Keindahan Lake Como – Italia

Como - Lake Como - Italy

Catatan perjalanan di Italia pada tahun 2016

 

Hari kedua di Italia, kami menuju ke tujuan liburan selanjutnya yaitu Lake Como. Dari Milan, dengan mengendarai mobil sewa, tidak terlalu membutuhkan waktu lama untuk sampai ke penginapan kami di Lake Como, sekitar 1.5 jam. Kami menyewa kamar melalui Airbnb, yang jika dilihat dari foto-fotonya letaknya sangatlah menyenangkan dengan pemandangan Lake Como yang sangat fantastis. Ternyata oh ternyata, pemandangan yang luar biasa indahnya harus dibayar dengan susah menuju ke lokasi penginapan karena letaknya sangat di atas bukit. Dan dari tempat parkir mobil ke tempat penginapan harus berjalan kaki selama 10 menit melewati hutan kecil. Terbayang kalau malam lewat jalan setapak ini, berasa horornya *produk dibesarkan oleh film-film horor macam Suzanna ya begini ini, di mana-mana yang terpikir hantu haha.

Lake Como - Italia
Lake Como – Italia

Jalan sepanjang Lake Como cukup curam, sempit dan banyak kelokan. Untung saja suami lihai mengemudikan mobil, walaupun saya sepanjang jalan merepet, “Aduh, awas hati-hati. Aduh jangan ngebut-ngebut donk, yang penting sampai dengan selamat. Duh ga usah salip-salipan deh, jantungku ga kuat rasanya.” Yah maklum ya, orang Belanda memang kebanyakan kalau nyetir luar biasa ngebutnya (tapi tetap sesuai peraturan) apalagi kalau sudah main rem, kalau tidak tahan, jadi mual-mual.

Penginapan yang kami sewa selama tiga malam ini adalah usaha keluarga. Ada 6 kamar yang pemandangannya langsung ke Lake Como. Apalagi ruang makannya, benar-benar pengalaman yang tak terlupakan bisa makan sambil berlama-lama menatap suguhan alam yang indah langsung di depan mata.

Jalan menuju penginapan di Lake Como - Italia
Jalan menuju penginapan di Lake Como – Italia
Halaman depan penginapan
Halaman depan penginapan
Pemandangan dari ruang makan di penginapan - Lake Como - Italia
Pemandangan dari ruang makan di penginapan – Lake Como – Italia

Jika sedang perjalanan darat di Italia, saran saya sempatkanlah untuk mengunjungi beberapa danau di Italia yang memang terkenal dengan keindahannya seperti Lake Maggiore, Lake Garda, dan tentu saja Lake Como. Masih banyak yang lainnya juga tentu saja. Lake Como dengan luas 146 kilometer persegi merupakan danau terbesar ke tiga di Italia setelah Lake Garda dan Lake Maggiore. Kami mengunjungi ke tiga danau-danau tersebut. Kalau sudah singgah di Milan, tak ada salahnya untuk mampir ke Lake Como karena jarak yang tidak terlalu jauh dan untuk merasakan pengalaman yang berbeda, jauh dari hiruk pikuk di Milan.

Banyak pesohor yang memiliki properti di sini, sebut saja Goerge Clooney, Richard Branson, Madonna, dan masih banyak lainnya. Lake Como juga menjadi tempat latar belakang di beberapa film seperti : Ocean’s Twelve, Star Wars: Episode II – Attack of the Clones (yang tempat pengambilan gambarnya di Villa del Balbianello), James Bond movie Casino Royale juga di Villa del Balbianello. Karena terkenal sering menjadi latar belakang di beberapa film dan banyak pesohor yang ke Lake Como, maka banyak turis yang mengunjungi tempat ini. Dari pengalaman kami mengunjungi 3 danau terbesar di Italia, Lake Como yang paling banyak turisnya. Namun, masih dalam taraf yang nyaman karena Lake Como sendiri terdiri dari banyak kota dan sangat luas, jadi turis-turis yang datang tidak terpusat pada satu tempat atau kota saja.

Dari ruang makan bisa langsung melihat danaunya - Lake Como - Italia
Dari ruang makan bisa langsung melihat danaunya – Lake Como – Italia

Supaya lebih puas menjelajah Lake Como dan bisa mengunjungi beberapa kota yang ada di sana, menggunakan kapal adalah pilihan yang tepat dengan membeli tiket terusan yang bisa digunakan satu hari penuh. Dengan membeli tiket terusan, kita bisa naik dan turun di beberapa kota tanpa harus terburu waktu dan lebih hemat, jika memang tujuannya ingin menjelajah Lake Como dalam satu hari itu. Selain itu, pemandangan dari kapal juga luar biasa indahnya, mata dimanjakan oleh keindahan danau ini.

Pagi itu, kami mendapatkan kejutan dari pemilik penginapan. Karena hari itu suami berulangtahun, maka mereka memberikan secara gratis taart dan sebotol wine. Saya sedang berpuasa, maka saya minta tolong untuk disimpankan beberapa potong taart untuk saya makan saat berbuka nanti. Oh ya, selama kami di Italia, saya jadi memperhatikan kalau orang Italia ini doyan sekali dengan kue-kue yang super manis. Dan dimakannya dalam segala waktu. Bahkan sarapan saja selalu disuguhi kue manis. Saya yang tidak terlalu suka manis, hanya bisa memandangi kue-kue tersebut, walaupun sesekali mencicipi dalam potongan yang sangat kecil.

Naik kapal ini untuk berkeliling ke sebagian Lake Como - Italia
Naik kapal ini untuk berkeliling ke sebagian Lake Como – Italia
Penginapan kami adalah rumah paling atas. Kebayang kan naiknya ke atas agak perjuangan.
Penginapan kami adalah rumah paling atas. Kebayang kan naiknya ke atas agak perjuangan.

COMO

Como adalah kota terbesar yang ada di Lake Como. Setelah membeli tiket terusan naik kapal dari Lavenna, petualangan menjelajah Lake Como pun dimulai. Tujuan pertama kami adalah ke Villa Balbianello. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, tempat ini terkenal karena menjadi tempat pengambilan gambar beberapa film seperti Star Wars: Episode II – Attack of the Clones dan James Bond movie Casino Royale. Untuk masuk ke tempat ini, harus membeli tiket dulu.

Como - Lake Como - Italy
Como – Lake Como – Italy
Como - Lake Como - Italy
Como – Lake Como – Italy
Como - Lake Como - Italy
Como – Lake Como – Italy
Villa Balbianello - Lake Como - Italy
Villa Balbianello – Lake Como – Italy
Villa Balbianello - Lake Como - Italy
Villa Balbianello – Lake Como – Italy

Villa ini benar-benar cantik dan saat kami ke sana, meskipun sudah masuk musim panas, tidak terlalu banyak turis. Setelah puas berkeliling dan sebelum naik kapal ke kota berikutnya, kami duduk sebentar di dermaga. Menikmati angin semilir dan juga saya istirahat sejenak. Saat itu saya sedang puasa Ramadan, jadi agak lelah setelah jalan menanjak ke Villa Balbianello.

Villa Balbianello - Lake Como - Italy (Saat badan 15kg yang lalu :D)
Villa Balbianello – Lake Como – Italy (Saat badan 15kg yang lalu :D)
Villa Balbianello - Lake Como - Italy
Villa Balbianello – Lake Como – Italy
Villa Balbianello - Lake Como - Italy
Villa Balbianello – Lake Como – Italy
Villa Balbianello - Lake Como - Italy
Villa Balbianello – Lake Como – Italy

VARENNA

Kota ke dua adalah Varenna yang letaknya tidak jauh dari Bellagio. Kota kecil dengan bangunan khas yang berwarna warni ini dikenal sebagai kotanya para nelayan. Ada banyak tempat di Varenna untuk bisa disinggahi seperti taman besar yang terletak diantara Villa Monastero dan Villa Cipressi. Kami tidak berkunjung masuk ke dalam taman ini karena lebih tertarik untuk menaiki bukit menuju ke Castello di Vezio untuk melihat Lake Como dari ketinggian dan dari sudut yang berbeda. Puasa Ramadan dan patakilan naik bukit bukanlah kombinasi yang pas karena saya merasakan haus yang luar biasa sampai rasanya dehidrasi. Tapi saya tahan-tahan, sayang kalau sampai batal. Untunglah saya masih kuat untuk meneruskan puasa.

Varenna - Lake Como - Italy
Varenna – Lake Como – Italy
Varenna - Lake Como - Italy
Varenna – Lake Como – Italy
Varenna - Lake Como - Italy
Varenna – Lake Como – Italy

Pemandangan dari atas Castello di Vezio luar biasa bagusnya. Decak kagum tidak berhenti. Entah kenapa saya jadi teringat Danau Toba karena melihat betapa luasnya Lake Como ini. Dari Milan, ada kereta yang langsung menuju Varenna

Dari atas Castello di Vezio - Varenna - Lake Como - Italy
Dari atas Castello di Vezio – Varenna – Lake Como – Italy
Dari atas Castello di Vezio - Varenna - Lake Como - Italy
Dari atas Castello di Vezio – Varenna – Lake Como – Italy
Varenna - Lake Como - Italy
Varenna – Lake Como – Italy
Varenna - Lake Como - Italy
Varenna – Lake Como – Italy

BELLAGIO

Sebenarnya setelah dari Varenna ada satu kota lagi yang kami singgahi sebelum menuju ke Bellagio, tapi saya lupa nama kotanya apa. Karena hanya sebentar, saya juga tidak sempat mengambil gambar. Nah, Bellagio adalah kota terakhir yang kami datangi itupun tidak terlalu lama karena hari sudah sore. Jadi kami jalan-jalan di sekitar Bellagio lalu kembali ke penginapan dengan naik bis.

Bellagio - Lake Como - Italy
Bellagio – Lake Como – Italy
Bellagio - Lake Como - Italy
Bellagio – Lake Como – Italy

Sesampainya di penginapan, sudah menjelang waktu berbuka puasa. Saya memesan pasta seperti foto di bawah ini. Pasta rumahan menggunakan resep warisan keluarga, begitu pemilik penginapan memberikan infonya. Malam terakhir di Lake Como kami habiskan dengan berbincang santai sambil menikmati makanan lezat sambil memandang Lake Como di depan mata dari ruang makan penginapan. Hari yang indah merayakan pertambahan umur suami. Esok hari, kami meneruskan perjalanan ke kota selanjutnya, Turin.

Jadi pengen liburan di Italia lagi kalau lihat foto makanan ini. Makan malam terakhir di penginapan. Buka puasa kala itu
Jadi pengen liburan di Italia lagi kalau lihat foto makanan ini. Makan malam terakhir di penginapan. Buka puasa kala itu

-Nootdorp, 26 November 2018-

Trekking Enam Jam di Cinque Terre – Italia

Manarola - Cinque Terre

Pada saat membuat rencana perjalanan ke Italia, hampir saja saya melewatkan Cinque terre. Padahal saat melihat foto-foto yang bersliweran di IG tentang Cinque Terre, saya mbatin kalau suatu hari ke Italia ingin mampir ke tempat ini. Ternyata saya masih berjodoh dengan Cinque Terre sehingga bisa mengunjunginya pada saat liburan musim panas tahun 2016 sekaligus perjalanan 18 hari di Italia saat suami berulangtahun.

 

Monterosso dari atas
Monterosso dari atas
Monterosso dilihat dari kebun anggur
Monterosso dilihat dari kebun anggur

Hari sebelumnya, kami mampir ke PortofinoKami sengaja memilih untuk menginap di La Spezia yang letaknya tidak jauh dari Cinque Terre dan bisa ditempuh dengan kereta karena penginapan di sana tidak semahal di Cinque Terre. Kami menginap di Airbnb yang berupa apartemen lengkap fasiltasnya. Letaknya pun tidak terlalu jauh dari stasiun kereta api. Kami tidak membawa kendaraan dan lebih memilih naik kereta ke Cinque Terre sengaja karena sudah merencanakan memilih jalur trekking  untuk menyusuri 5 desa yang ada di sana.

Hari itu tidak akan saya lupa. 6 Juli 2016 bertepatan dengan Idul Fitri, salah satu mimpi saya di dunia per jalan-jalan an terwujud. Selepas sholat Ied di apartemen, kami langsung menuju ke Cinque Terre naik kereta. Tiket yang kami beli sudah termasuk dengan masuk Taman Nasional yang merupakan jalur trekkingnya. Kira-kira jam 11 siang kereta yang kami naiki berangkat. Sepanjang perjalanan, saya benar-benar gembira luar biasa, tidak berhenti tersenyum. Rasanya akan ketemu dengan blind date yang selama ini cuma bisa diangan-angan saja.

Kami tiba di desa yang pertama yaitu Monteresso, yang kami pilih sebagai titik awal trekking. Setelah berkeliling sebentar untuk membeli minuman dan makanan sebagai bekal trekking, kami memulai titik trekking dari desa ini. Suhu saat itu mendekati 40ºC saat matahari sudah di atas kepala. Jalur trekkingnya sungguh luar biasa indah. Kami melewati perkebunan anggur dan bisa melihat betapa birunya lautan dari atas. Meskipun medan trekking yang tidak mudah (bagi saya) karena menanjak dan sempit ditambah panas yang luar biasa, tetapi ketika melihat keindahan alam dan satu persatu desa yang kami datangi, memupuskan segala keluh kesah. Ditambah lagi banyak anak kecil yang sliweran di jalur trekking. Bahkan beberapa balita pun saya lihat dengan santainya jalan dan bersenda gurau dengan orangtuanya. Lah kan jiwa kompetitif saya jadi bergelora. Di beberapa tempat, saya melihat beberapa keluarga beristirahat sambil membacakan buku cerita buat balitanya. Berkali-kali saya mengucapkan syukur karena diberikan kesempatan dan kesehatan untuk menikmati dan merasakan semua ini.

Salah satu jalur trekking
Salah satu jalur trekking

Ada satu hal yang saya tidak pernah lupa sewaktu trekking di Cinque Terre selain hawa panas tadi yaitu saya memakai celana bolong haha! Jadi ceritanya dalam perjalanan waktu itu saya tidak terlalu banyak membawa celana dengan bahan yang bisa menyerap keringat dengan baik. Kebanyakan saya membawa rok. Nah sebelum trekking, saya cek berapa derajat suhunya. Ternyata nyaris 40 derajat. Saya lihat dalam koper kira-kira celana mana yang bisa dipakai. Ternyata ada satu celana rumah yang bahannya nyaman, adem. Ya karena ini di Eropa di mana orang-orang akan cuek kamu mau pakai apa, akhirnya saya memutuskan memakai celana rumah itu untuk trekking. Saya tidak memeriksa sebelumnya kondisi celana itu. Setelah pertengahan jalur trekking, saat jalurnya benar-benar menanjak sampai dengkul ketemu dengan janggut (saking menanjaknya), mata saya lihat kok ada yang bolong ditengah celana. Eh ternyata celana yang saya pakai tengahnya bolong besar hahaha! Duh saya langsung tertawa terbahak dan lapor ke suami. Saya tunjukkan bolongnya. Kami lalu tertawa terbahak. Ya sudahlah, selama jalannya santai toh orang tidak tahu kalau saya pakai celana bolong haha!

Vernazza dari kejauhan
Vernazza dari kejauhan
Vernazza
Vernazza
Vernazza
Vernazza

Di setiap desa, kami pasti berhenti. Entah sekedar minum atau makan atau istirahat untuk mengumpulkan tenaga menuju desa berikutnya. Sungguhlah cuaca yang panas saat itu membuat cepat lelah dan anginpun pelit bertiup. Bayangkan saja bagaimana energi tersedot dengan cepatnya.

Corniglia dari kejauhan
Corniglia dari kejauhan
Corniglia
Corniglia
Corniglia
Corniglia
Panas-panas makan ini, Yummm!!. Selama di Italia, hampir setiap hari kami makan Gelatto
Panas-panas makan ini, Yummm!!. Selama di Italia, hampir setiap hari kami makan Gelatto
Corniglia
Corniglia
Manarolla dilihat dari Corniglia
Manarolla dilihat dari Corniglia

CQ14

Kami sampai di desa ke empat yaitu Manarola saat matahari menjelang terbenam. Jadi kami putuskan bahwa Manarola adalah desa terakhir yang kami kunjungi karena selain badan sudah rontok, juga hari sudah beranjak malam. Riomaggiore, desa ke lima hanya bisa kami lihat dari atas kereta. Lihatlah foto Manarola yang saya ambil menggunakan kamera dari Hp, inilah foto yang selama ini selalu membuat saya berkhayal suatu hari bisa datang ke Cinque Terre dan melihat secara langsung desa-desa yang ada di sana yang masuk dalam Unesco World Heritage. Akhirnya saya bisa mewujudkannya setelah sekian lama, pergi bersama suami tercinta. Mimpi jadi nyata.

Manarola - Cinque Terre
Manarola – Cinque Terre
Inilah kami saat trekking di Cinque Terre dan saya memakai celana bolong :)))
Inilah kami saat trekking di Cinque Terre dan saya memakai celana bolong :)))

-Nootdorp, 8 Agustus 2018-

Portofino – Kampung Nelayan Yang Tersohor

Portofino

Dalam perjalanan dari Turin menuju Cinque Terre (kami menginap di La Spezia, kota terdekat ke Cinque Terre), kami mampir Bra lalu Portofino. Awalnya Portofino tidak masuk dalam daftar yang akan kami kunjungi, tapi Anggi merekomendasikan desa ini. Katanya tempatnya sangat bagus meskipun kalau musim panas berjubel turis. Dan karena kami melihat rutenya juga tidak terlalu nyempal, akhirnya kami mampir.

Portofino
Portofino
Portofino
Portofino

Portofino ini tempatnya menjorok, semacam di pojokan. Lokasinya di wilayah Genoa. Menuju ke Portofino sepanjang jalan mata dimanjakan oleh warna biru laut dan banyak sekali Yacht yang bersandar di dermaga. Dulu, Portofino ini adalah kampung nelayan. Tetapi karena keindahan alamnya, lambat laun tempat ini berubah menjadi tempat liburan para artis dari seluruh dunia dan orang-orang terkenal lainnya. Karenanya, di Portofino saat ini banyak sekali resor-resor mewah dan menjadikan Portofino sebagai kampung nelayan yang tersohor. Waktu itu saya berharap bisa berpapasan dengan Bon Jovi *ngayal jangan nanggung-nanggung.

Portofino
Portofino
Portofino. Di Italia, banyak dijumpai jemuran bergelantungan, tapi tetap sedap dillihat
Portofino. Di Italia, banyak dijumpai jemuran bergelantungan, tapi tetap sedap dillihat
Portofino
Portofino. Mungkin artis-artis Hollywood nya ada di sana
Portofino
Portofino

Selain banyak ditemui restoran-restoran dengan harga yang standar sampai harga yang super mahal (Kami hanya mengintip harga makanan karena saya puasa Ramadhan hari terakhir), sepanjang bibir pantai juga banyak ditemui butik-butik dengan merek terkenal seperti Dior, Prada, Versace (masih banyak tapi lupa nama-namanya).

Portofino
Portofino

Portofino

Untuk bisa menikmati Portofino dari ketinggian, salah satu tempat yang pas yaitu dari Kastil Brown. Untuk masuk Kastil Brown, perlu membayar tiket (lupa berapa) sehingga bisa menikmati dalam kastilnya juga. Tetapi jika tidak ingin melihat dalam kastilnya, ada jalan setapak yang menuju ke salah satu sudut di ketinggian sehingga tetap bisa melihat keindahan Portofino secara maksimal.

Portofino
Portofino
Portofino
Portofino
Portofino
Portofino
Salah satu sudut Kastil Brown - Portofino
Salah satu sudut Kastil Brown – Portofino

Sewaktu kami ke sana, ramainya tidak seperti yang kami bayangkan. Memang ramai turis tetapi tidak sampai sesak berjubel. Karena memang mampir, jadi kami tidak berlama-lama di sana, tidak sampai 3 jam. Setelahnya kami melanjutkan kembali perjalanan ke La Spezia.

 

Warna Warni Burano dan Murano

Setiap hari sekarang langitnya berwarna abu abu, hujan, dan ditambah suhu sudah sekitar -1ºC di pagi hari sehingga kalau ada jadwal kerja dan berangkat naik sepeda dinginnya minta ampun. Belum lagi kalau angin kencang, rasanya saya ingin marah-marah sama anginnya (ojok ditiru :D). Tapi masih bersyukur belum (tidak) ada salju sementara beberapa negara di Eropa seperti Swedia, Austria, Jerman, sudah turun salju. Daripada muram merasakan dingin, saya mau menuliskan sesuatu yang membuat hati bahagia saja. Ini adalah catatan perjalanan ketika kami sedang bepergian ke Italia beberapa bulan lalu. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Venice. Kota yang tersohor ini tidak luput kami kunjungi karena ingin melihat sendiri kanal-kanalnya, grand canal, gondola, pulau-pulau disekitarnya, air berwarna tosca, dan beberapa bangunan yang menjadi ikon Venice. Kalau tahun lalu kami mengunjungi Venice-nya Belanda yang bernama Giethoorn, siapa sangka tahun ini saya bisa mengunjungi Venice yang asli (kalau suami sudah dua kali ini ke Venice). Cerita Venice saya tuliskan lain waktu karena kali ini saya akan berbagi cerita tentang dua pulau yang kami kunjungi yang termasuk wilayah Venice, yaitu Murano dan Burano.

Ketika sedang menyusun rencana perjalanan ke Venice, banyak informasi yang saya dapat menuliskan untuk mengunjungi juga pulau-pulau yang berada di sekitar Venice. Ada beberapa pulau, sebut saja : Murano, Burano, Torcello, Punta Sabbioni, dan beberapa pulau kecil lainnya. Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi beberapa tempat tersebut, tergantung dari kecukupan waktu. Kami sampai di Venice dari Marghera, kota tempat kami menginap selama dua malam, sekitar pukul 8 pagi. Masih tidak terlalu banyak pengunjung. Kami lalu menuju loket pembelian Tourist Travel Card dan memilih kartu yang berlaku selama 24 jam seharga €20 per orang. Kartu ini bisa digunakan untuk naik perahu (ACTV Vaporetto) dan naik bis tujuan kota-kota sekitar Venice, asalkan masih dalam waktu 24 jam. Kami membeli kartu ini karena memang niat untuk naik perahu sepanjang Grand Canal dan menuju pulau-pulau di sekitar Venice.

Setelah puas menyusuri setiap lorong Venice dengan berjalan kaki dan mengunjungi beberapa bangunan yang ada, perjalanan kami lanjutkan dengan menggunakan perahu. Ada banyak halte (sebut saja namanya halte, tempat penumpang menunggu) perahu yang sesuai dengan tujuan perahu. Jadi sebelum masuk ke halte tersebut, cek terlebih dahulu perahu yang singgah di sana akan menuju ke mana. Dan lihat juga rute yang terpampang di bagian depan halte. Jika tidak mengerti, bisa bertanya ke petugas perahu sebelum kita naik ke perahu, untuk memastikan. Perhatikan juga jam keberangkatan. Untuk tujuan tertentu (misalnya Burano, yang jaraknya jauh dari Venice), kita harus transit dahulu di beberapa pemberhentian untuk ganti perahu.

Murano
Murano
Murano
Murano
Murano
Murano

Karena jumlah perahunya banyak dan selalu tepat waktu, jadi meskipun pada saat kami ke sana puncak turis datang yaitu musim panas, kami tidak terlalu berdesakan di dalam perahu. Jadi kita bisa memilih duduk di dalam atau berdiri di bagian luar. Tujuan pertama kami adalah Murano. Letak Murano sendiri tidak terlalu jauh dari Venice, hanya beberapa menit saja kami sudah sampai. Dari kejauhan tampak rumah berderet dengan warna warni yang mencolok. Murano dikenal sebagai pulau yang menghasilkan barang pecah belah. Jika ingin ikut menyaksikan cara pembuatannya, bisa mendaftar yang informasinya bisa ditemukan online atau langsung bertanya ke toko-toko pecah belah yang ada di sana. Pada saat kami ke Murano, ada pabrik yang sedang mengadakan pelatihan dan mempertunjukkan proses pembuatannya, tapi kami tidak tertarik untuk melihat karena saat kuliah saya pernah masuk ke pabrik pecah belah yang ada di Surabaya dan menyaksikan proses pembuatannya. Jadi saya pikir akan sama saja. Ada juga Museum yang berisikan barang pecah belah dan sejarah yang menceritakan bagaimana Murano terkenal dengan kerajinan pecah belahnya.

Awalnya saya berpikir Murano tidak akan terlalu banyak dikunjungi turis. Ternyata saya salah, turis penuh di pulau ini. Karena pulaunya lumayan besar, jadi ada beberapa sudut yang tidak dipenuhi pengunjung. Lumayan untuk memotret. Lalu saya bilang ke suami kalau Burano akan lebih sepi dari Murano, begitu yang saya baca di beberapa artikel. Setelah puas berkeliling Murano dan duduk-duduk di pinggir kanalnya sambil menikmati roti dan minuman, kami melanjutkan perjalanan ke Burano. Cuaca yang sangat panas hari itu (sekitar 39ºC) membuat kami harus sering minum. Padahal sewaktu di Surabaya dengan suhu yang sama saya merasa baik-baik saja, sewaktu liburan ke Italia dengan suhu segitu saya rasanya mau dadah dadah ke kamera. Sudah terbiasa digempur dengan dingin dan hujan selama di Belanda jadi begitu merasakan cuaca panas langsung terasa bedanya.

Burano
Burano
Burano
Burano
Burano
Burano
Burano
Burano

Burano selain terkenal dengan rumah yang berwarna warni dan kanal-kanalnya yang indah, juga dikenal dengan pembuatan renda. Akan banyak ditemui toko-toko yang menjual beraneka bentuk renda, tapi pastikan sebelum membeli bahwa yang dijual tersebut adalah buatan tangan, bukan mesin yang memproduksi dalam jumlah yang banyak. Jika ingin tahu lebih lanjut tentang tradisi pembuatan renda, bisa mengunjungi Museum Lace. Awalnya saya menduga Burano akan lebih sepi dari Murano, ternyata salah besar. Burano lebih ramai dikunjungi turis. Saya yang suka memperhatikan tingkah turis dimanapun berada, jadi keasyikan sendiri melihat ada yang selfie dipinggir kanal dengan raut muka yang dibentuk sedemikian rupa, ada yang sibuk berputar-putar dengan tongsisnya, ada yang semacam foto prewed di depan rumah warna warni lengkap dengan busana yang apik, ada yang bergerombol berbicara dengan kencang, dan ada yang tertegun memperhatikan sekitar (iya, ini saya :D).

Warna warni rumah di Burano lebih berani dan lebih menyala dibandingkan Murano, begitu yang saya lihat. Satu rumah dengan lainnya mempunyai warna yang berbeda sehingga rumah-rumah yang berjajar tersebut terlihat kontras dengan sapuan warna stabilo, menyala, dan eye catching. Melihatnya sangat menggemaskan apalagi kami menemui beberapa rumah dicat dengan pola-pola tertentu. Pengecatan rumah ini dilakukan setiap dua tahun sekali dan jika ada penduduk yang ingin memperbarui warna catnya, harus mendapatkan persetujuan dahulu dari pemerintah. Bukan hanya mata saja yang terasa dimanjakan melihat kemeriahan warna di Burano, hati juga ikut gembira rasanya.

Burano
Burano
Burano
Burano
Salah satu tembok yang dicat berwarna warni di Burano
Salah satu tembok yang dicat berwarna warni di Burano

Saat kami sedang berfoto bergantian dengan latar belakang tembok yang berwarna warni (foto di atas), ada satu keluarga yang sedang melintas dan ketika mendengarkan saya dan suami berbicara menggunakan bahasa Belanda, salah satu diantara mereka menawarkan untuk mengambil pose kami berdua. Rupanya mereka keluarga yang berasal dari Belgia. Jadilah kami semua berbicara menggunakan bahasa Belanda dan berbincang-bincang sebentar. Ketika kami menawarkan untuk bergantian memotret, mereka menolak karena ingin segera makan di restoran tidak jauh dari tempat ini. Senangnya punya foto berdua suami di Burano, dengan kebaikan tawaran dari mereka.

Ada satu lagi kesamaan antara Murano dan Burano selain warna warni rumahnya yaitu jemuran ada dimana-mana, di setiap gang ataupun jalan utama. Melihat jemuran di sini nampak enak dilihat mata, tertata dan tidak semrawut. Jadinya jemuran pun mempunyai daya tarik tersendiri.

Burano
Burano
Jemuran di Burano
Jemuran di Burano
Burano
Burano

Setelah dari Burano, niatnya kami ingin mengunjungi pulau yang lainnya yaitu Torcello. Tapi setelah menghitung waktu, nampaknya tidak cukup karena kami ingin menyusuri Grand Canal menjelang matahari terbenam sambil melihat orang-orang yang menaiki gondola diiringi alunan suara dari yang mendayung gondola (tapi saya cuma menjumpai beberapa yang bernyanyi). Puas rasanya bisa mengunjungi dua dari tiga pulau yang terkenal disekitar Venice. Melihat secara langsung keindahan warna warni rumah dan menepi sesaat dari pikuknya Venice. Jika ingin membeli cinderamata, saya melihat banyak toko menjual beraneka bentuk topeng. Saya menduganya ini adalah cinderamata khas Venice.

Souvenir Venice
Souvenir Venice
Burano
Burano
Burano
Burano

Jadi terinspirasi ingin mengecat rumah dengan warna yang ngejreng?

-Den Haag, 9 November 2016-

Semua foto dokumentasi pribadi