Vaksin Covid – Bagian Kedua – Selesai

Cerita singkat saja ya kali ini. Beberapa hari lalu, saya selesai mendapatkan vaksin kedua covid. Yang bagian pertama, bisa dibaca ceritanya di sini ya.

Berbeda dengan vaksin pertama yang masih ada sedikit efek sampingnya, vaksin kedua ini benar – benar tidak berasa ada efek setelahnya. Lengan sakit pun tidak berasa. Padahal saya sudah mempersiapkan mental kalau efek vaksin kedua ini akan berat karena mendengar cerita – cerita mereka yang sudah mendapatkan vaksin kedua.

Sama halnya dengan yang pertama, sebelum vaksin kedua ini pun saya tidak ada persiapan khusus. Makan minum seperti biasa, istirahat dan tidur pun seperti biasa, tidak mengkonsumsi vitamin apapun. Intinya, biasa saja. Ada satu yang nyaris sama dengan vaksin yang pertama : Saya nyaris lupa kalau hari itu harus vaksin. Padahal dua hari sebelumnya saya sudah mengingat – ingat kalau akan vaksin 2 hari lagi. Pas tengah malam saya baru teringat kalau besok pagi jadwal vaksin. Walah, nyaris terlewat. Padahal jadwal saya hari itu padat sekali. Harus mengerjakan Sourdough bread 4 macam yang adonannya sudah diinapkan di kulkas, masak makan siang, dan masak lodeh buat akhir pekan. Ngerinya kalau setelah vaksin efeknya berat, buyaarr semua jadwal itu. Adonan roti bisa – bisa berubah jadi adonan tape.

Selesai vaksin, sesampainya di rumah, saya masih leyeh – leyeh 30 menit. Kok tidak ada tanda – tanda sakit ya. Lalu saya mulai mengerjakan roti satu persatu. Sampai roti kedua, masih ga ada rasa sakit. Saya tidak mau jumawa. Takutnya kena tulah besokannya sakit parah. Tiga jam berlalu, 6 jam berlalu, 10 jam berlalu, tetap biasa saja. Bahkan semua rencana hari itu, bisa saya selesaikan semua. Membuat 4 macam roti, masak makan siang, masak lodeh untuk akhir pekan, jalan – jalan ke hutan, sampai beberes pun selesai semua. Hari itu, terlewati dengan mulus.

Keesokan paginya, bangun dengan tanpa badan sakit. Oh ya lupa dituliskan. Seminggu sebelum vaksin, hidung saya mulai mampet. Pilek. Sampai hari vaksin pun, hidung saya tetap mampet, pilek. Nah keesokan harinya, bangun tidur tetep mampet. Jadi kondisi setelah vaksin, tidak ngefek pada kemampetan hidung. Berharapnya agak membaik ya, tapi tetap saja. Sehari setelah vaksin, juga sama, mulus dilalui tanpa rasa sakit (bahkan sampai tulisan ini diunggah). Akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa untuk vaksin kedua, tidak ada efek samping apapun di badan saya. Mulus tetap berkegiatan seperti biasa.

Senang akhirnya sudah mendapatkan vaksin yang kedua. Yang membuat saya makin lega lagi, Ibu dan adik – adik saya di Indonesia, akhirnya sudah mendapatkan vaksin yang pertama. Setelah lika liku stok vaksin di daerah yang cepat habis, akhirnya mereka sudah bisa vaksin yang pertama. Rasanya benar – benar ingin sujud syukur saking senangnya mereka sudah divaksin.

Suami masih bulan depan vaksin keduanya. Apa rencana kami setelah mendapatkan vaksin lengkap? Tidak ada rencana apapun. Ya begini saja tetap tinggal di rumah karena tidak ada undangan kumpul – kumpul juga. Kehidupan berjalan seperti biasa. Tetap liburan gentayangan di Belanda. Kemaren saya menanyakan lagi ke suami, apa dia ada rencana liburan ke LN secara dia ini kalau bikin rencana liburan selalu dadakan. Dia lalu mengingatkan saya bahwa negara ini kodenya sedang merah. Jadi kami tidak mau ruwet perkara liburan di LN dengan embel – embel datang dari negara berkode merah. Dan lagi, peraturan di situasi seperti ini cepet berubah. Intinya, kami males ruwet sih. Jadinya, tetap seperti rencana semula sejak awal tahun kalau tahun ini tema liburan kami adalah explore Belanda. Lumayan, jadi lebih tau kota – kota kecil di Belanda, menjelajah museum, dan lebih mengenal hotel – hotel di sini haha.

Stay Happy and healthy ya! Doa saya tetap dan selalu sama. Semoga keadaan ini cepat membaik, kehidupan berjalan normal lagi, kita semua diberikan kekuatan lebih untuk melangkah. Turut berduka cita untuk mereka yang ditinggalkan keluarga, teman, sahabat, yang tercinta karena pandemi ini. Semoga diberikan kekuatan dan penguatan.

-25 Juli 2021-

*Cerita tambahan. Sebenarnya sangat tidak penting. Tapi tetap ingin saya tuliskan. Sewaktu diarahkan ke salah satu loket pemeriksaan kartu identitas, petugasnya ganteng sekali. Matanya bagus, giginya rapi dan bentuknya bagus sekali. Pas dia tersenyum, duh tiba-tiba jantung saya kayak yang jadi cepat gitu detaknya. Matanya bagus banget asli. Wah gawat, jangan sampai ga bisa vaksin gara – gara disenyumin lalu tensi saya melonjak. Setelah meninggalkan loket, jantung saya masih deg-degan gitu lho. Ya Allah, norak! Lemah memang saya kalau lihat mata bagus. Makanya saya lemah lihat matanya NicSap *nyebut Mbak!

Sampai rumah saya cerita suami kan. Dia cuma senyum datar aja. Komen dia : ya untung saya ga ditelpon sama GGD suruh jemput kamu yang pingsan gara – gara disenyumin anak muda dengan mata yang menurutmu bagus.

Haha!

15 thoughts on “Vaksin Covid – Bagian Kedua – Selesai

  1. Reaksi kita sama, setelah vaksin kedua hampir nggak ada efek samping sama sekali (cuma tangal pegal aja sih tapi nggak parah sama sekali). Sudah sempat persiapan juga andaikata terkena efek samping seperti demam, dkk (stok paracetamol sudah aman, sudah siap sedia bahan-bahan untuk bikin sup, hahaha) tapi untungnya lancar-lancar aja.

    Anyway, ikut senang ibu dan keluarganya di Indonesia sudah dapat vaksin juga!

    1. Iya Ko! padahal sudah siap – siap sakit parah, eh ditunggu sampai besok paginya, ternyata baik – baik saja. Malah sempet mikir apa dalamnya ampul ga isinya placebo ya hahaha kok berasa kayak ga divaksin. Sehat2 ya kamu.

      Ibu dan adik – adikku sudah lengkap vaksin kedua. Syukurlah

  2. Yay! Selamat kita sudah fully vaccinated.

    Aku juga vaksin kedua baik-baik aja. Cuma rasanya ngantuk dan laperan (ini sih biasanya juga).
    Tapi waktu di lokasi aku lihat ada dua manula yang digandeng dua medewerkers karena agak pusing. Beruntung sih aku ngga merasa apa-apa. Padahal aku jalan kaki dan kehujanan juga sebelum dan sesudah vaksin.

    Lakiku beda juga, suhu dia agak verhogen walaupun ngga sampe demam. Udah gitu pusing jadi ya bolak balik nyemil paracetamol. Kata dia “ternyata aku ngga se-tough cookie kamu”. Duh elah masnya… kan reaksi orang beda-beda.

    1. Hai Nungki!
      Terima kasih sudah mampir ke sini ya.

      Semoga setelah lengkap vaksin, kita makin sehat dan terlindungi ya. Dan pandemi ini beneran semakin mereda.

      Betul, beda badan beda reaksi. Suamiku malah tangannya ga sakit. Aku sampai nanya : kamu beneran vaksin kan? ga pura2 keluar rumah buat vaksin tapi ga ke tempat vaksin. Hahaha suudzon soalnya dia kok ga ada keluhan apapun.

  3. Maaf baru sempat komen 🙂 Wih, selamat ya udah vaksin ke 2, Deny…Aku insyaa Allah masih nunggu bulan depan 🙂 BTW, cerita gak pentingnya penting banget buat aku….Jadi ikut ngebayangin gimana penampakan dari si adik petugas 😀

    1. Hai Inong. Semoga sekarang sudah lengkap ya vaksinnya. Selalu sehat kamu sekeluarga di sana

      Hahaha adik petugasnya sampai sekarang aku masih ingat tatapan mata dan senyumannya :)))) macam NicSap tapi versi londo

  4. Horeee! Alhamdulillah udah lengkap vaksin covid-nya. Aku pas abis vaksin kedua demam ringan seharian, tapi ya mayan lah jadi ada alesan untuk leyeh-leyeh 🙂

    1. Terima kasih Dita! sehat – sehat buat kita semua.

      Nah itu dia! Aku sudah membayangkan akan ada alasan buat goler – goler di kasur setelah vaksin. Eh ternyata baik – baik saja. Tapi sama suamiku disuruh istirahat aja. Aku ga jadi istirahat begitu ingat ada pesanan kue haha.

  5. Mau komentar soal bagian terakhir yang ketemu petugas cakep. Aku boro-boro ketemu petugas cakep, mbak. Pas lagi jalan sambil ribet lipat2 surat ini itu dan KTP (kan jadi lumayan banyak tuh berkasnya) di lajur vaksinasi, ada petugas cowok, masih muda, yang bilang ke aku dengan nada tergesa-gesa, “Ayo cepetan, tolong lepas jaket kamu!”. Pokoknya aku diburu-buru banget jadi inget jaman ospek diburu-buru makan sama kakak divisi Disiplin. Jadi grogi terus agak disorientasi, ini langsung vaksin atau duduk di ruang tunggu dulu.

    Terus dia ditegur sama petugas lain, ibu-ibu yang lebih tua, terus setelah ibu itu tegur si pemuda, dia ngomong ke aku, “Doe maar rustig aan” sambil nunjukin aku ke booth vaksinasi yang kosong. Kayaknya si ibu ini nyadar bahwa orang di vaksin ya harus tenang, sesuatu yang dilupakan sama petugas cowok muda itu. Lagian ngapain juga diburu-buru deh, booth vaksinasi banyak kok.

    1. Wah kayak militer ya hahaha ngebayangin bisa gitu nyuruh orang cepet2. yang ada jadi spanend. Laper apa gimana dia kok buru – buru gitu

      1. Makanya mbak, malesin banget, ngapain juga ngeburu-buru orang vaksin. Biar dia keliatan kerja kali ya.

        Yang vaksin kedua jauh lebih santai, orangnya lebih sedikit. Aku disuntik sama cewek muda. Dia basa-basi nanya mau liburan kemana. Kayaknya biar distract orang biar gak takut sama jarum suntik.

  6. Aku vaksin kedua cuman sakit di tangan seperti yang pertama. Sempet deg degan juga karena ada kolega yang sempet demam setelah vaksin kedua walopun dia ngga ngerasain apa2 waktu vaksin pertama. Ternyata buat aku ngga ada yang signifikan.

    Temen aku yang sudah pernah covid, bener2 jatuh sakit setelah divaksin pertama. Dia sebelumnya harus nunggu beberapa bulan sampai dapet vaksin karena harus ada jarak antara kesembuhan dan vaksinasi. Kata dia malah dia merasa lebih sakit waktu habis divaksin daripada waktu kena covid. Reaksi orang beda2 memang.

    1. Nah, pas baca komen kamu pas aku posting ttg vaksin pertama, aku sudah siap – siap kalau vaksin kedua bakal lebih parah efeknya. Ditunggu sampai esok hari kok baik2 saja. Syukurlah ga sampai tumbang, padahal lumayan buat leyeh – leyeh haha.

      Wah bisa gitu ya reaksi di orang yang pernah kena covid. Benar, reaksi beda badan bisa beda juga

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.