Belajar Bahasa Asing

Saya suka mempelajari hal baru, termasuk belajar Bahasa. Tapi ternyata suka saja tidak cukup, karena perlu niat kuat dan ekstra ketekunan untuk memahaminya. Bahasa Indonesia tetap saya pelajari sampai sekarang, meskipun ini adalah bahasa Ibu, bukan bahasa asing. Tidak pernah ada habisnya untuk belajar berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, dari cara penulisan maupun pengucapan. Belajar menulis dan menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar menurut saya adalah sebagai bentuk penghormatan terhadap bahasa Nasional dan bentuk kecintaan pada bahasa Ibu serta ucapan terima kasih pada pendahulu kita yang telah berjuang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa Persatuan. Bahasa Indonesia itu indah. Apakah bahasa Indonesia saya sudah sempurna? tentu saja masih jauh dari kata sempurna. Ketika menulis blog, saya selalu membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online untuk mencari padu padan kata. Dengan begini, saya mencoba untuk belajar lebih jauh lagi bagaimana berbahasa Indonesia secara baik dan benar.

Bahasa asing yang saya pelajari pertama kali adalah Bahasa Arab. Pada usia 6 tahun, orangtua sudah memasukkan saya ke Madrasah Ibtidaiyah (MI), waktu sekolahnya sore hari. Jadi pagi hari saya masuk ke SD Negeri, sorenya saya belajar ke MI di Situbondo. Selama 6 tahun saya intensif belajar menggunakan bahasa Arab, selain pelajaran yang lain tentunya di MI. Belajar bahasa Arab meliputi semua hal, dari menulis, berbicara, membuat kaligrafi, sampai ikut perlombaan pidato menggunakan bahasa Arab. Saya ingat betul di STTB, nilai bahasa Arab saya yang paling bagus. Setelah lulus MI, karena jarang digunakan, kemampuan berbahasa Arab saya perlahan tapi pasti menjadi luntur. Dari yang level aktif, akhirnya berubah menjadi pasif. Sampai sekarang mungkin sudah berubah menjadi sangat pasif. Masih bisa menulis dan membaca huruf gundul. Tapi kalau disuruh berbicara sudah tersendat, tapi kalau ada orang berbicara menggunakan bahasa Arab masih sedikit paham.

Bahasa asing kedua yang saya pelajari adalah bahasa Inggris sewaktu dibangku SMP. Masa itu adalah awal mula saya berkenalan dengan bahasa Inggris. Sangat antusias sekali pada saat itu sehingga nilai bahasa Inggris saya sangat bagus. Pada dasarnya saya ini memang suka heboh diawal kalau belajar bahasa baru. Dan biasanya beberapa waktu kemudian menjadi bosan. Sifat jelek yang tetap melekat sampai sekarang. Saya tidak pernah mendaftar kursus bahasa Inggris, ya mengandalkan guru yang mengajar disekolah. Saya ingat betul pada masa SMP itu Ibu sangat bersemangat mendukung saya untuk lancar berbahasa Inggris, salah satunya adalah praktek langsung berbicara dengan bule. Rumah kami dekat dengan terminal, dan Situbondo adalah kota yang dilewati ketika menuju Bali menggunakan angkutan umum dari arah Surabaya. Jadi tidak mengherankan kalau di Situbondo banyak dijumpai bule yang sengaja beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Bali. Ibu kalau melihat ada bule jalan, langsung diajak berbicara dengan bahasa pengantar seadanya dan ujung-ujungnya diundang kerumah supaya saya bisa langsung praktek berbicara. Sambil saya belajar, ibu menyajikan makanan ke bule-bule itu. Pada saat itu saya belum mengetahui kalau tidak semua bule bisa berbahasa Inggris. Jadi entah benar atau salah pada saat itu yang penting berani berbicara. Sampai sekarangpun saya terus belajar bagaimana menulis dan berbicara menggunakan bahasa Inggris yang benar dan baik. Komunikasi saya dengan suami menggunakan bahasa Inggris, meskipun untuk saat ini sudah diselingi dengan menggunakan bahasa Belanda dan sesekali suami juga belajar bahasa Indonesia.

Sewaktu SMA, saya mengikuti ekstrakurikuler Bahasa Jepang. Tujuan awalnya karena pada saat itu sedang gandrung mengikuti serial Tokyo Love Story disalah satu TV Swasta di Indonesia. Jadi akhirnya tertarik untuk mempelajari bahasa Jepang. Selama 3 tahun belajar dari tingkatan yang tidak mengerti sama sekali sampai bisa menulis menggunakan huruf Hiragana dan Katakana serta berbicara menggunakan bahasa Jepang. Saya mengikuti beberapa kali ujian sampai level advanced. Sampai pernah satu waktu saya bergabung dengan klub bahasa Jepang disekolah dan dapat pekerjaan untuk menterjemahkan dokumen dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia dari salah satu perusahaan Jepang di Surabaya. Selain mendapatkan pengalaman juga uang yang jumlahnya lumayan besar pada saat itu. Setelah lulus SMA, perlahan tapi pasti kemampuan Bahasa Jepang saya menurun, karena tidak pernah dipraktekkan. Dari yang aktif menggunakan Bahasa Jepang, akhirnya menjadi pasif.

Kemudian pada tingkat akhir perkuliahan, ada program belajar bahasa Mandarin gratis ditempat kuliah. Saya mendaftar dan selama setahun belajar secara rutin bahasa Mandarin. Tujuan awalnya memang iseng, mumpung gratis kan sayang kalau tidak ikut, pikir saya waktu itu. Setelah setahun berjalan, saya mulai bosan. Akhirnya belajar bahasa Mandarin tidak diteruskan dan putus tengah jalan, saya hanya mengikuti dua kali ujian saja. Setelah pindah ke Jakarta, saya mempunyai keinginan untuk kembali mempelajari bahasa asing lainnya. Waktu itu sempat terpikir bahasa Belanda dan bahasa Jerman. Ingin mempelajari bahasa Belanda karena memang sedang berburu beasiswa ke Belanda, sedangkan ingin belajar bahasa Jerman karena iseng, nampak terlihat keren bahasanya sepintas lalu. Tapi keinginan untuk mempelajari dua bahasa tersebut hanya angan-angan karena tidak pernah menjadi kenyataan pada saat itu.

Setelah menikah, mau tidak mau saya harus belajar bahasa Belanda karena persyaratan untuk pindah ke Belanda harus lulus ujian bahasa Belanda level A1 yang dilakukan di Kedutaan Belanda. Belajar bahasa Belanda pada saat itu saya lakukan otodidak. Saya hanya punya waktu 2 bulan untuk belajar dari nol sampai waktu ujian yang ditetapkan. Saya tidak sempat untuk mengikuti les dalam jangka waktu yang normal. Saya pernah menceritakan tentang ini ditulisan tentang MVV Basis Inburgeringsexamen. Tetapi pada saat saya belajar selama 2 bulan itu, mempunyai tujuan yang jelas, bahwa saya harus lulus ujian A1 supaya bisa pindah ke Belanda. Jadi selama proses persiapan ujian yang cukup singkat, saya selalu memotivasi diri sendiri untuk lulus. Akhirnya saya lulus dengan nilai yang lumayan memuaskan, menurut saya, yang benar-benar pemula. Bahkan nilai TGN atau kemampuan berbicara dalam bahasa Belanda saya nilainya setara dengan level B1 (menurut isi surat kelulusan yang saya terima).

Entah mengapa, saya senang sekali belajar bahasa. Awalnya saya berpikir untuk menyeimbangkan kerja otak. Sehari-hari otak saya bekerja dengan angka-angka karena memang kecintaan saya pada hitungan. Dengan belajar bahasa, saya merasa otak jadi seimbang. Belajar bahasa itu sexy, karena bisa tahu juga aksen berbicara dari negara asalnya. Seperti bahasa Inggris, saya suka aksen British, awalnya karena mendengar Jude Law berbicara dibeberapa filmnya, terdengar sexy. Benar sekali, saya memang orang yang gampang terpengaruh oleh film. Jadi kalau ada film yang saya senangi, biasanya akan mencari informasi yang terkait sampai kulit-kulitnya. Tapi aksen itu bukan utama, yang penting adalah mengerti dan memahami bahasa yang sedang kita pelajari dan konsisten mempraktekkannya supaya tidak menjadi lupa. Satu lagi, belajar bahasa asing itu benar-benar menyenangkan.

Tulisan Mbak Yoyen tentang Learn Your Languages ini akhirnya menjadi jawaban kenapa selama ini saya suka belajar bahasa asing. Salah satunya ya yang seperti saya sebutkan sebelumnya yaitu menyeimbangkan otak dan bagus untuk kerja otak. Manfaat yang lainnya masih banyak lagi tentunya. Belajar itu butuh kesungguhan dan kerja keras jadi hasilnya bisa maksimal. Tidak seperti saya yang sudah susah-susah belajar beberapa bahasa Asing ujung-ujungnya tidak dipergunakan secara maksimal akhirnya perlahan menjadi lupa dan berujung hanya mengumpulkan sertifikat lulus ujiannya saja. Dari beberapa bahasa asing yang pernah saya pelajari, yang masih dipergunakan secara aktif adalah bahasa Inggris. Sisanya berbekas samar-samar. Saat ini saya sedang memulai lagi belajar bahasa asing, yaitu bahasa Belanda. Tujuan belajar bahasa Belanda ini jelas, supaya saya bisa berkomunikasi disini, meskipun penduduk Belanda ini banyak yang bisa berbahasa Inggris, tetapi tetap saja saya ingin lancar berbahasa Belanda lisan maupun tulisan. Tujuan kedua setelah menguasai bahasa Belanda adalah lulus ujian untuk memperpanjang ijin tinggal saya disini selama 5 tahun. Dan tujuan ketiga adalah untuk mencari pekerjaan. Kalau sudah menetapkan tujuan diawal, belajar akan lebih menyenangkan dan terarah.

Bahasa asing apa yang sedang kamu pelajari sekarang, atau bahasa asing apa yang kamu kuasai sampai saat ini?

-Den Haag, 8 Mei 2015-

Gambar dipinjam dari sini dan sini.