Kembali Aktif Menggunakan Media Sosial

Suatu senja di danau

Setelah hibernasi sama sekali tidak menggunakan media sosial yang saya punya (twitter dan FB) selama nyaris 7 bulan, akhirnya pada bulan Juli saya memutuskan kembali ke pelukan twitter dan FB. Cerita kenapa saya memutuskan tidak bermedia sosial sejenak, pernah saya tuliskan panjang lebar di sini. Awalnya masih ragu dan menimbang banyak hal, apa memang sebutuh itu dengan media sosial, mau ngapain lagi sih wong ga bermedia sosial toh saya baik – baik saja. Banyak manfaatnya, bahkan saya buat tulisan khusus manfaat saya tidak menggunakan media sosial. Asal masih bisa nulis di blog, sudah cukup. Bahkan saat saya memutuskan untuk punya usaha dari rumah, sempat malas – malasan untuk punya akun IG walaupun hanya untuk kepentingan bisnis. Malas harus ngurus akun, tapi kan ya saya butuh promosi juga. Akhirnya selama masa hibernasi media sosial, saya malah nambah akun IG buat jualan. IG atas nama Sophie Bread and Sweets *promosi sekalian di sini. Jadi ini satu – satunya akun IG yang saya punya, isinya ya selain buat jualan, promosi, juga berisi aktiftas per-baking-an. Saya tidak follow akun pribadi kecuali beberapa gelintir orang saja. Kalaupun saya follow, karena tahu yang bersangkutan adalah pembeli potensial atau punya hobi baking juga. Selebihnya, saya hanya follow akun jualan dan akun pribadi yang berhubungan dengan roti, sourdough, atau baking yang manis lainnya. Mungkin dari yang baca blog saya lalu follow akunnya Sophie, terima kasih. Kalau saya tidak follow balik, sudah tahu ya alasannya. Akun IG khusus untuk jualan dan berbagi cerita di IGS tentang kegiatan per-baking-an saya. Jadi, saya tidak follow akun pribadi yang isinya cerita keseharian.

Nah, saat kembali ke twitter, saya sempat kagok. Mau menulis apa nih, lihat tampilan twitter kok nampak beda. Trus pas buka FB, kagok juga. Mau ngapain di FB. Lalu saya buat Page untuk jualan. Setelahnya saya buat status pamer cerita berat badan yang turun 25kg *teteup ya, pertama muncul langsung pamer. Ya gimana, saya kan mau promosi Sophie, nah kalau ujug – ujug muncul langsung ngomong Sophie kan kurang smooth. Jadi ya, basa basi dulu. Begitu juga di twitter, saya bikin cuitan receh dulu awalnya. Lalu saat sudah mood, baru saya promosi Sophie.

Sudah 2.5 bulan kembali berkutat dengan media sosial, bahkan nambah IG, ada beberapa hal yang saya amati perbedaan sebelum dan setelah hibernasi :

  • LEBIH TERKONTROL. Jadi, sekarang sayalah yang mengontrol media sosial, bukan sebaliknya. Tahun lalu kan parah sekali diri ini dalam bermedia sosial. Merasa saya yang dikontrol dan tidak bisa mengendalikan diri mainan twitter. Setelah kembali lagi, saya bisa merasakan bedanya dan sekarang lebih santai dengan twitter. Kalau lagi malas, ya bisa sampai beberapa hari tidak menengok twitter. Bahkan FB pun bisa sampai 1-2 minggu terlupakan tidak dibuka sama sekali. Kalau IG, sampai saat ini saya masih belum klik. Jadi masih on off gitu mood dengan IG. Makanya kalau saya sedang tidak ingin posting apapun di IG, bisa berhari – hari tidak menengok IG sama sekali. Kalau ada DM pesanan, baru saya buka. Kalaupun sudah posting foto atau story, setelahnya ya saya lupa mau nengok lagi. Ingatnya keesokan harinya : lho kemaren kayaknya bikin IGS, halusinasi apa gimana ya. Setelah saya tengok lagi, IGS nya sudah masuk arsip. Sampai lupa. Senang sih, sekarang sudah tidak punya keterikatan kuat dengan media sosial.
  • TIDAK TAHU BANYAK HAL, TAK MENGAPA. Karena sekarang sudah tidak terlalu ngotot lagi dengan media sosial, jadi kalau sedang berjauhan lalu kembali lagi, membaca TL rasanya kok ada yang ketinggalan ya tentang suatu berita. Saya santai saja. Tidak berusaha keras mencari tahu. Jadi tidak terlalu mikir kalau ternyata saya tidak tahu banyak hal di media sosial. Itu normal dan wajar.
  • TETAP FOKUS DAN PRODUKTIF DENGAN DUNIA NYATA. Sekarang media sosial aktif yang saya punya, ada 3. Tapi, dengan tiga akun tersebut, proporsi fokus malah tetap pada dunia nyata. Saya membuka media sosial sesempatnya saja. Kalau sedang sibuk seharian, ya tidak sempat buka sampai keesokan harinya. Pikiran pun tetap menapak di dunia nyata. Kalau sedang di luar rumah atau jalan – jalan, tidak ngotot menjepret sana sini dengan niat ingin diunggah di twitter atau FB. Dulu kan begitu. Sekarang, kalau sempat ya difoto, kalau tidak ya tidak apa. Itupun seringnya berakhir di file HP saja. Tidak diunggah. Makan, ya fokus pada makanan, bukan sambil memelototi HP. Liburan, ya fokus pada liburan Jadi intinya, otak saya sudah terbiasa untuk tidak berpikir tentang media sosial. Melihat apa yang ada di depan mata. Bukan mata memandangi layar HP. Merasa juga lebih produktif. Bisa menyelesaikan banyak hal dan melakukan yang saya suka tanpa terdistraksi media sosial. Lumayanlah, sudah bisa baca 27 buku dari target 50 buku tahun ini. Lumayan bisa mengurusi jualan, menerima pesanan.
  • MENGGUNAKAN WEBSITE, BUKAN APLIKASI. Saat bersih – bersih aplikasi di Hp waktu hibernasi, saya buanglah beberapa aplikasi tidak penting, salah duanya twitter dan FB. Nah, sampai sekarang, saya belum install lagi dua aplikasi tersebut. Sudah cukup puas membuka dari website saja. Hanya IG saya buka lewat aplikasi.
Suatu senja di danau
Suatu senja di danau

HAL – HAL YANG TETAP SAMA SEBELUM DAN SESUDAH HIBERNASI MEDIA SOSIAL

Ada beberapa hal yang tidak berubah sebelum dan sesudah saya vakum dari media sosial :

  • KELUARGA. Saya tetap meminimkan bercerita tentang keluarga di media sosial. Minim sekali. Mengunggah foto keluarga, sampai sekarang, tidak pernah. Seringnya ya cerita makanan, unggah foto makanan, jalan – jalan, unggah foto sendiri *narsis. Lebih nyamannya memang seperti itu. Seperlunya saja.
  • LIBURAN. Selama liburan, sejak mulai pindah Belanda sampai sekarang, saya usahakan dengan amat sangat untuk tidak unggah apapun yang menyiratkan saya sedang berlibur, walaupun saya masih mengunggah foto atau membuat status, tapi yang umum saja. Saya simpan dulu ceritanya sampai saya kembali lagi ke rumah baru unggah atau membuat status bahwa kami baru saja pulang liburan. Alasan kenapa saya melakukan itu ada dua : satu, takut rumah dimasuki maling. Jaman sekarang kan maling canggih – canggih. Mengintainya lewat status di media sosial. Alasan kedua : takut ada apa – apa di tempat liburan. Ya takut diikuti atau apa gitu. Saya memang kebanyakan menonton acara Investigation Discovery. Jadi saya lebih waspada saja. Lebih baik mencegah kan. Untuk alasan pertama, saya tahu sendiri kejadian nyatanya. Salah satu kenalan di sini, kalau sedang tidak ada di rumah (liburan atau sedang belanja misalnya) selalu update status dia sedang di sini sedang di sana. Nah, saat liburan ke negara lain, setiap waktu dia update status. Suatu hari (dia masih belum kembali) aplikasi alarm di Hp suaminya bunyi. Polisi langsung datang ke rumah dia. Ternyata, ada beberapa orang tak dikenal yang mendobrak pintu rumahnya. Diketahui dari CCTV. Setelah ditelaah, kemungkinan mereka tahu rumah tersebut tidak ada penghuninya. Salah satu faktornya, ya mungkin tahu dari status – status yang dia update di media sosial. Ngeri kan maling jaman sekarang. Kejadian seperti inipun banyak diangkat di Investigation Discovery. Kami kalau liburan, update langsung ke Mama mertua. Jadi Beliau tahu kami sedang ada di mana. Kalau saya, biasanya pamitan ke Ibu. Itu saja sudah cukup.
  • DOKUMENTASI. Saya memang suka mendokumentasikan kejadian sehari – hari, entah itu foto atau video. Untuk kepentingan pribadi bukan Vlog. Hal tersebut masih saya lakukan tapi saat ini lebih ke dokumentasi pribadi. Banyak foto dan cerita sehari – hari yang tidak saya unggah di media sosial. Kalau ingin mengunggah, mikir dulu penting apa tidak. Dokumentasi tetap jalan, hanya sekarang lebih irit dan makin selektif dalam berbagi di media sosial
  • NO HP. Tidak mengeluarkan atau memegang Hp saat bersama keluarga atau saat bertemu teman. Hp diletakkan di tas atau tempat yang jauh dari jangkauan. Jadi benar-benar menikmati waktu bersama, waktu ngobrol, berbicara melihat mata ke mata, tidak sibuk sendiri dengan Hp. Kalaupun harus mengeluarkan Hp untuk berkirim pesan atau menerima panggilan, atau untuk memfoto makanan, setelahnya diletakkan lagi jauh dari mata. Fokus yang ada di depan.
  • TETAP LAMA MEMBALAS PESAN. Ya ini sudah bawaan orok. Saya kalau membalas pesan memang lama. Dikarenakan Saya tidak selalu memegang Hp dan seringnya dalam kondisi silent. Juga perkara prioritas. Kalaupun ada yang langsung saya balas, berarti pas saya sedang pegang Hp. Memang saya terkenal kalau membalas pesan, luamaaa haha. Kecuali pesan dari suami, pasti langsung dibalas.

FUNGSI FB, IG, DAN TWITTER YANG BERBEDA

Sejauh ini, saya cukup nyaman punya tiga akun tersebut karena memang fungsinya berbeda. Ketiganya tidak bergembok alias bisa diikuti oleh umum

  • Instagram. Seperti yang sudah saya tuliskan di awal, satu – satunya akun IG yang saya punya hanya untuk kepentingan jualan dan berbagi cerita kegiatan per-baking-an. Bahkan kegiatan memasak tidak saya cantumkan di sini. Jadi, saya tidak follow akun pribadi yang mengunggah kegiatan sehari – hari. 95% yang saya follow isinya kalau tidak roti, ya jualan seputaran roti dan kue, dan mereka yang punya hobi baking. Lumayan dapat banyak ilmu dan inspirasi.
  • FACEBOOK. Dari dulu ya masih sama fungsi FB buat saya. Melihat kabar terkini dari teman – teman lama, kenalan, maupun saudara yang ada di Indonesia maupun di Belanda. Jadi yang mutualan di FB, paling tidak sudah pernah ketemu dalam dunia nyata. Setelah vakum, sekarang jadi malas mau unggah apapun. Status dan foto pun ya jarang. Belum tentu seminggu sekali. Secukupnya saja. Kalau lagi mood pamer, baru mengunggah sesuatu. Sesekali di FB juga promosi jualan.
  • Twitter. Nah kalau twitter cakupannya lebih luas lagi. Pengikut dan yang saya ikuti kebanyakan ya orang yang tidak saya kenal dalam dunia nyata. Ya, stranger. Namun begitu, interaksinya biasa – biasa saja. Karena sayapun males cari ribut dan males terkenal, pun tidak mencari pengikut yang banyak, jadi sekarang saya santai saja di twitter. Apalagi sekarang ada topik yang seru yaitu orang – orang yang antusias dengan baking, bisa setor hasil karya dan resepnya, setiap waktu tanpa tema. Bebas. TL lebih indah dipandang karena isinya ya sliwar sliwer kalau tidak roti, taart dan segala hasil karya kece – kece lainnya dalam per-baking-an. Sampai saya sering tidak tahu keributan apa hari itu di twitter. Tertutup hawa positif mereka yang unggah karya baking-nya. Banyak belajar hal baru juga. Saya tetap tidak memakai fitur mute dan block. Pun, saya sekarang lebih berhati – hati dalam menulis apapun. Follower lebih banyak , jadi waspada harus lebih ditingkatkan. Jangan sampai mengunggah hal – hal yang terlalu privasi. Saya tidak tahu demografi diantara para follower seperti apa. Jadi, lebih baik waspada, bukan curiga. Cuitan sesekali diselipi prmosi Sophie.

Cara pandang saya terhadap media sosial setelah kembali dari vakum 7 bulan, sekarang berbeda. Lebih bijak, santai, dan berhati – hati. Lebih bisa mengontrol diri dan tidak ada keterikatan batin dengan dunia maya. Tidak tahu banyak hal, tidak jadi masalah untuk saya. Lebih baik tahu sedikit tapi sangat bermanfaat, daripada tahu banyak tapi lebih banyak mudarat (KBBI : rugi, sesuatu yang tidak menguntungkan). Saya sekarang lebih sadar dalam bermedia sosial. Menggunakan seperlunya, sesuai fungsinya.

Kalian pernah detox media sosial? Berapa lama?

-19 September 2021-

Perasaan Iri Pada Hasil

Ladang Tulip di Lisse

Pagi ini, saya berbincang dengan seorang sahabat. Salah satu topik yang kami obrolkan, jadi insipirasi untuk saya tuliskan di sini. Sebenarnya hal ini juga mengusik pikiran saya akhir – akhir ini. Tentang perasaan iri pada hasil, bukan pada proses.

PEKERJAAN

Saya teringat saat masih bekerja di Indonesia. Setiap tahun, selama sekitar 13 tahun bekerja penuh waktu (pada beberapa perusahaan berbeda), saya pasti mendapatkan promosi. Terutama saat bekerja di kantor yang terakhir. Posisi dari bawah saat masuk, sampai mempunyai posisi yang lumayan saat saya memutuskan berhenti dari kantor tersebut. Sering mendengar desas desus tentang saya dari departemen yang lain, baik itu yang diucapkan langsung pada saya maupun dengar dari orang lain semacam begini : Den, enak banget ya jadi loe, tiap tahun dapat promosi. Kita – kita yang sudah lebih lama kerja, jangankan promosi, naik gaji aja seret. Iri tahu sama loe anak baru tapi karir melejit. Atau Den, kerjaan loe enak bener ya, cuma jalan – jalan tugas ke luar kota, tapi akhir tahun selalu naik jabatan. Atau yang bikin panas telinga denger dari orang lain : Deny sih ga heranlah kalau tiap tahun bisa promosi mulu, nah dia deketnya ama bos – bos gede. Gampang aja buat dia naik level, padahal kerjaannya jalan – jalan mulu. Balik kantor ngurusin claim, meeting, jalan – jalan lagi.

Mereka cuma melihat hasilnya saya tiap tahun dapat promosi, naik level, naik gaji. Yang mereka tutup mata padahal tahu dengan pasti kalau kerjaan saya tidak hanya sekedar “jalan – jalan” melainkan ya memang kerja tapi tidak di kantor. Mereka tahu pasti kalau nyaris tiap malam saya lembur dan pulang dini hari. Mereka tahu pasti kalau sedang di luar kota, saya jelas bukan jalan – jalan tapi ngurusin kerjaan di lapangan trus sampai hotel masih harus mengerjakan laporan ini itu. Mereka tahu pasti kalau saya dekat dengan bos – bos besar karena ya memang laporan saya ke mereka dan saya itu bawahan langsung mereka. Jadi, orang – orang yang menuding dan bilang iri tersebut tutup mata dengan segala proses berdarah – darah yang saya lewati, tapi yang mau dilihat bahwa saya ini enak kerjaannya sim salabim langsung naik jabatan, naik gaji padahal anak baru. Mereka padahal tau kerjaan saya tidak mudah dan apa yang saya dapatkan tiap tahun itu ya hasil dari kerja keras saya, bukan hanya leyeh – leyeh semata. Heran, gitu kok ya sempat – sempatnya iri wong saya berhak atas segala pencapaian tersebut.

Ya kalau mau hasilnya saja tapi tidak mau melewati prosesnya, akeh koncone Cak! Ini padahal yang dilihat mata tiap hari, masih saja tudingan ini itu disampaikan. Kalau mau enaknya saja tanpa mau melewati prosesnya, ya jadilah anak sultan yang tanpa bekerja keras sudah bergelimang harta macam Paman Gober.

PANDEMI

Saat ini, negara – negara di Eropa (Saya tidak terlalu mengikuti perkembangan saat ini sebenarnya untuk seluruh negara di Eropa, hanya tahu beberapa gelintir saja beritanya), sudah mulai ada pelonggaran aturan terkait pandemi. Di Belanda sendiri, sabtu besok sudah ada banyak sekali pelonggaran aturan misalkan tidak adanya lagi kewajiban memakai masker di semua tempat kecuali tempat – tempat yang susah menjaga jarak misalkan di kendaraan umum, sudah bisa menerima tamu tanpa ada batasan maksimal, sudah bisa berkumpul dengan banyak orang di luar ruangan tanpa batas maksimal dan sebagainya. Kehidupan perlahan tapi pasti sudah menuju normal. Vaksin pun di sini cepat sekali sudah menjangkau umur yang muda. Jadwal konser pun sudah mulai padat.

Lalu saya membaca sliwar sliwer status dari mereka yang di Indonesia, menuliskan semacam begini : Iriiii banget dengan Eropa yang sudah mulai berjalan normal lagi kehidupannya. Kita – kita yang di sini jalan di tempat malah nambah banyak kasus baru. Kapan deh Indonesia ini kayak Eropa, sudah enak banget sekarang bisa nonton konser, nonton bola rame – rame tanpa masker.

Kalian – kalian yang menulis itu, yang sehari – harinya tetap runtang runtung ha ha hi hi dempet – dempet an, masih doyan nongkrong bareng, senam rame – rame satu ruangan tanpa ada jarak yang cukup luas, datang ke kondangan rame – rame penuh sesak, liburan tetap jalan lintas provinsi kota negara, lalu dengan sadar menulis status tersebut iri pada keadaan Eropa saat ini. Pernah tidak timbul iri pada kami di sini yang 1.5 tahun ini berjuang mengikuti segala anjuran pemerintah. Pernah tidak terbersit iri pada kami di sini yang mau ketemu orangtua saja harus kami tahan – tahan sekian bulan lamanya padahal jarak antar rumah tidak terlalu jauh. Pernah tidak kalian iri pada kami yang tidak bisa keluar sampai malam karena ada jam malam yang kalau dilanggar denda besar menanti. Pernah tidak kalian iri pada banyak usaha di sini yang bangkrut karena pandemi berlangsung, banyak yang terkena pemutusan hubungan kerja, pada anak – anak yang tidak punya kehidupan normal bisa bermain dengan yang seusia dan harus puas main di rumah saja. Pernah tidak ada rasa iri saat kami benar – benar di rumah saja tidak bisa bertemu teman – teman, mau ke sana sini segalanya terbatas karena lokdan lokdon sampai berseri – seri. Pernah tidak kalian iri saat kami penuh rasa cemas mengirim anak ke sekolah padahal situasi masih belum aman benar, deg – degan kalau ada apa – apa nantinya dengan anak bagaimana. Pernah tidak kalian iri dengan rasa takut yang kami rasakan dengan adanya pandemi ini sehingga kami dengan sadar diri benar – benar menjaga diri di sini supaya semua cepat selesai, sadar menghindari kerumunan supaya virus tidak makin merajalela.

Yang kalian lihat saat ini adalah hasilnya dari proses yang berdarah – darah dari semua lapisan di sini selama 1.5 tahun. Kalian – kalian yang menulis status seperti itu, bisa lho seperti kami saat ini, jika kalian ambil bagian berpartisipasi tertib sadar diri untuk tidak makin memperkeruh keadaan dan suasana di Indonesia. Bisa lho ambil bagian yang paling gampang saja untuk tidak berkumpul tidak jelas kepentingannya supaya kasus positif di sana semakin menurun. Bisa lho menahan sejenak hasrat untuk tidak liburan kalau kondisi saat ini belum memungkinkan, kalau tidak ada kepentingan yang sangat mendesak. Jadi, kalian yang menulis iri pada kondisi di Eropa saat ini, sudah seberapa jauh partisipasi kalian membuat kasus positif di sana makin menurun. Sudah seberapa besar kesadaran kalian menjaga diri sendiri dan orang lain. Sebelum menuliskan kata iri pada hasil saat ini, pernahkan kalian iri pada proses yang kami jalani 1.5 tahun ini? *Iya, ini saya menuliskan dengan rasa gemas. Gregetan nemen rasane. Kalau kata sahabat saya tadi : Ikhtiarnya beda, hasilnya juga beda.

Jadi, jangan iri kalau ikhtiar kalian sebatas ongkang – ongkang kaki nangkring kanan kiri rame – rame setiap hari di tempat keramaian, trus nulis iri dengan kondisi di Eropa saat ini.

KEHIDUPAN DI LUAR NEGERI

Membaca komen dari Eva, jadi terpikir menambah tulisan ini satu poin. Saat masih tinggal di Indonesia, setiap melihat kenalan atau teman yang tinggal di luar negeri, suka terbersit rasa iri. Merasa kalau tinggal di LN seperti di Eropa atau Australia itu kok rasanya enak sekali. Berasa nyaman melihatnya, berasa kehidupan mereka kok enak sekali. Nampaknya saat itu saya termakan tampilan di film romantis yang pengambilan gambarnya tentu saja diambil bagian yang indah – indahnya saja.

Sekarang, saat sudah tinggal di Eropa, jadi tahu aslinya seperti apa. Yang ditampilkan mereka yang saya lihat dulu memang tidak salah. Sekali lagi, mereka menampilkan hanya yang ingin ditampilkan saja. Ya cerita dibaliknya biasanya disimpan dalam tumpukan baju yang belum sempat diseterika. Setelah saya mengalami sendiri saat ini tinggal di Belanda, woohhh ternyata yo ga semulus yang dibayangkan dahulu kala. Penuh perjuangan. Dari adaptasi bahasa, adaptasi cuaca, lingkungan, masyarakat sekitar dsb. Belum lagi susah minta ampun cari kerja yang sesuai minat, latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja sebelumnya. Belum lagi drama – drama pertemanan, kangen dengan makanan asli Indonesia, kangen dengan saudara – saudara, tidak punya saudara sedarah di tanah rantau, birokrasi setempat, semua dikerjakan berdua tanpa ada mbak yang membantu, mau makan tempe aja penuh perjuangan, dan segunung permasalahan yang ada.

Tinggal di sini memang enak, nyaman, dan menyenangkan. Tapiii itu semua tentu saja tidak afdol kalau tidak disertai lika liku kerikil dan sandungan. Jadi, jangan melihat enak – enaknya saja ya kalau melihat kami yang di sini. Kami setiap hari berjuang dengan segala adaptasi yang ada. Jangan melihat yang tinggal di LN itu otomatis bergelimang harta ya. Kami di sini tidak kalah kencangnya untuk menabung dan berhemat. Maklum, bukan keturunan sultan yang bisa mandi uang setiap hari. Jangan melihat mereka yang pekerjaannya sudah ok itu mendapatkannya dengan mudah ya. Ada perjuangan panjang dibaliknya, berdarah – darah sampai posisi bagus saat ini. Jangan melihat kalau menikah dengan WNA itu pasti jaminan mutu nyaman ya. WNA bukan mesin ATM yang kapanpun bisa mengeluarkan uang. Ada cerita yang sering tak ditampilkan bagi pasangan yang mengikuti tinggal di LN. Ada harga yang harus dibayar saat meninggalkan tanah air.

Jadi, tidak perlu iri dengan kami yang tinggal di LN. Kita sama, berjuang setiap hari dengan permasalahan masing – masing. Saat musim dingin, perjuangan tinggal di sini jadi semakin berlipat. Semua tempat pasti ada enak dan tidaknya. Sudah satu paket. Kita sama, bahagia tiap saat dengan berkah masing – masing. Tidak usah iri pada mereka yang menikah dengan WNA. Percayalah, yang kalian lihat nampak mulus – mulus saja, tidak selalu seperti itu. Kembali lagi, apa yang kalian lihat di media sosial, itu adalah yang memang ingin ditampilkan. Bagian gosrek WC kan ya males untuk ditampilkan di media sosial. Bagian berantem dengan pasangan masak iya musti dipamer di medsos. Banyak bagian – bagian kami simpan sendiri. Tak perlu semua orang tahu.

Hidup memang sawang sinawang. Melihat yang lain nampak lebih baik hidupnya. Padahal kalau melihat hidup sendiri, tak terhitung berkat yang bisa disyukuri. Jadi, sering – sering menengok diri sendiri ya, jangan terlalu lama melihat yang jauh dari mata. Nanti mata jadi sakit dan hati jadi jauh dari rasa syukur.

MEDIA SOSIAL

Dengan adanya media sosial yang berlomba – lomba ingin menampilkan apa yang terbaik dari penggunanya, tak hayal hal tersebut gampang memantik rasa iri dari yang melihat. Ada satu yang terlupa, bahwa yang ditampilkan mayoritas adalah hasilnya, bukan prosesnya.

Ada yang menampilkan badan jadi langsing dan berbentuk, lalu jadi iri. Membandingkan dengan diri sendiri yang badannya masih ginuk – ginuk. Sudah tanya belum pada yang bersangkutan prosesnya bagaimana badan jadi bagus begitu. Kalau sudah dikasih tau prosesnya dengan mengatur pola makan lebih sehat dan rutin olahraga, mau mengikuti tidak? Jangan – jangan tidak mau bersusah payah berusaha, hanya berhenti pada rasa iri saja lalu jadi penyakit hati.

Kalau melihat ada rumah kece dengan desain yang bagus, lalu timbul rasa iri dan merutuki diri sendiri kenapa tidak bisa punya rumah semacam itu. Sudah pernah berusaha semaksimal mungkin belum supaya punya rumah impian semacam itu? Pernah menjadikan postingan rumah bagus tersebut sebagai motivasi untuk semakin rajin menabung, rajin berinvestigasi, mencari pekerjaan yang lebih baik supaya dapat gaji yang lebih besar? Jika semua sudah dilakukan tapi rumah yang diimpikan tersebut belum terjangkau, ya sudah syukuri yang ada sekarang. Jangan merutuki diri sendiri dan melihat rumah yang ada saat ini terlihat jelek. Bagaimanapun juga, tempat berteduh yang sekarang pun hasil dari keringat sendiri, tidak mengutang, dan jadi hunian yang sangat layak. Mungkin nanti ada rejeki lebih dan berjodoh dengan rumah yang diinginkan, itu urusan nanti saja. Kalau terlalu jauh melihat, terkadang suka lupa mensyukuri yang ada di depan mata.

Kalau melihat postingan anak yang sudah pintar ini itu lalu timbul rasa iri kenapa anak sendiri tidak bisa, sudah pernah tanya prosesnya bagaimana anak tersebut sudah bisa? Sudah pernah tahu konsep bahwa tiap anak unik dengan kemampuan yang berbeda? Sudah pernah tahu proses dari orangtuanya bagaimana mengajari mereka? Apakah pernah bertanya kepada anak tersebut dia bahagia dengan apa yang dia bisa sekarang? Pernah melihat sendiri apakah mereka menikmati prosesnya? Jangan – jangan yang melihat hanya silau pada hasil karena tidak pernah ditampilkan prosesnya seperti apa. Silau pada senyuman orangtua dan si anak. Lupa bersyukur bahwa anak sendiri pun kemampuannya banyak yang bisa dibanggakan.

Hanya karena beda dengan anak orang lain di media sosial, mata jadi seperti terbutakan dengan apa yang ada di depan. Ini saya mendapatkan banyak cerita beberapa tahun lalu kalau ibuk – ibuk suka membandingkan anaknya dengan anak artis A, pesohor B atau anak siapapun yang kok dirasa pintar sekali sudah bisa salto, sudah bisa koprol, bisa menyelam sambil dansa -misalnya- sedangkan anak sendiri kok ga bisa. Lalu mengeluh dan memarahi anaknya kenapa kok ga bisa begini begitu. Lah kan ya sedih kalau begitu. Jangan begini ya para orangtua. Jangan silau dengan apa yang nampak di media sosial. Kita tidak tahu dibalik apa yang ditampilkan di sana.

Banyak hal – hal di media sosial yang bisa dijadikan contoh bagaimana hal – hal yang nampak sederhana saja gampang menimbulkan rasa iri. Kita lupa, bahwa yang tertampilkan adalah hanya apa yang ingin mereka tampilkan/ Seringnya, mereka atau kita semua menampilkan hasil akhirnya saja. Tentu saja ingin menampilkan yang indah – indah saja. Yang sepet, kita simpan sediri. Prosesnya sering tidak ditampilkan, lalu membandingkan proses dan keadaan saat ini dengan hasil yang sudah mereka capai. Ya, tidak apple to apple.

MENGELOLA RASA IRI JADI MOTIVASI

Bedakan rasa iri dan kagum ya. Kagum itu benar – benar memuji, takjub, tercengang dengan hasil yang orang lain lakukan, atau proses yang mereka sedang kerjakan. Sedangkan iri, ada rasa semacam kurang senang dengan apa yang dilihat pada orang lain, pada apa yang sedang mereka kerjakan, pada apa yang terjadi pada lingkungan sekitar lalu membandingkan dengan diri sendiri. Iri ini asosiasinya dengan rasa negatif.

Bisa lho sebenarnya menjadikan rasa iri sebagai motivasi. Ini bukan toxic positivity ya, hanya berbagi pengalaman dari saya yang dulu saat masih muda sering terbersit iri pada orang yang bisa ini itu. Seiring bertambahnya umur, pikiran jadi lebih jernih. Bisa diajak untuk berpikir lebih positif. Saya lalu mengelola rasa iri yang saya miliki menjadi rasa kagum lalu menjadikan motivasi supaya saya bisa seperti itu. Misalkan saat ini, saya punya akun IG khusus untuk jualan usaha rumahan yang saya miliki. Mayoritas, saya mengikuti akun – akun yang juga jualan kue dan roti atau mereka yang berkreasi di bidang tersebuh. Saya suka sekali dengan yang mereka lakukan. Hasil kreasinya sungguh mencengangkan sangat bagus. Alih – alih ada rasa iri, saya malah suka sekali melihat mereka berkreasi, kagum dengan proses dan hasilnya. Lalu saya memotivasi diri sendiri pasti suatu saat bisa sebagus mereka kalau banyak latihan. Jadinya sekarang saya sering latihan dengan melihat tutorial dari mereka. Saya bersemangat sekali berlatih.

Saya sering mendengar kalau IG itu toxic sekali. Dulu waktu saya masih punya akun IG (tahun 2015) rasanya ya saya santai aja tuh ga ada rasa iri dengki sama postingan orang. Sekarang punya akun jualanpun ya biasa saja. Malah sekarang senang karena dapat banyak ilmu gratis.

Medianya tidak salah. Mungkin yang salah adalah cara pandang, pikiran, hati dan salah follow orang. Kalau sudah engap di hati dan irinya semakin menumpuk jadi dengki lalu tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki, mungkin itu saat yang tepat untuk keluar sebentar dari hingar bingar media sosial. Kembali ke kehidupan nyata dan melihat segala yang nyata di depan mata. Menapak kembali ke bumi supaya lebih sadar bahwa bagaimanapun hidup kita ini dalam dunia nyata, bukan hanya memandangi layar media sosial saja.

INTINYA

Rasa iri itu wajar, namanya juga manusia. Kalau tidak punya rasa iri malah dipertanyakan sisi kemanuasiaannya. Yang tidak wajar kalau rasa iri tersebut malah menghambat aktifitas sehari – hari dan lupa bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki saat ini. Yang jadi tidak wajar itu kalau rasa iri lalu menjadi dengki dan jatuhnya jadi fitnah sana sini, sibuk menjatuhkan pihak yang dilihat lebih cemerlang.

Iri sewajarnya, secukupnya, lalu bangkit dan lakukan yang terbaik versi kita. Irilah pada sebuah proses, bukan hanya hasil semata. Supaya bisa menjadikan rasa iri itu menjadi penyemangat. Kelola rasa iri jadi sebuah motivasi. Jadikan motivasi supaya kita makin hari semakin baik.

Selamat berakhir pekan!

*Aslinya pembicaraan tadi pagi dengan sahabat saya itu seputar pandemi. Jadinya saya malah membahas sana sini di tulisan kali ini. Saking gemese karo wong – wong sing nulis iri karo Eropa dan mbandingno karo Indonesia tapi senengane kemruyuk gerombolan ga jelas tujuane opo.

-25 Juni 2021-

Menerapkan Minimalisme Digital dan Manfaatnya

Sourdouh Pukis. Pertama kali membuat pukis dan berhasil

Menyambung tulisan saya perihal undur diri dari twitter dan facebook, kali ini akan membahas kupas tuntas cara saya menerapkan minimalisme digital dan manfaat yang saya dapatkan sampai saat ini. Tulisan ini akan lumayan panjang, jadi siapkan waktu lebih untuk membacanya.

Saat memutuskan untuk rehat dulu dari dua media sosial ersebut, saya tidak merencanakan apapun sebelumnya. Jadi itu adalah keputusan yang mendadak pada pagi hari. Dua atau tiga hari setelahnya, saya mulai berpikir : apa ya yang sekiranya bisa dilakukan supaya tidak hanya media sosial saja yang saya kurangi, tapi juga membuat seminim mungkin kegiatan digital yang ada pada telepon genggam. Atau singkatnya, apa yang bisa saya lakukan supaya waktu saya bersama telepon semakin berkurang, sehingga bisa lebih produktif. Sebenarnya selama ini keterikatan saya dengan telepon juga tidak terlalu kuat. Misalnya kalau ke luar rumah ponsel ketinggalan, ya saya santai saja asal sedang tidah butuh google maps atau janjian ketemuan sama orang. Sering saya ke luar rumah tanpa membawa telepon. Atau kalau di rumah, telepon juga saya pegang kalau sudah senggang. Karena itu saya terkenal kalau membalas pesan lama sampai kena protes sana sini. Pesan dibalas sesuai prioritas ya. Kalau penting sekali ya langsung saya balas. Kalau bisa ditunda, kenapa tidak *ngikik

Jadi minimalisme digital ini singkatnya adalah memilih aplikasi digital yang sekiranya penting dan bisa memberi nilai tambah untuk kehidupan dan aktifitas sehari – hari. Jika memang tidak memberi nilai tambah, ya saya buang saja. Atau memang tidak terlalu sering saya gunakan, ya saya singkirkan.

Jadi, ini beberapa langkah yang saya lakukan untuk menerapkan minimalisme digital (terutama pada telepon genggam) dan hal – hal lainnya supaya tidak terlalu lekat dengan ponsel:

  • PILIH APLIKASI YANG PENTING SAJA

Saya mulai memilih dan memilah aplikasi apa saja yang sekiranya penting untuk dipertahankan dan mana yang lebih baik dibuang dari ponsel. Yang sekiranya sering saya buka semisal aplikasi belanja online mingguan, aplikasi bank, kalkulator, jam, aplikasi prakiraan cuaca dan sebagainya, saya tetap pertahankan karena hampir setiap hari saya buka sesuai dengan tingkat kepentingan. Sedangkan aplikasi yang sekiranya bisa saya buka lewat laptop atau PC, saya hapus dari ponsel Misalnya : goodreads, wordpress, beberapa aplikasi belanja online, dan sebagainya. Kalau email, memang sejak dulu saya tidak pernah install aplikasinya di ponsel. Saya selalu membuka lewat laptop atau PC.

Tujuan bersih – bersih tersebut supaya mengurangi keterikatan saya dengan ponsel. Juga untuk mempersulit saya menjangkau segalanya lewat ponsel. Misalkan : Kalau ingin membaca tulisan blogger lainnya, ya saya harus membuka WP lewat laptop atau PC. Atau kalau ingin beli buku online, ya saya buka aplikasinya lewat laptop. Saya ini paling malas buka laptop kalau tidak sangat perlu misalkan mengecek email atau membuat draft tulisan untuk blog, atau kebutuhan online lainnya.. Selebihnya ya malas menyentuh laptop. PC di ruangan saya, seringnya saya gunakan untuk belajar. Jadi harus ke lantai paling atas, butuh usaha ekstra.

Hasil dari bersih – bersih aplikasi di ponsel ini membuat saya tidak terlalu sering bersentuhan dengan ponsel. Apalagi sejak tidak twitter- an dan FB-an lagi, ya makin tidak terlalu pegang HP. Screen Time di HP turun drastis, rata – rata paling lama cuma 2 jam per hari. Ini sudah paling lama yang saya gunakan membalas pesan. Dulu, bisa sampai 5 jam per hari. Kalau di pikir lagi, kok seperti ga ada kerjaan saya dulu bisa sampai 5 jam berkutat dengan ponsel. Padahal punya bisnis saja tidak.

  • MATIKAN NOTIFIKASI DAN NADA DERING

Kalau ini sudah saya lakukan sejak dulu kala. Kalau di rumah, saya selalu mematikan dering telepon kecuali ada janjian dengan orang yang ingin menelepon saya. Notifikasi di ponsel pun sudah tidak saya aktifkan sejak lama. Alasannya supaya saya lebih konsentrasi dengan apa yang saya kerjakan di rumah. Itulah kenapa, saya kalau membalas pesan di WhatsApp terkenal lamaaaa sampai mendapatkan protes sana sini. Kalau ini saya punya dua alasan : pertama saya membalas berdasarakan prioritas. Kalau pas saya pegang ponsel, ada pesan masuk biasanya saya lirik saja. Membacanya nanti kalau sudah benar ada waktu luang. Kecuali ada pesan dari suami atau keluarga, biasanya langsung saya baca dan balas.

Alasan kedua kenapa saya lama membalas pesan : saya membalas kalau benar – benar senggang. Biasanya malam hari. Kalau tidak senggang sekali, saya tidak akan membaca segala pesan yang masuk.

Saya pernah membaca satu penelitian tentang konsentrasi yang bisa terganggu jika mendengar nada notifikasi. Jadi jika kita sedang konsentrasi terhadap satu hal, lalu tiba – tiba mendengar nada notifikasi atau dering telepon, untuk mengembalikan konsentrasi lagi butuh waktu 20 menit. Cukup lama juga ya.

  • TEMPATKAN TELEPON GENGGAM JAUH DARI JANGKAUAN

Hal ini juga sudah saya lakukan sejak lama. Alasannya simpel karena saya tidak mau mainan ponsel di depan anak – anak. Saya mentertibkan diri sendiri supaya tidak mengutak atik ponsel di depan mereka dan supaya lebih fokus saat saya bersama mereka. Ini juga berlaku saat ada suami. Tapi dulu suka curi – curi kesempatan. Jadi saat masak di dapur, saya suka mengambil ponsel dan membuka sesaat di dapur untuk melihat kelanjutan perseteruan yang ada di twitter misalnya. Atau ingin membaca kelanjutan berita A.

Nah sekarang, saya makin memperketat keterjangkauan ponsel dari jangkauan mata dan tangan. Karena aplikasi di ponsel semakin sedikit, jadi saya tidak terlalu tertarik lagi berdekatan dengan ponsel. Apalagi sejak suami kerja dari rumah, ya saya makin tidak terlalu butuh ponsel kalau di rumah, kecuali sedang ada janji ditelepon. Seringnya saat ini, saya lupa dengan ponsel kalau di rumah. Tiba – tiba ingat sore hari kalau seharian belum ngecek ponsel lalu lupa menaruhnya di mana.

Jika sedang mengerjakan sesuatu di PC atau laptop, ponsel juga saya letakkan jauh dari jangkauan. Misalkan saat belajar di PC, ponsel tidak terlihat depan mata. Walhasil belajar lebih khusyuk. Atau saat menulis blog, jadi lebih fokus dan cepat selesai nulisnya. Atau saat membaca buku, saya tidak pernah lagi berdekatan dengan ponsel. Hasilnya membaca buku jadi lebih konsen dan paham isinya.

  • SCREEN TIME dan FITUR IDLE

Dua bulan pertama menerapkan minimalisme digital, saya memanfaatkan fitur idle di ponsel. Sebelumnya tidak pernah saya pergunakan sama sekali. Akhirnya fitur tersebut saya gunakan untuk membatasi diri supaya tidak terlalu otak atik ponsel. Jadi saya atur waktunya dari jam 10 malam sampai jam 7 pagi, ponsel dalam keadaan idle. Semua aplikasi tidak aktif kecuali panggilan. Aplikasi tersebut bisa saja saya aktifkan pada pembatasan waktu yang saya buat, tapi saya ingin mendisiplinkan diri supaya menjadi terbiasa kedepannya. Dua bulan berjalan, akhirnya fitur idle tersebut saya hilangkan, untuk melihat apakah saya sudah terbiasa. Sampai sekarang, tanpa menggunakan fitur tersebut, saya jadi terbiasa jam 10 malam sudah tidak memegang ponsel lagi, kecuali ingin membalas pesan yang penting. Secara keseluruhan, saya sudah bisa mengontrol diri sendiri. Paling lama 2 jam memanfaatkan aplikasi yang ada di ponsel, seperti membalas pesan atau berbelanja mingguan online.

  • BUKA MEDIA SOSIAL LEWAT PC ATAU LAPTOP DAN BATASI WAKTUNYA

Ini rencananya akan saya lakukan saat sudah siap medsos-an lagi. Saya akan membuka, mengunggah status atau foto dari PC atau laptop saja. Ya karena aplikasinya sudah saya hapus dari ponsel, jadi kalau membuka dari PC atau laptop butuh usaha khusus tidak semudah saat dari ponsel. Juga waktunya akan saya batasi, misalkan saat hari tertentu saja atau cukup beberapa menit saja. Supaya ada kontrol terhadap diri sendiri.

Dua bulan setelah melakukan hal – hal yang saya sebutkan di atas, saya membaca buku Digital Minimalism yang ditulis oleh Cal Newport. Ternyata beberapa langkah yang saya aplikasikan, sama dengan yang ada di buku tersebut. Bukunya bagus sekali dan makin menguatkan saya untuk disiplin menjadi digital minimalist karena membawa banyak manfaat positif terhadap hidup saya.

Buku keren dan manfaatnya banyak, yang saya putuskan untuk pertahankan di rak buku, tidak saya berikan pada orang lain
Buku keren dan manfaatnya banyak, yang saya putuskan untuk pertahankan di rak buku, tidak saya berikan pada orang lain

MANFAAT MINIMALISME DIGITAL

Sebelum membahas lebih lanjut tentang manfaat yang saya dapatkan selama 5 bulan lebih memanfaatkan minimalisme digital, saya ingin membahas secara singkat apa yang saya rasakan saat 2 minggu pertama rehat dari media sosial. Jadi selama 2 minggu pertama tersebut, hati saya merasa sedih dan pikiran jadi gamang. Merasa seperti kesepian dan tidak punya teman. Merasa tidak diperhatikan. Setelah saya telaah lagi, hal tersebut terjadi karena biasanya setiap hari saya ada interaksi di media sosial. Jadi merasa seperti banyak yang memperhatikan. Jadi begitu rehat, rasanya jadi sepi. Setelah 2 minggu, lama – lama ya terbiasa. Sekarang ya biasa saja. Mungkin selama 2 minggu tersebut efek detoksifikasi sedang bekerja.

Ok, sekarang saya akan membahas manfaat apa saja yang saya dapatkan setelah menerapkan minimalisme digital :

  • BANYAK WAKTU UNTUK BERDIALOG DENGAN DIRI SENDIRI

Sejak tidak sibuk di twitter dan FB, saya jadi punya banyak waktu luang. Pikiran jadi lebih jernih dan bisa saya gunakan untuk banyak berdialog dengan diri sendiri. Karena punya banyak waktu untuk melihat ke dalam diri sendiri, saya makin mengenal diri saya seperti apa dan maunya apa. Selama ini saya terlalu sibuk ke sana sini sampai lupa menengok dan bertanya apa kabar ke diri sendiri. Mengabaikan apa yang sebenarnya diinginkan oleh diri ini. Setelah banyak – banyak berdialog dengan diri sendiri, satu persatu saya bisa menyembuhkan apa yang selama ini seperti luka menganga. Perlahan saya bisa menemukan apa itu yang namanya damai. Saya jadi bisa tahu apa yang sebenarnya saya inginkan, apa yang sebenarnya membuat saya bahagia dan tenang. Sekarang kalau ada yang membuat resah, pertama yang saya lakukan ada melihat jauh ke dalam diri dulu. Bertanya, berdialog, membuat jernih dulu di dalam.

Lima bulan terakhir ini, saya makin senang berdialog dengan diri, Makin menengok ke dalam. Hasilnya pikiran makin tenang.

  • LEBIH SADAR

Semuanya sekarang jadi lebih sadar. Mengerjakan sesuatu semuanya jauh lebih sadar. Bahkan makan saja sekarang lebih tau rasanya seperti apa. Dulu kalau sedang makan sendiri, tangan kanan melakukan aktifitas makan, tangan kiri scroll – scroll ponsel. Yang dilihat mata bukannya makanan tapi apa yang nampak di layar ponsel. Jadinya makanan cuma sekedar lewat saja tanpa mengerti rasanya seperti apa, tidak merasakan kunyahan demi kunyahan, melewatkan rasa penuh syukur karena masih bisa makan enak dan badan masih sehat untuk mengunyah, dan sebagainya.

Sekarang saya sudah terbiasa saat makan ya yang di depan saya adalah makanan. Saya tidak lagi melakukan aktifitas lainnya saat makan. Jadi mata betul – betul melihat pada makanan dan merasakan suapan demi suapan. Hal tersebut juga berlaku dengan aktifitas lainnya. Misalkan saat memasak atau baking saya jadi lebih sadar dengan prosesnya.

  • SLOW LIVING

Karena semuanya dikerjakan dengan lebih sadar, jadi pergerakan juga lebik lambat dan tidak terburu – buru. Dulu seringnya terburu karena ingin segera punya waktu istirahat supaya saya bisa lebih cepat ada interaksi dengan ponsel. Sekarang saya lakukan dengan lebih lambat tapi hasilnya lebih maksimal. Karena pergerakan yang lebih lambat dan lebih sadar ini, entah kenapa saya justru menikmati setiap prosesnya dan hasil akhirnya lebih baik dibandingkan sebelumnya. Semua dikerjakan dan dipikirkan tidak dengan terburu waktu. Saya lebih bisa mengerjakan banyak hal dan menikmati prosesnya. Saya jadi bisa mengerjakan satu hal dalam satu waktu. Tidak lagi multitasking karena ternyata lebih cocok untuk saya.

  • BERKEGIATAN TANPA DISTRAKSI, LEBIH FOKUS DAN LEBIH PRODUKTIF

Menyenangkan sekali rasanya berkegiatan tanpa ada gangguan. Baik itu gangguan dari pikiran maupun gangguan ponsel yang gampang dijangkau tangan. Sekarang baca buku saja jadi lebih tau isinya apa. Saya jadi lebih fokus membaca tanpa harus diselingi dengan membuka ponsel. Dulu membaca buku 5 menit, scroll – scroll ponsel 30 menit. Sekarang 1 jam membaca buku, saya jadi lebih khusyuk. Hasilnya, sampai akhir bulan April ini (saat tulisan ini mulai dibuat), saya sudah menyelesaikan membaca 20 buku dan paham isinya apa.

Contoh lainnya, memasak pun saya jadi lebih fokus dan tau yang saya masak apa. Dulu sambil masak, ingin cepat – cepat selesai supaya bisa memantau lagi apa yang sedang terjadi di FB dan twitter. Pikiran tidak seutuhnya di kegiatan memasak. Terburu – buru. Sekarang saya lebih menikmati proses memasak, lebih fokus, dan lebih sadar.

Karena lebih punya banyak waktu, saya jadi bisa mengerjakan hal – hal yang membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Ternyata, di rumah ada banyak hal yang bisa saya lakukan. Sesederhana, saya jadi punya banyak waktu untuk olahraga di rumah. Hasilnya badan lebih sehat dan berenergi, bonusnya turun berat badan. Sesederhana saya bisa otak atik resep untuk bikin kue, cookies, atau roti. Kok tahun lalu berasa punya banyak waktu untuk rebahan dan memantau media sosial ya, padahal di kehidupan nyata ada hal – hal yang lebih bermanfaat untuk diselesaikan. Ternyata, saya tidak senganggur itu.

Sourdouh Pukis. Pertama kali membuat pukis dan berhasil
Sourdouh Pukis. Pertama kali membuat pukis dan berhasil
  • MENIKMATI JOMO (JOY OF MISSING OUT)

Istilah JOMO ini saya dapatkan dari pembicaraan pagi hari dengan Maureen. Pagi itu saat kami bercakap di aplikasi kirim pesan, dia bilang kalau ingat saya saat ada yang membahas JOMO di twitter. Saya lalu googling, JOMO itu apa. Setelah paham, saya jadi berpikir, benar juga ya saya saat ini sedang menikmati fase tidak tau banyak hal dan itu baik – baik saja. Dulu saya rasanya merasa tidak percaya diri jika tidak tau berita terkini apa. Harus tau semua berita yang ada. Dulu saya merasa jadi orang yang tertinggal jika tidak mengikuti keributan apa yang sedang ada di timeline twitter atau FB.

Sekarang saya santai saja kalau tidak tau banyak hal. Saya cukupkan informasi apa yang bisa saya akses. Misalkan berita, saya hanya menonton 1 tayangan berita di TV nasional Belanda. Itu saja sumber berita yang saya akses. Jadi saya membatasi informasi apa saja yang masuk ke otak. Jikapun saya harus mencari informasi tambahan, tidak semuanya saya cari. Secukupnya saja. Sekiranya saya rasa sudah cukup, akan saya hentikan sampai di situ saja proses mencarinya. Membatasi informasi yang saya baca, ini berimbas pada hal – hal yang akan saya bahas selanjutnya. Intinya, saya sekarang santai saja kalau tidak tahu yang terkini apa.

  • TINGKAT KECEMASAN DAN BANYAK MIKIR JAUH LEBIH BERKURANG

Berhubungan dengan hal di atas, karena saya membatasi dan sangat memfilter informasi dan berita yang saya akses, tingkat kecemasan jadi jauh berkurang. Sangat jauh berkurang. Itu saya sadari selama 5 bulan ini. Ternyata, tidak tahu semua hal itu sangat menolong jiwa saya untuk jauh lebih waras. Tahun lalu kesehatan mental saya acakadut, setelah saya evaluasi sendiri, salah satu sumbernya ya karena semua hal ingin saya ketahui. Hasilnya, itu membuat lelah mental dan pikiran jadi ke mana – mana. Kalau malam jadi lebih cemas, tidur jadi tidak berkualitas, dan pikiran jadi tidak sehat karena mikir yang tidak – tidak.

Sekarang, pikiran saya lebih jernih, jiwa lebih tenang, dan rasa cemas sangat jauh berkurang, hasil dari saya membatasi informasi yang saya akses. Secukupnya saja. Ketinggalan informasi terkini, sekarang buat saya bukan jadi masalah besar. Tak tahu semua tidak membuat saya jadi orang yang terbelakang. Yang penting jiwa sehat bahagia.

  • PIKIRAN LEBIH TENANG

Karena membatasi sumber informasi dan tidak mengikuti semua berita terkini, juga lebih selektif dengan apa yang saya baca plus sudah tidak twitter an lagi, pikiran jauh lebih tenang. Saya jadi banyak waktu untuk bengong dan ngelamun. Jadi banyak waktu memikirkan hal – hal yang menyenangkan. Jadi punya kesempatan memikirkan hal – hal yang konyol. Otak saya seperti lebih banyak kapasitasnya sekarang. Berasa tidak penuh. Itulah sebabnya saya jadi lebih bisa berpikir jernih untuk segala hal. Lebih sadar dengan apa yang terjadi.

  • HIDUP UNTUK SAAT INI, SEKARANG, DAN DI SINI

Dengan menerapkan minimalisme digital, saya hidup untuk saat ini, sekarang, dan di sini. Artinya, saya lebih bisa melihat apa yang ada di depan mata, lebih bisa merasa dan mendengar. Saya lebih terhubung dengan yang ada di sekitar, lebih bisa mencium aroma, dan lebih peka.

Misalnya : Dulu saat jalan kaki di hutan, saya suka memfoto sana sini dengan pikiran ingin membagikan di medsos saat sudah sampai di rumah. Jadi sibuk cekrak cekrek sana sini. Sekarang, saat ke hutan, saya benar – benar bisa menikmati apa yang ada di depan mata. Bisa mencium aroma hutan tanpa sibuk foto sana sini. Sesekali tetap memfoto untuk mengabadikan. Atau bahkan memvideokan. Tapi ya sudah, tidak sibuk ria semua pojok difoto.

Contoh lainnya : Sekarang saat bersama anak – anak, ya saya 100% fokus membersamai mereka, pikiran tidak bercabang ke sana sini. Dulu saat main dengan anak – anak, pikiran saya suka ke sana sini misalkan mikir tentang berita di Indonesia lah, mikir tentang perseteruan di twitter gimana lanjutannya, mikir tentang kebijakan negara Belanda dan lain sebagainya.

5 bulan terakhir, hidup saya jadi berada di saat ini dan di tempat saya berada. Pikiran saya tidak ke mana – mana dan fokus dengan apa yang di depan mata. Hasilnya, saya jadi fokus dengan apa yang saya kerjakan. Atau saya jadi lebih menjejak ke bumi. Hidup saya sekarang melewati dari hari ke hari, tidak terlalu pusing dengan apa yang ada di depan atau terlalu memikirkan apa yang sudah berlalu.

  • MEMULAI HARI PENUH ENERGI, MENGAKHIRI HARI TETAP BERENERGI

Saya pernah membaca, mood orang ditentukan dengan apa yang dilakukan dia saat pertama kali bangun. Dulu, pertama kali bangun saya ngecek medsos. Ngecek ada notifikasi apa atau ada berita terkini apa bahkan pengen tahu ada keributan terbaru apa hari ini. Walhasil, selama satu jam memandang ponsel, energi saya jadi berkurang banyak. Mood untuk menjalani satu hari kedepan pun seringnya sudah amburadul.

Sekarang, saya memulai hari lebih berenergi karena saat bangun tidur ada banyak waktu untuk ngobrol dengan diri sendiri. Memikirkan hal – hal yang baik, mengevaluasi yang terjadi sebelumnya, dan merencanakan apa yang akan saya jalani hari ini. Waktu yang dulu saya gunakan untuk membuka media sosial, sekarang saya gunakan untuk membaca buku, menulis blog, atau hal – hal yang lebih nyata lainnya. Lebih punya waktu untuk banyak bersyukur dan beribadah. Tidak terburu – buru. Dalam sehari menjalani aktifitas, karena jadi fokus terhadap satu hal saat itu, jadi yang saya kerjakan pun selesai dengan baik. Mengakhiri hari saya masih punya energi tidak ngos – ngos san seperti kehabisan nafas karena mood selama sehari terjaga dengan baik. Mengakhiri hari saya masih bisa mengevaluasi apa yang terjadi hari ini, bisa menuliskan di buku harian apa saja yang bisa disyukuri hari ini, lalu sebelum tidur kembali berdialog dengan diri sendiri.

Memulai hari penuh energi, menjalani aktifitas sepanjang hari dengan maksimal dan tanpa uring – uringan, mengakhiri hari mood tetap baik dan energi masih ada.

Selama lebih dari 5 bulan menjadi digital minimalist, saya merasakan banyak sekali manfaat positifnya. Hal tersebut juga membawa banyak perubahan baik dalam cara pandang, mengelola emosi. dan mengatur aktifitas harian. Saya jadi punya banyak waktu untuk diri sendiri juga keluarga. Saya jadi punya banyak waktu untuk menjadi diri sendiri, berdialog dengan diri, dan menengok ke dalam diri sendiri. Saya jadi lebih tenang, lebih sadar, lebih fokus, dan lebih produktif sesuai dengan ritme yang inginkan. Hal lainnya yang saya syukuri adalah saya jadi makin dekat dengan keluarga, lebih ada dan nyata untuk mereka karena mereka adalah salah satu bagian terpenting dalam hidup.

Semoga yang saya tuliskan panjang lebar di atas bisa punya manfaat untuk yang sudah meluangkan waktu membaca. Terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca.

Selamat berakhir pekan.

-7 Mei 2021-

Mereka Hanya Manusia Biasa

Mereka Hanya Manusia Biasa

Sebenarnya dari dulu ingin menuliskan topik ini karena beberapa kali mendapatkan komentar yang berhubungan dengan hal ini. Sengaja saya tidak menggunakan judul Bule karena sejak dulu tidak mau numpang beken dengan menggunakan kata tersebut. Tidak mau menggunakan embel-embel Bule supaya terkenal. Biarlah saya terkenal karena usaha sendiri *huwopooo ae.

Jadi begini, beberapa kali di blog dan di twitter saya mendapatkan komentar tentang beruntung dapat suami bule. Kata mereka, punya pasangan bule itu tiap saat pasti romantis dan mereka membaca dari cerita saya di blog atau beberapa cuitan di twitter yang disimpulkan rumah tangga saya adem ayem saja. Jadi ada beberapa yang minta dicarikan bule untuk dijadikan pasangan (entah pacar atau untuk status pernikahan).

Begini ya, yang namanya rumah tangga itu pasti ada saja celahnya untuk tidak adem ayem. Dua kepala yang tiap hari bertemu satu rumah ya pasti ada saja berselisihnya. Dari hal kecil sampai hal kecil yang dibesar-besarkan. Mau menikah dengan yang sama sebangsa ataupun yang tidak sebangsa, kemungkinan untuk berbeda pendapat dan bertengkar, akan selalu ada. Bule romantis? tergantung definisi romantis seperti apa. Setiap orang pasti punya standar romantis yang berbeda. Buat saya, romantis itu kalau suami pulang dari belanja lalu bilang dia tidak lupa membelikan cabe, tempe, dan tahu. Itu menurut saya romantis karena dia mengingat fovorit istrinya dan membelikannya tanpa saya minta. Jadi merasa dia mengingat saya setiap melihat cabe haha.

Kalau memberikan bunga, mungkin buat orang lain romantis, tapi buat orang Belanda itu sudah jadi hal yang biasa. Saya tetap senang kalau diberikan bunga oleh suami. Tetap ada rasa kupu-kupu di perut jika dikasih bunga. Tapi buat saya bukan masuk definisi romantis. Mungkin jika patokan romantis seperti yang ada di film-film, saya rasa pria Indonesia juga banyak yang romantis. Jadi, jangan dijadikan patokan jika setiap Bule pasti romantis.

Kembali ke pembahasan rumah tangga yang nampak adem ayem. Alhamdulillah kalau ada yang berpikir seperti itu dan saya amini sebagai doa. Saya tidak pernah mau membawa apapun permasalahan yang terjadi di rumah sampai ke luar rumah. Apa yang terjadi di rumah, kami selesaikan di rumah. Tidak perlu dunia tahu apalagi diumbar ke media sosial. Saya selalu ingat perkataan Ibu : simpan baju kotormu di rumah, tidak perlu tetangga dan saudaramu tahu. Sejauh ini, wejangan itu yang selalu saya ingat dan suami satu pemikiran. Saya menceritakan hanya yang ingin saya ceritakan di blog atau di media sosial. Selebihnya, biarkan jadi ruang privasi saya. Jikapun mungkin ada masalah, kami akan menyelesaikan sendiri, tidak perlu seluruh lapisan masyarakat berperan di dalamnya. Lha wong kami ini bukan orang terkenal, buat apa woro-woro, ya tho? Jika tidak bisa menyelesaikan sendiri, kami akan minta bantuan professional. Sebisa mungkin tidak melibatkan saudara apalagi teman, supaya tidak ada keberpihakan. Apalagi sampai dijadikan status di media sosial, buat apa. Malah saya pikir jadi membuat banyak orang bersorak sorai. Saya tidak bisa mengontrol apa reaksi orang, tapi saya bisa mengontrol apa yang perlu saya bagikan. Semakin bertambah umur, semakin saya berhati-hati dengan yang namanya kecepatan jari.

Setiap rumah tangga punya rambu-rambu dan tidak bisa disamakan dengan yang lainnya. Kepentingan juga berbeda, sehingga aturan yang dibuat juga disesuaikan kondisi yang ada. Yang penting dibicarakan sama-sama dan disepakati bersama supaya menjalani dengan bahagia. Tidak ada yang paling sempurna. Hidup memang sawang sinawang. Orang melihat kawin dengan bule kok terlihat bahagia, padahal ya jatuh bangunnya selalu ada. Hanya kami memilih untuk tidak berbagi bagian jatuh ndelosornya. Bukan untuk pencitraan, bukan untuk menampilkan yang baik-baik saja. Kembali lagi, saya hanya ingin berbagi yang ingin saya bagi. Jika dari yang membaca blog ini ada yang mengikuti akun twitter (atau FB) saya, tahu jika saya jarang sekali berbincang hal-hal yang menyangkut suami (atau keluarga kami). Saya saling follow dengan suami di twitter, tapi kami tidak pernah saling “berbincang” di media sosial. Lah yo buat apa tho, wong satu rumah. Malah nampak aneh kalau segala sesuatunya dibicarakan lewat media sosial padahal tidur juga sebelahan. Eh, tapi ini menurut saya lho ya, kalau berbeda dengan yang lainnya ya monggo tidak masalah.

Mereka Hanya Manusia Biasa
Mereka Hanya Manusia Biasa

Bule itu juga manusia biasa. Sama saja dengan segala bangsa di dunia ini. Ada yang baik, ada yang blangsak. Ada yang mampu mengingat setiap tanggal bersejarah, ada yang ingat nama lengkap pasangannya saja sudah untung. Banyak yang pinter, yang tidak pintar juga tidak kalah banyak. Ada yang anti air, ada yang ketetesan keringet sebiji aja langsung mandi. Ada yang pintar masak, ada yang lebih baik istrinya saja yang masak daripada dapur berubah kayak Pasar Gembrong. Yang penting, sebelum memutuskan melangkah terlalu jauh untuk berkomitmen yang serius, ditinjau dulu segala sesuatunya, jangan silap mata dengan status bule. Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum melangkah untuk serius.

Jangan berpikir tentang setiap hari akan dapat bunga dan lantunan puisi. Mungkin memang ada yang tipe seperti itu, tapi prosentasenya saya yakin tidak banyak. Jangan berpikir semua bule pasti cakep. Yang tampang pas-pasan juga luber ke mana – mana. Sama saja intinya. Di Indonesia juga ada NicSap yang cakep tho *Loalaahh mbak, ga iso mup on teko mas iku. Jangan berpikir nikah dengan Bule hidup pasti terjamin. Ingat, seperti halnya semua bangsa, tidak semua bule punya harta berlimpah. Yang pas-pas an juga tak kalah banyaknya. Belum lagi perjalanannya panjang dengan sederet dokumen yang harus dipenuhi. Jika memutuskan pindah negara, sudah siap kalau pas kangen ingin makan tempe tapi ga ada yang jual tempe? Sudah siap ngonthel sepeda ditengah hujan salju? siap lapar tengah malam pengen makan sate tapi yang ada roti dingin?

Rawat tanaman di halaman sendiri supaya tetap segar dan menarik dilihat. Kalau tidak punya tanaman, ya rawat apa yang ada. Sesekali nengok halaman tetangga ya tidak apa-apa, siapa tahu mendapatkan inspirasi, atau malah berjodoh dengan tetangga. Berjodoh dengan siapapun, jangan jadikan kewarganegaraan tertentu untuk dijadikan patokan, apalagi sampai niat untuk memperbaiki keturunan. Lha memang keturunannya yakin baik kalau nikah dengan yang berbeda warna kulit? kalau tidak sesuai yang diharapkan, lalu bagaimana? kalau pasangannya tidak mau berketurunan, lalu bagaimana?

Banyak hal yang perlu dipikirkan lebih panjang, bukan hanya sekedar bule. Mereka juga manusia biasa, yang punya kelebihan dan kekurangan. Mereka manusia biasa, bukan dewa, jadi tak perlu didewa-dewakan.

-12 Juni 2020-

Cerita Lebaran Keluarga di Indonesia

Pertengahan Maret 2020, setelah berunding dan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya kami memutuskan untuk tidak mudik. Keputusan sangat berat, terutama buat saya. Setelah 5 tahun belum ada kesempatan mudik, tahun ini kami sungguhlah niat untuk mudik bertepatan dengan Ramadan dan Lebaran. Mudik yang sangat dinanti. Bukan hanya kami, keluarga di Indonesia yang kami kabari, sudah tak sabar menunggu bulan Mei tiba untuk bisa segera bertemu. Kami sudah 90% siap. Ibupun sudah mempersiapkan segalanya di sana. Hampir setiap hari Ibu bertanya, apa yang kami butuhkan, apa yang perlu Ibu persiapkan. Ibu sudah sangat siap menyambut kedatangan kami sekeluarga.

Sampai pada hari di mana keputusan untuk batal mudik dibuat. Saya bilang ke suami akan mengabarkan hal ini kepada Ibu, “tapi kasih aku waktu. Saat aku siap, aku akan bilang ke Ibu.”

Memberitahukan pengunduran mudik kami selalu saya tunda, sampai awal April, baru saya menguatkan hati untuk memberi tahu Ibu. Berat rasanya. Membayangkan betapa kecewanya Ibu. Saya memberitahukan tentang alasan-alasan kenapa kami memilih untuk tidak mudik saat ini dan mengundurkan entah sampai kapan. Lalu menutup percakapan di WhatsApp, saya mengatakan ke Ibu, “Demi keselamatan kita bersama Bu. Saya tidak mau membawa virus ini ke tempat Ibu. Belanda sekarang sedang dalam situasi yang genting. Saya juga tidak mau liburan di sana dengan perasaan was-was dan cemas. Maaf Bu, semoga Ibu legowo.”

Lalu panjang lebar Ibu menanggapi, “Sejak awal virus ini masuk Indonesia, sebenarnya Ibu ingin menyarankan kalian untuk menunda mudik. Ibu tidak ingin ada hal buruk yang terjadi. Ibu ingin kita semua sehat. Tapi, Ibu tidak mau mengatakan itu karena kamu pasti sudah mempersiapkan semua. Saat kamu akhirnya bilang akan menunda mudik, Ibu sangat lega. Lebih baik menunda bertemu Ibu dan keluarga di sini tapi semua sehat, daripada memaksakan mudik tapi malah bisa menimbulkan marabahaya. Mari kita saling jaga sebagai keluarga, di tempat masing-masing, dengan cara-cara yang bisa kita lakukan. Turuti apa yang saat ini pemerintah anjurkan. Mari kita saling berdoa semoga dipanjangkan umur dan sehat sehingga bisa bertemu kalau keadaan sudah aman.”

Saya lega luar biasa dengan jawaban Ibu. Terharu karena Ibu justru lebih berpikir panjang dibanding saya. Setelahnya, saya menghubungi pihak maskapai untuk mengurus penundaan keberangkatan.

Awal Mei, menjelang Ramadan, saya bertanya ke Ibu, apakah ada rencana untuk Taraweh di Masjid? dan apakah selama ini tetap shalat berjamaah di Masjid? Kata Ibu,”Sejak daerah ini ditetapkan sebagai zona merah, Ibu sudah tidak pernah lagi jamaah di Masjid. Nanti rencananya Taraweh juga di rumah saja. Kalaupun pada akhirnya Ibu meninggal, Ibu berikhtiar supaya meninggal bukan karena virus ini. Ibu juga ingin menjaga supaya tidak menularkan pada orang lain. Sholat di rumah tidak berjamaah di situasi sekarang ini, toh tidak lantas berkurang pahala.” Sebagai infornasi, Ibu selama ini tidak pernah meninggalkan satu waktu sholatpun untuk berjamaah di Masjid. Jadi ketika saya membaca apa yang Ibu tuliskan, jadi terharu sendiri. Ibu lebih baik tidak sholat di masjid untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.

Lain waktu, saya bertanya kepada adik laki-laki apakah masih sholat Jumat di Masjid? Dia bilang sudah sejak awal April tidak pernah lagi sholat Jumat di Masjid. Dia sholat Jumat sendirian.

Menjelang Idul Fitri, Saya kembali bertanya ke Ibu apa rencana Idul Fitri nanti tentang sholat dan unjung-unjung antar saudara dan tetangga. Ibu bilang, “Ibu sholat Ied di rumah saja. Apa fungsinya sholat berjamaah di Masjdi dan lapangan tapi shaf diberikan jarak. Dan lagi, disituasi saat ini, apakah bijak jika sholat Ied berjamaah di Masjid atau lapangan sedangkan meskipun katanya mengikuti protokol, tapi malah kemungkinan menimbulkan bahayanya tinggi. Adik-adikmu tidak Ibu perbolehkan datang ke sini. Lebih baik Ibu lebaran sendirian tapi aman daripada rame-rame tapi beresiko tinggi. Lebaran kali ini beda, tidak usah dipaksakan sama. Toh masih bisa saling telpon. Toh bisa sholat sendiri di rumah. Yang penting semua sehat, semua selamat.”

Adik-adik saya juga sholat Ied di rumah masing-masing. Hari Raya, saya melakukan panggilan video ke Ibu dan adik saya yang laki-laki. Sebenarnya ada rasa sedih karena ini lebaran pertama bagi Ibu benar-benar sendirian dan lebaran pertama juga buat adik-adik tidak berkumpul dengan Ibu dan saudara-saudara di desa. Tapi, ada perkataan Ibu yang membuat saya bangga pada Beliau, “Yang lebaran sendirian kan bukan cuma Ibu. Banyak. Yang sedih juga bukan cuma Ibu, tapi banyak. Akhirnya Ibu tidak terlalu sedih, karena banyak temannya di dunia ini.” haha ya benar juga sih. Di suasana haru, Ibu saya masih juga bisa membesarkan hati anak-anaknya (dan juga hati beliau sendiri).

Saat saya melakukan panggilan video ke Ibu, Beliau sedang bersantai di tempat tidur. Saya bertanya, apa ada yang datang ke rumah? Ibu bilang ada beberapa yang Ibu dengar kasak kusuk di depan rumah. Ibu menutup gordijn seluruh rumah, menutup semua pintu. Tamu-tamu yang sudah datang bilang mungkin Ibu sedang ke luar rumah. Nyatanya Ibu di dalam rumah tapi tidak mau menerima tamu. Sore harinya Ibu hanya ke tempat Bude untuk silaturrahmi, datang sebentar tanpa salaman lalu pulang lagi.

Beberapa hal yang Ibu lakukan selama ini benar-benar membuat terharu saya. Ibu sudah tidak pernah lagi kumpul2 bahkan pengajian pun yang dulunya rutin dilakukan, sudah tidak didatangi lagi sementara ini, tidak pernah sholat jamaah di masjid lagi, ke luar rumah hanya untuk hal-hal yang sangat penting, tidak mau salaman, ke luar rumah pasti menggunakan masker, dan tidak mau dekat-dekat dengan orang. Ibu yang dulunya sangat bersosialisasi sampai rasanya seluruh pasar dan seluruh kecamatan kenal, sekarang duduk anteng duduk di rumah.

Saya pernah bertanya apakah tidak bosan? Ibu bilang, “Ibu ini tidak melakukan apa-apa, kenapa harus merasa bosan? Wong tinggal duduk santai-santai di rumah, kan enak tho. Banyak orang yang saat ini tidak bisa merasakan kemewahan duduk santai di rumah. Banyak yang harus tetap kerja di RS, di tempat-tempat yang rawan penyakit. Mereka tidak punya pilihan untuk bosan. Kita yang masih punya pilihan, mbok ya nurut saja melakukan hal-hal untuk melindungi diri dan orang lain. Wes tho, wong-wong iku ga usah ibadah di Masjid dulu, ga usah pengajian, ga usah kumpul-kumpul dhisik. Ditahan. Sing penting kabeh sehat selamet.”

Di luar kenyataan bahwa kami sering mempunyai perbedaan pendapat dan bersitegang, sebenarnya saya sering mengagumi cara berfikir Beliau yang memang nyantai tapi jauh ke depan.

Mari saling jaga dengan hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan saat ini, demi keselamatan kita, demi keselamatan orang lain. Jangan lengah dulu. Semoga pandemi ini segeran berlalu.

-1 Juni 2020-

Tidak Sulit Untuk Berempati

(Nyaris) semua orang saat ini sedang berlomba2 bersama menyelamatkan diri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Tidak hanya lingkup negara, tapi seluruh dunia. Musuh kita tak kasat mata tapi sudah membuktikan kekuatannya : menghilangkan banyak nyawa dan menimbulkan krisis ekonomi.

Setiap individu punya cara masing-masing untuk bertahan, apapun itu. Bertahan waras secara mental maupun raga. Bertahan untuk hidup menit demi menit.

Ada yang setiap masuk rumah dari luar rumah, langsung mandi dan mencuci bajunya. Apakah berlebihan? Tidak. Itu cara mereka bertahan hidup dengan melindungi diri dan keluarganya. Supaya hal-hal yang tak kasat mata dan mematikan di luar tidak menyebar di dalam rumah.

Ada yang merasa cemas setiap berpapasan dengan orang lain lalu memilih jauh-jauh supaya tidak berdekatan. Apakah berlebihan? Tidak. Itu cara mereka menentramkan hati supaya tidak was-was tertular atau menularkan pada orang lain. Kita tidak pernah tahu siapa yang jadi pembawa musuh utama kita saat ini.

Ada yang sangat patuh dengan anjuran : menjaga jarak, banyak diam di rumah, bahkan menggunakan masker saat di luar rumah. Apakah berlebihan? Tidak. Itu cara mereka berjuang supaya virus ini tidak semakin merajalela. Mereka percaya pada ahli-ahli yang lebih mengerti tentang hal ini.

Ada yang pergi ke psikolog bahkan sampai dirujuk ke psikiater karena butuh pertolongan untuk membuat kesehatan mental mereka tetap terjaga. Apakah mereka berlebihan? Tidak. Rasa was-was dan cemas dengan keadaan ini sangat nyata dan bisa mempengaruhi kesehatan jiwa. Mereka butuh pertolongan untuk tetap sehat secara mental.

Ada yang lebih memilih tinggal di rumah, merasa nyaman untuk tidak bertemu banyak orang, dan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan untuk mengalihkan perhatian dari berita-berita yang bersliweran. Apakah mereka berlebihan? Tidak. Itu cara mereka bertahan melewati hari, menumbuhkan sekeping harapan bisa melewati pandemi ini dengan selamat bersama yang mereka cintai.

Ada yang tidak punya pilihan, harus tetap bekerja di luar rumah. Menjadi bagian yang menyelamatkan banyak nyawa karena musuh yang tak tampak jelas oleh mata, menjadi bagian yang bekerja membersihkan tempat-tempat rawan oleh makhluk ini, tidak memikirkan keselamatan diri selama masih punya uang untuk membeli nasi dan membawa pulang untuk dimakan bersama keluarga. Dan masih banyak yang tidak punya pilihan untuk jauh-jauh dari virus ini.

Ada yang tidak mengindahkan anjuran dan malah mencela pilihan orang lain yang sangat berhati-hati sekali menjaga diri dan lingkungan terdekat. Apakah yang mencela ini berlebihan? Entahlah. Yang pasti, saya menuduh mereka tidak punya empati.

Ada yang berbondong-bondong bergerombol mendatangi suatu tempat demi kesenangan sesaat dan melupakan anjuran untuk menjaga jarak. Apakah mereka berlebihan? Tentu saja. Apa manfaatnya datang ke suatu tempat beramai-ramai hanya demi kesenangan sesaat lalu membuat virus ini semakin ke sana ke mari. Melupakan bahwa banyak orang yang berjuang supaya keadaan saat ini aman kembali.

Kita yang punya banyak pilihan, bersyukurlah. Bersyukur karena masih hidup dengan sehat, punya cukup makanan, masih bisa melihat anggota keluarga berkumpul dengan lengkap. Bersyukur sampai saat ini kita masih selamat dari virus ini.

Namun, tak perlu jumawa. Virus ini berbahaya. Bagi banyak orang, sangat menakutkan. Tidak perlu berkoar-koar bahwa virus ini tidak ada apa-apanya hanya karena kita masih bisa duduk santai dipagi hari sambil makan roti dan menyeruput kopi. Jika kita masih sehat, bersyukurlah. Mari sama-sama jadi bagian untuk berjuang melawan makhluk ini. Semua orang lelah dengan keadaan saat ini. Setiap jenuh, ingatlah tenaga kesehatan yang bahkan mereka tidak punya pilihan untuk jenuh, tetap berjuang menyelamatkan banyak nyawa. Setiap rasa rindu berkumpul dengan teman-teman dan keluarga datang, tahanlah dan ingat petugas kebersihan yang bekerja di tempat-tempat rawan bergelut dengan virus ini. Ingatlah mereka yang tidak punya pilihan untuk menghindar. Tahanlah untuk melakukan hal-hal demi kesenangan pribadi semata untuk saat ini, paling tidak sampai semua ini aman kembali.

Tahanlah sejenak setiap merindukan ritme kehidupan yang lalu untuk datang lagi. Ini tidak akan lama jika kita berjuang bersama dengan cara sekecil apapun yang kita bisa. Mari saling jaga. Ingatlah banyak orang meninggal karena virus ini. Ingatlah banyak keluarga yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Ingatlah banyak Oma Opa yang tidak bisa memeluk anak cucunya, menahan rindu karena ingin menjaga diri mereka dan keluarga dari virus ini. Semua saat ini sedang berjuang bersama. Virus ini nyata, bukan hasil gembar gembor media. Angka-angka mereka yang meninggal bukan hanya sekadar angka karena itu adalah nyawa. Jika ada yang punya teori sendiri mengenai keadaan saat ini, simpan sajalah. Tak perlu mengerdilkan keadaan yang kacau saat ini hanya karena masih bisa berdiri tegak tanpa kurang satu hal. Tak perlu.

Jika saat ini kita masih sehat, bersyukurlah dan jangan jumawa. Tiap orang punya cara sendiri untuk berjuang, jangan dianggap sebelah mata apapun usahanya, asal bisa selamat dan tetap hidup demi tidak terpapar sang virus. Tidak sulit untuk berempati, kecuali memang sudah tak ada hati atau sang empati sudah mati.

*Awalnya saya tulis di FB. Sekarang saya salin di blog.

-15 Mei 2020-

Situasi (Saya) Terkait Corona Virus di Belanda

Sudah lama ingin menuliskan tentang Covid-19 atau Corona Virus terkait diri saya dan situasi yang ada di Belanda, sejauh ini, saat tulisan ini dibuat.

Beberapa hal di bawah ini adalah dampak yang saya rasakan terkait Corona :

  • PERASAAN CEMAS TERAMAT SANGAT

Perasaan cemas ini mulai saya rasakan awal Januari 2020. Saat itu berita tentang Corona sering saya baca yang menjelaskan kondisi di Wuhan. Saya cemas super parah selama seminggu. Saya sering menangis, susah tidur dan perasaan was-was yang teramat sangat dengan situasi yang ada. Saya benar-benar takut bagaimana jika Corona sampai ke Belanda. Membayangkan jika salah satu anggota keluarga positif Corona. Lalu suami meredakan cemas saya dengan selalu memberikan saran yang positif. Mencoba menenangkan isi kepala saya yang ruwet. Akhirnya cemas mereda (sesaat).

Saya kembali cemas saat Corona sudah sampai Eropa. Saya berpikir : tinggal tunggu waktu saja sampai ke Belanda nih. Sejak itu sampai Corona benar-benar di Belanda (tanggal 27 Februari 2020 pertama kali satu orang positif Corona), perasaan cemas saya muncul dan tenggelam. Kadang bisa santai, dilain waktu bisa jadi super panik. Benar-benar yang panik. Ini perasaan cemas dalam pikiran. Sebagai informasi, pertulisan ini dibuat total 1135 orang positif Corona di Belanda, total 20 orang meninggal (pada range usia 59-94 tahun). Di kampung saya, ada7 orang yang positif Corona. Perkembangan tentang Corona bisa diikuti di website RIVM. Mereka akan selalu update setiap hari jam 2 siang.

Status tentang Corona di Belanda per 15 Maret 2020
Status tentang Corona di Belanda per 15 Maret 2020

  • BATAL UJIAN MENYETIR MOBIL

Pagi ini, seharusnya saya ujian menyetir mobil. Dua kali les terakhir di hari jumat dan sabtu minggu lalu, saya bertanya ke instruktur apakah ada kemungkinan ujian akan dibatalkan terkait Corona. Dia bilang, tidak. Kamis sore, PM Rutte mengumumkan tentang anak sekolah di jenjang tinggi mulai diliburkan, pembatalan acara-acara yang melibatkan lebih dari 100 orang, anjuran untuk mengurangi kumpul-kumpul, dan anjuran orang-orang bekerja dari rumah. Sabtu siang selesai les, saya bertanya lagi apa ada kemungkinan ujian dibatalkan. Instruktur saya bilang tidak.

Minggu sore, ada pengumuman resmi dari dua mentri tentang penutupan Sekolah (semua jenjang), daycare, sport club, sex club, coffeeshop, Horeca (termasuk restoran dan cafe) sampai 3 minggu kedepan, dan tetap anjuran orang kantoran bekerja dari rumah. Wah perasaan saya mulai tidak enak. Saya cek website CBR, ternyata benar jika semua ujian (theorie, toets, dan praktijk) ditiadakan sampai tanggal 31 Maret 2020. Setelah tanggal tersebut, baru bisa mendaftar ulang kembali untuk mencari jadwal ujian. Jadi, saya belum tahu kapan dapat jadwal ujian kembali. Sudah hampir selangkah dan di depan mata untuk mendapatkan SIM (jika langsung lulus), sekarang dalam ketidakpastian. Belum lagi karena les saya sudah berakhir, untuk tetap latihan menyetir, harus mengeluarkan uang ekstra per lesnya sampai ujian nanti.

  • BATAL LIBURAN ULANG TAHUN DI ANDALUSIA – SPANYOL

Setiap saya ulangtahun, jika kondisi memungkinkan, biasanya kami akan jalan-jalan. Sejak akhir tahun lalu, kami sudah merencanakan akan ke Andalusia selama 2 minggu, akhir maret ini. Kami fokus ke ngurusin tiket buat mudik, sehingga tiket ke Andalusia masih belum terbeli tapi penginapan dan tempat-tempat yang akan kami kunjungi sudah dibuat dengan detail. Rencananya, akhir Februari akan membeli tiket pesawat.

Akhir Februari, mulai ada yang positif Corona di Belanda dan keadaan di Spanyol mulai mengkhawatirkan. Akhirnya, awal maret kami putuskan batal ke Andalusia.

  • BATAL LIBURAN KE MECHELEN – BELGIA

Untuk mengobati batal ke Andalusia, kami berpikir pergi ke tempat yang dekat rumah saja. Dapat satu kota namanya Mechelen di Belgia. Jaraknya tidak terlalu jauh dan kotanya cantik. Cocok buat tempat beristirahat sejenak dari gonjang ganjing Corona.

Lalu keadaan di Belanda semakin mengkhawatirkan dan juga negara-negara lainnya, jadi kami memutuskan tidak jadi ke Belgia. Sudahlah berdiam diri di rumah sambil makan nasi kuning tidaklah terlalu buruk untuk merayakan ulang tahun.

  • BATAL ACARA DI RUMAH

Sabtu lalu, harusnya ada pesta kecil-kecilan di rumah. Sejumlah teman dan keluarganya kami undang. Seminggu sebelumnya, ada acara juga dengan keluarga di sini. Syukuran. Lalu seminggu kemudian, perubahan besar terjadi. Seperti biasa, jika di rumah ada acara, saya selalu mencicil memasak jauh hari sebelum hari H. Maklum ya, tenaga terbatas.

Setiap hari mengikuti perkembangan Corona, saya mulai was-was. Mulai berpikir akan membatalkan acara saja. Terlalu riskan jika banyak orang berkumpul dalam satu ruangan untuk situasi saat ini. Tapi suami bilang, acara diteruskan saja, sedatangnya orang karena ada beberapa teman yang membatalkan. Semua makanan sudah siap, kami sudah membeli minuman, camilan, sudah menyediakan goodie bag untuk anak-anak, intinya sudah siap semua. Sampai kamis malam, keinginan saya untuk membatalkan acara semakin kuat. Akhirnya setelah dibicarakan dengan suami, kami mantab membatalkan acara. Pesan saya kirimkan ke semua undangan yang sudah konfirmasi akan datang. Mereka maklum dan bilang akan mengirimkan kado yang sudah dipersiapkan. Saya pun bilang akan mengirimkan goodie bag. Lega sudah mengambil keputusan yang tepat untuk saat ini.

  • CEMAS DENGAN RENCANA MUDIK DALAM WAKTU DEKAT

Satu lagi yang membuat saya cemas akhir-akhir ini adalah tentang rencana mudik dalam waktu dekat. Akhirnya setelah 5.5 tahun sejak datang ke Belanda, kami ada kesempatan mudik ke Indonesia. Kesempatan yang sangat kami tunggu-tunggu selama ini. Jadi persiapannya pun sudah matang, sebelum Corona datang. Sekarang, kami mulai harap-harap cemas apakah bisa dan tetap akan mudik dengan situasi seperti ini. Saya sudah kangen dengan keluarga di Indonesia, Ibupun sudah sangat ingin bertemu kami. Tapi saya sudah mulai bilang ke Ibu, jika situasinya semakin memburuk dan ada kemungkinan bandara di Belanda ditutup, artinya kami tidak bisa mudik. Itu kondisi terburuknya. Sedih, tapi bagaimana lagi. Namun kita lihat saja perkembangannya bagaimana. Mudah-mudahan ada titik terang dan keadaan makin membaik.

  • PANIC BUYING

Kamis malam, tiga supermarket besar (bahkan toko turki pun) di kampung saya mulai diserbu orang-orang yang mulai panik. Kamis pagi dan sore waktu saya ke sana untuk membeli sayuran, semua masih aman terkendali. Saya mulai menjelajah tiga supermarket tersebut sambil melihat kondisi. Semua barang masih aman, tidak ada rak yang kosong.

Jumat pagi, saat kami mau belanja mingguan, sampai tidak mengenali dalamnya supermarket karena banyak rak yang kosong, terutama beras, pasta dan makanan-makanan beku. Benar-benar kosong. Ini di tiga supermarket di kampung. Orang-orang belanja super banyak dan mukanya tegang semua. Kami tidak terlalu banyak belanja karena bahan-bahan dasar sudah ada di rumah seperti beras, pasta, telor dan makanan beku.

IMG_C90B4D709C08-1

 

MENJAGA JARAK – MEMBATASI BERINTERAKSI SECARA LANGSUNG

Hal-hal tidak menyenangkan di atas tentang pembatalan beberapa hal, saya maknai positif. Memang sudah saatnya untuk melakukan tindakan yang bisa memutus mata rantai, mengurangi penyebaran virus. Membatasi diri berinteraksi langsung dengan orang lain, menjauhi kerumunan, dan menjaga jarak. Saya berpikir, mungkin saja saya yang jadi pembawa virus yang bisa menularkan pada orang lain, atau juga sebaliknya. Kita tidak pernah tahu. Bisa saja nampak sehat di luar tapi ternyata kita ada bibit pembawa. Jadi, dengan membatasi interaksi langsung bisa jadi salah satu jalan untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Meminimalisir. Bagaimana caranya? Salah satunya ikuti anjuran dengan tinggal di rumah jika tidak ada kegiatan yang mendesak untuk dilakukan di luar rumah.

Sekolah diliburkan, anjuran kerja dari rumah, menjauhi kerumunan orang, mengurangi bepergian menggunakan transportasi umum (jika memungkinkan) bertujuan untuk mengurangi penyebaran virus. Jadi ketika sekolah libur, tolong jangan lalu diartikan bisa pergi ke tempat liburan. Atau jika dianjurkan bekerja dari rumah, jangan diartikan bisa bekerja di tempat yang banyak kerumunan orangnya. Untuk saat ini, tahan keinginan ke mana-mana. Tinggal di rumah. Jika ingin menghirup udara segar, bisa pergi ke tempat yang minim orang misalkan hutan atau danau atau olahraga lari keliling kampung.

Sekali lagi, kita tidak tahu apakah kita menjadi pembawa virus atau tidak. Jika tidak dimulai dari sendiri, mata rantai ini tidak akan putus. Untuk saat ini, dengan situasi seperti ini, mari sama-sama berjuang. Mulai dari sendiri akan membantu orang sekitar juga. Meminimalisir penyebaran. Ini tidak berlangsung lama. Semua orang di dunia sedang berjuang bersama. Mari kita berjuang bersama memerangi virus ini. Mulai membatasi diri, menjaga jarak, mengurangi berinteraksi dengan orang lain, berdiam diri di rumah, tidak keluar rumah jika tidak mendesak, tidak menimbun bahan makanan, sering-sering mencuci tangan secara benar dengan sabun, meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan dan minuman tinggi gizi, tidak lagi bersalaman, tidak gampang menyebarkan berita sebelum dicek kebenarannya (No Hoax please), dan beberapa hal tindakan pencegahan lainnya.

Selain berdoa dan tawakkal, yuk sama-sama berikhtiar dengan maksimal. Ini saatnya kita berhenti sejenak, menepi sejenak dari kerumunan, kembali ke keluarga, kembali ke rumah, kembali ke orang-orang tersayang, menikmati waktu kebersamaan. Kami dan semua orang di dunia sedang dilanda cemas, khawatir, dan sedih. Kita sama-sama berjuang melewati situasi yang sedang susah di seluruh dunia. Ini tidak lama (semoga), pasti akan terlewati juga. Saat ini, yang diperlukan adalah perjuangan bersama. Semoga siapapun di manapun, sehat bersama keluarga. Percayalah, situasi sulit ini pasti bisa kita lewati. Pasti ada titik terang dan harapan. Mari sama-sama menguatkan dan optimis.

-16 Maret 2020-

Perkataan yang Menyakitkan

Berawal dari cuitan akun @shitlicious di twitter yang sliwar sliwer,  mempertanyakan : “perkataan apa yang menyakitkan dari orang lain tapi malah membuat bangkit?” Awalnya saya sudah mengetik jawabannya, maksudnya ikutan nimbrung. Tapi setelah diketik, lalu saya baca lagi, menjadi ragu. Akhirnya tersimpan di draft. Sehari kemudian, saya memutuskan untuk mengunggahnya. Kenapa saya sempat ragu? karena melibatkan orang dari masa lalu yang ucapannya masih teringat sampai sekarang.

Tidak disangka, dari yang hanya sekedar berbagi cerita, kok responnya dari warga twitter diluar dugaan, sampai lebih dari seribu (per tanggal tulisan ini diunggah). Saya mendapatkan banyak sekali tanggapan yang positif, juga banyak yang berbagi kisah nyaris sama dengan yang saya alami, bagian diremehkannya. Silahkan baca komen-komen dari cuitan saya (akunnya silahkan cari sendiri *haha sok misterius). Akan banyak sekali cerita-cerita yang miris. Tentang betapa orang gampang sekali melontarkan ucapan atau komentar tidak baik. Jumlah karakter di twitter terbatas, karenanya saya menuliskan secara singkat dan garis besar saja di sana. Kenyataannya lebih pilu dari yang saya tuliskan. Saya jadi ingin menuliskan secara lengkap kisah 18 tahun lalu.

IMG_1591

Alkisah, tahun 2000 saya mempunyai hubungan dengan mahasiswa S2 satu kampus tetapi berbeda jurusan. Status saya waktu itu mahasiswa D3. Kenal dia sebenarnya sejak saya masih SMA. Singkat cerita kami dipertemukan kembali oleh jalan hidup, di satu kampus lalu hubungan menjadi lebih serius. Saya tidak menceritakan secara rinci ya tentang hubungan saya dengan dia, wong sudah masa lalu. Saya hanya mau menceritakan yang berhubungan dengan apa yang tertulis di akun twitter.

Singkat cerita, Sang Ibu tidak setuju dengan hubungan kami. Ibu dia, bukan Ibu saya. Tahun 2001, terjadi sebuah percakapan antara saya dan Si Ibu, lalu ada sebuah perkataan yang tidak bakal saya lupa sejak saat itu sampai kapanpun, “Kamu kan kuliahnya D3, tidak cocok dengan anak saya yang lulusan S2. Ya minimal anak saya dapat dokter lah supaya setara dan selevel.” Saat si Ibu mengatakan tersebut, posisi anaknya memang sudah akan lulus S2. Buat saya, perkataan tersebut benar-benar menyakitkan. Seolah D3 tidak ada harganya, tidak setara, dan tidak selevel. Si Ibu juga tidak pernah menanyakan rencana ke depan saya seperti apa, seolah-olah saya tidak punya rencana untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Yang membuat saya tidak lupa adalah bagaimana Beliau meremehkan D3 saya.

Singkat cerita (haha memang sengaja ceritanya disingkat-singkat ya, karena kalau dijabarkan akan menjadi curhatan masa lalu), setelah lulus D3, bekerja sebentar lalu saya melanjutkan lagi ke S1. Lulus S1 saya bekerja di dua PMA di kota berbeda selama 8 tahun, lalu melanjutkan kuliah S2 setelah mengundurkan diri dari pekerjaan yang terakhir di Jakarta.

IMG_E9CA8831A2E9-1.jpeg

Tahun 2015 awal, saya dinyatakan lulus S2 setelah sidang tesis yang lumayan tidak terlalu rumit (tapi proses menyusun tesisnya, ampun dije sampai ingin dadah dadah ke kamera saking rumit bin ruwet). 3 minggu setelah sidang dan dinyatakan lulus, saya akan berangkat ke Belanda untuk tinggal menetap. Seminggu setelah lulus S2, karena sebuah urusan, saya pergi ke salah satu RS. Kok ya mak bedundug mak jegagik setelah 14 tahun tidak bersua, saya papasan dengan si Ibu di sana. Beliau yang menyapa saya duluan (heran kok masih ingat, padahal saya sudah berjilbab, sudah beda penampakan. Terakhir ketemu Beliau, saya pake celana jeans, kaos lengan pendek dan berambut pendek) :

Si Ibu : Mbak, Apa kabarnya? Kerja di mana sekarang?

Saya : Kabar baik Bu. Saya baru saja lulus S2.

Si Ibu : Wah, lulus S2 ya. Sambil kerja atau bagaimana?

Saya : Saya kuliah dan kerja sambilan paruh waktu, karena kuliahnya siang.

Si Ibu : Main-mainlah ke rumah, ketemu (menyebutkan nama anaknya), mungkin kalian akan berjodoh lagi.

Saya : Saya sudah menikah Bu. Suami saya juga lulusan S2.

—– hening. Si Ibu tidak berkomentar. Lalu saya lanjutkan :

Saya : Sebelum kuliah S2, saya 8 tahun bekerja di PMA. Setelah ini saya akan tinggal di Belanda mengikuti suami. Jadi, saya tidak bisa main ke tempat Ibu. Maaf Bu saya masih ada urusan. Saya duluan.

IMG_A3D4B18496A8-1

Saya lalu pamit setelah mengucapkan salam. Pertemuan yang sangat tidak disangka. Bayangkan, setelah 14 tahun lamanya setelah perkataan Beliau yang tidak mungkin akan terlupakan, seperti sudah diatur Yang Kuasa, kami dipertemukan kembali. Karena mumpung ketemu itulah saya jadi mendadak congkak hahaha. Aji mumpung kan ya, makanya saya ucapkan juga kalau suami saya lulusan S2 -yang pada kenyataannya waktu itu masih nyusun tesis dan baru sidang 6 bulan kemudian :))- Tidak lupa saya sertakan kalau akan pindah ke Belanda, jadi saya tidak bisa main ke rumahnya yang beda kota dari kota tempat kami papasan.

Saya memang tidak akan lupa apa yang Beliau ucapkan, tapi saya tidak dendam. Hanya tidak akan bisa saya lupakan. Motivasi saya kuliah S2 juga bukan karena ucapan Beliau. Saya kuliah S2 karena ingin dan ada kesempatan. Bukan karena ingin membuktikan ucapan beliau salah, wong setelah itu kami tidak ada komunikasi lagi. Kalaupun ternyata suatu hari dipertemukan kembali pada saat yang tepat, pasti memang sudah direncanakan seperti itu oleh Yang Kuasa. Semoga Beliau ingat dihari saat meremehkan D3 saya dan tahu bahwa tidak sepantasnya mengeluarkan perkataan tersebut. Yang saya ucapkan pada saat bertemu Beliau bukan dalam rangka balas dendam. Saya hanya mengatakan fakta, bahwa perempuan yang 14 tahun lalu berpendidikan D3 dan Beliau bilang tidak setara dengan anaknya yang level S2, saat bertemu kembali sudah menyelesaikan S2 dan mempunyai suami (akan) lulusan S2 -tapi bukan anaknya-.

Selama hidup, saya sering mendapatkan respon yang meremehkan. Entah karena pembawaan saya yang tidak meyakinkan untuk berprestasi atau saya yang terlalu selengekan jadinya sering disepelekan. Seiring berjalannya waktu, toh pada akhirnya saya bisa membuktikan pada diri sendiri bahwa apa yang mereka sangkakan tidaklah terbukti, bahkan bisa jauh melampaui dari apa yang mereka ucapkan. Maklum, jiwa tidak suka dipandang sebelah mata jadi muncul kalau ada yang meremehkan.

Satu tambahan cerita saat saya bekerja. Ada satu kolega yang selalu bilang kalau saya tidak akan berhasil naik jabatan karena saya nampak biasa-biasa saja dan tidak cemerlang. Ditambah lagi, menurut dia naik jabatan di kantor tersebut susah. Dia menyebutkan buktinya dia sendiri, sudah lama di sana tapi posisi tetap sama. Saya tidak mendengarkan perkataan dia meskipun ya kesel juga kok diremehkan seperti itu. Saya bekerja seperti biasa, sebaik-baiknya. Singkat cerita, selama 7 tahun di sana, yang awalnya masuk sebagai staff, setiap tahun mendapatkan promosi karena kerja keras terbaik membuahkan hasil. Sewaktu saya mengundurkan diri untuk melanjutkan kuliah, posisi saya jauh di atas dia. Hal tersebut membuktikan, dia meremehkan saya tidak bisa naik jabatan, toh nyatanya kalau bekerja sebaik-baiknya, pihak managemen akan melihat dan menilai dengan adil. Berarti ya dia sendiri yang tidak kompeten untuk bisa naik jabatan.

Yang ingin saya sampaikan dari tulisan kali ini, berhati-hatilah dalam melontarkan ucapan atau komentar. Jika tidak bisa mengucapkan yang baik-baik, lebih baik diam saja. Bisa jadi yang kita ucapkan tidak baik dan meremehkan, akan diingat sepanjang masa oleh pihak yang menerima komentar. Tahan lidah dulu dan pikirkan lagi kalau ingin berkomentar. Kalau di dunia maya, tahan jempol dulu dan pikirkan berulang sebelum diunggah, apakah kedepannya akan membawa kebaikan atau justru keburukan, ada manfaatnya atau tidak. Peristiwa yang saya alami dengan si Ibu memberi pelajaran berharga bahwa memang tidak seharusnya meremehkan orang berdasarkan status sosial, jenjang pendidikan, atau apapun itu. Intinya, jangan gampang meremehkan atau merendahkan orang lain karena menilai diri sendiri terlalu tinggi.

Kita tidak tahu takdir kedepan seperti apa. Jalan hidup orang tidak bisa tertebak. Siapa tahu yang diremehkan di masa lalu, jadi sukses di masa depan dengan jalan yang dipilihnya, meskipun tetap terngiang selalu perkataan yang terlontarkan belasan tahun lalu. Bukan menyimpan dendam, hanya tidak bisa melupakan.

Bijaksanalah menggunakan lidah dan jempol kita.

-8 Desember 2019-

Ada yang mempunyai kisah serupa dengan saya atau hampir mirip atau malah pernah menjadi pihak yang melontarkan omongan kurang menyenangkan?

 

 

Agama Suamimu Apa?

Sabtu kemaren, saya mengundang makan siang di rumah beberapa teman baru yang saya kenal dari twitter. Tidak ada acara khusus, hanya undangan makanan siang. Pembicaraan selama hampir 5 jam, sangat seru. Tidak ada putus-putusnya. Segala macam topik kami bahas. Termasuk salah satu topik yang akhir-akhir ini sangat sensitif di Indonesia, perihal agama.

Ketika mengundang mereka ke rumah, tidak terpikirpun untuk mempertanyakan latar belakang tentang agama mereka. Sejak kecil, saya tidak mempermasalahkan teman atau kenalan saya beragama apa. Siapapun boleh bertandang ke rumah kami, kecuali maling tentu saja. Orangtua saya tidak pernah mengajarkan untuk memilih-milih teman berdasarkan agama. Salah satu sahabat saya sejak 20 tahun lalu bahkan beragama Kristen. Ketika saya memutuskan berjilbab, itu tidak mengubah hubungan kami, tidak serta merta saya memutuskan yang terjalin selama in. Saya tetap bersahabat dengannya. Selama ini, kriteria utama saya dalam memilih teman bukanlah perkara agama. Melainkan kepribadiannya, budi pekertinya.

Membaca berita di Indonesia akhir-akhir ini yang mempertanyakan segala sesuatunya berdasarkan agama, membuat saya sesak dan gelisah. Hati saya berontak. Mencari kos-kosan, ditanyakan agama, jika tidak seagama dengan pemilik kos, tidak diterima. Mau mendaftar pekerjaan, dipentingkan seagama. Jika tidak, akan ditolak. Tidak menyoal apakah kemampuannya bagus atau tidak. Entahlah, sebagai orang yang sudah 5 tahun belum pulang lagi ke Indonesia, saya semakin tidak mengenal negara saya dari sisi itu. Semakin tidak saya pahami masyarakat di sana seperti apa. Sangat berbeda dengan 5 tahun lalu saat saya merantau jauh ke sini. Dulu, tanpa pertanyaan agama, semua baik-baik saja. Saat ini, rasanya semua selalu ujung-ujungnya agama. Kembali lagi, itu yang saya baca di media dan pengalaman beberapa orang.

Pertanyaan tentang agama ini, juga saya dapatkan sejak menikah. Tentu saja bukan saya yang ditanya, tetapi tentang suami. Sebelum menikahpun, ada kenalan dari kampus yang terang-terangan bertanya,”Calon suamimu agamanya apa?” saat tahu calon suami saya WNA. Setelah menikah, pertanyaan berganti menjadi,”suamimu agamanya apa?” juga sering saya dapatkan, bahkan sampai saat ini. Di Belanda, pertanyaan tersebut tentunya saya dapatkan saat papasan dengan orang Indonesia dan hanya berbincang sesaat. Kalau pembicaraan sudah mengarah ke sana, saya akan langsung jawab, “pertanyaan terlalu pribadi, saya tidak akan jawab.” Buat saya, pertanyaan tentang agama ini sangatlah pribadi, apalagi yang ditanya tentang suami saya. Bukan hak saya untuk menjawab. Sama halnya ketika banyak pertanyaan yang saya dapatkan,”suamimu sudah sunat?” Itupun sudah diluar nalar saya, bagaimana bisa orang-orang tersebut menanyakan hal yang tidak layak untuk ditanyakan. Itu bukan urusan mereka kan?. Sudah melampaui batas-batas kesopanan. Katanya orang Indonesia adalah bangsa yang punya unggah ungguh dan sopan santunnya tinggi banget, tapi segelintir orang dengan gampangnya menanyakan perihal sunat. Punya pengaruh apa suami saya sudah sunat apa belum dengan kehidupan mereka.

Tadi malam menjelang tidur, saya berbincang dengan suami perkara agama ini. Kalau hidup di Indonesia, mungkin keluarga kami sudah mendapatkan penolakan di sana sini karena kriteria agama yang tidak “layak” tinggal ditengah-tengah masyarakat. Pernikahan saya akan dipertanyakan keabsahanannya dari sisi kehidupan beragama, suami saya ke manapun melangkah akan dipertanyakan agamanya apa, bahkan tidak mungkin kedepannya keturunan kami akan dikucilkan dari pergaulan karena memilih berbeda dengan kebanyakan masyarakat di sana. Terus terang jika memikirkan hal tersebut, hati kecil saya selalu menangis, sedih. Beberapa kali saya juga mendapatkan kata kunci pencarian di blog ini tentang agama suami saya : Apa agama suami blog denald. Bahkan agama sayapun ada yang penasaran : agama Deny apa?.

Kemana keberagaman agama yang saya kenal sejak kecil, tidak mempersoalkan mau makan dengan mereka yang berbeda agama, tidak mempersoalkan berteman dengan yang berbeda keyakinan, tidak mempertanyakan agama saat ingin menolong orang yang sedang kesusahan. Pemikiran saya tentang agama masih sama sejak remaja sampai saat ini : Agama itu perkara panggilan hati, bukan paksaan apalagi didapat dari garis keturunan. Agama itu pilihan, bukan kewajiban. Ada yang memilih beragama, ada yang memilih beragama tertentu, ada yang memilih percaya pada alam semesta, semuanya hak masing-masing orang. Seharusnya itu tidak menjadi halangan ataupun sebuah penghalang terhadap apapun. Seharusnya.

Jika saya mempertanyakan agama setiap orang yang akan bertandang ke rumah atau mereka yang ingin saya undang ke rumah, sabtu kemaren saya tidak akan belajar banyak hal dari mereka karena memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda dengan saya. Dari pembicaraan selama 5 jam, saya belajar tentang kehidupan dari pengalaman mereka yang berlatarbelakang beragam. Saya belajar tentang hidup menjadi perantau, jatuh bangun, dan suka duka di negeri ini.

Harapan saya perihal agama di Indonesia, semoga semuanya kembali seperti semula. Saling guyub antara agama satu dan lainnya. Kembali paham esensi beragama. Saling hidup bersandingan tanpa harus mempertanyakan agama satu sama lain. Tahu batasan masing-masing tapi tidak terkungkung oleh batasan tersebut. Melebur dengan damai.

Semoga saat kami ada kesempatan mudik ke Indonesia, tidak ada lagi pertanyaan yang sama saat 5 tahun lalu dia berkunjung ke sana, “Agama suamimu apa?” Semoga beragama ataupun tidak beragama, tidak menjadi sebuah persoalan besar. Semoga perilaku yang baik dan punya sopan santun yang baik sudah mencukupkan. Semoga kami diterima dengan sewajarnya meskipun kami memilih berbeda dengan mereka. Memilih untuk tidak menjadi bagian atau golongan manapun. Semoga.

-2 Desember 2019-

Menutup Diri Setelah Tinggal di Luar Negeri?

Suasana kampung tempat tinggal kami

Membaca postingan  di blog ini, pendapat penulis tentang Diaspora yang disinyalir mengalami sindrom menutup diri, jadi tertarik untuk membuat tulisan dari sudut pandang saya dan berdasarkan pengalaman diri sendiri tentunya. Sejak pindah ke Belanda, seringkali saya mendengar dari kerabat, kenalan, teman di Indonesia kalau saya semakin menutup diri dan menjaga jarak dengan mereka. Ada benar dan tidaknya apa yang mereka sampaikan serta ada alasannya juga kenapa saya bersikap seperti itu. Salah satu alasan saya membuat tulisan ini adalah untuk memberikan gambaran tentang hal tersebut.

Saya nyaris 5 tahun tinggal di Belanda dan belum pulang sama sekali ke Indonesia. Jadi saat membaca penjabaran selanjutnya bisa membayangkan kondisi dan situasi saya. Tulisan ini lumayan panjang.

GANTI NOMER TELEPON

Pindah ke Belanda, artinya ganti nomer telepon. Saatnya tidak lagi bergabung dengan banyak grup WhatsApp (WA). Sampai saat ini, saya hanya punya tiga grup WA. Ya, cuma tiga. Saya membatasi berbagi nomer telepon yang baru. Hanya pada yang merasa dekat saja saya berbagi nomer telepon Belanda. Itupun ternyata beberapa kali ada yang lancang membagikan nomer tanpa sepengetahuan saya lebih dahulu.

Alasan saya tidak lagi bergabung dengan banyak grup wa, pertama karena zona waktu sudah berbeda. Kedua, karena seringnya saya tidak membaca isi grup wa yang sangat aktif. Ketiga, ya saya mau fokus dulu dengan kehidupan di Belanda. Disinilah awal mula ada beberapa komentar yang saya dengar kalau saya “mengasingkan” diri. Mereka berpikir saya tidak mau ikut grup lagi karena sudah tinggal di LN, tidak level dengan mereka yang tinggal di Indonesia. Lha, apa hubungannya ya. Tapi ya sudahlah, saya juga tidak mau repot-repot menjelaskan.

PROSES ADAPTASI YANG TIDAK MUDAH DAN JUGA TIDAK SUSAH

Saya memulai semuanya di Belanda dari nol, dari awal. Jatuh tersungkur-sungkur belajar bahasa baru, mengenal lingkungan baru, mendaftar sebagai sukarelawan untuk beberapa kegiatan supaya memperlancar bahasa Belanda, ujian bahasa Belanda sebagai syarat memperpanjang ijin tinggal, jungkir balik mencari pekerjaan, lalu dapat kerja di bidang yang baru dan sangat berbeda dengan latar belakang pendidikan maupun pengalaman kerja sebelumnya, penyesuaian terhadap cuaca, mempelajari (dan belajar panjang sabar) terhadap segala sistem birokrasi di sini, dan masih banyak lagi yang harus saya lakukan sebagai proses adaptasi. Semuanya bukan perkara yang mudah, terutama untuk bahasa dan cuaca, namun buat saya juga bukan hal yang susah. Saya fokus dengan apa yang ada sekarang, apa yang perlu saya jalani saat ini. Bukan berarti saya melupakan apa yang ada di Indonesia, tapi setiap hari di sini adalah proses adaptasi, pun sampai detik ini. Banyak hal-hal baru yang terus saya pelajari dan perlu fokus. Itu saja sebenarnya. Fokus saya sudah berbeda dengan kehidupan sebelumnya sewaktu di Indonesia. Menjadi imigran buat saya tidak mudah, karenanya saya ingin membuat lebih mudah dengan menjalani secara fokus apa yang ada sekarang dan menerapkan skala prioritas.

PERTANYAAN YANG TERLALU PRIBADI

Ada beberapa kenalan, teman, dan kerabat yang mengajukan pertanyaan atau memberikan pernyataan yang sudah jauh masuk dalam ruang privasi saya. Misalkan saja : suami kerja di mana, gaji suami berapa, beli rumah di Belanda harganya berapa, suami sholat nggak, sudah punya anak apa belum, sudah dapat apa saja dari suami (mengacu pada materi), kenapa kamu kok tidak bekerja kantoran, kenapa kok kamu sudah sekolah tinggi tapi malah tinggal di rumah, dan sebagainya dan sebagainya. Masih banyak sebenarnya, tapi tidak akan saya tuliskan semua. Pertanyaan tersebut datang dari orang-orang yang tinggal di Indonesia maupun dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Belanda. Saya merasa tidak nyaman dengan hal tersebut dan saya memilih untuk selalu mengatakan bahwa apa yang mereka katakan terlalu masuk dalam ranah pribadi saya dan saya tidak akan memberikan jawaban atau pernyataan apapun. Saya tidak berhutang penjelasan pada siapapun. Jadi, kalau saya menjaga jarak dengan mereka, bukannya tanpa sebab, melainkan karena mereka sendiri yang membuat saya berlaku seperti itu. Bertukar kabar dengan berbagi cerita yang umum saja saya sudah cukup, tidak perlu bertanya sampai jauh ke ranah pribadi.

Saya punya teman-teman baik (belum sampai level sahabat) di Belanda, tapi sangat terbatas. Tidak lebih dari jumlah jari tangan. Prioritas hidup saya saat ini (dan sejak awal di sini) bukan untuk mencari teman baru, jadi saya sudah cukup bahagia dengan teman-teman dekat yang ada sekarang. Sebenarnya sejak saya pindah ke Belanda, mencari teman bukanlah prioritas. Ada atau tidak ada teman, saya biasa saja. Saya lebih sibuk untuk adaptasi hal-hal lainnya. Semuanya mengalir dalam pertemanan, tidak pernah saya buat ngoyo. Karena itulah, saya punya teman sangat sedikit dan itu tidak jadi masalah.

Saya selalu membalas senyuman atau tegur sapa orang Indonesia yang ketemu dijalan (meskipun saya sendiri nyaris tidak pernah menegur duluan), menjawab obrolan mereka juga. Namun jika sudah terlalu jauh topik obrolannya, saya memilih tidak melanjutkan dan lebih baik permisi pergi. Saya pernah menuliskan di sini, cerita tentang mereka yang saya temui di Belanda, asal njeplak berkomentar padahal kenal (baik) saja tidak.

img_1521

LEBIH “MELEK” DENGAN YANG NAMANYA PRIVASI

Melanjutkan dari tulisan di atas, semakin bertambah umur, saya semakin melek dengan yang namanya privasi. Dulu sih semuanya saya ceritakan dan tuliskan terutama di media sosial. Semakin ke arah sini, saya semakin membatasi dan berpikir berulang kali perkara penting tidaknya mengunggah foto, status, cerita dan tulisan. Tahun 2015 saya deactive FB. Lalu tahun 2018 saya aktifkan lagi. Sejak mengaktifkan lagi, saya benar-benar menggunakan FB sebijak mungkin. Saya kurangi daftar teman yang ada di sana, hanya mereka yang sudah saya kenal yang dipertahankan. Saya makin selektif menerima permintaan pertemanan. Saya unggah sesuatu yang umum-umum saja, bahkan seringnya hanya sebagai sarana berbagi tulisan blog. Berbagi foto? seingat saya, tidak sampai 10 kali foto yang diunggah sejak FB aktif kembali.

Hal tersebut menimbulkan pertanyaan beberapa orang kenapa saya nampak terlalu menutup diri, tidak pernah mengunggah foto keluarga, tidak pernah bercerita tentang keluarga. Bahkan ada yang bertanya apakah kehidupan pernikahan saya baik-baik saja. Mungkin karena dulunya saya terlalu gampang “berbagi” di media sosial dan sekarang nampak lebih tertutup, jadi mereka menginterpretasikan bahwa kehidupan saya di Belanda tidak baik-baik saja. Padahal sebenarnya simpel : sekarang saya lebih nyaman seperti ini, tidak terlalu “obral” diri di media sosial maupun di blog, lebih nyaman dengan ruang privasi saya dan keluarga yang terjaga. Jejak digital tidak bisa dihapus, itu pegangan saya.

MENASEHATI TANPA DIMINTA PENDAPAT

Karena saya terlihat menutup diri dibandingkan sebelumnya, ada beberapa yang memberi nasihat tanpa diminta, berdasarkan asumsi mereka sendiri. Jadi semacam tebak-tebak buah manggis lalu mencoba menasehati. Misalkan : Saya tidak pernah bercerita secara detail tentang keluarga atau memasang foto keluarga, lalu ada yang berasumsi bahwa kehidupan saya di Belanda ada masalah. Lalu dinasehatilah saya bahwa kehidupan berkeluarga memang seperti itu, ada naik turunnya. Padahal, saya tidak pernah memberi komen apapun tentang asumsi yang dibuat. Karena tidak ada komentar dari saya, lalu mereka memberi cap kalau saya sombong sejak tinggal di Belanda. Padahal yang saya lakukan hanyalah tidak mau memberi ruang akan segala hal yang sudah mereka asumsikan sendiri. Saya diberi cap sombong? ya silahkan saja. Sejak di Indonesia pun saya sudah sering diberi cap sombong bahkan judes. Jadi kalau sekarang diberi cap itu lagi, rasanya ya biasa aja. Saya tidak bisa mengendalikan reaksi orang. Itu salah satu contohnya.

PERKARA JANJIAN

Beberapa kali ada teman dan kenalan dari Indonesia yang akan main ke Belanda, selalu dadakan mengajak janjian. Seringnya mereka mengajak ketemuan di Amsterdam. Tempat tinggal saya ke Amsterdam lumayan jauh, sekitar 1.5 jam naik transportasi umum. Pertama, Belanda itu negara kecil dan transportasi di Belanda seringnya tepat waktu (karena ada masanya tidak tepat waktu juga karena kendala teknis). Jadi, jarak tempuh 1.5 jam itu adalah waktu yang lumayan lama. Kedua, transportasi umum di Belanda itu mahal. Jadi biasanya kalau akan pergi jauh, saya mencari info lebih dahulu apakah ada tiket kereta yang dijual murah (banyak promo tentang ini). Meskipun saya menggunakan kartu abonemen (yang akan mendapat diskon 40% jika naik kereta), tapi jika dihitung akan lebih murah menggunakan tiket promo, ya saya menggunakan tiket promo. Belanda ini negara mahal, jadi kalau ada banyak cara untuk bisa hidup hemat, kenapa tidak ya kan.

Alasan ketiga, kami tinggal di Belanda semua dikerjakan berdua. Bukan berarti dengan saya tidak bekerja kantoran lalu saya banyak waktu senggang lalu bisa mengajak ketemuan dadakan. Setiap hari saya sudah punya rencana apa saja yang harus saya kerjakan. Saya sudah terbiasa membuat janjian jauh hari, wong mau makan bakso saja musti janjian paling tidak sebulan sebelumnya. Jadi kalau dadakan, seringnya saya tolak.  Kalau ketemuannya di kota terdekat, akan saya pertimbangkan.

Lalu tanggapan yang saya terima, dibilang saya terlalu londo, terlalu kaku padahal di Indonesia dulu tidak begitu. Mereka lupa, bahwa saya tinggal di Belanda hampir 5 tahun dan sudah menyesuaikan (nyaris) semuanya dengan tempat tinggal saat ini. Ya, lalu bagaimana saya menjadi tidak “terlalu londo?” *sudah terbaca belagu belum.

MEMBATASI DAN MENJAGA JARAK, BUKAN MENUTUP DIRI

Dari semua hal yang saya jabarkan di atas, jika banyak yang mengatakan saya menutup diri, mungkin bagi mereka nampak seperti itu. Saya membatasi dan menjaga jarak dengan orang-orang yang tidak saya kenal baik yang berada di Indonesia maupun orang-orang Indonesia yang ada di Belanda. Buat saya, jumlah teman tidaklah penting. Yang lebih penting adalah kualitasnya. Keluarga, teman-teman dekat, sahabat yang ada sekarang (cuma 4 orang yang semuanya ada di Indonesia), sudah lebih dari cukup. Mereka tidak pernah terlalu mencampuri urusan pribadi, sayapun berlaku sama. Kami tahu batasan masing-masing. Kami saling menanyakan kabar terbaru, cerita terbaru, dan sering juga mengirimkan foto terbaru. Hanya dengan mereka saya merasa nyaman berbagi cerita yang ingin saya bagi. Lalu kalau ada yang bilang saya menutup diri, artinya saya tidak dekat dengan mereka.

Jadi jika ada yang tidak mengenal saya dengan baik lalu berasumsi sendiri tentang kehidupan saat ini, ya monggo. Sekali lagi, saya tidak berhutang penjelasan detail pada siapapun. Yang terpenting, saya tidak pernah menutup diri, hanya membatasi dan menjaga jarak, melakukan hal yang membuat nyaman. Berteman dengan mereka yang saling menyamankan, berbagi kabar pada keluarga yang membuat saya merasa nyaman, dan berbagi hal-hal yang seperlunya saja di media sosial. Rasanya motto yang cocok dengan hidup saya sejak tinggal di Belanda adalah : bertindak, berbicara, dan nyetatus seperlunya saja.

-21 Oktober 2019-