Pekan Terhangat di Musim Semi

Terhitung sejak hari selasa minggu lalu sampai saat saya menulis ini (hari senin) cuaca di Belanda secara keseluruhan menghangat dan cenderung panas, kecuali hari ini cuma gonjreng tapi hawanya semilir sejuk. Minggu lalu benar-benar hari ternyaman untuk saya, karena untuk suami katanya terlalu panas. Suhu setiap hari rata-rata bisa diatas 25 derajat celcius. Malah ada satu hari suhunya sampai 30 derajat celcius.

Karena keadaan seperti ini sangatlah jarang, apalagi di musim semi, maka mendadak saya jadi petakilan. Saya tidak betah di rumah, mendadak males masak, maunya ke luar rumah terus selama cuaca nyentrong seperti ini. Suasana hati mendadak gembira sekali. Senyum sepanjang hari. Riang gembira lah pokoknya. Ke luar rumah juga jadi lebih mudah. Cuma pakai sandal dan baju selapis. Merdeka banget rasanya. Saya inginnya kalau pagi sampai siang cuma leyeh-leyeh di halaman belakang. Rajin berbenah halaman depan dan belakang. Pokoknya halaman depan dan belakang mendadak jadi agak rapi (walaupun yang bagian depan tidak terlalu rapi sekali). Tahun ini saya tidak menanam apapun. Hanya mengandalkan tanaman-tanaman yang sudah ada. Semoga tahun depan bisa kembali bercocok tanam.

Kalau menjelang sore, kami seperti gasing jalan jalan ke sana sini. Dari jelajah taman sampai jelajah danau. Kenapa tidak ke pantai? karena membayangkan banyak orang di pantai saya sudah pusing duluan (ya kalau mau sepi, di kuburan Den!). Saya sampai bilang ke suami bahwa sejak tinggal di Belanda, saya jadi lebih menghargai yang namanya cuaca hangat (dan panas). Padahal kalau di Indonesia, marah-marah terus saya kalau cuaca panas. Ya tapi kan beda situasi, kalau di Belanda jarang cuaca panas karenanya lebih banyak bersyukur kalau panas datang.

Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark
Westbroekpark

Kalau di taman, kami beneran tidur di rumput-rumputnya melihat langit dan berjemur. Duh beneran nikmat sekali. Apalagi anginnya semilir ya, bikin ngantuk. Kalau tidak ingat punya tanggungan di rumah, saya bisa seharian di taman tiduran sambil baca buku.

Menuju danau Dobbeplass
Menuju danau Dobbeplass

Ada danau dekat rumah. Jalan kaki hanya 15 menit saja. Sewaktu kami ke sana, waduh ramainya tidak karuan. Semua berenang. Mau ambil foto saja sampai tidak bisa karena semua sudut ada orang pakai baju renang. Kan melanggar privasi kalau saya mengambil foto. kami duduk-duduk di bawah pohon, sesekali main pasir juga. Nah, beberapa hari setelahnya, kami ke danau ke kota sebelah di Zoetermeer. Ini danaunya lebih besar dari yang dekat rumah. Tapi ramainya juga tidak karuan. Sewaktu kami pertama sampai, saya mencium harum sate. Langsung dong ya saya mencari sumber harum sate itu, ternyata ada keluarga yang sedang memanggang sate dan panggangannya sama seperti panggangan di Indonesia. Langsung membayangkan makan sate pakai lontong trus minumnya es degan *halusinasi sesekali.

Kalau cuaca panas seperti ini saya memang seringnya membayangkan tukanhg jual makanan gerobak. Andaikan ada gerobak bakso, gorengan, dan es degan, sempurna sekali di pinggir danau makan semangkuk bakso pedas dan minum es degan *ngayal teruuusss!

Zoetermeer
Zoetermeer
Zoetermeer
Zoetermeer
Leyeh leyeh pinggir danau
Leyeh leyeh pinggir danau

Saking petakilannya, saya sampai tiba-tiba terpikir untuk ke pasar. Terakhir ke pasar Haagse, 3 bulan lalu sewaktu Ibu ada di sini. Ke pasar kali ini juga dipicu oleh suami yang belakangan ini mengeluh karena stok sambal habis. Setiap mau makan atau buka kulkas, dia selalu komentar “Sambelnya habis lho” “Kamu ga bikin sambal nih?” “Kok ada yang kurang ya makan tanpa sambal” “Kamu ada rencana bikin sambal kapan.” —-Saya merasa terteror dengan urusan sambal ini. Akhirnya demi mendapatkan cabe merah dengan harga murah, ke pasarlah kami naik tram, suami sih tidak ikut karena dia sedang belajar untuk ujian. Eh ternyata di pasar cabe rawit merah sedang langka. Di beberapa stan langganan tidak jualan karena katanya sedang mahal sekali. Untung saja mata saya melihat ada cabe rawit nyelip di jual di stan lainnya. Langsung saya borong semua. Selain untuk beli cabe, saya juga ingin beli ikan segar. Rencananya akan saya buat pepes. Selain itu saya juga cari buah naga, biasanya di pasar ada dengan harga murah. Eh, saya cari sampai teliti ternyata tidak ada.

Saking lamanya saya tidak ke pasar, beberapa langganan yang memang sudah hapal dengan saya sampai bertanya, “lama tidak ke pasar, stok cabe aman ya?” Hahahaha, maklum, saya kalau beli cabe sampai berkilo-kilo. Bukan buat diri sendiri saja, tapi titipan dari beberapa teman. Makanya sampai dihapalin oleh si pemilik stan. Belum lagi satu-satunya stan yang jual belimbing wuluh, pemiliknya sewaktu saya mau beli belimbing wuluh bilang, “setiap ada belimbing wuluh segar, saya selalu mbatin kamu lho. Kok lama tidak ke pasar.” ya beginilah kegiatan di pasar, selalu menyenangkan karena bertemu dengan banyak orang dan bisa sekalian cuci mata.

Langsung lahap makan pakai ikan beli di pasar meskipun menunya ga nyambung :)))
Langsung lahap makan pakai ikan beli di pasar meskipun menunya ga nyambung :)))
Sepanjang minggu bisa makan di halaman belakang. Ini makan pakai ayam panggang dan sisa bumbunya dipakai untuk masak Mie goreng
Sepanjang minggu bisa makan di halaman belakang. Ini makan pakai ayam panggang dan sisa bumbunya dipakai untuk masak Mie goreng

Hari Senin saya diawali dengan membuat stok sambal. Begitu melihat saya membuat sambal, sumringah lah muka suami. Berasa dapat lotere haha!

Sambel untuk suami
Sambel untuk suami

Bagaimana hari Senin kalian? Semoga awal minggu kalian juga menyenangkan yaaa. Minggu ini suhu di Belanda kembali pada angka belasan dan konon katanya beberapa hari kedepan akan turun hujan. Saatnya produktif lagi di rumah

-Nootdorp, 23 April 2018-

17 thoughts on “Pekan Terhangat di Musim Semi

  1. Pingback: more
  2. Cuaca disini kadang hujan kadang panas. Mba Den walau cerita soal keramaian fotonya selalu landscape yang sepi-sepi ya hehe,.memang disana sesepi itu atau memang suka foto yg tidak ada orangnya? Sambalnya kelihatan menggiurkan…

    1. Tergantung keramaiannya ya. Kalau keramaian di pantai dan banyak yang pakai bikini, aku ga berani moto dan lebih pilihspot yang sepi kalaupun ada. kalau keramaian di jalan, masih ok lah. Tapi secara keseluruhan, aku memang lebih suka mengabadikan tempat yang sepi minim orang.
      Terima kasih 🙂 sambel buat nyetok

    1. Nyalain pemanas maksudnya ya Inly. Kalau AC anggapanku soalnya bikin ruangan dingin kan 😀

    1. Semoga ga sampai banjir ya Fran.
      Rajin nyambel soalnya beli di sini ga ada yang enak. Jadi mending nyambel sendiri. Daripada diteror suami haha.

  3. Mbak deeeeenn!!! aku ganti blog dan main ke sini lagi setelah sekian lama mager belum konsisten ngisi blog barunya hehe. Mampir ya mbak 😀

    btw, aku baca tulisan ini pas di kantor dan pake komputer kantor, tepat saat jam makan siang. Pas bagian foto makanan, khususnya sambel, orang kantor heboh banget wkwkwk. Aku suka penasaran deh kalo bikin masakan indonesia di luar itu apa rasanya bisa persis plek ya?

    1. Ohh ganti ya Sekar. Wah untung dikasih tau. Ok, aku follow alamat yang baru.
      Persis pleknya kan tergantung yang masak haha. Kalau bahan2nya, di sini hampir semua ada. Jadinya ya ga susah kalau mau masak makanan Indonesia

  4. Disini juga udah mulai hangat Den. Walopun buat gadis tropis masih agak dingin. Tapi seenggaknya cuaca berkisar 10-18 celcius minggu ini. Udah ga ada lagi suhu satu digit. Hore…
    Aku masih berjibaku sama pilek dan alergi (dan kerjaan yang tak kunjung usai) jadi belum banyak keluyuran. Sabtu kmaren jalan-jalan sekitar apartemen trus pas hari minggu kita beli bagel+cream cheese dan piknik di pinggir sungai. Semoga musim semi kita mabrur yaaa…. haha, oposeh..

    1. Semoga pilek dan alerginya segera pergi ya Dit dan kerjaan makin surut. Alergi musim semi ya (apa namanya, itu serbuk tanaman).
      Aku nelen ludah ini bayangin bagel+cream cheese :))) Semoga mbabruurr yaa hahaha dan musim panas beneran panas 😀

  5. Kemarin kami pergi piknik sederhana di Wilhelminapark, taman di bagian lain dari Delft. Piknik sederhana karena gak bawa makanan apa2, cuma bawa selimut, bir, satu cemilan dan aku bawa buku gambar. Aku kirain aku gak bakal betah piknik, ternyata sejam piknik berasa kurang lho…

    1. Sejam memang kurang Crys, apalagi kalo kayak cuaca minggu lalu. beneran pengennya cuma leyeh2 di taman hahaha berasa ga ada tanggungan gitu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.