimkan dokumen-dokumen lagi. Di kartu VV EU-LANGDURIG INGEZETENE sudah tidak ada nama suami sebagai sponsor, seperti nampak kita adalah sponsor diri sendiri.

Begitulah prosedur pengajuan ijin tinggal tipe VV EU-LANGDURIG INGEZETENE. Semoga informasi yang saya tuliskan berguna. Jika ada yang tidak jelas, silahkan ditanyakan.

-25 Februari 2020-

Ujian Teori Mengemudi Mobil di Belanda

Buku yang saya gunakan. Sampai lecek karena tiga kali saya baca tuntas sampai hafal titik komanya :))

Awalnya tulisan ini akan diunggah saat sudah selesai dan lulus ujian praktek menyetir. Jadwal selesai les masih beberapa minggu lagi, jadi diunggah sekarang saja. Mumpung masih hangat.

Jadi, minggu lalu saya LULUS ujian teori mengemudi mobil dalam bahasa Belanda. Rasa tidak percaya saat melihat layar komputer dan ada tulisan Geslaagd. Saya sampai terdiam sesaat dan mata berkaca-kaca. Bukan lebay tapi ujian teori ini memang tricky. Banyak yang mengulang ujian teori 2-3 kali baru lulus. Jadi, rasanya tidak berlebihan kalau saya bangga sama diri sendiri begitu pertama kali ujian lalu langsung lulus, terlebih saya ujiannya memilih dalam bahasa Belanda. Ok, saya akan mulai cerita awal mula kenapa saya memutuskan untuk les menyetir.

Saya itu orang yang sangat takut berkendara, meskipun hanya duduk manis di kursi penumpang. Saya lebih menikmati naik kendaraan umum dibandingkan kendaraan pribadi. Di Indonesia, saya pernah punya SIM C, yang sampai kadaluarsa cuma dipakai beberapa kali. Sejak cedera karena kecelakaan tunggal saat saya naik sepeda motor, setelahnya saya seperti bersumpah tidak akan lagi nyetir motor. Menyetir mobil? tidak pernah terpikirkan sama sekali. Sesuatu yang sudah diluar jangkauan.

Di Belanda, kami tinggal di kampung yang terletak diantara 3 kota besar, disebut sebagai randstad. Jadi kendaraan umum sangatlah gampang. Menyewa mobil pun lokasinya di pojokan rumah dengan harga terjangkau. Itulah kenapa kami memilih tidak mempunyai mobil selama 5 tahun ini. Sewaktu masih punya mobil, seringkali tidak terpakai karena kami lebih memilih naik sepeda atau kendaraan umum jika bepergian agak jauh. Setelah dipikir-pikir, kok ga ada manfaatnya waktu itu punya mobil, sangat jarang dipakai, akhirnya kami jual.

Dulu saya pernah bilang ke suami, tidak akan pernah mau belajar nyetir mobil selama rumah masih gampang akses dengan transportasi umum. Alasannya ya karena saya merasa takut nyetir, takut nabrak dan tabrakan. Never say never. Sampai pada bulan Oktober tahun lalu, kok ya mak bedundug tiba-tiba saya dapat hidayah. Saya ingin belajar menyetir mobil. Meskipun kami tidak ada mobil dan tidak berencana punya mobil dalam waktu dekat, tapi kok saya merasa kalau menyetir itu jadi semacam kebutuhan buat saya. Salah satu cara supaya saya tidak tergantung sama suami, mandiri. Jadi kalau misalkan ada perlu, tanpa bergantung ke suami saya bisa menyetir mobil sewaan. Lebih jauh lagi, menyetir itu semacam skill. Jadi, ya saya ingin punya skill menyetir. Jadi kalau suatu hari nanti kami beli mobil karena sudah butuh, saya sudah bisa menyetir sendiri. Alasan terakhir, karena saya ingin menantang diri sendiri, apakah bisa mengalahkan rasa takut yang selama ini ada. Apakah bisa keluar dari zona nyaman.

Berbekal niat yang sudah bulat, saya utarakan rencana tersebut ke suami. Tentu saja dia syok haha. Lha wong duduk di sebelah dia saat menyetir saja saya bisa ketakutan kalau dia menyalip kendaraan lain, ini kok pakai ide mau belajar menyetir. Tapi dia tahu saya, kalau sudah ada niat, akan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dimulailah petualangan  dalam belajar menyetir mobil. Saya harus melewati ujian teori dulu sebelum menuju ujian praktek.

Ini beberapa hal yang saya lakukan saat mencari sekolah menyetir :

  • Wajib belajar menyetir di sekolah. Untuk mendapatkan SIM, wajib belajar menyetir dulu di sekolah, meskipun sebelumnya sudah bisa menyetir. Saya mencari beberapa informasi sekolah menyetir di area tempat tinggal. Ada beberapa kandidat, lalu saya membandingkan dengan mencari beberapa variabel yang menurut saya penting yaitu tingkat kelulusan, testimoni tentang instruktur, harga, dan fasilitasnya.

 

  • Pembayaran. Setelahnya, mengerucut satu sekolah. Saya membaca semua informasi di website mereka, terutama tentang pembayaran. Tentang berapa biaya yang harus dikeluarkan, ini penting buat saya karena sekolah menyetir sampai lulus di Belanda itu sangatlah tidak murah. Saya cek dulu tabungan, apakah ada cukup dana untuk membayar sampai lulus dan dana jaga-jaga siapa tahu saya harus mengulang ujian. Saya membayar sendiri karena biasanya kalau dibayari jadi menggampangkan dan kurang bertanggungjawab. Kalau bayar sendiri, saya jadi lebih bertanggungjawab dan bersungguh-sungguh belajar supaya bisa dan lulus. Perkara nanti dibelakang uangnya akan diganti suami, ya saya terima *lah ngarep mbaknya. Beruntungnya, di sekolah menyetir ini pembayaran bisa dicicil. Beberapa sekolah menyetir yang saya tahu, pembayaran bisa dicicil (tanpa bunga), sehingga tidak memberatkan di depan. Saya bersyukur sekali ada sistem menyicil ini. Membuat tabungan saya tidak mendadak kering keronta :))

 

  • Proefles. Setelah yakin ada uangnya, saya lalu menghubungi sekolah tersebut menanyakan bagaimana prosedur mendaftar. Saya bilang juga kalau tidak ada pengalaman menyetir, nul puthul. Mereka menyarankan untuk melakukan proefles, jadi semacam cek ombak sejauh mana saya bisa diarahkan saat pertama kali dibelakang kemudi. Ini tidak wajib ya, hanya disarankan. Karena dari hasil proefles akan direkomendasikan berapa jam yang harus diambil saat les menyetir. Wah, saya yang benar-benar pertama kali duduk di belakang setir, tidak tahu mana gas mana rem haha. Wes pokok e kacau beliau. Magic lah saya tiba-tiba berani menyetir, meskipun di sebelah ada instruktur yang mendampingi dan mengarahkan. Setelah proefles, mereka menyarankan jumlah jam les yang musti dilakukan dan rekomendasi tipe kendaraannya. Setelahnya saya mulai komunikasi intensif dengan mereka berhubungan dengan jadwal les, informasi rencana liburan, jadwal ujian, pendaftaran ujian, sampai perkara membayar yang bisa dicicil.

 

  • Bahasa. Dari awal dikomunikasikan ke pihak sekolah, akan menggunakan bahasa apa selama les berlangsung (dan juga tesnya). Saya memilih bahasa Belanda. Bukan karena bahasa Belanda saya sudah canggih, tapi karena dalam keseharian lebih banyak menggunakan bahasa Belanda daripada bahasa Inggris, jadi saya merasa nyaman untuk keseluruhan rangkaian les mengemudi ini komunikasinya dalam bahasa Belanda, termasuk tes teori dan tes praktek. Kalau merasa nyamannya menggunakan bahasa Inggris, ditanyakan apakah sekolahnya menyediakan instruktur yang bisa menggunakan bahasa Inggris dengan baik.

 

  • Instruktur. Instruktur merupakan faktor yang penting dalam kelancaran les. Kalau kita tidak nyaman, dipastikan les menyetir akan seperti medan perang, tegang, yang berakibat kita akan lama bisanya. Saya mendapatkan tiga instruktur dengan satu instruktur utama. Dua lainnya pengganti kalau yang utama sedang tidak bertugas. Beruntungnya saya, ketiganya sabar dan tegas. Jadi membuat situasi dalam mobil tidak tegang. Apalagi instruktur utama saya, sudahlah ganteng (penting banget ini disebutkan haha), sabar, tapi juga tegas. Tidak banyak bicara selama les kecuali yang berhubungan dengan mengemudi. Sesekali juga kami saling bersenda gurau. Supaya tidak tegang. Selebihnya, ya fokus pada materi menyetir. Jika ternyata tidak cocok dengan instruktur, lebih baik minta ganti sejak awal, komunikasikan dengan pihak sekolah. Hal ini sudah biasa, minta ganti instruktur jika dirasa tidak cocok.

 

  • Theorie CursusSetelah mendaftar, pihak sekolah menyarankan untuk segera mempelajari teori dari buku yang mereka gunakan. Nah, sekolah ini juga menyediakan kursusnya, itu termasuk dalam harga satu paketnya. Ya jelas saya manfaatkan. Kursus berlangsung sekali seminggu selama 4 kali dan setiap pertemuan selama 2.5 jam. Ini salah satu dari dua kursus yang saya ikuti bulan lalu. Di kursus, saya banyak sekali mendapatkan tips dan trik membaca dan mempelajari soal-soal ujian yang lumayan tricky. Satu kelas, isinya orang Belanda semua. Saya satu-satunya yang imigran dan yang paling tua haha. Semuanya masih kisaran usia belasan sampai 25 tahun. Tapi saya tidak berkecil hati karena selama evaluasi, saya selalu lulus. Buku, selalu cari yang edisi terbaru ya karena peraturan beberapa yang bisa jadi berubah. Misalkan, per maret nanti, kecepatan maksimal di autosnelweg jadi 100km/u di jam normal. Kalau sekarang masih 130km/u.

Buku yang saya gunakan. Sampai lecek karena tiga kali saya baca tuntas sampai hafal titik komanya :))
Buku yang saya gunakan. Sampai lecek karena tiga kali saya baca tuntas sampai hafal titik komanya :))

 

  • Puas. Sampai detik ini, saya puas dengan sekolah mengemudi ini. Semua hal dengan cepat mereka informasikan melalui email ataupun telefon. Van Buuren, mereka ada cabang di beberapa kota. Ini bukan testimoni berbayar. Siapa tahu ada yang sedang mencari info sekolah menyetir.

 

Oh ya, saat mulai memantabkan niat, saya juga bertanya-tanya perkara menyetir di Belanda kepada mereka yang sudah lulus dan sudah punya SIM. Saya bertanya ke Anis, Yayang, Ratih. Wes pokoknya bawel nanya terus. Setelahnya saya nanya ke Mbak Dede, lalu Maya yang saya kenal lewat twitter. Selain itu saya juga rajin mencari informasi pengalaman orang lain dalam mendapatkan SIM di Belanda, saat ujian teori maupun ujian prakteknya. SIM dalam bahasa Belanda adalah Rijbewijs. Kalau untuk kendaraan pribadi, Rijbewijs tipe B.

 

Beberapa hal di bawah ini berkaitan dengan ujian teori mengemudi berdasarkan pengalaman saya :

  • Pararel antara les menyetir dan belajar teori. Jika memungkinkan, belajar teori dilakukan pararel dengan les menyetir jadi feelnya lebih dapat. Hal ini juga memudahkan saat ujian teori, sudah ada gambaran di lapangan seperti apa. Saat ujian teori, les menyetir saya sudah berlangsung selama 8 kali.

 

  • Tidak Sistem Kebut Semalam. Tahu diri dengan kemampuan menghapal yang sangat jauh dibawah kemampuan dalam menurunkan rumus dan menghitung -terutama dosa para mantan-, jadi saya memulai belajar dua bulan sebelum ujian. Bulan Desember, buku sudah ada di tangan. Saya mulai membaca dan perlahan menerjemahkan beberapa kata yang tidak saya pahami. Bahasa Belanda yang digunakan lumayan agak tinggi, mungkin sekelas B2. Jadi saya agak tertatih-tatih pahamnya. Bulan Desember sibuk dengan acara ini itu, jadi tidak terlalu intensif belajar. Mulai belajar intensif itu dari awal Januari. Saya harus konsisten satu hari minimal 3 jam belajar. Waktu saya belajar siang hari selama 2 jam dan malam hari sebelum tidur sekitar 2 jam (kalau sedang tidak ada jadwal kursus satunya). Saya sempat bertanya juga ke Geraldine yang langsung lulus ujian teori, berapa jam per hari belajarnya. Dia bilang 3 jam. Wah aman berarti. Saya makin PD.

Salah satu halaman buku yang penuh coretan.
Salah satu halaman buku yang penuh coretan.

 

  • Belajar dari sumber lain. Selain belajar dari buku, saya juga banyak berlatih soal dari website Theorieexamen.nl. Bagi yang sedang belajar dan berencana ujian, saya sangat merekomendasikan website ini. Sekitar 80% soal ujian, mirip soal-soal yang ada di sini. Saya menggunakan yang layanan berbayar dalam satu bulan. Jadi makin banyak variasi soal yang bisa dijadikan latihan. Terima kasih buat Mbak Dede dan Maya yang memberitahukan website ini. Di website ini juga diperlihatkan progress kita setiap mengerjakan soal. Kalau progressnya sudah mencapai 90% atau lebih, yakin bisa lulus. Saya sampai sebelum ujian, progress 93%.

 

  • Santai sebelum ujian. Ini kebiasaan yang selalu saya lakukan : satu hari sebelum ujian (apapun), saya sudah tidak mau membuka buku. Belajar sudah selesai. Biasanya saya akan jalan-jalan atau keluar rumah melakukan kegiatan apapun untuk menenangkan pikiran supaya saat ujian pikiran lebih segar dan otak tidak lelah.

 

  • Datang lebih awal. Awalnya tempat ujian saya di Rijswijk. Lalu CBR yang di Rijswijk menurut informasi yang saya dapat, terbakar. Penyebab kebakaran simpang siur. Tapi katanya dilempar peledak oleh salah satu peserta ujian praktek yang tidak lulus sampai 7x (duh jangan sampai ngulang sampai 7x). Lalu, ujian dipindah ke Barendrecht di Rotterdam. Perjalanan selama 1 jam. Saya datang setengah jam dari jadwal ujian. Lumayan bisa mengenali medan sebelum berperang.

 

  • Het zorgvuldig lezen en het goed begrijpen. Saat mengerjakan soal, baca dan pahami dengan baik pertanyaan dan jawabannya. Lumayan banyak pertanyaan yang menjebak. Meskipun harus hati-hati dalam membaca soal, jangan lupa dipertimbangkan masalah waktu. Ada batas waktu setiap bagiannya. Hafalkan dan pahami semua yang ada di buku juga soal-soal latihan. Angka-angka sampai komanya. Penting karena kita tidak tahu bagian mana dari materi yang keluar di ujian.

 

  • Konsumsi Coklat sebelum Ujian. Dari yang saya baca, coklat bersifat menenangkan. Jadi sebelum ujian, saya minum Chocomel haha. Ya lumayanlah bisa mensugesti diri sendiri supaya tenang.

 

  • Ujian teori ada 3 bagian :Gevaarherkenning: 25 vragen waarvan je er ten minste 13 goed moet beantwoorden. Di bagian ini, hanya boleh salah maksimal 12 pertanyaan. Saya salah 6.
    • Kennis: 12 vragen waarvan je er ten minste 10 goed moet beantwoorden. Bagian ini, boleh salah maksimal 2. Saya salah 1.
    • Inzicht: 28 vragen waarvan je er ten minste 25 goed moet beantwoorden. Bagian ini boleh salah maksimal 3. Saya salah 1.

 

  • Sertifikat kelulusan ujian teori berlaku selama 1.5 tahun. Artinya jika dalam waktu 1.5 tahun tidak lulus ujian praktek, maka harus mengulang ujian teori.

 

Saking bahagianya saya sekali ujian langsung lulus, begitu selesai langsung mengabarkan ke suami. Berita langsung beredar di keluarga. Saya mendapatkan ucapan bertubi dari seluruh keluarga. Mungkin berasa ajaib saya langsung lulus haha. Ponakan yang sedang belajar menyetir, lulus teori saat ujian kedua kali. Padahal saya lulus bukan karena keberuntungan tapi belajar penuh perjuangan. Dua intsruktur saya juga nggumun, karena murid-murid mereka biasanya setelah paling tidak 2-3 kali ujian teori baru lulus. Tetangga saya pun mengucapkan selamat dan mengirimkan bunga.

Bunga ucapan selamat dari suami dan tetangga
Bunga ucapan selamat dari suami dan tetangga

 

Berat ya perjalanan mendapatkan SIM di Belanda. Berat dan mahal. Ujian teori telah terlewati. Saatnya saya melanjutkan perjuangan menuju ujian praktek. Saya mencoba tidak menjadikan beban. Yang penting berusaha semakin baik setiap les. Semoga nanti ujian praktek juga bisa sekali lulus mengikuti jejak Yayang, Ratih, dan Anis. Doakan saya ya.

Semoga tulisan super panjang ini bisa bermanfaat buat yang akan ujian teori menyetir di Belanda dan semoga sukses ujiannya. Heel veel succes!

-9 Februari 2020-

Lima Tahun di Belanda

Akhir bulan Januari ini, tepat lima tahun saya tinggal di Belanda. Masih ingat dengan jelas, lima tahun lalu saat suami menjemput di Schiphol, saya sampai lupa wajahnya seperti apa sampai dia memanggil beberapa kali haha. Maklum, setelah menikah kami tinggal terpisah dan selama 6 bulan tidak pernah sekalipun video call-an. Jadi wajah suami agak samar di ingatan dikepruk bojoku :))). Lima tahun lalu, badan saya masih singset mungil –koyok wong ga doyan mangan– Memang saya susah naik Berat Badan….. duluuu. Dua tahun terakhir ini, badan saya sukses mengembang kayak diguyur fermipan. Entah naik berapa puluh kilo. Tak mengapa, memang sengaja dibuat membesar, supaya tidak gampang diterbangkan kerasnya angin di Belanda dan angin kehidupan *krikk kriikk.

Saya tanya suami, apa perbedaan saya lima tahun lalu dan lima tahun kemudian. Inilah jawaban dari dia :

  • Makin Dewasa dan Lebih Jinak

Bagian makin dewasanya saya tidak bisa komentar ya karena ukuran dewasa itu banyak variabelnya. Jadi saya menyebutnya, relatif. Saya mau komentar bagian lebih jinak. Ini maksudnya lebih ke arah emosi. Saya akui, selama 5 tahun ini memang cara saya mengatur emosi lebih stabil. Dulu kan senggol bacok. Seiring berjalannya waktu, lebih banyak pelajaran kehidupan, dan tertular suami yang panjang urat sabarnya, saya pun jadi lebih panjang sumbu sabarnya. Saya makin santai menghadapi apapun, dalam segala suasana. Lebih bisa memilih dan memilah mana yang harus disikapi. Lebih bisa berpikir panjang sebelum bertindak atau bereaksi. Intinya, saya yang dulu senggol bacok, sekarang lebih zen. Dulu yang reaktif, sekarang lebih santai dalam bereaksi. Tidak gampang tersulut, tidak gampang meledak. Pegangan saya cuma satu : tidak semua hal perlu saya urusi dan  ada hal-hal di luar kuasa yang tidak bisa saya kendalikan. Belajar dari kesalahan – kesalahan yang pernah terjadi, saya ingin menjadi jiwa yang lebih baik. Mengendalikan emosi salah satunya. Sekarang, sudah jauh lebih baik. Banyak hal-hal baik dari suami yang saya serap, salah satunya ya bagian emosi ini. Dari dia lah saya belajar untuk lebih santai dan tidak reaktif.

  • Lebih Belanda Dari Orang Belanda

Saya dari dulu kalau ngomong, ceplas ceplos, apa adanya. Awalnya suami kaget pas kenal saya. Berasa bicara sama orang Belanda katanya haha mirip. Kalau di Belanda, disebutnya direct. Jadi ngomong ya apa adanya, tanpa basa basi. Walaupun tingkat direct saya lebih tinggi dibandingkan lingkungan saya di Indonesia, tapi pas tahun pertama menikah, duh ada saja yang bikin perang dunia. Salah paham terus dengan suami perkara dia lebih direct (ya iyalah, dia dari orok di sini). Lama-lama makin paham, lalu sekarang kata suami terkadang saya lebih direct dari orang Belanda asli.

Yang kedua, tentang waktu. Sejak di Indonesia, saya memang paling tidak suka telat dan nelat. Janjian pasti lebih awal dari jam yang disepakati. Lebih baik menunggu daripada ditunggu. Jadi begitu pindah Belanda, saya tidak ada masalah dengan perkara janjian. Suami, tipe yang on time. Jadi benar-benar pas waktunya. Sedangkan saya lebih awal dari waktu janjian. Makanya dia bilang saya lebih Belanda dari orang Belanda.

Yang terakhir tentang uang. Biasa ngirit kan ya karena 13 tahun jadi anak kos. Selain itu juga hasil ajaran orangtua : jika membeli sesuatu, yang seperlunya saja. Walhasil menancaplah ajaran itu sampai akar. Konon katanya, orang Belanda terkenal pelit. Kalau menurut saya, bukan pelit, tapi memperhitungkan segala sesuatunya. Jadi kalau tidak penting-penting amat, tidak akan berfoya-foya. Seperlunya saja. Suami dan keluarganya, termasuk orang yang dalam mengeluarkan uang, seperlunya. Tapi mereka sangat menikmati hidup justru dengan prinsip itu. Menabung kencang, pos-pos untuk hiburan juga diisi kencang. Jadi kalau saatnya travelling, ya menikmatinya dengan maksimal. Makan di tempat yang ok, nginep di hotel yang ok, tidak terlalu memikirkan harus mengirit ini dan itu karena memang sudah memperhitungkan sesuai yang ditabung. Nah, saya lebih perhitungan lagi dari mereka haha. Entah, antara perhitungan sama pelit memang tipis kalau diterapkan pada saya. Suami pernah komen : Kupikir aku ini sudah ngirit, eh kamu kok lebih ngirit dari aku :)))

Itulah dua poin utama dari kacamata suami tentang perubahan saya selama lima tahun numpang tinggal di negara orang. Nah kalau dari saya, ada beberapa hal yang saya masih belum bisa lepas dari hal-hal yang berbau Indonesia dan juga beberapa perkembangan yang saya dapat selama di sini :

  • Masih Takut Hantu

Ini bagian yang agak kocak. Saya ini suka nonton film horor dan sudah terpapar film horor sejak balita mungkin haha. Ya generasi Suzanna lah pokoknya. Jadinya, otak saya itu suka kreatif menciptakan sosok-sosok hantu yang entah ada atau nggak. Apalagi pas kuliah, doyan banget nonton film horor Jepang macam Sadako. Belum lagi horor Thailand kan ngerinya ga main-main. Walhasil, saya jadi orang yang takut akan hantu (yang entah ada apa tidak *ga minta dilihatin juga). Selama di Belanda, saya tidak terlalu merasa horor lagi. Padahal katanya hantu Belanda di Indonesia itu menyeramkan ya. Yang pasti, lingkungan di Belanda tidak terasa horor. Pulang malam jam 10 saya masih berani sepedahan. Tapi, kalau lewat hutan dengan penerangan yang minimal, saya langsung merinding. Membayangkan kalau tiba-tiba ada bayangan putih melesat di depan mata, atau tiba-tiba boncengan sepeda berat trus saya nengok tiba-tiba ada mbak-mbak rambut panjang sudah duduk dengan menyeringai ke arah saya. Itu khayalan saya ya, yang nyatanya memang tidak terjadi. Harusnya saya lebih takut dengan penjahat kalau lewat hutan seperti itu. Nyatanya, bayangan hantu lebih membuat saya takut. Padahal kata suami, kalau di Belanda yang paling ngeri itu cuma satu : dapat surat cinta dari kantor pajak haha.

Beberapa waktu lalu, saya merasa ada hal aneh terjadi di rumah. Lalu saya menyimpulkan kalau ada setan di rumah. Saya cerita ke suami dengan menggebu. Suami ambil Hp, googling, lalu memaparkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi termasuk aspek psikologis. Tidak ada dalam paparannya kemungkinan ada setan. Ya beginilah salah satu perbedaan saya dan suami. Beda antara yang dibesarkan dengan ilmu pengetahuan dan logika, dengan yang dibesarkan oleh film-film Suzanna.

  • Nyebrang Jalan Masih Ragu-Ragu

Terbiasa di Indonesia sebagai pejalan kaki selalu terkalahkan oleh kendaraan bermotor, akhirnya mental itu terbawa sampai sini. Setiap kali lewat zebra cross, saya selalu menunggu mobil lewat dulu. Padahal jelas-jelas kalau menyeberang lewat zebra cross, mobil akan berhenti menunggu pejalan kaki  menyeberang. Tapi entah, sampai saat ini saya masih otomatis berhenti dan menunggu mobil lewat dulu. Sudah lumayan berkurang, tapi masih ada rasa takut kena serempet mobil.

  • Denda Sepeda

Ini yang agak aib. Akhirnya selama 5 tahun sepedahan di Belanda, awal Januari  kena denda. Duh memalukan sekali. Padahal sepedahan sampai 90km  lintas kota Den Haag-Leiden, baik-baik saja. Eh ini mau ke klinik dokter yang jaraknya cuma 10 menit dari rumah, kena denda. Salah saya memang. Karena terburu-buru, saya lupa menyalakan lampu belakang sepeda. Waktu itu jam 8 pagi. Saya pikir, sudah agak terang, jadi lupa saya menyalakan lampu belakang sepeda. Lha kok pas banget ada polisi patroli dengan mobil. Walhasil, saya dihentikan, ditanya kartu identitas, lalu beberapa hari kemudian surat denda datang ke rumah. €65 melayang gara-gara lampu belakang.

  • Pemahaman Bahasa Belanda Semakin Membaik

Ada satu kursus yang saya ikuti saat ini pesertanya semua orang Belanda, bahasa pengantar kursusnya juga bahasa Belanda. Saya satu-satunya imigran di sana. Pertama kali masuk, pulang-pulang kliyengan kepala saya. Kursusnya selama 3 jam. Walaupun saya paham dengan yang disampaikan oleh pemateri, tapi saat diskusi, peserta lainnya kalau ngomong dengan aksen yang berbeda-beda. Kebanyakan ga nangkep jadinya apa yang mereka sampaikan. Kadang malah saya dengarnya kayak kumur-kumur atau krusek krusek kayak nyari gelombang radio. Tapi, ya sesama orang Belanda paham mereka meskipun di telinga saya seperti sedang sakit gigi pas ngomong. Ya sejauh ini, setiap evaluasi setidaknya saya selalu mendapatkan nilai bagus. Masih jadi 3 terbaik di kelas dari 20 peserta. Sampai yang lainnya sempat bertanya apa saya pernah mengikuti kursus ini sebelumnya. Saya bilang tidak. Tapi di rumah, saya memang selalu belajar. Intinya, sebagai imigran, saya sadar diri kemampuan bahasa Belanda saya masih 75%, jadi saya harus inisiatif belajar sendiri di rumah, menyiapkan materi sebelum kelas mulai. Jadi ketika di kelas, saya sudah lumayan tahu apa yang akan disampaikan. Sebagai imigran, dalam hal apapun, saya harus berusaha 10 kali lipat dibandingkan orang Belanda, supaya kemampuan tidak dianggap sebelah mata.

Itulah beberapa hal yang bisa saya tuliskan. Tadi pagi, sebelum berangkat kerja, ucluk-ucluk suami bawa tas dari gudang belakang. Dia memberikan hadiah buat saya. Ya ampun, saya yang rembes dengan rambut masih awut-awutan merasa senang dikasih kado. Merasa suami kok sweet sekali *sekali-kali muji suami nang blog lak ga haram tho. Lalu jam 9 pagi saya mulai berkreasi, masak maksudnya. Saya membuat martabak telor dengan kulit bikin sendiri. Lalu masak mie ayam jamur dengan bahan seadanya di kulkas. Saya pakai ayam sisa soto ayam minggu lalu. Lalu karena tak ada sawi, jadi pakai sayur salad. Dan tak punya cabe merah, jadi pakai cabe buat martabak.

Martabak telor dengan kulit buat sendiri
Martabak telor dengan kulit buat sendiri

Mie ayam jamur
Mie ayam jamur

Ini kali kedua saya membuat martabak telor dalam dua bulan terakhir. Resepnya saya nyontek dari blog Mbak Yoyen. Gampil sih, cuma yang agak akrobatik pas naruh di penggorengan. Debus pun kalah. Tapi hasil akhirnya tak mengecewakan. Semua suka, tandas sekejap mata.

Ini martabak telor yang saya buat bulan lalu. Makan pake nasi haha.
Ini martabak telor yang saya buat bulan lalu. Makan pake nasi haha.

Suami mengajak makan malam di Sushi restoran. Merayakan 5 tahun saya di Belanda. Lima tahun lalu saya tiba di sini. Meninggalkan Indonesia, memulai semua dari awal, tidak menengok lagi yang dibelakang. Lima tahun mengenal negara ini, jatuh bangun dijalani, suka duka dilewati bersama keluarga kecil kami. Semoga saya berjodoh lama dengan negara ini, berjodoh lama dengan suami, dan bisa bersama menjalani pernikahan ini sampai berpuluh tahun lamanya. Sekali lagi, selamat 5 tahun untuk diri sendiri, selamat sudah sampai sejauh ini. Semoga tahun-tahun mendatang tetap menjalani hari dan mencapai yang dicitakan dengan langkah penuh kebahagiaan.

IMG_2509

-30 Januari 2020-

Kilas Balik 2019 dan Rencana 2020

SELAMAT TAHUN BARU 2020

Semoga kebahagiaan dan kesehatan senantiasa menyertai kita semua sepanjang tahun, juga diberikan umur panjang yang barakah. Semoga segala rencana dan doa yang terpanjat mendapatkan jalan kelancaran untuk mencapainya. Semoga semakin rendah hati, dikuatkan iman, melakukan hal – hal yang semakin baik setiap hari. Apapun itu, semoga yang terbaik.

Sebelum masuk ke tulisan utama, saya akan bercerita singkat tentang malam tahun baru dan hari pertama di tahun 2020. Malam tahun baru, seperti biasa tidak ada acara yang spesial. Setelah makan malam, saya mulai menggoreng pisang, ubi, dan singkong. Di luar rumah, terdengar suara petasan dan kembang api saling bersahutan, tapi tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Seperti tradisi di Belanda pada umumnya, tidak lengkap rasanya jika malam tahun baru tidak ada camilan Oliebollen. Akhirnya camilan yang ada di rumah perpaduan dari dua negara. Kearifan lokal : Oliebollen, Berliner bollen, Appleflap. Bersanding dengan kearifan Internasional : Pisang goreng, Ubi goreng, Singkong goreng.

Kami tidur jam 9 malam (maklum pasangan jompo ya begini, tidak kuat melek terlalu malam haha), jam setengah 12 saya terbangun, lalu jam 12 saya membangunkan suami mengucapkan selamat tahun baru dan mengucap beberapa doa dan harapan, setelahnya saya bergegas ke loteng untuk melihat kembang api. Tidak berapa lama, saya turun dan membuka korden kamar. Melihat kembang api dari kamar sambil twitteran haha mulia sekali hidup saya ini. Kembang api mulai berkurang, saya kembali tidur jam 2.

Kearifan lokal : Oliebollen, Berliner bollen, Appleflap. Bersanding dengan kearifan Internasional : Pisang goreng, Ubi goreng, Singkong goreng.
Kearifan lokal : Oliebollen, Berliner bollen, Appleflap. Bersanding dengan kearifan Internasional : Pisang goreng, Ubi goreng, Singkong goreng.

Paginya kami bangun seperti biasa, sarapan, lalu saya mulai masak. Rencananya, saya akan membuat tumpeng. Sudah menjadi kebiasaan sejak di Belanda, setiap tahun baru saya membuat tumpengan lalu menghantarkan nasi kuning ke para tetangga.

Jam 11 sudah selesai semua, saya mulai menyusun tumpeng dan printilannya. Seperti biasa, karena tidak punya cetakan tumpeng, saya menggunakan kertas karton dibentuk kerucut. Tumpeng kali ini isinya : mie goreng, sambel goreng kentang pete, tempe orek, ayam kalasan, dadar telor, perkedel, dan urap sayur. Setelah berdoa bersama dan mengucapkan beberapa harapan, kami menyantap tumpeng dengan antusias. Maklum, sudah sangat lapar.

Tumpeng Nasi Kuning Tahun Baru 2020
Tumpeng Nasi Kuning Tahun Baru 2020

Setelah makan, saya ke para tetangga untuk memberikan kotak nasi kuning. Setiap tahun baru memang seperti ini. Senang rasanya bisa lebih memperkenalkan makanan Indonesia. Sorenya, kami ke tetangga sebelah rumah. Setiap tahun baru  kami juga selalu mendapatkan undangan untuk sekedar ngobrol sambil makan camilan (salah satunya Oliebollen lagi hahaha mabok Oliebollen).

Nasi kuning untuk para tetangga
Nasi kuning untuk para tetangga

Seperti itulah cerita malam tahun baru dan hari pertama tahun 2020. Sekarang menuju tulisan utama yang mungkin akan sangat panjang. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.

KILAS BALIK 2019

Cerita tahun 2019, saya sambil mengintip tulisan tentang rencana tahun 2019 yang saya tulis awal 2019. Jadi saya tahu apa saja yang sudah terlaksanakan, apa saja yang masih menjadi PR.

KEHIDUPAN PRIBADI

  • Diploma Kelulusan Ujian Integrasi

Akhirnya saya menerima Diploma kelulusan ujian integrasi. Sah sudah saya memenuhi kewajiban lulus semua ujian integrasi. Dengan begitu, saya bisa mengajukan proses menjadi permanen residen. Akhir tahun sudah diproses.

  • Batal Menonton Beberapa Konser

Tahun 2018, saya membeli tiga tiket konser yaitu BSB, Maroon 5, dan Bon Jovi. Dua diantaranya memang konser yang saya tunggu-tunggu selama ini. Konser impianlah ceritanya. Padahal saya sudah tahu saat membeli tiket kalau tahun 2019 tidak akan bisa menonton konser. Dengan membeli tiket saja sudah senang haha. Akhirnya saya jual tiket-tiket tersebut, lumayan ada untungnya (calo haha).

  • Mengikuti Dua Kursus

Sewaktu awal tahun 2019 menuliskan ingin mengikuti kursus, sebenarnya belum terbayangkan kursus apa yang ingin saya ikuti. Ternyata menjelang akhir tahun, saya ada ide mau ikut kursus apa. Salah satunya kursus bahasa Belanda gratisan dari pemerintah kampung saya. Jadi kursus ini diadakan buat mereka yang sudah lulus ujian integrasi dan ingin mengikuti ujian level lebih tinggi. Saya sudah lulus ujian B1, rencananya tahun depan ingin mengambil ujian bahasa Belanda level B2. Ya mumpung ada kursus gratisan di perpustakaan dekat rumah, saya tidak mau menyiakan kesempatan. Waktunya malam, jadi pas dengan kondisi saya.

  • Menyelesaikan Target Membaca 50 Buku Dalam Satu Tahun

Ini adalah salah satu prestasi yang saya banggakan tahun ini, tuntas menyelesaikan target membaca 50 buku. Akhirnya yaa, setelah 4 tahun berturut memasang target 50 buku, tahun ini bisa juga capai target. Ternyata tidak ada yang mustahil di dunia ini, asal konsisten dan disiplin.

Selalu pasang target 50 buku sejak tahun 2016
Selalu pasang target 50 buku sejak tahun 2016

Saya ikut challenge seperti ini supaya disiplin saja. Sejauh mana saya konsisten dan disiplin menuju target yang saya tetapkan di awal. Sama halnya seperti membuat catatan rencana di awal tahun. Sejauh mana rencana sudah mendekati tujuan. Sama halnya dengan membaca Al-Qur’an, sebenarnya kalau mau khataman setiap tahun, sangat bisa. Mau pilih cara harian atau cara sebulan sewaktu Ramadan. Misalnya Ramadan, satu juz satu hari. Sebelum Idul Fitri sudah khataman. Begitu juga dengan cara harian, misalkan 5 lembar setiap hari. Bisa setiap selesai sholat satu lembar atau langsung satu waktu 5 lembar. Akhir tahun akan khataman Al-Qur’an. Seperti itu gambarannya.

Yihaa!! Akhirnya capai target.
Yihaa!! Akhirnya capai target.

Tentang buku-buku apa saja yang saya baca tahun 2019, nanti akan saya buatkan tulisan khusus. Saya membaca lumayan banyak buku yang menarik, beberapa tentang parenting.

  • BERTEMU DENGAN KAWAN-KAWAN BARU, PARA BLOGGER

Beberapa kali saya mengikuti potluck dengan grup yang sama. Pertemanan makan saya menyebutnya haha. Selain dengan orang-orang yang sama, tahun 2019 beberapa kali juga bertemu dengan orang-orang baru.

Rasanya tahun 2019 saya bertemu lumayan banyak orang-orang baru. Mereka ini saya kenal lewat twitter maupun lewat blog, ada juga yang dari komunitas. Bulan November saya mengundang makan siang beberapa orang yang saya kenal lewat twitter. Beberapa sudah pernah ketemu sebelumnya. Wah, seru sih obrolan kami. Waktu 4 jam cekikikan membahas dari yang serius sampai yang santai, tidak terasa. Sambil ngobrol sambil nyamil.

Akhir tahun, mendapat pesan dari Dita, salah satu blogger panutan saya dalam hal membaca buku. Dita yang tinggal di NYC, berencana akhir tahun liburan di Belanda dan mengajak saya serta Crystal untuk kopdaran. Akhir tahun 2018 sebenarnya Dita juga liburan di Belanda dan kamipun sudah janjian kopdaran. Apadaya, kalau belum berjodoh memang ada saja hambatannya. Tidak akan terpikir bakal ada kesempatan bertemu Dita dalam waktu dekat. Eh, ternyata kali ini bisa ketemu juga. Semakin percaya konsep Jodoh Pasti Bertemu *TerAfgan.

Sudah kenal Dita dari Blog sekitar 4 tahunan ini. Dita ini unik menurut saya. Banyak hal-hal yang saya suka dari apa yang dia ceritakan di blog. Tidak semuanya tentu saja ya, tapi secara keseluruhan, menarik. Salah satunya, selera musik Dita, yang saya tidak mengerti sama sekali hahaha. Maklum, generasi Afgan saya ini (bukan umurnya ya, selera musiknya *harus diperjelas). Karena sering komen-komenan, begitu pertama ketemu di Den Haag, kami sudah tidak ada canggung-canggungnya. Ngobrol seperti teman lama. Nyambung satu sama lain dengan Crystal juga. Saya yang penasaran tentang NYC, banyak bertanya seperti apa NYC. Dibayangan saya, pasti benar-benar megah, besar, dan meriah. Selain itu, topik obrolan kami juga unik sih, sampai ngobrolin Capres masing-masing periode haha Diaspora yang rasan-rasan Indonesia. Senang bertemu Dita secara langsung. Semoga lain waktu bisa bertemu Dita lagi, di NYC mungkin. Ada amin lagi? *minta amin mulu haha.

  • PEMILU INDONESIA DI BELANDA

Akhirnya bisa merasakan juga mengikuti Pemilu Indonesia di Belanda. Wah ini sih pengalaman tidak akan terlupa. Bukan hanya prosesnya (yang agak ruwet) tapi juga lebih karena saya sangat antusias.

  • SEPUPU TINGGAL 3 BULAN DI RUMAH

Akhir Februari, sepupu dekat datang ke Belanda dan tinggal di rumah selama 3 bulan. Rasanya menyenangkan punya teman ngobrol berbahasa Indonesia selama 3 bulan dan memberikan informasi terkini kabar di keluarga besar. Maklum, sejak di sini saya jadi kurang tahu kabar terkini di keluarga besar. Saya tidak ikut satupun WhatsApp grup keluarga.

  • KONSISTEN MENULIS DI BLOG 

Ini juga jadi salah satu prestasi yang saya banggakan tahun ini, tetap konsisten menulis di blog diantara hingar bingar kegiatan sehari-hari. Lumayan, tahun ini saya bisa menulis sebanyak 48 judul. Jadi rata-rata 1 tulisan per minggu. Tahun 2018, saya menulis sebanyak 48 judul juga. Lumayanlah, masih rajin diantara keseruan saya mantengin (dan meramaikan) republik twitter.

  • HEATWAVE

Tahun 2019 panasnya ga ketulungan. Super panas, sampai 40 derajat sewaktu kami sedang di Kroasia. Belanda pun tak kalah panasnya. Kami sampai harus ke UGD karena ada yang nyaris kena dehidrasi. Salah satu pengalaman tak terlupakan, malam-malam harus ke UGD.

JALAN-JALAN

Jalan-jalan tahun ini tidak terlalu banyak, hanya tiga kali. Satu mengunjungi negara baru, yaitu Kroasia. Dua kali ke Jerman yaitu ke Cochem dan Nurnberg. Selebihnya, jalan-jalan di sekitar Belanda saja.

KELUARGA

Cerita bahagia dan sedih datang silih berganti di keluarga inti maupun keluarga besar kami. Banyak berita bahagia salah satunya adalah kelahiran, beberapa juga berita duka. Saya menerima kabar beberapa saudara meninggal dunia. Yang paling menyedihkan dari perantau yang jauh dari tanah air selain kangen makanan adalah saat ada kabar gembira, tidak berada di sana. Saat mendengar kabar duka, pun tidak bisa ada di sana.

Kabar duka yang datang di keluarga inti kami semakin menguatkan hubungan. Suka duka dijalani bersama, saling menopang, saling menguatkan.

MAKIN MELEK DUNIA MAYA

Semakin lama bergelut dengan dunia maya, semakin bisa mengendalikan diri. Tidak gampang terpancing dan tidak ingin berkomentar semua hal. Semakin bisa memilih dan memilah mana saja yang layak dikomentari. Kuncinya satu sih supaya tetap waras bermedia sosial : jangan terlalu diambil hati dan tidak perlu semua hal dikomentari. Kalau sudah menggebu ingin berkomentar, tarik napas dulu lalu tinggalkan. Kalau satu hari berlalu masih kepikiran, ya silahkan berkomentar. Menjadi pengamat lebih menyenangkan buat saya. Sembari mengamati, sembari menganalisa (lalu dijadikan bahan tulisan kalau kata Dita haha). Kritis boleh, lebih baik kurang-kurangi nyinyir. Mau cari apa sih. Tapi hari pertama 2020 sudah lumayan kepancing dengan pembahasan ASI di twitter. Akhirnya ya saya kasih data saja.

Selain itu, saya semakin berhati-hati membagikan hal-hal yang berhubungan denga n pribadi dan keluarga. Pamer hal-hal yang umum saja seperti masakan atau buku atau apapun itu. Saya juga semakin jarang membagikan foto diri, berpikir akan berakhir di mana foto yang saya taruh di internet. Ngeri juga kalau berpikir sejauh itu.

Beberapa pelajaran berharga yang saya dapat dari tahun 2019 :

  1. Mengikhlaskan kehilangan, seberapapun sakitnya. Meskipun butuh waktu, perlahan untuk melepaskan yang memang dititipkan hanya sementara. Mengingat memang hanya sampai waktu tertentu saja berjodoh untuk merasakan kehadirannya.
  2. Merawat sebaik mungkin apa yang sudah ada : kesehatan, pertemanan, keluarga, dan pernikahan
  3. Bahwa kebahagiaan dalam pernikahan itu butuh diperjuangkan bersama. Tidak harus selalu bahagia setiap saat, tapi masing-masing bisa saling menopang

Begitulah catatan tahun 2018. Sekarang saatnya saya menuliskan rencana tahun 2020.

RENCANA 2020

  • MUDIK

Liburan ke Indonesia ini semacam rencana tahunan sejak tahun 2016 yang entah kapan bisa terealisasi haha. Ya sudahlah tidak apa, tiap tahun dibuat rencana. Siapa tahu 2020 bisa mudik beneran. Ada sumbangan amin?

  • KURSUS

Menyelesaikan kursus yang sudah berjalan sekarang, semoga langsung lulus ujian tidak sampai mengulang karena harganya sangatlah mahal. Selain kursus tersebut, kursus bahasa Belanda gratisan dari pemerintah juga semoga selesai tahun ini dan bisa ke langkah selanjutnya yaitu ujian bahasa Belanda level B2. Ada lagi kursus yang ingin saya ikuti berhubungan dengan pendidikan anak-anak, juga satu kursus lagi berhubungan dengan New Product Development. Kok rasanya antara kursus satu dan lainnya ga nyambung ya haha ya sudahlah tak mengapa. Tahun 2020 saya belum tahu sudah bisa mulai cari pekerjaan atau belum, jadi ingin memaksimalkan ambil kursus saja dulu.

  • BACA BUKU

Baca buku seperti biasa, ikut Reading Challenge di Goodreads. Tahun 2019 sudah lunas menyelesaikan target 50 buku, jadi 2020 mau santai, cukup target 20 buku.

  • NULIS BLOG

Nulis blog semoga masih jalan terus. Minimal seminggu sekali. Kalau tidak menulis blog rasanya ada yang hampa *tsaahh!

  • TURUN BERAT BADAN (BB) 25KG

Sebenarnya saya tidak tahu pasti sih selama dua tahun terakhir berapa kenaikan BB, setahun belakang memang sengaja tidak menimbang. Saya tulis 25kg sebagai perkiraan, bisa lebih bisa kurang. Karena 2020 sudah tidak ada alasan untuk berginuk-ginuk ria, jadi saatnya mulai atur pola makan dan makin kencang olahraga. Syukur-syukur kalau tahun ini bisa ikut Half Marathon. Cukuplah dua tahun punya badan melar haha mari kembali ke badan singset seperti sedia kala…. ini dengan catatan kalau saya ga kebanyakan rebahan ya haha.

  • JALAN-JALAN

Seperti biasa, target tidak muluk-muluk, minimal bisa mendatangi satu negara baru. Sudah ada di daftar, mudah-mudahan terlaksana. Selebihnya, ya paling mendatangi negara-negara tetangga tapi ke kota yang baru.

  • KELUARGA

Tidak ada rencana khusus di keluarga kami. Doa dari tahun ke tahun tetap sama. Semoga semuanya diberikan kesehatan yang baik, ikatan dalam keluarga selalu baik dan semakin baik, bahagia semuanya, hidup saling berdampingan dalam suka duka sampai akhir hayat.

  • TEGAK IBADAH DAN BERUSAHA BERMANFAAT

Tahun bertambah, umur berkurang, harusnya makin kencang ibadah. Tidak tahu sampai kapan diberikan kesempatan hidup, jadi lebih baik berusaha bermanfaat untuk diri sendiri, Sang Maha Pencipta dan orang-orang sekitar. Semakin berusaha keras mengendalikan nafsu merusak baik dari segi perkataan maupun perbuatan. Harus semakin kencang melakukan hal-hal yang berguna. Hidup di dunia tidak abadi.

Sejauh ini baru itu rencana saya untuk tahun 2020. Rencana-rencana lainnya akan muncul sambil jalan. Jadi, jalani saja dulu.

Cheers untuk 2020!

5CC5F1A1-D199-4D72-9EFF-6CC08BB46AA0

-2 Januari 2020-

 

 

 

 

Menutup Diri Setelah Tinggal di Luar Negeri?

Suasana kampung tempat tinggal kami

Membaca postingan  di blog ini, pendapat penulis tentang Diaspora yang disinyalir mengalami sindrom menutup diri, jadi tertarik untuk membuat tulisan dari sudut pandang saya dan berdasarkan pengalaman diri sendiri tentunya. Sejak pindah ke Belanda, seringkali saya mendengar dari kerabat, kenalan, teman di Indonesia kalau saya semakin menutup diri dan menjaga jarak dengan mereka. Ada benar dan tidaknya apa yang mereka sampaikan serta ada alasannya juga kenapa saya bersikap seperti itu. Salah satu alasan saya membuat tulisan ini adalah untuk memberikan gambaran tentang hal tersebut.

Saya nyaris 5 tahun tinggal di Belanda dan belum pulang sama sekali ke Indonesia. Jadi saat membaca penjabaran selanjutnya bisa membayangkan kondisi dan situasi saya. Tulisan ini lumayan panjang.

GANTI NOMER TELEPON

Pindah ke Belanda, artinya ganti nomer telepon. Saatnya tidak lagi bergabung dengan banyak grup WhatsApp (WA). Sampai saat ini, saya hanya punya tiga grup WA. Ya, cuma tiga. Saya membatasi berbagi nomer telepon yang baru. Hanya pada yang merasa dekat saja saya berbagi nomer telepon Belanda. Itupun ternyata beberapa kali ada yang lancang membagikan nomer tanpa sepengetahuan saya lebih dahulu.

Alasan saya tidak lagi bergabung dengan banyak grup wa, pertama karena zona waktu sudah berbeda. Kedua, karena seringnya saya tidak membaca isi grup wa yang sangat aktif. Ketiga, ya saya mau fokus dulu dengan kehidupan di Belanda. Disinilah awal mula ada beberapa komentar yang saya dengar kalau saya “mengasingkan” diri. Mereka berpikir saya tidak mau ikut grup lagi karena sudah tinggal di LN, tidak level dengan mereka yang tinggal di Indonesia. Lha, apa hubungannya ya. Tapi ya sudahlah, saya juga tidak mau repot-repot menjelaskan.

PROSES ADAPTASI YANG TIDAK MUDAH DAN JUGA TIDAK SUSAH

Saya memulai semuanya di Belanda dari nol, dari awal. Jatuh tersungkur-sungkur belajar bahasa baru, mengenal lingkungan baru, mendaftar sebagai sukarelawan untuk beberapa kegiatan supaya memperlancar bahasa Belanda, ujian bahasa Belanda sebagai syarat memperpanjang ijin tinggal, jungkir balik mencari pekerjaan, lalu dapat kerja di bidang yang baru dan sangat berbeda dengan latar belakang pendidikan maupun pengalaman kerja sebelumnya, penyesuaian terhadap cuaca, mempelajari (dan belajar panjang sabar) terhadap segala sistem birokrasi di sini, dan masih banyak lagi yang harus saya lakukan sebagai proses adaptasi. Semuanya bukan perkara yang mudah, terutama untuk bahasa dan cuaca, namun buat saya juga bukan hal yang susah. Saya fokus dengan apa yang ada sekarang, apa yang perlu saya jalani saat ini. Bukan berarti saya melupakan apa yang ada di Indonesia, tapi setiap hari di sini adalah proses adaptasi, pun sampai detik ini. Banyak hal-hal baru yang terus saya pelajari dan perlu fokus. Itu saja sebenarnya. Fokus saya sudah berbeda dengan kehidupan sebelumnya sewaktu di Indonesia. Menjadi imigran buat saya tidak mudah, karenanya saya ingin membuat lebih mudah dengan menjalani secara fokus apa yang ada sekarang dan menerapkan skala prioritas.

PERTANYAAN YANG TERLALU PRIBADI

Ada beberapa kenalan, teman, dan kerabat yang mengajukan pertanyaan atau memberikan pernyataan yang sudah jauh masuk dalam ruang privasi saya. Misalkan saja : suami kerja di mana, gaji suami berapa, beli rumah di Belanda harganya berapa, suami sholat nggak, sudah punya anak apa belum, sudah dapat apa saja dari suami (mengacu pada materi), kenapa kamu kok tidak bekerja kantoran, kenapa kok kamu sudah sekolah tinggi tapi malah tinggal di rumah, dan sebagainya dan sebagainya. Masih banyak sebenarnya, tapi tidak akan saya tuliskan semua. Pertanyaan tersebut datang dari orang-orang yang tinggal di Indonesia maupun dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Belanda. Saya merasa tidak nyaman dengan hal tersebut dan saya memilih untuk selalu mengatakan bahwa apa yang mereka katakan terlalu masuk dalam ranah pribadi saya dan saya tidak akan memberikan jawaban atau pernyataan apapun. Saya tidak berhutang penjelasan pada siapapun. Jadi, kalau saya menjaga jarak dengan mereka, bukannya tanpa sebab, melainkan karena mereka sendiri yang membuat saya berlaku seperti itu. Bertukar kabar dengan berbagi cerita yang umum saja saya sudah cukup, tidak perlu bertanya sampai jauh ke ranah pribadi.

Saya punya teman-teman baik (belum sampai level sahabat) di Belanda, tapi sangat terbatas. Tidak lebih dari jumlah jari tangan. Prioritas hidup saya saat ini (dan sejak awal di sini) bukan untuk mencari teman baru, jadi saya sudah cukup bahagia dengan teman-teman dekat yang ada sekarang. Sebenarnya sejak saya pindah ke Belanda, mencari teman bukanlah prioritas. Ada atau tidak ada teman, saya biasa saja. Saya lebih sibuk untuk adaptasi hal-hal lainnya. Semuanya mengalir dalam pertemanan, tidak pernah saya buat ngoyo. Karena itulah, saya punya teman sangat sedikit dan itu tidak jadi masalah.

Saya selalu membalas senyuman atau tegur sapa orang Indonesia yang ketemu dijalan (meskipun saya sendiri nyaris tidak pernah menegur duluan), menjawab obrolan mereka juga. Namun jika sudah terlalu jauh topik obrolannya, saya memilih tidak melanjutkan dan lebih baik permisi pergi. Saya pernah menuliskan di sini, cerita tentang mereka yang saya temui di Belanda, asal njeplak berkomentar padahal kenal (baik) saja tidak.

img_1521

LEBIH “MELEK” DENGAN YANG NAMANYA PRIVASI

Melanjutkan dari tulisan di atas, semakin bertambah umur, saya semakin melek dengan yang namanya privasi. Dulu sih semuanya saya ceritakan dan tuliskan terutama di media sosial. Semakin ke arah sini, saya semakin membatasi dan berpikir berulang kali perkara penting tidaknya mengunggah foto, status, cerita dan tulisan. Tahun 2015 saya deactive FB. Lalu tahun 2018 saya aktifkan lagi. Sejak mengaktifkan lagi, saya benar-benar menggunakan FB sebijak mungkin. Saya kurangi daftar teman yang ada di sana, hanya mereka yang sudah saya kenal yang dipertahankan. Saya makin selektif menerima permintaan pertemanan. Saya unggah sesuatu yang umum-umum saja, bahkan seringnya hanya sebagai sarana berbagi tulisan blog. Berbagi foto? seingat saya, tidak sampai 10 kali foto yang diunggah sejak FB aktif kembali.

Hal tersebut menimbulkan pertanyaan beberapa orang kenapa saya nampak terlalu menutup diri, tidak pernah mengunggah foto keluarga, tidak pernah bercerita tentang keluarga. Bahkan ada yang bertanya apakah kehidupan pernikahan saya baik-baik saja. Mungkin karena dulunya saya terlalu gampang “berbagi” di media sosial dan sekarang nampak lebih tertutup, jadi mereka menginterpretasikan bahwa kehidupan saya di Belanda tidak baik-baik saja. Padahal sebenarnya simpel : sekarang saya lebih nyaman seperti ini, tidak terlalu “obral” diri di media sosial maupun di blog, lebih nyaman dengan ruang privasi saya dan keluarga yang terjaga. Jejak digital tidak bisa dihapus, itu pegangan saya.

MENASEHATI TANPA DIMINTA PENDAPAT

Karena saya terlihat menutup diri dibandingkan sebelumnya, ada beberapa yang memberi nasihat tanpa diminta, berdasarkan asumsi mereka sendiri. Jadi semacam tebak-tebak buah manggis lalu mencoba menasehati. Misalkan : Saya tidak pernah bercerita secara detail tentang keluarga atau memasang foto keluarga, lalu ada yang berasumsi bahwa kehidupan saya di Belanda ada masalah. Lalu dinasehatilah saya bahwa kehidupan berkeluarga memang seperti itu, ada naik turunnya. Padahal, saya tidak pernah memberi komen apapun tentang asumsi yang dibuat. Karena tidak ada komentar dari saya, lalu mereka memberi cap kalau saya sombong sejak tinggal di Belanda. Padahal yang saya lakukan hanyalah tidak mau memberi ruang akan segala hal yang sudah mereka asumsikan sendiri. Saya diberi cap sombong? ya silahkan saja. Sejak di Indonesia pun saya sudah sering diberi cap sombong bahkan judes. Jadi kalau sekarang diberi cap itu lagi, rasanya ya biasa aja. Saya tidak bisa mengendalikan reaksi orang. Itu salah satu contohnya.

PERKARA JANJIAN

Beberapa kali ada teman dan kenalan dari Indonesia yang akan main ke Belanda, selalu dadakan mengajak janjian. Seringnya mereka mengajak ketemuan di Amsterdam. Tempat tinggal saya ke Amsterdam lumayan jauh, sekitar 1.5 jam naik transportasi umum. Pertama, Belanda itu negara kecil dan transportasi di Belanda seringnya tepat waktu (karena ada masanya tidak tepat waktu juga karena kendala teknis). Jadi, jarak tempuh 1.5 jam itu adalah waktu yang lumayan lama. Kedua, transportasi umum di Belanda itu mahal. Jadi biasanya kalau akan pergi jauh, saya mencari info lebih dahulu apakah ada tiket kereta yang dijual murah (banyak promo tentang ini). Meskipun saya menggunakan kartu abonemen (yang akan mendapat diskon 40% jika naik kereta), tapi jika dihitung akan lebih murah menggunakan tiket promo, ya saya menggunakan tiket promo. Belanda ini negara mahal, jadi kalau ada banyak cara untuk bisa hidup hemat, kenapa tidak ya kan.

Alasan ketiga, kami tinggal di Belanda semua dikerjakan berdua. Bukan berarti dengan saya tidak bekerja kantoran lalu saya banyak waktu senggang lalu bisa mengajak ketemuan dadakan. Setiap hari saya sudah punya rencana apa saja yang harus saya kerjakan. Saya sudah terbiasa membuat janjian jauh hari, wong mau makan bakso saja musti janjian paling tidak sebulan sebelumnya. Jadi kalau dadakan, seringnya saya tolak.  Kalau ketemuannya di kota terdekat, akan saya pertimbangkan.

Lalu tanggapan yang saya terima, dibilang saya terlalu londo, terlalu kaku padahal di Indonesia dulu tidak begitu. Mereka lupa, bahwa saya tinggal di Belanda hampir 5 tahun dan sudah menyesuaikan (nyaris) semuanya dengan tempat tinggal saat ini. Ya, lalu bagaimana saya menjadi tidak “terlalu londo?” *sudah terbaca belagu belum.

MEMBATASI DAN MENJAGA JARAK, BUKAN MENUTUP DIRI

Dari semua hal yang saya jabarkan di atas, jika banyak yang mengatakan saya menutup diri, mungkin bagi mereka nampak seperti itu. Saya membatasi dan menjaga jarak dengan orang-orang yang tidak saya kenal baik yang berada di Indonesia maupun orang-orang Indonesia yang ada di Belanda. Buat saya, jumlah teman tidaklah penting. Yang lebih penting adalah kualitasnya. Keluarga, teman-teman dekat, sahabat yang ada sekarang (cuma 4 orang yang semuanya ada di Indonesia), sudah lebih dari cukup. Mereka tidak pernah terlalu mencampuri urusan pribadi, sayapun berlaku sama. Kami tahu batasan masing-masing. Kami saling menanyakan kabar terbaru, cerita terbaru, dan sering juga mengirimkan foto terbaru. Hanya dengan mereka saya merasa nyaman berbagi cerita yang ingin saya bagi. Lalu kalau ada yang bilang saya menutup diri, artinya saya tidak dekat dengan mereka.

Jadi jika ada yang tidak mengenal saya dengan baik lalu berasumsi sendiri tentang kehidupan saat ini, ya monggo. Sekali lagi, saya tidak berhutang penjelasan detail pada siapapun. Yang terpenting, saya tidak pernah menutup diri, hanya membatasi dan menjaga jarak, melakukan hal yang membuat nyaman. Berteman dengan mereka yang saling menyamankan, berbagi kabar pada keluarga yang membuat saya merasa nyaman, dan berbagi hal-hal yang seperlunya saja di media sosial. Rasanya motto yang cocok dengan hidup saya sejak tinggal di Belanda adalah : bertindak, berbicara, dan nyetatus seperlunya saja.

-21 Oktober 2019-

 

Handal Pekerjaan Rumah Tangga yang Mana?

http://courageouscolleen.blogspot.nl/2013_09_01_archive.html

Hari senin kemaren akan saya ingat sebagai salah satu hari bersejarah dalam hidup. Pasalnya, saya akhirnya bisa juga mengerjakan salah satu pekerjaan rumah tangga yang tidak terlalu saya sukai karena merasa tidak handal (berdasarkan dari hasil yang lalu-lalu, tidak memuaskan). Memasang seprei (dan kurungan selimut) adalah salah satu pekerjaan RT yang saya tidak suka. Sejak jaman ngekos, entahlah kenapa kalau pasang seprei selalu tidak rapi. Mencong sana sini. Mau dipakai peniti atau sepreinya sudah ada karetnya, tetap saja mencang mencong tak rapi. Mungkin karena saya tidak telaten.

Berbeda dengan suami, dia bisa rapi jali kalau pasang seprei. Betul-betul rapi seperti di hotel. Karenanya selama ini urusan ganti seprei saya serahkan ke dia. Nah beberapa waktu ini, dia memang sedang sibuk. Dan lagi, ada orang yang kerja bersih-bersih di rumah, jadi sekalian saya minta tolong mbak tersebut buat ganti seprei. Karena ada masalah, mbak tersebut tidak kerja lagi dengan kami. Terpaksalah saya yang ganti seprei karena sudah waktunya diganti. Membayangkan saja saya sudah capek dan pengen ngunyah martabak telor *alesan, padahal ya aslinya pengen makan.

Singkat cerita, ternyata saya bisa. Hasilnya lumayan rapi meskipun tidak selicin kalau suami yang pasang. Bener-benar saya langsung bangga pada diri sendiri haha. Pasang seprei bisa jadi pencapaian hidup saat ini. Kalau terpaksa, apapun mendadak jadi bisa.

Selain pasang seprei, pekerjaan RT lain yang saya tidak suka adalah ngosek kamar mandi dan wc. Untunglah di sini kamar mandinya kering pakai shower, jadi tidak perlu nguras bak mandi. Nah ini suami juga kinclong banget kalau mengerjakan. Semacam sangat menghayati kalau sedang membersihkan kamar mandi dan WC. 

Ada beberapa pekerjaan RT yang saya memang tidak suka dan tidak memaksakan untuk suka. Ternyata suami yang lebih handal. Di rumah kami, semua kami lakukan berdua. Jadi tidak ada tuh yang ongkang-ongkang kaki sementara yang lainnya bersih-bersih. Prinsipnya adalah rumah ditempati bersama ya dirawat dan dibersihkan bersama. Pernah saya tuliskan tentang hal ini ditulisan ini. Namun, meskipun sudah ada bagian siapa mengerjakan apa, tapi hal tersebut tidak saklek. Kalau ada yang tidak bisa, ya yang bisa mengerjakan. Yang penting rumah tidak sampai berantakan. 

Pekerjaan RT yang saya suka selain memasak dan beres-beres rumah (termasuk nyapu dan ngepel) adalah menyetrika. Saking sukanya dengan menyetrika, sampai serbet pun saya setrika haha. Kalau menyetrika saya bisa semacam meditasi. Jadi bisa ada ide-ide yang keluar dan bisa dapat inspirasi. Oh ya, meskipun saya suka masak, tapi saya tidak suka mencuci perkakas yang dipakai masak. Meskipun ada mesin cuci piring, tapi untuk peralatan masak yang besar tidak kami masukkan ke situ. Biasanya suami yang dengan sukarela mencuci peralatan masaknya (kalau pas dia di rumah ya).

http://courageouscolleen.blogspot.nl/2013_09_01_archive.html

Saking saya doyan dengan bersih-bersih dan kayaknya setiap saat selalu ngelap-ngelap, suami sering nyelutuk,”ga usah lah rumah terlalu bersih. Ini bukan museum, jadi kotor ya wajar.” Haha iya bener sih, memang bukan museum. Tapi mata gatel kalau ada yang kotor.

Kalau kalian gimana, handal dipekerjaan RT yang mana dan yang tidak disukai apa? Partner kalian ikut bareng-bareng ngerjain pekerjaan RT ga? 

Oh ya, selamat mudik ya buat yang mudik. Semoga selamat sampai tujuan berkumpul dengan keluarga besar merayakan Idul Fitri. Selamat liburan juga. Kalau makan opor dan hidangan lebaran lainnya, tolong ingat saya, di sini ga masak apa-apa minggu depan haha. Lebaran sepi seperti biasa. 

-Nootdorp, 29 Mei 2019-

Ramadan Kelima di Belanda

Biasanya saya menuliskan tentang pengalaman Ramadan selalu menjelang akhir Ramadan atau saya jadikan satu dengan cerita Idul Fitri. Tapi kali ini saya menuliskan di awal dan mudah-mudahan diakhir Ramadan dan cerita Idul Fitri tahun ini bisa saya tuliskan juga.

Tanggal 6 Mei sudah mulai puasa Ramadan. Selalu, ada rasa haru, sedih, serta rindu suasana Ramadan di kampung halaman bersama keluarga di Indonesia. Rindu taraweh bersama, rindu mendengar bedug Maghrib dari Masjid, rindu mendengar khataman Al Quran dari Musholla, rindu buka puasa bersama, rindu masakan Ibu selama Ramadan, bahkan rindu berburu gorengan dan berbagai jenis es ketika ngabuburit. Yang saya tidak terlalu rindu adalah buka puasa bersama di mall karena antrinya panjang, tempatnya rame, sholat maghribnya terburu-buru. Sebagai perantau, saya tahu konsekuensinya jika jauh seperti ini, ya pasti merindukan kebiasaan-kebiasaan menjelang dan selama Ramadan.

Tahun ini adalah Ramadan kelima di Belanda dan akan menjadi tahun ketiga saya tidak menunaikan puasa selama Ramadan. Semoga tahun depan saya sudah bisa kembali berpuasa ketika Ramadan dan hutang-hutang puasa bisa saya cicil pelan-pelan.

Buat yang menjalankan puasa Ramadan, semoga lancar, berkah, sehat-sehat terus dan diijabah doa-doa yang dipanjatkan. Buat yang berpuasa di negara dengan durasi Ramadannya panjang (di Belanda tahun ini sekitar 18.5 jam), semoga dikuatkan dan istiqomah. Cuaca di Belanda nampaknya tidak terlalu panas selama Ramadan ini (kayaknya ya, karena kemaren cuacanya super labil. Sebentar hujan, panas, angin, hujan es, repeat sampai seharian. Ini bulan Mei lho masih saja hujan es deras. Bahkan saat menulis ini, di luar mendung dan hujan. Saya sudah kangen sekali cuaca hangat).

Maaf lahir batin dari saya jika ada khilaf dalam berkomentar ataupun tidak berkenan maupun tidak sependapat dengan postingan yang ada di blog ini (maupun di media sosial lainnya). Berbeda pendapat tidak masalah yang penting tidak memecah belah. Semoga yang mempunyai kesulitan dibukakan pintu kemudahan untuk menyelesaikannya dan Ramadan membawa berkah.

Selamat berpuasa!

-Nootdorp, 5 Mei 2019-

Koningsdag 2019

Kinderrommelmarkt
Pasang Bendera depan rumah Pasang Bendera depan rumah

Koningsdag tahun ini jatuh pada hari Sabtu. Jika bertepatan dengan hari kerja, maka hari dimana raja berulangtahun tersebut menjadi hari libur nasional. Ada yang berbeda tahun ini, biasanya pesta pada Koningsnacht hanya berlangsung malam itu saja, tetapi di Den Haag panggung musiknya berlangsung sampai keesokan harinya. Sungguhlah pesta raja ini meriah sekali (nampaknya ya, karena Koningsnacht tahun ini tentu saja saya selonjoran saja di rumah, saya hanya mendapatkan cerita dari sepupu yang melihat langsung di Den Haag).

Rumah-rumah memasang Bendera dan satu bendera Orange. Rumah kami? Tentu saja tidak memasang, wong tidak punya Bendera Belanda.

Kinderrommelmarkt Kinderrommelmarkt

Tentu saja yang kami nantikan jika Koningsdag adalah berburu barang bekas. Karena Koningsdag identik dengan pasar barang bekas atau disebut Rommelmarkt. Seperti tahun lalu (ceritanya bisa dibaca di sini), kali ini kami hanya pergi ke perayaan yang diadakan di kampung tempat tinggal kami. Namun karena cuaca sungguhlah tidak bisa ditebak maunya apa karena sebentar hujan, angin kencang, lalu muncul matahari dan panas, lalu hujan lagi, ulang berkali-kali (Cuaca asli Belanda yang bisa berubah suka-suka), kami nyaris membatalkan rencana berburu barang bekas. Ternyata setelah makan siang, matahari muncul sekelebatan.

Permainan untuk anak, gratis Permainan untuk anak, gratis

Mungkin karena diprediksi akan badai, saya lihat penjual barang bekasnya tidak sebanyak tahun lalu. Oh ya, di kampung kami, barang bekas yang dijual khusus barang anak-anak, karenanya pasarnya disebut Kinderrommelmarkt yang artinya pasar barang bekas anak-anak. Jangan dibayangkan barang bekasnya sudah jelek sekali ya. Meskipun disebut bekas tapi kondisinya masih bagus dan tentu saja harganya sangatlah murah bahkan ada banyak barang diberikan secara gratis.

Permainan untuk anak, gratis Permainan untuk anak, gratis

Senang dan menggemaskan melihat anak-anak kecil diajari berjualan oleh orangtuanya. Jadi ingat cerita Yayang di blognya tentang anak-anaknya yang berjualan mainan mereka dan semuanya ludes terjual. Pembelajaran yang bagus juga buat anak-anak supaya berani berkomunikasi dengan orang baru, melatih negoisasi, dan berlatih berhitung juga.

Sama juga seperti tahun lalu, ada panggung hiburan, beberapa permainan anak yang disediakan secara gratis, dan tak lupa stan-stan makanan. Meskipun diguyur hujan, semua tetap bersenang-senang. Kami akhirnya pulang membawa beberapa barang yang kami butuhkan. Semoga tahun depan kami bisa berpartisipasi berjualan di sini karena ada beberapa barang yang siap untuk dijual.

-Nootdorp, 28 April 2019-

Akhir Musim Dingin (yang Hangat)

Buah-buah tropis yang aduhai mahal harganya

Hari ini adalah terakhir musim dingin. Besok sudah mulai masuk Maret yang artinya musim semi. Beberapa hari terakhir (tepatnya sejak sabtu minggu lalu), cuaca mulai menghangat sampai 18ºC. Agak aneh sih untuk ukuran musim dingin. Aneh dan membingungkan. Meskipun tak dapat dipungkiri saya senang ya dengan suhu hangat seperti ini yang artinya hasrat petakilan bisa tersalurkan, tapi saya juga khawatir bagaimana dengan musim panas nanti. Karena tahun kemaren, saya ingat betul suhu mulai menghangat ketika memasuki awal April dan musim panas benar-benar parah panasnya dan berlangsung panjang. Jadi kalau akhir Februari saja sudah mulai menghangat, siap-siap musim panas tahun ini akan lebih panjang, lama dan makin panas.

Karena sepupu saya sudah datang sejak minggu kemaren (dan akan tinggal di sini sampai tiga bulan ke depan) dan cuaca sedang hangat, maka saya ajak dia untuk jalan-jalan ke kota-kota sekitar Den Haag. Dimulai dengan ke pasar Haagse Markt haha. Ya karena dekat dengan rumah dan saya ingin menunjukkan ke dia bagaimana pasar tradisional di Belanda ditambah lagi memang ada banyak yang akan saya beli. Pengalaman pertama dia jalan-jalan di Belanda, ke pasar. Dia sampai terbengong melihat betapa pasar ini luas sekali dan betapa ragam barang yang dijual banyak. Dari pasar becek sampai pasar kering. Dan tentu saja membandingkan harga dengan di Indonesia.

Hari Sabtu saya ada acara di Gouda. Undangan kumpul-kumpul dari anggota Mbakyurop cabang Belanda. Tapi sejatinya yang datang malah bukan hanya dari Belanda tapi juga dari Belgia, Jerman, dan Perancis. Waahh seruuu kumpul-kumpul kali ini karena bukan hanya pasokan makanan yang melimpah ruah, tapi juga berkesempatan bertemu beberapa orang yang selama ini hanya ngobrol lewat whatsapp saja. Rurie sebagai tuan rumah (pemilik katering @kioskana -akun IG nya-), benar-benar menjamu kami dengan suguhan masakan yang enak sekali. Belum lagi tambahan yang lainnya juga membawa makanan. Makin melimpah ruahlah makanan sampai acara bungkus membungkus saat waktu pulang tiba, bingung mau bawa pulang apa saking banyaknya haha.

Saya pun bertemu lagi dengan Anis setelah terakhir ketemu lebih dari satu tahun lalu saat Anis ke rumah. Diberi hadiah lagi oleh Anis, jadi senang saya haha. Terima kasih ya Anis. Bertemu lagi juga dengan Maureen dan Patricia. Wah pokoknya ramai dan seruuu sabtu lalu. Tidak hanya makan-makan di rumah, kami juga menyempatkan ke pusat kota Gouda yang hanya selemparan kolor dari rumah Rurie. Rombongan rame-rame ke sana jadi seperti rombongan turis. Dan kok ya pas ada pasar di pusat kotanya. Saking berkesannya acara kemaren, kami sudah membuat rencana lagi ketemuan selanjutnya di mana. Tidak Sabar!

Keriaan di Gouda
Keriaan di Gouda

Beberapa hari kemudian berturut-turut saya (bersama sepupu saya tentu saja) menjelajah beberapa kota. (Delft, Den Haag, Rotterdam) sejak pagi sampai sore baru kembali ke rumah. Jadi kalau dihitung, total jalan kaki kami perhari minimal 10km dan sampai 15km. Lumayanlah melemaskan kaki. Senang sekali saya bisa mengajak dia keliling dengan cuaca cerah seperti ini. Sekaligus menjelaskan sistem transportasi di Belanda, jadi nanti kedepannya dia bisa jalan-jalan sendiri keliling Belanda bahkan ke negara tetangga.

Tujuan kami sewaktu ke Rotterdam adalah Markthal dan Rumah Kubus. Sewaktu kami ke sana, ada pasar rame sekali. Saya pikir pasar kaget. Ternyata kata Yayang itu namanya pasar Blaak dan memang selalu ada setiap hari selasa dan sabtu. Owalaahh saya baru tahu itu namanya pasar Blaak padahal sering dengar haha. Sayang sekali saya tidak janjian dengan Yayang padahal waktu itu ternyata berada di lokasi yang sama dengan dia dan si Kembar. Volgende keer ya Yang!

Lalu kami ke Den Haag, muter-muter pusat kota, menunjukkan Binnenhof dan danaunya lalu berakhir cari makan di restoran Indonesia. Saya makan bakso beranak (pake nasi), sepupu saya makan soto betawi. Bakso beranaknya rasanya ya biasa saja. Malah enak bakso buatan Rurie.

Keesokan harinya, karena saya ada jadwal ke RS di Delft, jadi sekalian saya ajak sepupu ke Delft. Kota favorit saya ini. Tempat nongkrong favorit, depan gereja sambil berjemur menikmati sinar matahari. Intinya saya benar-benar memanfaatkan sinar matahari yang cerah ceria beberapa hari ini.

Jalan - jalanke Rotterdam, Den Haag, dan Delft
Jalan – jalanke Rotterdam, Den Haag, dan Delft

Ada satu cerita kocak saat kami ke Markthal yang ada di Rotterdam. Ada satu stan yang menjual buah-buah tropis. Lebih lengkaplah dibandingkan Haagse Markt buah tropisnya sampai Manggis dan salak pun ada. Nah, saya tunjukkan ke sepupu sambil bilang harganya sekian per buahnya. Dia berkali-kali istighfar melihat harganya. Shock sambil bilang “Buset dah, ketelen itu ya makan Manggis seperempat kilo harganya €5, buah naga satu biji harganya €4. Di sana mah rambutan tinggal petik di halaman, buah naga sekilo ma belas rebu. Set dah! Ntar balik ke sana aku ga akan sia siakan lagi buah buahan ini. Ingat-ingat harga di sini” Hahaha langsung tobat dia. Saya terus terang meskipun ngiler-ngiler ingin makan buah naga sejak pertama kali tinggal di sini, tapi ga pernah kesampaian karena melihat harganya mendadak langsung kenyang. Nanti pas liburan ke Indonesia, saya puas-puasin makan apa yang tidak kesampaian makan di sini karena mahal. Maka bagi kalian yang tinggal di Indonesia, berlimpah ruah buah-buah tropis lokal, manfaatkanlah dan bersyukurlah dengan makan buah sebanyak-banyaknya. Ingatlah kami di sini terkadang cuma bisa ngiler menahan hasrat untuk beli karena harganya mahal.

Buah-buah tropis yang aduhai mahal harganya
Buah-buah tropis yang aduhai mahal harganya

Itulah sekilas cerita seminggu terakhir musim dingin tahun ini. Maret akan datang, saya antusias menyambutnya. Mudah-mudahan meskipun cuaca jadi tidak karuan begini, musim panas nanti tidak menyengat sekali. Pada foto di bawah ini, perbedaan musim dingin tahun lalu dibandingkan tahun ini pada tanggal yang sama. Tahun lalu bersalju dan tahun ini suhu hangat 11ºC. Ngeri ya, pemanasan global itu nyata.

Perbandingan cuaca pad tanggal yang sama ditahun yang berbeda
Perbandingan cuaca pad tanggal yang sama ditahun yang berbeda

Selamat hari Jumat, selamat berakhir pekan, semoga keberkahan dan kebahagiaan menyertai kita semua. Selamat datang Maret!

-Nootdorp, 28 Februari 2019-