Serba Serbi Kuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya

https://flantera.files.wordpress.com/2012/07/

Disclaimer : tulisan dibawah ini sangat subjektif sifatnya, berdasarkan pengalaman saya : mahasiswi yang pas-pasan nilainya ketika lulus (baca: bukan lulusan cumlaude dan pas untuk mencari kerja) dan sedang-sedang saja prestasinya serta tentunya lintas dasawarsa. Dan cerita dibawah ini hasil dari pengamatan dari lingkungan sekitar saya. Mumpung baru lulus awal tahun 2015, jadi saya tuliskan segala pengalaman yang tidak terlupakan. Dan postingan ini akan sangat panjang.

Hari ini almamater saya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, berulangtahun. Ya, kampus ini berulangtahun setiap tanggal 10 Nopember sesuai dengan namanya dan bertepatan dengan Hari Pahlawan. ITS yang juga dikenal sebagai kampus perjuangan memang benar-benar meresapi arti perjuangan itu sendiri. Untuk bisa kuliah di ITS perjuangannya sangat berat. Diawali dengan ujian masuknya yang harus bersaing dengan beribu pendaftar seantero Indonesia. Ketika sudah dinyatakan resmi sebagai Mahasiswa ITS, perjuangan yang sebenarnya baru dimulai. Ketika akan lulus, perjuangan mengerjakan Tugas Akhir/Skripsi/Tesis/Disertasi juga tidak kalah beratnya. Intinya selama kuliah di ITS itu isinya berjuang terus. Apakah terdengar sesengsara itu? Oh tentu saja tidak. Bukankah ada pepatah bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Nah kalau di ITS ini beda, bersakit-sakit selama perkuliahan, tapi bersenang-senang jangan sampai ketinggalan. Nguaraangg puoooll :)))

Dulu kalau ada tes kerja di Jakarta, saya paling sebal kalau ditanya “ITS itu apa ya? Institut Teknologi Surabaya?” atau pertanyaan “ITS itu dimana ya?” dan yang tidak kalah menyebalkan “oh ada ya Institut Teknologi negeri lainnya selain ITB?” Saya sampai bertanya-tanya sendiri, ini ITS apa memang kalah pamor dengan ITB atau bagaimana sih kok beberapa HRD di Jakarta sampai tidak mengerti. Padahal konon katanya lulusan ITS itu calon menantu idaman dan hampir selalu bikin incaran hati klepek-klepek tanpa ampun *mulai lebhayy :)) Paling tidak punya nilai lebih lah dimata calon mertua kalau ditanya “kuliah dimana? atau lulusan darimana?” dan jawabannya “ITS”, sedaapp.

Seminar Nasional
Seminar Nasional

Sebelum ada yang bertanya saya ini alumni jurusan apa dan angkatan berapa, maka saya jabarkan dulu diawal. Sejak sebelum lulus SMA (alumni SMA Negeri 2 Surabaya), orangtua menghendaki saya masuk kedokteran UNAIR. Maklum saja pada masa itu dokter masih menjadi salah satu jujugan pekerjaan yang cemerlang dan (diharapkan) menghasilkan uang banyak. Tapi saya tidak suka ilmu menghafal meskipun sewaktu SMA nilai biologi selalu menonjol diantara nilai lainnya (masih ingat nilai fisika pernah dapat 5 dirapor-buka aib sendiri). Sejak SMA sudah punya cita-cita kalau kuliah ingin di ITS. Akhirnya dengan tidak tahu dirinya sewaktu UMPTN mendaftar pilihan pertama kedokteran UNAIR, pilihan kedua Teknik Kimia ITS, pilihan ketiga Akuntansi Unair. Singkat cerita dari tiga pilihan tersebut gagal semua. Akhirnya saya diterima di D3 Statistika angkatan ’99 kemudian melanjutkan S1 Statistika angkatan 2003 dan S2 Teknik Industri angkatan 2012. Karenanya diawal saya sebutkan kalau saya ini angkatan lintas dasawarsa. Sebenarnya hubungan saya dengan ITS itu benci tapi rindu. Hate and love relationship. Saking susahnya kuliah di ITS saya bersumpah tidak akan kecemplung lagi untuk kembali kuliah di ITS. Tapi janji tinggallah janji. Saya kembali nyemplung sampai 2 kali, kembali ke kampus yang sama. Perjuangan di ITS itu memang membuat ketagihan.

www.statistics.its.ac.id/wp-content/uploads/2012/
www.statistics.its.ac.id/wp-content/uploads/2012/
Narsis sesaat. Selama kuliah belum pernah foto disini :)
Narsis sesaat. Selama kuliah belum pernah foto disini 🙂

Kembali lagi dengan serba-serbi selama kuliah di ITS pada tahun-tahun yang telah tersebutkan, ini pengalaman saya :

PENGKADERAN di ITS

Kalau ada yang membaca ini dan angkatannya tidak jauh berbeda dengan saya *kode keras ke Dani :))) pasti mengalami pengkaderan yang super duper keras tak berperikemahasiswaan, tapi masih level normal (menurut saya) pada masa itu. Saya pikir ketika sudah dinyatakan resmi sebagai mahasiswa maka tidak ada lagi hambatan dan rintangan yang dilalui. Ternyata salah jenderal! Pengkaderan di Statistik, disebut BCS singkatan dari Bina Cinta Statistika yang dikemudian hari lebih terkenal sebagai Bina Cinta Senior karena masa-masa pengkaderan adalah masa dimana senior tebar pesona menjerat maba *hayoo para senior ngaku!!. Sebenarnya pengkaderan di Statistika tidak terlalu keras dibandingkan jurusan teknik-teknik yang lain. Statistika waktu itu letaknya berdekatan dengan Teknik Mesin, Teknik Lingkungan, dan Teknik Elektro. Jadi saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kerasnya pengkaderan terutama di Teknik Mesin. Sepatu dan segala benda melayang diantara mahasiswa baru (maba) yang sedang push up berantai. Sedangkan pengkaderan di Statistik saya rasakan waktu itu juga teramat keras. Bentakan demi bentakan harus dilalui setiap sabtu dan minggu (kalau tidak salah selama hampir 5 atau 6 bulan), tugas yang bertubi dan seringnya nampak tidak masuk akal untuk dikerjakan karena butuh kreatifitas (dan halusinasi) yang tinggi. Aturan yang berlaku hanya ada dua : 1. Senior tidak pernah salah, 2. Jika senior salah, maka kembali ke nomer 1. Belum lagi Bakti Kampus dimana seluruh maba seluruh ITS dijadikan satu dan dikader bersama. Masih teringat jelas bagaimana kerasnya Bakti Kampus saat itu. Setelah pengkaderan jurusan selesai, puncaknya adalah Camp. Camp ini biasanya diadakan diluar kota. Lokasi favorit camp ITS adalah sekitar daerah cuban-cuban (cuban rondo, saya lupa cuban-cuban lainnya) dan Kakek Bodo. Saya menyebut pengkaderan di ITS itu sebagai pengkaderan berlapis karena tingkatannya adalah jurusan dan Institut.

Pada masa pengkaderan itu saya sering ingin menyerah, sering menangis dan rasanya sudah tidak sanggup untuk meneruskan kuliah di Statistika. Tapi beruntungnya saya mempunyai teman-teman angkatan yang solid, meskipun beberapa ada yang sedikit melenceng dari jalur (dan kami menyebutnya adalah para outlier atau biang kerok). Saking solidnya pertemanan kami pada masa itu, saya masih bertahan berteman dekat dengan beberapa diantara mereka sampai sekarang. Dan kami selalu tertawa cekikikan kalau membahas masa lalu pengkaderan. Iya, pada masa itu kami memang harus berdarah-darah melewati pengkaderan, tetapi pada masa kini kami bisa menertawakan yang telah kami lewati. Tidak itu saja, kami juga akrab sampai sekarang dengan beberapa senior. Bahkan ada beberapa yang menikah dengan senior. Disinilah keberhasilan BCS patut diakui.

MINIM WANITA

Namanya saja kampus teknik, dapat dimaklumi kalau ITS pada masa itu fakir perempuan. Karenanya para senior lelaki akan menjadi sangat buas, sikut kanan kiri untuk mendapatkan maba incaran yang perempuan. Tidak jarang sampai ada perang dingin diantara teman. Para perempuanpun seakan naik pamor karena (merasa) diincar para senior. Mendadak jadi idola istilahnya. Nyatanya yang diincar ya cuma segelintir saja karena selebihnya hanya sebagai pelengkap penderita (ngakak, maklum saya pada posisi yang kedua). Tapi pada waktu itu saya sedikit bangga karena disaat yang lain sibuk dengan pengkaderan, saya sudah pacaran dengan senior dari Teknik Mesin. Apakah karena saya nampak kinclong sampai terjadi kisah cinta lintas jurusan? bukan, karena sejujurnya pada saat itu kami berdua tidak ada pilihan *maaf mantan saya harus berterus terang haha. Waktu itu bangganya bukan main punya pacar anak Teknik Mesin, dengan jaket jurusan berwarna merah, nampak garang diantara jurusan-jurusan yang lain. Plus mantan pacar saya itu anak Basket. Mari sudahi kisah nostalgi(l)a ini. Oh iya, jaket jurusan ini juga jadi ajang arogansi (tidak tertulis) mahasiswanya dengan warna simboliknya. Kalau di Statistik masih lumayan banyak wanitanya. Jurusan lain lebih pahit keadaannya. Jurusan Teknik Mesin angkatan saya (kalau tidak salah ingat-maaf kalau salah, sudah 16 tahun lalu :D) hanya punya satu mahasiswa perempuan diantara (mungkin) sekitaran total 50 mahasiswa. Tidak jarang mahasiswa ITS sampai invasi ke UNAIR, nongkrong dikantinnya dengan tujuan siapa tahu beruntung dapat pacar. Atau kalau ada mahasiswi Unair yang datang ke kantin pusat ITS, semua mata pria-pria langsung terperangah. Tidak hanya pria, mahasiswinya juga ikut takjub karena penampilan mereka yang jauh berbeda dengan mahasiswi ITS. Jurusan Teknik Industri dan Arsitek terkenal banyak mahasiswinya dan penampilan mereka benar-benar fashionable.

PENAMPILAN

Penampilan anak ITS jauuuhh dari kata fashionable (pada saat itu) kecuali beberapa jurusan, misalnya yang sudah saya sebutkan diatas. Tapi secara keseluruhan, baik mahasiswa maupun mahasiswi, penampilannya tidak jauh dari tas ransel besar, jaket jurusan yang besarnya sudah semacam jubah, sandal gunung, sepatu yang diinjak pada bagian belakang (semahal apapun sepatunya, cara memakainya 2 macam : diinjak bagian belakang, seringnya atau memakai secara normal), rambut kucel, penampilan acak-acakan, jarang mandi (pada jaman saya, benar adanya kalau mahasiswa jarang mandi ketika kuliah) dengan alasan air dikos mati ataupun alasan klise tidak sempat mandi karena bangun kesiangan, celana jeans belel (belel dalam artian sebenarnya yang jarang dicuci atau koyak disana sini termakan umur). Sepertinya ada semacam perjanjian tidak tertulis bahwa semakin kusam penampilan maka semakin bisa mentasbihkan sebagai anak ITS sejati. Ada kemungkinan juga mereka (dan saya) berpenampilan seadanya karena faktor uang bulanan yang pas-pasan. Maklum, anak ITS kebanyakan adalah anak kosan yang hidupnya bergantung dari kiriman bulanan. Dan juga tidak terlalu memperhatikan penampilan karena terlalu sibuk dengan timbunan tugas-tugas yang tiada henti datangnya. Bahkan ketika saya kuliah S2 dan pergi ke beberapa tempat, saya langsung mengenali kalau bertemu dengan beberapa orang, yakin kalau mereka anak ITS. Penampilan mahasiswa ITS itu khas sekali.

ANTARA PELIT, IRIT ATAU PAILIT

Terkadang sulit mendefinisikan pada saat itu apakah saya ini termasuk kategori irit, sedang pailit ataukah memang berjiwa pelit karena uang bulanan yang dikirim orangtua selalu pas bahkan hampir selalu habis sebelum bulan berakhir. Tapi hal tersebut tidak hanya terjadi pada saya. Banyak teman satu jurusan juga seperti itu. Kalau uang bulanan habis, senjata andalan adalah mengutang. Siklus hutang inipun seperti lingkaran setan yang tidak tahu ujung dan pangkalnya. Hutang ke ibuk kantin (kami memanggil ibuk pada penjual di kantin Statistik), hutang pada teman. Kalau uang kiriman sudah datang, saatnya membayar hutang, dimana akhirnya uang bulanan habis lagi. Begitu seterusnya. Ada jalan lain : beli makanan sebungkus kemudian dimakan ramai-ramai (saking ngiritnya). Saya pikir kebiasaan makan ramai-ramai ini hanya terjadi pada saat saya kuliah sampai lulus S1. Ternyata ketika melanjutkan S2, kebiasaan makan beramai-ramai ini masih saja tetap berlanjut, at least diangkatan saya. Jadi sebenarnya mereka ini irit, pailit, atau pelit? Beruntungnya warung di keputih dan gebang porsi makanannya memang jumbo, sehingga bisa dimakan beramai-ramai.

Beli beberapa bungkus, dimakan beramai-ramai. Ini teman-teman saat kuliah S2.
Beli beberapa bungkus, dimakan beramai-ramai. Ini teman-teman saat kuliah S2.
Beli minum 2 botol dibagi menjadi beberapa gelas. Kami sedang beruding bagaimana caranya supaya bisa dibagi rata. Waktu itu kami menyebutnya ngoplos minuman.
Beli minum 2 botol dibagi menjadi beberapa gelas. Kami sedang beruding bagaimana caranya supaya bisa dibagi rata. Waktu itu kami menyebutnya ngoplos minuman. Ini hampir tegah malam dan kami masih keluyuran cari makan diwarung dekat kampus.

MENGINAP DI KAMPUS

Karena tugas yang memang mengalir deras seperti air sungai yang tidak bisa dibendung kedatangannya, seringkali menyebabkan kami rela untuk tidur di kampus. Apalagi pada masa-masa mengerjakan Tesis atau Tugas Akhir, maka bisa dipastikan berhari-hari kami bisa menginap di kampus. Biasanya di ruangan HIMA (Himpunan Mahasiswa) atau ruangan khusus yang disediakan (seperti ruangan S2). Belum lagi tugas dosen yang terkadang membutuhkan tenaga ekstra dalam mengerjakannnya, misalkan mengerjakan pada berlembar-lembar kertas folio manual tulis tangan. Kalau ada yang salah perhitungan, maka harus mengulang dari awal. Bencana. Pada masa S2, selain karena fasilitas internet gratis dengan kecepatan yang sesuai mood, juga ada keuntungan lain yang ingin didapat yaitu bisa tidur diruangan berAC. Maklum, Surabaya panasnya melebihi normal dan dikos tidak ada AC. Kipas angin tidak mampu menembus hawa panas itu. Nah, karena sering menginap di kampus, sering mengerjakan tugas bersama, sering runtang runtung kesana kemari, maka cinta lokasi pun tak bisa terelakkan. Ada yang bertahan sampai jenjang pernikahan, ada yang bubar jalan dalam hitungan bulan.

Sehari-hari begini kegiatannya. Terbenam diantara tumpukan tugas. Sampai menginap di kampuspun dijalani.
Sehari-hari begini kegiatannya. Terbenam diantara tumpukan tugas. Sampai menginap di kampuspun dijalani.

CANGKRUK

Jaman saya dulu, kegiatan di kampus tidak pernah lepas dari yang namanya cangkruk. Cangkruk artinya adalah kumpul duduk-duduk. Kegiatannya apa? Ya nggedabrus (ngomong ngalor ngidul) sambil ngetruf (main truf). Saking hobi cangkruk, saya sampai sering pulang malam sampai kos. Rasanya sehari saja tidak cangkruk dengan teman-teman ada bagian hidup yang hilang. Padahal ya yang diomongkan tidak terlalu penting, banyak juga sih beberapa yang penting. Ya itu tadi, nggedabrus ga jelas haha. Tapi bagian cangkruk ini yang sebenarnya saya sesalkan sampai sekarang. Mengapa saya tidak memanfaatkan waktu produktif saya dengan kegiatan lebih berguna. Waktu itu sih alibinya menjalin networking. Halah, Networking huwopoo.

CERITA HOROR

Kampus ITS dan cerita horor adalah satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Maklum ITS dulunya adalah rawa dan bangunannya pun banyak yang sudah tua. Beberapa bangunan dan tempat kental dengan cerita mistis. Saya terus terang tidak pernah merasakan dan mengalami kejadian horor. Tetapi dari beberapa sumber yang bisa dipercaya, kejadian aneh seringkali terjadi apalagi pada waktu malam hari. Beberapa tempat yang terkenal dengan cerita horornya adalah taman belakang Statistik, Gedung Theater (saya lupa tepatnya thater yang sebelah mana), Laboratorium Bahasa, Gedung MIPA, Perpustakaan dan masih banyak tempat uji nyali lainnya. Salah satu cerita horor itu misalnya di salah satu theater, kalau melintas pada waktu malam diarea itu sering terdengar dentingan piano padahal tidak ada siapapun didalam. Dan ada satu cerita legenda yaitu Putri Biru yang sering melintas di jembatan Statistik (Jembatan Statistik ini pada angkatan saya sering disebut Jembatan Dawson Creek, karena pada saat itu sedang booming serial ini dan ada jembatan yang nampaknya mirip dengan jembatan Statistika. Iya, ini maksa). Cerita yang beredar katanya ada beberapa mahasiswa yang bunuh diri karena tidak selesai mengerjakan tugas akhir. Benar atau tidaknya saya juga tidak tahu. Duh, kok jadi merinding sendiri ya malam-malam nulis beginian.

ORGANISASI MAHASISWA

Pada waktu itu organisasi mahasiswa (OrMaWa) sangat marak. Saya ikut beberapa yaitu UKM Penalaran dan Karate. Tapi yang bertahan sampai akhir adalah UKM Penalaran. Dulu ada sekretariat bersama (sekber) beberapa UKM yang letaknya dekat kantin pusat, sekarang menjadi bangunan BNI. Selain itu saya juga ikut kegiatan di HIMASTA (Himpunan Mahasiswa Statistika). Niatnya waktu itu ingin menjadi aktivis. Kenyataannya menjadi aktivis abal-abal. Pernah ikut demo didepan rektorat yang berujung pada yang ikut demo mendapat teguran keras dari jurusan (saya lupa demo masalah apa ya). Pada saat itu saya memang aktif sekali ikut UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Saking terlalu aktifnya sampai IPK nyaris dibawah rata-rata (sewaktu D3). Saya bisa bilang karena aktif mengikuti organisasi inilah yang menjadi penolong dalam mencari pekerjaan. Bagus di nilai akademis perlu, tetapi berkecimpung dalam dunia organisasi kampus juga perlu sebagai media pembelajaran kita mengenal dunia selain akademis. Jadi seimbang kehidupan di kampus. Bahkan salah satu bos saya dulu bilang, kalau mencari lulusan dengan nilai cumlaude pasti banyak. Tapi mencari lulusan dengan pengalaman organisasi di kampus, itu yang menjadi nilai tambah.

KEBERSAMAAN ANTAR MAHASISWA

Karena selama masa perkuliahan yang selalu bersama dalam susah maupun senang, sudah terdengar dramatis belum?, hubungan diantara teman kuat. Kami menjadi solid, saling menguatkan satu sama lain. Jalinan pertemanan yang kuat saya rasakan sudah seperti hubungan persaudaraan. Kampus sudah semacam rumah kedua. Terkadang saya juga menginap dirumah beberapa teman yang asli Surabaya. Dalihnya ingin mengerjakan tugas bersama-sama, padahal niat dibaliknya sekalian mencari makan gratisan. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di kampus daripada di kos. Dan jalinan pertemanan itu beberapa masih terpelihara dengan baik sampai sekarang, 16 tahun kokoh berteman dengan segala suka dukanya. Karenanya saya mendengar bahwa ikatan alumni ITS itu solid.

Ngumpul dan makan, dua kegiatan yang tidak terpisahkan
Ngumpul dan makan, dua kegiatan yang tidak terpisahkan

Bagitulah postingan terpanjang saya diblog ini. Sebenarnya masih banyak yang ingin diceritakan, tapi saya takut panjangnya melebihi serial Tersanjung :D. Kalau sudah bernostalgia tentang cerita kampus memang tidak ada habisnya. Selalu ada hal lucu dan menarik selain perjuangan selama masa perkuliahan. Selamat ulang tahun buat almamaterku tercinta ITS. Semakin jaya meluluskan generasi penerus bangsa dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan. Saya bangga menjadi bagian alumni (3 kali) dan pernah diwisuda di graha ITS yang megah. Terima kasih untuk para dosen yang telah mengajar dan berbagi ilmunya pada kami (meskipun perjuangan mengerjakan Tugas Akhir dan Tesis penuh liku dan kelokan yang nampak tak berujung, tapi akhirnya lulus juga). Apapun yang pernah terjadi dalam masa perkuliahan, baik buruk, pahit manis, semua adalah pembelajaran yang sangat bermanfaat sampai sekarang. Tidak akan terlupakan. Terima kasih ITS ku yang tercinta. Dibawah ini adalah Hymne ITS.

Hayo, ngacung siapa yang sedang baca ini alumni ITS juga? monggo berkomentar apa pengalaman yang tidak terlupakan selama kuliah di ITS. Kalau posting komennya susah sekali, jangan menyerah. Katanya alumni kampus perjuangan, masak komen masuknya susah saja langsung menyerah *dijejelin lontong balap :))) . Atau yang bukan alumni ITS juga boleh berkomentar apa pengalaman unik yang tidak pernah kalian lupakan selama kuliah dan kalau tidak keberatan boleh dong saya tahu juga kalian alumni mana :D.

Foto yang dipakai ada beberapa yang dokumen pribadi ada beberapa yang meminjam dari beberapa sumber dengan langsung menyertakan sumbernya. Foto pribadi adalah foto-foto selama masa kuliah S2, karena foto-foto selama di Statistika saya belum mengenakan jilbab.

Postingan ini memang sengaja memakai bahasa Indonesia yang tidak baku. Saya sudah bilang ke suami kalau ini postingan nostalgia, jadi mending saya cerita langsung ke dia.

-Den Haag, 10 Nopember 2015-

Kelas Inspirasi 2013 – Surabaya

Kelas Inspirasi
“Bangun Mimpi Anak Indonesia…”

Mari berbagi cerita yang dapat menumbuhkan cita. Jejak langkah profesimu sebagai awalnya.
Sudah saatnya para profesional turut mengambil peran dalam pendidikan anak bangsa.

"Bagi Anda hanya satu hari cuti bekerja, namun bagi murid-murid itu bisa menjadi hari yang menginspirasi mereka seumur hidup. Berbagi cerita, pengetahuan, dan pengalaman untuk menjadi cita-cita dan mimpi mereka."

-Kelas Inspirasi-

Saya mengenal Kelas Inspirasi (KI) awalnya dari perkenalan dengan Indonesia Mengajar (IM). Saya ingat betul pagi itu hari minggu melihat lowongan untuk menjadi pengajar muda dikoran Kompas ketika saya sedang bekerja di Jakarta. Saat itu IM baru angkatan pertama tahun 2010. Setelah membaca profil tentang IM, tanpa pikir panjang saya langsung mengirim semua persyaratan untuk menjadi Pengajar Muda (PM) walaupun tipis harapan akan lolos karena pada saat itu usia sudah tidak muda lagi (tidak masuk dalam persyaratan yang diajukan). Tapi saya cuek saja, siapa tahu rejeki, pikir saya waktu itu. Beberapa minggu kemudian, saya mendapatkan jawaban kalau saya memang ditolak, tidak bisa bergabung menjadi PM. Tetapi mereka (atas nama Pak Anies Baswedan) menawari saya untuk bergabung menjadi pengurus membantu kelancaran terlaksananya IM. Saya membalas dengan mengatakan bahwa saya ingin menjadi pengajar, ingin mengabdikan diri pada kelangsungan pendidikan Indonesia yang lebih baik kedepannya dengan terjun langsung mengajar. Pada akhirnya saya melanjutkan lagi ritme hidup dengan tetap menjadi pekerja kantoran di Jakarta yang tidak pernah berhenti mengeluh ini itu.

Suatu ketika, Indonesia Bercerita, wadah saya menyalurkan hobi bercerita kepada anak-anak kecil, mendapatkan undangan dari IM. Ternyata mereka ingin mensosialisasikan tentang Indonesia Menyala. Indonesia Menyala adalah gerakan buku dan perpustakaan yang diinisiasikan oleh Gerakan Indonesia Mengajar. Filosofi dibalik pemilihan nama ini, menurut Bapak Anies Baswedan, adalah anak-anak desa yang menyala akal dan budinya karena membaca buku yang baik bersama para Pengajar Muda, bagaikan ribuan dan jutaan lampu yang menyalakan Indonesia. Saat itu saya membantu beberapa kegiatan Indonesia menyala yaitu menyortir dan mencari buku-buku yang bisa dikirimkan ketempat para Pengajar Muda. Kegiatan tersebut tidak bisa lama saya tekuni karena frekuensi pekerjaan yang mengharuskan bepergian keluar kota semakin meningkat. Setelahnya saya rutin mengikuti berita tentang kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Gerakan Indonesia Mengajar, salah satunya Kelas Inspirasi.

Pada tahun 2012, Kelas Inspirasi (KI) pertama kali diadakan di Jakarta. Saya ikut mendaftar sebagai relawan untuk mengajar. Sebenarnya apa kelas Inspirasi? Kelas Inspirasi adalah kegiatan yang mewadahi professional dari berbagai sektor untuk ikut serta berkontribusi pada misi perbaikan pendidikan di Indonesia. Melalui program ini, para professional pengajar dari berbagai latar belakang diharuskan untuk cuti satu hari serentak untuk mengunjungi dan mengajar SD yaitu pada hari Inspirasi. Tujuan dari KI ini ada dua, yaitu menjadi wahana bagi sekolah dan siswa untuk belajar dari para professional, serta agar para professional secara lebih luas dapat belajar mengenai kenyataan dan fakta mengenai kondisi pendidikan kita.

Tahun 2013 ketika saya sedang meneruskan kuliah di Surabaya, ternyata ada perekrutan relawan pengajar untuk kota Surabaya. Saya kembali mendaftar. Awalnya sempat bimbang karena pada saat itu status saya Mahasiswa, tidak mempunyai pekerjaan. Sempat bingung kalau misalkan saya lolos seleks,i cerita apa yang akan dibagikan. Tapi saya tepis keraguan dan tetap mendaftar. Ternyata saya lolos seleksi dan mendapatkan penempatan di SDN Kedungcowek II/254 Surabaya. Seperti biasa seminggu sebelumnya kami para relawan diharuskan datang briefing untuk mengetahui teknis pelaksanaan serta untuk mengetahui lebih jauh tentang KI itu sendiri. Dan saya selalu tidak bisa menyembunyikan air mata ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya. Semua rasa menyatu : haru, sesak, bahagia. Padahal dulu sewaktu sekolah sering membolos upacara bendera atau pura-pura sakit terus tidur diruang UKS.

Sebelum hari H, saya sudah menyiapkan alat peraga. Pada KI kali ini saya ingin berbagi cerita tentang pekerjaan sebagai Researcher. Karena dikantor sebelumnya memang saya beberapa kali berganti titel dan salah satunya researcher. Saya juga ingin menjelaskan lebih jauh bahwa yang saya teliti adalah dibidang marketing. Supaya tidak membingungkan mereka, maka saya tulis pekerjaan saya : Peneliti. Maka alat peraga yang saya siapkan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan angka, tabel, gambar, grafik dan lainnya. Saya juga menyiapkan kalkulator raksasa dari kardus bekas sebagai analogi bahwa memang kemanapun saya membawa kalkulator. Dua hari sebelum hari H, kami para relawan survey lokasi dan berkenalan dengan beberapa guru yang ada serta kepala sekolah untuk mengetahui kondisi lapangan seperti apa. Juga untuk pembagian tugas siapa yang akan mengajar kelas berapa. Relawan disini bukan hanya pengajar saja tetapi ada bagian dokumentasi foto dan merekam juga ada koordinator. Masih jelas teringat kalau koordinator saya anak ITS jurusan Desain Produk, karena waktu survey lapangan dan hari H saya numpang dia dari ITS-SD-ITS. Ngelamak.

Tanggal 11 Nopember 2013 tiba sebagai Hari Inspirasi. Dimulai dengan upacara bendera memperingati Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember. Lalu jam 8 pagi kelaspun dimulai. Bohong kalau saya tidak grogi. Dari pengalaman sebelumnya yang super capek tapi juga riang gembira menghadapi kelincahan anak SD kelas 5  ditambah pertanyaan-pertanyaan yang tidak terduga, sayapun menyiapkan mental kalau kali ini pasti ada pengalaman baru yang tidak terduga lainnya. Kali ini saya kebagian kelas 5. Masuk kelas sudah disambut salam. Kemudian saya memperkenalkan diri dan membuat permainan untuk mereka memperkenalkan diri juga. Saya mulai bertanya satu persatu cita-cita mereka apa. Ada seorang murid yang bertanya, tidak mengerti cita-cita itu apa. Selalu ada yang seperti ini, jadi bukan hal yang baru untuk saya. Lalu pertanyaan tersebut saya lemparkan ke kelas. Supaya teman-temannya yang lain ikut menerangkan juga. Jadi komunikasi dikelas makin hidup. Tidak hanya guru. Kelas saya ini termasuk aktif sekali. Kalau saya berikan pertanyaan, mereka berebut menjawab. Kalau saya tantang dengan permainan, mereka berebut maju depan kelas. Suara sampai saya tinggikan entah beberapa oktaf untuk mengontrol mereka yang lari kesana kemari karena antusias dengan permainan, sampai tidak terasa diakhir acara suara sudah serak. Menjadi seorang Guru tidaklah mudah. Butuh kesabaran tinggi. Selalu salut dengan perjuangan Bapak Ibu Guru.

Saya menerangkan tentang pekerjaan yang lalu, tentang apa yang saya kerjakan, tentang dengan siapa saja saya berhubungan dalam pekerjaan, tentang tanggungjawab apa yang harus diselesaikan, dan tentang bagaimana keseharian saya dipekerjaan. Tentunya saya menjelaskan sesuai dengan bahasa mereka dan saya selingi dengan beberapa permainan karena jika saya menerangkan terlalu panjang lebar, pasti mereka akan bosan dan tidak fokus lagi. Saya juga menerangkan tentang status saya saat itu sebagai mahasiswa. Lalu saya juga memberikan gambaran bahwa bekerja dibidang marketing terutama untuk urusan riset konsumen itu sering keluar kota bahkan keluar negeri untuk mengikuti pelatihan atau seminar. Saya menceritakan bahwa saya senang dengan pekerjaan sebagai peneliti karena bisa mengenal banyak orang, bisa mengetahui banyak tempat baru, dan bisa belajar banyak hal sehingga menambah ilmu.

Saat mereka menyebutkan satu persatu ingin menjadi apa mereka nantinya, saya menemukan kejutan-kejutan jawaban. Ada yang ingin menjadi polisi, tentara, pemain sepak bola, presiden, tukang jual sate, tukang tambal ban, supir taksi, dokter, pemain sinetron, guru, pegawai negeri, ingin membela kebenaran, dan bahkan ada yang menjawab ingin seperti Caesar (itu lho yang dulu heboh dengan goyang apa namanya lupa). Satu yang saya ingat sampai sekarang dan selalu membuat terharu tentang seorang gadis kecil. Dia lumayan pendiam diantara anak-anak lainnya.  Saya bertanya dia punya cita-cita apa. Lalu dia menjawab “ingin seperti Ibu saya.” Lalu saya bertanya lagi kenapa ingin seperti Ibu. Dia menjawab “saya ingin seperti ibu. Mengumpulkan sampah lalu menjual, memasak untuk saya dan adik-adik, membersihkan rumah dan membantu ayah yang sakit tidak bisa kemana-mana.” Kalau dalam bahasa jawa, hati saya langsung maktratap. Saya merasa trenyuh, terharu, juga ingin menangis. Anak sekecil itu sudah merasakan kerasnya hidup. Sementara teman-temannya yang lain langsung mengolok cita-citanya, yang kemudian saya tenangkan suasana riuh dikelas dan saya bilang bahwa setiap anak mempunyai cita-cita yang berbeda. Kita harus saling menghormati cita-cita baik setiap orang. Saya mengatakan pada mereka agar jangan putus sekolah, menjadi anak yang kreatif, mencintai buku dan membacanya supaya pengetahuan bertambah.

Ada beberapa kejadian yang membuat saya tersenyum sekaligus membuat ngenes ketika diingat sekarang. Jadi ada satu waktu saya mengajak mereka untuk bernyanyi bersama. Saya menawarkan Hymne Guru. Sebagian besar dari mereka keberatan dan meminta lagu yang lain. Saya bertanya maunya lagu apa. Hampir semua serentak menjawab lagu Kereta Malam. Saya terdiam sejenak mencoba mengingat lagu apa itu. Tetapi karena saya sama sekali tidak tahu, saya bertanya mereka mendengar lagu itu dimana. Ternyata diacara TV yang mereka lihat yang isinya joged-joged. Wah, mereka menolak menyanyikan Hymne Guru dan memilih lagu dari acara TV yang selalu mereka tonton setiap malam. Pengaruh TV kuat sekali. Pada akhirnya mereka tetap menyanyikan Hymne Guru.

Sesi terakhir adalah setiap anak menuliskan cita-cita mereka pada kertas yang sudah kami berikan. Kertas-kertas itu kemudian ditempel pada tempat yang disediakan yang ditaruh dekat dengan halaman sekolah. Mereka bisa membaca satu persatu cita-cita teman yang lain serta mereka dengan bangga menunjukkan pada teman-teman yang lain apa yang sudah dituliskan. Mereka nampak bahagia. Pada saat pulang sekolah, satu anak datang kepada saya untuk bersalaman seraya mengucapkan “Bu, terima kasih ya sudah datang ke sekolah. Saya akan belajar rajin dan banyak membaca. Saya ingin seperti Ibu, sekolah tinggi terus bisa keliling dunia.” Ah saya sungguh terharu. Ketika dikelas saya memang mengatakan kalau ingin keliling dunia untuk membawakan buku bagi anak-anak yang tidak mampu supaya mereka bisa melihat dunia luar dan makin bertambah ilmu.

Satu hari yang tidak akan terlupakan. Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan. Bukan saya yang menginspirasi mereka, tetapi merekalah yang sudah memberikan saya banyak inspirasi tentang hidup dan pendidikan. Bahwa definisi cita-cita tinggi itu relatif bagi setiap anak. Kadangkala kita juga harus realistis dalam menggapai apa yang sudah dicita-citakan. Seringkali kita juga harus berdamai dengan keadaan jika cita-cita dimasa kecil tidak menjadi kenyataan ketika sudah dihadapkan pada realitas kehidupan. Bahwa apapun yang menjadi cita-cita memang layak diperjuangkan sampai batas maksimal. Memang belum seberapa apa yang sudah saya lakukan sebagai relawan di Kelas Inspirasi ini. Tapi saya selalu berharap ini akan berguna untuk pendidikan Indonesia. Semua dimulai dari langkah kecil. Dimulai dengan langkah kita untuk terjun langsung menjadikan pendidikan Indonesia menuju ke arah yang lebih baik. Dimulai dengan cuti satu hari untuk berbagi cerita yang menumbuhkan cita anak Indonesia.

Saya rindu mengajar lagi, rindu bertemu dengan mereka, rindu belajar dari mereka, dan rindu berbagi dengan sesama.

Langkah menjadi panutan. Ujar menjadi pengetahuan. Pengalaman menjadi inspirasi -@KelasInspirasi-

Sudahkan menjadi bagian dari Kelas Inspirasi? Lalu apa cita-citamu dulu?

Saya sertakan satu video Lilin Lilin Penyala diakhir tulisan ini. Video ini selalu membuat saya terharu.

-Den Haag, 24 September 2015-

Semua foto adalah dokumentasi Kelas Inspirasi Surabaya.

Saya bawa serta ke Belanda. Kenangan yang tidak akan terlupa
Saya bawa serta ke Belanda. Kenangan yang tidak akan terlupa
Mereka dan Cita-cita
Mereka dan Cita-cita
Ketika saya sedang menunjukkan foto beberapa tempat di Luar Negeri yang pernah saya kunjungi> Untuk memotivasi mereka supaya mempunyai cita-cita yang tinggi
Ketika saya sedang menunjukkan foto beberapa tempat di Luar Negeri yang pernah saya kunjungi. Untuk memotivasi mereka supaya mempunyai cita-cita yang tinggi.
Senyum masa depan bangsa
Senyum masa depan bangsa.
Ketika saya sedang bercerita tentang pekerjaan
Ketika saya sedang bercerita tentang pekerjaan
Alat peraga selain kalkulator raksasa. Saya ingin menunjukkan bahwa sehari-hari dengan angka-angka, tabel, diagram dan gambar-gambar seperti inilah saya bergelut didalam pekerjaan
Alat peraga selain kalkulator raksasa. Saya ingin menunjukkan bahwa sehari-hari saya bergelut dengan angka-angka, tabel, diagram dan gambar-gambar seperti inilah ketika bekerja
Membaca cita-cita yang tertempel. Semoga mereka diberikan kemudahan mewujudkan impian dimasa depan
Membaca cita-cita yang tertempel. Semoga mereka diberikan kemudahan mewujudkan impian dimasa depan.
Bersama Ibu Bapak Guru
Bersama Ibu Bapak Guru dan para relawan
Satu-satunya kantin
Satu-satunya kantin Sekolah
Kantin sekolah
Kantin sekolah
Piring plastik kotor yang menumpuk ditempat cucui piring yang tidak layak kebersihan
Piring-piring plastik kotor yang menumpuk ditempat cucui piring yang tidak layak kebersihan
Nasi soto, makanan yang paling banyak diminati dibandingkan jajanan lainnya. Harganya Rp 1.000 satu pring plastik kecil.
Nasi soto, makanan yang paling banyak diminati dibandingkan jajanan lainnya. Harganya Rp 1.000 satu pring plastik kecil.
Lingkungan disekitar SDN Kedung Cowek Surabaya
Lingkungan disekitar SDN Kedung Cowek Surabaya

 

Saya selalu suka dan tersentuh dengan apa yang Pak Anies Baswedan utarakan pada video Lilin Lilin Penyala ini.