Delapan Tahun di Belanda

Termasuk menerima perubahan badan selama 8 tahun ini. Saat datang membawa badan seberat 45kg. Lalu selama 8 tahun ini naik turun tergantung lagi hamil apa tidak haha Alhamdulillah menggelembung lagi

Bulan ini, tepat delapan tahun lalu saya sampai di Belanda (Cerita Delapan Tahun Lalu). Memulai hidup baru sebagai imigran cinta. Meraba – raba harus mulai darimana. Semua nampak membingungkan di negara yang baru, yang hanya pernah saya kunjungi sebelumnya selama 2 minggu sebagai turis. Semua nampak samar – samar, apa yang harus saya lakukan di sini. Delapan tahun lalu, nyaris saya kehilangan identitas diri dan seringkali frustasi kenapa mencari pekerjaan sebegitu susahnya dan perkara bahasa serta cuaca tak kalah ruwetnya.

Delapan tahun lalu, saat saya baru selesai sidang S2, mengundurkan diri dari pekerjaan di Indonesia dan dua minggu kemudian terbang ke Belanda, membawa harapan setinggi langit bahwa semuanya akan baik – baik saja. Banyak doa yang saya bawa meskipun tau sebenarnya harus memulai dari langkah awal. Semua tak lagi sama saat di Indonesia. Saat hidup saya sudah tertata dengan rapi, saat langkah karier saya sudah mulus tak ada hambatan, saat saya sudah terbiasa menjadi perempuan mandiri baik secara mental, finansial dan fisik selama 13 tahun bekerja. Hidup yang aman damai sentausa.

Lalu perjalanan penuh warna mewarnai selama delapan tahun ini. Tak selalu penuh warna ceria, juga sesekali warna abu – abu gelap seperti langit dan cuaca di Belanda pada umumnya, terutama saat musim dingin. Banyak hal yang saya harus kompromikan : dengan diri sendiri, dengan suami, juga dengan anak – anak. Hidup yang penuh kompromi dan memikirkan skala prioritas karena sekarang bukan lagi tentang saya. Tidak hanya memikirkan diri sendiri meskipun bahagia dan hidup penuh ketenangan tetap jadi tujuan utama saya.

Delapan tahun yang terkadang masih terseok untuk urusan bahasa, birokrasi, pekerjaan, negara, pun orang – orang yang ada di dalamnya. Delapan tahun yang terkadang ingin menyerah saja saat cuaca dingin datang dan sakit parah lalu dokter hanya memberikan kalimat sakti pamungkas : minum paracetamol, banyak minum air putih dan istirahat, meskipun suhu sudah mencapai 40 derajat celcius. Sungguhlah level kesabaran yang sangat amat teruji. Bahkan meminta antibiotik saja, meskipun sudah tau penyebabnya apa, masih diulur waktu menunggu sakaratul maut tiba nampaknya.

Tinggal di Luar Negeri tidak selalu penuh suka cita. Sesekali keluh kesah jatuh bangun pasti menghampiri. Menangis mencoba berjalan dan berdiri tegak seolah semua akan bisa teratasi. Bahwa semua akan baik – baik saja, harapannya. Bahwa tinggal di negeri 4 musim bukan hanya perkara keindahan warna putih saat salju datang. Tidak pula nampak seperti bunga Tulip yang indah dipandang. Tinggal di negara orang, keras dan penuh perjuangan. Tidak semua hal pun saya tampilkan lewat cerita dan foto – foto indah. Ada masanya yang pahit saya telan dan yang manis pun saya nikmati tanpa perlu dipamerkan.

Namun begitu, delapan tahun ini banyak kebahagiaan pun datang. Bahkan kebahagiaan dan rasa suka cita rasanya lebih banyak menghampiri dibandingkan tangis kesedihan. Alhamdulillah. Suami yang luar biasa banyak hal baik yang bisa diceritakan dari dirinya. Dari awal menikah sampai saat ini, benar – benar sosok penuh kebaikan dan pendukung nomer satu serta tempat segala hal yang bisa saya bicarakan. Hanya dia yang membuat saya nyaman dan menjadi diri sendiri. Anak – anak yang sehat pintar dengan segala dinamikanya. Yang membuat saya belajar berdamai sebagai diri sendiri tentang masa lalu dan berusaha menjadi Ibu yang baik untuk mereka. Tak mengapa tidak menjadi baik – baik saja, bahwa rasa lelah pun sesuatu yang manusiawi.

Dan yang terpenting, selama delapan tahun ini, saya secara pribadi merasakan perubahan yang positif tentang cara berpikir, penerimaan diri, dan belajar banyak dari hal – hal kecil setiap harinya. Banyak bersyukur, bersyukur dan belajar ikhlas. Pada akhirnya, saya bisa melihat segala sesuatunya dari sudut yang lebih positif dan membuat saya lebih bahagia. Hidup yang nampak begini – begini saja tapi rasa senangnya sungguh luar biasa. Tidak pernah ada kata menyesal sudah memutuskan pindah sejauh ini. Jika tidak pindah, saya tidak akan banyak belajar tentang berjuangnya hidup di negara orang.

Kebahagiaan sebagai seorang deny, istri, dan Ibu. Delapan tahun yang tak mudah tapi banyak tawa bahagia pun suka cita. Delapan tahun penuh perjuangan dan syukur yang sering terucapkan.

Bahwa hidup saya sudah sangat dicukupkan dengan diri yang lebih positif, ikhlas, anak – anak yang sehat, suami yang penuh dukungan, lingkungan yang menyenangkan dan hati yang tenang. Semua memang tentang waktu dan bagaimana diri sendiri ingin berjalan.

Alhamdulillah untuk delapan tahun di Belanda. Alhamdulillah untuk segala berkah. Bukan tentang kesempurnaan hidup, tapi tentang syukur dalam setiap langkah. Alhamdulillah untuk keluarga kami, kebahagiaan saya saat ini. Alhamdulillah untuk diri sendiri yang sering lelah tapi tak pernah menyerah. Alhamdulillah untuk segala ketenangan hidup, tidak kemrungsung, dan merasa cukup.

Semoga banyak tahun – tahun di depan bisa terlewati dengan cerita penuh warna. Sehat dan berjodoh panjang untuk kami sekeluarga. Penuh berkah dan rejeki yang berlimpah.

Termasuk menerima perubahan badan selama 8 tahun ini. Saat datang membawa badan seberat 45kg. Lalu selama 8 tahun ini naik turun tergantung lagi hamil apa tidak haha Alhamdulillah menggelembung lagi
Termasuk menerima perubahan badan selama 8 tahun ini. Saat datang membawa badan seberat 45kg. Lalu selama 8 tahun ini naik turun tergantung lagi hamil apa tidak haha Alhamdulillah menggelembung lagi

-31 Januari 2023-

Natal 2022

Merry Christmas

Prettige Kerstdagen  

Selamat Natal

Wij wensen iedereen hele warme gezellige kerstdagen!

Selamat merayakan Natal penuh suka cita bersama keluarga

En fijne vakantie!

Selamat libur akhir tahun.

Serta turut berduka cita untuk mereka yang ditinggalkan yang tercinta

MAKAN MALAM NATAL DI SEKOLAH

Bagian ini akan bercerita tentang kegiatan krucils di sekolah. Akhirnya tahun ini kegiatan menjelang Natal berjalan dengan normal setelah tahun lalu terkendala dengan edisi lockdown entah episode ke berapa. Sehari menjelang libur sekolah akhir tahun selama dua minggu, biasanya akan ada makan malam Natal di sekolah. Tahun lalu, makan malam ditiadakan, diganti sarapan. Tahun ini bersyukurnya, makan malam Natal di sekolah berjalan seperti semula. Dua minggu sebelumnya, di grup WhatsApp (wa) kelas orangtua mulai berbagi tugas siapa membawa apa. Sebagai orang Indonesia, saya langsung berpikir akan membawa makanan yang Indonesia sekali seperti nasi kuning lauk perkedel dan telor dadar suwir. Lalu saya teringat, oh ini Belanda. Ga usah dibawa rumit. Bawa potongan mentimun dan tomat bulet saja sudah diterima dengan baik haha. Akhirnya saya menuliskan akan membawa mini cupcakes baking sendiri. Membuat yang simpel saja. Bisa dilihat dari foto di bawah, makanan yang dibawa para orangtua ya yang gampang – gampang saja. Ingat, ini di Belanda, jangan mempersulit diri dengan membawa makanan yang rumit kalau anak – anak saja sudah bahagia diberi mentimun dan pancake :))

Makan Malam Natal di Sekolah Krucils
Makan Malam Natal di Sekolah Krucils

Saya sangat antusias dengan acara ini. Meskipun badan saya masih agak lemes, tetap dengan semangat tinggi datang ke sekolah bersama suami dan krucils. Mereka saya pakaikan baju yang resmi. Benar – benar beda dari keseharian di sekolah. Melihat teman – teman mereka, duh keren – keren semua. Memakai dress dan pakaian resmi. Gemes lihatnya, anak – anak kecil sudah berpakaian resmi. Sementara anak – anak makan bersama di kelas masing – masing, para orangtua bisa menunggu di hall sekolah sambil menikmati live music (guru musik di sekolah yang tampil) dan makanan yang disediakan, gratis. Standar makanannya : kentang goreng, sup tomat, dan burger sosis dengan sayuran. Berhubung ini Belanda yang jarang ada benda gratisan, jadi ada makanan gratis begini sangatlah spesial.

Selesai acara, kami pulang ke rumah. Acara diagendakan selesai jam 7 malam. Benar – benar tepat waktu jam 7 malam selesai. Terharu sama orang Belanda nih, makan malam aja bener – bener on time selesai ga ada molor sama sekali. Antara kagum dan mbatin, mosok ga ada bincang – bincang santai gitu lho setelah acara :))). Krucils senang sekali dengan acara ini. Langsung nanya kapan ada lagi. Ya nunggu tahun depan Nak, mosok tiap hari mau Natalan.

MISA NATAL PERTAMA

Keesokan harinya, mereka masuk sekolah setengah hari. Paginya ada jadwal ke Gereja, Misa Natal, seluruh murid – murid di sekolah. Ini akan jadi pengalaman krucils yang pertama ikut misa Natal karena tahun kemarin ditiadakan. Orangtua boleh ikut ke gereja, jika memungkinkan. Saya jelas tidak bisa ikut Misa, jadi suami yang datang. 

Krucils tentu saja bertanya kenapa saya tidak ikut misa Natal juga. Saya jelaskan yang kesimpulannya bahwa ada beberapa hal prinsip yang berhubungan dengan agama, tidak bisa saya lakukan. Tentu saja saya menjelaskan dengan bahasa sesederhana mungkin supaya mereka mengerti dasarnya apa. Saya bilang kalau Papa saja sudah cukup ke gereja, ibu tunggu di rumah.

Karena ini pertama kali mereka ikut Misa, tentu saja semua antusias, termasuk saya. Pagi sudah saya siapkan baju rapi dan bersih buat mereka. Si Sulung bertanya kenapa harus pakai baju yang bersih dan rapi. Saya bilang, karena kalian akan masuk rumah ibadah, untuk beribadah. “Ingat kan waktu kalian masuk ke Masjid, selalu pakai baju yang bersih dan rapi. Karena kita akan beribadah, menghadap Tuhan, jadi harus bersih dan tidak boleh asal – asalan. Masuk ke Gereja untuk Misa, juga begitu”

Sewaktu mereka mudik, karena rumah kami dekat dengan masjid, jadi setiap maghrib pasti mereka ikut ke masjid dan saat lebaran juga ikut ke masjid. Bahkan selama Ramadhan, setiap malam ikut taraweh. Juga beberapa kali ikut sepupunya belajar membaca Al – Qur’an. 

Saat dikirim foto dan video anak – anak sekelas di gereja, hati saya menghangat. Terharu luar biasa. Rasanya baru beberapa waktu lalu melahirkan mereka, sekarang sudah difase belajar tentang keyakinan. Pulangnya saya tanya, apa mereka senang di gereja. Katanya senang sekali dan ingin ikut Misa lagi. Saya tanya, lebih senang ke mana, ke Masjid apa ke Gereja? “Aku suka ke Gereja karena nyanyi – nyanyi jadi senang. Kalau ke Masjid aku ga tau bahasanya jadi ga ngerti artinya. Kalau ke Gereja nyanyi kan bahasanya aku ngerti” Haha kami yang mendengar tertawa spontan. Jawaban anak – anak yang polos. Kata seorang sahabat yang saya ceritakan tentang hal ini ,“ajarono pujian – pujian arab sing nyanyi nggawe bahasa Jawa, lak seneng” haha kejawen maksudnya.

BERKIRIM KARTU NATAL DAN TAHUN BARU

Seperti biasa kegiatan dari tahun ke tahun, berkirim kartu Natal dan Tahun baru tetap kami lakukan. Meskipun tahun ini baru H-7 saya tulis dan kirimkan, padahal kartu dan perangkonya sudah saya beli sebulan sebelumnya. Jadilah saya dan suami melembur seharian kebut menulis sekitar 30 kartu yang kami kirimkan ke teman dan saudara yang ada di Belanda maupun di luar negeri. Itupun ada beberapa teman yang masih belum kami kirimi kartu. Saya sudah lemes duluan. Menyenangkan menuliskan kartu ucapan dengan kata – kata yang sangat personal ditujukan untuk si penerima. 

Dan dalam kartu yang dikirimkan, kami kabarkan berita bahagia. Semoga yang membaca dan menerima kartu, juga bisa merasakan kebahagiaan dalam keluarga kami. Bersyukurnya sebagian besar kartu sudah diterima sebelum Natal dan berita bahagia dari kami mendapatkan sambutan hangat dari mereka. Alhamdulillah. Sebagian kecil kartu, belum ada kabarnya. Apakah belum sampai pada penerima, atau sudah sampai tapi penerima tidak mengabarkan pada kami kalau kartunya sudah sampai.

Kami juga menerima banyak sekali kiriman kartu Natal dan Tahun Baru dari teman – teman dan Saudara di Belanda maupun dari Luar Belanda. Senang rasanya membaca setiap doa dan ucapan yang dituliskan untuk keluarga kami. Setiap menerima kartu, saya selalu kabarkan kepada pengirim kalau kartunya sudah sampai. Bentuk rasa terima kasih kami. Dan si pengirim juga tidak tebak tebak apakah kartunya sampai atau tidak.

Pohon Natal di Pusat Perbelanjaan

MAKAN MALAM NATAL

Tahun ini, tidak ada makan malam Natal bersama keluarga di rumah. Keluarga ini maksudnya biasanya kami mengundang mama mertua, atau kerabat lainnya. Tahun ini tidak, karena saya sedang tidak bisa memasak. Jadi kami putuskan kalau tahun ini tidak ada undangan makan malam di rumah dan makanan semuanya beli. Hari Sabtu kami ke pusat kota untuk membeli makanan dibawa pulang dari beberapa restoran. Lumayan buat stok beberapa hari ke depan. Jadi pas tanggal 25 nya, kami hangatkan makanan yang beli di restoran. Lalu tanggal 26, kami pergi ke restoran Sushi. Penuh sekali restorannya. Jadi lumayanlah kami tetap bisa merasakan suasana makan malam Natal. Het was gezellig. Setelahnya kami berjalan kaki malam hari di pusat kota.

KADO NATAL

Natal tahun inipun tidak ada acara saling tukar kado. Krucils sudah mendapatkan kado yang super banyak saat Sinterklaas. Saking banyaknya sampai harus dibagi dua batch untuk membuka kado – kadonya. Semuanya bukan dari kami saja. Ada yang dari guru di sekolah, dari kami, Oma, tetangga sebelah rumah, dan dari Om serta Tante mereka. Karena sudah terlalu banyak kado yang diterima, jadi diputuskan kalau Natal tidak akan ada kado lagi. Suami ditanya mau kado apa, dia tidak mau. Saya ditanya suami mau kado apa, saya bilang nanti saja kalau sudah mood, baru kadonya dibelikan. Jadi benar – benar tidak ada kado. Tetap tidak mengurangi rasa senang di hari Natal, bahkan jauh lebih membahagiakan karena ada kado lainnya yang tidak bisa dinilai harganya untuk keluarga kami. Kado yang jauh lebih berharga dari sebuah barang.

Pohon Natal di rumah kami
Pohon Natal di rumah kami

BERITA BAHAGIA

Alhamdulillah beberapa waktu terakhir kami sekeluarga dan saya pribadi diberikan beberapa kabar gembira dan rejeki. Diantara beberapa hal yang tidak menyenangkan, tetap saya bersyukur luar biasa bahwa lebih banyak berkah dan rejeki yang saya dan keluarga dapatkan. Tahun ini benar – benar dilewati dengan banyak bersyukur, lebih banyak berserah, dan melewati hari per hari dengan hati yang lebih ringan. Suasana Natal jadi lebih suka cita. Berkah yang tak henti datang untuk keluarga kami. Rejeki yang Alhamdulillah berlimpah.

Walapun ada beberapa hal yang tidak sama dengan Natal tahun – tahun sebelumnya, tetap rasa syukur tidak berhenti kami ucapkan. Kebahagiaan datang bertubi. Semakin kami bersyukur dan ikhlas, semakin hati kami jadi tenang. Bahagia dan tenang, nikmat manalagi yang tidak kami syukuri.

Semoga Natal tahun in juga membawa arti tersendiri buat kalian. Peluk dari saya untuk mereka yang sedang dalam masa berkabung. Semoga diberikan kekuatan dan penguatan.

-26 Desember 2022-

Bahasa Cinta Lewat Makanan

Memasakkan tetangga saat mereka sekeluarga sedang terkena Corona. Sop ayam sayur, cake, dan mie goreng.

Love Language.

Saya sudah menyadari sejak dulu kala kalau bahasa cinta yang saya berikan ke orang terdekat dan orang lain itu adalah sentuhan dan pujian. Saya sangat suka memeluk suami dan anak – anak tentu saja, keluarga dan beberapa teman dekat. Saya gampang sekali bilang I love You ke anak – anak dan suami. Sebaliknya, anak – anak pun jadi terbiasa mengucapkan I love you atau Ik hou van jou kepada kami. Hanya saja, suami memang bukan tipe orang yang gampang mengucapkan tersebut. Jadi kalau sampai dia mengucapkan kalimat tersebut, sebuah keajaiban sedang terjadi haha. Buat saya akhirnya tidak menjadi masalah karena ungkapan cinta dia lewat perbuatan.

Saya pun gampang memberikan pujian buat siapapun. Misalkan di tram ada Oma yang bajunya bagus, ya saya lontarkan saja omongan : Dress Anda warnanya bagus. Kalau anak – anak mulai bisa naik sepeda, saya puji : goed gedaan! Keren sudah bisa naik sepeda. Pun ke suami misalkan dia projectnya lolos, saya kasih apresiasi : selamat, aku bangga sama kamu. Ke siapapun memang saya gampang memuji.

Saya pun sebaliknya, senang sekali dipeluk atau dicium. Pun selalu tersenyum bahagia kalau mendapatkan apresiasi. Misalnya setelah masak, kalau rasanya cocok, anak – anak akan bilang : Ibu, masakannya enak. Terima kasih ya sudah memasak. Akhirnya anak – anak pun terbiasa untuk mengapresiasi hal – hal kecil di sekitar mereka. Bukan hanya untuk lingkungan keluarga, tapi untuk siapapun.

Rasanya saya sudah melambung di udara :)). Perhatian – perhatian kecil seperti itu membuat hati saya gembira. Oh satu lagi, mungkin bahasa cinta untuk orang lain yang saya lakukan selama ini adalah saya selalu senang merawat dan memberikan perhatian. Sangat totalitas.

Saya pikir hal – hal di atas yang selama ini menjadi bahasa cinta dan biasa diberikan. Sampai beberapa waktu lalu, ada seorang teman menyelutuk : bahasa cintamu ini selalu berbagi makanan dan hasil masakanmu ya. Setiap kali ketemu, ga pernah kamu ga ngasih makanan hasil masakanmu.

Lalu saya tertegun dan mencoba mikir ke belakang. Ternyata iya lho. Saya tidak pernah berpikir bahwa berbagi makanan, masak untuk orang lain, mengundang orang – orang ke rumah untuk makan bersama itu adalah sebuah bahasa cinta. Saya mikirnya ya hal yang biasa dan wajar. Setelah saya pikirkan berhari – hari, bener juga ya, ini merupakan bahasa cinta saya. Berbagi makanan, berkirim ahsil baking, memasakkan makanan untuk orang lain, dan mengundang makan ke rumah.

Awalnya sepertinya karena saya terbiasa melihat Ibuk berbagi makanan kepada siapa saja. Dari mereka yang tidak mampu, teman, saudara, tetangga, mengirim makanan ke semua orang, memasak makanan dalam jumlah banyak karena selain disimpan sendiri juga supaya bisa dibagikan ke beberapa orang. Dengan melihat yang dilakukan Ibuk, rasanya tanpa disadari saya menjadi pengikut Beliau dan melakukan hal yang serupa.

Sejak SD kalau saya mengingat lagi ke belakang, saya selalu membawa makanan yang saya masak sendiri untuk dimakan bersama teman – teman di sekolah. Setiap ada kegiatan di sekolah, saya selalu membawa bekal lebih supaya bisa makan bersama. Hal tersebut selalu saya lakukan sampai dunia perkuliahan. Meskipun posisi saya ngekos, tapi karena ada dapur yang bisa dipakai bersama, saya sering masak juga.

Sewaktu kerja, saya juga sering masak lalu membawa makanan ke kantor dan dimakan bersama seruangan. Seru rasanya. Seringnya saya membawa puding coklat dan vla vanilla. Wah itu laku sekali, katanya enak. Jadi di kantor saya terkenal dengan segala gorengan yang saya buat, sambel, dan puding coklat.

Saat kuliah S2 (10 tahun lalu), setelah saya ingat lagi, saya terkenal sebagai tukang masak diantara teman – teman haha. Setiap hari ada saja masakan yang saya bawa ke kampus. Paling terkenal ya nasi goreng pedes dengan potongan wortel. Saya juga sering mengundang teman – teman untuk makan di rumah. Tanpa ada acara tertentu. Ya makan bersama saja. Saya sering masak dalam jumlah banyak, beragam, dan makan bareng dengan mereka. Intinya saya senang mengundang teman – teman.

Testimoni teman - teman masa kuliah S2
Testimoni teman – teman masa kuliah S2
Testimoni teman – teman masa kuliah S2
Testimoni teman - teman masa kuliah S2
Testimoni teman – teman masa kuliah S2

Masak sendiri semua makanan ini untuk merayakan acara ulang tahun di rumah kos, tahun 2014, bersama teman - teman kuliah S2
Masak sendiri semua makanan ini untuk merayakan acara ulang tahun di rumah kos, tahun 2014, bersama teman – teman kuliah S2

Setelah pindah ke Belanda, rupanya kebiasaan tersebut tetap saya lakukan sampai sekarang. Saya senang sekali memasak dalam jumlah banyak lalu dibagikan ke para tetangga. Pun mengirim makanan untuk teman – teman jauh maupun saudara. Sampai Mama mertua protes : Deny, jangan sering kirim kue, nanti Mama gendut *ngakak. Sejak saya mulai rajin baking, untuk acara khusus di sekolah misalkan Sinterklaas, libur musim panas, Natal. saya selalu berbagi hasil baking kepada para guru anak – anak. Natal tahun lalu saya membagikan bingkisan berisi macarons, cookies, dan brownies.

Bingkisan akhir tahun - sweets- untuk guru di sekolah anak - anak
Bingkisan akhir tahun – sweets- untuk guru di sekolah anak – anak

Sewaktu pandemi, saya juga sering berkirim hasil baking lewat pos untuk beberapa teman. Berpikir bahwa waktu itu keadaan sangat sulit, jadi semoga kiriman yang manis – manis dari saya bisa memberikan suasana jadi sedikit lebih menyenangkan. Beberapa orang yang saya kirimi paket cookies, merasa terkejut dan terharu. Saya senang mengetahui kalau hal tersebut membuat mereka jadi bahagia.

Saya juga berkirim makanan saat ada teman atau tetangga dalam keadaan sakit atau sedang ada kesusahan. Semampunya saya saja karena mikir kalau ada makanan, sedikit bisa mengobati sedih dan bisa mengurangi beban karena ada makanan hangat yang bisa dimakan.

Memasakkan tetangga saat mereka sekeluarga sedang terkena Corona. Sop ayam sayur, cake, dan mie goreng.
Memasakkan tetangga saat mereka sekeluarga sedang terkena Corona. Sop ayam sayur, cake, dan mie goreng.
Untuk teman yang sedang mendapatkan ujian kehidupan
Untuk teman yang sedang mendapatkan ujian kehidupan

Bukan hanya itu saja, saya juga sangat senang mengundang siapapun ke rumah. Tidak harus teman dekat. Ini benar – benar siapapun asal sudah kenal sebelumnya. Misalkan : Oh, nanti pengen masak sayur asem pake ikan asin ah. Eh ngundang Putri enak nih makan bareng. Jadi saya berkirim pesan ke Putri apa hari ini dia kerja apa tidak. Kalau tidak, saya ajak makan siang di rumah. Ini karena rumah Putri dekat dengan rumah saya haha. Segampang itu mengudang untuk makan di rumah. Entah kenapa, saya senang saja kalau bisa makan rame – rame. Suami saya pun tidak keberatan, malah dia sudah terbiasa dengan saya mengundang mereka yang tidak terlalu saya kenal dengan dekat. Ada juga sih peserta tetap yang biasanya akan saya ajak makan di rumah. Atau kalau saya sedang masak banyak tapi tidak sempat untuk ngundang, biasanya saya akan bagikan makanan tersebut dan minta dijemput karena tidak bisa mengantar ke rumah mereka. Ya mereka senang menjemputnya. Ada satu tetangga Indonesia sampai hapal, kalau saya sudah kirim pesan, pasti ada limpahan makanan untuk mereka :)))

Meskipun saya tinggal jauh dengan saudara dan teman – teman baik di Indonesia, saya pun tetap sering berkirim makanan buat mereka. Saya pesan ke restoran atau katering rumahan atau beberapa kenalan yang punya usaha bakery, beli untuk dikirimkan kepada mereka. Bahasa cinta lewat makanan tetap tersampaikan 🙂

Satu lagi yang jadi kebiasaan saya berhubungan dengan makanan, setiap main ke rumah teman atau kenalan, pasti saya akan membawa makanan. Pasti itu. Kalau acara ulang tahun pun biasanya saya akan bawa makanan juga, tapi tidak banyak. Misalnya, cupcake atau roti atau makanan lainnya. Untuk disimpan tuan rumahnya. Dan kalau kami mengadakan acara di rumah, saya selalu membuat porsi yang lebih. Tujuannya supaya tamu undangan ada yang dibawa pulang a.k.a bungkus bawa pulang. Tamu kenyang karena makanan di acara dan juga pulang ke rumah membawa makanan.

Itu kenapa sewaktu mudik, yang paling banyak saya bawa sebagai oleh – oleh, ya makanan. Pikir saya, kalau oleh – oleh makanan itu nyata adanya. Bisa langsung dimakan meskipun sisi kenangannya kurang. Karena langsung habis kan. Dan juga saat kembali ke Belanda, saya berkirim oleh – oleh makanan ke beberapa orang, keluarga di sini juga gurunya anak – anak. Semua saya beri oleh – oleh makanan khas beberapa kota yang saya singgahi selama di Indonesia.

Memang menyenangkan buat saya berbagi makanan. Ada yang menanyakan di twitter apakah saya melakukan itu semua hanya untuk mereka yang klik di hati? Tidak juga, saya melakukan itu untuk semua orang. Bahkan mungkin orang yang sedang tidak berhubungan baik, tetap saja saya berbagi makanan ke mereka. Pas kuliah beberapa kali adik kelas yang saya tidak kenal baik juga pengen ikutan makan di rumah, ya saya terima saja haha lumayan meramaikan suasana. Saya tidak bia sa pelit untuk urusan makanan. Entah kenapa, saya berpikir tidak akan pernah merasa dan menjadi rugi untuk berbagi makanan.

Tentu saja saya masak kalau sedang mood ya. Kalau tidak mood ya tidak saya paksakan, nanti bukannya merasa gembira malah tekanan batin :)))

Bahasa cinta lewat makanan, berbagi hasil masakan sendiri atau hasil baking, mengirimkan, dan mengundang orang – orang makan di rumah, ternyata memang menggembirakan buat saya. Ada rasa bahagia yang luar biasa dan kepuasan tersendiri melakukan hal tersebut.

Sekarang saya paham, bahwa yang selama ini saya lakukan dan tidak menyadari kalau itu juga merupakan bahasa cinta adalah Berbagi makanan.

Bahasa cinta kalian, apa?

-13 September 2022-

Tahun Baru 2022

Tiramisu tahun baru 2022

Tahun dengan angka yang cantik. Selamat tahun baru semuanya. Sehat dan banyak berkah ya tahun ini. Harapan tidak muluk – muluk. Semoga keadaan dunia terkait Corona makin membaik. Karantina di Indonesia dihapuskan atau paling tidak jadi 2 hari sajalah, cukup. Saya pengen sekali mudik. Lalu apalagi ya, kami sekeluarga tetap komplit, sehat, bahagia dan lancar rejeki supaya makin banyak untuk berbagi. Usaha saya makin berkembang, mulai nambah pembeli dan rencana saya ikut beberapa kelas baking lancar tanpa hambatan.

Cerita malam tahun baru sama seperti tahun – tahun sebelumnya. Jam 8 sudah leyeh – leyeh di kasur sambil mainan twitter dengan mata sayup – sayup mengantuk. Tapi ada yang spesial sebenarnya tahun ini. Untuk pertama kalinya, kami melakukan tradisi keluarga di Belanda pada umumnya, malam tahun baru dengan gourmetten. Ini semacam BBQ an tapi dalam rumah pake alat listrik. Terharu juga akhirnya merasakan apa yang dilakukan keluarga Belanda lainnya hahaha agak norak memang saya. Ayam, daging, dan ikannya ya beli jadi sajalah yang sudah dibumbuin di supermarket kebanggaan orang Belanda :)))

Gourmetten

Selain itu, ya jelas yang tidak boleh ketinggalan, gerombolan Oliebollen, berlinerbollen, dan apelbeignet. Pastinya, ini beli semua karena saya malas membuat sendiri. Saya tidak terlalu suka oliebollen. Entah kenapa tekstur roti goreng, lebih cocok di lidah saya. Kalau berlinerbollen, saya suka karena ada vla vanilla di tengahnya. Pagi hari, saya memanggang sourdough bread dan siangnya sourdough baguette untuk dimakan saat gourmetten. Sorenya saya sempat membuat Tiramisu lalu masak beberapa printilan untuk tumpeng nasi kuning.

Berlinerbollen. Apelbeignet dan oliebollen
Sourdough bread with special patroon

Sama seperti tahun lalu, kembang api dilarang saat malam tahun baru. Tapi saya juga tidak tahu apakah ada denda atau cuma larangan saja karena ya tetap saja suara jedar jeder masih mengudara. Sebagai penyuka kembang api, ya saya nikmati saja suara jedar jeder dan warna warni di udara saat jam 12 malam. Saya melihat dari kamar sambil rebahan. Sebenarnya saya sudah tertidur sebelum jam 12 malam, padahal niatnya melek. Apadaya, sudah menjelang sepuh, gampang mengantuk. Pas jam 12 malam, terbangun ya karena suara kembang api. Saya bangunkan suami, seperti biasa mengucapkan selamat tahun baru sambil berdoa untuk harapan – harapan yang terucapkan. Saya bangunkan penghuni kamar -kamar sebelah, tak ada yang bergerak. Lalu saya kembali tidur.

Tiramisu

Hari ini, sejak pagi saya sibuk menyiapkan tumpeng nasi kuning. Ini semacam kebiasaan saja kalau tahun baru saya membuat tumpeng. Sebagai bentuk syukuran atas tahun yang telah terlewati dengan segala suka dukanya. Juga sebagai syukur awal tahun dengan segala harapan dan doa yang terucap untuk tahun ini. Dan seperti biasa juga, saya berbagi ke tetangga. Ditambah, saya berikan ke satu keluarga Indonesia yang baru saja saya kenal dan tinggalnya tidak jauh dari rumah kami. Kami satu almamater, jadi senang rasanya kenal orang Indonesia di dekat rumah dan ada latar belakang yang sedikit sama.

Bagi – bagi nasi kuning

Biasanya saya membuat nasi kuning langsung dari rice cooker. Kali ini saya niat pakai aron trus dikukus karena mencoba campuran beras basmati dan beras pandan. Hasil memang tidak khianat dari usaha karena teksturnya saya lebih suka yang hari ini dibandingkan yang sebelumnya dari rice cooker dan hanya menggunakan beras pandan. Jadi berikutnya kalau membuat nasi uduk, saya akan coba kombinasi beras ini.

Karena baru pertama kali menggunakan basmati, jadi saat membentuk tumpengnya agak kesulitan. Tidak terlalu lengket, langsung ambyaarr haha. Jadilah gunungnya agak longsor. Tak ada foto cantik tumpeng tahun ini karena tumpeng tak maksimal bentuknya. Lalu saya bentuk saja pakai mangkok kecil. Minimal supaya rapi tampilannya.

Tumpeng yang longsor gunungnya

Sorenya, kami ke rumah tetangga. Ini juga semacam tradisi, setiap tanggal 1 Januari, kami pasti ke sana karena ada undangan untuk makan oliebollen (sekalian mengantar nasi kuning). Sebenarnya untuk silaturrahmi saja sih, karena makanan yang disediakan bukan hanya Oliebollen saja. Lumayan juga variasinya untuk standar orang Belanda yang mengundang tamu *uhukk!

Selama 2 jam di sana, kami pulang ke rumah. Rangkaian acara malam tahun baru dan pas tanggal 1 januari sudah usai.

Semoga segala harapan baik tahun ini bisa terlaksana dan tercapai. Dimudahkan segala urusan dan dijauhkan dari segala marabahaya. Sehat dan bahagia untuk kita semua.

First sweets in 2022

– 1 Januari 2022 –

Pakjesavond 2021

Pakjesavond 2021

Pakjesavond atau malam saat Sinterklaas bagi – bagi kado, tahun ini lumayan meriah karena kami mendapatkan sumbangan kado yang banyak. Tahun kemaren penyumbangnya juga sama, tapi tahun ini jumlahnya lebih banyak. Selain itu, yang membuat meriah karena yang diberi kado lebih paham apa Pakjesavond itu.

Tahun ini kami mulai belanja kado sejak pertengahan oktober karena minggu kedua November kami pergi liburan selama 2 minggu. Pun karena minggu – minggu sebelumnya ada beberapa acara termasuk saya yang masuk kelas baking. Takutnya kalau tidak dicicil, tidak akan sempat dan terlalu pendek waktunya. Juga saat November, ada beberapa anak teman yang ulangtahun, jadi sekalian belanja untuk kado ulangtahun. Walhasil awal November semua kebutuhan kado ulangtahun dan untuk Pakjesavond sudah selesai. Kami pergi liburan dengan perasaan tenang.

Seluruh kado yang selesai dibungkus akhir Oktober

Menjelang tanggal 5 Desember, sumbangan kado dari tetangga dan Oma datang. Makin banyak kado yang kami terima. Karena menurut kami terlalu banyak jika diberikan saat Pakjesavond, jadinya dibagi 2. Nanti akan dibagikan saat Natal juga. Jadi terasa hawa Natalnya dengan bagi – bagi kado.

Cerita selingan, tentang pohon Natal. Kalau tahun – tahun sebelumnya termasuk tahun lalu akhir November sudah terpasang Pohon Natal, tahun ini kami baru sempat menyelesaikan tepat tanggal 1 Desember. Sebenarnya ini juga hitungannya terlalu awal karena tradisi di Belanda, Pohon Natal baru didirikan setelah Sinterklaas meninggalkan Belanda yaitu tanggal 6 Desember. Di komplek rumah kami, sepertinya hanya saya dan rumah Oma dekat sini yang sudah ada pohon Natal sebelum Sinterklaas.

Selama 6 tahun berturut, kami selalu menggunakan pohon Natal yang sama dari bahan plastik. Tahun ini kami memutuskan memasang pohon Natal asli dari pohon. Jadi kami membeli pohonnya di dekat rumah tanggal 30 November dan langsung dihias. Lumayan juga wangi pinus, segar. Meskipun tidak semerbak seperti yang saya bayangkan. Mungkin aroma pinusnya ketutup dengan aroma sate ayam haha.

Pohon Natal tahun ini dari pohon asli

Hiasan yang kami pakai tetap sama hanya ada tambahan sedikit. Semua ikut menghias makanya agak amburadul konsepnya. Saya juga tidak terlalu banyak ikut campur cuma membetulkan sedikit kalau ada yang jatuh. Yang penting semua senang dan ruang tamu jadi lebih meriah lampu kelap kelip di tengah cuaca yang abu – abu setiap hari dan dingin tidak karuan.

Rangkaian acara Sintreklaas juga dimeriahkan di sekolah – sekolah dan pusat perbelanjaan. Pesta di sekolah selain bagi – bagi kado, juga mendatangkan Sinterklaas dan Zwarte Piet yang jam 8 pagi sudah heboh nari – nari di atas genteng sekolah sambil pasang musik kenceng lagu Sinterklaas. Saya sampai ngikik membayangkan jangan sampai nyangsang aja di cerobong asap. Tapi seru sih, saya saja menikmatinya. Apalagi para bocah – bocah sekolah ya. Di beberapa supermarket menyediakan rak yang bisa ditaruh sepatu lalu bisa diambil lagi sebelum tanggal 5 Desember. Di dalam sepatu sudah ada coklat atau kruidnoten (biskuit kecil – kecil rasa kayu manis). Saya juga mengirimkan kado ke beberapa anak teman, menyemarakkan suasana Pakjesavond di rumah mereka.

Saat Pakjesavond, sama seperti tahun sebelumnya. Suami pura – pura menggedor pintu trus teriak – teriak ada siapa di depan pintu. Saya sampai ngakak saking ga tahan sama sandiwaranya. Sukses sih, dipikir beneran Sinterklaas yang mengantar kado – kado yang ditaruh dalam kantung depan rumah.

Lalu kami bareng – bareng membuka kadonya. Semua senang, semua riang. Kenangan seperti ini bukan hanya anak – anak se Belanda saja yang menikmati keseruannya, juga orang dewasanya. Seru dan penuh suka cita.

Pakjesavond 2021
Pakjesavond 2021

Sekarang saatnya mulai mencicil menulis kartu Natal dan mulai mengirimkan ke wilayah Belanda. Yang wilayah Internasional sudah saya kirimkan sejak minggu ketiga dan keempat November. Mudah – mudahkan sampai tepat waktu paling tidak sebelum tahun baru. Saya juga mulai memikirkan menu malam Natal nanti, meskipun tidak mengundang siapapun terkait peraturan hanya 4 tamu dewasa dalam satu hari (kalau peraturannya tetap sama sampai akhir Desember). Tahun ini sepi lagi Natalnya, tidak ada kumpul keluarga besar. Semoga tetap penuh suka cita. Dipatuhi saja, namanya juga peraturan kan.

Tot volgende jaar Sinterklaas!

-7 Desember 2021-

Ngobrol Dengan Tetangga

Danau besar di kampung kami

Saya bukan tipe yang gampang ngobrol ketika bertemu orang baru. Seringnya, saya akan menghindari percakapan atau mempercepat jalan ketika berpapasan dengan orang yang sering saya lihat di sekitar rumah. Tujuannya ya supaya tidak diajak ngobrol. Sejak di Indonesia saya sudah seperti itu. Dibanding adik – adik yang akrab dengan tetangga kanan kiri, saya lebih memilih leyeh – leyeh di rumah daripada ngobrol di rumah tetangga. Saya bergaul dengan tetangga di sana, sekedarnya saja. Bahkan boleh dibilang, kalau sedang butuh saja atau kalau tetangga sedang ada acara, saya baru muncul untuk membantu (memasak biasanya). Tapi para tetangga tidak pernah mempermasalahkan kenapa saya jarang ngobrol dengan mereka. Sudah terwakilkan dengan adik – adik, Ibu, dan Bapak. Mereka lebih bersosialisasi dibanding saya. Hubungan kami dengan para tetangga sangat baik, sudah seperti saudara sendiri. Mereka pun bukan tipe tetangga yang ikut campur urusan pribadi, termasuk saat saya belum menikah, mereka tidak pernah bertanya kenapa saya belum menikah. Intinya, tetangga saya di sana, bukan tipe yang suka mencampuri urusan orang.

Kesan orang ketika pertama kali melihat raut muka saya, sebagian besar mengatakan kalau saya ini nampak judes, congkak, angkuh. Kalau saya sedang berkaca, ya ternyata memang benar apa yang dikatakan mereka. Raut muka saya judes, jika sedang tidak tersenyum. Bertolak belakang dengan raut muka, saya ini gampang tersenyum kalau bertemu orang. Gampang memberikan salam. Hal ini yang akhirnya sedikit melunturkan kesan judes di muka. Ya lumayanlah, akhirnya ga judes – judes banget. Seingat saya, saat di Indonesia, kebiasaan orang saling menyapa itu diantara mereka yang saling kenal. Minimal menanyakan apa kabar. Kalau random orang bertemu di jalan dan tidak saling kenal, sepertinya mereka tidak akan saling sapa. Apalagi hanya saling sapa hallo, selamat pagi/siang/malam.

Berbeda dengan di Indonesia, di Belanda orang gampang sekali saling melontarkan sapaan. Saat bertemu di manapun, kalau berpapasan entah di jalan, taman bermain, danau, atau di manapun mereka paling tidak akan saling bertukar salam : hai, hallo, morgen, dag sambil tersenyum. Ini benar – benar random yang papasan tidak mengenal satu sama lain. Kebanyakan di kota kecil ya, kalau kota besar seperti Amsterdam sepertinya sudah tidak terlalu apalagi di pusat kotanya. Kalau di Den Haag (asal bukan di pusat kotanya), sepertinya masih meskipun tidak banyak (karena kami dulu tinggal di Den Haag pinggiran). Sekarang kami tinggal di kampung, ketemu siapa saja akan saling menyapa. Apalagi ini kampung kecil sekali yang kalau ketemu di pusat perbelanjaan atau danau atau taman sepertinya sudah hapal karena ya mukanya itu – itu saja.

Danau besar di kampung kami
Danau besar di kampung kami

Awalnya saya agak canggung dengan budaya menyapa ini. Belum terbiasa dan berasa agak aneh. Lama – lama akhirnya terbiasa juga lalu jadi spontan kalau berpapasan akan memberikan salam sambil tersenyum. Tidak semua orang Belanda akan gampang menyapa tentu saja. Ada juga kalau berpapasan ya jalan aja dia seperti tidak ada orang lain disekitarnya. Contohnya suami saya haha. Dia sangat jarang sekali menyapa orang kalau tidak disapa duluan. Itupun kalau disapa, dia ya jawabnya datar jarang ada senyumnya. Beda dengan saya yang selalu melemparkan senyum penuh suka cita dan sumringah sekali kalau memberikan salam pada orang. Itulah akhirnya di sini saya gampang tersenyum dan memberikan salam saat berpapasan, termasuk dengan tetangga. Jiwa gampang tersenyum saya jadi makin terasah. Pun ngobrol dengan tetangga saat berpapasan.

Lingkungan rumah kami kalau digamparkan semacam kompleks kecil. Penghuninya 90% orang Belanda, selebihnya imigran termasuk saya. Semacam kluster perumahan yang di dalamnya ada komplek rumah khusus untuk Oma Opa. Jadi tetangga kami kebanyakan ya para Oma dan Opa. Nah mereka ini punya kebiasaan kalau pagi pasti jalan kaki sekitaran rumah dengan anjing atau sendirian. Saya akhirnya mengenal beberapa diantara mereka karena sering berpapasan setelah aktifitas mengantar ke sekolah, lalu kami saling melemparkan salam. Karena sering bertemu, akhirnya kami mulai percakapan. Bukan percakapan yang serius, hanya saling bertanya kabar. Lama kelamaan, mulai melebarkan obrolan tentang makanan, anjing mereka, rencana akhir pekan apa, liburan mau ke mana, bahkan saya jadi tahu misalkan ada tetangga lain yang baru melahirkan, ada yang sedang masuk RS, atau punya cucu ya dari mereka ini. Lumayan ya jadi update informasi dari para Oma Opa. Obrolan yang kami lakukan ya sambil berdiri tentu saja karena memang sedang berpapasan. Bukan lantas mengundang duduk minum kopi di rumah lalu dilanjutkan dengan sesi rasan – rasan. Orang sini meskipun ramah, tapi mereka sangat menjaga jarak. Tidak akan gampang menjadikan seseorang itu temannya atau dengan gampang mengundang ke rumah. Tidak ada istilah nonggo atau nenangga atau duduk manis santai – santai nggosip di rumah tetangga. Saya beberapa kali memberi mereka camilan seperti lumpia, pukis, martabak. Hanya saya antarkan depan rumah mereka saja, tidak sampai masuk ke rumah. Bersyukurnya, para tetangga ini tidak ada yang berkelakuan aneh – aneh. Tidak pernah ada kejadian khusus di sekitar sini. Hanya memang karena lingkungan para orangtua dan depan kompleks adalah rumah jompo, jadi sering ada ambulans yang datang.

Pernah suatu malam, ada ambulans datang ke tetangga persis depan rumah kami. Lalu disusul dengan mobil pemadam kebakaran. Saya ingat sekali saat itu sekitar jam 9 malam karena kami sedang seru menonton film. Dua mobil ambulans datang, disusul 3 mobil pemadam kebakaran. Wah rasanya sangat serius. Lalu suami memutuskan ke luar rumah untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi. Eh ternyata para tetangga juga keluar rumah ingin tahu ada apa sebenarnya. Lalu saya mbatin : ternyata sama saja di sini pun orang – orang masih punya rasa penasaran. Bedanya, di sini tidak sampai ada kerumunan. Hanya melihat dari kejauhan saja, sangat jauh malah.

Diantara banyak tetangga, kami hanya akrab dengan dua tetangga, keluarga Belanda. Ya bukan akrab yang bagaimana, hanya memang sering mengobrol dan pasti diundang dan saling mengundang jika ada acara. Juga saling berkirim makanan. Hanya sebatas itu. Dengan mereka, kami juga saling membantu. Jika sedang pergi liburan, kami akan menitipkan rumah pada mereka untuk sesekali ditengok atau minta tolong untuk menaruh surat – surat yang datang ke atas meja. Jadi mereka pegang kunci rumah kami. Begitu juga sebaliknya mereka berlaku yang sama. Kami beruntung sekali punya tetangga seperti mereka, setidaknya masih berasa hidup bertetangga, tidak terlalu individualis. Obrolan diantara kami juga lumayan sering, jadi tahu tentang keluarga masing – masing. Mereka sangat perhatian, bahkan saat saya lulus ujian apapun (termasuk ujian praktek dan teori menyetir mobil), pasti dikirimi bunga dan ucapan selamat. Saya sungguh merasa terharu mereka seperhatian itu.

Ngobrol saat papasan dengan tetangga, ternyata sangat menyenangkan untuk saya. Memang tidak lama, hanya 5-10 menit tapi setelahnya bisa memberikan efek yang membuat bahagia. Entah kenapa seperti itu. Mungkin karena topik obrolannya tidak ada ucapan yang menghakimi atau pertanyaan basa basi atau pertanyaan sangat ingin tahu. Menanyakan kabar, kesehatan, saling berucap semoga harinya menyenangkan, bahkan ada satu Oma yang dengan ucapan tulus bilang kalau warna jilbab saya bagus, rok yang saya kenakan cantik motifnya dsb. Ucapan singkat yang bisa membuat hari saya ceria. Obrolan ringan seperti itu membuat saya merasa ternyata saya masih butuh hidup bertetangga. Saling ngobrol meskipun sebentar, saling melemparkan salam, saling mengundang, saling menanyakan kabar. Kehidupan bertetangga yang saling menjaga batasan dan privasi. Kehidupan bertetangga yang secukupnya tidak berlebihan. Menjaga hubungan baik dengan tetangga, buat saya sangat penting. Apalagi kami jauh dari saudara.

Jadi ingat ucapan Ibu sewaktu di Indonesia : berbuat baiklah dengan tetangga, jaga hubungan baik dengan mereka, karena jika kita butuh pertolongan, mereka yang pertama membantu.

-10 September 2021-

*Bagaimana hubungan kalian dengan tetangga? *Sayangnya kalau pas cabe atau beras habis, tidak bisa minta tetangga karena pasti mereka tidak punya cabe.

Bangga (Akhirnya) Bisa Menyetir Mobil (di Belanda)

Pertama kali menyetir di Belanda setelah punya SIM

Menyetir mobil ini benar – benar salah satu pencapaian terbesar dalam hidup saya. Bayangkan, dari orang yang sangat takut berkendara sendiri, bahkan naik motor saja takut, sekarang sudah bisa menyetir mobil lintas provinsi di Belanda.

Jadi, kami baru pulang liburan 4 hari. Di dalam negeri saja. Selama liburan tersebut, kami tinggal di vakantie huis (rumah yang disewakan untuk berlibur) di salah satu kota di provinsi Gelderland. Seperti biasa kalau liburan menginap beberapa hari, suami pasti akan menyewa mobil karena pasti kami mengunjungi kota – kota di sekitar tempat yang kami tinggali. Lalu suami bilang kalau liburan kali ini, bagian saya yang menyetir mobil supaya latihan dan tidak kaku.

Sebenarnya saat kami liburan awal Juli, itupun sudah direncanakan kalau saya yang akan menyetir mobil selama liburan. Waktu itu kami ke provinsi Drenthe dan Friesland. Tapi, karena SIM saya jadinya telat seminggu setelah liburan, walhasil saya tidak jadi menyetir saat itu. Akhirnya kesempatan liburan kali ini saya yang menyetir mobil.

Terakhir menyetir mobil ya waktu saya ujian praktek dan dinyatakan lulus akhir bulan Mei. Setelahnya sama sekali belum menyetir mobil lagi. Pagi hari saat mau berangkat, sempat ada rasa deg – deg an, kira – kira masih bisa tidak ya, kira – kira masih ingat tidak ya aturannya seperti apa, dsb. Sempat ada rasa khawatir sejenak. Tapi setelah saya duduk di belakang setir, semua berjalan lancar.

Jadi liburan kali ini, saya menyetir mobil lintas 4 provinsi di Belanda. Sebenarnya letak antara satu provinsi dan lainnya tidak terlalu jauh karena ya Belanda ini sebesar apa sih, negara yang kecil. Jadi, kami berhenti – berhenti di 3 provinsi : Utrecht – Gelderland – Zeeland. Berhentinya bukan hanya di Pom Bensin saja tapi masuk ke kotanya karena kami mengunjungi beberapa tempat di sana. Nah karena rumah kami ada di provinsi yang berbeda yaitu Zuid Holland, jadinya ya saya menyetir lintas 4 provinsi : Zuid Holland – Utrecht – Gelderland – Zeeland – Zuid Holland.

Sekitar 90% selama liburan, saya yang pegang setir. Sementara suami menggantikan saya menyetir cuma 1 jam sisa perjalanan saat dari Gelderland ke Zeeland yang total waktu tempuhnya 2 jam 45 menit. Jadi saya menyetir 1 jam 45 menit, sisanya suami. Selebihnya, selama 4 hari ya saya yang menyetir.

Rasanya bagaimana akhirnya bisa menyetir mobil? Bangganya luar biasa pada diri sendiri. Menengok lagi ke belakang, tidak mudah meyakinkan saya sendiri kalau menyetir mobil adalah keterampilan yang benar – benar ingin saya kuasai. Dulu waktu di Indonesia, sama sekali tidak ada keinginan dan terpikir untuk bisa menyetir mobil. Tapi saat di sini, pikiran saya jadi berubah. Saya merasa, saya harus bisa menyetir mobil supaya lebih mandiri dan pasti terpakai untuk kebutuhan lainnya. Lalu saya berkeras kepala untuk lulus ujian teori meskipun buat saya itu bahasanya sudah tingkat dewa saking susahnya (tricky dan bahasa Belanda yang dipakai formal sekali). Alhamdulillah sekali tes langsung lulus. Kemudian saya pun kembali berkeras kepala untuk lulus ujian praktek meskipun gagal dua kali dan 3 kali ujian tidak jadi karena terkena lockdown. Ujian ketiga baru saya dinyatakan lulus.

Sekarang saya bisa merasakan apa yang saya perjuangkan selama 1.5 tahun. Bisa menyetir dengan aman sesuai peraturan yang berlaku, menyetir dengan tenang dan bisa berpikir cepat apa yang harus dilakukan kalau ada kondisi yang tidak ideal.

Selama liburan kemaren, rasanya hampir semua situasi sudah saya lewati. Menyetir saat hujan deras sekali, menyetir di jalanan berkelok curam ke atas saat ke kastil, menyetir di kecepatan 120km/jam, 100km/jam saat jam sibuk, menyetir dalam kota, menyetir di sekitar pusat perbelanjaan, bermanuver di jalan tol menyalip truk – truk yang berukuran super besar, menyetir di jalanan super sempit, menyetir saat macet di dalam kota dan di jalan tol, menyetir malam hari. Alhamdulillah semua terlewati dengan baik. Dulu berpapasan dengan truk saja sudah membuat gemetaran. Sekarang setelah di belakang setir, semuanya jadi biasa. Dulu membayangkan melewati jalan berkelok curam saja ngeri, sekarang setelah dijalani sendiri, ya berani.

Kenapa saya berani? karena aturan menyetir di sini semuanya jelas dan peraturan lalu lintasnya pun jelas. Jadi orang tidak akan seenak udelnya serobot sana sini di jalanan. Selain itu, karena sudah punya SIM yang mendapatkannya penuh perjuangan, banyak uang yang sudah dikeluarkan, ya tidak ada alasan untuk tidak berani menyetir.

Suami bilang : Wah, rute selanjutnya roadtrip lintas negara nih. Selama ini, kalau kami roadtrip ya pasti dia saja yang menyetir. Karena sekarang saya sudah bisa, jadi saya juga tertantang menyetir mobil roadtrip lintas negara.

Ibu saja sampai heran, darimana keberanian yang saya dapatkan kok bisa – bisanya sekarang ga ada takutnya menyetir. Padahal dulu sudah ditawari beberapa kali untuk les nyetir mobil di Indonesia selalu saya tolak dan bilang kalau seumur hidup tidak akan pernah menyetir mobil sendiri. Sekarang saya telan omongan sendiri.

Kalau tidak merantau sejauh ini, saya tidak akan punya keberanian sebesar sekarang. Jika saya tidak berkeras kepala untuk meneruskan les menyetir sampai lulus dan mendapatkan SIM, rasanya saya tidak akan sebangga ini. Jika tidak mencoba sendiri menyetir mobil, rasanya saya tidak akan tahu bahwa saya pun bisa mengalahkan ketakutan selama ini.

Rute selanjutnya, lintas negara? Kita lihat saja nanti. Kalau menyetir mobil di Belanda saya bisa tanpa ada rasa takut, nanti di Indonesia saya serahkan saja pada ahlinya. Membayangkan lalu lintasnya saja sudah bikin saya dadah – dadah ke kamera .

-24 Agustus 2021-

Vaksin Covid – Bagian Kedua – Selesai

Sourdouh Multigrain Bread

Cerita singkat saja ya kali ini. Beberapa hari lalu, saya selesai mendapatkan vaksin kedua covid. Yang bagian pertama, bisa dibaca ceritanya di sini ya.

Berbeda dengan vaksin pertama yang masih ada sedikit efek sampingnya, vaksin kedua ini benar – benar tidak berasa ada efek setelahnya. Lengan sakit pun tidak berasa. Padahal saya sudah mempersiapkan mental kalau efek vaksin kedua ini akan berat karena mendengar cerita – cerita mereka yang sudah mendapatkan vaksin kedua.

Sama halnya dengan yang pertama, sebelum vaksin kedua ini pun saya tidak ada persiapan khusus. Makan minum seperti biasa, istirahat dan tidur pun seperti biasa, tidak mengkonsumsi vitamin apapun. Intinya, biasa saja. Ada satu yang nyaris sama dengan vaksin yang pertama : Saya nyaris lupa kalau hari itu harus vaksin. Padahal dua hari sebelumnya saya sudah mengingat – ingat kalau akan vaksin 2 hari lagi. Pas tengah malam saya baru teringat kalau besok pagi jadwal vaksin. Walah, nyaris terlewat. Padahal jadwal saya hari itu padat sekali. Harus mengerjakan Sourdough bread 4 macam yang adonannya sudah diinapkan di kulkas, masak makan siang, dan masak lodeh buat akhir pekan. Ngerinya kalau setelah vaksin efeknya berat, buyaarr semua jadwal itu. Adonan roti bisa – bisa berubah jadi adonan tape.

Selesai vaksin, sesampainya di rumah, saya masih leyeh – leyeh 30 menit. Kok tidak ada tanda – tanda sakit ya. Lalu saya mulai mengerjakan roti satu persatu. Sampai roti kedua, masih ga ada rasa sakit. Saya tidak mau jumawa. Takutnya kena tulah besokannya sakit parah. Tiga jam berlalu, 6 jam berlalu, 10 jam berlalu, tetap biasa saja. Bahkan semua rencana hari itu, bisa saya selesaikan semua. Membuat 4 macam roti, masak makan siang, masak lodeh untuk akhir pekan, jalan – jalan ke hutan, sampai beberes pun selesai semua. Hari itu, terlewati dengan mulus.

Keesokan paginya, bangun dengan tanpa badan sakit. Oh ya lupa dituliskan. Seminggu sebelum vaksin, hidung saya mulai mampet. Pilek. Sampai hari vaksin pun, hidung saya tetap mampet, pilek. Nah keesokan harinya, bangun tidur tetep mampet. Jadi kondisi setelah vaksin, tidak ngefek pada kemampetan hidung. Berharapnya agak membaik ya, tapi tetap saja. Sehari setelah vaksin, juga sama, mulus dilalui tanpa rasa sakit (bahkan sampai tulisan ini diunggah). Akhirnya saya bisa menyimpulkan bahwa untuk vaksin kedua, tidak ada efek samping apapun di badan saya. Mulus tetap berkegiatan seperti biasa.

Senang akhirnya sudah mendapatkan vaksin yang kedua. Yang membuat saya makin lega lagi, Ibu dan adik – adik saya di Indonesia, akhirnya sudah mendapatkan vaksin yang pertama. Setelah lika liku stok vaksin di daerah yang cepat habis, akhirnya mereka sudah bisa vaksin yang pertama. Rasanya benar – benar ingin sujud syukur saking senangnya mereka sudah divaksin.

Suami masih bulan depan vaksin keduanya. Apa rencana kami setelah mendapatkan vaksin lengkap? Tidak ada rencana apapun. Ya begini saja tetap tinggal di rumah karena tidak ada undangan kumpul – kumpul juga. Kehidupan berjalan seperti biasa. Tetap liburan gentayangan di Belanda. Kemaren saya menanyakan lagi ke suami, apa dia ada rencana liburan ke LN secara dia ini kalau bikin rencana liburan selalu dadakan. Dia lalu mengingatkan saya bahwa negara ini kodenya sedang merah. Jadi kami tidak mau ruwet perkara liburan di LN dengan embel – embel datang dari negara berkode merah. Dan lagi, peraturan di situasi seperti ini cepet berubah. Intinya, kami males ruwet sih. Jadinya, tetap seperti rencana semula sejak awal tahun kalau tahun ini tema liburan kami adalah explore Belanda. Lumayan, jadi lebih tau kota – kota kecil di Belanda, menjelajah museum, dan lebih mengenal hotel – hotel di sini haha.

Stay Happy and healthy ya! Doa saya tetap dan selalu sama. Semoga keadaan ini cepat membaik, kehidupan berjalan normal lagi, kita semua diberikan kekuatan lebih untuk melangkah. Turut berduka cita untuk mereka yang ditinggalkan keluarga, teman, sahabat, yang tercinta karena pandemi ini. Semoga diberikan kekuatan dan penguatan.

-25 Juli 2021-

*Cerita tambahan. Sebenarnya sangat tidak penting. Tapi tetap ingin saya tuliskan. Sewaktu diarahkan ke salah satu loket pemeriksaan kartu identitas, petugasnya ganteng sekali. Matanya bagus, giginya rapi dan bentuknya bagus sekali. Pas dia tersenyum, duh tiba-tiba jantung saya kayak yang jadi cepat gitu detaknya. Matanya bagus banget asli. Wah gawat, jangan sampai ga bisa vaksin gara – gara disenyumin lalu tensi saya melonjak. Setelah meninggalkan loket, jantung saya masih deg-degan gitu lho. Ya Allah, norak! Lemah memang saya kalau lihat mata bagus. Makanya saya lemah lihat matanya NicSap *nyebut Mbak!

Sampai rumah saya cerita suami kan. Dia cuma senyum datar aja. Komen dia : ya untung saya ga ditelpon sama GGD suruh jemput kamu yang pingsan gara – gara disenyumin anak muda dengan mata yang menurutmu bagus.

Haha!

Lulus Ujian Praktek Menyetir Mobil di Belanda

Bunga dari tetangga setelah saya dinyatakan lulus ujian menyetir mobil

Akhirnyaaaa, Alhamdulillah hari itu datang juga dimana saya dinyatakan lulus ujian menyetir mobil setelah 30 menit praktek didampingi oleh penguji yang disebut Examinator. Setelah dinyatakan lulus, saya langsung loncat – loncat kegirangan sampai otomatis nyaris memeluk instruktur yang ada di sebelah saya. Untung saya masih bisa mengendalikan diri. Bukan karena ingat dia bukan muhrim, tapi ingat ini masih musim Corona. Kalau tidak, mungkin benar adanya saya akan memeluk dia hahaha saking gembiranya dan legaaaa rasanya akhirnya lulus juga. Rasanya seperti satu beban terangkat dari pundak. Saya sangat bangga sama diri sendiri akhirnya lulus ujian praktek menyetir mobil di Belanda. Saya perlu tuliskan berkali – kali BELANDA-nya karena untuk mendapatkan SIM di sini, bukanlah perkara yang mudah. Selain mahalnya minta ampun, ujiannya pun susah karena standar kelulusan yang tinggi. Ujian teorinya, tricky minta ampun. Bersyukurnya tahun lalu saya langsung lulus sekali ujian dalam bahasa Belanda. Sebagai gambaran, orang Belanda saja bisa sampai 2-4 kali baru bisa lulus ujian teori. Makanya saya bangga bisa sekali lulus ujian teori dalam bahasa Belanda, saking tricky – nya ujian itu. Lengkapnya bisa dibaca di sini ya tentang ujian teori menyetir mobil. Ujian teori bisa sekali lulus, ujian praktek lain cerita. Panjaaanggg dan berliku. Saya ceritakan lengkapnya di bawah ya.

PERJALANAN PANJANG, BERLIKU, DAN PENUH AIRMATA

Sub judul ini tidak melebih – lebihkan. Bagaimana tidak panjang, berliku, dan penuh air mata kalau mendapatkan SIM mobil saja susahnyaaaa minta ampun. Jadi begini, saya mulai belajar menyetir di sini itu dari nul putul alias tidak bisa menyetir sama sekali. Di Indonesia tidak ada hasrat buat belajar menyetir mobil karena memang tidak minat. Di sini lain cerita, karena saya pikir menyetir mobil itu sebuah keterampilan yang saya harus bisa karena pasti akan terpakai nantinya. Supaya tidak tergantung dengan suami juga kalau butuh. Jadilah saya belajar dari awal. Mulai dari mengenali satu persatu segala tombol yang ada di mobil itu fungsinya apa saja. Bahkan belajar bagaimana mengendalikan setir mobil. Dari yang awal belok aja kayak mau nabrak trotoar, nginjak rem kayak mau tabrakan saking kerasnya (ga ada penghayatan sama sekali). Menginjak pedal gas sudah seperti di sirkuit balapan saking kencangnya. Saya kadang sampai sungkan dengan instruktur yang supeeerrr sabar. Sering bertanya sama dia apa saya ini murid dia yang paling parah ketidakbisaannya. Dia cuma 4 tahun lebih muda dari saya. Sabar dan telaten mengajari. Seingat saya, dia tidak pernah marah sama sekali. Hanya, dia tegas.

Ada masanya setelah beberapa bulan les, merasa kok kemampuan saya masih begitu – begitu saja. Merasa kok masih banyak salahnya. Sampai ada satu titik, memutuskan untuk menyerah. Saya sampai menangis di depan si Instruktur, bilang kenapa kok saya ini ga ada bakat menyetir rasanya. Sudah tidak terhitung menangis di depan suami bilang mau berhenti saja lesnya. Mau menyerah tapi ada rasa sayang kalau berhenti tengah jalan. Nanggung dan seperti tidak mendapatkan sesuatu. Seperti sia – sia kalau tidak diselesaikan sampai tuntas.

Apalagi setelah gagal ujian pertama. Rasanya makin merasa saya ini ga punya bakat menyetir. Padahal Instruktur saya selalu bilang begini : Setiap les, kamu jangan selalu lihat negatifnya saja. Lihat positifnya lebih banyak. Apa yang kamu pelajari hari ini, lebih banyak dari kesalahan apa yang kamu perbuat. Namanya juga masih belajar, pasti ada salahnya. Kesalahan itupun bukan selalu hal negatif. Dari kesalahan kamu bisa belajar banyak hal supaya kedepannya lebih baik lagi. Kamu jangan jadi orang yang terlalu perfeksionis. Letakkan perfeksionis kamu di rumah saat kamu sedang belajar menyetir. Jangan dibawa. Ingat, kamu dulu memulai belajar, bahkan menginjak menginjak rem saja tidak bisa. Lihat kamu sekarang, sudah bisa bawa mobil di jalan bebas hambatan. Lihat kamu sekarang sudah bisa lewat jalan yang super sempit. Lihat kamu sekarang sudah bisa papasan dengan truk tanpa rasa takut. Jangan bebani dirimu dengan target yang terlalu tinggi. Pelan – pelan yang penting pasti. Ya, kesalahan terbesar saya adalah terlalu menaruh target yang terlalu tinggi setiap les. Walhasil saya bukan fokus pada prosesnya tapi pada hasil akhirnya. Padahal tidak bisa seperti itu. Menyetir itu kan keterampilan, jadi ya ala bisa karena terbiasa. Pelan – pelan tapi ada progresnya. Tidak bisa mendadak sulapan sim salabim jadi lancar sekali. Setelahnya, perlahan saya mulai letakkan perfeksionis saya dan kemampuan menyetir semakin baik dan lancar.

Saya sampai curhat ke beberapa orang yang mengalami betapa susahnyaaaa mendapatkan SIM di sini. Cerita ke Yayang, Ratih, Maya. Lalu Yayang pernah bilang seperti ini : Kalaupun kamu pernah gagal ujian praktek, jangan menyerah. Lanjutkan sampai kamu dapat SIM. Mau berhenti di tengah jalan, akan rugi karena sudah sejauh ini. Lanjutkan. Lalu suatu ketika, Agnes di twitter juga pernah bilang : aku ujian kelima baru lulus. Aku memang berkeras kepala harus lulus, bagaimanapun caranya. Lalu sejak saat itu, saya punya keyakinan kalau sebenarnya saya ini sudah bisa menyetir, ya buktinya saya bisa menyetir kan setiap kali les. Hanya, kemampuan saya menyetir mobil tersebut belum sesuai standar sang penguji yang didasarkan pada aturan Belanda yang Subhanallah buanyaakkk dan supeerrr detail. Standar menyetir di Belanda ini memang tinggi. Saya tahu sih, demi keamanan dan untuk menekan angka kecelakaan. Untuk keselamatan diri sendiri dan orang lain juga tentu saja.

Persoalan lainnya, dalam perjalanan menuju lulus ini, di tengah – tengahnya ada selingan lockdown 2 kali plus perpanjangan lockdown satu kali. Dampaknya, durasi saya les pun makin panjang karena saat lockdown, beberapa jenis pekerjaan termasuk sekolah les menyetir dilarang beroperasi. Jadilah selama masa lockdown tidak ada kegiatan les sama sekali. Saya mulai les nyetir itu akhir Desember 2019. Lalu awal Februari 2020 sudah lulus ujian teori. Harusnya pertengahan Maret saya ujian (yang pertama). Tapi sehari sebelum waktu saya ujian, Belanda statusnya lockdown. Wassalam ujian saya dibatalkan. Lalu baru bisa ujian bulan Juli, hasilnya gagal saat ujian pertama. Lalu saya mendaftar lagi ujian kedua, bulan Oktober, hasilnya gagal lagi. Lalu mendaftar ujian lagi, harusnya akhir Desember 2020 jadwal ujian. Tapi seminggu sebelumnya, Belanda kembali status lockdown, jadi ujian saya dibatalkan. Akhir Januari 2021, ada pengumuman kalau kandidat yang ujiannya dibatalkan karena lockdown, bisa daftar ulang ujian. Akhirnya saya daftar lagi (lewat sekolah), dapat jadwal awal Maret 2021. Eh ternyata Februari diumumkan kalau lockdown diperpanjang sampai awal maret 2021. Walhasil ujian saya dibatalkan lagi. Pertengahan maret, mendaftar lagi, baru dapat jadwalnya akhir Mei. Berliku macam ular tangga.

Entah kenapa, selama bulan Mei les 4 kali, saya lebih PD dan lebih tenang. Mungkin efek pasrah yo wes lah sak karepmu iki ujian piye. Jadinya malah pasrah, tapi lebih fokus lebih PD dan lebih baik. Instruktur saya pun heran saya jadi lebih tenang dan lebih yakin saat menyetir. Makanya dia yakin kalau kali ini saya bisa lulus. Saya pun meskipun tidak mau menaruh harapan terlalu tinggi, tapi punya secercah keyakinan mungkin saja bisa lulus. Gagal ujian dua kali sebenarnya ada sisi positifnya, latihan menyetir jadi semakin panjang durasinya. Jadi makin luwes. Sisi negatifnya tentu saja uang yang keluar semakin banyak. Mendapatkan SIM di Belanda ini supeerrrr mahal. Saking mahalnya sampai puyeng sendiri. Sudahlah jangan ditanya berapa mahalnya, yang penting sekarang sudah lulus.

HARI H UJIAN KETIGA

Jadi ujian kali ini, adalah yang ketiga kalinya. Orang Belanda punya satu perkataan : drie keer is scheepsrecht. Artinya : yang ketiga kali, kamu akan sukses dengan apa yang kamu perjuangkan. Semacam itu ya artinya. Itu instruktur saya yang bilang. Saya amini saja supaya saya mensugesti hal – hal yang positif buat diri sendiri. Suami dulu juga ujian ketiga, baru lulus.

Ujian saya siang hari. Selama sepagian, saya benar – benar tidak tenang. Mendadak badan saya menggigil. Antara gugup dan sangat gugup. Sampai memikirkan kemungkinan terburuk : nabrak pas ujian. Bahkan saat pagi hari saya mengirimkan pesanan brownies dan cookies, saking gugup dan tidak konsen sampai salah masuk toko haha. Nah setelah makan siang, mendadak saya mengantuk. Lalu saya duduk di bangku dan tertidur. Sampai suami membangunkan dan bilang kalau sudah waktunya saya berangkat karena instruktur sudah menjemput. Ajaibnya, setelah bangun tidur, saya sudah tidak gugup dan panik lagi. Semuanya lenyap. Saya jadi lebih santai dan yakin. Lebih PD.

Saat menyetir ke tempat ujian, saya juga santai. Sudah seperti orang yang Pro menyetirnya. Setelah menunggu beberapa saat, Examinator datang ke mobil di tempat parkir. Setelah bertanya beberapa hal berkaitan dengan administrasi, lalu kami masuk mobil. Instruktur menunggu di parkiran CBR. Sebagai gambaran, Examinator kali ini sepertinya seumuran saya dan gerak badannya santai. Pria dan tidak banyak bicara, sekalinya bicara nadanya santai. Jadi sejak awal saat melihat dia, saya yakin kalau akan tenang selama ujian. Di dalam mobil saya ditanya -tanya beberapa fungsi yang ada di sana. Saya ditanya lampu merah yang menyala artinya apa dan ditanya kalau ada keadaan bahaya musti pencet tombol yang mana. Semua lancar saya jawab.

Lalu mulailah saya menyetir. Dalam waktu 30 menit itu, 3 kali saya bolak balik ke jalan bebas hambatan (snelweg), di lingkungan perumahan (woonwijk), di dalam kota, satu kali menyetir arah belakang (achteruitrijden), satu kali parkir arah belakang (fileparkeren achteruit), dan satu kali menyetir mandiri menggunakan aplikasi penunjuk jalan. Alhamdulillah semua lancar saya lakukan. Pengujinya pun tidak sampai menginjak rem dan sampai menolong mengendalikan setir. Intinya saya bisa membawa mobil penuh dalam kendali saya. Saya indikasikan, hasilnya ok lah ini. Meskipun ya, tetap jangan ke PD an. Nanti ga lulus lagi, bisa kecewa luar biasa.

Setelah sampai kembali ke parkiran CBR, kami langsung keluar mobil, instruktur saya sudah menunggu. Penguji bilang : Deny, ik heb goede nieuws voor je. Jij bent geslaagd. Gefeliciteerd! (Deny, saya punya kabar gembira. Kamu lulus. Selamat). Wuaaahhh saya spontan langsung meloncat – meloncat sambil bilang terima kasih berkali – kali ke penguji dan instruktur saya. Saking gembiranya dinyatakan lulus sampai spontan ingin meluk instruktur haha. Kalau tidak ingat Corona, pasti dia sudah saya peluk beneran. Sampai saya diingatkan penguji : Jangan keras – keras senangnya. Di parkiran ini banyak yang tidak lulus. Saya minta maaf karena sudah terlalu heboh reaksi senangnya. Ya bagaimana lagi, saya pikir entah kapan ini bisa lulus. Faktor penguji pun besar lho dalam kelulusan. Kalau dapat penguji yang galak dan tidak sabaran, wassalam susah sekali lulusnya. Alhamdulillah kali ini dapat penguji yang baik dan santai. Saya berkali – kali bilang terima kasih pada Kevin, Instruktur saya. 1.5 tahun bersama dia, bukan waktu yang sebentar. Saya memberikan Kevin Sourdough Chocolate Cookies, lebihan pesanan orang. Ucapan terima kasih pada dia. Tentu saja Kevin senang luar biasa pada akhirnya saya lulus.

Begitu sampai rumah, saya pun langsung mengucapkan terima kasih pada suami dan anak – anak yang tidak patah semangat menyemangati saya selama ini. Pun keluarga suami yang selalu support. Juga Ibuk yang tidak putus berdoa setiap Tahajjud demi kelulusan saya. Juga pada tetangga sebelah yang selalu menanyakan kapan saya akan ujian dan memberikan bunga saat lulus. Betapa saya bersyukur dengan rejeki dikelilingi orang -orang yang perhatian. Juga Maya yang selalu menyemangati saya. Kami ini sama – sama pejuang Rijbewijs. Begitu saya lulus, langsung saya kirimkan pose wajib di bawah ini ke beberapa teman dekat dan keluarga. Anis sampai senang sekali akhirnya melihat saya berpose seperti ini. Ini pose wajib punya setelah dinyatakan lulus ujian praktek menyetir mobil. Untung badan sudah melangsing, jadi difoto tidak nampak melebar haha. Terima kasih juga buat kalian para pembaca blog ini yang sudah ikut mendoakan saya sebelumnya.

Sorenya kami merayakan dengan membeli makanan di luar. Standar sih, makanan cepat saji. Yang penting ada perayaan atas pencapaian di titik ini.

Pose wajib setelah lulus ujian praktek menyetir mobil

JADI…..

Jadi untuk siapapun yang membaca cerita saya ini dan sedang ada niatan untuk les menyetir di Belanda, semangaaatt!! Semoga lancar proses lesnya, lancar ujian teori dan prakteknya. Kalau bisa, langsung lulus. Kalau tidak bisa, jangan patah semangat. Jangan pantang menyerah. Selama uangnya ada, selesaikan apa yang sudah dimulai. Bisa menyetir mobil di sini itu banyaaakkk sekali manfaatnya. Bisa mandiri dan tidak tergantung dengan pasangan kalau memang butuh untuk menyetir mobil. Meskipun di sini sarana transportasi sangat memadai dan tersedia sampai tengah malam, tidak ada salahnya punya keterampilan menyetir dan punya SIM. Sangat membantu saat diperlukan.

Buat yang masih belum lulus ujian praktek menyetir, tetap semangat. Yakin suatu saat pasti lulus. Sewaktu ujian, yang penting jangan tegang, jangan panik. Serahkan saja perkara hasil pada Yang Kuasa dan pada penguji. Kita lakukan yang bisa kita lakukan, menyetir seaman mungkin dan sesuai peraturan. Selebihnya, jangan terlalu dipikirkan. Pesan ini ditulis oleh orang yang pernah hampir menyerah dan ingin putus ditengah jalan tidak ingin meneruskan mendapatkan SIM. Pesan ini dituliskan oleh orang yang 2 kali gagal ujian. Tapi akhirnya bersemangat kembali berbekal perkataan ke diri sendiri : Saya harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai, bagaimanapun susahnya. Saya harus berkeras kepala lulus sampai punya SIM.

Alhamdulillah, saya sudah menyelesaikan dengan lulus ujian praktek menyetir mobil dan dapat Rijbewijs! Selamat untuk diri sendiri. Bangganya luar biasa sama diri sendiri karena tidak memutuskan menyerah ditengah jalan dan menyelesaikan sampai akhir. Bangga karena saya lulus. Rasa bangga kali ini melebihi saat saya lulus ujian bahasa Belanda NT2. Selamat Deny! Akhirnya aku punya SIM Belanda, Yiaayy!! Sekarang musti sering menyetir mobil supaya makin terasah kemampuan menyetir saya.

Bunga dari Tetangga

*Kata Suami : Kamu kan sudah punya SIM, nanti pas di Indonesia bisa donk nyetir sendiri. Saya jawab : Ogah, mending kita nyewa mobil sekalian yang nyetirin. Ogah nyetir di Indonesia kalau tidak terpaksa. Ruwetnyaaa ga nahan. Ogah uji nyali.

-28 Mei 2021-

Empat Musim Dalam Satu Hari di Belanda

Musim semi, bunag - bunga cantik mulai bermekaran

Saat baru pindah ke Belanda, guru les bahasa Belanda saya bilang kalau mau basa basi dengan orang Belanda, gampang. Cukup obrolkan saja tentang cuaca hari ini. Mereka akan sangat bersemangat bercerita. Dan topik kedua adalah berbincang tentang rencana liburan atau mereka sudah pernah libur ke mana saja. Beberapa lama kemudian, saya membuktikan sendiri. Kalau disapa di kendaraan umum, mereka pasti ngomong tentang cuaca. Semisal : cuaca hari ini cerah ya. Atau : prakiran cuaca hari ini bilang akan turun hujan deras. Jadi saya cepat – cepat pulang ke rumah. Atau : Hey, minggu depan cuaca bagus, kamu ada rencana ke mana? Jadi buat kalian yang ada rencana liburan ke Belanda atau tinggal di Belanda, ga usah khawatir akan ditanya : Sudah punya anak? Tinggal sama siapa di sini? Kapan nambah anak? ya pertanyaan – pertanyaan lazim pas lebaran tiba. Ga usah kawatir, kalian tidak akan mendapatkan rentetan pertanyaan seperti itu (kecuali ketemunya dengan orang Indonesia yang masih berjiwa Indonesia sekali).

Saya, akhirnya ketularan kebiasaan itu. Setiap disapa orang, biar tidak terjadi situasi yang canggung, akhirnya senjata pamungkas obrolan tentang cuaca pun dikeluarkan. Sebenarnya basi sih, tapi saya jadi terikut terobsesi dengan cuaca. Bahkan menyimak analisa tentang cuaca ekstrem tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya atau tahun – tahun yang lama sudah lewat. Menurut saya, menarik menyimak analisa mendalam mereka tentang cuaca. Apalagi cuaca di Belanda ini sangat cepat berubah dalam satu hari.

Musim semi, bunga – bunga cantik mulai mekar

Dulu saya sering mendengar, cuaca di Belanda bisa berbeda dalam satu hari. Bisa merasakan 4 musim dihari yang sama, itu sudah biasa. Saya membuktikan bagian yang ini. Sering dalam satu hari : hujan es lalu tak berapa lama hujan air biasa, disusul matahari bersinar cerah dengan langit biru dan ditutup dengan angin yang super kencang. Sudah biasa seperti itu. Jadi saya sudah tidak kaget. Atau misalkan saat Belanda bersalju dan sungai serta danau serentak beku, minggu depannya langsung hangat. Seperti tidak ada sisa – sisa kenangan saat salju turun deras. Kali inipun seperti itu, malah lebih ekstrem lagi.

Bunga di halaman belakang. Semoga tidak mati kena salju.
Bunga di halaman belakang. Semoga tidak mati kena salju.

Jadi, seminggu lalu cuaca di Belanda sedang bagus. Hangat. Benar – benar nikmat untuk leyeh – leyeh di luar rumah. Suhu sampai 26 derajat celcius. Sempurna lah untuk musim semi. Cuaca seperti itu, kami nikmati nyaris selama seminggu. Pas banget selama seminggu tersebut, kami liburan ke provinsi sebelah. Ini akan saya ceritakan dipostingan terpisah. Pulang liburan, saya langsung sibuk berbenah halaman depan dan belakang karena ditinggal seminggu saja kok rumput – rumput liar sudah tumbuh dan bunga – bunga mulai mekar. Saya berencana, minggu depannya akan saya tambahi beberapa tanaman di halaman rumah kami. Jadi sebelumnya dibersihkan terlebih dahulu.

Tunas bayi pohon pisang yan mulai tumbuh. Sempat mati pas salju datang

Minggu malam, saat kami melihat siaran berita, prakiraan cuaca mengatakan kalau mulai senin salju akan turun dan suhu tidak lebih dari 4 derajat celcius. Ini sudah April lho, suhu kok ya ngedrop lagi. Wah saya kaget. Cepat – cepat saya ke luar rumah untuk menutup bayi pohon pisang yang sempat mati saat salju datang, lalu sekarang tumbuh tunas baru. Kalau terkena salju, khawatir mati suri lagi. Demi bisa melihat pohon pisang tumbuh di halaman ya kan. Tapi kekhawatiran saya bukan itu saja. Kalau salju betul akan datang, bunga – bunga yang sudah mekar ini akan bertahan atau bagaimana ini nasibnya. Lagian ini sudah April, kok ya masih saja salju turun. Rasanya capek juga bergelut dengan dingin selama berbulan lamanya.

Senin kemaren, pagi hari saya melihat hujan turun. Tak berapa lama kemudian salju lalu disusul dengan hujan es. Lalu matahari bersinar terang dan langit biru cantik. Setelahnya langit menggelap, lalu hujan es lagi. Disusul angin kencang, salju turun lagi. Matahari nongol lagi, langit kembali biru cerah. Begitu seterusnya sampai menjelang malam. Saat malam hari saya tidak terlalu memperhatikan apakah hujan es dan salju masih turun.

Hari ini, selasa, cuaca lebih ekstrem. Pagi hari saya harus ke luar rumah. Jadi selama 2 jam di luar rumah, saya langsung merasakan yang namanya hujan air, salju, hujan es, angin kencang, matahari gonjreng bersinar terang, langit biru lalu berubah jadi langit gelap. Rasa meriang ya dan butuh makan bakso plus gorengan berlimpah minyak jelantah *halah, alasan! Cuaca hari ini benar – benar cepat sekali berubah. Saya membayangkan seperti time-lapse 4 musim tapi terjadi dalam satu hari. Bahkan salju yang turun lebih tebal dari kemaren dan es yang turun pun lebih besar dibandingkan kemaren. Angin pun tidak mau kalah mau unjuk diri, sudah seperti badai saking kencangnya. Bahkan saking anehnya, hujan es dan salju beberapa kali turun dalam waktu bersamaan. Jadi dua hari ini, saya merasakan apa yang orang Belanda bilang, 4 musim terjadi dalam satu hari. Ini malah dua hari berturut. Entah esok hari masih berlanjut atau tidak.

Sebesar ini lho esnya. Sakit ini kena kepala.

Mengalami dan melihat sendiri hal tersebut, membuat saya khawatir. Ini rasanya sudah tidak biasa. Khawatir apa yang akan terjadi dengan bumi. Apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Khawatir dengan alam yang mulai berubah. Bahkan saat menulis ini dimalam hari, saya masih mendengar suara kencang hujan es turun di luar dan suara geluduk yang keras.. Ada rasa takut dan khawatir karena ini rasanya sudah tidak biasa. Salju di bulan April? rasanya sudah tidak biasa. Alam sedang dalam kondisi tidak baik, saya tahu itu.

Semoga esok hari cuaca kembali normal meskipun suhu diperkirakan kembali minus beberapa hari kedepan. Ingin rasanya kembali merasakan suhu musim semi. Bukan suhu musim dingin di musim semi. Saya rindu cuaca hangat.

Stay safe semuanya, sehat – sehat selalu dan semoga alam kembali baik – baik saja.

*saat tulisan ini siap diluncurkan, di luar lanjut salju turun lebat.

-6 April 2021-