Catatan Perjalanan – Kawah Ijen dan Pantai Pulau Merah

TULISAN LAMA TAYANG ULANG.

Kenapa tayang ulang? Karena Kawah Ijen adalah salah satu tempat favorit saya, selain karena ada kenangan tersendiri disana, juga karena letaknya dekat dengan rumah di Situbondo maupun dari Ambulu. Jadi saya merasa senang berbagi ulang tulisan lama supaya lebih banyak yang membaca.

Selamat Hari Blogger Nasional (27 Oktober) -aslinya saya belum menelusuri sejarah hari blogger Nasional ini darimana, ikut memeriahkan ini :D-. Banyak hal yang saya dapat dari menulis diblog. Bukan hanya banyak kenalan baru, tetapi ilmu dan pengetahuan serta hal-hal yang bermanfaat juga. Keep on blogging.

——————————————————————————————————————————-

Sebenarnya perjalanan ke Kawah Ijen dan Pulau Merah adalah catatan yang tertunda diposting. Perjalanan kami kesana ketika calon suami (pada saat itu) datang ke Indonesia untuk melamar. Bulan Februari 2014, Mas E datang ke Indonesia. Awal niatnya hanya ingin bertemu saya, karena kami belum pernah bertemu sebelumnya. Trus dia bertanya apakah boleh main kerumah orangtua. Saya sih tidak masalah karena pada saat itu status kami hanya teman. Alasan lainnya karena dia pengen ke Bromo. Rumah orang tua di Situbondo, tidak terlalu jauh dari Bromo. Ya sudah, saya bilang sekalian saja ke Kawah Ijen dan Pantai Pulau Merah. Kalau saya sih sudah pernah 2 kali sebelumnya ke Kawah Ijen. Tapi ke Pantai Pulau Merah belum. Karena pada saat itu Pantai Pulau Merah sedang booming dibicarakan para pelancong, dan sekali jalan juga kalau dari Kawah Ijen, akhirnya 2 tempat itu kami masukkan dalam daftar yang akan dikunjungi selain Bromo.

Ternyata, Mas E tidak hanya sekedar ingin tahu kota dimana saya dibesarkan. Ternyata dia punya agenda besar lainnya. Dia melamar saya langsung ke Ibu. Saya antara percaya dan tidak percaya, Antara senang dan bingung karena hubungan kami sebelumnya memang hanya sebatas teman. Antara melongo dan pengen sorak-sorak bergembira. Singkat cerita, 6 bulan kemudian kami menikah. Cepat juga ya.

Karena Mas E hanya cuti satu minggu dari kantornya, maka jadwal jalan-jalan kami sangat padat. Kami menyewa mobil beserta supirnya untuk menghemat tenaga dan waktu. Adik saya yang biasa mengantar kemana-mana sedang capek. Jadi kasihan saja kalau harus minta tolong dia buat mengantar ke Kawah Ijen dan Pantai Pulau Merah. Kami berencana berangkat malam karena ingin melihat Blue Fire di Kawah Ijen. Blue Fire ini adalah belerang yang terlihat seperti api berwarna biru pada dinding kawahnya pada saat malam hari. Saya harus menunggu teman dan pacarnya yang berangkat dari Surabaya. Tetapi mereka datang terlambat dari jadwal yang sudah disepakati. Untuk melihat Blue Fire, kami seharusnya sudah sampai di kawasan Kawah Ijen sekitar jam 2 pagi dan mendaki pada jam tersebut. Tetapi karena kami baru berangkat jam 2 pagi dari Situbondo, maka kami harus menahan kekecewaan tidak bisa melihat fenomenal alam yang sangat terkenal tersebut.

 

KAWAH IJEN

Gunung Ijen sendiri berada di kawasan Wisata Kawah Ijen dan Cagar Alam Taman Wisata Ijen di Kecamatan Licin Kabupaten Banyuwangi dan Kecamatan Klobang Kabupaten Bondowoso. Gunung ini berada 2.368 meter di atas permukaan laut dimana puncaknya merupakan rentetan gunung api di Jawa Timur seperti Bromo, Semeru dan Merapi. Kawah Ijen merupakan tempat penambangan belerang terbesar di Jawa Timur yang masih menggunakan cara tradisional. Ijen memiliki sumber sublimat belerang yang seakan tidak pernah habis dimanfaatkan untuk berbagai keperluan industri kimia dan penjernih gula.

Kawah Ijen merupakan salah satu kawah paling asam terbesar di dunia dengan dinding kaldera setinggi 300-500 meter dan luas kawahnya mencapai 5.466 hektar. Kawah di tengah kaldera tersebut merupakan yang terluas di Pulau Jawa dengan ukuran 20 km. Ukuran kawahnya sendiri sekitar 960 meter x 600 meter. Kawah tersebut terletak di kedalaman lebih dari 300 meter di bawah dinding kaldera (Sumber : Wonderful Indonesia)

Kami sampai diparkiran Kawah Ijen sekitar jam 4 pagi. Setelah sholat shubuh, kami melanjutkan  perjalanana pada jalanan yang menanjak sejauh 3km. Ada tiket masuknya. Saya lupa tepatnya berapa, tetapi berbeda jauh harganya antara wisatawan domestik dan wisatawan asing. Jalan menanjaknya bukan tanjakan biasa, melainkan dengan derajat kemiringan hampir 45 derajat hampir disepanjang jalan. Disarankan untuk menggunakan alas kaki yang nyaman, misalkan sepatu olahraga atau sandal gunung karena dibeberapa tempat jalannya ada yang berpasir. Selain itu, karena udara pada pagi hari sangat dingin, sekitar 10 derajat, jangan lupa untuk menggunakan pakaian hangat. Karena Mas E terbiasa hidup di negara 4 musim, jadi dia hanya memakai celana pendek dan jaket tipis. Tidak terasa dingin menurutnya. Selain itu, jangan lupa untuk membawa masker dan kacamata. Masker ini diperlukan ketika sudah sampai di kawasan kawah karena asap belerang jika terhirup bisa menimbulkan sesak. Tips jika nafas tetap sesak walaupun sudah memakai masker, maka basahi masker dengan air kemudian pakai lagi. Kemudian minum air putih yang banyak. Air bisa menetralisir efek sesak nafas dari asap belerang. Dan kacamata diperlukan untuk menghindari mata dari asap belerang yang tertiup angin karena bisa menimbulkan pedih dan iritasi. Peralatan lain yang perlu dibawa adalah senter, jika berencana naik pada dini hari karena jalan mendaki yang dilalui kanan kiri adalah hutan dan sepanjang pendakian tidak ada lampu. Terbayang kan bagaimana pekatnya tanpa senter. Dan yang terakhir, jangan lupa juga untuk membawa perbekalan. Karena dengan mendaki jalan sejauh 3km diperlukan waktu antara 1-2 jam untuk sampai di kawahnya. Makan dan minum yang cukup karena sangat diperlukan sepanjang jalan.

Pemandangan yang terlihat sepanjang jalan menuju ke kawah

Hutan sepanjang jalan menuju Kawah IJen
Hutan sepanjang jalan menuju Kawah IJen
Hutan sepanjang jalan menuju Kawah IJen
Hutan sepanjang jalan menuju Kawah IJen
Gunung entah apa namanya disisi menuju Kawah Ijen
Gunung entah apa namanya disisi menuju Kawah Ijen

 

Jalan menuju Kawah Ijen
Jalan menuju Kawah Ijen

 

PENAMBANG BELERANG KAWAH IJEN

Sepanjang jalan kami berpapasan dengan para penambang. Penambang Belerang Kawah Ijen Berbekal keranjang rotan dan kain seadanya yang dibasahi air sebagai penutup hidung dari kepulan asap yang menyesakkan paru-paru dan memedihkan mata, mereka berjuang mempertahankan hidup dengan mengambil belerang dan dijual Rp 800/kg. Para penambang ini harus mengangkut belerang dari kawah kaldera yang cukup curam sepanjang 300m dan menuruni gunung sejauh 3km. Mereka rata-rata bisa mengangkut 80-90 kg, yang ditaruh dikeranjang pada pundak, sekali jalan. Tidak heran, seringkali dijumpai tonjolan pada pundak mereka karena beban berat yang selalu dipikul. Mereka tidak pernah menyerah berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Dalam sehari mereka maksimal bisa bolak balik sebanyak 3 kali. Bayangkan saja, kami yang hanya membawa ransel berisikan makan, minum, dan kamera terengah-engah untuk sampai ke kawahnya. Bagaimana mereka bisa melakukan itu selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Himpitan ekonomi yang memaksa mereka untuk mempertaruhkan nyawa dengan memilih pekerjaan sebagai penambang belerang. Dengan berat belerang yang dipanggul, mereka mendapatkan maksimal (jika memikul 100kg) Rp 80.000. Jika beruntung mereka akan membawa uang maksimal, sekitar Rp 200.000. Jika kondisi tidak memungkinkan, mereka hanya membawa uang Sekitar Rp 80.000 setiap hari. Keadaan yang ironis dibandingkan keindahan dari Kawah Ijen. Mas E sampai takjub. Dia bilang betapa susah mencari uang di Indonesia dengan nyawa sebagai taruhannya.

Penambang belerang Kawah Ijen
Penambang belerang Kawah Ijen
Belerang yang harus dibawa para penambang
Belerang yang harus dibawa para penambang
Penambang dengan membawa belerang menaiki lereng dari kaldera menuju bagian atas kawah
Penambang dengan membawa belerang menaiki lereng dari kaldera menuju bagian atas kawah
Mereka harus berjuang untuk menuju atas melewati jalan curam dan terjal
Mereka harus berjuang untuk menuju atas melewati jalan curam dan terjal
Penambang belerang di kaldera. Nyawa menjadi taruhannya
Penambang belerang di kaldera. Nyawa menjadi taruhannya

Setelah menempuh 1.5 jam jalan menanjak, akhirnya kami sampai di kawahnya. Karena matahari sudah bersinar terik, sekitar jam 7, maka kami bisa melihat air kawahnya yang berwarna hijau kebiruan. Setelah beberapa saat kami menikmati keindahan dari atas, ada seorang penambang menyarankan kami untuk turun sampai kalderanya. Setelah tawar menawar harga sebagai imbalan karena Bapak tersebut sebagai pemandu, maka kami mulai turun menuju Kaldera. Jalan yang kami lalui sangat curam. Beberapa kali saya harus berhenti karena takut terpeleset. Membayangkan kalau tiba-tiba terpeleset terus nyemplung di Air Kawahnya. Bisa langsung larut saya karena tingkat keasaman air yang tinggi.

Kawah Ijen
Kawah Ijen
Jalan menuju kaldera. Curam sepanjang 300m
Jalan menuju kaldera. Curam sepanjang 300m

Begitulah pengalaman kami ke Kawah Ijen. Selain bisa menikmati keindahan alamnya, kami juga melihat dan berinteraksi langsung dengan para penambang sebagai cerita lain yang ada dibalik keindahan Kawah Ijen. Diantara kokohnya dinding Kaldera, ada nasib para penambang yang diletakkan disana. Diantara indahnya air Kawah Ijen, ada tetesan keringat yang mengalir dalam setiap keranjang rotan yang membawa belerang diantara pundak meraka. Masih mengeluh dengan beban hidup kita setelah melihat perjuangan mereka?

Keindahan Kawah Ijen dan Penambang Belerang kesatuan yang tidak dapat terpisahkan
Keindahan Kawah Ijen dan Penambang Belerang adalah kesatuan yang tidak dapat terpisahkan

PANTAI PULAU MERAH                   .

Setelah dari kawah Ijen, Kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Pulau Merah yang terletak di Banyuwangi. Untuk mencapai ke Pantai ini diperlukan waktu sekitar 3 jam dari Kawah Ijen. Pantai ini terkenal dikalangan surfer karena merupakan salah satu spot favorite surfer internasional selain kawasan G-Land di Plengkung, juga di kota Banyuwangi. Dinamakan Pantai Pulau Merah karena sekitar 100m dari bibir pantai terdapat sebuah pulau kecil yang ujung atasnya akan memantulkan warna merah jika terkena sinar matahari pada sore hari. Konon seperti itu, karena saya tidak membuktikan dengan mata kepala sendiri. Pantai Pulau Merah dikenal juga denga Pantai Kuta nya Jawa karena tipe pantainya yang menyerupai Pantai Kuta. Mungkin ekspektasi saya terlalu tinggi dengan informasi yang saya dapatkan sebelumnya, sesampainya disana saya justru kecewa. Pantainya tidak seindah seperti yang saya bayangkan. Justru lebih indah Pantai Papuma yang ada di Jember. Sisi positifnya, akhirnya saya tahu Pantai yang sekarang menjadi pembicaraan para pelancong.

Pantai Pulau Merah
Pantai Pulau Merah
Pantai Pulau Merah
Pantai Pulau Merah

 

Tetep, sampah dimana-mana. Miris!
Tetap, Sampah dimana-mana. Miris!
Pulau yang konon kalau menjelang matahari terbenam memantulkan warna merah diujung atasnya
Pulau yang konon kalau menjelang matahari terbenam memantulkan warna merah diujung atasnya

 

Nyempil, narsis dulu :)
Nyempil, narsis dulu 🙂

Tertarik untuk mengunjungi Kawah Ijen dan Pantai Pulau Merah?

 

-Surabaya, 10 November 2014-

 

23 thoughts on “Catatan Perjalanan – Kawah Ijen dan Pantai Pulau Merah

  1. Lagi nyari info tentang kawah Ijen terus ketemu blog Mbak Deny yang seru banget. Sampe malah baca posting2 sebelumnya, lumayan buat yang suka insomnia seperti saya. 😀 Salam kenal ya!

    Btw, seru juga lho baca cerita ketemuan pertama dengan suami. Memang kenalan pertamanya di mana? Romantis banget. Happy anniversary juga ya, semoga selalu bahagia bersama!

    1. Hai Pia, terima kasih ya sudah mampir dan meninggalkan komentar 🙂
      Terima kasih juga buat doanya. Monggo silahkan dibaca-baca barangkali bisa menemani insomnianya 🙂

    1. Sepuh pun belum tentu ga ada tenaga lho Fran. Disini yang sepuh2 sekitar umur diatas 80 tahun pun masih sehat ke supermarket sendiri, jalan2 dipusat kota atau jalan2 biasa sendiri. Jadi sepuh pun masih bisa beraktifitas.

    1. Iya Fe, trenyuh banget lihat penambang belerangnya. Apalagi kalau lihat yang sudah sepuh gitu jalan nanjak sambil menggos menggos. Duh. Iya ya Kawah Ijen ini sering dibikin dokumenter. Pernah lihat di National Geographic apa ya dulu, sekilas tapi.

  2. Perjuangan penambang belerang itu bikin saya terharu. Kerja keras dalam pengertian yang sebenarnya dengan penghasilan yang gak seberapa.
    Ya, Allah swt beri mereka kekuatan dan kesehatan menjemput rejeki-Mu

    1. Iya Pak, saya suka terharu kalau mengingat perjuangan mereka, apalagi yang sudah sepuh-sepuh. Jadi penyemangat saya juga supaya ga gampang menyerah dan mensyukuri segala rejeki dari Allah. Amiinn, semoga kesehatan selalu menyertai mereka.

    1. Aku kecewa sama pulau merah Win, ternyata tidak se Wow yang digaung2kan diluar sana. Suamiku sampai bilang ini pantai apa danau, kok biasa sekali dan banyak sampahnya *duh malu kalau sudah diprotes banyak sampah gini

  3. Wah kemarin baru aja dari sana, ke kawah ijen aja sih, cuma nggak sempet mampir ke pulau merah karena perjalanannya naik sepeda onthel. Jadi mau rangkap sama ke pantai nggak kuat sepertinya. Hahah Overall, bagus banget pemandanganya. Recommended buat yang suka petualangan 🙂

    1. WOW!! naik sepeda onthelnya dari mana? keren banget. Iya, Kawah Ijen bagus emang. sepadan sama perjuangannya naik. Tapi aku mikir2 lagi deh kalo diajak kesana lagi. Udah 3 kali 😀

    1. Sangat!. Tahun kemaren aku kesini sama teman-teman kuliah. Ada yang sampai muntah ga sanggup melanjutkan perjalanan. Karena emang gila banget tanjakannya. tapi begitu sampai atas, terbayar lunas segala perjuangan naik. Viewnya juara ^^. Banyak banget bule yang kesini

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.