Tentang Frankfurt Book Fair 2015

Frankfurt Book Fair (FBF) adalah pameran buku terbesar dan tertua didunia, lebih dari 500 tahun usianya. Dikutip dari website resminya, tentang sejarah awal FBF :

The history of the Frankfurt Book Fair dates back to the 15th century, when Johannes Gutenberg first invented movable type – only a few kilometers down the road from Frankfurt. Frankfurt remained the central and undisputed European book fair city through to the 17th century. In the course of political and cultural upheaval, in the 18th century Leipzig then came to play the part. In 1949, that early Frankfurt book fair tradition was given a new lease of life: 205 German exhibitors assembled on Sept. 18-23 in Frankfurt’s Paulskirche for the first post-War book fair. More than 60 trade-fair years later, the Frankfurt Book Fair is the largest of its kind in the world – and the hallmark for global activities in the field of culture.

Frankfurt Book Fair adalah tempat bertemunya pelaku industri buku, media, pemegang hak cipta yang datang dari seluruh penjuru dunia. Acara ini digelar setiap tahun pada pertengahan bulan oktober. Jadi pada saat tersebut akan ada banyak sekali penulis buku, penerbit, penjual buku, agen bahkan produser film yang bertemu untuk menciptakan sesuatu yang baru. Partisipannya sebanyak 132 negara dengan jumlah pengunjung mencapai ratusan ribu orang. Hal lain yang tidak kalah menariknya adalah setiap tahun selalu ada tamu kehormatan. Pada tahun 2015 ini Indonesia menjadi tamu kehormatan. FBF tahun ini dilaksanakan pada tanggal 14-18 Oktober 2015.

Sekitar 7 atau 8 tahun lalu saya selalu memimpikan untuk bisa pergi ke acara ini. Saya rajin memupuk mimpi tersebut. Setiap tahun saya selalu membaca liputannya. Saya selalu mempunyai harapan besar bahwa suatu saat mimpi tersebut akan terwujud. Alasannya sederhana, karena saya cinta buku. Saya suka aroma kertasnya, saya suka sensasi ketika membalik halamannya dan yang terpenting adalah saya cinta membaca buku. Bersyukur tahun 2015 ini salah satu harapan saya (diantara banyak sekali mimpi) bisa menjadi nyata bertepatan dengan Indonesia menjadi tamu kehormatan. Dan yang membuat saya semakin semangat adalah saya ingin bertemu beberapa penulis yang saya idolakan sejak buku pertama mereka terbit, bahkan satu penulis sudah saya idolakan sejak dia menjadi penyanyi. Jadi bisa dibayangkan betapa girangnya saya. Kami berangkat dari Den Haag jam 3 dini hari berkendara selama 6 jam dengan berhenti 2 kali karena suami tidur sebentar dan setelahnya mencari tempat sarapan. Keluar dari parkiran mobil, sudah ada bis yang disediakan untuk antar jemput dari dan ke gedung FBF. Tepat jam 10 pagi pada 17 Oktober 2015 saya menginjakkan kaki pertama kali dalam area FBF. Suami selalu memegangi tangan saya ketika kami sedang berjalan, bukan karena supaya tampak mesra, tetapi karena saya selalu berjalan cepat kesana kemari karena terlalu antusias dan suasana saat itu memang sedang ramai sekali.

Akhirnya kesampaian juga kesini
Akhirnya kesampaian juga kesini

FBF dibuka untuk umum hanya pada 2 hari terakhir yaitu 17 dan 18 Oktober 2015. Area FBF sendiri dibagi menjadi 5 gedung utama. Untuk detailnya bisa dilihat pada foto dibawah ini. Ukuran masing-masing gedung atau hall tersebut sangat luas sekali. Kalau ada yang pernah masuk ke Graha ITS Surabaya, maka gedung-gedung tersebut lebih luas dibandingkan Graha ITS Surabaya, per lantainya. Bayangkan saja seperti hall 6 yang mempunyai 4 lantai, mengitari setiap lantai pada semua gedung membutuhkan tenaga ekstra, termasuk kaki yang kuat. Karenanya, alas kaki yang nyaman sangat dibutuhkan untuk berkeliling. Yang menyenangkan adalah jika kita ingin menuju hall-hall yang lain, tidak harus keluar gedung karena setiap hall terhubung satu sama lain disetiap lantai. Karena Indonesia sebagai tamu kehormatan, maka Indonesia menempati paviliun lantai 1 (F1) sebagai pusat acara dan hall 4.0 serta 4.1 untuk sesi talkshow dan tempat beberapa penerbit.

Denah FBF 2015
Denah FBF 2015
Disalah satu sudut hall.
Disalah satu sudut hall.
Salah satu hall.
Salah satu hall.
Disalah satu lorong ditengah hall. Iya, ini masih tengahnya.
Disepertiga lorong pada salah satu lantai hall. Iya, ini masih sepertiganya.

Indonesia Sebagai Tamu Kehormatan

Akhirnya pada tahun 2015 ini Indonesia menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair. Menjadi tamu kehormatan pada acara yang yang berusia lebih dari 500 tahun tersebut merupakan kesempatan berharga. Menurut Pak Anies Baswedan dalam pidatonya bahwa kesempatan berharga ini bukan hanya untuk memperkenalkan Indonesia tetapi juga mengajak Eropa melakukan percakapan lintas budaya yang lebih luas. Mengusung tema Islands of Imagination, Muhamad Thamrin sebagai Arsitek yang dipercaya untuk menggarap area paviliun tersebut menjadi area yang penuh desain cantik. Dalam paviliun tersebut terdapat tujuh pulau yang masing-masing memiliki unsur budaya di Indonesia. Pulau-pulau tersebut adalah : Island of Scenes, Island of Spices, Islands of Illumination, Island of Inquiry, Island of Tales, Island of Images, dan Island of Images.

image9

image10

Masing-masing pulau menyajikan Indonesia dalam cara yang berbeda. Island of Spices yang mengajak pengunjung untuk berpetualang dan mengenal keragaman Indonesia melalui rempah dan kekayaan kulinernya. Island of Scenes menampilkan Indonesia dari sisi pentas dan pertunjukan budaya. Island of Illumination menampilkan naskah dan manuskrip kuno yang menjadikan awal sastra yang ada saat ini. Island of Inquiry menampilkan sains dan kebudayaan Indonesia dalam bentuk digital. Islands of Tales memberikan nuansa berbeda yaitu memperlihatkan negeri dongeng Nusantara dengan suara dan proyeksi gambar bergerak. Pada bagian Island of Words diperuntukkan bagi para peminat kartun, cerita bergambar, novel grafis dan animasi. Sedangkan bagian yang terakhir adalah Island of Words menampilkan beragam buku karya penulis Indonesia dengan visual dan konten yang menarik.

image19

Sejak saat persiapan sampai hari terakhir acara, perkembangan dan beritanya bisa diikuti langsung melalui website resmi Islands of Imagination, akun Facebook Pulau Imaji dan akun twitter @pulauimaji. Kuliner Indonesia juga berjaya disini. Tidak hanya masakan saja yang disajikan, tetapi rempah Indonesia juga diperkenalkan pada pengunjung. Saya melihat ada beberapa pengunjung tidak hanya mencium rempah-rempah tersebut, tetapi juga mencicipinya. 25 chef sampai didatangkan langsung dari Indonesia seperti William Wongso sebagai ketua kulinernya, Bondan Winarno, Sisca Soewitomo, Barra Pattiradjawane, dan masih banyak yang lainnya. Menu yang disajikan dikantin Indonesia adalah gado-gado (6.5 euro), sayur kapau (9.5 euro), asinan Jakarta (5.9 euro), ayam rica-rica (9.5 euro), dan dessert klappertart (lupa harganya berapa). Sejak sebelum jam makan siang, antrian sudah panjang. Selain demo memasak, juga dibuka kelas memasak yang diikuti oleh pelajar dan anak muda. Kelas memasak ini salah satu contohnya adalah mengajarkan cara membuat kolak pisang dan pepes ikan. Dari situs CNN Indonesia, disebutkan bahwa peserta sangat antusias.

Rempah Indonesia
Rempah Indonesia
Sesi pengenalan rempah
Sesi pengenalan rempah (@pulauimaji)
Antrian mengular pada saat makan siang
Antrian mengular pada saat makan siang

 

Pojok minuman
Pojok minuman
Sayur Kapau
Sayur Kapau
Gado-gado
Gado-gado

Apa Yang Kami Lakukan

Awal datang, saya langsung menuju hall terdekat yaitu hall 4. Bersyukurnya langsung menemukan stand Gramedia yang sedang mengetengahkan talkshow tentang buku anak-anak. Setelah puas berkeliling di hall 4.0 dan 4.1 kami langsung menuju Paviliun yang ternyata sedang berlangsung sesi Leila S.Chudori dan Laksmi Pamuntjak tentang buku mereka masing-masing yaitu Amba dan Pulang. Karena saya datangnya telat, jadi mendapat tempat dibelakang para pembicara, karena penuh dengan penonton. Diantara penonton saya melihat Taufik Ismail dan Bapak BJ Habibie. Setelah sesi mereka selesai, kami langsung menuju kantin. Kami memesan sayur kapau dan gado-gado (suami ini selalu yang dipesan dimana-mana kalau tidak soto ayam ya gado-gado). Sekitar jam 1 kami bergegas menuju hall 4.3, berputar sebentar dan sebelum jam 2 saya sudah duduk manis menunggu sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa jam 2 siang di stand nasional.

Sesi Laksmi Pamuntjak dan Leila S.Chudori (@pulauimaji)
Sesi Laksmi Pamuntjak dan Leila S.Chudori (@pulauimaji)
Sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa. Penuh.
Sesi Dewi Lestari dan Ika Natassa. Penuh.

Sejak Dewi Lestari menjadi penyanyi, saya sudah mengidolakan dia. Lagu ciptaannya yang berjudul Satu Bintang di Langit Kelam menjadi salah satu lagu favorit sampai saat ini. Dan ketika dia mengeluarkan buku pertamanya yang berjudul Supernova : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001) bisa ditebak setelahnya saya selalu membeli karya-karyanya, lengkap sampai Gelombang. Saya mengagumi setiap karakter yang dia ciptakan, cara dia membawa pembaca untuk hanyut dalam setiap cerita yang dia tulisakan. Pada buku Perahu Kertas, saya sampai tersedu sedan ketika membacanya. Jadi, salah satu mimpi saya sejak lama juga adalah bisa bertemu langsung dengan Dewi Lestari, berbincang sebentar, meminta tanda tangan dibukunya, dan foto bersama. Jadi ketika tahu Dewi Lestari akan ada sesi dihari sabtu bersama Ika Natassa yang bertema “Woman and The City” saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Selama 30 menit saya mendengarkan dengan anteng talkshow dalam bahasa inggris tersebut. Sampai sesi tanya jawab, saya langsung mengacungkan tangan, padahal pada saat itu saya belum tahu apa yang akan ditanyakan (kebiasaan!!). Pikir saya, mumpung ada kesempatan. Dan saat itu saya satu-satunya orang yang mengacungkan tangan. Inilah yang direkam suami ketika saya bertanya (bagian saya bertanya dipotong supaya tidak terlalu panjang).

Dan pada akhirnya saya bisa mewujudkan impian. Meminta tanda tangan, berbincang sebentar dan berfoto bersama Dewi Lestari. Bahagia luar biasa dan tidak terkira rasanya.

Akhirnya kesampaian juga foto bersama
Akhirnya kesampaian juga foto bersama

Misi selanjutnya adalah menemui penulis idola yang kedua, yaitu Andrea Hirata. Saya menyukai bukunya sejak Laskar Pelangi. Buku dan film Laskar Pelangi sukses membuat saya menangis sekaligus semakin yakin akan kekuatan mimpi, doa dan kegigihan dalam mewujudkan mimpi kita. Sejak saat itu saya semakin berani untuk bermimpi dan berusaha keras serta cerdas untuk mewujudkan setiap mimpi tersebut. Rasanya masih tidak percaya juga bisa meminta tandatangan pada buku terbaru Andrea Hirata yang berjudul Ayah. Terus terang saya belum membaca Ayah sama sekali karena baru mendapatkan buku tersebut dari seorang teman yang ke Den Haag 2 hari sebelum saya berangkat ke Frankfurt. Beruntung, pikir saya.

Andrea Hirata dan buku Ayah yang ditandatanganinya
Andrea Hirata dan buku Ayah yang ditandatanganinya

Beberapa waktu sebelum berangkat ke FBF, saya sudah membuat janji dengan Fe dan Mindy untuk bertemu. Tetapi saya tidak punya akses internet selama di Frankfurt, jadi agak merasa kesusahan awalnya harus menemui mereka dimana ketika sudah sampai dilokasi FBF. Akhirnya kami bertemu secara tidak sengaja di Paviliun ketika melihat sesi Leila S. Chudori dan Laksmi Pamuntjak. Akhirnya bertemu juga dengan mereka. Saya mengenal Fe karena follow blognya cerita4musim dan membaca tulisan-tulisannya di jalan2liburan. Kalau Mindy saya mengenal dari grup whatsapp Instagram yang anggotanya semua bermukim di Eropa, bernama KompakersEropa. Mereka berdua adalah dua diantara enam orang penulis buku Menghirup Dunia. Selain ingin kopdaran dengan mereka, tentu saja juga ingin meminta tanda tangan mereka dibuku Menghirup Dunia saya. Senang rasanya akhirnya bertemu dua orang yang selama ini hanya dikenal melalui dunia maya. Mindy dan Fe sangat ramah.

Bersama Fe dan Mindy dalam sesi tandatangan buku Menghirup Dunia. Terima kasih buat suami Fe yang meminjamkan punggungnya :)
Bersama Fe dan Mindy dalam sesi tandatangan buku Menghirup Dunia. Terima kasih buat suami Fe yang meminjamkan punggungnya πŸ™‚

Selain sesi kopdaran dengan mereka, saya juga membuat janji untuk bertemu dengan anggota KompakersEropa yang lain yaitu Beth. Akhirnya berjumpa juga dengan Ibu yang jago fotografi ini. Beth supel sekali orangnya. Saya langsung merasa nyaman berbincang meskipun sebentar sekali dengan dia. Sebenarnya saya juga membuat janji dengan anggota KompakersEropa yang lain pada minggu pagi, tetapi terpaksa saya membatalkan karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Bersama Beth dan Mindy
Bersama Beth dan Mindy

Bagaimana rasanya setelah datang ke FBF 2015? Bahagia tidak terkatakan. Satu mimpi saya akhirnya terwujud dan mendapat bonus bertemu langsung dengan penulis idola, melihat secara langsung banyak penulis dan pekerja seni yang hadir disana, bertatap muka dengan orang-orang ternama tanah air, juga kopdar dengan beberapa orang yang selama ini tahunya hanya dari dunia maya saja. Frankfurt Book Fair ini semacam surga dunia buat saya karena melihat buku dimana-mana. Walaupun kaki saya pegal sekali pada malam harinya karena seharian berjalan menyusuri setiap lantai setiap hall, tetapi kegembiraan sedikit mengurangi rasa capek tersebut. Ya hitung-hitung latihan tawaf. Rasanya ingin mengikuti semua acara disana termasuk melihat suguhan tarian Indonesia pada saat happy hourΒ di Paviliun, tetapi badan saya dan suami ingin segera diistirahatkan. Satu hari memang tidak cukup untuk mengitari semua hall. Dua hari memang waktu yang ideal.

Apakah saya memborong buku disana? Niat awalnya memang ingin berbelanja buku sebanyak-banyaknya. Tapi apa daya buku dijual hanya pada hari terakhir. Tetapi sore hari Gramedia mengadakan obral buku dengan judul yang sudah ditentukan. Akhirnya saya membeli beberapa buku yang menarik disana.

Beberapa stand buku lainnya

image15 image17 image18

Pengalaman yang tidak akan terlupakan. Untuk tahun depan tamu kehormatannya adalah Belanda dan Belgia. Tahun depan giliran suami yang antusias datang. Secara keseluruhan saya merasa terharu dan bangga dengan tampilnya Indonesia sebagai tamu kehormatan di FBF ini. Melihat dan merasa dekat dengan Indonesia ketika saya sedang jauh dari Indonesia. Angkat topi kepada Goenawan Mohammad selakuΒ Ketua Komite Nasional Pelaksana serta sekitar 80 penulis dan total 300 orang budayawan maupun seniman yang berkumpul dan mensukseskan peran Indonesia sebagaiΒ guest of honorΒ pada acara bergengsi tersebut. Meskipun banyak kritik disana sini tentang tidak sempurnanya Indonesia sejak tahap persiapan yang super mepet sampai pada acara berakhir, tetapi langkah awal ini membawa optimisme tersendiri akan Indonesia dan Industri buku Indonesia dimata Internasional. Bukankah perjalanan panjang dan besar selalu diawali dengan langkah yang kecil. Jika tidak dimulai saat ini, maka tidak akan pernah tampak juga perubahaan besarnya dikemudian hari.

-Den Haag, 20 oktober 2015-

Semua foto adalah dokumentasi pribadi kecuali yang menyertakan sumbernya langsung pada bagian bawah foto.

45 thoughts on “Tentang Frankfurt Book Fair 2015

    1. Di Jakarta kesempatannya lebih besar Yu. Apalagi dia baru launching buku, pasti banyak event2.
      Aku ya larut lho Yu sama kamu… eh foto2mu maksudnya hahaha

  1. Saya pernah mbaca sekilas, ini tugas berat buat Pak Goenawan Mohamad sebagai ketua delegasi Indonesia ya. πŸ˜€ Sayang sekali beliau ditunjuk oleh pemerintah Indoensia terlambat, sudah amat dekat dengan waktu book fair.

    1. Iya benar. Beliau ditunjuknya mepet. Tapi dengan waktu yang cukup singkat Beliau bisa memghadirkan Indonesia di ajang International, kerjanya memang luar biasa. Didukung oleh team yang mumpuni juga.

  2. Waah mbak, kita juga datang kesana! rada cepet2 juga, karena bawa toddler rada susah lama2. Kita borong buku2 juga, kebanyakan buku anak2 Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Seru ya mbak disana!, yang aku rada nyesel, gak bisa ketemu idolaku bpk Habibie:((.

    1. Berarti mungkin kita pada saat itu lagi papasan ya haha.
      Pak Habibie datang hari Minggu saat penutupan. Aku baca diblog temanku karena dia datang yang hari minggu. Seruuu memang ke Frankfurt. Makin senang karena ketemu penulis-penulsi idola yang mungkin susah ketemunya kalau di Indonesia πŸ™‚

      1. Iya mbak, kita nginep dua hari jadi bisa datang sabru minggu. Susah soalnya kalau gak nginep, udah tinggalya gak di Frankfurt, dan kita punya anak umur 3 lagi, jadi ya nginep deh. Pas hari minggu, kita gak keburu ketemu pak Habibie, karena harus pulang balik ke kota kita naik kereta. Iya bener , seru ya, thn depan Belanda nih, penasaran buku RA Kartini bakal ada nggak ya?

        1. Ahh aku juga menginap Lulu di hotel deket tempat FBF itu *lupa namanya apa. Karena perjalanan dari Den Haag ke Frankfurt 5-6 jam jadinya diputuskan menginap daripada gempor tengah jalan PP haha
          Iyaa, tahun depan Belanda dan Belgia. Mudah2an bisa datang kesana πŸ™‚

  3. lucky lucky you!!!! saya sempat kepikiran mau ikutan Frankfurt Marathon aja tahun depan (man, I like German a lot!!!) karena beda seminggu sama Frankfurt Book fair ini hahahah biar sekalian

    1. Mudah-mudahan kita bisa ketemu tahun depan Mbak kalau aku jadi kesana. Atau mungkin aku ikutan Frankfurt Marathon juga. Who knows haha

  4. Hallo mba Deny
    Salam kenal mbaaa
    Waktu mbak tanya ke Dee. .Saya berdiri didekat mbak lo hehe pertanyaan mb yg plg sy inget ttg budaya gosip wanita Indonesia Kalo ga salah dan ga nyangka skarang sy nemu Blog mb. Habis blogwalked dr t4 mbak Kayka
    Selamat yaaa mbaaaak:))

    1. Hai Fitri, whoaaaa dunia sempit banget ternyata ya hahaha. Wah jadi malu aku ketahuan ada yang hadir juga disana hehehe. Salam kenal Fitri πŸ™‚

    1. Lah sekarang baru masuk hiksss

      Makasih sekali lagi Den untuk perjumpaannya.

      Jauh-jauh dari Indonesia malah baru ketemu penulis Indonesia di Eropa ya, di Jakarta malah gak pernah ketemu :))
      Dream do really come true!

      x

      1. Iya, aku nyebut diatas sama Dani, Drama perkomenan diblogku ini such never ending story :)))
        Iya, padahal pas waktu di Jakarta lebih banyak kesempatan bertemunya karena mereka banyak event. Belum berjodoh, eh ketemu malah pas jauh dari Indonesia gini. Indeed Fe, dream do really come true πŸ™‚

  5. Arghhhh… dari kmrn buka ini sih pas lihat di FB tapi baru bisa komen sekarang Den. Ituuuu iri banget dah gw. Ketemu dan foto bareng sama Dee. :'( sedangkan di sini cuma bisa lewat foto dan twitter aja update soal festival ini. :'(
    Eh ketemu sama Mbak Fe dan Mbak Mindy juga ternyata yakkkk…. kerennnnzzz

    1. Padahal disana lebih banyak kesempatan buat ketemu Dee ya karena dia banyak event. Bentar lagi Supernova yang terakhir keluar, pasti deh banyak banget event yang ada Dee nya πŸ™‚
      Hahaha iyaa Ryan, janjian ketemuan sebelumnya sama Fe dan Mindy. Terlaksana juga pas FBF gini. Rejeki πŸ™‚

        1. Iya, kalau dari Hp nampaknya banyak ga suksesnya *banyak yang lapor ke aku begitu πŸ˜€ padahal aku pernah coba dari Hp bikin komen bisa. Mungkin karena jaringan ya yang kebetulan ga terlalu bagus.
          Teteh Dewi ga ikut katanya capek.

  6. senang ya den bisa ketemu langsung dengan penulis favorit. tapi kalau liat dewi lestari mesti saya ingatnya saat dia masih di rida sita dewi aja.

    btw kog bagian yang deni nanyanya diilangin sih jadi gak bisa liat deni deh πŸ™‚

    saya liat deni dan suami makanannya disajiin dalam piring lontar gitu ya. ini kali yang bikin harga makanannya mahal den. saat kita makan hanya sisa garpu dan sendoknya aja, piringnya gak repre banget styrofoam gitu.

    eh iya jadi jalan-jalan gak hari minggunya den?

    salam
    /kayka

    1. Iya Mbak Kayka, aku suka Dewi Lestari sejak dia di RSD. Hahaha emang sengaja dihilangkan Mbak. Soalnya dari jawaban Dee sudah jelas banget aku tanya apa.Lagian aku maluu nongol disitu hahaha.
      Ohh itu namanya piring lontar ya Mbak? wah baru tahu aku. Tapi tetap saja menurutku sayur kapaunya harga segitu kemahalan. Kurang nampol juga rasanya *hahaha banyak protesnya Nih.

      Hari Minggu jadi jalan2 Mbak dipusat kotanya. Sepiiii ya iyalah semua toko tutup hahaha. Akhirnya ya jalan kaki saja muter2 sampai ke jembatan apa namanya yang banyak gemboknya itu.

      1. iya katanya sih daun lontar, taunya dari acara Ibu Sisca waktu itu ya.
        sama den berarti lidah saya gak salah dong ya sayur kapaunya memang gak nampol rasanya πŸ˜€
        hahahah iya tau ndiri kan den disini hari minggu semua tutup. btw nama jembatannya Eiserner Steg…

        salam
        /kayka

  7. Deny, aku menyesal sejadi jadinya begitu baca postingan ini, padahal aku dah tau mo ada festival buku di Frankfurt dari temen ku yg tinggal di Stuttgart, cuma ga ngeh bahwa itu festival terbesar, kirain festival buku kayak di Belanda yg biasa kita sekeluarga datengi. Duh gini deh klo kurang baca.
    Deny, tulisan ini sempurna banget, kaya informasi menambah wawasan, foto yg keren, cerita kopdar sampe komplit ada Fe, foto bareng Dewi Lestari dan Andrea Hirata, sampe makanan nya pun Looks yummy. Keren abis dan sempurna.
    Selamat Deny.
    Ah jadi semangat pengen dateng tahun depan, btw kapan lg ya Indonesia jadi tamu kehormatan?

    1. Wah,Maaf ya Yang. Aku ga tau kalau kamu pengen kesini juga. Soalnya aku setiap tahun memang selalu baca berita seputar FBF ini, jadi sudah pasti setiap tahun tahu jadwalnya. Maklum, impian lama banget pengen kesini Yang πŸ™‚ Jadinya begitu ada kesempatan tahun ini, ga mau menyia2kan. Tahun depan tamu kehormatannya Belanda dan Belgia Yang, pas kalau mau kesana. Belum tahu kapan lagi Indonesia jadi tamu kehormatan. Kata temanku belumtentu per 25 tahun sekali,karena pesertanya sampai 132 negara.

      Terima kasih Yang, sekalian aku lengkapi tulisannya, meskipun jadinya panjang banget πŸ˜€

  8. Tinggal berjauhan malah ketemunya di negara tetangga ya Den, di Indonesia malah gak pernah ketemu mereka-mereka ini πŸ™‚

    Sampai jumpa di RM Padang Den Haag ya Den , keep in touch πŸ™‚

  9. Deeeen, komenku tadi siang gak masuk rupanya. Huhuhu.
    Btw dirimu ada di surga dunia!!! Mupeeeenggggg beratssss. hahahaha.
    Aku sing tonggoan karo Dee Lestari ae durung tau ketemu, dirimu wis poto bareng. Eh iku kok ra ono ceritane INat? πŸ˜€

    1. Drama perkomenan ini memang tidak pernah berakhir ya Dan haha. Lah pas lek ngono tonggoan karo Dee, kari ngetuk pintu trus ngomong “Mbak Dee, kulonuwon. Kulo ajenge wefie. Pripun, saget opo mboten” hahaha Eh iyooo, aku nduwe poto bareng INat, itupun ga sengojo gara2 bojoku sing njepret. Aku ga nduwe bukune Dan πŸ˜€
      Bener Dan, surga dunia beneran ini. Rasanya kayak anak kecil yang dilepas ditaman. Rasanya pengen guling2 saking senengnya.

  10. Eh aku udah bosa komen di sini, horee! πŸ˜€
    Liputanmu lengkap Den, top!
    Seneng akhirnya aku bisa bertemu denganmu Den. Semoga bisa sering-sering ya….secara kita dekat ini πŸ™‚

    1. Horeeee!! Beth akhirnya bisa mampir. Perdana! *lagi beruntung ini kayaknya πŸ˜€ Suwuunn πŸ™‚ … Kami sudah merencanakan akan ke Koln. Tapi entah kapan realisasinya hahaha. Sudah ga sabar cium-cium pipi gadis penyuka gajah πŸ™‚

    1. Usul ke Tokopedia Ji buat ngundang Andrea Hirata pas ada acara apa gitu. Lumayan kan bisa langsung minta tandatangan semua bukunya :). Semogaaa bisa ketemu Fe ya suatu saat.

  11. wahhh, iri banget ngeliat foto sama baca postingan ini, semoga tahun depan bisa datang ke acara ini hehe… aku banyak liat postingan ig mengenai ini hehe… Happy for you Mba, bisa kesampaian mimpi2nya πŸ˜€

    1. Hayukkk Astrid tahun depan kita kesana. Pas Belanda jadi tamu kehormatannya. Semoga tahun depan sudah di Belanda ya. Terima kasih πŸ™‚

Thank you for your comment(s)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.