Pisa – Italia

Menara PIsa - PIsa - ITalia

Nama Menara Pisa sering saya dengar, bahkan sejak SD karena sering muncul di RPUL (yang hapal isinya RPUL, ngacung *saya! Saat masih SD ya). Sebuah menara miring di Italia dan merupakan salah satu keajaiban dunia, begitu yang saya ingat. Saya pikir, Pisa itu benar-benar hanya nama sebuah menara. Jadi seperti Monas gitu, saya pikir tidak ada sangkut pautnya dengan nama tempat. Ternyata saya salah. Saat menyusun rute perjalanan, baru saya paham kalau Pisa adalah nama sebuah kota di wilayah Tuscany, Italia. Hapal RPUL ternyata belum tentu pintar (ngaku haha).

Pisa Baptistery, Cathedral Santa Maria Assunta, Campo Santo, Menara Pisa - PIsa - Italia
Pisa Baptistery, Cathedral Santa Maria Assunta, Campo Santo, Menara Pisa – PIsa – Italia
Pisa Baptistery
Pisa Baptistery

Setelah tahu kalau Pisa adalah nama kota, masih dalam bayangan saya, menara Pisa letaknya tidak di dalam komplek yang ada beberapa bangunan bersejarah lainnya. Ya bayangan saya seperti Monas gitu (haha maap ya dari tadi contohnya Monas terus, karena memang pada saat itu saya membayangkan lokasinya seperti Monas gitu). Setelah sampai sana, owalah ternyata beberapa bangunan bersejarah ini terletak dalam satu komplek, satu area. Jadi dalam satu area ada Pisa Baptistery, Cathedral Santa Maria Assunta, Campo Santo, Menara Pisa. Baru mudeng saya.

Cathedral Santa Maria Assunta dilihat dari Pisa Baptistery
Cathedral Santa Maria Assunta dilihat dari Pisa Baptistery

 

Cathedral Santa Maria Assunta, Menara Pisa - PIsa - Italia
Cathedral Santa Maria Assunta, Menara Pisa – PIsa – Italia
Cathedral Santa Maria Assunta
Cathedral Santa Maria Assunta

Kami ke sana saat musim panas. Waduh, saya yang gampang terkena serangan panik kalau berada di keramaian yang super ramai, benar saja saat baru memasuki gerbangnya, melihat orang yang sangat banyak memenuhi dalam komplek, mendadak badan saya gemetar. Saya sampai harus duduk untuk menenangkan diri dan meneduh dari sengatan sinar matahari yang saat musim panas di Italia rasanya ada 10 biji di atas kepala. Super panas. Waktu itu suhu sampai 40 derajat celcius. Sepanjang mata memandang, banyak sekali turis Asia (terutama turis Cina).

Campo Santo
Campo Santo

Untuk masuk ke bangunan-bangunan tersebut harus membeli tiket dulu. Tiket yang dijual saya tidak ingat apakah bisa membeli satuan ataukah harus terusan. Kami membeli tiket terusan sehingga bisa dipakai untuk masuk ke semua tempat di dalam area tersebut. Untuk masuk ke Menara Pisa, harus bergiliran. Jadi ada penjaganya  yang mengatur kapan kita bisa masuk ke dalam. Tahun 2016, ada pengerjaan bangunan terkait dengan kemiringan menara Pisa. Tapi saya tidak ingat pastinya pengerjaan yang seperti apa. Tentang Menara Pisa, bisa googling sendiri ya, banyak yang sudah menyediakan informasi lengkapnya (haha blog macam apa ini).

Menara Pisa - PIsa - Italia
Menara Pisa – PIsa – Italia
Naik ke Menara Pisa
Naik ke Menara Pisa
Tangganya sampai jeglong begini
Tangganya sampai jeglong begini

Yang paling menarik perhatian saya selain Menara Pisa adalah turis-turis (termasuk saya) yang berfoto dengan berbagai macam pose. Saking menariknya saya sampai memotret beberapa yang “terniat.” Ada banyak, tapi tidak saya tampilkan di sini ya takutnya yang bersangkutan tidak berkenan. Benar-benar niatlah pose mereka. Dari yang bergaya standar (macam saya yang hanya berdiri tegak di atas batu lalu pose seolah-olah memegang Menara Pisa) sampai pose yang jumpalitan. Menarik sekali mengamati tingkah turis-turis ini. Belum lagi turis-turis yang ributnya macam di sana hanya ada mereka saja, yang lainnya semacam tak terlihat haha. Lah bagaimana tidak, ngomong kenceng sekali ditambah berteriak, rasa-rasa tidak ada orang lain saja di sekelilingnya.

Kota Pisa dilihat dari atas Menara PIsa
Kota Pisa dilihat dari atas Menara Pisa

Satu yang kami tidak lupa tentang kota Pisa adalah cerita dibalik dompet suami yang hilang lalu mendadak ada seorang wanita yang membawa dan mengembalikannya. Jadi ceritanya, setelah selesai dari Menara Pisa dan beberapa tempat lainnya, kembalilah kami ke area parkir mobil. Menuju tempat parkir mobil, banyak sekali orang menjajakan dagangannya, macam kalau di Paris. Nah saat suami akan membayar parkir mobil di mesin, dia mencari dompet di tasnya kok tidak ada. Wah paniklah kami, karena masih ada waktu 1.5 minggu lagi di Italia, lalu bagaimana dengan selanjutnya. Saat membayar di mesin tersebut, ada beberapa orang yang mepet maksa menawarkan dagangannya. Jadi berhati-hatilah dengan para pedagang di sana ya.

Saya coba berpikir positif, mungkin saja ketinggalan di mobil. Saat akan menuju ke mobil, seorang wanita berteriak-teriak. Kami menoleh, rupanya dia berteriak ke kami. Dikembalikan dompet suami, dia bilang terjatuh di jalan. Kami heran, kapan mengeluarkan dari tas ya kok sampai terjatuh. Tas suami modelnya selempang tidak terlalu besar dan hampir selalu ditaruh di depan. Setelah diperiksa, tidak ada satupun yang hilang dari dompet. Bahkan uang pun masih lengkap. Sungguhlah suatu keajaiban. Kami benar-benar berterima kasih pada perempuan yang menemukan. Dia hanya tersenyum lalu melanjutkan jalannya.

Menara PIsa - PIsa - ITalia
Menara PIsa – PIsa – ITalia

Sungguhlah Pisa tidak terlupakan buat kami. Cerita dompet hilang  lalu tiba-tiba kembali dan masih lengkap isinya dan banyaknya turis yang ada di sana. Beneran lho itu turis membludak jumlahnya. Yang pasti, saya senang bisa mengunjungi tempat yang selama ini selalu jadi hapalan di RPUL. Buat saya, melihat Menara Pisa secara langsung membuat terkagum, berdecak dan juga terpana dengan megahnya serta kemiringannya.

-14 Nopember 2019-

Catatan Perjalanan – Pantai Papuma

Pantai Papuma, Jember

Masih dalam rangkaian Catatan Perjalanan jalan-jalan bulan Agustus – September 2014

Setelah dari Bali (Cerita Perjalanan di Bali bisa klik disini), maka perjalanan kami lanjutkan menuju Kota Ambulu, Kabupaten Jember. Mengapa ke Ambulu? Karena saya dilahirkan di Ambulu. Saya anak pertama dari 3 bersaudara. Kami sekeluarga sebenarnya tinggal di Situbondo. Tapi saya dan kedua adik dilahirkan di Ambulu yang merupakan kota asal Bapak. Ambulu adalah kecamatan di Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Wilayah selatan kecamatan ini berbatasan dengan Samudera Hindia dengan pantai yang terkenal Pantai Watu Ulo dan Pantai Papuma. Kecamatan Ambulu mempunyai luas wilayah 104,56 Km² dengan ketinggian rata-rata 35 m di atas permukaan laut (Sumber : Wikipedia). Kami sekeluarga masih sering pergi ke Ambulu meskipun Bapak dan Mbah sudah meninggal. Ambulu kotanya nyaman, sejuk dengan masyarakatnya yang ramah (ramah yang tulus bukan kepo), setidaknya itu yang saya rasakan.

Mas Ewald ingin mengetahui lingkungan dimana saya dilahirkan dan ingin mengenal lebih jauh saudara-saudara yang ada disana. Kami menginap dirumah Bude karena kediaman Mbah yang biasanya saya dan keluarga tempati jika sedang di Ambulu, dalam tahap renovasi. Sejak sampai di Ambulu, Mas Ewald sudah sangat suka dengan lingkungannya. Tenang, tidak terdengar bising kendaraan lalu lalang, khas kota kecil, apalagi kami tinggal didesanya. Benar-benar nyaman dijadikan sebagai tempat istirahat, kalau malam hanya terdengar suara jangkrik dan kodok, suara adzan mengalun syahdu saat menjelang subuh. Bahkan Mas Ewald sudah punya cita-cita akan tinggal di Ambulu kalau sudah pensiun nanti. Selama 2 hari di Ambulu, Mas Ewald banyak mengenal hal baru. Pertama kali melihat kelapa yang langsung diambil dari pohon. Baru mengetahui tanaman sereh, jahe, dan beberapa tanaman bumbu lainnya yang langsung diambil dari tanah. Makan buah yang langsung dipetik dari kebun. Sayuran yang langsung diambil dari sawah. Dia senang karena semua makanan yang dia makan selama disana segar. Mandi dari air sumur, benar-benar segar dibadan. Saya senang karena bisa memperkenalkan kekayaan alam Indonesia dimulai dari lingkungan terdekat. Saya bahagia karena suami semakin kaya pengetahuannya akan Indonesia.

Salah satu menu makanan di Ambulu yang membuat Mas Ewald nambah nasi : Tahu tempa goreng, sambel trasi, sambel belimbing wuluh, ikan asin, terong goreng, sawi kukus. Menu ini benar-benar menggugah selera.
Salah satu menu makanan di Ambulu yang membuat Mas Ewald nambah nasi : Tahu tempa goreng, sambel trasi, sambel belimbing wuluh, ikan asin, terong goreng, sawi kukus. Menu ini benar-benar menggugah selera. Sawi, terong, cabe, dan belimbing wuluh langsung dipetik dari kebun dan sawah milik Mbah.

Malamnya Mas Ewald bercengkrama dengan beberapa saudara. Dalam satu desa ini, nyaris semua penduduknya masih mempunyai ikatan saudara. Meskipun dengan Bahasa Indonesia yang terbatas, tapi dia sangat menikmati berkumpul dengan mereka. Tertawa, menyimak beberapa hal, dan menceritakan tentang Belanda. Kalau seperti ini, bahasa tidak menjadi kendala utama lagi. Yang paling penting adalah saling memahami. Menjelang tidur, dia berkata bahwa menyenangkan mempunyai banyak saudara, karena di Belanda dia berasal dari keluarga yang sangat kecil. Mas Ewald merasakan kehangatan berkumpul dengan keluarga baru di Indonesia. Jadi memang benar, pernikahan itu bukan hanya tentang cinta 2 manusia, tetapi memperkenalkan budaya dan keluarga yang berbeda.

Keluarga Ambulu, Jember
Keluarga Ambulu, Jember

Keesokan paginya, saya membawa Mas Ewald ke Pantai Papuma yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal kami, hanya 10 menit berkendara.

PANTAI PAPUMA

Sebenarnya di Jawa Timur memiliki banyak sekali pantai-pantai yang eksotis. Papuma adalah salah satunya. Pantai Papuma terletak diwilayah kabupaten Jember Kecamatan Ambulu, tepatnya didesa Sumberejo. Jalan menuju Pantai Papuma harus melewati tanjakan dimana kiri dan kanannya adalah hutan yang sebagian besar ditanami pohon jati, palem, serut dan beragam pohon kecil lainnya. Jalan ini pada saat Agustus kami kesana sedang rusak. Aspal yang berlubang disana sini membuat para pengendara harus esktra hati-hati mengendarai sepeda motor ataupun mobil.

Hutan menuju Pantai Papuma
Hutan menuju Pantai Papuma

Disepanjang Pantai Papuma terhampar pasir putih yang bersih dan indah. Meskipun ombak di pantai ini tidak terlalu tinggi tetapi tidak diperbolehkan untuk berenang karena Pantai Papuma merupakan gugusan pantai selatan yang terkenal dengan ombaknya yang tidak bersahabat. Papuma merupakan singkatan dari Pasir Putih Malikan. Malikan adalah nama yang diberikan Perhutani setelah membuka lokasi wisata ini. Kata Tanjung ditambahkan didepannya menjadi Pantai Tanjung Papuma yang menggambarkan posisi pantai yang menjorok ke laut barat daya. Selain pantai, hutan dikawasan ini juga menjadi daya tarik wisatawan karena ada beberapa hewan seperti orang hutan, ayam hutan, dan burung yang berkeliaran.

Pantai Papuma juga terkenal dengan karang-karang besar yang diberi nama tokoh pewayangan. Tempat makan banyak terdapat didalam kawasan pantai ini. Menu yang ditawarkan tentu saja sekitar makanan laut. Terdapat beberapa penginapan juga yang disewakan oleh pihak Perhutani jika ada wisatawan yang ingin menginap dengan harga yang bervariasi.

Salah satu karang besar yang ada di Pantai Papuma. Karang-karang tersebut dinamai dengan tokoh pewayangan
Salah satu karang besar yang ada di Pantai Papuma. Karang-karang tersebut ditandai dengan diberi nama tokoh pewayangan
Pantai Papuma, Jember
Pantai Papuma, Jember
Pantai Papuma, Jember
Pantai Papuma, Jember
Pantai Papuma, Jember
Pantai Papuma, Jember
Pantai Papuma
Pantai Papuma
Pantai Papuma, Jember
Pantai Papuma, Jember
Pantai Papuma, Jember
Pantai Papuma, Jember
Pantai Papuma, Jember
Pantai Papuma, Jember

Bagaimana, tertarik untuk mengunjungi Pantai Papuma? Atau sudah pernah ke Papuma?

 

Catatan Perjalanan bulan madu kami selanjutnya adalah Karimunjawa. Pulau Karimunjawa memberikan kesan yang tidak terlupakan buat kami dalam proses pengenalan satu sama lain juga keindahan alam dan lautnya. Ingin tahu ceritanya? silahkan klik disini.

Bersiap menuju kota selanjutnya, Jogjakarta. Pose dulu bersama saudara-saudara
Bersiap menuju kota selanjutnya, Jogjakarta. Pose dulu bersama saudara-saudara

 

-Situbondo, 15 November 2014-

Update : -Den Haag, 1 Maret 2016-

Catatan Kuliner : Semarang – Jogjakarta – Solo

Pecel didepan Pasar Beringharjo. Kalau melihat foto ini selalu kangen kota Jogjakarta.

Update : Ini sebenarnya postingan lama, tapi gara-gara saya ngubek folder foto, akhirnya menemukan foto-foto liburan saya dengan teman-teman sekitar tahun 2009 di Jogja, akhirnya saya update sekalian rekomendasi tempat makan yang di Jogja. Saya posting ulang siapa tahu ada yang akan ke Jateng libur panjang besok dan ingin wisata kuliner.


Menjelang akhir pekan seperti ini rasanya ingin ngabur sebentar buat jalan-jalan ya. Melepaskan sedikit penat karena rutinitas harian yang tidak ada habisnya. Kalau menuruti pekerjaan, memang tidak akan pernah selesai. Perlu sesekali memanjakan diri untuk berlibur disuatu tempat, membuat rileks pikiran dan badan. Tidak harus jalan-jalan serius, wisata kuliner juga bisa membuat hati senang. Tidak harus makanan yang mahal, yang penting hati riang.

Saya dan Mas Ewald suka makan dan mencoba beragam makanan baru, kecuali unggas dan daging buat saya. Nah, mumpung Mas Ewald sebulan di Indonesia, saya ingin memperkenalkan beragam makanan Indonesia. Supaya dia tahu kalau makanan Indonesia itu tiada duanya dan selalu membuat kangen siapapun yang merantau keluar negeri.

Dibawah ini beberapa tempat makan yang kami datangi ketika jalan-jalan pada bulan Agustus 2014 di 3 kota yaitu Semarang, Jogjakarta, dan Solo. Tempat makan di 3 kota ini kebanyakan saya kenal karena pernah mendatangi sebelumnya (saya sering ditugaskan di 3 kota ini sewaktu bekerja). Jadi bukan dari rekomendasi atau tempat yang jadi rujukan website travelling, melainkan dari pengalaman pribadi. Tetapi ada juga tempat yang kami datangi karena tidak sengaja, kepepet sudah kelaparan dan malas mencari tempat lainnya, eh ternyata tempatnya nyaman.

SEMARANG

1. Bandeng Juwana

    Jl. Pandanaran 57, Semarang. Website : http://www.bandengjuwana.com

Restoran Bandeng Juwana yang terletak di Jalan Pandanaran ini saya ketahui pertama kali sewaktu sering ditugaskan ke Semarang oleh kantor. Awalnya tidak tahu kalau dipusat oleh-oleh ini terdapat tempat makan di lantai 2. Tempatnya nyaman, makanannya enak, harga bersahabat. Kami 2 kali makan ditempat ini. Oh iya, kita juga bisa memesan lumpia dengan bermacam variasinya di lantai satu, kemudian diantar ke lantai 2.

DSC_0174
Restaurant dan Pusat Oleh-Oleh
DSC_0175
Lumpia yang kami pesan belum datang. Menu yang kami pesan oseng jamur, oseng pare, garang asem bandeng, semur bandeng, oseng daun pepaya, bakwan jagung, es dawet, dan teh tawar. Total yang harus dibayar tidak sampai 100 ribu
Lantai satu sebagai pusat oleh-oleh
Lantai satu sebagai pusat oleh-oleh

 

2. Noeri’s Cafe

    Jl. Nuri no. 6 – Kota Lama, Semarang

Nah, Cafe ini tidak sengaja kami temukan karena aslinya salah jalan. Jadi setelah membeli tiket ke Jakarta dari Stasiun Tawang, kami ingin ke Gereja Blenduk. Tapi kami tidak tahu arah kesana lewat jalan mana. Akhirnya kami gambling lewat jalan kecil, persis depan stasiun. Ketika berjalan melewati tempat ini, kami merasa tidak ada yang spesial. Seperti Cafe biasa pada umumnya. Mas Ewald sempat berhenti untuk mengambil gambar dari depan. Tiba-tiba dari dalam ada seorang lelaki yang mempersilahkan masuk. Kami ragu-ragu karena memang tidak berencana untuk makan, selain itu hari sudah menjelang malam. Tapi Mas Ewald bilang, mampir saja sebentar. Setelah masuk, Wow! kami ternganga. Interiornya benar-benar vintage dan barang-barang yang ada disana antik semua. Jadi Cafe ini memang didirikan untuk menyalurkan hobi pemiliknya yang merupakan kolektor benda antik professional, Pak Handoko. Tema Cafe ini adalah kolonial. Mas Ewald tentu saja girang melihat banyak benda yang sangat Belanda. Lebih lengkap tentang Noeri’s Cafe akan saya ceritakan lengkap pada postingan berbeda. Pada akhirnya kami tidak menikmati makan dan minum disini, hanya tour singkat yang dipandu oleh salah satu pengelola Cafe yaitu Pak Wawan. Saya sempat melihat sekilas menu makan dan minum, tidak berbeda dengan Cafe pada umumnya. Makanan dan minuman ringan. Jika ingin mencari alternatif Cafe dengan suasana yang berbeda, sangat disarankan ke Noeri’s Cafe

DSC_8514_1

DSC_0201
Interior Noeri’s Cafe
DSC_0202
Mesin di Kasir yang antik
Noeri's Cafe
Pajangan di dinding yang sangat kental suasana kolonial di Noeri’s Cafe
DSC_0200
Berpuluh radio antik. Dan semuanya masih berfungsi dengan baik

 

3. Toko OEN

    JL Pemuda, No.52 Semarang. Website : http://tokooen.com/

Pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Toko Oen. Toko yang terkenal dengan es krim yang rasanya super lezat itu, terletak tidak jauh dari kota lama Semarang. Toko Oen adalah toko roti dan kue pertama di Yogyakarta yang berdiri tahun 1922. Berikutnya menyusul dibuka di Semarang, Malang dan Jakarta. Akan tetapi, tahun 1958 Toko Oen di Yogyakarta dan Jakarta ditutup, sementara yang di Malang dibeli seorang pengusaha. Kini hanya tersisa Toko Oen di Jalan Pemuda 52, Semarang. Toko Oen di Semarang telah berdiri sejak 1936, bangunannya barcat putih dengan kaca besar dan pintu kayu yang masih lekat nuansa klasik. Toko Oen dibangun dengan model jendela dan atap melengkung tinggi meniru desain yang popular di Eropa abad ke-19. Interior bangunannya masih asli ditambah langit-langit yang tinggi dan digantungi lampu-lampu elegan. Furniture resto ini juga menarik karena dilengkapi sebuah mesin kasir tua, jam kayu kuno besar, dan sebuah piano kuno berwarna hitam. Suasana ruangannya menenangkan berpadu dengan lagu-lagu klasik yang mampu membangkitkan nostalgia. Tepat di depan pintu masuknya terpampang etalase dan toples kaca besar berisi kue-kue kering. Sejak dulunya Toko Oen merupakan tempat makan orang-orang Belanda. Bahkan hingga kini pun toko ini tetap menjadi tujuan wajib wisatawan asal Belanda yang datang ke Semarang. (sumber : Wonderful Indonesia)

Mas Ewald senang sekali disini karena suasananya yang kental dengan negeri Belanda. Kami sebenarnya tidak membeli makanan yang banyak. Hanya mencicipi Es Krim yang terkenal enaknya. Niatnya ke Toko Oen sih ingin menumpang Wifi. Duduk berlama-lama hampir satu jam dengan bermodalkan segelas Es Krim. Tapi benar, Toko Oen sangat kami rekomendasikan selain tempatnya yang nyaman juga Es krimnya yang lezat.

DSC_0218

DSC_0216

DSC_0217
Setelah lulus A1 2 bulan lalu, ngertilah saya baca ini *hahaha congkak

 

 4. Bakmi Djowo Doel Noemani

Nah, Bakmi Djowo ini juga tidak sengaja kami temukan. Setelah selesai Mas Ewald Tour Lawang Sewu, kami merasa lapar, tapi tidak ingin makanan yang terlalu berat. Kami sepakat untuk makan seadanya yang kami temukan sepanjang jalan menuju hotel. Ternyata didepan hotel Amaris, tempat kami menginap, ada tempat makan yang pembelinya terlihat banyak sekali. Tanpa pikir panjang kami pun menghampiri. Ternyata Bakmi. Setelah bakmi yang kami pesan datang, dan karena kelaparan, kamipun makan tanpa banyak bicara. Rasanya enak sekali. Kami memesan Bakmi Goreng. Mas Ewald sampai tambah 1 piring lagi. Mas, luwe nemen yo kok sampek nambah hehe. Porsinya menurut saya pas, tidak terlalu banyak maupun sedikit. Harganya juga tidak mahal per porsinya Rp 8000 kalau tidak salah ingat untuk sepiring Bakmi Goreng. Yang membutuhkan tempat makan dimalam hari, datang saja ke Bakmi Djowo Pak Doel Noemani.

Foto dipinjam dari http://bakmiedjowodoelnoemani.blogspot.com/
Meskipun kelas warung, karyawannya pakai seragam batik yang berganti setiap hari. Dan rasa khas bakmienya didapat dari cara memasaknya yang menggunakan Anglo
Meskipun kelas warung, karyawannya pakai seragam batik yang berganti setiap hari. Dan rasa khas bakmienya didapat dari cara memasaknya yang menggunakan Anglo
2 kali kesini ga sempat difoto, kebur habis karena kelaparan. Foto dipinjam dari http://wisatasemarang.wordpress.com/page/3/?pages-list
2 kali kesini ga sempat difoto, keburu habis karena kelaparan. Foto dipinjam dari http://wisatasemarang.wordpress.com/page/3/?pages-list

JOGJAKARTA

1. Pasar Bringharjo

Setiap ke Jogjakarta, saya tidak pernah absen menyempatkan diri untuk sarapan di bagian depan Pasar Bringharjo. Rasa makanannya khas rumahan dan pilhan makanannya beragam. Tempat makan depan Pasar yang terletak di Jalan Malioboro ini menyedikan segala macam jenis sate, pecel, mie, baceman, gudeg, dan lainnya. Harganya tentu saja sangat bersahabat. Kalau sudah disini, dipastikan pasti kalap mata. Rasanya semua ingin disantap. Silahkan mampir kesini jika ingin mencari alternatif tempat untuk sarapan

DSC_0141
Segala makanan ada di emperan Pasar Bringharjo
DSC_0142
Sarapan disini selalu membuat ketagihan untuk kembali datang. Rasanya mak nyuss 🙂 *Aduh saya jadi lapar sluruuphh

 

2. Jejamuran

    Jl. Magelang KM 10 Yogyakarta /Sleman

Jejamuran ini salah satu tempat yang saya selalu kunjungi jika mendapat tugas kantor ke Jogjakarta. Saya mengajak Mas Ewald kesini karena ingin menunjukkan bahwa jamur bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan yang sangat lezat. Kami ke Jejamuran ini setelah dari Borobudur. Jadi kami turun di perempatan sleman, kemudian jalan kaki sekitar satu kilo ke arah kiri dari perempatan sleman arah dari Borobudur. Untuk menuju ke Jejamuran, tidak ada kendaraan umum yang melintas karena tidak terletak dijalan besar. Jejamuran berdiri sejak tahun 1997 dan pemiliknya adalah Pak Ratidjo, seorang pengusaha jamur. Semua menu yang tersedia disini berbahan dasar Jamur. Cocok untuk mereka yang vegetarian. Jika ingin berkunjung,  tempat makan khas jamur ini buka dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 21.00. Sekedar saran, jika datang pada siang hari, usahakan sebelum jam makan siang, karena bisa dipastikan restoran yang memiliki parkir luas ini, penuh pengunjung terutama para pegawai kantor di seputaran Kota Yogyakarta. Rasa enak, namun harga tidak menguras kantong.

Rendang Jamur, Tongseng Jamur, Sate Jamur, Asem-asem Jamur. Yummyy!!
Rendang Jamur, Tongseng Jamur, Sate Jamur, Asem-asem Jamur. Yummyy!! Minumnya Es Kencur nambah 3 kali hahaha haus banget setelah jalan 1 km. Segeerrr. Kami membayar cukup 100 ribu saja

 

3. Legian Garden Restaurant

    Jl. Perwakilan no. 9, second floor across Ibis Hotel and Malioboro Mall, Yogyakarta Website : http://legianrestaurant.weebly.com/

Restoran Legian ini juga salah satu tempat yang kami temukan tanpa sengaja. Jadi, pada saat itu seharian kami penuh drama menuju Museum Ullen Sentalu. Akses kendaran umum yang susah menuju dan dari Ullen Sentalu-Jogja membuat energi kami terkuras karena harus berganti berkali-kali kendaraan umum. Setelah turun dari TransJogja, kami memutuskan untuk makan di mall Malioboro saja karena malas dan terlalu capek kalau harus cari-cari lagi tempat makan. Tiba-tiba sebelum mall persis kami melewati tempat ini. Saya bilang ke Mas Ewald, yuk kita lihat sebentar. Setelah naik kelantai 2, kami langsung suka dengan tempatnya. Konsepnya adalah restoran diatap semi outdoor yang berkonsep kebun. Jadi suasananya sejuk karena semilir angin juga romantis karena seperti makan ditengah kebun ditemani temaram lilin. Makanannya enak, harga tidak terlalu mahal, suasananya pun romantis. Perfect!. Oh iya, saya melihat pengunjungnya banyak yang bule.

Sate Jamur, Ikan Bakar ukuran jumbo, Tumis Kangkung, Minuman Rempah
Sate Jamur, Ikan Bakar ukuran jumbo, Tumis Kangkung, Minuman Rempah 2 porsi. Sekitar 150 ribu
Restoran di atap semi outdoor nuansa taman
Restoran di atap semi outdoor nuansa taman. Cozy

 

4. The House Of Raminten

     Jl. FM Noto 7, Kotabaru, Yogyakarta

The House of Raminten juga tempat makan yang selalu saya kunjungi jika ke Jogja. Menurut saya, rasa makanannya sangat biasa dan harganya murah meriah. Tapi entah kenapa meskipun rasanya biasa, saya selalu ingin kembali datang kesini. Mungkin saya suka dengan suasananya yang unik. Jadi sejarah The House of Raminten adalah diawali dari hobby, Hamzah.HS yang sangat menyukai makanan dan minuman tradisional yaitu jamu dan sego kucing dan juga rasa sosialnya yang tinggi akhirnya Hamzah.HS membuka suatu peluang usaha yang diberi nama The House of Raminten. Dimana nama Raminten adalah nama tokoh yang diperankan oleh Hamzah HS dalam sebuah sitcom di Jogja TV yang ditayangkan setiap Minggu jam 17.00 dengan judul Pengkolan. The House Of Raminten sendiri buka 24 jam dengan nonstop musik gamelan. Untuk lebih lengkap tentang sejarahnya, bisa dibaca disini

Selain nama-nama menunya yang unik, pramusajinya juga selalu menggunakan kostum yang khas. Selalu menggunakan kemben atau kebaya untuk wanitanya, berjarik dan berompi untuk yang pria.

DSC_8178

Disediakan sudut ruang untuk belajar membatik
Disediakan sudut ruang untuk belajar membatik
Lesehan
Lesehan
Sarapan porsi Jumbo karena kelaparan setelah semalaman naik kereta api ekonomi dari semarang. Gudeg komplit, Sambel Tempe Penyet, Tempe Mendoan, Lumpia, Minuman Rempah
Sarapan porsi Jumbo karena kelaparan setelah semalaman naik bis dari Surabaya. Gudeg komplit, Sambel Tempe Penyet, Tempe Mendoan, Lumpia, Minuman Rempah, es cendol. Kami membayar semuanya tidak sampai 60 ribu
Minuman Susu Perawan Tancep. Unik ya, gelasnya berbentuk payudara
Minuman Susu Perawan Tancep. Unik ya, gelasnya berbentuk payudara

 

5. Gudeg dan Ronde

Makanan lainnya yang tidak boleh lupa untuk dicicipi ketika datang ke Jogjakarta tentu saja Gudeg dan Ronde. Waktu itu, kami tidak memilih secara khusus pergi ke Gudeg yang terkenal di Jogja. Kami makan gudeg pun karena sudah lapar setelah berkeliling di Keraton Jogja. Jadi kami makan seadanya disekitaran pintu keluar Keraton Jogja. Saya dan Mas Ewald sama-sama bukan penyuka manis. Jadi untuk Gudeg, kalau tidak terpaksa, kami akan mencari alternatif makanan yang lainnya.

Sedangkan Ronde, kalau malam pasti banyak sekali ditemui disetiap sudut Jogja. Kami menikmati wedang ronde didepan hotel kami menginap, yaitu Ameera Boutique. Wedang Ronde merujuk pada air jahe panas (wedang adalah bahasa Jawa yang merujuk pada minuman panas) yang disajikan bersama dengan ronde. Air jahe juga bisa menggunakan gula kepala, diberi taburan kacang tanah goreng (tanpa kulit), potongan roti, kolang-kaling, dan sebagainya. Sedangkan ronde adalah makanan tradisional China dengan nama asli Tāngyuán (Hanzi=湯圓;penyederhanaan=汤圆; hanyu pinyin=tāngyuán). Nama tangyuan merupakan metafora dari reuni keluarga (Hanzi=團圓;penyederhanaan=团圆) yang dibaca tuányuán (menyerupai tangyuan). Ronde terbuat dari tepung ketan yang dicampur sedikit air dan dibentuk menjadi bola, direbus, dan disajikan dengan kuah manis (Wikipedia)

Gudeg

Ronde
Ronde

DSC_0171

6. Oseng-oseng Mercon Bu Narti

Oseng mercon ini letaknya kalau tidak salah waktu itu di Jl. KH Ahmad Dahlan (mudah-mudahan tidak pindah). Oseng-oseng yang berisi kulit, tulang muda, gajih, dan kikil ini dimasak dengan sekitar 6-7kg cabe rawit merah untuk 50kg koyoran. Kenapa disebut mercon?karena rasa pedasnya yang meledakkan mulut, dan rasanya seperti melelehkan lidah. Teman saya yang memakan oseng-oseng mercon ini sampai kebingungan meredakan rasa pedasnya dengan meminum teh hangat berkali-kali. Saya yang waktu itu makan lele bakar dengan sambel dari oseng-oseng mercon ini saja rasanya tidak sanggup menghabiskan, saking pedasnya. Tetapi meskipun pedas, rasanya memang mantap. Nasi hangat panas disantap dengan sambel atau oseng-oseng mercon ditemani dengan lele bakar dan teh hangat plus kerupuk. Haduh, saya jadi lapar.

Oseng-oseng mercon
Oseng-oseng mercon. Foto pinjam teman.

DSCN0268

SOLO

Kami singgah ke Solo hanya beberapa jam. Kami pergi dari Jogjakarta menuju Solo menggunakan Pramex. Mas Ewald ingin melihat Kraton Solo. Saya sudah bercerita sebelumnya kalau Mas Ewald ini suka sekali dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan sejarah. Karenanya, dia selalu mengajak ke tempat yang bersejarah, seperti museum dan yang lainnya.

Kalau saya ke Solo, pertama kali yang ingin saya tuju untuk makan adalah Spesial Sambal (SS). Sebenarnya SS ini tidak hanya ada di Solo, di beberapa kota juga sudah ada cabangnya. Tapi entah kenapa saya makan SS ini hanya kalau sedang di Solo. Di Solo pun, lokasinya ada di beberapa titik. Karena saya adalah penggila sambal, tentu yang saya buru adalah berbagai jenis sambal yang enak sekali rasanya dan tingkat kepedasannya pun bisa disesuaikan dengan permintaan pembeli. Yang ingin merasakan berbagai jenis sambal, silahkan ke SS untuk merasakan sensasi kepedasannya.

DSC_8367
Spesial Sambal yang terletak dekat terminal Solo
Makanan sebegini banyak tidak sampai 70 ribu. Aneka jenis sambalnya benar-benar bikin kalap mata. Semuanya tandas tidak bersisa :)
Makanan sebegini banyak tidak sampai 70 ribu. Aneka jenis sambalnya benar-benar bikin kalap mata. Semuanya tandas tidak bersisa 🙂

Begitulah catatan kuliner dari perjalanan kami Semarang – Jogjakarta – Solo. Semoga bisa memberikan rekomendasi tempat makan bagi yang ingin jalan-jalan disekitar 3 kota tersebut.

Punya pengalaman kuliner di 3 kota tersebut? Ada tempat favorit makan dikota-kota tersebut? yuk berbagi disini ^^

Selamat berakhir pekan ^^

-Situbondo, 12 Desember 2014-

Update : -Den Haag, 4 Februari 2016-

Saya lapar sekali malam-malam lihat foto makanan disini. Duh, kangen dengan Jogja! Selamat berlibur panjang ya buat yang di Indonesia.

PS : Semua foto adalah dokumentasi pribadi kecuali yang kami pinjam menggunakan keterangan.

Catatan Perjalanan – Kawah Ijen dan Pantai Pulau Merah

TULISAN LAMA TAYANG ULANG.

Kenapa tayang ulang? Karena Kawah Ijen adalah salah satu tempat favorit saya, selain karena ada kenangan tersendiri disana, juga karena letaknya dekat dengan rumah di Situbondo maupun dari Ambulu. Jadi saya merasa senang berbagi ulang tulisan lama supaya lebih banyak yang membaca.

Selamat Hari Blogger Nasional (27 Oktober) -aslinya saya belum menelusuri sejarah hari blogger Nasional ini darimana, ikut memeriahkan ini :D-. Banyak hal yang saya dapat dari menulis diblog. Bukan hanya banyak kenalan baru, tetapi ilmu dan pengetahuan serta hal-hal yang bermanfaat juga. Keep on blogging.

——————————————————————————————————————————-

Sebenarnya perjalanan ke Kawah Ijen dan Pulau Merah adalah catatan yang tertunda diposting. Perjalanan kami kesana ketika calon suami (pada saat itu) datang ke Indonesia untuk melamar. Bulan Februari 2014, Mas E datang ke Indonesia. Awal niatnya hanya ingin bertemu saya, karena kami belum pernah bertemu sebelumnya. Trus dia bertanya apakah boleh main kerumah orangtua. Saya sih tidak masalah karena pada saat itu status kami hanya teman. Alasan lainnya karena dia pengen ke Bromo. Rumah orang tua di Situbondo, tidak terlalu jauh dari Bromo. Ya sudah, saya bilang sekalian saja ke Kawah Ijen dan Pantai Pulau Merah. Kalau saya sih sudah pernah 2 kali sebelumnya ke Kawah Ijen. Tapi ke Pantai Pulau Merah belum. Karena pada saat itu Pantai Pulau Merah sedang booming dibicarakan para pelancong, dan sekali jalan juga kalau dari Kawah Ijen, akhirnya 2 tempat itu kami masukkan dalam daftar yang akan dikunjungi selain Bromo.

Ternyata, Mas E tidak hanya sekedar ingin tahu kota dimana saya dibesarkan. Ternyata dia punya agenda besar lainnya. Dia melamar saya langsung ke Ibu. Saya antara percaya dan tidak percaya, Antara senang dan bingung karena hubungan kami sebelumnya memang hanya sebatas teman. Antara melongo dan pengen sorak-sorak bergembira. Singkat cerita, 6 bulan kemudian kami menikah. Cepat juga ya.

Karena Mas E hanya cuti satu minggu dari kantornya, maka jadwal jalan-jalan kami sangat padat. Kami menyewa mobil beserta supirnya untuk menghemat tenaga dan waktu. Adik saya yang biasa mengantar kemana-mana sedang capek. Jadi kasihan saja kalau harus minta tolong dia buat mengantar ke Kawah Ijen dan Pantai Pulau Merah. Kami berencana berangkat malam karena ingin melihat Blue Fire di Kawah Ijen. Blue Fire ini adalah belerang yang terlihat seperti api berwarna biru pada dinding kawahnya pada saat malam hari. Saya harus menunggu teman dan pacarnya yang berangkat dari Surabaya. Tetapi mereka datang terlambat dari jadwal yang sudah disepakati. Untuk melihat Blue Fire, kami seharusnya sudah sampai di kawasan Kawah Ijen sekitar jam 2 pagi dan mendaki pada jam tersebut. Tetapi karena kami baru berangkat jam 2 pagi dari Situbondo, maka kami harus menahan kekecewaan tidak bisa melihat fenomenal alam yang sangat terkenal tersebut.

 

KAWAH IJEN

Gunung Ijen sendiri berada di kawasan Wisata Kawah Ijen dan Cagar Alam Taman Wisata Ijen di Kecamatan Licin Kabupaten Banyuwangi dan Kecamatan Klobang Kabupaten Bondowoso. Gunung ini berada 2.368 meter di atas permukaan laut dimana puncaknya merupakan rentetan gunung api di Jawa Timur seperti Bromo, Semeru dan Merapi. Kawah Ijen merupakan tempat penambangan belerang terbesar di Jawa Timur yang masih menggunakan cara tradisional. Ijen memiliki sumber sublimat belerang yang seakan tidak pernah habis dimanfaatkan untuk berbagai keperluan industri kimia dan penjernih gula.

Kawah Ijen merupakan salah satu kawah paling asam terbesar di dunia dengan dinding kaldera setinggi 300-500 meter dan luas kawahnya mencapai 5.466 hektar. Kawah di tengah kaldera tersebut merupakan yang terluas di Pulau Jawa dengan ukuran 20 km. Ukuran kawahnya sendiri sekitar 960 meter x 600 meter. Kawah tersebut terletak di kedalaman lebih dari 300 meter di bawah dinding kaldera (Sumber : Wonderful Indonesia)

Kami sampai diparkiran Kawah Ijen sekitar jam 4 pagi. Setelah sholat shubuh, kami melanjutkan  perjalanana pada jalanan yang menanjak sejauh 3km. Ada tiket masuknya. Saya lupa tepatnya berapa, tetapi berbeda jauh harganya antara wisatawan domestik dan wisatawan asing. Jalan menanjaknya bukan tanjakan biasa, melainkan dengan derajat kemiringan hampir 45 derajat hampir disepanjang jalan. Disarankan untuk menggunakan alas kaki yang nyaman, misalkan sepatu olahraga atau sandal gunung karena dibeberapa tempat jalannya ada yang berpasir. Selain itu, karena udara pada pagi hari sangat dingin, sekitar 10 derajat, jangan lupa untuk menggunakan pakaian hangat. Karena Mas E terbiasa hidup di negara 4 musim, jadi dia hanya memakai celana pendek dan jaket tipis. Tidak terasa dingin menurutnya. Selain itu, jangan lupa untuk membawa masker dan kacamata. Masker ini diperlukan ketika sudah sampai di kawasan kawah karena asap belerang jika terhirup bisa menimbulkan sesak. Tips jika nafas tetap sesak walaupun sudah memakai masker, maka basahi masker dengan air kemudian pakai lagi. Kemudian minum air putih yang banyak. Air bisa menetralisir efek sesak nafas dari asap belerang. Dan kacamata diperlukan untuk menghindari mata dari asap belerang yang tertiup angin karena bisa menimbulkan pedih dan iritasi. Peralatan lain yang perlu dibawa adalah senter, jika berencana naik pada dini hari karena jalan mendaki yang dilalui kanan kiri adalah hutan dan sepanjang pendakian tidak ada lampu. Terbayang kan bagaimana pekatnya tanpa senter. Dan yang terakhir, jangan lupa juga untuk membawa perbekalan. Karena dengan mendaki jalan sejauh 3km diperlukan waktu antara 1-2 jam untuk sampai di kawahnya. Makan dan minum yang cukup karena sangat diperlukan sepanjang jalan.

Pemandangan yang terlihat sepanjang jalan menuju ke kawah

Hutan sepanjang jalan menuju Kawah IJen
Hutan sepanjang jalan menuju Kawah IJen
Hutan sepanjang jalan menuju Kawah IJen
Hutan sepanjang jalan menuju Kawah IJen
Gunung entah apa namanya disisi menuju Kawah Ijen
Gunung entah apa namanya disisi menuju Kawah Ijen

 

Jalan menuju Kawah Ijen
Jalan menuju Kawah Ijen

 

PENAMBANG BELERANG KAWAH IJEN

Sepanjang jalan kami berpapasan dengan para penambang. Penambang Belerang Kawah Ijen Berbekal keranjang rotan dan kain seadanya yang dibasahi air sebagai penutup hidung dari kepulan asap yang menyesakkan paru-paru dan memedihkan mata, mereka berjuang mempertahankan hidup dengan mengambil belerang dan dijual Rp 800/kg. Para penambang ini harus mengangkut belerang dari kawah kaldera yang cukup curam sepanjang 300m dan menuruni gunung sejauh 3km. Mereka rata-rata bisa mengangkut 80-90 kg, yang ditaruh dikeranjang pada pundak, sekali jalan. Tidak heran, seringkali dijumpai tonjolan pada pundak mereka karena beban berat yang selalu dipikul. Mereka tidak pernah menyerah berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Dalam sehari mereka maksimal bisa bolak balik sebanyak 3 kali. Bayangkan saja, kami yang hanya membawa ransel berisikan makan, minum, dan kamera terengah-engah untuk sampai ke kawahnya. Bagaimana mereka bisa melakukan itu selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Himpitan ekonomi yang memaksa mereka untuk mempertaruhkan nyawa dengan memilih pekerjaan sebagai penambang belerang. Dengan berat belerang yang dipanggul, mereka mendapatkan maksimal (jika memikul 100kg) Rp 80.000. Jika beruntung mereka akan membawa uang maksimal, sekitar Rp 200.000. Jika kondisi tidak memungkinkan, mereka hanya membawa uang Sekitar Rp 80.000 setiap hari. Keadaan yang ironis dibandingkan keindahan dari Kawah Ijen. Mas E sampai takjub. Dia bilang betapa susah mencari uang di Indonesia dengan nyawa sebagai taruhannya.

Penambang belerang Kawah Ijen
Penambang belerang Kawah Ijen
Belerang yang harus dibawa para penambang
Belerang yang harus dibawa para penambang
Penambang dengan membawa belerang menaiki lereng dari kaldera menuju bagian atas kawah
Penambang dengan membawa belerang menaiki lereng dari kaldera menuju bagian atas kawah
Mereka harus berjuang untuk menuju atas melewati jalan curam dan terjal
Mereka harus berjuang untuk menuju atas melewati jalan curam dan terjal
Penambang belerang di kaldera. Nyawa menjadi taruhannya
Penambang belerang di kaldera. Nyawa menjadi taruhannya

Setelah menempuh 1.5 jam jalan menanjak, akhirnya kami sampai di kawahnya. Karena matahari sudah bersinar terik, sekitar jam 7, maka kami bisa melihat air kawahnya yang berwarna hijau kebiruan. Setelah beberapa saat kami menikmati keindahan dari atas, ada seorang penambang menyarankan kami untuk turun sampai kalderanya. Setelah tawar menawar harga sebagai imbalan karena Bapak tersebut sebagai pemandu, maka kami mulai turun menuju Kaldera. Jalan yang kami lalui sangat curam. Beberapa kali saya harus berhenti karena takut terpeleset. Membayangkan kalau tiba-tiba terpeleset terus nyemplung di Air Kawahnya. Bisa langsung larut saya karena tingkat keasaman air yang tinggi.

Kawah Ijen
Kawah Ijen
Jalan menuju kaldera. Curam sepanjang 300m
Jalan menuju kaldera. Curam sepanjang 300m

Begitulah pengalaman kami ke Kawah Ijen. Selain bisa menikmati keindahan alamnya, kami juga melihat dan berinteraksi langsung dengan para penambang sebagai cerita lain yang ada dibalik keindahan Kawah Ijen. Diantara kokohnya dinding Kaldera, ada nasib para penambang yang diletakkan disana. Diantara indahnya air Kawah Ijen, ada tetesan keringat yang mengalir dalam setiap keranjang rotan yang membawa belerang diantara pundak meraka. Masih mengeluh dengan beban hidup kita setelah melihat perjuangan mereka?

Keindahan Kawah Ijen dan Penambang Belerang kesatuan yang tidak dapat terpisahkan
Keindahan Kawah Ijen dan Penambang Belerang adalah kesatuan yang tidak dapat terpisahkan

PANTAI PULAU MERAH                   .

Setelah dari kawah Ijen, Kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Pulau Merah yang terletak di Banyuwangi. Untuk mencapai ke Pantai ini diperlukan waktu sekitar 3 jam dari Kawah Ijen. Pantai ini terkenal dikalangan surfer karena merupakan salah satu spot favorite surfer internasional selain kawasan G-Land di Plengkung, juga di kota Banyuwangi. Dinamakan Pantai Pulau Merah karena sekitar 100m dari bibir pantai terdapat sebuah pulau kecil yang ujung atasnya akan memantulkan warna merah jika terkena sinar matahari pada sore hari. Konon seperti itu, karena saya tidak membuktikan dengan mata kepala sendiri. Pantai Pulau Merah dikenal juga denga Pantai Kuta nya Jawa karena tipe pantainya yang menyerupai Pantai Kuta. Mungkin ekspektasi saya terlalu tinggi dengan informasi yang saya dapatkan sebelumnya, sesampainya disana saya justru kecewa. Pantainya tidak seindah seperti yang saya bayangkan. Justru lebih indah Pantai Papuma yang ada di Jember. Sisi positifnya, akhirnya saya tahu Pantai yang sekarang menjadi pembicaraan para pelancong.

Pantai Pulau Merah
Pantai Pulau Merah
Pantai Pulau Merah
Pantai Pulau Merah

 

Tetep, sampah dimana-mana. Miris!
Tetap, Sampah dimana-mana. Miris!
Pulau yang konon kalau menjelang matahari terbenam memantulkan warna merah diujung atasnya
Pulau yang konon kalau menjelang matahari terbenam memantulkan warna merah diujung atasnya

 

Nyempil, narsis dulu :)
Nyempil, narsis dulu 🙂

Tertarik untuk mengunjungi Kawah Ijen dan Pantai Pulau Merah?

 

-Surabaya, 10 November 2014-

 

Our Visit to Tong Tong Fair 2015 – Den Haag

Today Adek Deny and I visited the 57th Tong Tong Fair in Den Haag (The Hague, The Netherlands). The Tong Tong Fair is one of the biggest fairs in Europe with products and information about Asia and especially about Indonesia. Originally the fair started as a gathering place for people from Indonesia in the late 50s and originally was named Pasar Malam.

Den Haag was an obvious choice because after the second World War and Indonesia’s independence many people from mixed Dutch and Indonesian descent (the so called Indo’s) decided to move from tropical Indonesia to less-tropical Netherlands and the city of Den Haag was a popular place to settle. It is well known that many of the immigrants had and still have many fond and nostalgic memories of their home country and the Pasar Malam was one of the few occasions once a year to share these feelings of what the Dutch define as “weemoed”. This nostalgic atmosphere is still very vibrant and present in 2015. I noticed that the majority of the visitors is still from that first and second generation of migrants that came to the Netherlands in the 40s and 50s.

Some years ago the founders of the fair thought that it would be a good idea to broaden the scope and make it a more Asian than Indonesian fair. I don’t think they succeeded in that plan (yet) as I experienced the atmosphere as very Indonesian.

The fair is located at the Malieveld in The Hague, a huge open space and grass field where during the year all kinds of events are held. It is located in walking distance from the biggest train station in Den Haag (Centraal Station) The Tong Tong Fair is completely hosted in a complex of big temporary tents connected with -also covered- walk ways, so whether the weather is good or bad outside you will not notice it. Tickets prices range from around 10 to 14 euro for a day ticket, the price depending whether one can apply for special discounts (for students and elderly people).

The most crowded part of the fair is the Indonesian Pavilion, where hundreds of sellers of goods and food offer their supplies. Most of them are from Indonesia and going through this Pavilion personally reminded me somewhat of visiting the side streets of Jalan Malioboro in Yogyakarta. Here you can find lots of original Indonesian food, clothing and accessories, only be aware the prices are very Dutch (so not cheap)!

Another big part of the fair is the Grand Pasar, that has a less Indonesian character. In the back of the Grand Pasar is the ‘Tong Tong Podium’ where artists perform during opening hours until closing time. We personally visited a concert by Orkes Keroncong Cente Manis, which we liked well. There is also a ‘Tong Tong Theater’ where more serious subjects about Dutch-Indonesian relations are being discussed. Finally there is The Food Court with many choices to have your lunch or dinner in real Indonesian style.

Personally I never visited the fair before, but I found it all together a pleasant experience. There are lots of opportunities to buy special Indonesian products and lots of opportunities to try those products before you buy. So I guess that probably most guests come outside with a full belly, full bags and emptier wallets. Exiting the fair brings you back into the reality of the Dutch weather conditions as the rain was already waiting for us. For most of the visitors this means there will be the waiting for another year before they have a chance to relive their Indonesian past again.

You still can visit the fair because it will be opened until June 7th, 2015!

-Den Haag, May 29 2015-

All pictures are our own documentation.

Becak
Becak

Queuing into Tong Tong Fair 2015
Queuing into Tong Tong Fair 2015

Workshop how to make Batik
Workshop how to make Batik

 

INDONESIA 

 

Cobek's corner
Cobek’s corner

 

Buying
Buying “penebah” : things for cleaning bed

Malioboro's atmosphere
Malioboro’s atmosphere

.

<

p style=”text-align: justify”>

Malioboro's atmosphere
Malioboro’s atmosphere

GRAND PASAR

The phenomenal one : Akik
The phenomenal one : Akik

 

 

Orkes Keroncong Cente Manis' performance
Orkes Keroncong Cente Manis’ performance

.

FOOD

Jajanan Pasar
Jajanan Pasar

Sambal's corner
Sambal’s corner

<

p style=”text-align: justify”> 

Durian
Durian

 

Indomie's party
Indomie’s party

Indonesian' snack
Indonesian’ snack

 

And actually we bought ….

These one
These one

Finally…

The Documentary of Jakarta 2014

Video dibawah adalah lanjutan tulisan Mas E tentang Jakarta, One Week In Java (Day 1, Jakarta), yang kami kunjungi akhir Agustus 2014. Mas E saat ini sedang sibuk mengerjakan paper kuliah dan tugas pekerjaannya juga banyak. Jadi saya yang disuruh menulis ini. Mungkin nanti ada tambahan dari Mas E.

Tujuan utama kami ke Jakarta sebenarnya mempunyai misi khusus, yaitu menelusuri jejak keluarga Mas E di daerah Menteng. Jadi, Kakek Mas E, orang Belanda, dulu sewaktu masa pendudukan Belanda (Sebelum tahun 1945, Ibu Mertua lupa tepatnya rentang waktunya) bekerja sebagai Engineering di Pelabuhan Sunda Kelapa. Mereka tinggal di Jalan Surabaya No.40 dan No.12. Menteng, Jakarta. Pada masa itu, Jalan Surabaya masih belum ada Pasar Antik, karena Pasar ini mulai ada sekitar awal tahun 70-an. Karenanya, begitu Mas E bilang kalau sekarang di Jalan Surabaya terkenal dengan Pasar Barang Antik, Ma (panggilan saya ke Ibu Mertua) kaget. Karena pada waktu Ma masih disana pasar antiknya belum ada.

Ma lahir tahun 1937 dan tinggal di Indonesia sampai umur 15 tahun sebelum kembali ke Belanda pada tahun 1953. Karena sejak kecil sampai remaja tinggal di Jakarta, Ma sampai sekarang masih bisa sedikit Bahasa Indonesia. Beberapa kali sepatah-sepatah masih bisa bercakap dengan saya dalam Bahasa Indonesia. Dan sejak mengetahui kalau anak lelakinya akan menikahi wanita Indonesia, Ma seperti bernostalgia dengan masa kecilnya di Jakarta

Kami terkejut ketika menemukan rumah Ma sekarang menjadi Penginapan milik Mabes TNI yang bernama Wisma Wira Anggini I (No. 40). Sedangkan No. 12 masih berbentuk rumah biasa. Memang benar, dulu ketika Kakek Mas E meninggalkan Indonesia, semua aset harus dijual karena menurut Ma, ketentuan dari pemerintah Indonesia ada dua untuk warganegara Belanda setelah Indonesia merdeka. Kalau ingin tetap tinggal di Indonesia, maka harus berganti warganegara menjadi Indonesia, atau jika ingin kembali ke Belanda, harus menjual segala aset yang dimiliki kepada negara. Kakek Mas E memilih yang kedua. Dibawah ini adalah foto-foto yang masih disimpan Ma

Rumah Ma, Jalan Surabaya No.40 Menteng pada waktu itu
Rumah Keluarga Ma, Jalan Surabaya No.40 (atas) dan No.12  (bawah) Menteng pada waktu itu
Jembatan didepan rumah, yang saat ini letaknya dibelakang Pasar Antik. Dan sampai saat ini masih ada, bentuknya masih seperti aslinya. Yang difoto itu Ma
Jembatan didepan rumah, yang saat ini letaknya dibelakang Pasar Antik. Dan sampai saat ini masih ada, bentuknya masih seperti aslinya. Gadis kecil difoto itu Ma
Jalan Surabaya No. 40
Jalan Surabaya No. 40 sekarang menjadi Wisma Milik Mabes TNI

Ternyata Mas E memang sudah mempunyai keterikatan sejarah dan emosi dengan Indonesia sejak dulu. Pantas saja memilih wanita Indonesia untuk jadi istrinya *halaahh, informasi ga penting 😀

Nah, setelah misi selesai terlaksanakan, maka saatnya Mas E menikmati suasana Jakarta. Seperti yang sudah diceritakan Mas E sebelumnya, kami keliling Jakarta mengunakan Trans Jkt, Bis Tour City of Jakarta, KRL, bahkan naik angkot. Mas E mendokumentasikan perjalanannya selama di Jakarta dalam video singkat dibawah ini.

Ada cerita lucu dibalik pembuatan video ini. Jadi, di kantor Mas E punya kebiasaan kalau dalam satu team ada yang baru pulang liburan, wajib share pengalaman dan ceritanya pada saat jam makan siang. Pada 9 Desember 2014 kemarin, giliran Mas E yang harus berbagi cerita. Lalu Mas E membuat kompilasi beberapa foto dan Video singkat tentang beberapa tempat yang kami kunjungi selama Mas E sebulan di Indonesia, salah satunya Video tentang Jakarta ini. Nah Mas E bertanya, kira-kira makan siang menunya apa ya yang khas Indonesia. Trus saya ingat ada Restoran Padang Salero Minang yang tempatnya tidak terlalu jauh dari kantor dan bisa delivery order. Karena Mas E pernah makan Nasi Padang sewaktu di Indonesia dan senang sekali dengan yang namanya Rendang, akhirnya pesanlah ke Salero Minang untuk makan siang. Menunya Nasi Rames. Kebetulan satu teamnya (7 orang yang semuanya asli Belanda) belum pernah ada yang makan nasi padang. Ternyata ludes, mereka suka sekali dengan Rendang, si bintang utama. Bahkan minta Mas E alamat Salero Minang. Mau makan disana kata mereka. Ah senang sekali saya bisa memperkenalkan masakan Indonesia ke mereka 🙂

Nasi Rames Salero Minang. Harganya 12.5 Euro lengkap dengan Sate Ayam, Rendang, Nasi, Dan sayur Mayur
Nasi Rames Salero Minang. Harganya 12.5 Euro lengkap dengan Sate Ayam, Rendang, Nasi, Dan sayur Mayur

Kemudian Mas E bertanya pada saya, kira-kira lagu apa ya yang cocok dijadikan backsound video singkat ini. Dia menanyakan lagu yang sering diputer adik saya dirumah. Saya bilang itu lagu dangdut, saya tidak tahu karena saya bukan penikmat lagu dangdut. Lalu dia minta saya mencarikan lagu yang temponya cepat. Karena saya suka Sujiwotejo, saya rekomendasikan lagu Nadian. Saya suka lagu ini (meskipun tidak terlalu mengerti artinya) karena dinyanyikan tanpa alat musik. Keren!. Mas E bilang ok, akan memakai lagu ini. Tiba-tiba pagi ini saya membuka video dari youtube yang dia share di Twitter. Tawa saya langsung meledak sepanjang durasi, karena ternyata Nadian berubah jadi Bara Bere yang dinyanyikan Siti Badriyah. Kok yaaa jauh sekali menyimpangnya hahaha. Pantas malam sebelumnya Mas E bertanya ke saya apakah mengetahui lagu Indonesia berjudul Bara Bere? Saya menjawab pernah mendengar, tapi tidak tahu siapa penyanyinya, yang pasti saya tahu kalau itu lagu dangdut. Mas E bilang suka dengan musiknya. Ternyata lagu ini yang dipasang jadi backsound. Duh Mas! Ngerti opo ga isi lagu iki artine opo hahaha. Dan saya baru sadar, Mas E ini ternyata suka sekali dengan lagu Dangdut 😀

Silahkan menikmati Video singkat yang telah dibuat oleh Mas E tentang Jakarta dengan iringan lagu dangdut Bara Bere 🙂

-Surabaya, 10 Desember 2014-

Catatan Perjalanan – Karimunjawa

Ada bentangan pantai berpasir putih di sini dengan beragam fauna yang menakjubkan, juga hutan mangrove dan hutan tropis dataran rendah yang menyajikan pemandangan menyejukan mata.

Wonderful Indonesia

Masih dalam rangkaian jalan-jalan sebulan dari Bali dan seluruh Jawa, kali ini episode Karimunjawa. Tulisan kali ini agak panjang, jadi sabar ya membacanya. Karena pengalaman di Karimunjawa sangat sayang untuk tidak ditulis semua.

Sebelum dengan suami, saya sudah pernah ke Kepulauan Karimunjawa sebelumnya, tahun 2009, backpacker-an berenam dari Jakarta. Saat itu, Karimunjawa belum terlalu ramai seperti saat ini.

Karimunjawa adalah gugusan pulau yang sangat indah dengan hamparan pasir putih menawan, meliputi 27 pulau dalam 1 kecamatan dan terbagi dalam 3 desa. Luas tempat indah ini adalah 107.225 ha, sebagian besar wilayahnya berupa lautan (100.105 ha) sementara sisanya adalah daratan seluas 7.120 ha. Karimunjawa dijuluki Perawan Jawa, sebuah inisial yang merujuk pada perairannya begitu bening sehingga sebuah koin yang jatuh ke dalamnya akan dengan mudah ditemukan karena kejernihannya (Wonderful Indonesia)

Tidaklah susah menuju Karimunjawa. Ada dua cara melalui Jepara atau Semarang. Kalau bertanya lewat Google, maka informasi kapal menuju Karimunjawa akan sangat gampang ditemukan. Dan, tidak setiap hari ada kapal menuju pulau ini. Jadi rajin-rajin update karena jadwal bisa berubah mendadak karena kondisi cuaca, seperti yang kami alami waktu itu.

Karena sebelumnya saya menyeberang melalui Semarang, maka kali ini saya ingin merasakan melalui Jepara. Penyeberangan melalui Jepara ini dibumbui oleh drama-drama dan kejutan-kejutan. Segala informasi saya cari di google. Saya sudah memesan tiket Express Bahari (Harga tiket Rp 110.000) melalui telepon ke Agen yang (katanya) resmi. Ketika saya tanya uang harus ditransfer kemana, mas yang menerima telepon bilang tidak usah. Langsung datang ke loket pada hari H. Dari sini saja saya sudah mulai curiga kenapa uang tidak mau ditransfer. Tapi menurut mas tersebut, nama saya sudah dicatat. Jadi saya antara tenang dan tidak juga sih rasanya. Masih was-was. Sedangkan untuk tiket kembalinya, yaitu Karimunjawa – Semarang, kami menggunakan Kapal Cepat Kartini, dan saya sudah menelepon (024) 70400010 dengan Ibu Chandra. Ini adalah nomer telepon Pelni Semarang. Jadi saya lumayan tenang karena sudah mentransfer uang (Harga tiket Rp 130.000). Ibu Chandra bilang kalau tiket fisiknya mendekati jadwal kepulangan akan dititipkan kepada salah satu awak kapal.

Jadwal penyeberangan kami Jepara-Semarang Jumat 22 Agustus 2014 (14:00-17:00). Karena sebelum ke Jepara kami menginap di Semarang, maka saya memesan travel Semarang-Jepara untuk keberangkatan Jumat jam 7 pagi, dengan asumsi masih punya banyak waktu untuk jalan-jalan disekitar pelabuhan karena lama perjalanan Semarang-Jepara sekitar 3 jam. H-1 saya masih belum memesan penginapan dan kapal untuk snorkeling disana. Malamnya, ketika sedang menunggu Mas E yang sedang menjelajah Lawang Sewu (Saya tidak pernah berani masuk ke gedung Lawang Sewu, jadi saya menunggu diluar, duduk-duduk dengan bapak satpam), iseng-iseng saya menelepon salah satu penginapan yang (lagi-lagi) saya dapat dari Google. Setelah deal masalah penginapan, mas yang terima telpon saya (lupa namanya, maaf ya mas:D) bertanya saya sedang ada dimana. Saya jawab saja masih di Semarang karena penyeberangan dari Jepara jam 2 siang jadi saya baru berangkat ke Jepara jumat pagi. Masnya terkejut, dibilang kalo penyeberangan dari Jepara dipindah pagi jam 10 karena alasan cuaca buruk. Dan pemberitahuan tentang pindah jadwal ini sudah diumumkan seminggu sebelumnya. Lah, mana saya tahu. Waakk!! Saya langsung panik. Bagaimana ini? Kalau jam 10 pagi, harus berangkat jam berapa dari Semarang, dan saya tidak tahu apakah ada travel pagi sebelum jam 7 berangkat ke Jepara. Huhh!! Asli panik sekali. Saya langsung tanya sana sini, akhirnya saya memperoleh satu nama travel (lupa lagi namanya), ada pemberangkatan jam 5, dan kursi yang tersisa tinggal 2. Pas!!

Paginya sekitar jam 5 kami sudah dijemput dan jam 6 mulai meninggalkan Semarang. Sampai di Pelabuhan Jepara sekitar jam 9.30. Dan itu yang namanya pelabuhan sudah penuh dengan lautan manusia. Wisatawan asing dan wisatawan lokal memenuhi pelabuhan. Saya tiba-tiba panik. Kami kan belum membeli tiket kapal. Kami langsung menuju loket, ternyata masih tutup. Dan antrian sudah panjang. Beberapa saat, kami mendengar kalau tiket penyeberangan sudah terjual habis beberapa hari sebelumnya. Duh! Rasanya kesal sekali. Jadi yang saya pesan lewat telepon tidak berguna. Menyebalkan!. Saya bilang ke Mas E untuk menjaga tas. Saya mau keliling nyari calo (hahaha, baru kali ini rasanya saya nyari calo). 10 menit sebelum keberangkatan saya sudah pasrah saja tidak dapat tiket karena setelah keliling, para calo bilang kalau tiket sudah habis. Saya berjalan gontai. Dan ketika sudah pasrah seperti itu, ternyata keajaiban datang. Saya melewati beberapa lelaki yang bergerombol membicarakan tiket. Sayup-sayup mendengar ada 2 tiket lebih. Langsung saya berteriak kalau saya bersedia membeli berapapun harganya. Dan, diluar dugaan, tiket dijual dengan harga normal dengan syarat saya dan Mas E disuruh menginap di penginapan saudaranya. Saya langsung menyanggupi dengan konsekuensi saya harus membatalkan reservasi penginapan yang sudah saya buat sebelumnya. Yiaayy!! Saya jogged-joged India karena kesenengan dapat tiket last minute. Mas E yang tidak mengerti jalan ceritanya saya cium-cium karena saya terlalu senang. Saya bilang kalau Tuhan selalu bersama orang-orang yang sedang bulan madu 🙂

Perjalanan 3.5 jam laut kami lalui dengan lancar. Tidak ada drama mabuk laut meskipun ombak sedang tinggi. Tetapi ada drama lain didalam kapal. Kami baru sadar ternyata tiket yang sudah dibeli beda kelas. Satu VIP dan satu bisnis. Akhirnya saya yang mengalah, saya yag dikelas bisnis. Tanpa AC tentu saja, dan Mas E di VIP. Alasan saya yang mengalah, karena dia kan belum lama di Indonesia, saya takut dia merasa tidak nyaman kalau harus kepanasan tanpa AC, dan duduk berdesakan dengan penumpang yang lain. Rasanya sangat tidak nyaman duduk terpisah ruangan begitu. Biasanya runtang runtung, ngobrol dan tertawa bareng, sekarang jadi manyun sendiri. Mas E juga ternyata merasa seperti itu. Tanpa sepengetahuan saya, ternyata dia “menyuap” a.k.a dengan membayar tambahan 10.000 kepada awak kapal agar saya bisa satu ruangan. Suapan pertama yang dia lakukan, karena awak kapal yang ternyata memberi ide untuk membayar uang tambahan.

Sesampainya di Karimunjawa kami langsung dijemput mobil (sebenarnya jalan kaki juga bisa, sekitar 15 menit) langsung menuju penginapan. Ternyata penginapannya bersih dan nyaman sekali. Semalam harganya 80 ribu sekamar. Kamar mandi bersih dengan toilet duduk dan setiap pagi sore dapat minuman dengan rasa (kacang hijau, es cincau, teh, dan es apa ya satu lagi lupa). Pelayanan memuaskan. Di Karimunjawa penginapannya adalah rumah penduduk. Rata-rata sih bersih dan nyaman. Kalau mau menginap di hotel atau resort sih bisa. Harga menyesuaikan, artinya jauh lebih mahal dibandingkan penginapan di rumah penduduk, karena biasanya dimiliki oleh warga negara asing. Ada juga penginapan apung ditengah laut. Tapi saya juga tidak tahu harganya berapa. Di Karimunjawa pasokan listrik dibatasi. Dari jam 7 pagi sampai jam 17.00 sore listrik padam. Jadi kalau malam segala gadget harap di charge sebelum paginya listrik dipadamkan

HARI PERTAMA

Hari pertama langsung nyebur kelaut. Snorkeling dengan paket snorkeling yang dapatnya dadakan dengan harga Rp 150.000 per orang untuk alat snorkeling lengkap, makan siang dan sewa kapal. Jadi, untuk siapapun yang ke Karimunjawa tidak ikut paket tur, jangan khawatir. Selalu ada paket snorkeling dadakan seperti pengalaman kami. Seperti yang sudah disebutkan, Karimunjawa terdapat 27 pulau. Tetapi tidak semua pulau bisa dimasuki atau bisa menjadi tempat snorkeling karena beberapa pulau sudah dibeli oleh warga negara asing. Biasanya yang menjadi tempat snorkeling adalah Pulau Menjangan besar dan kecil, Pulau cemara besar dan kecil, Tanjung Gelam, Pulau Tengah dan Pulau Cilik. Kami snorkeling di 2 tempat, Pulau Cemara Besar dan Pulau Menjangan Besar. Setelah muter sana sini, komentar suami bagus banget pemandangan bawah lautnya meskipun biota laut tidak sebanyak di Pulau Menjangan, Bali.

Setelah puas snorkeling 2 dua tempat, kami melanjutkan ke Penangkaran Hiu. Jadi ditempat ini ada satu kolam berisi anak-anak hiu, dan kita diperbolehkan bermain-main dengan mereka asal tidak ada luka atau kalau yang wanita tidak sedang menstruasi (kata penjaganya sih begitu).

Dari penangkaran hiu, kami kembali ke penginapan karena sudah menjelang malam. Malam harinya kami menikmati suasana Karimunjawa yang tenang dengan berkumpul di Alun-alun bersama banyak pengunjung menikmati kuliner lokal. Makanan yang ditawarkan kebanyakan makanan laut pastinya dengan harga yang masih masuk akal. 1 ikan bakar ukuran besar sekali (Saya makan berdua berasa kenyang sekali dan masih sisa karena sudah kekenyangan) harganya Rp 50.000. Selain kuliner, di Alun-alun juga banyak yang menjual Souveni Karimunjawa seperti kaos, gantungan kunci, pernak pernik dari laut. Kaos yang dijual rata-rata Rp 30.000. Kami membeli di malam kedua karena kehabisan baju.

HARI KEDUA

Hari kedua Mas E mengajak mengelilingi pulau dengan menyewa sepeda motor. Dia sudah merasa cukup snorkeling karena sebelumnya sudah snorkeling di Bali. Saya sebenarnya agak cemas dengan ide Mas E untuk mengelilingi pulau dengan menggunakan sepeda motor. Sebabnya dia baru sekali naik sepeda motor ketika sedang liburan di Yunani. Jadi ini menjadi pengalaman keduanya. Waduh! Saya kan takut kalau dia tidak stabil mengendarai karena untuk mengelilingi pulau jalannya kan naik turun dan tidak semua jalan rata. Tapi kecemasan saya tidak terbukti, sepanjang jalan baik-baik saja kami. Jadi, mengelilingi pulau bisa dijadikan alternatif wisata di Karimunjawa. Dengan menyewa sepeda motor matic penduduk setempat seharga Rp 70.000 per hari plus bensin 3 liter (saat itu satu liter harganya Rp 10.000 disana) sangat cukup untuk mengelilingi pulau dari ujung sampai ujung, dari pagi sampai malam.

Pertama kali dibonceng sama suami, rasanya romantis hahaha. Karena kami santai, tidak terburu oleh apapun, maka kami banyak berhenti di pantai-pantai yang tersembunyi, misalkan Pantai Barakuda, Pantai Nirwana dan yang lainnya (lupa saking banyaknya singgah). Kami juga berhenti untuk trekking di Hutan Mangrove yag terletak di desa Kemojan. Juga menemukan bukit yang bernama Joko Tuo dimana kami bisa melihat seluruh Karimunjawa dari atas. Perjalanan kami berujung di Bandar Udara Dewandaru. Baru tahu ternyata Karimunjawa mempunyai Bandara, meskipun bukan pesawat komersil yang beroperasi melainkan beberapa pesawat pribadi dari warga negara asing dan pesawat milik pemerintah. Sepanjang perjalanan beberapa kali kami berhenti untuk makan. Mas E yang doyan banget makan kelapa muda selama di Indonesia jadi seperti merasakan surga di Karimunjawa karena bisa makan kelapa muda yang langsung dipetik dari pohon. Ketika makan di salah satu rumah penduduk, tiba-tiba kami ditawari untuk membeli tanah dengan harga per meter persegi Rp 340.000 tersedia untuk 1000 meter persegi. Woohh, murah hitungannya. Mereka bilang kalau banyak sekali warga asing yang membeli tanah di Karimunjawa untuk dijadikan resort atau sekedar tempat tinggal untuk liburan. Mas E sempat menyelutuk “untung disini ga ada ATM, kalau ada bisa langsung aku beli itu” <— Mbujuukk Mas Mas :D. Oh iya, di Karimunjawa tidak ada ATM ya, jadi bawalah uang yang cukup selama tinggal disana

Perjalanan darat kami diakhiri dengan melihat sunset di Tanjung Gelam. Rupanya pulau ini menjadi salah satu tempat terbaik untuk mengabadikan sunset di Karimunjawa selain bukit Joko Tuo. Dan memang benar, sunsetnya sungguh menghipnotis. Perjalanan hari itu sungguh menyenangkan. Banyak sekali mengunjungi pantai dan tempat yang kami belum tahu sebelumnya. Berkenalan dengan penduduk setempat, berbincang dan bercanda bersama mereka

Inilah yang kami suka dari sebuah perjalanan. Tidak hanya mengenal tempat yang baru, tetapi bisa berinteraksi dengan penduduk setempat, mengenal dan berbaur dengan mereka. Perjalanan itu bukan hanya tentang sebuah tujuan, melainkan mendapatkan pengalaman.

HARI KETIGA

Hari ini waktunya kami pulang. Kami sudah siap sejak jam 7 pagi karena kapal akan pergi pada pukul 10. Kami memutuskan untuk jalan kaki menuju pelabuhan karena kami rasa jaraknya masih normal dengan menggendong ransel yang besar. Sesampainya di Pelabuhan, kami sudah diberi tahu awak kapal bahwa ombak sedang tinggi. Ternyata benar, tidak lama setelah kami bertolak dari tepi pantai, ombak mulai membuat kapal bergoyang kesana sini. Konon waktu itu ombak sampai ketinggian 5 meter. Walhasil saya dan Mas E mabuk muntah-muntah sepanjang jalan. Saya muntah didalam kapal, dia muntah diluar kapal. Kocak banget sekarang kalau diingat. Sesampainya di Semarang, kami sudah lemas karena seluruh isi perut keluar. Lapar ujung-ujungnya. Mas E sampai bilang “aku ga akan naik kapal ini lagi. Nightmare” hahaha. Yang bikin mabuk sebenarnya bukan kapalnya, tapi ombak yang tinggi itu.

Kesan Mas E terhadap Karimunjawa adalah pulau yang menyenangkan dan ideal buat tempat liburan. Tidak rame dan alamnya masih alami belum banyak eksploitasi sana sini. Awalnya dia terpikir untuk membeli tanah dan tinggal disini. Tapi setelah melewati drama mabuk laut, jadi berpikir ulang, kecuali menuju Karimunjawa naik pesawat pribadi *berasa pejabat ya Mas 😀

Selama di Karimunjawa, saya lebih mengenal Mas E. Ya maklum saja, selama ini kami selalu menjalin hubungan jarak jauh, dan waktu 8 bulan sejak kenal sampai memutuskan menikah sangatlah singkat untuk mengenal satu sama lain apalagi dipisahkan oleh jarak. Tidak dipungkiri selama di Karimunjawa kami sering bertengkar, dari hal-hal sepele sampai yang besar. Tapi kami menyadari bahwa itu adalah proses pengenalan kami satu sama lain. Istilahnya pacaran setelah menikah. Dan saya senang telah memilih traveling selama sebulan dari Bali sampai seluruh kota-kota besar di Jawa sebagai proses kami untuk saling mengenal. Selama perjalanan, baik buruk pasangan jadi terkuak semua. Traveling adalah cara yang paling efektif untuk lebih dekat mengerti dan memahami pasangan

Perjalanan bukan hanya tentang sebuah tujuan, melainkan tentang pengalaman, termasuk pengalaman dalam mengenal pasangan

 

NB : Saya bukan pengingat dan pencatat yang baik. Karenanya saya jarang mengabadikan detail perjalanan dalam sebuah catatan. Saya hanya bisa mengingat detail kejadian. Dan saya bukan perencana perjalanan yang baik. Saya biasanya hanya merencanakan secara garis besar. Tapi tidak bisa sampai detail, karena terlalu ribet. Dan saya juga biasa menikmati perjalanan yang mengalir dengan segala kejutan-kejutannya :). Tapi saya selalu punya senjata. Mengandalkan kecanggihan teknologi dan tanya sana sini ^^. Jadi buat yang ingin pergi mandiri, jangan malas untuk cari informasi sebanyak-banyaknya dari internet ya. Jangan gampang bertanya sesuatu yang sebetulnya informasinya mudah didapat dari google. Happy traveling 🙂

Bagaimana dengan pengalamanmu?

Selamat melakukan perjalanan dengan pasangan 🙂

-Surabaya, 28 November 2014-

 

Snorkeling di Pulau Cemara Besar
Snorkeling di Pulau Cemara Besar
Karimunjawa dilihat dari atas bukit Joko Tuo
Karimunjawa dilihat dari atas bukit Joko Tuo
Kedua kali naik sepeda motor seumur hidupnya. Jadi bangga kesenengan si Mas :)
Kedua kali naik sepeda motor seumur hidupnya. Jadi bangga kesenengan si Mas 🙂
Melewati pemandangan ini sepanjang tour darat
Melewati pemandangan ini sepanjang naik sepeda motor muter pulau
Selama di Indonesia, dimana-mana yang dicari selalu kelapa muda. Tidak pernah sebelumnya makan kelapa muda yang langsung ambil dari pohonnya
Selama di Indonesia, dimana-mana yang dicari selalu kelapa muda. Tidak pernah sebelumnya makan kelapa muda yang langsung ambil dari pohonnya
Sarapan dengan Lontong Pecel super pedas. Duh! ini enak banget rasanya. Sepiring penuh harganya Rp 5.000
Sarapan dengan Lontong Pecel super pedas. Duh! ini enak banget rasanya. Sepiring penuh harganya Rp 5.000
Hutan Mangrove
Hutan Mangrove
Mangrove Karimunjawa
Mangrove Karimunjawa
Pohon Ranting berdiri kokok diatas tanah kering
Pohon Ranting berdiri kokok diatas tanah kering
Sunset di Tanjung Gelam
Sunset di Tanjung Gelam
Rawa
Rawa
Kolam Hiu di Pulau Menjangan Besar. Jadi kita bisa nyemplung dan bermain bersama bayi-bayi hiu ini. Saya dan Mas E? Duduk-duduk saja di Perahu :D
Kolam Hiu di Pulau Menjangan Besar. Jadi kita bisa nyemplung dan bermain bersama bayi-bayi hiu ini. Saya dan Mas E? Duduk-duduk saja di Perahu 😀

P1000746

Sunset Tanjung Gelam
Sunset Tanjung Gelam
Numpang Narsis :)
Numpang Narsis 🙂 … Ya ampun, nampak seperti liliput gitu, mungil disebelah Suami 😀

One week in Java (Day 1: Jakarta)

In 2014 I spent a considerable amount of my time in Indonesia, in Java and Bali to be more precise. Lately I got the question from a friend which things to visit if he would spend a week in Java. The most obviously answer would of course be “That’s wayyy too short”, but it made me think how I would spend a week now that I have had so many wonderful experiences. I will write down in 7 episodes how I would spend such a week.

Day 1: Jakarta

Jakarta is a ‘must see’  although probably not everyone’s piece of cake. Be prepared for a continuous flow of cars and motor cycles, day and night. When you have bad luck you end up in one of its terrible traffic jams (not exclusively something that might happen to you in Jakarta, as we will discover along the journey). The air can be heavy polluted, garbage seems to be everywhere. But nevertheless Jakarta contains a lot of interesting experiences that you simply can not experience anywhere else in Java.

Public transportion is never an expensive thing in Indonesia, but in Jakarta they made it extra attractive with a free Jakarta City Tour. This tour will take you in a double deck bus along the most remarkable sites and buildings of the Jakarta centre, like the Monas (the national monument built in the 1960’s) and the presidential residence. It will take you an hour to finish the full tour and you can drop out in between when you think you found something interesting along its route. The tour guides on the bus are very friendly and speak English excellent.

jakarta day 1 city tour jakarta
Deny in front of the City Tour bus.

After the bus tour visit the Monas, the Monument Nasional. You can go with a small elevator to the golden top and from there you will have an overview of modern Jakarta with its countless sky scrapers. Be aware though that the Monument is a very popular attraction, so there might be a long waiting line before you can go to the top. The Monas also contains an underground informative information centre where the history of Indonesia is displayed in countless three-dimensional scenes behind glass. You get a fast update on how Indonesia became the Republic it is nowadays.

Monas in the late afternoon
Monas in the late afternoon

Then visit the National Museum. The Museum is a two-part building: one is a reminiscent of the Dutch colonial days, the other part is multi store modern building. The impressive thing of the Museum is that you get a real good overview on the complexity of all the different cultures of Indonesia. For me it was an eye-opener because here I learned that Indonesia is such a diverse multi-cultural and multi-racial country (which obviously brings a lot of challenges in keeping its unity). There is a lot to see about the different races, clothing, religions, music, house constructions from its habitants.

jakarta day 1 National Museum
The National Museum – Jakarta

Now that it is afternoon visit the ‘Old City’ (Kota Tua in Bahasa Indonesia), the part of Jakarta that reminds most of its colonial past, when the Dutch were in charge for circa 500 years. In those days Jakarta was called Batavia (and Batavia refers to ‘Batavians’ one of the original tribes that lived in the Netherlands some 2000 years ago). Many of the interesting places are centred around the square where the so called Gourverneurskantoor (Office of the Governor) is situated. In front of the building you can even rent bikes and discover the surroundings on a bike. You will  surely be noticed by the local people, but be careful: pedestrians and bikers are somewhere at the bottom of the Indonesian traffic hierarchy chain! You can visit the Gouverneurskantoor, it contains a nice museum that gives you an  impression how the colonial Dutch decorated their office.

jakarta day 1 kota tua
Rented a bike, put on the heads and posed in front of the old Governmental Office.

So when you have had enough for the day and you want to relax a little bit among the local Jakarta people, return to the Monas park, sit down in the grass and order a typical Betawi (name of the local Jakarta people) meal: Kerak Telor. In the park at night there is an abundant choice of souvenirs that are being sold by local Jakarta people.

jakarta day 1 kerka telor
My part time job as Kerak Telor chef and sales man.
jakarta day 1 monas by night
Lot of activities in the night time around the Monas.

This ends our first day in Java and Jakarta! On the second day we will explore more of Jakarta.

-Den Haag, November 16 2014-

Status update on the immigration

Over the past week we have been receiving a number of letters from the IND (the Dutch Immigration Services) to inform us about the procedure. After intially sending in the 7018 form there was a notification letter that the documents had been received well. First of all there was a need to transfer 228.,- euro in order to have someone actually continue with approving the request. The IND has a maximum of 90 days (!) to treat the request so ultimately on January 25th 2015 we should receive an answer. After directly transferring the money on receiving the previous mentioned letter, today, 1 week after the money transfer I received a new notification from IND that the money transfer was received and that a person was now assigned to the request.

So there is still continuity in the process and we are now entering the most crucial phase for us: how fast will we receive a hopefully positive outcome and can we be reunited?

To get things done as soon as possible, I tried to clearly lay out all the information for the person to approve the request after sending in the 7018 form with all the attachments. It is quite a heap of papers, so there is a big chance that the person assigned on the case will get lost in all the documents. And that is something we certainly can not use at the moment :). This is an example of how i set up the index page and the character + number refers to a single piece of paper.

example of index ind
This is how I made the index to accompany the forms for IND

So to be continued …..

 

Catatan Perjalanan – Bali

Sunset di Uluwatu

Sebulan sebelum menikah, saya bertanya ke Mas E apakah setelah menikah mau jalan-jalan atau mau langsung kembali ke Belanda. Ternyata Mas E mendapat cuti selama 5 minggu dari kantor. Wah, senang sekali! Dia maunya sebulan jalan-jalan dari Bali sampai Bandung. Dia mempercayakan semua pada saya untuk mengatur mekanismenya. Terserah mau dibuat ala backpacker apa ala koper. Karena saya tidak terbiasa jalan-jalan dengan budget mahal, akhirnya saya mengatur ala backpacker. Yang pada akhirnya nanti praktek dilapangan kombinasi antara keduanya. Rute bulan madu kami adalah : Bali-Jember-Surabaya-Jogjakarta-Solo-Semarang-Jepara-Karimunjawa-Jakarta-Bandung-Surabaya-Situbondo-Bromo dari tanggal 11 Agustus 2014 sampai 7 September 2014. Mas E ingin lebih mengenal Indonesia, termasuk mengenal budaya dan masyarakatnya. Jadi bulan madu ini ada misi khusus selain memperkenalkan tempat wisata juga memperkenalkan ragam kuliner Indonesia.

Tasnya sudah mantap banget-semacam meyakinkan ala backpacker-
Tasnya sudah mantap banget -semacam meyakinkan ala backpacker

BALI

Mas E belum pernah ke Bali. Jadi dia sangat antusias pergi ke pulau Dewata. Sebelumnya Mas E sudah mencari info tempat-tempat mana saja yang ingin dikunjungi. Kami menggunakan jasa Wonderful Menjangan untuk mengatur rute perjalanan selama kami di Bali. Mereka sangat kooperatif dan fleksibel. Terima kasih Pak Rico yang menemani kami selama 4 hari 12-15 Agustus 2014. Tempat-tempat yang kami datangi tentu saja lokasi turis seperti Bedugul, Ubud, Tanah Lot, Sanur, Tampak Siring, GWK, Pantai Balangan, Kecak di Uluwatu, Jimbaran, Pantai Pendawa, Snorkeling satu hari di Pulau Menjangan.

Sangat direkomendasikan untuk mengeksplor keindahan bawah laut Pulau Menjangan yang merupakan wall diving terbaik di Bali. Taman laut dengan visibility yang baik dan kaya akan biota laut penuh warna. Mas E sangat senang snorkeling disini. Dia sangat terkagum-kagum dengan keindahan biota lautnya. Snorkeling di dua spot sampai musti diingatkan untuk mentas. Sepanjang perjalanan pulang perjalan kembali ke Denpasar yang memakan waktu sekitar 3 jam, tidak berhenti Mas E bercerita tentang keindahan bawah laut Pulau Menjangan. Suami senang, Istri bahagia 🙂

Dibawah ini beberapa foto dari beberapa tempat yang kami kunjungi :

Sunset di Uluwatu
Sunset di Uluwatu
Kecak,  Uluwatu
Kecak, Uluwatu

 

Bercengkrama
Bercengkrama

 

DSC_0032 (2)
Pantai Pandawa, Bali

Pantai Pandawa, Bali. Disini pengunjung diperbolehkan berenang karena ombak tidak tinggi. Banyak sekali wisatawan domestik

Pantai Pandawa, Bali. Disini pengunjung diperbolehkan berenang karena ombak tidak tinggi. Banyak sekali wisatawan domestik

Tanah Lot, Bali
Tanah Lot, Bali
Pantai Balangan, Bali. Disisi satunya ombak sangat tinggi. Tempat para surfer, Wisatawan domestik hampir tidak terlihat.
Pantai Balangan, Bali. Disisi satunya ombak sangat tinggi. Tempat para surfer, Wisatawan domestik hampir tidak terlihat.
Garuda Wisnu Kencana, Bali
Garuda Wisnu Kencana, Bali
Garuda Wisnu Kencana, Bali
Garuda Wisnu Kencana, Bali
Pulau Menjangan, Bali
Pulau Menjangan, Bali
Pulau Menjangan Bali
Pulau Menjangan Bali
Snorkeling Pulau Menjangan, Bali
Snorkeling Pulau Menjangan, Bali

 

-Surabaya, 8 November 2014-