Seputar Vaksin Covid (Efek Samping) – Bagian Pertama

Awalnya tidak terlalu ingin menuliskan pengalaman mendapatkan vaksin covid di Belanda, mengingat Ibu saya di Indonesia masih belum vaksin karena kemaren – kemaren masih suram keberadaan vaksin di daerah yang antara ada dan tiada. Saya merasa sedih karena di sini lumayan cepat distribusi vaksinnya, sedangkan keluarga saya di sana yang tinggal bukan di kota besar, akses mendapatkan vaksin semacam mengenaskan. Tapi ini mulai ada titik terang karena adik saya dua hari lalu akhirnya bisa vaksin juga. Mudah – mudahan setelah ini Ibu saya juga sudah bisa vaksin karena Ibu masih sakit jadi menunggu membaik baru akan vaksin. Kepikiran lho ini saya perkara keberadaan vaksin di kota kecil di Indonesia yang hilalnya pada saat itu belum nampak. Jadinya sedih dan nelongso mengingat keluarga saya di sana yang ingin vaksin tapi belum juga bisa menjangkau, pada saat itu -sekitar 3 minggu lalu-.

Karena mood saya sudah lebih baik (memikirkan vaksin di Indonesia yang belum merata sampai daerah saja bikin mumet dan mood berantakan tiap hari), jadi saya akan menceritakan pengalaman mendapatkan vaksin Covid di Belanda.

SEBELUM HARI H VAKSIN

Jadi, sekitar dua minggu lalu, saya sudah divaksin. Seminggu sebelum tahun lahir saya diumumkan untuk bisa mendaftar, beberapa teman dan kenalan sudah memberitahu saya kalau kemungkinan minggu depannya tahun kelahiran saya sudah bisa mendaftar untuk bisa vaksin. Sebulan sebelumnya, Suami sudah mendapatkan surat undangan untuk vaksin, tapi dia masih mikir – mikir dengan beberapa alasan yang diantaranya ya masuk akal juga, meskipun penyampaiannya agak mbulet. Ok, saya hargai keputusannya, selama dia bukan antivaksin. Sampai tulisan ini diunggah, dia akhirnya sudah mendaftar vaksin. Sujud syukur akhirnya dia dapat hidayah juga, setelah proses panjang mendapatkan wejangan dengan tatapan cemberut dari istrinya. The power of mrengut.

Awalnya, pemerintah Belanda memang mengirimkan surat undangan. Jadi, warga ya dengan sabar menunggu surat. Setelahnya, sistem diubah menjadi kita bisa mendaftar lebih dulu lewat akun DigiD jika tahun kelahiran sudah diumumkan. Surat undangan tetap dikirimkan. Jadi kitanya yang proaktif, tidak usah menunggu surat datang. Ini diluar mereka yang mendapatkan prioritas ya. Jadi berdasarkan tahun kelahiran dan tanpa resiko kesehatan.

Nah pada saat tahun kelahiran saya sudah diumumkan, saya diberitahu oleh Anis. Karena saya saat itu sibuk ngurusi pesanan cookies dan brownies juga paket untuk Father’s day di Belanda, jadinya saya terlupa untuk mendaftar. Baru ingatnya, dua hari kemudian. Itupun gara – gara ngobrol sama Anis lalu teringat belum mendaftar. Lalu mendaftarlah saya lewat akun DigiD. Gampang dan cepat prosesnya. Musti menjawab beberapa pertanyaan dulu sebelum sampai pada tanggal dan tempat di mana dan kapan bisa vaksin. Setelahnya, saya sudah mendapatkan tanggal kapan vaksin pertama dan kedua. Tempatpun sangat dekat dengan rumah, cuma 10 menit sepedahan. Tempat vaksin di stadion bola.

Perkara mendaftar, sudah beres. Beberapa hari kemudian, surat undangan untuk vaksin datang. Jadi dalam amplopnya ada formulir isinya pertanyaan – pertanyaan yang nanti harus kita bawa saat vaksin, juga ada surat yang isinya jadwal vaksin pertama dan kedua dan syarat – syarat yang harus dibawa saat vaksin. Juga ada keterangan, vaksin apa yang akan kita dapat. Disurat saya, kalau tidak salah ingat, tercantum saya akan mendapatkan Pfizer atau Moderna. Ini kalau tidak salah, kita tidak bisa memilih sendiri ya. Yang pasti nanti di tempat ya dapatnya antara 2 itu.

HARI H VAKSIN

Dalam rentang seminggu hari H vaksin itu, saya super ruwet bikin cookies dan brownies pesanan. Belum lagi packing dan memastikan tiap pesanan berada di kardus yang benar. Juga memastikan kartu – kartu tidak salah penempatan. Jadi H-1, saya benar – benar ruwet, baru tidur jam 12 malam. Baru selesai packing karena pagi akan mengirimkan ke service logistic yang dekat rumah. Itupun saya hanya tidur 4 jam karena bangun lebih awal, bikin brownies lagi. Jadi saya merasa ngantuk kurang tidur. Dua minggu lalu, seingat saya, jadwal vaksin baru keesokan harinya di sore hari. Trus saat packing terakhir jam 7 pagi, tiba – tiba saya teringat apa benar jadwal vaksin saya keesokan hari atau hari itu. Saya lalu membuka sms, membaca lagi pesan yang dikirimkan oleh GGD 2 hari sebelumnya. Pesan pengingat jadwal vaksin.

Loalaahh ternyata jadwal vaksin saya hari itu, bukan keesokan harinya. Duhhh, nyaris saja terlewat. Memang tidak saya catat di jadwal sih, mengandalkan sms pengingat dari GGD. Ternyata ya luput juga, riweh sama pesanan. Jadi saya benar – benar tidak ada persiapan khusus sebelum hari H vaksin. Tidur dan istirahat saja kurang, tidak minum suplemen khusus juga. Jadi benar – benar berkegiatan seperti biasa. Setelah beres mengirimkan paket – paket, saya beristirahat sejenak leyeh – leyeh sebelum melanjutkan masak untuk makan siang. Itu saya sudah mengantuukk sekali. Satu jam sebelum vaksin, saya berbaring di kamar. Pengennya tidur, tapi takut kebablasan.

20 menit sebelum vaksin, saya sudah siap – siap. Meskipun tempatnya dekat sekali dengan rumah, saya memutuskan berangkat lebih awal. Naik sepeda 10 menit sudah sampai. Saya sering ke tempat ini jadinya ya sudah tau jalannya ke sana. Sampai di tempat, parkir sepeda, lalu menuju gedung tempat vaksin. Sebelum masuk ke dalam, disemprot dulu di telapak tangan di depan bangunan. Setelahnya, ada petugas menanyakan apa ya kok saya lupa. Kayaknya menanyakan jam berapa jadwal saya. Setelahnya saya ditunjukkan untuk menuju loket berapa.

Sewaktu berjalan menuju loket yang dimaksud, saya merasa terharu sampai agak berkaca mata ini. Pikiran saya lalu loncat ke Maret tahun lalu saat situasi mulai genting di Belanda. Melewati tahun lalu dengan kondisi yang amburadul dan situasi yang mencekam. Segala lockdown dari jilid 1 sampai entah jilid berapa dilalui. Segala adaptasi pun dilakukan dengan kondisi saat itu, sampai kita semua menyebutnya sebagai New Normal. Alhamdulillah keluarga kami utuh sampai saat ini, sehat melewati ini semua. Itu yang benar – benar saya sangat syukuri. Jadi saat berjalan menuju loket, perasaan saya campur aduk, antara haru dan sedih. Terharu karena kok saya melihat diri sendiri seperti disebuah scene film yang saya selalu lihat yang temanya tentang virus. Melihat diri ini yang selamat dari dari virus lalu mendapatkan kesempatan vaksin. Mengingat juga keluarga saya di Indonesia yang belum tersentuh vaksin, perasaan jadi sedih. Intinya campur aduk.

Saat di loket, diperiksa kartu identitas lalu ditanya formulir yang harus dibawa. Setelah dicek ok, saya lalu diberikan surat untuk nanti dibawa saat vaksin kedua. Beres, lalu saya menuju lajur yang ditunjukkan. Tak ada antrian. Saya lalu menuju bilik. Ditanya oleh petugasnya mau lengan sebelah mana. Saya memilih sebelah kanan. Lalu saya bertanya, saya mendapatkan vaksin apa. Dijawab, Pfizer. Setelah disuntik, diusap bekas suntikan dengan kapas, lalu diberi plester. Selesai. Sempat terpikir, orang – orang yang vaksin trus bisa foto, gimana ya caranya. Ini rasanya kok tidak ada yang memfoto dan tidak ditanya juga sama petugasnya mau foto atau tidak. Ah sudahlah, bisa vaksin saja sudah sujud syukur, kok malah mikir foto segala.

Setelahnya, menuju ruang sebelah. Menunggu 15 menit duduk di sana. Kalau selama 15 menit tersebut keadaan ok, bisa meninggalkan gedung. Selama 15 menit tersebut, saya gunakan untuk memperhatikan orang – orang yang sedang menunggu juga. Saya tidak sempat mainan Hp, karena lebih tertarik memperhatikan sekitaran. Setelah 15 menit berlalu, saya pulang sepedahan lagi. Kalau yang punya buku kuning vaksin, bisa minta stempel vaksin di gerbang keluar. Karena saya tidak punya, jadi ya langsung pulang.

Sesampainya di rumah, karena memang sebelum vaksin sudah sangat mengantuk, jadi saya langsung menuju sofa. Saya langsung tidur di sofa. Benar – benar yang langsung tertidur nyenyak sampai beberapa waktu kemudian dibangunkan oleh suami. Dia membangunkan saya karena tidak mendengar saat saya sudah sampai rumah. Jadi begitu melihat saya dalam posisi tertidur di sofa, dia khawatir kalau saya pingsan setelah vaksin hahaha. Makanya dia cepat – cepat membangunkan saya. Ternyata saya tertidur kecapekan.

KONDISI DAN SITUASI H+1 JUGA EFEK VAKSIN

Menjelang malam, lengan saya mulai terasa kemeng dan njarem kalau bahasa Jawanya. Apa ya ini bahasa Indonesianya. Yang pasti bukan sakit tapi lebih ke arah pegal dan linu. Pagi sewaktu bangun tidur, njarem dan kemengnya tambah parah. Tapi ternyata cuma 2 jam saja setelah bangun. Setelahnya perlahan menghilang sampai saya sudah tidak merasakan lagi H+1. Tapi, hari itu saya mendapatkan menstruasi. Harusnya kalau menurut jadwal, menstruasi saya masih seminggu lagi. Ini maju seminggu. Oh, mungkin ini efek dari vaksin. Mendadak mens. Selebihnya H+1 tidak ada keluhan apapun. Tidak lemas, tidak sakit, tidak sakit kepala, tidak mengantuk berkepanjangan. Hanya mens saja. Ngantuk yang setelah vaksin itu, saya pikir bukan termasuk efeknya, karena sebelum vaksin pun saya sudah mengantuk parah. H+1 itu saya masih berkegiatan seperti biasa plus menyiapkan pesanan untuk keesokan hari akan diambil olah pembeli. Jadi, efek vaksin buat saya, hanya menstruasi yang datang lebih awal seminggu. Selebihnya sampai saat ini, tidak ada keluhan sakit apapun. Saya juga tidak mengkonsmsi vitamin atau suplemen apapun sebelum dan sesudah vaksin. Semua berjalan biasa saja.

Efek vaksin ini memang berbeda – beda tiap orang meskipun mendapatkan jenis yang sama. Saya mendapatkan cerita, ipar – ipar saya sampai sakit berhari – hari setelah vaksin Pfizer. Mereka usianya lebih tua dari saya. Mama mertua, yang sudah divaksin Pfizer sejak Maret, setelah vaksin sama seperti saya, tidak mendapatkan keluhan apapun, lancar mulus. Jadi, mungkin tergantung kondisi badan ya karena umur beda dengan vaksin yang sama juga tidak bisa dijadikan patokan. Ada yang bercerita umur lebih muda dari saya, efek vaksinnya baru hilang beberapa hari kemudian : badan lemas, meriang, sakit kepala, dan lapar terus.

JADI…..

Kalau kalian punya kesempatan untuk divaksin dan akses mendapatkannya mudah, segeralah vaksin jangan ditunda lagi. Kalau saya pribadi, inilah ikhtiar saya ditengah situasi yang masih tak menentu, tidak tahu kapan akan berakhir ini. Inilah ikhtiar saya melindungi diri sendiri dan keluarga. Kalau sudah vaksin bukan berarti lalu kebar virus ya. Masih bisa kok tertular virus, tapi paling tidak kondisinya tidak separah kalau belum vaksin. Jangan juga takut dengan efek setelah vaksin. Lengan pegal itu pasti. Efek selebihnya tergantung masing – masing orang karena bisa berbeda seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya. Kalau ada kesempatan vaksin, ga usah pilah pilih mau jenis yang mana. Semua sama baiknya selama uji klinisnya ok. Kalau sudah mendapatkan vaksin lengkap, pikir berulang kali mau vaksin lagi walaupun kesempatannya ada (misalnya dapat kesempatan vaksin lagi di LN). Vaksin di Indonesia belum merata, jadi ga usah serakah. Ingat – ingat saja itu, di negara sendiri akses vaksin masih susah. Kalau sudah vaksin, please tidak usah memandang vaksin tertentu derajatnya lebih tinggi dibanding yang lain. Wes, ga perlu itu. Pun tidak usah menunda untuk vaksin hanya karena ingin mendapatkan jenis vaksin yang dianggap derajatnya lebih tinggi. Kalau ada kesempatan vaksin sekarang, gas poll langsung vaksin.

Jadi, kalaupun sudah divaksin, please jangan petentang petenteng dulu seperti sudah kebal dengan segala penyakit. Jangan seperti memakai baju Robocop lalu gagah merasa tidak bisa dihancurkan. Wong Robocop saja bisa hancur. Kalau sudah divaksin, tolong sikap waspada masih dijalankan. Kalau sudah vaksin, tolong jangan otomatis langsung berpesta pora umplek – umplek an seolah kita sudah sangat bebas melakukan apa saja. Dunia masih belum sepenuhnya aman sekarang. Waspada, lakukan yang terbaik dan paling maksimal untuk melindungi diri dan orang – orang tersayang. Kalau sudah vaksin, biasa saja dan sewajarnya saja ya. Beritahukan pada mereka yang memang belum tergerak hatinya untuk vaksin. Saya tahu, vaksin atau tidak ini semacam kepercayaan. Memang tidak bisa dipaksakan. Tapi minimal, jika kita berusaha memberitahukan, siapa tahu yang belum tergerak, akan mendapatkan hidayah kemudian hari. Kalaupun sudah vaksin dan ingin liburan ke luar negeri, tetap waspada ya. Ini Portugal statusnya kembali kode merah (Lisbon kalau tidak salah). Intinya, meskipun sudah vaksin, waspada tetap ditegakkan.

Tadi malam saya melihat berita nasional di TV, berita tentang Indonesia sudah masuk sini. Tentang kasus positif yang melonjak tinggi dan Rumah Sakit kewalahan. Di berita tersebut, diperlihatkan pasien yang tidak mendapatkan kamar, menunggu giliran bisa masuk dengan berbaring di kasur di gang antar kamar. Sedih dan terus terang saya tegang sih mengikuti berita di Indonesia. Seperti tahun lalu saja rasanya. Mencekam. Semoga keadaan di Indonesia berangsur membaik.

Di Belanda sendiri, peraturan mulai longgar sejak lockdown ketat dicabut bulan lalu karena kasus positif harian sudah sangat berkurang banyak. Tamu di rumah sudah tidak dibatasi, masker sudah tidak diwajibkan kecuali di kendaraan umum, jam malam ditiadakan, toko – toko sudah bisa buka, perpustakaan dan museum buka kembali, restaurant dan kafe tidak ada jam malam maksimal buka, guru – guru dan murid di sekolah sudah tidak perlu memakai masker, dan peraturan lainnya. Perlahan tapi pasti di sini hidup kembali normal dengan definisi baru yaitu new normal. Itu hasil ikhtiar ketat yang negara ini lakukan selama 1.5 tahun ini. Segala lokdan lokdon setahun ini. Setiap akan ada konferensi pers dari Perdana Menteri, warga rasanya bertanya – tanya kira – kira peraturan apa lagi yang minggu depan akan diketatkan. Jadi, jangan iri ya kalau kami di sini sudah mulai longgar. Negara dan warganya sama – sama menjalani ini dengan harapan semua segera selesai, meskipun tidak bisa dipungkiri golongan tak percaya Corona pun ada, pun golongan anti vaksin.

Kami sendiri, ya karena sudah terbiasa sejak tahun kalau tidak penting – penting banget tidak ke luar rumah, saat peraturan longgar begini ya tetap sama saja. Tetap lebih banyak di rumah. Jauh haripun kami sudah memutuskan tahun ini tema liburan adalah eksplore Belanda. Belum siap ke LN dengan perjalanan menggunakan pesawat atau perjalanan panjang menggunakan kereta. Kalaupun ke LN mungkin ke Jerman atau Belgia saja, tetangga sebelah. Itupun belum direncanakan. Karena sudah terbiasa dengan ritme 1.5 tahun ini, dengan adanya pelonggaran aturan, kami ya seperti biasa saja kesehariannya. Kecuali perkara masker, kami sudah tidak memakai lagi saat ke supermarket atau tempat umum lainnya, meskipun masker tetap kami bawa ke mana – mana kalau ke luar rumah (ini karena faktor sudah terbiasa). Badan sekarang seperti sudah ada alarmnya, kalau melihat supermarket atau toko sedang ramai, ya kami tidak masuk ke dalam. Konsekuensi kami tidak memakai masker, ya berarti kami harus menghindari keramaian. Itu adalah waspada buat kami. Satu yang membahagiakan dari pelonggaran peraturan ini adalah kami bisa kembali berkunjung ke Museum dan Perpustakaan (ini sudah sejak sebulan terakhir). Rasanya legaa sekali dan senang bisa kembali ke museum dan perpustakaan.

Bagian kedua dari tulisan ini akan saya lanjutkan kalau sudah mendapatkan vaksin yang kedua, akhir Juli. Sehat – sehat selalu kita semua.

-30 Juni 2021-

14 thoughts on “Seputar Vaksin Covid (Efek Samping) – Bagian Pertama

  1. Aduh Den, udah gak bisa ngomong aku side effects. Aku ngantor satu jam terus minta log out, gak kuat. Keliyengan, mual jadi gak napsu makan, terus lemes bgt, haus. Hausnya ini paraaaah, sampai penuh air perut tapi gak bisa pipis.

    I’m grateful sih kita udah dapat vaksin dan mulai agak relax. Semoga kita segera kembali normal ya.

    1. Memang beda2 ya Ail reaksi vaksin di badan penerima. Syukurlah kita semua sudah dapat vaksin. Semoga pandemi mulai mereda meskipun varian ini itu mulai terdengar lagi.

  2. Aku vaksin kedua sebentar lagi, deg-degan rasanya, soalnya kata orang yang bisa dapet side-effect setelah yang kedua walau yang pertama lancar2 tanpa side-effect apapun. Yang penting setelah divaksin bisa (sedikit) menghela napas lega.

    1. Aku baca2 juga kayak gitu Va. Malah suamiku cerita efek samping yang agak ngeri gitu. Duh wes sing penting kita berusaha semaksimal mungkin. Perkara nanti, ya dipikir nanti saja.
      Semoga lancar2 ya Va vaksin keduanya. Kalaupun ada efek samping sakit, semoga ga lama dan cepet membaik. Semangat!

  3. Aku ikutan terharu bacanya. Kayak yang, “akhirnya bisa vaksin juga” mengingat pandemi ini udah jalan setahun dan kayaknya masih panjang ujungnya. Aku tinggal di Palembang kota aja untuk vaksin ini masih susah mbak. Dalam artian, masih mendahulukan yang usia > 50. Begitu ada kesempatan untuk muda, jumlahnya sedikit dan yang minat banyak banget.

    1. Asli kayak melihat diri sendiri di scene2 film tentang virus yang sering kutonton. Jadi kayak “lho, aku kok kayak yang ada di film ya, mengalami masa2 dunia bertarung dengan virus.”
      Wah, sebesar Palembang aja masih susah ya Vaksin. Makin cemas ya ini. Baik2 ya Om di sana. Sehat2 semuanya sekeluarga. Nanti kalau sudah aman terkendali (entah tahun berapa), langsung cussss jalan2 lagi.

  4. Aku juga baru aja di vaksin, pas seminggu yang lalu. Ternyata cukup bikin lelet selama dua hari. Pas 24 jam pertama sih rasanya cuma sakit kepala yang rasanya aneh (kayak sakit kepala kehujanan) terus nyeri di tempat di suntik. Tapi setelah 24 jam tuh macem-macem, mulai dari capek, lelet banget mikir (“abis ini apa ya?” beberapa kali dalam sehari), sakit kepala yang ga kelar2, badan terasa dingin, terus di hari Jumat ada sedikit demam dan bersin-bersin. Tapi pas hari Jumat itu aku bandel, males juga di rumah terus karena takut mindset “Duh gue sakit nih kayaknya”, jadi aku nekad makan sushi ama suami. Eh ternyata abis makan sushi sembuh. Emang mesti diajak makan enak ya hehehehe…

    1. Iya efeknya memang beda2 ya tiap orang. Ga mandang usia juga. Semoga yang dosis kedua, ga separah yang pertama ya. Kalau yang pertama makan sushi, nanti yang kedua sudah musti dipkirkan dari sekarang makan di mana haha

      1. R aja vaksin kemarin, ga berasa apa-apa, berasa pegal di tempat suntiknya baru pagi ini. Ga bisa pukul rata memang.

  5. aku sudah tuntas vaksin, syukurlah.. ngga ada keluhan, malah mens mundur.. setelah minggu lalu ada kabar bahwa anak 18 tahun bs vaksin, hari ini ada kabar vaksin bisa diberikan ke anak mulai usia 12tahun.. aku bersyukur masih ada terselip harapan2 sbg kabar baik seperti ini.. kabar sedihnya memang dominan, ya apalagi yg masih saja ngga percaya ya masih banyak..

      1. Akunmu misterius Buk hahaha. Suwun ya wes komen. Tak komen nang kene ae.

        Dirimu berarti team telat mens ya efeknya. Opo ga deg2an iku telat mens hahaha lek aku wes mrotol atiku lek sampek telat (maneh).
        Selalu ada harapan memang buk, tapi ditengah gempuran begini, rasa cemas itu ga terelakkan lebih besar. Dungo dinungo ya kita.

  6. Mungkin karena penduduk banyak, di indonesia sangat banyak yang belum disuntik vaksin covid. Saya juga belum suntik vaksin. Dulu sudah daftar melalui perusahaan tempat kerja. Belum dapat giliran juga untuk disuntik sampai saya meninggalkan perusahaan awal juni ini.

    1. Penduduk banyak, stok terbatas, distribusi yang ga merata. Jadinya ya yang dipelosok2 masih belum terjangkau. Sehat2 selalu ya Pak Alris.

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.