Perasaan Iri Pada Hasil

Pagi ini, saya berbincang dengan seorang sahabat. Salah satu topik yang kami obrolkan, jadi insipirasi untuk saya tuliskan di sini. Sebenarnya hal ini juga mengusik pikiran saya akhir – akhir ini. Tentang perasaan iri pada hasil, bukan pada proses.

PEKERJAAN

Saya teringat saat masih bekerja di Indonesia. Setiap tahun, selama sekitar 13 tahun bekerja penuh waktu (pada beberapa perusahaan berbeda), saya pasti mendapatkan promosi. Terutama saat bekerja di kantor yang terakhir. Posisi dari bawah saat masuk, sampai mempunyai posisi yang lumayan saat saya memutuskan berhenti dari kantor tersebut. Sering mendengar desas desus tentang saya dari departemen yang lain, baik itu yang diucapkan langsung pada saya maupun dengar dari orang lain semacam begini : Den, enak banget ya jadi loe, tiap tahun dapat promosi. Kita – kita yang sudah lebih lama kerja, jangankan promosi, naik gaji aja seret. Iri tahu sama loe anak baru tapi karir melejit. Atau Den, kerjaan loe enak bener ya, cuma jalan – jalan tugas ke luar kota, tapi akhir tahun selalu naik jabatan. Atau yang bikin panas telinga denger dari orang lain : Deny sih ga heranlah kalau tiap tahun bisa promosi mulu, nah dia deketnya ama bos – bos gede. Gampang aja buat dia naik level, padahal kerjaannya jalan – jalan mulu. Balik kantor ngurusin claim, meeting, jalan – jalan lagi.

Mereka cuma melihat hasilnya saya tiap tahun dapat promosi, naik level, naik gaji. Yang mereka tutup mata padahal tahu dengan pasti kalau kerjaan saya tidak hanya sekedar “jalan – jalan” melainkan ya memang kerja tapi tidak di kantor. Mereka tahu pasti kalau nyaris tiap malam saya lembur dan pulang dini hari. Mereka tahu pasti kalau sedang di luar kota, saya jelas bukan jalan – jalan tapi ngurusin kerjaan di lapangan trus sampai hotel masih harus mengerjakan laporan ini itu. Mereka tahu pasti kalau saya dekat dengan bos – bos besar karena ya memang laporan saya ke mereka dan saya itu bawahan langsung mereka. Jadi, orang – orang yang menuding dan bilang iri tersebut tutup mata dengan segala proses berdarah – darah yang saya lewati, tapi yang mau dilihat bahwa saya ini enak kerjaannya sim salabim langsung naik jabatan, naik gaji padahal anak baru. Mereka padahal tau kerjaan saya tidak mudah dan apa yang saya dapatkan tiap tahun itu ya hasil dari kerja keras saya, bukan hanya leyeh – leyeh semata. Heran, gitu kok ya sempat – sempatnya iri wong saya berhak atas segala pencapaian tersebut.

Ya kalau mau hasilnya saja tapi tidak mau melewati prosesnya, akeh koncone Cak! Ini padahal yang dilihat mata tiap hari, masih saja tudingan ini itu disampaikan. Kalau mau enaknya saja tanpa mau melewati prosesnya, ya jadilah anak sultan yang tanpa bekerja keras sudah bergelimang harta macam Paman Gober.

PANDEMI

Saat ini, negara – negara di Eropa (Saya tidak terlalu mengikuti perkembangan saat ini sebenarnya untuk seluruh negara di Eropa, hanya tahu beberapa gelintir saja beritanya), sudah mulai ada pelonggaran aturan terkait pandemi. Di Belanda sendiri, sabtu besok sudah ada banyak sekali pelonggaran aturan misalkan tidak adanya lagi kewajiban memakai masker di semua tempat kecuali tempat – tempat yang susah menjaga jarak misalkan di kendaraan umum, sudah bisa menerima tamu tanpa ada batasan maksimal, sudah bisa berkumpul dengan banyak orang di luar ruangan tanpa batas maksimal dan sebagainya. Kehidupan perlahan tapi pasti sudah menuju normal. Vaksin pun di sini cepat sekali sudah menjangkau umur yang muda. Jadwal konser pun sudah mulai padat.

Lalu saya membaca sliwar sliwer status dari mereka yang di Indonesia, menuliskan semacam begini : Iriiii banget dengan Eropa yang sudah mulai berjalan normal lagi kehidupannya. Kita – kita yang di sini jalan di tempat malah nambah banyak kasus baru. Kapan deh Indonesia ini kayak Eropa, sudah enak banget sekarang bisa nonton konser, nonton bola rame – rame tanpa masker.

Kalian – kalian yang menulis itu, yang sehari – harinya tetap runtang runtung ha ha hi hi dempet – dempet an, masih doyan nongkrong bareng, senam rame – rame satu ruangan tanpa ada jarak yang cukup luas, datang ke kondangan rame – rame penuh sesak, liburan tetap jalan lintas provinsi kota negara, lalu dengan sadar menulis status tersebut iri pada keadaan Eropa saat ini. Pernah tidak timbul iri pada kami di sini yang 1.5 tahun ini berjuang mengikuti segala anjuran pemerintah. Pernah tidak terbersit iri pada kami di sini yang mau ketemu orangtua saja harus kami tahan – tahan sekian bulan lamanya padahal jarak antar rumah tidak terlalu jauh. Pernah tidak kalian iri pada kami yang tidak bisa keluar sampai malam karena ada jam malam yang kalau dilanggar denda besar menanti. Pernah tidak kalian iri pada banyak usaha di sini yang bangkrut karena pandemi berlangsung, banyak yang terkena pemutusan hubungan kerja, pada anak – anak yang tidak punya kehidupan normal bisa bermain dengan yang seusia dan harus puas main di rumah saja. Pernah tidak ada rasa iri saat kami benar – benar di rumah saja tidak bisa bertemu teman – teman, mau ke sana sini segalanya terbatas karena lokdan lokdon sampai berseri – seri. Pernah tidak kalian iri saat kami penuh rasa cemas mengirim anak ke sekolah padahal situasi masih belum aman benar, deg – degan kalau ada apa – apa nantinya dengan anak bagaimana. Pernah tidak kalian iri dengan rasa takut yang kami rasakan dengan adanya pandemi ini sehingga kami dengan sadar diri benar – benar menjaga diri di sini supaya semua cepat selesai, sadar menghindari kerumunan supaya virus tidak makin merajalela.

Yang kalian lihat saat ini adalah hasilnya dari proses yang berdarah – darah dari semua lapisan di sini selama 1.5 tahun. Kalian – kalian yang menulis status seperti itu, bisa lho seperti kami saat ini, jika kalian ambil bagian berpartisipasi tertib sadar diri untuk tidak makin memperkeruh keadaan dan suasana di Indonesia. Bisa lho ambil bagian yang paling gampang saja untuk tidak berkumpul tidak jelas kepentingannya supaya kasus positif di sana semakin menurun. Bisa lho menahan sejenak hasrat untuk tidak liburan kalau kondisi saat ini belum memungkinkan, kalau tidak ada kepentingan yang sangat mendesak. Jadi, kalian yang menulis iri pada kondisi di Eropa saat ini, sudah seberapa jauh partisipasi kalian membuat kasus positif di sana makin menurun. Sudah seberapa besar kesadaran kalian menjaga diri sendiri dan orang lain. Sebelum menuliskan kata iri pada hasil saat ini, pernahkan kalian iri pada proses yang kami jalani 1.5 tahun ini? *Iya, ini saya menuliskan dengan rasa gemas. Gregetan nemen rasane. Kalau kata sahabat saya tadi : Ikhtiarnya beda, hasilnya juga beda.

Jadi, jangan iri kalau ikhtiar kalian sebatas ongkang – ongkang kaki nangkring kanan kiri rame – rame setiap hari di tempat keramaian, trus nulis iri dengan kondisi di Eropa saat ini.

KEHIDUPAN DI LUAR NEGERI

Membaca komen dari Eva, jadi terpikir menambah tulisan ini satu poin. Saat masih tinggal di Indonesia, setiap melihat kenalan atau teman yang tinggal di luar negeri, suka terbersit rasa iri. Merasa kalau tinggal di LN seperti di Eropa atau Australia itu kok rasanya enak sekali. Berasa nyaman melihatnya, berasa kehidupan mereka kok enak sekali. Nampaknya saat itu saya termakan tampilan di film romantis yang pengambilan gambarnya tentu saja diambil bagian yang indah – indahnya saja.

Sekarang, saat sudah tinggal di Eropa, jadi tahu aslinya seperti apa. Yang ditampilkan mereka yang saya lihat dulu memang tidak salah. Sekali lagi, mereka menampilkan hanya yang ingin ditampilkan saja. Ya cerita dibaliknya biasanya disimpan dalam tumpukan baju yang belum sempat diseterika. Setelah saya mengalami sendiri saat ini tinggal di Belanda, woohhh ternyata yo ga semulus yang dibayangkan dahulu kala. Penuh perjuangan. Dari adaptasi bahasa, adaptasi cuaca, lingkungan, masyarakat sekitar dsb. Belum lagi susah minta ampun cari kerja yang sesuai minat, latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja sebelumnya. Belum lagi drama – drama pertemanan, kangen dengan makanan asli Indonesia, kangen dengan saudara – saudara, tidak punya saudara sedarah di tanah rantau, birokrasi setempat, semua dikerjakan berdua tanpa ada mbak yang membantu, mau makan tempe aja penuh perjuangan, dan segunung permasalahan yang ada.

Tinggal di sini memang enak, nyaman, dan menyenangkan. Tapiii itu semua tentu saja tidak afdol kalau tidak disertai lika liku kerikil dan sandungan. Jadi, jangan melihat enak – enaknya saja ya kalau melihat kami yang di sini. Kami setiap hari berjuang dengan segala adaptasi yang ada. Jangan melihat yang tinggal di LN itu otomatis bergelimang harta ya. Kami di sini tidak kalah kencangnya untuk menabung dan berhemat. Maklum, bukan keturunan sultan yang bisa mandi uang setiap hari. Jangan melihat mereka yang pekerjaannya sudah ok itu mendapatkannya dengan mudah ya. Ada perjuangan panjang dibaliknya, berdarah – darah sampai posisi bagus saat ini. Jangan melihat kalau menikah dengan WNA itu pasti jaminan mutu nyaman ya. WNA bukan mesin ATM yang kapanpun bisa mengeluarkan uang. Ada cerita yang sering tak ditampilkan bagi pasangan yang mengikuti tinggal di LN. Ada harga yang harus dibayar saat meninggalkan tanah air.

Jadi, tidak perlu iri dengan kami yang tinggal di LN. Kita sama, berjuang setiap hari dengan permasalahan masing – masing. Saat musim dingin, perjuangan tinggal di sini jadi semakin berlipat. Semua tempat pasti ada enak dan tidaknya. Sudah satu paket. Kita sama, bahagia tiap saat dengan berkah masing – masing. Tidak usah iri pada mereka yang menikah dengan WNA. Percayalah, yang kalian lihat nampak mulus – mulus saja, tidak selalu seperti itu. Kembali lagi, apa yang kalian lihat di media sosial, itu adalah yang memang ingin ditampilkan. Bagian gosrek WC kan ya males untuk ditampilkan di media sosial. Bagian berantem dengan pasangan masak iya musti dipamer di medsos. Banyak bagian – bagian kami simpan sendiri. Tak perlu semua orang tahu.

Hidup memang sawang sinawang. Melihat yang lain nampak lebih baik hidupnya. Padahal kalau melihat hidup sendiri, tak terhitung berkat yang bisa disyukuri. Jadi, sering – sering menengok diri sendiri ya, jangan terlalu lama melihat yang jauh dari mata. Nanti mata jadi sakit dan hati jadi jauh dari rasa syukur.

MEDIA SOSIAL

Dengan adanya media sosial yang berlomba – lomba ingin menampilkan apa yang terbaik dari penggunanya, tak hayal hal tersebut gampang memantik rasa iri dari yang melihat. Ada satu yang terlupa, bahwa yang ditampilkan mayoritas adalah hasilnya, bukan prosesnya.

Ada yang menampilkan badan jadi langsing dan berbentuk, lalu jadi iri. Membandingkan dengan diri sendiri yang badannya masih ginuk – ginuk. Sudah tanya belum pada yang bersangkutan prosesnya bagaimana badan jadi bagus begitu. Kalau sudah dikasih tau prosesnya dengan mengatur pola makan lebih sehat dan rutin olahraga, mau mengikuti tidak? Jangan – jangan tidak mau bersusah payah berusaha, hanya berhenti pada rasa iri saja lalu jadi penyakit hati.

Kalau melihat ada rumah kece dengan desain yang bagus, lalu timbul rasa iri dan merutuki diri sendiri kenapa tidak bisa punya rumah semacam itu. Sudah pernah berusaha semaksimal mungkin belum supaya punya rumah impian semacam itu? Pernah menjadikan postingan rumah bagus tersebut sebagai motivasi untuk semakin rajin menabung, rajin berinvestigasi, mencari pekerjaan yang lebih baik supaya dapat gaji yang lebih besar? Jika semua sudah dilakukan tapi rumah yang diimpikan tersebut belum terjangkau, ya sudah syukuri yang ada sekarang. Jangan merutuki diri sendiri dan melihat rumah yang ada saat ini terlihat jelek. Bagaimanapun juga, tempat berteduh yang sekarang pun hasil dari keringat sendiri, tidak mengutang, dan jadi hunian yang sangat layak. Mungkin nanti ada rejeki lebih dan berjodoh dengan rumah yang diinginkan, itu urusan nanti saja. Kalau terlalu jauh melihat, terkadang suka lupa mensyukuri yang ada di depan mata.

Kalau melihat postingan anak yang sudah pintar ini itu lalu timbul rasa iri kenapa anak sendiri tidak bisa, sudah pernah tanya prosesnya bagaimana anak tersebut sudah bisa? Sudah pernah tahu konsep bahwa tiap anak unik dengan kemampuan yang berbeda? Sudah pernah tahu proses dari orangtuanya bagaimana mengajari mereka? Apakah pernah bertanya kepada anak tersebut dia bahagia dengan apa yang dia bisa sekarang? Pernah melihat sendiri apakah mereka menikmati prosesnya? Jangan – jangan yang melihat hanya silau pada hasil karena tidak pernah ditampilkan prosesnya seperti apa. Silau pada senyuman orangtua dan si anak. Lupa bersyukur bahwa anak sendiri pun kemampuannya banyak yang bisa dibanggakan.

Hanya karena beda dengan anak orang lain di media sosial, mata jadi seperti terbutakan dengan apa yang ada di depan. Ini saya mendapatkan banyak cerita beberapa tahun lalu kalau ibuk – ibuk suka membandingkan anaknya dengan anak artis A, pesohor B atau anak siapapun yang kok dirasa pintar sekali sudah bisa salto, sudah bisa koprol, bisa menyelam sambil dansa -misalnya- sedangkan anak sendiri kok ga bisa. Lalu mengeluh dan memarahi anaknya kenapa kok ga bisa begini begitu. Lah kan ya sedih kalau begitu. Jangan begini ya para orangtua. Jangan silau dengan apa yang nampak di media sosial. Kita tidak tahu dibalik apa yang ditampilkan di sana.

Banyak hal – hal di media sosial yang bisa dijadikan contoh bagaimana hal – hal yang nampak sederhana saja gampang menimbulkan rasa iri. Kita lupa, bahwa yang tertampilkan adalah hanya apa yang ingin mereka tampilkan/ Seringnya, mereka atau kita semua menampilkan hasil akhirnya saja. Tentu saja ingin menampilkan yang indah – indah saja. Yang sepet, kita simpan sediri. Prosesnya sering tidak ditampilkan, lalu membandingkan proses dan keadaan saat ini dengan hasil yang sudah mereka capai. Ya, tidak apple to apple.

MENGELOLA RASA IRI JADI MOTIVASI

Bedakan rasa iri dan kagum ya. Kagum itu benar – benar memuji, takjub, tercengang dengan hasil yang orang lain lakukan, atau proses yang mereka sedang kerjakan. Sedangkan iri, ada rasa semacam kurang senang dengan apa yang dilihat pada orang lain, pada apa yang sedang mereka kerjakan, pada apa yang terjadi pada lingkungan sekitar lalu membandingkan dengan diri sendiri. Iri ini asosiasinya dengan rasa negatif.

Bisa lho sebenarnya menjadikan rasa iri sebagai motivasi. Ini bukan toxic positivity ya, hanya berbagi pengalaman dari saya yang dulu saat masih muda sering terbersit iri pada orang yang bisa ini itu. Seiring bertambahnya umur, pikiran jadi lebih jernih. Bisa diajak untuk berpikir lebih positif. Saya lalu mengelola rasa iri yang saya miliki menjadi rasa kagum lalu menjadikan motivasi supaya saya bisa seperti itu. Misalkan saat ini, saya punya akun IG khusus untuk jualan usaha rumahan yang saya miliki. Mayoritas, saya mengikuti akun – akun yang juga jualan kue dan roti atau mereka yang berkreasi di bidang tersebuh. Saya suka sekali dengan yang mereka lakukan. Hasil kreasinya sungguh mencengangkan sangat bagus. Alih – alih ada rasa iri, saya malah suka sekali melihat mereka berkreasi, kagum dengan proses dan hasilnya. Lalu saya memotivasi diri sendiri pasti suatu saat bisa sebagus mereka kalau banyak latihan. Jadinya sekarang saya sering latihan dengan melihat tutorial dari mereka. Saya bersemangat sekali berlatih.

Saya sering mendengar kalau IG itu toxic sekali. Dulu waktu saya masih punya akun IG (tahun 2015) rasanya ya saya santai aja tuh ga ada rasa iri dengki sama postingan orang. Sekarang punya akun jualanpun ya biasa saja. Malah sekarang senang karena dapat banyak ilmu gratis.

Medianya tidak salah. Mungkin yang salah adalah cara pandang, pikiran, hati dan salah follow orang. Kalau sudah engap di hati dan irinya semakin menumpuk jadi dengki lalu tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki, mungkin itu saat yang tepat untuk keluar sebentar dari hingar bingar media sosial. Kembali ke kehidupan nyata dan melihat segala yang nyata di depan mata. Menapak kembali ke bumi supaya lebih sadar bahwa bagaimanapun hidup kita ini dalam dunia nyata, bukan hanya memandangi layar media sosial saja.

INTINYA

Rasa iri itu wajar, namanya juga manusia. Kalau tidak punya rasa iri malah dipertanyakan sisi kemanuasiaannya. Yang tidak wajar kalau rasa iri tersebut malah menghambat aktifitas sehari – hari dan lupa bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki saat ini. Yang jadi tidak wajar itu kalau rasa iri lalu menjadi dengki dan jatuhnya jadi fitnah sana sini, sibuk menjatuhkan pihak yang dilihat lebih cemerlang.

Iri sewajarnya, secukupnya, lalu bangkit dan lakukan yang terbaik versi kita. Irilah pada sebuah proses, bukan hanya hasil semata. Supaya bisa menjadikan rasa iri itu menjadi penyemangat. Kelola rasa iri jadi sebuah motivasi. Jadikan motivasi supaya kita makin hari semakin baik.

Selamat berakhir pekan!

*Aslinya pembicaraan tadi pagi dengan sahabat saya itu seputar pandemi. Jadinya saya malah membahas sana sini di tulisan kali ini. Saking gemese karo wong – wong sing nulis iri karo Eropa dan mbandingno karo Indonesia tapi senengane kemruyuk gerombolan ga jelas tujuane opo.

-25 Juni 2021-

14 thoughts on “Perasaan Iri Pada Hasil

  1. Kalau membahas tentang perilaku negara asal kita, mbak itu memang nggak ada habis-habisnya ide hahaha. Semoga bisa jadi bahan perenungan bagi yang masih iri hati.

    Eh sebetulnya ini bukan perilaku negara +62 saja sih. Karena saya mengikuti juga medsos asing, banyak orang Amerika yang jealous sama orang-orang New Zealand saat mereka sudah pada bikin pertandingan di stadion.

    Selama masih ada kesenjangan yang jomplang, sulit menghilangkan rasa iri yang spontan. Kecuali seluruh dunia bisa empati ya nggak pamer-pamer kegembiraan saat di belahan lain lagi kesusahan. Tentu saja itu tidak mungkin terjadi,.Kalau di skala kecil paling kita sendiri yang harus peka atas apa yang kita tunjukkan.

    Ada nasehat yang bagus supaya nggak kepikiran, fokuslah pada apa yang lancar bukan yang macet. Walaupun sekarang jumpalitan, saya salut karena di beberapa tempat ada rakyat pada gotong royong. Sebagai contoh di kampung begitu pandemi merebak pada bikin pengawasan darurat jauh sebelum PPKM. Ada dokter, pengawas, warga, saling bantu kirim makanan, lockdown wilayah dsb. Guyub banget. Yang masih sempat jealous itu nggak solutip kalau kata bu Tedjo.

    1. Ya bagaimana lagi, wong aku sendiri yang mengalaminya, jadi yang kutuliskan ini bukan sekedar ide. Tapi ya nyata nampak depan mata keluhan2 itu dituliskan dengan jelas. Kalau aku menuliskan hal – hal yang berhubungan dengan Indonesia, bukan berarti aku selalu ingin membandingkan hal yang baik atau buruk2nya saja. Terkadang orang salah penilaian dengan apa yang ingin kusampaikan. Dipikir aku setelah tinggal di sini, trus maunya membandingkan atau membahas terus. Membandingkan atau membahas itu ga bisa terelakkan ya. Justru kalau tinggaljauh begini, membahasnya lebih objektif karena sudah mengalami beda budaya.

      1. Wajar kok membandingkan. Nggak usah tinggal di luar negeri manusia pada dasarnya suka membandingkan. Coba duduk di mall lihat orang lewat, pasti bandingin mana yang cakep kan hahaha..

        Tapi memang ada tema2 tertentu dimana orang yang tinggal di luar lebih sensitif dan respon self defense nya amat kuat, ini saya perhatikan ya, mungkin karena sudah banyak alami perlakuan yang tidak menyenangkan atau judgment dari masyarakat negara asal? Padahal ada yang mengajak diskusi biasa-biasa saja sama seperti dengan sesama orang di dalam negeri. Tidak semua orang menganggap mereka yang tinggal di luar negeri itu berbeda.:)

        Semoga tidak ada perkataan yang menyinggung ya.

        1. Tidak ada perkataan yang menyinggung. Hanya, tidak semua juga yang membandingkan apa yang dialami sekarang dengan keadaan tempat asal punya latar belakang tidak nyaman sebelumnya. Bisa saja ya memang iseng saja membandingkan lalu penangkapan pembaca yang dianalisis terlalu jauh jadi nyampenya seperti punya sentimen pribadi. Padahal ya hanya asumsi pribadi yang baca seperti itu. Yang menulis yang mengalami sendiri, dipikir lalu membesar2kan suatu hal padahal ya yang nulis yg mengalami sendiri apa yang dituliskan.
          Akhirnya kembali lagi pada hukum, tidak semua hal bisa menyenangkan semua pihak. Kalau sudah menuliskan sesuatu dan diunggah, kuasa sudah bukan pada tangan penulis lagi. Tidak jadi masalah.

  2. Nah ini Mbak, aku pernah dengar podcast yg bagus mengenai “Why do we compare ourselves to others”, intinya ada dua kemungkinan, yaitu “to feel better” atau “to be better”. Klo “to feel better” ya cuma kasi makan ego aja, ah aku lebih bla bla daripada dia. Klo “too be better” itu menjadikan hal-hal baik pd orang lain sebagai motivasi buat kita memperbaiki diri. Terima kasih sudah sharing soal ini Mbak, semoga sehat selalu dan laris usaha bakerynya

    1. Thank you Seraphine sudah sharing tentang podcast tersebut. Jadi makin luas ini wawasanku. Dan jadi ada bahan perenungan.
      Kadang kita musti sering2 ngaca sih dalam kehidupan sehari2. Kadang ga sadar juga dalam keseharian nyelip iri dengki. Tapi rasanya tambah tua tambah ga kepikiran. Lebih sibuk ngejar tenang dengan hidup minimalis dan yang ada saja.
      Kamu juga yaa sehat selalu di sana. Aminnn buat doanya 🙂

  3. Setuju di banyak hal di tulisan ini mbak! Yang pertama, aku beneran gemes sama mereka yang dikit2 nanya “Wah enak ya disana udah opsional pakai masker” “Wah enak ya disana lockdownnya selesai” dan lain-lain. Yang diliat kok enaknya aja, pada gak tau sih ya kita lockdown berbulan-bulan, gak bisa cari hiburan di luar, semacam mau makan di restoran aja susah, sampe akhirnya angka vaksinasi naik dan kita berhasil mencapai hidup dengan masker opsional seperti ini. Mungkin pada mau enaknya aja tapi kalo negaranya disuruh lockdown pasti banyak misuh-misuh. Kayak yang terjadi sekarang, banyak sekali konten covidiot yang sok kritis soal PPKM, apalah itu singkatannya. Padahal itu PPKM kalo dibandingkan dengan lockdown Belanda atau negara lain yang lebih ketat mah bukan apa-apa.

    Yang kedua aku juga setuju di poin pekerjaan, terutama yang mikir dapet pekerjaan bagus tuh gampang. Hadeh, aku butuh waktu 10 bulan dapet kerjaan kantoran, itu juga di sambi kerja di toko nyendok2in makanan, pekerjaan yang beneran bikin tepar setelah selesai shift. Yang susah2 begini tu ya pada ga mau diliat, iri nya cuma pas udah dapet kerjaan bagus dan gaji oke.

    1. Lalu ternyata hari ini konpers ada pengetatan lagi hahahaha londo2 ini beneran ga belajar dari tahun lalu ya. Begitu dibebaskan, langsung lupa daratan. Jadi orang2 di Indonesia memang ga perlu iri sih, lha wong kasus positif di sini naik lagi *miris.

      Karena pas bagian nyendokin makanan ga kamu upload di medsos, makanya mereka ga tahu kerja di balik layar kaca makanan. Yah, dipikir kalau di LN auto bergelimang harta.

    1. Setuju! nyawang uripe bergelimang harta, tapi ga ngerti di baliknya gimana. Atau sebaliknya.

  4. Hear hear. Banyak yg cm tau hasil gatau blood sweat and tearsnya orang2. Yang suka bilang “Enak ya kamu kerja di luar negeri” gatau cerita dibelakangnya

    1. Wahh iyaa bener Va! bagian kehidupan di LN ini juga sering disirikin sama yang di Indonesia. Dikiranya kalau tinggal di LN, apapun cara kedatangannya, mau karena pekerjaan, mau karena pernikahan, ataupun karena belajar, dipikirnya auto kaya raya bergelimang berlian. Belum tahu aja gimana rasanya gimana. Banyak bahagianya, tapi ya jatuh bangun nyusruknya juga ga kalah banyak. Kutulis ahh bagian ini, thanks Va tambahannya.

  5. Sejak Maret 2020 saya dan keluarga satu rumah tidak pernah lagi keluar rumah untuk urusan lain selain pekerjaan yang memang tidak bisa WFH (kami sekeluarga tenaga medis). Semua kebutuhan rumah tangga beli daring. Bahkan saat perayaan keagamaan, kami pun hanya bertemu keluarga secara daring. Seluruh protokol rekomendasi WHO dan Pemerintah kami jalankan seketat mungkin. Dengan keadaan Indonesia saat ini, perilaku warganya maupun kebijakan pemerintahnya, tidak terlihat adanya cahaya di ujung lorong sana. Sulit untuk menekan rasa iri terhadap keadaan di negara-negara lain. Apa boleh buat, kami hanya bisa terus berusaha. Semoga hasilnya tidak menghianati usaha.
    Salam sehat!

    1. Sehat – sehat terus yaa di sana. Memang saat ini yang bisa kita handalkan adalah diri sendiri dan keluarga terdekat. Mau mengandalkan orang lain supaya taat atau pemerintah supaya lebih tegas, rasanya akan menguras emosi. Jadi, selamatkan diri sendiri dan keluarga terdekat akan lebih meringankan hati.
      Terima kasih ya buat perjuangan dan pengorbanan kalian sekeluarga selama Pandemi ini. Pasti tenaga dan mental terkuras habis.

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.