Road Trip 2018 – Portugal – Bagian I (Porto – Espinho – Sintra)

Sintra - Portugal

Setiap menjelang hari ulang tahun, suami selalu menanyakan kado apa yang saya inginkan. Ya, di Belanda mayoritas tidak mengenal surprise, budayanya memang begitu. Lebih baik bertanya langsung yang sedang dibutuhkan atau yang diinginkan apa, sehingga kado yang akan diberikan pasti terpakainya. Saya lebih senang seperti ini, jadi memang kadonya bermanfaat karena sesuai kebutuhan. Kejutan-kejutan tetap ada dari suami, tapi biasanya diluar hari-hari penting. Dan ini benar-benar kejutan yang tidak tertebak kapan waktunya. Suka-suka dia.

Jawaban saya selalu konsisten sejak kami menikah tentang kado ulangtahun, saya tidak ingin kado, tapi jalan-jalan saja. Kalaupun ternyata suami tetap mau memberikan kado, ya saya tidak menolak *loh (dan memang biasanya iya, dia tetap memberikan kado). Yang penting jalan-jalan tetap dilakukan. Jalan-jalan yang saya maksudkan di sini tidak harus jauh tempatnya. Di dalam Belanda saja tidak masalah seperti tahun kemarin kami hanya ke Limburg. Yang penting pas saya ulang tahun, kami keluar dari rumah. Menikmati bertambahnya angka usia di tempat yang baru dan dengan orang-orang yang saya cintai.

Sebenarnya ulang tahun kali ini saya ingin ke salah satu negara Skandinavia. Belum diputuskan ke negara mana, paling tidak ya ke salah satunya. Tapi suami bilang, “kita kan ingin menghindari dinginnya Belanda, masa ke negara yang lebih dingin.” Kalau dipikir, iya juga ya hahaha karena ulangtahun saya akhir maret. Akhirnya tercetus Portugal. Negara ini sebenarnya tahun lalu ingin kami kunjungi, tapi karena ada satu hal, kami tunda dulu, sampai baru tahun ini akhirnya kesampaian kami datangi.

Setelah diputuskan akan berangkat tepat pada hari ulangtahun saya dan kami akan tinggal selama 10 hari di sana, maka yang dilakukan selanjutnya adalah menentukan akan ke kota mana saja selama di Portugal. Seperti biasa, kalau kami menghabiskan waktu agak lama di suatu negara, bisa dipastikan tipe liburannya adalah road trip. Dari banyak kota di Portugal yang semuanya menggoda untuk disinggahi, akhirnya pilihan kami jatuh ke Porto, mampir ke Espinho, Sintra, Lisbon, mampir sebentar ke Fatima, Coimbra, dan terakhir di Braga. Portugal kotanya cantik-cantik, jadi betul-betul harus dipilih yang sesuai kondisi dan minat kami. Kalau tidak mengingat terbatasnya waktu, ingin sampai ke Portugal selatan. Mudah-mudahan suatu saat bisa kembali ke Portugal.

Rute road trip kami di Portugal. Akhir Maret - Awal April 2018
Rute road trip kami di Portugal. Akhir Maret – Awal April 2018

Pesawat KLM yang akan membawa kami ke Portugal pergi jam 9 pagi. Artinya kami harus berangkat sangat pagi dari rumah. Saya sudah bangun sejak jam 4 untuk melakukan persiapan akhir dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Selama 10 hari di Portugal, kami cukup membawa dua koper besar dan satu tas punggung untuk saya bawa ke dalam pesawat. Jam setengah 6 pagi, kami sudah meninggalkan rumah, naik tram lalu ganti kereta untuk menuju ke Schiphol – Amsterdam. Perjalanan menuju Schiphol lancar jaya. Ternyata ada keterlambatan pemberangkatan. Penumpang harus menunggu sekitar setengah jam di dalam pesawat karena bandara di Porto sedang sibuk sehingga pesawat harus menunggu untuk mendarat. Singkat cerita, selama 3 jam di dalam pesawat juga lancar jaya aman terkendali sampai kami mendarat di Porto.

Sebelum berangkat, kami seringkali memantau cuaca di Portugal seperti apa. Sedihnya, sampai mendekati keberangkatan, cuaca di sana diperkirakan seringkali hujan. Awalnya saya mempersiapkan baju untuk cuaca yang panas, akhirnya dibongkar lagi dan ikhlas menerima harus diganti dengan baju-baju yang sesuai untuk musim hujan. Dan selama kami di sana, lha kok ternyata cuaca di Belanda sedang nyentrong mataharinya. Kena kutukan cuaca Belanda ini namanya, ke manapun diikuti hujan.

PORTO

Setelah mengurus sewa mobil yang akan digunakan selama 10 hari, kami langsung menuju ke hotel yang letaknya ternyata agak jauh dari pusat kota, tapi masih terjangkau oleh transportasi umum. Karena masih hujan deras, kami memutuskan untuk istirahat sambil menunggu hujan reda sampai kami harus makan siang di hotel. Menjelang sore, meskipun cuaca tidak terlalu bagus tetapi hujan sudah berhenti, kami putuskan ke kota dengan menggunakan mobil, bukan hanya sekedar jalan tapi sekalian untuk makan malam sambil merayakan ulangtahun saya. Karena hujan kadang datang dan berhenti, maka kami sesekali berteduh di depan toko. Porto langsung mencuri hati kami. Suasananya tidak terlalu ramai, keindahan bangunannya langsung membuat kami terpikat sore itu saat berkeliling kota.

Porto - Portugal
Porto – Portugal
Stasiun kereta Sao Bento di Porto - Portugal. Salah satu stasiun. kereta tercantik di dunia
Stasiun kereta Sao Bento di Porto – Portugal. Salah satu stasiun. kereta tercantik di dunia
Igreja Do Carmo di Porto - Portugal
Igreja Do Carmo di Porto – Portugal
Igreja Do Carmo di Porto - Portugal
Igreja Do Carmo di Porto – Portugal

Hari ke dua di Porto, pagi hari cuaca masih cukup cerah. Tapi menjelang siang saat kami berada di daerah Ribeira, hujan lebat mendadak datang. Kami kalang kabut mencari tempat berteduh. Untung saja tepat jam makan siang. Jadi kami berteduh di sebuah restoran sekalian makan siang (sebelumnya saya berteduh di bawah jembatan sementara suami sedang naik ke atas tower). Di sinilah awal musibah terjadi. Entah apa yang salah dengan makanan yang dipesan suami, beberapa jam setelahnya, saat kami sampai di hotel, suami mulai muntah-muntah dan diare. Sampai menjelang tengah malam keadaannya tidak membaik, akhirnya suami memutuskan untuk ke UGD dekat hotel. Beberapa jam kemudian keadaan mulai membaik.

Torre dos Clérigos di Porto - Portugal
Torre dos Clérigos di Porto – Portugal
Cais da Ribeira di Porto - Portugal
Cais da Ribeira di Porto – Portugal
Cais da Ribeira di Porto - Portugal
Cais da Ribeira di Porto – Portugal

Kami berada di Porto selama 3 malam dengan kondisi cuaca yang hampir setiap hari hujan. Namun hal tersebut tidak menghalangi kami untuk menyusuri keindahan kota Porto dengan berjalan kaki. Terkesima dengan keramahan orang-orang lokal dan menikmati jajanan khas Portugal yang selalu membuat mulut saya tidak berhenti mengunyah.

Palácio da Bolsa di Porto - Portugal
Palácio da Bolsa di Porto – Portugal

Jika kalian penggemar Harry Potter, maka wajib ke toko buku Livreria Lello jika ke Porto. Toko buku yang sudah ada sejak tahun 1906 ini adalah salah satu toko buku yang terindah di dunia. Kaitannya dengan Harry Potter adalah konon JK Rowling mendapatkan inspirasi untuk mendeskripsikan sebuah tangga setelah melihat tangga di dalam Livreria Lello. Saya bukan penggemar Harry Potter, tidak pernah membaca buku dan menonton filmnya. Jadi informasi ini saya dapatkan dari hasil pencarian di Google. Sebenarnya saya ingin melihat keindahan toko buku ini, tapi melihat antrian yang sangat mengular, keinginan langsung kandas. Kalau melihat di internet, dalamnya memang mengagumkan ya walaupun katanya dilarang memfoto.

Tidak bisa masuk ke dalam toko buku yang cantik ini, tapi saat di Coimbra, saya bisa menikmati keindahan perpustakaan di Universitas Coimbra yang cantiknya membuat decak kagum tiada henti. Nanti, akan saya ceritakan pada bagian ke dua perjalanan kami di Portugal.

Livraria Lello - Salah satu toko buku terindah di dunia - Porto - Portugal
Livraria Lello – Salah satu toko buku terindah di dunia – Porto – Portugal

 

Porto terkenal dengan sarden. Nah, ada yang unik dengan Sarden yang dijual. Yang saya maksudkan adalah kemasannya. Di salah satu toko yang menjual sarden kalengan, kemasannya mencantumkan tahun kelahiran yang dicetak besar dan di bawahnya diberikan keterangan siapa saja orang terkenal yang lahir di tahun tersebut. Saya tergoda untuk membeli sebagai buah tangan dan masih tersimpan sampai sekarang. Banyak jenis kemasan sarden yang unik dan menarik yang bisa ditemui sepanjang di Porto. Salah satu alternatif buah tangan yang bisa dibawa.

Toko Sarden - Porto
Toko Sarden – Porto
Toko Sarden - Porto
Toko Sarden – Porto
Porto Tram City Tour - Portugal
Porto Tram City Tour – Portugal
Porto - Portugal
Porto – Portugal
Porto - Portugal
Porto – Portugal

 

ESPINHO

Karena sudah merasa cukup mengitari Porto selama dua hari (padahal ya cuma muter-muter yang di kota saja, kalau mau lebih banyak yang didatangi, dua hari masih kurang), akhirnya pada hari ke tiga, kami memutuskan untuk jalan ke kota sekitar Porto. Bertanya ke resepsionis hotel, diberi pilihan dua tempat yang terletak di tepi pantai. Pilihan kami jatuh pada Espinho. Perjalanan kurang dari setengah jam, begitu sampai saya langsung suka dengan kota kecil ini. Terletak di tepi pantai, meskipun menurut saya pantainya biasa saja seperti pantai di Den Haag, Scheveningen, tapi kotanya benar-benar menyenangkan. Sepi dengan bangunan yang didominasi warna putih, kata suami adalah ciri khas warna bangunan Portugis.

Espinho - Porto
Espinho – Porto
Espinho - Porto
Espinho – Porto
Espinho - Porto
Espinho – Porto
Espinho - Porto
Espinho – Porto

Karena memang bukan sebagai jujugan turis, jadi sepanjang mata memandang nampaknya hanya orang lokal saja yang berjalan di sisi pantai maupun yang berada di sekitar kota. Kami lama duduk-duduk di taman dalam foto di bawah ini. Menikmati semilir angin sambil melihat burung yang hilir mudik di depan kami. Waktu semakin beranjak sore dan angin semakin kencang, kami memutuskan untuk segera kembali ke hotel.

Espinho - Porto
Espinho – Porto

SINTRA

Rute keesokan hari adalah menuju Lisbon. Saat menentukan kota yang akan kami kunjungi, melihat peta ternyata kami melewati Sintra. Teringatlah saya akan kastil cantik yang berwarna warni. Lalu kami memutuskan untuk singgah sebentar di Sintra, mengunjungi dua kastil yang ada di sana, yaitu Pena Palace dan Castle of the Moors.

Pena Palace terletak di atas bukit Sintra. Kastil ini masuk dalam Unesco World Heritage Site. Alasan saya tertarik mengunjunginya karena melihat foto yang bertebaran di internet kastil ini berwarna warni sampai mengingatkan saya akan bangunan yang ada di Rusia. Saya pikir ini kastil baru, tapi ternyata ya lumayan lama juga karena pembangunannya selesai pada tahun 1854 yang dimulai pada abad pertengahan. Arsitektur dari kastil ini adalah Romanesque Revival dan Neo-Manueline. Sewaktu kami ke sana, walaupun belum musim liburan, tetapi antrian masuknya sangatlah panjang. Beruntung kami punya akses khusus untuk masuk jadi tidak usah berada dalam panjangnya antrian. Di beberapa bagian dalam kastil, sedang dilakukan renovasi. Di dalam kastil boleh mendokumentasikan, tapi ternyata saya hanya punya satu fotonya. Mungkin karena terlalu menikmati bagian dalamnya yang bagus jadinya lupa untuk mendokumentasikan.

Pena Palace - Sintra - Portugal
Pena Palace – Sintra – Portugal

 

Sintra - Portugal
Sintra – Portugal
Sintra - Portugal
Sintra – Portugal

Tidak seberapa jauh dari Pena Palace, Castle of the Moors terlihat sangat kontras berbeda dilihat dari bentuk bangunannya. Kastil ini dibangun pada abad ke-8 dan ke-9 pada periode Muslim Iberia. Yang ke kastil ini, suami. Saya tidak ikut, memilih menunggu di mobil. Jadi foto-foto di bawah ini dari Hp suami.

Castle of the Moors di Sintra - Portugal
Castle of the Moors di Sintra – Portugal
Castle of the Moors di Sintra - Portugal
Castle of the Moors di Sintra – Portugal
Pena Palace dilihat dari Castle of the Moors di Sintra - Portugal
Pena Palace dilihat dari Castle of the Moors di Sintra – Portugal

Cerita tentang Portugal akan bersambung ke road trip Portugal bagian ke dua yaitu : Lisbon – Fátima – Coimbra – Braga

Cerita yang berkaitan dengan Portugal : Kulineran di Portugal

-Nootdorp, 6 November 2018-

Kulineran di Portugal

Dan lagi

Karena tulisan tentang road trip di Portugal pada akhir Maret sampai awal April lalu belum selesai juga, daripada tidak ada tulisan apapun tentang Portugal, kali ini saya mau membahas kulineran selama di Portugal. Kenapa judulnya bukan Kuliner Portugal melainkan kulineran di Portugal? Karena selama di sana kami tidak hanya makan makanan lokal Portugal saja, tetapi juga menikmati kulineran dari negara lain yaitu Itali. Ada ceritanya kenapa kami sampai berhari-hari makan makanan Itali. Simak cerita lengkapnya di bawah dan juga saya tulis beberapa tips disela cerita yang mungkin akan bermanfaat bagi siapapun yang akan ke Portugal.

Disclaimer, saya bukan food blogger ataupun food historian, jadi yang saya tulis di sini akan sangat jarang sekali ditemui tentang sejarah makanan ataupun rasa makanan secara sangat mendetail. Saya hanya seseorang yang mengaku tukang makan.

MAKANAN ITALIA

Sesampainya di kota pertama yaitu Porto, setelah menaruh barang di hotel, kami lalu jalan-jalan sejenak ke pusat kota. Sebelumnya hujan deras mengguyur. Tapi karena kami lapar dan hari itu bertepatan dengan saya ulangtahun, jadi inginnya makan malam sekaligus merayakan ulangtahun. Setelah putar sana sini sambil menikmati pusat kota Porto di sore hari dan kok ya mendung makin tebal menggelayut, kami memutuskan untuk mencari restoran apa saja yang kami lewati asal menunya masih bisa saya makan. Kok ya melewati restoran Italia dan ada menu Risotto. Ya sudah kami masuk ke sana.

Dari luar restorannya nampak biasa saja. Tetapi begitu masuk dan menuju ruang bawah, wah saya takjub dengan tata ruangnya yang klasik. Saya pesan Risotto bayam dan suami pesan entah pasta apa namanya. Saya puas dengan menu yang saya makan, Risottonya tidak terlalu creamy dan ada keju yang digoreng. Sah saya bertambah umur pada hari itu dirayakan di restoran Italia bersama keluarga yang saya cintai.

Saya makan Risotto bayam dan suami makan pasta
Saya makan Risotto bayam dan suami makan pasta

Malam kedua, masih di Porto. Kami kembali makan di restoran Italia tapi kali ini tempatnya persis di sebelah hotel. Ini restorannya lebih modern dan tempatnya lebih luas. Alasan kembali makan di restoran Italia karena suami mendadak perutnya tidak nyaman setelah makan Francesinha di Ribeira. Sekedar informasi saja, perut suami memang agak sensitif. Entah kenapa gampang sekali sakit kalau makanannya tidak bersih atau ada yang salah saat memasak. Sewaktu kami liburan ke Munster, dia juga sakit perut setelah makan Pizza. Heran ya, padahal selama di Indonesia saya ajak makan kaki lima dan segala macam jajanan di pinggir jalan, sehat-sehat saja dia. Tahun ini liburan, dua kali perutnya sakit. Bahkan saat di Porto yang terparah sampai harus ke IGD segala.

Karena saya memang suka sekali masakan Italia (mulai benar-benar suka sejak 2 tahun lalu liburan ke Italia), jadi makan di restoran Italia asli selalu membuat saya terpuaskan dengan makanannya. Apalagi Risotto, hobi berat saya makan ini. Tahun kemaren saya susah sekali makan terutama makan makanan Indonesia. Ajaibnya, dengan Risotto permasalahan susah makan teratasi. Saya sukanya Risotto Funghi yang tanpa krim. Jadi makanan Itali di bawah ini yang kami makan selama malam kedua dan ketiga di Porto. Total selama tiga malam di Porto kami malah makan malam di restoran Italia.

Risotto Funghi
Risotto Funghi
Lupa namanya apa tapi rasa kuahnya mirip sekali dengan kuah bakso
Lupa namanya apa tapi rasa kuahnya mirip sekali dengan kuah bakso
Spaghetti Seafood
Spaghetti Seafood
Sup Tomat Seafood plus potongan cabe rawit
Sup Tomat Seafood plus potongan cabe rawit

 

KULINER PORTUGAL

Nah, kali ini saya akan membahas kuliner asli Portugal yang beberapa sempat kami nikmati dan sempat saya abadikan di kamera (beberapa tidak sempat difoto). Jadi selama di Portugal kami pindah kota sebanyak 5 kali dan diantaranya mampir ke kota yang kami lewati. Kota itu adalah : Porto, Sintra, Lisbon, Coimbra, dan Braga. Di setiap kota, kami usahakan untuk mencicipi makanan lokal dengan catatan makanan yang bisa saya makan. Tapi karena Portugal juga terkenal dengan kulineran lautnya, jadi saya tidak perlu khawatir malah senang bisa makan makanan laut sepuasnya. Kuliner Portugal juga didominasi oleh makanan dengan daging Babi.

Hari kedua di Porto, kami makan siang di Ribiera. Restoran lokal ini letaknya persis di sebelah sungai. Karena Porto terkenal dengan sardennya, saya akhirnya memesan menu sarden goreng. Daging sardennya rasanya enak manis, berarti ikannya segar. Entah bumbu untuk menggoreng sardennya apa, tapi tidak terlalu asin dan terasa bawang putihnya.

Saya makan ikan sarden digoreng, suami makan Francesinha
Saya makan ikan sarden digoreng, suami makan Francesinha

Sementara suami memesan Francesinha, makanan asli Porto. Fracesinha ini terdiri dari roti tebal, daging (aslinya daging babi, tapi bisa minta juga yang tidak babi), terkadang ada sosis portugal, ditutupi oleh keju dan menggunakan saus tomat yang dicampur bir. Jika ke Porto, wajib mencoba ini. Aggy juga pernah menuliskan tentang Francesinha dan kuliner selama di Porto.

Nah, setelah makan ini, tidak beberapa lama kemudian suami muntah-muntah. Begitu terus sampai malam. Akhirnya karena muntah tidak berhenti sampai badannya lemas, dia pergi ke UGD terdekat dengan hotel. Syukurlah tidak sampai yang parah sekali. Nah karena keracunan inilah kenapa selama di Porto, makan malam kami selalu di restoran Italia, cari aman dengan makan yang pasti-pasti saja.

ini penampakan Francesinha awal suami keracunan
ini penampakan Francesinha awal suami keracunan
Entah karena lapar atau apa, sardennya enak banget. Padahal cuma digoreng biasa
Entah karena lapar atau apa, sardennya enak banget. Padahal cuma digoreng biasa

BACALHAU

Sewaktu di Porto, kami sempat mampir ke kota deket Porto yang ada pantainya yaitu Espinho. Nah di Pantai ini kali pertama saya makan Bacalhau, makanan asli Portugal. Jadi Bacalhau ini dasarnya adalah ikan Cod yang dikeringkan dan diasinkan. Jadi bayangan saya semacam ikan asin. Olahannya banyak macamnya. Yang saya makan pertama kali ini Bacalhau yang di kukus dimakan pakai kentang dan telur rebus, dan sayurannya direbus semacam kubis, wortel, dan yang hijau itu lupa sayur apa. Rasa ikannya agak asin dan asam segar. Di sini saya tidak tahan untuk tidak minta cabe. Adanya cabe rawit kering. Saya pikir tidak pedas, ternyata pedas sekali. Tombo kangen makan cabe. Bacalhau juga wajib dicoba jika datang ke Portugal.

Bacalhau makan di tei pantai di Espinho
Bacalhau makan di tepi pantai di Espinho

COIMBRA

Coimbra adalah nama salah satu kota yang kami kunjungi di Portugal. Kota kecil yang menyenangkan dan tidak terlalu banyak turis. Karenanya restoran yang ditemui juga banyak restoran yang masakannya benar-benar lokal. Salah satunya restoran yang kami datangi selama dua malam berturut. Letaknya strategis, ruangannya luas, pelayanannya cepat dan tentu saja makanannya enak. Di Coimbra dan Braga, semua restoran tutup jam 5 sore dan akan buka kembali jam 7 malam. Kalau di Porto dan Lisbon, mungkin karena kota besar, jadi tidak ada penetapan jam tutup dan buka seperti itu.

Restoran tempat kami makan selama dua malam di Coimbra
Restoran tempat kami makan selama dua malam di Coimbra

Di bawah ini pesanan saya malam pertama di Coimbra. Udang digoreng bawang putih ditaruh di atas roti yang disiram minyak zaitun dan bubuk cabe. Entah ini namanya apa saya lupa. Sayurnya saya pesan terong goreng. Udangnya juara rasanya, gurih dan aroma bawang putihnya terasa. Oh iya, selama di Portugal, kalau minta cabe rawit agak susah. Cuma di restoran Italia yang   dengan sigap kasih cabe rawit potong. Sedangkan restoran-restoran lainnya yang kami datangi katanya tidak punya cabe rawit segar. Ada untungnya juga, jadi saya bisa makan dengan rasa asli tidak tercampur oleh rasa cabe.

Suami makan steak, saya makan udang bawahnya ada roti. Enak banget ini!
Suami makan steak, saya makan udang bawahnya ada roti. Enak banget ini!

Nah ini Bacalhau kedua yang saya makan selama di Portugal. Kalau yang ini Bacalhaunya dipanggang disajikan dengan kentang, kubis, courgette, dan sedikit sayur rapini. Ini saya juga lupa namanya Bacalhau yang variasi apa.

Bacalhau dimakan pakai kentang. Juara rasanya
Bacalhau dimakan pakai kentang dan sayur kubis, courgette, dan sedikit sayuran namanya Rapini (entah apa ya namanya kalau di Portugal). Juara rasanya

 

BRAGA

Kota terakhir yang kami datangi adalah Braga. Terdengar familiar ya, seperti nama jalan di Bandung. Saya juga tidak tahu persis apakah ada hubungannya antara Braga di Portugal dan Braga di Bandung. Braga kota kecil, lebih kecil dari Coimbra letaknya tidak terlalu jauh dari Porto. Karena tidak terlalu banyak turis di sini, jadi banyak yang restoran menyediakan menu lokal dengan citarasa lokal juga.

Sup sayur apa ini lupa namanya
Sup sayur apa ini lupa namanya, dimakan pakai roti dan semacam perkedel singkong. Perkedelnya enak rasanya

Di Portugal, sayur yang terkenal adalah kubis dan yang satu kelompok dengannya seperti Rapini. Biasanya disajikan kalau tidak direbus ya ditumis dengan minyak zaitun lalu disajikan dengan zaitun seperti yang menu yang suami pesan ini. Makanan di Portugal pun disajikan kalau tidak menggunakan nasi, bisa juga dengan kentang.

Salmon panggang
Salmon panggang

Ini salah satu yang saya makan di Braga. Nasi kuning (nasinya memang berwarna kuning) yang ditaruh di atas bebek goreng. Jadi dibawah nasi kuning itu, ada bebek yang digoreng dengan sedikit tepung lalu dipotong-potong. Rasanya gurih dan asam. Oh ya, di Portugal menunya selain terkenal dengan makanan laut juga terkenal dengan menu yang menggunakan daging babi. Jika tidak bisa makan daging babi, ketika pesan tanyakan dulu apakah menunya dicampur daging babi atau tidak, untuk memastikan.

Nasi kuning dibawahnya ada bebek gorengnya
Nasi kuning dibawahnya ada bebek gorengnya

RAPINI

Jadi, Rapini ini adalah nama sayuran, satu keluarga dengan kubis. Kalau di Italia namanya Cime di rapa. Saya tidak tahu nama portugisnya apa karena waktu itu lupa bertanya. Saking terkesannya dengan rasa sayuran ini, sesampainya di Belanda saya bertanya apakah dijual sayuran ini di Belanda. Rasa sayurannya agak pahit tapi masih krenyes-krenyes. Padahal hanya ditumis biasa menggunakan bawang putih dan garam. Tapi rasanya benar-benar enak luar biasa, berbekas di kepala sampai sekarang bagaimana enaknya sayuran ini. Saya makan dua kali. Kalau ke Portugal, coba juga ya sayuran ini.

Sayuran yang hijau itu namanya Rapini
Sayuran yang hijau itu namanya Rapini

Nah yang nasi itu, semacam nasi goreng campur kubis, wortel, dan telur. Aduh itu Rapininya enak sekali! Saya masih teringat rasanya sampai sekarang.

Ini super enak. Paduannya pas sekali antara rasa nasi berrempah, udang, dan Rapini
Ini super enak. Paduannya pas sekali antara rasa nasi goreng berempah, udang, dan Rapini

PASTEIS DE NATA

Wah ini sih juaranya ya. Makanya saya taruh paling akhir. Setiap hari selama 10 hari di Portugal saya makan ini terus tidak ada bosannya. Sehari bisa dua sampai tiga kali makan. Manisnya tidak membuat eneg buat saya yang tidak terlalu suka makan makanan manis. Isiannya benar-benar leleh di mulut.

“Pastéis de nata is a Portuguese egg tart pastry dusted with cinnamon. It is also made in Brazil and other countries with significant Portuguese immigrant populations.” –WIKIPEDIA

Pasteis de Natas
Pasteis de Natas
Pasteis de Natas lagi
Pasteis de Natas lagi
Dan lagi
Dan lagi

Tidak hanya Pastéis de nata saja yang rasanya juara sebagai camilan, gorengan di bawah ini juga tak kalah enaknya. Saya tidak tahu persis namanya apa tapi isinya adalah kepiting dan satunya campuran udang dan ikan. Gurih dan rasa manisnya berbaur sempurna. Sebagai orang Indonesia, makan gorengan tanpa cabe rawit ya memang agak aneh rasanya, jadi tahan-tahan saja haha.

Dan lagi plus gorengan ala Portugal
Dan lagi plus gorengan ala Portugal

Begitulah cerita saya tentang pengalaman kulineran kami selama di Portugal. Semoga siapapun yang akan berkunjung ke sana, bisa merasakan pengalaman yang luar biasa juga dengan makanan Portugis yang memang enak-enak. Bisa berkunjung ke beberapa negara dan merasakan makanan lokalnya membuat lidah saya semakin kaya pengalaman akan rasa. Jadi bisa tahu rasa enak makanan selain makanan Indonesia dan juga membuka pengetahuan bahwa makanan enak itu tidak harus pedas, tidak harus ada cabe, dan tidak harus makan pakai nasi.

-Nootdorp, 21 Oktober 2018-

 

 

 

Science Centre di Delft

Minggu lalu cuaca lumayan “terik” dibandingkan minggu ini. Kenapa teriknya pakai tanda petik? Ya meskipun matahari bersinar nyentrong selama 5 hari, tapi angin dan dinginnya tak tahan aduhai membuat harus memakai jaket tebal. Maklum suhu sudah dikisaran 14 derajat celcius ke bawah. Tapi dengan adanya sisa-sisa matahari yang nongol, jadwal ke luar rumah harus dimaksimalkan karena tidak tahu kapan matahari akan nongol lagi.

Hari Rabu kami nongkrong di Delft. Matahari sedang bergembira sampai obral sinarnya sehingga kami bisa duduk leyeh-leyeh depan gereja sambil menikmati bekal dari rumah dan bersenda gurau. Oh ya, Delft ini adalah salah satu kota favorit saya selain Den Haag. Saya langsung jatuh cinta saat pertama kali ke sini tahun 2014. Suasana di Delft itu Cozy dengan bangunan-bangunannya yang masih mempunyai ciri khas bangunan tua tapi terawat dengan baik. Banyak turis datang ke sini tapi tidak sehiruk pikuk Amsterdam ataupun Den Haag. Kalau Den Haag sebenarnya juga tidak terlalu banyak turis, tapi memang penduduknya yang banyak. Kalau berkesempatan ke Belanda, silahkan mampir ke Delft dan rasakan perbedaannya dengan Amsterdam.

Delft saat cuaca cerah
Delft saat cuaca cerah

Hari kamis, makbedundug saya menerima pesan dari mahasiswa PhD sekaligus tempat belajar saya dalam dunia nak kanak children. Maureen sering membagikan ilmu dan pengalamannya  di blog dalam menyelami dunia anak-anak sebagai seorang Ibu maupun sebagai akademisi dan praktisi di bidang tersebut. Oh jangan salah, meskipun namanya nampak “barat”, medoknya Sorbeje asli. Saya pertama kali ketemu awal tahun ini sewaktu ada acara di rumah kami. Kenal lewat blog, twitter dan WhatsApp sudah lama. Ya beberapa tahun ini maksudnya.

Jadi, maksud dia kirim pesan ke saya, mengajak ketemuan di Delft mumpung cuaca masih cerah. Dia dan Stan -putranya- pengen ke Science Centre – museum science untuk anak-anak. Saya langsung cek jadwal dengan suami, hari sabtu kami tidak ada acara jadi saya langsung mengiyakan ajakannya. Sudah lama juga sebenarnya saya ingin ke museum ini tapi masih belum ketemu waktu yang pas. Saya langsung menghubungi Yayang mau mengajak juga siapa tahu Cinta Cahaya belum pernah ke sini. Sayang karena terlalu mendadak, Yayang yang bekerja pada hari sabtu tidak bisa bergabung dengan kami. Mudah-mudahan bulan depan bisa ketemu ya Yang!

Awalnya suami tidak mau ikut. Tapi entah kenapa saat makan siang tiba-tiba dia mengutarakan keinginannya untuk ikut. Ya tentu saja saya senang. Sekalian rame-rame. Rencananya saya akan berangkat naik bis. Tetapi karena dia ingin ikut, maka akhirnya kami naik sepeda. Jarak Science Centre dari rumah kami tidak terlalu jauh, hanya 20 menit jika naik sepeda. Jam 3 sore kami sudah tiba di sana. Tahu tidak, saya itu selalu berdebar-debar kalau melihat tulisan TU Delft dan ketika berada dalam area kampus ini. Maklum ya, memang sudah impian dan cita-cita saya sejak dahulu kala bisa kuliah di tempat ini. Jadi jangan bosan-bosan ketika membaca tulisan saya yang selalu mengungkapkan bahwa TU Delft adalah kampus impian. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa kuliah di sini. Kalau tidak sampai PhD seperti Maureen, ya paling tidak bisa mencicipi program masternya.

Ruang depan Science Centre TU Delft
Ruang depan Science Centre TU Delft
Ruang tunggu. Berasa anak kuliahan lagi nongkrong sewaktu duduk di sini *ngayal jangan nanggung2
Ruang tunggu. Berasa anak kuliahan lagi nongkrong sewaktu duduk di sini *ngayal jangan nanggung2

Masuk ruang tunggunya saja langsung berasa sekali aura tekniknya. Jadi Science centre ini memang museum yang ditujukan untuk dikunjungi oleh anak-anak. Tiga tema dari tempat ini adalah Sains, Desain, dan Teknik. Science centre merupakan tempat semua alat atau bahan penelitian yang sudah dan sedang dilakukan oleh TU Delft. Jadi kita bisa menikmati hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh mahasiswa maupun para peneliti. Tiket masuknya jika mempunyai museumkaart, gratis. Jika tidak mempunyai, untuk anak berumur dibawah 7 tahun gratis, umur 7-17 tahun harga tiketnya €4, diatas 18 tahun €7, dan untuk seluruh keluarga maksimal 4 orang €17.5.  Tentang Science centre, lebih lengkapnya bisa dibaca di sini.

Tertera di keterangan, ini permainannya agak rumit. Minimal butuh waktu 20 menit. Kata Maureen "duh, hidup sehari2 sudah serus masa iya main pun musti serius. Pening"
Tertera di keterangan, ini permainannya agak rumit. Minimal butuh waktu 20 menit. Kata Maureen “duh, hidup sehari2 sudah serius masa iya main pun musti serius. Pening”
Disetiap ruangannya, enath di lantai, tembok ataupun langit-langitnya selalu bertebaran rumus-rumus. Mengingatkan saya akan masa lalu yang tertimbun rumus-rumus
Disetiap ruangannya, entah di lantai, tembok ataupun langit-langitnya selalu bertebaran rumus-rumus. Mengingatkan saya akan masa lalu yang tertimbun rumus-rumus

Beberapa alat peraganya bisa dimainkan. Misalkan main simulasi mobil atau bola yang jatuh dari langit-langit atau simulasi angin. Di beberapa ruangan juga banyak yang bisa dicoba untuk dimainkan.

Ini ruangan utamanya
Ini ruangan utamanya
Ruangan utama
Ruangan utama
Sampai langit-langit pun ada rumusnya
Sampai langit-langit pun ada rumusnya

Kalau ke sini bukan hanya bisa berkeliling di ruangan-ruangannya saja, tapi juga bisa mengikuti workshop yang diadakan dengan jadwal yang ada pada websitenya. Selain itu, jika ada yang ingin merayakan ulangtahun, juga bisa jauh hari menghubungi pihak Science centre sehingga acara ulangtahunnya bisa dirayakan di tempat ini. Kalau ingin mengikuti tour, bisa juga. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sini. Oh iya, di halaman belakang, ada taman bermain juga. Sayang saya tidak bisa mengambil foto karena banyak anak yang sedang bermain di sini.

Tak terasa satu jam lebih kami berasa di sini. Senang rasanya berkeliling, melihat dan menjajal alat peraga yang ada. Saya dan Maureen juga sempat berbincang di taman belakang. Meskipun sak nyuk an ketemu tapi obrolan kami mendalam. Senang juga bisa berbagi cerita dengan Stan. Anak pintar dan supel. Stan ini bisa berbicara 4 bahasa lho. Jepang, Inggris, Belanda, dan Indonesia tentu saja. Jawa juga kalau mau dimasukkan. Sehat selalu ya Stan!

Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Pusat Delft. Kalau hari sabtu ada pasar, jadi seru bisa berkeliling sambil melihat-lihat pasar. Tidak berapa lama karena haus, akhirnya kami nongkrong.

Camilan nongkrong kami. Saya di mana-mana memang selalu pesannya susu coklat haha *sebelum ada yang nanya
Camilan nongkrong kami. Saya di mana-mana memang selalu pesannya susu coklat haha *sebelum ada yang nanya

Itu yang dipiring adalah Tortilla disiram keju dan saus tomat ditambahi Jalapeno. Terus terang saya tidak terlalu suka. Jadi saya makan sedikit saja. Andaikan bisa makan bakso ya *yak ngayal episode kesekian pun dimulai.

Setelah sekitar 30 menit menikmati sisa sore, kami memutuskan pulang tapi mampir dulu ke toko buku. Sempat ketemu lagi dengan Maureen dan Stan yang sedang berjemur di depan Gereja sambil makan kentang goreng. Tot volgende keer Maureen en Stan!

Kesan saya tentang Science centre, seru! Tapi kata suami, biasa saja. Ya beda selera. Yang penting ada yang senang bisa menikmati dan bersenang-senang di sana.

Saat menulis ini, di luar matahari sedang gonjreng dan langitpun biru menawan. Kami sedang bersiap jalan-jalan ke danau.

-Nootdorp, 3 Oktober 2018-

 

Trekking Enam Jam di Cinque Terre – Italia

Manarola - Cinque Terre

Pada saat membuat rencana perjalanan ke Italia, hampir saja saya melewatkan Cinque terre. Padahal saat melihat foto-foto yang bersliweran di IG tentang Cinque Terre, saya mbatin kalau suatu hari ke Italia ingin mampir ke tempat ini. Ternyata saya masih berjodoh dengan Cinque Terre sehingga bisa mengunjunginya pada saat liburan musim panas tahun 2016 sekaligus perjalanan 18 hari di Italia saat suami berulangtahun.

 

Monterosso dari atas
Monterosso dari atas
Monterosso dilihat dari kebun anggur
Monterosso dilihat dari kebun anggur

Hari sebelumnya, kami mampir ke PortofinoKami sengaja memilih untuk menginap di La Spezia yang letaknya tidak jauh dari Cinque Terre dan bisa ditempuh dengan kereta karena penginapan di sana tidak semahal di Cinque Terre. Kami menginap di Airbnb yang berupa apartemen lengkap fasiltasnya. Letaknya pun tidak terlalu jauh dari stasiun kereta api. Kami tidak membawa kendaraan dan lebih memilih naik kereta ke Cinque Terre sengaja karena sudah merencanakan memilih jalur trekking  untuk menyusuri 5 desa yang ada di sana.

Hari itu tidak akan saya lupa. 6 Juli 2016 bertepatan dengan Idul Fitri, salah satu mimpi saya di dunia per jalan-jalan an terwujud. Selepas sholat Ied di apartemen, kami langsung menuju ke Cinque Terre naik kereta. Tiket yang kami beli sudah termasuk dengan masuk Taman Nasional yang merupakan jalur trekkingnya. Kira-kira jam 11 siang kereta yang kami naiki berangkat. Sepanjang perjalanan, saya benar-benar gembira luar biasa, tidak berhenti tersenyum. Rasanya akan ketemu dengan blind date yang selama ini cuma bisa diangan-angan saja.

Kami tiba di desa yang pertama yaitu Monteresso, yang kami pilih sebagai titik awal trekking. Setelah berkeliling sebentar untuk membeli minuman dan makanan sebagai bekal trekking, kami memulai titik trekking dari desa ini. Suhu saat itu mendekati 40ºC saat matahari sudah di atas kepala. Jalur trekkingnya sungguh luar biasa indah. Kami melewati perkebunan anggur dan bisa melihat betapa birunya lautan dari atas. Meskipun medan trekking yang tidak mudah (bagi saya) karena menanjak dan sempit ditambah panas yang luar biasa, tetapi ketika melihat keindahan alam dan satu persatu desa yang kami datangi, memupuskan segala keluh kesah. Ditambah lagi banyak anak kecil yang sliweran di jalur trekking. Bahkan beberapa balita pun saya lihat dengan santainya jalan dan bersenda gurau dengan orangtuanya. Lah kan jiwa kompetitif saya jadi bergelora. Di beberapa tempat, saya melihat beberapa keluarga beristirahat sambil membacakan buku cerita buat balitanya. Berkali-kali saya mengucapkan syukur karena diberikan kesempatan dan kesehatan untuk menikmati dan merasakan semua ini.

Salah satu jalur trekking
Salah satu jalur trekking

Ada satu hal yang saya tidak pernah lupa sewaktu trekking di Cinque Terre selain hawa panas tadi yaitu saya memakai celana bolong haha! Jadi ceritanya dalam perjalanan waktu itu saya tidak terlalu banyak membawa celana dengan bahan yang bisa menyerap keringat dengan baik. Kebanyakan saya membawa rok. Nah sebelum trekking, saya cek berapa derajat suhunya. Ternyata nyaris 40 derajat. Saya lihat dalam koper kira-kira celana mana yang bisa dipakai. Ternyata ada satu celana rumah yang bahannya nyaman, adem. Ya karena ini di Eropa di mana orang-orang akan cuek kamu mau pakai apa, akhirnya saya memutuskan memakai celana rumah itu untuk trekking. Saya tidak memeriksa sebelumnya kondisi celana itu. Setelah pertengahan jalur trekking, saat jalurnya benar-benar menanjak sampai dengkul ketemu dengan janggut (saking menanjaknya), mata saya lihat kok ada yang bolong ditengah celana. Eh ternyata celana yang saya pakai tengahnya bolong besar hahaha! Duh saya langsung tertawa terbahak dan lapor ke suami. Saya tunjukkan bolongnya. Kami lalu tertawa terbahak. Ya sudahlah, selama jalannya santai toh orang tidak tahu kalau saya pakai celana bolong haha!

Vernazza dari kejauhan
Vernazza dari kejauhan
Vernazza
Vernazza
Vernazza
Vernazza

Di setiap desa, kami pasti berhenti. Entah sekedar minum atau makan atau istirahat untuk mengumpulkan tenaga menuju desa berikutnya. Sungguhlah cuaca yang panas saat itu membuat cepat lelah dan anginpun pelit bertiup. Bayangkan saja bagaimana energi tersedot dengan cepatnya.

Corniglia dari kejauhan
Corniglia dari kejauhan
Corniglia
Corniglia
Corniglia
Corniglia
Panas-panas makan ini, Yummm!!. Selama di Italia, hampir setiap hari kami makan Gelatto
Panas-panas makan ini, Yummm!!. Selama di Italia, hampir setiap hari kami makan Gelatto
Corniglia
Corniglia
Manarolla dilihat dari Corniglia
Manarolla dilihat dari Corniglia

CQ14

Kami sampai di desa ke empat yaitu Manarola saat matahari menjelang terbenam. Jadi kami putuskan bahwa Manarola adalah desa terakhir yang kami kunjungi karena selain badan sudah rontok, juga hari sudah beranjak malam. Riomaggiore, desa ke lima hanya bisa kami lihat dari atas kereta. Lihatlah foto Manarola yang saya ambil menggunakan kamera dari Hp, inilah foto yang selama ini selalu membuat saya berkhayal suatu hari bisa datang ke Cinque Terre dan melihat secara langsung desa-desa yang ada di sana yang masuk dalam Unesco World Heritage. Akhirnya saya bisa mewujudkannya setelah sekian lama, pergi bersama suami tercinta. Mimpi jadi nyata.

Manarola - Cinque Terre
Manarola – Cinque Terre
Inilah kami saat trekking di Cinque Terre dan saya memakai celana bolong :)))
Inilah kami saat trekking di Cinque Terre dan saya memakai celana bolong :)))

-Nootdorp, 8 Agustus 2018-

Berakhir Pekan di Münster – Jerman

Münster terletak di Jerman bagian utara. Selain dikenal sebagai kota sepeda karena populasi sepeda di kota ini yang banyak, Münster juga dihuni oleh banyak pelajar, sekitar 40 ribu karena ada universitas besar di sini. Meskipun pada perang dunia ke dua kota ini rusak parah terkena bom, secara bertahap pembangunan di kota ini membuat Münster terlihat sebagai kota modern tetapi masih menyisakan beberapa bangunan bersejarah.

 

Munster
Munster

Munster
Munster
Dua minggu lalu, setelah dengan rencana yang mendadak (seperti biasa), kami memutuskan untuk berakhir pekan di Münster, Jerman. Kenapa memutuskan, karena sebelumnya ada beberapa pilihan tempat. Awalnya ingin ke Texel, ganti lagi ke pulau lainnya dekat Texel. Dua duanya sama mahalnya karena harus membayar biaya kapal buat menyeberang dan hotel di sana pun mahal. Padahal kan kami hanya ingin liburan akhir pekan saja. Anggap saja liburan musim dingin. Biasanya kami menginap di Airbnb, tapi nampaknya kedepan kami akan lebih sering menginap di hotel.  Lalu tercetus ide dari saya, ke Münster saja. Selain letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kami tinggal, juga kotanya nampak menyenangkan, tidak terlalu ramai. Kami berangkat jumat siang setelah dari Gemeente untuk membuat kartu identitas lalu belanja mingguan. Sampai Münster sudah jam 7 malam. Sebelumnya kami mampir dulu ke Restoran Yunani untuk makan malam. Baru pertama ini saya makan di Restoran Yunani, enak juga ya rasa makanannya.

Munster
Munster

Munster
Munster
Hotel yang kami tempati letaknya persis di pusat kota, lebih tepatnya di daerah Prinzipalmarkt, pusat perbelanjaan di Münster. Setelah berbenah sana sini, jam 8 malam kami tidur. Memang kali ini liburannya santai sekali, dan mengingat faktor umur juga, jadi jam 8 malam sudah tidur hahaha, biasanya jam 10 kami baru tidur.

Munster
Munster

Munster
Munster

Munster
Munster
Paginya setelah sarapan di hotel, kami langsung bergegas menuju beberapa tempat. Masih pagi sebenarnya, jam 9 pagi dan suhu juga hanya 3 derajat celcius. Dingin tidak karuan. Ketika saya melihat prakiraan cuaca di tempat kami tinggal, matahari bersinar dan suhu diatas 5 derajat. Duh, langsung pengen pulang cari yang hangat :D. Tapi seperti pepatah bilang “There is no such thing as bad weather, only bad clothes.” Kami berjalan santai saja, tidak melihat peta sama sekali. Karena dari informasi yang kami dapatkan, tempat-tempat yang menarik tidak jauh letaknya dari hotel. Persinggahan pertama kami adalah pasar besar yang ada setiap hari rabu dan sabtu. Pasar yang terkenal dengan Wochenmarkt Münster (Münster’s Weekly Market) terletak di Domplatz, buka sejak jam 7 pagi sampai setengah tiga sore. Wah, kami beruntung bisa datang ke pasar besar ini. Entah kenapa, saya itu memang selalu senang mengunjungi pasar, apalagi sejak di Belanda. Satu yang pasti, pasarnya tidak becek dan kotor.

Munster
Munster

Munster
Munster
Selain itu kami juga mampir ke Cathedral. Setelah berkeliling selama tiga jam, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Istirahat siang. Selama kami bepergian, baru kali ini lho ada istirahat siang dan kembali ke hotel. Benar-benar liburan yang santai sekali haha. Sekitar jam 3 sore, kami kembali melanjutkan jalan-jalan. Seperti yang telah saya tuliskan di awal, Münster adalah kota sepeda. Jadi tidak heran kalau saya melihat kota ini seperti kota-kota di Belanda. Tidak semua kota di Jerman konturnya bisa dilalui sepeda, berbeda dengan di Belanda yang datar.

Munster
Munster
Saya mempunyai teman, kenalan dan tahu beberapa blogger yang tinggal di Jerman. Dari mereka saya lumayan tahu kalau orang Jerman sangat sensitif dengan orang yang membawa kamera, maksudnya memotret tanpa seijin mereka. Karenanya saya sangat hati-hati sekali kalau memotret. Sebisa mungkin pas lagi sepi atau dari jarak jauh. Takut kena tegur :D. Dan karena alasan ini juga saya tidak terlalu banyak memotret.

Numpang mejeng
Numpang mejeng

Kami kembali ke Belanda jam 9 pagi hari minggu. Sesampainya di Belanda, seperti biasa entah ini dinamakan ritual atau apa, kalau kami dari berpergian dan kembali ke Belanda, tempat yang pertama dituju adalah Pempek Elysha. Ini bukan promosi ya haha tapi saya selalu mengandalkan tempat ini karena setiap liburan kami tidak punya stok makanan di rumah jadi langsung ke tempat ini untuk makan di tempat atau bungkus. Selain itu tempatnya juga dekat dengan rumah, karenanya andalan banget deh, penolong saat lapar :D.

Kami menyebut liburan akhir pekan musim dingin ini adalah test drive sebelum liburan sebenarnya akan datang. Akan ke mana kami? Tunggu saja ceritanya nanti di blog ini *sok ada yang nunggu ceritanya.

 

-Nootdorp, 4 Maret 2018-

Thorn – Kota Putih di Belanda

Thorn - Belanda

Sewaktu mencari tempat mau ke mana akan saya lalui pada hari ulangtahun, di mana hanya bisa di Belanda saja karena bukan hari libur, maka saya memutuskan ingin ke provinsi Limburg. Browsing sana sini, lalu saya tertarik untuk mengunjungi Thorn yang disebut sebagai kota putih. Membaca deskripsi dari berbagai sumber, saya semakin penasaran. Lalu saya utarakan hal ini ke suami, dia langsung mengiyakan dan ikut penasaran seperti apa Thorn itu karena memang belum pernah ke sana sebelumnya. Saya tidak terlalu berharap banyak cuaca akan cerah karena beberapa hari sebelumnya salju sempat turun di sekitar tempat tinggal kami. Tidak turun hujan saja sudah sangat saya syukuri. Sewaktu sampai di Thorn, suasananya sangat sepi dan langsung tampak bangunan dan rumah dengan cat putih sepanjang mata memandang. Hanya beberapa turis yang kami jumpai saat itu, memegang peta sambil mengamati beberapa bangunan yang ada dan sesekali membidikkan kamera untuk mengabadikan yang ada di depan mata. Tidak banyak foto yang saya dapatkan di sini, entah karena udara yang begitu dingin atau saya terlalu fokus dengan situasi di sana sehingga lebih menikmati suasana lalu menjadi agak malas untuk mengabadikannya. Hanya sempat merekam beberapa sudut kota ini dalam video.

Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda

Sekitar tahun 990, kota Thorn terbentuk karena banyaknya biarawan dari kalangan bangsawan. Setelahnya, kota ini berkembang menjadi kerajaan kecil. Menjelang abad ke-18 para wanita bangsawan yang ada di Thorn melarikan diri untuk menghindari orang Perancis. Lalu, sejumlah besar orang miskin datang untuk tinggal di kota ini. Orang Perancis menghitung pajak berdasarkan dimensi jendela rumah. Karena orang miskin tidak dapat membayar pajak, mereka lalu membuat jendela mereka lebih kecil dengan cara membakarnya. Rumah-rumah itu kemudian dicat putih untuk menyembunyikan perbedaan antara batu bata tua dan baru. Begitulah asal usul kota putih Thorn yang saya baca dari Wikipedia dan mengapa semua rumah di kota ini berwarna putih. Sampai saat ini, rumah di Thorn berpenghuni selayaknya rumah biasa. Selain rumah-rumah lama (dibangun sekitar tahun 1500an) yang masih bisa dilihat dengan kondisi bagus, ada gereja tua dan kapel yang masih terjaga dengan baik. Untuk mengetahui apa saja yang bisa dikunjungi di Thorn, di dekat gereja terdapat pusat informasi untuk turis, jadi kita bisa mendapatkan informasi sejelas mungkin di sana.

Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda

Thorn ini letaknya tidak terlalu jauh dari Roermond, salah satu Designer outlet yang terkenal di Belanda. Saat ini, Thorn merupakan salah satu kota tujuan wisata karena keunikan warna putihnya tersebut. Para wisatawan yang datang ke Roermond untuk berbelanja, menyempatkan diri untuk mengunjungi Thorn. Jadi jika ada yang sedang liburan ke Belanda dan salah satu tujuannya adalah berbelanja ke Roermond, tidak ada salahnya mampir ke Thorn sebagai alternatif tempat wisata yang tidak terlalu turistik. Tidak usah khawatir, di Thorn banyak dijumpai restaurant dan cafe.

 

-Nootdorp, 11 Oktober 2017-

 

Keindahan Hallstatt Dari Sudut Pandang yang Berbeda

Hallstatt

Hallstatt adalah sebuah kota kecil yang terletak di Austria, tepatnya di pinggir danau Hallstätter See. Terletak di antara pantai barat daya Hallstätter See dan lereng curam massif Dachstein, kota ini berada di wilayah geografis Salzkammergut,  yang menghubungkan Salzburg dan Graz. Hallstatt terkenal dengan produksinya yaitu garam yang merupakan sumber yang sangat berharga sehingga wilayah ini secara historis sangat kaya. Di atas pusat kota Hallstatt, terletak tambang garam pertama di dunia yang bernama Salzwelten. Turis yang datang ke sini bisa mengunjungi tambang garam ini.

Saya pertama kali mengetahui Hallstatt ini dari tulisan Patricia di blognya. Saat kami bertemu hampir setahun lalu, sempat saya bertanya tentang Hallstatt dan dia bilang suatu saat saya harus mengunjungi kota kecil ini karena memang sangat indah. Melihat foto-foto yang bertebaran di Internet pun membuat rasa penasaran saya semakin menjadi, pada saat itu. Beberapa bulan kemudian, saya lupa tentang Hallstatt sampai suatu hari ketika Puji datang ke Belanda dan kami bertemu lalu suaminya bercerita salah satu rute perjalanan mereka selama di Eropa adalah ke Hallstatt. Wah, saya adi teringat kembali. Lalu Puji menuliskan di blognya dan menyertakan foto-fotonya. Duh, makin ngiler saya. Tapi waktu itu belum terpikir akan ke Hallstatt dalam waktu dekat karena kami tidak ada rencana untuk berlibur ke Austria tahun ini.

Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt

 

Hallstatt
Hallstatt

Nah, saat suami tiba-tiba memberi ide untuk roadtrip, salah satu rute yang ditawarkan adalah Austria. Kalau saja saya tidak menghubungi kenalan yang tinggal di Austria, saya mungkin lupa akan keinginan ke Hallstatt. Jadi, sewaktu saya menghubunginya, dia bilang kalau pada saat jadwal kami ke Austria, dia sedang tidak ada. Lalu saya bilang kalau kami akan ke Salzburg. Dia bertanya kenapa tidak sekalian ke Hallstatt karena rutenya melewati dari Ceko ke Salzburg. AHA!!, untung saja dia mengingatkan, kalau tidak, pasti terlewat. Langsung dengan semangat saya memasukkan kota ini jadi salah satu tujuan kami, mampir sebelum ke Salzburg. Saya tidak menyangka akan ke kota yang indah ini dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah pertama kali mengetahuinya dari Patricia. Rejeki memang tidak kemana. Saya bahkan sudah mempersiapkan baju khusus yang akan dikenakan ketika berkunjung ke Hallstatt, sekalian foto-foto keren ceritanya. Sesekali mumpung tempatnya bagus sekali.

 

Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt

Karena terlalu bersemangat itulah saya lupa kalau terkadang apa yang kita inginkan tidak semuanya bisa didapatkan. Banyak faktor salah satunya adalah kuasa alam. Saya lupa di tulisan Patricia sewaktu berkunjung ke sana, cuaca sedang hujan dan kabut pekat turun. Yang lekat di ingatan saya adalah langit biru dan cerahnya sehingga semakin menonjolkan keindahan kota kecil yang berada diantara lembah dan dipinggir danau luas. Saya juga terlanjur sangat PD karena sewaktu kami ke sana masih dalam suasana musim panas. Saat mendapati hujan mengguyur sangat deras dan kabut pekat turun menyertai perjalanan kami dari Ceko ke Austria, lemas bercampur kesal, itu yang saya rasakan. Buyar impian saya mengenakan baju yang sudah dipersiapkan dan foto-foto dengan latar langit biru yang kece. Yang ada tangan sibuk memegangi payung dan melindungi kamera dari tampias hujan. Melihat saya cemberut, suami menyelutuk, “Nikmati saja yang ada sekarang. Tidak semua orang punya kesempatan ke sini. Kita tidak bisa dapat semua apa yang kita inginkan, bersyukur saja. Anggap saja kamu punya foto-foto keren dengan sudut yang berbeda dari foto-foto yang ada di internet.” Duh! perkataannya tepat sasaran menohok. Saya jadi malu, hanya karena tidak bisa berpose sesuai dengan keinginan, saya jadi lupa bersyukur bisa ke tempat yang selama ini hanya saya lihat di blog orang lain maupun foto-foto cantik dengan langit biru yang banyak terdapat di internet. Meskipun dengan suasana yang berbeda, saya masih tetap bisa menikmati keindahan Hallstatt yang tampak misterius diantara kabut pekat yang menyelimuti. Saya masih bisa menjejakkan kaki dan melihat dengan mata kepala sendiri kota cantik ini. Sudah seharusnya memang saya bersyukur.

Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt

Meskipun hujan terus mengguyur, tidak menyurutkan turis yang terus berdatangan. Mereka yang ke sini kebanyakan dari China, Korea, dan Jepang. Bagaimana saya tahu? ya dari bahasanya. Nguping lah dikit-dikit haha. Tetapi banyak juga turis dari negara lain. Mereka yang datang ke sini selain menggunakan jasa tour, kendaraan pribadi, juga naik bis (atau juga kereta?) dari Salzburg dan Vienna. Awalnya saya ingin naik cable car untuk menuju ke tambang garam. Tapi karena hujan, saya jadi malas. Mau naik ke atas bukit sedikit saja membuat saya takut terpeleset, membayangkan licin. Akhirnya saya tetap punya foto-foto dengan latar belakang yang misterius, penuh kabut haha, lumayanlah berbeda. Ketika meninggalkan Hallstatt, sempat berkata dalam hati, kalau ada kesempatan, rejeki, dan umur panjang, ingin kembali ke kota kecil ini. Mendatangi sudut yang belum sempat kami datangi, melihat danau dari atas bukit, dan mengunjungi tambang garamnya. Dan mudah-mudahan pada saat itu, cuacanya cerah.

Hallstatt
Hallstatt

-Nootdorp, 8 oktober 2017-

Romantisme Venezia

Venezia

“Waktu kita ke Venezia, kamu kan sedang ngambek. Masalah apa ya kok kamu sampai marahnya luar biasa”

“Ehhmmm… Iya ya kenapa. Aku ingat waktu itu marah banget. Tapi aku ga ingat kenapa sampai kayak gitu”

Beberapa waktu lalu Suami tiba-tiba membuka pembicaraan tentang Venezia. Entah kenapa dia menjadi teringat sewaktu saya marah besar, bahkan sebelum kaki kami menginjak di Venezia. Sampai saat saya menulis ini pun, saya tidak ingat kenapa waktu itu marah dan ngambek ga karuan. Ya memang seperti itulah, hampir di setiap perjalanan yang kami lakukan, ada saja saat dimana saya tantrum tidak jelas. Ada yang ingat betul penyebabnya apa, ada yang tidak ingat. Kalau yang tidak ingat, biasanya ya seputar perut lapar atau saya sedang mengantuk dan capek haha. Akhirnya cranky ga jelas.

Karena pembahasan tentang Venezia tersebut, ingatan saya terlempar pada tanggal 13 Juli 2016, waktu kami ke sana, salah satu kota yang kami kunjungi ketika sedang melakukan perjalanan beberapa minggu di Italia. Suami sudah pernah ke Venezia beberapa puluh tahun sebelumnya, sedangkan saya tentu saja ini menjadi kali yang pertama.

 

Venezia
Venezia
Venezia
Venezia
Venezia
Venezia
Santa Maria Gloriosa dei Frari
Santa Maria Gloriosa dei Frari

Sudah banyak tulisan atau artikel yang saya baca tentang Venezia. Betapa romantisnya kota ini dengan gondolanya, jembatan kecil, grand canal, St. Mark’s Basilica dan masih banyak hal lainnya yang menambah daya tarik turis untuk menyaksikan secara langsung seperti apa Venezia. Satu hal yang selalu tersebut tentu saja adalah turis yang berjubel terutama pada musim panas. Saya kalau sudah membaca atau mendengar tentang suatu tempat dengan banyak turis, entah kenapa langsung keliyengan dulu. Males mengunjungi, tapi ingin. Kalau ke sana, takutnya jadi pusing. Tapi daripada penasaran kan ya, akhirnya memantapkan niat untuk ke Venezia. Kami sengaja datang pagi dari tempat menginap yang letaknya di kota lain tapi tidak jauh dari Venezia. Kami lalu membeli tiket kapal terusan yang bisa dipergunakan selama 24 jam (lupa harganya berapa), karena memang sudah niat akan menyusuri Venezia menggunakan kapal dan juga akan mampir ke beberapa tempat seperti Burano dan MuranoSelain untuk naik kapal, tiket yang kami beli ini juga termasuk tiket naik bis yang masih dalam jangkauan (tertera di tiketnya zona nya), jadi bisa kami gunakan untuk kembali ke penginapan.

Karena masih pagi, kami memutuskan untuk menyusuri gang-gang yang ada di sana. Lumayan seru lho menyusuri setiap gang yang ada, menyesatkan diri di dalamnya. Banyak sudut-sudut menarik yang bisa diabadikan maupun sebagai tempat berhenti sejenak dan memandang bangunan atau kapal kecil yang berlalu lalang. Setelah puas menyusuri gang, kami lalu menuju ke St. Mark’s Square dimana terdapat St. Mark’s Basilica yang terkenal. Untuk masuk ke dalam gereja ini tidak dipungut biaya, tetapi antriannya memang lumayan panjang dan berliku. Di dalam gereja pun kita tidak boleh memotret. Tapi dalamnya memang bagus sekali. Jadi kalau ke Venezia, saya sarankan untuk tidak melewatkan mengunjungi St. Mark’s Basilica.

Venezia
Venezia
St. Mark's Square, Venezia
St. Mark’s Square, Venezia
Venezia. Yang di depan itu antrian masuk ke St. Mark's Basilica
Venezia. Yang di depan itu antrian masuk ke St. Mark’s Basilica
St. Mark's Basilica
St. Mark’s Basilica

Setelah dari St. Mark’s Basilica, kami lalu berpindah ke tower yang ada di depannya untuk melihat Venezia dari atas. Untuk naik ke tower ini kita harus membayar (kalau tidak salah 8 euro) dan ke atas naik lift. Jadi tenang saja, tidak naik menggunakan tangga. Dari atas, kita disuguhi pemandangan Venizia yang tampak berbeda. Bangunan, air, dan pulau-pulau yang ada di sekitarnya. Saya betah berlama-lama di atas tower ini. Rasanya kamera tidak pernah cukup untuk mengabadikan apa yang ada di depan mata dari sudut menara yang berbeda. Indah.

Venezia
Venezia
Venezia
Venezia
Venezia
Venezia
Venezia
Venezia

Saya pernah membaca atau mendengar, bahwa Venezia agak sedikit bau airnya jika musim panas. Untungnya pada saat itu, saya tidak mencium air yang berbau. Cuaca sangat terik ditambah lagi banyak turis, tetapi entah kenapa saya menikmati Venezia tanpa pusing sedikitpun melihat banyak orang di sana. Mungkin saya tersihir oleh pesona Venezia sehingga melupakan kebiasaan saya yang suka panik sendiri kalau melihat orang banyak yang berjubel. Kami sengaja tidak naik gondola, alasannya : mahal! Kami cukup terhibur melihat pasangan maupun keluarga yang banyak memilih untuk totalitas menikmati keromantisan Venezia dengan naik gondola.

Venezia
Venezia
Venezia. Gondola dan Rialto Bridge
Venezia. Gondola dan Rialto Bridge
Venezia
Venezia
Venezia
Venezia
Sedih lihat sampah
Sedih lihat sampah
Venezia
Venezia

Kami kembali ke penginapan sekitar jam 8 malam. Langit masih cerah tapi badan kami mulai rontok dan mulai mengantuk. Usia memang tidak bisa bohong ya haha. Kesan kami, Venezia memang punya daya tarik yang luar biasa. Entahlah, kami bisa merasakan keromantisannya meskipun turis luar biasa banyaknya. Salah satu tempat yang membuat saya bisa berubah mood secepat kilat dari marah besar menjadi berbinar-binar sepanjang hari. Susah dijelaskan, tapi saat meninggalkan Venezia, hati saya menghangat membawa kenangan indah selama satu hari berada di sana.

-Nootdorp, 21 September 2017-

 

Road Trip : Jerman – Ceko – Austria


Kami baru saja kembali dari liburan dengan menempuh perjalanan darat selama 10 hari. Rutenya adalah Jerman – Ceko – Austria. Liburan kali ini tidak seperti liburan musim panas sebelum-sebelumnya yang direncanakan dengan sangat matang. Liburan dengan rute ini sangatlah mendadak. Awalnya, jauh hari sebelumnya, kami merencanakan liburan musim panas selama 3 minggu di Portugal. Jadi rencana awalnya akan road trip di beberapa kota di Portugal selama 3 minggu. Saya sudah mencatat kota mana saja yang akan dikunjungi, mau menginap di mana, sampai ke info kuliner. Lalu tiba-tiba akhir Juli, suami memberitahukan kalau dia tidak bisa cuti lama dari kantornya karena ada project yang kejar tayang. Akhirnya liburan ke Portugal tinggal wacana dan kami tidak ada pembicaraan sama sekali tentang liburan pengganti. Sampai saya dan beberapa teman punya rencana untuk girls trip ke Jerman 2 hari. Eh ternyata rencana girls trip ini pun buyar di tengah jalan karena ketidaksesuaian jadwal satu dengan lainnya. Yah, mungkin memang saya harus tinggal di rumah untuk beres-beres beberapa hal termasuk satu kamar yang akan datang mebel pengisinya di bulan September.

Sampai pada minggu ke dua Agustus, tiba-tiba suami bilang kalau dia butuh liburan karena penat dengan pekerjaan. Lah piye wong iki. Tapi tetap, liburannya tidak bisa terlalu lama dan ke negara yang tidak terlalu jauh karena dia inginnya dari Belanda bisa ditempuh dengan naik mobil. Mas Ewald memang suka sekali road trip. Setelah didiskusikan, akhirnya terpilihlah Jerman, Ceko, dan Austria. Sebenarnya tujuan utamanya ke Ceko terutama Praha karena dia belum pernah ke kota ini (saya juga). Lalu Austria dan Jerman pun kami kunjungi sebagai tempat berhenti untuk beristirahat saat menuju dan kembali ke Belanda. Karena memang waktu diputuskannya mepet sekali (satu minggu)  sebelum berangkat, akhirnya saya menyusun rencana perjalanannya juga ngebut. Memutuskan di kota mana saja kami akan berhenti, kota mana saja yang akan dikunjungi, menginap di hotel atau Airbnb, dan tentu saja informasi kuliner. Satu hari cukup untuk saya menyusun itu semua, walaupun tidak dengan sangat detail. Minimal ada gambaran liburan kami akan bagaimana nantinya. Nah, saat di Salzburg, saya sudah berencana harus bertemu dengan Mbak Dian yang sebelumnya pernah kopdar pertama kali di BerlinSetelah menghubungi Mbak Dian, ternyata pada hari kami di Salzburg dia ada jadwal kerja, tetapi dia bisa menemui saya setelah selesai bekerja. Lalu saya teringat Nova, salah satu anggota #Mbakyurop #Uploadkompakan yang juga tinggal di Austria. Kalau dengan Nova, saya belum pernah ketemuan, makanya kalau waktunya cocok kami bisa ketemuan, ini akan jadi pertemuan pertama kami setelah sekitar 1 tahunan berada di grup whatsapp yang sama. Senangnya, Nova ternyata bisa ke Salzburg dari kota dia karena dia juga belum pernah ketemu dengan Mbak Dian. Asyiknyaa, liburan sekalian bisa kopdaran walaupun mungkin waktunya tidak akan lama.

Jadi, inilah rute perjalanan kami dengan kota-kota yang didatangi di setiap negara yang kami singgahi. Pada tulisan kali ini, saya akan memberi gambaran secara garis besarnya saja. Ditulisan terpisah, akan saya bahas masing-masing kotanya.

Rute
Rute

JERMAN

Jerman menjadi tempat pemberhentian kami saat akan menuju Ceko dari Belanda dan saat akan kembali ke Belanda dari Austria. Pada saat berangkat, kami menginap satu malam di Kassel dan pada saat kembali ke Belanda, kami menginap satu malam di Trier.

  • KASSEL

Awalnya sempat ragu apakah kami harus menginap di Kassel atau Gottingen. Tetapi suami lebih memilih untuk singgah di Kassel karena kotanya lebih menarik perhatiannya. Selain itu di Kassel ada acara Internasional yang bernama Dokumenta. Jadi Dokumenta ini adalah pameran seni berkelas Internasional. Yang dipamerkan semacam instalasi seni. Walaupun kami tidak mengunjungi secara khusus, tetapi kami bisa melihat beberapa karya seni yang ditaruh di luar gedung, seperti contohnya adalah pada foto di bawah ini. Bangunan di sebelah kiri, berbentuk seperti bangunan di Yunani namanya adalah Panthenon yang dibangun dari 25.000 buku-buku yang dilarang beredar pada jamannya. Disekitar Panthenon ini ada sekitar 20 orang petugas keamanan yang berjaga. Pengunjung bisa masuk dan melihat secara dekat buku-buku apa saja yang ada di sana.

Kassel
Kassel

Selain Dokumenta, di Kassel kami juga mengunjungi taman yang termasuk  UNESCO World Heritage Site, bernama Bergpark Wilhemshöehe yang didalamnya ada 3 bangunan bersejarah, satu diantaranya adalah kastil dan Hercules Monument. Kami naik ke Hercules Monument yang tingginya bikin ngos-ngosan ketika naik melalui tangganya. Saya hanya sanggup sampai 3/4 jalan, sedangkan suami sampai titik paling atas. Beberapa kali saya sempat mencari, siapa tahu ada cable car haha. Airbnb yang kami tinggali letaknya tidak jauh dari taman ini, hanya 5 menit berjalan kaki. Tetapi taman ini sangatlah luas. Kami mulai menjelajahi taman pukul 9 pagi, baru selesai sekitar pukul 2 sore, dengan berhenti-berhenti tentu saja.

Bergpark Wilhemshoehe
Bergpark Wilhemshoehe
Hercules Kastil - Kassel
Hercules Monument – Kassel
  • TRIER

Trier adalah kota paling tua di Jerman, letaknya berdekatan sekali sekali dengan perbatasan Luxembourg. Beberapa bangunan di Trier tercatat sebagai UNESCO World Heritage Site, salah satunya adalah Porta Nigra. Kami juga mengunjungi Amphiteater di sana. Pada masanya, Trier adalah menjadi kota perdagangan yang paling diperhitungkan dan penting. Trier berkaitan erat sekali dengan Romawi .

Palace Garden - Trier
Palace Garden – Trier
Porta Nigra - Trier
Porta Nigra – Trier
Amphiteater - Trier
Amphiteater – Trier

CEKO

Ada tiga kota yang kami datangi saat di Ceko yaitu Praha (tentu saja), Kutna Hora, dan Cesky Krumlov. Dibandingkan Belanda, harga-harga di Ceko lebih murah (terlebih makanan).

  • PRAHA

Siapa tidak kenal dengan kota yang terkenal romantis ini. Saya lupa tepatnya kapan pertama kali tahu tentang Praha. Yang pasti jauh sebelum film Surat Dari Praha. Entahlah, saya benar-benar tidak ingat. Tapi satu yang pasti, sudah sejak lama saya memendam keinginan untuk bisa mengunjungi kota ini. Ingin membuktikan sendiri hawa romantisnya seperti apa. Suami juga ternyata sejak lama ingin berkunjung ke Praha. Jadi pas sekali kalau kami ternyata akhirnya bisa sama-sama mengunjungi kota yang sudah lama kami ingin datangi. Hari itu, Praha sangat terik. Tetapi tidak menyurutkan langkah kami mengikuti free walking tour selama 3 jam menyusuri tempat-tempat bersejarah di Praha. Kami berjalan menyusuri Praha dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Badan rasanya rontok, tetapi hati senang. Tidak itu saja, kaki juga cenat-cenut. Belum semua tempat sempat kami kunjungi, mungkin ini pertanda kami akan kembali lagi lain waktu. Siapa tahu 🙂

Charles Bridge Praha
Charles Bridge Praha
Praha
Praha dilihat dari atas kastil
Praha
Praha
  • KUTNA HORA

Kota Kutna Hora terletak tidak jauh dari Praha, 1 jam berkendara atau sekitar 2.5 jam naik kendaraan umum. Kutna Hora terkenal dengan gereja yang didalamnya banyak tengkorak manusia, namanya adalah Sedlec Ossuary. Ini tengkorak manusia betulan. ada sekitar 40.000-70.000 tengkorak manusia di dalamnya. Selain gereja ini, ada beberapa bangunan yang termasuk UNESCO World Heritage Site. Kutna Hora kotanya tidak terlalu ramai oleh turis, sangat berbeda jauh dibandingkan Praha. Kami menghabiskan waktu satu hari untuk berjalan disekitar Kutna Hora. Jika ingin menepi sejenak dari Praha yang ramai, Kutna Hora bisa dijadikan pilihan.

Sedlec Ossuary
Sedlec Ossuary
Kutna Hora
Kutna Hora
St. Barbara's Church Kutna Hora
St. Barbara’s Church Kutna Hora
  • CESKY KRUMLOV

Saya mengetahui Cesky Krumlov ini dari twitter. Ada artikel perjalanan yang membahas kota-kota yang termasuk UNESCO World Heritage Site. Sejak saat itu, saya sudah membuat daftar bahwa kota ini akan menjadi salah satu kota yang wajib dikunjungi jika kami akan berlibur ke Ceko. Kebetulan juga perjalanan kami menuju Hallstatt melewati Cesky Krumlov. Kami menginap satu malam di sini. Airbnb yang kami sewa, hanya berjarak 5 menit jalan kaki ke kota tuanya dan kalau malam, kami bisa melihat megahnya kastil dari kamar. Sungguh romantis. Sayang waktu kami ke sana, cuaca sedang tidak begitu bagus, hujan satu hari. Jadi tidak tampaklah awan biru. Meskipun begitu, menjelajah kota tua Cesky Krumlov membuat kami seperti ditarik ke abad 14 dengan bangunannya yang apik juga letak kotanya yang seperti labirin. Terus terang sewaktu kami awal datang, rasanya seperti di Monschau di Jerman yang pernah kami kunjungi.

Cesky Krumlov
Cesky Krumlov
Cesky Krumlov
Cesky Krumlov
Cesky Krumlov
Cesky Krumlov

AUSTRIA

Sedangkan saat di Austria, kami singgah di Hallstatt dan Salzburg

  • HALLSTATT

Hampir saja Hallstatt tidak masuk dalam daftar yang kami kunjungi, sampai ada salah satu kenalan yang mengatakan kenapa tidak mampir sebentar di Hallstatt karena letaknya tidak terlalu jauh dari Salzburg, kota tujuan utama kami di Austria. Setelah saya lihat, rutenya memang tidak terlalu nyempal. Ternyata desa ini sudah lama saya lihat foto-fotonya yang indah jika saya sedang berselancar di dunia maya. Desa yang termasuk UNESCO World Heritage Site ini cukup unik karena seperti terperangkap diantara lembah dan terletak di pinggir danau yang sangat luas. Kali ini, kami tidak cukup beruntung menikmati awan biru di Hallstatt. Walaupun awalnya sempat kesal dengan hujan deras yang turun dan kabut pekat yang menyelimuti sehingga jarak pandang sangatlah terbatas, namun kemudian saya bersyukur bisa menikmati Hallstatt dengan keindahan yang berbeda. Seperti yang suami saya katakan pada saat itu, “Kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan. Nikmati saja yang ada, sehingga kamu tidak akan lupa untuk bersyukur.” Saya jadi malu karena mengeluh di awal. Bersyukur saya berkesempatan ke Hallstatt dan menikmati keindahan desa ini dengan mata kepala sendiri dan menuliskan di blog ini.

Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
  • SALZBURG

Terus terang, yang mengusulkan untuk ke Salzburg adalah saya karena banyak cerita dan foto-foto indah yang Mbak Dian bagikan tentang kota ini. Saya ingin membuktikan sendiri. Dan tentu saja, saya mengunjungi Salzburg karena ingin bertemu Mbak Dian yang tinggal di Salzburg dan akhirnya Nova pun bisa diajak ketemuan. Ada pengalaman yang kurang menyenangkan dengan Airbnb di Salzburg yang menyebabkan kami memutuskan untuk pindah ke hotel di kota tua. Foto yang ditampilkan di Airbnb tidak seindah kenyataan. Akhirnya suami yang memang agak rewel masalah penginapan, memutuskan untuk pindah keesokan harinya. Beruntungnya kami mendapatkan harga yang tidak mahal di hotel ini dan letaknya yang strategis, persis di kota tua. Tentu saja yang tidak kalah menyenangkan adalah bisa kopdar dengan Mbak Dian dan Nova, selain menikmati keindahan Salzburg yang selama dua hari kami di sana diguyur hujan yang deras. Jika ingin melihat keindahan Salzburg dari lensa kamera Mbak Dian, bisa kunjungi IG nya di @dian_photo_journal atau jika ingin tahu tentang Nova, bisa dilihat IG nya di @inong_sam.

Nova dan Mbak Dian
Nova dan Mbak Dian

Pagi hari ketika kami meninggalkan Salzburg menuju Trier, matahari kembali bersinar terang. Suami sempat menggoda saya, “Gimana, apa harus kembali ke Hallstatt ini untuk bisa foto-foto dengan langit yang biru?” yang tentu saja saya sambut dengan cubitan kecil.

Schloss Mirabell and Garden - Salzburg
Schloss Mirabell and Garden – Salzburg
Salzburg dari Hohensalzburg Castle
Salzburg dari Hohensalzburg Castle
Salzburg
Salzburg. Ini favorit saya. Pretzel.

Itulah sekilas (yang ternyata panjang juga kalau dituliskan) rangkuman perjalanan liburan kami ke beberapa kota. Selama singgah di beberapa kota ini, seperti biasa saya juga selalu mengirimkan kartupos ke beberapa teman dekat dan juga beberapa blogger. Tunggu saja, siapa tahu  kartupos dari saya tiba-tiba muncul di rumah kalian 🙂

Oh ya, saya menerima beberapa email yang menyarankan (atau menanyakan) kenapa saya tidak membuat Vlog tentang keseharian saya (termasuk membuat Vlog tentang memasak) dan suami di Belanda maupun tentang cerita perjalanan kami. Saya sudah punya channel youtube sejak lama untuk mendokumentasikan beberapa hal, tetapi bukan khusus tentang Vlog. Untuk Vlog tentang keseharian, sudah pernah saya singgung di tulisan (entah yang mana) bahwa ada banyak hal yang lebih baik kami simpan dan bagikan di dunia nyata, bukan dunia maya karena menyangkut kenyamanan dan privasi. Lagipula percayalah, saya jauh lebih baik ketika membagikan cerita dalam bentuk tulisan dibandingkan membuat Vlog tentang keseharian. Dan untuk Vlog perjalanan, saya tidak cukup telaten mendokumentasikan secara apik perjalanan kami dan tergantung cuaca hati. Beberapa rekaman memang saya kirimkan ke Net CJ, lumayan kan mendapat imbalan uang. Tetapi untuk Vlog, kembali lagi, memang mungkin bukan bidang saya yang sangat menikmati dunia menulis. Terima kasih untuk saran-sarannya tentang Vlog.

Sekelumit dokumentasi visul dari suami

Selamat berakhir pekan!

Di atas monumen Hercules
Di atas monumen Hercules

-Nootdorp, 7 September 2017-

Cerita dibalik Paris yang Romantis

“Ke Paris yuk!”

“Kapan-kapan aja ya, kan dekat”

Di lain waktu

“Kamu kok ga tertarik ke Paris sih. Yang lain pada pengen ke Paris kamu malah gaya banget belum mau.”

“Takut aku, ntar aja ah kapan-kapan. Sekalian ke Disneyland nya.”

Bukan hanya sekali atau dua kali suami mengajak saya ke Paris. Jarak Belanda ke Paris tidak lah terlalu jauh. Dari tempat kami, sekitar 4.5 jam berkendara. Dia ingin sekali ke Paris karena ingin melihat keadaan di sana setelah banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini di Paris. Dia ingin mengamati beberapa hal di sana sekaligus bernostalgia yang entah beberapa tahun lalu terakhir ke Paris. Intinya dia ingin sekali ke Paris dengan saya.

Saya, justru kebalikannya, tidak merasa nyaman karena selain banyaknya kejadian yang meresahkan di Paris, juga mungkin karena saya banyak membaca berita-berita atau tulisan yang tidak menyenangkan tentang Paris. Dari penipuan, pencopetan, kumuh, banyak gelandangan, banyak pengemis, belum lagi tindakan kriminal lainnya. Semakin was was lah saya dan menjadikan Paris tempat yang nanti-saja-untuk-dikunjungi. Harus diakui bahwa saya termakan dengan pemberitaan tidak baik mengenai Paris. Padahal saya belum pernah ke sana, tapi entah kenapa ketakutan sudah hinggap terlebih dulu di otak saya. Melenyapkan ingatan pada masa remaja tentang kota Paris yang Romantis.

Cathédrale Notre-Dame de Paris
Cathédrale Notre-Dame de Paris

Bagian dalam Cathédrale Notre-Dame de Paris
Bagian dalam Cathédrale Notre-Dame de Paris 

Ketika Adik berlibur ke Belanda, dia tidak ada permintaan khusus ingin mengunjungi negara tertentu di sekitar Belanda. Suami lalu kembali dengan ide untuk mengunjungi Paris ditambahi dengan kata-kata, “mumpung Adik ada si sini, dia pasti senang sekali kalau diajak ke Paris.” Kali ini saya tidak bisa mengelak lagi. Saya pikir benar juga, selagi dia ada di Belanda, tidak ada salahnya kami ke Paris di akhir pekan. Rencana kami ini tentu saja disambut dengan wajah gembira dan penuh semangat oleh Adik. Saya mencoba meminggirkan segala pikiran buruk tentang kota ini dan mengingat kembali betapa Paris itu Romantis. Meskipun ya tidak sepenuhnya berhasil karena kecemasan tetap saja ada. Biasanya saya yang mengurusi tentang tempat menginap dan rencana perjalanan, tapi karena melihat saya agak malas-malasan, maka kali ini suami yang mengurus semuanya.

Pas sekali perjalanan kami ke Paris beberapa hari sebelum ulang tahun ke 3  perkawinan. Jadi saya pikir, hadiah untuk kami, ke tempat yang romantis. Nanti ada yang bisa diingat kalau kami ke Paris dalam rangka juga ulang tahun ke 3 perkawinan. Kurang romantis apa coba *dipas-pasin 😅

Kami berangkat Jumat pagi, karena sebelum ke Paris kami mampir dulu ke kota Leuven yang ada di Belgia. Selain istirahat sejenak menyetir juga dari hasil penelusuran di google, Leuven ini kotanya cantik. Singgah beberapa jam di Leuven, kami melanjutkan perjalanan ke Paris. Sampai Paris sekitar jam 8 malam. Setelah menaruh barang-barang di kamar, (Adik mendapat kamar di lantai 1, kami di lantai 5 dan tidak ada lift nya pula. PR banget deh ini) kami makan malam di restoran sekitar hotel. Untungnya tidak jauh.

Menuju ke Louvre Museum
Menuju ke Louvre Museum
Louvre Museum
Louvre Museum
Louvre Museum
Louvre Museum

Keesokan pagi setelah sarapan, kami meninggalkan hotel sekitar jam 9 pagi. Saat sarapan, saya bertanya ke mas yang jaga tentang trik dan tips supaya tidak kecopetan. Masih lho saya cemas dicopet atau ditipu. Ya maklumlah, sewaktu di Jakarta saya pernah dua kali kecopetan dan itu membekas sampai sekarang. Jadi saya selalu punya rasa cemas yang berlebihan kalau di tempat yang ramai. Takut dicopet. Nah, mas yang jaga ini dengan penuh semangat memberikan tips supaya berhati-hati dengan barang bawaan kami. Misalkan, kalau selesai memfoto dengan Hp, lebih baik Hp segera disimpan lagi jangan ditenteng karena bisa diincar untuk dijambret, lalu kalau ada orang yang tiba-tiba menjatuhkan sesuatu jangan langsung diambil. Itu biasanya salah satu cara pengalihan perhatian karena komplotannya nanti yang akan beraksi mencopet. Sama juga kalau misalkan ada orang yang tiba-tiba datang sambil bawa peta, itu juga patut dicurigai jangan langsung percaya. Lebih baik menghindar saja. Dan ada beberapa tips lainnya tapi saya sekarang agak lupa apa. Karena mencoba berhati-hati juga saya sampai memperingatkan beberapa kali ke Adik yang membawa tas punggung untuk tidak usah bawa paspor, (bawa fotocopy saja) dompet ditinggal, tas diisi air saja dan camilan makanan, lalu kamera dicangklong di leher. Suami juga saya peringatkan beberapa kali untuk selalu menutup tasnya. Kebiasaan di Den Haag ya, santai aja gitu kalau tas terbuka. Saya mana bisa, selalu berungkali memastikan kalau tas tertutup dengan baik.

Kami naik metro menuju ke Notre-Dame dan membeli tiket yang paket satu hari. Sebelumnya, niat saya sebenarnya ingin ke toko buku Shakespeare and Company yang muncul di beberapa film salah satunya Before Sunset. Letak toko ini sebenarnya tidak jauh dari Notre-Dame. Tapi setelah turun dari metro, saya berubah pikiran. Lebih baik kali ini mengunjungi tempat-tempat yang ikonik dulu di Paris. Kalau kesempatan berkunjung ke Paris lagi, baru menjelajah ke tempat-tempat lainnya.

Kunjungan pertama kami ke Notre-Dame. Sesampainya di sana, sudah ramai sekali. Antrian untuk masuk katredal mengular dan berbelok-belok. Ternyata masuknya gratis. Meskipun antriannya panjang, tapi tidak terlalu lama menunggu. Saya semakin penasaran seperti apa di dalamnya. Kami mengantri bergantian antara saya, adik, dan suami. Jadi saya sesekali bisa duduk. Sesampai di dalam, saya tidak bisa berlama-lama karena rame sekali. Daripada pening, saya cepat-cepat keluar dan menunggu adik di luar bersama suami.

Setelah dari Notre-Dame kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Museum Louvre. Tempatnya tidak terlalu jauh. Sepanjang jalan kaki ke Louvre di trotoar dipinggir sungai Seine, kami mampir-mampir melihat beberapa stan yang menjual kartupos atau barang antik lainnya. Saya tergerak untuk membeli beberapa kartupos dengan desain yang unik untuk dikirimkan ke beberapa teman dan untuk saya simpan sendiri. Senang deh memperhatikan stan-stan kecil di sepanjang trotoar menuju ke Louvre. Barang-barang yang mereka jual juga unik dan antik.

Sesampai di Louvre Museum, juga sudah ramai. Maklum, musim panas, musim liburan dan ini adalah Paris. Disetiap sudutnya pasti ramai. Saya terkesiap sesaat melihat bangunan kaca di depan saya, yang selama ini hanya saya lihat jika berselancar  di dunia maya. Megah, menarik, dan tentu saja ramai. Saya pernah membaca kalau untuk masuk ke museumnya, lebih baik membeli tiket secara online untuk memangkas antrian. Awalnya kami tidak ada rencana masuk ke museumnya. Tapi ya, suami pasti gatal lah ya kakinya sudah ada di area museum tapi tidak masuk. Akhirnya dia beli online tiketnya pada saat itu juga. Daya tarik terbesar museum ini adalah lukisan Mona Lisa. Tapi buat dia, yang namanya museum pasti semua isinya menarik. Kalau saya ya, langsung ke tempat yang paling jadi sorotan saja. Selebihnya mengamati seperlunya lalu duduk-duduk menunggu. Museum Louvre ini sangat besar. Butuh satu hari sepertinya untuk menjelajah semua ruangannya.

Awalnya saya tidak tertarik untuk mendekat karena melihat kerumunan yang berjubel. Tapi begitu melihat suami merangsek ke depan, jiwa kompetitif saya muncul, ikut masuk ke kerumunan haha. Lalu beberapa orang memberi saya akses untuk ke depan. Akhirnya saya benar-benar di depan persis lukisan Mona Lisa. Entah karena memang tersihir oleh senyumnya atau karena memang malas, saya tidak mengambil foto lukisan tersebut dari jarak dekat. Cukup saya simpan dalam memori otak kalau saya pernah sedekat itu. Ada lho yang niat sekali memoto menggunakan ipad segede gaban, pose sampai berkali-kali pula dan sampai pindah ke beberapa sudut.

Orang-orang di depan lukisan Mona Lisa
Orang-orang di depan lukisan Mona Lisa
Kerumunan tampak depan untuk melihat lukisan Mona Lisa dari dekat. Foto : nyomot dari twitter suami 😀
Kerumunan tampak depan untuk melihat lukisan Mona Lisa dari dekat. Foto : nyomot dari twitter suami 😀

Perjalanan selanjutnya menuju ke Arc de Triomphe. Saya mengusulkan untuk naik metro saja. Tapi suami bilang sayang kalau harus naik metro karena nanti kami akan melewati taman kalau ke sana sambil berjalan kaki. Masalahnya saya sangsi apa sanggup jalan kaki sejauh itu. Sepertinya sih dekat ya karena bangunannya nampak dari Louvre. Ya sudahlah, akhirnya kami berjalan kaki, dengan sesekali harus berhenti sejenak kalau saya sudah merasa capek, sambil makan crepes isi coklat 😅.

Sebelum sampai ke Arc de Triomphe, kami melewati Concorde. Di sekitar Concorde ini bagus-bagus bangunannya. Suasananya juga menyenangkan. Saya sempat bercerita ke suami sepanjang perjalanan kalau ada beberapa bangunan di Indonesia yang menyerupai bangunan-bangunan yang ada di LN. Contohnya di Kediri ada yang mirip Arc de Triomphe, di Bekasi ada yang mirip Louvre meskipun terbalik, bahkan saya beberapa waktu lalu membaca ada tempat wisata yang menyerupai Stonehenge. Saya juga tidak terlalu paham awal mula tempat-tempat tersebut ada.

Kami melewati area perbelanjaan dengan toko-toko segala merek terkenal. Nama areanya The Champs-Elysées. Sebenarnya area ini bukan hanya perbelanjaan saja sih karena ada restoran, hotel, cafe, cinema dan teater. Suami tiba-tiba nyelutuk, “ini semacam Malioboro kali ya kalau di Indonesia.” 😅 Lah, brand nya saja bedaaa Mas. Rame sekali di sini, kayaknya semua turis tumplek blek. Entah memang untuk berbelanja atau seperti kami, menuju ke Arc de Triomphe.

Akhirnya sampai juga ke Arc de Triomphe. Wah besar sekali ternyata. Megah. Sepertinya bisa naik karena saya melihat di atas banyak sekali orang. Tapi kami memutuskan untuk melanjutkan ke Eiffel. Kali ini naik metro karena untuk jalan kaki saya sudah tak sanggup haha. Sekalian menghemat tenaga juga.

Concorde
Concorde
Arc de Triomphe
Arc de Triomphe

Saya kok deg-degan ya selama di Metro menuju ke Menara Eiffel. Rasanya seperti mau ketemuan dengan seseorang yang ditaksir. Mungkin karena selama ini saya cuma melihat Eiffel dari berbagai media, tidak secara langsung, jadi begitu akan melihat secara nyata rasanya benar-benar membuat deg-degan.

Dan benar saja, semakin mendekati Eiffel, saya semakin antusias. Begitu sudah ada di bawahnya, duh rasanya girang sekali. Saya senyum-senyum terus, bahagia bukan main. Rasanya kayak, “ini beneran ya ada di Eiffel.” Haha norak ya, tidak masalah. Namanya juga gembira ya. Antrian untuk naik sangat mengular. Kami cuma lewat saja dan memilih mencari toilet untuk saya karena sudah menahan kencing. Kami sempat berpikir, di tempat yang ramai ini kenapa tidak nampak banyak polisi atau militer ya. Kalau misalkan ada kejadian trus bagaimana.

Eiffel sudah didepan mata, maka harus diabadikan dalam berbagai pose. Adik saya sampai bosen jadi tukang foto dadakan haha. Mumpung ya mumpung liburannya bertiga, jadi kami bisa punya banyak foto berdua.

Eiffel Tower
Eiffel Tower
Eiffel Tower jepretan suami
Eiffel Tower jepretan suami

Dari Eiffel, kami ke tempat selanjutnya yaitu Sacré-Coeur. Saya tidak naik sampai atas, sementara suami ke atas dan adik saya memilih duduk-duduk. Saya sendiri muter dari satu toko ke toko lainnya. Karena memang banyak sekali toko untuk membeli oleh-oleh di sini. Kenapa saya tidak ikut naik, karena sudah capek *lah tapi keliling toko masih kuat 😅

Sacré-Coeur
Sacré-Coeur
Stasiun Metro
Stasiun Metro dari twitter suami (@ewaldkegel)

Total satu hari kami berjalan kaki itu 24km. Saya tahu karena memakai jam tangan yang bisa menghitung langkah dan dalam km saat berjalan kaki. Pantas saja, ketika sampai penginapan jam 11 malam rasanya badan rontok, belum lagi harus naik ke lantai 5. Prestasi lah ini untuk saya saat ini, walaupun sering harus duduk sejenak kalau kecapaian dan ribet cari toilet berungkali karena beser.

Dan bagaimana tentang ketakutan saya akan hal-hal yang saya khawatirkan sebelumnya? Tidak terbukti meskipun memang perasaan was was itu terus bergelayut satu hari penuh. Hal ini yang membuat saya sangat awas dengan barang bawaan kami. Lebih baik awas daripada kehilangan.

Keesokan hari saat dalam perjalanan pulang, kami mendengarkan berita di radio. Ternyata sekitar jam 21.30 di Eiffel itu ada kejadian seorang lelaki membawa pisau menuju ke keramaian sambil bertakbir. Deg!!! Entah kenapa badan saya langsung lemes mendengar itu. Membayangkan kalau saya masih ada di sana, trus panik, dan saya tidak bisa berlari kencang. Padahal kami berencana akan tinggal lebih lama di sekitar Eiffel untuk melihat lampu di Eiffel, kan semakin romantis. Tapi karena saya ribet mencari toilet, akhirnya kami membatalkan untuk tinggal lebih lama di Eiffel. Saat kami pergi sekitar jam 19.30. Berarti dua jam sebelum kejadian. Alhamdulillah kami masih dilindungiNya. Memang tidak ada korban karena polisi langsung bergerak cepat. Tapi kalau saya masih ada di sana, aduh panik sekali! Dan ini jadi berita Internasional. Kalau penasaran, coba bisa dicari kejadian di Eiffel tanggal 5 Agustus 2017.

Terlepas dari Paris yang memang setelah saya buktikan sendiri ada tempat-tempat yang kumuh, ada banyak gelandangan, pengemis, kriminalitas, tapi setelah mengunjunginya, Paris tetaplah yang seperti bayangan saya saat masih usia remaja. Paris yang Romantis. Meskipun saya sepanjang hari waspada luar biasa saat berada di keramaian, tapi Paris tetaplah Indah, yang membuat saya mendadak jadi nempel terus ke suami sepanjang hari *biasanya nggak. Jika ada kesempatan dan waktu, saya ingin berkunjung kembali ke Paris. Mendatangi tempat-tempat yang tidak terlalu ramai, kembali merasakan Paris yang Romantis.


-Nootdorp, 20 Agustus 2017-