The significance of music

Why does music play such a significant role in our lives? Do we know anyone who does not like music to some extent?

As humans we are blessed with the gift of creating, performing and passively enjoying music and are the only creatures on this planet who have all these capacities. As long as man inhabits this world he creates music. Through scientific research we know that music is a powerful tool in the development of a child’s brain and the brain in general. Music is an important means to identify you as a human, especially when you are in adolescent age. Music can play an important role to determine the social group you want to belong to or to be part of.

Music can give us consolation remembering experiences from the past, our beloved ones or special occasions in our lives. Music can make us relax or arouses us and lift up our spirits. Music brings us together and music makes us dance. Mathematicians have dealt with music because music and sound are bound to the laws of nature and therefor is a grateful subject for mathematicians since the days of the Greek and Roman physicians in Antiquity.

For musicians music can be a means to seek popularity. Or even look for a larger than life perspective, especially since mankind discovered ways to annotate and record music. So music could be reproduced for future performances which could take place long after its creator had deceased. Yet music is -like all forms of art- vulnerable and each generation creates its own music hoping it will stay relevant. Those chances are unfortunately minimal: we only have to look back at our own history to know that music recorded in the 1930s through 1980s is probably relatively unknown to most of the audience that nowadays listen to music. If we travel back further in time we find that only a handful of the compositions of composers from the Middle Ages and Modern Age are still being performed and listened to in our time (think Bach, Mozart, Beethoven and the likes). Music created before that time is practically lost to us, although there are a few exceptions.

When the industrial and scientific revolution in Europe boomed at the end of the 18th century it also had a profound impact on composers, musicians and the way the listener experience music. Composers of music no longer needed to make their income from physical performances but could arrange their compositions for sheet music. Musicians could buy this sheet music and perform the music without ever having heard the original from the composer. Early on in the 20th century new possibilities became available that even would take the reproduction music to a new level. Music could now be recorded and reproduced. First through the use of mechanical reproduction, then vinyl and finally through digital media like the CD and in our current era through the use of streaming media.

On a personal level I always had a great interest in sound and music, an interest that went beyond that of the average interested musician or listener. As a young person I mastered different instruments like flute, piano and guitar. Meanwhile I discovered I found it more interesting to record the results of music making than to play music together with other musicians or to perform live. Over the years I always felt intrigued and inspired by how instruments sound, from the most simple percussion instruments to complex electronic instrumenujts (and everything in between). Some of my favorite sounding instruments are: gamelan, dulcimerpipe organcelestaMoog synthesizer.

So I developed an interest in creating and recording music. Composing and recording music is a strange process. It is difficult to express how and why ideas emerge and why some ideas grow into a composition and other ideas land on a shelf or are forgotten over time. I save most ideas like making a notation that come to mind. Those ideas come from playing some piano chords or noodling on a guitar, but also riding on my bike is good for inspiration. At a certain point I decide that an idea is interesting enough to invest more time into it. When the time comes to record the music it is also a bit strange process. Sometimes things fall easily into place, sometimes you can struggle for weeks to ‘get it right’. What this ‘get it right’ exactly means is difficult to express but it has something to do with reaching a point where you find your composition and recording is ‘like it should be’ and can be considered finished.

Recently I finished a new album ‘Piano and Guitar, Vol. I’. Its title meaning that I return to these instruments and rely less on electronic instruments. You can listen to my new album on Spotify.

-The Hague, 20 november 2016-

Mimpi Jadi Nyata! Konser Coldplay Tahun 2016 di Amsterdam ArenA

Coldplay Live at Amsterdam ArenA

Hari ini, dua bulan lalu, tepatnya 24 Juni 2016 salah satu keinginan terbesar saya dalam dunia menonton konser akhirnya tercapai sudah. Sesuai judul tulisan ini yang memang jelas sekali, saya akhirnya bisa nonton konser Coldplay! Sejak bertahun-tahun lalu saya selalu bermimpi kapan bisa melihat konser Coldplay di Indonesia. Dulu pernah ada selentingan kabar (baca dari twitter juga) kalau mereka akan tampil di Bali. Tunggu punya tunggu ternyata hanya isapan jempol semata. Padahal waktu itu, saya yang posisinya masih kerja di Jakarta, langsung bilang ke atasan kalau memang sampai kejadian Coldplay konser di Bali, saya akan cuti tidak peduli seberapa banyak kerjaan di kantor. Bos saya cuma iya iya aja, kemudian pasrah saja selama seminggu mendengarkan lagu Coldplay yang terdengar dari laptop saya *masih ingat muka Beliau kalau lewat kubikel, muka asem :))))

Awalnya, saya bukan fans fanatik Coldplay. Sewaktu mereka mengeluarkan album pertama tahun 2000 yang berjudul Parachutes, saya malah tidak tahu, terlalu sibuk dengan praktikum kampus *pencitraan :p. Beberapa saat kemudian saya mulai terkena racun teman dekat yang setiap saat, setiap waktu selalu bernyanyi, ngomong tentang Coldplay (dan Chris Martin tentu saja). Gara-gara teman saya ini juga, awalnya yang saya tidak suka dengan Naif, akhirnya jadi suka sekali *kena tulah. Sekarang saya akhirnya berterimakasih pada dia karena sudah memperkenalkan musik Coldplay pada saya (dan saya tidak berhasil membuatnya suka pada Bon Jovi haha!). Pada saat ada rumor Coldplay akan konser di Bali, saya dan dia sudah mulai heboh sendiri, membayangkan bagaimana rasanya ketemu dengan Chris Martin (hahaha ketemu! padahal maksudnya nonton dia nyanyi), merencanakan akan pakai baju apa. Intinya berkhayal macam-macam tentang konser Coldplay yang ternyata memang hayalan semata karena tidak ada yang namanya akan konser di Indonesia (menurut berita seperti itu).

Sewaktu awal ketemu suami, begitu tahu bahwa mas Ewald ini adalah orang yang punya hobi dan serius di dunia musik, saya langsung tanya dong ya penyanyi atau band favoritnya apa. Begitu dia menyebutkan, pada saat itu juga saya tahu kalau kami tidak satu keyakinan untuk urusan musik. Bahkan waktu itu dia menyebutkan tidak suka Bon Jovi dan Coldplay. Padahal sewaktu menyebutkan itu, dia belum tanya saya sukanya mendengarkan musik siapa. Langsung menelan ludah pahitlah saya begitu tahu dia tidak suka dengan band favorit saya (kemudian ragu, apakah harus melanjutkan hubungan kami *lebayyy perkara Coldplay dan Bon Jovi aja :))). Intinya kami beda selera musik, tapi kami saling menghormati : kalau yang satunya lagi putar Coldplay, yang satunya ikutan putar David Bowie, saling menghormati tidak mau kalah maksudnya haha.

Sewaktu baca tulisan Jo tentang konser Bon Jovi, duh saya iriiiii sekali dengan Jo sekaligus senang sudah diberikan reportase tulisan dan rekaman di Instagram. Melihat konser Bon Jovi juga salah satu mimpi besar saya. Trus saya merepet tiap hari ke suami “andaikan ada di Indonesia yaa, jadi bisa nonton Bon Jovi” lalu setiap hari saya pasang lagu-lagu Bon Jovi. Suami sepertinya menahan sabar saja waktu itu dan menebalkan telinga :))) Saya komen di tulisan Jo semoga suatu saat bisa melihat konser Bon Jovi dan semoga bisa melihat konser Coldplay. Suami diam-diam mencari informasi tentang konser Bon Jovi, yang ternyata tahun ini tidak ada yang diadakan dekat Belanda. Pada saat mencari informasi konser Bon Jovi itulah suami akhirnya mendapatkan informasi kalau Coldplay akan mengadakan konser di Amsterdam. Wah, saya giraaangg bukan kepalang sewaktu suami memberitahukan hal tersebut. Setiap hari rasanya ingin tersenyum membayangkan saya bisa menonton konsernya. Tapi suami bilang kalau konser yang banyak penggemarnya semacam Coldplay pasti tiketnya akan ludes dalam hitungan menit. Disitu saya langsung merasa lemas *langsung teringat konser Maroon 5 di Jakarta

Pembelian Tiket

Sekitar satu minggu sebelum hari H pembelian tiket, saya sudah woro-woro ke beberapa teman dan kenalan, bukan hanya yang ada di Belanda tapi juga seputaran Eropa. Tujuannya tidak lain untuk mencari teman menonton konser. Kan rasanya garing kriikk kriik ya kalau menonton konser sendirian. Mengandalkan suami jelas tidak mungkin karena saya sudah mengupayakan berbagai cara mengajak dia, tetap tidak mau. Bahkan saya bilang kalau tiketnya saya yang bayar, tetep tidak mau. Beberapa yang saya hubungi tidak ada yang tertarik, ada sih yang tertarik tapi kendala jarak jadi tidak memungkinkan. Saya sampai mengajak kolega di kantor, anak-anak mudanya, tidak tertarik juga. Akhirnya pasrah, pertama kalinya dalam hidup, nonton konser sendirian.

Hari jumat tanggal 27 November 2015, hari pertarungan pembelian tiket pun tiba. Sejak jam 8 pagi saya sudah deg-degan setengah mati. Suami yang saat itu kerja dari rumah, saya minta tolong untuk membantu, dia tidak bisa karena jam 9 pagi akan pergi ke Gym. Saya pasang senjata, manyun, tapi tidak mempan. Dia itu kalau berhubungan dengan olahraga tidak bisa ditawar. Waktu pembelian tiket dimulai jam 10 pagi. Saya sudah mempersiapkan senjata : satu laptop, Hp, dan tablet. Saya memantau twitter promotornya dan membuka websitenya. Suami menawarkan komputer yang ada diruang kerjanya. Wah, saya tidak terlalu paham cara menggunakannya, terlalu canggih untuk saya. Dia bilang lebih baik pakai komputernya karena proses kerjanya cepat, tidak lelet seperti laptop saya *ya iyaa, laptop jaman-jaman kuliah tahun 2012 😀 tapi sayang banget sama laptop ini, sangat berjasa. Akhirnya saya mengiyakan untuk memakai komputernya setelah diajari singkat cara pakainya, sebelum dia berangkat ke Gym. Mana dia tidak bawa Hp, sengaja supaya saya tidak mengganggu aktivitasnya. Dia cuma bilang “good luck”

Jam 10 pas, entah kenapa saya deg-degan sekali. Tangan sampai gemetar. Saya buka websitenya menuju arah pembelian tiket Coldplay tapi lamaaa sekali tidak bisa masuk. Tanda lingkarannya tidak bisa sampai 100% dan ada perintah untuk menunggu, tidak boleh di refresh. Saya memantau twitter, ada keterangan kalau pembelian tiket sedang berlangsung. 5 menit sudah berlalu, saya mulai membuka website lewat Hp, laptop saya, dan tablet. Semuanya masih dalam posisi proses. Wah, saya mulai ada perasaan tidak enak, pasti tiketnya sudah ludes. Tapi saya tetap optimis, pasti dapat tiketnya. Setengah jam berlalu, tidak sabar, akhirnya saya refresh juga dan mulai dari awal lagi. Tapi saya membaca di twitter kalau tiket sudah habis. Wah, badan saya langsung lemes. Pupus sudah harapan bisa menonton konser Coldplay. Saya terduduk lama didepan komputer, bengong menatap nanar layar, rasanya seperti baru putus cinta. Tapi entah kenapa saya tidak beranjak dari sana, seperti menunggu datangnya keajaiban. Dan 5 menit menjelang jam 11, tiba-tiba ada keterangan nongol kalau tiket untuk tanggal 23 Juni 2016 sudah habis dan karena masih banyaknya peminat, maka akan dibuka pembelian tiket untuk konser tambahan tanggal 24 Juni 2016.

Saya yang awalnya seperti tidak punya tenaga, tiba-tiba jadi segar lagi dan langsung sigap untuk memulai langkah-langkah pembelian dari awal. Kali ini prosesnya lebih cepat. Sejak dari awal mendengar Coldplay akan konser di Amsterdam, saya sudah meniatkan akan membeli tiket untuk kelas yang duduk, maksudnya bukan yang festival berdiri. Selain karena memang sudah tidak sanggup lagi kalau berdiri terlalu lama (mending lari 10km dibanding berdiri lebih dari 2 jam), saya juga sadar diri kalau tubuh mungil ini tidak akan sanggup bersaing dengan orang Belanda yang aduhai menjulang tingginya. Saya sudah pengalaman menonton konser-konser sebelumnya, yang ada leher saya sakit karena harus mencari celah diantara tinggi mereka. Karena itulah, saya sudah tidak mempedulikan lagi tidak bisa melihat Chris Martin dari jarak dekat, yang penting leher tidak sakit. Toh masih seruangan sama dia kan, anggap aja LDR- distance nya cuma beberapa puluh meter haha! *mulai halusinasi

Coldplay Live at Amsterdam ArenA
Coldplay Live at Amsterdam ArenA

Tiket sudah ditangan, 8 bulan menuju 24 Juni 2016 *tiket 8 bulan sebelumnya sudah ludes dalam hitungan menit saja. Jadi di Amsterdam, Coldplay konser selama 2 hari. Saya kebagian yang hari ke dua. Rasanya sangat bersyukur sekali masih diberikan kesempatan untuk menonton Coldplay. Konon katanya A Head Full of Dreams adalah album mereka yang terakhir seperti yang dikatakan Chris Martin di Website Billboard It’s Planned as Coldplay’s Last Album. It’s our seventh thing, and the way we look at it, it’s like the last Harry Potter book or something like that,” Martin said. “Not to say that there might not be another thing one day, but this is the completion of something.” He added, “I have to think of it as the final thing we’re doing. Otherwise we wouldn’t put everything into it.”

Sebelum Hari H

Beberapa hari sebelum hari H, saya melihat lagi syarat dan ketentuan yang tertera pada tiketnya. Saya terkejut ketika membaca ada ketentuan tidak boleh membawa kamera professional. Saya bingung apakah mirrorless termasuk kamera professional atau bukan. Tapi saya pernah bertanya kepada Manda sewaktu dia menonton Coldplay di Manchester, dia membawa kamera mirrorless juga, dan diperbolehkan. Tapi saya masih ragu setelah membaca ketentuannya. Apalagi di twitter disebutkan kalau saat pemeriksaan tas ada yang membawa kamera professional, maka kamera tersebut tidak boleh dibawa masuk, harus dititipkan entah pada siapa karena di sana tidak disediakan tempat penitipan. Kalaupun ada, tempat penitipannya bukan di loker, hanya diberi nomer. Lha kan rawan hilang. Saya bertanya ke pihak panitia lewat twitter, jawaban mereka tidak memuaskan. Akhirnya saya memutuskan untuk membawa kamera saja. Suami saya bilang “Kamu ini mau nonton konser kok ribet kamera. Mau nonton konser apa mau meliput konser?” haha suami sewot lihat istrinya ribet sendiri.

Hari H

Jumat saya masuk kerja pagi sekali supaya bisa pulang lebih cepat. Sewaktu makan siang saya pamer ke beberapa kolega kalau malamnya akan nonton Coldplay. Mereka seperti tidak percaya saya nonton konser sendirian. Ya, walaupun berasa tidak seru kalau nonton konser sendirian, tapi daripada tidak sama sekali kan ya. Sendirianpun bukan halangan. Jam 3 sore saya sudah sampai rumah. Karena pada saat itu bulan puasa dan saya sedang tidak puasa, akhirnya saya makan dulu sebelum berangkat. Jam 4 saya sudah siap berangkat. Perjalanan naik kereta kurang lebih 1 jam. Saya belum pernah ke Amsterdam ArenA sebelumnya. Jadi untuk meminimalisir kemungkinan saya nyasar, maka lebih baik berangkat lebih awal. Suami sampai heran, Coldplay mainnya jam 20:45 saya jam 4 sore sudah berangkat. Maklumlah, namanya mau ketemu mantan calon pacar, mas Chris *huahaha delusional tiada akhir!

Sewaktu di kereta, gerbong penuh dengan orang-orang yang akan menonton konser. Bagaimana saya tahu? Karena mereka memakai kaos Coldplay. Bahkan saya mendengar di gerbong sebelah (saya duduk diantara dua gerbong), mahasiswa-mahasiswa Indonesia ngobrolnya kenceeengg banget kayak di pasar. Cekakak cekikik gitu *biasa aja woy ngobrolnya ga usah ngegas -saya sirik karena ga ada teman ngobrol

Sampai di Amsterdam ArenA tanpa ada drama nyasar. Ternyata tempatnya gampang dicari. Saya belum tenang kalau belum melewati pemeriksaan tas karena Saya membawa lensa tele. Eh, ternyata waktu diperiksa, bapaknya senyum-senyum saja dan kamera saya lolos tanpa kendala. Saya celingak celinguk mencari muka-muka Indonesia, siapa tahu duduknya berdekatan. Tidak nampak sedikitpun. Naik ke lantai 1, saya lama menatap layar TV yang ada tulisannya Coldplay. Lalu satu orang panitia, mbak bule bertanya apakah ada yang bisa dibantu. Sayapun punya ide cemerlang, minta tolong untuk difoto disana. Hahaha norak tak mengapa, asal punya kenangan kalau saya pernah menonton Coldplay.

Senyum sumringah lolos pemeriksaan kamera, difotoin sama mbak panitia
Senyum sumringah lolos pemeriksaan kamera, difotoin sama mbak panitia

Saya langsung masuk ruangan sesuai nomer kursi. Ternyata masih sepi meskipun di kelas festival sudah banyak yang datang. Ternyata tempat duduk saya paling depan, sendirian, dekat pintu masuk, dan ada balkon lebar untuk berdiri. Wah, cocok ini kalau saya ingin ambil foto. Saya perhatikan orang-orang kok memakai gelang, lha kok saya tidak melihat ada yang bagi-bagi gelang (ini seperti arloji bentuknya, disebut apa ya, saya menyebut gelang supaya lebih gampang :D). Saya keluar lagi lalu celingak celinguk. Ternyata sewaktu di lantai 2 saya melewati begitu saja orang yang bagi-bagi gelang, tidak memperhatikan. Terlalu khusyuk memikirkan Chris Martin :))))

Taddaa!! Gelang Coldplay. Pilih warna ungu karenaa... ga ada alasan khusus :D
Taddaa!! Gelang Coldplay. Pilih warna ungu karenaa… ga ada alasan khusus 😀
Berasa supir duduk depan, sendirian pula
Berasa supir duduk depan, sendirian pula

Karena masih sepi, dan orang-orang mulai berdatangan, saya punya waktu untuk memperhatikan sekitar. Rasanya masih tidak percaya. It’s real! Saya benar-benar sedang berada di tempat Coldplay akan konser!!  Rasanya benar-benar deg-degan seperti akan kencan pertama *saya tidak ingat dulu kencan pertama deg-degan atau tidak. Untuk membunuh sepi, saya foto-foto saja yang sekiranya menarik perhatian.

Jual minuman di dalam ArenA
Jual minuman di dalam ArenA

Mbak berjilbab nonton konser juga. Sepertinya orang Indonesia, sewaktu masuk dia celingak celinguk gitu, seperti cari teman
Mbak berjilbab nonton konser juga. Sepertinya orang Indonesia, sewaktu masuk dia celingak celinguk gitu, semacam sedang mencari temannya.

Sekitar jam 7, Alessia Cara sebagai penyanyi pembuka mulai bernyanyi dilanjutkan oleh Lianne La Havas pada pukul setengah 8. Mereka berasal dari London. Saya belum pernah mendengar mereka sebelumnya tetapi lagu-lagu yang dibawakan oleh Lianne La Havas sangat bagus dan liriknya puitis. Karena akhir Juni sudah memasuki musim panas, jadi di dalam Amsterdam ArenA masih terang benderang sekitar jam 20.30. Bersyukurnya hari itu tidak turun hujan sama sekali. Amsterdam ArenA mulai dipadati penonton, meskipun saya lihat di kelas festival tidak terlalu penuh, masih banyak ruang kosong di bagian belakang. Tiba-tiba ada suara penyanyi seriosa. Orang-orang langsung bertepuk tangan. Saya melihat jam, wah sudah mendekati waktunya Coldplay tampil. Lalu penonton yang di tribun membuat “ombak” seruuuu! Terharuuu sekali rasanya, mata saya sampai berkaca-kaca. Terdengar berlebihan ya, tapi itu yang saya rasakan. Seperti tidak percaya setelah bertahun-tahun berharap Coldplay bisa konser di Indonesia, eh ternyata rejeki saya bisa melihat Coldplay setelah pindah negara.

Suara Chris Martin langsung terdengar menyanyikan A Head Full of Dreams, penonton langsung bersorak ramai, senang melihat idola mereka muncul. Dada saya rasanya membuncah bahagia, antara pengen nangis dan merinding mendengarkan suara calon mantan *delusional parah :))). Sempat-sempatnya saya berdoa semoga Chris Martin balikan lagi sama Gwyneth Paltrow *huahaha kok yaaa kepikiran. Setelah lagu selesai, Chris menyapa penonton, mengucapkan selamat malam dalam bahasa Belanda. ArenA serentak riuh suara tepuk tangan. Lagu favorit saya lalu berkumandang : Yellow!. Ingatan langsung melayang ke mantan pacar beneran *halah! Saat lagu ketiga Every Teardrop tiba-tiba kertas warna warni berhamburan. Merinding lihatnya karena tak terkatakan meriah dan serunya konser ini. Belum lagi pemainan lasernya, balon warna warni yang dilepaskan, gelang yang menyala dan berganti warna mengikuti musik yang dimainkan, penonton yang benar-benar totalitas ikut bernyanyi dan goyang sepanjang konser. Ini daftar lagu lengkapnya :

  1. A Head Full of Dreams
  2. Yellow
  3. Every Teardrop
  4. The Scientist
  5. Birds
  6. Paradise
  7. Always in My Head
  8. Everglow
  9. Amsterdam
  10. Clocks into Midnight
  11. Charlie Brown
  12. Hymn for The Weekend
  13. Fix You
  14. Heroes
  15. Viva La Vida
  16. AOAL
  17. Don’t Panic
  18. See You Soon
  19. Amazing Day
  20. A Sky Full of Stars
  21. Up&Up

Mereka perform tidak hanya di satu panggung saja, tetapi juga didua panggung lainnya yang letaknya di tengah dan panggung bagian kanan. Sebelum menyanyikan lagu Everglow, ada video Muhammad Ali. Suasana hening sejenak, lalu mengalunlah Everglow. Beberapa lagu favorit saya dinyanyikan yaitu Yellow, The Scientist, Hymn for The Weekend, Up&Up, Fix You. Sayang Gravity tidak dinyanyikan.

Coldplay lagu A Head Full of Dreams. Duh, lihat Chris Martin yang nampak samar-samar saja bikin deg-degan :)))
Coldplay lagu A Head Full of Dreams. Duh, lihat Chris Martin yang nampak samar-samar saja bikin deg-degan :)))

A Head full of Dreams
A Head full of Dreams

PAs balon-balon ini lagu apa ya, lupa
Pas balon-balon ini lagu apa ya, lupa

Coldplay Live at Amsterdam ArenA
Coldplay Live at Amsterdam ArenA

Daripada ga ada fotonya dari jarak dekat, akhirnya foto layar haha!
Daripada ga ada fotonya dari jarak dekat, akhirnya foto layar haha!

Chris Martin. Ganteng slurupable banget nih orang *nyebut Den!
Chris Martin. Ganteng slurupable banget nih orang *nyebut Den!

Tuh kan, mangap aja kece banget!
Tuh kan, mangap aja kece banget!

Setelah Up&Up selesai, Chris mengucapkan terima kasih kepada penonton untuk keseruan malam itu. Wah, konser sudah berakhir. Hampir dua jam tidak terasa jejingkrakan (iya, saya ikut jejingkrakan karena ada mbak bule yang mengajak jingkar-jingrak haha), nyanyi, dan merasakan satu ruangan dengan Chris Martin. Saya pikir setelah mereka berpamitan trus ada aksi kembali kepanggung lagi *so old school style banget ya haha. Ternyata tidak. Saya membalikkan badan, menaiki tangga untuk keluar ruangan. Beberapa orang tersenyum pada saya dan mengacungkan jempol. Wah, saya baru sadar, tadi di depan bertingkah apa saja ya sampai diperhatikan :))) Konser selesai jam 11 malam. Eh ternyata suami berinisiatif menjemput saya. Meskipun tidak di Amsterdam, tapi lumayanlah separuh perjalanan lebih cepat kalau dijemput. Di dalam kereta dari Amsterdam ArenA, penontonnnya masih dalam suasana konser. Mereka bernyanyi di dalam kereta. Seru banget. Malam yang tidak terlupakan, bahkan selama beberapa hari setelahnya saya masih terngiang-ngiang suara Chris Martin dan senyum-senyum sendiri di rumah. Suami wes biasa lihat saya seperti itu :))) Trus dia ngomong “andaikan kamu di Indonesia, tidak akan bisa kamu melihat Coldplay seperti malam ini” hahaha omongan saya tentang Bon Jovi sekarang dibalik :)))

Ini ada rekaman ala kadarnya dari konser Coldplay.

Semoga Coldplay hanya cuti sementara saja ya, tidak benar-benar ini adalah konser terakhir mereka. Dan semoga mereka bisa konser di Indonesia sehingga fans mereka yang di Indonesia bisa menikmati konser mereka tanpa harus jauh-jauh melihat ke benua seberang ataupun di negara tetangga. Tulisan ini saya dedikasikan untuk Jo yang tahun lalu sudah menuliskan cerita serunya menonton Bon Jovi. Semoga suatu saat kita bisa bertukar peran ya Jo, aku nonton Bon Jovi, kamu nonton Coldplay.  Tulisan ini juga ditujukan untuk siapapun yang menyukai Coldplay -dan Chris Martin- *kekeuh Chris Martin haha.
Hartelijk bedankt Coldplay. Het was erg de geweldig avond. Thank you Coldplay for an amazing concert!

Yang punya mimpi apapun, tetaplah menabung mimpi. Siapa tahu tanpa kita sadari, semesta dengan tangan-tangan penuh kuasa punya rencana sendiri untuk mewujudkannya. Jika tidak saat ini ataupun nanti, mungkin akan digantikan dengan yang lebih baik sehingga mimpi kalian jadi nyata. Semoga. Jangan lupa sertai juga dengan usaha.


we’re going to get it get it together I know
going to get it get it together and flow
going to get it get it together and go

fixing up a car to drive in it again
when you’re in pain
when you think you’ve had enough
don’t ever give up
don’t ever give up

-Up&Up-

-Den Haag, 24 Agustus 2016-

Semua dokumentasi adalah milik pribadi.