Betah di Madurodam – Den Haag

{"total_effects_actions":0,"total_draw_time":0,"layers_used":0,"effects_tried":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{"border":0,"frame":0,"mask":0,"lensflare":0,"clipart":0,"text":0,"square_fit":0,"shape_mask":0,"callout":0},"effects_applied":0,"uid":"968FF27D-5C68-4130-BB3A-EE49AE865EB9_1500835822556","width":3264,"photos_added":0,"total_effects_time":0,"tools_used":{"tilt_shift":0,"resize":0,"adjust":0,"curves":0,"motion":0,"perspective":0,"clone":0,"crop":0,"enhance":0,"selection":0,"free_crop":0,"flip_rotate":0,"shape_crop":0,"stretch":0},"source":"editor","origin":"gallery","height":2448,"subsource":"done_button","total_editor_time":101,"brushes_used":0}

Dalam waktu beberapa minggu kedepan (sudah berjalan seminggu ini juga sih) saya akan menjadi pemandu wisata pribadi adik yang sedang berlibur ke Belanda. Yap!! akhirnya saya bertemu juga dengan adik yang selama 2.5 tahun tidak pernah saling berjumpa muka. Walaupun diawali dengan drama pesawat dan imigrasi, akhirnya adik sampai dengan selamat di Belanda seminggu lalu dengan -tentu saja- membawa barang titipan saya yang jumlahnya tidak seberapa banyak. Barang titipan yang didominasi oleh buku-buku berbahasa Indonesia (lebih dari 20 buku). Sedangkan titipan makanan hanya beberapa saja, salah duanya yang tidak boleh lupa adalah petis madura dan keju Kraft. Jangan heran kalau saya minta Ibu untuk memasukkan keju Kraft ke koper adik karena sudah kangen makan keju itu sejak lama. Ibu saja sampai bingung kenapa saya yang tinggal di negara keju malah minta dibelikan keju Kraft. Yah, namanya selera lidah, saya tidak terlalu cocok dengan keju Belanda. Sudah mencoba beberapa jenis, yang cocok hanya keju asap. Untuk makanan yang lainnya, saya tidak terlalu kepingin. Oh iya, bandeng asap dan otak-otak bandeng juga tidak ketinggalan diangkut. Yummm, terpuaskan sudah keinginan makan bandeng asap dan otak-otak bandeng.

Nah, karena adik akan lumayan lama liburan di Belanda (dan nanti ke beberapa negara tetangga juga), maka saya sudah menyiapkan daftar tempat mana saja yang akan dikunjungi. Tentu saja saya ikut mengantar disesuaikan dengan jadwal kerja dan cuaca di Belanda. Beruntung juga kerja paruh waktu sehingga bisa menemani adik berkeliling ke beberapa tempat wisata. Tapi yang jadi agak hambatan adalah cuaca. Akhirnya kalau hujan sedangkan saya tidak jadwal kerja, kami hanya berdiam di rumah. Tapi berdiam di rumah akhirnya jadi ajang cerita seru, banyak bercerita yang terlewatkan selama 2.5 tahun tidak saling bertemu karena kalau cerita di telfon kan terbatas waktu.

Madurodam - Den Haag
Madurodam – Den Haag
Miniatur Schiphol lengkap dengan pesawat yang beroperasi
Miniatur Schiphol lengkap dengan pesawat yang beroperasi

Minggu lalu saya mengajak adik ke tempat kerja karena mumpung cuaca cerah jadi saya berencana ke tempat wisata yang selama ini saya ingin kunjungi tetapi malas kalau sendirian ke sana. Sedangkan suami tentu saja tidak mau ke sini karena menurut dia terlalu turistik. Suami bilang nanti saja kalau Adik dan Ibu ke Belanda, saya bisa pergi sama-sama ke sini. Jadi setelah selesai kerja, saya dan adik langsung ke tempat wisata yang nampaknya wajib dikunjungi kalau ke Belanda atau paling tidak kalau berkunjung ke Den Haag. Tempat ini tidak jauh dari rumah kami bahkan beberapa kali saya selalu melewati depan bangunannya kalau sedang bersepeda dengan suami ke arah pantai Scheveningen. Akhirnya ada kesempatan juga mengunjunginya.

Madurodam
Madurodam

Saya dan Adik mengunjungi Madurodam. Jadi tempat ini adalah lokasi yang memajang miniatur tempat-tempat dan bangunan-bangunan bersejarah dan terkenal di seluruh Belanda. Entah kenapa sejak pertama datang ke Belanda saya selalu penasaran dalamnya Madurodam itu seperti apa. Untuk mencapai Madurodam, dari Den Haag Centraal bisa ditempuh dengan menggunakan tram no.9 arah Scheveningen dan berhenti di halte Madurodam. Saran saya, untuk membeli tiket masuk Madurodam, lebih baik membeli secara online karena akan mendapat potongan harga sebesar €3 sekaligus tidak perlu lagi mengantri panjang apalagi kalau musim liburan sekolah atau sedang musim panas. Waktu kami ke sana, sedang musim liburan sekolah. Tak heran isinya anak-anak kecil di mana-mana. Tapi itu tidak mengurangi ke khusyukan saya mengelilingi area Madurodam meskipun tidak bisa semuanya karena cuaca yang sangat panas sekali. Tak kuat saya, lelah akhirnya menunggu adik yang berputar ke seluruh area sambil makan popcorn dan memperhatikan anak-anak kecil kegirangan melihat beberapa miniatur yang bisa bergerak jika ada koin yang dimasukkan.

Madurodam - Den Haag
Madurodam – Den Haag
Miniatur pabrik klompen yang bisa mengeluarkan mini klompen
Miniatur pabrik klompen yang bisa mengeluarkan mini klompen trus diangkut dengan mini truk. Gemes deh lihatnya.

Masuk ke Madurodam ini seperti membangkitkan kenangan masa kecil yang selalu kegirangan jika melihat mainan. Apalagi melihat miniatur bangunan yang saya bayangkan seperti mainan yang bisa digerakkan. Melihat miniatur bandara Schiphol dengan pesawat KLM yang bisa bergerak, pabrik klompen yang bisa mengeluarkan klompen sungguhan, pabrik coklat yang mengeluarkan coklat mini. Saya jadi tidak berhenti menyunggingkan senyum selama di sana. Entah kenapa, girangnya bukan main. Apalagi kalau melihat mini kereta api yang sedang melintas, senang bukan kepalang. Kalau tidak karena cuaca panas yang bikin saya gerah, mungkin selama 3 jam kami di sana, bisa berkeliling ke seluruh area. Adik saya yang mengelilingi seluruh area yang memang tidak terlalu luas, juga merasa senang dengan Madurodam. Fasilitas di dalam Madurodam juga sangat membuat pengunjungnya nyaman. Toilet bersih dan tidak bau (penting bagi saya) serta gratis, beberapa tempat makan, kursi-kursi yang nyaman untuk beristirahat, disediakan stroller gratis juga bagi yang punya anak kecil dan tidak membawa stroller. Jalan setapaknya juga ramah bagi penyandang disabilitas.

Jadi jika ada yang sedang berkunjung ke Den Haag dan tertarik melihat miniatur negara Belanda, bisa berkunjung ke Madurodam. Meskipun buat saya tiketnya terbilang tidak murah, tapi wajib saya kunjungi karena tinggal tidak jauh dari sini. Buat bahan cerita, gitu haha. Saya sampai mengirim foto di depan Madurodam ke teman jalan di Belanda dengan keterangan. “Sah jadi turis dan sah tinggal di Belanda karena sudah berkunjung ke Madurodam!!”

Yiaayyy!! Sudah sah jadi turis dan sah tinggal di Belanda 😅
Yiaayyy!! Sudah sah jadi turis dan sah tinggal di Belanda 😅 Muka mencureng karena silau kepanasan

-Nootdorp, 23 Juli 2017-

Melipir ke Zeeland, Antwerp, Brugge, Ghent, dan Lille

Brugge

Minggu pertama Ramadan, kami pergi berlibur beberapa hari ke beberapa kota yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kami tinggal. Meskipun tidak terlalu jauh, tapi lumayan hitungannya ke luar negeri karena tujuannya ke Belgia dan menclok sebentar ke Perancis. Enaknya tinggal di sini, nyetir sebentar sudah kepleset ke negara tetangga *hahaha ini sok banget, tapi memang iya. Ini sebenarnya liburan agak dadakan. Dikatakan dadakan karena rencana liburan kami bukan di akhir bulan Mei. Tetapi karena cuaca sedang bagus, suami butuh rehat sejenak dari rutinitas kantornya, dan saya juga butuh melemaskan badan supaya tidak nglimpruk saja, akhirnya terpikir untuk jalan-jalan sebentar ke negara yang belum pernah saya kunjungi meskipun letaknya bersebelahan, yaitu Belgia. Diputuskan kami ke kota Antwerp, Brugge, dan Ghent sewaktu di Belgia lalu mampir ke Lille yang terletak di Perancis. Namun sebelumnya kami ke Zeeland dulu yang ada di Belanda. Cuaca saat itu sedang cerah cenderung panas untuk ukuran saya, selalu diatas 25ºC yang menyebabkan botol minuman 2L tidak sampai 8 jam sudah kosong kembali. Ngelak rasane pengen nggowo galon. Di setiap kota ini kami menginap satu malam lalu pindah ke kota selanjutnya keesokan hari. Karena kali ini adalah jalan-jalan yang super santai sekali, jadi kami tidak ada target tempat wisata mana saja yang akan didatangi. Tetapi tetap dong kami ingin mendatangi beberapa tempat yang terkenal dari setiap kota. Untuk memudahkan, kami ikut Free Walking Tour selama di Belgia. Ini tour jalan kaki gratis tetapi tentu saja tidak mungkin 100% gratis karena kami memberikan imbalan sepantasnya untuk pemandunya. Jadi hampir setiap hari selama liburan ini, seperti biasa kalau liburan, kami berjalan kaki sejak pagi sampai menjelang malam yang masih terang benderang (jam 10 malam saja masih terang). Kalau dilihat dari aplikasi, kami rata-rata 10km an jalan kaki setiap hari.

Zeeland

Pagi hari pada saat berangkat ke Zeeland, awan pekat bergelayut dan angin kencang sekali. Kami mikir, wah ga seru ini kalau hujan karena lokasi yang akan kami datangi terletak di pinggir laut. Bahkan kami berencana naik kapal laut. Lah kan ga lucu ya kalau naik kapal trus hujan deres. Ternyata sampai sore hujan tidak datang bahkan sorenya matahari nyentrong sekali. Rencana naik kapal laut dibatalkan karena kami sampainya terlalu pagi di Deltawerken. Akhirnya kami putuskan untuk mengunjungi beberapa kota yang ada di Zeeland. Kami mendatangi Middelburg (ini pusat kotanya Zeeland), Vlissingel, Veere lalu kami menginap di Zierikzee. Dari beberapa kota tersebut yang paling nyantol  di hati adalah Zierikzee karena meskipun kotanya lebih kecil dibanding 3 kota lainnya yang kami kunjungi, tetapi tata kotanya apik, pinggir pelabuhan, ada beberapa kastil, dan penginapan kami persis depan sungai yang ada museum bahari. Kamar yang kami tempati juga besar sekali dengan interor dalamnya seperti kastil, atapnya tinggi menjulang. Kotanya juga sepi jadi terkesan romantis *halah iki dipas-pasno. Selama di Zeeland, saya terpuaskan melihat kapal-kapal bersandar. Maklum, anak pesisir melihat kapal saja sudah senang apalagi bisa naik kapal.

Veere, Zeeland
Veere, Zeeland
Middelburg, Zeeland
Middelburg, Zeeland
Vlissingen, Zeeland
Vlissingen, Zeeland
Zierikzee, Zeeland
Zierikzee, Zeeland
Zierikzee, Zeeland
Zierikzee, Zeeland

Antwerp

Meskipun Antwerp jaraknya tidak jauh dari rumah, 1.5 jam berkendara, ini kali pertama saya berkunjung ke sini. Biasanya kalau tempat yang dekat tidak segera didatangi itu kan alasannya : ah, nanti saja ke sana, dekat ini. Sampai Antwerp, kesan pertama yang saya sampaikan ke suami : wah, seperti Den Haag ya lagi renovasi di mana-mana. Namun tentu saja Antwerp jauh lebih besar daripada Den Haag. Pusat perbelanjaannya saja panjang membentang dan ada beberapa kawasan. Akhirnya kesampaian juga ke Stasiun keretanya yang tercatat sebagai salah satu stasiun kereta tercantik di dunia. Dan memang, cantik sekali juga besaaarr. Hari pertama sampai kami langsung menuju Grote Markt untuk bergabung dengan Free Walking Tour yang berkumpulnya di sana. Pesertanya tidak terlalu banyak dan pemandunya juga menyenangkan. Dia ini pintar sekali bercerita, sampai saya merasa seperti sedang didongengi karena ternyata Antwerp ini banyak sekali cerita legendanya termasuk darimana kata Antwerp berasal. Hanya satu, jalannya cepat sekali. Saya terengah-engah mengikutinya dan sering ketinggalan. Mbak pemandu seringkali kasihan melihat saya ketinggalan dan akhirnya jalannya dipelankan. Suami saya juga ga srantan nunggu saya jalan dan agak kasihan juga nampaknya melihat saya jalan terengah-engah, akhirnya tas ransel saya yang imut, dia yang bawa. Mungkin maksudnya untuk mengurangi berat di badan :)))) Kebanyakan makan waffel sama es krim haha. Oh iya, sewaktu kami di Antwerp, bertepatan dengan hari rabu akhir bulan sehingga akses untuk masuk ke semua museum di Belgia gratis. Tentu saja kami tidak mau melewatkan kesempatan itu. Suami memilih untuk ke Rubenshuis, rumah dari pelukis terkenal di Antwerp yang sekarang dijadikan museum.

Stasiun Kereta Antwerp
Stasiun Kereta Antwerp
Kastil di Antwerp
Kastil di Antwerp
Waffel di Antwerp
Waffel di Antwerp
 
Risotto Funghi di Zeeland
Risotto Funghi di Zeeland

Enaknya ikut Free Walking Tour kalau tidak punya banyak waktu di satu kota adalah kami tidak perlu repot-repot mencari lewat peta tempat-tempat di kota yang bersangkutan. Kami akan dipandu dan tentu saja diceritakan kisah dari setiap bangunan atau tempat tersebut. Ditambah lagi, diberikan rekomendasi makanan apa yang patut dicoba serta jika masih ada waktu lebih diajak ke tempat yang tidak terlalu banyak dikunjungi turis. Tour berakhir setelah 2 jam berjalan kaki tidak berhenti dibawah matahari yang aduhai panasnya. Tapi saya beberapa kali colongan duduk sih haha. Sewaktu di Antwerp, saya mencoba Waffel, suami makan Frieten (kata pemandu tour, jangan sekali-kali menyebut French Fries di Belgia, tetapi Frieten), sedangkan saya makan malam dengan Risotto. Jangan heran kenapa jauh-jauh ke Belgia makannya kok Risotto, ya karena memang sedang ingin makan itu. Padahal malam sebelumnya saya sudah makan Risotto di Zeeland. Hidup Risotto!

Brugge

Keesokan harinya kami ke Brugge. Saya sudah niat sekali kalau di Brugge mau naik kapal yang menyusuri sungainya. Saya lihat di internet seperti itu. Padahal naik kapal menyusuri kanal-kanal di Amsterdam saja saya belum pernah haha. Kalau di Amsterdam kan bisa kapan-kapan. Jam setengah 2 siang, kami langsung gabung Free Walking Tour. Wuiiihh tempat berkumpulnya di Grote Markt rameee sekali dengan anak-anak sekolah. Saking semangatnya Pemandu di Brugge ini, dia membawa kami berkeliling Brugge sampai 3 jam, sampai dibawa blusukan segala. Rencana saya untuk naik kapal akhirnya saya batalkan. Ku tak sanggup panasnya dan saya mulai kliyengan lihat orang banyak. Maklum, memang sejak saya kecil tidak bisa berada di tengah keramaian, langsung pusing kepala. Saya yang biasanya petakilan naik ke menara untuk melihat sekeliling kota dari ketinggian, kali ini harus rela melepaskan suami sendirian naik menara. Kondisi sedang tidak mumpuni untuk pecicilan ke atas setelah jalan kaki 3 jam *halah, mumpuni :))) Legrek maksimal!

Di Brugge, kami pesta coklat, makan coklat setiap saat. Suami yang memang coklat mania sampai beli beberapa jenis coklat. Brugge meskipun ramai dengan turis, tetapi masih nyaman karena banyak tempat-tempat kecil yang unik.

Brugge
Brugge
Brugge
Brugge
Borong coklat di Brugge
Borong coklat di Brugge

Lille

Lille terletak di Perancis, dekat dengan perbatasan Belgia. Kami sampai di Lille sudah menjelang sore karena siangnya masih kelayapan di Brugge. Karena di Lille kami tidak ikut tour apapun, jadi acaranya memang sangat santai. Kami mengunjungi museum lukisan (disetiap liburan kami, mengunjungi museum adalah wajib untuk suami. Sementara istrinya kebanyakan duduk-duduk saja -seperti biasa- kalau sedang di museum). Sebenarnya saya tertarik dengan museum lukisan, tapi ya tidak seperti suami yang selama 3 jam khusyuk melihat satu persatu lukisan.  Kalau saya, ya seperlunya saja. Kami ke The Palais des Beaux-Arts yang merupakan museum terpenting kedua di Perancis setelah Louvre. Museumnya sedang dalam proses renovasi. Museum ini besar sekali, tidak hanya berisi lukisan tetapi juga maket dari beberapa kota di Perancis dan Belanda pada jaman dulu.

Setelah dari sana, kami melanjutkan menjelajah pusat kota Lille sampai menjelang malam dan tiba-tiba hujan deras mengguyur. Kami berteduh di emperan toko dan jadi bernostalgia sewaktu suami (waktu itu masih calon) ke Surabaya. Setelah kami dari House of Sampoerna, tiba-tiba hujan deras. Kami berteduh di tempat orang jualan rujak cingur haha.

The Palais des Beaux-Arts, Lille
The Palais des Beaux-Arts, Lille
Lille, Perancis
Lille, Perancis

Ghent

Keinginan untuk naik perahu menyusuri sungai akhirnya keturutan di Ghent. Entah karena akhir pekan atau memang sedang musim liburan, Ghent penuh berjejal orang. Kami ikut Free Walking Tour jam 2 siang. Selama dua jam, kami berkeliling ke beberapa tempat penting di Ghent. Hotel yang kami tempati tepat didepannya pelabuhan Ghent pada jaman dulu, yang juga sebagai tempat nongkrong karena banyak sekali orang duduk di pinggir sungai sambil makan waffel atau es krim atau hanya sekedar berbincang.

Kastil di Ghent
Kastil di Ghent
Ghent
Ghent
Ghent
Ghent
Waffel di Ghent
Waffel di Ghent

Selama liburan, saya kenyang makan Risotto, Waffel, es krim. Sementara suami sangat menikmati Frieten. Selamat berakhir pekan!

Di Ghent
Di Ghent
-Nootdorp, 15 Juni 2017-

Portofino – Kampung Nelayan Yang Tersohor

Portofino

Dalam perjalanan dari Turin menuju Cinque Terre (kami menginap di La Spezia, kota terdekat ke Cinque Terre), kami mampir Bra lalu Portofino. Awalnya Portofino tidak masuk dalam daftar yang akan kami kunjungi, tapi Anggi merekomendasikan desa ini. Katanya tempatnya sangat bagus meskipun kalau musim panas berjubel turis. Dan karena kami melihat rutenya juga tidak terlalu nyempal, akhirnya kami mampir.

Portofino
Portofino
Portofino
Portofino

Portofino ini tempatnya menjorok, semacam di pojokan. Lokasinya di wilayah Genoa. Menuju ke Portofino sepanjang jalan mata dimanjakan oleh warna biru laut dan banyak sekali Yacht yang bersandar di dermaga. Dulu, Portofino ini adalah kampung nelayan. Tetapi karena keindahan alamnya, lambat laun tempat ini berubah menjadi tempat liburan para artis dari seluruh dunia dan orang-orang terkenal lainnya. Karenanya, di Portofino saat ini banyak sekali resor-resor mewah dan menjadikan Portofino sebagai kampung nelayan yang tersohor. Waktu itu saya berharap bisa berpapasan dengan Bon Jovi *ngayal jangan nanggung-nanggung.

Portofino
Portofino
Portofino. Di Italia, banyak dijumpai jemuran bergelantungan, tapi tetap sedap dillihat
Portofino. Di Italia, banyak dijumpai jemuran bergelantungan, tapi tetap sedap dillihat
Portofino
Portofino. Mungkin artis-artis Hollywood nya ada di sana
Portofino
Portofino

Selain banyak ditemui restoran-restoran dengan harga yang standar sampai harga yang super mahal (Kami hanya mengintip harga makanan karena saya puasa Ramadhan hari terakhir), sepanjang bibir pantai juga banyak ditemui butik-butik dengan merek terkenal seperti Dior, Prada, Versace (masih banyak tapi lupa nama-namanya).

Portofino
Portofino

Portofino

Untuk bisa menikmati Portofino dari ketinggian, salah satu tempat yang pas yaitu dari Kastil Brown. Untuk masuk Kastil Brown, perlu membayar tiket (lupa berapa) sehingga bisa menikmati dalam kastilnya juga. Tetapi jika tidak ingin melihat dalam kastilnya, ada jalan setapak yang menuju ke salah satu sudut di ketinggian sehingga tetap bisa melihat keindahan Portofino secara maksimal.

Portofino
Portofino
Portofino
Portofino
Portofino
Portofino
Salah satu sudut Kastil Brown - Portofino
Salah satu sudut Kastil Brown – Portofino

Sewaktu kami ke sana, ramainya tidak seperti yang kami bayangkan. Memang ramai turis tetapi tidak sampai sesak berjubel. Karena memang mampir, jadi kami tidak berlama-lama di sana, tidak sampai 3 jam. Setelahnya kami melanjutkan kembali perjalanan ke La Spezia.

 

Africa Here I Come!

Blyde-River-Canyon (Sumber Foto : http://www.travelstart.co.za/blog/50-top-tourist-attractions-in-south-africa/)

Sudah beberapa kali saya singgung di blog bahwa saya ini suka sekali membaca sejak kecil karena memang melihat orangtua yang gemar membaca. Selain membaca, ternyata sejak kecil saya juga suka menonton film walaupun saat itu TV masih hitam putih dan menonton film disatu-satunya saluran TV yaitu TVRI. Nah, sampai sekarang kebiasaan membaca dan menonton film masih tetap berlanjut. Tidak mengherankan kalau saya suka terobsesi ingin pergi ke suatu tempat gara-gara cerita buku yang saya baca atau film yang saya tonton. Contohnya saja tahun lalu saat saya dan suami berlibur ke Italia, salah satu tempat yang kami datangi adalah impian saya bertahun-tahun lalu saat menonton film Letters To Juliet. Cerita film ini sebenarnya biasa saja namun menarik untuk disimak. Sepanjang film mata saya dimanjakan dengan alam Italia terutama Verona dan Siena serta perkebunan anggur yang ada di sana. Karena suka sekali dengan film ini, sampai saat ini saya sudah lebih dari lima kali menontonnya. Dan karena film ini juga, sejak pertama menontonnya pada tahun 2010, waktu itu saya seperti punya misi pribadi kalau punya anak perempuan akan saya beri nama Sophie atau Siena. Korban film ini namanya haha! Waktu menjejakkan kaki di Verona dan Siena, mata saya berkaca-kaca rasanya terharu sekali karena bisa menjejakkan kaki di tempat yang selama ini hanya saya lihat di film yang sudah ditonton berulang kali. Terdengar berlebihan ya tapi percayalah kalau apa yang kita impikan selama ini lalu menjadi kenyataan, rasa harunya sampai membuat kerongkongan tercekat, haru sampai mata berkaca-kaca. Sedangkan obsesi saya untuk kuliah S2 di Belanda berawal dari buku Negeri Van Oranje (tahun 2009). Meskipun tak gentar berkali-kali mengikuti proses mendapatkan beasiswa ke Belanda dan sampai tahun 2012 akhirnya menyudahi perburuan beasiswa ke Belanda karena sudah diterima kuliah di tempat lain, tapi memupuk mimpi ke Belanda tetap dilakukan sampai akhirnya suratan takdir berkata lain dan menerima kenyataan bahwa saat ini saya malah tinggal di Belanda.

Lalu, obsesi apalagi sehubungan dengan tempat atau negara atau benua yang ingin saya kunjungi karena melihat film atau membaca buku?

Afrika adalah benua yang ingin saya datangi sejak usia SD kelas 1 atau 2. Bayangkan anak SD ditanya kalau mau liburan ingin pergi ke mana, jawabnya Afrika! Padahal waktu itu letak Afrika di sebelah mana di peta saja saya tidak tahu. Awal ketertarikan saya dengan benua Afrika karena waktu kelas satu atau kelas dua (lupa tepatnya) saya melihat film The God Must Be Crazy yang ditayangkan di TVRI. Kalau seusia saya atau di atas saya kayaknya tahu film ini. Saya tidak terlalu ingat apakah film ini dulu terkenal atau tidak tapi yang pasti TVRI menayangkan film ini berulangkali sampai menancap dengan baik pada ingatan anak usia 7 tahun. Sebenarnya bukan cerita filmnya yang saya ingat, tetapi alam yang ditampilkan di film ini yang tidak bisa saya lupa. Cerita film ini berawal dari seorang Afrika yang sedang berjalan di sebuah padang savanah tiba-tiba kaget karena ada botol beling yang jatuh dari langit. Di Afrika diyakini bahwa sesuatu yang jatuh dari langit itu adalah kiriman dari Tuhan. Dan karena botol inilah orang Afrika ini mengalami petualangan-petualangan yang mengejutkan dan juga ada banyak komedi di film ini. Film yang ada sejak tahun 1980 ini benar-benar tidak hilang dari fikiran saya, semacam obsesi terpendam untuk bisa mengunjungi Afrika.

Setelah mengenal internet pertama kali, saat jaman SMA, saya mulai mencari tahu lokasi film The God Must Be Crazy yang di Afrika. Ternyata lokasi filmnya adalah Kalahari Desert. Kalahari Desert sendiri lokasinya ada di tiga negara yaitu Botswana, Namibia, dan South Africa. Penampakan Kalahari Desert seperti beberapa foto di bawah ini.

Kalahari Desert (Sumber Foto : https://www.flickr.com/photos/travelmarketingworldwide/8405144361/)
Kalahari Desert (Sumber Foto : https://www.flickr.com/photos/travelmarketingworldwide/8405144361/)
Kalahari Dessert (doitinafrica)
Kalahari Desert (Sumber foto : http://doitinafrica.com)

Saya ingin ikut safari di Afrika melihat binatang-binatang di alam terbuka dari dekat. Meskipun saya pribadi bukan orang yang suka binatang, tetapi jika melihat binatang di alam terbuka entah kenapa saya suka. Keinginan untuk ikut Safari ini semakin kuat saat saya membaca serial Supernova yang berjudul Partikel yang ditulis oleh Dewi Lestari yang salah satu ceritanya saat Zarah sedang mendapatkan tugas ke Afrika untuk memotret binatang buas di padang savanah. Karena pendeskripsian yang kuat tentang karakter Zarah, jadi punya keinginan juga untuk menamai anak perempuan dengan nama Zarah (halah, ancene labil kok haha). Dewi Lestari begitu detail mendeskripsikan bagaimana proses saat Zarah memotret binatang buas sampai harus berendam di rawa. Saya seperti berada di sana juga, ikut merasakan suasana mencekam, harus menahan nafas dan seperti ikut berada di tengah-tengah keindahan savanah di Afrika yang diceritakan.

Buku kedua yang semakin membuat saya ingin pergi ke Africa adalah This is Africa yang ditulis oleh J.E Ginting. Meskipun negara-negara di Afrika yang diceritakan dalam buku ini adalah negara-negara konflik, justru itu yang membuat saya penasaran. Sepanjang membaca buku ini, yang ada penasaran lembar demi lembarnya ingin mengetahui kelanjutan ceritanya. Bukan hanya ketegangan saja yang dituliskan tetapi keindahan pantai-pantainya juga juga banyak sekali kalimat sarkas dan kelucuan-kelucuan. Ah, keinginan saya semakin kuat untuk menginjakkan kaki di Afrika.

Buku This is Africa!
Buku This is Afrika

Impian sejak SD untuk bisa mengunjungi Afrika sempat timbul dan tenggelam. Timbul kalau saya melihat tayangan tentang Afrika lalu kembali menelusuri keindahan foto-foto Afrika lewat internet. Tenggelam saat mimpi-mimpi lain muncul untuk mengunjungi negara-negara yang saya lihat di film atau baca di buku. Tetapi keinginan itu semakin menguat saat saya kuliah S2. Karena saya memilih kelas Internasional dimana isi kelas tersebut mahasiswanya dari berbagai macam negara, maka berkenalanlah saya dengan seorang mahasiswa yang ternyata dosen dari University of Zimbabwe yang terletak di Harare, Zimbabwe. Perkenalan awal kami sangat singkat tetapi siapa yang menyangka selama dua tahun kuliah, saya justru dekat dengan dia yang selalu menceritakan keindahan Afrika terutama Zimbabwe. Dia bilang saya harus mengunjungi Afrika terutama Zimbabwe dan sekitarnya paling tidak sekali seumur hidup karena memang alamnya yang indah. Semakin terkiwir kiwirlah saya dengan cerita dia. Salah satu yang sering diceritakan dia adalah Victoria Falls yang ada di Zimbabwe. Air terjun ini berada di perbatasan Zambia dan Zimbabwe. Teman saya ini juga menawarkan kalau saya singgah di Zimbabwe, pintu rumahnya selalu terbuka untuk saya sekeluarga. Kami masih berhubungan sampai sekarang dan dia terus mengulang tawaran untuk menginap di rumahnya yang terletak di Harare.

Victoria Falls Zimbabwe

Bukan hanya alam Afrika saja yang ingin saya buktikan keindahannya, tetapi juga makanannya. Saya menyukai serial Parts Unknown yang dipandu oleh Anthony Bourdain (saya penggemar Anthony Bourdain sampai punya beberapa bukunya). Beberapa tayangan Parts Unknown lokasinya di Afrika salah satunya adalah Ethiopia. Saya ngiler-ngiler melihat makanan di serial itu. Apalagi saya juga suka dengan Marcus Samuelsson Amharic, seorang Chef terkenal di Amerika yang memiliki beberapa restoran, yang asalnya dari Ethiopia dan diadopsi oleh keluarga Swedia. Dan satu lagi tayangan TV yang juga semakin menguatkan keinginan saya untuk ke Afrika adalah Oprah Winfrey Show. Acara ini beberapa kali meliput kegiatan sukarelawan yang lokasinya di Afrika. Keindahan alam dan kulinernya juga tak luput diliput.

Sebenarnya sewaktu saya masih di Jakarta, beberapa kali terpikir untuk ikut menjadi sukarelawan yang lokasinya di Afrika demi saya bisa ke Afrika. Tetapi waktu itu masih maju mundur mengingat saya tidak bisa lepas begitu saja dengan karier yang saya bangun. Dan keinginan untuk ke Afrika saya sampaikan ke suami diikuti oleh tatapan aneh darinya. Bukan sekali atau dua kali saya mendapatkan tatapan aneh seperti ini. Dulu kalau ada pertanyaan negara atau tempat mana yang ingin saya kunjungi. Kalau yang lain menjawab negara-negara di Eropa, atau Amerika atau Australia, saya menjawab negara-negara di Afrika. Bukan atas nama Anti Mainstream, tapi atas nama mewujudkan impian saat saya berumur 7 tahun, impian anak kecil yang masih menancap sampai sekarang.

Harusnya tahun ini saya bisa berkunjung ke Zimbabwe, Zambia, Namibia, Malawi, dan Botswana karena saya dan suami sudah merencanakan ke negara-negara tersebut sejak tahun kemarin. Tetapi karena satu hal, rencana itu terpaksa ditangguhkan dahulu sampai nanti saat yang tepat. Mungkin belum jodoh saya untuk pergi ke Afrika tahun ini, tetapi saya yakin, suatu hari nanti saya akan bisa berucap “Africa Here I Come!”

Blyde-River-Canyon (Sumber Foto : http://www.travelstart.co.za/blog/50-top-tourist-attractions-in-south-africa/)
Blyde-River-Canyon (Sumber Foto : http://www.travelstart.co.za/blog/50-top-tourist-attractions-in-south-africa/)

Ada yang ingin pergi ke Afrika juga? Atau ada yang sudah ke sana? ke negara mana?

“Tulisan ini diikutsertakan untuk giveaway milik Nyonya Sepatu dan Jalan2Liburan

-Nootdorp, 28 Februari 2017-

Pengalaman Sebagai Kontributor Citizen Journalist NET TV

Citizen Journalist NET TV liputan di pasar Den Haag

Sejak bisa membeli telepon genggam yang agak canggih beberapa tahun lalu saat masih di Indonesia, setelah sebelumnya bertahan cukup lama dengan Nokia yang fungsi utamanya saya gunakan kebanyakan untuk sms dan telpon saja sampai rusak dan tidak bisa terpakai lagi, salah satu kesenangan saya adalah selain menggunakan secara maksimal untuk membuat foto dimanapun dan kapanpun, HP tersebut juga saya gunakan untuk merekam hal-hal yang sekiranya perlu direkam. Kesenangan tersebut tetap saya lakukan sampai sekarang. Banyak yang berakhir hanya saya simpan di laptop dan ada beberapa yang saya unggah di channel youtube. Jangan salah, yang saya unggah di youtube juga bukan hasil editan yang super canggih, seringnya malah tidak saya edit sama sekali. Langsung saya unggah apa adanya. Saya memang agak malas belajar untuk membuat video nampak lebih menarik, mungkin itu juga itu salah satu alasan saya tidak bisa -baca : malas- membuat vlog yang durasinya panjang. Apalagi untuk daily vlog, ini sih sudah Big No buat saya karena terbayang ribetnya musti pakai jilbab di rumah haha lagipula kehidupan sehari-hari saya ya begitu-begitu saja. Sebenarnya alasan utamanya saya tidak punya cukup percaya diri harus berbicara depan kamera sendirian di keramaian dan juga ribetnya itu lho. Belum lagi tentang kesepakatan dengan suami untuk tidak mengunggah kondisi rumah dan sekitarnya ke sosial media. Akhirnya youtube saya isinya ya seputar jalan-jalan, konser, dan beberapa acara yang saya datangi.

Sampai suatu hari, saya membaca postingan Fe tentang menjadi kontributor sebagai Citizen Journalist di Net TV. Wah saya langsung tertarik karena caranya gampang dan cocok dengan kesenangan saya yang suka merekam hal-hal disekitar apalagi saat jalan-jalan. Lalu saya pikir, iya juga ya, saya bisa karyakan hasil rekaman dengan mengirimkan ke Net TV lewat program Citizen Journalist (CJ). Setelah membaca tulisan Fe tersebut, niat saya lalu menggebu ingin segera bisa merekam dan mengirimkan ke Net TV. Niat hanya sekedar niat, nyatanya akhir tahun lalu saya ruwet dengan berbagai macam urusan.

Sampai pada suatu hari, pertengahan bulan Januari tepatnya hari minggu, keinginan tersebut terwujud dan saya bisa membuat video yang kemudian saya kirimkan. Tidak perlu menunggu lama, keesokan harinya saya mendapatkan email yang memberitahukan kalau video kiriman saya tayang di Net 12. Gembira sekali! Nanti pada bagian akhir tulisan akan saya ceritakan cerita di balik pembuatan video ini. Sekarang saya ingin berbagi pengalaman cara bisa menjadi Citizen Journalist di Net TV :

  • Membuat Akun di netcj.co.id. Membuatnya gampang sekali, hanya mengisi form yang tidak terlalu rumit seperti email dan nomer telefon. Nanti akan ada verifikasi email dan nomer telefon
  • Unggah video yang sudah siap. Video di sini adalah video mentah tanpa diberikan efek suara maupun tulisan atau watermark. Saya menggabungkan beberapa rekaman yang saya buat menjadi satu video utuh menggunakan iMovie. Ada banyak aplikasi selain iMovie untuk menggabungkan rekaman-rekaman menjadi satu video, contohnya seperti video maker. Panjang video yang dikirim, disarankan antara 3-4 menit (ini saya melihat produser Net CJ memberikan keterangan di yotube) karena nanti akan di edit lagi oleh pihak Net menjadi durasi antara 1 sampai kurang dari 2 menit yang tayang di TV. Tema video bisa macam-macam, dari segala kejadian sehari-hari yang unik, travelling, kuliner, bahkan sekarang saya lihat ada video tutorialnya juga.
  • Setelah mengunggah Video, selanjutnya mengisi deskripsi dari video tersebut. Deskripsi ini terdiri dari judul liputan (tidak boleh lebih dari 65 karakter), keterangan isi dari video, lokasi di mana video dibuat, dan kategori video (ini ada pilihannya). Keterangan video isi selengkap-lengkapnya sesuai dengan fakta yang bisa dipertanggungjawabkan. Bisa memakai rumus 5W 1H. Misalkan video yang saya kirim tentang ice skating di danau beku, saya tuliskan lokasi danaunya di mana, fakta bahwa danau tersebut tidak pernah beku sejak 5 tahun terakhir, luas dan kedalam danau, suhu waktu saya merekam, dll. Keterangan yang dituliskan menjadi acuan pengisi suara untuk bernarasi. Yang pasti mereka juga akan memverifikasi kebenaran video dan keterangan yang kita tuliskan. Maksudnya verifikasi ini adalah jika berkaitan dengan video, apakah video ini pernah tayang di TV lain atau belum (mereka punya alat untuk mendeteksi) dan berkaitan dengan keterangan yang kita tuliskan, mereka juga aka memverifikasi kebenarannya. Jika ada narasumber yang diwawancara, jangan lupa sertakan juga nama narasumber dan keterangan lainnya. Misalkan video pertama saya narasumbernya adalah suami sendiri (hahaha namanya video yang tidak direncanakan, akhirnya suami sendiri yang diwawancara), jadi saya tuliskan : SB (Sound Bite merupakan hasil wawancara dari narasumber yang diliput) nama suami dengan keterangan warga Belanda. Video kedua, yang saya wawancara adalah penjual langganan di pasar (karena ini video tentang pasar di Den Haag) saya tulis SB : nama penjual, keterangannya penjual di Pasar Den Haag asal Srilanka. Dan jika narasumbernya berbicara selain bahasa Indonesia, kita juga wajib menuliskan terjemahan dalam bahasa Indonesia dari wawancara yang ada di video. Video saya yang pertama narasumber berbicara bahasa Inggris dan video ke tiga dalam bahasa Belanda. Untuk wawancara yang ditaruh di video, sertakan yang kira-kira menarik hasil wawancaranya. Jangan terlalu panjang, yang penting informatif. Apakah harus ada yang diwawancara dalam video? tidak harus, saya saja yang iseng-iseng mewawancara karena kenal orangnya. Dan ketika mewawancara saya juga sebutkan kalau akan di kirim ke televisi di Indonesia. Tetapi jika ada yang diwawancara akan lebih baik karena video liputan jadi lebih komplit (sesuai tips yang dituliskan di akun twitter NET CJ).
  • Setelahnya, tunggu beberapa saat untuk proses mengunggahnya. Ini tergantung dengan kecepatan internet ya karena memang butuh waktu yang tidak sebentar juga.
  • Setelah sukses diunggah, pada akun yang kita buat akan ada status waiting approval. Video kita akan melalui proses checking. Lama untuk disetujui tergantung redaksinya. Jika layak tayang, statusnya berubah dari waiting approval ke waiting for published, tapi belum tentu tayang di TV. Video pertama, saya unggah malam hari waktu Belanda, pagi harinya saat akan berangkat kerja menerima email ternyata sudah tayang di Net 12. Video ketiga yang tentang pasar, satu hari setelah diunggah status dari waiting approval berubah menjadi waiting for published lalu satu hari kemudian saya membaca di twitter @NET_CJ ternyata video saya sudah tayang di Net 10. Video kedua yang saya kirimkan tentang perayaan imlek di Den Haag, tidak tayang di TV tapi tayang di website mereka. Kalau tayang di TV, pihak mereka akan mengirimkan email memberitahukan di program apa video yang kita kirimkan ditayangkan lalu mereka akan meminta scan atau foto ID, halaman depan buku tabungan (bagi yang baru pertama kali mengirimkan video). Betul sekali, kita akan mendapatkan honor ketika video yang kita kirimkan tayang di TV. Berapa besarnya? bisa langsung dibaca di website mereka karena keterangan tentang jumlah honor yang akan kita terima sangat jelas dituliskan. Pengiriman honor berselang antara 4-5 minggu sejak kita mengirimkan biodata. Kalau videonya tayang di website, kita tetap akan menerima email pemberitahuan kalau video kita sudah published tetapi tidak mendapatkan honor. Oh iya, video yang tayang, tidak hanya di program Net 10 saja, bisa jadi di program-program lainnya misalkan Net 12, Net 5, IMS atau program lainnya. Hanya, yang disebutkan di twitter mereka adalah video yang tayang di Net 10. Saya membaca pada akun twitter mereka, kalau misalkan dalam satu bulan video kita masih belum diapprove, berarti video yang kita kirimkan belum memenuhi standar kelayakan untuk tayang di NET TV.
  • Dulu, video yang tayang di TV ada link nya di youtube. Sejak akhir Januari, ada kebijakan baru bahwa video yang tayang di TV tidak ditampilkan lagi di youtube, hanya ada di website mereka.
Citizen Journalist NET TV liputan di pasar Den Haag
Citizen Journalist NET TV liputan di pasar Den Haag

Kalau mungkin ada yang bertanya kira-kira video seperti apa yang sukses tayang di TV? Saya juga tidak tahu secara pasti karena saya masih pemula (baru mengirimkan 3 video, dua yang tayang di TV). Tapi kalau yang saya baca dari akun twitter mereka dan saya amati dari video-video yang tayang di TV, saya bisa berbagi tips (catatan buat saya juga) :

  • Unik dan buat video se kreatif mungkin. Buka mata lebar dan telinga karena mungkin saja ada hal-hal disekitar kita yang bisa dijadikan bahan untuk membuat video. Tidak usah sesuatu peristiwa yang besar, hal-hal yang terjadi disekitar kita bisa jadi unik dimata redaksi. Misalkan video saya tentang ber-ice skating di danau beku. Ketika saya merekam itu, tidak bakal berpikir hal ini akan tayang di TV, karena saya mikir : haduh ini nilai jualnya di mana. Ternyata buat redaksi ini layak tayang.
  • Jika ingin meliput tentang kuliner, 50% dari isi video harus close up pada makanan dan varian makanan yang ada (jika tempat makannya menjual dari satu macam menu) atau bisa juga tunjukkan kartu atau buku menunya. Rekam juga keramaian, syukur-syukur bisa mewawancara yang punya tempat makan atau pengunjung yang sedang makan. Kalau ingin mengutarakan makanannya enak, bisa dijelaskan enaknya di mana apakah rasanya asin manis gurih, tidak terlalu liat ketika dimakan dan sebagainya.
  • Ketika merekam, usahakan jangan banyak goyang supaya yang menonton tidak pusing. Angle nya bisa dari kiri ke kanan, kanan ke kiri, atas ke bawah, atau bawah ke atas. Variasikan saja dengan gerakan perlahan.
  • Saya pernah tanya di postingan Fe apakah muka kita harus kelihatan? maksudnya apakah harus seperti reportase begitu? Soalnya saya kan kagok ya ngomong sendiri depan kamera haha. Apalagi waktu saya di pasar, musti cari tempat yang agak sepi supaya tidak dilihat banyak orang, itu saja tetep banyak yang lihat. Belum lagi cuaca dingin sekali sampai mulut saya kaku untuk dibuka. Ok kembali lagi ke topik. Ternyata baca dari twitter mereka, liputan yang menggunakan PTC (Piece To Camera atau On Cam atau ngomong depan kamera yang berfungsi menguatkan liputan, jika liputan itu adalah hasil dari CJ) sudah dipastikan dimasukkan rundown. Apa yang kita omongkan ketika depan kamera? Tergantung fakta apa yang ingin disampaikan yang tidak bisa dilihat oleh penonton dalam video kita. Artikulasi dan suara harus jelas ketika sedang PTC. Hindari mengucapkan kata-kata : Sekarang, saat ini karena bukan liputan secara langsung (LIVE). Saran saya, bisa mencari informasi atau fakta terlebih dahulu tentang tempat yang akan kita liput, jadi kita tahu akan menyampaikan apa di depan kamera. Teknik PTC ini bisa dilakukan secara selfie. Tapi saya melihat juga ada beberapa video yang tidak menggunakan PTC tayang di TV. Jadi, kembali lagi kepada kita mana yang ingin dilakukan.
  • Banyak melihat video-video yang sudah tayang di Net TV sebagai bahan pembelajaran untuk membuat video-video selanjutnya supaya lebih baik lagi, atau bisa juga mencari ide-ide dari video-video tersebut. Kalau saya, banyak melihat video dari Mbak Rosi  (yang merupakan kontributor tetap) di youtube maupun website Net CJ untuk melihat bagaimana cara pengambilan object, cara berbicara depan kamera, cara mewawancara orang dll. Karena saya dan Mbak Rosi tergabung dalam satu grup whatsapp, jadi saya bisa langsung bertanya ke Mbak Rosi hal-hal yang saya masih kurang mengerti dan mendapatkan banyak masukan. Terima kasih Mbak!
  • Saat merekam momen, kamera harus dalam posisi horizontal (landscape), jangan portrait (vertikal). Lalu saat merekam usahakan angle nya ada yang Wide, Medium, dan Close Up. Jangan takut dengan piranti yang dipakai untuk merekam. Sejauh ini saya selalu merekam menggunakan iPhone (belum pernah menggunakan kamera) atau apapun jenis HP kamu selama hasil dan kualitas rekamannya memadai untuk ditayangkan di TV.
  • Secara keseluruhan bisa disimpulkan bahwa video CJ yang layak tayang di NET TV memenuhi beberapa kriteria seperti : angle menarik, kualitas video, lengkap informasi, unik, menarik, dan tidak basi.
  • Sampai saat ini, ketika saya membuat liputan, tidak dalam kondisi yang memang diniatkan datang ke lokasi hanya sekedar untuk merekam. Misalkan tentang liputan ke pasar, saya merekam ya memang saat jadwal saya ke pasar. Jadi waktu ke pasar, sekalian merekam. Saat liputan imlek juga begitu, saya ke Den Haag kota karena janjian dengan teman-teman untuk melihat perayaan imlek, sekalian saja saya rekam. Jadi sekali kayuh beberapa tujuan terlampaui. Saat merekam ice skating di danau beku, aslinya hari minggu itu saya tidak tahu kalau danaunya sangat ramai dan banyak yang bermain ice skating dan hockey. Karena sehari sebelumnya saat saya jalan kaki sendiri ke danau (rumah kami tidak jauh dari hutan, danau, dan peternakan), saya lihat danaunya beku tapi tidak ada siapapun di sana kecuali saya. Keesokan harinya saya ajak suami jalan kaki ke danau setelah belanja (jadi kami ke danau bawa tas-tas belanjaan), eh ternyata ramai sekali orang. Tiba-tiba ada ide untuk merekam meskipun muka saya tanpa polesan lipstick, tanpa bedak, hanya pakai pelembab saja :))) Ngomong depan kamera juga grogi sekali, sampai belepotan haha!. Saya akhirnya menodong suami untuk diwawancarai. Untung dianya oke oke saja. Ini video rekamannya yang masih ada link di youtube sebelum ada kebijakan baru.

Jadi, tidak susah ya menjadi Citizen Journalist. Jika ada yang berminat yuk rekam kejadian yang ada di sekitar kamu ketika jalan-jalan, saat berwisata kuliner, tutorial memasak bisa juga atau membuat kerajinan tangan, untuk yang suka berkebun juga, atau kejadian apapun itu. Apa yang kita pikir tidak unik, siapa tahu itu menjadi unik bagi redaksi. Jadi jangan ragu-ragu. Buat saya manfaatnya sangat banyak, selain bisa menyalurkan kesenangan saya dalam merekam apapun, menyalurkan kesenangan menulis karena harus menulis deskripsi, melatih keberanian dengan mewawancara orang, mleatih PD dengan ngomong depan kamera, banyak belajar hal-hal baru karena CJ ini benar-benar hal baru untuk saya meskipun sebenarnya sudah ada sejak tahun 2013, dan bisa mendapatkan uang. Betul kata Mbak Rosi, sekali unggah video di CJ Net TV, bakalan ketagihan setelahnya. Yuk kirim videonya sekarang!

-Nootdorp, 7 Februari 2017-

Warna Warni Burano dan Murano

Warna Warni Burano dan Murano

Setiap hari sekarang langitnya berwarna abu abu, hujan, dan ditambah suhu sudah sekitar -1ºC di pagi hari sehingga kalau ada jadwal kerja dan berangkat naik sepeda dinginnya minta ampun. Belum lagi kalau angin kencang, rasanya saya ingin marah-marah sama anginnya (ojok ditiru :D). Tapi masih bersyukur belum (tidak) ada salju sementara beberapa negara di Eropa seperti Swedia, Austria, Jerman, sudah turun salju. Daripada muram merasakan dingin, saya mau menuliskan sesuatu yang membuat hati bahagia saja. Ini adalah catatan perjalanan ketika kami sedang bepergian ke Italia beberapa bulan lalu. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Venice. Kota yang tersohor ini tidak luput kami kunjungi karena ingin melihat sendiri kanal-kanalnya, grand canal, gondola, pulau-pulau disekitarnya, air berwarna tosca, dan beberapa bangunan yang menjadi ikon Venice. Kalau tahun lalu kami mengunjungi Venice-nya Belanda yang bernama Giethoorn, siapa sangka tahun ini saya bisa mengunjungi Venice yang asli (kalau suami sudah dua kali ini ke Venice). Cerita Venice saya tuliskan lain waktu karena kali ini saya akan berbagi cerita tentang dua pulau yang kami kunjungi yang termasuk wilayah Venice, yaitu Murano dan Burano.

Ketika sedang menyusun rencana perjalanan ke Venice, banyak informasi yang saya dapat menuliskan untuk mengunjungi juga pulau-pulau yang berada di sekitar Venice. Ada beberapa pulau, sebut saja : Murano, Burano, Torcello, Punta Sabbioni, dan beberapa pulau kecil lainnya. Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi beberapa tempat tersebut, tergantung dari kecukupan waktu. Kami sampai di Venice dari Marghera, kota tempat kami menginap selama dua malam, sekitar pukul 8 pagi. Masih tidak terlalu banyak pengunjung. Kami lalu menuju loket pembelian Tourist Travel Card dan memilih kartu yang berlaku selama 24 jam seharga €20 per orang. Kartu ini bisa digunakan untuk naik perahu (ACTV Vaporetto) dan naik bis tujuan kota-kota sekitar Venice, asalkan masih dalam waktu 24 jam. Kami membeli kartu ini karena memang niat untuk naik perahu sepanjang Grand Canal dan menuju pulau-pulau di sekitar Venice.

Setelah puas menyusuri setiap lorong Venice dengan berjalan kaki dan mengunjungi beberapa bangunan yang ada, perjalanan kami lanjutkan dengan menggunakan perahu. Ada banyak halte (sebut saja namanya halte, tempat penumpang menunggu) perahu yang sesuai dengan tujuan perahu. Jadi sebelum masuk ke halte tersebut, cek terlebih dahulu perahu yang singgah di sana akan menuju ke mana. Dan lihat juga rute yang terpampang di bagian depan halte. Jika tidak mengerti, bisa bertanya ke petugas perahu sebelum kita naik ke perahu, untuk memastikan. Perhatikan juga jam keberangkatan. Untuk tujuan tertentu (misalnya Burano, yang jaraknya jauh dari Venice), kita harus transit dahulu di beberapa pemberhentian untuk ganti perahu.

Murano
Murano
Murano
Murano
Murano
Murano

Karena jumlah perahunya banyak dan selalu tepat waktu, jadi meskipun pada saat kami ke sana puncak turis datang yaitu musim panas, kami tidak terlalu berdesakan di dalam perahu. Jadi kita bisa memilih duduk di dalam atau berdiri di bagian luar. Tujuan pertama kami adalah Murano. Letak Murano sendiri tidak terlalu jauh dari Venice, hanya beberapa menit saja kami sudah sampai. Dari kejauhan tampak rumah berderet dengan warna warni yang mencolok. Murano dikenal sebagai pulau yang menghasilkan barang pecah belah. Jika ingin ikut menyaksikan cara pembuatannya, bisa mendaftar yang informasinya bisa ditemukan online atau langsung bertanya ke toko-toko pecah belah yang ada di sana. Pada saat kami ke Murano, ada pabrik yang sedang mengadakan pelatihan dan mempertunjukkan proses pembuatannya, tapi kami tidak tertarik untuk melihat karena saat kuliah saya pernah masuk ke pabrik pecah belah yang ada di Surabaya dan menyaksikan proses pembuatannya. Jadi saya pikir akan sama saja. Ada juga Museum yang berisikan barang pecah belah dan sejarah yang menceritakan bagaimana Murano terkenal dengan kerajinan pecah belahnya.

Awalnya saya berpikir Murano tidak akan terlalu banyak dikunjungi turis. Ternyata saya salah, turis penuh di pulau ini. Karena pulaunya lumayan besar, jadi ada beberapa sudut yang tidak dipenuhi pengunjung. Lumayan untuk memotret. Lalu saya bilang ke suami kalau Burano akan lebih sepi dari Murano, begitu yang saya baca di beberapa artikel. Setelah puas berkeliling Murano dan duduk-duduk di pinggir kanalnya sambil menikmati roti dan minuman, kami melanjutkan perjalanan ke Burano. Cuaca yang sangat panas hari itu (sekitar 39ºC) membuat kami harus sering minum. Padahal sewaktu di Surabaya dengan suhu yang sama saya merasa baik-baik saja, sewaktu liburan ke Italia dengan suhu segitu saya rasanya mau dadah dadah ke kamera. Sudah terbiasa digempur dengan dingin dan hujan selama di Belanda jadi begitu merasakan cuaca panas langsung terasa bedanya.

Burano
Burano
Burano
Burano
Burano
Burano
Burano
Burano

Burano selain terkenal dengan rumah yang berwarna warni dan kanal-kanalnya yang indah, juga dikenal dengan pembuatan renda. Akan banyak ditemui toko-toko yang menjual beraneka bentuk renda, tapi pastikan sebelum membeli bahwa yang dijual tersebut adalah buatan tangan, bukan mesin yang memproduksi dalam jumlah yang banyak. Jika ingin tahu lebih lanjut tentang tradisi pembuatan renda, bisa mengunjungi Museum Lace. Awalnya saya menduga Burano akan lebih sepi dari Murano, ternyata salah besar. Burano lebih ramai dikunjungi turis. Saya yang suka memperhatikan tingkah turis dimanapun berada, jadi keasyikan sendiri melihat ada yang selfie dipinggir kanal dengan raut muka yang dibentuk sedemikian rupa, ada yang sibuk berputar-putar dengan tongsisnya, ada yang semacam foto prewed di depan rumah warna warni lengkap dengan busana yang apik, ada yang bergerombol berbicara dengan kencang, dan ada yang tertegun memperhatikan sekitar (iya, ini saya :D).

Warna warni rumah di Burano lebih berani dan lebih menyala dibandingkan Murano, begitu yang saya lihat. Satu rumah dengan lainnya mempunyai warna yang berbeda sehingga rumah-rumah yang berjajar tersebut terlihat kontras dengan sapuan warna stabilo, menyala, dan eye catching. Melihatnya sangat menggemaskan apalagi kami menemui beberapa rumah dicat dengan pola-pola tertentu. Pengecatan rumah ini dilakukan setiap dua tahun sekali dan jika ada penduduk yang ingin memperbarui warna catnya, harus mendapatkan persetujuan dahulu dari pemerintah. Bukan hanya mata saja yang terasa dimanjakan melihat kemeriahan warna di Burano, hati juga ikut gembira rasanya.

Burano
Burano
Burano
Burano
Salah satu tembok yang dicat berwarna warni di Burano
Salah satu tembok yang dicat berwarna warni di Burano

Saat kami sedang berfoto bergantian dengan latar belakang tembok yang berwarna warni (foto di atas), ada satu keluarga yang sedang melintas dan ketika mendengarkan saya dan suami berbicara menggunakan bahasa Belanda, salah satu diantara mereka menawarkan untuk mengambil pose kami berdua. Rupanya mereka keluarga yang berasal dari Belgia. Jadilah kami semua berbicara menggunakan bahasa Belanda dan berbincang-bincang sebentar. Ketika kami menawarkan untuk bergantian memotret, mereka menolak karena ingin segera makan di restoran tidak jauh dari tempat ini. Senangnya punya foto berdua suami di Burano, dengan kebaikan tawaran dari mereka.

Ada satu lagi kesamaan antara Murano dan Burano selain warna warni rumahnya yaitu jemuran ada dimana-mana, di setiap gang ataupun jalan utama. Melihat jemuran di sini nampak enak dilihat mata, tertata dan tidak semrawut. Jadinya jemuran pun mempunyai daya tarik tersendiri.

Burano
Burano
Jemuran di Burano
Jemuran di Burano
Burano
Burano

Setelah dari Burano, niatnya kami ingin mengunjungi pulau yang lainnya yaitu Torcello. Tapi setelah menghitung waktu, nampaknya tidak cukup karena kami ingin menyusuri Grand Canal menjelang matahari terbenam sambil melihat orang-orang yang menaiki gondola diiringi alunan suara dari yang mendayung gondola (tapi saya cuma menjumpai beberapa yang bernyanyi). Puas rasanya bisa mengunjungi dua dari tiga pulau yang terkenal disekitar Venice. Melihat secara langsung keindahan warna warni rumah dan menepi sesaat dari pikuknya Venice. Jika ingin membeli cinderamata, saya melihat banyak toko menjual beraneka bentuk topeng. Saya menduganya ini adalah cinderamata khas Venice.

Souvenir Venice
Souvenir Venice
Burano
Burano
Burano
Burano

Jadi terinspirasi ingin mengecat rumah dengan warna yang ngejreng?

-Den Haag, 9 November 2016-

Semua foto dokumentasi pribadi

Sehari Menjadi Turis di Edam, Volendam, dan Marken

Klompen yang sudah jadi

Saya kembali memeriksa isi tas dan memastikan tidak ada satu barangpun yang tertinggal, terutama dompet dan tiket kereta. Setelah berpamitan pada suami, kaki tergesa melangkah ke stasiun kereta dekat rumah. Saya berharap tidak tertinggal kereta karena tadi begitu sibuk menyiapkan beberapa pepes ikan asin peda dan sambel teri, pesanan dua orang teman. Ikan asin peda saya buat sendiri karena saat beli ikan di pasar ternyata jumlahnya terlalu banyak untuk dimakan sendiri, akhirnya saya punya ide kenapa tidak dibuat ikan asin saja, mumpung sinar matahari sedang berlimpah satu minggu ini pada bulan Agustus. Setelah menjadi ikan asin lalu saya buat pepes dan saya jual kepada dua orang teman yang sebelumnya sudah memesan sambal teri. Lumayan hasilnya bisa saya buat jalan-jalan. Aroma pepes dan sambel teri menguar dipangkuan saat saya sudah duduk di dalam kereta. Saya berharap aroma ini tidak sampai mengganggu penumpang lainnya. Cukup saya saja yang bisa menciumnya.

Setelah berganti kereta, saya mencari tempat duduk dekat jendela, tempat favorit. Masih jam delapan pagi dan aplikasi prakiraan cuaca mengatakan bahwa hari ini hujan tidak akan datang dan suhu berkisar 15 derajat. Untuk ukuran bulan Agustus, seharusnya suhu bisa lebih dari ini. Tapi dengan tidak hujan saja sudah lebih dari cukup, apalagi saya melihat semburat matahari. Bisa kacau rencana hari ini kalau sampai hujan turun. Melalui jendela kereta, saya menikmati suasana pagi sepanjang jalan. Sapi dan domba yang merumput, rumah-rumah mungil tertata rapi, area pertanian, gedung-gedung perkantoran, dan tak luput saya amati juga kegiatan penumpang yang di dalam kereta. Ada yang sibuk membaca buku, asyik mendengarkan musik, berbincang, dan ada yang menikmati sarapan paginya yaitu roti dan segelas kopi. Tiba-tiba saya kangen sarapan nasi pecel pakai peyek teri.

Jam 9 pagi, kereta sampai di Amsterdam Centraal. Saat kaki keluar dari kereta, kepala mulai menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok seorang teman. Ah, dia sudah berdiri di dekat papan pengumuman. Setelah berbincang sesaat, kami lalu bergegas ke kantor informasi turis (VVV) yang berada tepat di depan Stasiun Amsterdam. Ya, hari ini kami akan menjadi turis sehari dengan mengunjungi beberapa tempat tujuan favorit para turis kalau sedang berkunjung ke Belanda. Tempatnya tidak jauh dari Amsterdam. Dengan berbekal tiket bis terusan seharga €9 yang bisa dipakai selama 24 jam serta mempunyai fasilitas wifi gratis dan peta yang kami dapatkan dari VVV, kami akan mengunjungi tiga tempat yang menjadi bagian dari Waterland. Tempat yang akan kami kunjungi adalah Edam, Volendam, dan Marken. Sebenarnya tempat-tempat yang jadi bagian Waterland selain yang saya sebutkan tadi adalah Monickendam, Purmerend, Broek in Waterland, Middenbeemsteer, Graft-De Rijp, Hoorn, dan Landsmeer. Info lengkap tentang rute bus bisa dilihat langsung di website ini. Tiket bus selain bisa dibeli di kantor VVV, juga bisa dibeli online, dan dengan membeli langsung ke sopir di dalam bis. Tidak harus membeli tiket terusan jika memang tujuannya tidak mengunjungi semua tempat itu. Tapi kalau mengunjungi tiga tempat, seperti yang kami lakukan, lebih menghemat kalau membeli tiket terusan saja.

EDAM

Tentu saja saya sangat antusias dengan tujuan jalan-jalan kali ini. Saya sudah mengajak suami untuk mengunjungi beberapa tempat ini sejak setahun lalu, tapi dia nampak tidak antusias. Dia selalu beralasan kalau Volendam itu sangat ramai dengan turis. Tapi kan tidak afdol rasanya kalau saya tidak ikut berkunjung ke tempat yang menjadi daya tarik turis. Untung saja saya punya teman yang suka kelayapan juga, yang pernah saya ceritakan pada tulisan kunjungan ke Kinderdijk. Akhirnya kesampaian juga berkunjung ke Edam, Volendam, dan Marken. Bisa saja saya bepergian sendiri, tapi kalau ada teman yang sejiwa akan semakin seru.

Tujuan pertama kami adalah Edam. Kalau yang suka sekali dengan keju, pasti tidak asing dengan keju Edam. Ya, Edam adalah salah satu tempat penghasil keju di Belanda. Saya pernah menuliskan tempat lain penghasil keju di blog ini, yaitu Gouda. Edam adalah kota kecil yang ada sejak abad ke-12 saat petani dan nelayan mulai menetap di sepanjang sungai Ye. Kota kecil ini berkembang menjadi sebuah kota yang semakin makmur pada abad ke- 17. Kapal memainkan peranan yang penting dalam pertumbuhan ekonomi di Edam. Setelah membuat 33 kapal, Edam menghasilkan banyak kapal yang terkenal di dunia. Salah satunya adalah “Halve Man”, kapal milik orang Inggris Henry Hudson, yang berlayar pada tahun 1609 untuk mencari rute utara menuju Hindia Timur. Perjalanan yang sia-sia karena akhirnya dia berakhir di pulau Manhattan. Selain kapal, perdagangan juga memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi di Edam. Amsterdam, Hoorn, Enkhuizen, dan Edam adalah kota-kota komersil yang penting di Belanda.

Edam
Edam
Edam
Edam
Edam
Edam
jajaran-rumah-di-edam
jajaran-rumah-di-edam

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, asosiasi kata yang langsung muncul di kepala saat disebutkan Edam adalah keju. Selama berabad-abad keju Edam sudah tersohor di seluruh dunia. Edam juga terkenal dengan pasar keju yang ada setiap musim panas, setiap hari rabu. Pada saat kami ke sana, ada jadwal tambahan pasar keju. Sayangnya pasar keju tersebut baru dimulai jam 5 sore, jadi kami tidak bisa menyaksikan. Kami masuk ke salah satu toko keju dan saya memutuskan untuk membeli keju rasa pesto, oleh-oleh untuk suami. Sedangkan teman saya selain membeli keju rasa pesto juga membeli rasa yang lainnya. Dia mencoba contoh-contoh keju yang disediakan, menurutnya yang rasa daging asap juga enak, ada yang rasa cabai juga.

Edam
Edam
Tempat Pasar Keju
Tempat Pasar Keju
Timbangan Keju
Timbangan Keju
De Kaasdragers
De Kaasdragers

Kami bisa membayangkan bagaimana keadaan Edam berabad-abad lalu. Menyusuri rumah-rumah dan jalan-jalan tua di Edam, melewati sungai-sungai kecil, berhenti di depan gereja yang merupakan salah satu gereja terbesar di Belanda dan singgah ke beberapa toko yang ada hanya sekedar melihat saja, membuat waktu tak terasa berjalan cepat. Hampir dua jam kami habiskan di Edam. Tidak terlalu banyak turis yang berkunjung, jalanan tidak terlalu ramai, sehingga kami bisa menikmati Edam dengan leluasa.

Edam
Edam
Ngaso sejenak, nunggu tukang jualan tahu tek lewat :D
Ngaso sejenak, nunggu gerobak abang nasi goreng lewat 😀

VOLENDAM

Setelah dari Edam, kami melanjutkan perjalanan ke Volendam. Dari kota kecil yang tidak terlalu ramai, tiba di Volendam suasana langsung berubah, kontras berbeda. Volendam sangat terkenal di kalangan turis, sepertinya semua turis dari penjuru dunia tumplek blek di sini. Rame sekali. Tidak mengherankan karena ada yang mengatakan bahwa jika ingin melihat keindahan Belanda, pergilah ke Volendam. Desa nelayan ini terletak arah timur laut dari Amsterdam, terkenal dengan rumah berwarna warni dan kapal-kapal tua yang bersandar di pelabuhan. Selain itu, di Volendam juga ada pabrik keju. Kita bisa masuk dan melihat proses pengolahan keju, membeli hasil keju, atau masuk ke museum keju. Volendam ini adalah tempat favorit yang nampaknya wajib dikunjungi oleh turis dari Indonesia. Namun hari itu kami tidak bertemu satupun orang Indonesia.

Volendam
Volendam
Ramainya Volendam
Ramainya Volendam
Volendam
Volendam
Jajaran kapal tua, mengingatkan akan Sunda Kelapa
Jajaran kapal tua, mengingatkan akan Sunda Kelapa
Pabrik keju Volendam
Pabrik keju Volendam
Museum
Museum

Keju beraneka rasa di pabrik keju Volendam
Keju beraneka rasa di pabrik keju Volendam

Hal lainnya yang terkenal dari Volendam adalah pakaian tradisional Belanda. Kita bisa mengenakan pakaian tradisional Belanda lengkap dengan klompen serta latar belakang negeri Belanda dan mengabadikannya dalam foto di banyak studio foto di Volendam. Kami masuk ke salah satu studio foto dan melihat kisaran harganya. Salah satu pegawainya mengenali kalau kami berasal dari Indonesia. Dia lalu mengatakan bahwa 70% pengunjung studionya adalah orang Indonesia. Saya tidak bertanya lebih lanjut 70% tersebut dari total berapa pengunjung selama rentang waktu berapa lama. Tetapi dengan melihat beberapa wajah yang saya kenali lewat televisi terpampang di etalase semua studio foto, semakin meyakinkan saya bahwa Volendam memang salah satu tempat wajib dikunjungi oleh turis dari Indonesia. Teman saya sampai terbahak ketika melihat wajah Maya Rumantir dan bertanya tahun berapa foto tersebut sudah ada di sana karena wajah Maya Rumantir masih sangat muda. Dengan membayar €15 untuk satu kali jepret dengan ukuran standar (saya lupa berapa), maka kita sudah punya bukti pernah ke Volendam. Bagaimana dengan kami? Mungkin lain kali kami akan kembali ke Volendam, khusus untuk foto dengan pakaian tradisional Belanda.

Salah satu studio foto di Volendam
Salah satu studio foto di Volendam
Ada wajah yang dikenali?
Ada wajah yang dikenali?
Mungkin karena banyaknya turis Indonesia di Volendam, sampai dibuat tanda dalam bahasa Indonesia
Mungkin karena banyaknya turis Indonesia di Volendam, sampai dibuat tanda dalam bahasa Indonesia

Jadi, jangan lupa kalau ke Volendam untuk foto mengenakan pakaian tradisional Belanda, biar dikatakan sah pergi ke Belanda.

MARKEN

Kami menuju Marken menggunakan kapal dengan membayar €7.5 untuk sekali jalan dan tiketnya bisa langsung beli di tempat. Jika memilih pulang pergi maka harga kapal menjadi €9.95. Kami memilih untuk membeli tiket kapal sekali jalan karena kami tidak akan kembali lagi ke Volendam dan setelah dari Marken akan menggunakan Bus untuk melanjutkan perjalanan karena masih punya tiket terusan. Kapal berangkat setiap 30 menit. Jika ingin pergi menggunakan Bus dari Volendam ke Marken, juga bisa. Karena cuaca mendung dan angin lumayan kencang, saya menggigil kedinginan selama perjalanan 20 menit menuju Marken, ditambah lagi saya tidak membawa jaket. Bersyukurnya di tengah jalan tidak hujan.

Tempat kapal menuju ke Marken
Tempat kapal menuju ke Marken
Marken
Marken
Marken
Marken

Dari hiruk pikuk Volendam, sesampainya di Marken suasana kembali sunyi. Marken tidak terlalu banyak dikunjungi turis. Marken adalah sebuah desa bagian dari wilayah Waterland dengan jumlah penduduk 1.810 pada tahun 2012. Marken membentuk sebuah semenanjung di Markermeer dan sebelumnya sebuah pulau di Zuiderzee. Marken dipisahkan dari daratan setelah mengalami gelombang badai pada abad ke-13. Dulu mata pencaharian utama penduduk Marken adalah nelayan, sedangkan saat ini juga ditunjang dari sektor pariwisata. Dulu banjir kerap datang ke Marken, karenanya tipe rumah di Marken adalah rumah panggung. Kita akan menemui banyak jembatan di Marken dan uniknya jembatan-jembatan ini diberi nama dari nama-nama anggota keluarga kerajaan seperti Maxima, Beatrix, Amalia, dll.

Marken
Marken
Marken
Marken
Marken
Marken
Jembatan-jembatan di Marken diberi nama anggota keluarga kerajaan
Jembatan-jembatan di Marken diberi nama anggota keluarga kerajaan

Suasana di Marken sangat tenang. Menyusuri setiap sudutnya, mata dimanjakan oleh tata letak rumah yang sangat rapi dan berwarna nyaris seragam yaitu hijau. Saking sepinya Marken, saya sampai bilang tidak mungkin ada orang Indonesia yang tinggal di sini. Ternyata dugaan saya salah besar. Dari salah satu rumah, saya mendengar ada yang berbicara menggunakan Bahasa Indonesia (dengan logat Jawa). Ketika kami mengintip dari sela-sela pagarnya ternyata memang ada beberapa orang Indonesia di sana. Kami sampai mengikik, tidak menyangka ada orang Indonesia yang tinggal di Marken.

Marken
Marken
Toko dan tempat pembuatan klompen
Toko dan tempat pembuatan klompen
Tempat pembuatan klompen
Tempat pembuatan klompen. Yang diatas itu klompen yang sudah dibentuk tetapi belum dipercantik.

Jika berkesempatan mengunjungi Marken, jangan lewatkan untuk mampir ke tempat pembuatan klompen. Selain bisa menyaksikan langsung bagaimana klompen dibuat, kita juga bisa langsung membeli klompen dengan berbagai ukuran dan beraneka rupa warna. Selain sebagai oleh-oleh, klompen yang berada di sana juga bisa digunakan sebagaimana fungsi klompen yaitu sebagai alas kaki. Sayang sewaktu kami ke sana, proses pembuatannya sedang tidak berlangsung. Saya mengincar klompen kecil, rasanya ingin kalap membeli kalau tidak ingat harganya yang sudah disesuaikan dengan harga turis.

Klompen yang sudah jadi
Klompen-klompen yang sudah jadi

Perjalanan kami menyusuri Edam, Volendam, dan Marken berakhir saat jam menunjukkan angka lima disore hari. Perjalanan yang menyenangkan karena akhirnya tahu tempat-tempat yang menjadi favorit turis jika datang ke Belanda. Sehari menjadi turis di tempat yang turistik. Kami bergegas menuju halte bus yang akan membawa kami menuju ke Amsterdam Centraal. Sepanjang jalan perut kami keruyukan mencium aroma pepes dan sambal teri. Ingin segera rasanya sampai di rumah seorang teman yang sudah siap menyambut kedatangan kami dengan beraneka ragam masakan Indonesia. Sabtu kami ditutup dengan perbincangan dan gelak tawa sembari menikmati hangatnya nasi, tempe tahu goreng, balado terong, sambel terasi, ikan goreng, dan oseng ikan asin.

Marken
Marken

Jika suatu saat ada kesempatan ke Belanda, kalian ingin berkunjung kemana?

Sumber : Edam , Marken , Volendam

-Den Haag, 2 November 2016-

Semua foto dokumentasi pribadi

Keindahan Naarden, Kota di Dalam Benteng

Het Arsenaal Restaurant

Naarden adalah kota dan kotamadya yang terletak di provinsi Noord Holland, dimana kotanya berbentuk menyerupai bentuk bintang. Naarden terletak 24 km atau sekitar 30 menit berkendara dari Amsterdam. Kota kecil ini dikelilingi oleh benteng dan menjadi contoh yang terkenal di Eropa selama abad ke-16. Benteng di Naarden yang berbentuk bintang, lengkap dengan dinding berlapis dan parit di sekelilingnya. Kondisi benteng ini masih sebagus saat pertama kali dibangun, yaitu 5 abad yang lalu, meskipun pernah mengalami renovasi pada beberapa bagian. Bahkan sampai saat ini, Naarden adalah salah satu kota yang mempunyai benteng terbaik di Eropa

Naarden dilihat dari atas (Sumber : https://nl.pinterest.com/vestingmuseum/naarden-vesting/)
Naarden dilihat dari atas (Sumber : https://nl.pinterest.com/vestingmuseum/naarden-vesting/)

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke Naarden. Bukan kunjungan yang disengaja untuk jalan-jalan karena saya ikut suami yang sedang ada keperluan kerja di Naarden. Kami berdua baru pertama kali ke sini. Beberapa jam sebelum berangkat, suami sempat mencari informasi apa saja yang bisa dilihat di sana, supaya saya bisa jalan-jalan sendiri sementara dia menyelesaikan urusannya. Ternyata dia menemukan beberapa fakta yang menarik tentang kota di dalam benteng ini.

Berjalan di atas bangunan benteng
Berjalan di atas bangunan benteng
Sungai kecil yang mengelilingi Naarden
Sungai yang mengelilingi Naarden
Salah satu taman di Naarden
Salah satu taman di Naarden
Sungai kecil yang mengelilingi Naarden
Sungai yang mengelilingi Naarden

Pada abad ke-17 saat Raja Perancis Louis XIV dengan bantuan sekutu-sekutunya : Inggris, Cologne, dan Munster, menyerbu Belanda, Naarden dapat diambil alih dengan mudah. Pada saat itu, Belanda merupakan negara yang penting di Eropa Barat karena kekuatan ekonomi dan politik yang dimilikinya. Mereka menguasai Utrecht dan menjadikan kota ini sebagai basis untuk menguasai seluruh Belanda. Sangat disayangkan niat mereka tidak terlaksanakan dengan baik karena beberapa saat kemudian Belanda mengalami tragedi banjir yang sangat besar sehingga menyebabkan mereka susah untuk bergerak. Pada tahun 1673, Naarden kembali ke tangan Belanda dan setelahnya mengalami renovasi di beberapa bagian dengan standar modern.

Naarden
Naarden
Hotel de Ville
Hotel de Ville
De Grote Kerk (Gereja)
De Grote Kerk (Gereja Besar). Kita bisa melihat sekeliling Naarden dari tower di dalam Gereja ini. Sayang waktu kami ke sana bukan jadwal tower ini buka.
Het Spaanse Huis
Het Spaanse Huis

Menyusuri pusat kota Naarden saat jam kerja mungkin pilihan yang tepat karena jalanan sangat sepi. Atau memang keseharian di kota ini juga sepi, saya juga tidak tahu pasti. Tetapi ada untungnya juga kalau suasana sepi seperti ini. Saya bisa mengamati perlahan setiap bangunan yang saya lalui. Merasakan lengangnya jalanan utama, melihat restoran yang menampakkan geliat aktifitasnya saat jam menunjukkan pukul satu siang, dan beberapa toko yang masih tutup, tidak ada tanda-tanda akan membukakan pintu untuk pelanggan yang akan berkunjung. Kota ini tidak terlalu populer dikalangan turis nampaknya. Saat saya datang ke kantor informasi turis, hanya ada dua orang yang memegang peta kota Naarden, yang bisa didapatkan secara gratis di kantor ini. Dan mereka berbincang menggunakan bahasa Belanda.

Naarden
Naarden
Het Arsenaal. Tempat ini dulunya adalah gudang untuk peralatan militer, khususnya senjata dan amunisi. Pada tahun 195 terjadi kebakaran hebat. Ada beberapa bagian dari gedung yang bisa terselamatkan. Sampai tahun 19, gedung ini menajdi milik militer. Saat ini Het Arsenaal meruakan kantor dari arsitek ternama di Belanda yaitu Jan Des Bouvrie
Het Arsenaal  (=gudang). Tempat ini dulunya adalah gudang untuk peralatan militer, khususnya senjata dan amunisi. Pada tahun 1954 terjadi kebakaran hebat. Ada beberapa bagian dari gedung yang bisa terselamatkan. Sampai tahun 1987, gedung ini menjadi milik militer. Saat ini Het Arsenaal merupakan kantor dari arsitek ternama di Belanda yaitu Jan Des Bouvrie.
Het Arsenaal
Het Arsenaal
Het Arsenaal Restaurant
Arsenaal Restaurants
Dinding yang bertuliskan puisi. Mengingatkan akan Leiden yang mempunyai banyak dinding yang ditulis puisi dari penyair-penyair dunia, termasuk Chairil Anwar
Dinding yang bertuliskan puisi. Mengingatkan akan Leiden yang mempunyai banyak dinding yang ditulis puisi dari penyair-penyair dunia, termasuk Chairil Anwar

Meskipun tidak sampai dua jam singgah di Naarden, kota ini meninggalkan kesan yang tersendiri untuk saya. Bukan hanya karena  sejarahnya dan tata kotanya yang unik, tetapi juga saya bisa melihat secara langsung satu-satunya benteng di Eropa yang mempunyai dinding ganda dan parit (Sumber : Amusing Planet). Selain itu, ada alasan lainnya yaitu karena saya selalu tertarik dengan kota-kota kecil dan tidak terlalu ramai turis.

Jika ingin mengetahui sejarah tentang Naarden, bisa mengunjungi Nederlands Vesting Museum
Jika ingin mengetahui sejarah tentang Naarden, bisa mengunjungi Nederlands Vesting Museum
Kantor informasi turis (VVV)
Kantor informasi turis (VVV)
Utrechtse Poort (Gerbang ke Utrecht)
Utrechtse Poort (Gerbang ke Utrecht)

Di kota sekecil ini, ada restoran yang menyediakan makanan Indonesia
Di kota sekecil ini, ada restoran yang menyediakan makanan Indonesia
Naarden
Naarden

Jika sedang berkunjung ke Belanda atau ada rencana ke Belanda, Naarden bisa dijadikan pilihan kota untuk disinggahi. Mencari suasana lain, menepi dari ramainya kota-kota turistik yang ada di Belanda.

-Den Haag, 30 Oktober 2016-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi

Mencicipi Ragam Kuliner di Italia – Bagian I

Daging sapi diiris tipis, dibagian bawahnya sayur mayur ada kejunya juga.

Tulisan kali ini bukan ingin mengulik atau membahas satu persatu tentang kuliner Italia berdasarkan dari sejarahnya ataupun rasa yang mendetail karena saya dan suami bukanlah foodie dan kami bukanlah food blogger. Kami hanyalah pasangan yang suka mencoba makanan baru dan suka makan (meskipun untuk saya tetap pilih-pilih). Jadi didalam tulisan ini hanya akan ada dua kata untuk mendeskripsikan rasa dari masing-masing kuliner Italia yang pernah kami cicipi saat berlibur ke Italia selama 18 hari. Dua kata tersebut adalah : enak dan enak sekali *komentar amatiran haha!. Bagaimana tidak, hanya dua kata tersebut yang bisa kami ucapkan setiap selesai makan karena selama di Italia tidak ada makanan yang rasanya tidak enak. Tetapi nama makananannya kami lupa-lupa ingat, karena tidak pernah kami catat.

Setiap bepergian, saya dan suami mengusahakan untuk mencicipi makanan lokal tempat yang akan kami kunjungi, dengan catatan untuk saya makanan tersebut masuk kategori yang masih bisa saya makan. Sewaktu saya ke Ho Chi Minh, karena keterbatasan informasi tempat makanan halal, saya dan teman-teman membawa bubuk cabai. Hal tersebut kami lakukan untuk berjaga-jaga supaya nafsu makan tetap terjaga kalau susah menemukan makanan yang sesuai selera. Nyatanya selama di sana, kami hampir selalu makan di restoran India dan restoran Malaysia. Lumayanlah rasanya masih masuk ukuran lidah meskipun tetap menaburkan bubuk cabai 😀

Sejak pindah ke Belanda, saya mulai belajar untuk merasakan jenis makanan dari negara lain. Dan makanan dari beberapa negara tersebut tentunya tidak semua ada rasa pedasnya. Dengan cara seperti itu, saya menjadi tidak terikat lagi dengan namanya rasa pedas. Kalau makan di luar rumah dan makanannya tidak pedas, sekarang sudah bukan masalah lagi bagi saya. Dan selama di Belanda, saya tidak pernah membawa saus cabe dalam bentuk sachet (karena memang saya tidak terlalu suka rasanya) maupun bubuk cabai. Selain untuk merasakan rasa asli sebuah makanan, juga untuk menghormati darimana makanan itu berasal. Misalnya : kalau makan sayur asem trus dikasih kecap, rasanya jadi tidak asli sayur asem, sudah tercampur. Jadi kita tidak bisa merasakan lagi sayur asem itu rasa aslinya seperti apa. Walaupun kembali lagi, rasa adalah selera.

Nah, selama beberapa kali bepergian ke luar negeri, akhirnya saya terapkan untuk tidak terlalu memikirkan tentang makanan harus pedas. Jadinya ya saya tidak membawa bubuk cabe, sambel bajak, ataupun saus sambel. Saya ingin benar-benar merasakan makanan lokalnya seperti apa. Selama liburan di Italia tidak sedikitpun saya rewel harus makan nasi atau sambel. Iya, selama 18 hari itu saya hanya dua kali makan nasi (risotto), dan rasanya ya biasa saja tidak makan nasi selama itu. Sudah lama saya mulai menggantikan nasi dengan sumber karbohidrat yang lain (ubi, kentang, singkong, quinoa dll).

Selama di Italia, kami menginap mayoritas di Airbnb dan hanya dua kali menginap di hotel. Kami selalu bertanya kepada pemilik airbnb rekomendasi tempat makanan lokal yang patut dicoba. Dan selama di sana kami cocok dengan rekomendasi mereka. Atau kami juga mencari dari aplikasi Yelp dan Tripadvisor. Tapi kami selalu tertawa karena melihat stiker Tripadvisor hampir selalu ada disetiap tempat makan. Sedangan kalau Yelp tidak terlalu banyak. Saya bilang ke suami, mending pilih yang berstiker Yelp saja karena rekomendasinya dari orang lokal.

RAVENNA

Ravenna adalah kota yang terkenal dengan mosaic. Jadi bagi mereka yang memang suka sekali dengan mosaic, Ravenna adalah tempat yang tepat untuk dikunjungi karena kita bisa melihat keindahan mosaic hampir disetiap sudut Ravenna. Ada delapan tempat di Ravenna yang masuk dalam daftar Unesco World Heritage Site. Kami menginap hanya satu malam di sebuah hotel dekat dengan pusat kota. Kami bertanya kepada petugas hotel tempat mana yang dia rekomendasikan untuk makan malam. Ternyata pihak hotel mempunyai daftarnya dan memang mereka bekerjasama dengan restoran-restoran tersebut. Jadi jika kami makan di salah satu restoran tersebut maka kami akan mendapatkan diskon. Saya sudah kasak kusuk dengan suami, jangan-jangan harga makanannya sangat mahal dan rasanya biasa-biasa saja. Karena ketika kami sampai Ravenna sudah memasuki jam makan malam, maka kami bergegas mencari tempat-tempat yang ada di daftar. Setelah memilih dan melihat-lihat beberapa tempat serta daftar makanannya akhirnya kami sepakat untuk makan disebuah restoran yang tidak terlalu besar tetapi ramai pengunjung, dan sepertinya pengunjungnya juga banyak masyarakat lokal. Asumsinya : makanan enak. Ternyata kami tidak salah pilih, pelayanannya memuaskan dan rasa makananya tidak mengecewakan. Kami makan dua jenis makanan per orang. Dua diantaranya dapat dilihat pada foto di bawah :

Daging sapi diiris tipis, dibagian bawahnya sayur mayur ada kejunya juga.
Carpaccio. Daging sapi mentah diiris tipis, disajikan bersama rucola dan dibagian bawahnya sayur mayur ada kejunya juga. Kata suami rasanya asin campur creamy, jadinya enak banget karena dia suka dengan keju.

Ini standar sih, ikan bakar haha, tapi enaakk rasanya!
Ini standar sih, ikan bakar haha, tapi enaakk rasanya! Katanya ikan khas Ravenna.

Nah kalau Spaghetti ini, saya beli sewaktu makan siang. Ada satu tempat makan nyempil, keterangannya mereka menyajikan pasta yang homemade. Kami jadi penasaran lalu mampir. Wah, rasanya luar biasa enak. Saya lupa waktu itu suami makan apa. Tapi satu yang saya ingat, sebelum makan spaghetti ini, saya mampir ke sebuah toko roti, niatnya ingin membeli roti. Lalu saya tunjuklah satu roti tanpa isi, saya kira roti biasa. Salah satu penjualnya, orang Itali, bilang bahwa saya tidak bisa makan roti tersebut karena salah satu bahan yang dipakai untuk membuatnya ada kandungan babinya. Jadi terharu karena dia sampai memberitahu hal tersebut.

Spaghetti jamur. Ini kalau di Indonesia tempat jualannya kayak semacam warung, rasanya beda dengan rasa makanan di restoran besar. Bumbunya kerasa dan jamurnya yummy
Spaghetti jamur. Ini kalau di Indonesia tempat jualannya kayak semacam warung, rasanya beda dengan rasa makanan di restoran besar. Bumbunya terasa kuatdan jamurnya yummy

Dimanapun dan kapanpun kami tetap makan gelato dan granita karena cuaca di Italia yang panas sekali (sampai 39 derajat celcius). Granita ini (dari yang saya rasakan) semacam es diserut dicampur air dan buah terus didinginkan agak beku. Seperti yang terlihat pada foto di bawah, ini granita rasa semangka yang saya makan. Cuma yang ini rasanya terlalu manis untuk saya, jadi saya tidak habis dan dihibahkan ke suami.

Jam 11 malam makan Gelato dan Granita rasa Semangka
Jam 11 malam makan Gelato dan Granita rasa Semangka

Selama di Italia, kami mengamati di setiap menu pasti ada makanan pembuka, makanan utama dan makanan penutup. Awalnya kami kaget karena porsi makanannya besar, jadi apakah kami wajib untuk membeli semua makanan tersebut. Tapi ternyata tidak. Karena memang kebiasaan makan orang Itali yang ada makanan pembuka, utama, dan penutup dimana porsinya besar. Kami makan satu jenis makanan saja sudah sangat kenyang.

FIESOLE

Saat mengunjungi Florence, kami menginap di Fiesole. Jarak antara Fiesole dan Florence hanya 10 menit naik kereta. Kami menginap di rumah yang letaknya ditengah kebun pohon zaitun. Jadi tempatnya benar-benar sepi. Tidak seberapa jauh dari Airbnb, ada sebuah restoran lokal yang selalu ramai pengunjung. Selama dua malam kami selalu makan di tempat tersebut karena memang rasa makanannya otentik. Sayangnya di restoran ini tidak ada menu ikan. Jadi selama makan di sana saya selalu memesan menu yang ada jamurnya.

Spaghetti
Spaghetti

Ini lupa antara Fettuccine atau Tagliatelle. Yang pasti sausnya jamur dan rasanya gurih pedes, aroma herbs nya kuat (lupa herbs apa namanya). Yang di sebelahnya itu jamur goreng
Ini lupa antara Fettuccine atau Tagliatelle. Yang pasti sausnya jamur dan rasanya gurih pedes, aroma herbs nya kuat (lupa herbs apa namanya). Yang di sebelahnya itu jamur goreng

Gelato di Florence
Gelato di Florence

Setelah beberapa hari di Italia, kami juga mengamati kebiasaan makan malam orang Itali. Mereka kalau makan ternyata malam sekali. Jam sembilan malam rata-rata mereka baru keluar rumah untuk makan di restoran. Jadi restoran di Italia banyak yang buka sampai jam 1 atau 2 malam. Saya jadi teringat cerita Anggi, kalau dia makan di rumah mertuanya, mereka memulai makan malam juga sekitar jam 9. Sedangkan orang Belanda kalau makan malam jam 6, jam 9 malam sudah siap-siap tidur.

SAN GIMIGNANO

Kami memutuskan untuk menginap di San Gimignano saat akan mengunjungi kota Siena karena setelahnya akan melanjutkan ke San Marino. Jadi San Gimignano ini letaknya antara Pisa dan Siena dan masuk provinsi Siena. San Gimignano ini adalah sebuah kota kecil yang unik arsitekturnya letaknya diatas bukit. Kota tuanya masuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Sewaktu di San Gimignano, kami menginap di rumah yang letaknya di tengah perkebunan anggur dan pohon zaitun. Dan rumah ini mempunyai usaha membuat wine. Jadi semacam home industry wine dan minyak zaitun. Hari pertama kami datang, pemilik rumah mengajak kami mengunjungi pabriknya yang terletak dibelakang rumah. Kami melakukan wine tour dan suami diberikan masing-masing satu gelas red wine dan white wine produksi mereka untuk dicicipi. Tercapai juga keinginanya untuk wine tasting langsung di pabriknya. Uniknya wine tersebut diambil langsung dengan membuka keran dimana wine disimpan selama berbulan-bulan. Selama di Italia, suami hampir setiap makan malam minum wine. Buat dia, mencicipi wine di negara tempat diproduksi adalah sebuah keharusan.

The best ice cream in the world di San Gimignano. Ga tau deh siapa yang menobatkan :D
The best ice cream in the world di San Gimignano. Ga tau deh siapa yang menobatkan 😀

The best ice cream in the world
The best ice cream in the world

Taddaaa!! The best ice cream in the wordl di San Gimignano. Saya makan rasa mint, suami rasa mangga. Segeeerrr
Taddaaa!! The best ice cream in the wordl di San Gimignano. Saya makan rasa mint, suami rasa mangga. Segeeerrr

Kami makan di restoran rekomendasi dari pemilik Airbnb. Tidak mengecewakan dan tempatnya ada teras belakang yang letaknya ditengah kebun bunga. Romantis sekali dan kami bisa melihat matahari terbenam. Saya memilih untuk makan salad karena satu hari belum makan sayur sama sekali. Istimewanya salad ini berisi Anchovy. Saya suka sekali dengan rasa Anchovy (ini kalau dalam bahasa Indonesianya ikan teri asin mungkin  ya? soalnya rasanya asin dan bentuknya kecil tetapi direndam dalam minyak).

Spaghetti entah pakai krim apa
Spaghetti entah pakai krim apa

Wine
Wine

Pizza isinya Anchovy. Favorit saya pokoknya yang ada Anchovy nya
Pizza isinya Anchovy. Favorit saya pokoknya yang ada Anchovy nya

Salad tuna. Menu biasa sih ini ya, cuma saya suka karena pakai Anchovy.
Salad tuna. Menu biasa sih ini ya, cuma saya suka karena pakai Anchovy.

Kami juga mengamati orang Itali kalau sarapan suka makan yang manis manis. Beberapa kali menginap di Airbnb mereka selalu menyediakan kue saat sarapan. Kami yang tidak pernah makan kue saat sarapan mencoba untuk mengikuti cara orang Itali sarapan. Sampai hari terakhir kami di Italia, rasanya tetap tidak terbiasa. Mungkin karena kami berdua bukan orang yang suka makan makanan manis.

LAKE GARDA

Saat di Lake Garda, kami menginap di Sirmione. Pagi hari dari Verona, kami langsung menuju Sirmione yang ditempuh tidak sampai satu jam. Setelah sampai hotel, kami langsung membeli tiket kapal untuk mengunjungi beberapa tempat yang ada di Lake Garda. Saat itu kami mengunjungi Bardolino, Geradone, Garda dan Lazise. Pilihan dengan menggunakan kapal kami rasa sangat tepat karena bisa menikmati keindahan Lake Garda dari segala sudut. Selain itu kami memang suka sekali naik kapal. Kami makan siang di Geradone, kota yang sepi turis. Kami memilih sebuah restoran di pinggir danau persis. Saya memilih makan Pizza karena isinya Anchovy sedangkan suami makan Penne pesto. Makan sambil melihat danau, ditemani semilir angin dan awan yang biru, membuat nafsu makan meningkat 😀

Penne pesto di
Penne pesto di Geradone

Pizza Anchovy pakai bijian warna hijau rasanya asin. Ini enak banget. Satu loyang besar saya habiskan sendirian *maruk :D
Pizza Anchovy pakai bijian warna hijau rasanya asin. Ini enak banget. Satu loyang besar saya habiskan sendirian *maruk 😀

Granita Mint dan Gelato kelapa
Granita Mint dan Gelato kelapa. Granitanya suegeerrr meredakan sengatan matahari 38 derajat celcius. Saya habis dua gelas

Malamnya kami makan di Sirmione. Karena Sirmione tempatnya sangat penuh turis, jadi kami harus seksama memilih tempat makan yang enak namun tidak banyak turis. Kalau banyak turis takutnya rasa makanan di tempat tersebut tidak asli lagi. Akhirnya kami hanya mengandalkan insting. Saat itu kami beruntung karena makanan yang kami pesan disebuah restoran yang letaknya jauh dari keramaian, dan disebelah kastil, rasanya sangat enak. Sampai saat menulis ini, saya masih ingat rasa saus berpadu dengan kerangnya. Makan malam sempurna sebagai penutup perjalanan 18 hari kami di Italia.

Makan malam di Sirmione. Ini isinya jenis-jenis kerang disiram saus tomat. Rasanya asin. Sausnya dicolek pakai roti. Enaak banget ini
Makan malam di Sirmione. Ini isinya jenis-jenis kerang disiram saus tomat. Rasanya asin. Sausnya dicolek pakai roti. Enaak banget ini.

Selesai menuliskan semua cerita tentang makanan tersebut, perut saya jadi kukuruyuk lapar. Kalau misalkan ada istilah atau nama makanan yang salah saya tuliskan, saya menerima masukan ataupun kritikan karena terus terang saya lupa-lupa ingat nama makanannya. Hanya mengandalkan ingatan saja. Nantikan kelanjutan cerita kuliner kami selama di Italia bagian selanjutnya, akan ada keseruan-keseruan lainnya.

Selamat hari Jumat dan selamat berakhir pekan. Pernah mencicipi makanan Italia? Apa makanan Italia favorit kamu?

-Den Haag, 1 September 2016-

Semua foto adalah dokmentasi pribadi

 

Temu Blogger di Berlin

Beth, Anggi, Deny, Mindy, Mbak Dian. Foto dari kamera Mbak Dian.

Suatu hari sekitar bulan Juni, tanpa sengaja saya membaca rencana beberapa anggota grup whatsapp yang saya ikuti akan mengadakan pertemuan di Berlin. Maksudnya adalah kopi darat sekalian jalan-jalan menyusuri Berlin. Grup whatsapp yang saya ikuti ini anggotanya adalah mereka yang tinggal di Eropa dan terdaftar sebagai anggota @uploadkompakan cabang Eropa. Jadi saya mengenal mereka berawal dari Instagram, berlanjut ke grup whatsapp. Beberapa dari mereka juga blogger. Banyak hal positif yang saya dapatkan sejak bergabung dengan grup ini lebih dari setahun lalu. Topik pembicaraan di grup ini beragam, tetapi tidak jauh-jauh seputar kehidupan sehari-hari di negara masing-masing di Eropa. Pembicaran pun tidak terlalu sering, hanya pada jam-jam tertentu saja, sama dengan dua grup whatsapp lainnya yang saya ikuti. Iya, saya hanya punya 3 grup whatsapp dan itu sudah lebih dari cukup.

Awalnya saya masih ragu untuk ikut serta ke Berlin karena waktunya dua minggu setelah saya dan suami selesai road trip ke Italia dan saya harus mengatur jadwal kerja kalau senin dan selasa tidak masuk ketika ke Berlin. Tapi saya juga ingin ke Berlin dan bertemu dengan mereka. Kemudian saya mendiskusikan hal ini dengan suami. Dia mendukung sekali rencana ke Berlin ini. Dia bilang akan sangat menyenangkan kalau saya bisa bertemu dengan mereka yang selama ini hanya kenal lewat dunia maya, sekalian jalan-jalan ke Berlin. Karena ini adalah girls trip, artinya para suami dari mereka yang akan bertemu di Berlin tidak ikut serta. Dan ini artinya pertama kali sejak menikah saya akan bepergian sendiri ke luar Belanda. Kalau di Belanda bepergian sendiri sudah biasa. Tapi kalau ke Berlin bepergian sendiri akan menjadi pengalaman pertama setelah menikah.

Setelah saya mengkonfirmasikan akan ikut serta ke Berlin pada Beth (pencetus ide pertemuan di Berlin), maka saya, Anggi, Mbak Dian, dan Beth sendiri mulai mengadakan koordinasi tentang penginapan karena kami akan menginap selama 3 malam di Berlin. Sedangkan Mindy dan Mia yang tidak ikut menginap juga ikut menyumbangkan ide tentang tujuan mana saja yang bisa kami kunjungi. Sebenarnya saya juga tidak terlalu khawatir tentang jalan-jalan ke Berlin ini karena ada Mindy dan Beth yang pernah tinggal lama di Berlin sebelum akhirnya pindah ke kota mereka saat ini, juga ada Mia yang tinggal di Jerman dan pernah beberapa kali ke Berlin. Saya mulai mencari perbandingan antara tiket kereta dan tiket pesawat. Kalau naik pesawat sekitar 1.5 jam. Kalau naik kereta sekitar 5 jam dengan harga tiket tidak terlalu beda jauh dengan pesawat. Akhirnya saya memutuskan naik kereta saja karena lebih suka naik kereta dibandingkan naik pesawat meskipun waktunya lebih lama. Saya suka menikmati pemandangan dari kereta.

Karena ini bukanlah kopdar pertama saya dengan beberapa blogger, jadi deg-degannya tidak terlalu terasa seperti saat pertama kali saya merasakan yang namanya kopdaran dengan para blogger yang tinggal di Belanda (ceritanya disini). Dan juga karena saya sudah beberapa kali pernah ketemu Beth (ini yang ke empat, bahkan saya pernah menginap di rumah Beth) juga pernah bertemu Mindy di Frankfurt. Singkat cerita, saya sudah tidak sabar menantikan hari saat saya naik kereta ke Berlin. Dari Utrecht, saya akan pindah kereta di stasiun Duisburg Hbf untuk kemudian menuju Berlin Hbf. Saya sampai membawa bekal makan siang dari rumah. Jadi ingat sewaktu sering ke Jakarta naik kereta ekonomi pada saat masih kecil bersama seluruh keluarga, Ibu pasti membungkus bekal makan siang untuk mengirit pengeluaran. Jadi ketika saya membawa bekal dan makan di Duisburg Hbf, mengingatkan saya akan kenangan masa kecil tersebut.

Setelah sampai Berlin Hbf, saya langsung tercengang. Itu stasiun besar sekali. Saya seperti orang yang baru datang dari desa kecil sampai terlongo-longo dan celingak celinguk melihat stasiun kereta sebesar itu. Saya langsung teringat Tunjungan Plaza (TP) di Surabaya. Iya, Berlin Hbf nampaknya memang sebesar TP 1 dan 2. Pada saat itu, didepan stasiun sedang ada demonstrasi yang awalnya saya pikir akan ada artis yang akan datang dan mereka para fans sedang menunggu di depan stasiun. Ternyata sedang ada demonstrasi.

Berlin Hbf. Langsung ingat Tunjungan Plaza
Berlin Hbf. Langsung ingat Tunjungan Plaza
Berlin Hbf tampak luar. Besar sekali kan ini stasiunnya
Berlin Hbf tampak luar. Besar sekali kan ini stasiunnya

Setelah membeli tiket di mesin yang penuh dengan drama ditambah  saya tersasar dan salah naik kereta (wes biasa ini cerita nyasar dan salah naik kereta :D, bukan sekali dua kali terjadi) padahal saya sudah membaca dengan seksama petunjuknya, akhirnya sampai juga saya di stasiun Zoologischer Garten kemudian jalan kaki menuju AMC Apartments tempat kami menginap selama 3 malam yang lokasinya tidak jauh dari Kurfürstendamm. Sesampainya di Apartemen, sudah ada Beth. Senang rasanya bisa ketemu Beth lagi. Kamar yang kami tempati sangat menyenangkan kondisinya, lengkap semua perabotannya dari dapur dan segala peralatannya, tempat tidurnya juga nyaman, hanya pada malam pertama kami merasa agak kepanasan. Tapi secara keseluruhan tempat ini nyaman, letaknya strategis, juga harganya terjangkau untuk dipakai menginap secara beramai-ramai.

Sambil menunggu Anggi dan Mbak Dian datang, saya dan Beth berjalan-jalan disekitar Apartemen. Lumayan bisa melihat beberapa tempat bersejarah seperti gereja Kaiser-Wilhelm Memorial. Pada sore itu juga bertepatan dengan ada lomba lari dan lomba sepatu roda jadinya rame sekali disekitar Kurfürstendamm. Sepanjang jalan saya dan Beth bercerita banyak hal. Beth menunjukkan ini dan itu, saya masih ternganga dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Maklum saja, terakhir melihat gedung-gedung tinggi seperti itu sewaktu di Jakarta mengurus visa. Di Belanda mana ada gedung menjulang tinggi sekali. Kami ada sedikit drama juga diruangan bawah tanah stasiun, mencari pintu keluar menuju seberang jalan yang tak kunjung ditemukan. Setelah berbelanja buah dan beberapa keperluan lainnya kami kembali ke Apartemen menunggu Mbak Dian dan Anggi. Saat malam mulai datang, mereka datang. Senang rasanya pada akhirnya bisa bertemu dengan orang yang selama ini dikenal hanya dari dunia maya, mendengar suaranya pun tidak pernah. Saya belajar banyak hal selama ini dari kisah perjuangan Mbak Dian (tinggal di Austria), seorang breast cancer survivor, yang ceritanya pernah ditulis Melly disini. Anggi (tinggal di Edinburgh) pun begitu, banyak hal positif yang dia ceritakan melalui blognya, kegigihan dia dan suaminya untuk mencapai cita-cita mereka. Dan Anggi ini ternyata sepupu dekat dari teman dekat saya. Betapa dunia sempit sekali ya.

Hari pertama kami berencana ke Teufelsberg, tempat wisata baru jadi tidak terlalu banyak turis di sana. Beth yang mempunyai ide ini, saya pun mengaminkan tanpa berusaha mencari informasi sebelumnya tentang tempat apa sebenarnya ini (ketahuan malesnya :D). Setelah Mia datang ke hotel, kamipun bergegegas berangkat. Ini kali pertama saya bertemu Mia. Saya merasa senang karena Mia sangat ramah, banyak senyum, dan dia ternyata teman seangkatan kuliah dari suami sepupu dekat saya. Duh, bener-benar sempit sekali dunia ini :D. Sepanjang jalan menuju Teufelsberg, setelah turun dari kereta, kami tidak ada hentinya antara mengoceh dan mengunyah. Ehm, kayaknya yang mengunyah hanya saya dan Anggi haha! Kami sempat mempertanyakan berkali-kali ke Beth apakah jalan yang kami lalui ini benar adanya karena kok tidak sampai-sampai. Beth yang awalnya yakin sempat goyah juga keyakinannya. Akhirnya dia bertanya pada seorang lelaki yang sedang melintas. Ternyata jalan yang kami lalui sudah benar. Singkat cerita dengan melalui jalan tanjakan, sampailah kami di tempat yang ternyata supeerr kece ini. Banyak graffitinya dan setiap pojokan itu bagus semua. Wajib dikunjungi ini kalau misalkan ada yang berencana ke Berlin dan suka dengan graffiti. Kami tentu saja memanfaatkan ini dengan sebaik-baiknya, maksudnya dengan berpose sebanyak-banyaknya. Di tempat ini kami berkenalan dengan dua pemuda tampan, nampaknya mereka adalah model dari London (setelah ditelusuri dari IG nya-niat!). Awal perkenalan (tsah!) karena minta tolong untuk memfotokan kami. Setelahnya ditempat berbeda mereka meminta tolong untuk mengabdikan kebersamaan mereka. Pada beberapa kesempatan, Mbak Dian, Beth, Anggi sigap sekali manjadi fotografer dadakan mereka. Saya malah tertarik mengabadikan pose 3 orang ini saat menjepret satu pemuda ganteng lainnya. Saya selalu tertawa kalau melihat foto-foto mereka tampak belakang :)))

Dari kiri ke kanan : Mbak Dian, Beth, Anggi, Mia, Deny
Dari kiri ke kanan : Mbak Dian, Beth, Anggi, Mia, Deny. Kalau ini pakai kamera Hp yang disenderkan ke tas dan memakai hitungan waktu 😀
Menggemaskan ya.... mobilnya :D
Menggemaskan ya…. mobilnya 😀
Salah satu kenalan kami. Mudah-mudahan dia tidak keberatan fotonya ditaruh disini, kan dia model :)
Salah satu kenalan kami. Mudah-mudahan dia tidak keberatan fotonya ditaruh disini, kan dia model 🙂

Salah satu sudut Teufelsberg
Salah satu sudut Teufelsberg
Teufelsberg dengan model Beth
Teufelsberg dengan model Beth
Teufelsberg
Teufelsberg

Setelah acara bernarsis ria selesai, kami sudah lapar dan membayangkan segala makanan Indonesia karena rencana selanjutnya ke restoran Nusantara sekalian bertemu Mindy. Kami melewati jalan berbeda dengan saat kami datang. Kali ini kami lewat hutan ketika kembali. Pikir kami supaya bisa memotong kompas. Setelah bertanya dan diyakinkan bahwa lewat hutan bisa tembus ke parkiran mobil (dimana ini kami lewati ketika pertama datang), kamipun mengikuti dua orang yang memberitahu tersebut. Sampai pertengahan jalan, tanpa ada papan penunjuk, dan kami kehilangan jejak dua orang tersebut, mulailah kami tebak-tebak buah manggis jalan mana yang bisa dilewati. Dengan sedikit perjuangan karena jalanan kecil yang menurun, mbak Dian di depan sebagai penuntun jalan, ditambah lagi kami yang sudah halusinasi bayangan : soto, tempe mendoan, es cendol, lontong sayur, segala menu yang akan kami makan di restoran Nusantara, sampailah kami pada tempat parkir yang dituju. Saat di hutan tadi, kami sudah membayangkan kemungkinan buruk tersesat. Tapi kami masih berpikir positif tidak akan tersesat karena terdengar suara mobil yang melintas. Setelahnya kami sudah tidak sabar menuju Nusantara.

Foto dari kamera Mbak Dian
Foto dari kamera Mbak Dian
Saat "penjelajahan". Foto dari kamera Mbak Dian
Saat “penjelajahan”. Foto dari kamera Mbak Dian
Kai di Nusantara kalap! pesan mendoan sampai dua porsi. Mia takzim makan bebeknya :D. Foto dari HpMbak Dian
Kami di Nusantara kalap! pesan mendoan sampai dua porsi. Mia takzim makan bebeknya :D. Foto dari HpMbak Dian. Sayang Mindy tidak bisa gabung karena masih dalam perjalanan menuju Berlin

Sampai di Nusantara, kami langsung kalap pesan ini dan itu. Di Nusantara ini juga banyak cerita mengalir. Dari cerita sedih, bahagia, maupun cerita yang biasa saja. Tidak lupa Anggi mengajarkan dengan praktek cara memulas lippenstift (lipstik) pada Beth. Dari Anggi ini pula saya konsultasi cara merawat wajah, apa saja langkah-langkahnya. Pokoknya Anggi ini pakar lipstik dan perawatan wajah.

Hari selanjutnya kami lewati dengan acara masing-masing. Saya, Anggi, dan Mbak Dian mengkuti free walking tour dan boat tour. Mindy yang baru bergabung kemudian jalan bersama Beth ke Mall of Berlin, Mia sudah pulang ke kotanya, Beth malamnya lihat konser Sting. Kami sempat ketemu Mindy sebentar di restoran Mabuhay. Menurut Beth, Mabuhay ini dulunya adalah restoran Filipina (sesuai namanya ya), tetapi setelah jadi restoran Indonesia namanya tidak berubah. Makanan disini super enaknya, benar-benar citarasa makanan rumahan. Kalau di Nusantara kami kalap, di Mabuhay kami kalap kuadrat. Pesan ini itu terus berlanjut. Dan herannya, habis semua. Setelah ditotal, rasanya kami tidak percaya makanan begitu banyaknya dan minum tidak sampai €60 untuk 5 orang. Sebelum makan, kami riuh berbincang, setelah makanan datang seperti mengheningkan cipta, khusyuk dengan piring masing-masing :D. Mabuhay ini benar-benar patut dicoba kalau ke Berlin, rekomendasi Beth memang mantap! Selama 4 hari kami bersama, satu topik yang selalu jadi pembicaraan hangat, yaitu makanan Indonesia. Itu yang namanya ngobrol tentang makanan Indonesia yang kami rindukan memang tidak ada habisnya, sambung menyambung dan saling timpal. Makanan Indonesia memang menjadi perekat sesama perantau.

Mabuhay - Berlin
Mabuhay – Berlin
Pesanan menu ronde pertama. Karenamasih ada pesanan-pesanan selanjutnya. Foto dari kamera Mbak Dian
Pesanan menu ronde pertama. Karenamasih ada pesanan-pesanan selanjutnya. Foto dari kamera Mbak Dian

Setelah dari Mabuhay, kami pergi ke gedung parlemen (Reichstag). Niatnya mencoba keberuntungan untuk mendapatkan tiket naik ke atas tanpa reservasi terlebih dahulu. Tapi ternyata tiket hari itu untuk yang go show sudah tidak ada, yang tersedia tiket keesokan harinya. Akhirnya kami ya hanya berfoto ria di depan gedung parlemen. Selama dua hari pergi rombongan, kami selalu membeli tiket grup untuk naik transportasi umum maksimal 5 orang seharga €17 (kalau tidak salah) yang bisa dipakai satu hari. Itu hitungannya murah sekali per orang.

Beth, Anggi, Deny, Mindy, Mbak Dian. Foto dari kamera Mbak Dian.
Beth, Anggi, Deny, Mindy, Mbak Dian. Foto dari kamera Mbak Dian.

Empat hari kebersamaan yang sangat menyenangkan dan tidak akan terlupakan. Banyak cerita yang mengalir, keseruan penuh tawa, sempat juga menangis terharu. Banyak pelajaran berharga saya dapatkan dari mereka. Tentang perjuangan menjadi perantau di negara orang, cerita dari masing-masing negara yang menjadi tempat tinggal mereka saat ini, tentang kegigihan, kesetiaan, tentang berpikir positif dan tidak gampang nyinyir. Berpikir dan bertindak kritis sangat dianjurkan, tetapi harus dibedakan dengan nyinyir. Tentang manfaat lingkungan yang memberikan aura positif dan lebih baik meninggalkan segala sesuatu yang membawa energi negatif, baik di dunia maya maupun dunia nyata. Mereka, wanita-wanita tangguh dan mandiri dengan ceritanya masing-masing. Saya yang baru 1.5 tahun merantau beda benua dan 2 tahun pernikahan, belajar banyak hal dari mereka. Bersyukur sekali saya memutuskan untuk ke Berlin bertemu dengan mereka.

Mudah-mudahan kami selalu diberikan kesehatan yang baik dan umur yang barakah supaya bisa mewujudkan girls trip selanjutnya, di negara yang lainnya. Terima kasih untuk Anggi, Beth, Mindy, Mbak Dian, dan Mia atas kepercayaannya bercerita segala hal, juga saya pun bisa bercerita banyak hal pada kalian. Semoga pertemanan kita akan selalu baik-baik saja kedepannya.

Cerita seru Beth tentang perjalanan kami bisa dibaca di sini

-Den Haag, 15 Agustus 2016-

Semua foto milik pribadi kecuali yang ada keterangan pinjam.