Musim Dingin yang Hangat di Malta (Bagian 2-Selesai)

Pemandangan dari teras restoran

Sesampainya di Malta, badan saya langsung meriang. Bukan, bukan karena perubahan suhu tapi memang seminggu sebelum berangkat tenggorokan sudah tak nyaman dan saya merasa, pasti akan flu. Ternyata benar, selama seminggu di Malta, hidung meler terus, bersin ga selesai-selesai, badan meriang, pusing, batuk, wah lengkaplah. Tapi karena suasana liburan ya, jadi kalau pas jalan ke luar siang hari, tidak terlalu berasa. Begitu sampai hotel, langsung deh meriangnya kumat lagi. Eh, begitu  kembali ke Belanda, keesokan harinya datang salju pertama kali. Kebayang kan dari suhu 20ºC langsung ke -1ºC. Walaupun begitu, saya tetap menikmati liburan kami seminggu di sana. Sangat menikmati malah sampai-sampai trekking dan jalan kaki setiap hari 10-15 km tidak dirasa.

Baca : Musim Dingin yang Hangat di Malta (Bagian 1)

Saya teruskan ya cerita tentang Malta. Bagian pertamanya bisa dibaca pada tautan di atas. Untuk mengingatkan kembali, Saya tampilkan peta Malta, jadi terbayang kalau negara pulau ini tidak terlalu besar.

Malta_Map_-_English_Language_School__Learn_English_-_ELA_Malta (Sumber : http://www.elamalta.com/malta-map)
Malta_Map_-_English_Language_School__Learn_English_-_ELA_Malta (Sumber : http://www.elamalta.com/malta-map)
  • Hotel Yang Cihuy Lokasi dan Fasilitasnya

Hotel yang kami tempati namanya Mellieha Bay yang letaknya di kota Mellieha. Kalau dilihat di peta, letaknya di ujung utara Malta. Meskipun nampaknya jauh sekali, tapi ke mana-mana kami tidak merasakan kesulitan karena kemudahan transportasi yang ada di Malta (hotel ini letaknya dekat dengan halte bus). Yang akan saya tuliskan selanjutnya bukan postingan berbayar ya, murni opini dari konsumen yang puas.

Selama seminggu menginap di hotel ini, kami sangat puas sekali dari semua fasilitas yang ada yang kami gunakan, bahkan sampai ke para pegawai di sana yang sangat cekatan membantu dan juga sangat ramah. Saat malam terakhir kami makan di sana, saya mengucapkan terima kasih kepada manajer restoran yang selalu membantu kami di sana. Malah saya sampai dikasih bekal  pisang dua biji untuk dibawa ke Bandara keesokan paginya (karena kami dijemput jam setengah 5 pagi dari hotel, penerbangan jam setengah 8) karena tahu setiap pagi saya pasti mengambil pisang. Sampai terharu saya.

Bagian depan hotel. Rasanya pengen bawa pulang daun pisangnya, bikin pepes
Bagian depan hotel. Rasanya pengen bawa pulang daun pisangnya, bikin pepes
Pemandangan dari balkon restoran Ini salah satu kolam renangnya. Ada yang lebih besar dibagian belakang hotel
Pemandangan dari balkon restoran Ini salah satu kolam renangnya. Ada yang lebih besar dibagian belakang hotel
Pemandangan dari teras restoran
Pemandangan dari teras restoran

Di hotel ini, kami mendapatkan dua kali makan yaitu  sarapan dan makan malam. Menu sarapannya sih standar ya, tapi menu makan malamnya sungguh luar biasa mewah dan pilihannya banyak sekali. Saya tidak ada fotonya karena hampir setiap waktu makan malam di restoran tidak membawa kamera (bahkan Hp seringnya saya tinggal di kamar). Tapi percayalah, pilihan makanannya sungguh mewah sekali dan makanan penutupnya juga tidak kalah mewahnya. Sebagai gambaran, saya tiap hari pasti makan es krim dan taart sebagai makanan penutup. Kalau menu-menu utamanya setiap hari ganti-ganti tidak ada yang sama, Sistemnya Buffet. Misalkan menunya satu malam ada daging kambing, ikan bakar, ayam panggang, nasi, pasta, sayuran yang beberapa macam, duh pokoknya banyak deh. Restorannya bisa menampung 340 orang dan untuk yang punya balita jangan khawatir ada banyak high chair disediakan. Hotel ini juga Kids friendly karena banyak fasilitas yang disediakan untuk anak-anak juga.

Ada taman bermain anak-anak di ujung belakang
Ada taman bermain anak-anak di ujung belakang
Iseng motoin kucing yang selalu ngintilin kami kalau akan sarapan
Iseng motoin kucing yang selalu ngintilin kami kalau akan sarapan
Ini iseng juga motonya
Ini iseng juga motonya

Nah yang paling saya suka dari hotel ini adalah tempatnya yang pinggir pantai, tepatnya di pantai Ghadira yang merupakan pantai terbesar di Malta. Jadi setiap bangun tidur melihat dari balkon ya pantai, malamnya bisa melihat kelap kelip kota berasa romantis karena cahanya terpantul di air laut. Keren lokasinya. Fasiltas lainnya seperti tempat bermain anak-anak, kolam renang yang super besar dan ada di beberapa lokasi, gym, kotak pos, dll. Intinya hotel ini memudahkan tamunya. Letaknya juga hanya 5 menit jalan kaki dari halte bus terdekat dan tidak jauh kalau mau ke pulau Gozo atau Comino. Kalau satu selera, saya sangat merekomendasikan hotel ini jika berkunjung ke Malta.

DSC09224Pemandangan dari balkon kamar, pagi hari
DSC09224Pemandangan dari balkon kamar, pagi hari
Pemandangan dari balkon kamar, sore hari
Pemandangan dari balkon kamar, sore hari
Pemandangan dari balkon kamar, malam hari (ga paham cara seting kamera malam hari)
Pemandangan dari balkon kamar, malam hari (ga paham cara seting kamera malam hari)
  • Transportasi Mudah

Transportasi di Malta sangatlah mudah. Sewa mobil, kendaraan umum seperti bus umum atau bus wisatawan. Selama di Malta, satu minggu kami wara wiri dengan memanfaatkan bus umum. Kami membeli tiket bus yang berupa kartu, berlaku selama 7 hari dengan harga €21. Kartu transportasi ini ada tiga macamnya, yang dua lainnya terbatas hari dan tujuannya. Sedangkan yang kami gunakan ini benar-benar bisa digunakan sepuasnya selama7 hari tersebut. Jika dibandingkan dengan Belanda, harga tersebut sangatlah murah karena kami bisa melancong kemanapun di Malta bahkan ke Gozo dengan menggunakan kartu transport ini. Kalau tidak ingin membeli kartu paketan seperti ini, bisa membeli langsung tiketnya pada supir bis. Sekali jalan jauh dekat harganya kalau tidak salah sekitar €1.5.

Kartu transport yang kami gunakan selama di Malta
Kartu transport yang kami gunakan selama di Malta

Biasanya kalau kami liburan dalam waktu lama, suami lebih senang sewa mobil dan road trip. Tapi kali ini beda, karena setelah membaca di beberapa forum kalau transportasi di Malta itu gampang, akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan transportasi umum sehari-harinya. Apalagi ternyata setirnya sebelah kanan, makin males lah suami. Dia tidak terbiasa. Bus umum di Malta buat saya sangat nyaman dan tepat waktu sesuai jadwal yang tertera pada masing-masing halte. Rata-rata bus umum beroperasi sampai sekitar jam 11 malam dan beroperasi kembali pagi hari sekitar jam 5. Jangkauan rutenya pun sangatlah luas, bahkan sampai pelosok ada. Jadi kalau ke Malta dan tidak ingin menyewa kendaraan sendiri, dengan naik bus umum pun sudah sangat nyaman. Ada tempat khusus stroller dan khusus lansia serta Ibu hamil. Di dalam bis pun ada AC nya.

Jadwal bus yang tepat waktu
Jadwal bus yang tepat waktu
Ada tempat khusus stroller
Ada tempat khusus stroller
Busnya nyaman dan ber AC
Busnya nyaman dan ber AC

Tips 1: Kalau menunggu di Halte dan dari jauh bisnya sudah terlihat, acungkan tangan ya untuk memberi tanda bahwa kita akan naik. Kami waktu hari pertama tidak tahu dan berpikir kalau bus pasti akan berhenti di setiap halte jadi tidak perlu memberi tanda. Ternyata, harus memberi tanda. Maklum, kalau di Belanda saya tidak pernah memberi tanda kalau ingin naik bis haha.

Tips 2 : Jangan kaget ya kalau supir bisnya meliuk-liuk saat menyetir dan sering mengerem dadakan. Bukan karena mereka ugal-ugalan, tapi kontur jalan di Malta memang sempit, naik turun dan belokannya curam. Setelah berada di sana dan tahu bagaimana kondisi jalan di Malta, kami bersyukur tidak menyewa mobil dan menyetir sendiri, bisa stress mendadak suami. Kalau melihat gaya menyetir sopir bis di sana, mengingatkan saya akan sopir bis metromini dan kopaja di Jakarta haha.

Tips 3 : Kalau menggunakan kartu transportasi, alat tap kartunya dekat sopir. Hanya saat masuk saja, kalau keluar tidak perlu check out.

  • Harga Lebih Murah

Jika dibandingkan dengan Belanda tentu saja. Saya membandingkannya dari harga makanan dan beberapa minuman yang kami beli. Tidak terlalu murah sekali, tapi relatif lebih murah. Mata uang yang digunakan Euro.

  • Kuliner Malta

Terus terang selama di Malta kami tidak terlalu banyak mengeksplor kuliner khas Malta itu bagaimana. Berbeda dengan kebiasaan kami sebelum-sebelumnya kalau liburan, mengeksplor kuliner merupakan bagian dari agenda. Tapi untuk kali ini tidak. Hal ini ditunjang oleh makan malam kami yang disediakan hotel dan menunya yang memuaskan dan bercitarasa kuliner Malta. Dan kami juga tidak bisa sampai malam berada di luar hotel. Maksimal jam 7 malam kami sudah harus sampai di hotel lalu makan malam. Nah yang saya rasakan tentang kuliner di Malta (dari yang kami makan di hotel), lebih terasa citarasa masakan arab meskipun rasa rempahnya tidak sekuat makanan arab. Mungkin karena perpaduan dengan rasa dari Italia sehingga rasa masakan arabnya tidak terlalu dominan. Sebenarnya ada makanan khas Malta yang ingin saya coba waktu itu yaitu kelinci yang dimasak secara tradisional Malta namanya Fenek, yang merupakan makanan nasional. Tapi saya kok tidak tega makan kelinci, akhirnya saya urungkan niat tersebut.

Ada beberapa jajanan di Malta yang kami coba salah satunya seperti foto di bawah, namanya honey ring. Ini rasanya manis dan beraroma kayu manis. Buat saya, tidak terlalu masuk untuk lidah. Dasarnya saya tidak suka jajanan manis. Nah jajanan di Malta, rata-rata manis. Jarang yang asin atau gurih. Seperti halnya jajanan arab yang kebanyakan juga berasa manis.

Salah satu jajanan di Malta yang hampir setiap hari dicoba.
Salah satu jajanan di Malta yang hampir setiap hari dicoba.
  • Turis Asia Lebih Sedikit

Mungkin karena waktu kami ke sana bukan musim liburan, jadinya cukup kaget juga nyaris tidak bertemu dengan turis Asia. Selama 7 hari, rasanya kami bertemu turis Asia sewaktu di Popeye Village saja. Maklum selama ini kalau liburan kan selalu ada turis Asia terutama Jepang atau Korea. Jadinya pas ke sana sepi turis Asia berasa gimanaaa gitu rasanya. Berasa nyaman maksudnya haha karena mereka tidak mendominasi tempat-tempat tertentu dengan berfoto berlama-lama atau menjulurkan tongsis sepanjang mungkin. Jangan salah, saya juga membawa tongsis kok, tapi selalu lihat tempat. Kalau ramai, tidak saya keluarkan, daripada mengganggu orang lain.

Malah selama di sana, saya bertemu dengan orang-orang Asia terutama dari Filipina dan Thailand, bukan sebagai turis tetapi sebagai penduduk di Malta. Saya pernah bekerja di perusahaan Filipina, karenanya bahasa tagalog tidak asing buat saya. Begitu mendengar banyak orang berbicara bahasa Tagalog, saya langsung tahu. Suatu hari saat kami sedang di bis, ada seorang perempuan (dan satu temannya) menyapa saya dan menanyakan saya dari mana. Ketika mereka tahu kalau asal saya dari Indonesia, mereka lalu bercerita kalau selama ini jarang menjumpai turis dari Indonesia, bahkan saat musim liburan. Karenanya, restoran Indonesia juga jarang dijumpai. Hanya ada satu dua saja. Dari mereka juga saya tahu kalau di Malta banyak pendatang dari Filipina dan Thailand dan bekerja kebanyakan jadi pengasuh anak dan supir bis. Pantas saja, saya seringnya menjumpai sopir bis dengan wajah Asia.

 

Nah begitulah cerita saya tentang hal-hal yang saya jumpai selama di Malta. Liburan di Malta berbeda dengan liburan dalam jangka waktu lama yang selama ini kami lakukan. Karena kali ini tidak pindah-pindah hotel,jadi berasa santainya karena ada satu tempat tujuan yang sama sebagai persinggahan setiap harinya. Sama mungkin ya seperti hati, kalau ada yang dituju setiap waktu ,sama, dan tidak berpindah, rasanya nyaman *Lah, ujung-ujungnya nyambung ke masalh hati haha.

Selanjutnya akan saya tuliskan tempat-tempat yang kami kunjungi selama di Malta.

-Nootdorp, 20 Januari 2019-

 

Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta

Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta

Sejak saya pindah ke Belanda, setiap Desember kami menyempatkan untuk mengunjungi Pasar Natal. Tahun 2015, kami ke Pasar Natal yang ada di Köln, Jerman. Tahun 2016, kami ke Pasar Natal yang ada di Den Haag. Sedangkan tahun 2017, kami libur dulu tidak datang ke pasar Natal karena kondisi yang tidak memungkinkan. Tahun 2018 ini, kami kembali datang ke Pasar Natal dan kali ini kami beruntung sewaktu ke Malta ternyata bertepatan dengan pasar Natal yang skalanya besar bernama Natalis Notabilis.

Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta

Natalis Notabilis adalah pasar Natal yang lokasinya berada di jalan-jalan sempit dan bersejarah di kota Rabat, Malta. Jalan sempit ini diubah menjadi seperti negeri yang bernuansakan Natal dan mengusung tema yang unik. Menampilkan kios-kios yang terbuat dari kayu dan berjejer dihiasi oleh lampu-lampu cantik adalah salah satu daya tariknya.

Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta

Natalis Notabilis tahun 2018 berlangsung dari tanggal 7-13 Desember, dari jam 6 sore sampai 11 malam dan di hari-hari tertentu dari jam 11 siang sampai jam 11 malam. Tidak hanya makanan saja yang ada di pasar Natal ini, tetapi barang-barang kerajinan tangan, pakaian, pernak pernik dekorasi rumah dan masih banyak lainnya yang juga dijual.

Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta

Makanan yang dijual pun, dari yang internasional seperti makanan khas Jerman, sampai makanan lokal yang rasanya manis seperti Qagħaq tal-għasel (Honey Ring), Qastan tal-imbuljuta (cokelat panas dengan chestnut), Imqaret (Date Pastry), dan datang ke pasar Natal tak lengkap rasanya jika tidak mencicipi Glühwein. Kami juga sempat membeli Honey Ring, cuma saya ternyata tidak cocok rasanya. Terlalu manis untuk lidah saya.

Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Ini rasanya manis, isinya seperti Vla. Namanya Cannoli - Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Ini rasanya manis, isinya seperti Vla. Namanya Cannoli – Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Honey Ring - Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Honey Ring – Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta
Gluhwein - Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Gluhwein – Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta

Setiap pasar Natal mempunyai keunikan dan ciri khas masing-masing. Karenanya kami selalu tertarik untuk mengunjungi pasar Natal yang berbeda setiap tahunnya, jika memungkinkan. Merasakan kehangatan suasana di bulan Desember dan melihat keceriaan yang ada di sana, kesyahduan suasana. Semoga kedepannya pasar Natal yang ada di seluruh dunia tidak lagi dinodai oleh gangguan dari pihak-pihak yang menyebabkan banyak orang menjadi meninggal dunia. Semoga dunia kembali semakin damai.

Natalis Notabilis - Pasar Natal di Malta
Natalis Notabilis – Pasar Natal di Malta

Tahun ini pertama kalinya kami tidak memasang Pohon Natal, sampai situasi dan kondisi memungkinkan, mungkin 2 tahun lagi. Namun hal tersebut tidak mengurangi semangat kami untuk merasakan dan menikmati kesyahduan Natal. Di rumah kami bahkan sudah ada Nastar dan Kue Mawar, yang jumlahnya menyusut drastis dari yang nampak difoto karena setiap hari dicamilin.

Enak banget ini
Enak banget ini

Saya mewakili kami sekeluarga mengucapkan Selamat hari raya Natal untuk teman-teman semua yang merayakan. Semoga dunia ini semakin dipenuhi dengan kehangatan dan cinta kasih, damai untuk semuanya. We Wish You A Merry Christmas and Happy Holidays.

Pohon Natal di rumah kami tahun kemaren
Pohon Natal di rumah kami tahun kemaren

-Nootdorp, 23 Desember 2018-

Musim Dingin yang Hangat di Malta (Bagian 1)

Malta

Kami baru saja beberapa hari di rumah setelah satu minggu “mengungsi” ke negara yang sepanjang tahun berlimpah sinar matahari, yaitu Malta. Anggap saja ini liburan untuk ulang tahun saya yang dipercepat beberapa bulan karena biasanya kalau saya ulang tahun, pasti kami pergi liburan. Dikarenakan pada saat ulang tahun saya nanti akan ada kesibukan yang tidak mungkin meninggalkan Belanda ataupun jalan-jalan jauh meskipun sekitar Belanda, ya jadi anggap saja ini pengganti liburan ulang tahun  (haha ini sih sebenarnya agak maksa). Aslinya sih ya ini liburan dadakan. Jadi pada suatu hari, suami tiba-tiba melontarkan ide untuk liburan akhir tahun, sekalian pertama kali ngungsi pada saat musim dingin di Belanda. Setelah mendapatkan beberapa alternatif tempat, akhirnya pilihan jatuh ke Malta, ide dari seorang teman baik di sini.

Kami baru benar-benar memutuskan akan pergi kira-kira 1.5 minggu sebelum waktu keberangkatan. Biasanya yang kebagian mencari informasi hotel dan tempat-tempat yang akan kami datangi, itu tugas saya. Tapi karena mendadak dan banyak hal yang saya urus dalam minggu tersebut, akhirnya suami yang mengurus semua hal untuk liburan kali ini. Dia bilang sudah ikutan paket Tour. Wah, saya kaget juga ya, kok kali ini mau ikutan Tour karena selama ini tidak pernah. Dia bilang paket yang ditawarkan murah. Oh ternyata setelah saya tanya lebih dalam, maksudnya paket tour ini adalah harga pesawat dan hotelnya saja. Dan memang jatuhnya murah sekali untuk ukuran satu minggu di sana. Jadi kami kali ini memanfaatkan jasa TUI. Dan testimoni dari kami, puas karena semua diurus termasuk penjemputan dari Bandara di Malta sampai ke hotel dan begitu juga saat kembali. Nah sehari-harinya, ya kami jalan sendiri, tidak ikut dengan paket tour yang mereka tawarkan, jadi lebih fleksibel.

Kami berangkat dari rumah jam setengah 9 pagi karena Air Malta, pesawat yang membawa kami ke Malta jadwalnya berangkat setengah 12. Kali ini kami hanya membawa satu koper besar dan masing-masing dari kami membawa tas punggung, semua untuk keperluan satu minggu untuk sekeluarga. Ternyata oh ternyata, sesampainya di Schiphol, membaca pengumuman, penerbangan mundur tiga jam. Haduhh kesel banget kalau ada jadwal mundur begini. Terbayang sampai Malta pasti sudah gelap karena lama penerbangan 3 jam. Singkat cerita, jam setengah tiga sore kami baru terbang dan sampai Malta jam setengah 6. Selama penerbangan, aman terkendali, hanya sedikit kendala minor saja. Kami baru sampai hotel sekitar jam 7 malam dengan keadaan yang luar biasa capek karena jadwal penerbangan yang mundur.

Air Malta
Air Malta

Kalau berbicara tentang Malta, dulu selalu saya mikirnya negara pulau ini selalu padat dengan turis, terlebih turis Eropa. Selain itu, saya juga berpikirnya yang bisa dikunjungi hanyalah pantai saja. Tetapi saya salah besar. Ada banyak hal yang baru saya ketahui sebelum berkunjung ke Malta karena sempat membaca sejarahnya dan juga saat ada di sana jadi bisa tahu secara langsung seperti apa dan bagaimana Malta itu sesungguhnya, termasuk mengamati orang-orang lokalnya. Pada tulisan kali ini, saya belum akan menuliskan tempat-tempat yang kami kunjungi, melainkan berbagi informasi tentang Malta dari pengalaman kami ke sana. Karena tulisan ini ternyata jadinya panjang, maka akan saya bagi menjadi dua bagian.

  • Sekilas Tentang Malta

Malta atau yang disebut sebagai Republik Malta adalah negara pulau. Kepulauan Maltese yang terdiri dari Malta, Comino, dan Gozo dikelilingi oleh birunya laut mediterania di selatan Sisilia. Karena letaknya juga dekat dengan Tunisia, maka pengaruh Afrika Utara juga ada di pulau ini. Malta yang tidak terlalu besar, yaitu hanya 27km panjang dan 14km lebar, menjadikan Malta termasuk 10 negara terkecil di dunia.

Malta_Map_-_English_Language_School__Learn_English_-_ELA_Malta (Sumber : http://www.elamalta.com/malta-map)
Malta_Map_-_English_Language_School__Learn_English_-_ELA_Malta (Sumber : http://www.elamalta.com/malta-map)

Bahasa resmi yang diguanakan di Malta adalah Bahasa Maltese dan Inggris. Bahasa Maltese merupakan percampuran antara bahasa Arab dan Italia. Karenanya saat pertama kali saya mendengarkan warga lokal berbicara, langsung saya mengenali aksen arabnya. Bahkan banyak jalan banyak yang masih menggunakan kosakata arab dan ada dua kota favorit para turis yang terdengar sangat Arabic, yaitu Rabat dan Mdina. Tidaklah heran karena bangsa Arab pernah memerintah negara ini selama 220 tahun sebelum akhirnya dikoloni oleh Inggris dan beberapa bangsa Eropa lainnya. Negara ini sangat bangga dengan Ksatria Malta yang legendaris, yang berjuang melawan Turki dan meluncurkan Perang Salib.

  • Musim Terbaik Mengunjungi Malta

Tidak ada waktu terbaik untuk mengunjungi Malta karena sepanjang tahun adalah waktu yang baik, matahari menyinari negara ini, bahkan saat musim dingin sekalipun. Sewaktu kami di sana, tidak sekalipun turun hujan dan suhu maksimal 20 derajat celcius. Jadi bisa dibayangkan betapa senangnya kami selama seminggu merasakan hangat matahari tanpa harus menggunakan jaket (meskipun kadang anginnya agak semriwing dingin ya), sedangkan suhu di Belanda sudah masuk ke angka minus di pagi hari. Dari beberapa artikel yang saya baca, lebih enak lagi jika mengunjungi Malta saat musim semi dan musim gugur. Jika musim panas, matahari terlalu terik dan yang pastinya penuh sesak turis juga karena musim liburan.

Matahari cerah - Dingli Cliffs
Matahari cerah – Dingli Cliffs

Karena kami ke sana bukan musim liburan, jadi berasa sekali kalau Malta itu sepi. Sepanjang minggu, yang sering kami temui adalah rombongan Oma dan Opa dan juga sebagian kecil keluarga dengan anak balita. Bahkan di hotel tempat kami menginap, lebih banyak rombongan Oma dan Opa. Kami kasak kusuk, kalau musim panas pasti hotel ini penuh dengan anak-anak muda. Syukurlah kami ke sana saat musim dingin dan bukan musim liburan jadi di mana-mana tidak penuh sesak dengan turis. Nah keuntungan lainnya, harga tiket pesawat dan hotelnya juga jadi super murah.

  • Malta Bukan Hanya Tentang Pantai

Seperti yang saya singgung sebelumnya, dulu saya mengira Malta itu hanya tentang pantai dan pantai. Ternyata saya salah. Sejarah Malta sangat menarik untuk diketahui dan banyak bangunan-bangunan bersejarah yang sangat indah. Tidak hanya tentang sejarahnya, alam Malta pun benar-benar membuat saya terpesona, indah. Selama kami di sana, terus terang tidak terlalu banyak tempat yang kami kunjungi karena liburan kali ini benar-benar santai. Kami benar-benar menikmati alam Malta dan keindahan bangunan dan sejarahnya. Menyusuri setiap sudut kota yang kami datangi, menyusuri gang-gangnya dan masuk serta duduk-duduk di depan bangunan-bangunannya yang indah.

Salah satu gang di kota Rabat
Salah satu gang di kota Rabat
Ta' Pinu, Gereja terbesar di Pulau Gozo
Ta’ Pinu, Gereja terbesar di Pulau Gozo

Karena kami tinggal di negara yang sangat datar, begitu melihat ada bukit, kaki rasa gatel juga untuk trekking. Jadilah beberapa kali kami sempat trekking juga. Lumayan juga lho kami jalan kaki dan atau trekking kalau ditotal setiap harinya bisa mencapai 10km-15km. Begitu sampai atas, rasanya terbayarkan usaha naik saat melihat pemandangan laut yang luar biasa indahnya. Mungkin karena darah saya adalah anak pesisir, jadi kalau lihat laut rasanya seperti bertemu saudara kandung, riang dan gembira luar biasa.

Malta sangat cantik!

Malta
Malta
Trekking ke Kastil Merah di Mellieha
Trekking ke Kastil Merah di Mellieha
Trekking di Dingli Cliffs
Trekking di Dingli Cliffs

Untuk bagian satu, sampai disini dulu ya. Nanti akan saya lanjutkan ke bagian kedua tentang hotel yang kami tempati yang sangat cihuyy fasilitas dan lokasinya, tentang kemudahan transportasi di Malta, Kuliner Malta, Harga yang lebih murah, dan turis-turis yang datang ke Malta. Jadi, simak bagian selanjutnya

-Nootdorp, 19 Desember 2018-

Keindahan Lake Como – Italia

Como - Lake Como - Italy

Catatan perjalanan di Italia pada tahun 2016

 

Hari kedua di Italia, kami menuju ke tujuan liburan selanjutnya yaitu Lake Como. Dari Milan, dengan mengendarai mobil sewa, tidak terlalu membutuhkan waktu lama untuk sampai ke penginapan kami di Lake Como, sekitar 1.5 jam. Kami menyewa kamar melalui Airbnb, yang jika dilihat dari foto-fotonya letaknya sangatlah menyenangkan dengan pemandangan Lake Como yang sangat fantastis. Ternyata oh ternyata, pemandangan yang luar biasa indahnya harus dibayar dengan susah menuju ke lokasi penginapan karena letaknya sangat di atas bukit. Dan dari tempat parkir mobil ke tempat penginapan harus berjalan kaki selama 10 menit melewati hutan kecil. Terbayang kalau malam lewat jalan setapak ini, berasa horornya *produk dibesarkan oleh film-film horor macam Suzanna ya begini ini, di mana-mana yang terpikir hantu haha.

Lake Como - Italia
Lake Como – Italia

Jalan sepanjang Lake Como cukup curam, sempit dan banyak kelokan. Untung saja suami lihai mengemudikan mobil, walaupun saya sepanjang jalan merepet, “Aduh, awas hati-hati. Aduh jangan ngebut-ngebut donk, yang penting sampai dengan selamat. Duh ga usah salip-salipan deh, jantungku ga kuat rasanya.” Yah maklum ya, orang Belanda memang kebanyakan kalau nyetir luar biasa ngebutnya (tapi tetap sesuai peraturan) apalagi kalau sudah main rem, kalau tidak tahan, jadi mual-mual.

Penginapan yang kami sewa selama tiga malam ini adalah usaha keluarga. Ada 6 kamar yang pemandangannya langsung ke Lake Como. Apalagi ruang makannya, benar-benar pengalaman yang tak terlupakan bisa makan sambil berlama-lama menatap suguhan alam yang indah langsung di depan mata.

Jalan menuju penginapan di Lake Como - Italia
Jalan menuju penginapan di Lake Como – Italia
Halaman depan penginapan
Halaman depan penginapan
Pemandangan dari ruang makan di penginapan - Lake Como - Italia
Pemandangan dari ruang makan di penginapan – Lake Como – Italia

Jika sedang perjalanan darat di Italia, saran saya sempatkanlah untuk mengunjungi beberapa danau di Italia yang memang terkenal dengan keindahannya seperti Lake Maggiore, Lake Garda, dan tentu saja Lake Como. Masih banyak yang lainnya juga tentu saja. Lake Como dengan luas 146 kilometer persegi merupakan danau terbesar ke tiga di Italia setelah Lake Garda dan Lake Maggiore. Kami mengunjungi ke tiga danau-danau tersebut. Kalau sudah singgah di Milan, tak ada salahnya untuk mampir ke Lake Como karena jarak yang tidak terlalu jauh dan untuk merasakan pengalaman yang berbeda, jauh dari hiruk pikuk di Milan.

Banyak pesohor yang memiliki properti di sini, sebut saja Goerge Clooney, Richard Branson, Madonna, dan masih banyak lainnya. Lake Como juga menjadi tempat latar belakang di beberapa film seperti : Ocean’s Twelve, Star Wars: Episode II – Attack of the Clones (yang tempat pengambilan gambarnya di Villa del Balbianello), James Bond movie Casino Royale juga di Villa del Balbianello. Karena terkenal sering menjadi latar belakang di beberapa film dan banyak pesohor yang ke Lake Como, maka banyak turis yang mengunjungi tempat ini. Dari pengalaman kami mengunjungi 3 danau terbesar di Italia, Lake Como yang paling banyak turisnya. Namun, masih dalam taraf yang nyaman karena Lake Como sendiri terdiri dari banyak kota dan sangat luas, jadi turis-turis yang datang tidak terpusat pada satu tempat atau kota saja.

Dari ruang makan bisa langsung melihat danaunya - Lake Como - Italia
Dari ruang makan bisa langsung melihat danaunya – Lake Como – Italia

Supaya lebih puas menjelajah Lake Como dan bisa mengunjungi beberapa kota yang ada di sana, menggunakan kapal adalah pilihan yang tepat dengan membeli tiket terusan yang bisa digunakan satu hari penuh. Dengan membeli tiket terusan, kita bisa naik dan turun di beberapa kota tanpa harus terburu waktu dan lebih hemat, jika memang tujuannya ingin menjelajah Lake Como dalam satu hari itu. Selain itu, pemandangan dari kapal juga luar biasa indahnya, mata dimanjakan oleh keindahan danau ini.

Pagi itu, kami mendapatkan kejutan dari pemilik penginapan. Karena hari itu suami berulangtahun, maka mereka memberikan secara gratis taart dan sebotol wine. Saya sedang berpuasa, maka saya minta tolong untuk disimpankan beberapa potong taart untuk saya makan saat berbuka nanti. Oh ya, selama kami di Italia, saya jadi memperhatikan kalau orang Italia ini doyan sekali dengan kue-kue yang super manis. Dan dimakannya dalam segala waktu. Bahkan sarapan saja selalu disuguhi kue manis. Saya yang tidak terlalu suka manis, hanya bisa memandangi kue-kue tersebut, walaupun sesekali mencicipi dalam potongan yang sangat kecil.

Naik kapal ini untuk berkeliling ke sebagian Lake Como - Italia
Naik kapal ini untuk berkeliling ke sebagian Lake Como – Italia
Penginapan kami adalah rumah paling atas. Kebayang kan naiknya ke atas agak perjuangan.
Penginapan kami adalah rumah paling atas. Kebayang kan naiknya ke atas agak perjuangan.

COMO

Como adalah kota terbesar yang ada di Lake Como. Setelah membeli tiket terusan naik kapal dari Lavenna, petualangan menjelajah Lake Como pun dimulai. Tujuan pertama kami adalah ke Villa Balbianello. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, tempat ini terkenal karena menjadi tempat pengambilan gambar beberapa film seperti Star Wars: Episode II – Attack of the Clones dan James Bond movie Casino Royale. Untuk masuk ke tempat ini, harus membeli tiket dulu.

Como - Lake Como - Italy
Como – Lake Como – Italy
Como - Lake Como - Italy
Como – Lake Como – Italy
Como - Lake Como - Italy
Como – Lake Como – Italy
Villa Balbianello - Lake Como - Italy
Villa Balbianello – Lake Como – Italy
Villa Balbianello - Lake Como - Italy
Villa Balbianello – Lake Como – Italy

Villa ini benar-benar cantik dan saat kami ke sana, meskipun sudah masuk musim panas, tidak terlalu banyak turis. Setelah puas berkeliling dan sebelum naik kapal ke kota berikutnya, kami duduk sebentar di dermaga. Menikmati angin semilir dan juga saya istirahat sejenak. Saat itu saya sedang puasa Ramadan, jadi agak lelah setelah jalan menanjak ke Villa Balbianello.

Villa Balbianello - Lake Como - Italy (Saat badan 15kg yang lalu :D)
Villa Balbianello – Lake Como – Italy (Saat badan 15kg yang lalu :D)
Villa Balbianello - Lake Como - Italy
Villa Balbianello – Lake Como – Italy
Villa Balbianello - Lake Como - Italy
Villa Balbianello – Lake Como – Italy
Villa Balbianello - Lake Como - Italy
Villa Balbianello – Lake Como – Italy

VARENNA

Kota ke dua adalah Varenna yang letaknya tidak jauh dari Bellagio. Kota kecil dengan bangunan khas yang berwarna warni ini dikenal sebagai kotanya para nelayan. Ada banyak tempat di Varenna untuk bisa disinggahi seperti taman besar yang terletak diantara Villa Monastero dan Villa Cipressi. Kami tidak berkunjung masuk ke dalam taman ini karena lebih tertarik untuk menaiki bukit menuju ke Castello di Vezio untuk melihat Lake Como dari ketinggian dan dari sudut yang berbeda. Puasa Ramadan dan patakilan naik bukit bukanlah kombinasi yang pas karena saya merasakan haus yang luar biasa sampai rasanya dehidrasi. Tapi saya tahan-tahan, sayang kalau sampai batal. Untunglah saya masih kuat untuk meneruskan puasa.

Varenna - Lake Como - Italy
Varenna – Lake Como – Italy
Varenna - Lake Como - Italy
Varenna – Lake Como – Italy
Varenna - Lake Como - Italy
Varenna – Lake Como – Italy

Pemandangan dari atas Castello di Vezio luar biasa bagusnya. Decak kagum tidak berhenti. Entah kenapa saya jadi teringat Danau Toba karena melihat betapa luasnya Lake Como ini. Dari Milan, ada kereta yang langsung menuju Varenna

Dari atas Castello di Vezio - Varenna - Lake Como - Italy
Dari atas Castello di Vezio – Varenna – Lake Como – Italy
Dari atas Castello di Vezio - Varenna - Lake Como - Italy
Dari atas Castello di Vezio – Varenna – Lake Como – Italy
Varenna - Lake Como - Italy
Varenna – Lake Como – Italy
Varenna - Lake Como - Italy
Varenna – Lake Como – Italy

BELLAGIO

Sebenarnya setelah dari Varenna ada satu kota lagi yang kami singgahi sebelum menuju ke Bellagio, tapi saya lupa nama kotanya apa. Karena hanya sebentar, saya juga tidak sempat mengambil gambar. Nah, Bellagio adalah kota terakhir yang kami datangi itupun tidak terlalu lama karena hari sudah sore. Jadi kami jalan-jalan di sekitar Bellagio lalu kembali ke penginapan dengan naik bis.

Bellagio - Lake Como - Italy
Bellagio – Lake Como – Italy
Bellagio - Lake Como - Italy
Bellagio – Lake Como – Italy

Sesampainya di penginapan, sudah menjelang waktu berbuka puasa. Saya memesan pasta seperti foto di bawah ini. Pasta rumahan menggunakan resep warisan keluarga, begitu pemilik penginapan memberikan infonya. Malam terakhir di Lake Como kami habiskan dengan berbincang santai sambil menikmati makanan lezat sambil memandang Lake Como di depan mata dari ruang makan penginapan. Hari yang indah merayakan pertambahan umur suami. Esok hari, kami meneruskan perjalanan ke kota selanjutnya, Turin.

Jadi pengen liburan di Italia lagi kalau lihat foto makanan ini. Makan malam terakhir di penginapan. Buka puasa kala itu
Jadi pengen liburan di Italia lagi kalau lihat foto makanan ini. Makan malam terakhir di penginapan. Buka puasa kala itu

-Nootdorp, 26 November 2018-

Road Trip 2018 – Portugal – Bagian I (Porto – Espinho – Sintra)

Sintra - Portugal

Setiap menjelang hari ulang tahun, suami selalu menanyakan kado apa yang saya inginkan. Ya, di Belanda mayoritas tidak mengenal surprise, budayanya memang begitu. Lebih baik bertanya langsung yang sedang dibutuhkan atau yang diinginkan apa, sehingga kado yang akan diberikan pasti terpakainya. Saya lebih senang seperti ini, jadi memang kadonya bermanfaat karena sesuai kebutuhan. Kejutan-kejutan tetap ada dari suami, tapi biasanya diluar hari-hari penting. Dan ini benar-benar kejutan yang tidak tertebak kapan waktunya. Suka-suka dia.

Jawaban saya selalu konsisten sejak kami menikah tentang kado ulangtahun, saya tidak ingin kado, tapi jalan-jalan saja. Kalaupun ternyata suami tetap mau memberikan kado, ya saya tidak menolak *loh (dan memang biasanya iya, dia tetap memberikan kado). Yang penting jalan-jalan tetap dilakukan. Jalan-jalan yang saya maksudkan di sini tidak harus jauh tempatnya. Di dalam Belanda saja tidak masalah seperti tahun kemarin kami hanya ke Limburg. Yang penting pas saya ulang tahun, kami keluar dari rumah. Menikmati bertambahnya angka usia di tempat yang baru dan dengan orang-orang yang saya cintai.

Sebenarnya ulang tahun kali ini saya ingin ke salah satu negara Skandinavia. Belum diputuskan ke negara mana, paling tidak ya ke salah satunya. Tapi suami bilang, “kita kan ingin menghindari dinginnya Belanda, masa ke negara yang lebih dingin.” Kalau dipikir, iya juga ya hahaha karena ulangtahun saya akhir maret. Akhirnya tercetus Portugal. Negara ini sebenarnya tahun lalu ingin kami kunjungi, tapi karena ada satu hal, kami tunda dulu, sampai baru tahun ini akhirnya kesampaian kami datangi.

Setelah diputuskan akan berangkat tepat pada hari ulangtahun saya dan kami akan tinggal selama 10 hari di sana, maka yang dilakukan selanjutnya adalah menentukan akan ke kota mana saja selama di Portugal. Seperti biasa, kalau kami menghabiskan waktu agak lama di suatu negara, bisa dipastikan tipe liburannya adalah road trip. Dari banyak kota di Portugal yang semuanya menggoda untuk disinggahi, akhirnya pilihan kami jatuh ke Porto, mampir ke Espinho, Sintra, Lisbon, mampir sebentar ke Fatima, Coimbra, dan terakhir di Braga. Portugal kotanya cantik-cantik, jadi betul-betul harus dipilih yang sesuai kondisi dan minat kami. Kalau tidak mengingat terbatasnya waktu, ingin sampai ke Portugal selatan. Mudah-mudahan suatu saat bisa kembali ke Portugal.

Rute road trip kami di Portugal. Akhir Maret - Awal April 2018
Rute road trip kami di Portugal. Akhir Maret – Awal April 2018

Pesawat KLM yang akan membawa kami ke Portugal pergi jam 9 pagi. Artinya kami harus berangkat sangat pagi dari rumah. Saya sudah bangun sejak jam 4 untuk melakukan persiapan akhir dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Selama 10 hari di Portugal, kami cukup membawa dua koper besar dan satu tas punggung untuk saya bawa ke dalam pesawat. Jam setengah 6 pagi, kami sudah meninggalkan rumah, naik tram lalu ganti kereta untuk menuju ke Schiphol – Amsterdam. Perjalanan menuju Schiphol lancar jaya. Ternyata ada keterlambatan pemberangkatan. Penumpang harus menunggu sekitar setengah jam di dalam pesawat karena bandara di Porto sedang sibuk sehingga pesawat harus menunggu untuk mendarat. Singkat cerita, selama 3 jam di dalam pesawat juga lancar jaya aman terkendali sampai kami mendarat di Porto.

Sebelum berangkat, kami seringkali memantau cuaca di Portugal seperti apa. Sedihnya, sampai mendekati keberangkatan, cuaca di sana diperkirakan seringkali hujan. Awalnya saya mempersiapkan baju untuk cuaca yang panas, akhirnya dibongkar lagi dan ikhlas menerima harus diganti dengan baju-baju yang sesuai untuk musim hujan. Dan selama kami di sana, lha kok ternyata cuaca di Belanda sedang nyentrong mataharinya. Kena kutukan cuaca Belanda ini namanya, ke manapun diikuti hujan.

PORTO

Setelah mengurus sewa mobil yang akan digunakan selama 10 hari, kami langsung menuju ke hotel yang letaknya ternyata agak jauh dari pusat kota, tapi masih terjangkau oleh transportasi umum. Karena masih hujan deras, kami memutuskan untuk istirahat sambil menunggu hujan reda sampai kami harus makan siang di hotel. Menjelang sore, meskipun cuaca tidak terlalu bagus tetapi hujan sudah berhenti, kami putuskan ke kota dengan menggunakan mobil, bukan hanya sekedar jalan tapi sekalian untuk makan malam sambil merayakan ulangtahun saya. Karena hujan kadang datang dan berhenti, maka kami sesekali berteduh di depan toko. Porto langsung mencuri hati kami. Suasananya tidak terlalu ramai, keindahan bangunannya langsung membuat kami terpikat sore itu saat berkeliling kota.

Porto - Portugal
Porto – Portugal
Stasiun kereta Sao Bento di Porto - Portugal. Salah satu stasiun. kereta tercantik di dunia
Stasiun kereta Sao Bento di Porto – Portugal. Salah satu stasiun. kereta tercantik di dunia
Igreja Do Carmo di Porto - Portugal
Igreja Do Carmo di Porto – Portugal
Igreja Do Carmo di Porto - Portugal
Igreja Do Carmo di Porto – Portugal

Hari ke dua di Porto, pagi hari cuaca masih cukup cerah. Tapi menjelang siang saat kami berada di daerah Ribeira, hujan lebat mendadak datang. Kami kalang kabut mencari tempat berteduh. Untung saja tepat jam makan siang. Jadi kami berteduh di sebuah restoran sekalian makan siang (sebelumnya saya berteduh di bawah jembatan sementara suami sedang naik ke atas tower). Di sinilah awal musibah terjadi. Entah apa yang salah dengan makanan yang dipesan suami, beberapa jam setelahnya, saat kami sampai di hotel, suami mulai muntah-muntah dan diare. Sampai menjelang tengah malam keadaannya tidak membaik, akhirnya suami memutuskan untuk ke UGD dekat hotel. Beberapa jam kemudian keadaan mulai membaik.

Torre dos Clérigos di Porto - Portugal
Torre dos Clérigos di Porto – Portugal
Cais da Ribeira di Porto - Portugal
Cais da Ribeira di Porto – Portugal
Cais da Ribeira di Porto - Portugal
Cais da Ribeira di Porto – Portugal

Kami berada di Porto selama 3 malam dengan kondisi cuaca yang hampir setiap hari hujan. Namun hal tersebut tidak menghalangi kami untuk menyusuri keindahan kota Porto dengan berjalan kaki. Terkesima dengan keramahan orang-orang lokal dan menikmati jajanan khas Portugal yang selalu membuat mulut saya tidak berhenti mengunyah.

Palácio da Bolsa di Porto - Portugal
Palácio da Bolsa di Porto – Portugal

Jika kalian penggemar Harry Potter, maka wajib ke toko buku Livreria Lello jika ke Porto. Toko buku yang sudah ada sejak tahun 1906 ini adalah salah satu toko buku yang terindah di dunia. Kaitannya dengan Harry Potter adalah konon JK Rowling mendapatkan inspirasi untuk mendeskripsikan sebuah tangga setelah melihat tangga di dalam Livreria Lello. Saya bukan penggemar Harry Potter, tidak pernah membaca buku dan menonton filmnya. Jadi informasi ini saya dapatkan dari hasil pencarian di Google. Sebenarnya saya ingin melihat keindahan toko buku ini, tapi melihat antrian yang sangat mengular, keinginan langsung kandas. Kalau melihat di internet, dalamnya memang mengagumkan ya walaupun katanya dilarang memfoto.

Tidak bisa masuk ke dalam toko buku yang cantik ini, tapi saat di Coimbra, saya bisa menikmati keindahan perpustakaan di Universitas Coimbra yang cantiknya membuat decak kagum tiada henti. Nanti, akan saya ceritakan pada bagian ke dua perjalanan kami di Portugal.

Livraria Lello - Salah satu toko buku terindah di dunia - Porto - Portugal
Livraria Lello – Salah satu toko buku terindah di dunia – Porto – Portugal

 

Porto terkenal dengan sarden. Nah, ada yang unik dengan Sarden yang dijual. Yang saya maksudkan adalah kemasannya. Di salah satu toko yang menjual sarden kalengan, kemasannya mencantumkan tahun kelahiran yang dicetak besar dan di bawahnya diberikan keterangan siapa saja orang terkenal yang lahir di tahun tersebut. Saya tergoda untuk membeli sebagai buah tangan dan masih tersimpan sampai sekarang. Banyak jenis kemasan sarden yang unik dan menarik yang bisa ditemui sepanjang di Porto. Salah satu alternatif buah tangan yang bisa dibawa.

Toko Sarden - Porto
Toko Sarden – Porto
Toko Sarden - Porto
Toko Sarden – Porto
Porto Tram City Tour - Portugal
Porto Tram City Tour – Portugal
Porto - Portugal
Porto – Portugal
Porto - Portugal
Porto – Portugal

 

ESPINHO

Karena sudah merasa cukup mengitari Porto selama dua hari (padahal ya cuma muter-muter yang di kota saja, kalau mau lebih banyak yang didatangi, dua hari masih kurang), akhirnya pada hari ke tiga, kami memutuskan untuk jalan ke kota sekitar Porto. Bertanya ke resepsionis hotel, diberi pilihan dua tempat yang terletak di tepi pantai. Pilihan kami jatuh pada Espinho. Perjalanan kurang dari setengah jam, begitu sampai saya langsung suka dengan kota kecil ini. Terletak di tepi pantai, meskipun menurut saya pantainya biasa saja seperti pantai di Den Haag, Scheveningen, tapi kotanya benar-benar menyenangkan. Sepi dengan bangunan yang didominasi warna putih, kata suami adalah ciri khas warna bangunan Portugis.

Espinho - Porto
Espinho – Porto
Espinho - Porto
Espinho – Porto
Espinho - Porto
Espinho – Porto
Espinho - Porto
Espinho – Porto

Karena memang bukan sebagai jujugan turis, jadi sepanjang mata memandang nampaknya hanya orang lokal saja yang berjalan di sisi pantai maupun yang berada di sekitar kota. Kami lama duduk-duduk di taman dalam foto di bawah ini. Menikmati semilir angin sambil melihat burung yang hilir mudik di depan kami. Waktu semakin beranjak sore dan angin semakin kencang, kami memutuskan untuk segera kembali ke hotel.

Espinho - Porto
Espinho – Porto

SINTRA

Rute keesokan hari adalah menuju Lisbon. Saat menentukan kota yang akan kami kunjungi, melihat peta ternyata kami melewati Sintra. Teringatlah saya akan kastil cantik yang berwarna warni. Lalu kami memutuskan untuk singgah sebentar di Sintra, mengunjungi dua kastil yang ada di sana, yaitu Pena Palace dan Castle of the Moors.

Pena Palace terletak di atas bukit Sintra. Kastil ini masuk dalam Unesco World Heritage Site. Alasan saya tertarik mengunjunginya karena melihat foto yang bertebaran di internet kastil ini berwarna warni sampai mengingatkan saya akan bangunan yang ada di Rusia. Saya pikir ini kastil baru, tapi ternyata ya lumayan lama juga karena pembangunannya selesai pada tahun 1854 yang dimulai pada abad pertengahan. Arsitektur dari kastil ini adalah Romanesque Revival dan Neo-Manueline. Sewaktu kami ke sana, walaupun belum musim liburan, tetapi antrian masuknya sangatlah panjang. Beruntung kami punya akses khusus untuk masuk jadi tidak usah berada dalam panjangnya antrian. Di beberapa bagian dalam kastil, sedang dilakukan renovasi. Di dalam kastil boleh mendokumentasikan, tapi ternyata saya hanya punya satu fotonya. Mungkin karena terlalu menikmati bagian dalamnya yang bagus jadinya lupa untuk mendokumentasikan.

Pena Palace - Sintra - Portugal
Pena Palace – Sintra – Portugal

 

Sintra - Portugal
Sintra – Portugal
Sintra - Portugal
Sintra – Portugal

Tidak seberapa jauh dari Pena Palace, Castle of the Moors terlihat sangat kontras berbeda dilihat dari bentuk bangunannya. Kastil ini dibangun pada abad ke-8 dan ke-9 pada periode Muslim Iberia. Yang ke kastil ini, suami. Saya tidak ikut, memilih menunggu di mobil. Jadi foto-foto di bawah ini dari Hp suami.

Castle of the Moors di Sintra - Portugal
Castle of the Moors di Sintra – Portugal
Castle of the Moors di Sintra - Portugal
Castle of the Moors di Sintra – Portugal
Pena Palace dilihat dari Castle of the Moors di Sintra - Portugal
Pena Palace dilihat dari Castle of the Moors di Sintra – Portugal

Cerita tentang Portugal akan bersambung ke road trip Portugal bagian ke dua yaitu : Lisbon – Fátima – Coimbra – Braga

Cerita yang berkaitan dengan Portugal : Kulineran di Portugal

-Nootdorp, 6 November 2018-

Kulineran di Portugal

Dan lagi

Karena tulisan tentang road trip di Portugal pada akhir Maret sampai awal April lalu belum selesai juga, daripada tidak ada tulisan apapun tentang Portugal, kali ini saya mau membahas kulineran selama di Portugal. Kenapa judulnya bukan Kuliner Portugal melainkan kulineran di Portugal? Karena selama di sana kami tidak hanya makan makanan lokal Portugal saja, tetapi juga menikmati kulineran dari negara lain yaitu Itali. Ada ceritanya kenapa kami sampai berhari-hari makan makanan Itali. Simak cerita lengkapnya di bawah dan juga saya tulis beberapa tips disela cerita yang mungkin akan bermanfaat bagi siapapun yang akan ke Portugal.

Disclaimer, saya bukan food blogger ataupun food historian, jadi yang saya tulis di sini akan sangat jarang sekali ditemui tentang sejarah makanan ataupun rasa makanan secara sangat mendetail. Saya hanya seseorang yang mengaku tukang makan.

MAKANAN ITALIA

Sesampainya di kota pertama yaitu Porto, setelah menaruh barang di hotel, kami lalu jalan-jalan sejenak ke pusat kota. Sebelumnya hujan deras mengguyur. Tapi karena kami lapar dan hari itu bertepatan dengan saya ulangtahun, jadi inginnya makan malam sekaligus merayakan ulangtahun. Setelah putar sana sini sambil menikmati pusat kota Porto di sore hari dan kok ya mendung makin tebal menggelayut, kami memutuskan untuk mencari restoran apa saja yang kami lewati asal menunya masih bisa saya makan. Kok ya melewati restoran Italia dan ada menu Risotto. Ya sudah kami masuk ke sana.

Dari luar restorannya nampak biasa saja. Tetapi begitu masuk dan menuju ruang bawah, wah saya takjub dengan tata ruangnya yang klasik. Saya pesan Risotto bayam dan suami pesan entah pasta apa namanya. Saya puas dengan menu yang saya makan, Risottonya tidak terlalu creamy dan ada keju yang digoreng. Sah saya bertambah umur pada hari itu dirayakan di restoran Italia bersama keluarga yang saya cintai.

Saya makan Risotto bayam dan suami makan pasta
Saya makan Risotto bayam dan suami makan pasta

Malam kedua, masih di Porto. Kami kembali makan di restoran Italia tapi kali ini tempatnya persis di sebelah hotel. Ini restorannya lebih modern dan tempatnya lebih luas. Alasan kembali makan di restoran Italia karena suami mendadak perutnya tidak nyaman setelah makan Francesinha di Ribeira. Sekedar informasi saja, perut suami memang agak sensitif. Entah kenapa gampang sekali sakit kalau makanannya tidak bersih atau ada yang salah saat memasak. Sewaktu kami liburan ke Munster, dia juga sakit perut setelah makan Pizza. Heran ya, padahal selama di Indonesia saya ajak makan kaki lima dan segala macam jajanan di pinggir jalan, sehat-sehat saja dia. Tahun ini liburan, dua kali perutnya sakit. Bahkan saat di Porto yang terparah sampai harus ke IGD segala.

Karena saya memang suka sekali masakan Italia (mulai benar-benar suka sejak 2 tahun lalu liburan ke Italia), jadi makan di restoran Italia asli selalu membuat saya terpuaskan dengan makanannya. Apalagi Risotto, hobi berat saya makan ini. Tahun kemaren saya susah sekali makan terutama makan makanan Indonesia. Ajaibnya, dengan Risotto permasalahan susah makan teratasi. Saya sukanya Risotto Funghi yang tanpa krim. Jadi makanan Itali di bawah ini yang kami makan selama malam kedua dan ketiga di Porto. Total selama tiga malam di Porto kami malah makan malam di restoran Italia.

Risotto Funghi
Risotto Funghi
Lupa namanya apa tapi rasa kuahnya mirip sekali dengan kuah bakso
Lupa namanya apa tapi rasa kuahnya mirip sekali dengan kuah bakso
Spaghetti Seafood
Spaghetti Seafood
Sup Tomat Seafood plus potongan cabe rawit
Sup Tomat Seafood plus potongan cabe rawit

 

KULINER PORTUGAL

Nah, kali ini saya akan membahas kuliner asli Portugal yang beberapa sempat kami nikmati dan sempat saya abadikan di kamera (beberapa tidak sempat difoto). Jadi selama di Portugal kami pindah kota sebanyak 5 kali dan diantaranya mampir ke kota yang kami lewati. Kota itu adalah : Porto, Sintra, Lisbon, Coimbra, dan Braga. Di setiap kota, kami usahakan untuk mencicipi makanan lokal dengan catatan makanan yang bisa saya makan. Tapi karena Portugal juga terkenal dengan kulineran lautnya, jadi saya tidak perlu khawatir malah senang bisa makan makanan laut sepuasnya. Kuliner Portugal juga didominasi oleh makanan dengan daging Babi.

Hari kedua di Porto, kami makan siang di Ribiera. Restoran lokal ini letaknya persis di sebelah sungai. Karena Porto terkenal dengan sardennya, saya akhirnya memesan menu sarden goreng. Daging sardennya rasanya enak manis, berarti ikannya segar. Entah bumbu untuk menggoreng sardennya apa, tapi tidak terlalu asin dan terasa bawang putihnya.

Saya makan ikan sarden digoreng, suami makan Francesinha
Saya makan ikan sarden digoreng, suami makan Francesinha

Sementara suami memesan Francesinha, makanan asli Porto. Fracesinha ini terdiri dari roti tebal, daging (aslinya daging babi, tapi bisa minta juga yang tidak babi), terkadang ada sosis portugal, ditutupi oleh keju dan menggunakan saus tomat yang dicampur bir. Jika ke Porto, wajib mencoba ini. Aggy juga pernah menuliskan tentang Francesinha dan kuliner selama di Porto.

Nah, setelah makan ini, tidak beberapa lama kemudian suami muntah-muntah. Begitu terus sampai malam. Akhirnya karena muntah tidak berhenti sampai badannya lemas, dia pergi ke UGD terdekat dengan hotel. Syukurlah tidak sampai yang parah sekali. Nah karena keracunan inilah kenapa selama di Porto, makan malam kami selalu di restoran Italia, cari aman dengan makan yang pasti-pasti saja.

ini penampakan Francesinha awal suami keracunan
ini penampakan Francesinha awal suami keracunan
Entah karena lapar atau apa, sardennya enak banget. Padahal cuma digoreng biasa
Entah karena lapar atau apa, sardennya enak banget. Padahal cuma digoreng biasa

BACALHAU

Sewaktu di Porto, kami sempat mampir ke kota deket Porto yang ada pantainya yaitu Espinho. Nah di Pantai ini kali pertama saya makan Bacalhau, makanan asli Portugal. Jadi Bacalhau ini dasarnya adalah ikan Cod yang dikeringkan dan diasinkan. Jadi bayangan saya semacam ikan asin. Olahannya banyak macamnya. Yang saya makan pertama kali ini Bacalhau yang di kukus dimakan pakai kentang dan telur rebus, dan sayurannya direbus semacam kubis, wortel, dan yang hijau itu lupa sayur apa. Rasa ikannya agak asin dan asam segar. Di sini saya tidak tahan untuk tidak minta cabe. Adanya cabe rawit kering. Saya pikir tidak pedas, ternyata pedas sekali. Tombo kangen makan cabe. Bacalhau juga wajib dicoba jika datang ke Portugal.

Bacalhau makan di tei pantai di Espinho
Bacalhau makan di tepi pantai di Espinho

COIMBRA

Coimbra adalah nama salah satu kota yang kami kunjungi di Portugal. Kota kecil yang menyenangkan dan tidak terlalu banyak turis. Karenanya restoran yang ditemui juga banyak restoran yang masakannya benar-benar lokal. Salah satunya restoran yang kami datangi selama dua malam berturut. Letaknya strategis, ruangannya luas, pelayanannya cepat dan tentu saja makanannya enak. Di Coimbra dan Braga, semua restoran tutup jam 5 sore dan akan buka kembali jam 7 malam. Kalau di Porto dan Lisbon, mungkin karena kota besar, jadi tidak ada penetapan jam tutup dan buka seperti itu.

Restoran tempat kami makan selama dua malam di Coimbra
Restoran tempat kami makan selama dua malam di Coimbra

Di bawah ini pesanan saya malam pertama di Coimbra. Udang digoreng bawang putih ditaruh di atas roti yang disiram minyak zaitun dan bubuk cabe. Entah ini namanya apa saya lupa. Sayurnya saya pesan terong goreng. Udangnya juara rasanya, gurih dan aroma bawang putihnya terasa. Oh iya, selama di Portugal, kalau minta cabe rawit agak susah. Cuma di restoran Italia yang   dengan sigap kasih cabe rawit potong. Sedangkan restoran-restoran lainnya yang kami datangi katanya tidak punya cabe rawit segar. Ada untungnya juga, jadi saya bisa makan dengan rasa asli tidak tercampur oleh rasa cabe.

Suami makan steak, saya makan udang bawahnya ada roti. Enak banget ini!
Suami makan steak, saya makan udang bawahnya ada roti. Enak banget ini!

Nah ini Bacalhau kedua yang saya makan selama di Portugal. Kalau yang ini Bacalhaunya dipanggang disajikan dengan kentang, kubis, courgette, dan sedikit sayur rapini. Ini saya juga lupa namanya Bacalhau yang variasi apa.

Bacalhau dimakan pakai kentang. Juara rasanya
Bacalhau dimakan pakai kentang dan sayur kubis, courgette, dan sedikit sayuran namanya Rapini (entah apa ya namanya kalau di Portugal). Juara rasanya

 

BRAGA

Kota terakhir yang kami datangi adalah Braga. Terdengar familiar ya, seperti nama jalan di Bandung. Saya juga tidak tahu persis apakah ada hubungannya antara Braga di Portugal dan Braga di Bandung. Braga kota kecil, lebih kecil dari Coimbra letaknya tidak terlalu jauh dari Porto. Karena tidak terlalu banyak turis di sini, jadi banyak yang restoran menyediakan menu lokal dengan citarasa lokal juga.

Sup sayur apa ini lupa namanya
Sup sayur apa ini lupa namanya, dimakan pakai roti dan semacam perkedel singkong. Perkedelnya enak rasanya

Di Portugal, sayur yang terkenal adalah kubis dan yang satu kelompok dengannya seperti Rapini. Biasanya disajikan kalau tidak direbus ya ditumis dengan minyak zaitun lalu disajikan dengan zaitun seperti yang menu yang suami pesan ini. Makanan di Portugal pun disajikan kalau tidak menggunakan nasi, bisa juga dengan kentang.

Salmon panggang
Salmon panggang

Ini salah satu yang saya makan di Braga. Nasi kuning (nasinya memang berwarna kuning) yang ditaruh di atas bebek goreng. Jadi dibawah nasi kuning itu, ada bebek yang digoreng dengan sedikit tepung lalu dipotong-potong. Rasanya gurih dan asam. Oh ya, di Portugal menunya selain terkenal dengan makanan laut juga terkenal dengan menu yang menggunakan daging babi. Jika tidak bisa makan daging babi, ketika pesan tanyakan dulu apakah menunya dicampur daging babi atau tidak, untuk memastikan.

Nasi kuning dibawahnya ada bebek gorengnya
Nasi kuning dibawahnya ada bebek gorengnya

RAPINI

Jadi, Rapini ini adalah nama sayuran, satu keluarga dengan kubis. Kalau di Italia namanya Cime di rapa. Saya tidak tahu nama portugisnya apa karena waktu itu lupa bertanya. Saking terkesannya dengan rasa sayuran ini, sesampainya di Belanda saya bertanya apakah dijual sayuran ini di Belanda. Rasa sayurannya agak pahit tapi masih krenyes-krenyes. Padahal hanya ditumis biasa menggunakan bawang putih dan garam. Tapi rasanya benar-benar enak luar biasa, berbekas di kepala sampai sekarang bagaimana enaknya sayuran ini. Saya makan dua kali. Kalau ke Portugal, coba juga ya sayuran ini.

Sayuran yang hijau itu namanya Rapini
Sayuran yang hijau itu namanya Rapini

Nah yang nasi itu, semacam nasi goreng campur kubis, wortel, dan telur. Aduh itu Rapininya enak sekali! Saya masih teringat rasanya sampai sekarang.

Ini super enak. Paduannya pas sekali antara rasa nasi berrempah, udang, dan Rapini
Ini super enak. Paduannya pas sekali antara rasa nasi goreng berempah, udang, dan Rapini

PASTEIS DE NATA

Wah ini sih juaranya ya. Makanya saya taruh paling akhir. Setiap hari selama 10 hari di Portugal saya makan ini terus tidak ada bosannya. Sehari bisa dua sampai tiga kali makan. Manisnya tidak membuat eneg buat saya yang tidak terlalu suka makan makanan manis. Isiannya benar-benar leleh di mulut.

“Pastéis de nata is a Portuguese egg tart pastry dusted with cinnamon. It is also made in Brazil and other countries with significant Portuguese immigrant populations.” –WIKIPEDIA

Pasteis de Natas
Pasteis de Natas
Pasteis de Natas lagi
Pasteis de Natas lagi
Dan lagi
Dan lagi

Tidak hanya Pastéis de nata saja yang rasanya juara sebagai camilan, gorengan di bawah ini juga tak kalah enaknya. Saya tidak tahu persis namanya apa tapi isinya adalah kepiting dan satunya campuran udang dan ikan. Gurih dan rasa manisnya berbaur sempurna. Sebagai orang Indonesia, makan gorengan tanpa cabe rawit ya memang agak aneh rasanya, jadi tahan-tahan saja haha.

Dan lagi plus gorengan ala Portugal
Dan lagi plus gorengan ala Portugal

Begitulah cerita saya tentang pengalaman kulineran kami selama di Portugal. Semoga siapapun yang akan berkunjung ke sana, bisa merasakan pengalaman yang luar biasa juga dengan makanan Portugis yang memang enak-enak. Bisa berkunjung ke beberapa negara dan merasakan makanan lokalnya membuat lidah saya semakin kaya pengalaman akan rasa. Jadi bisa tahu rasa enak makanan selain makanan Indonesia dan juga membuka pengetahuan bahwa makanan enak itu tidak harus pedas, tidak harus ada cabe, dan tidak harus makan pakai nasi.

-Nootdorp, 21 Oktober 2018-

 

 

 

Science Centre di Delft

Minggu lalu cuaca lumayan “terik” dibandingkan minggu ini. Kenapa teriknya pakai tanda petik? Ya meskipun matahari bersinar nyentrong selama 5 hari, tapi angin dan dinginnya tak tahan aduhai membuat harus memakai jaket tebal. Maklum suhu sudah dikisaran 14 derajat celcius ke bawah. Tapi dengan adanya sisa-sisa matahari yang nongol, jadwal ke luar rumah harus dimaksimalkan karena tidak tahu kapan matahari akan nongol lagi.

Hari Rabu kami nongkrong di Delft. Matahari sedang bergembira sampai obral sinarnya sehingga kami bisa duduk leyeh-leyeh depan gereja sambil menikmati bekal dari rumah dan bersenda gurau. Oh ya, Delft ini adalah salah satu kota favorit saya selain Den Haag. Saya langsung jatuh cinta saat pertama kali ke sini tahun 2014. Suasana di Delft itu Cozy dengan bangunan-bangunannya yang masih mempunyai ciri khas bangunan tua tapi terawat dengan baik. Banyak turis datang ke sini tapi tidak sehiruk pikuk Amsterdam ataupun Den Haag. Kalau Den Haag sebenarnya juga tidak terlalu banyak turis, tapi memang penduduknya yang banyak. Kalau berkesempatan ke Belanda, silahkan mampir ke Delft dan rasakan perbedaannya dengan Amsterdam.

Delft saat cuaca cerah
Delft saat cuaca cerah

Hari kamis, makbedundug saya menerima pesan dari mahasiswa PhD sekaligus tempat belajar saya dalam dunia nak kanak children. Maureen sering membagikan ilmu dan pengalamannya  di blog dalam menyelami dunia anak-anak sebagai seorang Ibu maupun sebagai akademisi dan praktisi di bidang tersebut. Oh jangan salah, meskipun namanya nampak “barat”, medoknya Sorbeje asli. Saya pertama kali ketemu awal tahun ini sewaktu ada acara di rumah kami. Kenal lewat blog, twitter dan WhatsApp sudah lama. Ya beberapa tahun ini maksudnya.

Jadi, maksud dia kirim pesan ke saya, mengajak ketemuan di Delft mumpung cuaca masih cerah. Dia dan Stan -putranya- pengen ke Science Centre – museum science untuk anak-anak. Saya langsung cek jadwal dengan suami, hari sabtu kami tidak ada acara jadi saya langsung mengiyakan ajakannya. Sudah lama juga sebenarnya saya ingin ke museum ini tapi masih belum ketemu waktu yang pas. Saya langsung menghubungi Yayang mau mengajak juga siapa tahu Cinta Cahaya belum pernah ke sini. Sayang karena terlalu mendadak, Yayang yang bekerja pada hari sabtu tidak bisa bergabung dengan kami. Mudah-mudahan bulan depan bisa ketemu ya Yang!

Awalnya suami tidak mau ikut. Tapi entah kenapa saat makan siang tiba-tiba dia mengutarakan keinginannya untuk ikut. Ya tentu saja saya senang. Sekalian rame-rame. Rencananya saya akan berangkat naik bis. Tetapi karena dia ingin ikut, maka akhirnya kami naik sepeda. Jarak Science Centre dari rumah kami tidak terlalu jauh, hanya 20 menit jika naik sepeda. Jam 3 sore kami sudah tiba di sana. Tahu tidak, saya itu selalu berdebar-debar kalau melihat tulisan TU Delft dan ketika berada dalam area kampus ini. Maklum ya, memang sudah impian dan cita-cita saya sejak dahulu kala bisa kuliah di tempat ini. Jadi jangan bosan-bosan ketika membaca tulisan saya yang selalu mengungkapkan bahwa TU Delft adalah kampus impian. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa kuliah di sini. Kalau tidak sampai PhD seperti Maureen, ya paling tidak bisa mencicipi program masternya.

Ruang depan Science Centre TU Delft
Ruang depan Science Centre TU Delft
Ruang tunggu. Berasa anak kuliahan lagi nongkrong sewaktu duduk di sini *ngayal jangan nanggung2
Ruang tunggu. Berasa anak kuliahan lagi nongkrong sewaktu duduk di sini *ngayal jangan nanggung2

Masuk ruang tunggunya saja langsung berasa sekali aura tekniknya. Jadi Science centre ini memang museum yang ditujukan untuk dikunjungi oleh anak-anak. Tiga tema dari tempat ini adalah Sains, Desain, dan Teknik. Science centre merupakan tempat semua alat atau bahan penelitian yang sudah dan sedang dilakukan oleh TU Delft. Jadi kita bisa menikmati hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh mahasiswa maupun para peneliti. Tiket masuknya jika mempunyai museumkaart, gratis. Jika tidak mempunyai, untuk anak berumur dibawah 7 tahun gratis, umur 7-17 tahun harga tiketnya €4, diatas 18 tahun €7, dan untuk seluruh keluarga maksimal 4 orang €17.5.  Tentang Science centre, lebih lengkapnya bisa dibaca di sini.

Tertera di keterangan, ini permainannya agak rumit. Minimal butuh waktu 20 menit. Kata Maureen "duh, hidup sehari2 sudah serus masa iya main pun musti serius. Pening"
Tertera di keterangan, ini permainannya agak rumit. Minimal butuh waktu 20 menit. Kata Maureen “duh, hidup sehari2 sudah serius masa iya main pun musti serius. Pening”
Disetiap ruangannya, enath di lantai, tembok ataupun langit-langitnya selalu bertebaran rumus-rumus. Mengingatkan saya akan masa lalu yang tertimbun rumus-rumus
Disetiap ruangannya, entah di lantai, tembok ataupun langit-langitnya selalu bertebaran rumus-rumus. Mengingatkan saya akan masa lalu yang tertimbun rumus-rumus

Beberapa alat peraganya bisa dimainkan. Misalkan main simulasi mobil atau bola yang jatuh dari langit-langit atau simulasi angin. Di beberapa ruangan juga banyak yang bisa dicoba untuk dimainkan.

Ini ruangan utamanya
Ini ruangan utamanya
Ruangan utama
Ruangan utama
Sampai langit-langit pun ada rumusnya
Sampai langit-langit pun ada rumusnya

Kalau ke sini bukan hanya bisa berkeliling di ruangan-ruangannya saja, tapi juga bisa mengikuti workshop yang diadakan dengan jadwal yang ada pada websitenya. Selain itu, jika ada yang ingin merayakan ulangtahun, juga bisa jauh hari menghubungi pihak Science centre sehingga acara ulangtahunnya bisa dirayakan di tempat ini. Kalau ingin mengikuti tour, bisa juga. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di sini. Oh iya, di halaman belakang, ada taman bermain juga. Sayang saya tidak bisa mengambil foto karena banyak anak yang sedang bermain di sini.

Tak terasa satu jam lebih kami berasa di sini. Senang rasanya berkeliling, melihat dan menjajal alat peraga yang ada. Saya dan Maureen juga sempat berbincang di taman belakang. Meskipun sak nyuk an ketemu tapi obrolan kami mendalam. Senang juga bisa berbagi cerita dengan Stan. Anak pintar dan supel. Stan ini bisa berbicara 4 bahasa lho. Jepang, Inggris, Belanda, dan Indonesia tentu saja. Jawa juga kalau mau dimasukkan. Sehat selalu ya Stan!

Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Pusat Delft. Kalau hari sabtu ada pasar, jadi seru bisa berkeliling sambil melihat-lihat pasar. Tidak berapa lama karena haus, akhirnya kami nongkrong.

Camilan nongkrong kami. Saya di mana-mana memang selalu pesannya susu coklat haha *sebelum ada yang nanya
Camilan nongkrong kami. Saya di mana-mana memang selalu pesannya susu coklat haha *sebelum ada yang nanya

Itu yang dipiring adalah Tortilla disiram keju dan saus tomat ditambahi Jalapeno. Terus terang saya tidak terlalu suka. Jadi saya makan sedikit saja. Andaikan bisa makan bakso ya *yak ngayal episode kesekian pun dimulai.

Setelah sekitar 30 menit menikmati sisa sore, kami memutuskan pulang tapi mampir dulu ke toko buku. Sempat ketemu lagi dengan Maureen dan Stan yang sedang berjemur di depan Gereja sambil makan kentang goreng. Tot volgende keer Maureen en Stan!

Kesan saya tentang Science centre, seru! Tapi kata suami, biasa saja. Ya beda selera. Yang penting ada yang senang bisa menikmati dan bersenang-senang di sana.

Saat menulis ini, di luar matahari sedang gonjreng dan langitpun biru menawan. Kami sedang bersiap jalan-jalan ke danau.

-Nootdorp, 3 Oktober 2018-

 

Trekking Enam Jam di Cinque Terre – Italia

Manarola - Cinque Terre

Pada saat membuat rencana perjalanan ke Italia, hampir saja saya melewatkan Cinque terre. Padahal saat melihat foto-foto yang bersliweran di IG tentang Cinque Terre, saya mbatin kalau suatu hari ke Italia ingin mampir ke tempat ini. Ternyata saya masih berjodoh dengan Cinque Terre sehingga bisa mengunjunginya pada saat liburan musim panas tahun 2016 sekaligus perjalanan 18 hari di Italia saat suami berulangtahun.

 

Monterosso dari atas
Monterosso dari atas
Monterosso dilihat dari kebun anggur
Monterosso dilihat dari kebun anggur

Hari sebelumnya, kami mampir ke PortofinoKami sengaja memilih untuk menginap di La Spezia yang letaknya tidak jauh dari Cinque Terre dan bisa ditempuh dengan kereta karena penginapan di sana tidak semahal di Cinque Terre. Kami menginap di Airbnb yang berupa apartemen lengkap fasiltasnya. Letaknya pun tidak terlalu jauh dari stasiun kereta api. Kami tidak membawa kendaraan dan lebih memilih naik kereta ke Cinque Terre sengaja karena sudah merencanakan memilih jalur trekking  untuk menyusuri 5 desa yang ada di sana.

Hari itu tidak akan saya lupa. 6 Juli 2016 bertepatan dengan Idul Fitri, salah satu mimpi saya di dunia per jalan-jalan an terwujud. Selepas sholat Ied di apartemen, kami langsung menuju ke Cinque Terre naik kereta. Tiket yang kami beli sudah termasuk dengan masuk Taman Nasional yang merupakan jalur trekkingnya. Kira-kira jam 11 siang kereta yang kami naiki berangkat. Sepanjang perjalanan, saya benar-benar gembira luar biasa, tidak berhenti tersenyum. Rasanya akan ketemu dengan blind date yang selama ini cuma bisa diangan-angan saja.

Kami tiba di desa yang pertama yaitu Monteresso, yang kami pilih sebagai titik awal trekking. Setelah berkeliling sebentar untuk membeli minuman dan makanan sebagai bekal trekking, kami memulai titik trekking dari desa ini. Suhu saat itu mendekati 40ºC saat matahari sudah di atas kepala. Jalur trekkingnya sungguh luar biasa indah. Kami melewati perkebunan anggur dan bisa melihat betapa birunya lautan dari atas. Meskipun medan trekking yang tidak mudah (bagi saya) karena menanjak dan sempit ditambah panas yang luar biasa, tetapi ketika melihat keindahan alam dan satu persatu desa yang kami datangi, memupuskan segala keluh kesah. Ditambah lagi banyak anak kecil yang sliweran di jalur trekking. Bahkan beberapa balita pun saya lihat dengan santainya jalan dan bersenda gurau dengan orangtuanya. Lah kan jiwa kompetitif saya jadi bergelora. Di beberapa tempat, saya melihat beberapa keluarga beristirahat sambil membacakan buku cerita buat balitanya. Berkali-kali saya mengucapkan syukur karena diberikan kesempatan dan kesehatan untuk menikmati dan merasakan semua ini.

Salah satu jalur trekking
Salah satu jalur trekking

Ada satu hal yang saya tidak pernah lupa sewaktu trekking di Cinque Terre selain hawa panas tadi yaitu saya memakai celana bolong haha! Jadi ceritanya dalam perjalanan waktu itu saya tidak terlalu banyak membawa celana dengan bahan yang bisa menyerap keringat dengan baik. Kebanyakan saya membawa rok. Nah sebelum trekking, saya cek berapa derajat suhunya. Ternyata nyaris 40 derajat. Saya lihat dalam koper kira-kira celana mana yang bisa dipakai. Ternyata ada satu celana rumah yang bahannya nyaman, adem. Ya karena ini di Eropa di mana orang-orang akan cuek kamu mau pakai apa, akhirnya saya memutuskan memakai celana rumah itu untuk trekking. Saya tidak memeriksa sebelumnya kondisi celana itu. Setelah pertengahan jalur trekking, saat jalurnya benar-benar menanjak sampai dengkul ketemu dengan janggut (saking menanjaknya), mata saya lihat kok ada yang bolong ditengah celana. Eh ternyata celana yang saya pakai tengahnya bolong besar hahaha! Duh saya langsung tertawa terbahak dan lapor ke suami. Saya tunjukkan bolongnya. Kami lalu tertawa terbahak. Ya sudahlah, selama jalannya santai toh orang tidak tahu kalau saya pakai celana bolong haha!

Vernazza dari kejauhan
Vernazza dari kejauhan
Vernazza
Vernazza
Vernazza
Vernazza

Di setiap desa, kami pasti berhenti. Entah sekedar minum atau makan atau istirahat untuk mengumpulkan tenaga menuju desa berikutnya. Sungguhlah cuaca yang panas saat itu membuat cepat lelah dan anginpun pelit bertiup. Bayangkan saja bagaimana energi tersedot dengan cepatnya.

Corniglia dari kejauhan
Corniglia dari kejauhan
Corniglia
Corniglia
Corniglia
Corniglia
Panas-panas makan ini, Yummm!!. Selama di Italia, hampir setiap hari kami makan Gelatto
Panas-panas makan ini, Yummm!!. Selama di Italia, hampir setiap hari kami makan Gelatto
Corniglia
Corniglia
Manarolla dilihat dari Corniglia
Manarolla dilihat dari Corniglia

CQ14

Kami sampai di desa ke empat yaitu Manarola saat matahari menjelang terbenam. Jadi kami putuskan bahwa Manarola adalah desa terakhir yang kami kunjungi karena selain badan sudah rontok, juga hari sudah beranjak malam. Riomaggiore, desa ke lima hanya bisa kami lihat dari atas kereta. Lihatlah foto Manarola yang saya ambil menggunakan kamera dari Hp, inilah foto yang selama ini selalu membuat saya berkhayal suatu hari bisa datang ke Cinque Terre dan melihat secara langsung desa-desa yang ada di sana yang masuk dalam Unesco World Heritage. Akhirnya saya bisa mewujudkannya setelah sekian lama, pergi bersama suami tercinta. Mimpi jadi nyata.

Manarola - Cinque Terre
Manarola – Cinque Terre
Inilah kami saat trekking di Cinque Terre dan saya memakai celana bolong :)))
Inilah kami saat trekking di Cinque Terre dan saya memakai celana bolong :)))

-Nootdorp, 8 Agustus 2018-

Berakhir Pekan di Münster – Jerman

Münster terletak di Jerman bagian utara. Selain dikenal sebagai kota sepeda karena populasi sepeda di kota ini yang banyak, Münster juga dihuni oleh banyak pelajar, sekitar 40 ribu karena ada universitas besar di sini. Meskipun pada perang dunia ke dua kota ini rusak parah terkena bom, secara bertahap pembangunan di kota ini membuat Münster terlihat sebagai kota modern tetapi masih menyisakan beberapa bangunan bersejarah.

 

Munster
Munster

Munster
Munster
Dua minggu lalu, setelah dengan rencana yang mendadak (seperti biasa), kami memutuskan untuk berakhir pekan di Münster, Jerman. Kenapa memutuskan, karena sebelumnya ada beberapa pilihan tempat. Awalnya ingin ke Texel, ganti lagi ke pulau lainnya dekat Texel. Dua duanya sama mahalnya karena harus membayar biaya kapal buat menyeberang dan hotel di sana pun mahal. Padahal kan kami hanya ingin liburan akhir pekan saja. Anggap saja liburan musim dingin. Biasanya kami menginap di Airbnb, tapi nampaknya kedepan kami akan lebih sering menginap di hotel.  Lalu tercetus ide dari saya, ke Münster saja. Selain letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kami tinggal, juga kotanya nampak menyenangkan, tidak terlalu ramai. Kami berangkat jumat siang setelah dari Gemeente untuk membuat kartu identitas lalu belanja mingguan. Sampai Münster sudah jam 7 malam. Sebelumnya kami mampir dulu ke Restoran Yunani untuk makan malam. Baru pertama ini saya makan di Restoran Yunani, enak juga ya rasa makanannya.

Munster
Munster

Munster
Munster
Hotel yang kami tempati letaknya persis di pusat kota, lebih tepatnya di daerah Prinzipalmarkt, pusat perbelanjaan di Münster. Setelah berbenah sana sini, jam 8 malam kami tidur. Memang kali ini liburannya santai sekali, dan mengingat faktor umur juga, jadi jam 8 malam sudah tidur hahaha, biasanya jam 10 kami baru tidur.

Munster
Munster

Munster
Munster

Munster
Munster
Paginya setelah sarapan di hotel, kami langsung bergegas menuju beberapa tempat. Masih pagi sebenarnya, jam 9 pagi dan suhu juga hanya 3 derajat celcius. Dingin tidak karuan. Ketika saya melihat prakiraan cuaca di tempat kami tinggal, matahari bersinar dan suhu diatas 5 derajat. Duh, langsung pengen pulang cari yang hangat :D. Tapi seperti pepatah bilang “There is no such thing as bad weather, only bad clothes.” Kami berjalan santai saja, tidak melihat peta sama sekali. Karena dari informasi yang kami dapatkan, tempat-tempat yang menarik tidak jauh letaknya dari hotel. Persinggahan pertama kami adalah pasar besar yang ada setiap hari rabu dan sabtu. Pasar yang terkenal dengan Wochenmarkt Münster (Münster’s Weekly Market) terletak di Domplatz, buka sejak jam 7 pagi sampai setengah tiga sore. Wah, kami beruntung bisa datang ke pasar besar ini. Entah kenapa, saya itu memang selalu senang mengunjungi pasar, apalagi sejak di Belanda. Satu yang pasti, pasarnya tidak becek dan kotor.

Munster
Munster

Munster
Munster
Selain itu kami juga mampir ke Cathedral. Setelah berkeliling selama tiga jam, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Istirahat siang. Selama kami bepergian, baru kali ini lho ada istirahat siang dan kembali ke hotel. Benar-benar liburan yang santai sekali haha. Sekitar jam 3 sore, kami kembali melanjutkan jalan-jalan. Seperti yang telah saya tuliskan di awal, Münster adalah kota sepeda. Jadi tidak heran kalau saya melihat kota ini seperti kota-kota di Belanda. Tidak semua kota di Jerman konturnya bisa dilalui sepeda, berbeda dengan di Belanda yang datar.

Munster
Munster
Saya mempunyai teman, kenalan dan tahu beberapa blogger yang tinggal di Jerman. Dari mereka saya lumayan tahu kalau orang Jerman sangat sensitif dengan orang yang membawa kamera, maksudnya memotret tanpa seijin mereka. Karenanya saya sangat hati-hati sekali kalau memotret. Sebisa mungkin pas lagi sepi atau dari jarak jauh. Takut kena tegur :D. Dan karena alasan ini juga saya tidak terlalu banyak memotret.

Numpang mejeng
Numpang mejeng

Kami kembali ke Belanda jam 9 pagi hari minggu. Sesampainya di Belanda, seperti biasa entah ini dinamakan ritual atau apa, kalau kami dari berpergian dan kembali ke Belanda, tempat yang pertama dituju adalah Pempek Elysha. Ini bukan promosi ya haha tapi saya selalu mengandalkan tempat ini karena setiap liburan kami tidak punya stok makanan di rumah jadi langsung ke tempat ini untuk makan di tempat atau bungkus. Selain itu tempatnya juga dekat dengan rumah, karenanya andalan banget deh, penolong saat lapar :D.

Kami menyebut liburan akhir pekan musim dingin ini adalah test drive sebelum liburan sebenarnya akan datang. Akan ke mana kami? Tunggu saja ceritanya nanti di blog ini *sok ada yang nunggu ceritanya.

 

-Nootdorp, 4 Maret 2018-

Thorn – Kota Putih di Belanda

Thorn - Belanda

Sewaktu mencari tempat mau ke mana akan saya lalui pada hari ulangtahun, di mana hanya bisa di Belanda saja karena bukan hari libur, maka saya memutuskan ingin ke provinsi Limburg. Browsing sana sini, lalu saya tertarik untuk mengunjungi Thorn yang disebut sebagai kota putih. Membaca deskripsi dari berbagai sumber, saya semakin penasaran. Lalu saya utarakan hal ini ke suami, dia langsung mengiyakan dan ikut penasaran seperti apa Thorn itu karena memang belum pernah ke sana sebelumnya. Saya tidak terlalu berharap banyak cuaca akan cerah karena beberapa hari sebelumnya salju sempat turun di sekitar tempat tinggal kami. Tidak turun hujan saja sudah sangat saya syukuri. Sewaktu sampai di Thorn, suasananya sangat sepi dan langsung tampak bangunan dan rumah dengan cat putih sepanjang mata memandang. Hanya beberapa turis yang kami jumpai saat itu, memegang peta sambil mengamati beberapa bangunan yang ada dan sesekali membidikkan kamera untuk mengabadikan yang ada di depan mata. Tidak banyak foto yang saya dapatkan di sini, entah karena udara yang begitu dingin atau saya terlalu fokus dengan situasi di sana sehingga lebih menikmati suasana lalu menjadi agak malas untuk mengabadikannya. Hanya sempat merekam beberapa sudut kota ini dalam video.

Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda

Sekitar tahun 990, kota Thorn terbentuk karena banyaknya biarawan dari kalangan bangsawan. Setelahnya, kota ini berkembang menjadi kerajaan kecil. Menjelang abad ke-18 para wanita bangsawan yang ada di Thorn melarikan diri untuk menghindari orang Perancis. Lalu, sejumlah besar orang miskin datang untuk tinggal di kota ini. Orang Perancis menghitung pajak berdasarkan dimensi jendela rumah. Karena orang miskin tidak dapat membayar pajak, mereka lalu membuat jendela mereka lebih kecil dengan cara membakarnya. Rumah-rumah itu kemudian dicat putih untuk menyembunyikan perbedaan antara batu bata tua dan baru. Begitulah asal usul kota putih Thorn yang saya baca dari Wikipedia dan mengapa semua rumah di kota ini berwarna putih. Sampai saat ini, rumah di Thorn berpenghuni selayaknya rumah biasa. Selain rumah-rumah lama (dibangun sekitar tahun 1500an) yang masih bisa dilihat dengan kondisi bagus, ada gereja tua dan kapel yang masih terjaga dengan baik. Untuk mengetahui apa saja yang bisa dikunjungi di Thorn, di dekat gereja terdapat pusat informasi untuk turis, jadi kita bisa mendapatkan informasi sejelas mungkin di sana.

Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda
Thorn - Belanda
Thorn – Belanda

Thorn ini letaknya tidak terlalu jauh dari Roermond, salah satu Designer outlet yang terkenal di Belanda. Saat ini, Thorn merupakan salah satu kota tujuan wisata karena keunikan warna putihnya tersebut. Para wisatawan yang datang ke Roermond untuk berbelanja, menyempatkan diri untuk mengunjungi Thorn. Jadi jika ada yang sedang liburan ke Belanda dan salah satu tujuannya adalah berbelanja ke Roermond, tidak ada salahnya mampir ke Thorn sebagai alternatif tempat wisata yang tidak terlalu turistik. Tidak usah khawatir, di Thorn banyak dijumpai restaurant dan cafe.

 

-Nootdorp, 11 Oktober 2017-