Pembahasan Penting Sebelum (Memutuskan) Kawin

Saya menikah saat umur tak lagi muda untuk ukuran orang Indonesia. Justru saya bersyukur sekali menikah saat jiwa raga, mental spiritual sudah siap, meskipun kata lingkungan terbilang telat. Saya pribadi tidak memandang dan merasa menikah saat usia 33 tahun telat. Saya menikah ketika banyak hal suka duka dalam kehidupan sudah terlewati, mengajarkan banyak hal, jadi saat memutuskan serta melihat sesuatu tidak grasa grusu lagi. Pun ketika saya dipertemukan dengan suami, saya memutuskan menikah dengannya setelah melalui pembicaraan dan diskusi yang panjang tentang beberapa hal. Diskusi ini benar-benar sangat terbuka tanpa ada satupun yang kami tutupi. Kami melakukan pembicaraan ini untuk memperkecil gesekan yang akan kami hadapi dalam kehidupan rumah tangga. Memperkecil ya, bukan meniadakan. Dua kepala yang berbeda tinggal dalam satu rumah dengan sebuah ikatan, mustahil kalau selalu adem ayem. Tapi dengan pembicaraan yang tuntas tentang beberapa hal yang kami anggap penting sebelum melanjutkan untuk memutuskan menikah, saya rasakan rumah tangga kami tak terlalu gonjang ganjing. Justru seringnya pertengkaran datang dari hal-hal yang sepele, misalkan saya lupa menutup kran setelah menyiram tanaman atau suami memakai sepatu naik ke lantai atas karena terburu-buru ingin mengambil suatu barang. Selebihnya, ya kami lewati 5 tahun pernikahan (dan semoga banyak tahun-tahun di depan) dengan baik-baik saja.

Beberapa hal di bawah ini yang kami bicarakan sebelum melanjutkan hubungan dan memutuskan untuk menikah. Hal-hal di bawah ini juga saya terapkan saat saya berhubungan dengan beberapa pria sebelum bertemu suami *bukan bermaksud sok laku ya haha. Tulisan ini sangat panjang, jadi siapkan waktu luang jika berniat membaca.

  • BAYANGAN AKAN RUMAH TANGGA

Bayangan akan rumah tangga ini maksudnya kami saling mengemukakan pendapat rumah tangga seperti apa yang ingin kami punya nantinya. Hubungan yang seperti apa, keluarga yang bagaimana ataupun bayangan hal-hal apa saja yang akan kami lakukan. Lebih khususnya kami dulu membicarakan tentang hak dan kewajiban. Misalkan salah satunya tentang mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Apakah harus istri semua yang mengerjakan atau ada pembagian atau fleksibel siapapun bisa mengerjakan apapun. Itu sangat penting dibicarakan diawal untuk menghindari kekesalan yang timbul nantinya setelah menikah.

Saya dibesarkan oleh orangtua yang selalu berbagi dan saling membantu pekerjaan rumah tangga. Bapak saya selalu penuh suka cita saat mencuci baju (Kami tidak pernah punya mesin cuci, jadi mencuci baju manual dengan tangan), memasak, mencuci piring, menyapu, bahkan mengepel (Bapak selalu mengepel dengan berjongkok, tidak pernah menggunakan alat) dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Apalagi saat Ibu melanjutkan kuliah, otomatis Bapak yang sering berperan dalam mengerjakan pekerjaan RT. Kami anak-anaknya pun sejak kecil sudah diajari untuk membantu tugas dalam rumah meskipun saat itu kami punya pembantu. Saya sudah diajari menanak nasi dengan cara aron dan memakai dandang saat kelas 4 SD. Dan sejak itu, salah satu tugas saya adalah menanak nasi.

Dengan latar belakang seperti itu, penting bagi saya mempunyai suami yang dengan kesadaran (tanpa disuruh-suruh apalagi menggerutu) untuk berbagi peran dalam rumah tangga, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan fleksibel dalam tugasnya. Beberapa kali mengenal pria yang tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena menurut mereka hal itu adalah mutlak harus istri yang mengerjakan. Meskipun misalkan pria tersebut seganteng Nicholas Saputra, saya jadi tidak selera lagi melanjutkan hubungan.

Ada satu lagi yang saya biasanya langsung berpikir ulang untuk melanjutkan hubungan, jika bertemu dengan pria yang selalu membandingkan dengan Ibunya dan mengharapkan saya seperti Ibunya. Percayalah, saya tidak bisa berhubungan dengan lelaki seperti itu. Saya adalah saya, berdiri sendiri tidak mau dikasih tempelan ataupun dituntut seperti orang yang sangat dikaguminya. Jika hal ini tidak dibicarakan di awal, nantinya pasti akan jadi salah satu sumber pertengkaran hebat jika sudah menikah.

Begitulah beberapa contoh yang berhubungan dengan gambaran tentang rumah tangga. Oh ya, yang akan pindah ke LN (yang mempunyai 4 musim) mengikuti domisili pasangannya, cek dan ricek dulu secara akurat calon tempat tinggalnya bagaimana, cuaca, lingkungannya, budayanya dan sebagainya. Jangan hanya membayangkan luar negeri itu romantis seperti di film-film Hollywood. Misalkan : Siapkah mempelajari bahasa domisili pasangan dan memulai lagi kehidupan dari awal, meninggalkan apa yang sudah dirintis di tanah air? Sudah siapkah saat kangen makan tempe tapi harus membeli dengan perjuangan melewati tumpukan salju dengan jaket bertumpuk? Persiapkan untuk hal yang terburuk, jika ternyata tidak siap, pikirkan lagi sebelum memutuskan untuk melanjutkan menikah.

  • KEUANGAN

Bagi orang Indonesia pada umumnya, sangatlah tabu membicarakan tentang keuangan sebelum menikah. Buat saya pribadi, justru hal ini harus dibicarakan di awal. Saat suami mengutarakan maksudnya untuk menikah dengan saya, pertanyaan pertama yang saya lontarkan pada bagian keuangan adalah : Apakah kamu punya hutang? Jika memang ada, berapa jumlahnya, apa saja, dan dalam jangka waktu berapa tahun harus lunas? Pertanyaan yang sama dia lontarkan juga pada saya. Jadi sejak awal kami sudah buka-bukaan tentang kondisi keuangan masing-masing. Hutang, aset, gaji, pekerjaan, semuanya yang berhubungan dengan keuangan, kami buka di awal.

Hal ini juga berkaitan dengan expense dalam rumah tangga. Hal-hal apa saja yang harus saya bayar dan dia bayarkan. Tentang hal ini, saya juga melihat langsung dari orangtua. Kedua orangtua saya bekerja, jadi mereka berbagi dalam pembayaran pengeluaran rumah tangga. Jadi hal ini juga harus saya dan suami bicarakan di awal. Kalau misalkan saya belum bekerja bagaimana, dan jika sudah bekerja namun gaji saya lebih kecil atau lebih besar bagaimana pembagiannya. Hal ini kami cantumkan semua dalam perjanjian Pra Nikah (Saya tuliskan secara rinci dalam bahasan akhir). Saat saya bekerja selama dua tahun, kami berbagi prosentase pembayaran pengeluaran rumah tangga. Ini juga berlaku untuk pengeluaran selama liburan ya. Jadi semuanya kami tanggung berdua pengeluaran dalam rumah tangga, bukan hanya jadi tanggungjawab suami. Nah saat saya tidak bekerja, ada tak tik lainnya yang kami lakukan.

Untuk orang Indonesia yang biasa membantu keluarga dan menikah dengan WNA, saya sarankan untuk dibahas di awal juga tentang hal ini. Jangan menjadi batu sandungan di kemudian hari saat sudah menikah. Jangan curi-curi kesempatan juga untuk bisa mengirim keluarga. Lebih baik dikemukakan di awal, jadi kalau ada pihak yang merasa keberatan, bisa dicari jalan keluarnya. Untuk hal ini, saya tidak melakukan karena saya tidak pernah memberi uang kepada Ibu. Tapi saya mengamati dari beberapa kenalan dan teman yang sudah menikah lama dengan WNA.

DE_0445

  • ANAK

Pembahasan yang tidak kalah pentingnya adalah tentang anak. Pastikan dulu apakah calon yang akan menikah dengan kita mempunyai pandangan yang sama tentang memiliki atau tidak mau memiliki anak. Jika dari awal sudah terjadi perbedaan pendapat, lebih baik dipikirkan berulangkali untuk melanjutkan menikah. Misi tentang anak ini harus sama. Jangan mengentengkan : ah nanti siapa tahu berubah pikiran. Jangan seperti itu. Harus jelas di awal tentang hal ini.

Saya waktu itu masih belum yakin ingin memiliki anak, tapi ada keinginan mungkin 10%. Sedangkan suami, menikah dengan saya tidak dengan tujuan hanya untuk memiliki anak. Buat dia, punya anak ok, tidak pun tidak masalah. Saya utarakan hal tersebut kepada suami. Saya bilang : bagaimana kalau nanti kita tidak punya anak karena saya tidak mau, bagaimana kalau ternyata kami tidak bisa memiliki anak karena masalah kesehatan, kalau misalkan ingin memiliki, berapa anak, kalau misalkan tidak bisa punya anak karena kendala kesehatan apakah ada opsi untuk adopsi, dan sebagainya. Kami terbuka tentang hal ini sejak awal.

  • KESEHATAN

Berterus terang tentang kesehatan sama pentingnya buat kami berterus terang tentang kondisi keuangan. Jadi sejak awal kami sudah memberitahu apakah kami punya sakit serius atau tidak, sakit apa saja yang biasa kami derita, apakah dari keluarga ada keturunan sakit serius, dan sebagainya. Jadi, blak-blakan tentang kondisi kesehatan masing-masing sangat perlu buat kami.

  • AGAMA

Nah, pembicaraan tentang agama, buat kami sama pentingnya dengan pembicaraan tentang anak karena ada juga kaitannya. Hal ini juga harus disepakati di awal bagaimana kedepannya nanti. Jangan sampai satu pihak berharap lebih, lalu nanti merasa kecewa ketika setelah menikah kenyataan tidak sesuai yang diharapkan. Kalau berhubungan dengan anak, kami ada kesepakatan di awal. Kalau misalkan kami punya anak, akan dibesarkan dengan cara apa anak ini. Apakah dibesarkan sesuai ajaran agama, apakah dibesarkan sesuai ajaran kebaikan tanpa cenderung ke agama tertentu, ataukah anak nantinya akan dibebaskan mau memilih beragama atau memilih tidak beragama, dimasukkan ke sekolah umum atau sekolah agama, dan pembahasan lebih mendalam dan detail tentang agama. Semuanya sudah kami bahas diawal. Jadi selama  menikah, kami tidak pernah lagi membicarakan hal-hal yang berhubungan tentang agama karena semua sudah jelas di awal.

  • PERJANJIAN PRANIKAH

Ada anggapan bahwa perjanjian pranikah dibuat karena berjaga-jaga jika terjadi perceraian, jadi membuat perjanjian pranikah tidak disarankan karena belum apa-apa kok sudah memikirkan tentang cerai. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah meskipun juga tidak benar seutuhnya. Perjanjian pranikah, buat kami pribadi justru melindungi hak dan kewajiban kami sebagai pasangan juga hak dan kewajiban sebagai individu. Misalkan mencantumkan berapa persen pembayaran pengeluaran rumah tangga oleh masing-masing pihak (seperti yang sudah saya bahas sebelumnya). Selain itu, juga melindungi hak kami sebagai individu misalkan jika kami mempunyai properti yang kami beli sebelum menikah, maka hal tersebut tetap menjadi milik pribadi. Jika nanti terjadi perceraian, hak dan kewajiban juga tercantum dengan jelas di situ. Jadi buat kami, perjanjian pranikah sangat perlu, terlebih karena saya menikah dengan WNA.

Sepatu

Begitulah tulisan panjang tentang diskusi saya dengan suami akan beberapa hal penting. Nampak ruwet ya, sebelum menikah kok pembicaraannya berat sekali. Kami lebih memilih ruwet di awal dan mempunyai kata sepakat daripada tidak dibicarakan tapi nanti jadi ganjalan dan batu sandungan dalam pernikahan. Memperkecil gesekan, kami menyebutnya.

Semoga yang saya tuliskan ini bisa membuka wacana dan pandangan bahwa tidak ada hal-hal yang dirasa tabu dan perlu dibicarakan sebelum menikah. Jika memang hal tesebut penting, lebih baik bicarakan di awal. Lebih baik ruwet di awal daripada ruwet di pertengahan. Tentu saja poin-poin di atas subjektif dan sesuai kondisi kami. Masing-masing pasangan punya poin-poin penting lainnya yang mungkin berbeda untuk didiskusikan.

Menikah bukan hanya tentang hal-hal manis saja. Pahitnya pun tak kalah banyaknya. Menikah bukan hanya perkara cinta yang penuh bunga, tapi juga duri-duri harus dihadapi dan diselesaikan. Saya menuliskan tentang topik ini bukan dengan tujuan menggurui dan sok mengerti lika liku pernikahan. Saya ingin berbagi pemikiran dan pengalaman saja, meskipun pernikahan kami baru berjalan 5 tahun. Jika hal-hal yang dirasa mendasar sudah disampaikan dan didiskusikan di awal, semoga bisa memperkecil gesekan.

-26 Agustus 2019-

Berbeda Pilihan

Tegernsee

Beberapa minggu lalu saya bertemu seorang kenalan yang entah kapan terakhir kami berbincang secara langsung. Sayapun sudah tak mengikuti lagi kabarnya seperti apa. Setelah saling bertukar kabar, dia bertanya apakah saya pernah mudik. Saya jawab kalau mudik bukan prioritas, setidaknya dalam beberapa tahun ini. Lalu tanpa diminta, dia berbicara panjang lebar agak “menceramahi” kasihan Ibu saya kalau tidak pernah mudik, harusnya saya bisa menyisihkan uang untuk ditabung supaya bisa mudik, bahkan memberitahu bahwa jalan-jalan sekitar Eropa harusnya bukan jadi prioritas karena mudik lebih penting.

Bisa saja saya langsung nyolot karena segala yang dia “sarankan” tersebut tidak sesuai dengan kondisi saat ini dan karena saya punya alasan khusus kenapa mudik tidak menjadi prioritas. Bisa saja saya bilang bahwa kalau mau, tiap tahun saya mampu pulang ke Indonesia. Bisa saja saya memberi penjelasan -sejelas-jelasnya-. Tapi saya memilih tersenyum saja lalu permisi. Saya tidak berhutang penjelasan apapun atas pilihan-pilihan yang saya putuskan, termasuk padanya, yang ternyata setiap tahun pulang ke Indonesia. Saya tidak harus menjelaskan apapun karena toh yang ingin dia dengar hanyalah hal-hal yang sesuai pikirannya.

Seringnya ketika berbeda pilihan, orang langsung menganggap hal tersebut tidak baik, apalagi jika memakai standar pribadi. Kenalan saya tersebut memilih untuk setiap tahun pulang ke Indonesia, sedangkan saya tidak. Menurutnya, ketika saya memilih untuk memprioritaskan tidak pulang, itu adalah hal yang salah karena kasihan Ibu. Padahal kenyataannya tidak sesuai dengan asumsinya. Mustinya, jika tidak tahu alasan akan suatu keputusan atau perkara, tidak perlu memberikan pendapat lalu seolah-olah memberi masukan padahal sebenarnya justru menyalahkan. Hal ini juga saya amati saat berbeda tentang pilihan politik (apapun kondisinya). Hal-hal yang mendasar jadi terlupakan ketika pilihan politik kita berseberangan dengan orang lain, teman, kenalan, bahkan orang terdekat. Prinsip tak mengapa putus hubungan pun menjadi sebuah hal yang lumrah. Sangat disayangkan. Namun hal tersebut kembali lagi pada masing-masing individu. Tidak semua orang demikian, meskipun banyak yang memilih seperti itu.

Di era media sosial seperti sekarang ini, orang makin gampang menuding ini salah dan itu salah jika ada hal-hal yang tidak sesuai standar pribadi mereka. Banyak sekali keributan tentang berbeda pilihan ini, misalkan : memilih memberi ASI vs susu formula, operasi caesar vs melahirkan per vaginal, BLW vs menyuapi, memilih menikah vs melajang, memilih tidak olahraga vs rajin olahraga, bahkan sampai memilih punya anak vs memilih tidak punya anak. Semua hal ini jadi bahan keributan yang rak uwis uwis. Kalau mau dijabarkan secara panjang, contohnya akan banyak sekali. Banyak yang memilih untuk mengkritisi, tapi tidak sedikit juga yang memilih untuk menyinyiri *haduh bahasa opo iki. Beda ya antara nyinyir dan kritis. Saking bedanya terlalu tipis, banyak yang terjebak, maksudnya kritis malah jadinya nyinyir.

Saya menulis seperti ini kok kesannya suci banget, tidak pernah nyinyir dengan pilihan orang lain. Jangan salah, saya sering nyinyir, apalagi kalau melihat ada yang berbeda dengan standar hidup yang saya jalani. Saya masih suka nyinyir kalau melihat ada yang ngejembreng uang di media sosial (padahal kan uang dia, tidak berhutang pada saya), nyinyir kalau ada yang menampilkan perbincangan intim dengan pasangan di media sosial, bahkan nyinyir kalau ada yang terlalu memuja-muja anaknya setinggi langit (padahal ya anak dia sendiri, wajar kalau dipuji. Masa mau memuji anak tetangga). Kalau saya pikir lagi, ya kenapa saya musti terusik dengan pilihan orang lain yang berbuat demikian, toh tidak merugikan saya. Mungkin saja memang hal tersebut adalah cara mereka membagi kebahagiaan. Ataukah saya nyinyir karena sirik? atau karena merasa “lebih” dari mereka tapi tidak melakukan hal yang sama? ataukah saya nyinyir  karena beda standar? atau ya hanya ingin nyinyir saja? pasti jawabannya salah satu dari yang sudah saya tuliskan.

Masih menjadi PR besar buat saya untuk menjaga pikiran, tangan, dan mulut supaya tidak gampang menghakimi pilihan orang lain yang berbeda dengan apa yang saya putuskan. Beruntung beberapa bulan ini kesibukan saya mulai bertambah, jadi fokus teralihkan dari yang suka mengamati kemudian nyinyir, jadi berkurang banyak. Berkurang lho ya, bukan nihil. Mudah-mudahan kedepannya saya semakin bisa menahan diri dan berpikir panjang sebelum menghakimi pilihan orang lain. Hal ini termasuk pilihan seseorang (yang saya kagumi karena karyanya) tidak melakukan vaksin untuk anaknya. Bukan Andien, saya biasa-biasa aja dengan Beliau meskipun belajar banyak juga dari ilmu-ilmu yang dibagikan.

Kuncinya cuma satu sih sebenarnya, saling menghormati. Standar kebahagiaan masing-masing orang kan berbeda. Kalau yang satu memilih beda dengan apa yang sudah kita putuskan, lalu kenapa musti “terusik.” Toh tidak saling merugikan. Kalau sudah merasa bahagia dengan pilihannya, ya sudah nikmati saja. Tidak perlu mengutuk orang lain yang beda jalan hidupnya. Contohnya : Jika memilih untuk punya anak dan merasa bahagia dengan keputusan tersebut, ya jalani dengan sukacita. Tidak perlu memperolok mereka yang memutuskan untuk tidak punya anak. Tidak usah merasa tinggi hati serta jumawa karena merasa lebih bahagia dari yang memilih tidak punya anak. Sebaliknya pun, jika sudah nyaman dengan pilihan tidak ingin punya anak dan bahagia dengan jalan tersebut, silahkan jalani dengan gembira. Masing-masing pihak tidak perlu koar-koar dengan  pilihan yang sudah diputuskan dan dijalankan, apalagi saling memperolok. Selama ini saya selalu berpikir bahwa yang namanya bahagia, tidak perlu digembar gemborkan, orang pasti bisa merasakannya.

Saya suka dengan apa yang ditulis Beth di blognya, “People have different standard for happiness. Some are happy with children, some are happy without children.” Hal inipun berlaku untuk versus – versusan lainnya. Standar kebahagiaan masing-masing orang berbeda. Jalurnya sudah berbeda, kenapa musti saling memperolok? Bahagialah dengan apapun yang sudah dipilih, jalani dengan tenang tanpa harus saling cela.

Respect each other
Respect each other

Masing-masing orang mempunyai alasan sendiri kenapa memilih sesuatu. Mungkin saja karena sesuai kondisi dan situasi saat itu, mungkin saja memilih sesuai kesadaran, bahkan mungkin saja memilih karena tidak punya pilihan. Kita tidak pernah tahu perjuangan atau cerita apa yang membawa mereka pada pilihan tersebut. Kita tidak pernah tahu.

-Nootdorp, 28 Juli 2019-