Keindahan Hallstatt Dari Sudut Pandang yang Berbeda

Hallstatt adalah sebuah kota kecil yang terletak di Austria, tepatnya di pinggir danau Hallstätter See. Terletak di antara pantai barat daya Hallstätter See dan lereng curam massif Dachstein, kota ini berada di wilayah geografis Salzkammergut,  yang menghubungkan Salzburg dan Graz. Hallstatt terkenal dengan produksinya yaitu garam yang merupakan sumber yang sangat berharga sehingga wilayah ini secara historis sangat kaya. Di atas pusat kota Hallstatt, terletak tambang garam pertama di dunia yang bernama Salzwelten. Turis yang datang ke sini bisa mengunjungi tambang garam ini.

Saya pertama kali mengetahui Hallstatt ini dari tulisan Patricia di blognya. Saat kami bertemu hampir setahun lalu, sempat saya bertanya tentang Hallstatt dan dia bilang suatu saat saya harus mengunjungi kota kecil ini karena memang sangat indah. Melihat foto-foto yang bertebaran di Internet pun membuat rasa penasaran saya semakin menjadi, pada saat itu. Beberapa bulan kemudian, saya lupa tentang Hallstatt sampai suatu hari ketika Puji datang ke Belanda dan kami bertemu lalu suaminya bercerita salah satu rute perjalanan mereka selama di Eropa adalah ke Hallstatt. Wah, saya adi teringat kembali. Lalu Puji menuliskan di blognya dan menyertakan foto-fotonya. Duh, makin ngiler saya. Tapi waktu itu belum terpikir akan ke Hallstatt dalam waktu dekat karena kami tidak ada rencana untuk berlibur ke Austria tahun ini.

Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt

 

Hallstatt
Hallstatt

Nah, saat suami tiba-tiba memberi ide untuk roadtrip, salah satu rute yang ditawarkan adalah Austria. Kalau saja saya tidak menghubungi kenalan yang tinggal di Austria, saya mungkin lupa akan keinginan ke Hallstatt. Jadi, sewaktu saya menghubunginya, dia bilang kalau pada saat jadwal kami ke Austria, dia sedang tidak ada. Lalu saya bilang kalau kami akan ke Salzburg. Dia bertanya kenapa tidak sekalian ke Hallstatt karena rutenya melewati dari Ceko ke Salzburg. AHA!!, untung saja dia mengingatkan, kalau tidak, pasti terlewat. Langsung dengan semangat saya memasukkan kota ini jadi salah satu tujuan kami, mampir sebelum ke Salzburg. Saya tidak menyangka akan ke kota yang indah ini dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah pertama kali mengetahuinya dari Patricia. Rejeki memang tidak kemana. Saya bahkan sudah mempersiapkan baju khusus yang akan dikenakan ketika berkunjung ke Hallstatt, sekalian foto-foto keren ceritanya. Sesekali mumpung tempatnya bagus sekali.

 

Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt

Karena terlalu bersemangat itulah saya lupa kalau terkadang apa yang kita inginkan tidak semuanya bisa didapatkan. Banyak faktor salah satunya adalah kuasa alam. Saya lupa di tulisan Patricia sewaktu berkunjung ke sana, cuaca sedang hujan dan kabut pekat turun. Yang lekat di ingatan saya adalah langit biru dan cerahnya sehingga semakin menonjolkan keindahan kota kecil yang berada diantara lembah dan dipinggir danau luas. Saya juga terlanjur sangat PD karena sewaktu kami ke sana masih dalam suasana musim panas. Saat mendapati hujan mengguyur sangat deras dan kabut pekat turun menyertai perjalanan kami dari Ceko ke Austria, lemas bercampur kesal, itu yang saya rasakan. Buyar impian saya mengenakan baju yang sudah dipersiapkan dan foto-foto dengan latar langit biru yang kece. Yang ada tangan sibuk memegangi payung dan melindungi kamera dari tampias hujan. Melihat saya cemberut, suami menyelutuk, “Nikmati saja yang ada sekarang. Tidak semua orang punya kesempatan ke sini. Kita tidak bisa dapat semua apa yang kita inginkan, bersyukur saja. Anggap saja kamu punya foto-foto keren dengan sudut yang berbeda dari foto-foto yang ada di internet.” Duh! perkataannya tepat sasaran menohok. Saya jadi malu, hanya karena tidak bisa berpose sesuai dengan keinginan, saya jadi lupa bersyukur bisa ke tempat yang selama ini hanya saya lihat di blog orang lain maupun foto-foto cantik dengan langit biru yang banyak terdapat di internet. Meskipun dengan suasana yang berbeda, saya masih tetap bisa menikmati keindahan Hallstatt yang tampak misterius diantara kabut pekat yang menyelimuti. Saya masih bisa menjejakkan kaki dan melihat dengan mata kepala sendiri kota cantik ini. Sudah seharusnya memang saya bersyukur.

Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt
Hallstatt

Meskipun hujan terus mengguyur, tidak menyurutkan turis yang terus berdatangan. Mereka yang ke sini kebanyakan dari China, Korea, dan Jepang. Bagaimana saya tahu? ya dari bahasanya. Nguping lah dikit-dikit haha. Tetapi banyak juga turis dari negara lain. Mereka yang datang ke sini selain menggunakan jasa tour, kendaraan pribadi, juga naik bis (atau juga kereta?) dari Salzburg dan Vienna. Awalnya saya ingin naik cable car untuk menuju ke tambang garam. Tapi karena hujan, saya jadi malas. Mau naik ke atas bukit sedikit saja membuat saya takut terpeleset, membayangkan licin. Akhirnya saya tetap punya foto-foto dengan latar belakang yang misterius, penuh kabut haha, lumayanlah berbeda. Ketika meninggalkan Hallstatt, sempat berkata dalam hati, kalau ada kesempatan, rejeki, dan umur panjang, ingin kembali ke kota kecil ini. Mendatangi sudut yang belum sempat kami datangi, melihat danau dari atas bukit, dan mengunjungi tambang garamnya. Dan mudah-mudahan pada saat itu, cuacanya cerah.

Hallstatt
Hallstatt

-Nootdorp, 8 oktober 2017-

23 thoughts on “Keindahan Hallstatt Dari Sudut Pandang yang Berbeda

  1. Kadang kalo ekspektasi ngga sesuai realita emang lumayan bikin gondok ya mbak, untuk suaminya mbak positive sekali hehe. Tapi meski mendung begitu tetep aja cantik kota kecil ini, dan waktu aku baca juga posisi dirumah lagi mendung, bawaannya lihat gambar aja berasa adem gitu… (lalu ngantuk)

    Hihi semoga kapan kapan kesana lagi waktu cerah ya mbak 🙂

    1. Iya Dixie, berkabut begini aja cakep apalagi terang benderang ya. Cuman memang turisnya buanyaakk banget. ga ngebayangin kalau pas cerah dan puncaknya musim panas, berjubel pasti.

  2. Oh iya Mba, ke sini berarti nyetir dong ya? aku mikir lewat mana kalo nyetir ke sini hehe.. Soalnya aku naik kereta terus nyebrang kapal 😀

    1. Iya Ji, nyetir. Aku malah baru tahu dari tulisanmu di blog kalau ke sini bisa naik kapal. Soalnya info yang kudapat, kalau dari Salzburg bisa naik bis dan aku lihat memang banyak bis umum yang dari arah Salzburg.

        1. Bangeeett Ji. Pegunungan dan hamparan hijau kayak karpet gitu. Itu padahal hujan, gimana kalau cuaca cerah, pasti bikin melongo

    1. Lagi nganggur dan pas mood Mayang, jadi kutulis terpisah aja biar ada kenangannya. Sendu dingin ya :)))

  3. Den, ini kota emang sering ‘bertebaran’ di IG yaah, hehehe…

    Tapi kalau aku, karena penyuka hujan dan kabut, jauh lebih menyukai pemandangan kota dalam fotomu ini dalam rintik hujan. Beda selera yaah…

    1. Aku sudah dua tahun ini ga punya IG, akunku sudah kudelete. Jadi ga tau tentang kota ini di IG. Tahunya ya searching2 aja di google.
      Aku ga terlalu suka hujan karena bikin basah dan kena tampias nya itu ga betah aku. Kalau suasana sejuk, aku baru suka, asalkan ga hujan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.