Mencicipi Ragam Kuliner di Italia – Bagian I

Daging sapi diiris tipis, dibagian bawahnya sayur mayur ada kejunya juga.

Tulisan kali ini bukan ingin mengulik atau membahas satu persatu tentang kuliner Italia berdasarkan dari sejarahnya ataupun rasa yang mendetail karena saya dan suami bukanlah foodie dan kami bukanlah food blogger. Kami hanyalah pasangan yang suka mencoba makanan baru dan suka makan (meskipun untuk saya tetap pilih-pilih). Jadi didalam tulisan ini hanya akan ada dua kata untuk mendeskripsikan rasa dari masing-masing kuliner Italia yang pernah kami cicipi saat berlibur ke Italia selama 18 hari. Dua kata tersebut adalah : enak dan enak sekali *komentar amatiran haha!. Bagaimana tidak, hanya dua kata tersebut yang bisa kami ucapkan setiap selesai makan karena selama di Italia tidak ada makanan yang rasanya tidak enak. Tetapi nama makananannya kami lupa-lupa ingat, karena tidak pernah kami catat.

Setiap bepergian, saya dan suami mengusahakan untuk mencicipi makanan lokal tempat yang akan kami kunjungi, dengan catatan untuk saya makanan tersebut masuk kategori yang masih bisa saya makan. Sewaktu saya ke Ho Chi Minh, karena keterbatasan informasi tempat makanan halal, saya dan teman-teman membawa bubuk cabai. Hal tersebut kami lakukan untuk berjaga-jaga supaya nafsu makan tetap terjaga kalau susah menemukan makanan yang sesuai selera. Nyatanya selama di sana, kami hampir selalu makan di restoran India dan restoran Malaysia. Lumayanlah rasanya masih masuk ukuran lidah meskipun tetap menaburkan bubuk cabai 😀

Sejak pindah ke Belanda, saya mulai belajar untuk merasakan jenis makanan dari negara lain. Dan makanan dari beberapa negara tersebut tentunya tidak semua ada rasa pedasnya. Dengan cara seperti itu, saya menjadi tidak terikat lagi dengan namanya rasa pedas. Kalau makan di luar rumah dan makanannya tidak pedas, sekarang sudah bukan masalah lagi bagi saya. Dan selama di Belanda, saya tidak pernah membawa saus cabe dalam bentuk sachet (karena memang saya tidak terlalu suka rasanya) maupun bubuk cabai. Selain untuk merasakan rasa asli sebuah makanan, juga untuk menghormati darimana makanan itu berasal. Misalnya : kalau makan sayur asem trus dikasih kecap, rasanya jadi tidak asli sayur asem, sudah tercampur. Jadi kita tidak bisa merasakan lagi sayur asem itu rasa aslinya seperti apa. Walaupun kembali lagi, rasa adalah selera.

Nah, selama beberapa kali bepergian ke luar negeri, akhirnya saya terapkan untuk tidak terlalu memikirkan tentang makanan harus pedas. Jadinya ya saya tidak membawa bubuk cabe, sambel bajak, ataupun saus sambel. Saya ingin benar-benar merasakan makanan lokalnya seperti apa. Selama liburan di Italia tidak sedikitpun saya rewel harus makan nasi atau sambel. Iya, selama 18 hari itu saya hanya dua kali makan nasi (risotto), dan rasanya ya biasa saja tidak makan nasi selama itu. Sudah lama saya mulai menggantikan nasi dengan sumber karbohidrat yang lain (ubi, kentang, singkong, quinoa dll).

Selama di Italia, kami menginap mayoritas di Airbnb dan hanya dua kali menginap di hotel. Kami selalu bertanya kepada pemilik airbnb rekomendasi tempat makanan lokal yang patut dicoba. Dan selama di sana kami cocok dengan rekomendasi mereka. Atau kami juga mencari dari aplikasi Yelp dan Tripadvisor. Tapi kami selalu tertawa karena melihat stiker Tripadvisor hampir selalu ada disetiap tempat makan. Sedangan kalau Yelp tidak terlalu banyak. Saya bilang ke suami, mending pilih yang berstiker Yelp saja karena rekomendasinya dari orang lokal.

RAVENNA

Ravenna adalah kota yang terkenal dengan mosaic. Jadi bagi mereka yang memang suka sekali dengan mosaic, Ravenna adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi karena kita bisa melihat keindahan mosaic hampir disetiap sudut Ravenna. Ada delapan tempat di Ravenna yang masuk dalam daftar Unesco World Heritage Site. Kami menginap hanya satu malam di sebuah hotel dekat dengan pusat kota. Kami bertanya kepada petugas hotel tempat mana yang dia rekomendasikan untuk makan malam. Ternyata pihak hotel mempunyai daftarnya dan memang mereka bekerjasama dengan restoran-restoran tersebut. Jadi jika kami makan di salah satu restoran tersebut maka kami akan mendapatkan diskon. Saya sudah kasak kusuk dengan suami, jangan-jangan harga makanannya sangat mahal dan rasanya biasa-biasa saja. Karena ketika kami sampai Ravenna sudah memasuki jam makan malam, maka kami bergegas mencari tempat-tempat yang ada di daftar. Setelah memilih dan melihat-lihat beberapa tempat serta daftar makanannya akhirnya kami sepakat untuk makan disebuah restoran yang tidak terlalu besar tetapi ramai pengunjung, dan sepertinya pengunjungnya juga banyak masyarakat lokal. Asumsinya : makanan enak. Ternyata kami tidak salah pilih, pelayanannya memuaskan dan rasa makananya tidak mengecewakan. Kami makan dua jenis makanan per orang. Dua diantaranya dapat dilihat pada foto di bawah :

Daging sapi diiris tipis, dibagian bawahnya sayur mayur ada kejunya juga.
Carpaccio. Daging sapi mentah diiris tipis, disajikan bersama rucola dan dibagian bawahnya sayur mayur ada kejunya juga. Kata suami rasanya asin campur creamy, jadinya enak banget karena dia suka dengan keju.

Ini standar sih, ikan bakar haha, tapi enaakk rasanya!
Ini standar sih, ikan bakar haha, tapi enaakk rasanya! Katanya ikan khas Ravenna.

Nah kalau Spaghetti ini, saya beli sewaktu makan siang. Ada satu tempat makan nyempil, keterangannya mereka menyajikan pasta yang homemade. Kami jadi penasaran lalu mampir. Wah, rasanya luar biasa enak. Saya lupa waktu itu suami makan apa. Tapi satu yang saya ingat, sebelum makan spaghetti ini, saya mampir ke sebuah toko roti, niatnya ingin membeli roti. Lalu saya tunjuklah satu roti tanpa isi, saya kira roti biasa. Salah satu penjualnya, orang Itali, bilang bahwa saya tidak bisa makan roti tersebut karena salah satu bahan yang dipakai untuk membuatnya ada kandungan babinya. Jadi terharu karena dia sampai memberitahu hal tersebut.

Spaghetti jamur. Ini kalau di Indonesia tempat jualannya kayak semacam warung, rasanya beda dengan rasa makanan di restoran besar. Bumbunya kerasa dan jamurnya yummy
Spaghetti jamur. Ini kalau di Indonesia tempat jualannya kayak semacam warung, rasanya beda dengan rasa makanan di restoran besar. Bumbunya terasa kuatdan jamurnya yummy

Dimanapun dan kapanpun kami tetap makan gelato dan granita karena cuaca di Italia yang panas sekali (sampai 39 derajat celcius). Granita ini (dari yang saya rasakan) semacam es diserut dicampur air dan buah terus didinginkan agak beku. Seperti yang terlihat pada foto di bawah, ini granita rasa semangka yang saya makan. Cuma yang ini rasanya terlalu manis untuk saya, jadi saya tidak habis dan dihibahkan ke suami.

Jam 11 malam makan Gelato dan Granita rasa Semangka
Jam 11 malam makan Gelato dan Granita rasa Semangka

Selama di Italia, kami mengamati di setiap menu pasti ada makanan pembuka, makanan utama dan makanan penutup. Awalnya kami kaget karena porsi makanannya besar, jadi apakah kami wajib untuk membeli semua makanan tersebut. Tapi ternyata tidak. Karena memang kebiasaan makan orang Itali yang ada makanan pembuka, utama, dan penutup dimana porsinya besar. Kami makan satu jenis makanan saja sudah sangat kenyang.

FIESOLE

Saat mengunjungi Florence, kami menginap di Fiesole. Jarak antara Fiesole dan Florence hanya 10 menit naik kereta. Kami menginap di rumah yang letaknya ditengah kebun pohon zaitun. Jadi tempatnya benar-benar sepi. Tidak seberapa jauh dari Airbnb, ada sebuah restoran lokal yang selalu ramai pengunjung. Selama dua malam kami selalu makan di tempat tersebut karena memang rasa makanannya otentik. Sayangnya di restoran ini tidak ada menu ikan. Jadi selama makan di sana saya selalu memesan menu yang ada jamurnya.

Spaghetti
Spaghetti

Ini lupa antara Fettuccine atau Tagliatelle. Yang pasti sausnya jamur dan rasanya gurih pedes, aroma herbs nya kuat (lupa herbs apa namanya). Yang di sebelahnya itu jamur goreng
Ini lupa antara Fettuccine atau Tagliatelle. Yang pasti sausnya jamur dan rasanya gurih pedes, aroma herbs nya kuat (lupa herbs apa namanya). Yang di sebelahnya itu jamur goreng

Gelato di Florence
Gelato di Florence

Setelah beberapa hari di Italia, kami juga mengamati kebiasaan makan malam orang Itali. Mereka kalau makan ternyata malam sekali. Jam sembilan malam rata-rata mereka baru keluar rumah untuk makan di restoran. Jadi restoran di Italia banyak yang buka sampai jam 1 atau 2 malam. Saya jadi teringat cerita Anggi, kalau dia makan di rumah mertuanya, mereka memulai makan malam juga sekitar jam 9. Sedangkan orang Belanda kalau makan malam jam 6, jam 9 malam sudah siap-siap tidur.

SAN GIMIGNANO

Kami memutuskan untuk menginap di San Gimignano saat akan mengunjungi kota Siena karena setelahnya akan melanjutkan ke San Marino. Jadi San Gimignano ini letaknya antara Pisa dan Siena dan masuk provinsi Siena. San Gimignano ini adalah sebuah kota kecil yang unik arsitekturnya letaknya diatas bukit. Kota tuanya masuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Sewaktu di San Gimignano, kami menginap di rumah yang letaknya di tengah perkebunan anggur dan pohon zaitun. Dan rumah ini mempunyai usaha membuat wine. Jadi semacam home industry wine dan minyak zaitun. Hari pertama kami datang, pemilik rumah mengajak kami mengunjungi pabriknya yang terletak dibelakang rumah. Kami melakukan wine tour dan suami diberikan masing-masing satu gelas red wine dan white wine produksi mereka untuk dicicipi. Tercapai juga keinginanya untuk wine tasting langsung di pabriknya. Uniknya wine tersebut diambil langsung dengan membuka keran dimana wine disimpan selama berbulan-bulan. Selama di Italia, suami hampir setiap makan malam minum wine. Buat dia, mencicipi wine di negara tempat diproduksi adalah sebuah keharusan.

The best ice cream in the world di San Gimignano. Ga tau deh siapa yang menobatkan :D
The best ice cream in the world di San Gimignano. Ga tau deh siapa yang menobatkan 😀

The best ice cream in the world
The best ice cream in the world

Taddaaa!! The best ice cream in the wordl di San Gimignano. Saya makan rasa mint, suami rasa mangga. Segeeerrr
Taddaaa!! The best ice cream in the wordl di San Gimignano. Saya makan rasa mint, suami rasa mangga. Segeeerrr

Kami makan di restoran rekomendasi dari pemilik Airbnb. Tidak mengecewakan dan tempatnya ada teras belakang yang letaknya ditengah kebun bunga. Romantis sekali dan kami bisa melihat matahari terbenam. Saya memilih untuk makan salad karena satu hari belum makan sayur sama sekali. Istimewanya salad ini berisi Anchovy. Saya suka sekali dengan rasa Anchovy (ini kalau dalam bahasa Indonesianya ikan teri asin mungkin  ya? soalnya rasanya asin dan bentuknya kecil tetapi direndam dalam minyak).

Spaghetti entah pakai krim apa
Spaghetti entah pakai krim apa

Wine
Wine

Pizza isinya Anchovy. Favorit saya pokoknya yang ada Anchovy nya
Pizza isinya Anchovy. Favorit saya pokoknya yang ada Anchovy nya

Salad tuna. Menu biasa sih ini ya, cuma saya suka karena pakai Anchovy.
Salad tuna. Menu biasa sih ini ya, cuma saya suka karena pakai Anchovy.

Kami juga mengamati orang Itali kalau sarapan suka makan yang manis manis. Beberapa kali menginap di Airbnb mereka selalu menyediakan kue saat sarapan. Kami yang tidak pernah makan kue saat sarapan mencoba untuk mengikuti cara orang Itali sarapan. Sampai hari terakhir kami di Italia, rasanya tetap tidak terbiasa. Mungkin karena kami berdua bukan orang yang suka makan makanan manis.

LAKE GARDA

Saat di Lake Garda, kami menginap di Sirmione. Pagi hari dari Verona, kami langsung menuju Sirmione yang ditempuh tidak sampai satu jam. Setelah sampai hotel, kami langsung membeli tiket kapal untuk mengunjungi beberapa tempat yang ada di Lake Garda. Saat itu kami mengunjungi Bardolino, Geradone, Garda dan Lazise. Pilihan dengan menggunakan kapal kami rasa sangat tepat karena bisa menikmati keindahan Lake Garda dari segala sudut. Selain itu kami memang suka sekali naik kapal. Kami makan siang di Geradone, kota yang sepi turis. Kami memilih sebuah restoran di pinggir danau persis. Saya memilih makan Pizza karena isinya Anchovy sedangkan suami makan Penne pesto. Makan sambil melihat danau, ditemani semilir angin dan awan yang biru, membuat nafsu makan meningkat 😀

Penne pesto di
Penne pesto di Geradone

Pizza Anchovy pakai bijian warna hijau rasanya asin. Ini enak banget. Satu loyang besar saya habiskan sendirian *maruk :D
Pizza Anchovy pakai bijian warna hijau rasanya asin. Ini enak banget. Satu loyang besar saya habiskan sendirian *maruk 😀

Granita Mint dan Gelato kelapa
Granita Mint dan Gelato kelapa. Granitanya suegeerrr meredakan sengatan matahari 38 derajat celcius. Saya habis dua gelas

Malamnya kami makan di Sirmione. Karena Sirmione tempatnya sangat penuh turis, jadi kami harus seksama memilih tempat makan yang enak namun tidak banyak turis. Kalau banyak turis takutnya rasa makanan di tempat tersebut tidak asli lagi. Akhirnya kami hanya mengandalkan insting. Saat itu kami beruntung karena makanan yang kami pesan disebuah restoran yang letaknya jauh dari keramaian, dan disebelah kastil, rasanya sangat enak. Sampai saat menulis ini, saya masih ingat rasa saus berpadu dengan kerangnya. Makan malam sempurna sebagai penutup perjalanan 18 hari kami di Italia.

Makan malam di Sirmione. Ini isinya jenis-jenis kerang disiram saus tomat. Rasanya asin. Sausnya dicolek pakai roti. Enaak banget ini
Makan malam di Sirmione. Ini isinya jenis-jenis kerang disiram saus tomat. Rasanya asin. Sausnya dicolek pakai roti. Enaak banget ini.

Selesai menuliskan semua cerita tentang makanan tersebut, perut saya jadi kukuruyuk lapar. Kalau misalkan ada istilah atau nama makanan yang salah saya tuliskan, saya menerima masukan ataupun kritikan karena terus terang saya lupa-lupa ingat nama makanannya. Hanya mengandalkan ingatan saja. Nantikan kelanjutan cerita kuliner kami selama di Italia bagian selanjutnya, akan ada keseruan-keseruan lainnya.

Selamat hari Jumat dan selamat berakhir pekan. Pernah mencicipi makanan Italia? Apa makanan Italia favorit kamu?

-Den Haag, 1 September 2016-

Semua foto adalah dokmentasi pribadi