Saat Suami Berkunjung ke Indonesia

Saya tiba-tiba ingin menuliskan beberapa hal saat suami berkunjung ke Indonesia 5 tahun lalu. Tahun 2014 ada dua kali kunjungan, yang pertama untuk melamar dan 6 bulan kemudian suami datang lagi untuk menikah. Kunjungan pertama hanya satu minggu, sedangkan kunjungan kedua selama 6 minggu karena setelah menikah kami bulan madu backpacker-an dari Bali sampai Bandung, benar-benar naik transportasi umum perjalanan darat berhenti di beberapa kota. Nah selama dua kunjungan itu, ada hal-hal dari yang lucu sampai yang biasa saja tapi teringat terus sampai sekarang. Sebenarnya banyak ya cerita-cerita selama suami di Indonesia, tapi saya tuliskan yang paling diingat saja.

  • TANGAN SAKTI

Malam pertama dia di Surabaya (saat itu status masih teman), saya jemput dia di penginapan yang tidak jauh dari kos saya. Lalu kami jalan kaki menuju tempat makan yang ada di Mulyosari. Nah ketika hendak menyeberang jalan, saya kan tengok kiri kanan dulu. Lalu saya bilang, “nanti kalau aku nyebrang, kamu ikut nyebrang ya sambil tangan kamu agak diangkat satu kayak posisi menyetop,” saya memberikan contoh. Dia masih bingung, tapi mengikuti saya ketika menyeberang. Itu jalanan Mulyosari lumayan ramai kalau malam. Jadi kalau terlihat agak sepi, harus cepat-cepat menyeberang.

Sesampainya di seberang jalan, dia bertanya,”kok tadi kita tidak menyeberang di tempat penyeberangan? Kok bisa sih menyeberang hanya dengan mengacungkan tangan seperti itu?” saya jawab,”wah, bisa kelamaan kalau nyebrang di tempat penyeberangan. Ya beginilah cara kami menyeberang. Memang kalau menyeberang seperti itu, meskipun tidak jaminan kendaraan akan berhenti sih. Tapi lumayan memberi tanda kalau kita akan menyeberang.”

Dia cuma komen,”sakti sekali ya fungsi tangan di sini, bisa untuk menyeberang dan memperlambat laju kendaraan.” haha saya waktu itu tertawa melihat mukanya yang masih bingung. Setelah tinggal di Belanda, barulah saya paham kenapa waktu itu dia reaksinya seperti itu. Di Belanda, tidak bisa sembarangan menyeberang jalan. Kalau mau menyeberang, di tempat penyeberangan dan musti memencet tombol dulu dan tunggu sampai lampu untuk pejalan kaki (atau pesepeda) berwarna hijau. Bisa saja menyeberang tanpa di tempat penyeberangan khusus, misalkan jalan di desa yang kecil, tapi perhatikan rambu disekitarnya. Meskipun di Belanda pejalan kaki adalah raja, tapi jika ada tanda bahwa pejalan kaki menyeberang menunggu mobil lewat, maka harus dipatuhi juga. Dan tidak ada tangan sakti di sini.

  • SARAPAN SUPER LENGKAP

Sejak pertama dia datang ke rumah orangtua, saya sudah mewanti-wanti kalau Ibu selalu menyiapkan sarapan yang pasti termasuk ukuran berat buatnya, apalagi kalau ada tamu yang menginap. Berat di sini maksudnya setara dengan makan siang dia. Benar saja, saat sarapan Ibu memasak nasi goreng, telor dadar, sambel, ayam goreng, pepaya, dan menyajikan nasi putih juga oseng kangkung. Dia yang biasa cuma sarapan dengan roti gandum dua lembar, mentimun diiris, telor rebus, keju dan yoghurt, terbelalak betapa banyaknya menu sarapan di Indonesia. Dia lalu bisik-bisik ke saya.”sarapannya seperti ini, bagaimana makan siang dan malamnya ya.” Saya bilang kalau di Indonesia tidak ada beda antara sarapan, makan siang, atau malam, semuanya berat haha.

Sebagai bayangan, kami di Belanda makan berat hanya sekali dalam sehari. Umumnya orang Belanda akan makan panas saat makan malam. Tapi di keluarga kami, makan panas justru siang hari sedangkan makan malam hanya roti atau salad. Makan panas ini maksudnya makan lengkap ya dan dalam keadaan panas. Sedangkan sarapan, saya cukup makan buah (pisang atau apel), minum susu almond. Itu sudah cukup sampai waktu makan siang. Kalau lagi males sarapan buah, ya saya sarapan roti dua lembar pakai keju atau selai coklat pakai meses. Simpel kan.

  • ARTI LAMPU LALU LINTAS

Saya ingat sekali kejadian ini. Setelah kami selesai berkunjung ke museum House of Sampoerna, kembali ke penginapan kami naik bemo O dari jembatan merah. Kami duduk di muka. Sesampainya di depan Galaxy Mall, saat lampu lalu lintas terlihat warna kuning dari kejauhan, supir bemo melambatkan kendaraan. Nah saat lampu berwarna merah, kami melihat beberapa sepeda motor tetap menerobos. Pemandangan tersebut tentu saja biasa untuk saya, tapi tidak untuk suami. Dengan perlahan memutar kepala ke arah saya, dia nanya, “arti lampu berwarna merah di sini dengan di negaraku apa beda ya? kalau di Belanda, lampu warna merah berhenti. Kalau di sini apa perkecualian untuk sepeda motor?” Hahaha saya langsung tergelak mendengar pertanyaannya. Saya lalu menjelaskan, ya di mana-mana sama artinya, hanya di Indonesia pemandangan seperti itu akan sering dilihat. Memang salah, tapi ya sudah mendarah daging nampaknya. Dia hanya mengangguk-angguk tapi mukanya tetap bingung haha.

  • TUKANG PARKIR SILUMAN

Beberapa kali kejadian, saat naik mobil, cari posisi parkirnya sendiri, eh tiba-tiba saat akan pergi tukang parkir datang minta uang parkir. Lah dia fungsinya apa ya, bantuin cari tempat kosong nggak, minta uang iya. Nah, suami juga komennya sama, dia sampai bingung, orang kok tiba-tiba muncul kayak siluman trus minta uang. Maklum ya, di Belanda mau parkir pun pasti nyari tempat sendiri. Tidak ada yang namanya tukang parkir, apalagi yang tiba-tiba muncul hanya minta uang saja.

  • SHOWER DAN WC JONGKOK

Di Belanda kan kamar mandinya kering. Bagian basah hanya untuk mandi. Selebihnya, kering semua. Sedangkan di rumah ortu, kamar mandi adanya ya bak mandi besar. Sedangkan WC tipe yang jongkok. Di kamar mandi selalu tersedia selang yang fungsinya untuk mengeluarkan kotoran yang ada di bagian bawah bak mandi. Kotoran ini maksudnya seperti tanah lembut yang terikut air keran. Sewaktu mandi, suami mikir selang ini fungsinya apa. Lalu dia ngarang sendiri apa mungkin semacam shower gitu haha. Tapi kalau misalkan semacam shower, cara pakainya bagaimana. Selesai mandi, dia cerita sama saya lalu saya tertawa terpingkal. Untung saja dia tidak menggunakan selang itu untuk mandi haha. Dan selama di rumah orangtua, tentu saja dia sangat tersiksa kalau di WC. Ya bagaimana tidak, kebanyakan orang Belanda kan tidak bisa duduk jongkok. Pasti susah buang hajat besar sambil jongkok.

Kami, 5 tahun lalu. Dan Saya, berpuluh-puluh kg lalu :D
Kami, 5 tahun lalu. Dan Saya, berpuluh-puluh kg lalu 😀
  • TISSUE TOILET

Di Indonesia, pada umumnya tissue yang digunakan dan diletakkan di atas meja restauran adalah tissue gulung yang sebenarnya adalah tissue toilet. Saya pun dulu cuek saja menggunakannya. Tapi suami saat pertama melihat sudah merasa aneh dan memastikan apakah tissue yang di taruh di atas meja itu tidak tertukar dengan tipe tissue lainnya.

Setelah tinggal di Belanda dan dipikir kembali, wah iya ya, pantas saja suami males menggunakan tissue gulung yang disediakan di restauran atau warung-warung di Indonesia, lah wong memang fungsinya untuk di toilet, bukan untuk mengelap mulut.

  • DUDUK MELANTAI

Nah ini yang tadi sempat saya singgung. Seperti kebanyakan orang Belanda (dan orang Eropa mungkin ya), mereka tidak bisa duduk dalam posisi jongkok. Entah mungkin tidak terbiasa sejak kecil. Hal tersebut akhirnya berpengaruh pada susahnya mereka untuk duduk lesehan. Suamipun seperti itu. Keluarga saya sudah terbiasa ngobrol santai ya lesehan. Sedangkan suami kesusahan duduk lesehan. Daripada merasa tersiksa, saya suruh saja dia duduk di kursi. Jadi terbayang, orang-orang lainnya duduk di lantai (bahkan sampai yang paling tua pun), suami seperti raja duduk sendirian di kursi haha. Orang kalau tidak mengerti dipikir suami tidak ada unggah ungguhnya. Yang lain duduk melantai, dia duduk di kursi, padahal yang sepuh lainnya ada di bawah. Untuk ukuran orang Jawa, tentu saja hal tersebut tidak sopan ya. Tapi buat suami, perkecualian. Daripada kakinya bengkak kan.

  • SAUDARA SATU DESA

Setelah menikah, kami menyempatkan untuk berkunjung ke rumah saudara-saudara yang ada di desa. Meskipun mbah saya sudah meninggal, tapi kami ada satu rumah yang biasa kami tempati jika berkunjung ke sana. Selama tiga hari saya dan suami tinggal di desa. Selama itu, saya memperkenalkan suami ke semua saudara yang ada di sana. Yang anehnya dan baru saya sadari waktu itu, ternyata hampir seluruh penduduk desa mempunyai hubungan saudara haha. Sampai suami bingung, banyak sekali saudara saya. Dibandingkan dia dan keluarganya yang memang sangat sedikit jumlahnya, saya dan saudara-saudara tentu saja jumlahnya terlalu banyak untuk ukurannya. Dia bilang,”bagaimana kamu bisa hafal kalau A adalah Bude kamu, C adalah sepupu kamu, Z adalah keponakan kamu dll. Padahal jumlahnya kan banyak,” saya bilang saja,”ya setiap lebaran selalu diulang-ulang lama-lama jadi hafal sendiri.” hahaha.

  • MAKANAN SUPER MURAH

Ya kalau ini memang sudah tidak diragukan lagi ya. Makanan di Indonesia tentu saja relatif lebih murah dibandingkan harga makanan di Belanda. Salah satu contoh saja saat kami makan di Jejamuran Jogjakarta. Kami memesan menu super lengkap ditambah minum beberapa jenis, saat membayar hanya sekitar 60 ribu rupiah atau setara 4 euro saat ini. Dia sampai sangat heran, makanan yang begitu banyak, enak, dan sangat mengenyangkan hanya seharga satu jenis makanan di Belanda. Belum lagi waktu di kota  saya, beli nasi goreng cuma 50 cent, sudah bisa dimakan berdua saking banyaknya.

10391041_10152692204928812_7177307795553235946_n

  • JALAN TOL ATAU LAPANGAN PARKIR

Minggu terakhir bulan madu, kami menginap di rumah pak lek saya di Bekasi. Nah, kami berencana akan liburan ke Bandung dan menginap satu malam. Jadwal kereta ke Bandung yang paling awal sekitar jam 8 (kalau tidak salah ingat ya). Pak Lek saya bilang, lebih baik berangkat setelah subuh dari Bekasi karena kalau telat sedikit, jalan tol sudah macet parah. Benar saja, meskipun kami sudah berangkat pas setelah sholat subuh, ternyata keluar dari tol Jati Asih, kendaraan bergerak lambat cenderung tidak bergerak. Telat beberapa menit saja sudah begitu keadaannya. Suami waktu itu sampai bingung dan bertanya ke Pak Lek yang posisi menyetir mobil,”ini kita sedang ada di lapangan parkir atau bagaimana ya, kok banyak mobil yang berhenti.” hahaha Saya dan Pak Lek langsung tertawa terpingkal. Saya terangkan kalau kita sedang berada di jalan tol yang selalu banyak hambatan haha.Ya maklum saja, di negaranya namanya jalan tol ya jalan yang lancar meskipun tidak selalu ya. Jika jam-jam sibuk misalkan jam pulang kantor juga macet meskipun tidak sampai berhenti total.

Cerita yang saya tuliskan di atas kejadiannya 5 tahun lalu ya, jadi mungkin saja ada yang berbeda saat ini. Saya sendiri sudah lebih dari 4.5 tahun sejak tinggal di Belanda, belum pernah sekalipun mudik, jadi tidak tahu situasi saat ini. Menuliskan hal-hal yang berkesan tersebut membuat saya senyum-senyum sendiri dan tertawa ngikik bersama suami yang ada di sebelah saya sedang membaca buku sambil ngobrol. Jadi kangen dengan Indonesia.

Selamat berakhir pekan semua. Mungkin ada cerita dan pengalaman kenalan atau pasangan atau teman saat pertama kali berkunjung ke Indonesia, bagaimana kesannya, mungkin ada cerita lucu silahkan tulis di komen.

-5 September 2019-

 

 

4 thoughts on “Saat Suami Berkunjung ke Indonesia

  1. Aku ketawa di bagian lampu merah haha. Bener juga ya, pasti membingungkan, bisa jadi orang yang pertama kali liat pelanggaran mikir, “oh barangkali lampu merahnya hanya untuk mobil.”

    Suka baca tulisan ini. Kayak gegap budaya gitu tapi menyenangkan melihat perbedaan itu bisa jadi satu yang unik.

    1. Terima kasih Om sudah mampir dan baca tulisanku dan meninggalkan komentar juga. Tersanjung saya 🙂

      Ini kami sudah 5 tahun ga pulang. Nanti kalau mudik, bakal ada gegap budaya edisi kedua haha

  2. Salam kenal mba..saya silent reader blog mba..

    Kondisi di indonesia masih sama mba.. belum ada yang berubah.. hehe

    Selalu lucu kalo melihat keheranan org luar klo ke Indonesia. Nice post.

    1. Hai Mila, terima kasih ya sudah membaca tulisan2 di blog aku dan akhirnya ga jadi silent reader lagi 🙂

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.